Your SlideShare is downloading. ×
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Makalah Kimia Analitik I
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Makalah Kimia Analitik I

9,315

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
9,315
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
211
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. MAKALAH KIMIA ANALITIK I “GRAVIMETRI” DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 2Anis Dwi Lestari : F1C111033Bambang Pamungkas : F1C111009Irma Asrtiana : F1C111045Reno Saputra : F1C111042Suci Mustika Wirni : F1C111038Widya Sulastri :FIC111008 UNIVERSITAS JAMBI 2011/2012
  • 2. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telahmemberikan rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikanmakalah dengan judul “GRAVIMETRI”. Dalam menyelesaikan makalah ini,penulis telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini, masih banyakkekurangan atau bahkan kekeliruan dalam penyusunannya. Untuk itu kritik dansaran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini,bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Jambi, 5 September 2012 Penulis
  • 3. BAB 1 PENDAHULUAN1.Latar Belakang Analisis Gravimetri merupakan salah materi matakuliah kimia analitik yang sangatpenting dan juga merupakan materi wajib dari kurikulum yang telah ditetapkan olehProgram Studi Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin. Analisis Gravimetriadalah suatu bentuk analisis kuantitatif yang berupa penambangan, yaitu suatu prosespemisahan dan penimbangan suatu komponen dalam suatu zat dengan jumlah tertentudan dalam keadaan sempurna mungkin.2.Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : Untuk melaksanakan tugas Kimia Analitik Menjadi Pegangan bagi Mahasiswa Yang ingin memahami konsep Analisis Gravimetri. Menjadi referensi tambahan yang menunjang keberhasilan pembelajaran matakuliah kimia Analitik.3.Metode penulisan Dalam penulisan makalah ini,kami memperoleh kajian materi dari beberapasumber,yaitu studi literatur buku-buku yang terkait dengan topik dan berbagai artikeldan internat.
  • 4. BAB 2 PEMBAHASANA. ANALISIS GRAVIMETRI Dalam analisis kuantitatif selalu memfokuskan pada jumlah atau kuantitas dari sebuah sampel, pengukuran sampel dapat dilakukan dengan menghitung berat zat, menghitung volume atau menghitung konsentrasi. Gravimetri merupakan penetapan kuantitas atau jumlah sampel melalui penghitungan berat zat. Sehingga dalam gravimetri produk harus selalu dalam bentuk padatan (solid). Alat utama dalam gravimetri adalah timbangan dengan tingkat ketelitian yang baik. Umumnya reaksi kimia tidak dalam ukuran besar seperti kilogram, namun dalam satuan yang lebih kecil seperti gram dan mili gram. Timbangan yang dipergunakan memiliki ketelitian yang tinggi atau kepekaan yang tinggi dan disebut dengan neraca analitik atau analytical balance. Dalam melakukan analisis dengan teknik gravimetric, kemudahan atau kesukaran dari suatu zat untuk membentuk endapan dapat diketahui dengan melihat kelarutannya atau melihat harga dari hasil kali kelarutan yaitu Ksp. Jika harga Ksp suatu zat kecil maka kita dapat mengetahui bahwa zat tersebut sangat mudah membentuk endapan. Ingat definisi kelarutan; kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut adalah jumlah zat tersebut sebanyak-banyaknya yang dapat larut dalam pelarut pada suhu tertentu sehingga larutan tepat jenuh. Analisis gravimetri adalah salah satu metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam keadaan murni. Gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Gravimetri juga merupakan suatu analisis kimia secara kuantitatif berdasarkan proses pemisahan dan penimbangan suatu unsur atau senyawa tertentu dalam bentuk semurni mungkin. Dalam reaksi pembentukan endapan, dimana endapan merupakan sampel yang akan kita analisis, maka dengan cermat kita dapat memisahkan endapan dari dari zat-zat lain yang juga turut mengendap. Proses ini cukup sulit
