Dampak Penylahgunaan Narkotika bagi Generasi Muda

  • 8,821 views
Uploaded on

Tentang Definisi Generasi Muda, definisi Narkotika, Jenis-jenis Narkotika, Dampak Penylahgunaan Narkotika bagi Generasi Muda, serta Upaya Penaggulangan Penyalahgunaan Narkotika.

Tentang Definisi Generasi Muda, definisi Narkotika, Jenis-jenis Narkotika, Dampak Penylahgunaan Narkotika bagi Generasi Muda, serta Upaya Penaggulangan Penyalahgunaan Narkotika.

More in: News & Politics
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
8,821
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
142
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. i Pendidikan Kewarganegaraan DAMPAK PENGGUNAAN NARKOTIKA BAGI GENERASI MUDA Disusun Oleh : LIA ANGGRAINI (3113030128) DOSEN : NIKEN PRASETYAWATI DIPLOMA TEKNIK SIPIL INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2014
  • 2. ii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan khadirat Allah SWT karena atas kelimpahan berkah dan Rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan baik dan tepat waktu. Dalam makalah ini penulis membahas tentang “ Dampak Penggunaan Narkotika bagi Generasi Muda ”. Dengan membuat makalah ini diharapkan penulis dan pembaca mampu untuk lebih mengerti, mengetahui dan mamahami tentang “ Dampak Penggunaan Narkotika bagi Generasi Muda ”. Adapun juga tantangan dan hambatan dalam mengerjakan makalah ini, tetapi dengan dukungan dari berbagai pihak semua tetap berjalan dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak - pihak yang terkait dalam membantu menyusun makalah ini sampai selesai. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum bisa dikatakan baik dan masih banyak kekurangan - kekurangan yang mendasar. Maka dari itu penulis mengharapkan pembaca untuk memberikan saran dan kritik terhadap makalah ini. Apabila ada kesalahan dalam isi makalah ini penulis mohon maaf. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah wawasan / pengetahuan pembaca. Terima kasih. Surabaya, 14 April 2014 Penulis
  • 3. iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. ii DAFTAR ISI................................................................................................................................................ iii BAB 1 PENDAHULUAN ...........................................................................................................................1 1.1 Latar Belakang..............................................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................................2 1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................................................2 1.4 Manfaat Penulisan.........................................................................................................................2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................3 2.1 Generasi Muda..............................................................................................................................3 2.2 Definisi Narkotika.........................................................................................................................6 2.3 Jenis – Jenis Narkotika..................................................................................................................8 2.4 Pengguna Narkotika....................................................................................................................17 2.5 Faktor – Faktor Penyebab Penggunaan Narkotika......................................................................20 2.6 Penyalahgunaan Narkotika .........................................................................................................25 2.7 Dampak Penyalahgunaan Narkotika bagi Generasi Muda..........................................................29 2.6.1 Bagi Diri Sendiri.................................................................................................................29 2.6.2 Bagi Keluarga .....................................................................................................................31 2.6.3 Bagi Sekolah .......................................................................................................................32 2.6.4 Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara ...............................................................................32 2.8 Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika...................................................................32 BAB 3 PENUTUP ......................................................................................................................................36 3.1 Kesimpulan .................................................................................................................................36 3.2 Saran ...........................................................................................................................................36 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................................38
  • 4. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tak dapat dipungkiri, pada zaman sekarang ini banyak kalangan tua atau muda yang menggunakan narkotika, khususnya kalangan remaja. Peredaran narkotika di dunia khususnya di Indonesia sangat mudah untuk didapatkan. Apalagi Indonesia yang dikelilingi 3 benua menjadi pusat pemasaran narkotika terbesar. Narkotika merupakan bahan kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh, bahkan dapat menyebabkan kematian. Banyak kasus narkotika yang terkuak oleh kepolisian serta kasus penyelundupan narkotika di Indonesia. Kenakalan remaja yang setiap tahunnya selalu meningkat, menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi negara. Mengapa ? karena remaja yang merupakan generasi muda penerus bangsa sangat mudah terjerumus ke hal- hal yang negatif, seperti penyalahgunaan narkotika. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara di masa mendatang. Generasi muda merupakan cermin dan harapan bangsa dimasa mendatang. Narkotika berpengaruh terhadap fisik dan mental, apabila digunakan dengan dosis yang tepat dan dibawah pengawasan dokter anastesia atau dokter phsikiater dapat digunakan untuk kepentingan pengobatan atau penelitian sehingga berguna bagi kesehatan phisik dan kejiwaan manusia. Tetapi jika disalah gunakan narkotika dapat membahayakan. Bahaya penyalahgunaannya tidak hanya terbatas pada diri pecandu, melainkan dapat membawa akibat lebih jauh lagi, yaitu gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat yang bisa berdampak pada malapetaka runtuhnya suatu bangsa negara dan dunia. Negara yang tidak dapat menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika akan diklaim sebagai sarang kejahatan ini. Hal tersebut tentu saja menimbulkan dampak negatif bagi citra suatu negara. Meskipun narkotika sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan sesuai dengan standar pengobatan, terlebih jika disertai dengan peredaran narkotika secara gelap akan menimbulkan akibat yang sangat merugikan perorangan maupun masyarakat khususnya generasi muda bahkan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai – nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional. Peningkatan pengendalian dan pengawasan sebagai upaya penanggulangan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran
  • 5. 2 gelap narkotika sangat diperlukan, karena kejahatan narkotika pada umumnya tidak dilakukan oleh perorangan secara berdiri sendiri, melainkan dilakukan secara bersama – sama yaitu berupa jaringan yang dilakukan oleh sindikat clandestine yang terorganisasi secara mantap, rapi dan sangat rahasia. 1.2 Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : a. Bagaimana dampak penyalahgunaan narkotika bagi generasi muda ? b. Bagaimana upaya penanggulangan dan pemberantasan dari penyalahgunaan narkotika di kehidupan masyarakat khususnya kalangan remaja ? 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut : a. Untuk mendiskripsikan dan menganalisis dampak penyalahgunaan narkotika bagi generasi muda. b. Untuk mendiskripsikan dan menganalisis upaya penanggulangan dan pemberantasan dari penyalahgunaan narkotika di kehidupan masyarakat khususnya kalangan remaja / generasi muda. 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan makalah ini sebagai berikut : a. Untuk mengerti dan mengetahui dampak penyalahgunaan narkotika di kehidupan masyarakat khususnya generasi muda. b. Untuk mengerti dan mengetahui upaya penanggulangan dan pemberantasan dari penyalahgunaaan narkotika di kehidupan masyarakat khususnya bagi generasi muda.
  • 6. 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Generasi Muda Generasi muda merupakan fase dalam pertumbuhan biologis seseorang yang bersifat seketika dan akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan hukum biologis. Generasi muda sering dianggap sebagai suatu kelompok yang mempunyai aspirasi sendiri yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat atau lebih tepat aspirasi generasi tua. Sehingga muncul persoalan- persoalan yang tidak sejalan dengan keinginan generasi tua, hal ini memunculkan konflik berupa protes, baik secara terbuka maupun terselubung. Dalam pendekatan klasik terjadi jurang pemisah antara generasi muda dan tua disebabkan antara lain adanya 2 asumsi pokok mengenai generasi muda yaitu: 1. Proses perkembangan manusia dianggap sesuatu yang fragmentaris/ terpecah-pecah. Setiap perkembangan hanya dapat dimengerti oleh manusia itu sendiri, maka tingkah laku anak dan generasi muda dianggap sebagai riak-riak kecil yang tidak berarti dalam perjalanan hidup manusia. Dan masa tua dianggap sebagai mahkota hidup yang disamakan dengan hidup bermasyarakat. 2. Adanya anggapan bahwa mempunyai pola yang sedikit banyak ditentukan oleh pemikiran yang diwakili generasi tua yang bersembunyi dibalik tradisi. Generasi muda dianggap sebagai objek dari penerapan pola-pola kehidupan dan bukan sebagai subjek yang mempunyai nilai sendiri. Kedua asumsi diatas tidak akan menjawab masalah kegenerasi mudaan dewasa ini karena generasi muda dan kegenerasi mudaan adalah suatu tonggak dari suatu wawasan kehidupan yang mempunyai potensi untuk mengisi hidupnya. Dalam pendekatan ekosferis, sebagai subyek generasi muda mempunyai nilai sendiri dalam mendukung dan menggerakkan hidup bersama. Pada pendekatan ini anak-anak, generasi muda dan generasi tua berada dalam status sama atau dalam satu kesatuan wawasan kehidupan. Semua tanggung jawab atas keselamatan, kesejahteraan, kelangsungan generasi sekarang dan yang akan datang perbedaannya hanya terletak pada derajat ruang lingkup dan tanggung jawabnya.
