Presentasi Fiqh Siyasah 8

10,506 views

Published on

Published in: Spiritual, Business

Presentasi Fiqh Siyasah 8

  1. 1. HARTA DAN PERMASALAHANNYA Membahas Terminologi Harta Dalam Pandangan Islam, Kedudukan dan Fungsi Harta, Metode Memperoleh dan Memanfaatkan Harta, Kepemilikan Harta, serta Klasifikasi Harta Dalam Fiqh Muamalah Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-8
  2. 2. Definisi Harta <ul><li>Secara etimologi , harta dalam bahasa Arab disebut al-Mâl, berasal dari kata مال يميل ميلا mempunyai arti condong, cenderung atau miring. Karena manusia cenderung ingin memiliki dan menguasai harta. al-Mâl juga diartikan segala sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka pelihara, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk manfaat. </li></ul><ul><li>Di dalam kamus Lisan al-’Arab karya Ibnu Manzur diterangkan bahwa kata مال   berasal dari kata kerja موّ ل ، ملت ، تما ل ، ملت . Jadi, ما ل didefinisikan sebagai &quot;segala sesuatu yang dimiliki”. Berkata Sibawaihi, &quot;Diantara bentuk imalah yang asing dalam bahasa Arab ialah مال ( m â l ) yang bentuk jamaknya أموال ( amw â l).” Dalam Mukhtar al-Qamus , kata al-m â l berarti ’apa saja yang dimiliki’, kata tamawwalta ( تموّلت ) berarti ’harta kamu banyak karena orang lain’, kata multahu ( ملته ) berarti kamu memberikan uang pada seseorang. </li></ul><ul><li>Secara terminologi , pengertian al-Mâl menurut ulama Hanafiyah: </li></ul><ul><li>ما يميل اليه طبع الإنسان ويمكن إدخاره إلى وقت الحاجة، او كل ما يمكن حيازته وإحرازه وينتفع به عاد ة </li></ul><ul><li>Segala yang diinginkan oleh tabiat manusia dan memungkinkan untuk disimpan hingga saat dibutuhkan. </li></ul><ul><li>Menurut Jumhur ulama , al-Mâl (harta) : كل ما له قيمة يلزم متلفها بضمانه </li></ul><ul><li>Segala sesuatu yang mempunyai nilai, dan dikenakan ganti rugi bagi orang yang merusak atau melenyapkannya. </li></ul>
  3. 3. Penjelasan Definisi <ul><li>Menurut Hanafiyah: Harta adalah segala sesuatu yang dapat diambil, disimpan, dan dapat dimanfaatkan. Menurut definisi ini, harta memiliki dua unsur, yaitu: Harta dapat dikuasai dan dipelihara. Sesuatu yang tidak disimpan atau dipelihara secara nyata, seperti ilmu, kesehatan, kemuliaan, kecerdasan, udara, panas matahari, cahaya bulan, tidak dapat dikatakan harta. Dapat dimanfaatkan menurut kebiasaan. Segala sesuatu yang tidak bermanfaat seperti daging bangkai, makanan yang basi, tidak dapat disebut harta; atau bermanfaat, tetapi menurut kebiasaan tidak diperhitungkan manusia, seperti satu biji gandum, setetes air, segenggam tanah, dan lain-lain. Semua itu tidak disebut harta sebab terlalu sedikit sehingga zatnya tidak dapat dimanfaatkan, kecuali kalau disatukan dengan sesuatu yang lain. </li></ul><ul><li>Salah satu perbedaan dari definisi yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dan jumhur ulama adalah tentang benda yang tidak dapat diraba , seperti manfaat. Ulama Hanafiyah memandang bahwa manfaat termasuk sesuatu yang dapat dimiliki, tetapi bukan harta. Adapun menurut ulama selain hanafiyah (jumhur), manfaat termasuk harta, sebab yang penting adalah manfaatnya dan bukan zatnya. </li></ul><ul><li>Jadi , perbedaan esensi harta antara ulama Hanafiyah dan Jumhur: 1. Bagi jumhur ulama harta tidak saja bersifat materi, namun juga nilai manfaat yang terkandung di dalamnya. 2. Adapun menurut ulama mazhab Hanafi harta hanya menyangkut materi, sedangkan manfaat termasuk ke dalam pengertian hak milik. </li></ul>
