Your SlideShare is downloading. ×
0
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Presentasi Fiqh 8
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Presentasi Fiqh 8

13,907

Published on

Published in: Technology, Business
1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
13,907
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
645
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. FIQH JUAL BELI Membahas Terminologi Jual Beli, Hukum Jual Beli, Dalil, Rukun dan Syarat Jual Beli, Jenis-jenis Jual Beli Terlarang, Terminologi dan Macam-macam Khiyar, Musaqah, Muzara’ah dan Mukhabarah Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-8
  • 2.
    • Jual beli adalah kegiatan saling menukar, terdiri dari 2 kata, yaitu jual ( al-bai’) dan beli (al-syirâ`), merupakan 2 kata yang biasanya digunakan dalam pengertian yang sama. Secara etimologi, al-bai’ (jual beli) merupakan bentuk isim mashdar dari akar kata bahasa Arab bâ’a , maksudnya: penerimaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al-bai’ dalam bahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata al-syirâ`. Dua kata ini masing-masing mempunyai makna dua (jual dan beli) yang satu sama lain bertolak belakang.
    • Secara terminologi, jual-beli adalah pertukaran harta dengan harta yang lain berdasarkan tujuan tertentu, atau pertukaran sesuatu yang disukai dengan yang sebanding atas dasar tujuan yang bermanfaat dan tertentu, serta diiringi dengan ijab dan qabul . Menurut Sayyid Sâbiq, jual-beli adalah pertukaran harta atas dasar saling rela, atau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan. Apabila akad pertukaran (ikatan dan persetujuan) dalam jual-beli telah berlangsung, dengan terpenuhinya rukun dan syarat, maka konsekuensinya penjual akan memindahkan barang kepada pembeli. Demikian pula sebaliknya, pembeli memberikan miliknya kepada penjual, sesuai dengan harga yang disepakati, sehingga masing-masing dapat memanfaatkan barang miliknya menurut aturan dalam Islam. Dalam konteks modern, terminologi jual-beli digunakan untuk menunjukkan proses pemindahan hak milik barang atau aset yang mayoritas mempergunakan uang sebagai medium pertukaran.
    البيع لغة مصدر باع - يقال : باع يبيع بمعنى ملك ، وبمعنى اشترى ، وكذلك شَرَى يكون للمعنيين ، واشتقاقه من الباع ؛ لأن كل واحد من المتعاقدين يمد باعه للأخذ والإعطاء ، ويقال للبائع والمشتري : بيّعان بتشديد الياء ، وأباع الشيء عرضه للبيع . البيع معناه شرعاً مبادلة مال بمال على سبيل التراضي أو نقل ملك بعوض على الوجه المأذون فيه وهو مقابلة مال بمال على وجه مخصوص Definisi Jual Beli
  • 3. Dasar Hukum Jual Beli
    • Jual beli hukum asalnya jâiz atau mubah (boleh) berdasarkan dalil dari al-Quran, hadis dan ijma’ para ulama.
    • 1. al-Quran surat al-Nisa’, 4:29
    • يآءيها الذين آمنوا لاتأكلوا أموالكم بينكم بالباطل الا ان تكون تجارة عن تراض منكم
    • 2. al-Quran surat al-Baqarah, 2:275
    • وأحل الله البيع وحرم الربا
    • 3. Dalil dari hadis
    • عن رفاعة بن رافع قال : سئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الكسب أطيب ؟ فقال : عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور . ( رواه البزار وصححه الحاكم )
    • Artinya: “Dari Rafa’ah bin Rafe r.a bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling mulia? Lalu Rasulullah SAW menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur”. (HR. Albazzar)
    • Menurut Imam al-Syathibi, pakar fiqh mazhab Maliki, hukum jual beli bisa berubah menjadi wajib pada situasi tertentu, misalnya ketika terjadi praktik ihtikar (monopoli atau penimbunan barang sehingga stok hilang dari pasar dan harga melonjak naik). Pemerintah boleh turun tangan mewajibkan pedagang menjual barangnya sesuai ketentuan pemerintah.
