Buku 2 kepegawaian
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Buku 2 kepegawaian

on

  • 14,104 views

 

Statistics

Views

Total Views
14,104
Views on SlideShare
14,104
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
305
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Buku 2 kepegawaian Buku 2 kepegawaian Document Transcript

    • iINSPEKTORAT JENDERALDEPARTEMEN LUAR NEGERIJAKARTA2007HIMPUNAN PERATURANKEPEGAWAIANBUKU 2
    • ii
    • iiiKATA PENGANTARSesuai Peraturan Menteri Luar Negeri Republik IndonesiaNomor 02/A/OT/VIII/2005/01 tentang Organisasi dan Tata KerjaDepartemen Luar Negeri, Inspektorat Jenderal melaksanakan tugaspengawasan di lingkungan Deplu.Dengan semangat benah diri, dapat diaktualisasikanPenyusunan Himpunan Peraturan Keuangan dan Non Keuangan,dimaksudkan sebagai dasar rujukan/pedoman untuk melaksanakantugas tersebut.Semoga bermanfaat, tingkatkan profesionalisme kerjapengawasan yang berkualitas, konsisten dan dapatdipertanggungjawabkan.Jakarta, 30 April 2007INSPEKTUR JENDERALDIENNE H. MOEHARIOKATA PENGANTAR
    • iv
    • vHALI. ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN1. UU No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokokKepegawaian Negara .......................................... 32. PP No. 15 Tahun 1979 Dan SE Kepala BAKNNo. 03/SE/1980 tentang Daftar Urut KepangkatanPegawai Negeri Sipil ............................................. 323. PP No. 45 Tahun 1994 tentang Pajak PenghasilanBagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, AnggotaAngkatan Bersenjata Republik Indonesia, Dan ParaPensiunan Atas Penghasilan Yang DibebankanKepada Keuangan Negara AtauKeuangan Daerah ............................................... 764. PP No. 9 Tahun 2003 tentang WewenangPengangkatan, Pemindahan, Dan PemberhentianPegawai Negeri Sipil ............................................. 865. KEPPRES No. 33 Tahun 1986 tentang KewajibanPenyampaian Laporan Pajak-Pajak Pribadi BagiPejabat Negara, PNS,TNI, Dan PegawaiBUMN/D............................................................. 1156. PERPRES No. 1 Tahun 2006 tentang PenyesuaianGaji Pokok Pegawai Negeri Sipil menurut PP No.26/2001 Ke Dalam Gaji Pokok Pegawai Negeri SipilMenurut PP No. 11/2003 ..................................... 1217. KEP. BAKN No. 1158a/KEP/1983 tentangKartu Istri/Suami PNS.......................................... 1338. KEP. MENLU No. SK. 279/OR/VIII/83/01Tahun 1983 tentang Peraturan Dasar PejabatDinas Luar Negeri................................................ 137DAFTAR ISIBIDANG KEPEGAWAIANDAFTAR ISI
    • vi9. KEP. MENLU No. SK.2783/BU/IX/81/01 tentangKetentuan Dasar Kepegawaian DinasLuar Negeri ......................................................... 15010. KEP. MENLU No. SK.30/OR/III/84/01 tentangPedoman Tata Cara PembinaanPejabat Luar Negeri ............................................ 16411. KEP. MENLU No. SK.01/A/KPI/2002/01 tentangTugas, Fungsi Dan Susunan Keanggotaan BadanPertimbangan Jabatan Dan KepangkatanDepartemen Luar Negeri ..................................... 16912. Nota Dinas Karo Kepegawaian/Ketua TimPendukung Baperjakat No. 1139/KP/V/2004/19tentang Pedoman Mutasi Pegawai Ke Perwakilan,Pedoman Penarikan Pegawai Dari Perwakilan DanOrientasi Penempatan Pegawai Ke Perwakilan ....... 18413. Kawat Sekjen Deplu No. 970186 tanggal17 Januari 1997 tentang Ijin Meninggalkan WilayahAkreditasi Bagi KBTU Dan Atau Bendahara ........... 19114. Kawat Sekjen Deplu No. 20019 tanggal 2 Januari2002, Kawat Sekjen Deplu N0.040489 tanggal17 Februari 2004, Dan Kawat Sekjen Deplu No.PL-0687/030305 tentang Ijin MeninggalkanWilayah Akreditasi Bagi Keppri .............................. 192II. KESEJAHTERAAN PEGAWAI1. PP No. 25 Tahun 1981 tentang Asuransi SosialPegawai Negeri Sipil ............................................. 1992. KEP. MENLU No. 113/KP/VIII/2000/01 tentangDana Kesejahteraan ........................................... 2073. Keputusan Badan Pembina Yayasan UPAKARASK.003/BIN/I/90 tentang Sumbangan UangPesangon Pensiun, Sumbangan UangDuka/Kematian Dan Sumbangan Uang KelahiranMeningkatkan Kesejahteraan Karyawan ............... 212DAFTAR ISI
    • vii4. Permenkeu No. 22/PMK.05/2007 tentangPemberian uang Makan bagi PegawaiNegeri Sipil .......................................................... 215III. FORMASI1. PP No. 98 Tahun 2000 Dan PP No. 11 Tahun2002 tentang Pengadaan Calon PegawaiNegeri Sipil .......................................................... 2232. PP No. 97 Tahun 2000 Dan PP No. 54 Tahun2003 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil ............ 247IV. PENGANGKATAN1. PP No. 100 Tahun 2000 Dan PP No. 13 Tahun2002 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri SipilDalam Jabatan Struktural..................................... 2612. PP No. 48 Tahun 2005 tentang PengangkatanTenaga Honorer Menjadi CalonPegawai Negeri Sipil ............................................. 2843. SURAT WAKIL PRESIDEN No.B-01/WK.Pres/Set/II/2000 tentang Pengangkatan, Pemindahan DanPemberhentian Dalam Dan Dari JabatanStruktural Eselon I............................................... 2984. Surat Tugas Kepala BKN No. K.26-25/V.7-46/919tentang Tata Cara Pengangkatan PNS SebagaiPelaksana ........................................................... 3005. KEP. MENLU No. 111/KP/VIII/2000/01 tentangPenempatan Pegawai-Pegawai Deplu BukanPejabat Dinas Luar Negeri Di Luar Negerisebagai Staf Teknis ............................................. 3036. Surat Sekjen Deplu No. 6314/79/12 tentangPengangkatan Kuasa Usaha Sementara ............... 309DAFTAR ISI
    • viiiV. PEMBERHENTIAN1. PP No. 32 Tahun 1979 tentang PemberhentianPegawai Negeri Sipil ............................................. 3132. PP No. 1 Tahun 1994 tentang Perubahan AtasPP No. 32/1979 Tentang PemberhentianPegawai Negeri Sipil ............................................. 3373. PP No. 69 Tahun 2005, jo PP No. 18 Tahun 2006tentang Penetapan Pensiun Pokok, Pensiun PNS,Pensiun Janda/Dudanya ...................................... 3404. KEPPRES No. 40 Tahun 1987 tentang Batas UsiaPensiun Bagi Pejabat Diplomatik KonsulerDepartemen Luar Negeri ..................................... 3455. Kawat Sekjen Deplu No. 033797 tanggal 15Agustus 2003 tentang Larangan PerpanjanganMasa Tugas Setelah Pensiun ............................... 3486. SE Sekjen Deplu No. SE.084/OT/VI/2000/02tentang Pedoman Administrasi Kepegawaian DanKeuangan Bagi Pegawai Negeri Yang PensiunPada Perwakilan RI Di Luar Negeri ........................ 350VI. PENILAIAN DAN EVALUASI1. PP No. 10 Tahun 1979 Dan SE BAKN No. 02/SE/1980tentang Penilaian Pelaksanaan PekerjaanPegawai Negeri Sipil ............................................. 3552. SE Sekjen Deplu No. 3404/KP/XI/87/01 tanggal24 Desember 1987 tentang Pembuatan DaftarPenilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) BagiHome Staf Yang Mengakhiri Masa Tugasnyadi Perwakilan ....................................................... 3903. Kawat Sekjen Deplu No. 031391 tanggal10 Maret 2003 tentang Penilaian TerhadapAthan Dan Atnis.................................................. 392DAFTAR ISI
    • ix4. Kawat Sekjen Deplu No. 052963 tanggal30 Juni 2005 tentang Evaluasi Terhadap KinerjaHOC Dan BPKRT ................................................ 393VII. DISIPLIN PEGAWAI1. PP No. 30 Tahun 1980 Dan Surat Edaran KepalaBAKN No. 23/SE/1980 tentang Peraturan DisiplinPegawai Negeri Sipil ............................................. 3972. KEPPRES No. 33 Tahun 1995 Dan Surat MenkoPolkam No.B.36/Menko/Polkam/6/ 95 KEP.MenkoNo.KEP-01/Menko Polkam/6/95 tentang GerakanPolkam Disiplin Nasional........................................ 4613. KEPPRES No. 68 Tahun 1995 Dan SE. SEKJENNo. 638/KP/X/95/18 tentang Hari KerjaDi Lingkungan Lembaga Pemerintah Pusat ............ 4704. INPRES No. 14 Tahun 1981 tentang Penyeleng-garaanUpacara Pengibaran Bendera Merah Putih .. 4755. KEP. MENLU No. SP/3033/DN/XI/1980 tentangPendelegasian Wewenang Penjatuhan HukumanDisiplin Dalam Lingkungan Deplu/Perwakilan RIDi Luar Negeri ..................................................... 4796. KEP. MENLU No. SP/1410/DN/XI/1981 tentangDisiplin Bagi Pegawai Departemen Luar Negeri ....... 4827. PERMENPAN No. Per/87/M.PAN/8/2005 tentangPedoman Peningkatan Pelaksanaan Efisiensi,Penghematan, Dan Disiplin Kerja .......................... 4868. SE BAKN No. 10/SE/1981 tentang TindakanAdministratif Dan Hukuman Disiplin Terhadap PNSYang Memiliki/Menggunakan Ijazah Palsu/Aspal .... 5119. Surat BKN No. K.26-30/V.24-49/99 tentangPeningkatan Disiplin Pegawai................................. 531DAFTAR ISI
    • x10. SE. Menpan No. SE/03/M.PAN/IV/2007 tentangPerlakuan terhadap Pejabat yang TerlibatKorupsi, Kolusi, dan Nepotisme ............................ 53311. SE MENPAN No. SE/03/M.PAN/IV/2007 tentangHari Kerja Di Lingkungan Pemerintah .................... 53812. Kawat Sekjen Deplu No.0600358 Tanggal 25Januari 2006 Dan Kawat Sekjen No.060667Tanggal 22 Pebruari 2006 tentang PenerapanAbsensi Biometric Di Perwakilan ............................ 540VIII. PERSYARATAN MENDUDUKI SUATU JABATAN1. PP No. 4 Tahun 1976 tentang Pegawai NegeriYang Menjadi Pejabat Negara.............................. 5452. KEP. Kepala BKN No. 43/Kep/2001 tentangStandar Kompetensi Jabatan Struktural PegawaiNegeri Sipil .......................................................... 5513. Surat Kepala BKN No. K.26-3/V.5-10/99 tentangPenunjukan Pejabat Pelaksana Harian .................. 5644. KEP. MENLU No. SK.09/A/OT/VIII/2004/01tentang Pengisian Jabatan di Perwakilan RepublikIndonesia Di Luar Negeri Melalui Seleksi Terbuka ... 5675. SE MENPAN No. SE/04/M.PAN/03/2006 tentangPerpanjangan Batas Usia Pensiun PNS YangMenduduki Jabatan Struktural Eselon I DanEselon II ............................................................ 5716. Kawat Sekjen Deplu No. 050119 tanggal5 Januari 2005 tentang Penunjukan StafPengumandahan Untuk Tugas KebendaharaanDan Mekanisme Pelaksanaan Tugas PengelolaKeuangan ........................................................... 575DAFTAR ISI
    • xi7. Nota Dinas Karo Kepegawaian No. 756/KP/IV/2005/19 tanggal 11 April 2005 tentangPersyaratan Untuk Menduduki Jabatan StrukturalEselon IIIa Dan Eselon IVa Di LingkunganDeplu RI ............................................................. 5778. Kawat Sekjen Deplu No. 983973 Tanggal15 September 1998 tentang Peralihan MasaTugas Keppri ...................................................... 579IX. PENGHARGAAN1. PP No. 25 Tahun 1994 tentang TandaKehormatan Satyalancana Karya Satya................ 5832. SURAT SEKRETARIAT NEGARA No. B-1143/Setneg/6/2002 tentang PemberitahuanPemakaian Tanda Kehormatan ............................ 5963. KEP. BAKN No.02/1995 tentang KetentuanPelaksanaan Penganugerahan TandaKehormatan Satyalancana Karya Satya................ 6014. KEP. MENLU No. 112/KP/VIII/2000/01 tentangPemberian Penghargaan Bagi Pejabat DinasDalam Negeri Yang Akan Menghadapi Pensiun ...... 616X. PENDIDIKAN DAN LATIHAN1. PP No. 14 Tahun 1994 tentang Pendidikan DanPelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil .................. 6232. KEP. MENLU No. SK.29/OR/III/84/01 tentangPerubahan Pasal 8 Keputusan MenluNo. SP.1527/DN/XI/1982 Tentang ProgramKaderisasi ........................................................... 6473. KEP. MENLU No. SK.27/DL/X/87/02 tentangKetentuan Penguasaan Bahasa Inggris BagiPendidikan Dan Latihan Berjenjang ....................... 649DAFTAR ISI
    • xii4. KEP. MENLU No. SK.149/DL/XI/98/01 tentangSistem Pendidikan Dan Latihan PegawaiDepartemen Luar Negeri ..................................... 6585. KEP. MENLU No. SK/107/DL/VIII/2000/01 tentangProgram Tugas Belajar Bagi PDLN........................ 6746. INSTRUKSI MENLU No. SK. 013/OR/III/88/01tentang Penguasaan Bahasa Resmi PBB BagiPejabat Dinas Luar Negeri Pada PenugasanPertama Di Perwakilan RI Di Luar Negeri ............... 6847. KEP.MENLU SK.04.A/A/DL/VI/2003/01 tanggal2 Juni 2003 Dan SK.21/.B/KP/III/2006/02 tanggal20 Maret 2006 tentang PenyelenggaraanPendidikan Dan Latihan BPKRT Perwakilan ............ 687XI. PANGKAT DAN GELAR1. PP No. 99 Tahun 2000 jo PP No. 12 Tahun 2002tentang Pengangkatan Dalam PangkatPegawai Negeri Sipil ............................................. 6972. KEP. BAKN No. 512/KEP/1983 tentang JenjangPangkat Bagi Pejabat Komunikasi Pada PusatKomunikasi Departemen Luar Negeri .................... 7283. KEP. Kepala BAKN No. 170/1999 tentangPengecualian Dari Ujian Dinas Tingkat III BagiPNS Yang Memiliki Ijazah Pasca Sarjana (Strata-2)Ijazah Spesialis I Dan Atau Ijazah /Gelar Doktor(Strata-3), Ijazah Spesialis II ............................... 7304. KEP. BAKN No. 06/2001 tentang JenjangPangkat Jabatan Pimpinan Pada Perwakilan RIDi Luar Negeri ..................................................... 7335. SE. BAKN No. 21/SE/1977 tentang PNSYang Lebih Rendah Pangkatnya MembawahiSecara Langsung PNS Yang Lebih TinggiPangkatnya ........................................................ 737DAFTAR ISI
    • xiii6. SE. BAKN No. 01/SE/1987 tentang PedomanPersamaan Pangkat/Golongan Ruang GajiAnggota ABRI Dengan PNS ................................. 7417. KEP. MENLU No. SK.12/A/OT/IX/2004/01tentang Peleburan Golongan PA Ke DalamGolongan Pejabat Diplomatik Konsuler .................. 7468. Kawat Karo Kepeg. No. 023506 Tgl 9 Sept 2002tentang Batas Waktu Penerimaan UntukKenaikan Pangkat PNS ........................................ 7509. Kawat Sekjen Deplu No. 044308 tanggal1 Oktober 2004 tentang Periode KenaikanGelar Diplomatik .................................................. 75210. JUKLAK Biro Kepeg. No. KP 0618/juklak/94/12tentang Percepatan Kenaikan Gelar PDLN............. 75411. Nota Dinas Karo Kepeg No.1611/KP/VII/2004/19tanggal 23 Juli 2004 tentang PenyeragamanNota Usulan Kenaikan Pangkat PNS Pada UnitKerja Di Deplu Dan Perwakilan.............................. 758XII. PENEMPATAN PEGAWAI1. KEP. MENLU No. SK.08/A/KP/VI/2004/01 tentangPenempatan Suami Isteri Yang MempunyaiStatus Diplomat .................................................. 7652. KEP. MENLU No. SK. 65/OR/VI/01 Tahun 1984tanggal 6 Juni 1984 tentang PedomanPenempatan Atase Pertahanan Dan TeknisPada Perwakilan RI Di Luar Negeri ....................... 7723. Nota Dinas Karo Kepeg/Ketua TP BaperjakatNo. 1012/KP/III/2006/19 tanggal 17 Maret 2006tentang Pengusulan Penempatan PejabatDiplomatik Konsuler (PDK) Ke Perwakilan RI .......... 779DAFTAR ISI
    • xiv4. Surat Sekjen Deplu No. 6278/1978/12 tentangPengujian Kesehatan Dalam RangkaPenugasan/Penempatan Di Luar Negeri ................ 7815. NOTA EDARAN BIRO KEPEGAWAIANNo. 1398/Kepeg/1979 tentang PengujianKesehatan Pejabat Deplu Dan Istrinya DalamRangka Penempatan Di Luar Negeri ..................... 7836. Nota Rahasia Karo Kepeg/Ketua TP BaperjakatNo. 1709/KP/VIII/2005/19/R tanggal29 Agustus 2005 tentang PemantapanSubstansi Bagi Pejabat Yang Akan PenempatanKe Perwakilan RI Di Luar Negeri ........................... 785XIII. PERKAWINAN DAN PERCERAIAN1. UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ........... 7912. PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UUNo. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ................ 8113. PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin PerkawinanDan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil ............... 8284. PP No. 45 Tahun 1990 tentang Perubahan AtasPP No. 10 Tahun 1983 ........................................ 8445. SE. PERDANA MENTERI No. 14/R.I/1959tentang Peraturan Tentang PerkawinanPejabat-Pejabat/Pegawai RI Yang DitempatkanDi Perwakilan RI Di Luar Negeri DenganBangsa Asing ...................................................... 8516. KEP. MENLU No. SK.074/ KP/IV/2002/01tentang Pendelegasian Wewenang MengenaiPenolakan/Pemberian Izin Perkawinan DanPerceraian bagi PNS dalam LingkunganDepartemen Luar Negeri/Perwakilan RIDi Luar Negeri ..................................................... 854DAFTAR ISI