  4. 4. Kedudukan Harta <ul><li>HARTA, salah satu dari lima kebutuhan pokok (al-dharuriyat al-khamsah) yang wajib dijaga, yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, harta. </li></ul><ul><li>Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia (QS. Al-Kahfi: 26) </li></ul><ul><li>Harta sebagai cobaan /fitnah (QS. Al-Taghabun: 15) </li></ul><ul><li>Harta sebagai sarana untuk memenuhi kesenangan (QS. Ali Imran: 14) </li></ul><ul><li>Harta sebagai sarana untuk menghimpun bekal bagi kehidupan akhirat (QS. Al-Baqarah: 262 dan al-Taubah: 41). </li></ul><ul><li>Harta seb a gai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak (al-Anfal: 28) </li></ul><ul><li>H arta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Pemilik m utlak terhadap harta dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah A llah Swt . Kepemilikan oleh manusia bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuanNya (QS . al - Hadid: 7). Rasulullah Saw bersabda: Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan. </li></ul>
  5. 5. Fungsi Harta <ul><li>Menyempurnakan pelaksanaan ibadah khash ( mahdhah ), seperti bekal untuk haji, zakat, dsb. </li></ul><ul><li>Meningkatkan ketakwaan kepada Allah, sebab kefakiran cenderung dekat kepada kekafiran. </li></ul><ul><li>Meneruskan kehidupan dari generasi ke generasi (QS. Al-Nisa’: 9). </li></ul><ul><li>Menyelaraskan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. ليس بخيركم من ترك الد نيا لأخرته والأخرة لد نياه حتى يصيبا جميعا فإن الد نيا بلاغ الى الأخرة - رواه البخاري </li></ul><ul><li>Mengembangkan dan menegakkan ilmu pengetahuan. </li></ul><ul><li>Memutar dan menggerakkan peran-peran kehidupan dengan adanya orang kaya dan miskin yang saling membutuhkan. </li></ul><ul><li>Menumbuhkan silaturrahim karena adanya perbedaan dan keperluan, sehingga menciptakan barter atau pertukaran barang melalui harta. </li></ul><ul><li>Sarana distribusi kekayaan, agar tidak hanya beredar di kalangan tertentu saja (QS. Al-Hasyr: 7). </li></ul><ul><li>Dalam pandangan Islam, harta bukanlah tujuan, tapi sebagai alat untuk menyempurakan kehidupan dan alat untuk mencapai keridhaan Allah </li></ul><ul><li>Pemilikan dan penggunaan harta, disamping untuk kemaslahatan pribadi, juga harus memberikan manfaat bagi orang lain (fungsi sosial). </li></ul><ul><li>ان في المال حقا سوى الزكاة - رواه الترمذي </li></ul>
  6. 6. MEMPEROLEH HARTA <ul><li>Allah Swt memerintahkan manusia supaya berusaha mencari harta dan memilikinya dengan cara yang halal dan baik (QS. Al-Jum’ah: 10). Setelah berusaha sungguh-sungguh, Allah Swt menyuruh manusia untuk berdo’a kepadaNya (QS. Al-Nisa’: 32). Selanjutnya Allah akan memberikan karuniaNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya (QS. Al-Jum’ah). </li></ul><ul><li>Secara umum, ada dua bentuk cara memperoleh harta: </li></ul><ul><li>1. Memperoleh harta secara langsung sebelum dimiliki oleh siapapun. Bentuknya adalah menghidupkan/menggarap tanah mati (lahan kosong) yang belum menjadi milik siapapun, disebut ihya’ al-mawat. من أحيا أرضا ميتة فهي له </li></ul><ul><li>2. Memperoleh harta yang telah dimiliki oleh seseorang melalui transaksi. Bentuk ini terbagi dua: Ijbary dan Ikhtiyary. Bentuk Ijbary adalah peralihan harta yang berlangsung dengan sendirinya tanpa perencanaan atau penolakan, seperti