Presentasi fiqh pacaran

11,356 views
11,043 views

Published on

3 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
11,356
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,878
Actions
Shares
0
Downloads
1,202
Comments
3
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi fiqh pacaran

  1. 1. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA H UKUM P ACARAN D ALAM P ANDANGAN I SLAM
  2. 2. Terminologi <ul><li>Pacaran menurut KBBI adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap. </li></ul><ul><li>Istilah pacaran sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat, telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat, apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri. </li></ul><ul><li>Pacaran merupakan bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), dating (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan). </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Ada beragam tujuan orang berpacaran. Ada yang sekedar iseng, atau mencari teman bicara, atau lebih jauh untuk tempat mencurahkan isi hati. Ada yang menjadikan masa pacaran sebagai masa perkenalan dan penjajakan dalam menempuh jenjang pernikahan. Namun, banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap. </li></ul><ul><li>Saat berpacaran banyak terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifitas pacaran pelajar dan mahasiswa sekarang ini cenderung sampai ke level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan nonton bioskop berduaan, berboncengan sepeda motor, makan di restoran berduaan, tukar menukar SMS, saling bertelepon siang-malam. Tetapi fakta menunjukkan bahwa ciuman dan segala aktifitas yang menjurus ke arah perzinaan biasa dilakukan. </li></ul>Fakta Pacaran
  4. 4. Islam Mengakui Rasa Cinta <ul><li>Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga. Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat Islam. </li></ul><ul><li>Dalam QS. Ali Imran: 14 </li></ul><ul><li>زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ . </li></ul>
  5. 5. Pacaran Bukan Cinta <ul><li>Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencintai satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat. Semua bentuk aktifitas pacaran sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya. </li></ul><ul><li>Padahal cinta itu adalah memiliki, tanggung-jawab, ikatan sah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta. </li></ul>
  6. 6. Cinta Kepada Lawan Jenis <ul><li>Dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan diantara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat. Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar & pernyataan tanggung-jawab yg disaksikan oleh orang banyak. Bahkan lebih keren, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. </li></ul><ul><li>Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada pemenuhan syahwat, baik itu sentuhan, pegangan, bergandengan tangan dst. Sedangkan diluar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. </li></ul>
  7. 7. Mahram dan Non-Mahram <ul><li>Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita dibagi menjadi dua, yaitu hubungan mahram dan hubungan non-mahram . Hubungan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa 23, yaitu mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas. </li></ul><ul><li>ATURAN UNTUK MAHRAM sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, semisal bapak dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adiknya yang perempuan, dan seterusnya. Demikian pula, dibolehkan bagi mahramnya untuk tidak berhijab di mana seorang laki-laki boleh melihat langsung perempuan yang terhitung mahramnya tanpa hijab ataupun tanpa jilbab (tetapi bukan auratnya), semisal bapak melihat rambut putrinya, atau seorang kakak laki-laki melihat wajah adiknya yang perempuan. Aturan yang lain yaitu perempuan boleh berpergian jauh/safar lebih dari tiga hari jika ditemani oleh laki-laki yang terhitung mahramnya, misalnya kakak laki-laki mengantar adiknya yang perempuan tour keliling dunia. Aturan yang lain bahwa seorang laki-laki boleh menjadi wali bagi perempuan yang terhitung mahramnya, semisal seorang laki-laki yang menjadi wali bagi bibinya dalam pernikahan. </li></ul>
  8. 8. Hubungan Dengan Non-Mahram <ul><li>ATURAN DENGAN NON-MAHRAM , larangan berkhalwat (berdua-duaan), larangan melihat langsung, kewajiban berhijab dan berjilbab, tidak bisa berpergian lebih dari tiga hari dan tidak bisa menjadi walinya. </li></ul><ul><li>QS. al-Isra`: 32 وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا juga QS. al-Nur: 30–31. </li></ul><ul><li>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ </li></ul><ul><li>وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . </li></ul><ul><li>Rasulullah saw. berpesan kepada Ali r.a. yang artinya, “Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi). </li></ul><ul><li>Menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan dapat dikatakan terpelihara apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya. </li></ul>
  9. 9. Solusi Pacaran dalam Islam <ul><li>Dalam Islam hubungan dengan non-mahram diakomodir dlm lembaga perkawinan melalui sistem khitbah dan pernikahan. </li></ul><ul><li>“ Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, Darami). </li></ul><ul><li>Khitbah merupakan mukaddimah perkawinan. Khitbah perlu mendapat perhatian serius, guna melestarikan perkawinan yang mantap dan dapat mencapai mawaddah wa rahmah . </li></ul><ul><li>Dalam khitbah, ada istilah nadlar dan ta’aruf . Nadlar artinya melihat dari dekat calon istri atau sebaliknya dalam batas-batas kesopanan, dalam rangka menuju perkawinan. Sedang ta’aruf artinya saling mengenal kepribadian masing-masing calon suami-istri menurut cara yang sebaik-baiknya. Atau dengan cara memandang wajah serta kedua tangannya dan dengan berbicara secara musyafahah . </li></ul>
