Penyusunan  SUNNAH Presentasi Ke-8 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
Latar Belakang <ul><li>Orang yang mencatat Sunnah pada zaman Rasulullah Saw sedikit sekali, selain dilarang oleh Nabi keti...
Latar Belakang <ul><li>Khalifah  Umar bin Abdul Aziz  mengingatkan pentingnya pembukuan Sunnah. Beliau memerintahkan guber...
Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Maksudnya: Mengumpulkan assunnah yang sejenis dalam satu judul, sebagiannya dikumpulkan denga...
Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Kitab-kitab hadis itu pada awalnya masih bercampur dengan kata-kata sahabat dan tabi’in, seba...
Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Imam Bukhari dan Imam Muslim menyusun kitab shahihnya, setelah cermat dalam meriwayatkan dan ...
Pengaruh Sunnah Terhadap Tasyri’ <ul><li>Sunnah merupakan sumber Islam kedua bagi ilmu fiqh dan syariat setelah Al-qur’an....
Prestasi Era Bani Abbasiyah <ul><li>Imam-imam madzhab yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama.  Imam Abu...
Kekhalifahan Abbasiyah  -  العبّاسيين <ul><li>Mulai berkuasa pada 132-656 H./750-1258 M. </li></ul><ul><li>Kekhalifahan in...
Pemerintahan Pasca Khulafaurrasyidin DINASTI ABBASIYAH (132-656 H.) <ul><li>Pendiri: Abu al-Abbas, keturunan dari paman Na...
 
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Penyusunan sunnah

12,029

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
12,029
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
278
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Penyusunan sunnah

