Your SlideShare is downloading. ×
Gadis manis di dalam bis        Seneng deh akhirnya udah naik kelas tigadengan sukses tanpa remidi yang berarti. Meskipunh...
Raka, yang suka ngomong pake’ pantun, Dela yangseneng nyobain cutex pas pelajaran, ada juga si kembarEdo dan Edi yang mesk...
tokcer juga. Kemarin aja dia dapet rangking 3 paskenaikan kelas. Anehnya setiap bicara selalu diawalidengan pantun, baik y...
Ada Pompi si pujangga kapiran yang endut nggakketulungan (beratnya mencapai 1 kuintal 2 kilo), adaRhena si imut, ada Yoshi...
banyumas bikinan bunda yang lezat nan memikat untukOm Sis yang tinggal di Purbalingga. Om Sis, adik bundayang jadi ABRI it...
Oliv nggak perlu takut mengecewakan pengemis danpengamen jalanan itu. Oliv membuka tabloid yang barusaja dibelinya dari tu...
sekarang Rika jadi senang menyendiri ketimbangngeceng dengan geng-nya. Padahal, biasanya merekabertiga udah nongkrong di k...
memuji. Rika hanya menarik nafas panjang. ”nggak ah,aku nggak pede” jawabnya singkat. ”Ayo dong, kamuharus pede, ini bagus...
”Iya... ha.... ha.... ha” Rika tergelak, mungkin dia sedangmembayangkan ibunya ngomel-ngomel.         Untuk membiayai hidu...
terminal. Rika hampir putus asa karenanya. ”Liv, dariawal sebenernya gue udah tahu, cerpenku nggakbakalan dimuat, jadi gue...
Dimas. ”Oke deh om, sekali lagi terima kasih banyak”jawab Oliv.         Habis dari redaksi majalah LENTERA, Oliv nggaklang...
12
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Serial Oliv Buku 3 Bab 1 :Gadis manis dalam bis

797

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
797
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Serial Oliv Buku 3 Bab 1 :Gadis manis dalam bis"

  1. 1. Gadis manis di dalam bis Seneng deh akhirnya udah naik kelas tigadengan sukses tanpa remidi yang berarti. Meskipunhari-hari baru di kelas baru masih menyisakankesedihan baginya. Aldo, sudah tak nampak lagiberseliweran di sekolah ini. Hatinya mencelos. Olivselalu mengingat kenangan manisnya dengan Aldo. Saathari-hari terakhir sebelum dia pergi ke Jakarta. Ohh, Olivmerasa sangat kesepian. 2 bulan sebelum kepergiannya,Aldo tak pernah lupa menjemput Oliv sekolah. Malamminggu selalu candle light dinner di kafe ”marisa”. Kafelangganan yang murah tapi enak. Nggak cuma itu ajaOliv sedih, pasalnya dia mesti pisah ama ketigasohibnya. Kiki dan Engel berhasil masuk jurusan IPAyang udah lama diidam-idamkannya, sedangkan Erlyyang tadinya ikut-ikutan mau masuk IPA (dia sudah satupaket ama Engel jadi nggak bisa dipisahin) ditolakgosong-gosong (kalo’ mentah-mentah udah biasa kali!)sama Pak Andre (ketua jurusan IPA) lantaran nilai Fisikadan Biologinya nggak memenuhi syarat. Walhasil Erlyterpaksa masuk jurusan IPS, karena nilai sejarahnyalumayan bagus. Oliv sendiri masuk jurusan bahasa, daridulu Oliv emang pengen jadi penulis ulung, so, jurusanbahasa menjadi final destination-nya. Di kelas ini Olivbanyak mendapatkan teman baru. Diantaranya ada 1