warisan. Sedangkan Ikhtiyari adalah peralihan harta berlangsung tidak dengan sendirinya, melainkan atas kehendak tertentu, seperti hibah dan jual beli. </li></ul><ul><li>Metode memperoleh harta: M enguasai benda-benda mubah yang belum menjadi milik seorang pun , p erjanjian hak milik seperti jual-beli, hibah , hadiah, wasiat , w arisan , s yuf’ah ( hak membeli dengan paksa atas harta persekutuan yang dijual kepada orang lain tanpa izin para anggota persekutuan yang lain ), Iqtha ( pemberian dari pemerintah ), h ak-hak keagamaan seperti bagian zakat, bagi an ‘amil, nafkah istri, anak, orang tua. </li></ul>
  7. 7. Metode Yang Dilarang <ul><li>D ilarang mencari harta, berusaha atau bekerja yang sifatnya melupakan mati (at-Takatsur:1-2), melupakan z ikrullah/mengingat A llah (al-Munafiqun:9), melupakan sh a lat dan zakat (an-Nur: 37), dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja . </li></ul><ul><li>D ilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba (al-Baqarah: 273-281), perjudian, jual beli barang yang haram (al- M aidah :90-91), mencuri merampok (al-Maidah :38), curang dalam takaran dan timbangan (al-Muthaffifin: 1-6), melalui cara-cara yang batil dan merugikan (al-Baqarah:188), dan melalui suap menyuap. </li></ul><ul><li>Cara memperoleh harta yang dilarang ialah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip muamalah , yaitu memperoleh harta dengan cara-cara yang mengandung unsur paksaan dan tipuan yang bertentanga n dengan prinsip sukarela, seperti merampas harta orang lain, menjual barang palsu, mengurangi ukuran dan timbangan, d sb . Kemudian memperoleh hartanya dengan cara yang justru mendatangkan mudharat/keburukan dalam kehidupan masyarakat, seperti jual beli ganja, perjudian, minuman keras, prostitusi, d sb . Atau memperoleh harta dengan jalan yang bertentangan dengan nilai keadilan dan tolong menolong, seperti riba, meminta balas jasa tidak seimbang dengan jasa yang diberikan. Juga menjual barang dengan harga jauh lebih tinggi dari harga yang sebenarnya, monopoli ( ihtikar ), penipuan ( tadlis ), dsb . </li></ul>
  8. 8. Pemanfaatan Harta <ul><li>Digunakan untuk kepentingan kebutuhan hidup sendiri (QS. Al-Mursalat: 43). Hal yang perlu dijauhi adalah israf dan tabdzir. Israf (berlebih-lebihan) yaitu mempergunakan harta melebihi ukuran yang patut (QS. Al-A’raf: 31). Tabdzir (boros) yaitu menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat (QS. Al-Isra’: 26-27). </li></ul><ul><li>Digunakan untuk memenuhi kewajibannya kepada Allah. Ada 2 kewajiban, yaitu kewajiban materi yang berkenaan dengan kewajiban agama yang merupakan utang kepada Allah seperti zakat dan nadzar (QS. Al-Baqarah: 267), serta kewajiban materi untuk nafkah keluarga (QS. Al-Baqarah: 233). </li></ul><ul><li>Dimanfaatkan bagi kepentingan sosial, seperti infaq. Karena rezeki yang diberikan oleh Allah Swt kepada setiap orang berbeda-beda (QS. Al-Nahl: 71) sehingga perlu ada pendistribusian melalui infaq (QS. Al-Munafiqun: 10). </li></ul><ul><li>Penggunaan harta dalam Islam, tidak boleh terlalu kikir namun juga tidak boleh terlalu berlebihan (QS. Al-Isra’: 29). </li></ul><ul><li>Pemanfaatan harta yang dilarang adalah untuk tujuan negatif yang dapat menyulitkan kehidupan orang, menyakiti orang lain (QS. Al-Baqarah: 262), menjauhkan orang dari melaksanakan perintah dan ajaran agama (QS. Al-Anfal: 36), larangan mencampur-adukkan yang halal dan batil (QS. Al-Fajr: 19). </li></ul>