  1. 1. Penyusunan SUNNAH Presentasi Ke-8 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. Latar Belakang <ul><li>Orang yang mencatat Sunnah pada zaman Rasulullah Saw sedikit sekali, selain dilarang oleh Nabi ketika itu dengan sabdanya: “Janganlah kalian menulis dariku (hadis) selain al-Quran”, juga disebabkan banyak yang buta huruf (umiy) dan kekhawatiran mereka mencampuradukkan hadis dengan Quran, serta agar tak memalingkan perhatian mereka terhadap Quran. Rasul Saw secara resmi menginstruksikan sahabat untuk menuliskan Quran selain menghafalnya. Sedangkan terhadap hadis, beliau hanya menyuruh untuk dihapal dan melarang ditulis. </li></ul><ul><li>لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ، وحَدِّثُوْا عَنِّيْ وَلاَ حَرَجَ ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ . </li></ul><ul><li>“ Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain Al-Qur’an dan siapa saja yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an maka hendaklah dia menghapusnya. Ceritakan saja apa yang kalian terima dariku dan ini tidak mengapa. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka ”  (H.R. Muslim). </li></ul>
  3. 3. Latar Belakang <ul><li>Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengingatkan pentingnya pembukuan Sunnah. Beliau memerintahkan gubernurnya di Madinah, Abu Bakar Muhammad bin Amer bin Hazem untuk memulai pembukuan hadis sebagai materi pokok fiqh. Setelah menerima perintah khalifah, Ibnu Hazem pun memerintahkan Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri, seorang ulama besar dan pemuka ahli hadis, untuk mengumpulkan hadis Nabi secara resmi. </li></ul>
  4. 4. Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Maksudnya: Mengumpulkan assunnah yang sejenis dalam satu judul, sebagiannya dikumpulkan dengan sebagian yang lain seperti hadis-hadis tentang shalat, puasa dsb. Pemikiran ini timbul di seluruh negara Islam saat itu dalam waktu hampir serentak. </li></ul><ul><li>Termasuk orang2 yang membukukan pada tahap awal: Imam Malik bin Anas di Madinah, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij di Mekkah, Sufyan bin Tsauri di Kufah, Hamad bin Salmah dan Sa’id bin Arubah di Bashrah, Hasyim bin Basyir di Wasith, Abdurrahman al-Auza’i di Syam, Ma’mar bi Rasyid di Yaman, Abdullah bin Mubarak di Khurasan, Jarir bin Abdul Hamid di Ray, dst. </li></ul><ul><li>Terjadi pada sekitar tahun 140 H. lebih sedikit. </li></ul>
  5. 5. Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Kitab-kitab hadis itu pada awalnya masih bercampur dengan kata-kata sahabat dan tabi’in, sebagaimana terlihat dalam kitab al-Muwattha ’ karya Imam Malik. </li></ul><ul><li>Pada tahap kedua, hadis Rasulullah Saw. mulai dipisahkan dari kata-kata orang lain, yaitu pada permulaan tahun 200 H. Mereka mengarang kitab yang dikenal dengan musnad , seperti musnad Abdullah bin Musa al-Kufi, Musnad Musaddad bin Masrahad al-Bashri, Musnad Asad bin Musa al-Mishri, Musnad Na’im bin Hamad al-Khaza’i, Musnad Ishak bin Rahawaih, Musnad Usman bin Abi Saibah, Musnad Ahmad bin Hanbal , dsb. </li></ul><ul><li>Tahap berikutnya, dimulailah penyaringan hadis. Ada dua tokoh: Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari al-Ja’fi (wafat tahun 256 H.) dan Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi (wafat tahun 261 H.) </li></ul>
  6. 6. Penyusunan Al-Sunnah <ul><li>Imam Bukhari dan Imam Muslim menyusun kitab shahihnya, setelah cermat dalam meriwayatkan dan memilih hadis. Dua kitab shahih itu menjadi puncak pembukuan hadis. </li></ul><ul><li>Jalan kedua tokoh itu diikuti pula oleh Abu Dawud Sulaiman bin al-A’yasy As-Sijistani (wafat 275 H.), Abu Isa Muhammad bin Isa Al-Salmi At-Turmudzi (wafat 279 H.), Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwini yang terkenal dengan Ibnu Majah (wafat 273 H.), Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasai (wafat 303 H.) </li></ul><ul><li>Kitab-kitab yang mereka susun dikenal dengan Kutubussittah , yang memiliki derajat paling tinggi karena para perawinya sangat tsiqah. </li></ul>
  7. 7. Pengaruh Sunnah Terhadap Tasyri’ <ul><li>Sunnah merupakan sumber Islam kedua bagi ilmu fiqh dan syariat setelah Al-qur’an. Sunnah berfungsi menjelaskan makna dan merinci keutamaan Al-qur’an. </li></ul><ul><li>Status sunnah sebagai sumber hukum bagi pen-tasyri’-an (perintah) dalam masalah ibadah dan muamalah, individu, keluarga, mayarakat dan negara tidak diperselisihkan lagi. </li></ul><ul><li>Agar sunnah dapat dijadikan rujukan dalam hukum tasyri’, hendaklah hadis itu berpredikat shahih atau hasan. </li></ul><ul><li>Pengaruhnya : Munculnya madzhab-mazhab fiqih, Banyaknya fuqaha` tabi’in yang mengumpulkan hadis, fatwa sahabat kemudian mempelajarinya dan mengembangkannya, Mempermudah melakukan ijtihad, Menambah komitmen untuk menjalankan hukum Islam secara mantap karena berdasarkah pada ajaran sunnah yang sudah masyhur perawi hadisnya, Dapat menguragi dan atau menghilangkah Fanatisme mazhab, serta menambah kuat dalam berijtihad.  </li></ul>
  8. 8. Prestasi Era Bani Abbasiyah <ul><li>Imam-imam madzhab yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf , menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid. Berbeda dengan Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. </li></ul><ul><li>Pada era ini muncul pula tokoh dalam bidang astronomi, al-Fazari . Dalam kedokteran muncul ar-Razi dan Ibnu Sina . Dibidang optikal, Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami . Di bidang kimia , ada Jabir ibn Hayyan . Di bidang matematika ada Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi . Dalam bidang sejarah muncul nama al-Mas'udi . Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi , Ibnu Sina , dan Ibnu Rusyd , dsb. </li></ul>
  9. 9. Kekhalifahan Abbasiyah - العبّاسيين <ul><li>Mulai berkuasa pada 132-656 H./750-1258 M. </li></ul><ul><li>Kekhalifahan ini berkuasa setelah Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia . Kemudian ia dilantik sebagai khalifah. </li></ul><ul><li>Pada mulanya ibu kota negara adalah a l-Hasyimiyah , dekat Kufah . Lalu Khalifah al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad , tahun 762 M. Sehingga ibukota khilafah Islamiyah beralih dari Damaskus ke Baghdad. </li></ul><ul><li>Berkembang lebih 3 abad dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani & Persia, tapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dikenal dengan nama Mamluk . </li></ul><ul><li>Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah </li></ul><ul><li>Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 M. disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad. </li></ul>
  10. 10. Pemerintahan Pasca Khulafaurrasyidin DINASTI ABBASIYAH (132-656 H.) <ul><li>Pendiri: Abu al-Abbas, keturunan dari paman Nabi SAW, al-Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim. Nama lengkap: Abdullah bin Muhamad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim. </li></ul><ul><li>Beliau dibantu kaum Syi’ah dan orang-orang Persia menjatuhkan Dinasti Umayah tahun 750 M. </li></ul><ul><li>Menjadi khalifah di Kufah (750-754 M.). </li></ul><ul><li>Dilanjutkan oleh Abu Ja’far al-Mansur, khalifah II (754-775 M.) </li></ul><ul><li>Khalifah-khalifah besar Bani Abbas membawa dunia Islam menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan dunia dan kekuatan raksasa di dunia belahan timur. Abu Ja’far al-Manshur (754-775), al-Mahdi (775-785), Harun al-Rasyid (785-809), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tashim (833-842), al-Qatisq (842-847), al-Mutawakkil (847-861). </li></ul><ul><li>Khalifah Abbasiyah menempatkan diri mereka sebagai “Zhillullah fi al-Ardh” (bayangan Allah di bumi). </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×