    • xv7. SE. Sekjen Deplu No. SE 077/VII/2005/19/02tentang Perijinan Untuk Perkawinan AntaraDiplomat Wanita Indonesia Dengan WNA ............. 859XIV. CUTI PEGAWAI1. PP No. 24 Tahun 1976 tentang Cuti PegawaiNegeri Sipil .......................................................... 8672. SE. BAKN No. 01/SE/1977 tentang PermintaanDan Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil ............... 8893. KEP. MENLU No. SK.53/OR/V/84/01 tentang CutiPejabat Perwakilan RI Di Luar Negeri .................... 906XV. PEMBATASAN KEGIATAN PNS1. PP No. 6 Tahun 1974 tentang Pembatasan KegiatanPegawai Negeri Dalam Usaha Swasta ................... 9192. PP No. 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil YangMenjadi Anggota Partai Politik ............................... 9273. PP No. 12 Tahun 1999 tentang Perubahan AtasPP No. 5 Tahun 1999 .......................................... 9364. KEPPRES No 10/1974 tentang BeberapaPembatasan Kegiatan PNS Dalam RangkaPendayagunaan Aparatur Negara DanKesederhanaan Hidup ......................................... 9405. INSTRUKSI MENLU No. 519/BU/III/79/01Tanggal 20 Maret 1979 tentang PembatasanKegiatan Pegawai Negeri Di LingkunganDepartemen Luar Negeri Di Bidang UsahaSwasta dalam Rangka PendayagunaanAparatur Negara Dan Kesederhanaan Hidup ......... 947DAFTAR ISI
    • xviXVI. HAK KEPPRI1. PP No. 5 Tahun 1996 tanggal 14 Pebruari 1996Dan PP No. 61 Tahun 2006 tanggal 26 Juli 2006tentang Hak Keuangan / Administrasi DubesLBBP Dan Mantan Dubes LBBP sertaJanda/Dudanya .................................................. 9572. KEP. MENLU NO. SK.2784/BU/IX/81/01 tentangKewajiban Dan Hak Wakil Kepala Perwakilan RIDi Luar Negeri ..................................................... 9763. KEP. MENLU No. SK.015/OR/II/89/01 tentangPengangkatan Sekretaris Pribadi, Kepala RumahTangga Dan Pengemudi Pada Perwakilan RIDi Luar Negeri ..................................................... 9794. Kawat Sekjen Deplu No. pl-2324/0717000 Tanggal17 Juli 2000 tentang Pemberdayaan KRT ............. 9835. Kawat Sekjen Deplu No. 032596 Tanggal29 Mei 2003 tentang Hak Keppri .......................... 984XVII. JABATAN FUNGSIONAL1. PP No. 16 Tahun 1994 tentang JabatanFungsional PNS ................................................... 9872. KEP. MENLU No.SK.024/KP/III/98/02 tentangTata Kerja Tim Penilai Dan Tata cara penilaianAngka Kredit Jabatan Fungsional Diplomat ............ 10013. KEP. MENLU No. SK. 103/OT/VII/98/02 tentangPedoman Pengisian Daftar Usulan PenetapanAngka Kredit Jabatan Fungsional Diplomat ............ 10184. PERMENPAN No. PER/87/M.PAN/8/2005 tanggal16 Agustus 2005 tentang Jabatan FungsionalDiplomat Dan Angka Kreditnya ............................. 1021DAFTAR ISI
    • xvii5. KEP. MENPAN No. 19 Tahun 1996 Tanggal 2 Mei1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor.............. 10446. KEP. MENPAN RI No. 17/KEP/M.PAN/4/2002Tentang Penyesuaian Penamaan JabatanFungsional Auditor ............................................... 10827. Keputusan Bersama Kepala BAKN, Sekjen BPKDan Kepala BPKP No. 10 Tahun 1996 No. 49/SK/S/1996 No. KEP-386/K/1996 Tanggal 6 Juni 1996tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan FungsionalAuditor Dan Angka Kreditnya ............................... 10868. KEP. Kepala BPKP No. KEP-817/K/JF/002 tanggal3 Desember 2002 tentang Prosedur KegiatanBaku Penilaian Dan Penetapan Angka Kredit BagiJabatan Fungsional Auditor Di Lingkungan AparatPengawasan Internal Pemerintah ......................... 11089. Keputusan Bersama Kepala Lembaga SandiNegara RI Dan Kepala Badan KepegawaianNegara: No. KP. 004/KEP.60/2004, No. 17 Tahun2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan JabatanFungsional Sandiman Dan Angka Kreditnya ........... 111310. Keputusan Bersama Kepala Sandi Negara RI DanKepala Badan Kepegawaian Negara:No. KP. 004/KEP.61/2004, No. 18 Tahun 2004tentang Petunjuk Pelaksanaan JabatanFungsional Operator Transmisi Sandi (OTS) DanAngka Kreditnya Lembaga ................................... 113211. SE. Sekjen Deplu No. 1120/KP/XI/99/02 tanggal22 Oktober 1999 tentang Penundaan PelaksanaanSistem Jabatan Fungsional Diplomat di Deplu ........ 115012. Kawat Sekjen Deplu No. 053142 tanggal15 Juli 2005 tentang Jabatan FungsionalDiplomat ............................................................. 1152DAFTAR ISI
    • xviii13. Kawat Sekjen Deplu No. 982126 tanggal 13 Mei1998 tentang In-Passing (Penyesuaian) PDLNsebagai Jabatan Fungsional DEPLU (JJFDD) .......... 1154XVIII. PEGAWAI SETEMPAT1. PERMENLU No.07/A/KP/X/2006/01 Tahun 2006tentang Pedoman Dan Tata Cara Pengangkatan,Pemberhentian, Dan Pembuatan Kontrak KerjaPegawai Setempat pada Perwakilan RI Di LuarNegeri ................................................................ 11572. Brafaks Karo Kepeg No. RR-0177/DEPLU/I/2006tanggal 13 Januari 2006 tentang Model KontrakKerja Pegawai Setempat...................................... 1201DAFTAR ISI
    • 1IADMINISTRASIKEPEGAWAIAN
    • 2
    • 3PRESIDENREPUBLIK INDONESIAUNDANG–UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 43 TAHUN 1999TENTANGPERUBAHAN ATASUNDANG–UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANGPOKOK–POKOK KEPEGAWAIANDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIAMenimbang : a. Bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuannasional untuk mewujudkan masyarakat madaniyang taat hukum, berperadaban modern,demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi,diperlukan Pegawai Negeri yang merupakan unsuraparatur negara yang bertugas sebagai abdimasyarakat yang menyelenggarakan pelayanansecara adil dan merata, menjaga persatuan dankesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepadaPancasila dan Undang-undang Dasar 1945;b. bahwa untuk maksud tersebut pada huruf a,diperlukan Pegawai Negeri yang berkemampuanmelaksanakan tugas secara profesional danbertanggung jawab dalam menyelenggarakantugas pemerintah dan pembangunan, sertabersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dannepotisme;c. bahwa untuk membentuk sosok Pegawai NegeriSipil sebagaimana tersebut pada huruf b,diperlukan upaya meningkatkan manajemenADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 4Pegawai Negeri Sipil sebagai bagian dari PegawaiNegeri;d. bahwa sehubungan dengan huruf a, b, dan ctersebut di atas, dipandang perlu untukmengubah Undang–undang Nomor 8 Tahun 1974Tentang Pokok–Pokok Kepegawaian.Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), pasal 27ayat (1), dan Pasal 28 Undang–Undang Dasar1945.2. Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negaratahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041)3. Undang–undang Nomor 22 tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3839);4. Undang–undang Nomor 28 tahun 1999 tentangPenyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebasdari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahanlembaran Negara Nomor 3851);dengan persetujuanDEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIAMEMUTUSKAN :Menetapkan : UNDANG–UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATASUNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974TENTANG POKOK–POKOK KEPEGAWAIAN.Pasal 1Beberapa ketentuan dalam Undang–undang Nomor 8 Tahun 1974tentang Pokok–pokok Kepegawaian, diubah sebagai berikut :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 51. Judul BAB I dan ketentuan Pasal 1 menjadi berbunyisebagai berikut :BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Undang–undang ini yang dimaksud dengan :1. Pegawai Negeri adalah setiap warga Negara Republik Indonesiayang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat olehpejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatujabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digajiberdasarkan peraturan perundang–undangan yang berlaku.2. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyaikewenangan mengangkat, memindahkan, danmemberhentikan Pegawai Negeri berdasarkan peraturanperundang–undangan yang berlaku.3. Pejabat yang berwajib berwenang adalah pejabat yang karenajabatan atau tugasnya berwenang melakukan tindakan hukumberdasarkan peraturan perundang–undangan yang berlaku.4. Pejabat Negara adalah pimpinan dan anggota lembagatertinggi/tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pejabat Negara lainnya yangditentukan oleh Undang–undang.5. Jabatan Negeri adalah jabatan dalam bidang eksekutif yangditetapkan berdasarkan peraturan perundang–undangan,termasuk di dalamnya jabatan dalam kesekretariatan lembagatertinggi atau tinggi Negara, dan kepaniteraan pengadilan.6. Jabatan Karier adalah jabatan struktural dan fungsional yanghanya dapat diduduki Pegawai Negeri Sipil setelah memenuhisyarat yang ditentukan.7. Jabatan organik adalah jabatan negeri yang menjadi tugaspokok pada suatu satuan organisasi pemerintah.8. Manajemen Pegawai Negeri Sipil adalah keseluruhan upaya–upaya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan derajatprofesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi, dan kewajibankepegawaian, yang meliputi perencanaan, pengadaan,ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 6pengembangan kualitas, penempatan, promosi, penggajian,kesejahteraan, dan pemberhentian.2. Judul BAB II, ketentuan Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4menjadi berbunyi sebagai berikut :BAB IIJENIS, KEDUDUKAN, KEWAJIBAN, DANHAK PEGAWAI NEGERIBagian PertamaJenis dan KedudukanPasal 2(1) Pegawai Negeri terdiri dari :a. Pegawai Negeri Sipil;b. Anggota Tentara Nasional Indonesia; danc. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.(2) Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)huruf a, terdiri dari :a. Pegawai Negeri Sipil Pusat; danb. Pegawai Negeri Sipil Daerah(3) Disamping Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalamayat (1), pejabat yag berwenang dapat mengangkatpegawai tidak tetap.Pasal 3(1) Pegawai Negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negarayang bertugas untuk memberikan pelayanan kepadamasyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalampenyelenggaraan tugas Negara, pemerintahan, danpembangunan.(2) Dalam kedudukan dan tugas sebagaiman dimaksud dalamayat (1), Pegawai Negeri harus netral dari pengaruh semuagolongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalammemberikan pelayanan kepada masyarakat.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 7(3) Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimanadimaksud dalam ayat 92, Pegawai Negeri dilarang menjadianggota dan/atau pengurus partai politik.Bagian KeduaKewajibanPasal 4Setiap Pegawai Negeri wajib setia dan taat kepada PancasilaUndang–undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah, sertawajib menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam NegaraKesatuan Republik Indonesia.3. Ketentuan Pasal 7 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 7(1) Setiap Pegawai Negeri berhak memperoleh gaji yang adildan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggungjawabnya.(2) Gaji yang diterima oleh Pegawai Negeri harus mampumemacu produktivitas dan menjamin kesejahteraannya.(3) Gaji Pegawai Negeri yang adil dan layak sebagaimanadimaksud dalam ayat (1), ditetapkan dengan PeraturanPemerintah.4. Judul Bagian Keempat BAB II dan ketentuan Pasal IImenjadi berbunyi sebagai berikut :Bagian KeempatPegawai Negeri Yang Menjadi Pejabat NegaraPasal 11(1) Pejabat Negara terdiri atas :a. Presiden dan Wakil Presiden;b. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota MajelisPermusyawaratan Rakyat;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 8c. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan PerwakilanRakyat;d. Ketua, Wakil ketua, ketua Muda, dan Hakim Agung padaMahkamah Agung, serta Ketua, Wakil ketua, dan Hakimpada semua Badan Peradilan;e. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan PertimbanganAgung;f. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Badan PemeriksaKeuangan;g. Menteri, dan jabatan yang setingkat Menteri;h. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yangberkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa danBerkuasa Penuh;i. Gubernur dan Wakil Gubernur;j. Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota; dank. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang–undang.(2) Pegawai Negeri yang diangkat menjadi Pejabat Negaradiberhentikan dari jabatan organiknya selama menjadi PejabatNegara tanpa kehilangan statusnya sebagai Pegawai Negeri.(3) Pegawai Negeri yang diangkat menjadi Pejabat Negaratertentu tidak perlu diberhentikan dari jabatan organiknya.(4) Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),setelah selesai menjalankan tugasnya dapat diangkat kembalidalam jabatan organiknya.5. Judul BAB III, ketentuan Pasal 12, dan Pasal 13 menjadiberbunyi sebagai berikut :BAB IIIMANAJEMEN PEGAWAI NEGERI SIPILBagian PertamaTujuan ManajemenADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 9Pasal 12(1) Manajemen Pegawai Negeri Sipil diarahkan untuk menjaminpenyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunansecara berdayaguna dan berhasilguna.(2) Untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas pemerintahandan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang profesional, bertanggungjawab, jujur, dan adil melalui pembinaan yang dilaksanakanberdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yangdititikberatkan pada sistem prestasi kerja.Bagian KeduaKebijaksanaan ManajemenPasal 13(1) Kebijaksanaan Manajemen Pegawai Negeri Sipil mencakuppenetapan norma, standar, prosedur, formasi,pengangkatan, pengembangan kualitas sumber daya PegawaiNegeri Sipil, pemindahan, gaji, tunjangan, kesejahteraan,pemberhentian, hak, kewajiban, dan kedudukan hukum.(2) Kebijaksanaan Manajemen Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam ayat (1), berada pada Presiden selakuKepala Pemerintahan.(3) Untuk membantu Presiden dalam merumuskankebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) danmemberikan pertimbangan tertentu, dibentuk KomisiKepegawaian Negara yang ditetapkan dengan KeputusanPresiden.(4) Komisi Kepegawaian Negara sebagaimana dimaksud dalamayat (3), terdiri dari 2 (dua) Anggota Tetap yangberkedudukan sebagai Ketua dan Sekretaris Komisi, serta 3(tiga) Anggota Tidak Tetap yang kesemuanya diangkat dandiberhentikan oleh Presiden.(5) Ketentuan dan Sekretaris Komisi Kepegawaian Negarasebagaimana dimaksud dalam ayat 94, secara ex officiomenjabat sebagai Kepala dan Wakil Kepala BadanKepegawaian Negara.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 10(6) Komisi Kepegawaian Negara mengadakan sidang sekurang–kurangnya sekali dalam satu bulan.6. Ketentuan Pasal 15 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 15(1) Jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yangdiperlukan ditetapkan dalam formasi.(2) Formasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ditetapkanuntuk jangka waktu tertentu berdasarkan jenis, sifat danbeban kerja yang harus dilaksanakan.7. Ketentuan Pasal 16 ayat (2) menjadi berbunyi sebagaiberikut :(2) Setiap warga Negara Republik Indonesia mempunyaikesempatan yang sama untuk melamar menjadi PegawaiNegeri Sipil setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.8. Diantara Pasal 16 dan Pasal 17 disisipkan 1 (satu) pasal,yakni Pasal 16 A berbunyi sebagai berikut :Pasal 16 A(1) Untuk memperlancar pelaksanaan tugas umum pemerintahandan pembangunan, pemerintahan dapat mengangkatlangsung menjadi Pegawai Negeri Sipil bagi mereka yangtelah bekerja pada instansi yang menunjang kepentingannasional.(2) Persyaratan, tata cara, dan pengangkatan langsung menjadiPegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.9. Ketentuan Pasal 17 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 17(1) Pegawai Negeri Sipil diangkat dalam jabatan dan pangkattertentu.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 11(2) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam suatu jabatandilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuaidengan kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang pangkatyang ditetapkan untuk jabatan itu serta syarat obyektiflainnya tanpa membedakan jenis kelamin, suku, agama,ras, atau golongan.