Presentasi Fiqh 6 ( Kisi)

5,951
-1

Published on

Published in: Spiritual, Business
2 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
5,951
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
527
Comments
2
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Use this template to create Intranet web pages for your workgroup or project. You can modify the sample content to add your own information, and you can even change the structure of the web site by adding and removing slides. The navigation controls are on the slide master. To change them, on the View menu, point to Master , then choose Slide Master . To add or remove hyperlinks on text or objects, or to change existing hyperlinks, select the text or object, then choose Hyperlink from the Insert menu. When you’re finished customizing, delete these notes to save space in your final HTML files. For more information, ask the Answer Wizard about: The Slide Master Hyperlinks
  • Presentasi Fiqh 6 ( Kisi)

    1. 1. Presented on Friday, October 31, 2009 Presentasi Ke-6 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Membahas definisi aqiqah, qurban, hukum dan dalil-dalilnya, perbedaan antara aqiqah dan qurban, waktu pelaksanaannya, hikmah yang terkandung dalam praktik aqiqah dan qurban. F IQH U DHHIYAH: A QIQAH, Q URBAN DAN H IKMAHNYA
    2. 2. Definisi Aqiqah تعريف العقيقة لغة واصطلاحاً Terminologi Nama lain dari Aqiqah adalah نسيكة أو ذبيحة العقيقة في اللغة : هي القطع . وهي الشَعر الذي يولد به الطفل لأنه يشق الجلد وهي مأخوذة من عق ، يَعِقُ ويعَقُ فنقول عق عن ابنه بمعنى حلق عقيقته أي شعر رأسه أو ذبح الشاة المسماة عقيقة . وفي الاصطلاح الشرعي : ذبح الشاة عن المولود يوم السابع من ولادته . اوهي الذبيحة التي تذبح عن المولود يوم سابعه شكراً لله سبحانه وتعالى على نعمة الولد ذكراً كان أو أنثى Aqiqah berasal dari kata ‘Aqq yang berarti memutus/memotong. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah (memotong) rambut yang dibawa si bayi ketika lahir, karena dapat merusak kulit. Aqiqah juga merupakan nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong. Adapun makna aqiqah secara terminologi adalah penyembelihan hewan (domba) untuk menebus bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh dari kelahiran, sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas dikaruniakannya anak, baik laki-laki maupun perempuan.
    3. 3. Sejarah Aqiqah Syariat 'aqiqah telah dikenal dan biasa dilakukan orang sejak zaman jahiliyah, namun dengan cara yang berbeda dengan yang dituntunkan oleh Nabi SAW bagi ummat Islam. Buraidah berkata: Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107] Dari 'Aisyah, ia berkata , "Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber'aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah 'aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya". Maka Nabi SAW bersabda, "Gantilah darah itu dengan minyak wangi".[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Ibnu Balban juz 12, hal. 124]
    4. 4. Dalil Aqiqah Dari Samurah Ra bahwa Rasul Saw ber-sabda: "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Dari 'Aisyah Ra bahwa Rasulullah Saw memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. Hadits shahih riwayat Tirmidzi. عَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ , تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ , وَيُحْلَقُ , وَيُسَمَّى .   رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ , وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ , وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ . رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَه JENIS HEWAN AQIQAH. Dalam “Fathul Bari” (9/593) al-Hafidz Ibnu Hajar menerangkan : “Para ulama mengambil dalil dari penyebutan syaatun dan kabsyun (kibas, anak domba yang telah muncul gigi gerahamnya) untuk menentukan kambing buat aqiqah.” Menurut beliau : “Tidak sah aqiqah seseorang yang menyembelih selain kambing”. Sebagian ulama berpendapat dibolehkannya aqiqah dengan unta, sapi, dan lain-lain. Tetapi pendapat ini lemah karena hadis-hadis yang menunjukkan keharusan aqiqah dengan kambing semuanya shahih.
