• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Presentasi Fiqh 11 (Nikah)
 

Presentasi Fiqh 11 (Nikah)

on

  • 10,655 views

 

Statistics

Views

Total Views
10,655
Views on SlideShare
10,232
Embed Views
423

Actions

Likes
7
Downloads
1,076
Comments
0

3 Embeds 423

http://marhamahsaleh.wordpress.com 369
http://cvrahmat.blogspot.com 38
http://www.slideshare.net 16

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

Presentasi Fiqh 11 (Nikah) Presentasi Fiqh 11 (Nikah) Presentation Transcript

  • Fiqh Nikah Membahas Terminologi Nikah, Dalil, Rukun dan Syarat, Wali Nikah, Khitbah, Kafa`ah, Mahar, Akad Nikah, Thalaq, Hukum Thalaq, Masa ‘Iddah, Ruju’ dan Hikmah Nikah. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-11
  • Definisi Nikah
    • النكاح مصدر من نكح ومعناه في اللغة هو الوطء والضم والجمع
    • وشرعا هو اتفاق يقصد به حل استمتاع كل من الزوجين بالآخر وائتناسه به طلبا للنسل على الوجه المشروع
    • Di kalangan ulama ushul berkembang tiga macam pendapat tentang arti lafaz nikah:
    • a. Nikah menurut arti aslinya (arti hakiki) adalah bersetubuh dan menurut arti majazi (metaforis) adalah akad yang dengan akad ini menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita; demikian menurut golongan Hanafi.
    • b. Nikah menurut arti aslinya ialah akad yang dengan akad ini menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita, sedangkan menurut arti majazi ialah bersetubuh, demikian menurut ahli ushul golongan Syafi’iyah.
    • c. Nikah mengandung kedua arti sekaligus, yaitu sebagai akad dan setubuh. Ini menurut Abu Qasim al-Zajjad, Ibn Hazm dan Mazhab Hambali.
  • Hukum dan Dalil Nikah
    • Para ulama sependapat bahwa nikah disyari’atkan dalam Islam. Tetapi ada perbedaan pendapat mengenai hukum nikah.
    • 1. Menikah itu hukumnya wajib . Pendapat ini dipelopori oleh Daud al-Dhahiri, Ibnu Hazm dan Imam Ahmad menurut salah satu riwayat. Alasannya perintah menikah dalam surat al-Nisa’ ayat 3, perintah mengawinkan pada surat al-Nur: 32 dan beberapa hadis riwayat Bukhari-Muslim menggunakan sighat amar yang menunjukkan perintah wajib secara mutlak.
    • 2. Menikah hukumnya sunnah, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad menurut suatu riwayat.
    • Menikah hukumnya mubah, menurut Imam Syafi’i.
    • HUKUM NIKAH dapat bertransformasi jika dikaitkan dengan kondisi serta tujuan pelaksanaannya.
    • 1. Jaiz atau mubah (diperbolehkan), ini hukum asal dari nikah.
    • 2. Sunah, bagi orang yang berkeinginan serta mampu memberi nafkah dsb.
    • 3. Wajib, bagi orang yang mampu memberi nafkah dan dia takut akan tergoda pada kejahatan (zina).
    • 4. Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
    • 5. Haram, bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya.
    • DALIL DISYARI’ATKANNYA MENIKAH:
    • ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودّة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون – الروم 21
    • ولقد أرسلنا رسلاً من قبلك وجعلنا لهم أزواجا وذرية ..- الرعد 38
  • Hadits Tentang Nikah
    • Abdullah Ibnu Mas'ud Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu."
    • Anas Ibnu Malik Ra berkata: Rasulullah Saw memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat."
    • Dari Abu Hurairah Ra bahwa Nabi Saw bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."
    َعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ َوَعَنْ انس رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ : تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا , وَلِحَسَبِهَا , وَلِجَمَالِهَا , وَلِدِينِهَا , فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ اَلسَّبْعَةِ
  • Rukun Nikah
    • 1. Adanya calon suami dan istri yang tidak terhalang dan terlarang secara syar’i untuk menikah. Di antara perkara syar’i yang menghalangi misalnya si wanita yang akan dinikahi termasuk orang yang haram dinikahi oleh si lelaki karena adanya hubungan nasab atau hubungan penyusuan. Atau, si wanita sedang dalam masa ‘iddahnya. Penghalang lainnya, si lelaki adalah orang kafir, sementara wanita yang akan dinikahinya seorang muslimah.
