• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Teknik penulisan puisi
 

Teknik penulisan puisi

on

  • 15,248 views

Kiat Menulis

Kiat Menulis

Statistics

Views

Total Views
15,248
Views on SlideShare
15,143
Embed Views
105

Actions

Likes
2
Downloads
213
Comments
2

1 Embed 105

http://gyunay93.wordpress.com 105

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

12 of 2 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Terima kasih atas sajian tulisasn yang berkaitan dengan penulisasn puisi ini dapat menambah khasanah pengetahuan puisi saya
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • aq merenung di dalam kamar mandi
    menuai jadi satu luapan
    pecah dalam dadaku
    menuju baris hidup
    dalam kata puisi ku di kamar mandi
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Teknik penulisan puisi Teknik penulisan puisi Document Transcript

    • Teknik Penulisan Puisi :yons Achmad* ~puisi adalah sebuah dunia dalam kata~ (Dresden) Menulis puisi itu gampang. Ya, memang begitu. Banyak orang yang bisa membuat puisi. Siapapun, ketika disuruh atau dipaksa membuat puisi pasti bisa. Berbeda ketika orang disuruh untuk membuat cerpen atau novel. Namun, jangan salah, orang yang membuat puisi tanpa pengetahuan, tanpa teknik, tentu akan sangat berbeda dengan mereka yang sedikit-sedikit memahami “hakikat” sebuah puisi. Pengertian Puisi. Puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Isi yang terkandung di dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia bernama puisi. Kesusastraan, khususnya puisi, adalah cabang seni yang paling sulit untuk dihayati secara langsung sebagai totalitas. Elemen-elemen seni ini ialah kata. Sebuah kata adalah suatu unit totalitas utuh yang kuat berdiri sendiri. Puisi menjadi totalitas-totalitas baru dalam pembentukan-pembentukan baru, dalam kalimat-kalimat yang telah mempunyai suatu urutan yang logis. (Dresden). Puisi adalah pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individu dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.(Suyuti). (Pengertian diatas disarikan oleh Hasta Indrayana aktivis Komunitas Tanda Baca). Sedangkan, unsur-unsur puisi menurut Dick Hartoko sebagai berikut; Puisi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik atau unsur semantik puisi menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi. Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang tidak secara langsung dapat dihayati. Struktur batin terdiri dari (1) tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, (4) amanat atau pesan. Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) diksi, (2) pengimajian, (3) kata konkret, (4) bahasa figuratif atau majas, (5) versifikasi, dan (6) tata wajah. Dalam sebuah forum diskusi maya (apresiasi sastra), penyair Hasan Aspahani pernah menyarikan perihal pasal-pasal puisi versi Goenawan Mohammad dalam bukunya “Kesusastraan dan Kekuasaan”. Pasal-pasal ini bisa kita jadikan panduan bagaimana menulis puisi dengan baik. Pasal 1.
    • Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, pembacanya. Pasal 2. Prestasi kepenyairan yang matang mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada dalam komunikasi. Pasal 3. Sajak yang mencekoki pembaca, atau menyuruh pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan atau yang dititipkan lewat penyair adalah sajak yang tidak pantas dihargai. Pasal 4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud sajaknya bagi dirinya sendiri. Pasal 5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi percaya pada dirinya sendiri. Pasal 6. Penyair harus meletakkan sajaknya di antara "kegelapan-supaya-tidak-dimengerti" dan "tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca", tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu. Dari kenyataan karya beberapa penyair (khususnya para pemula), yang sering muncul adalah puisi dengan ungkapan perasaaan semata. Padahal, sebenarnya dalam puisi juga perlu dimunculkan sisi intelektualitas di dalamnya. Baiklah, dari beberapa pandangan sekilas diatas, semoga bisa dijadikan dasar bagaimana kita bisa menulis puisi dengan baik, tidak asal menulis, tetapi benar-benar dilandasi dengan sebuah ilmu tentang puisi, sehingga akan lahir karya-karya besar, bukan hanya picisan. *Penulis Lepas. CEO Komunik@ta Network (Kanetwork)