Your SlideShare is downloading. ×
Review album ke-12 Iron Maiden; brave new world
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Review album ke-12 Iron Maiden; brave new world

311

Published on

Review singkat lag-lagu dalam album Brave New World milik Iron Maiden, band heavy metal asal Inggris. Album ini dirilis pada tahun 2000.

Review singkat lag-lagu dalam album Brave New World milik Iron Maiden, band heavy metal asal Inggris. Album ini dirilis pada tahun 2000.

Published in: Entertainment & Humor
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
311
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Brave New World; Album ke-12 Iron Maiden yang Telah Mengubah Hidup Umur saya saat itu sama dengan urutan pembuatan album Brave New World, 12 tahun. Kirakira masih duduk di kelas 2 SMP. Takdir mempertemukan saya dengan salah satu tokoh “agama” yang kelak akan saya anut sampai ajal menjemput. Sepulang sekolah siang itu, televisi saya hidupkan untuk menonton acara musik di salah satu televisi swasta. Salah satu klip Iron Maiden yang berjudul The Wickerman sedang ditayangkan saat itu. Untuk pertama kalinya saya mengetahui wujud asli para personel Iron Maiden. Ketika itu, saya hanya tahu kata “Iron Maiden” beserta wajah bengis Eddie The Head dari kaos yang dijual para pedagang kaki lima di pinggir jalan. Begitu terperangahnya saya melihat enam prajurit gagah di dalam klip tersebut, ditambah keberadaan Eddie yang berseliweran sepanjang durasi video klip. Tanpa pikir panjang sesudahnya, saya langsung berniat untuk menabung demi mendapatkan kaset tape album Brave New World tersebut. Dan minggu depan kaset tersebut sudah berhasil didapat, selanjutnya menjadi alunan wajib sebelum berangkat sekolah, pulang sekolah, dan sebelum tidur  Album Brave New World merupakan album ke-12 Iron Maiden yang ditandai dengan kembalinya Adrian Smith (gitar) dan Bruce Dickinson (vokal) ke dalam line-up band. Bruce masuk kembali di tahun 1999 untuk menggantikan Blaze Bayley, suksesornya yang masuk pada 1994, setahun setelah Bruce meninggalkan Iron Maiden untuk merintis solo karirnya. Sedangkan pada divisi gitar, Iron Maiden masih mempertahankan Jannick Gers yang masuk menggantikan Adrian yang keluar pada tahun 1988. Dengan demikian, tiga gitaris digunakan dalam formasi reuni Iron Maiden yang bertahan sampai sekarang, yaitu Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (Bass), Dave Murray (gitar), Jannick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar), Nicko McBrain (drum). Album ini mulai digarap pada November 1999 di Paris dengan Kevin Shirley sebagai produser. Secara keseluruhan di album ini nampak sekali bahwa kembalinya dua punggawa lama tersebut semakin memperkuat energi dan nuansa New Wave of British Heavy Metal yang digencarkan sejak akhir 70-an. Banyak ditemukan lagu dengan durasi yang cukup panjang dengan progresi chord dan beat yang variatif dengan lirik-lirik lagu bertemakan fantasi ataupun sebuah misteri. Track yang menjadi andalan di album ini adalah The Wickerman dan Out of The Silent Planet. 1. The Wickerman Album ini dibuka dengan track berjudul The Wickerman, diawali dengan sayatan guitar Jannick yang kemudian disahut dengan hentakan pattern drum Nicko yang masih setia dengan single pedalnya, dan tentunya berbarengan dengan dentuman bass oleh sang pendiri band, Steve Harris! “Hand of fate is moving and the finger points to you! He knocks you to your feet and so what are you gonna do!”, Bruce memekikkan lirik seolah berkata kepada para pendengar, “I’m coming back!!!” Dave dan Adrian saling mengisi part gitar pada track ini. Sampai pada bagian reffrain terdengar suara gitar satu-dua oleh mereka yang sangat khas ketika Bruce melantunkan lirik “your time will come! your time will come!” dengan iringan derap konstan single pedal dari Nicko berbarengan bersama sound bass Steve dengan tone yang terdengar setengah