    • 2. Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali. Misalnya dengan si wali mengatakan, “ Zawwajtuka Fulanah ” (”Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah”) atau “ Ankahtuka Fulanah ” (”Aku nikahkan engkau dengan Fulanah”).
    • 3. Adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya , dengan menyatakan, “ Qabiltu Hadzan Nikah ” atau “ Qabiltu Hadzat Tazwij ” (”Aku terima pernikahan ini”) atau “ Qabiltuha .”
    • Dalam ijab dan qabul dipakai lafadz inkah dan tazwij karena dua lafadz ini yang disebut dalam Al-Qur`an. Seperti firman Allah Al-Ahzab: 37 dan An-Nisa`: 22. فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا ~ وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
    • Namun penyebutan dua lafadz ini dalam Al-Qur`an bukanlah sebagai pembatasan, yakni harus memakai lafadz ini dan tidak boleh lafadz yang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qayyim, memilih pendapat yang menyatakan akad nikah bisa terjalin dengan lafadz apa saja yang menunjukkan ke sana, tanpa pembatasan harus dengan lafadz tertentu. Bahkan bisa dengan menggunakan bahasa apa saja, selama yang diinginkan dengan lafadz tersebut adalah penetapan akad. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Malik, Abu Hanifah, dan salah satu perkataan dari mazhab Ahmad. Akad nikah seorang yang bisu tuli bisa dilakukan dengan menuliskan ijab qabul atau dengan isyarat yang dapat dipahami.
    • SYARAT PERTAMA: Kejelasan kedua mempelai, siapa mempelai laki-laki dan siapa mempelai wanita dengan isyarat (menunjuk) atau menyebutkan nama atau sifatnya yang khusus. Sehingga tidak cukup bila seorang wali hanya mengatakan, “Aku nikahkan engkau dengan putriku”, sementara ia memiliki beberapa orang putri.
    • SYARAT KEDUA: Keridhaan dari masing-masing pihak, hadis riwayat Abu Hurairah
    • لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ
    • Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat, dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.
    • Terkecuali bila si wanita masih kecil, belum baligh, maka boleh bagi walinya menikahkannya tanpa seizinnya.
    • SYARAT KETIGA: Adanya wali bagi calon mempelai wanita. Nabi Saw bersabda:
    • لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ
    • أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيْهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
    • Wanita mana saja yang menikah tanpa izin wali-walinya maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil.” (HR. Abu Dawud)
    • Jika seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali maka nikahnya batil, tidak sah. Demikian pula bila ia menikahkan wanita lain. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dan inilah pendapat yang rajih. Adapun Abu Hanifah menyelisihi pendapat yang ada, karena beliau berpandangan boleh bagi seorang wanita menikahkan dirinya sendiri ataupun menikahkan wanita lain, sebagaimana ia boleh menyerahkan urusan nikahnya kepada selain walinya.
    • Nikah tanpa wali tidak sah, wajib untuk dipisahkan di hadapan hakim, atau suami tersebut langsung menceraikan isterinya, dan jika telah terjadi hubungan badan maka mempelai wanita berhak untuk mendapat mahar (mas kawin) yang sesuai.
    • Akad nikah wajib disaksikan oleh dua orang saksi yang adil dan dewasa.
    Syarat Nikah
  • Hikmah Nikah
    • Pernikahan merupakan suasana salihah yang menjurus kepada pembangunan serta ikatan kekeluargaan, memelihara kehormatan dan menjaganya dari segala keharaman, nikah juga merupakan ketenangan dan tuma'ninah, karena dengannya bisa didapat kelembutan, kasih sayang serta kecintaan diantara suami dan isteri.