(3) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam pangkat awalditetapkan berdasarkan tingkat pendidikan formal.10. Ketentuan Pasal 19 dihapus.11. Ketentuan Pasal 20 menjadi berbunyi sebagai berikut :Untuk lebih menjamin obyektivitas dalam mempertimbangkanpengangkatan dalam jabatan dan kenaikan pangkat diadakanpenilaian prestasi kerja.12. Ketentuan Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, danPasal 26 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 22Untuk kepentingan pelaksanaan tugas kedinasan dan dalamrangka pembinaan Pegawai Negeri Sipil dapat diadakanperpindahan jabatan, tugas, dan/atau wilayah kerja.Pasal 23(1) Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dengan hormat karenameninggal dunia.(2) Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan dengan hormatkarena;a. atas permintaan sendiri;b. mencapai batas usia pensiun;c. perampingan organisasi pemerintah ataud. tidak cakap jasmani atau rohani sehingga tidak dapatmenjalankan kewajiban sebagai Pegawai Negeri Sipil.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 12(3) Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan dengan hormat atautidak diberhentikan karena :a. melanggar sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan selain pelanggaran sumpah/janji PegawaiNegeri Sipil dan sumpah/janji jabatan karena tidak setiakepada Pancasila, Undang–undang Dasar 1945, Negara,dan Pemerintah; ataub. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusanpengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yangtetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yangancaman hukumannya kurang dari 4 (empat tahun).(4) Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan dengan hormat tidakatas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat karena :a. dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yangtelah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karenamelakukan tindak pidana kejahatan yang ancamanhukumannya 4 (empat) tahun atau lebih; ataub. melakukan pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil tingkatberat.(5) Pegawai Negeri Sipil diberhentikan tidak dengan hormatkarena :a. melanggar sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan karena tidak setia kepada Pancasila, Undang–Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintahan;b. melakukan penyelewengan terhadap ideologi Negara,Pancasila, Undang–Undang Dasar 1945 atau teRIibatdalam kegiatan yang menentang Negara danPemerintahan; atauc. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusanpengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yangtetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatanatau tindak pidana kejahatan yang ada hubungan denganjabatan.Pasal 24Pegawai Negeri Sipil yang dikenakan penahanan oleh pejabatyang berwajib karena disangka telah melakukan tindak pidanakejahatan sampai mendapat putusan pengadilan yang telahADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 13mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dikenakanpemberhentian sementara.Pasal 25(1) Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil dilakukan oleh Presiden.(2) Untuk memperlancar pelaksanaan pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipilsebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Presiden dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya kepada pejabatpembina kepegawaian pusat dan menyerahkan sebagianwewenangnya kepada pejabat pembina kepegawaiandaerah yang diatur lebih lanjut dengan PeraturanPemerintah.(3) Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian JaksaAgung, Pimpinan lembaga Pemerintahan Non –Departemen, Sekretaris Jenderal Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Sekretaris Jenderal Departemen, DirekturJenderal, Inspektur Jenderal dan Jabatan setingkat,ditetapkan oleh Presiden.Bagian KelimaSumpah, Kode Etik, dan Peraturan DisiplinPasal 26(1) Setiap Calon Pegawai Negeri Sipil pada saat pengangkatannyamenjadi Pegawai Negeri Sipil wajib mengucapkan sumpah/janji.(2) Susunan kata–kata sumpah/janji adalah sebagai berikut :Demi Allah, saya bersumpah/berjanji;bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai NegeriSipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila,Undang–Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah;bahwa saya, akan mentaati segala peraturanperundang–undangan yang berlaku dan melaksanakan tugaskedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuhpengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 14bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggikehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat PegawaiNegeri Sipil, serta akan senantiasa mengutamakankepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri,seseorang atau golongan;bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yangmenurut sifatnya atau menurut perintah harus sayarahasiakan;bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib,cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.13. Ketentuan Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 menjadiberbunyi sebagai berikut :Pasal 30(1) Pembinaan jiwa korps, kode etik, dan peraturan disiplinPegawai Negeri Sipil tidak boleh bertentangan dengan Pasal27 ayat (1) dan Pasal 28 Undang–Undang Dasar 1945.(2) Pembinaan jiwa korps, kode etik, dan peraturan disiplinsebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ditetapkan denganPeraturan Pemerintah.Bagian KeenamPendidikan dan PelatihanPasal 31(1) Untuk mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar–besarnya diadakan pengaturan dan penyelenggaraanpendidikan dan pelatihan jabatan Pegawai Negeri Sipil yangbertujuan untuk meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian,kemampuan, dan keterampilan.(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 15Bagian KetujuhKesejahteraanPasal 32(1) Untuk meningkatkan kegairahan bekerja, diselenggarakanusaha kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil.(2) Usaha kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) meliputi program pensiun dan tabungan hari tua,asuransi kesehatan, tabungan perumahan, dan asuransipendidikan bagi putra putri Pegawai Negeri Sipil.(3) Untuk penyelenggaraan usaha kesejahteraan sebagaimanadimaksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri Sipil wajibmembayar iuran setiap bulan dari penghasilannya.(4) Untuk penyelenggaraan program pensiun danpenyelenggaraan asuransi kesehatan, Pemerintahmenanggung subsidi dan iuran.(5) Besarnya subsidi dan iuran sebagaimana dimaksud dalamayat (4), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.(6) Pegawai Negeri Sipil yang meninggal dunia, keluarganyaberhak memperoleh bantuan.14. Ketentuan Pasal 34 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 34(1) Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan kebijaksanaanmanajemen Pegawai Negeri Sipil, dibentuk BadanKepegawaian Negara.(2) Badan sebagaiman dimaksud dalam ayat (1),menyelenggarakan manajemen Pegawai Negeri Sipil yangmencakup perencanaan, pengembangan kualitas sumberdaya Pegawai Negeri Sipil dan administrasi kepegawaian,pengawasan dan pengendalian, penyelenggaraan danpemeliharaan informasi kepegawaian, mendukung perumusankebijaksanaan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil, sertamemberikan bimbingan teknis kepada unit organisasi yangmenangani kepegawaian pada instansi pemerintah pusat danpemerintah daerah.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 1615. Diantara Pasal 34 dan Pasal 35 disisipkan 1 (satu)pasal, yakni Pasal 34 A berbunyi sebagai berikut :Pasal 34 A(1) Untuk kelancaran pelaksanaan manajemen Pegawai NegeriSipil Daerah dibentuk Badan Kepegawaian Daerah.(2) Badan Kepegawaian Daerah sebagaimana dimaksud dalamayat (1), adalah perangkat Daerah yang dibentuk oleh KepalaDaerah.16. Ketentuan Pasal 35 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 35(1) Sengketa kepegawaian diselesaikan melalui Peradilan TataUsaha Negara.(2) Sengketa kepegawaian sebagai akibat pelanggaran terhadapperaturan disiplin Pegawai Negeri Sipil diselesaikan melaluiupaya banding administratif kepada Badan PertimbanganKepegawaian.(3) Badan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), ditetapkandengan Peraturan Pemerintah.17. Judul BAB IV dan ketentuan Pasal 37 menjadi berbunyisebagai berikut :BAB IVMANAJEMEN ANGGOTA TENTARA NASIONALINDONESIA DAN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARAREPUBLIK INDONESIAPasal 37Manajemen Anggota Tentara Nasional Indonesia dan AnggotaKepolisian Negara Republik Indonesia, masing–masing diaturdengan Undang–Undang tersendiri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 17Pasal 11Undang–undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganundang–undang ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Disahkan di Jakarta,Pada tanggal 30 September 1999PRESIDEN REPUBLIK IndonesiattdBACHARUDDIN JUSUF HABIBIEDiundangkan di Jakarta,pada tanggal 30 September 1999MENTERI NEGARASEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdM U L A D ILEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999NOMOR 169Salinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIAT KABINET RI,Kepala Biro Peraturan Perundang–undangan IIttdEdy SudibyoADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 18PENJELASANATASUNDANG–UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 43 TAHUN 1999TENTANGPERUBAHAN ATASUNDANG–UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANGPOKOK–POKOK KEPEGAWAIAN1. UMUM1. Kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintahan danpembangunan nasional sangat tergantung padakesempurnaan aparatur negara khususnya Pegawai Negeri.Karena itu, dalam rangka mencapai tujuan pembangunannasional yakni mewujudkan masyarakat madani yang taathukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil,dan bermoral tinggi, diperlukan Pegawai Negeri yangmerupakan unsur aparatur Negara yang bertugas sebagaiabdi masyarakat yang harus menyelenggarakan pelayanansecara adil dan merata kepada masyarakat dengan dilandasikesetiaan, dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang–undang Dasar 1945.2. Disamping itu dalam pelaksanaan desentralisasi kewenanganpemerintahan kepada Daerah, Pegawai Negeri berkewajibanuntuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa danharus melaksanakan tugasnya secara profesional danbertanggung jawab dalam menyelenggarakan tugaspemerintahan dan pembangunan, serta bersih dan bebasdari korupsi, kolusi, dan nepotisme.3. Sebagai bagian dari pembinaan Pegawai Negeri, pembinaanPegawai Negeri Sipil perlu dilakukan dengan sebaik–baiknyadengan berdasarkan pada perpaduan sistem prestasi kerjadan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem prestasikerja. Hal ini dimaksudkan untuk memberi peluang bagiPegawai Negeri Sipil yang berprestasi tinggi untukmeningkatkan kemampuannya secara profesional danberkompetisi secara sehat.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 19Dengan demikian pengangkatan dalam jabatan harusdidasarkan pada sistem prestasi kerja yang didasarkan ataspenilaian obyektif terhadap prestasi, kompetensi, danpelatihan Pegawai Negeri Sipil. Dalam pembinaan kenaikanpangkat, disamping berdasarkan sistem prestasi kerja jugadiperhatikan sistem karier.4. Manajemen Pegawai Negeri Sipil perlu diatur secaramenyeluruh, dengan menerapkan norma, standar, danprosedur yang seragam dalam penetapan formasi,pengadaan, pengembangan, penetapan gaji, dan programkesejahteraan, serta pemberhentian yang merupakan unsurdalam manajemen Pegawai Negeri Sipil, baik Pegawai NegeriSipil Pusat maupun Pegawai Negeri Sipil Daerah. Denganadanya keseragaman tersebut, diharapkan akan dapatdiciptakan kualitas Pegawai Negeri Sipil yang seragam diseluruh Indonesia. Di samping memudahkan penyelengga-raan manajemen kepegawaian, manajemen yang seragamdan dapat pula mewujudkan keseragaman perlakuan danjaminan kepastian hukum bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil.5. Dengan berlakunya Undang–undang Nomor 22 tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah harus didorong desentralisasiurusan kepegawaian kepada daerah. Untuk memberilandasan yang kuat bagi pelaksanaan desentralisasikepegawaian tersebut, diperlukan adanya perngaturankebijaksanaan manajemen Pegawai Negeri Sipil secaranasional tentang norma, standar, dan prosedur yang samadan bersifat nasional dalam setiap unsur manajemenkepegawaian.6. Dalam upaya menjaga netralitas Pegawai Negeri dari pengaruhpartai politik dan untuk menjamin keutuhan, kekompakan,dan persatuan Pegawai Negeri, serta agar dapat memusatkansegala perhatian, pikiran, dan tenaganya pada tugas yangdibebankan kepadanya maka Pegawai Negeri dilarang menjadianggota dan/atau pengurus partai politik.Oleh karena itu, Pegwai Negeri Sipil yang menjadi anggotadan/atau pengurus partai politik harus diberhentikan sebagaiPegawai Negeri. Pemberhentian tersebut dapat dilakukandengan hormat atau tidak dengan hormat.7. Untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraanPegawai Negeri, dalam undang–undang ini ditegaskan bahwaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 20Pegawai Negeri Sipil berhak memperoleh gaji yang adil danlayak sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawabnya.Untuk itu Negara dan Pemerintah wajib mengusahakan danmemberikan gaji yang adil sesuai standar yang layak kepadaPegawai Negeri.Gaji adalah sebagai balas jasa dan penghargaan atas prestasikerja Pegawai Negeri yang bersangkutan.Pada umumnya sistem penggajian dapat digolongkan dalam2 (dua) sistem, yaitu sistem skala tunggal dan sistem skalaganda. Sistem skala tunggal adalah sistem penggajian yangmemberikan gaji yang sama kepada pegawai yangberpangkat sama dengan tidak atau kurang memperhatikansifat pekerjaan yang dilakukan dan beratnya tanggung jawabpekerjaannya.Sistem skala ganda adalah sistem penggajian yangmenentukan besarnya gaji bukan saja didasarkan padapangkat, tetapi juga didasarkan pada sifat pekerjaan yangdilakukan, prestasi kerja yang dicapai, dan beratnya tanggungjawab pekerjaanya.Selain kedua sistem penggajian tersebut dikenal juga sistempenggajian ketiga yang disebut sistem skala gabungan, yangmerupakan perpaduan antara sistem skala tunggal dansistem skala ganda. Dalam sistem skala gabungan, gaji pokokditentukan sama bagi Pegawai Negeri yang berpangkat sama,di samping itu diberikan tunjangan kepada Pegawai Negeriyang memikul tanggung jawab yang lebih berat, prestasiyang tinggi atau melakukan pekerjaan tertentu yang sifatnyamemerlukan pemusatan perhatian dan pengerahan tenagasecara terus menerus.8. Selain itu undang–undang ini menegaskan bahwa untukmenjamin manajemen dan pembinaan karier Pegawai NegeriSipil, maka jabatan yang ada dalam organisasi pemerintahanbaik jabatan struktural maupun jabatan fungsional merupakanjabatan karier yang hanya dapat diisi atau diduduki olehPegawai Negeri Sipil dan/atau Pegawai Negeri yang telahberalih status sebagai Pegawai Negeri Sipil.9. Setiap warga Negara Republik Indonesia mempunyaikesempatan yang sama untuk melamar sebagai PegawaiNegeri Sipil sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 21Pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil dilakukan secaraobyektif hanya untuk mengisi formasi yang lowong.10. Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan strukturalatau jabatan fungsional harus dilakukan secara obyektif danselektif, sehingga menumbuhkan kegairahan untukberkompetisi bagi semua Pegawai Negeri Sipil dalammeningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam rangkamemberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.11. Untuk dapat melaksanakan pembinaan Pegawai Negeri Sipilberdasarkan pemikiran tersebut, perlu mengubah beberapaketentuan Undang–undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok–pokok Kepegawaian.2. PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelasPasal 2Ayat (1)Huruf aCukup jelasHuruf bKetentuan mengenai Anggota Tentara NasionalIndonesia, diatur dengan undang–undang.Huruf cKetentuan mengenai Anggota Kepolisian NegaraRepublik Indonesia, diatur dengan undang–undang.Ayat (2)Huruf aYang dimaksud dengan Pegawai Negeri SipilPusat adalah Pegawai Negeri Sipil yang gajinyadibebankan pada Anggaran Pendapatan danBelanja Negara dan bekerja padaDepertemen, Lembaga Pemerintah Non-ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 22Departemen, Kesekretariatan LembagaTertinggi/Tinggi Negara, Instansi Vertikal diDaerah propinsi/Kabupaten/Kota, Kepani-teraan Pengadilan, atau dipekerjakan untukmenyelenggarakan tugas negara lainnya.Huruf bYang dimaksud dengan Pegawai Negeri SipilDaerah adalah Pegawai Negeri Sipil DaerahPropinsi/Kabupaten/Kota yang gajinyadibebankan pada Anggaran Pendapatan danBelanja Daerah dan bekerja pada PemerintahDaerah, atau dipekerjakan di luar instansiinduknya.Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai NegeriSipil Daerah yang diperbantukan di luar instansiinduk, gajinya dibebankan pada instansi yangmenerima perbantuan.Ayat (3)Yang dimaksud dengan pegawai tidak tetap adalahpegawai yang diangkat untuk jangka waktu tertentuguna melaksanakan tugas pemerintahan danpembangunan yang bersifat teknis profesional danadministrasi sesuai dengan kebutuhan dankemampuan organisasi Pegawai tidak tetap tidakberkedudukan sebagai Pegawai Negeri.Pasal 3Cukup jelasPasal 4Cukup jelasPasal 7Ayat (1)Yang dimaksud dengan gaji yang adil dan layak adalahbahwa gaji Pegawai Negeri harus mampu memenuhikebutuhan hidup keluarganya, sehingga PegawaiADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 23Negeri yang bersangkutan dapat memusatkanperhatian, pikiran, dan tenaganya hanya untukmelaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Pengaturan gaji Pegawai Negeri yang adil dimaksudkanuntuk mencegah kesenjangan kesejahteraan, baikantar Pegawai Negeri maupun antara Pegawai Negeridengan swasta. Sedangkan gaji yang layakdimaksudkan untuk menjamin terpenuhinyakebutuhan pokok dan dapat mendorong produktivitasdan kreativitas Pegawai Negeri.Pasal 11Ayat (1)Urutan Pejabat Negara sebagaimana tersebut dalamketentuan ini tidak berarti menunjukkan tingkatankedudukan dari pejabat tersebut.Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan Hakimpada Badan Peradilan adalah Hakim yang berada dilingkungan Peradilan Umum, peradilan Tata UsahaNegara, Peradilan Militer dan Peradilan Agama.Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Yang dimaksud Pejabat Negara tertentu adalah Ketua,Wakil Ketua, Ketua Muda, dan Hakim Agung padaMahkamah Agung, serta Ketua, Wakil Ketua, danHakim pada Hakim pada semua Badan Peradilan;Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Badan PemeriksaKeuangan yang berasal dari jabatan karier; KepalaPerwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri yangberkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa danBerkuasa Penuh yang berasal dari diplomat karier,dan jabatan yang setingkat Menteri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 24Ayat (4)Cukup jelasPasal 12Ayat (1)Cukup JelasAyat (2)Dalam rangka usaha untuk meningkatkan mutu danketerampilan serta memupuk kegairahan bekerja,maka perlu dilaksanakan pembinaan Pegawai NegeriSipil dengan sebaik–baiknya atas dasar sistem prestasikerja dan sistem karier yang dititikberatkan padasistem prestasi kerja.Dengan demikian akan diperoleh penilaian yang objektifterhadap kompetensi Pegawai Negeri Sipil.Untuk dapat meningkatkan daya guna dan hasil gunayang sebesar–besarnya, maka sistem pembinaankarier yang harus dilaksanakan adalah sistempembinaan karier tertutup dalam arti negara.Dengan sistem karier tertutup dalam arti Negaramaka dimungkinkan perpindahan Pegawai/Kota yangsatu ke Departemen/Lembaga/Propinsi/Kabupaten/Kota yang lain atau sebaliknya, terutama untukmenduduki jabatan–jabatan yang bersifat manajerial.Pasal 13Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Komisi Kepegawaian Negara sebagaimana dimaksuddalam ketentuan ini adalah Komisi yang bertugasmembantu Presiden dalam :a. merumuskan kebijaksanaan umum kepegawaian;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 25b. merumuskan kebijaksanaan penggajian dankesejahteraan Pegawai Negeri Sipil; danc. memberikan pertimbangan dalam pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian dalam dan darijabatan struktural tertentu yang menjadi wewenangPresiden.Untuk dapat melaksanakan tugas pokok tersebut secaraobyektif, maka kedudukan Komisi adalah independen.Ayat (4)Anggota Tetap diangkat dari Pegawai Negeri Sipil seniordari instansi pemerintah atau perguruan tinggi dan stafsenior dari Badan Kepegawaian Negara, sedangkanAnggota Tidak tetap diangkat dari Pegawai Negeri Sipilsenior dari Departemen terkait, wakil organisasi PegawaiNegeri, dan wakil dari tokoh masyarakat yang mempunyaikeahlian yang diperlukan oleh Komisi.Ayat (5)Cukup jelasAyat (6)Cukup jelasPasal 15Ayat (1)Formasi adalah penentuan jumlah dan susunanpangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan untukmampu melaksanakan tugas pokok yang ditetapkanoleh pejabat yang berwenang.Jumlah Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan ditetapkanberdasarkan beban kerja suatu organisasi.Ayat (2)Formasi ditetapkan berdasarkan perkiraan beban kerjadalam jangka waktu tertentu dengan mempertim-bangkan macam–macam pekerjaaan, rutinitaspekerjaan, keahlian yang diperlukan untukmelaksanakan tugas dan hal–hal lain yangmempengaruhi jumlah dan sumber daya manusiayang diperlukan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 26Pasal 16Ayat (2)Ketentuan ini menegaskan bahwa pengadaanPegawai Negeri Sipil harus didasarkan atas syarat–syarat obyektif yang telah ditentukan, dan tidak bolehdidasarkan atas jenis kelamin, suku, agama, ras,golongan, atau daerah.Pasal 16 AAyat (1)Pengangkatan langsung menjadi Pegawai Negeri Sipil,dilaksanakan secara sangat selektif bagi mereka yangdipandang telah berjasa dan diperlukan bagi Negara.Ayat (2)Cukup jelasPasal 17Ayat (1)Yang dimaksud Jabatan adalah kedudukan yangmenunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang,dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatusatuan organisasi Negara.Jabatan dalam lingkungan birokrasi pemerintah adalahJabatan Karier. Jabatan Karier adalah jabatan dalamlingkungan birokrasi pemerintah yang hanya dapatdiduduki oleh Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeriyang telah beralih status sebagai Pegawai Negeri Sipil.Jabatan Karier dapat dibedakan dalam 2 (dua) jenisyaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional.Jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegasada dalam struktur organisasi. Jabatan fungsionaladalah jabatan yang tidak secara tegas disebutkandalam struktur organisasi, tetapi dari sudut fungsinyadiperlukan oleh organisasi, seperti Peneliti, Dokter,Pustakawan, dan lain–lain yang serupa dengan itu.Yang dimaksud dengan Pangkat adalah kedudukanyang menunjukkan tingkat seseorang Pegawai NegeriADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 27Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaiansusunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasarpenggajian.Ayat (2)Yang dimaksud dengan syarat objektif lainnya antaralain adalah disiplin kerja, kesetiaan, pengabdian,pengalaman, kerjasama, dan dapat dipercaya.Ayat (3)Yang dimaksud dengan syarat obyektif lainnya antaralain adalah disiplin kerja, kesetiaan, pengabdian,pengalaman, kerjasama, dan dapat dipercaya.Ayat (3)Cukup jelasPasal 20Cukup jelasPasal 22Untuk kepentingan kedinasan dan sebagai salah satu usahauntuk memperluas pengalaman, wawasan, dan kemampuan,maka perlu diadakan perpindahan jabatan, tugas, dan wilayahkerja bagi Pegawai Negeri Sipil terutama bagi yang menjabatpimpinan dengan tidak merugikan hak kepegawaiannya.Pasal 23Ayat (1)Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan denganhormat menerima hak–hak kepegawaian sesuaidengan peraturan perundangan yang berlaku antaralain hak pensiun dan tabungan hari tua.Ayat (2)Diberhentikan dengan hormat apabila tenaganya tidakdiperlukan oleh Pemerintah atau hal–hal lain yangdapat mengakibatkan bersangkutan diberhentikantidak dengan hormat.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 28Ayat (3)Diberhentikan dengan hormat atau tidak diberhentikantergantung kepada berat ringannya pelanggaran ataumemperhatikan jasa–jasa dan pengabdian PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan.Ayat (4)Diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaansendiri atau diberhentikan tidak dengan hormattergantung kepada berat ringannya pelanggaran yangdilakukan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan danmemperhatikan jasa dan pengabdiannya.Ayat (5)Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan tidak denganhormat tidak berhak menerima pensiun.Pasal 24Untuk menjamin kelancaran pemeriksaan, maka PegawaiNegeri Sipil yang disangka oleh pejabat yang berwajibmelakukan tindak pidana kejahatan dikenakan pemberhentiansementara sampai adanya putusan pengadilan yang telahmempunyai kekuatan hukum yang tetap. Pemberhentiansementara tersebut adalah pemberhentian sementara darijabatan negeri bukan pemberhentian sementara sebagaiPegawai Negeri Sipil.Apabila pemeriksaan oleh yang berwajib telah selesai atautelah ada putusan pengadilan yang telah mempunyaikekuatan hukum yang tetap dan ternyata bahwa PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan tidak bersalah, maka PegawaiNegeri Sipil tersebut dirahabilitasikan terhitung sejak iadikenakan pemberhentian sementara. Rehabilitasi yangdimaksud mengandung pengertian, bahwa Pegawai NegeriSipil yang bersangkutan diaktifkan dan dikembalikan padajabatan semula.Apabila setelah pemeriksaan oleh Pengadilan telah selesaidan ternyata Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan bersalahdan oleh sebab itu dihukum penjara atau kurunganberdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyaikekuatan hukum yang tetap, maka Pegawai Negeri SipilADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 29tersebut dapat diberhentikan dengan memperhatikanketentuan Pasal 23 ayat (3) huruf b, ayat (4) huruf a, danayat (5) huruf c.Pasal 25Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Ketentuan mengenai pendelegasian atau penyerahankewenangan yang diatur dalam Peraturan Pemerintahmenjadi norma, standar, dan prosedur dalampengangkatan, pemindahan, dan pemberhentianPegawai Negeri Sipil.Ayat (3)Jabatan–jabatan yang dimaksud dalam ketentuanini merupakan jabatan–jabatan karier tertinggi. Olehkarena itu pengangkatan, pemindahan, danpemberhentiannya ditetapkan dengan KeputusanPresiden.Pasal 26Ayat (1)Pengucapan Sumpah/janji dilakukan menurut agamayang diakui Pemerintah, yakni :a. diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganutagama Islam;b. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolongsaya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik;c. Diawali dengan ucapan “Omaatah Paramawisesa”untuk penganut agama Hindu; dand. Diawali dengan ucapan “Demi Sang Hyang AdiBuddha” untuk penganut agama Buddha.Ayat (2)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 30Pasal 30Cukup jelasPasal 31Ayat (1)Pengaturan dan penyelenggaraan pendidikan danpelatihan jabatan bagi Pegawai Negeri Sipildimaksudkan agar terjamin keserasian pembinaanPegawai Negeri Sipil.Pengaturan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihanjabatan meliputi kegiatan perencanaan, termasukperencanaan anggaran, penentuan standar,pemberian akreditasi, penilaian, dan pengawasan.Tujuan pendidikan dan pelatihan jabatan antara lainadalah :- Meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian, danketerampilan;- Menciptakan adanya pola berpikir yang sama;- Menciptakan dan mengembangkan metode kerjayang lebih baik; dan- Membina karier Pegawai Negeri Sipil.Pada pokoknya pendidikan dan pelatihan jabatandibagi 2 (dua) yaitu pendidikan dan pelatihanprajabatan dan pendidikan dan palatihan dalamjabatan :- Pendidikan dan Pelatihan prajabatan (pre servicetraining) adalah suatu pelatihan yang diberikankepada Calon Pegawai Negeri Sipil. Dengan tujuanagar ia dapat terampil melaksanakan tugas yangdipercayakan kepadanya;- Pendidikan dan pelatihan dalam jabatan (in servicetraining) adalah suatu pelatihan yang bertujuanuntuk meningkatkan mutu, keahlian, kemampuan,dan keterampilan.Ayat (2)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 31Pasal 32Cukup jelasPasal 34Cukup jelasPasal 34 ACukup jelasPasal 35Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Pegawai Negeri Sipil golongan tertentu yang dijatuhihukuman disiplin pemberhentian dengan hormat tidakatas permintaan sendiri dan pemberhentian tidakdengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dapatmengajukan upaya banding administratif ke BadanPertimbangan Kepegawaian.Ayat (3)Cukup jelasPasal 37Cukup jelasPasal 11Cukup jelasTAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIANOMOR 3890ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 32PRESIDENREPUBLIK INDONESIAPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 15 TAHUN 1979TENTANGDAFTAR URUT KEPANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILTanggal : 25 JUNI 1979 (JAKARTA)Presiden Republik Indonesia,Menimbang : a. bahwa dalam rangka usaha untuk lebihmenjamin obyektivitas dalam pembinaanPegawai Negeri Sipil berdasarkan sistem karierdan sistem prestasi kerja, dipandang perlumenetapkan Peraturan Pemerintah tentangdaftar urut kepangkatan Pegawai Negeri Sipil;b. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun1952 tentang Daftar Susunan Pangkat DanKenaikan Pangkat Pegawai Negeri dipandangtidak sesuai lagi, oleh sebab itu perlu ditinjaukembali dan disempurnakan;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041);ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 33MEMUTUSKAN :Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANGDAFTAR URUT KEPANGKATAN PEGAWAINEGERI SIPILBAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :a. Daftar Urut Kepangkatan Pegawai Negeri Sipil, selanjutnya dalamPeraturan Pemerintah ini disebut Daftar Urut Kepangkatan adalahsuatu daftar yang memuat nama Pegawai Negeri Sipil dari suatusatuan organisasi Negara yang disusun menurut tingkatankepangkatan;b. Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan adalah pejabat yangberwenang membuat dan memelihara Daftar Urut Kepangkatan;c. Atasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan adalah atasanlangsung dari Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan.BAB IIPEMBUATAN DAFTAR URUT KEPANGKATANPasal 2(1) Daftar Urut Kepangkatan dibuat untuk seluruh Pegawai NegeriSipil dari suatu satuan organisasi Negara.(2) Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan LembagaTertinggi/Tinggi Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, dan pejabatlain yang ditentukan oleh Presiden, membuat dan memeliharaDaftar Urut Kepangkatan dalam lingkungannya masing-masing.(3) Daftar Urut Kepangkatan dibuat sekali setahun.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 34Pasal 3(1) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya kepada pejabat laindalam lingkungan kekuasaannya untuk membuat danmemelihara Daftar Urut Kepangkatan dalam lingkungannyamasing-masing.(2) Pejabat yang dapat diberi wewenang untuk membuat danmemelihara Daftar Urut Kepangkatan sebagaimana dimaksuddalam ayat (1), serendah-rendahnya memangku jabatanstruktural Eselon V atau jabatan lain yang setingkat dengan itu.Pasal 4Ukuran yang digunakan untuk menetapkan nomor urut dalam DaftarUrut Kepangkatan, secara berturut-turut adalah :a. pangkat;b. jabatan;c. masa kerja;d. latihan jabatan;e. pendidikan; danf. usia.Pasal 5(1) Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan sebagai Pegawai NegeriSipil, dihapuskan namanya dari Daftar Urut Kepangkatan.(2) Pegawai Negeri Sipil yang pindah ke instansi lain, dihapuskannamanya dari Daftar Urut Kepangkatan dari instansi semula.Pasal 6(1) Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan pada Daerah Otonomatau instansi Pemerintah lainnya, dicantumkan namanya dalamDaftar Urut Kepangkatan Daerah Otonom atau instansi yangbersangkutan.