  • 5. dilakukan, namun cara yang paling umum adalah mengoksidasi beberapa zatyang mungkin mengganggu sebelum reaksi pengendapan dilakukan. Pencucian endapan merupakan tahap selanjutnya, proses pencucianumumnya dilakukan dengan menyaring endapan, yang dilanjutkan denganmembilasnya dengan air. Tahap akhir dari proses ini adalah memurnikanendapan, dengan cara menguapkan zat pelarut atau air yang masih ada didalamsampel, pemanasan atau mengeringkan dalam oven lazim dilakukan. Akhirnyapenimbangan sampel dapat dilakukan dan hasil penimbangan adalah kuantitassampel yang dianalisis. Analisis Gravimetric adalah suatu bentuk analisiskuantitatif yang berupa penambangan, yaitu suatu proses pemisahan danpenimbangan suatu komponen dalam suatu zat dengan jumlah tertentu dandalam keadaan sempurna mungkin. Secara mendasar gravimetri digolongkan menjadi empat bagian antara lain:gravimetri fisik, thermogravimetri, analisis pengendapan gravimetri, danelektrodeposisi. Beberapa hal tentang gravimetri:1. Waktu yang diperlukan untuk analisa gravimetri, menguntungkan karena tidak memerlukan kalibrasi atau standarisasi. Waktu yang diperlukan dibedakan menjadi 2 macam yaitu: waktu total dan waktu kerja.2. Kepekaan analisa gravimetri, lebih ditentukan oleh kesulitan untuk memisahkan endapan yang hanya sedikit dari larutan yang cukup besar volumenya.3. Ketepatan analisa gravimetri, untuk bahan tunggal dengan kadar lebih dari 100 % jarang dapat ditandingi perolehannya.4. Kekhususan cara gravimetri, pereaksi gravimetri yang khas (spesifik) bahkan hampir semua selektif dalam arti mengendapkan sekelompok ion. Banyaknya komponen dari suatu analisis biasanya ditentukan melaluihubungan massa atom, massa molekul dan berat senyawa. Contoh : penentuanion besi dalam suatu cuplikan. Pemisahan ion besi dilakukan denganmereaksikan cuplikan de NH4OH sehingga terbentuk endapan Fe(OH)3 apabilaberat cuplikan adalah A gram, berat senyawa Fe(OH)3 adalah a gram, makapersen Fe dalam Cuplikan adalah Metode dalam Analisis Gravimetri salah satunya metode pengendapan.
  • 6. B. PENGENDAPAN Pembentukan endapan dibedakan menjadi 2 macam yaitu: 1. Endapan dibentuk dengan reaksi antar analit dengan suatu pereaksi, biasanya berupa senyawa baik kation maupun anion. Pengendapan dapat berupa anorganik maupun organik 2. Endapan dibentuk cara elektrokimia (analit dielektrolisa), sehingga terjadi logam sebagai endapan, dengan sendiri kation diendapkan. Keadaan optimum untuk pengendapan. Untuk memperoleh keadaan optimum harus mengikuti aturan sbb: a. Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer, yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat koresipitasi. b. Peraksi dicampur perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan tetap. c. Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi. d. Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari adanya koprespitasi. e. Endapan harus dicuci dengan larutan encer. f. Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang Syarat- syarat endapan gravitasi.1. Kesempurnaan pengendapan: Pada pembuatan endapan harus diusahakan kesempurnaan pengendapan tersebut dimana kelarutan endapan dibuat sekecil mungkin.2. Kemurnian endapan (kopresipitasi): Endapan murni adalah endapan yang bersih, tidak mengandung, molekul-molekul lain (zat-zat lain biasanya pengotor atau kontaminan).3. Endapan yang kasar: Yaitu endapan yang butir-butirnya tidak keecil, halus melainkan.
  • 7. 4. Endapan yang bulky: Endapan dengan volume atau berat besar, tetapi berasal dari analit yang hanya sedikit.5. Endapan yang spesifik: Pereaksi yang digunakan hanya dapat mengendapkan komponen yang dianalisa. Macam-macam endapan a. Endapan koloid AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(AQ) NaCl akan mengendapkan reagent: AgCl pembentukan endapan koloid (amorf) b. Endapan kristal: Endapan tipe ini lebih mudah dikerjakan karen mudah disaring dan dibersihkan. c. Endapan yang dibawa oleh pengotor (Co precipitation). Sumber-sumber Co prepicitation:1) absorbi permukaan, 2) pembentukan campuran kistal, 30 mekanika. d. Endapan homogen (homogenous precipitatoin): Endapan homogen adalah cara pembentukan endapan dengan menambahkan bahan pengandap tidak dalam bentuk jadi melainkan sebagai suatu senyawa yang dapat menghasilkan pengendap tersebut. Contoh: homogenos prepicitation tidak digunakan etil oksalat (C2H5O)C2O yang tidak dapat mengion menjadi C2O42- tetapi harus terhidrolisa sbb: (C2H5O)2C2O4 + 2H2O 2C2H5OH + H2C2O4 Pengotoran endapan Macam-macam pengotor yang dibedakan menjadi dua yaitu: 1. Pengotoran karena pengendapan sesungguhnya adalah: a.Pengendapan bersama (simultaneous precipitation). Kotoran mengendap bersama waktu dengan endapan analit. Contoh: Al(OH) sebagai pengotor Fe(OH)3. b.Pengendapan susulan (post precipitation).
