Studi komparasi model pembelajaran realistic mathematics education

7,449 views
7,358 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
7,449
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
127
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi komparasi model pembelajaran realistic mathematics education

  1. 1. Studi Komparasi Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education(RME) dan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) melalui PenerapanTeori Belajar Modelling dan Observational Learning Terhadap Hasil BelajarPeserta Didik Kelas VII pada Materi Pokok Himpunan Di MTs NU AlHidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011 1. Latar Belakang Masalah Aktivitas pelaksanaan pendidikan formal, tercermin salah satunya dalam prosespembelajaran. Proses pembelajaran sebagai aktivitas pendidikan dalam bentuk yang palingsederhana selalu melibatkan peserta didik dan pendidik. Dalam proses pembelajaran keduabelah pihak akan saling berkomunikasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Salahsatu kemampuan dasar yang harus dimiliki pendidik dalam dalam proses pembelajaran adalahkemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Matematika merupakan ilmu yang memiliki kecenderungan deduktif, aksiomatik danabstrak (fakta, konsep dan prinsip). Karakteristik yang dimiliki matematika inilah yangmenyebabkan matematika menjadi suatu pelajaran yang sulit dan menjadi salah satu matapelajaran yang sangat ditakuti oleh peserta didik. Oleh sebab itu, pembelajaran matematikamembutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh dari peserta didik, pendidik dan instansipendidikan yang terkait. Dalam hal ini perlu diciptakan suatu kondisi belajar yangmemungkinkan peserta didik yang berfikir konkret dibawa kepada konsep matematika yangbersifat abstrak tersebut. Menurut Piaget, setiap individu mengalami tingkat-tingkat perkembangan intelektualdalam pembelajaran. Pada usia 11 atau 12 tahun ke atas anak berada pada tahap operasiformal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kogniti. Padatahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, logika remaja mulai berkembang dandigunakan. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti.1 Peserta didik kelas VII umumnyausia mereka 12-13 tahun, seperti yang dikemukakan oleh Piaget bahwa pada usia ini anakmulai berpikir abstrak. Walaupun pada usia ini anak sudah bisa berpikir abstrak tapi tahap iniadalah tahap awal anak berpikir abstrak sehingga belum sepenuhnya anak bisa berpikirabstrak. Pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan pembelajaran yang dimulai denganpengalaman-pengalaman yang dialami oleh peserta didik. Dalam pembelajaran matematikaselama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Peserta didikmengalami kesulitan matematika di kelas. Akibatnya, peserta didik kurang menghayati atau
  2. 2. memahami konsep-konsep matematika sehingga peserta didik mengalami kesulitan untukmengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada pengalaman sehari-hari danmenerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah model pembelajaran RealisticMathematics Education (RME). RME merupakan model pembelajaran matematika di sekolahyang bertitik tolak dari hal-hal yang real bagi kehidupan peserta didik. Peserta didik harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas pada semua topik dalam pelajaranmatematika. Dengan demikian, RME menekankan pada ketrampilan process of doingmathematics,berdiskusi, berkolaborasi, beragumentasi, dan mencari simpulan dengan temansekelas. Model pembelajaran RME dapat dipandang sebagai model pembelajaran yangdilaksanakan agar kompetensi dasar dapat dicapai dengan cepat melalui proses belajarmandiri dan informal.2 Model pembelajaran ini akan membantu peserta didik yang belumsepenuhnya bisa berpikir abstrak.Proses pembelajaran matematika di MTs NU Al Hidayah Kudus masih menggunakan metodeekspositori, pendidik hanya menerangkan materi kemudian memberikan soal latihan, dantidak ada evaluasi setiap akhir pembelajaran. Dari sini tentu peserta didik yang kurangmemahami materi dibiarkan saja tanpa ada penjelasan kembali dari pendidik. Dalam materihimpunan, peserta didik agak sulit memahami materi himpunan khususnya penyajiannyadalam diagram Venn. Tidak ada alat peraga yang mendukung dan penjelasan pendidik yangterbatas itu diantara alasannya. Bahkan sebagian nilai peserta didik pada satu kelas dalammateri ini di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ada 17 peserta didik dari 38 pesertadidik yang nilainya di bawah KKM, sehingga dalam nilai rapor setelah mereka melakukanremidi nilainya hanya mencapai KKM yaitu 60. Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) atau berpikir, berpasangan, berbagiadalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi polainteraksi peserta didik.3 Peneliti merasa tertarik untuk membandingkan hasil belajar jikamenggunakan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS. Di satu sisi modelpembelajaran RME membantu peserta didik untuk mengkontekstualkan materi yang abstrak,dan hasil wawancara dengan pendidik kelas VII MTs NU Al Hidayah menunjukkan bahwapeserta didik terbiasa individual dalam mengerjakan soal. Sehingga dengan adanya modelpembelajaran TPS akan melatih peserta didik untuk saling berbagi sehingga peserta didikyang kurang memahami materi bisa terbantu. Himpunan adalah salah satu materi pokok yang diajarkan di kelas VII Semester II.Materi ini sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti himpunan peserta didik
