Teknik menulis artikel

16,508 views

Published on

Kiat menulis

Published in: Self Improvement
3 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
16,508
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
610
Comments
3
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Teknik menulis artikel

  1. 1. Teknik Menulis Artikel :yons achmad* ~menulislah, apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. suatu saat pasti berguna~ (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca) Menulis itu ibarat naik motor. Ingin bisa melakukan, jawabannya adalah dengan mencoba. Tahu teori bagaimana cara yang benar mengendarai motor saja tak cukup. Mereka harus berlatih dan coba menaikinya. Semakin sering berlatih-walau kadang sempat terjatuh dan luka- kelak mereka pasti semakin mahir dan lancar. Dalam persoalan menulis juga begitu.. Banyak mendapatkan teori bagaimana menulis yang baik dan benar-entah dari buku, sekolah, kuliah maupun berbagai pelatihan kepenulisan-saja tidaklah cukup. Mereka yang berniat terjun untuk menulis dan benar-benar ingin serius menjadi penulis profesional, tidak ada cara yang lebih jitu selain mencoba dan terus mencoba. Menulis bisa dikatakan sebuah keterampilan. Pada dasarnya, semua orang bisa melakukannya. Arswendo Atmowiloto, penulis sinetron “Keluarga Cemara” yang sempat terkenal itu mengatakan bahwa menulis itu gampang. Benarkah demikian..? Barangkali, ungkapan itu hanya sekedar memotivasi saja agar orang tidak takut duluan menulis. Kenyataannya memang lebih komplek. Sekedar menulis ala kadarnya mungkin gampang. Namun, membuat tulisan yang berbobot, indah, enak dibaca, mempunyai derajat ilmiah, pengetahuan, intelektualitas dan yang pasti bisa dimuat di media nasional maupun internasional perlu sebuah ilmu proses dan praktek yang intens. Terkait dengan bagaimana menulis artikel, khususnya untuk konsumsi media massa, ada beberapa tahapan standar yang perlu dilalui. Diantaranya; Tahap Persiapan. 1. Cinta Membaca. Membaca tidak sekedar membaca layaknya orang “awam” yang melakukannya demi hobi semata dan boleh dilakukan dengan iseng, tanpa ada target dan tujuan khusus . Tapi, serius membaca untuk menyelami pemikiran-pemikiran baru. Yang sering dibutuhkan saat menulis artikel biasanya adalah pandangan dan pemikiran orang dalam sebuah buku, artikel atau makalah karya ilmiah. Ide-ide dan pemikiran tokoh inilah yang kelak dibutuhkan untuk memperkaya khasanah artikel yang nanti akan ditulis.
  2. 2. Setelah membaca, langkah bijaknya adalah mencatat ide dan pemikiran tokoh tersebut agar tidak lupa, seperti kata pepatah “The palest ink is better than the best memory” (tinta yang kabur sekalipun akan lebih baik daripada memori yang tajam). Dalam menulis artikel, ide dan pemikiran tokoh orang lain memang bukan yang utama. Sifatnya hanyalah mendukung argumentasi kita. Nah, mau tak mau kecintaan membaca ini senantiasa menjadi sebuah kebiasaan yang perlu selalu dipupuk dan dilakukan dengan rutin layaknya orang makan sehari tiga kali. 2. Rajin Mengkliping. Kliping ini bisa berupa kumpulan artikel, berupa kutipan pemikiran tokoh yang dimuat dalam media massa, maupun (ini yang terpenting), penelitian-penelitian ilmiah tentang berbagai hal terutama pada minat dan tema tulisan yang akan kita garap. Kegiatan mengkliping ini untuk menghindarkan diri seorang penulis dari kebuntuan (writer block) dan kehabisan bahan mentah untuk mendukung argumentasi. 3. Membaca Rubrik Opini. Rubrik opini adalah ladang untuk menampung tulisan para penulis lepas (termasuk penulis artikel). Seorang penulis artikel harus memahami betul ladang tersebut. Masing- masing ladang mempunyai kharakteristik tersendiri. Seorang penulis artikel, perlu membiasakan diri membaca opini-opini yang berisi artikel di berbagai media. Hal ini tujuannya jelas, untuk semakin mengetahui tema-tema atau gaya tulisan seperti apa yang sering dimuat dalam media tersebut. Sehingga bisa memudahkan penulis untuk memutuskan artikel yang telah dibuat akan dikirim ke media mana. Dengan mengetahui persis kondisi kharakteristik ladang masing-masing media, dengan begitu harapan artikel kita muncul lebih besar. Untuk membaca dan mempelajari opini di berbagai media, saat ini penulis tidaklah susah, karena biasanya koran atau media besar mempunyai situs internet yang opininya bisa diakses dengan bebas dan gratis. Jadi dengan bantuan internet kita bisa membaca 10 atau 15 opini sekaligus dalam satu hari. 4. Membaca Tajuk Rencana. Tajuk rencana dalam sebuah media (cetak), biasanya berada pada halaman yang sama dengan opini. Jika opini ditulis oleh penulis lepas (dari luar redaksi), tajuk rencana ditulis oleh redaktur yang bekerja pada koran atau media tersebut. Membaca tajuk rencana ini, bisa memudahkan penulis untuk mengetahui alur berpikir, pendapat dan visi sebuah media tentang berbagai pemberitaan yang ada. Ketika kita mengirim artikel yang sesuai dengan pandangan, visi dan misi media yang bersangkutan, tentu kesempatan untuk dimuat semakin besar.