  • 7. 4 Generasi tua berkewajiban membimbing generasi muda sebagai penerus untuk memikul tanggung jawab yang semakin komplek. Generasi muda berkewajiban mempersiapkan diri untuk mengisi posisi generasi tua yang makin melemah. Generasi Muda dan Identitas Dalam pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda, yang dimaksud generasi muda adalah : Dari segi biologis generasi muda adalah berumur 15-30 th Dari segi budaya/ fungsional, generasi muda adalah manusia berumur 18/21 keatas yang dianggap sudah dewasa misalnya untuk tugas-tugas negara dan hak pilih. Dari angkatan kerja terdapat istilah tenaga muda dan tua. Tenaga muda adalah berusia 18-22 th. Dilihat dari perencanaan modern yang mengenal tiga sumber daya yaitu sumber daya alam, dana dan manusia. Yang dimaksud sumber data manuasia muda adalah berusia 0- 18th Dilihat dari ideologi politis generasi muda adalah calon pengganti generasi terdahulu yaitu umur antara 18-30 atau 40 th. Dalam pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda, generasi muda dipandang dari beberapa aspek yaitu: 1. Sosial psikologi Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, serta penyesuaian diri secara jasmaniahdan rohaniah sejak dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbelakangan mental, salah asuh orang tua atau guru, pengahur negatif lingkungan. Hambatan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja, maslah narkoba dan lain-lain. 2. Soaial budaya Perkembangan generasi muda berada dalam proses modernisasi dengan segala akibat sampingnya yang bisa berpengaruh pada proses pendewasaannya, sehingga apabila
  • 8. 5 tidak memperoleh arah yang jelas maka corak dan warna masa depan negara dan bangsa akan menjadi lain dari yang dicita-citakan. 3. Sosial ekonomi Bertambahnya pengangguran dikalangan generasi muda karena kurang lapangan pekerjaan akibat dari pertambahan penduduk dan belum meratanya pembangunan. 4. Sosial politik Belum terarahnya pendidikan politik dikalangan generasi muda dan belum dihayatinya mekanisme demokrasi pancasila, tertib hukum dan disiplin nasional sehingga merupakan hambatan bagi penyaluran aspirasi generasi muda. Dari uraian diatas dapat disimpulkan masalah yang menyangkut generasi muda dewasa ini adalah: Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme Kekurangpastian yang dialami generasi muda terhadap masa depannya Belum seimbang jumlah generasi muda dan fasilitas pendidikan yang tersedia baik formal/non formal dan tingginya jumlah putus sekolah. Kurang lapangan kerja dan kesempatan kerja sehingga pengangguran semakin tinggi yang mengakibatkan kurangnya produktivitas nasional. Kurang gizi yang menyebabkan hambatan bagi kecerdasan dan pertumbuhan badan, karena ketidaktauan tentang gizi seimbang dan rendahnya daya beli. Masih banyak perkawinan dibawah umur terutama dikalangan masyarakat pedesaan. Adanya generasi muda yang menderita fisik, mental dan sosial. Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga. Meningkatnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menyangkut generasi muda.
  • 9. 6 2.2 Definisi Narkotika Secara umum narkotika adalah suatu kelompok zat yang bila dimasukkan dalam tubuh maka akan membawa pengaruh terhadap tubuh pemakai yang bersifat menenangkan, merangsang, dan menimbulkan khayalan. Secara Etimologi narkotika berasal dari kata “Narkoties” yang sama artinya dengan kata “Narcosis” yang berarti membius. Sifat dari zat tersebut terutama berpengaruh terhadap otak sehingga menimbulkan perubahan pada perilaku, perasaan, pikiran, persepsi, kesadaran, dan halusinasi disamping dapat digunakan dalam pembiusan. Undang – undang Nomor. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika menyebutkan yaitu narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan – golongan sebagaimana terlampir dalam Undang – Undang ini atau yang kemudian ditetapkan dengan keputusan Menteri Kesehatan. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika memberikan pengertian psikotropika adalah sebagai berikut : Psikotropika adalah obat atau zat alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh efektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa antara narkotika dan psikotropika adalah berbeda, walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu mendasar dan pada umumnya masyarakat juga kurang memahami adanya perbedaan tersebut. Zat Narkotika bersifat menurunkan bahkan menghilangkan kesadaran seseorang sedangkan zat psikotropika justru membuat seseorang semakin aktif dengan pengaruh dari saraf yang ditimbulkan oleh pemakai zat psikotropika tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dapat dilihat pengertian dari Narkotika itu sendiri yakni: Pasal 1 : Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam
  • 10. 7 Undang-Undang ini. Definisi dari Biro Bea dan Cukai Amerika Serikat mengatakan bahwa: yang dimaksud dengan narkotika ialah candu, ganja, cocaine, zat-zat yang bahan mentahnya diambil dari benda-benda tersebut yakni morphine, heroin, codein, hashisch, cocaine. Dan termasuk juga narkotika sintetis yang menghasilkan zat-zat, obat-obat yang tergolong Hallucinogen, Depressant dan Stimulant. Berikut adalah pandangan dari ahli hukum mengenai pengertian dari narkotika: 1. Menurut Smith Klise dan French Clinical Staff mengatakan bahwa: “Narcotics are drugs which produce insebility stupor duo to their depressant effect on the control nervous system. Included in this definition are opium derivates (morphine, codein, heroin, and synthetics opiates (meperidine, methadone).” Yang artinya : Narkotika adalah zat-zat (obat) yang dapat mengakibatkan ketidaksamaan atau pembiusan dikarenakan zat-zat tersebut bekerja mempengaruhi susunan saraf sentral. Dalam definisi narkotika ini sudah termasuk jenis candu dan turunan-turunan candu (morphine, codein, heroin), candu sintetis (meperidine, methadone). 2. Sudarto mengatakan bahwa: Perkataan Narkotika berasal dari bahasa Yunani “Narke” yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Dalam Encyclopedia Amerikana dapat dijumpai pengertian “narcotic” sebagai “a drug that dulls the senses, relieves pain induces sleep an can produce addiction in varying degrees” sedang “drug” diartikan sebagai: Chemical agen that is used therapeuthically to treat disease/Morebroadly, a drug maybe delined as any chemical agen attecis living protoplasm: jadi narkotika merupakan suatu bahan yang menumbuhkan rasa menghilangkan rasa nyeri dan sebagainya. 3. Soedjono. D mengemukakan bahwa: Narkotika adalah zat yang bisa menimbulkan pengaruh - pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakannya dengan memasukkannya ke dalam tubuh. Pengaruh tubuh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi atau khayalan - khayalan. Sifat tersebut diketahui dan ditemui dalam dunia medis bertujuan untuk dimanfaatkan bagi pengobatan dan kepentingan manusia, seperti di bidang pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit.
  • 11. 8 2.3 Jenis – Jenis Narkotika Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, penggolongan jenis – jenis narkotika adalah sebagai berikut: a. Narkotika golongan I: Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalanm terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Antara lain sebagai berikut:  Tanaman Papaver Somniferum L dan semua bagian-bagiannya termasuk buah dan jeraminya, kecuali bijinya.  Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri, diperoleh dari buah tanaman Papaver Somniferum L yang hanya mengalami pengolahan sekedar untuk pembungkus dan pengangkutan tanpa memperhatikan kadar morfinnya.  Opium masak terdiri dari : - Candu, hasil yang diperoleh dari opium mentah melalui suatu rentetan pengolahan khususnya dengan pelarutan, pemanasan dan peragian dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan lain, dengan maksud mengubahnya menjadi suatu ekstrak yang cocok untuk pemadatan. - Jicing, sisa-sisa dari candu setelah dihisap, tanpa memperhatikan apakah candu itu dicampur dengan daun atau bahan lain. - Jicingko, hasil yang diperoleh dari pengolahan jicing.  Tanaman koka, tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae termasuk buah dan bijinya.  Daun koka, daun yang belum atau sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae yang menghasilkan kokain secara langsung atau melalui perubahan kimia.  Kokain mentah, semua hasil-hasil yang diperoleh dari daun koka yang dapat diolah secara langsung untuk mendapatkan kokaina.  Kokaina, metil ester-1-bensoil ekgonina.  Tanaman ganja, semua tanaman genus genus cannabis dan semua bagian dari tanaman termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasis.