(2) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi Pejabat Negara,sedang menjalankan tugas belajar, diperkerjakan ataudiperbantukan pada instansi lain, sedang menjalankan cuti diluar tanggungan Negara, diberhentikan sementara, atauADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 35diberhentikan dari jabatan Negeri dengan mendapat uangtunggu, tetap dicantumkan namanya dalam Daftar UrutKepangkatan instansi induk yang bersangkutan.Pasal 7Apabila dalam tahun yang bersangkutan terjadi mutasi kepegawaianyang mengakibatkan perubahan nomor urut dalam Daftar UrutKepangkatan, maka Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanmencatat perubahan itu dalam Daftar Urut Kepangkatan yangbersangkutan.Pasal 8Daftar Urut Kepangkatan adalah bersifat terbuka dan diumumkanoleh dan menurut cara yang ditentukan oleh Pejabat Pembuat DaftarUrut Kepangkatan yang bersangkutan.BAB IIIKEBERATAN ATAS NOMOR URUT DALAM DAFTAR URUTKEPANGKATANPasal 9(1) Pegawai Negeri Sipil yang merasa nomor urutnya dalam DaftarUrut Kepangkatan tidak tepat, dapat mengajukan keberatansecara tertulis kepada Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanyang bersangkutan melalui hierarki.(2) Dalam surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),harus dimuat alasan-alasan keberatan itu.(3) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),harus dilakukan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejaktanggal pengumuman Daftar Urut Kepangkatan.Pasal 10(1) Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan, wajibmempertimbangkan dengan seksama keberatan yang diajukanoleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 36(2) Apabila keberatan yang diajukan sebagaimana dimaksud dalamPasal 9 mempunyai dasar-dasar yang kuat, maka PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan menetapkan perubahannomor urut dalam Daftar Urut Kepangkatan sebagaimanamestinya.(3) Apabila keberatan yang diajukan sebagaimana dimaksud dalamPasal 9 tidak mempunyai dasar-dasar yang kuat, maka PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan menolak keberatan tersebut.(4) Perubahan nomor urut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)atau penolakan atas keberatan sebagaimana dimaksud dalamayat (3), harus sudah ditetapkan dan diberitahukan oleh PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan kepada Pegawai Negeri Sipilyang bersangkutan dalam jangka waktu 14 (empat belas) harisejak tanggal ia menerima surat. keberatan tersebut.Pasal 11(1) Pegawai Negeri Sipil yang merasa tidak puas terhadap penolakanatas keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat(3), dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada AtasanPejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan yang bersangkutanmelalui hierarki.(2) Pengajukan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)harus disertai dengan alasan-alasan yang lengkap.(3) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)harus dilakukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejaktanggal ia menerima penolakan atas keberatan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 10 ayat (3).Pasal 13(1) Atasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan yangbersangkutan wajib mempertimbangkan dengan seksamakeberatan yang diajukan oleh Pegawai Negeri Sipilsebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan tanggapanPejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 12.(2) Apabila terdapat alasan-alasan yang cukup, maka Atasan PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan menetapkan perubahannomor urut dalam Daftar Urut Kepangkatan yang bersangkutan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 37(3) Apabila tidak terdapat alasan-alasan yang cukup, maka AtasanPejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan menolak keberatansebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.(4) Perubahan nomor urut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)atau penolakan atas keberatan sebagaimana dimaksud dalamayat (3), harus sudah ditetapkan dan diberitahukan oleh AtasanPejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan kepada PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan dan kepada Pegawai NegeriSipil yang bersangkutan dalam jangka waktu 14 (empat belas)hari sejak tanggal ia menerima surat keberatan tersebut.(5) Terhadap penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)atau penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), tidakdapat diajukan keberatan.Pasal 14Terhadap Daftar Urut Kepangkatan yang ditanda tangani sendirioleh Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan LembagaTertinggi/Tinggi Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen, dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, tidak dapatdiajukan keberatan.BAB IVPENGGUNAAN DAFTAR URUT KEPANGKATANPasal 15Daftar Urut Kepangkatan digunakan sebagai salah satu bahanpertimbangan obyektif dalam melaksanakan pembinaan karierPegawai Negeri Sipil.Pasal 16(1) Apabila ada lowongan, maka Pegawai Negeri Sipil yang mendudukiDaftar Urut Kepangkatan yang lebih tinggi, wajib dipertimbangkanlebih dahulu.(2) Apabila Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) tidak dapat diangkat untuk mengisi lowongan tersebut karenatidak memenuhi persyaratan lainnya, maka hal itu harusdiberitahukan kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 38(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak berlakubagi Pegawai Negeri Sipil yang sedang dikenakan pemberhentiansementara, sedang menjalani cuti di luar tanggungan Negara,dan yang sedang menerima uang tunggu.BAB VKETENTUAN-KETENTUAN LAINPasal 17Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara membuat danmemelihara Daftar Urut Kepangkatan bagi seluruh Pegawai NegeriSipil yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke atas.Pasal 18Ketentuan-ketentuan teknis pelaksanaan Peraturan Pemerintah iniditetapkan oleh Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara.Pasal 19Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini,diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.BAB VIKETENTUAN PENUTUPPasal 20Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka PeraturanPemerintah Nomor 9 Tahun 1952 tentang Daftar Susunan PangkatDan Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri (Lembargan Negara Tahun1952 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 200) dansegala peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangandengan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tidak berlaku lagi.Pasal 21Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 39Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkanpengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 25 Juni 1979PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdS O E H A R T ODiundangkan di Jakarta pada tanggal 25 Juni 1979MENTERI/SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdSUDHARMONO, SH.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 40PENJELASAN ATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 15 TAHUN 1979TENTANGDAFTAR URUT KEPANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILUMUMDalam rangka usaha untuk lebih menjamin obyektivitas dalampembinaan Pegawai Negeri Sipil berdasarkan sistem karier dan sistemprestasi kerja, maka perlu dibuat dan dipelihara secara terus menerusDaftar Urut Kepangkatan Pegawai Negeri Sipil, selanjutnya dalamPeraturan Pemerintah ini disebut Daftar Urut Kepangkatan.Daftar Urut Kepangkatan, adalah salah satu bahan obyektif dalammelaksanakan pembinaan karier Pegawai Negeri Sipil. Apabila adalowongan, maka Pegawai Negeri Sipil yang menduduki Daftar UrutKepangkatan yang lebih tinggi, haruslah dipertimbangkan lebih dahulu.Tetapi apabila ia tidak mungkin diangkat untuk mengisi lowongan itukarena tidak memenuhi syarat-syarat lainnya, seperti syarat-syaratkecakapan, kepemimpinan, pengalaman, dan lain-lain, maka haruslahdiberitahukan kepadanya, sehingga ia dapat berusaha untuk mengisikekurangannya itu untuk masa mendatang.PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelas.Pasal 2Ayat (1) Calon Pegawai Negeri Sipil masih dalam masa percobaan,oleh sebab itu tidak dicantumkan dalam Daftar UrutKepangkatan.Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (3) Daftar Urut Kepangkatan dibuat pada tiap-tiap bulanDesember.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 41Pasal 3Ayat (1) Pada dasarnya, Daftar Urut Kepangkatan dibuat secaraterpusat pada tingkat Departemen, Kejaksanaan Agung,Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara,Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan DaerahTingkat I. Tetapi untuk penggunaan praktis danberdasarkan pertimbangan jumlah Pegawai Negeri Sipilyang dibina dan lokasi penempatannya, maka pejabatsebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya kepada pejabatlain dalam lingkungan kekuasaannya untuk membuat danmemelihara Daftar Urut Kepangkatan dalam lingkungannyamasing-masing. Pejabat yang menerima delegasiwewenang sebagai tersebut di atas,membuat danmemelihara Daftar Urut Kepangkatan dari seluruh PegawaiNegeri Sipil yang berada dalam lingkungan kekuasaannya.Walaupun dilakukan pendelegasian wewenang untukmembuat dan memelihara Daftar Urut Kepangkatan, tetapiuntuk kepentingan pembina, pejabat sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), harus juga membuatdan memelihara secara terpusat Daftar Urut Kepangkatanmengenai Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat tertentu.Umpamanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaanmembuat dan memelihara secara terpusat Daftar UrutKepangkatan dari Pegawai Negeri Sipil yang berpangkatPembina golongan ruang IV/a ke atas.Ayat (2) Pejabat yang setingkat dengan pejabat yang memangkujabatan struktural Eselon V, antara lain adalah PenilikSekolah Dasar, Penilik Pendidikan Agama, Kepala SekolahDasar, dan lain-lain.Pasal 4Huruf a Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat lebih tinggi,dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggi dalamDaftar Urut Kepangkatan. Apabila ada 2 (dua) orang ataulebih Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat sama,umpamanya sama-sama berpangkat Pembina Tingkat Igolongan ruang IV/b, maka dari antara mereka yang lebihtua dalam pangkat tersebut dicantumkan dalam nomorurut yang lebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 42Huruf b Apabila ada 2 (dua) orang atau lebih Pegawai Negeri Sipilyang berpangkat sama dan diangkat dalam pangkat itudalam waktu yang sama pula, maka dari antara merekayang memangku jabatan lebih tinggi dicantumkan dalamnomor urut yang lebih tinggi dalam Daftar UrutKepangkatan. Apabila tingkat jabatan sama juga, makadari antara mereka yang lebih dahulu diangkat dalamjabatan yang sama tingkatnya itu, dicantumkan dalamnomor urut yang lebih tinggi dalam Daftar UrutKepangkatan.Huruf c Apabila ada 2 (dua) orang atau lebih Pegawai Negeri Sipilyang berpangkat sama sebagaimana dimaksud dalamhuruf a, dan memangku jabatan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, maka dari antara mereka yangmemiliki masa kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil yanglebih banyak dicantumkan dalam nomor urut yang lebihtinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Huruf d Apabila ada 2 (dua) orang atau lebih Pegawai Negeri Sipilyang berpangkat sama sebagaimana dimaksud dalamhuruf a, memangku jabatan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b dan memiliki masa kerja yangsama sebagaimana dimaksud dalam huruf c, maka dariantara mereka yang pernah mengikuti latihan jabatan yangditentukan dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan. Jenis dan tingkat latihanjabatan sebagaimana dimaksud di atas, ditentukan lebihlanjut oleh Menteri yang bertanggung jawab dalam bidangpenertiban dan penyempurnaan Aparatur Negara. Apabilajenis dan tingkat latihan jabatan sama, maka dari antaramereka yang lebih dahulu lulus dicantumkan daftar nomorurut yang lebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Huruf e Apabila ada 2 (dua) orang atau lebih Pegawai Negeri Sipilyang berpangkat sama sebagaimana dimaksud dalamhuruf a, memangku jabatan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, memiliki masa kerja yang samasebagaimana dimaksud dalam huruf c, dan lulus dari latihanjabatan yang sama sebagaimana dimaksud dalam hurufd, maka dari antara mereka yang lulus dari pendidikanyang lebih tinggi dicantumkan dalam nomor urut yanglebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan. Apabila tingkatpendidikan sama, maka dari antara mereka yang lebihADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 43dahulu lulus dicantumkan dalam nomor urut yang lebihtinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Huruf f Apabila ada 2 (dua) orang atau lebih Pegawai Negeri Sipilyang berpangkat sama sebagaimana dimaksud dalamhuruf a memangku jabatan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, memiliki masa kerja yang samasebagaimana dimaksud dalam huruf c, lulus dari latihanjabatan yang sama sebagaimana dimaksud dalam hurufd, dan lulus dari pendidikan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf e, maka dari antara mereka yangberusia yang lebih tinggi dicantumkan dalam nomor urutyang lebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Pasal 5Ayat (1) Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan sebagaimanadimaksud dalam ayat ini termasuk Pegawai Negeri Sipilyang meninggal dunia.Ayat (2) Pegawai Negeri Sipil yang pindah dari satu instansi keinstansi lain dihapuskan dari Daftar Urut Kepangkataninstansi lama dan dicantumkan dalam Daftar UrutKepangkatan dari instansi yang baru dengan menggunakanukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.Pasal 6Ayat (1) Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan pada DaerahOtonom atau instansi Pemerintah lainnya, walaupun telahdicantumkan dalam Daftar Urut Kepangkatan dari instansiyang menerima perbantuan, tetapi apabila dipandang perluuntuk tingkat pangkat tertentu, dapat pula dicantumkandalam Daftar Urut Kepangkatan pada instansi induk, sesuaidengan ketentuan pimpinan instansi induk yangmemberikan perbantuan.Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 7Untuk memudahkan penggunaan dan pembuatan DaftarUrut Kepangkatan tahun berikutnya, maka setiap mutasikepegawaian yang mengakibatkan perubahan Nomor urutADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 44dalam Daftar Urut Kepangkatan, umpamanya kenaikanpangkat, penurunan pangkat, pengangkatan dalamjabatan,pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil,pemindahan, pemberhentian, meninggal dunia, dan lain-lain dicatat dalam Daftar Urut Kepangkatan yangbersangkutan.Pasal 8Daftar Urut Kepangkatan yang telah ditetapkan, diumumkan dengancara yang sedemikian rupa sehingga Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan dapat dengan mudah membacanya. Daftar UrutKepangkatan mulai berlaku sejak tanggal diumumkan.Pasal 9Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Keberatan yang diajukan melebihi jangka waktu 30 (tigapuluh) hari tidak dipertimbangkan.Pasal 10Cukup jelas.Pasal 11Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Keberatan yang diajukan melebihi jangka waktu 14 (empatbelas) hari tidak dipertimbangkan.Pasal 12Ayat (1)Keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini diajukanmelalui hirarki, oleh sebab itu harus melalui Pejabat PembuatDaftar Urut Kepangkatan. Pejabat Pembuat Daftar UrutKepangkatan wajib mempelajari dengan seksama keberatanPegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dan membuattanggapan tertulis atas keberatan itu.