  3. 3. kelas VII A MTs NU Al Hidayah Kudus, mencari banyaknya peserta didik yang gemarmatematika dengan diagram Venn. Oleh karena itu, materi himpunan cocok jikamenggunakan pembelajaran dengan model pembelajaran RME. Materi himpunan pun cocokjika menggunakan pembelajaran dengan model pembelajaran TPS. Dalam belajar peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan pendidik sebagai salah satusumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yangmungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran lebihmenekankan pada bagaimana cara agar tujuan dapat tercapai. Dalam kaitan ini hal-hal yangtidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah tentang bagaimana caramengorganisasi pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimanamenata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori sehingga rencanapembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran.4 Teori belajar yang dikemukakan oleh Albert Bandura (Modelling dan ObservationalLearning) menyatakan bahwa belajar pada diri individu tidak dibentuk oleh konsekuensi atasperilaku yang ditampilkan, namun belajar secara langsung dari model. Menurut Bandura danWalters, tingkah laku baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan menirusuatu model atau contoh atau teladan.5 Teori ini juga masih memandang pentingnyaconditioning. Melalui pemberian reward dan punishment.6 Dengan adanya reward danpunishment peserta didik akan semakin memperhatikan penjelasan dari pendidik dan lebihsemangat dalam belajar. Dari dua model pembelajaran di atas peniliti ingin membandingkanmodel mana yang lebih baik digunakan melaui penerapan teori belajar Modelling danObservational Learning terhadap hasil belajar peserta didik. 2. Rumusan MasalahAdapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Adakah perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning pada peserta didik kelas VII Semester II pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011? 2. Hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan
  4. 4. Observational Learning pada peserta didik kelas VII Semester II pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011? 3. Penegasan Istilah Untuk memudahkan dalam penelaahan isi laporan penelitian ini, perlu dijelaskan ruang lingkup yang diteliti serta beberapa batasan istilah sebagai berikut : 1. Studi Komparasi Studi komparasi adalah studi yang bertujuan membandingkan dua fenomena atau lebih.7 Atau dengan kata lain studi komparasi adalah penelitian yang bertujuan untuk membandingkan sesuatu dengan hal lain tetapi masih dalam satu sudut pandang. Dalam penelitian ini komparasi bertujuan untuk membandingkan hasil belajar peserta didik yang diajarkan dengan model pembelajaran RME melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning, dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning kelas VII pada materi pokok Himpunan Tahun Pelajaran 2010/2011 di MTs NU Al Hidayah. Komparasi dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan uji t (uji kesamaan rata-rata). 2. Model Pembelajaran RMERME terdiri dari tiga kata yaitu realistic artinya realitas, kenyataan. Mathematics adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal abstrak berupa angka-angka dan geometri. Education artinya pendidikan. Jadi realistic mathematic education adalah suatu model pembelajaran atau pendidikan matematika yang bertolak dari konsep yang realistis/realitas atau dapat dikenali oleh peserta didik. 3. Model Pembelajaran TPS TPS terdiri dari tiga kata yaitu think artinya berpikir. Pair artinya berpasangan. Share artinya berbagi. Jadi Think Pair Share suatu cara diskusi kelas yang memberi peserta didik lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. 4. Teori Belajar Modelling dan Observational Learning