    • Nikah merupakan jalan terbaik untuk memiliki anak, memperbanyak keturunan, sambil menjaga nasab yang dengannya bisa saling mengenal, bekerja sama, berlemah lembut dan saling tolong menolong.
    • Nikah merupakan jalan terbaik untuk menyalurkan kebutuhan biologis, menyalurkan syahwat dengan tanpa resiko terkena penyakit.
    • Nikah bisa dimanfaatkan untuk membangun keluarga salihah yang menjadi panutan bagi masyarakat, suami akan berjuang dalam bekerja, memberi nafkah dan menjaga keluarga, sementara isteri mendidik anak, mengurus rumah dan mengatur penghasilan, dengan demikian masyarakat akan menjadi benar keadaannya.
    • Nikah akan memenuhi sifat kebapakan serta keibuan yang tumbuh dengan sendirinya ketika memiliki keturunan.
  • Khitbah (Pinangan)
    • Para ulama sepakat bahwa laki-laki yang melamar ( al-khatib ) diperkenankan melihat wanita yang dilamar ( al-makhtubah ). Dalilnya:
    • َوَلِمُسْلِمٍ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ اِمْرَأَةً : أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا ? قَالَ : لَا . قَالَ : اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا )
    • Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: "Apakah engkau telah melihatnya?" Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: "Pergi dan lihatlah dia.”
    • َوَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ص م ( إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا , فَلْيَفْعَلْ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ
    • Dari Jabir bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan."
    • Para ulama telah sepakat bahwa wanita yang dilamar boleh dilihat wajah dan telapak tangannya. Wajah dan tangan sudah cukup untuk menilai wanita tersebut. Dengan melihat wajah dapat diketahui kecantikannya, dan dengan melihat telapak tangan dapat dilihat subur dan sehat tidaknya anggota badan lainnya.
    • Perempuan yang boleh dipinang adalah yang memenuhi syarat: Tidak dalam pinangan orang lain, pada saat dipinang tidak ada penghalang syar’i yang melarang pernikahan, dan perempuan tersebut tidak dalam masa ‘iddah karena talak raj’i.
    • Larangan melakukan khitbah terhadap wanita yang sudah dilamar orang
    • َوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ , حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ , أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ
  • Kafa`ah
    • Kafa`ah atau kufu` berarti sederajat, sepadan atau sebanding. Yang dimaksud dengan kufu` dalam pernikahan adalah laki-laki sebanding dengan calon istrinya, sama dalam kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlak serta kekayaan. Kafa`ah merupakan faktor yang dapat mendorong terciptanya kebahagiaan suami istri.
    • Ibnu Hazm berpendapat bahwa tidak ada ukuran dalam masalah kufu`, semua Islam asal tidak berzina, boleh menikah dengan perempuan muslimah yang bukan pezina.
    • Sebagian ulama mengatakan bahwa kufu` selain diukur dari sikap jujur dan budi luhur, juga dilihat dari keturunan (misalnya orang Arab sekufu dengan Arab yang lain), merdeka dan bukan dengan hamba sahaya, beragama Islam, pekerjaan, kekayaan, dan tidak cacat.
    • Meskipun kufu` dapat dijadikan barometer, namun nilai kemanusiaan pada setiap orang adalah sama, yang membedakan ialah derajat ketaqwaannya. Bahkan Rasulullah Saw bersabda:
    • اذا اتاكم من ترضون دينه وخلقه فانكحوه الا تفعلوا تكن فتنة في كان فيه ...
    • Jika datang kepadamu seorang laki-laki yang agama dan akhlaknya kamu sukai, maka nikahilah dia. Jika kamu tidak berbuat demikian, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang hebat di muka bumi. (HR. Tirmidzi)
    • Kufu` diukur ketika berlangsungnya akad nikah. Jika selesai akad nikah terjadi kekurangan, maka hal itu tidaklah mengganggu dan tidak membatalkan apa yang sudah terjadi, serta tidak mempengaruhi hukum akad nikah.
  • Mahar