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 45Ayat (2)Tanggapan yang dimaksud disampaikan kepada AtasanPejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan bersama-samadengan surat keberatan dari Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan.Pasal 13Cukup jelas.Pasal 14Cukup jelas.Pasal 15Dengan adanya Daftar Urut Kepangkatan, maka pembinaan karierPegawai Negeri Sipil dapat dilakukan dengan lebih obyektif.Pembinaan karier yang dimaksud, antara lain meliputikepangkatan,penempatan dalam jabatan, pengiriman untukmengikuti latihan jabatan,dan lain-lain.Pasal 16Cukup jelas.Pasal 17Seluruh Pegawai Negeri Sipil adalah satu, oleh sebab itu pembinaannyadiatur secara menyeluruh, yaitu adanya suatu pengaturanpembinaan yang berlaku bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil, baik bagiPegawai Negeri Sipil Pusat maupun bagi Pegawai Negeri Sipil Daerah.Berdasarkan prinsip sebagai tersebut di atas, maka dalam rangkausaha mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-besarnyadimungkinkan perpindahan Pegawai Negeri Sipil antar instansi,terutama untuk menduduki jabatan-jabatan yang bersifat managerial.Dalam rangka usaha ini maka Kepala Badan AdministrasiKepegawaian Negara perlu membuat dan memelihara Daftar UrutKepangkatan bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil yang berpangkatPembina golongan ruang IV/a ke atas, baik Pegawai Negeri SipilPusat maupun Pegawai Negeri Sipil Daerah.Pasal 18 sampai dengan pasal 21 Cukup jelas.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 46Jakarta, 11 Pebruari 1980KepadaYth. 1. Semua Menteri yang memimpinDepartemen2. Jaksa Agung3. Semua Pimpinan KesekretariatanLembaga Tertinggi/Tinggi Negara4. Semua Pimpinan LembagaPemerintah Non Departemen5. Semua Gubernur Kepala DaerahTingkat I6. Semua Bupati/WalikotamadyaKepala Daerah Tingkat IISURAT EDARANNOMOR : 03/SE/1980TENTANGDAFTAR URUT KEPANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILI. PENDAHULUAN1. UMUMa. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1979(Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 22, TambahanLembaran Negara Nomor 3138), telah ditetapkanDaftar Urut Kepangkatan Pegawai Negeri Sipil sebagaipengganti Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1952tentang Daftar Susunan Pangkat dan Kenaikan PangkatPegawai Negeri (Lembaran Negara Tahun 1952 Nomor14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 200).b. Untuk menjamin keseragaman dan kelancaran dalampelaksanaannya, maka dipandang perlu mengeluarkanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 47petunjuk teknis tentang pembuatan Daftar UrutKepangkatan Pegawai Negeri Sipil.2. DASARa. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor3041).b. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1972 tentangBadan Administrasi Kepegawaian Negara (LembaranNegara Tahun 1972 Nomor 42).c. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1979 tentangDaftar Urut Kepangkatan Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 22, TambahanLembaran Negara Nomor 3138).3. PENGERTIANDalam Surat Edaran ini yang dimaksud dengan instansiinduk adalah Departemen, Kejaksaan Agung,Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara,Lembaga Pemerintah Non Departemen PemerintahDaerah Tingkat I dan Pemerintah Daerah Tingkat II.4. TUJUANSurat Edaran ini adalah sebagai Pedoman bagi pejabatyang berkepentingan dalam melaksanakan pembuatanDaftar Urut Kepangkatan.II. DAFTAR URUT KEPANGKATAN1. UMUMa. Daftar urut Kepangkatan adalah salah satu bahanobyektif untuk melaksanakan pembinaan karierPegawai Negeri Sipil berdasarkan sistem karier dansistem prestasi kerja, oleh karena itu Daftar UrutKepangkatan perlu dibuat dan dipelihara secara terus-menerus.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 48b. Apabila ada lowongan, maka Pegawai Negeri Sipil yangmenduduki Daftar Urut Kepangkatan yang lebih tinggi,wajib dipertimbangkan lebih dahulu untuk mengisilowongan tersebut. Tetapi apabila ia tidak mungkindiangkat untuk mengisi lowongan itu karena tidakmemenuhi syarat-syarat lainnya, seperti syarat-syaratkecakapan, kepemimpinan, pengalaman, dan lain-lain,maka haruslah diberitahukan kepadanya, sehingga iadapat berusaha untuk mengisi kekurangannya ituuntuk masa mendatang.2. PEMBUATAN DAFTAR URUT KEPANGKATANa. Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan KesekretariatanLembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Pimpinan LembagaPemerintah Non Departemen, Gubernur KepalaDaerah Tingkat I, Bupati/Walikotamadya KepalaDaerah Tingkat II dan pejabat lain yang ditentukanoleh Presiden, membuat dan memelihara Daftar UrutKepangkatan dalam lingkungannya masing-masing,menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran ISurat Edaran ini.b. Dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimanadimaksud dalam huruf a di atas, setiap Kepala/Pimpinan satuan organisasi Negara serendah-rendahnya pejabat yang memangku jabatan eselonV atau jabatan lain yang dipersamakan dengan itu,harus membuat membuat Daftar Urut Kepangkatandalam lingkungannya masing-masing, sesuai denganketentuan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi yangbersangkutan.c. Yang dimasukkan dalam Daftar Urut Kepangkatanhanya Pegawai Negeri Sipil saja, tidak termasuk calonPegawai Negeri Sipil.d. Dengan memperhatikan jumlah pegawai yangdikelola dan untuk kepentingan pembinaan karier,pembuatan Daftar Urut Kepangkatan dapat diatursebagai berikut :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 49(1) Pada tingkat Departemen, Kejaksaan Agung, danPemerintah Daerah Tingkat I disusun Daftar UrutKepangkatan mulai golongan ruang IV/e sampaidengan golongan ruang IV/a.(2) Pada tingkat Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Lembaga Pemerintah Non-departemen, Sekretariat Jenderal, InspektoratJenderal, Direktorat Jenderal, Badan, Universitas/Institut Negeri, Pemerintah Daerah Tingkat II daninstansi lain yang ditentukan oleh Presiden sertainstansi lain yang setingkat dengan itu, disusunDaftar Urut Kepangkatan mulai dari golonganruang yang tertinggi sampai dengan golonganruang III/a.(3) Pada tingkat satuan organisasi lainnya, sepertiDirektorat, Biro, Kantor Wilayah, Kantor WilayahTingkat Propinsi, Dinas Daerah, dan lain-laindisusun Daftar Urut Kepangkatan mulai darigolongan ruang yang tertinggi sampai dengangolongan ruang I/a.Umpamanya :Penyusunan Daftar Urut Kepangkatan padaDepartemen Perhubungan :1. Pada tingkat Departemen Perhubungan disusunDaftar Urut Kepangkatan dari segenap PegawaiNegeri Sipil dalam lingkungan DepartemenPerhubungan mulai dari golongan ruang IV/esampai dengan golongan ruang IV/a.2. Pada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut disusunDaftar Urut Kepangkatan segenap Pegawai NegeriSipil dalam lingkungan Direktorat JenderalPerhubungan Laut mulai dari golongan ruang IV/esampai dengan golongan ruang III/a.3. Pada Direktorat Navigasi disusun Daftar UrutKepangkatan segenap Pegawai Negeri Sipil dalamlingkungan Direktorat Navigasi mulai dari golonganruang IV/e sampai dengan golongan ruang I/a.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 50e. Pembuatan Daftar Urut Kepangkatan Pegawai NegeriSipil di lingkungan Departemen Pertahanan Keamanandiatur tersendiri oleh Menteri Pertahanan Keamanan.f. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan hal-halsebagaimana dimaksud dalam huruf b dan d di atas,diatur oleh Menteri, Jaksa Agung, PimpinanKesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara,Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen,Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan pejabatlain yang bersangkutan.g. Daftar Urut Kepangkatan segenap Pegawai NegeriSipil, baik Pegawai Negeri Sipil Pusat maupun PegawaiNegeri Sipil Daerah Golongan Ruang IV/e sampaidengan golongan ruang IV/a, disusun secara Nasionaloleh Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Untukini, maka masing-masing Departemen, KejaksaanAgung, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/TinggiNegara, Lembaga Pemerintah NonDepartemen,Pemerintah Daerah Tingkat I, Pemerintah DaerahTingkat II dan instansi lain yang ditentukan olehPresiden, mengirimkan kepada Badan AdministrasiKepegawaian Negara Daftar Urut Kepangkatan dariPegawai Negeri Sipil golongan ruang IV/e sampaidengan golongan ruang IV/a dalam lingkungannyamasing-masing menurut contoh sebagai tersebutdalam lampiran I Surat Edaran ini.h. Daftar Urut Kepangkatan dibuat setiap tahun yaituharus sudah selesai dibuat pada setiap akhir bulanDesember.i. Untuk kepentingan penyusunan Daftar UrutKepangkatan secara Nasional, maka Daftar UrutKepangkatan golongan IV/e sampai dengan golonganruang IV/a dari masing-masing Departemen,Kejaksaan Agung, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Lembaga Pemerintah Nondepartemendan instansi lain yang ditentukan oleh Presiden, harussudah disampaikan kepada Kepala Badan AdministrasiKepegawaian Negara selambat-lambatnya pada akhirbulan Maret.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 51Umpamanya :Daftar Urut Kepangkatan yang disusun pada bulanDesember 1980, harus sudah disampaikan kepada KepalaBadan Administrasi Kepegawaian Negara selambat-lambatnya pada akhir bulan Maret 1981.3. NOMOR URUT DALAM DAFTAR URUTKEPANGKATANa. UMUMDalam Daftar Urut Kepangkatan tidak boleh ada 2(dua) nama Pegawai Negeri Sipil yang sama nomorurutnya, maka untuk menentukan nomor urut yangtepat dalam satu Daftar Urut Kepangkatan diadakanukuran secara berturut-turut sebagai berikut :(1) Pangkat;(2) Jabatan;(3) Masa Kerja;(4) Latihan Jabatan;(5) Pendidikan; dan(6) Usiab. PANGKATPegawai Negeri Sipil yang berpangkat lebih tinggi,dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan. Apabila ada duaorang atau lebih Pegawai Negeri Sipil yang berpangkatsama, umpamanya sama-sama berpangkat PembinaTingkat I golongan ruang IV/b, maka dari antaramereka yang lebih tua dalam pangkat tersebutdicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Direktorat Perbendaharaan Negara terdapat tigaorang Pegawai Negeri Sipil bernama Amat, Bindu danCirus yang berpangkat sama, yaitu Pembina TingkatADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 52I golongan ruang IV/b tetapi Amat diangkat dalamgolongan ruang IV/b terhitung mulai tanggal 1 – 10– 1977, sedangkan Bindu terhitung mulai tanggal 1– 10 – 1977 dan Cirus terhitung mulai tanggal 1 – 4 –1978. Dalam hal yang sedemikian susunan namamereka pada Daftar Urut Kepangkatan DirektoratPerbendaharaan Negara, dimuat dari nama Amat,kemudian Bindu dan seterusnya Cirus.c. JABATAN1) Apabila ada dua orang atau lebih Pegawai NegeriSipil yang berpangkat sama dan diangkat dalampangkat itu dalam waktu yang sama pula, makadari antara mereka yang memangku jabatan yanglebih tinggi dicantumkan dalam nomor urut yanglebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Sekretariat Jenderal Departemen Agamaterdapat dua orang Pegawai Negeri Sipil bernamaAbdul Kadir dan Abu Bakar yang berpangkatsama, yaitu Pembina Utama Muda golonganruang IV/c masing-masing terhitung mulai tanggal01 April 1978. Jabatan Abdul Kadir adalah KepalaBiro sedang jabatan Abu Bakar adalah KepalaBagian. Dalam hal yang sedemikian, maka AbdulKadir dicantumkan dalam nomor urut yang lebihtinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.(2) Apabila tingkat jabatan sama juga, maka dariantara mereka yang lebih dahulu diangkat dalamjabatan yang sama tingkatnya itu, dicantumkandalam nomor urut yang lebih tinggi dalam DaftarUrut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Biro Perencanaan Sekretariat JenderalDepartemen Dalam Negeri terdapat tiga orangPegawai Negeri Sipil bernama Daud, Eman danFirman berpangkat sama, yaitu Pem bina TingkatI golongan ruang IV/b terhitung mulai tanggal 01ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 53Oktober 1976, Jabatan Daud adalah KepalaBagian A terhitung mulai tanggal 01 Januari 1977jabatan Eman adalah Kepala Bagian B terhitungmulai tanggal 1 April 1977, sedang jabatan Firmanadalah Kepala Bagian C terhitung mulai tanggal01 Oktober 1977. Dalam hal yang demikiansusunan nama ketiga Pegawai Negeri Sipil tersebutdi atas dalam Daftar Urut Kepangkatan BiroPerencanaan yang teratas adalah Daud, kemudianEman, barulah Firman.(3) Tingkat Jabatan sebagai dasar penyusunanDaftar Urut Kepangkatan, adalah :(a) Jabatan struktural adalah sebagai tersebutdalam Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun1977 dengan segala tambahan danperubahannya.(b) Jabatan lain adalah sebagaimana dimaksuddalam Lampiran II Surat edaran ini.d. MASA KERJA(1) Apabila ada dua orang atau lebih Pegawai NegeriSipil yang berpangkat sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, dan memangku jabatanyang sama sebagaimana dimaksud dalam hurufc, maka dari antara mereka yang memiliki masakerja sebagai Pegawai Negeri Sipil yang lebihbanyak dicantumkan dalam nomor urut yang lebihtinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Biro Kepegawaian SETWILDA Tingkat I JawaBarat terdapat dua orang Pegawai Negeri Sipilbernama Gino dan Husein yang berpangkat samayaitu Penata Tingkat I golongan ruang III/dterhitung mulai 1 Oktober 1977 dengan jabatanyang sama tingkatnya yaitu masing-masing KepalaBagian sejak 1 April 1978. Gino diangkat menjadiPegawai Negeri Sipil sejak tanggal 1 Mei 1963,ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 54sedangkan Husein diangkat sejak 1 Januari 1965.Dalam hal yang sedemikian nama Ginodicantumkan lebih tinggi daripada Husein dalamDaftar Urut Kepangkatan pada Biro KepegawaianSETWILDA Tingkat I Jawa Barat, karena masakerja Gino lebih banyak dari Husein.(2) Masa Kerja yang diperhitungkan dalam DaftarUrut Kepangkatan, adalah masa kerja yang dapatdiperhitungkan untuk penetapan gaji.e. LATIHAN JABATAN(1) Apabila ada dua orang atau lebih Pegawai NegeriSipil yang berpangkat sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, memangku jabatan yangsama sebagaimana dimaksud dalam huruf c danmemiliki masa kerja yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf d, maka dari antara merekayang pernah mengikuti latihan jabatan yangditentukan, dicantumkan dalam nomor urut yanglebih tinggi dalam Daftar Urut Kepangkatan.Apabila jenis dan tingkat latihan jabatan sama,maka dari antara mereka yang lebih dahulu lulusdicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikandan Kebudayaan terdapat 4 orang Pegawai negeriSipil bernama Ismail, Jakub, Kasim dan Lemanyang berpangkat sama yaitu Pembina UtamaMuda golongan ruang IV/c terhitung mulai tanggal1 Oktober 1978, dengan jabatan yang sama yaituInspektur sejak 1 Mei 1976, masuk PegawaiNegeri Sipil sejak 1 Juli 1955. Ismail mengikutipendidikan SESPA LAN pada tahun 1976.Jakub mengikuti SESPA LAN pada tahun 1977,Kasim juga mengikuti pendidikan SESPA LANtahun 1977 tetapi tidak lulus, sedangkan Lemanbelum pernah mengikuti pendidikan latihanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 55jabatan. Dalam hal yang demikian urutan namaPegawai Negeri Sipil tersebut pada Daftar UrutKepangkatan Direktorat Inspektorat JenderalPendidikan dan Kebudayaan dimulai dengan namaIsmail, kemudian menyusul nama Jakub, Kasimdan seterusnya Leman.(2) Tingkat latihan jabatan yang digunakan sebagaidasar dalam Daftar Urut Kepangkatan adalahsebagaimana dimaksud dalam Lampiran III SuratEdaran ini.f. PENDIDIKAN(1) Apabila ada dua orang atau lebih Pegawai NegeriSipil yang berpangkat sama sebagaimanadimaksud dalam huruf b, memangku jabatan yangsama sebagaimana dimaksud dalam huruf c,memiliki masa kerja yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf d, dan lulus dari latihanjabatan yang sama sebagaimana dimaksud dalamhuruf e, maka dari antara mereka yang lulus daripendidikan yang lebih tinggi dicantumkan dalamnomor urut yang lebih tinggi dalam Daftar UrutKepangkatan. Apabila tingkat pendidikan sama,maka dari antara mereka yang lebih dahulu lulusdicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum danOtonomi Daerah Departemen Dalam Negeriterdapat 3 orang Pegawai Negeri Sipil bernamaTina, Mochtar, J. Napitupulu, mereka memilikipangkat yang sama, yaitu Penata Golongan RuangIII/c terhitung mulai 1 Oktober 1978, denganjabatan yang sama yaitu Kepala Seksi sejak 1Januari 1979, ketiga-tiganya diangkat menjadiCalon Pegawai Negeri Sipil sejak 1 April 1969,sama–sama diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipilsejak 1 Mei 1970, sama-sama mengikuti dan lulusADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 56Kursus Perencanaan tahun 1975. Tinamemperoleh gelar Sarjana Hukum tahun 1967,Mochtar memperoleh gelar Sarjana Ekonomi tahun1966, sedangkan J. Napitupulu memperoleh gelarSarjana Sosial tahun 1968. Dalam hal yangdemikian urutan nama ketiga Pegawai Negeri Sipiltersebut diatas dalam Daftar Urut KepangkatanDirektorat Jenderal Pemerintahan Umum danOtonomi Daerah yang teratas adalah Mochtar,kemudian Tina dan seterusnya J. Napitupulu.