Presentasi 12 transplantasi organ

15,230 views
15,095 views

Published on

3 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
15,230
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,860
Actions
Shares
0
Downloads
415
Comments
3
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi 12 transplantasi organ

  1. 1. fiqh TRANSPLANTASI Presentasi Ke-12 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. Definisi <ul><li>Transplantasi dari bahasa Inggris transplantation , to transplant yang berarti to take up and plant to another (mengambil dan menempelkan pada tempat lain). Atau to move from one place to another (memindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain). Transplantasi juga berarti pencangkokan. </li></ul><ul><li>Transplantasi bukan hanya pada organ, tapi juga pada jaringan, bukan saja pada manusia, tapi juga pada binatang. </li></ul><ul><li>Berbeda dengan pencangkokan pada tumbuhan, proses transplantasi pada garis besarnya adalah pemotongan organ dan jaringan, kemudian diokulasikan pada bagian tubuh tertentu untuk hidup menyatu antara yang menempel dan yang ditempeli. </li></ul>
  3. 3. Terminologi <ul><li>Transplantasi menurut istilah kedokteran berarti usaha memindahkan sebagian dari bagian tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Atau, upaya medis untuk memindahkan sel, jaringan (kumpulan sel-sel), atau organ tubuh dari donor kepada resipien. </li></ul><ul><li>Donor ialah individu dari mana jaringan atau organ diambil untuk ditanam di tempat lain. Donor ada dua macam: living donor dan cadaver donor. Living donor terdiri dari orang-orang yang masih hidup dan sewaktu-waktu bersedia untuk diambil salah satu organnya. Pada cadaver donor organ diambil dari donor pada waktu menjelang kematian atau pada waktu tepat sesudah kematian. </li></ul><ul><li>Resipien ialah individu yang menerima jaringan atau organ yang ditransplantasikan. </li></ul>
  4. 4. Pembagian Tranplantasi <ul><li>Dari segi jenis transplantasi yang dipakai : </li></ul><ul><li>1. Transplantasi jaringan, misal: cornea mata. </li></ul><ul><li>2. Transplantasi organ, seperti pencangkokan ginjal, jantung dsb. </li></ul><ul><li>Dari segi hubungan genetik antara donor-resipien: </li></ul><ul><li>1. Autotransplantasi , dimana resipien dan donor adalah satu individu. </li></ul><ul><li>2. Homotransplantasi = Allotransplantasi, dimana resipien dan donor adalah individu yang sama jenisnya. </li></ul><ul><li>3. Heterotransplantasi = Xenotransplantasi, dimana resipien dan donor adalah dua individu yang berbeda jenis, misalnya transplantasi jaringan atau organ dari binatang ke manusia. </li></ul>
  5. 5. Tujuan Transplantasi <ul><li>Transplantasi pada dasarnya bertujuan: </li></ul><ul><li>1. Kesembuhan dari suatu penyakit, misalnya kebutaan, rusaknya jantung dan ginjal, dsb. </li></ul><ul><li>2. Pemulihan kembali fungsi suatu organ, jaringan atau sel yang telah rusak atau mengalami kelainan, tapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis, ex. bibir sumbing </li></ul><ul><li>Ditinjau dari segi tingkatan tujuannya, ada “tingkat dihajatkan” dan ada “tingkat dharurat”. </li></ul><ul><li>1. Tingkat dihajatkan yaitu transplantasi semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukan dengan pencangkokan tidak akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi cornea mata dan bibir sumbing. </li></ul><ul><li>2. Tingkat dharurat yaitu transplantasi sebagai jalan terakhir yang kalau tidak dilakukan akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi ginjal, hati dan jantung. </li></ul>
  6. 6. Meskipun pencangkokan organ tubuh belum dikenal pada masa Nabi Saw, namun “operasi” yang menggunakan organ buatan atau palsu sudah dikenal, sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Daud dan Tirmidzi dari Abdurrahman bin Tharfah (Sunan Abu Dawud, hadits. no.4232) “bahwa kakeknya ‘Arfajah bin As’ad pernah terpotong hidungnya pada perang Kulab, lalu ia memasang hidung (palsu) dari logam perak, namun hidung tersebut mulai membau (membusuk), maka Nabi saw. menyuruhnya untuk memasang hidung (palsu) dari logam emas”. Imam Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya (III/58) juga telah meriwayatkan dari Waqid bin Abi Yaser bahwa ‘Utsman (bin ‘Affan) pernah memasang mahkota gigi dari emas, supaya giginya lebih kuat (tahan lama).
