HUKUM RIBA, BUNGA BANK DAN ASURANSI Membahas Terminologi Riba, Dalil, Hukum Riba, Macam-macam Riba, Hukum Bunga Bank, Perb...
Definisi dan Hukum RIBA <ul><li>Secara etimologi,  riba  berarti kelebihan atau tambahan. Kata Ar-Riba adalah isim maqshur...
Hikmah Pengharaman Riba <ul><li>Meskipun praktik riba memberi “keuntungan pasti” bagi pihak tertentu, namun akibat negatif...
Proses Pengharaman Riba <ul><li>Allah Swt. menggunakan metode  tadarruj fi al-tasyrî’  (proses bertahap dalam penetapan hu...
Macam-macam RIBA <ul><li>Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah  riba   utang-piutang  d...
Hukum Bunga Bank <ul><li>KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FAIDAH)   </li...
Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional <ul><li>Bank  atau  perbankan  adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya me...
Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil <ul><li>BUNGA </li></ul><ul><li>Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dgn asumsi harus sel...
Produk-produk Bank Syariah (BS) <ul><li>Produk bank syariah meliputi: Produk di sisi pasiva – simpanan, Produk di sisi akt...
<ul><li>PRODUK PEMBIAYAAN </li></ul><ul><li>1.   Pembiayaan berdasar prinsip bagi hasil musyarakah.  Dalam pembiayaan musy...
Perbankan Syariah Designed by
Contoh Aplikasi  Istishna ’  Paralel <ul><li>Istishna’ merupakan fasilitas penyaluran dana untuk pengadaan objek atau bara...
Prinsip Asuransi Dalam al-Quran <ul><li>  إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيُعَلِّمُ مَا فِي...
Definisi Asuransi
Definisi Asuransi Syari’ah
Hukum Asuransi <ul><li>Di kalangan umat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak islami, karena sama halnya dengan oran...
Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah
Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah
Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
Mekanisme Asuransi: Produk Tabungan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Hukum bunga bank, asuransi (minus kisi)

17,871

Published on

1 Comment
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
17,871
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
7
Actions
Shares
0
Downloads
1,587
Comments
1
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hukum bunga bank, asuransi (minus kisi)

  1. 1. HUKUM RIBA, BUNGA BANK DAN ASURANSI Membahas Terminologi Riba, Dalil, Hukum Riba, Macam-macam Riba, Hukum Bunga Bank, Perbandingan Antara Bank Konvensional dan Syariah, Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil, Perbedaan Asuransi Konvensional dan Syariah Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-6
  2. 2. Definisi dan Hukum RIBA <ul><li>Secara etimologi, riba berarti kelebihan atau tambahan. Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa - yarbuu , yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah SWT QS. Fusshilat: 39 dan QS. Al-Nahl: 92. </li></ul><ul><li>وإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت </li></ul><ul><li>“… maka apabila Kami turunkan air di atasnya, bergerak dan (bertambah) subur…” </li></ul><ul><li>أن تكون أمة أربى من أمة </li></ul><ul><li>“… disebabkan adanya suatu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan lain…” </li></ul><ul><li>Adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham. </li></ul><ul><li>Ribâ adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. </li></ul><ul><li>Riba, hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar ( kabâir ), berdasar kitabullah, sunnah dan ijma’. QS Al-Baqarah: 278-279. QS Al-Baqarah: 275-276. </li></ul><ul><li>اجتنبوا السبع الموبقات : قالوا يا رسول الله وما هن ؟   قال : الشرك بالله   والسحر و قتل النفس التى حرم الله الا بالحق و أكل الربا   وأكل مال اليتيم   والتولى يوم الزحف   و قذف المحصنات المؤمنات الغافلات . متفق عليه </li></ul><ul><li>Nabi saw bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “(Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah, (kedua) sihir, (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq, (keempat) makan riba, (kelima) makan harta anak yatim, (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan, dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah.” </li></ul><ul><li>لعن   رسول الله   صلعم   أكل الربا ومؤكله وكاتبه   وشاهديه و قال : سواء . رواه   مسلم </li></ul><ul><li> Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” </li></ul>