(2) Tingkat Ijazah/Akta/Diploma/STTB yangdiperoleh dari suatu pendidikan yang digunakansebagai dasar dalam Daftar Urut Kepangkatan,adalah sebagaimana dimaksud dalam LampiranIV Surat Edaran ini.g. USIAApabila ada dua atau lebih Pegawai Negeri Sipil yangberpangkat sama sebagaimana dimaksud dalam hurufb di atas, memangku jabatan yang samasebagaimana dimaksud dalam huruf c, memiliki masakerja yang sama sebagaimana dimaksud dalam hurufd, lulus dari latihan jabatan yang sama sebagaimanadimaksud dalam huruf e, dan lulus dari pendidikanyang sama sebagaimana dimaksud dalam huruf f,maka dari antara mereka yang berusia lebih tinggidicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggidalam Daftar Urut Kepangkatan.Umpamanya :Pada Biro Keuangan Sekretariat Jenderal DepartemenSosial terdapat 2 orang Pegawai Negeri Sipil bernamaOberlin dan Poernomo dengan pangkat yang samaPenata Tingkat I Golongan Ruang III/d terhitungmulai tanggal 1 Oktober 1978, Jabatan Kepala SubBagian sejak 1 Mei 1978, masuk Pegawai Negeri Sipilsejak 1 Pebruari 1966, dua-duanya memperolehSarjana Ekonomi pada tahun 1965, belum pernahmengalami latihan jabatan. Oberlin lahir tanggal 9 JuliADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 571935, sedangkan Poernomo lahir tanggal 5 Mei 1937.Dalam hal yang demikian urutan nama mereka dalamDaftar Urut Kepangkatan Biro Keuangan SekretariatJenderal Departemen Sosial dimulai dengan namaOberlin karena dia lebih tua usia daripada Poernomo.4. DAFTAR URUT KEPANGKATAN BAGI PEGAWAINEGERI SIPIL YANG DIPERBANTUKAN PADADAERAH OTONOMI ATAU INSTANSI PEMERINTAHLAINNYAa. Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan pada DaerahOtonom atau Instansi Pemerintah lainnya, namanyadicantumkan dalam Daftar Urut Kepangkatan Daerahotonom atau instansi di mana Pegawai Negeri Sipilyang bersangkutan diperbantukan.b. Walaupun Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukantelah tercantum dalam Daftar Urut Kepangkatan dariinstansi yang menerima bantuan, tetapi untukkepentingan pembinaan karier, pegawai negeri sipilyang diperbantukan itu harus juga dicantumkan dalamdaftar urut kepangkatan dari instansi yangmemberikan perbantuan.c. Dengan memperhatikan jumlah Pegawai Negeri Sipilyang dikelola, maka pembuatan Daftar UrutKepangkatan oleh instansi yang memberikanperbantuan dapat diatur sebagai berikut :(1) Pada tingkat Departemen, Kejaksaan Agung, danPropinsi Daerah Tingkat I disusun Daftar UrutKepangkatan golongan ruang IV/e sampai dengangolongan ruang IV/a.(2) Pada tingkat Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Lembaga Pemerintah Non-Departemen, Sekretariat Jenderal, InspektoratJenderal, Direktorat Jenderal, Badan Universitas/Institut Negeri, Kabupaten/WalikotamadyaDaerah Tingkat II dan instansi lain yang setingkatdengan itu, disusun Daftar Urut KepangkatanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 58mulai dari golongan ruang yang tertinggi sampaidengan golongan ruang I/a.5. DAFTAR URUT KEPANGKATAN BAGI PEGAWAINEGERI SIPIL YANG BERADA DI LUAR JABATANORGANIKNYAPegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi PejabatNegara, sedang menjalankan tugas belajar, diperkerjakanatau diperbantukan pada instansi lain, sedangmenjalankan cuti di luar tanggungan negara, diberhentikansementara, atau diberhentikan dari Jabatan Negeri denganmendapat uang tunggu, tetap dicantumkan namanyadalam Daftar Urut Kepangkatan instansi yangbersangkutan.III. PENGUMUMAN DAN KEBERATAN ATAS NOMOR URUTDALAM DAFTAR URUT KEPANGKATAN1. PENGUMUMANDaftar Urut Kepangkatan yang telah ditetapkan,diumumkan dengan cara sedemikian rupa sehinggaPegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dapat denganmudah membacanya.2. KEBERATANa. Apabila ada Pegawai Negeri Sipil yang berkeberatanatas nomor urutnya dalam Daftar Urut Kepangkatan,maka Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan berhakmengajukan keberatan secara tertulis kepada PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan yangbersangkutan melalui hirarki menurut contoh sebagaitersebut dalam lampiran V Surat Edaran ini.b. Keberatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatas, harus sudah diajukan dalam jangka waktu 30(tiga puluh) hari terhitung mulai diumumkan DaftarUrut Kepangkatan.Keberatan yang diajukan melebihi jangka waktu 30(tiga puluh) hari tidak dipertimbangkan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 59c. Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan wajibmempertimbangkan dengan seksama keberatan yangdiajukan oleh Pegawai Negeri Sipil dalam lingkungannyamasing-masing.d. Apabila keberatan yang diajukan mempunyai dasar-dasar yang kuat, maka Pejabat Pembuat Daftar UrutKepangkatan menetapkan perubahan nomor urutdalam Daftar Urut Kepangkatan sebagaimanamestinya dan memberitahukan kepada Pegawai NegeriSipil yang bersangkutan menurut contoh sebagaitersebut dalam Lampiran VI Surat Edaran ini.e. Apabila keberatan yang diajukan tidak mempunyaidasar-dasar yang kuat, maka Pejabat Pembuat DaftarUrut Kepangkatan menolak keberatan tersebut secaratertulis menurut contoh sebagai tersebut dalamLampiran VII Surat Edaran ini.f. Perubahan nomor urut atau penolakan atas keberatansebagaimana dimaksud di atas, harus sudahditetapkan dan diberitahukan oleh Pejabat PembuatDaftar Urut Kepangkatan kepada Pegawai Negeri Sipilyang bersangkutan dalam jangka waktu 14 (empatbelas) hari terhitung mulai tanggal ia menerima suratkeberatan tersebut.g. Apabila Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutanmerasa tidak puas atas penolakan keberatan yangdiajukannya, maka ia dapat mengajukan keberatanbanding secara tertulis kepada Atasan PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan melalui hirarkidisertai dengan alasan-alasan yang lengkap, menurutcontoh sebagai tersebut dalam lampiran VIII SuratEdaran ini.h. Keberatan tersebut harus sudah diajukan dalamjangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung mulaiia menerima penolakan atas keberatan tersebut.Keberatan yang diajukan melebihi jangka waktu 14(empat belas) hari tidak dipertimbangkan.i. Keberatan atas nomor dalam Daftar UrutKepangkatan diajukan melalui hirarki, oleh sebab ituADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 60keberatan tersebut dikirim kepada Atasan PembuatDaftar Urut Kepangkatan melalui Pejabat PembuatDaftar Urut Kepangkatan.Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatan Wajibmempelajari dengan seksama keberatan PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan dan membuattanggapan terakhir atas keberatan itu.j. Tanggapan yang dimaksud disampaikan kepadaAtasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanbersama-sama dengan Surat Keberatan dari PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan.k. Atasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanyang menerima keberatan atas nomor urut dalamDaftar Urut Kepangkatan, wajib mempertimbangkandengan seksama keberatan tersebut.l. Apabila terdapat alasan-alasan yang kuat, makaAtasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanmenetapkan perubahan nomor urut dalam DaftarUrut Kepangkatan yang bersangkutan, danmemberitahukannya secara tertulis kepada PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan dan PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan menurut contohsebagai tersebut dalam Lampiran IX Surat Edaran inim. Apabila tidak terdapat alasan-alasan yang kuat, makaAtasan Pejabat Pembuat Daftar Urut Kepangkatanmenolak keberatan tersebut dan memberitahukannyasecara tertulis kepada Pejabat Pembuat Daftar UrutKepangkatan dan Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan secara tertulis menurut contoh sebagaitersebut dalam Lampiran X Surat Edaran ini.n. Perubahan nomor urut atau penolakan atas keberatansebagaimana dimaksud di atas, harus sudahditetapkan dan diberitahukan oleh Atasan PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan kepada PejabatPembuat Daftar Urut Kepangkatan dan PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan dalam jangka waktu14 (empat belas) hari terhitung mulai tanggal iamenerima surat keberatan tersebut.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 61o. Terhadap perubahan nomor urut dalam Daftar UrutKepangkatan atau penolakan atas keberatan yangditetapkan oleh Atasan Pejabat Pembuat Daftar UrutKepangkatan tidak dapat diajukan keberatan.p. Terhadap Daftar Urut Kepangkatan yang ditandatangani sendiri oleh Menteri, Jaksa Agung, PimpinanKesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara,Pimpinan Lembaga Non Departemen, dan GubernurKepala Daerah Tingkat I, tidak dapat diajukankeberatan.IV. PERUBAHAN DAN PENGHAPUSAN NOMOR URUTDALAM DAFTAR URUT KEPANGKATAN1. PERUBAHANa. Setiap mutasi kepegawaian yang mengakibatkanperubahan nomor urut dalam Daftar UrutKepangkatan, umpamanya kenaikan pangkat,penurunan pangkat, pengangkatan dalam jabatan,pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil,pemindahan, pemberhentian, meninggal dunia, danlain-lain dicatat, dalam Daftar Urut Kepangkatan yangbersangkutan.b. Untuk memudahkan pemeliharaan Daftar UrutKepangkatan, maka perubahan-perubahan karenamutasi kepegawaian, pencatatannya cukup denganmenuliskan jenis mutasi kepegawaian dan tanggalberlakunya pada lajur yang disediakan.2. PENGHAPUSANa. Penghapusan Pegawai Negeri Sipil dihapuskan dariDaftar Urut Kepangkatan oleh karena :(1) Diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil.(2) Meninggal dunia.(3) Pindah instansi.b. Penghapusan nama tersebut dilakukan pada waktupenyusunan Daftar Urut Kepangkatan untuk tahunberikutnya.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 62Umpamanya :Pada Departemen Perindustrian seorang PegawaiNegeri Sipil bernama Amat diberhentikan sebagaiPegawai Negeri Sipil pada akhir bulan Maret 1979,dalam hal yang sedemikian, nama Amat dihapuskandari Daftar Urut Kepangkatan dalam tahun 1980 yangdisusun pada akhir tahun 1979.V. PENGGUNAAN DAFTAR URUT KEPANGKATAN1. Daftar Urut Kepangkatan adalah salah satu bahanobyektif dalam melaksanakan pembinaan karier PegawaiNegeri Sipil.2. Dengan adanya Daftar Urut Kepangkatan, makapembinaan karier Pegawai Negeri Sipil dapat dilakukandengan lebih obyektif. Pembinaan karier yang dimaksudantara lain meliputi kepangkatan, penempatan dalamjabatan, pengiriman untuk mengikuti latihan jabatan danlain-lain.3. Apabila ada lowongan, maka Pegawai Negeri Sipil yangmenduduki Daftar Urut Kepangkatan yang lebih tinggi,wajib dipertimbangkan lebih dahulu. Tetapi apabila ia tidakmungkin diangkat untuk mengisi lowongan itu karena tidakmemenuhi syarat-syarat lainnya, seperti syarat-syaratkecakapan, kepemimpinan, pengalaman dan lain-lainharuslah diberitahukan kepadanya, sehingga ia dapatberusaha untuk mengisi kekurangan itu untuk masamendatang.4. Pertimbangan bagi Pegawai Negeri Sipil yang mendudukinomor urut yang lebih tinggi dalam Daftar UrutKepangkatan tidak berlaku bagi Pegawai Negeri Sipilyang :a. Dikenakan pemberhentian sementara.b. Sedang menjalani cuti di luar tanggungan negara,terkecuali Pegawai Negeri Sipil wanita yang menjalankancuti di luar tanggungan negara karena untuk persalinananaknya yang ke IV dan seterusnya.c. Penerima uang tunggu.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 63VI. PENUTUP1. Apabila dalam melaksanakan Surat Edaran ini dijumpaikesulitan-kesulitan agar segera ditanyakan kepada KepalaBadan Administrasi Kepegawaian Negara untuk mendapatpenyelesaian.2. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Surat Edaran iniakan diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan AdministrasiKepegawaian Negara.3. Harap maksud Surat Edaran ini dilaksanakan dengansebaik-baiknya.KEPALABADAN ADMINISTRASIKEPEGAWAIAN NEGARAttdA E MANIHURUKTembusan Surat Edaran ini dengan hormat disampaikan kepada :1. Bapak Presiden, sebagai laporan.2. Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara, sebagai laporan.3. Menteri/Sekretaris Negara, sebagai laporan.4. Semua Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, Inspektur Jenderal,dan Kepala Badan/Pusat.5. Semua Kepala Kantor Wilayah Departemen/Pimpinan InstansiVertikal.6. Semua Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal AnggaranDepartemen Keuangan.7. Semua Kepala Kantor Perbendaharaan Negara dan semuaKepala Kas Daerah.8. Semua Camat di seluruh Indonesia.9. Pertinggal.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 64LAMPIRANISURATEDARANKEPALABADANADMINISTRASIKEPEGAWAIANNEGARANOMOR:03/SE/1980TANGGAL:11PEBRUARI1980DAFTARURUTKEPANGKATANPEGAWAINEGERISIPILUNITORGANISASI:TEMPAT:DEPARTEMEN/LEMBAGA/DAERAHTINGKAT…………………BERLAKUUNTUK…………………………………………………………………………………TAHUN:PANGKATJABATANMASAKERJALATIHANJABATANPENDIDIKANNO.URUTNAMANIPGOLRUANGTMTNAMATMTTHNBLNNAMABLNDANTHNJUMLAHJAMNAMALULUSTAHUNTINGKATIJAZAHUSIACATATANMUTASIKEPEGAWAIANKETERANGAN123456789101112131415161718ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 65PETUNJUK PENGISIAN LAMPIRAN ISURAT EDARAN KEPALA BADAN ADMINISTRASIKEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980NO NOMORLAJURURAIAN1 2 31. 1 Cukup jelas2. 2 Tulislah nama sebagaimana tercantum dalam Surat KeputusanPengangkatan.3. 3 Cukup jelas4. 4 Cukup jelas5. 5 Tulislah tanggal, bulan dan tahun pengangkatan dalam pangkat yangdimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.6. 6 Cukup jelas7. 7 Perhatikan uraian lajur 58. 8 dan 9 Tuliskanlah masa kerja golongan Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan (masa kerja yang dapat diperhitungkan untukpenetapan gaji) pada waktu pembuatan Daftar Urut Kepangkatan.9. 10 Tulislah nama latihan jabatan yang diikuti oleh Pegawai Negeri yangbersangkutan.10. 11 Tulislah bulan dan Tahun selesainya/lulus Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan dari latihan jabatan tersebut. Kalau lulus tulislah “lulus”dan kalau tidak lulus tulislah “tidak lulus” dalam kurung.11. 12 Tulislah jumlah jam pelajaran dari latihan jabatan Pegawai NegeriSipil yang bersangkutan.12. 13 Tulislah nama pendidikan yang tertinggi yang ditempuh oleh PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan, umpamanya SD, SLTP, SLTA,Fakultas Hukum dan sebagainya.13. 14 Tuliskanlah tahun lulus Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dariPendidikan tersebut.14 15 Tulislah tingkat Ijazah/Akta/Diploma/STTB yang diperoleh.15 16 Tuliskanlah tanggal, bulan, dan tahun lahir Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan. Apabila tidak diketahui tanggal lahir cukup dituliskanbulan dan tahun, apabila tanggal dan bulan tidak diketahui, cukupditulis tahun lahir saja.16. 17 Tulislah mutasi kepegawaian yang terjadi antara ditetapkannya DUKdan pembuatan DUK berikutnya.17. 