  9. 9. Pembagian Jenis Harta Ulama fiqih membagi harta menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya berdampak atau berkaitan dengan beragam hukum. Berikut ini adalah klasifikasi harta dan implikasi hukumnya dalam tinjauan fiqh muamalah. <ul><li>Mutaqawwim dan Ghair Mutaqawwim </li></ul><ul><li>Mitsli dan Qimi </li></ul><ul><li>Istihlak dan Isti’mal </li></ul><ul><li>Manqul dan Ghair Manqul </li></ul><ul><li>‘ Ain dan Dayn </li></ul><ul><li>Mamluk, Mubah, Mahjur </li></ul><ul><li>Dapat dibagi dan tidak dapat dibagi </li></ul><ul><li>Pokok dan hasil </li></ul><ul><li>Khash dan ‘am </li></ul>
  10. 10. Mutaqawwim dan Ghair Mutaqawwim <ul><li>Berdasarkan Kebolehan Memanfaatkan, harta terbagi kepada: Harta Muttaqawwim semua harta yang baik jenisnya maupun cara memperoleh dan penggunaannya (halal untuk dimanfaatkan). Harta Ghair Muttaqawwim harta yang tidak boleh diambil manfaatnya, baik jenisnya, cara memperolehnya dan cara penggunaannya. Seperti babi, barang yang diperoleh dengan mencuri, atau uang yang disumbangkan untuk membangun rumah prostitusi. (tidak halal dimanfaatkan). </li></ul><ul><li>Implikasi Hukum: Tidak dibolehkannya umat Islam menjadikan harta Ghairu Muttaqawwim sebagai objek transaksi. Bebasnya umat Islam dari tuntutan ganti rugi apabila mereka merusak atau melenyapkan harta Ghairu Muttaqawwim. </li></ul><ul><li>Faedah Pembagian: Sah dan Tidaknya Akad. Harta Muttaqawwim sah dijadikan akad dalam berbagai aktivitas mu’amalah , seperti hibah, pinjam-meminjam, dan lain-lain. Sedangkan harta Ghair Muttaqawwim tidak sah dijadikan akad dalam bermu’amalah. Penjualan khamar, babi, dan sejenisnya yang diharamkan apabila dilakukan oleh umat Islam maka hukumnya adalah batal. Adapun pembelian sesuatu dengan barang-barang haram adalah fasid (rusak). Demikianlah pendapat yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah. Tanggung Jawab Ketika Rusak. Jika seseorang merusak harta Muttaqawwim, ia bertanggung jawab untuk menggantinya. Akan tetapi jika ia merusak harta Ghair Muttaqawwim, ia tidak bertanggung jawab. Menurut ulama Hanafiyah, dalam hal merusak Ghair Muttaqawwim, ia tetap bertanggung jawab sebab harta tersebut dipandang Muttaqawwim (bernilai) oleh non-muslim. Adapun menurut jumhur, harta Ghair Muttaqawwim tetap dipandang Muttaqawwim, sebab umat non-muslim yang berada di negara Islam harus mengikuti peraturan yang diikuti oleh umat Islam. Dengan demikian, umat Islam tidak perlu bertanggung jawab jika merusaknya. </li></ul>
  11. 11. Mitsli dan Qimi <ul><li>Berdasarkan ada dan tidaknya di pasaran , harta terbagi kepada: </li></ul><ul><li>HARTA MITSLI: Harta yang memiliki persamaan atau kesetaraan di pasar, tidak ada perbedaan pada bagian-bagiannya atau kesatuannya, yaitu perbedaan atau kekurangan yang biasa terjadi dalam aktivitas ekonomi. Harta Mitsli terbagi 4: harta yang ditakar seperti gandum, harta yang ditimbang seperti kapas dan besi, harta yang dihitung seperti telur, dan harta yang dijual dengan ukuran seperti meter bahan pakaian. Jenisnya dapat diperoleh di pasar secara persis. </li></ul><ul><li>HARTA QIMI: Harta yang tidak mempunyai persamaan di pasar; atau mempunyai persamaan, tapi ada perbedaan menurut kebiasaan pada satuannya dalam hal kualitas, seperti satuan pepohonan, logam mulia, binatang, atau peralatan rumah tangga. Jenisnya