  • 2. kering. Pada part solo gitar seperti secara spontan diambil Adrian tanpa ijin dari Dave. Dua part solo gitar pada ketukan berbeda disikat habis oleh Adrian yang nampak puas melihat Jannick dan Dave yang masih memainkan porsi rhythm dengan muka masam. Pada bagian coda lagu, tarikan pita suara Bruce membuat para pendengarnya secara otomatis melakukan sing along. Pada bagian lirik “say goodbye to gravity and say goodbye to death, hello to eternity and live for every breath”, Bruce sepertinya ingin menyampaikan bahwa jangan pernah takut dan menyerah untuk tetap melanjutkan kehidupan sekalipun engkau sedang diikat dan bersiap dibakar di altar pengorbanan layaknya Ibrahim yang membangkang terhadap Namrud. 2. Ghost of Navigator Petikan melodi gitar Jannick Gers mengalun lembut dengan iringan rhythm Dave mengawali track ini yang sekaligus membawa imajinasi kita kepada sebuah perjalanan laut diatas kapal dengan kondisi lautan yang sunyi dan langit yang gelap tidak bersahabat. Usai intro gitar oleh Jannick dan Dave, Sayatan distorsi gitar Adrian muncul perlahan bersamaan dengan kawalan Steve dan Nicko. Suasana lagu semakin mencekam seluruh personel (minus Bruce) memainkan bagiannya pada intro lagu. Warna vokal Bruce terdengar sangat tegar menghadapi hantu pelaut yang setiap saat siap untuk menerkam keberadaan mereka di kapal. “Take my heart and set it free, carried forward by the waves”, ujar Bruce pada pre-chorus seolah menantang para hantu yang bersembunyi di sebuah pulau kecil tak berpenghuni di tengah samudera. Jannick memimpin dua gitaris lainnya dalam lagu berdurasi hampir 7 menit ini. Porsi solo gitar diselesaikan gitaris yang sangat terinspirasi Ritchie Blackmore ini dengan tenang dengan iringan rhythm section yang sangat dark oleh keempat kawannya yang lain, sampai dengan vokal Bruce masuk kembali pada bagian pre-chorus. Secara keseluruhan, nuansa gelap dan mencekam berhasil dimunculkan pada lagu ini, seiring dengan lirik lagu yang membuat orang akan berpikir dua kali untuk bercita-cita menjadi seorang bajak laut. 3. Brave New World Di track yang dipakai sebagai judul album ini, Iron Maiden nampak ingin mengungkapkan keprihatinannya terhadap tatanan dunia saat ini. Lagu yang juga dipakai sebagai judul album ini dibuka dengan petikan gitar dengan efek clean-delay oleh Dave Murray dengan iringan Jannick dan Steve di belakangnya. Lagu berlanjut dengan tempo middle dan akan semakin cepat ketika memasuki verse kedua setelah reffrain dan pada part solo gitar. Bagian ini diawali oleh Jannick yang selanjutnya dilanjutkan oleh Dave hingga Bruce meneriakkan kembali “Our brave new world! In a brave new world!” Secara umumdalam album ini, track ini memang kalah “komersil” dibanding dengan The Wickerman. Namun setelah saya dengarkan berulang-ulang, lagu ini memiliki soul yang kuat pada setiap peralihan verse menuju reff. Part gitar solo pada lagu ini adalah bagian terfavorit saya, Dave dan Jannick mampu bermain bergantian dan bersahutan dengan apik. Adrian hanya diberi porsi riff gitar “pupuk bawang” pada track ini, seperti dipaksa beradaptasi lagi oleh kekompakan Dave dan Jannick yang telah 12 tahun bermain bersama di band.
  • 3. 4. Blood Brothers Pada track gubahan Steve Harris ini, Iron Maiden berusaha memadukan unsur orkestra dan ballads ke dalam akar musik mereka. Jadilah “Blood Brothers!” Lagu ini dipersembahkan Steve untuk mendiang ayahnya. Hal tersebut dapat diketahui melalui lirik “Just for a second a glimpse of my father I see, and in a movement he beckons to me, and in a moment the memories are all that remain”. Seluruh personel memainkan komposisi kalem ini dengan anteng bersama iringan suasana orkestra. Suasana lagu mungkin akan semakin syahdu ketika Dave Murray mau memilih riff melodi yang lebih melankolis pada bagian solo gitar. Disini Iron Maiden juga ingin menyampaikan kepada pendengar tentang efek yang terjadi akibat perang dan sebuah fanatisme. Semuanya niscaya akan sia-sia, because we’re blood brothers! Ketika lagu ini dibawakan pada konser, akan selalu dipersembahkan kepada para korban trageditragedi yang pernah terjadi di dunia. 5. The Mercenary Terinspirasi dari keberadaan tentara bayaran pada perang dunia yang pernah terjadi, Jannick dan Steve selaku penggubah lagu mencoba untuk menggiring kita kepada suasana perang kota pada perang dunia pertama. Lirik lagu ini akan membawa kita pada tema yang sama dengan salah satu hit klasik, “Aces High.” Tempo cepat langsung disuguhkan sejak detik awal lagu dimulai. Komposisi ini terdengar sangat kental dan khas ala Iron Maiden. Bruce Dickinson berusaha menyemangati para tentara bayaran dengan liriknya pada reff: “Nowhere to run, nowhere to hide, you've got to kill to stay live!” Tanpa melihat live concert pun kita akan langsung mengetahui bahwa seorang penggila Jimi Hendrix sedang memainkan solo gitar awal pada lagu ini, Dave Murray! Segera setelahnya, Adrian melanjutkan dengan teknik shredding guitar nya. Sesudahnya, Bruce memimpin sisa lagu dengan meneriakkan “Show them no fear! Show them no fear!” 6. Dream of Mirrors Melalui nomor berdurasi 9.21 menit ini, Iron Maiden kembali menyajikan suasana ballads untuk para pendengarnya dengan tema lagu yang mendekati salah satu single lawasnya “The Clairvoyant”. Di awal lagu, Bruce seperti sedang menceramahi umatnya tentang makna sebuah mimpi. Iron Maiden kembali menunjukkan kematangannya dalam memasukkan unsur ballads pada lagu ini. Kira-kira memasuki dua pertiga durasi lagu, dengan segera mereka menaikkan tensi lagu dengan mempercepat tempo. Terlihat jelas kesaktian Nicko dalam menggunakan single pedal pada bagian tersebut. Segera setelah solo gitar oleh Jannick, lagu kembali ke tempo awal untuk kembali membuai para pendengar. “The dream is true, the dream is true, The dream is true, the dream is true”