  • 12. 9 b. Narkotika golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Antara lain seperti:  Alfasetilmetadol  Alfameprodina  Alfametadol  Alfaprodina  Alfentanil  Allilprodina  Anileridina  Asetilmetadol  Benzetidin  Benzilmorfina  Morfina-N-oksida  Morfin metobromida dan turunan morfina nitrogen pentafalent lainnya termasuk bagian turunan morfina-N-oksida, salah satunya kodeina-N-oksida, dan lain-lain. c. Narkotika golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Antara lain seperti :  Asetildihidrokodeina  Dekstropropoksifena : α-(+)-4-dimetilamino-1,2-difenil-3-metil-2-butanol propionat  Dihidrokodeina  Etilmorfina : 3-etil morfina  Kodeina : 3-metil morfina  Nikodikodina : 6-nikotinildihidrokodeina  Nikokodina : 6-nikotinilkodeina  Norkodeina : N-demetilkodeina
  • 13. 10  Polkodina : Morfoliniletilmorfina  Propiram : N-(1-metil-2-piperidinoetil)-N-2-piridilpropionamida  Buprenorfina : 21-siklopropil-7-α-[(S)-1-hidroksi-1,2,2-trimetilpropil]-6,14-endo- entano-6,7,8,14-tetrahidrooripavina  Garam-garam dari Narkotika dalam golongan tersebut diatas  Campuran atau sediaan difenoksin dengan bahan lain bukan narkotika  Campuran atau sediaan difenoksilat dengan bahan lain bukan narkotika Berdasarkan proses pembuatannya di bagi ke dalam 3 Golongan : 1. Alami Yaitu jenis ata zat yang diambil langsung dari alam tanpa adanya proses fermentasi atau produksi. Misalnya : Ganja, Mescaline, Psilocybin, Kafein, Opium. 2. Semi Sintesis Yaitu jenis zat/obat yang diproses sedemikian rupa melalui proses fermentasi. Misalnya : Morfin, Heroin, Kodein, Crack. 3. Sintesis Yaitu jenis zat yang dikembangkan untuk keperluan medis yang juga untuk menghilangkan rasa sakit. Misalnya : petidin, metadon, dipipanon, dekstropropokasifen Menurut efek yang di timbulkan di bagi dalam 3 golongan: 1. Depresan Adalah zat atau jenis obat yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini dapat membuat pemakai merasa tenang bahkan tertitur atau tak sadarkan diri misalnya opioda, opium atau putau , morfin, heroin, kodein opiat sintesis. 2. Stimulan Adalah zat atau obat yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan gairah kerja serta kesadaran misalnya : kafein, kokain, nikotin amfetamin atau sabu-sabu.
  • 14. 11 3. Halusinogen Zat atau obat yang menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan fikiran misalnya : Ganja, Jamur Masrum Mescaline, psilocybin, LSD. 1. Opium Opium adalah jenis narkotika yang paling berbahaya. Dikonsumsi dengan cara ditelan langsung atau diminum bersama teh, kopi atau dihisap bersama rokok atau syisya Figure 4 Ganja Figure 3 Cimeng Figure 2 Ecstasy Figure 1 Kokain Figure 8 Rokok Figure 7 Sabu-sabu Figure 6 Alkohol Figure 5 Anagesic Figure 11 Putaw Figure 12 Pil Koplo Figure 10 Masrum Figure 9 LSD
  • 15. 12 (rokok ala Timur Tengah). Opium diperoleh dari buah pohon opium yang belum matang dengan cara menyayatnya hingga mengeluarkan getah putih yang lengket. Pada mulanya, pengonsumsi opium akan merasa segar bugar dan mampu berimajinasi dan berbicara, namun hal ini tidak bertahan lama. Tak lama kemudian kondisi kejiwaannya akan mengalami gangguan dan berakhir dengan tidur pulas bahkan koma. Jika seseorang ketagihan, maka opium akan menjadi bagian dari hidupnya. Tubuhnya tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi opium dalam dosis yang biasanya. Dia akan merasakan sakit yang luar biasa jika tidak bisa memperolehnya. Kesehatannya akan menurun drastis. Otot-otot si pecandu akan layu, ingatannya melemah dan nafsu makannya menurun. Kedua matanya mengalami sianosis dan berat badannya terus menyusut. 2. Morphine Orang yang mengonsumsi morphine akan merasakan keringanan (kegesitan) dan kebugaran yang berkembang menjadi hasrat kuat untuk terus mengonsumsinya. Dari sini, dosis pemakaian pun terus ditambah untuk memperoleh ekstase (kenikmatan) yang sama. Kecanduan bahan narkotika ini akan menyebabkan pendarahan hidung (mimisan) dan muntah berulang-ulang. Pecandu juga akan mengalami kelemahan seluruh tubuh, gangguan memahami sesuatu dan kekeringan mulut. Penambahan dosis akan menimbulkan frustasi pada pusat pernafasan dan penurunan tekanan darah. Kondisi ini bisa menyebabkan koma yang berujung pada kematian. 3. Heroin Bahan narkotika ini berbentuk bubuk kristal berwarna putih yang dihasilkan dari penyulingan morphine. Menjadi bahan narkotika yang paling mahal harganya, paling kuat dalam menciptakan ketagihan (ketergantungan) dan paling berbahaya bagi kesehatan secara umum. Penikmatnya mula-mula akan merasa segar, ringan dan ceria. Dia akan mengalami ketagihan seiring dengan konsumsi secara berulang-ulang. Jika demikian, maka dia akan selalu membutuhkan dosis yang lebih besar untuk menciptakan ekstase yang sama.
  • 16. 13 Karena itu, dia pun harus megap-megap untuk mendapatkannya, hingga tidak ada lagi keriangan maupun keceriaan. Keinginannya hanya satu, memperoleh dosis yang lebih banyak untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan dan pengerasan otot akibat penghentian pemakaian. Pecandu heroin lambat laun akan mengalami kelemahan fisik yang cukup parah, kehilangan nafsu makan, insomnia (tidak bisa tidur) dan terus dihantui mimpi buruk. Selain itu, para pecandu heroin juga menghadapi sejumlah masalah seksual, seperti impotensi dan lemah syahwat. Sebuah data statistik menyebutkan, angka penderita impotensi di kalangan pecandu heroin mencapai 40%. 4. Codeine Codeine mengandung opium dalam kadar yang sedikit. Senyawa ini digunakan dalam pembuatan obat batuk dan pereda sakit (nyeri). Perusahaan-perusahaan farmasi telah bertekad mengurangi penggunaan codeine pada obat batuk dan obat-obat pereda nyeri. Karena dalam beberapa kasus, meski jarang, codeine bisa menimbulkan kecanduan. 5. Kokain Kokain disuling dari tumbuhan koka yang tumbuh dan berkembang di pegunungan Indis di Amerika Selatan (Latin) sejak 100 tahun silam. Kokain dikonsumsi dengan cara dihirup, sehingga terserap ke dalam selaput-selaput lendir hidung kemudian langsung menuju darah. Karena itu, penciuman kokain berkali-kali bisa menyebabkan pemborokan pada selaput lendir hidung, bahkan terkadang bisa menyebabkan tembusnya dinding antara kedua cuping hidung. Masalah kecanduan kokain terjadi di Amerika Serikat, karena faktor kedekatan geografis dengan sumber produksinya. Dengan proses sederhana, yakni menambahkan alkaline pada krak, maka pengaruh kokain bisa berubah menjadi sangat aktif. Jika heroin merupakan zat adiktif yang paling banyak menyebabkan ketagihan fisik, maka kokain merupakan zat adiktif yang paling bayak menyebabkan ketagihan psikis. Setiap tahun, Amerika Serikat membelanjakan anggaran 30 miliar dollar untuk kokain dan krak. Tak kurang dari 10 juta warga Amerika mengonsumsi kokain secara
  • 17. 14 semi-rutin. Pemakaian kokain dalam jangka pendek mendatangkan perasaan riang- gembira dan segar-bugar. Namun beberapa waktu kemudian muncul perasaan gelisah dan takut, hingga halusinasi. Penggunaan kokain dalam dosis tinggi menyebabkan insomnia (sulit tidur), gemetar dan kejang-kejang (kram). Di sini, pecandu merasa ada serangga yang merayap di bawah kulitnya. Pencernaannya pun terganggu, biji matanya melebar, dan tekanan darahnya naik. Bahkan terkadang bisa menyebabkan kematian mendadak. 6. Amfitamine Obat ini ditemukan pada tahun 1880. Namun, fakta medis membuktikan bahwa penggunaannya dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan risiko ketagihan. Pengguna obat adiktif ini merasakan suatu ekstase dan kegairahan, tidak mengantuk, dan memperoleh energi besar selama beberapa jam. Namun setelah itu, ia tampak lesu disertai stres dan ketidakmampuan berkonsentrasi, atau perasaan kecewa sehingga mendorongnya untuk melakukan tindak kekerasan dan kebrutalan. Kecanduan obat adiktif ini juga menyebabkan degup jantung mengencang dan ketidakmampuan berelaksasi, ditambah lemah seksual. Bahkan dalam beberapa kasus menimbulkan perilaku seks menyimpang. Termasuk derivasi (turunan) obat ini adalah obat yang disebut “captagon”. Obat ini banyak dikonsumsi oleh para siswa selama musim ujian, padahal prosedur penggunaannya sebenarnya sangat ketat dan hati-hati. 7. Ganja Ganja memiliki sebutan yang jumlahnya mencapai lebih dari 350 nama, sesuai dengan kawasan penanaman dan konsumsinya, antara lain; mariyuana, hashish, dan hemp. Adapun zat terpenting yang terkandung dalam ganja adalah zat trihidrocaniponal (THC). Pemakai ganja merasakan suatu kondisi ekstase yang disertai dengan tawa cekikikan dan terkekeh-kekeh tanpa justifikasi yang jelas. Dia mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan. Berbeda dengan peminum alkohol yang terkesan brutal dan berperilaku agresif, maka pemakai ganja seringkali malah menjadi penakut.