    5. 5. Hukum dan Waktu Aqiqah <ul><li>Hukum </li></ul><ul><li>Waktu utama </li></ul><ul><li>Khilafiah soal waktu </li></ul>Hukum Aqiqah adalah Sunnah Muakkad (mustahab) . Para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahiran bayi. Ulama berselisih pendapat tentang bolehnya melaksana-kan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Sebagian ulama membolehkan sebelum hari ketujuh. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Tuhfatul Maudud hal.35). Sebagian lagi berpendapat boleh dilaksanakan setelah hari ketujuh. (Ibnu Hazm dalam al-Muhalla 7/527). Sebagian ulama lainnya membatasi waktu pada hari ketujuh, jika tidak bisa maka boleh pada hari ke-14, jika tidak bisa boleh pada hari ke-21. Berdalil dari riwayat Thabrani dalam kitab Al-Shagir (1/256), hadis: أخرجه البيهقي عن بريدة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : &quot; العقيقة تذبح لسبع أو لأربع عشر أو لإحدى وعشرين &quot; Sedangkan Imam Malik berpendapat: “Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”
    6. 6. Jumlah Hewan Aqiqah Jumlah Hewan Aqiqah Keringanan Aqiqah untuk anak laki-laki, lebih utama menyembelih dua kambing yang berdekatan umurnya, dan seekor kambing bagi bayi Perempuan. Boleh meng-aqiqahi bayi laki-laki dengan satu kambing, dinukil dari perkataan Abdullah bin ‘Umar, ‘Urwah bin Zubair, dan Imam Malik. Dalilnya: عن عكرمة عن ابن عباس أن رسول الله عق عن الحسن والحسين كبشاً كبشاً . رواه أبو داود Rasulullah Saw mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” [HR Abu Dawud dengan sanad shahih]. Sunnah ini hanya berlaku untuk orang yang tidak mampu melaksanakan aqiqah dengan dua kambing. Jika dia mampu maka sunnah yang shahih adalah laki-laki dengan dua kambing.
    7. 7. Permasalahan Aqiqah DISUNNAHKAN MEMASAK DAGING SEMBELIHAN AQIQAH DAN TIDAK MEMBERIKANNYA DALAM KEADAAN MENTAH. Sebagaimana diungkapkan Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud”. TIDAK SAH AQIQAH SESEORANG KALAU DAGING SEMBELIHANNYA DIJUAL. Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud fi Ahkam al-Maulud” berkata : “Aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah (taqarrub) kepada Alloh Ta'ala. Barangsiapa menjual daging sembelihannya sedikit saja maka pada hakekatnya sama saja tidak melaksanakannya. Sebab hal itu akan mengurangi inti penyembelihannya. Dan atas dasar itulah, maka aqiqahnya tidak lagi sesuai dengan tuntunan syariat secara penuh sehingga aqiqahnya tidak sah. Demikian pula jika harga dari penjualan itu digunakan untuk upah penyembelihannya atau upah mengulitinya” [lihat pula “Al-Muwaththa” (2/502) oleh Imam Malik]. ORANG YANG AQIQAH BOLEH MEMAKAN, BERSEDEKAH, MEMBERI MAKAN, DAN MENGHADIAHKAN DAGING SEMEBELIHANNYA, TETAPI YANG LEBIH UTAMA JIKA SEMUA DIAMALKAN.
    8. 8. Khilafiah Aqiqah Pendapat jumhur adalah aqiqah itu hukumnya sunnah atau anjuran. Madzhab Hanafiah mengatakan tidak wajib dan tidak pula sunnah, hukumnya mubah, karena menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari sesudahnya telah membatalkan anjuran Nabi untuk melaksanakan aqiqah. Namun demikian madzhab ini tidak melarang apalagi menilai haram atau makruh menyembelih binatang sebagai tanda syukur menyambut kelahiran seorang anak. Madzhab Dhahiri mengatakan aqiqah wajib , karena Rasul Saw memerintahkannya dan berbuat demikian. Begitu pula pendapat Buraidah al-Aslami (perawi hadis), Imam Hasan al-Bahri dan Laits. Dalam pandangan madzhab Maliki, hewan yang disembelih adalah seekor kambing, baik yang lahir lelaki maupun perempuan, dengan alasan riwayat dari sahabat Nabi Ibnu Abbas bahwa Rasul SAW mengaqiqahkan kedua cucu beliau, Hasan dan Husain, dengan seekor kambing. Madzhab Syafi’i dan Hambali menganjurkan menyembelih dua ekor kambing bila anak yang lahir laki-laki, dan seekor bila perempuan. Itu sebaiknya dilaksanakan pada hari ketujuh, tetapi tidak ada halangan melaksanakannya sebelum maupun sesudah hari ketujuh dari kelahiran, selama anak itu belum baligh. Madzhab Hambali membolehkan melaksanakan aqiqah oleh yang bersangkutan sendiri walau setelah ia dewasa, karena tidak ada batas waktu bagi pelaksanaannya.
