Presentasi Fiqh Zakat

22,509 views
22,124 views

Published on

Published in: Business, Technology
4 Comments
11 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
22,509
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
672
Actions
Shares
0
Downloads
1,478
Comments
4
Likes
11
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi Fiqh Zakat

  1. 1. FIQH ZAKAT Definisi, Dasar Hukum, Syarat Harta Zakat, Mustahiq, Zakat Mal, Zakat Fitrah, Hikmah Zakat. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. Definisi Zakat <ul><li>Menurut Bahasa( lughat ), zakat berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10) </li></ul><ul><li>Menurut istilah syara' , zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawi). Dengan kata lain, zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahiq zakat), apabila telah mencapai nishab/batas tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula. </li></ul>
  3. 3. Makna Zakat <ul><li>Zakat bermakna At-Thahuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Jadi disini ditegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji dan dilihat orang, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya.( Qs. At Taubah : 103 ) </li></ul><ul><li>Zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Jadi, orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT, yang mana keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup. </li></ul><ul><li>Zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Jadi, orang yang selalu membayar zakat insya Allah hartanya akan selalu terus tumbuh dan berkembang, dan ini disebabkan oleh kesucian dan keberkahan harta karena telah menunaikan zakat. (Q.s Ar-Rum : 39) . </li></ul><ul><li>Zakat bermakna As-Sholahu , yang artinya beres atau keberesan, yaitu bahwa orang orang yang selalu menunaikan zakat hartanya akan selalu beres dan tidak akan dirundung masalah. </li></ul>
  4. 4. Hukum dan Dalil Zakat <ul><li>Zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memiliki harta yang telah sampai nishab untuk dikeluarkan zakatnya. (Qs. At Taubah : 103). pada ayat lain: &quot;Dirikanlah shalat dan berikanlah zakat.“ Pada bagian lain Allah SWT berfirman tentang kaum Musyrikin : &quot;Bila mereka bertaubat, mendirikan shalat dan memberikan zakat, maka mereka adalah saudaramu seagama.“ (Qs. At Taubah : 17). Disini Allah menjadikan zakat sebagai ikatan persudaraan dalam agama. Jadi barang siapa tidak mengeluarkan zakat maka persaudaraannya sesama muslim hilang, bahkan wajib diperangi. </li></ul><ul><li>Diantara dalil sunnah, sabda Rasulullah saw dalam kitab shahih Bukhari : &quot;Islam dibangun atas lima dasar : Membaca syahadat (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya, mendirikan shalat, memberikan zakat, berhaji ke baitullah dan puasa ramadhan.“ </li></ul><ul><li>عن ابن عمر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله ص م يقول بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان </li></ul><ul><li>Diantara dalil ijma' adalah : Abubakar pernah memerangi kaum murtad yang tidak mengeluarkan zakat, Para sahabat sependapat dengan Abubakar. Mereka bersamanya memerangi kaum murtad. </li></ul>
  5. 5. Hikmah Zakat <ul><li>Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. </li></ul><ul><li>Membantu orang miskin dan menutup kebutuhan orang yang berada dalam kesulitan dan penderitaan serta memenuhi kebutuhannya untuk meng-hormati/melindungi dirinya dari kehinaan minta-minta selain kepada Allah. </li></ul><ul><li>Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari orang kaya kepadanya. </li></ul><ul><li>Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtima’i (tanggung jawab bersama) </li></ul><ul><li>Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), dan tanggungjawab individu dalam masyarakat. </li></ul><ul><li>Mempermudah penyaluran harta dari seseorang kepada orang lain sehingga harta tersebut mengalir dan lebih bermanfaat, agar harta tidak beredar di kalangan tertentu, atau hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja. (QS. Al-Hasyr: 7) </li></ul><ul><li>كي لا يكون دولة بين الأغنياء </li></ul>
  6. 6. Syarat Wajib Zakat Mal <ul><li>Baik dan halal </li></ul><ul><li>Berkembang dan berpotensi untuk berkembang </li></ul><ul><li>Hak milik sempurna (milik penuh = al-milk al-tam) </li></ul><ul><li>Bebas dari hutang </li></ul><ul><li>Masak (matang) dan enak, khusus untuk jenis kurma dan biji-bijian atau buah-buahan. </li></ul><ul><li>Berlalu Satu Tahun (al-Haul). Kepemilikan harta sudah mencapai satu tahun. Persyaratan ini berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul, tetapi wajib saat panen/didapat. </li></ul><ul><li>Cukup Nishab (batas minimal harta). Harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’. Jika harta tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat dan dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah. </li></ul><ul><li>Lebih dari kebutuhan pokok. </li></ul>
