ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE<br /><ul><li>Dx. 1: Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui f...
Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
Intervensi :
Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi. (R/: Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan ya...
Pantau intake dan output. (R/: Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti).
Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium. (R/: Menilai status hidrasi, elektrolit dan k...
Kolaborasi pelaksanaan terapi definitive dengan pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan ant...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Askep anak diare

15,525 views
15,378 views

Published on

2 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
15,525
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
134
Comments
2
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep anak diare

  1. 1. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE<br /><ul><li>Dx. 1: Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
  2. 2. Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
  3. 3. Intervensi :
  4. 4. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi. (R/: Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses).
  5. 5. Pantau intake dan output. (R/: Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti).
  6. 6. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium. (R/: Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa).
  7. 7. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitive dengan pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan antara lain higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vakinasi.. (R/: Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui).
  8. 8. Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.
  9. 9. V. parahaemolyticus,
  10. 10. E. coli, tidak memerluka terapi spesifik.
  11. 11. C. perfringens, spesifik.
  12. 12. A. aureus : Kloramfenikol
  13. 13. Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon sepertiSiprofloksasin
  14. 14. Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
  15. 15. Helicobacter: Eritromisin
  16. 16. Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazo
  17. 17. Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
  18. 18. Balantidiasis: Tetrasiklin
  19. 19. Candidiasis: Mycostatin
  20. 20. Virus: simtomatik dan suportif 
  21. 21. Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
  22. 22. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan.
  23. 23. Intervensi:
  24. 24. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut. (R/: Menurunkan kebutuhan metabolic).
  25. 25. Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan. (R/: Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi).
  26. 26. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet. (R/: Memenuhi kebutuhan nutrisi klien).
  27. 27. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi. (R/: Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut).
  28. 28. Dx.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
  29. 29. Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal
  30. 30. Intervensi:
  31. 31. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi. (R/: Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri).
  32. 32. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen. (R/: Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan meningkatkan kemampuan koping).
  33. 33. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan air setelah defekasi dan berikan perawatan kulit. (R/: Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi).
  34. 34. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi. (R/: Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis). Berikan obat Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin dan oksifenonium.
  35. 35. Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal. (R/: Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya).
  36. 36. Dx. 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
  37. 37. Tujuan : Gangguan kulit teratasi.
  38. 38. Kriteria Hasil: Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada.
  39. 39. Intervensi:
  40. 40. Ganti popok anak jika basah.
  41. 41. Bersihkan bokong secara perlahan menggunakan sabun non alkohol.
  42. 42. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
  43. 43. Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
  44. 44. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai indikasi
  45. 45. Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
  46. 46. Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.Intervensi :
  47. 47. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat. (R/: Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah).
  48. 48. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama. (R/: Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian).
  49. 49. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien. (R/: Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan).
  50. 50. Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
  51. 51. Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
  52. 52. Intervensi :
  53. 53. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya. (R/: Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya).
  54. 54. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari. (R/: Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien).
  55. 55. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul. (R/: Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan).
  56. 56. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi. (R/: Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya).
  57. 57. Dx. 6 : Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru.
  58. 58. Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan.
  59. 59. Intervensi :
  60. 60. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan. (R/: Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan).
  61. 61. Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin. (R/: Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress).