  7. 7. HUKUM TRANSPLATASI Transplantasi ada yang berbentuk: Pertama : Penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari tubuh yang sama. Kedua : Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu lain yang dirinci lagi menjadi dua persoalan yaitu: A). Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu orang lain baik yang masih hidup maupun sudah mati, dan B). Penanaman jaringan/organ yang diambil dari individu binatang baik yang tidak najis/halal maupun yg najis/haram. Masalah pertama yaitu seperti praktek transplantasi kulit dari suatu bagian tubuh ke bagian lain dari tubuhnya yang terbakar atau dalam kasus transplantasi penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah jantung dengan mengambil pembuluh darah pada bagian kaki. Masalah ini hukumnya adalah boleh berdasarkan analogi (qiyas) diperbolehkannya seseorang untuk memotong bagian tubuhnya yang membahayakan keselamatan jiwanya karena suatu sebab. Masalah kedua yaitu penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain. Persoalannya jika jaringan/organ tersebut diambil dari orang lain yang masih hidup, maka ada 2 kasus:
  8. 8. <ul><li>Kasus Pertama: Penanaman jaringan/organ tunggal yang dapat mengakibatkan kematian donaturnya bila diambil. Misal: jantung, hati dan otak. Hukumnya tidak boleh. QS. al-Baqarah:195, al-Nisa`: 29, al-Maidah: 2, tentang larangan menyiksa ataupun membinasakan diri sendiri serta bersekongkol dalam pelanggaran. </li></ul><ul><li>وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ * وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ </li></ul><ul><li>وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ </li></ul><ul><li>Kasus kedua: Penanaman jaringan/organ yang diambil dari orang lain yang masih hidup yang tidak mengakibatkan kematiannya seperti, organ tubuh ganda diantaranya ginjal atau kulit atau dapat juga dikategorikan disini praktek donor darah. Pada dasarnya masalah ini diperbolehkan selama memenuhi persyaratannya yaitu: 1. Tidak membahayakan kelangsungan hidup yang wajar bagi donatur jaringan/organ. Karena kaidah hukum Islam menyatakan bahwa suatu bahaya tidak boleh dihilangkan dengan resiko mendatangkan bahaya serupa/sebanding. 2. Hal itu harus dilakukan oleh donatur dengan sukarela tanpa paksaan dan tidak boleh diperjualbelikan. 3. Boleh dilakukan bila memang benar-benar transplantasi sebagai alternatif peluang satu-satunya bagi penyembuhan penyakit pasien dan benar-benar darurat. </li></ul><ul><li>4. Boleh, bila peluang keberhasilan transplantasi tsb sangat besar. </li></ul>
  9. 9. Transplantasi Organ Tubuh ( ( زرع الأ عضــاء Transplantasi Organ Dari Donor Yg Masih Hidup Syara’ membolehkan seseorang di saat hidupnya dengan sukarela untuk menyumbangkan organ tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan, seperti tangan atau ginjal. Ketentuan itu dikarenakan adanya hak bagi seseorang untuk mengambil diyat (tebusan), atau memaafkan orang lain yang misalnya telah memotong tangannya atau mencongkel matanya. Memaafkan qishash itu hakekatnya adalah tindakan menyumbangkan diyat. QS. al-Baqarah: 178 فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ Syaratnya: organ yang disumbangkan bukan merupakan organ vital yang menentukan kelangsungan hidup pihak penyumbang, seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru yang bisa mengakibatkan kematian pihak penyumbang. QS. al-Nisa`: 29 وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ
  10. 10. Masalah penanaman jaringan/organ tubuh yang diambil dari orang mati. Organ/jaringan yang akan ditransfer tersebut dirawat dan disimpan dengan cara khusus agar dapat difungsikan. Berbagai hasil muktamar dan fatwa lembaga-lembaga Islam internasional yang berkomperten membolehkan praktek transplantasi jenis ini diantaranya konferensi OKI (Malaysia, April 1969 M ) dengan ketentuan kondisinya darurat dan tidak boleh diperjualbelikan, Lembaga Fikih Islam dari Liga Dunia Islam (Mekkah, Januari 1985 M.), Majlis Ulama Arab Saudi (SK. No.99 tgl. 6/11/1402 H.) dan Panitia Tetap Fawa Ulama dari negara-negara Islam seperti Kerajaan Yordania, dengan ketentuan harus memenuhi persyaratan: 1. harus dengan persetujuan orang tua mayit. 2. hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat. 3. Bila tidak darurat dan keperluannya tidak mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur (tanpa transaksi dan kontrak jual-beli).