  5. 5. Teori Belajar Modelling yang dimaksud adalah pemodelan atau dalam kata lain pembelajaranketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Observational Learningartinya belajar melalui pengamatan. Jadi teori belajar Modelling dan Obervational Learningadalah belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh model). 5. Materi Pokok HimpunanHimpunan merupakan materi pokok peserta didik kelas VII SMP/ MTs semester genapberdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 4. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning pada peserta didik kelas VII Semester II pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011. 2. Untuk mengetahui hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning pada peserta didik kelas VII Semester II pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011. 2. Manfaat PenelitianAdapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Pendidik 1. Pendidik mendapatkan inovasi pembelajaran. 2. Pendidik dapat meningkatkan kreativitas dalam pengembangan materi. 3. Pendidik juga memperoleh suatu variasi pembelajaran terhadap materi Matematika, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
  6. 6. 4. Membantu pendidik berkembang secara profesional.2. Bagi Peserta Didik 1. Terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik dapat menangkap pengetahuannya. 2. Meningkatkan motivasi dan daya tarik peseta didik terhadap pelajaran matematika. 3. Menumbuhkan kemampuan kerjasama dan ketrampilan berpikir peserta didik. 4. Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran matematika.3. Bagi Penulis1. Sebagai referensi bagi peneliti untuk melaksanakan pembelajaran matematika ketika terjun ke lapangan, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat menumbuhkan suasana yang menyenangkan.2. Peneliti memperoleh pengalaman langsung bagaimana memilih pembelajaran yang tepat, sehingga dimungkinkan kelak ketika terjun ke lapangan mempunyai wawasan dan pengalaman.3. Peneliti akan mempunyai dasar-dasar kemampuan mengajar dan memperoleh pemecahan masalah dalam penelitian sehingga diperoleh suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.4. Bagi Lembaga Pendidikan 1. Memberikan sumbangan positif tentang salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar matematika. 2. Penelitian ini diharapkan dapat membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan /kemajuan pada diri pendidik dan pendidikan di sekolah tersebut. 3. Penilitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang alternatif model-model pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah.5. Penelitian yang Relevan
  7. 7. 1. Dalam skripsi Laeliyatul Marzuqoh mahapeserta didik Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang berjudul Efektifitas Model Pembelajaran RME (Realistic Mathematic Education) terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Garis dan Sudut Semester II Kelas VII MTs Aswaja Bumi Jawa Tegal Tahun Ajaran 2007/2008. Menyimpulkan bahwa pembelajaran Matematika yang diperoleh melalui model pembelajaran RME (Realistic Mathematic Education) lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan ekspositori terhadap hasil belajar peserta didik pada materi Garis dan Sudut kelas VII tahun ajaran 2007/2008.8 2. Dalam skripsi Rohmat Afendi mahapeserta didik Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang berjudul Penerapan Model RME (Realistic Mathematic Education) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung Semester I Kelas IX A SMP NU 07 Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2009/2010. Menyimpulkan bahwa berdasarkan penelitian tindakan kelas, maka pembelajaran RME dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Matematika khususnya materi pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung.9 3. Dalam skripsi Sukoco mahapeserta didik Universitas Negeri Semarang yang berjudul Implementasi Model Pembelajaran Realistic Mathemathic Education (RME) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Kelas VII D MTs Ribatul Mutaallimin Pekalongan Tahun Pelajaran 2007/2008 pada Materi Pokok Persamaan Linier Satu Variabel. Menyimpulkan bahwa rata-rata nilai yang dicapai adalah 6,5 dengan ketutasan belajar 89%.10 4. Dalam skripsi Isti Rahmayani mahapeserta didik Universitas Negeri Semarang yang berjudul Keefektifan Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) Terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta didik Kelas VII SMP Negeri 4 Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 pada Materi Pokok Pecahan. Menyimpulkan bahwa bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositori.11G. Uraian Materi 1. Mengenal Himpunan 1. Pengertian Himpunan
  8. 8. Himpunan adalah kumpulan benda-benda yang dapat didefinisikan dengan tepat dan jelas. Suatu himpunan di beri nama dengan huruf kapital, sedang anggotanya ditulis dalam tanda dua kurung kurawal. Contoh: A = {hewan pemakan daging} 2. Menyatakan suatu himpunan Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan beberapa cara, yaitu: 1. Dengan kata-kata 2. Dengan notasi pembentuk himpunan 3. Dengan mendaftar anggotanya Contoh: Misalkan B adalah himpunan huruf vokal, maka B dapat dinyatakan dalam beberapa cara, yaitu: 1. dengan kata-kata B = { huruf vokal} 2. dengan notasi pembentuk himpunanB = { | x adalah huruf vokal} dibaca sebagai berikut: B adalah himpunan x sedemikian sehingga x adalah huruf vokal. 3. dengan mendaftar anggota-anggotanya B = {a, i, u, e, o} 3. Himpunan KosongSuatu himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong dan diberi lambang atau { }. 4. Himpunan Semesta