    • Hukum jual beli juga bisa menjadi haram , misalnya ketika berkumandang azan Jum’at, meskpiun akadnya tetap sah.
  • 4. Rukun dan Syarat Jual Beli
    • Menurut Jumhur Ulama, rukun jual beli ada 4, yaitu
    • adanya orang-orang yang berakad (al-muta’aqidain) ,
    • sighat (ijab dan qabul) ,
    • barang yang dibeli (mabi’) , dan
    • nilai tukar pengganti (tsaman) .
    • Menurut Mazhab Hanafi, rukun jual beli hanya satu yaitu adanya kerelaan kedua belah pihak (‘an taradhin minkum) . Indikatornya tergambar dalam ijab dan qabul, atau melalui cara saling memberikan barang dan harga. Sedangkan syarat jual beli menurut mazhab Hanafi adalah orang yang berakad, barang yang dibeli dan nilai tukar barang.
    • SYARAT ORANG YANG BERAKAD yakni berakal , cakap hukum (memiliki kompetensi dalam melakukan aktifitas jual beli), dan sukarela / ridha (tidak dalam keadaan dipaksa atau terpaksa atau dibawah tekanan).
    • SYARAT IJAB QABUL adalah harus jelas dan disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad, antara ijab dan qabul harus selaras baik spesifikasi barang dan harga yg disepakati, tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada kejadian yang akan datang.
    • SYARAT BARANG YANG DIPERJUAL BELIKAN yakni barang itu ada, dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia, merupakan hak milik penuh pihak yang berakad , dapat diserahkan saat akad berlangsung atau pada waktu yang disepakati ketika transaksi berlangsung, tidak termasuk yang diharamkan atau dilarang, dan syarat nilai tukar atau harga barang harus diketahui secara pasti.
  • 5. أركان و شروط البيع
    • اركان عقد البيع :-
    • 1- العاقدان : وهما البائع والمشتري
    • 2- المعقود عليه : وهو الثمن والمثمن
    • 3- صيغة العقد : وينعقد البيع بكل قول او فعل يدل على إرادة البيع والشراء وللبيع صيغتان : أ - الصيغه القولية وتسمى الايجاب والقبول
    • ب - الصيغه الفعلية وتسمى المعاطاه
    • شروط البيع :-
    • لايكون البيع صحيحاً حتى تتوفر فيه سبعة شروط متى فقد شرط منها صار البيع باطلا :
    • 1- التراضي بين المتبايعين .
    • 2- أن يكون العاقد جائز التصرف .
    • 3- أن تكون العين مباحة النفع من غير حاجة .
    • 4- أن يكون البيع من مالك أو من يقوم مقامه .
    • 5- أن يكون المبيع مقدوراً على تسليمه .
    • 6- أن يكون المبيع معلوماً برؤية أو وصف منضبط .
    • 7- أن يكون الثمن معلوماً .
  • 6. Pembagian Jual Beli Terlarang
  • 7. Jual Beli Yang Dilarang Tidak Sah, Karena Tidak Memenuhi Syarat dan Rukun Zatnya haram, najis Belum jelas Menimbulkan kemudharatan Buah belum tampak hasil Barang yg belum tampak (ikan di laut) Bersyarat Karena dianiaya Muhaqalah, Mukhadharah, Mulamasah, Munabadzah, Muzabanah
  • 8. Jual Beli Yang Dilarang Sah, Tetapi Dilarang Jual beli dari orang yg masih dalam tawar menawar Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar Memborong untuk ditimbun (ihtikar) Jual beli barang rampasan atau curian
  • 9. Penjelasan Jual Beli Terlarang
    • Dilarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun jual beli.
    • 1. Jual beli barang yang zatnya haram, najis atau tidak boleh diperjualbelikan.