  11. 11. <ul><li>Alasan mereka membolehkannya berdasarkan pada: </li></ul><ul><li>Ayat al-Qur’an yang membolehkan mengkonsumsi barang-barang haram dalam kondisi benar-benar darurat. (QS. Al-Baqarah:173, Al-Maidah:3, Al-An’am:119,145) </li></ul><ul><li>Anjuran al-Quran untuk merawat dan meningkatkan kehidupan (QS. Al-Maidah: 32) </li></ul><ul><li>Ayat-ayat tentang keringanan & kemudahan dalam Islam. QS. al-Baqarah:185, al-Nisa`:28 يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا , al-Maidah:6, al-Hajj:78 وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ </li></ul><ul><li>Hal itu sebagai amal jariyah bagi donatur yang telah mati dan sangat berguna bagi kemanusiaan. </li></ul><ul><li>Allah sangat menghargai dan memuji orang-orang yang berlaku ‘itsaar’ tanpa pamrih dan dengan tidak sengaja membahayakan dirinya atau membinasakannya. </li></ul><ul><li>Kaedah-kaedah umum hukum Islam yang mengharuskan dihilangkannya segala bahaya الضرر يزال . </li></ul><ul><li>“ Prinsip: maslahat orang yang hidup lebih didahulukan.” Ada pula kaedah “hurmatul hayyi a’dhamu min hurmatil mayyiti” (kehormatan orang hidup lebih besar keharusan pemeliharaan nya daripada yang mati) </li></ul>
  12. 12. Ada juga pendapat yang mengatakan mendonorkan organ tubuh dari manusia yang sudah meninggal hukumnya haram. Dalilnya: Kesucian tubuh manusia, setiap bentuk agresi atas tubuh manusia merupakan hal yang terlarang. Diantara hadisnya: كسر عظم الميت ككسره حيا &quot;Memecah tulang orang yang meninggal seperti memecah tulangnya ketika masih hidup&quot; (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany) Sementara mengambil jantung dan ginjal misalnya lebih besar perkaranya dari hanya sekedar memecah tulang. Tubuh manusia adalah amanah. Hidup, diri, dan tubuh manusia pada dasarnya bukanlah milik manusia tapi merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga,karena itu manusia tidak memiliki hak untuk mendonorkan nya kepada orang lain. Tubuh manusia tidak boleh diperlakukan sebagai benda material semata; tubuh manusia bukanlah benda material semata yang dapat dipotong dan dipindah-pindahkan.
  13. 13. Masalah penanaman jaringan/organ yang diambil dari tubuh binatang, ada dua kasus yaitu: Kasus Pertama: Binatang tersebut tidak najis/halal, seperti binatang ternak (sapi, kerbau, kambing ). Dalam hal ini tidak ada larangan bahkan diperbolehkan dan termasuk dalam kategori obat yang mana kita diperintahkan Nabi untuk mencarinya bagi yang sakit. Kasus Kedua: Binatang tersebut najis/ haram seperti babi atau bangkai binatang dikarenakan mati tanpa disembelih secara islami terlebih dahulu. Dalam hal ini tidak dibolehkan kecuali dalam kondisi yang benar-benar gawat darurat, dan tidak ada pilihan lain. Dalam sebuah riwayat atsar disebutkan: “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, namun janganlah berobat dengan barang haram.” Dalam kaedah fiqh disebutkan “al-Dharurat Tubih al-Mahdhuraat” (darurat membolehkan pemanfaatan hal yang haram) atau kaedah “al-Dhararu Yuzaal” (Bahaya harus dihilangkan) yang mengacu surat Al Maidah: 3. “al-Dharurat Tuqaddar Biqadarihaa” (Pertimbangan kondisi darurat harus dibatasi sekedarnya).