sulit didapatkan di pasar, bisa diperoleh tapi jenisnya berbeda, kecuali dalam nilai harganya. </li></ul><ul><li>Faedah Pembagian: a. Pada harta al-qimi tidak mungkin terjadi riba, karena jenis satuannya tidak sama, namun pada harta al-mitsli bisa berlaku transaksi yang menjurus pada riba. </li></ul><ul><li>b. Dalam suatu perserikatan harta yang bersifat al-misli, seorang mitra serikat boleh mengambil bagiannya ketika mitra dagangnya sedang tidak di tempat. Akan tetapi pada harta yang bersifat al-qimi, masing-masing pihak tidak boleh mengambil bagiannya selama pihak lainnya tidak berada di tempat. </li></ul><ul><li>c. Apabila harta yang bersifat al-misli dirusak seseorang dengan sengaja, maka wajib diganti dengan harta sejenis, namun apabila pengrusakan dengan sengaja terhadap harta yang bersifat al-qimi harus diganti dengan memperhitungkan nilainya. </li></ul>
  12. 12. Istihlak dan Isti’mal <ul><li>Berdasarkan Segi Pemanfaatannya, harta terbagi kepada: </li></ul><ul><li>HARTA ISTIHLAKI , adalah harta yang dapat diambil manfaatnya dengan merusak zatnya. Misalnya makanan, minuman, kayu bakar, sabun, dan lain-lain. Harta Istihlaki terbagi dua, yaitu istihlak haqiqi dan istihlak huquqi. Istihlak haqiqi ialah suatu benda yang menjadi harta yang secara jelas nyata zatnya habis sekali pakai, misal kayu bakar, jika dibakar maka akan habis. Istihlak huquqi harta yang sudah habis nilainya bila telah digunakan, tetapi zatnya masih tetap ada, misal: uang yang dipakai untuk membayar utang, dipandang habis menurut hukum walaupun uang tsb masih utuh dan berpindah kepemilikan. </li></ul><ul><li>HARTA ISTI’MALI , adalah harta yang dapat diambil manfaatnya dengan tanpa merusak zatnya (zatnya tetap). Harta jenis ini tidak habis sekali digunakan, tetapi dapat digunakan lama menurut apa adanya. Contoh: rumah, tempat tidur, pakaian, buku, dan lain sebagainya. </li></ul>
  13. 13. Manqul dan Ghair Manqul <ul><li>Berdasarkan Jenisnya, harta terbagi kepada Manqul dan Ghair Manqul (‘Aqar) a. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah: Manqul (harta bergerak) berarti harta yang dapat dipindahkan dan diubah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, baik tetap pada bentuk dan keadaan semula, ataupun berubah bentuk dan keadaannya disebabkan karena perpindahan dan perubahan tersebut. Hal ini mencakup uang, barang dagangan, macam-macam hewan yang halal diperjual-belikan, benda-benda yang ditimbang dan diukur. ‘ Aqar artinya adalah harta tetap, yang tidak mungkin diubah dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya, seperti rumah, dan barang-barang lain yang telah membumi. Menurut ulama Hanafiyah , bangunan dan tanaman tidaklah termasuk ‘aqar, kecuali kalau keduanya menyatu dengan bumi (tanah). Dengan demikian, jika menjual tanah yang di atasnya ada bangunan atau tanaman, maka bangunan dan tanaman serta benda-benda lain yang ikut menempel di tanah tersebut dihukumi ‘aqar. Sebaliknya, apabila hanya menjual bangunan atau tanamannya saja, maka tidak dihukumi ‘aqar, sebab ‘aqar menurut ulama Hanafiyah hanyalah tanah (bumi), sedangkan selain itu adalah harta manqul. b. Menurut ulama Malikiyah. Ulama Malikiyah menyempitkan cakupan manqul memperluas pengertian ‘aqar, yaitu: Manqul , adalah harta yang dapat dipindahkan dan diubah dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan tidak berubah bentuk dan keadaannya seperti