  62. 62. Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien. (R/: Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal).</li></ul>RENCANA TERAPI C: Penanganan Dehidrasi Berat dengan Cepat.<br /><ul><li>Beri cairan intarvena secepatnya. Jika anak bias minum, beri oralit melalui mulut, sementara infuse disiapkan. Beri 100ml/kgBB cairan Ringer Laktat atau Ringer asetat (atau jika tidak tersediaa, gunakan larutan NaCl) yang dibagi sbegai berikut.UmurPemberian pertama 30ml/kg selamaPemberian selanjutnya 70ml/kg selamaBayi (< 12 bulan)1 jam*5 jamAnak (12 bulan – 5 tahun)30 menit*2 ½ jam*Ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tidka teraba.Periksa kembali anak setiap 15 – 30 menit. Jika status hidrasi belum membaik, beri tetesan intravena lebih cepat.Juga beri oralit ( kira-kira 5 ml/kg/jam segera setelah anak mau minum. Biasanya sesudah 3 – 4 jam (bayi) atau 1 – 2 jam (anak) dan beri anak tablet zinc sesuai dosis dna jadwal yang dianjurkan.Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam. Klasifikasikan dehidrasi. Kemudian pilih rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C). untuk melanjutkan penanganan.Rujuk SEGERA unutk pengobatan intravena.Jika anak bisa minum, beri ibu larutan oralit dan tunjukkan cara meminumkan pada anak sedikit demi sedikit selama dalam pejalanan.Mulailah melakukan rehidrasi dengan oralit melalui pipa nasogastrik atau mulut. Berikan 20 ml/kg/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg).Periksa kembali anak setiap 1 -2 jam.Jika anak muntah terus-menerus atau perut makin kembung, beri cairan lebih lanjut.Jika setelah 3 jam keadaan hidrasi tidka membaik, rujuk anak untuk pengobatan intravena.Sesudah 6 jam, periksa kembali anak. Klasifikasikan dehidrasi. Kemudian tentukan rencana terpai yang sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan pengoabatan. CATATAN:Jika mungkin, amati anak sekurang-kurangnya 6 jam setelah rehidrasi untuk meyakinkan bahwa ibu dapat mempertahankan hidrasi dengan pemberian cairan oralit per oral.MULAIDapatkah saudara segera member cairan intravena?Apakah ada fasilitas pemberian cairan intravena yang terdekat (dalam 30 menit)?Apakah saudara telah dilatih menggunakan pipa nasogastrik untuk rehidrasi?Apakah anak masih bisa minum?Rujuk SEGERA ke rumah sakit untuk pengobatan i.v atau NGT/OGT.TIDAKTIDAKTIDAKTIDAKYAYAYAIkuti tanda panah, jika jawaban ‘ya’ lanjutkan ke kanan, jika jawaban ‘tidak’, lanjutkan ke bawah.</li></ul>RENCANA TERAPI B : Penanganan Dehidrasi Sedang.Ringan dengan Oralit.<br />Beri oralit di klinik sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam.<br /><ul><li>Tentukan jumlah oralit untuk 3 jam pertama.
  63. 63. UmurSampai 4 bulan4 – 12 bulan12 – 24 bulan2 – 5 tahunBerat badan< 6 kg6 – 10 kg10 – 12 kg12 – 19 kgJumlah cairan200 - 400400 -700700 - 900900 – 1400
  64. 64. Jumlah cairan yang diperlukan = 75 ml/kg berat badan.
  65. 65. Jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman di atas, berikan sesuai dengan kehilangan cairan yang sedang berlangsung.
  66. 66. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusui, beri juga 100 – 200 ml air matang selama periode ini.
  67. 67. Mulailah member makan segera setelah anak ingin makan.
  68. 68. Lanjutkan pemberian ASI.
  69. 69. Tunjukkan kepada ibu cara memberikan larutan oralit.
  70. 70. Minumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari gelas/cangkir.
  71. 71. Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan pemberian oralit dengan lebih lambat.
  72. 72. Lanjutkan ASI selama anak mau.
  73. 73. Berikan tablet zinc selama 10 hari.
  74. 74. Setelah 3 jam.
  75. 75. Jika ibu memaksa pulang sbeelum pengobatan selesai:
  76. 76. Tunjukkan cara menyiapkan larutan oralit di rumah.
  77. 77. Tunjukkan berpa banyak larutan oralit yang haru sdiberikan di rumah untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan.
  78. 78. Beri oralit yang cukup untuk rehidrasi dengan menambahkan 6 bungkus lagi sesuai yang dianjurkan dalam Rencana Terapi A.
  79. 79. Jelaskan 4 aturan perawatan di rumah : beri cairan tambhan, lanjutkan pemberian makan, beri tablet zinc, dan kapan harus kembali.</li></ul>RENCANA TERAPI A: Penanganan Diare Di Rumah.<br />Jelaskan kepada ibu tentang empat aturan perawatan di rumah: beri cairan tambahan, beri tablet zinc, lanjutkan pemberian makan, dan kapan harus kembali.<br /><ul><li>Beri cairan tambahan.
  80. 80. Jelaskan kepada ibu:
  81. 81. Pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
  82. 82. Jika anak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan.
  83. 83. Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini: oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin), atau air matang.</li></ul>Anak harus diberi larutan oralit di rumah jika:<br /><ul><li>Anak telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C dalam kunjungan ke klinik.
  84. 84. Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah parah.
  85. 85. Ajari Ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri Ibu 6 bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan di rumah.
  86. 86. Tunjukkan kepada Ibu berapa banyak cairan termasuk oralit yang harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairannya sehari-hari.
  87. 87. Untuk usia < 2 tahun : 50 sampai 100 ml setiap kali BAB.
  88. 88. Untuk usia > 2 tahun : 100 sampai 200 ml setiap kal BAB.
  89. 89. Katakan kepada Ibu:
  90. 90. Agar meminumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari gelas/cangkir.
  91. 91. Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan pemberian oralit dengan lebih lambat.
  92. 92. Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare terhenti.
  93. 93. Beri tablet zinc.
  94. 94. Pada anak berumur 2 bulan ke atas, beri tablet Zinc selama 10 hari dengan dosis:
  95. 95. Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari.
  96. 96. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari.
  97. 97. Lanjutkan pemberian makan/ASI.
  98. 98. Kapan harus kembali.

×