  9. 9. Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua anggota (elemen) yang dibicarakan. Himpunan semesta dinyatakan dengan S atau U (Universum). Istilah lain untuk himpunan semesta adalah semesta pembicaraan. Contoh: himpunan semesta untuk {0, 2, 4, 6, 8} dapat berupa {bilangan genap} atau {bilangan genap kurang dari 10} atau {bilangan cacah}. 2. Diagram Venn Untuk menyatakan himpunan serta hubungan antara himpunan dapat ditunjukkan dengan menggunakan diagram Venn. Diagram untuk suatu himpunan dinyatakan dengan daerah lengkungan tertutup, sedangkan untuk himpunan semesta dengan persegi panjang. Anggota suatu himpunan dinyatakan dengan noktah di dalam daerah lengkungan tertutup itu. Contoh: diketahui himpunan-himpunan K = {1, 2, 3, 4, 5} L = {4, 5, 6, 7, 9} dengan himpunan semesta S = {1, 2, 3, .....,10}. Gambarlah diagram Venn- nya Jawab: S .8 .10 3. Operasi Himpunan 1. Irisan dua himpunanJika pada operasi bilangan kita mengenal lambang operasi yaitu +, - , , maka pada himpunan pun dikenal operasi antara dua himpunan. Diantaranya adalah operasi “irisan” yang dilambangkan dengan “ Contoh: S Jika A = {2, 3, 5, 7} dan B = {1, 3, 5, 6} maka A B = {3,5}. 2. Gabungan Andaikan diketahui himpunan-himpunan P dan Q. Gabungan P dan Q ditulis P Q, didefinisikan sebagai himpunan semua objek yang merupakan anggota P dan Q. Contoh: A = {1, 2, 3, 4} B = {2, 3, 5}. Tentukan A B. Jawab: A B = {1, 2, 3, 4, 5}. Diagram Venn-nya adalah: 12 S
  10. 10. 3. Selisih dua himpunan Selisih dua himpunan A terhadap B, yaitu suatu himpunan yang anggotanya himpunanA dan tidak merupakan anggota himpunan B, ditulis: A – B = { A dan x B}. 4. Komplemen suatu himpunanKomplemen himpunan A adalah suatu himpunan yang anggotanya selain anggota himpunanA, tetapi masih merupakan anggota himpunan S, ditulis:Ac = A’ = {x A dan x S}.13 8. Kerangka BerpikirMateri himpunan, khususnya mengenai penyajian diagram Venn di MTs NU Al Hidayahmasih sulit dipahami oleh peserta didik. Hal ini disebabkan oleh belum tersedianya alatperaga sebagai pendukung pembelajaran sehingga berakibat penjelasan pendidik tidakmaksimal. Pembelajaran juga hanya menggunakan metode ekspositori sehingga peserta didikyang kurang memahami materi semakin jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran.Menurut data yang penulis terima, ada 17 dari 38 peserta didik pada satu kelas dalam materiini yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).Materi himpunan ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya himpunan pesertadidik yang gemar dengan pelajaran matematika. Pendekatan yang bisa digunakan untuk lebihmengkontekstualkan materi adalah model pembelajaran RME. Model pembelajaran ini akanmengajarkan peserta didik untuk lebih berfikir nyata, sehingga akan membantu peserta didikdalam memahami materi.Pada saat proses pembelajaran berlangsung saat pendidik memberikan latihan soal kepadapeserta didik, biasanya mereka memecahkannya sendiri sehingga yang kurang bisamemahami materi akan semakin kesulitan dalam memecahkan soal. Pendekatan yang bisadigunakan dalam masalah ini adalah model pembelajaran TPS. Model pembelajaran inimelatih peserta didik untuk saling berbagi dalam memecahkan masalah, sehingga pesertadidik yang mengalami kesulitan dalam memahami materi akan terbantu. Materi himpunanjuga cocok dengan menggunakan model pembelajaran TPS.Diantara teori belajar adalah teori belajar yang dikemukakan Albert Bandura Modelling danObservational Learning. Teori belajar ini masih memandang adanya reward dan punishment.Dalam pembelajaran saat pendidik menjelaskan materi tentu tidak semua peserta didik
  11. 11. memperhatikan penjelasan dari pendidik. Dengan penerapan teori ini peserta didik yang mendapatkan reward akan termotivasi untuk lebih giat dalam belajar, dan peserta didik yang lain akan termotivasi juga untuk lebih memperhatikan penjelasan dari pendidik sehingga tidak mendapatkan punishment. Dan dengan penerapan teori ini pada dua model pembelajaran diatas akan semakin menjadikan proses pembelajaran berlangsung efektif dan tujuan pembelajaran akan tercapai. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti hasil belajar yang mana lebih baik antara peserta didik yang diberikan dengan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. Untuk itu peneliti membagi dua kelas eksperimen. Sebelum memberikan perlakuan sampel terlebih dahulu diberikan pre- test untuk mengetahui kemampuan dasarnya. Selanjutnya sampel diberikan perlakuan kelas eksperimen I diberikan model pembelajaran RME melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. Dan kelas eksperimen II diberikan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. Setelah berakhir perlakuan subjek diberikan post test (tes akhir). Untuk mengetahui hasil akhir dilakukan perhitungan statistik dan bantuan software SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Dari perhitungan statistik dan bantuan SPSS diperoleh kesimpulan hipotesis diterima atau ditolak. 8. Hipotesis Penelitian Pengertian dari hipotesis ini bisa juga dikatakan sebagai asumsi atau dugaan sementara yang harus diuji lebih lanjut. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:Ho : Ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik kelas VII pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan menggunakan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning.”Hi : Tidak Ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik kelas VII pada materi pokok Himpunan di MTs NU Al Hidayah Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan menggunakan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. 8. Metodologi Penelitian
  12. 12. Secara harfiah metode berarti cara atau jalan yang harus ditempuh. Sedang menurut istilah sehubungan dengan penulisan ilmiah, maka metode berarti cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. 14 1. Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang bervariasi dan menjadi obyek penelitian.15 Adapun variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel bebasVariabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran RME melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning (eksperimen I) dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning (eksperimen II). 2. Variabel terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar. 2. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII MTs NU Al Hidayah Tahun Pelajaran 2010/2011. Sesuai dengan permasalan penelitian ini maka sampel yang dibutuhkan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II, dimana pada kelas eksperimen I akan diterapkan Model Pembelajaran RME melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning sedangkan pada kelas eksperimen II diterapkan Model Pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. Agar terdapat sampel yang resentatif yaitu sampel yang dapat mewakili populasi dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mengambil nilai ulangan matematika pada materi sebelumnya. 2. Menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi dari nilai matematika untuk masing kelas populasi. 3. Melakukan uji homogenitas varians populasi. Uji homogenitas dilakukan untuk menguji apakah populasi mempunyai varians yang sama.
  13. 13. Menentukan derajat kebebasan (dk) setiap sumber variansi, terdiri dari rata-rata dengan dk=1, antar kelompok dengan dk = (k-1), dalam kelompok dengan dk = dan untuk total dk = .16Apabila populasinya bersifat homogen dan rata-ratanya sama, maka dapat dilakukan teknikrandom sampling. Cara pengambilannya teknik kombinasi dari 3 kelas yang disusun,kemudian diambil secara acak satu pasang kelas sampel eksperimen I dan eksperimen IIdilakukan dengan pengundian. 3. Prosedur PenelitianAdapun prosedur penelitian ini berkaitan dengan penerapan teori belajar Modelling danObservational Learning pada model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS. Dalam proses pembelajaran penerapan teori belajar Modelling dan ObservationalLearning pada model pembelajaran RME langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Pendidik menarik perhatian peserta didik dengan menunjukkan alat peraga gambar himpunan dalam diagram venn (perhatian). 2. Pendidik memberikan soal realistik yang berhubungan dengan materi. 3. Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. 4. Peserta didik mengerjakan soal yang telah diberikan. 5. Melakukan presentasi kelompok dengan perwakilan satu orang tiap kelompoknya. 6. Pendidik bersama peserta didik menarik kesimpulan. 7. Pendidik menunjukkan langkah yang tepat dalam mengerjakan soal. 8. Pendidik membubarkan kelompok. 9. Pendidik mencontohkan soal tentang materi. 10. Pendidik menunjuk salah satu peserta didik untuk mengulangi apa yang telah dicontohkan (retensi). 11. Peserta didik mengerjakan LKS (reproduksi). 12. Pendidik bersama peserta didik membahas soal yang telah dikerjakan. 13. Pendidik memberikan PR. 14. Pendidik memberi motivasi peserta didik untuk mempelajari kembali materi. Sedangkan penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning padamodel pembelajaran TPS langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Pendidik menarik perhatian peserta didik dengan menunjukkan alat peraga gambar himpunan dalam diagram Venn (perhatian). 2. Pendidik menjelaskan materi.