  10. 10. Khitbah (Pinangan) <ul><li>Para ulama sepakat bahwa laki-laki yang melamar ( al-khātib ) diperkenankan melihat wanita yang dilamar ( al-makhtūbah ). </li></ul><ul><li>َوَلِمُسْلِمٍ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ اِمْرَأَةً : أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا ? قَالَ : لَا . قَالَ : اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا ) </li></ul><ul><li>َوَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ص م ( إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا , فَلْيَفْعَلْ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ </li></ul><ul><li>Para ulama sepakat bahwa wanita yang dilamar boleh dilihat wajah dan telapak tangannya. Wajah dan tangan sudah cukup untuk menilai wanita tersebut. Dengan melihat wajah dapat diketahui kecantikannya, dan dengan melihat telapak tangan dapat dilihat subur dan sehat tidaknya anggota badan lainnya. </li></ul><ul><li>Perempuan yang boleh dipinang adalah yang memenuhi syarat: Tidak dalam pinangan orang lain, pada saat dipinang tidak ada penghalang syar’i yang melarang pernikahan, dan perempuan tsb tidak dalam masa ‘iddah karena talak raj’i. </li></ul><ul><li>Larangan melakukan khitbah terhadap wanita yang sudah dilamar orang </li></ul><ul><li>َوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ص م ( لَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ , حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ , أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ </li></ul>
  11. 11. Antara Pacaran dan Khitbah <ul><li>Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pra-nikah, Islam mengenalkan istilah khitbah (meminang). Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan selayaknya suami istri. </li></ul><ul><li>Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah. Pacaran tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaan keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan. </li></ul><ul><li>Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal itu haram. </li></ul><ul><li>وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ </li></ul>
  12. 12. Batasan-batasan dalam Pacaran dan Khitbah <ul><li>Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina. (QS. al-Isra` ayat 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskanmu pada perbuatan zina (sadd al-dzari’ah) . Diantara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dsb. </li></ul><ul><li>Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW bersabda, &quot;Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya).“ </li></ul><ul><li>Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan. Nabi SAW bersabda, &quot;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan.&quot; (HR. Ahmad) </li></ul><ul><li>Harus menjaga mata atau pandangan. Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. (QS. An-Nur: 30-31). Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu. </li></ul><ul><li>Menutup aurat. Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. </li></ul>
  13. 13. Solusi Menghindari Pacaran <ul><li>Menikah, supaya bisa menjaga mata dan kehormatan. </li></ul><ul><li>Kalau belum siap menikah, banyaklah berpuasa dan berolahraga. </li></ul><ul><li>Jauhkan mata dan telinga dari segala sesuatu yang akan membangkitkan syahwat. </li></ul><ul><li>Dekatkan diri dengan Allah, dengan banyak membaca al-Qur’an dan merenungkan artinya. Banyak berzikir, membaca shalawat, shalat berjamaah di Masjid, menghadiri pengajian-pengajian dan berteman dengan orang-orang yang shaleh yang akan selalu mengingatkan kita kepada jalan yang lurus. </li></ul><ul><li>Ingatlah bahwa Allah telah menjanjikan kepada para pemuda yang sabar menahan pacaran dan zina yaitu dengan bidadari, yang kalau satu diantaranya menampakkan wajahnya ke alam dunia ini, setiap laki-laki yang memandangnya pasti akan jatuh pingsan karena kecantikannya. </li></ul><ul><li>sebuah syair mengatakan: kadang peristiwa besar bermula dari hal-hal kecil permulaannya memandang, lalu tersenyum, kemudian menyapa, lalu mengobrol, lantas janjian, kemudian berkencan, dan akhirnya berzina. </li></ul>
  14. 14. <ul><li>Istilah pacaran tidak ada dalam Islam. Yang ada dalam Islam adalah “Khitbah” atau masa tunangan. Tunangan adalah masa perkenalan, sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan mempunyai dampak seperti kalau putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya boleh bertemu dan berbincang-bincang di tempat yang aman, maksudnya ada orang ketiga meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka. </li></ul><ul><li>Realitas pacaran modern lebih cenderung kepada mendekati perzinaan. </li></ul><ul><li>Penentuan hukum pacaran dalam Islam lebih didasarkan kepada metode mencegah dan menutup jalan menuju terjadinya perbuatan yang mendekati perzinaan. Dalam ushul fiqh disebut Sadd al-dzari’ah ( سدّ الذريعة ) . </li></ul><ul><li>Orang berpacaran akan sulit menghindari segi mudharatnya ketimbang meraih maslahatnya. Waktu luangnya banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa/i masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu? Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. </li></ul><ul><li>Menolak berpacaran adalah sesuai dengan kaidah fiqh : دفع المفاسد مقدم على جلب المصالح </li></ul>Konklusi
  15. 15. Selamat Berdiskusi

×