    • 2. Jual beli yang dilarang karena belum jelas (sama-samar), antara lain: jual beli buah-buahan yang belum tampak hasilnya, jual beli barang yang belum tampak, seperti menjual ikan di kolam, menjual anak ternak yang masih dalam kandungan.
    • 3. Jual beli bersyarat.
    • 4. Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, seperti menjual narkoba, buku atau vcd porno, lambang-lambang salib dsb.
    • 5. Jual beli yang dilarang karena dianiaya, seperti menjual anak binatang yang masih begantung kepada induknya.
    • 6. Muhaqalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di sawah.
    • 7. Mukhadharah, menjual buah-buahan yang masih hijau (belum pantas dipanen)
    • 8. Mulamasah, jual beli secara sentuh menyentuh. Misal, orang yang menyentuh sehelai kain atau barang berarti dianggap/diharuskan membeli barang tersebut.
    • 9. Munabadzah, jual beli secara lempar melempar, seperti seseorang berkata: “Lemparkan kepadaku apa yang ada padamu, nanti kulemparkan pula kepadamu apa yang ada padaku.” Setelah lempar-melempar terjadilah jual beli.
    • 10. Muzabanah, menjual buah yang basah dengan buah yang kering, seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah, sedangkan ukurannya dengan ditimbang, sehingga akan merugikan pemilik padi kering.
  • 10. Penjelasan Jual Beli Terlarang
    • Dilarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak terkait
    • 1. Jual beli dari orang yang masih dalam tawar menawar.
    • 2. Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar. Menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membeli murah kemudian menjual di pasar dengan harga murah pula, sehingga merugikan pedagang lain yang belum mengetahui harga pasar. Dilarang karena mengganggu kegiatan pasar, meskipun akadnya sah.
    • 3. Ihtikar (monopoli), membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut.
    • 4. Jual beli barang rampasan atau curian.
    • Bentuk Jual Beli Yang Juga Dilarang
    • Bai’ ‘Inah . Maksud jual beli ‘inah yaitu apabila seseorang menjual suatu barang dagangan kepada orang lain dengan pembayaran tempo (kredit) kemudian orang itu (si penjual) membeli kembali barang itu secara tunai dengan harga lebih rendah dari harga awal sebelum hutang uangnya lunas.
    • Bai’ Najasy. Yaitu menawar suatu barang dagangan dengan menambah harga secara terbuka, ketika datang seorang pembeli dia menawar lebih tinggi barang itu padahal dia tidak ingin membelinya, tujuannya untuk menyusahkan orang lain membelinya.
    • Bai’ Gharar. Seorang penjual menipu pembeli dengan cara menjual barang dagangan yang didalamnya terdapat cacat. Penjual itu mengetahui adanya cacat tapi tidak memberitahukannya.
  • 11. Bentuk Khusus Jual Beli
    • Jual beli murabahah (jual beli diatas harga pokok) yakni pembelian oleh satu pihak untuk kemudian dijual kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap satu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan.
    • Al Salam / al salaf jual beli dengan pembayaran dimuka. Yakni merupakan pembelian barang yang diserahkan kemudian hari sementara pembayaran dilakukan dimuka
    • Al Istishna’ jual beli dengan pesanan. Merupakan salah satu bentuk jual beli salam namun objek yang diperjanjikan berupa manufacture order atau kontrak produksi. Istishna’ didefinisikan dengan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang.
    • Bai’ al wafa’ yakni jual beli yang dilangsungkan dua pihak yang dibarengi dengan syarat bahwa barang yang dijual itu dapat dibeli kembali oelh penjual, apabila tenggang waktu yang ditentukan telah tiba. Artinya jual beli itu mempunyai tenggang waktu yang terbatas misalnya 1 bulan, 1 tahun, sehingga jika waktu yang ditentukan itu telah habis maka penjual membeli barang itu kembali dari pembelinya
  • 12. Manfaat dan Hikmah Jual Beli
    • Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.
    • Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan.
    • Masing-masing pihak merasa puas, baik ketika penjual melepas barang dagangannya dengan imbalan, maupun pembeli membayar dan menerima barang.
    • Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram atau secara bathil.
    • Penjual dan pembeli mendapat rahmat Allah Swt. Bahkan 90% sumber rezeki berputar dalam aktifitas perdagangan.
    • Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.
    • HIKMAH JUAL BELI: Allah Swt mensyari’atkan jual beli sebagai bagian dari bentuk ta’awun (saling menolong) antar sesama manusia, juga sebagai pemberian keleluasaan, karena manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan, papan dsb. Kebutuhan seperti ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Tak seorangpun dapat memenuhi seluruh hajat hidupnya sendiri, karena itu manusia dituntut berhubungan satu sama lain dalam bentuk saling tukar barang. Manusia sebagai anggota masyarakat selalu membutuhkan apa yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu jual beli adalah salah satu jalan untuk mendapatkannya secara sah. Dengan demikian maka akan mudah bagi setiap individu untuk memenuhi kebutuhannya.
  • 13. KHIYAR
    • Secara etimologi, khiyar berarti pilihan. Secara terminologi, khiyar ialah mencari kebaikan dari dua perkara: melangsungkan atau membatalkan (jual beli). Atau, hak-hak menentukan pilihan antara dua hal bagi pembeli dan penjual, apakah akad jual beli akan diteruskan atau dibatalkan.
    • Hukum khiyar mubah (dibolehkan), karena keperluan mendesak serta mempertimbangkan kemaslahatan masing-masing pihak yang melakukan transaksi.
  • 14. Dalil Tentang Khiyar
    • Dari Ibnu Umar Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Apabila dua orang melakukan jual-beli, maka masing-masing orang mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau meneruskan jual-beli) selama mereka belum berpisah dan masih bersama; atau selama salah seorang di antara keduanya tidak menentukan khiyar pada yang lain, lalu mereka berjual-beli atas dasar itu, maka jadilah jual-beli itu. Jika mereka berpisah setelah melakukan jual-beli dan masing-masing orang tidak mengurungkan jual-beli, maka jadilah jual-beli itu." Muttafaq Alaihi. Dan lafadznya menurut riwayat Muslim.
    • Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Raa bahwa Nabi Saw bersabda: "Penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar sebelum keduanya berpisah, kecuali telah ditetapkan khiyar dan masing-masing pihak tidak diperbolehkan pergi karena takut jual-beli dibatalkan." Riwayat Imam Lima kecuali Ibnu Majah, Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu al-Jarus. Dalam suatu riwayat: "Hingga keduanya meninggalkan tempat mereka."
    َعَنْ اِبْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا - عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَا تَبَايَعَ اَلرَّجُلَانِ , فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعاً , أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا اَلْآخَرَ , فَإِنْ خَيَّرَ أَحَدُهُمَا اَلْآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدَ وَجَبَ اَلْبَيْعُ , وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ تَبَايَعَا , وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا اَلْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ اَلْبَيْعُ   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ َوَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ ; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : اَلْبَائِعُ وَالْمُبْتَاعُ بِالْخِيَارِ حَتَّى يَتَفَرَّقَا , إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَفْقَةَ خِيَارٍ , وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يُفَارِقَهُ خَشْيَةَ أَنْ يَسْتَقِيلَهُ . رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ , وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ , وَابْنُ خُزَيْمَةَ , وَابْنُ اَلْجَارُودِ . وَفِي رِوَايَةٍ : حَتَّى يَتَفَرَّقَا مِنْ مَكَانِهِمَا
  • 15. Macam-macam Khiyar
    • Khiyar Majlis, yaitu hak pilih dari kedua belah pihak yang berakad untuk membatalkan akad, selama keduanya masih berada dalam majlis akad (toko) dan belum berpisah badan.