  14. 14. 3. Pendidik mencontohkan soal tentang materi. 4. Pendidik menunjuk salah satu peserta didik untuk mengulangi apa yang telah dicontohkan (retensi). 5. Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. 6. Pendidik memberikan tugas kelompok. 7. Beri kesempatan individu dalam kelompok mencoba mencoba memikirkan penyelesaian tugas tersebut kira-kira 5 menit. 8. Lanjutkan dengan kerja berpasangan (pair) dalam kelompoknya (reproduksi). 9. Lakukan presentasi kelompok. 10. Pendidik bersama peserta didik membahas soal yang telah dikerjakan. 11. Pendidik memberikan PR. 12. Pendidik memberikan motivasi untuk mempelajari kembali materi yang telah diajarkan (motivasi). 4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang dibutuhkan digunakan metode: 1. Metode ObservasiMetode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomenayang dijadikan sasaran pengamatan.17 Dalam hal ini observasi yang dilakukan adalah untukmemperoleh data tentang situasi dan proses pembelajaran di MTs NU Al Hidayah Kudus. 2. Metode DokumentasiMetode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya.18Penulis menggunakan metode ini untuk memperoleh data tentang prestasi belajar Matematikadalam rapor. 3. Metode TesUntuk mengukur data atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti, digunakantes. Instrumen yang berupa tes ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar danpencapaian atau prestasi.19 Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa post test.
  15. 15. 5. Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu langkah yang paling menentukan dalam penelitian karena analisis data berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahap sebagai berikut: 1. Analisis Data Awal Sebelum peneliti menentukan teknik analisis statistik yang digunakan terlebih dahulu keabsahan sampel. Cara yang digunakan dengan uji normalitas dan uji homogenitas: (1) Uji Normalitas Uji normalitas adalah untuk menguji apakah data berasal dari populasi berada di bawah distribusi normal atau tidak. Uji ini berfungsi untuk mengetahui apakah data-data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Hal ini dilakukan untuk menentukan metode statistik yang digunakan. Jika data berdistribusi normal dapat digunakan metode statistik parametrik, sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka dapat digunakan metode nonparametrik. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Chi Kuadrat. Hipotesis yang digunakan untuk uji nomalitas Ho = data berdistribusi normal H1 = data tidak berdistribusi normal Langkah-langkah yang ditempuh dalam uji normalitas adalah sebagai berikut: 1. Menyusun data dalam tabel distribusi frekuensi.Menentukan banyaknya kelas interval k dengan rumus:20 k = 1+ 3,3 log n n = banyaknya objek penelitian interval 2. Menghitung rata- rata21 3. Menghitung variansi dengan rumus:22 4. Mencari harga z, skor dari setiap batas kelas X dengan rumus:23
  16. 16. 5. Menghitung frekuensi yang diharapkan (Oi) dengan cara mengalikan besarnya ukuran sampel dengan peluang atau luas daerah dibawah kurva normal untuk interval yang bersangkutan. 6. Menghitung statistik Chi-Kuadrat dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: X2 = Chi-Kuadrat Oi = Frekuensi yang diperoleh dari data penelitian Ei = Frekuensi yang diharapkan k = Banyaknya kelas interval Kriteria pengujian jika hitung ≤ tabel dengan derajat kebebasan dk = k – 3 dan taraf signifikan 5% maka akan berdistribusi normal.24 Disamping perhitungan di atas untuk mengetahui data berdistribusi normal akan dibantu dengan bantuan software SPSS dengan hipotesis yang sama. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan dalam uji ini adalah sebagai berikut.H0 :, artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians sama.Ha :, artinya kedua kelompok sampel mempunyai varians tidak sama. Untuk uji homogenitas ini digunakan uji Bartlett, dengan rumus: 1. menentukan variansi gabungan dari semua sampel (b) menentukan harga satuan B (c) menentukan statistika Dengan derajat kebebasan (dk) = k-1 dan taraf signifikasi maka kriteria pengujiannya adalah jika berarti Ho diterima, dan dalam hal lainnya Ho ditolak.25 Disamping perhitungan di atas, uji homogenitas juga akan dibantu dengan software SPSS. Dengan hipotesis yang sama, dan dasar pengambilan keputusannya yaitu: H0 diterima jika nilai Sig. > 0.05 Ho ditolak jika nilai Sig. < 0.05.26 2. Analisis Intrumen
  17. 17. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk memperoleh data berupa lembaran tes hasil belajar. Materi tes soal berupa soal uraian yang terdapat pada materi pokok himpunan. Instrumen dalam penelitian ini adalah berupa tes objektif yang memenuhi kriteria validitas, tingkat kesukaran, dan beda, dan reliabilitas. Tes yang dilakukan dalam penelitian yaitu tes akhir. Tes akhir dilakukan setelah berakhirnya rangkaian pembelajaran pada kedua kelas sampel. 1. Validitas tes Penelitian ini menggunakan validitas isi yaitu penguji validitas yang dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang digunakan. Validitas empiris dapat diketahui dengan uji coba perangkat tes. Nilai hasil uji coba tes dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment, rumus yang digunakan adalah: Keterangan: = koefisien korelasi tiap item = banyaknya subyek uji coba = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah kuadrat skor item = jumlah kuadrat skor total = jumlah perkalian skor item dan skor totalga menunjukkan indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan. Setiap nilai korelasi mengandung tiga makna yaitu: 1. Ada tidaknya korelasi, ditunjukkan oleh besarnya angka yang terdapat di belakang koma. Jika angka tersebut terlalu kecil sampai empat angka di belakang koma, maka dapat dianggap bahwa antara variabel X dengan variabel Y, angkanya terlalu kecil, lalu angkanya diabaikan. Arah korelasi, yaitu arah yang menunjukkan kesejajaran antara nilai variabel X dengan nilai variabel Y. Arah dari korelasi ditunjukkan oleh tanda hitung yang ada di depan indeks. Jika tandanya (), maka arah korelasinya positif, sedang kalau minus (), maka arah korelasinya negatif.