  • 18. 15 Dia mengalami kesulitan mengenali bentuk dan ukuran benda-benda yang terlihat. Pecandunya juga merasakan waktu berjalan begitu lambat. Ingatannya akan kejadian beberapa waktu yang lalu pun kacau-balau. Matanya memerah dan degup jantungnya kencang. Jika berhenti mengonsumsi ganja, dia akan merasa depresi, gelisah, menggigil dan susah tidur. Namun kecanduan ganja biasanya mudah dilepaskan. Dalam jangka panjang, pecandu ganja akan kehilangan gairah hidup. Menjadi malas, lemah ingatan, bodoh, tidak bisa berkonsentrasi dan terdorong untuk melakukan kejahatan. 8. Alkohol Nama kimianya adalah etanol atau etil alcohol. Banyak jenis dan merek alcohol seperti : bir, wisky, gin, vodka, martini, brem, arak, ciu, saguer, tuak, Johnny walker, black and white, dsb. Rekomendasi farmakologi, obat ini mirip penenag/obat tidur. Toleransi perkembangannya lambat, sedangkan gejala putus zat dapat berakibat fatal, seperti : Muka merah; Banyak bicara dan cadel Pengendalian diri berkurang/melemah sehingga mudah tersinggung, marah dan terlibat perkelahian Gangguan koordinasi motorik Jalan sempoyongan Sulit memusatkan perhatian 9. Sedative / Hipnotika (obat penenang/tidur) Obat ini memiliki banyak jenis dan tergolong psikotropika, seperti : metaquanon/mandrax, flunitrazepani, clonazepam, nitrazepant, dan lain - lain. Toleransi perkembangannya tidak secepat heroin. Mengkonsumsi obat ini dapat mengakibatkan : Banyak bicara Bicara cadel Jalan sempoyongan Pengendalian diri berkurang/melemah sehingga mudah tersinggung dan terlibat perkelahian
  • 19. 16 Kadang – kadang kesadaran terganggu (delirium). 10. Ecstasy Mempunyai merk perdagangan yang terkenal seperti : butterfly, black heart, yuppie drag dan lain – lain. Dalam farmokologi tergolong sebagai psikostimulansia (narkotika golongan II) seperti amphetamine, methamphetamine, kafein, kokain, khat, dan nikotin yang direkayasa untuk tujuan bersenang – senang. Bahaya dan akibat mengkonsumsi ecstasy adalah : Dapat menimbulkan denyut jantung dan nadi bertambah cepat Gerak anggota badab tidak terkendali (triping) Kemampuan berempati meningkat Keintiman bertambah dan rasa percaya diri meningkat Penglihatan kabur Halusinasi 11. Shabu-shabu Merupakan kombinasi baru yang sedang laris, berbentuk bubuk mengkilat seperti garam dapur, shabu berisi metapetamin yang dicampur dengan berbagai psikotropika. Pemakai yang kronis akan tampak kurus, mata merah, malas mandi, emosi labil, dan loyo. Beberapa kasus menunjukkan dampak shabu-shabu yaitu menyebabkan orang menjadi ganas, serta meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi berbuntut tingkah laku yang brutal. 12. Tembakau Merupakan daun–daunan pohon tembakau yang dikeringkan dan pada umunya diproduksi dalam bentuk rokok. Nikotin, terdapat ditembakau, adalah salah satu zat yang paling adiktif yang dikenal. Nikotin adalah perangsang susunan saraf pusat (SSP) yang mengganggu keseimbangan neuropemancar. menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, nafsu makan berkurang, menimbulkan emfisema ringan, sebagian menghilangkan perasaan cita rasa dan penciuman serta
  • 20. 17 memerihkan paru. Penggunaan tembakau jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, jantung dan pembuluh darah, dan menyebabkan kanker. 2.4 Pengguna Narkotika Pengguna narkotika terbagi dalam 3 tingkatan : 1. User yaitu seseorang yang menggunakan napza sesekali. 2. Abuser yaitu seseorang yang menggunakan napza karena alasan tertentu. 3. Addict yaitu seseorang yang menggunakan napza atas dasar kebutuhan artinya jika tidak dipenuhi maka akan timbul efek secara fisik maupun psikis. Narkoba memiliki 3 sifat jahat yang dapat membelenggu pemakainya untuk menjadi budak setia. Sehingga tidak dapat meninggalkannya, selalu membutuhkannya dan mencintainya melebihi siapapun. tiga sifat khas yang sangat berbahaya: a. Habitualis adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk mencari dan rindu. sifat ini lah yang membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh dapat kambuh kembali. b. Adiktif adalah sikap yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak dapat menghentikan, penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan menimbulkan „efek putus zat‟ yaitu perasaan sakit yang luar biasa. c. Dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis yang lebih tinggi. Bila dosis tidak dinaikkan narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi malah membuat pemakainya mengalami sakaw. Ciri –ciri Umum Pengguna Narkoba Biasanya orang mengetahui anaknya menggunakan narkoba selalu ketika keadaannya sudah parah dan terlambat. Oleh karena itu ciri awal pengguna narkoba perlu diketahui dengan baik, secara umum penguna narkoba terdiri dari 4 tahap. 1. Tahap Coba-coba
  • 21. 18 Mulanya hanya coba-coba, kemudian karena terjebak oleh 3 sifat jahat narkoba, ia menjadi mau lagi dan lagi. Sangat sulit melihat gejala awal pengguna narkoba, gejala tersebut adalah Gejala psikologi Terjadi perubahan pada sikap anak, akan timbul rasa takut dan malu yang disebabkan oleh perasaan bersalah dan berdosa, anak lebih sensitif, resah dan gelisah, kemanjaan dan kemesraan akan berkurang bahkan hilang. Pada fisik Pada fisik belum tampak pada tubuh anak. Tetapi bila sedang memakai psikotropika, ekstasi, atau sabu, ia akan tampak riang, gembira, murah senyum dan ramah, bila menggunakan jenis putaw, ia akan tampak tenang, tentram, tidak peduli pada orang lain, bila tidak memakai tidak akan tampak gejala apapun. 2. Tahap Pemula Setelah tahap eksperimen atau coba- coba, lalu meningkat menjadi terbiasa. anak akan terus memakai karena kenikmatannya dan akan terus menggunakannya. Pada tahap ini akan muncul gejala sebagai berikut: Gejala psikologi Sikap anak menjadi lebih tertutup, jiwanya resah, gelisa, kurang tenang dan lebih sensitif, hubungan dengan orang tua dan saudara–saudara mulai renggang tidak lagi terlihat riang, ceria. Ia mulai tampak banyak menyembunyikan rahasia. Pada fisik Tidak tampak perubahan yang nyata. Bila ia memakai tampak lebih lincah, lebih riang, lebih percayadiri, berarti ia memakai psikotropika stimulan, shabu, atau ekstasi, bila ia tampak lebih tenang, mengantuk, berarti ia memakai obat penenang, ganja, atau putaw. 3. Tahap Berkala Setelah berapa kali memakai narkoba sebagai pemakai insidentil, pemakian narkoba terdorong untuk memakai lebih sering lain. Selain merasa nikmat, ia juga mulai merasakan sakaw, kalau terlambat atau berhenti mengkonsumsi narkoba, ia memakai narkoba pada saat tertentu secara rutin. Pemakai sudah menjadi lebih sering dan teratur.