  3. 3. Hikmah Pengharaman Riba <ul><li>Meskipun praktik riba memberi “keuntungan pasti” bagi pihak tertentu, namun akibat negatif yang ditimbulkan justru lebih luas. Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, sosial masyarakat maupun perekonomiannya. </li></ul><ul><li>Hikmah pengharaman riba : 1 . Riba berarti perbuatan mengambil harta orang lain tanpa hak. Nabi SAW bersabda: &quot;Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.“ Oleh karena itu mengambil harta orang lain tanpa hak, sudah pasti haramnya. 2 . Riba dapat melemahkan kreatifitas manusia untuk berusaha atau bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan memudahkan cara mencari penghidupan, tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia 100% ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.(hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian). 3 . Riba menghilangkan nilai kebaikan dan keadilan dalam hutang piutang. Keharaman riba membuat jiwa manusia menjadi suci dari sifat lintah darat. Kalau riba diharamkan, seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (ini hikmah dari segi etika/akhlak). 4 . Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Padahal tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (ini ditinjau dari segi sosial). </li></ul>
  4. 4. Proses Pengharaman Riba <ul><li>Allah Swt. menggunakan metode tadarruj fi al-tasyrî’ (proses bertahap dalam penetapan hukum) untuk menjelaskan efek buruk riba hingga pengharamannya. Pada tahap pertama , Al-Quran menjelaskan urgensi menjauhi riba ( Surat al-Rủm: 39 ). Tahap Kedua, Al-Quran Surat al-Nisâ` ayat 160-161 menceritakan tentang perilaku kaum Yahudi yang memakan riba sehingga dihukum oleh Allah Swt. Ayat yang diturunkan di Madinah ini merupakan sejarah yang menjadi peringatan bagi pelaku riba. Tahap Ketiga, Al-Quran surat Âli ‘Imrân ayat 130 mulai mengharamkan jenis riba yang bersifat fâ h isy, yaitu riba jahiliyah yang berlipat ganda. Tahap Keempat, Al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 278-279 menegaskan kembali pengharaman segala bentuk riba. </li></ul>
  5. 5. Macam-macam RIBA <ul><li>Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utang-piutang dan riba jual beli . Riba utang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah . Sedangkan riba jual beli terbagi lagi menjadi riba fadhl dan riba nasî`ah . Riba Qardh yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang. Riba Jâhiliyyah yaitu utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan. Riba Fadhl ialah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi ( meliputi emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya; serta bahan makanan pokok seperti beras, gandum, jagung, dan bahan makanan tambahan, seperti sayur-sayuran, buah-buahan). Riba Nasî`ah ialah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasî`ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian. </li></ul><ul><li>Ada beragam kriteria riba yang berkembang di masyarakat. Sebagian berpandangan bahwa yang dimaksud riba adalah dengan kriteria berlipat ganda seperti yang dinukil dalam Al-Quran. Konsekuensinya jika yang diminta hanya kelebihan kecil dari pinjaman yang disalurkan berarti belum masuk kategori riba. Kelompok ini membedakan istilah riba dengan usuri . Ada pula kriteria penggolongan riba berdasarkan tujuan peminjaman. Sebagian masyarakat menganggap, bila peminjaman itu untuk tujuan konsumtif maka pengenaan bunga bisa dikategorikan riba. Namun bila peminjamannya untuk tujuan produktif, pengenaan bunga dikategorikan bukan riba. Sesungguhnya pendapat semacam ini tidak ada dalilnya dalam Islam. </li></ul>
  6. 6. Hukum Bunga Bank <ul><li>KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FAIDAH) </li></ul><ul><li>Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba </li></ul><ul><ul><li>Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di perhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase. </li></ul></ul><ul><ul><li>Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yg terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah. </li></ul></ul><ul><li>Kedua : Hukum Bunga (interest) </li></ul><ul><ul><li>Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yakni Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu. </li></ul></ul><ul><li>Ketiga : Bermu’amalah dengan lembaga keuangan konvensional </li></ul><ul><ul><li>Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan syari’ah dan mudah dijangkau, tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan perhitungan bunga. </li></ul></ul><ul><ul><li>Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat. </li></ul></ul>
  7. 7. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional <ul><li>Bank atau perbankan adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang dengan tujuan memenuhi kebutuhan kredit dengan modal sendiri atau orang lain. </li></ul>Bank syariah Bank Konvensional 1. Melakukan investasi-investasi yang halal saja. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa. 3. Berorientasi pada keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran serta kebahagian dunia akhirat ( falah ) 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan. 5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah (DPS) 1. Melakukan investasi yang halal dan haram. 2. Memakai perangkat bunga. 3. Profit oriented 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur. 5. Tidak terdapat dewan sejenis (DPS).