  14. 14. CATATAN UNTUK TRANSPLANTASI YANG DIBOLEHKAN Dari segi RESIPIEN (Reseptor) harus diperhatikan skala prioritas dan pertimbangan dalam memberikan donasi organ atau jaringan seperti tingkat moralitas, mental, perilaku dan track record yang menentramkan lingkungan serta baik bagi dirinya dan orang lain. (QS. al-Hujurat: 1, Ali Imran: 28, al-Mumtahanah: 8), peranan, jasa atau kiprahnya dalam kehidupan umat (QS. Shaad: 28), hubungan kekerabatan dan tali silatur rahmi ( QS. Al Ahzab: 6), tingkat kebutuhan dan kondisi gawat daruratnya dengan melihat persediaan. Adapun dari segi DONOR juga harus diperhatikan berbagai pertimbangan skala prioritas yaitu ; 1. menanam jaringan/organ imitasi buatan bila memungkinkan secara medis. 2. Mengambil jaringan/organ dari tubuh orang yang sama selama memungkinkan karena dapat tumbuh kembali seperti, kulit dan lainnya. 3. Mengambil dari organ/jaringan binatang yang halal, adapun binatang lainnya dalam kondisi gawat darurat dan tidak ditemukan yang halal. 4. Mengambil dari tubuh orang yang mati dengan ketentuan seperti penjelasan di atas. 5. Mengambil dari tubuh orang yang masih hidup dengan ketentuan seperti diatas disamping orang tersebut adalah mukallaf ( baligh dan berakal ) harus berdasarkan kesadaran, pengertian, suka rela dan tanpa paksaan. 6. Disamping itu donor harus sehat mental dan jasmani yang tidak mengidap penyakit menular serta tidak boleh dijadikan komoditas.
  15. 15. Fatwa DR. Yusuf Qardhawi Kebolehan mendonorkan sebagian organ tubuh itu bersifat muqayyad (bersyarat). Maka seseorang tidak boleh mendonorkan sebagian organ tubuhnya yang justru akan menimbulkan dharar, kemelaratan, dan kesengsaraan bagi dirinya atau bagi seseorang yang punya hak tetap atas dirinya. Oleh sebab itu, tidak diperkenankan seseorang mendonorkan organ tubuh yang cuma satu-satunya dalam tubuhnya, misalnya hati atau jantung, karena dia tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya organ tersebut; dan tidak diperkenankan menghilangkan dharar dari orang lain dengan menimbulkan dharar pada dirinya. Maka kaidah syar'iyah yang berbunyi &quot;Dharar (bahaya, kesengsaraan) harus dihilangkan,&quot; dibatasi oleh kaidah lain berbunyi: &quot;Dharar itu tidak boleh dihilangkan dengan menimbulkan dharar pula.&quot; Para ulama ushul menafsirkan kaidah tersebut dengan pengertian: tidak boleh menghilangkan dharar dengan menimbulkan dharar yang sama atau yang lebih besar daripadanya. Karena itu tidak boleh mendermakan organ tubuh bagian luar, seperti mata, tangan, dan kaki. Karena yang demikian itu adalah menghilangkan dharar orang lain dengan menimbulkan dharar pada diri sendiri yang lebih besar, sebab dengan begitu dia mengabaikan kegunaan organ itu bagi dirinya dan menjadikan buruk rupanya. Begitu pula halnya organ tubuh bagian dalam yang berpasangan tetapi salah satu dari pasangan itu tidak berfungsi atau sakit, maka organ ini dianggap seperti satu organ.
  16. 16. Fatwa MUI Pusat Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III 1430H/2009M di Padang Panjang 24-26 Januari 2009. Diantaranya: Fatwa Bank Mata Dan Organ Tubuh Lain. 1- Hukum melakukan transplantasi kornea mata kepada orang yang membutuhkan adalah boleh apabila sangat dibutuhkan dan tidak diperoleh upaya medis lain untuk menyembuhkannya 2- Pada dasarnya, seseorang tidak mempunyai hak untuk mendonorkan anggota tubuhnya kepada orang lain karena ia bukan pemilik sejati atas organ tubuhnya. Akan tetapi karena untuk kepentingan menolong orang lain, dibolehkan dan dilaksanakan sesuai wasiat. 3- Orang yang hidup haram mendonorkan kornea mata atau organ tubuh lainnya kepada orang lain. 4- Orang boleh mewasiatkan untuk mendonorkan kornea matanya kepada orang lain, dan diperuntukkan bagi orang yang membutuhkan dengan niat tabarru' (prinsip sukarela dan tidak tujuan komersial). 5- Bank mata dibolehkan apabila proses pengambilan dari donor & pemanfataannya kembali sesuai dgn aturan syariah.
  17. 17. Sekian & Terima Kasih

×