    • Khiyar ‘Aib, yaitu hak untuk membatalkan atau melangsungkan jual beli bagi kedua belah pihak yang berakad apabila terdapat suatu cacat pada obyek yang diperjualbelikan, dan cacat itu tidak diketahui pemiliknya ketika akad berlangsung.
    • Khiyar Ru’yah, yaitu hak pilih bagi pembeli untuk menyatakan berlaku atau batal jual beli yang ia lakukan terhadap suatu obyek yang belum ia lihat ketika akad berlangsung.
    • Khiyar Syarat, yaitu hak pilih yang dijadikan syarat oleh keduanya (pembeli dan penjual), atau salah satu dari keduanya sewaktu terjadi akad untuk meneruskan atau membatalkan akadnya itu, agar dipertimbangkan setelah sekian hari. Lama syarat yang diminta maksimal 3 hari.
    • Khiyar Ta’yin, yaitu hak pilih bagi pembeli dalam menentukan barang yang berbeda kualitas dalam jual beli.
  • 16. Hikmah Khiyar
    • Membuat akad jual beli berlangsung menurut prinsip-prinsip Islam, yaitu kerelaan dan ridha antara penjual dan pembeli.
    • Mendidik masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan akad jual beli, sehingga pembeli mendapatkan barang dagangan yang baik, sepadan pula dengan harga yang dibayar.
    • Penjual tidak semena-mena menjual barangnya kepada pembeli, dan mendidiknya agar bersikap jujur dalam menjelaskan keadaan barangnya.
    • Terhindar dari unsur-unsur penipuan dari kedua belah pihak, karena ada kehati-hatian dalam proses jual beli.
    • Khiyar dapat memelihara hubungan baik antar sesama. Sedangkan ketidakjujuran atau kecurangan pada akhirnya akan berakibat penyesalan yang mengarah pada kemarahan, permusuhan, dendam dan akibat buruk lainnya.
  • 17. Musaqah
    • Muasaqah adalah salah satu bentuk transaksi dalam pengairan atau penyiraman, diambil dari kata al-saqa . Oleh penduduk Madinah disebut al-mu’amalah. Secara terminologi, musaqah:
    • معاقدة دفع الأشجار إلي من يعمل فيها على أن الثمرة بينهما
    • Transaksi penyerahan sebidang kebun kepada petani (untuk digarap dan dirawat) dengan ketentuan bahwa hasilnya dibagi berdua. Dalam musaqah, seseorang bekerja pada pohon tamar, anggur (mengurusnya) atau pohon-pohon yang lainnya supaya mendatangkan kemashlahatan dan mendapatkan bagian tertentu dari hasil yang diurus sebagai imbalan. Dapat disimpulkan bahwa Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah dimana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan. Sebagai imbalan, si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.
    • Hukum musaqah adalah mubah (boleh).
    • Rukun musaqah ada lima, yaitu
    • 1. Dua orang / pihak yang melakukan transaksi 2. Tanah yang dijadikan obyek musaqah 3. Jenis usaha yang akan dilakukan petani penggarap 4. Ketentuan mengenai pembagian hasil musaqah 5. Shighat ijab qabul.
  • 18. Musaqah
    • Syarat-syarat musaqah:
    • a. Kedua belah pihak yang melakukan transaksi musaqah harus orang yang cakap (kompeten) bertindak hukum, yakni dewasa (akil baligh) dan berakal sehat. b. Obyek musaqah harus terdiri dari pepohonan yang mempunyai buah. c. Lamanya perjanjian harus jelas.
    • Hikmah Musaqah: Menghilangkan kemiskinan dari pundak orang-orang miskin yang tidak memiliki aset modal namun punya keahlian, sehingga bisa mencukupi kebutuhannya. Juga dapat saling tukar manfaat diantara manusia.