  2. 2. Raka, yang suka ngomong pake’ pantun, Dela yangseneng nyobain cutex pas pelajaran, ada juga si kembarEdo dan Edi yang meskipun kembar tapi bodi danparasnya beda persis kaya’ tokoh di sinetron Jono danLono, padahal jarak kelahirannya cuma 2 hari (ya pantesaja, si Edi kelamaan di perut jadi mengkerut kali!).Tadinya Oliv pikir itu cuma rekayasa si pembuatskenario sinetron, tapi ternyata di kehidupan nyata adajuga lho. Ngomong-ngomong soal si kembar, terdapatperbedaan perlakuan teman-teman kepada keduanya.Contohnya pas si kembar dibeliin moge yang samapersis ama kedua orang tuanya hadiah ulang tahun ke17. Keduanya pun mengendarai motor itu ke sekolah,komentar yang mampir untuk Edo ”Wah..., keren! Kaya’James Bond!” diselingi teriakan histeris cewek-cewekyang kebetulan ngeliat. Sedangkan komentar untuk Edi“Awas! Ada Mandragade lewat!!!” sambil ketawacekakakan. Begitu juga pas keduanya kena belekan(sakit mata merah dan menular) sehingga mesti pake’kacamata hitam ke sekolah. Komentar yang datangpada Edo ”Wow!, kaya’ yang di film matrix tuh!” dankomentar untuk Edi ”Wah, ada tukang pijit nih!”. Adalagi kejadian pas Edo dan Edi ngajakin kencan samacewek idamannya. Edo nuangin air ke gelas si cewek,dan orang-orang berkomentar ”Gentleman benercowok lu”. Edi yang juga nuangin air ke gelas si cewekdikomentarin “maklum, naluri pembantu” Idiiiiih....bener-bener kelewatan! Meski kembar, mereka ituberbeda loh, dan meskipun beda mereka itu kembar! Raka, yang asli orang Gunung Kidul Jogjakartangomongnya medhok banget. Meskipun begitu otaknya 2
  3. 3. tokcer juga. Kemarin aja dia dapet rangking 3 paskenaikan kelas. Anehnya setiap bicara selalu diawalidengan pantun, baik yang satu baris sampiran satu barisisi, maupun dua baris sampiran dua baris isi. ”Makankue, makan kedondong, pinjemin gue pensil dong!”katanya suatu saat pada Oliv. ”Nggak punya” jawab Olivsingkat. ”beli acar nggak punya duit, dasar anak pelit!”ujarnya lagi. ”eh, udah minjem ngatain gue pelit lagi!Dibilang nggak punya ya nggak punya tau!” Olivmembalas dengan judes. ”Singa barong banyak bulu,kalo’ ngomong dipikir dulu, liat tuh pensil punya siapa?”Raka menunjuk pensil yang lagi dipake’ Oliv nulis.”Sialan! LAGI DIPAKE’! DASAR KATRO!” Oliv jadi tambahsebel, udah medhok, ngatain orang, nggak modal, mauminjem pensil yang lagi dipake’ lagi! Lain lagi soal Dela, dia demen banget nyobaincutex pas pelajaran. Hari ini warnanya hijau, besoknyapink, pas abis istirahat kedua warnanya udah diubahlagi jadi silver. Hiii hii, cepet banget berubah ya, kaya’bunglon aja. Setiap pelajaran pasti punya jam bosan,yaitu saat dimana otak sudah mencapai titik kulminasidan nggak bisa dimasukin ilmu lagi. Ibarat ember udahterlalu penuh airnya, hingga membludak, artinya pikiranudah nggak fokus lagi dan melebar kemana-mana. Dansetiap anak punya caranya sendiri untuk menghilangkanrasa boring, ada yang main catur di kolong meja, adayang terlelap dengan sukses di bangku mereka masing-masing, ada juga yang pamitnya mau ke belakangternyata ke kantin sekedar buat beli POP ICE. Emangnggak salah sih, kantin kan letaknya di belakangsekolah.... Teman-teman Oliv selebihnya wajah-wajahlama yang sudah akrab di mata maupun telinga Oliv. 3