    • Mahar atau mas kawin adalah harta atau pekerjaan yang diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan ketetapan dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin sering disebut dengan istilah mahar , shadaq, faridhah dan ajr.
    • QS. al-Nisa’: 4 وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
    • Suami berkewajiban menyerahkan mahar atau mas kawin kepada calon istrinya. Sebaik-baik mas kawin adalah yang ringan sesuai kemampuan: خير الصداق أيسره , walaupun tidak dilarang untuk memberi sebanyak mungkin mas kawin (QS Al-Nisa’: 20). Ini karena pernikahan bukan akad jual beli, dan mahar bukan harga seorang wanita.
    • MACAM-MACAM MAHAR. Dari segi jumlah dan besar nilainya, mahar terbagi kepada dua: Musamma (yang disebutkan, diucapkan) dan Ghair Musamma (tidak disebutkan). Diistilahkan Mahar Musamma karena si isteri menentukan jumlah mas kawinnya secara jelas dan tegas. Sedangkan Ghairi Musamma atau Mahar al-Maskut 'Anhu terjadi jika si isteri tidak menentukan jumlah nominal maharnya, maka calon suami harus membayar Mahar Mitsil , yaitu mahar yang sebanding atau yang sama, maksudnya calon suami harus melihat berapa besar mas kawin yang diterima oleh bibi atau tante si wanita tersebut dari pihak ayahnya. Apabila tidak ada bibi, harus melihat berapa umumnya besar mas kawin yang berlaku di daerah tersebut. Hal ini agar tidak terjadi saling olok, atau merasa direndahkan dan tidak dihargai. Dari segi waktu pembayarannya, mahar terbagi kepada Mu'ajjal / معجل (dibayar kontan saat itu juga) dan Muajjal / مؤجل (ditangguhkan, dibayar setengahnya dahulu dan sisanya dibayar belakangan). Sementara dari segi besar atau jumlah mahar yang berhak dimiliki oleh si isteri, mahar terbagi kepada mahar al-kull (mas kawin di mana isteri harus mendapatkan semua mahar), mahar an-nishf (isteri hanya berhak mendapatkan setengah dari jumlah mahar, jika dicerai sebelum dukhul dan maharnya musamma, QS. Al-Baqarah: 237), dan al-mut'ah (pemberian biasa bagi setiap wanita yg ditalak sebagai hibah, apabila mahar tersebut Ghair Musamma dan si wanita tersebut belum didukhul, keduanya belum berduaan di tempat sunyi).
    • Wali dalam pernikahan adalah yang menjadi pihak pertama dalam aqad nikah, karena yang mempunyai wewenang menikahkan mempelai perempuan, atau yang melakukan ijab. Sedang mempelai laki-laki akan menjadi pihak kedua, atau yang melakukan qabul. Wali perlu minta izin kepada mempelai wanita.
    • َرَوَى اْلإِمَامُ أَحْمَدُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ ابْنِ الْحُصَيْنِ مَرْفُوْعًا ( لاَنِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ )
    • َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تُنْكَحُ اَلْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ , وَلَا تُنْكَحُ اَلْبِكْرُ حَتَّى تُسْـتَأْذَنَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَكَيْفَ إِذْنُهَا ? قَالَ : أَنْ تَسْكُتَ )
    • Siapakah Wali dalam Pernikahan? Jumhur ulama, di antara mereka adalah Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, berpandangan bahwa wali nasab seorang wanita dalam pernikahannya adalah dari kalangan ‘ashabah, yaitu kerabat dari kalangan laki-laki yang hubungan kekerabatannya dengan si wanita terjalin dengan perantara laki-laki (bukan dari pihak keluarga perempuan atau keluarga ibu tapi dari pihak keluarga ayah/laki-laki).
    • Urutan Wali Nikah: 1. Ayah kandung. 2. Kakek, atau ayah dari ayah. 3. Saudara (kakak/adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu. 4. Saudara (kakak/adik laki-laki) se-ayah saja. 5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu. 6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja. 7. Saudara laki-laki ayah (paman). 8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu). Kalau semua wali tidak ada maka walinya adalah pemerintah (dalam hal ini KUA).