  • 22. 19 Misalnya setiap malam minggu, sebelum pesta tampil, atau sebelum belajar agar tidak mengantuk. Ciri mental Sulit bergaul dengan teman baru. Pribadinya menjadi lebih tertutup, lebih sensitif dan mudah tersinggung, ke akraban dengan orang tua dan saudara sangat berkurang dan apabila tidak menggunakan narkoba sikap dan penampilannya sangat murung, gelisa dan kurang percaya diri. Ciri fisik Terjadi gejala sebaliknya dari tahap 1 dan 2. Apabila menggunakan, ia tampak normal, apabila tidak menggunakan ia akan tampak murung, lemah, gelisa, malas. 4. Tahap Tetap/Madat Setelah menjadi pemakai narkoba secara berkala, pemakai narkoba akan dituntut oleh tubuhnya sendiri untuk semakin sering memakai narkoba dengan dosis yang lebih tinggi, bila tidak ia akan merasa penderitaan (sakaw), pada tahap ini pemakai tidak dapat lagi lepas dari narkoba sama sekali, ia harus selalu mengunakan narkoba. ia disebut pemakai setia, pecandu, pemadat atau junkies. Bila ia memakai akan tampak normal tetapi apabila tidak ia tampak sakit. Dalam satu hari ia dapat memakai 4 sampai 6 kali, bahkan ada yang harus memakai setiap 1 jam. Tanda – tanda psikis Sulit bergaul dengan teman baru, ekslusif, tertutup, sensitif, mudah tersinggung, egois, mau menang sendiri, malas dan lebih menyukai hidup di malam hari. Pandai berbohong, gemar menipu, sering mencuri, merampok dan tidak malu menjadi pelacur (pria atau wanita) ia tidak merasa berat untuk berbuat jahat dan membunuh orang lain termasuk orang tuanya sendiri. Tanda –tanda fisik Biasanya kurus lemah (loyo) namun ada juga yang dapat membuat dirinya gemuk dan sehat. Dengan banyak makan dan minum suplement. Gigi kuning kecoklatan, mata sayup, ada bekas sayatan atau tusukan jarum suntik pada tangan, kaki, dada, lidah, atau kemaluan (Partodiharjo, 2008).
  • 23. 20 2.5 Faktor – Faktor Penyebab Penggunaan Narkotika 1. Tersedianya Narkoba Permasalahan penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba tidak akan terjadi bila tidak ada narkobanya itu sendiri. Dalam pengamatan ternyata banyak tersedianya narkoba dan mudah diperoleh. Hawari (1990) dalam penelitiannya menyatakan bahwa urutan mudahnya narkoba diperoleh (secara terang-terangan, diam-diam atau sembunyi- sembunyi) adalah alkohol (88%), sedatif (44%), ganja, opiot dan amphetamine (31%). Menurut Gunawan (2009) faktor tersedianya narkoba adalah ketersediaan dan kemudahan memperoleh narkoba juga menjadi faktor penyabab banyaknya pemakai narkoba. Indonesia bukan lagi sebagai transit seperti awal tahun 80-an, tetapi sudah menjadi tujuan pasar narkotika. Para penjual narkotika berkeliaran dimana-mana, termasuk di sekolah, lorong jalan, gang-gang sempit, warung-warung kecil yang dekat dengan pemukiman masyarakat. 2. Lingkungan Terjadinya penyebab penyalahgunaan narkoba yang sebagian besar dilakukan oleh usia produktif dikarenakan beberapa hal, antara lain : a. Keluarga Menurut Kartono dalam Wina (2006) keluarga merupakan satu organisasi yang paling penting dalam kelompok sosial dan keluarga merupakan lembaga didalam masyarakat yang paling utama bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan sosial dan biologis anak manusia. Penyebab penggunaan narkoba salah satunya adalah keluarga dengan ciri-ciri sebagai berikut: Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) pengguna narkoba Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada jalan keluar yang memuaskan semua pihak dalam keluarga. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara. Keluarga dengan orang tua yang otoriter, yang menuntut anaknya harus menuruti apapun kata orang tua, dengan alasan sopan santun, adat-istiadat, atau demi kemajuan
  • 24. 21 dan masa depan anak itu sendiri tanpa memberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidak setujuan. Keluarga tidak harmonis Menurut Hawari dalam Wina (2006), keluarga harmonis adalah persepsi terhadap situasi dan kondisi dalam keluarga dimana didalamnya tercipta kehidupan beragama yang kuat, suasana yang hangat, saling menghargai, saling pengertian, saling terbuka, saling menjaga dan diwarnai kasih sayang dan rasa saling percaya sehingga memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang. b. Masyarakat Kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan, dapat menjadi faktor terganggunya perkembangan jiwa kearah perilaku yang menyimpang yang pada gilirannya terlibat penyalahgunaan/ketergantungan narkoba. Lingkungan sosial yang rawan tersebut antara lain : Semakin banyaknya penggangguran, anak putus sekolah dan anak jalan. Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malam bahkan hingga dini hari dimana sering digunakan sebagai tempat transaksi narkoba. Banyaknya penerbitan, tontonan TV dan sejenisnya yang bersifat pornografi dan kekerasan. Masyarakat yang tidak peduli dengan lingkungan. Kebut-kebutan, coret-coretan pengerusakan tempat-tempat umum. Tempat-tempat transaksi narkoba baik secara terang-terangan maupun sembunyi- sembunyi (Alifia, 2008). c. Individu Menurut Coopersmith dalam Eka (2006), harga diri adalah Aspek kepribadian yang penting sebagai penilaian yang dibuat individu terhadap dirinya sendiri. Harga diri yang tinggi akan mempengaruhi kepribadian seseorang. Harga diri merupakan evaluasi
  • 25. 22 diri yang ditegakkan dan dipertahankan oleh individu, yang berasal dari interaksi individu dengan orang–orang yang terdekat dengan lingkungannya, dan dari jumlah penghargaan, penerimaan, dan perlakuan orang lain yang diterima individu. Menurut Sellet dan Littlefield dalam Sulistiyowati (2008), harga diri merupakan aspek kepribadian yang pada dasarnya dapat berkembang. Kurangnya harga diri pada seseorang dapat mengakibatkan masalah baik akademik, olahraga, pekerjaan dan hubungan sosial . Harga diri dapat dibedakan atas 3, yaitu : Harga diri tinggi yaitu memiliki sifat aktif, sukes dalam kehidupan sosial, mampu mengontrol diri, menghargai orang lain, dan percaya diri. Harga diri sedang yaitu memiliki sifat hampir sama dengan harga diri tinggi hanya ia bimbang menilai diri perlu dukungan sosial dan percaya diri. Harga diri rendah yaitu memiliki sifat kurang aktif, sebagai pendengar dan pengikut, minder, gugup, sering salah dalam mengambil keputusan dan rendah diri.  Budaya Mencari Kenikmatan Sesaat (Hedonistik) Dewasa ini masyarakat cenderung mudah memakai obat untukmengubah suasana hati, sehingga pemakaian jenis narkoba diterima dengan tangan terbuka. Contoh : rokok, alkohol, dan juga obat penghilang rasa nyeri yang mudah dibeli. Pesta ulang tahun atau akhir pekandilalui dengan minuman beralkohol, rokok, ganja, ekstasi, yang didukung pula faktor kemudahan untuk memperolehnya. Remaja mempunyai pola serupa dengan orang dewasa. Umumnya penyalahgunaan narkoba pada remajabersifat hedonistik, yakni bertujuan mencari kesenangan. Alasan yang sering dikemukakan adalah ingin tahu dan ingin mencari kesenangan atau kenikmatan.  Kepribadian Remaja Masa romantisme remaja dan nostalgia orang dewasa terhadap masa itu berada sekitar ekspoitasi masa remaja yang mengandung resiko. Contoh : berselancar, ngebut, dan mencoba narkoba. Remaja berada diantara masa kanak - kanak dan dewasa, baik