  • 8. 2. Pengotoran karena terbawa (Co-precipitation). Pengotoran ini tidak mengendap melainkan hanya terbawa ole endapan analat. a.Kotoran isomorf dan dapat campur dengan inang ini dapat terjadi bila bahan pengotoran dan endapan mempunyai kesamaan tipe rumus molekul maupun bentuk molekul. b.Kotoran larut dalam inang dimana zat sendiri larut dalam zat padat lalu ikut terbawa sebagai kotoran. Contohnya Ba(NO3)2 dan KNO3 yang larut dalam BaSO4 pada kedua jenis pengotoran diatas kotoran tersebar diseluruh kristal. c.Kotoran teradsorpsi pada permukaan endapan. Terjadi karena gaya tarik menarik antara ion yang teradsorpsi dan ion-ion lawannya pada permukaan endapan d.Kotoran teroklusi oleh inang (terkurung). Dapat terjadi apabila kristal tumbuh terlalu cepat dari butirn kecil menjadi besa dalam hal ini ion tidak sempat dilepaskan, tetapi sudah tertutup dalam kristal.Usaha mengurangi pengotor1. Sebelum membentuk endapan dengan jalan menyingkirkan bahan-bahan yangakan mengotori2.Selama membentuk endapan. Endapan hanya terbentuk bila larutan yangbersangkutan lewat jenuh terhadap endapan tersebut yaitu larutan mengandungzat itu melebihi konsentrasi larutan jenuh, dengan tahap-tahap sebagai berikut:Tahap I: Pada pengembangan ialah nukleai dalam hal ini ion-ion dari molekulyang akan diendapkan mulai terbentuk inti yaitu pasangan beberapa ion menjadibutir-butir miniskus (sangat kecil).Tahap II: Pertumbuhan kristal yaitu inti tersebut menarik molekul lain sehinggdari kumpulan hanya beberapa molekul tumbuh menjadi butiran lebih besarTahap tahap dari Metode Pengendapan1.Tambahkan pereaksi pada cuplikan2. Pisahkan komponen yang akan dianalisis dengan pengendapan3. Ditapis
  • 9. 4. Cuci dengan Elektrolit yang mengandung ion sejenis untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada permukaan dan juga mencegah peptisasi. 5. Untuk mengetahui kadar kotoran setelah pencucian bisa dicari dengan rumus keterangan: Cn = konsentrasi kotoran setelah dicuci sebanyak n kali Co = konsentrasi kotoran sebelum dicuci U = Volume sisa stelah endapan dikeringkan V = Volume Cairan yang digunakan setiap pencucian 6. Panaskan Alat yang biasanya digunakan sebagi penapis dalam analisis gravimetri adalah : kertas Saring, Gelas Sinter, krus gooch. Alat pemanasnya adalah Oven listrik dan tungku. Selain alat-alat diatas ada pula alat yang disebut Eksikator dengan fungsi untuk menyimpan suatu bahan agar memiliki kadar air yang tetap. Syarat bentuk senyawa yang diendapkan 1. Kelarutannya rendah 2. Endapan mudah disaring dan dicuci 3. Endapan mudah diubah menjadi bentuk senyawa yang dapat ditimbangC. METODE PENGUAPAN Digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Yaitu dengan cara: a. Pemanasan dalam udara atau gas tertentu b. Penambahan pereaksi sehingga mudah menguap c. Penambahan pereaksi sehingga tidak mudah menguap Zat-zat yang relatif mudah menguap bisa diabsorpsi dengan suatu absorben yang sesuai dan telah diketahui berat tetapnya. Untuk penentuan kadar air suatu kristal dalam senyawa hidrat, dapat dilakukan dengan memanaskan senyawa dimaksud pada suhu 110O- 130O C. Berkurangnya berat sebelum pemanasan
  • 10. menjadi berat sesudah pemanasan merupakan berat air kristalnya. Asal senyawa tidak terurai oleh pemanasan. Atau bisa juga menggunakan zat pengering seperti : CaCl2, Mg(ClO4)2. Penentuan CO2 dalam senyawa karbonat dapat dilakukan dengan penambahan HCl berlebih, kemudian dipanaskan.gas CO2 yang sudah terjadi dialirkan dalam larutan alkali yaitu KOH (25-30%) atau larutan CaOH2 yang telah diketahui beratnya. Penentuan NH3 dalam garam Amonium, yaitu garam ditambahkan larutan alkali kuat berlebih dan dipanaskan. Gas NH3 yang terjadi dialirkan dalam larutan standar asam berlebih kemudian kelebihannya dititrir dengan larutan standar basa. Penentuan Nitrogen dalam protein, mula-mula senyawa didestruksi dengan H2SO4 pekat. Hasilnya ditambahkan basa berlebih dan dipanaskan. Selanjutnya kelebihan asam dititrir dengan larutan standar basa. Penentuan unsur Natrium atau