    • Bila seorang wanita tidak memiliki wali nasab atau walinya enggan menikahkannya, maka hakim/penguasa memiliki hak perwalian atasnya dengan dalil sabda Rasulullah Saw فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ
    • Madzhab Maliki memperbolehkan wali "kafalah", yaitu perwalian yang timbul karena seorang lelaki yang menanggung dan mendidik perempuan yang tidak mempunyai orang tua lagi, sehingga ia seakan telah menjadi orang tuanya.
    Wali Nikah
    • Inilah inti nikah! Ada perjanjian yang sangat berat kepada Allah, sehingga Allah memberi hak kepada kita beberapa kesenangan dan memberi amanah di balik kesenangan-kesenangan itu. Perjanjian ini terikat ketika seorang ayah mengucapkan ijab atas anak gadisnya dan seorang laki-laki mengucapkan qabul (penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami-istri.
    • Itulah akad nikah! Akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa. Ikatan Itu Bernama Mitsaqan-Ghalizha.
    • Di haji wada’, Rasulullah Saw. mengingatkan dengan peringatan suci, “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Hak kalian atas mereka ialah mereka (para istri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.” “Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari Rasulullah ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan.
    • Pada saat pelaksanaan akad nikah, yang dituntut hadir adalah mempelai laki-laki, mempelai perempuan, wali perempuan, 2 saksi, serta mahar.
    Akad Nikah
    • Nikah Ar-Rahth. Sejumlah orang bersetubuh dengan seorang wanita. Inilah yang disampaikan Ummul Mukminin Aisyah. Ia menuturkan, “Sejumlah orang, tidak lebih dari sepuluh orang, menemui seorang wanita untuk bersetubuh dengannya. Ketika mereka berkumpul disisinya, dia menyatakan kepada mereka, ‘Kalian telah mengetahui urusan kalian dan aku telah melahirkan anak. Ia adalah anakmu wahai fulan. Berilah ia nama yang kamu suka.’ Lalu anak itu diberikan kepada orang itu, dan pria yang ditunjuk ini tidak bisa menolaknya.” (HR. Bukhari, Abu Daud).
    • Nikah Al-Istibdha. Seorang membawa istrinya kepada orang yang diinginkannya. Yaitu orang tertentu dari kalangan pemimpin atau pembesar yang dikenal dengan keberanian dan kedermawanannya agar sanga isteri melahirkan anak sepertinya.
    • Nikah Mut’ah. Artinya adalah menikahi wanita hingga waktu tertentu. Jika waktunya telah habis, maka perceraian otomatis terjadi.
    • Nikah Syighar. Yaitu wali menikahkan gadis yang diurusnya kepada seorang pria dengan syarat pria tersebut menikahkannya pula dengan gadis yang diurusnya. Nafi berkata, “Syighar adalah seorang laki-laki menikahi puteri laki-laki lainnya dan dia pun menikahkannya dengan puterinya tanpa mahar. Atau seorang laki-laki menikahi saudara perempuan laki-laki lainnya lalu dia menikahkannya pula dengan saudara perempuannya tanpa mahar.
    • Dalam konteks modern, zaman sekarang ada istilah nikah ‘urfi dan nikah misyar yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang tanpa tanggung jawab.
    Nikah Yang Diharamkan
    • Berikut ini di antara pernikahan yang diharamkan:
    • Nikah dalam masa iddah dan menikahi wanita kafir selain kitabiyah (wanita Yahudi dan Nasrani) (QS. Al-Baqarah: 221).
    • b. Menikah dengan wanita-wanita yang diharamkan karena senasab dan mushaharah (hubungan kekeluargaan karena ikatan perkawinan). (QS. An-Nisa: 23).
    • c. Diharamkan menikahi wanita-wanita yang diharamkan karena sepersusuan.
    • d. Tidak boleh menghimpun antara wanita dengan bibinya. Nabi Saw bersabda, “Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan bibinya (dari pihak bapak) dan wanita dengan bibinya (dari pihak ibu).” (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad).
    • e. Wanita diharamkan bagi suaminya setelah talak ketiga, dan tidak dihalalkan untuknya hingga menikah dengan suami selainnya dengan pernikahan yang wajar. (QS. Al-Baqarah: 230).
    • f. Orang yang sedang berihram tidak boleh menikah.