  4. 4. Ada Pompi si pujangga kapiran yang endut nggakketulungan (beratnya mencapai 1 kuintal 2 kilo), adaRhena si imut, ada Yoshi, Tia, dll yang nggak bisadisebutin satu-satu. Di kelas yang baru, Oliv emang terpisah samagengnya, tapi ada satu geng yang dari dulu nggakterpisahkan. Mereka menyebut dirinya geng gaul yangpersonelnya terdiri dari Rika, Dena, dan Sinta. Setiaphari dandanan mereka selalu di-update, dan seringmenjadi trendsetter di sekolah. Gaya dan aksesorimereka mirip dandanan Ala Agnes monica di setiapsinetronnya. Rambut warna-warni kayak gulali,sisirannya dibuat acak-acakan, rok pendek, baju ketat,gelang dan kalung model gothic, serta ikat pinggangyang mirip punya Avril Lavigne. Koridor sekolah bahkanlebih mirip catwalk saat mereka menyusurinya. Selalujadi perhatian, selalu memberi inspirasi, selalumengundang decak kagum. Hebatnya walaupunsebenernya otak mereka kosong melompong kaya’kambing ompong, mereka tetep jadi idola. Entahlahkenapa, Oliv sendiri nggak interest sama mereka.Pernah Oliv ditawarin gabung, tapi Oliv menolak.Persahabatan mereka emang kompak, tapi Oliv sangatcinta dengan gengnya. Meski Engel suka berbelit-belitkalo’ ngomong dan agak narsis, tapi dia sangat solider,meski Kiki sedikit galak dan latah, tapi dia lucu, meskiErly agak tulalit, tapi dia sangat baik hati. Yah, namanyajuga manusia, pasti nggak ada yang sempurna kan? Olivsadar kalo’ kita sudah bisa menerima kekurangan oranglain, berarti kita siap untuk bersahabat selamanya. Minggu ini Oliv mendapat tugas khusus daribunda Yup! Dia didaulat untuk menjadi kurir soto 4
  5. 5. banyumas bikinan bunda yang lezat nan memikat untukOm Sis yang tinggal di Purbalingga. Om Sis, adik bundayang jadi ABRI itu baru pulang bertugas dari Papua, dandia kangen sama masakan bunda. Andi yang tadinyamau disuruh, beralasan banyak pr (padahal di kamarlagi molor). Pulangnya Oliv dianter Om Sis ampeterminal. Oliv seneng banget dikasih oleh-oleh kaossama gantungan kunci patung orang asmat, ditambahuang jajan yang jumlahnya lumayan. Pokoknya Andinyesel deh nggak mau disuruh bunda. Sejak mauberangkat bunda mewanti-wanti supaya Oliv jangansampai ketiduran selama dalam bus. Soalnya pernahkejadian, Oliv kebablasan ampe Wonosobo, dan harusnaik bus lagi balik ke Purbalingga. Oliv emang punyakebiasaan minum obat anti mabuk kalau mau bepergiannaik bus (ih..., kebangetan yah! Purwokerto-Purbalinggakan paling lama juga satu jam, masa’ sampai mabuksegala). Nah, begitu bayar ongkos ke kondektur, Olivbiasanya langsung ngorok seketika. Suasana terminalbus Purbalingga sore itu padat dengan pemudik-pemudik langganan. Sebagian berjalan cepat takutketinggalan bus, sebagian lagi duduk di kursi menunggukedatangan bus yang mau ditumpanginya. Para caloudah siap-siap memburu calon penumpang, merekaberusaha menawarkan bus jurusan tertentu, suaranyacampur aduk dengan deru mesin. Oliv mencari tempatduduk di belakang sopir, Om Sis sempat titip sama paksopir supaya dibangunkan kalo’ ketiduran sampaitujuan. Tapi, baru lima belas menit Olivmenghempaskan tubuhnya ke jok, pengemis yang lewatudah tiga orang, pengamen satu, dan dua tukang koran.Untung Oliv udah nyiapin uang kecil buat mereka, jadi 5