pakaian, buku, dan sebagainya. ‘ Aqar , adalah harta yang tidak dapat dipindahkan dan diubah dari asalnya, seperti tanah, atau mungkin dapat dipindahkan dan diubah dan terjadi perubahan pada bentuk dan keadaannya ketika dipindahkan, seperti rumah dan pohon (tanaman). Rumah setelah diruntuhkan berubah menjadi rusak, dan pohon berubah menjadi kayu. IMPLIKASINYA: Menurut ulama hanafiyah, tidak sah wakaf kecuali pada harta ‘aqar atau sesuatu yang ikut pada harta ‘aqar. Sebaliknya jumhur berpendapat bahwa harta ‘aqar dan manqul dapat diwakafkan. </li></ul>
  14. 14. ‘ Ain dan Dayn <ul><li>Berdasarkan Bentuk dan Nilainya, harta terbagi kepada: </li></ul><ul><li>HARTA ‘AIN, yaitu harta yang berbentuk benda, seperti meja, kursi, kendaraan, dll. Harta ‘Ain ini terbagi dua: a. Harta ‘ain dzati qimah , adalah benda yang memiliki bentuk dan nilai, yang meliputi: - benda yang dianggap harta yang boleh diambil manfaatnya atau tidak; - benda yang dianggap harta yang ada atau tidak ada sebangsanya; - benda yang dianggap harta yang dapat atau tidak dapat bergerak. b. Harta ‘ain ghair dzati qimah , adalah benda yang tidak dapat dipandang sebagai harta, karena tidak memiliki nilai atau harga, seperti sebutir beras. </li></ul><ul><li>HARTA DAYN , yaitu sesuatu yang berada dalam tanggung jawab, seperti uang yang berada dalam tanggung jawab seseorang. </li></ul><ul><li>Menurut ulama Hanafiyah, harta tidak dapat dibagi menjadi dua bentuk tersebut, sebab harta menurut mereka haruslah sesuatu yang berwujud atau berbentuk. Utang menurut ulama Hanafiyah tidaklah termasuk harta, tetapi bagian dari tanggung jawab (washf fi al-dzimmah). </li></ul>
  15. 15. Mamluk, Mubah, Mahjur <ul><li>Berdasarkan Status Harta, harta terbagi kepada: </li></ul><ul><li>HARTA MAMLUK , harta yang telah dimiliki, baik secara pribadi, yayasan, pemerintah maupun badan hukum. </li></ul><ul><li>HARTA MUBAH , adalah harta yang tidak dimiliki seseorang, seperti hewan buruan, kayu di hutan beserta buah-buahannya, dan lain-lain. </li></ul><ul><li>HARTA MAHJUR , adalah harta yang dilarang syara’ untuk memilikinya, baik karena harta itu harta wakaf maupun harta untuk kepentingan umum. Faedah Pembagian: a. Harta yang boleh didayagunakan (tasharuf) oleh seseorang adalah harta al-mamluk. b. Tiap-tiap manusia boleh memiliki harta al-mubah sesuai kemampuan dan usahanya yang dibenarkan oleh syara’. Dengan demikian, maka harta tersebut akan menjadi miliknya, seperti orang yang menghidupkan atau memakmurkan tanah yang tidak ada pemiliknya. Hal ini telah dibenarkan oleh syara’. </li></ul>
  16. 16. Harta Dapat Dibagi dan Harta Tidak Dapat Dibagi <ul><li>Berdasarkan Bisa Dibagi Atau Tidaknya. </li></ul><ul><li>HARTA YANG DAPAT DIBAGI (qabil li al-qismah) , yaitu harta yang tidak menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagikan, seperti beras, tepung, dan lain-lain. HARTA YANG TIDAK DAPAT DIBAGI-BAGI (ghair qabil li al-qismah) , yaitu harta yang menimbulkan kerugian atau kerusakan apabila dibagi-bagi, seperti piring, mesin, kursi, meja, dan lain-lain. </li></ul>