  3. 3. 5. Mempunyai Buku Sakti. Ini yang sering dilupakan oleh para penulis. Buku sakti ini penting yang memuat berbagai data, informasi, pemikiran tokoh atau rangkuman buku-buku yang telah dibaca. Dengan adanya buku sakti tersebut, kita bisa menulis dimana dan kapanpun saja hanya dengan berbekal buku tersebut. Tidak hanya melulu menulis di rumah dengan berbagai literatur berserakan. Buku sakti tersebut pada dasarnya untuk membantu dalam soal administrasi dan manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik. Dengan sebuah manajemen yang baik, keberhasilan karier kepenulisan tentu semakin optimis untuk bisa dicapai. A. Tahap Penulisan. Sementara, ada beberapa teknik menulis artikel diantaranya; 1. Menentukan gagasan utama. Dalam menulis sebuah artikel, gagasan utama harus sudah melekat dalam otak kita. Misalnya, ketika akan menulis soal kenaikan harga BBM, satu gagasan utama harus ada. Misalnya “Saya tidak sepakat kenaikan BBM karena membuat rakyat tercekik”. Gagasan utama ini yang nantinya akan menuntun penulis untuk memberikan alasan dan argumentasi kenapa hal itu bisa terjadi. Kemudian penulis baru mengalirkan tulisan pada dampak yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut, kritik terhadap pemerintah, alternatif kebijakan yang semestinya diambil dst. 2. Membuat judul yang menarik. Misalnya contoh kasus dugaan penipuan yang menimpa Jarwo Kuat (JK) wapres dalam acara televisi republik mimpi. Dalam artikel di Harian Kompas, Indra Jaya Piliang, seorang penulis artikel yang cukup produktif memberikan judul menarik “Matinya Mimpi Republik. Judul ini, selain provokatif (mengundang pertanyaan) juga kental dengan nuansa sastranya. Judul seperti ini diharapkan bisa menarik perhatian redaktur dan pembaca sekaligus. 3. Memfokuskan maksud gagasan. Jebakan penulis artikel biasanya menulis ngalor ngidul (kemana-mana) padahal ruang artikel dalam media terbatas . Hal ini hanya akan membuat ruwet tulisan karena tidak jelas kemana arahnya, kemana juntrungnya. Memfokuskan pada maksud gagasan diperlukan. Dalam arti, hanya memfokuskan diri untuk membahas tema utama yang sedang diangkat, bukan malah membumbui banyak basa basi yang tidak konteks. Hal-hal yang barangkali penting tetapi tidak ngonteks dengan tema yang sedang dibahas sebaiknya juga dikesampingkan agar tidak melenceng dari tujuan awal menulis. Strategi
  4. 4. ini untuk menghindarkan diri penulis agar tidak pecah konsentrasi, tidak membahas tema yang sebelumnya direncanakan, tetapi malah menulis tema yang lain. 4. Memilih model P-D-K atau P-S-P. Dalam menulis artikel ada konsep P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimpulan) atau P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian). Konsep tersebut untuk mempermudah dalam menentukan model artikel seperti apa yang akan kita tulis. Untuk memberikan dukungan atau sanggahan, bahannya dari pemikiran atau penelitian yang telah kita siapkan sebelumnya. Dengan modal tersebut argumentasi kita akan lebih meyakinkan, berbobot dan bisa diterima baik oleh khalayak pembaca. 5. Menjelaskan benang merahnya. Kesulitan terbesar yang dihadapi penulis dalam menulis artikel adalah menarik benang merah atas sebuah persoalan. Benang merah ini sebenarnya bukan persoalan dalam keterampilan menulis, tetapi lebih didasarkan pada kapasitas pemikiran kita. Untuk bisa menarik benang merah, resep yang cukup cespleng tak lain tak bukan adalah meramu dua unsur sekaligus. Yaitu referensi dan ketajaman analisis. Hasil ramuan kedua hal ini yang kemudian bisa melahirkan benang merah pemikiran kritis. Dan, tanda-tanda keberhasilannya adalah pembaca akan manggut-manggut mengiyakan setelah membaca tulisan kita. 6. Menentukan sikap penulis. Dalam kehidupan keseharian, sikap bijak pasti diperlukan. Ketika menulis, sikap normatif ini kadang menjebak kita. Alih-alih ingin bijak, hasilnya malah muncul kesan sok bijak. Maka, sikap tegas penulis perlu diketengahkan. Sehingga akan tampak jelas pembelaannya. Kelihatan jelas sikapnya, pro atau kontra dalam membahas masalah yang ditulisnya. Dengan menggunakan teknik ini kelak khalayak akan tahu dan memberikan identitas dan kekhasan tersendiri kepada penulis tersebut. 