    • g. Tidak boleh menikahi wanita yang masih bersuami, dan tidak boleh menikahi wanita pezina. (QS. An-Nur: 3)
    • h. Diharamkan menikah lebih dari empat wanita.
    Nikah Yang Diharamkan
    • Talak berasal dari kata “ithlaq” yang artinya secara bahasa adalah perpisahan, melepaskan, lepas atau bebas. Menurut istilah agama, thalak artinya melepaskan ikatan perkawinan atau putusnya hubungan perkawinan (suami-istri) dengan mengucapkan secara sukarela ucapan thalak kepada istrinya, dengan kata-kata yang jelas (sharih) ataupun dengan kata-kata sindiran (kinayah).
    • Dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (2) : 229 dijelaskan bahwa talak harus dilakukan secara bertahap. Talak satu, talak dua dan baru dijatuhkan talak tiga jika proses rujuk pada talak satu dan talak dua tidak berhasil.
    • MACAM-MACAM THALAQ: Pertama , ditinjau dari segi bilangan dan kebolehan kembali kepada mantan isteri, talak terbagi dua yaitu talak raj’i dan talak bain . Talak Raj’i, ialah talak yang dapat dirujuk, yaitu talak ke I dan talak ke II, sesuai dengan al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 229, yang artinya; “Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali.” Talak Bâin , ialah talak yang tidak dapat dirujuk, yaitu talak ke III, talak Khulu’ (talak tebus, permintaan cerai dari pihak isteri dengan tebusan / iwadl dari pihak istri kepada pihak suami), dan talak atas putusan pengadilan. Talak Bâin terbagi dua: 1. Talak Bain Sughra , ialah talak yang tidak dapat rujuk kecuali dengan perkawinan baru dan dengan persetujuan istri, yaitu talak qabla dukhul, talak khulu’ dan talak atas putusan pengadilan. 2. Talak Bain Kubra , ialah talak yang tidak dapat rujuk, karena talak sudah dijatuhkan sebanyak tiga kali, dan bila seorang bekas suami akan kembali lagi, maka bekas istri tersebut harus pernah kawin dahulu kepada pria lain dan sudah dicerai pula, sesuai dengan al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 230, yang artinya; “Jika dia menceraikannya (setalah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain.”
    Thalaq
    • Macam Thalaq yang Kedua , ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya:
    • 1. Talak Sunni / Talak Jawaz yaitu talak yang dijatuhkan sesuai dengan tuntutan sunah yang meliputi dua syarat, ialah: isteri yang ditalak sudah pernah digauli (disetubuhi); isteri dapat segera melakukan ‘iddah suci setelah ditalak, yakni ia dalam keadaan suci dari haid dan belum digauli ketika talak dijatuhkan. 2. Talak Bid’i / Talak haram yaitu talak yang dijatuhkan tidak sesuai dengan tuntutan sunah / tidak memenuhi kriteria yang terdapat dalam talak sunni. Talak ini diharamkan lantaran merugikan pihak isteri sebab ‘iddahnya lebih lama dari iddah talak sunni. Macam talak yang masuk dalam kategori talak ini adalah: a. Talak yang dijatuhkan kepada isteri disaat sedang haid dan begitupun ketika nifas (40 hari setelah melahirkan); b. Talak yang dijatuhkan kepada isteri disaat ia dalam keadaan suci, tetapi pernah digauli (disetubuhi) dalam rentan waktu suci tersebut. 3. Talak bukan Suni dan talak bukan Bid’i yaitu talak yang dijatuhkan terhadap salah satu hal berikut: a. isteri yang ditalak itu belum pernah digauli (disetubuhi); b. isteri yang ditalak itu belum pernah haid / telah lepas dari masa haid (monopouse); c. isteri yang ditalak dalam keadaan hamil.
    • Ada pula istilah Thalaq Al-Battah, yaitu talak tiga yang dijatuhkan sekaligus dalam satu kali kesempatan. Talak jenis ini pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw dan masa Abu Bakar Shiddiq r.a, serta dua tahun pertama pemerintahan Umar bin Khathab ra., akan tetapi pada masa itu Thalaq Al Battah dihukum hanya jatuh satu. Baru pada tahun ketiga pemerintahan Umar bin Khathab r.a. Thalaq A1 Battah dihukum jatuh tiga. Penetapan jatuh tiga terhadap Thalaq al-Battah merupakan ijtihad Khalifah Umar bin Khathab ra. yang dilakukan untuk menjawab atas problem sosial akibat perkembangan peradaban yang terjadi pada masa itu, dengan maksud untuk membela dan menyelamatkan kaum perempuan dari kesewenangan laki-laki.