  8. 8. Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil <ul><li>BUNGA </li></ul><ul><li>Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dgn asumsi harus selalu untung. </li></ul><ul><li>Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yg dipinjamkan. </li></ul><ul><li>Pembayaran bunga tetap seperti yg dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yg dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi. </li></ul><ul><li>Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang ‘booming’ </li></ul><ul><li>Eksistensi bunga diragukan --bahkan dilarang-- oleh semua agama termasuk Islam. </li></ul><ul><li>BAGI HASIL </li></ul><ul><li>Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. </li></ul><ul><li>Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yg diperoleh. </li></ul><ul><li>Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. </li></ul><ul><li>Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. </li></ul><ul><li>Tidak ada yang meragukan kebsahan bagi hasil. </li></ul>
  9. 9. Produk-produk Bank Syariah (BS) <ul><li>Produk bank syariah meliputi: Produk di sisi pasiva – simpanan, Produk di sisi aktiva – pembiayaan, dan Produk Jasa. </li></ul><ul><li>PRODUK SIMPANAN </li></ul><ul><li>1. Giro wadi’ah. Wadiah adalah prinsip titipan . Ada dua macam wadiah, yaitu: </li></ul><ul><li>a. wadi’ah yad amanah , di mana pihak yang dititipi tidak boleh menggunakan barang yang dititipkan untuk kepentingan usahanya, dan harus mengembalikan apabila diminta oleh pemiliknya sewaktu-waktu. </li></ul><ul><li>b. wadi’ah yad dhamanah , di mana di mana pihak yang dititipi harus mengembalikan apabila diminta oleh pemiliknya sewaktu-waktu dan boleh menggunakan barang yang dititipkan untuk kepentingan usahanya. Atas penggunaan barang tersebut, apabila mendapatkan keuntungan, pihak yang dititipi boleh memberikan bonus kepada pemilik barang tapi tidak dipersyaratkan di awal akad. </li></ul><ul><li>Giro wadi’ah menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah , di mana pihak bank adalah pihak yang dititipi dan nasabah adalah pemilik dana. Pihak bank boleh menggunakan dana yang dititipkan untuk kepentingan usahanya. Apabila untung, dapat memberikan bonus kepada pemilik dana. Sehingga bonus yang diterima pemegang giro wadiah mutlak kewenangan pihak bank. Selain itu, ketentuan giro wadiah seperti halnya giro konvensional. </li></ul><ul><li>2. Tabungan wadi’ah. Menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah. </li></ul><ul><li>3. Tabungan mudharabah. Merupakan suatu investasi tidak terikat (ITT) nasabah kepada bank syariah menggunakan skema mudharabah mutlaqah, yaitu nasabah tidak memberikan batasan atau syarat kepada pengelola (bank syariah) mengenai bagaimana dananya harus dikelola atau dalam wilayah usaha tertentu . </li></ul><ul><li>4. Deposito mudharabah. Menggunakan prinsip mudharabah mutlaqah, bukan muqayyadah. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>PRODUK PEMBIAYAAN </li></ul><ul><li>1. Pembiayaan berdasar prinsip bagi hasil musyarakah. Dalam pembiayaan musyarakah, nasabah dan bank sama-sama menyetorkan modal untuk membuat usaha. Tetapi, bank tidak ikut serta dalam kepengelolaan usaha tersebut. Mengenai bagi hasil, ada dua metode yang dapat digunakan, yaitu profit sharing (bagi laba) dan revenue sharing (bagi pendapatan). Jika Bank memakai metode revenue sharing, berarti yang dibagi hasil antara BS dan nasabah pembiayaan adalah pendapatan tanpa dikurangi dengan biaya-biaya. Sedangkan apabila menggunakan metode profit sharing, maka yang dibagi hasil antara Bank dan nasabah pembiayaan adalah pendapatan setelah dikurangi biaya-biaya (laba). </li></ul><ul><li>2. Pembiayaan berdasar prinsip bagi hasil mudharabah. Bank sebagai pemilik modal 100% dan nasabah sebagai pengelola 100%. Keduanya sepakat untuk bekerja sama membuat suatu usaha. Jika terdapat keuntungan, maka dibagi berdua sesuai nisbah. Jika terjadi kerugian akibat kesalahan pengelola, maka pengelola sendiri yang harus menanggungnya. Tapi jika kesalahan itu bukan karena kesalahan pengelola, maka pemilik dana (Bank) yang harus menanggungnya. </li></ul><ul><li>3. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli murabahah. Murabahah ialah menjual barang sebesar harga pokok ditambah marjin keuntungan, dimana pembayarannya dapat dilakukan secara tunai atau angsuran. Pembeli dan penjual harus sama-sama tahu mengenai harga pokok dan menyepakati marjin. Sekali harga disepakati, harga tersebut yang berlaku sampai akad berakhir, artinya, harga kesepakatan tidak akan berubah sampai akad selesai. Dalam produk ini, BS bertindak sebagai penjual. </li></ul><ul><li>4. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli salam. Yaitu prinsip jual beli, dimana pembayaran dilakukan di muka, dan barang diserahkan dikemudian hari. Biasanya diaplikasikan dalam sektor pertanian. Dalam salam, spesifikasi barang, kuantifikasi dan kualifikasi barang diketahui dan diukur secara jelas dan spesifik. </li></ul><ul><li>5. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli istishna’. Biasanya ini diaplikasikan dalam sektor manufaktur. Penjual harus terlebih dulu membuat barang yang diinginkan pembeli. Cara pembayaran bisa di muka (seperti salam), bisa diangsur atau ditangguhkan sampai waktu yang ditentukan. Seperti salam, istishna juga dapat dilakukan secara paralel. Yaitu antara nasabah pembuat dengan BS, di sini BS bertindak sebagai pembeli. Dan antara BS dengan nasabah pembeli, di sini BS bertindak sebagai penjual. </li></ul><ul><li>6. Pembiayaan berdasar prinsip sewa ijarah. Ijarah adalah prinsip sewa- menyewa barang, dalam jangka waktu tertentu barang harus dikembalikan kepada pemilik dalam keadaan seperti semula. Ada pula ijarah muntahiyah bittamlik, yaitu akad sewa yang pada akhir masa sewa, terjadi perpindahan kepemilikan barang. Barang menjadi milik penyewa. Perpindahan ini, dapat dikarenakan hibah atau beli (sewa-beli). </li></ul>
  11. 11. Perbankan Syariah Designed by
  12. 12. Contoh Aplikasi Istishna ’ Paralel <ul><li>Istishna’ merupakan fasilitas penyaluran dana untuk pengadaan objek atau barang investasi yang diberikan berdasarkan pesanan nasabah. Pembiayaan ini memerlukan proses produksi/ pembangunan/renovasi. Pihak produsen/pemasok/kontraktor bisa ditunjuk oleh bank atau nasabah sendiri. </li></ul><ul><li>Bank menjual barang yang dipesan nasabah sebesar harga pokok plus margin keuntungan. Penyerahan barang kepada nasabah dilakukan setelah barang selesai atau sesudah melewati masa proses produksi/pembangunan/ renovasi. Setelah memenuhi prosedur, persyaratan seperti uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas angsuran untuk jangka waktu tertentu. </li></ul><ul><li>Keunggulan: Jumlah angsuran tetap tidak berubah, walaupun terjadi fluktuatif suku bunga. Kewajiban angsuran dapat dilakukan setelah masa proses produksi. </li></ul>BANK (Shani’ & Mustashni’) 2a. Akad istishna’ I PEMESAN (Nasabah) (Mustashni’) 2b. Akad istishna’ II 1a. Pesan barang sesuai kriteria 1b. Minta membuatkan barang 4. Membuat Barang PEMASOK (Shani’) BARANG PESANAN (Mashnu’) 5b. Kirim Dokumen 5a. Kirim Mashnu’ yang telah selesai dibuat 3a. Bayar 3b. Bayar 8