  7. 7. Sumber Zakat Mal (harta) <ul><li>Zakat Emas dan Perak </li></ul><ul><li>Zakat Hewan ternak (unta, sapi, kambing, dsb.) </li></ul><ul><li>Zakat Perdagangan </li></ul><ul><li>Zakat Pertanian </li></ul><ul><li>Zakat Rikaz (harta terpendam/ barang temuan) </li></ul><ul><li>Zakat Fitrah </li></ul><ul><li>Sumber Zakat Modern: Perhitungannya adalah dengan jalan analogi atau qiyas dari sumber zakat yang pernah ada pada zaman Rasulullah. </li></ul><ul><li>Zakat Penghasilan/Profesi </li></ul><ul><li>Zakat Simpanan </li></ul><ul><li>Zakat Saham atau Obligasi </li></ul><ul><li>Zakat Undian atau Kuis Berhadiah </li></ul><ul><li>Zakat hadiah dan Sejenisnya </li></ul><ul><li>Zakat madu dan produksi hewani </li></ul><ul><li>Zakat barang tambang dan hasil laut </li></ul><ul><li>Zakat investasi pabrik, gedung, dll </li></ul>
  8. 8. Nishab dan Kadar Zakat <ul><li>Nishab emas adalah 20 dinar ( 85 gram emas murni ) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak ). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %. </li></ul><ul><li>Segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam &quot;emas dan perak&quot;, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya, nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena wajib zakat ( 2,5 % ). </li></ul><ul><li>Rikaz. Harta yang diperoleh dari hasil undian atau kuis berhadiah merupakan salah satu sebab dari kepemilikan harta yang diidentikkan dengan harta temuan (rikaz). Oleh sebab itu jika hasil tersebut memenuhi kriteria zakat, maka wajib dizakati sebasar 20% (1/5) </li></ul>
  9. 9. Nishab dan Kadar Zakat <ul><li>Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg. Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nishabnya adalah 750 kg dari hasil pertanian tersebut. Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air hujan, atau sungai/mata air, maka 10% . Apabila diairi dengan cara disiram / irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5% . </li></ul><ul><li>Pada sistem pertanian saat ini, biaya tidak sekedar air, akan tetapi ada biaya lain seperti pupuk, insektisida, dll. Maka untuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, intektisida dan sebagainya diambil dari hasil panen, kemudian sisanya (apabila lebih dari nishab) dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% (tergantung sistem pengairannya). </li></ul>
  10. 10. Nishab dan Zakat <ul><li>Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 % </li></ul>
  11. 11. Penerima zakat (mustahiq) <ul><li>إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ( ٦٠ ) </li></ul><ul><li>QS. Al-Taubah ayat 60. Yang berhak menerima zakat: 1. fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. ‘ Amil (Pengurus zakat): orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. Riqab, memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. Gharimin, orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah) : Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. Ibnu Sabil, orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. </li></ul><ul><li>Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang wajib ia nafkahi, seperti ayah-bunda, anak-anak, istri. Zakat juga tidak diberikan kepada ahlul bait, keluarga Rasul Saw karena kemuliaan mereka. Zakat tidak diberikan kepada orang kafir, fasiq (seperti meninggalkan shalat dan melecehkan syariat Islam). Zakat tidak boleh dipindah dari satu negeri ke negeri lain, kecuali jika di negeri tersebut tidak ada orang fakir atau mempunyai kebutuhan besar. </li></ul>
  12. 12. Zakat Fitrah <ul><li>Disebut juga zakat al-nufus. Mulai disyari’atkan pada tahun kedua Hijriah, ketika diwajibkan shaum Ramadhan. </li></ul><ul><li>Zakat Fitrah harus diberikan sebelum shalat ‘ied. Misalnya 1 atau 2 hari sebelum shalat ‘ied. Jika lewat dari shalat ‘ied, maka jatuhnya sebagai sedekah. </li></ul><ul><li>Dikeluarkan dari jenis makanan pokok setempat yang biasa dimakan sehari-hari. Mazhab hanafi membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan membayar harga dari makanan pokok (diganti dengan uang yang senilai). </li></ul><ul><li>Hukumnya wajib atas setiap individu muslim, untuk dirinya dan orang-orang yang berada dibawah tanggungannya. </li></ul><ul><li>Ukuran zakat fitrah untuk tiap jiwa adalah 1 sha’ (2,5 kg = 3,5 liter). </li></ul>

×