  6. 6. Oliv nggak perlu takut mengecewakan pengemis danpengamen jalanan itu. Oliv membuka tabloid yang barusaja dibelinya dari tukang koran untuk menghilangkanke-boringannya menunggu bus penuh penumpang.”Tisu mbak, Aqua... Aqua!” teriak seorang pedagangasongan menawarkan barang dagangannya. ”Enggak,makasih” jawab Oliv sambil memandang si pedagangdari sudut tabloidnya. Namun alangkah terkejutnyaketika Oliv mengenali sosok si pedagang asongan. ”Lho?Rika?” Oliv setengah melongo. Si pedagang asonganlangsung cepat-cepat turun dari bus, Oliv yang inginmengejar Rika harus rela terjebak dalam kerumunanorang yang mulai mamadati bus. Tangan-tangan merekabergelantungan pada atap bus, bau keringat yangkurang sedap dan hilir mudik para pedagang asonganserta para pengamen membuat Oliv mengurungkanniatnya untuk memanggil Rika dan kembali ke tempatduduknya. Rupanya Oliv kalah gesit, hingga kehilanganjejak Rika. Oliv hanya bisa pasrah memandangi temansekelasnya itu lewat jendela bus. Dilihatnya Rika terusberjalan cepat, kadang setengah berlari mengejar busyang sudah berangkat, gerakannya sangat cekatan,bergelantungan dari satu bus ke bus berikutnya. Oliv nggak habis pikir, baginya Rika bagaikanpunya dua kepribadian. Di sekolah, Rika dikenal sebagaiJenifer Lopeznya SMU Nusa Bangsa. Bersama Dena danSinta, mereka dibilang funky abis! Tapi..., yangdilihatnya beberapa hari lalu di terminal itu? Kokberbeda dengan Rika di sekolah sih? Kaosnya lusuh,celana jeansnya udah butut, pake’ sandal jepit yangmau copot, cuma rambutnya aja yang tetep sama,acak-acakan! Anehnya lagi, sejak pertemuan sore itu, 6
  7. 7. sekarang Rika jadi senang menyendiri ketimbangngeceng dengan geng-nya. Padahal, biasanya merekabertiga udah nongkrong di kantin setiap jam istirahat.Perubahan sikap ini membuat Oliv makin penasarandengan gadis manis nan misterius itu.”Hai Rik,...” Oliv menyapa Rika yang lagi sibuk menulis,tumben! Jam istirahat begini biasanya Rika dan duosohibnya udah beredar kemana-mana. ”Kok nggakkeluar?” Oliv nanya lagi, sapaan yang tadi nggakdijawab.”Bisa diem nggak sih? Aku lagi ngerjain PR!” bentakRika. Oliv jadi terkaget-kaget dibuatnya. Belum selesaibengongnya, Rika membentak lagi ”Udah bengongnya?Cepet pergi! Ganggu aja!”. Oliv lalu segera beranjak darisebelah tempat duduk Rika tanpa menunggu dibentakuntuk ketiga kalinya. Busyet...! Bukan Oliv namanya kalau pantang menyerah,setiap hari Oliv selalu nyemperin Rika di mejanya.”Kamu bohong sama aku ya? Kata ustadz Sanusi bohongitu dosa lho!” kata Oliv. ”Maksud lo apa?” Rikamenjawab pendek sambil terus menulis. ”Kamu nggaklagi ngerjain PR kan? Tapi lagi nulis cerpen, iya kan?”selidik Oliv. Rika tersenyum sinis. ”Boleh baca nggak?”pinta Oliv. Rika menyodorkan buku tulisnya, Oliv sertamerta menyambut dengan gembira dan sangat antusiasmembacanya.”wah..., bagus banget loh, kamu kirimin aja ke majalahatau tabloid!” usul Oliv”Nggak usah memuji deh!, nggak usah cari muka!”komentar Rika, masih agak sinis.”Eh..., siapa bilang gue cari muka? Dari tadi muka guejuga disini, beneran nih, ceritanya asyik!” Oliv tulus 7