  13. 13. Prinsip Asuransi Dalam al-Quran <ul><li>  إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيُعَلِّمُ مَا فِي اْلأَرْحاَمِ وَماَ تَدْرِى نَفْسٌ ماَذَا تَكْسِبُ غَداً وَماَ تَدْرِى نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبْيْرٌ . لقمان : 34 </li></ul><ul><li>مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ…التغابن : 11 </li></ul><ul><li>وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَاِب . المائدة : 2 </li></ul><ul><li>Dalam menjalani kehidupannya, manusia senantiasa dihadapkan pada kemungkinan terjadinya musibah, malapetaka dan bencana, seperti kematian, kebakaran rumah, kecelakaan kendaraan, dsb. Segala musibah dan bencana yang telah terjadi, merupakan qadha dan qadar Allah, manusia harus berikhtiar dan berusaha melakukan tindakan berjaga-jaga memperkecil resiko yang ditimbulkan dari bencana dan malapetaka tersebut, bukan melakukan proteksi atas kecelakaan itu sendiri, baik terhadap kepentingan individu ataupun perusahaan. Salah satu cara menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau malapetaka ialah dengan menyimpan atau menabung uang. Namun demikian, upaya ini seringkali tidak mencukupi. Hal ini disebabkan karena biaya yang harus ditanggung jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Untuk itulah diperlukan lembaga yang memproteksi berbagai kemungkinan musibah yang terjadi yang disebut dengan asuransi. </li></ul><ul><li>Takaful adalah sebuah konsep asuransi syari’ah yang di dalamnya dilakukan kerja sama dengan para peserta takaful (pemegang polis asuransi) atas prinsip al-mudharabah. Perusahaan asuransi syariah bertindak sebagai al-mudharib yang menerima uang pembayaran dari peserta takaful untuk diadministrasikan dan diinvestasikan sesuai dengan ketentuan syari’ah. Peserta takaful bertindak sebagai shahib al-mal yang akan mendapat manfaat jasa perlindungan serta bagi hasil dari keuntungan perusahaan asuransi syariah. Sebagian kecil dari premi dana peserta takaful dialokasikan sebagai kumpulan dana tabarru’ (sumbangan) , yang menjadi sumber dana bantuan bagi peserta asuransi yang mengalami musibah. Konsep takaful pada dasarnya merupakan usaha kerja sama saling melindungi dan menolong antara anggota masyarakat dalam menghadapi malapetaka atau bencana . </li></ul>
  14. 14. Definisi Asuransi
  15. 15. Definisi Asuransi Syari’ah
  16. 16. Hukum Asuransi <ul><li>Di kalangan umat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak islami, karena sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah (QS. Hud: 6, al-Naml: 64, al-Hijr: 20). </li></ul><ul><li>Ada beragam pendapat tentang asuransi: </li></ul><ul><li>Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya, termasuk asuransi jiwa. Alasannya: Asuransi mengandung unsur gharar (ketidakpastian), maisir (perjudian atau gambling) dan riba, juga mengandung unsur pemerasan (karena pemegang polis jika tidak bisa melanjutkan pembayaran premi maka dianggap hangus atau dikurangi saldonya), hidup dan mati manusia dijadikan obyek bisnis. Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, Yusuf Qardhawi, Abdullah al-Qalqili (mufti Yordania). </li></ul><ul><li>Asuransi diperbolehkan dalam praktek sekarang. Alasannya: tidak ada nash yang melarang asuransi, ada kesepakatan kedua belah pihak dan saling menguntungkan, asuransi termasuk akad mudharabah, asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum. Pendapat ini dikemukakan oleh Abdul Wahab Khallaf, Mustafa Ahmad Zarqa, Abdurrahman Isa. </li></ul><ul><li>Asuransi yang bersifat sosial diperbolehkan, dan yang bersifat komersial diharamkan. Ini pendapat Muhammad Abu Zahrah. </li></ul>
  17. 17. Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah
  18. 18. Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah
  19. 19. Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
  20. 20. Perbedaan Antara Asuransi Konvensional dan Syariah Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
  21. 21. Mekanisme Asuransi: Produk Tabungan
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×