  • 4. 7. The Fallen Angel Menceritakan tentang manusia yang sedang dalam keadaan sakaratul maut dimana iblis dan malaikat kematian sedang mengelilinginya, band ini menggunakan ketukan ganjil untuk melingkupi komposisi lagu ini. Iron Maiden masih terdengar sangat tipikal, meskipun sayangnya kurang ada aroma yang dapat mencuri perhatian pada lagu berdurasi empat menit ini. Pada bagian interlude lagu, tiga gitaris sangat akur berbagi porsi melodi, diawali dengan Dave, disusul Adrian, diakhiri oleh Jannick. Disini Iron Maiden seperti menegaskan juga bahwa mereka bukan band satanis seperti yang diduga orang setelah banyak melihat artwork dari band. Melalui lirik “You and only God would know what could be done, you and only God will know I am the only one” mereka menegaskan hal tersebut. 8. The Nomad Seperti ingin melanjutkan sensasi padang pasir di Mesir yang tersaji melalui single “Powerslave”, Maiden kembali membawa nuansa mitos dan legenda tentang kaum nomaden melalui aransemen musik yang megah dengan Bruce seperti sedang melakukan story telling untuk anak kecil menjelang tidur. Kalau saya tidak salah menginterpretasi, sepertinya lagu ini terinspirasi oleh sepak terjang bangsa Mongolia di masa lalu. Tipe lagu seperti “The Nomad” ini sangat melekat dengan “Dream of Mirrors”, “Blood Brothers”, dan “Brave New World” sebagai nomor yang khas dari album ini. Lagu berdurasi 9.06 menit ini pasti akan terasa sangat membosankan bagi mereka yang baru mengenal Maiden. Tiga orang gitaris Maiden kembali akur berbagi porsi untuk membangun suasana sakral di lagu ini, sedangkan Steve dan Nicko sangat disiplin pada rhythm section untuk mengiringi Bruce yang sedang mendongeng tentang para nomaden yang dapat membunuh seratus orang sekaligus atau nomaden yang dapat hidup kembali setelah mengalami kematian. 9. Out of The Silent Planet Terinspirasi dari sebuah film keluaran tahun 1956 dan buku C.S Lewis dengan judul “Out of The Silent Planet”, Steve Harris mencomot judul tersebut untuk dijadikan judul lagu. Melalui komposisi ini, kita akan terbawa pada suasana masa depan saat jutaan manusia di berbagai negara sedang mengantri untuk bisa masuk ke dalam pesawat raksasa yang akan membawa mereka bermigrasi dari planet bumi yang sudah tidak layak lagi untuk dijadikan tempat tinggal. “Save Earth” adalah pesan yang ingin disampaikan Maiden pada lagu ini. Dengan durasi 6.25 menit, lagu ini dibuka dengan petikan gitar Jannick dengan iringan dua gitaris lainnya. Sesi itu diteruskan Bruce dengan menyanyikan: “Out of the silent planet, out of the silent planet we are Out of the silent planet, out of the silent planet we are.” Memasuki bagian verse lagu, akan langsung terbayang orang-orang yang berdesakan masuk pada pesawat luar angkasa dengan Bruce Dickinson sebagai pilot. Bagian chorus yang sangat antemik, membuat saya menaruh lagu ini sebagai lagu terfavorit di album ini. Suara melodi gitar satu-dua dari Dave dan Jannick dengan iringan garukan power chord dari Adrian
  • 5. sangat mewarnai komposisi ini. Keperkasaan Nicko menginjak-injak single pedal drum terdengar jelas, sejelas usianya saat itu yang menginjak 48 tahun. 10. The Thin Line Between Love and Hate Jelas sekali nomor penutup di album ini tak dapat dianggap remeh. Suguhan irama ballads kembali dimunculkan dengan manis, semanis paras Lauren Harris, putri sang pendiri band. Setelah tiga sampai empat kali mendengar bagian chorus dan coda nomor ini, dipastikan hal tersebut akan tersimpan rapi dalam memori pendengarnya. Begitu juga dengan improvisasi lick gitar yang ditebar oleh Dave, Jannick, dan Adrian. Sound bass yang secara tegas keluar dari amplifier milik Steve tidak mengurangi khusyuknya suasana lagu ini. “I will hope, my soul will fly, so I will live forever. Heart will die, my soul will fly, and I will live forever.” Mungkin bulu roma seluruh penonton pasti akan berdiri dan akan diikuti dengan tetesan air mata saat lirik tersebut dilantunkan Bruce dengan penuh karisma sebagai lagu penutup pada last show Iron Maiden.

×