    9. 9. Hadis-hadis Dha’if Dari Abu Buraidah : Nabi SAW pernah bersabda, &quot; 'Aqiqah itu disembelih pada hari ke-7, atau ke-14, atau ke-21 nya&quot;. [HR. Baihaqi dan Thabrani]. Hadis ini dla'if, karena dalam isnadnya terdapat seorang bernama Ismail bin Muslim yang dilemahkan oleh Imam-imam : Ahmad, Abu Zar'ah, Nasai dan Iain-lain. Dari Anas , &quot;Sesungguhnya Nabi SAW pernah ber 'aqiqah untuk dirinya sesudah beliau menjadi Rasul&quot;. [HR. Baihaqi, Bazzar, Muhammad bin Abdul Malik bin Aiman, Thabrani dan Khallal]. Hadis ini tak dapat dipakai sebagai hujjah/dasar, karena dalam isnadnya terdapat seorang bernama Abdullah bin Muharrar yang dilemahkan oleh imam-imam : Ahmad, Jauzani, Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Ma'in dan lain-lainnya. Tentang shadaqah seberat rambut yang dicukur dari kepala si Anak Dari Ali bin Abi Thalib . Rasulullah SAW telah ber'aqiqah bagi Hasan seekor kambing dan bersabda, &quot;Ya Fathimah, cukurlah rambutnya dan bersedeqahlah seberat rambut kepalanya dengan perak&quot;. Maka adalah beratnya satu dirham atau setengah dirham&quot;. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 37, dan ia menghasankannya dan ditambahkannya Gharib]. Hadits tersebut menurut penyelidikan adalah Munqathi (terputus). Karena dalam isnadnya terdapat seorang yang bernama Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali ; yang tidak sezaman dengan Ali bin Abu Thalib.
    10. 10. Definisi Qurban Qurban menurut bahasa berasal dari kata bahasa Arab : “ Qaraba ”, “ yaqrabu ”, Qurban wa qurbanan wa qirbanan ” yang artinya dekat. Menurut istilah, qurban  berarti mendekatkan diri kepada Allah s.w.t., dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Qurban dalam pengertian kita sehari-hari sebenarnya diambil dari kata udhhiyah yakni bentuk jama’ dari kata ”dhahiyyah” yaitu sembelihan pada waktu dhuha tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Dari sinilah muncul istilah ”Idul Adha”. Dengan demikian yang dimaksud dengan Qurban atau udhhiyah adalah  penyembelihan hewan dengan tujuan beribadah (taqarrub) kepada Allah pada hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq , yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
    11. 11. Waktu Qurban Hewan kurban disembelih setelah selesai shalat Ied. Dalilnya: Dari Barra bin Azib radiallahuanhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.&quot; (HR. Muslim no. 1961). Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. &quot;Dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda: setiap hari tasyriq ada sembelihan.&quot; (HR. Ahmad). Ibnul Qayyim berkata: &quot;(Kebolehan menyembelih di hari-hari tasyriq) adalah pendapat: Imam Ahmad, Malik, Abu Hanifah.&quot; Kesimpulan : Waktu untuk qurban adalah pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah dan tiga hari Tasyriq , yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah
    12. 12. Hukum Qurban Berqurban, menurut mayoritas ulama hukumnya: sunnah . Dalilnya hadis riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. mengatakan &quot;Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha&quot; (H.R. Ahmad dan Hakim). Mazhab Maliki menyebut statusnya: wajib. Mazhab Syafi'i menyebut hukumnya sunnah muakkadah, bahkan menjadi sunnah 'ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur hidup dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per-individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq. Lebih utama (afdhal) menyembelih hewan kurban dengan tangan sendiri. Dari Anas r.a berkata: “Nabi s.a.w pernah berkurban dengan dua ekor kambing biri-biri yang bagus dan bertanduk. Beliau menyembelih kedua-duanya dengan tangan sendiri. - Hadis riwayat al-Bukhari.
    13. 13. Ketentuan Qurban LARANGAN MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU. Bagi yang hendak berqurban, tidak diperbolehkan memotong rambut dan kukunya setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat Ied. Dalilnya: &quot;Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: &quot;Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong) rambut dan kukunya.&quot; (HR. Muslim No. 1977). Ibnu Qudamah berkata: &quot;Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa (Al-Mughni11/96).&quot; BOLEH BERSERIKAT. Satu ekor unta atau sapi untuk tujuh orang. عَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَحَرْنَا مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَامَ اَلْحُدَيْبِيَةِ : اَلْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ , وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ . رَوَاهُ مُسْلِم DISTRIBUSI QURBAN. Lihat surat al-Hajj ayat 36. Dalam hadis riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah membagi daging kurban menjadi tiga, sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk fakir miskin dan tetangga serta sepertiga untuk orang meminta-minta“. Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. bersabda &quot;Makanlah sebagian, simpanlah sebagian dan bersedekahlah dengan sebagian“.