  • 19. Muzara’ah dan Mukhabarah
    • Secara etimologi muzara’ah adalah wazan “mufa’alatun” dari kata “az-zar’a” artinya menumbuhkan. Yaitu kerja sama di bidang pertanian antara pihak pemilik tanah dan petani penggarap. Secara terminologi, Muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (persentase) dari hasil panen.
    • Muzara’ah sering diidentikkan dengan mukhabarah. Ada sedikit perbedaan: Pada MUZARA’AH, benih dari pemilik lahan. Sedangkan pada MUKHABARAH, benih dari penggarap.
    • Persamaan muzara’ah dan musaqah ialah kedua-duanya merupakan akad bagi hasil pertanian. Perbedaannya: Dalam musaqah, tanaman sudah ada tetapi memerlukan tenaga kerja untuk memeliharanya. Sedangkan dalam muzara’ah, tanaman di tanah belum ada, tanahnya masih harus digarap dulu oleh penggarapnya.
    • Hukum Muzara’ah dan Mukhabarah adalah mubah (boleh).
  • 20. Dalil, Rukun, dan Syarat Muzara’ah
    • ان النبي ص م لم يحرم المزارعة و لكن امر ان يرفق بعضهم ببعض بقوله من كانث له ارض فليزرعها   اوليمنحها اخاه فان ابي فليمسك ارضها  
    • Sesungguhnya Nabi Saw. menyatakan, tidak mengharamkan muzara’ah, bahkan beliau menyuruhnya, supaya yang sebagian menyayangi sebagian yang lain, dengan katanya, barangsiapa yang memiliki tanah, maka hendaklah ditanaminya atau diberikan faedahnya kepada saudaranya, jika ia tidak mau, maka boleh ditahan saja tanah itu.”
    • Rukun Muzara’ah:
    • 1. Pemilik tanah 2. Petani penggarap 3. Obyek muzara’ah, yaitu manfaat tanah dan hasil kerja petani 4. Ijab dan qabul
    • Syarat-syarat Muzara’ah:
    • Orang yang berakad harus sudah baligh, berakal sehat
    • Benih yang akan ditanam harus jelas dan menghasilkan.
    • Menyangkut tanah pertanian: - Secara adat kebiasaan di kalangan petani, tanah itu boleh digarap dan menghasilkan. - Batas-batas tanah itu jelas - Tanah diserahkan sepenuhnya ke petani untuk digarap.
    • Menyangkut hasil panen: - Pembagian hasil panen bagi masing-masing pihak harus jelas - Hasil itu benar-benar milik bersama orang yang berakad, tanpa boleh ada pengkhususan
  • 21. Zakat Muzara’ah - Mukhabarah
    • Pada prinsipnya zakat dibebankan kepada orang yang mampu, hasil pertanian telah mencapai batas nishab. Jika dilihat asal benih tanaman, maka dalam MUZARA’AH yang wajib zakat adalah pemilik tanah, karena dialah yang menanam, sedangkan penggarap hanya mengambil upah kerja.
    • Dalam MUKHABARAH, yang wajib zakat adalah penggarap (petani), karena dialah hakikatnya yang menanam, sedangkan pemilik tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya. Jika benih berasal dari kdeuanya, maka zakat diwajibkan kepada keduanya jika sudah mencapai nishab, sebelum pendapatan dibagi dua.
    • HIKMAH MUZARA’AH DAN MUKHABARAH: Sebagian orang ada yang mempunyai binatang ternak, ia mampu menggarap sawah dan bisa mengembangkannya, tetapi tidak memiliki tanah. Ada pula orang yang memiliki tanah yang subur, tapi tidak punya cukup alat atau binatang ternak dan tidak mampu untuk menggarapnya. Jika dijalin sinergi dan kerja sama diantara mereka, maka hasilnya adalah kemakmuran bumi, dan semakin luasnya daerah pertanian yang merupakan salah satu sumber kekayaan terbesar.

×