7. Menghindari istilah rumit. Walaupun banyak penulis punya penguasaan spesifik bidang tertentu (misalnya seorang dokter atau psikolog), tapi terlampau menuliskan istilah-istilah yang rumit bagi publik tentu tak bijak. Penulis artikel sebaiknya tidak membebani pembaca dengan istilah-istilah yang asing dan rumit. Alternatifnya adalah mengganti istilah dengan bahasa-bahasa yang umum. Misal abrasi diganti pengikisan, atau signifikan bisa diganti dengan berpengaruh besar, urgen diganti dengan penting. Dengan begitu, pembaca akan lebih nyaman dan lebih mudah memahami maksud tulisan kita. 8. Menentukan sasaran tembak. Sasaran tembak ini juga perlu dilakukan agar artikel tidak melulu lembut tapi bisa geram. Menyebut nama dan mengatakan pemikirannya salah itu sah-sah saja asalkan dibangun
  5. 5. dengan argumentasi yang memadai. Teknik sasaran tembak ini juga bisa digunakan untuk menanggapi tulisan orang. Biasanya, ketika kita menanggapi tulisan orang di media massa, gayung bersambut akan muncul. Teknik ini, selain sebagai strategi kita untuk siap beradu argumentasi (melatih perang pemikiran), juga bisa merangsang dan memaksa kita untuk terus menulis sebelum wacana pro-kontra berakhir. 9. Mempertanyakan atau menggugah. Penutup artikel perlu mendapat sentuhan agar muncul kesan dari pembaca. Tekniknya bisa dengan mempertanyakan sesuatu atau menulis kata-kata yang menggugah. Prinsipnya, pertanyaan atau penulis kata-kata menggugah tersebut bisa memberikan kesan mendalam kepada pembaca. Misalnya “Akankah Hakim berani memutuskan Soeharto bersalah? (contoh pertanyaan yang berusaha memberikan sentilan). Atau, “Semoga masa depan sepakbola kita bisa maju tanpa kekerasan” (Kesan memberikan rasa optimis dan harapan menggugah). 10. Editing. Inilah tahap akhir kepenulisan artikel. Evaluasi dan koreksi ini proses standar yang mesti dilakukan ketika seseorang telah berhasil membuat sebuah tulisan. Jangan coba-coba mengirimkan tulisan sebelum diedit. Editing terutama diarahkan pada apakah logika berpikir yang dibangun sudah benar atau bisa juga memperbaiki aliran gagasan dengan memperjelas kalimat agar mudah dipahami pembaca. Editing juga mencakup soal EYD dan mempercantik gaya tulisan agar indah, gurih dan enak dibaca. B. Tahap Pengiriman. 1. Menggunakan e-mail. Saat ini eranya internet, sudah bukan jamannya lagi mengirim artikel via pos (karena mahal dan lama sampainya). Tata caranya, sebaiknya naskah artikel dikirim lewat fasilitas sisipan (atachment) untuk menghindari berubah (rusaknya) file. Satu naskah sebaiknya dikirim ke satu media, jika dalam jangka waktu dua minggu tidak ada kabar dimuatnya, boleh dikirim ke media lain. Untuk memastikan sekaligus mendokumentasikan artikel, sebaiknya tembusan artikel juga kita kirim ke e-mail kita. 2. Menyertakan kata pengantar. Kata pengantar ini diperlukan untuk mempermudah redaktur mengetahui isi naskah kita. Isinya, sedikit basa-basa kepada penerbit (salam, kabar baik), kemudian penjelasan singkat mengapa karya ini penting untuk diketahui publik dan yang terakhir adalah permohonan kesediaan redaktur untuk bisa memuatnya dalam koran atau majalah yang dikelolanya. Dengan adanya kata pengantar ini diharapkan akan membantu
  6. 6. mempermudah redaktur menginventarisir naskah dan mengetahui garis besar isi artikel yang dikirimkanya. 3. Menyertakan biodata. Sebaiknya untuk biodata dibagi menjadi dua bentuk. Bentuk pertama biodata panjang yang menyatakan tempat lahir, latarbelakang pendidikan, prestasi atau hasil karya yang telah dihasilkan. Data ini diperlukan untuk membangun citra personal sebagai seorang ahli yang karyanya memang layak untuk dimuat. Biodata kedua adalah biodata singkat sebagai identitas artikel, misalnya; Ade Armando, Dosen UI dan Pengamat Media. 4. Menyertakan nomor rekening. Penyertaan nomor rekening ini penting untuk memudahkan administrasi pengiriman honor jika artikel dimuat. Pembayarannya, biasanya rata-rata satu minggu setelah artikel dimuat. Tapi, kalau memang sedang butuh uang, segera menelpon pihak “Manajemen Honor” pada sebuah perusahaan media boleh-boleh saja. *Penulis Lepas. CEO Komunik@ta Network (Kanetwork)

×