  8. 8. memuji. Rika hanya menarik nafas panjang. ”nggak ah,aku nggak pede” jawabnya singkat. ”Ayo dong, kamuharus pede, ini bagus banget, aku suka deh” Olivmerajuk. Setelah dibujuk dan disemangati, akhirnyaRika mau juga, Oliv sempat heran, anak macam Rika kokpunya rasa nggak pede juga ya? Padahal kelihatannyadari luar, seluruh anggota geng gaul itu over confidentbanget. Sepulang sekolah, Oliv dan Rika langsungmenuju laboratorium komputer di lantai dua, Olivmembantu Rika mengetik naskah cerpennya lewatprogram pengolah kata. Untung pak Ridwan, sebagailaboran mengizinkan mereka menggunakan lab seusaijam pelajaran. Oliv mengirimkan cerpen-cerpen Rika kebeberapa tabloid dan majalah remaja. Oliv relamenyisakan uang jajannya untuk biaya pengirimancerpen-cerpen itu.”Rik, ntar siang ke lab lagi ya? Masih ada beberapacerpen yang belum diketik” ajak Oliv penuh semangat.”Sorry liv, ibuku sedang sakit gue harus cepet pulang”jawab Rika menyesal. ”Oh, nggak papa, biar aku ajayang ngetik, kamu pulang aja” kata Oliv. (kok malah diayang lebih semangat ya?). ”Kamu yakin, mereka bakalanmemuat cerpenku?” tanya Rika. ”Yang penting udahusaha” Oliv mencoba bijak. ”Eh, Rik, ngomong-ngomong, apa ibumu nggak marah kamu pake’ rok minike sekolah?” tanya Oliv penasaran. Rika dan Olivberjalan beriringan menuju gerbang sekolah. ”Ibukunggak tahu kok, setelah nyampe ke sekolah aku baruganti pake’ rok ini” jawab Rika ringan. ”Wah, kalauketahuan pasti ibumu ngomel-ngomel!” tebak Oliv. 8
  9. 9. ”Iya... ha.... ha.... ha” Rika tergelak, mungkin dia sedangmembayangkan ibunya ngomel-ngomel. Untuk membiayai hidup Rika dan keduaadiknya, ibunya bekerja sebagai tukang cuci di desanya.Sebagai anak sulung, sudah kewajiban Rika untukmembantu meringankan beban ibunya denganberjualan setiap sabtu dan minggu sore di terminal.Soalnya, Lina dan Rudi adiknya udah tiap hari jualan diterminal. Rika kan tinggal di asrama, jadi dia cumapunya waktu senggang pas weekend doang. Maklum,bapak Rika udah tua dan sakit-sakitan. Penampilan Rikayang nganeh-anehi dengan berdandan ala BritneySpears di sekolah itu semata-mata supaya diakuikeberadaannya oleh geng gaul-nya. Namun, belakanganDena dan Sinta, anggota geng yang lain menjauhi Rikasetelah tahu status sosial ekonomi mereka berbeda.Mereka tahunya Rika masih anak pegawai yang kaya,mereka nggak tahu kalo’ bapaknya udah di PHK dansering sakit-sakitan. Sudah lama Rika memendamrahasia ini. Dan mulanya Rika menganggap Oliv yangnyebarin rahasianya. Jadi Rika keki berat. Tapi, akhirnyaRika tahu kalo’ Dena dan Sinta sering membuntutinyasewaktu weekend, karena beberapa kali Rika bolos diacara-acara mereka. Rika jadi sadar, mereka tidak tulusberteman dengannya. Hidup mereka terlalu banyakdihabiskan dengan hura-hura dan urusan duniawi,hingga Rika memutuskan untuk mencari teman lainyang bisa menerima apa adanya. Dua bulan telah berlalu, namun tak satupuncerpen Rika yang dimuat majalah atau tabloid remaja.Rika sering mengecek dengan meminjam majalah dantabloid dari tukang koran yang biasa mangkal di 9