Kalium, yaitu larutan itu diuapkan dengan H2SO4 sampai kering. Kemudian sisanya berupa garam sulfat ditimbang. Dan segitulah berat unsur yang dicari. Unsur-unsur lain yang mengganggu seperti Si, dapat ditentukan dengan memanaskan cuplikan bersama H2SO4 dan HF dalam krus platina. Dimana Si berubah menjadi SiF4 yang menguap, sesuai persamaan SiO2 + 6HF à H2SiF6 + 2H2O H2SiF6 à SiF4 + 2HFD. METODE ELEKTROLISIS Prinsipnya senyawa ion yang akan diendapkan dipisahkan secara elektrolisis pada elektrode-elektrode yang sesuai. Sehingga jika elektrolisisnya cermat dapat terhindar dari peristiwa kopresipitasi dan post-presipitasi. 1. Hukum dasar dari elektrolisis Hukum dasar yang digunakan dalam metode ini adalah : Hukum Faraday dan Hukum Ohm. Hukum Faraday I
  • 11. Menyatakan hubungan antara banyaknya zat yang terendap atau terbebas pada elektroda dengan banyaknya listrik yang diperlukan pada proses tersebut. W = e x Q/F W = Jumlah zat terendap/terbebaskan (gr) Q = Jumlah listrik yang dibutuhkan (Colloumb) e = berat ekivalen Elektrokimia Berat Ekivalen elektrkimia adalah bilangan yang menyatakan banyaknya zat yang terendap atau oleh listrik sebanyak 1 colloumb. Contoh : arus 0,2 colloumb dialirkan pada dua keping tembaga (Cu) yang telah ditentukan massa tetapnya. Dan dicelupkan dalam garam Kuprisulfat (CuSO4) selama t detik. Kemudian dicuci dan dikeringkan serta ditimbang, ternyata beratnya lebih berat dari pada sebelum dielektrolisis. Karena adanya logam Cu yang terendapkan pada elektroda. Dimana banyaknya logam Cu yang terendapkan bertambah setiap penambahan arus maupun waktu. Adapun listrik yang dibutuhkan adalah : Q = i x t dengan i = arus, t = waktu dan Q = listrik yang dibutuhkan. Hukum Faraday II Menyatakan Hubungan antara banyaknya zat terendap atau terbebaskan pada elektrolisis bertahap dalam seri larutan. Bunyi hukumnya : ”banyaknya zat terendap atau terpisahkan dari masing- masing elektroda yang disebabkan oleh listrik yang sama banyaknya dan mengalir dalam seri larutan adalah sebanding dengan berat ekivalen kimianya” Misalnya : arus 1 amper dialirkan dalam suatu seri larutan : kupri sulfat (CuSO4) dan perak nitrat (AgNO3) dalam waktu t, banyaknya logam Cu dan Ag yang terendapkan pada masing-masing elektroda = Hukum Ohm Menyatakan hubungan antar tiga besaran listrik yaitu : tegangan (E), arus (I) dan tahanan (R) yang memenuhi persamaan2. Tegangan peruraian Misalnya tegangan 0,5 Volt digunakan pada 2 buah elektroda platina halus yang masing-masing dicelupkan dalam larutan H2SO4 1M, maka
  • 12. amperemeter akan menunjukan adanya arus yang mengalir pada larutan. Jikategangan diperbesar maka aruspun bertambah. Sehingga pada tegangantertentu arus akan naik secara cepat. Pada saat ini timbul gelembung-gelembung pada elektroda.Tegangan peruraian adalah besarnya tegangan luar minimum yang harusdiberikan agar terjadi proses elektrolisis yang kontinyu.Jika Arus diputus, tegangan pada voltmeter tidak berubah, tetapi semakinlama arus makin lemah dan pada akhirnya nol. Pada saat itu sel E berfungsisebagai sumber arus dan tegangannya disebut tegangan Polarisasi. Dilihatdari besarnya tegangan peruraian larutan asam dan basa dapat disimpulkanbahwa pada proses elektrolisis larutan asam dan basa relatif sama, yaituterjadinya proses pembebasan gas.A.3.3. Reaksi ElektrodaElektroda Pt dan CPada katoda terjadi proses Reduksi dan pada Anoda terjadi proses Oksidasi.a.Proses Reduksi pada KatodaJika Larutan mengandunga.1. Ion logam alkali, alkali tanah, Al3+,Mn2+, didalam larutan ion-iontersebut tidak dapat tereduksi. Sehingga palrtlah yang akan mengalamireduksi.2 H2O + 2 e- à 2 OH- + H2a.2. Asam, ion H+ dari asam tersebut akan tereduksi menjadi gas H22 H+ + 2 e- à H2a.3. ion logam lain selain poin a.1, dimana ion tersebut akan tereduksimenjadi logam bebasnya.Zn++ + 2e- + à ZnAg+ + e- à Agb.Proses Oksidasi pada AnodaApabila larutan mengandung :b.1. ion halida, akan tereduksi menjadi halogen2 Hal- à Hal2 + 2 e-b.2. ion OH- dari suatu basa, teroksidasi menjadi okisigen.