  18. 18. Besarnya korelasi, yaitu besarnya angka yang menunjukkan kuat dan tidaknya, atau mantap tidaknya kesejajaran antara dua variabel yang diukur korelasinya.27 Koefisien korelasi bergerak antara rentangan 1 sampai dengan +1. Angka korelasi 1 menunjukkan hubungan negatif yang mutlak, dan +1 menunjukkan hubungan positif yang mutlak. Jika menunjukkan angka 0 maka koefisien menunjukkan tidak ada hubungan.28 Setelah diperoleh nilai selanjutnya dibandingkan dengan hasil r pada tabel product moment dengan taraf signifikan 5 %. Butir soal dikatakan valid jika 2. Reliabilitas soalReliabiltas menunjukkan bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen itu sudah baik. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tepat. Rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas soal bentuk uraian adalah rumus Alpha, yaitu: Keterangan: : reliabilitas instrumen k : banyaknya butir pertanyaan atau soal : jumlah varians tiap-tiap butir : varians total Dengan rumus varians dapat diperoleh dengan jalan menjumlahkan varians dari item soal, rumus varians yaitu: Keterangan: Xi : Skor pada belah awal dikurangi skor pada belah akhir. N : Jumlah peserta tes. Selanjutnya dalam pemberian interpretasi terhadap koefisien realibilitas tes ( pada umumnya digunakan patokan: 1. Apabila sama dengan atau lebih besar dari pada 0,70 berarti tes yang sedang diuji realibilitasnya dinyatakan telah memiliki realibilitas tinggi. 2. Apabila lebih kecil dari pada 0,70 berarti tes yang sedang diuji realibilitasnya dinyatakan belum memiliki realibilitas tinggi.29 3. Tingkat kesukaran
  19. 19. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian, digunakan rumus sebagai berikut. Tingkat Kesukaran dimana, Mean Pada penelitian ini untuk menginterprestasikan tingkat kesukaran digunakan tolak ukur sebagai berikut. 0,00 – 0,30 soal tergolong sukar. 0,31 – 0,70 soal tergolong sedang. 0,71 – 1,00 soal tergolong mudah. 30 4. Daya Pembeda Daya pembeda adalah kemampuan soal untuk membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang berkemampuan rendah. Untuk perhitungan kelompok tes dibagi 2 sama besar, 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah. Untuk menentukan daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus uji t, yaitu:31 t= Keterangan: MH = rata-rata dari kelompok atas ML = rata-rata dari kelompok bawahjumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atasjumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawahni = 27 % x N (jumlah peserta tes kelas atas atau bawah) N = jumlah peserta tes Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan t tabel, dk = (–1)+ ( – 1) dan = 5% jika thitung > ttabel maka daya beda soal tersebut signifikan. 3. Analisis Data Akhir 1. Uji Normalitas Uji normalitas pada analisis data akhir langkah-langkahnya sama seperti uji normalitas pada analisis data awal.