  10. 10. terminal. Rika hampir putus asa karenanya. ”Liv, dariawal sebenernya gue udah tahu, cerpenku nggakbakalan dimuat, jadi gue nggak kecewa” ucap Rika.”Mungkin kita harus mendatangi penerbit majalah itu,gimana?” tanya Oliv. ”Udah deh Liv, jangan mimpi, gueini siapa? Gue harus tahu diri” jawab Rika. ”Ayo dong,jangan cengeng, kita coba lagi” Oliv memeluk Rika. Pulang sekolah, Oliv mencetak beberapa cerpenterbaik Rika. Oliv berniat membawa cerpen-cerpen ituke majalah pelajar LENTERA. Alamat redaksinya iadapatkan dari majalah langganan sekolahnya. Dan iasangat tidak sabar menuju kesana.”Bagaimana om, bagus nggak cerpennya?” tanya Olivpada pak Dimas, redaktur majalah LENTERA. ”Hmm...,satu minggu lagi kamu ke sini ya?” jawab pak Dimassambil terus membaca cerpen itu. Oliv lalu permisipulang.Seminggu kemudian, Oliv menagih janji. ”Maaf, sayaOliv, saya mau menanyakan cerpen yang minggu lalusaya kirim ke sini” Oliv mengutarakan maksudnya.”Duduk dulu anak manis,...” pak Dimas mempersilakanOliv duduk. ”Cerpennya bagus sekali, saya sudahrekomendasikan untuk dimuat dalam majalah LENTERAedisi bulan depan” lanjut pak Dimas. ”Aduuh, makasihbanyak om, Oliv seneng banget nih, tapi...” Olivmenghentikan kalimatnya sejenak. ”Tapi apa?” tanyapak Dimas nggak sabar. ”Yang nulis cerpen bukan Oliv,tapi temen Oliv, Rika namanya” lanjut Oliv. ”Ow ya? Koktemenmu nggak diajak kesini? Ya udah, bilang samatemen kamu, emmm, siapa tadi? Rika ya? Bilang suruhkesini untuk ngambil honor, lumayan lho...” kata pak 10
  11. 11. Dimas. ”Oke deh om, sekali lagi terima kasih banyak”jawab Oliv. Habis dari redaksi majalah LENTERA, Oliv nggaklangsung pulang. Dia malah naik bus ke terminalPurbalingga. Apalagi kalau bukan mencari sosok Rika.Dicari-carinya seorang yang sudah sangat dikenalnya.”Rika...! Rik..!” Oliv setengah berlari mengejar Rika yangudah mau naik bus. ”Apaan sih, pake’ teriak-teriaksegala, kan malu diliatin banyak orang!””Tunggu deh, cerpen... lu... dimuat...” Oliv sampaiterputus-putus ngomongnya. Diaturya napas yangkembang kempis itu.”Yang bener lu?””Yeee..., ngapain juga bo’ong, lu disuruh ke redaksingambil honor” jawab Oliv serius.”Hore! Hore!” teriak Rika ditimpali teriakan Oliv yangserak-serak sember. Rika mengibaskan rambutnya yangmerah, Oliv mengacak rambutnya yang masih rapi,seperti penyanyi rock yang sedang konser.Semua mata tertuju pada keduanya.Tapi mereka nggak peduli.Mungkin orang-orang nganggep mereka udah sableng.Biarin, pikir Oliv dan Rika.Lalu keduanya berlarian mengejar bus yang mauberangkat.Bergelantungan, sambil menawarkan dagangan.Entah kenapa, dagangan Rika jadi laris manis hari itu.Dan Oliv terengah-engah mengikuti gerakan Rika yanglincah.Rika... rika..., di usiamu yang masih muda dantingkahmu yang enerjik, kau sudah sangat mandiri. 11
  12. 12. 12

×