  • 26. 23 secara biologis maupun psikologis. Di satu pihak, remaja memiliki kemampuan orang dewasa, tetapi di lain pihak belum memiliki kewenangan untuk manggunakan kemampuan itu. Keterbatasan perspektif remaja menyebabkan remaja sulit menunda pemuasan keinginan seketika, sehingga remaja lebih mirip anak kecil yang berbadan besar daripada orang dewasa. Penyalahgunaan narkoba memperburuk keadaan. Narkoba memperlemah kemauan, mendorong pemuasan keinginan segera, dan melemahkan daya pikir ke depan. Narkoba memberikan pemuasan keinginan segera, melemahkan kemampuan untuk berpartisipasi terhadap bahaya dan kemampuan untuk menangkal kenikmatan sesaat. Remaja yang terlalu dikendalikan dengan orang tua akan gagal memenuhi fungsi kemandirian orang dewasa, sehingga ia tidak mampu menghargai dirinya sebagai individu yang mendiri. Berlainan dengan penampilan luarnya, remaja ini sangat rawan terhadap tekanan kelompok sebaya. Mereka akan menyerahkan diri terhadap tuntutan orang lain. Mereka akan mevcari kebebasan semu dan kepribadian semu pada teman sebayanya untuk menggantikan fungsi orang tua.  Tekanan Kelompok Sebaya Tekanan kelompok sebaya berpengaruh kuat terhadap terjadinya penyalahgunaan narkoba. Semua orang pasti merasan cemas jika ditolak oleh lingkungan sehingga berusaha mencari persetujuan kelompoknya. Konflik orang tua dan remaja sebenarnya adalah konflik loyalitas, yaitu loyalitas terhadap orang tua dengan loyalitas terhadap teman sebaya. Remaja sangat peka terhadap nilai - nilai kelompok sebaya dalam penampilan, perilaku, dan sikap. Jarang seorang remaja yang memiliki kemauan ego kuat berdiri teguh, terpisah dari nilai - nilai kelompok sebayanya. Suasana hatinya sebagian besar berasal dari perjuangan terus - menerus untuk memenangkan peperangan itu dan untuk berada dalam persetujuan dengan kelompok sebaya. Di kalangan remaja, penyalahgunaan narkoba digunakan untuk maksud rekreasi atau bersenang - senang sebagai kegiatan sosial yang diterima remaja. Karena itu, remaja rawan terhadap penyalahgunaan narkoba.
  • 27. 24  Keterasingan Remaja Keterasingan adalah adanya hubungan antar remaja dan nilai orang tua dan masyarakat secara cita - cita , tradisi, dan kerohanian. Keterasingan dapat diartikan sebagai dimensi spiritual, karena meliputi penolakan terhadap nilai - nilai yang berharga, yang memotivasi atau memimpin sesorang melalui keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ada juga komponen emosional pada keterasingan. Remaja yang terasing adalah remaja yang marah, yang secara tidak sadar meluapkan perasaan dikhianati karena merasa nilai - nilainya ditolak. Dengan perkataan lain, remaja yang terasing adalah remaja yang diabaikan atau tidak dipedulikan oleh keluarga atau masyarakat. Dari keterasingan itu, remaja memilih jalan untuk mencoba - coba berteman dengan narkoba.  Sters Banyak sekali sumber stres. Pengalaman terhadap stres itu sendiri merupakan interaksi faktor luar sebagai penyebab stres (disebut stresor) dan faktor dalam yang disebut keterampilan mengatasi masalah (coping skills). Orang dengan sejumlah besar stresor, seperti kehilangan, penyakit, dan trauma dikatakan mengalami banyak stres. Di lain pihak, seseorang yang kurang terampil mengatasi masalah menganggap dirinya „sangat stres‟ dibandingkan orang lain yang lebih terampil mengatasi masalah. Gejala stres termasuk gelisah dan cemas, mudah tersinggung dan teragitasi, sulit tidur atau mengalami gangguang tidur, sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan dalam selera makan, dan penyalahgunaan narkoba. Penelitian membuktikan bahwa lingkungan keluarga yang tidak berfungsi baik dan kejadian - kejadian yang membuat stres, berkaitan erat dengan penyalahgunaan narkoba. Penelitian pada sejumlah siswa penyalahguna yang mengikuti perawatan terapi, menunjukkan tingkat stres yang tinggi, penilaian diri yang rendah, keluarga yang mereka nilai sebagai „penuh permusuhan dan kebencian‟, serta orang tua yang kurang komunitkatif dan terlalu banyak menuntut. Tidak semua penyalahguna narkoba datang dari keluarga yang tidak berfungsi baik. Namun, faktor stres dirumah tidak boleh diabaikan. Umumnya remaja memakai narkoba guna menghilangkan stres, sebagai cara untuk mengatasi masalah yang kronis dan tidak ada jalan keluarga.
  • 28. 25  Rasa Tidak Aman dan Penilaian Diri Rendah Penilaian diri negatif dipengaruhi oleh penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya, penilaian diri rendah mendorong terjadinya penyalahgunaan narkoba. Proses yang menyebabkan seseorang memiliki penilaian diri rendah adalah dinamika yang dibangun sejak usia dini. Penilaian diri dibangun karena keberhasilan seseorang mengatasi masalah dan memenangkan tantangan dalam kehidupannya. Seperti halnya individuasi, motivasi terbentuknya penilaian diri berasal dari dalam. Orang tua berperang penting dalam membangun penilaian diri. Bimbingan, intruksi, dan bantuan orang tua yang efektif dan melibatkan diri dalam kehidupan anak, akan mendukunga terbentuknya penilaian diri. Rasa aman berakar dari kasih sayang dan pemeliharaan serta kemampuan orang tua membri kebutuhan psikologis yang mendasar yang diperlukan anak. Rasa tidak aman adalah rasa cemas kronis, karena kurang kasih sayng dan perawatan orang tua. Seseorang yang merasa akan aman mampu menghadapi stres dan ia peroleh pula dukungan orang lain. Orang yang merasa aman memiliki sikap percaya kepada oarng lain. Sebaliknya, orang yang tidak merasa aman akan selalu curiga dan tidak mempercayai orang lain. Ia cenderuung menjadi pribadi yang menuntut, pencemburu, dan ingin memiliki (posesif). Penilaian diri rendah dan rasa tidak aman adalah dua pemicu kuat terjadinya penyalahgunaan narkoba. Pada remaja, penilaian diri sering dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kemampuan dan bakat berperan penting dalam menentukan pemnilaian diri pada masa ini. Setiap remaja adalah individu yang mencari sesuatu yang berharga tentang dirinya, penampilannya, kepribadiannya, bakatnya, keterampilan sosialnya, atau kecerdasannya. 2.6 Penyalahgunaan Narkotika Secara etimologis, penyalahgunaan itu sendiri dalam bahasa asingnya disebut “abuse”, yaitu memakai hak miliknya yang bukan pada tempatnya. Dapat juga diartikan salah pakaiatau “misuse”, yaitu mempergunakan sesuatu yang tidak sesuai dengan fungsinya.61 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tidak memberikan pengertian dan penjelasan yang jelas mengenai istilah penyalahgunaan, hanya istilah penyalah guna yang dapat dilihat pada undang-undang
  • 29. 26 tersebut, yaitu penyalah guna adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau secara melawan hukum. Batasan mengenai penyalahgunaan yang diterapkan, baik oleh Konvensi Tunggal Narkotika 1961 (United Nations Single Convention on Narcotic Drugs 1961) maupun Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988 (United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugsand Psychotropic Substances 1988 ), tidak jauh berbeda dengan apa yang telah diuraikan di atas. Hal ini dikarenakan peraturan perundang-undangan nasional yang dibuat khusus di Indonesia berkaitan dengan masalah penyalahgunaan narkotika, dan merupakan wujud dan bentuk nyata dari pengesahan atau pengakuan pemerintah Indonesia terhadap Konvensi Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun 1972 yang Mengubahnya. Konvensi Tunggal Narkotika 1961 (United Nations Single Convention on Narcotic Drugs 1961) secara tegas disebutkan dalam Pasal 2 ayat 5 sub (b) bahwa: “A Party shall, if in its opinion the prevailing conditions in its country render it the most appropriate means of protecting the public health and welfare, prohibit the production, manufacture, export and import of, trade in, possession or use of any such drug except for amounts which may be necessary for medical and scientific research only, including clinical trials therewith to be conducted under or subject to the direct supervision and control of the Party.” Yang artinya : “Suatu Pihak wajib, jika menurut pendapatnya berdasarkan kondisi yang berlaku di negaranya membuat itu cara yang paling tepat untuk melindungi kesehatan masyarakat dan kesejahteraan, melarang produksi, manufaktur, ekspor dan impor, perdagangan, pemilikan atau penggunaan narkoba apapun kecuali seperti untuk jumlah yang mungkin diperlukan untuk penelitian medis dan ilmiah saja, termasuk uji klinis dengannya akan dilakukan di bawah atau tunduk pada pengawasan dan kontrol langsung dari pihak tersebut.” Sementara Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988 menyebut penyalahgunaan obat