    Thalaq
  • Hukum Thalaq
    • Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara jika diucapkan serius jadi benar dan jika diucapkan main-mainpun juga jadi benar; nikah, talak dan rujuk”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hasan menurut At-Tirmidzi dan shahih menurut Al-Hakim)
    • عَنِ اِبْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَبْغَضُ اَلْحَلَالِ عِنْدَ اَللَّهِ اَلطَّلَاقُ )
    • HUKUM TALAK Pada dasarnya perceraian atau talak itu adalah sesuatu yang tidak disenangi yang dalam istilah ushul fiqh disebut makruh. Walaupun hukum asal dari talak itu makruh, namun melihat keadaan tertentu dalam situasi tertentu maka hukum talak itu adalah sebagai berikut: 1. Nadab/sunat, yaitu bila keadaan rumah tangga sudah tidak bisa dilanjutkan dan seandainya dipertahankan maka akan timbul kemudaratan yang lebih besar diantara kedua belah pihak. 2. Mubah atau boleh saja dilakukan bila memang perlu terjadinya perceraian dan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dengan perceraian itu dan manfaatnya ada. 3. Wajib atau mesti dilakukan, yaitu perceraian yang mesti dilakukan oleh hakim terhadap seorang yang telah bersumpah untuk tidak menggauli isterinya sampai masa tertentu, serta ia tidak mampu pula membayar kaffarat sumpah. Dan tindakan ini memudaratkan bagi isteri. 4. Haram talak itu dilakukan tanpa alasan sedangkan isterinya dalam keadaan haid atau suci yang dalam masa itu ia telah di gauli.
    • Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan, ’IDDAH adalah masa tunggu bagi wanita yang ditinggal mati atau bercerai dari suaminya yang tidak memungkinkan baginya untuk menikah lagi dengan laki-laki lain.
    • Masa ’iddah berlaku bagi isteri yang putus perkawinannya kecuali qobla al dukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami.
    • Waktu tunggu: 1) Karena kematian: 130 hari jika tidak hamil. Jika hamil sampai melahirkan.
    • 2) Karena perceraian:
    • - 3 kali suci, minimal 90 hari (bagi yang masih haid)
    • - 90 hari bagi yang tidak haid (QS. al-Thalaq: 4)
    • - Hamil sampai melahirkan (QS. al-Tbalaq: 4)
    • 3) Tidak ada waktu tunggu bagi janda karena perceraian qabla dhukul.
    • Mulai masa tunggu. Jika karena perceraian: setelah putusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum tetap. Jika k arena kematian: sejak kematian suami.
    • RUJUK. Berasal dan kala Arab raj’ah yang artinya kembali. Jadi rujuk adalah kembali hidup sebagai suami isteri antara laki-laki dan perempuan yang melakukan perceraian dengan talak raj’i selama masih dalam masa ’iddah tanpa dengan akad nikah baru.
    • SYARAT RUJUK:
    • 1) Putusnya perkawinan karena talak., kecuali qobla al dukhul atau talak 3x.
    • 2) Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan kecuali alasan zina atau khuluk (talak dengan iwald baik khuluk maupun taklik talak).
    • 3) Masih dalam masa ’iddah.
    • 4) Ada persetujuan isteri. Rujuk tanpa persetujuan isteri dapat dinyatakan tidak sah dengan putusan pengadilan agama.
    Masa ‘Iddah dan Ruju’
  • Memberi Selamat dalam Pernikahan
    • Dianjurkan untuk memberi selamat kepada pengantin, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairoh r.a: bahwasanya Nabi SAW jika memberi selamat kepada seseorang beliau berkata:
    • " بارك الله لكم , وبارك عليكم , وجمع بينكما في خير " أخرجه أبو داود وابن ماجه
    • "Semoga Allah memberi berkah kepada kalian, dan melimpahkan keberkahannya terhadap kalian, serta menggabungkan kalian berdua dalam kebaikan" (H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  • Next Week
    • Fiqh Mawarits (Faraidh): Definisi, Sebab Mendapat Hak Waris, Bagian Ahli Waris.