  17. 17. Harta Pokok dan Hasil <ul><li>Berdasarkan Berkembang Atau Tidaknya, harta terbagi kepada: HARTA POKOK (AL-MAL AL-ASHL) : harta yang menyebabkan adanya harta yang lain. </li></ul><ul><li>HARTA HASIL (TSAMARAH) , yaitu harta hasil yang terjadi dari harta yang lain. Diantara contoh harta pokok adalah sapi, dan harta hasil adalah susu atau daging sapi. Atau jika dicontohkan bulu yang dihasilkan dari domba, maka domba merupakan harta pokok, bulunya merupakan harta hasil. Harta pokok ini dapat disebut harta modal. Implikasi Hukum: a. Pokok harta wakaf tidak bisa dibagi-bagikan kepada yang berhak menerima wakaf, tetapi buah atau hasil darinya dapat dibagikan kepada mereka. b. Harta yang diperuntukkan bagi kepentingan umum asalnya tidak bisa dibagi-bagikan, tetapi hasilnya bisa dimiliki siapapun. c. Dalam suatu transaksi yang objeknya manfaat benda, maka pemilik manfaat itu berhak atas hasilnya. Misalnya, apabila seseorang menyewa sebuah rumah yang secara kebetulan di pekarangan rumahnya tersebut ada pohon yang sedang berbuah, maka buah tersebut menjadi milik penyewa rumah dan ia boleh memperjual-belikannya kepada orang lain. </li></ul>
  18. 18. Harta Khash dan ‘Am <ul><li>Berdasarkan Kepemilikannya . </li></ul><ul><li>HARTA KHAS (KHUSUS) , adalah harta pribadi yang tidak bersekutu dengan harta lain. Harta ini tidak dapat diambil manfaatnya atau digunakan seenaknya kecuali atas kehendak atau seizin pemiliknya. HARTA ‘AM (UMUM) , adalah harta milik umum atau bersama, semua orang boleh mengambil manfaatnya sesuai dengan ketetapan yang disepakati bersama oleh umum atau penguasa. </li></ul>
  19. 19. Kepemilikan Harta <ul><li>Pemilik Mutlak adalah Allah SWT. Penisbatan kepemilikan kepada Allah mengandung tujuan sebagai jaminan emosional agar harta diarahkan untuk kepentingan manusia yang selaras dengan tujuan penciptaan harta itu sendiri. </li></ul><ul><li>Namun demikian, Islam mengakui kepemilikan individu, dengan satu konsep khusus, yakni konsep khilafah. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang diberi kekuasaan dalam mengelola dan memanfaatkan segala isi bumi dengan syarat sesuai dengan segala aturan dari Pencipta harta itu sendiri. </li></ul><ul><li>Harta dinyatakan sebagai milik manusia, sebagai hasil usahanya. Al-Qur’an menggunakan istilah al-milku dan al-kasbu (QS 111:2) untuk menunjukkan kepemilikan individu ini. Dengan pengakuan hak milik perseorangan ini, Islam juga menjamin keselamatan harta dan perlindungan harta secara hukum. </li></ul><ul><li>Islam juga mengakui kepemilikan bersama (syrkah) dan kepemilikan negara. Kepemilikan bersama diakui pada bentuk-bentuk kerjasama antar manusia yang bermanfaat bagi kedua belah pihak dan atas kerelaan bersama. Kepemilikan Negara diakui pada asset-asset penting (terutama Sumber Daya Alam) yang pengelolaannya atau pemanfaatannya dapat mempengaruhi kehidupan bangsa secara keseluruhan. </li></ul>
  20. 20. <ul><li>Harta yang tidak dapat dimiliki dan dihakmilikkan orang lain adalah setiap harta milik umum seperti jalanan, jembatan, sungai dll. dimana harta/barang tersebut untuk keperluan umum. </li></ul><ul><li>Harta yang tidak bisa dimilki kecuali dengan ketentuan syari’ah , seperti harta wakaf, harta baitul mal dll. Maka harta wakaf tidak bisa dijual atau dihibahkan kecuali dalam kondisi tertentu seperti mudah rusak ataupun biaya pengurusannya lebih besar nilai hartanya. </li></ul><ul><li>Harta yang bisa dimiliki dan dihakmilikkan kepada lainnya adalah selain dari dua jenis harta dalam kategori tsb diatas. </li></ul>
  21. 21. NEXT WEEK Fiqh Jual Beli: Definisi, dasar hukum jual beli, rukun dan syarat jual beli, khiyar, bentuk jual beli yang dilarang, manfaat dan hikmah jual beli.

×