  20. 20. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas pada analisis data akhir langkah-langkahnya sama seperti uji homogenitas pada analisis data awal 3. Uji Hipotesis Jika kedua sampel normal dan homogen maka untuk pengujian hipotesis digunakan uji t. Uji t yang digunakan adalah uji kesamaan dua rata-rata. Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua keadaan atau dua kelas sampel yaitu peserta didik yang diberikan model pembelajaran RME dan model pembelajaran TPS melalui penerapan teori belajar Modelling dan Observational Learning. Langkah-langkah uji kesamaan dua rata-rata adalah sebagai berikut: 1. Menentukan rumusan hipotesisnya yaitu: : : 2. Menentukan statistik yang digunakan yaitu uji t dua pihak. 3. Menentukan taraf signifikan yaitu α = 5%.Kriteria pengujiannya adalah terima H0 apabila , di mana diperoleh dari daftar distribusi Student dengan peluang dan dk = 4. Menentukan statistik hitung menggunakan rumus: dengan Keterangan: = rata-rata data kelas eksperimen = rata-rata data kelas kontrol n1 = banyaknya data kelas eksperimen n2 = banyaknya data kelas kontrol s2 = simpangan baku gabunganMenarik kesimpulan yaitu jika , maka kedua kelas mempunyai rata-rata sama.32 Uji hipotesis ini juga akan dibantu dengan bantuan software SPSS dengan hipotesis yang sama. Dan dasar pengambilan keputusannya yaitu:
  21. 21. 8. SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika penulisan tentang isi skripsi ini terdiri dari masing-masing bab yang saling berurutan dalam penyusunan skripsi. Dan disini penulis membagi penulisan skripsi menjadi lima bab, yaitu:Bab I: Pendahuluan, bab ini membahas gambaran secara global mengenai seluruh isi dari skripsi ini yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.Bab II: Landasan teori, bab ini berisi landasan teori yang berkaitan dengan skripsi, yaitu hakikat belajar, hasil belajar, model pembelajaran RME, model pembelajaran TPS, teori belajar Modelling dan Observational Learnig, dan materi pokok Himpunan.Bab III: Metodologi penelitian, terdiri dari waktu dan tempat penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, teknik analisis data.Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan, bab ini menjelaskan tentang hasil-hasil penelitian dan pembahasannya dalam diskripsi.Bab V: Penutup, berisi kesimpulan, saran-saran dan penutup sebagai akhir dalam penulisan skripsi. 1 Paul Suparno, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm.88 2 Amin Suyitno, Dasar-Dasar Dan Proses Pembelajaran Matematika I, (Handout Dipergunakan untuk perkulihan Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES, 2006), hlm.36-37. 3Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: PRESTASI PUSTAKA, 2007), hlm.61 4 Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran,(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hlm.135 5Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Edisi Revisi), (Jakarta: PT RINEKA CIPTA,2003), Cet. 4, hlm.21. 6http://aanchoto.com/2010/07/teori-teori-belajar-1/, 09 November 2010, 14:32. 7 Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI), (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 268 8Laeliyatul Marzuqoh, Skripsi (Efektifitas Model Pembelajaran RME (Realistic Mathematic Education) terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Garis dan Sudut Semester II Kelas VII MTs Aswaja Bumi Jawa Tegal Tahun Ajaran 2007/2008), IAIN Walisongo Semarang. 9Rohmat Afendi, Skripsi (Penerapan Model RME (Realistic Mathematic Education) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung Semester I Kelas IX A SMP NU 07 Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2009/2010), IAIN Walisongo Semarang 10Sukoco, Skripsi ( Implementasi Model Pembelajaran Realistic Mathemathic Education (RME) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Kelas VII D MTs Ribatul Mutaallimin Pekalongan Tahun Pelajaran 2007/2008 pada Materi Pokok Persamaan Linier Satu Variabe)l, Universitas Negeri Semarang. 11Isti Rahmayani, Skripsi (Keefektifan Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) Terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta didik KelasVII SMP Negeri 4 Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 pada Materi Pokok Pecahan), Universitas Negeri Semarang. 12Damiri dkk, Matematika SMP Kelas VII, (Pemerintah Kabupaten Kudus,2004), hlm.109-129 13Anwar, Konsep Jitu Matematika SMP untuk Kelas 1, 2, dan 3, (Jakarta: WahyuMedia, 2008), hlm. 85-86 14 Koentjoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat,( Jakarta: Gramedia, 1997), hlm. 7 15Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm.116 16 Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Transito, 2005), hlm. 302-305. 17Anas Sudjiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 76 18 Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm. 231 19 Ibid, hlm.223 20Sudjana, op.cit, hlm.47
  22. 22. 21 Ibid, hlm. 67 22 Ibid, hlm. 95 23 Ibid, hlm.99 24 Ibid, hlm.273 25 Ibid, hlm. 263 26 Agung Handayanto, Pemrograman Komputer 2 (Olah Data Statistik dengan SPSS), (FakultasTarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2009), hlm.33. 27Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm. 170-171 28Suharsimi Arikunto , Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman TeoritisPraktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009),Ed.2, Cet.2., hlm.161-16229Anas Sudjiono, op.cit, hlm.207-209 30 Suharsimi Arikunto,op.cit, hlm.207-210 31Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur, (Bandung: Remaja Rosdakarya,1991), hlm.141 32 Sudjana, op.cit, hlm.239

×