  • 30. 27 terlarang sebagai tindak pidana kejahatan dan dapat dihukum oleh hukum domestik setempat (dari negara yang menjadi para pihak di dalamnya) dimana perbuatan penyalahgunaan tersebut dilakukan. Begitu besarnya akibat dan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkotika, sehingga dalam Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dinyatakan bahwa: “ Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). ” Hukuman Pidana terhadap Penyalahgunaan Narkoba Menurut Perundang – Undangan di Indonesia Mengenai perbuatan – perbuatan yang diancam dengan hukuman pidana, diatur dalam Pasal 59 – Pasal 66 UU No. 5 Tahun 997 tentang Psikotropika, yang mana seluruhnya merupakan kejahatan. Ancaman hukuman untuk penyalahgunaan psikotropika maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup dan pidana enda berkisar antara Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). Menurut ketentuan dalam Pasal 59 – Pasal 66 yang diancam hukuman antara lain meliputi barang siapa yang : 1. Menggunakan 2. Memproduksi 3. Mengedarkan 4. Mengimpor 5. Mengekspor 6. Memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika 7. Menyalurkan
  • 31. 28 8. Menerima penyaluran 9. Menyerahkan 10. Menerima penyerahan 11. Melakukan pngankutan 12. Melakukan perubahan Negara tujuan 13. Melakukan pengemasan 14. Tidak mencantumkan label 15. Mengiklankan 16. Melakukan pemusnahan yang tidak sesuai 17. Menghalang-halangi penderita menjalani pengobatan / perawatan 18. Menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi tanpa ijin 19. Tidak melapor adanya penyalahgunaan/kepemilikan psikotropika 20. Saksi dan orangg lain. Ada 2 (dua) macam sanksi administrative yang diatur dalam Pasal 51 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika adalah : a. Teguran lisan b. Teguran tertulis c. Penghentian sementara kegiatan d. Denda administrative e. Pencabutan ijin praktek Yang dapat menjatuhkan sanksi di atas adalah Menteri Kesehatan. Berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU Psikotropika ada 3 (tiga) pihak yang dapat dijatuhi sanksi administrative karena melakukan pelanggaran UU tersebut yaitu : 1. Pihak pengedar psikotropika 2. Pihak lembaga penelitian dan lembaga pendidikan 3. Pihak fasilitas rehabilitasi Secara rinci untuk pelaku penyalahgunaan Psikotropika dapat dikenakan UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dengan klasifikasi sebagai berikut :
  • 32. 29 a) Sebagai Pengguna Dikenakan ketentuan pidana dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan paling lama 15 tahun + denda. b) Sebagai Peengedar Dikenakan ketentuan pidana dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun + denda. c) Sebagai Produsen Dikenakan ketentuan pidana dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun + denda. 2.7 Dampak Penyalahgunaan Narkotika bagi Generasi Muda 2.6.1 Bagi Diri Sendiri a. Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja Seperti daya ingat berkurang, sulit untuk berkonsentrasi, keinginan dan kemampuan belajar merosot, persahabatan rusak, serta minat dan cita - cita semula padam. Oleh karena itu, narkoba menyebabkan perkembangan normal mental emosional dan sosial remaja terhambat. b. Intoksikasi (keracunan) Gejala yang timbul akibat pemakaian narkoba dalam jumlah yang cukup, berpengaruh pada tubuh dan perilakunya. Gejalanya tergantung pada jenis, jumlah, dan cara penggunaan. Istilah yang sering dipakai pecandu adalah pedauw, fly, manuk, teler, dan high. c. Overdosis (OD) Dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan (untuk heroin) atau perdarahan otak (amfetamin, sabu). OD terjadi karena toleransi sehingga perlu dosis yang lebih besar, atau karena sudah lama berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang dahulu digunakan. d. Gejala putus zat
  • 33. 30 Gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan pemakaiannya. Berat atau ringannya gejala tergantung pada jenis zat, dosis, dan lama pemakai. e. Berulang kali kambuh Ketergantungan menyebabkan craving (rasa rindu pada narkoba), walupun telah berhenti pakai. Narkoba dan perangkatnya, kawan - kawan, suasana, dan tempat - tempat penggunaannya dahulu mendorngnya untuk memakai narkoba kembali. Itulah sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh. f. Gangguan perilaku/ mental – social Yakni acuh tak acuh, sulit mengendalikan diri, mudah tersinggung, marah, menarik diri dari pergaulan, serta hubungan dengan keluarga terganggu. Terjadi perubahan mental : gangguan pemutusan perhatian, motivasi belajar/ bekerja lemah, ide paranoid, dan gejala parkinson. g. Gangguan kesehatan Kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh seperti hati, jantung, paru - paru, ginjal, kelenjar endokrin, alat reproduksi, infeksi (hepatitis B/C 80%), HIV/AIDS 40- 50%, penyakit kulit dan kelamin, kurang gizi, penyakit kulit, dan gigi berlubang. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
  • 34. 31 Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid). Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi over dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian. h. Kendornya nilai – nilai Mengendornya nilai – nilai kehidupan agama, sosial, budaya, seperti perilaku seks bebas dengan akibatnya. Sopan santun hilang. Ia menjadi asosial, mementingkan diri sendiri, dan tidak memperdulikan orang lain. i. Masalah ekonomi dan hokum Pecandu terlibat utang, karena berusaha memenuhi kebutuhannya akan narkoba. Ia mencuri uang atau menjual barang milik pribadi atau keluarga. Mungkin juga ia ditahan polisi atau bahkan di penjara. 2.6.2 Bagi Keluarga Suasana nyaman dan tentram terganggu. Keluarga resah karena barang - barang berharga di rumah hilang. Anak berbohon, mencuri, menipu, tak bertanggungjawab, hidup semaunya, dan asosial. Orang tua malu karena memiliki anak pecandu, merasa baesalah, dan berusaha menutupi perbuatan anak. Masa depan anak tidak jelas. Ia putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan. Stres meningkat. Orang tua putus asa sebab pengeluaran uang meningkat karena pemakaian narkoba atau karena anak harus berulang kali dirawat, bahkan mungkin mendekam di penjara. Keluarga harus menanggung beban sosial - ekonomi ini.
  • 35. 32 2.6.3 Bagi Sekolah Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi proses belajar. Siswa penyalahguna mengganggu terciptanya suasana belajar - mengajar. Prestasi belajar turun drastis, tidak saja bagi siswa yang berprestasi, melainkan juga mereka yang kurang berprestasi atau ada gangguang perilaku. Penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan kenakalan dan putus sekolah. Kemungkinan siswa penyalahguna membolos lebih besar daripada siswa yang lain. Penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yang mengganggu suasana tertib dan aman, perusakan barang - barang milik sekolah, atau meningkatnya perkelahian. Mereka juga menciptakan iklim acuh tak acuh dan tidak menghormati pihak lain. Banyak di antara mereka menjadi pengedar atau mencuri barang milik teman atau karyawan sekolah. 2.6.4 Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara Mafia perdagangan gelap selalu berusaha memasok nerkoba. Terjainnya hubungan pengedar atau bandar dengan korban dan terciptanya pasar gelap. Oleh karena itu, sekali pasar terbentuk, sulit memutuskan mata rantai peredarannya. Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan dan kesinambungan pembangunan terncam. Negara menderita kerugian karena masyarakatnyatidak produktif dan kejahatan meningkat, belum lagi sarana dan prasarana yang harus disediakan. 2.8 Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika Ada 5 bentuk penanggulangan masalah narkoba 1. Promotif ( pembinaan) Ditujukan kepada masyarakat yang belum mengunakan narkoba, prinsipnya adalah meningkatkan peranan atau kegiatan agar kelompok ini secara nyata lebih sejahtera sehingga tidak pernah berpikir untuk memperoleh kebahagiaan semu dengan memakai narkoba. dengan pelaku program adalah lembaga kemasyarakatan yang difasilitasi dan diawasi oleh pemerintah.