  • 13. 4 OH- à 2 H2O + O2 + 4 e- b.3. Anion lain selain halogen dan OH-, ion tersebut tidak teroksidasi sehingga pelarutnya yang teroksidasi. Elektroda selain Pt dan C Logam lainnya yang biasa digunakan sebagai elektroda adalah : Cu, Zn, Fe, Au dan lain-lain. Perbedaan dengan elektroda Pt dan Cu yaitu hanya pada reaksi Anodanya sedang katodanya relatif sama. Dimana anodanya teroksidasi menjadi ionnya. Contoh: elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Zn. Reaksi anodanya : Zn à Zn2+ + 2 e- Contoh menentukan tegangan peruraian K dalam larutan molar ZnBr2, dicelupkan elektroda Pt yang halus.dan diberikan beda potensial sehingga terjadi proses elektrolisis. Dimana pada katoda berlangsung proses : Zn2+ + 2 e- à Zn dan pada anoda : 2 Br- Br2 + 2 e- Potensial pada katoda (25OC) adalah.3. Tegangan kelebihan Pada kenyataannya besarnya tegangan peruraian tergantung pada jenis elektroda yang digunakan dan biasanya ebih tinggi dari yang dihitung dengan rumus diatas. Perbedaan besarnya tegangan tersebut yang disebut tegangan kelebihan. Dengan adanya tegngan tersebut maka tegangan peruraian menjadi : dengan Eekat = tegangan kelebihan pada katoda, dan Eeand = tegangan kelebihan pada anoda. Besarnya tegangan kelebihan baik pada katoda mapun anoda merupakan fungsi dari : Jenis dan sifat fisik logam dari elektroda Sifat fisik zat yang terendap atau terbebas, jika logam tegangan kelebihannya kecil dan jika gas relatif lebih besar Kerapatan arus yang digunakan Perubahan konsentrasi larutan
  • 14. E. KESALAHAN DALAM ANALISIS GRAVIMETRI 1. Kesalahan yang sering terjadi pada metode analisis gravimetri adalah pembentukan endapan, pemurnian(pencucian), pemanasan atau pemijaran dan penimbangan 2. Pada pembentukan endapan kadang mengandung zat lain yang juga membentuk endapandengan pereaksi yang digunakan, sehingga diperoleh hasil yang lebih besar dari yang sebenarnya. Kesalahan ini kadang dimbangi dengan kelarutan zatdalam pelarut yang digunakan. 3. Pada proses pemurnian (pencucian endapan), dengan melakukan pencucian bukanhanya zat pengotor sajayang larut tetapi juga zat yang dianalisis juga ikut larut,meskipun kelarutannya jauh lebih kecil. Dengan demikan penggunaan pencuciharus sedemikan kecil supaya kehilangan zat yang dianalisis masih dapatdiabaikan, artinya masih lebih kecil dari pada sensitivitas timbangan yangdigunakan 4. Pada proses pembakaran atau pemijaran kadang terjadi pelepasan air yang tidak sempurna atau sifat zatyang diendapkan yang mudah menguap (volatil). 5. Hal yang penting juga adalah adanya beberapa endapan yang mudah tereduksioleh karbon bila disaringdengan kertas saring seperti perak klorida, sehinggaharus disaring dengan menggunakan cawan penyaring (berpori) dapat juga terjadikelebihan pemijaran sehingga terjadi dekomposisi sehingga komposisi zat tidak tentu 6. Kesalahan juga terjadi dari suatu endapan yang telah dipijarkan akan mengalami penyerapan air atau gaskarbondioksida selama pendinginan sehingga hasil penimbangan menjadi lebih besar dari yang seharusnya, ini dihindari dengan alat penggunaan penutup cawan yang rapat dan desikator yang cukup baik selama pendinginan,

×