    14. 14. Sifat Hewan Qurban al-Bara' Ibnu 'Azib Ra berkata: Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan bersabda: &quot;Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu: yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersum-sum.“. Dari Jabir bahwa Rasul Saw bersabda: &quot;Jangan menyembelih kecuali hewan yang umurnya masuk tahun ketiga. Bila engkau sulit mendapatkannya, sembelihlah kambing yang umurnya setahun lebih.&quot; Riwayat Muslim. Ali Ra berkata: Rasul Saw memerintahkan kami agar memeriksa mata dan telinga, dan agar kami tidak mengurbankan hewan yang buta, yang terpotong telinga bagian depannya atau belakangnya, yang robek telinganya, yang ompong gigi depannya. ََعَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ ص م فَقَالَ أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا : اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا , وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا , وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَ وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي .   رَوَاهُ اَلْخَمْسَة ُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّان َعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً , إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ اَلضَّأْنِ .   رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَسْتَشْرِفَ اَلْعَيْنَ وَالْأُذُنَ , وَلَا نُضَحِّيَ بِعَوْرَاءَ , وَلَا مُقَابَلَةٍ , وَلَا مُدَابَرَةٍ , وَلَا خَرْمَاءَ , وَلَا ثَرْمَاءَ . أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَة ُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّانَ , وَالْحَاكِم
    15. 15. Sejarah Qurban Sejarah qurban terjadi dalam 3 periode, yaitu : zaman Nabi Adam As; zaman Nabi Ibrahim As; dan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Zaman Nabi Adam As . Qurban dilaksanakan oleh putra-putranya yaitu bernama Qabil dan Habil. Saat itu sudah mulai ada perintah, siapa yang memiliki harta banyak maka sebagian hartanya dikeluarkan untuk qurban. Sebagai petani Qabil mengeluarkan kurbannya dari hasil pertaniannya, dan sebagai peternak Habil mengeluarkan hewan-hewan peliharaanya untuk kurban. Lalu untuk siapa semua itu diqurbankan, padahal waktu itu manusia belum banyak. Diterangkan dalam sejarah, harta yang diqurbankan itu disimpan di suatu tempat yaitu di Padang Arafah yang sekarang menjadi napak tilas bagi para jemaah haji. Habil mengeluarkan hewan diqurbankan dengan tulus ikhlas. Dipilih hewan yang gemuk dan sehat, dan dia taat terhadap petunjuk ayahnya Nabi Adam.Berbeda dengan Qabil, Dia memilih buah-buahan yang jelek-jelek. Ketika keduanya melaksanakan qurban, ternyata yang habis adalah qurban yang dikeluarkan oleh Habil sementara buah-buahan yang dikeluarkan Qabil tetap utuh, tidak berkurang. Hal ini dijelaskan Allah dalam Qur’an surat Al-Maidah 27 وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
    16. 16. Sejarah Qurban Zaman Nabi Ibrahim As. Dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaffat ayat 100-111 mengenai qurban dan pengorbanan. Ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun beliau belum juga dikaruniai putra oleh Allah dan beliau selalu berdoa: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh”. Hingga lahir Nabi Ismail As. Sejak dilahirkan sampai besar Nabi Ismail menjadi kesayangan. Tiba-tiba Allah memberi ujian kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ . فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ . فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ . فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ . وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ . وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ . سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ . كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ . Zaman Nabi Muhammad SAW. Masalah kurban diceritakan kembali yaitu di dalam surat Al-Kautsar ayat 1-3. &quot;Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya nikmat yang banyak, Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan Berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus&quot;.
    17. 17. Hikmah Aqiqah 1. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt atas anugerah anak yang diberikan, karena anak merupakan salah satu diantara nikmat terbesar, yang menjadi perhiasan kehidupan manusia di dunia. الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 2. Merupakan bentuk taqarrub kepada Allah Swt. 3. Untuk mengabarkan kepada masyarakat sekitar bahwa keluarga tersebut telah dikaruniai anak, lalu diberi nama, sehingga diketahui jelas oleh kerabat dan tetangga. Selanjutnya mereka menyampaikan tahniah (ucapan selamat) serta menghadiri acara aqiqah yang dapat menambah ikatan persatuan di kalangan muslimin. 4. Aqiqah merupakan salah satu bentuk takaful ijtima’i (jaminan sosial) dalam Islam, dimana pelakunya menyembelih hewan lalu sebagiannya dikirim kepada fakir, teman, tetangga, atau dengan mengundang mereka. Hal ini berarti ikut meringankan beban kaum fakir dan orang yang membutuhkan. 5. Menghidupkan sunnah Nabi Saw. 6. Dalam aqiqah juga mengandung unsur perlindungan dari setan yang dapat mengganggu anak yang terlahir.
    18. 18. Hikmah Qurban <ul><li>Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad SAW. </li></ul><ul><li>Mendidik jiwa ke arah takwa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. </li></ul><ul><li>Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati mau membelanjakan harta di jalan Allah Swt. </li></ul><ul><li>Menghapuskan dosa dan mengharap keredhaan Allah Swt. </li></ul><ul><li>Menjalinkan hubungan kasih sayang sesama manusia terutama antara golongan berada dengan golongan yang kurang bernasib baik. </li></ul>
    19. 19. Next Week Penyelenggaraan Jenazah: Memandikan, Menshalatkan, Mengafankan, Menguburkan.

    ×