  • 36. 33 2. Preventif (program pencegahan) Program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar mengetahui seluk beluk narkoba sehingga tidak tertarik untuk mengunakanya. Selain dilakukan oleh pemerintah, program ini juga sangat efektif bila dibantu oleh lembaga propesional terkait, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat. Bentuk kegiatan preventif yang dilakukan: Kampanye anti penyalahgunaan Narkoba Dengan memberikan informasi satu arah tanpa tanya jawab, hanya memberiakan garis besarnya, dangkal dan umum, disampaikan oleh toma, ulama, seniman, pejabat bukan tenaga propesional. Dapat juga dengan mengunakan poster, brosur atau baliho. Dengan misi melawan penyalahgunaan narkoba tanpa penjelasan yang mendalam atau ilmiah tentang narkoba. a. Penyuluhan seluk beluk narkoba. b. Pendidikan dan pelantikan kelompok sebaya. c. Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan distribusi narkoba. dimasyarakat 3. Kuratif (pengobatan) Ditujukan kepada para penguna narkoba. tujuannya adalah untuk mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit, sebagai akibat dari pemakai narkoba, sekaligus menghentikan pemakaian narkoba. tidak sembarangan orang boleh mengobati narkoba. Pengobatan harus dilakukan oleh dokter yang mempelajari narkoba secara khusus. Bentuk kegiatan kuratif. a. Penghentian pemakaian narkoba. b. Penggobatan gangguan kesehatan akibat penghentian dan pemakaian narkoba. c. Penggobatan terhadap organ tubuh akibat penggunaan narkoba. d. Penggobatan terhadap penyakit yang masuk bersama narkoba (penyakit tidak langsung yang disebabkan oleh narkoba) seperti : HIV/AIDS, hepatitis B/C, sifilis, pnemonia, dan lain – lain.
  • 37. 34 4. Rehabilitatif Upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkoba yang sudah menjalanin program kuratif. Tujuanya agar ia tidak memakai lagi dan bebas dari penyakit ikutan yang disebabkan oleh bekas pemakai narkoba, Pemakai narkoba dapat mengalami penyakit ikutan berupa: a. Kerusakan fisik (syaraf, otak, darah, jantng, paru-paru, ginjal, hati dan lain-lain). b. Kerusakan mental, perubahan karakter ke arah negatif . c. Penyakit- penyakit ikutan. Tujuan terapi dan rehabilitasi menurut The Indonesian Florence Nightingale Foundation adalah sebagai berikut: 1. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Tujuan ini tergolong sangat ideal,namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini, terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan jenis NAPZA yang lain. 2. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps. Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah “clean” maka ia disebut “slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps. 3. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini, abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.
  • 38. 35 5. Represif Program penindakan terhadap produsen, bandar, pengedar, dan pemakai berdasarkan hukum. Program ini merupakan program instasi pemerintah yang berkewajiban mengawasi dan mengendalikan produksi maupun distribusi semua zat yang tergolong narkoba. Pencegahan dan penanggulangan narkoba tidak akan sulit jika dilakukan dengan niat kuat untuk terlepas dari jerat narkoba yang didukung dari lingkungan dalam seperti orangtua dan teman dari para korban kecanduan, tahap selanjutnya dapat dilakukan kegiatan seperti pendalaman agama, pindah ke lingkungan yang lebih sehat, dan melalui perhatian serta pengawasan orang-orang terdekatnya. Pencegahaan merupakan upaya yang sangat penting. Untuk mencegah remaja dari penyalahgunaan narkoba hal yang paling penting adalah membentengi diri sendiri dengan imtaq(iman taqwa). Hal-hal yang harus dilakukan diantaranya : 1. Menjaga diri sendiri dan teman terdekat dari hal yang menjurus ke narkoba 2. Pendekatan pada siswa disekolah 3. Latihan peningkatan percaya diri 4. Melatih remja mengelola situasi sehari-hari melalui pendekatan pemecahan masalah dan curhat 5. Memberi kegiatan yang cocok pada kehidupan remmaja 6. Mendorong partisipasi pada kegiatan yang positif 7. Memberi kesempatan agar remaja mengembangkan kegiatannya 8. Membentuk perkumpulan dalam gerakan anti narkoba (say no to drugs) 9. Saling memberi dukungan dan kasih sayang 10. Meningkatkan keterampilan dasar 11. Mencoba mengubah kebiasaan buruk, dan menjauh dari hal-hal yang negative dan yang paling penting adalah selalu waspada, karena banyak modus-modus pengedar narkoba. 12. Melaporkan ke pihak yang berwajib jika mengetahui pengedar/bandar narkoba 13. Memberikan program, terapi dan rehabilitasi 14. Menyediakan sarana konseling untuk para pemakai n pengedar narrkoba. 15. Menciptakan rasa takut mengulang kembali.
  • 39. 36 BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Narkotika merupakan segolongan obat, bahan, atau zat, yang jika masuk ke dalam tubuh berpengaruh terutama pada fungsi otak (susunan saraf pusat) dan sering menimbulkan ketergantungan (adiktif). Terjadi perubahan pada kesadaran, pikiran, perasaan, dan perilaku pemakainya. Oleh karena itu narkotika sangat berbahaya bagi tubuh dan bisa merusak susunan syaraf yang bisa merubah sebuah kepribadian seseorang menjadi semakin buruk. Narkotika adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang bisa merusak norma sehingga menimbulkan dampak negative yang mempengaruhi pada tubuh baik secara fisik maupun psikologis. Banyak faktor yang dapat menyebabakan kalangan remaja bisa terjerumus ke narkoba diantaranya : kurangnya perhatian orang tua, lingkungan yang tidak sehat atau rawan, mudah terpengaruh orang lain, adanya tekanan dari orang lain, dan sebagainya. Dampak dari penyalahgunaan narkoba sendiri dapat menyebabkan hingga kematian. Pencegahan berbagai tindak kriminal, kenakalan remaja, keamanan, kedamaian, keharmonisan, akan mudah diciptakan dengan sikap kepedulian, maka motto bahwa, ”Pencegahan lebih baik dari mengobati”, akan benar-benar terbukti dalam kasus pemakaian obat-obat terlarang. Selain itu upaya penanggulangan narkotika dapat dilakukan dengan cara promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, dan represif. 3.2 Saran Seharusnya pemerintah harus lebih tegas terhadap sanksi – sanksi penyalahgunaan narkotika. Selain itu orang tua juga harus lebih memperhatikan anaknya, sehingga anak tersebut tidak terjerumus ke hal – hal yang negative. Hendaknya orang tua memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
  • 40. 37
  • 41. 38 DAFTAR PUSTAKA Dampak narkoba bagi generas muda. (2014, January17). Retrieved from http://mustainronggolawe.wordpress.com Dampak Penyalahgunaan Narkoba. (n.d.). Retrieved from http://belajarpsikologi.com Dedi. (2012, January 26). Dampak Penyalahgunaan Narkoba dapat membunuh cita-cita bangsa. Retrieved from http://www.bnn.go.id Fradian. (2014, January 26). Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba. Retrieved from http://www.wordpress.com Majannai. (2012, Oktober). Generasi Muda dan Bahaya Narkoba. Retrieved from http://www.blogspot.com Narkoba merupakan ancaman serius bagi generasi muda dan bangsa Indonesia. (2014, Maret 03). Retrieved from http://www.kompasiana.com Ucin. (2013, Maret). Dampak bahaya bagi pelajar. Retrieved from http://uc1n.blogspot.com