18 Tulislah hal-hal yang dianggap perluADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 66LAMPIRAN II-ASURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980TINGKAT JABATAN DI BIDANG PENDIDIKANNO JABATANDIPERSAMAKANDENGAN ESELONKETERANGAN1 2 3 41 GURU BESAR Ia2 LEKTOR KEPALA IIb3 PENGAWAS SLTP/SLTA IIIb4 LEKTOR IIIb5 KEPALA SLTA/SLB/MADRASAH ALIYAH IVa6 LEKTOR MADYA IVa7 KEPALA SLTP/SLB/MADRASAHTSANAWIYAHIVa8 LEKTOR MUDA IVb9 PENILIK TK/SD/SLB/PENDIDI-KAN AGAMA Va10 ASISTEN AHLI Vb11 KEPALA SD/SD PERCOBAAN/ MADRASAHIBTIDAIYAHVb12 ASISTEN AHLI MADYA VbADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 67LAMPIRAN II-BSURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980TINGKAT JABATAN DI BIDANG PENELITIANNO JABATAN SETINGKAT ESELON KETERANGAN1 2 3 41 AHLI PENELITI Ia2 PENELITI IIb3 AJUN PENELITI IVa4 ASISTEN PENELITI VbADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 68LAMPIRAN IIISURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980TINGKAT LATIHAN JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPILSyarat-Syarat Untuk Mengikuti LatihanJabatanNoJabatanGolongan RuangJumlahJamPelajaranTingkatLatihanJabatanKeterangan1 2 3 4 5 6600 ataulebih1 A300 s/d 599 1 B1 JABATAN-JABATANSTRUKTURAL DANFUNGSIONAL YANGSETINGKAT ESELON IIIV/a-IV/d100 s/d 299 1 C600 ataulebih2 A300 s/d 599 2 B2 JABATAN-JABATANSTRUKTURAL DANFUNGSIONAL YANGSETINGKAT ESELON IIIIII/c-IV/c100 s/d 299 2 C600 ataulebih3 A300 s/d 599 3 B3 JABATAN-JABATANSTRUKTURAL DANFUNGSIONAL YANGSETINGKAT ESELON IVIII/a-IV/a100 s/d 299 3 C600 ataulebih4 A300 s/d 599 4 B4 JABATAN-JABATANSTRUKTURAL DANFUNGSIONAL YANGSETINGKAT ESELON VII/a-III/d100 s/d 299 4 C600 ataulebih5 A300 s/d 599 5 B5 JABATAN-JABATANNON STRUKTURALII/a-II/d100 s/d 299 5 C600 ataulebih6 A300 s/d 599 6 B6 JABATAN-JABATANNON STRUKTURALI/a-I/d100 s/d 299 6 CLatihan jabatanyang jumlah jampelajarannyakurang dari 100jam pelajarantidakdiperhitungkanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 69LAMPIRAN IVSURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980TINGKAT IJAZAH/AKTA/DIPLOMA/STTB YANG DIPEROLEHDARI SUATU PENDIDIKAN UMUMNO.URUTIJAZA/AKTA/DIPLOMA/STTB KETERANGAN1 2 31 Dokter, Spesialis II dan Akta V2 Pasca Sarjana, Spesialis I dan Akta IV3 Dokter dan Apoteker4 Sarjana5 Akta III6 Diploma III Politeknik7 Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa, Diploma III,Akademi, Bakaloreat, dan Akta II8 Sarjana Muda dan Diploma II9 Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Atas Non Guru4 Tahun, Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat AtasGuru 3 Tahun dan Akta I10 Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Atas Non Guru3 Tahun dan Diploma I11 Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas12 Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Pertama 4Tahun13 Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Pertama 3Tahun14 Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama15 Sekolah DasarADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 70LAMPIRAN VSURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Perihal : Pengajuan keberatas atasnomor urut dalam DaftarUrut Kepangkatan PegawaiNegeri SipilYang bertanda tangan di bawah ini :Nama :NIP :Golongan Ruang :Unit Organisasi :Mengajukan keberatan atas nomor urut saya yang dibuatdalam Daftar Urut Kepangkatan pada unit organisasi……………………………………… ………………… untuk tahun ……………yang ditandatangani oleh :Nama :NIP :Golongan Ruang :Unit Organisasi :Tanggal :Alasan keberatan saya atas pencantuman nomor urutkepangkatan pada saya pada nomor urut ke ………… menuruthemat saya berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku nomor urut saya adalah ……… dengan alasan sebagaiberikut :a. …………………………………………………………………………b. …………………………………………………………………………c. …………………………………………………………………………Demikian untuk mendapat perhatian.………… ……………………… 19 ……Yang Mengajukan Keberatan,( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 71LAMPIRAN VISURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Nomo : …….., ……………….. 19 …Lampiran:Perihal : Perubahan Nomor UrutPada Daftar Urut KepadaKepangkatan Yth. Sdr. .........................di .............................Sehubungan dengan surat keberatan saudara :Nama :NIP :Golongan Ruang :Unit Organisasi :Tanggal …………, atas nomor urut Saudara pada DaftarUrut Kepangkatan unit organisasi …………………………untuktahun ………………… yang ditanda tangani oleh :Nama :NIP :Jabatan :Tanggal ………………………, maka setelah diadakanpenelitian yang lebih seksama, nomor urut Saudara dalamDaftar Urut Kepangkatan unit organisasi……..………………………… untuk tahun ……………………… dibuattanggal ……………………… dirubah dari nomor…………………………………. Menjadi nomor ……………………………Sekian untuk dimaklumi.TEMBUSAN :1.2.3.Kepala ………………( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 72LAMPIRAN VIISURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Nomor : …….., ……………….. 19 …Lampiran:Perihal : Perubahan Nomor UrutPada Daftar Urut KepadaKepangkatan Yth. Sdr. .........................di .............................Sehubungan dengan surat keberatan saudara :Nama :NIP :Golongan Ruang:Unit Organisasi :Tanggal …………, setelah diadakan penelitian, makakeberatan Saudara atas nomor urut Saudara dalam DaftarUrut Kepangkatan untuk tahun ……………… dibuat tanggal…………………… ditolak, dengan alasan sebagai berikut :a.b.c.demikian untuk dimaklumi.Kepala……………………………………………….( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 73LAMPIRAN VIIISURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Nomor : …….., ……………….. 19 …...Lampiran:Perihal : Perubahan KeberatanBanding Atas Nomor Urut KepadaDalam Daftar Urut Kepangkatan Yth. Sdr. .......................Pegawai Negeri Sipil …………………………di .............................Sehubungan dengan surat keberatan saudara :Nama :NIP :Golongan Ruang:Unit Organisasi :Mengajukan keberatan banding atas nomor urut sayayang dibuat dalam Daftar Urut Kepangkatan pada unitorganisasi ……………… untuk tahun ……………… yangditandatangani oleh :Nama :NIP :Golongan Ruang:Jabatan :Unit Organisasi :Tanggal :Saya telah mengajukan keberatan dengan surat tanggal…………… kepada ………………, tetapi ditolak dengan suratnomor ……………………… tanggal ……………… dan untuk lebihjelas salinan surat keberatan dan penolakan tersebutdilampirkan dengan surat ini.Mohon diadakan pemeriksaan kembali.Surat ini kami kirimkan melaluiPimpinan ……………………………………Yang Mengajukan Keberatan,( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 74LAMPIRAN IXSURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Nomor : .........…….., ……………….. 19 …Lampiran :Perihal : Perubahan Nomor UrutPada Daftar Urut KepadaKepangkatan Yth. 1. Pimpinan ...………di ..................2. Sdr. .................di ...................Sehubungan dengan surat keberatan banding saudara :Nama :NIP :Golongan Ruang :Unit Organisasi :Tanggal ……………………, maka setelah diadakanpenelitian yang lebih seksama, nomor urut Saudara dalamDaftar Urut Kepangkatan unit organisasi…………………………………… untuk tahun …………………… dibuattanggal ………… dirubah dari nomor ……………… menjadinomor ……………Dengan demikian diminta kepada pimpinan unitorganisasi …………… agar merubah nomor urut nama Saudara…………… dari nomor …………… menjadi nomor………………………… pada Daftar Urut Kepangkatan UnitOrganisasi …………………… untuk tahun …………………………Demikian untuk dilaksanakan.Kepala( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 75LAMPIRAN XSURAT EDARAN KEPALA BADANADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 03/SE/1980TANGGAL : 11 PEBRUARI 1980Nomor : …….., ……………….. 19 …Lampiran :Perihal : Penolakan Perubahan NomorUrut Dalam Daftar Urut KepadaKepangkatan Yth. 1. Pimpinan …………di ..…………………2. Sdr. ………………..di ..…………………Sehubungan dengan surat keberatan banding saudara :Nama :NIP :Golongan Ruang:Unit Organisasi :Tanggal ……………………, setelah diadakan penelitianyang lebih seksama, maka keberatan Saudara atas nomorurut Saudara dalam Daftar Urut Kepangkatan Unit Organisasi…………………………………………… untuk tahun …………………dibuat tanggal …………………………………………………… ditolakdengan alasan sebagai berikut :a.b.c.Demikian untuk dilaksanakan.Kepala( ………………………… )NIP ………………………ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 76PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1994TENTANGPAJAK PENGHASILAN BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAINEGERI SIPIL, ANGGOTA ANGKATAN BERSENJATAREPUBLIK INDONESIA, DAN PARA PENSIUNAN ATASPENGHASILAN YANG DIBEBANKAN KEPADA KEUANGANNEGARA ATAU KEUANGAN DAERAHTanggal : 26 DESEMBER 1994 (JAKARTA)PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang :a. bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 7Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubahterakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994,penghasilan berupa gaji, uang pensiun, tunjangan dan honorariumserta penghasilan lainnya yang dibebankan kepada KeuanganNegara atau Keuangan Daerah yang diterima atau diperolehPejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia, dan para Pensiunan adalah objekPajak Penghasilan;b. bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf d Undang-undangNomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimanatelah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun1994, penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaanatau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk naturadan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau pemerintah tidaktermasuk sebagai Objek Pajak;c. bahwa dengan memperhatikan ketentuan tingkat penggajian danuang pensiun yang berlaku serta untuk lebih memberikankemudahan pemotongan pajak oleh Bendaharawan Pemerintah,dipandang perlu untuk mengatur pelaksanaan pemotongan PajakPRESIDENREPUBLIK INDONESIAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 77Penghasilan atas penghasilan yang dibayarkan kepada PejabatNegara, Pegawai Negeri Sipil, anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia, dan para Pensiunan berupa gaji, uangpensiun, tunjangan dan honorarium serta penghasilan lainnyayang dibebankan kepada Keuangan Negara atau KeuanganDaerah, dengan Peraturan Pemerintah;Mengingat :1. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan(Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan LembaranNegara Nomor 3263), sebagaimana telah beberapa kali diubahterakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994(Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 60, Tambahan LembaranNegara Nomor 3567);MEMUTUSKAN :Menetapkan :PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIATENTANG PAJAK PENGHASILAN BAGI PEJABAT NEGARA,PEGAWAI NEGERI SIPIL, ANGGOTA ANGKATANBERSENJATA REPUBLIK INDONESIA, DAN PARAPENSIUNAN ATAS PENGHASILAN YANG DIBEBANKANKEPADA KEUANGAN NEGARA ATAU KEUANGAN DAERAHPasal 1(1) Atas penghasilan yang diterima oleh:a. Pejabat Negara berupa gaji kehormatan dan tunjangan-tunjangan lain yang terkait atau imbalan tetap sejenisnya;b. Pegawai Negeri Sipil dan anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia berupa gaji dan tunjangan-tunjangan lainyang sifatnya tetap dan terkait dengan gaji;c. Pensiunan termasuk janda atau duda dan/atau anak-anaknyaberupa uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lain yangsifatnya tetap dan terkait dengan uang pensiun; yangdibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah,ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 78Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang ditanggungpemerintah.(2) Atas penghasilan yang diterima Pejabat Negara, Pegawai NegeriSipil, anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia danPensiunan berupa honorarium dan imbalan lain dengan namaapapun yang dibebankan kepada Keuangan Negara atauKeuangan Daerah selain penghasilan sebagaimana disebut padaayat (1), dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21, kecuali yangdibayarkan kepada Pegawai Negeri Sipil golongan II/d kebawahdan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berpangkatPembantu Letnan Satu kebawah.Pasal 2(1) Atas penghasilan yang diterima oleh Pejabat Negara, PegawaiNegeri Sipil, Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,dan Pensiunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1)dihitung Pajak Penghasilan yang terutang dan ditanggungpemerintah sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 7Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 dengan menerapkan tarif Pasal17 undang-undang tersebut.(2) Atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat(2) dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 oleh BendaharawanPemerintah sebesar 15% (lima belas persen), dan bersifat final.Pasal 3(1) Dalam hal Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggotaAngkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan Pensiunantermasuk janda atau duda dan/atau anak-anaknya menerimaatau memperoleh penghasilan lain diluar penghasilan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 1, maka penghasilan lain tersebut ditambahdengan penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat(1) dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan PajakPenghasilan yang bersangkutan.(2) Pajak Penghasilan Pasal 21 yang ditanggung pemerintah tersebutdalam Pasal 1 ayat (1) dapat dikreditkan dengan PajakPenghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan yang telahdilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilansebagaimana dimaksud pada ayat (1).ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 79Pasal 4Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Peraturan Pemerintahini ditetapkan oleh Menteri Keuangan.Pasal 5Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka PeraturanPemerintah Nomor 40 Tahun 1985 tentang Tunjangan PajakPenghasilan bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, AnggotaAngkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan para Pensiunan atasPenghasilan Berupa Gaji, Honorarium, Uang Pensiun, dan Tunjangan-Tunjangan Lainnya yang Dibebankan kepada Keuangan Negara,dinyatakan tidak berlaku.Pasal 6Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku 1 Januari 1995.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Desember 1994PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdSOEHARTODiundangkan di Jakarta Pada tanggal 26 Desember 1994MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdMOERDIONOLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1994ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 80PENJELASAN ATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 45 TAHUN 1994TENTANGPAJAK PENGHASILAN BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAINEGERI SIPIL, ANGGOTA ANGKATAN BERSENJATAREPUBLIK INDONESIA, DAN PARA PENSIUNAN ATASPENGHASILAN YANG DIBEBANKAN KEPADA KEUANGANNEGARA ATAU KEUANGAN DAERAHUMUMSesuai dengan ketentuan Pasal 21 Undang-undang Nomor 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhirdengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, atas penghasilanberupa gaji, upah, uang pensiun, honorarium, tunjangan, danpembayaran lainnya dengan ama apapun sehubungan denganpekerjaan atau jabatan atau pensiunan yang dibebankan kepadaKeuangan Negara atau Keuangan Daerah, dipotong PajakPenghasilan Pasal 21.Namun mengingat bahwa pemotongan tersebut akan mengurangigaji, upah, uang pensiun, dan sebagainya yang diterima atau diperolehpara Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia, dan Pensiunan termasuk janda ataududa dan/atau anak-anaknya, sedangkan pada umumnya penghasilanyang diterima atau diperoleh dari Keuangan Negara atau KeuanganDaerah tersebut belum mencapai suatu tingkat yang memadai, makaPemerintah selaku pemberi kerja memandang perlu untukmenanggung Pajak Penghasilan yang terutang oleh Pejabat Negara,Pegawai Negeri Sipil, anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,dan Pensiunan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan ataujabatan atau pensiunan yang diterima secara tetap yang dananyadibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah.PASAL DEMI PASALPasal 1Ayat (1)Pajak Penghasilan Pasal 21 Undang-undang Nomor 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubahADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 81terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 yangditanggung pemerintah diberikan hanya kepada :a. Pejabat Negara atas gaji kehormatan dan tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya tetap dan terkait dengan gajikehormatan atau imbalan tetap sejenisnya;b. Pegawai Negeri Sipil dan anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia atas gaji dan tunjangan-tunjangan lainyang sifatnya tetap dan terkait dengan gaji;c. Pensiunan termasuk janda atau duda dan/atau anak-anaknya atas uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lainyang sifatnya tetap dan terkait dengan uang pensiun; baikdalam mata uang rupiah maupun dalam mata uang asingyang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaanatau jabatan atau pensiunan yang dananya dibebankankepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah.Jumlah Pajak Penghasilan Pasal 21 yang ditanggungpemerintah selaku pemberi kerja adalah sebesar PajakPenghasilan yang terutang atas penghasilan berupa gaji,uang pensiun, dan tunjangan-tunjangan yang terkait dengangaji dan uang pensiun tersebut yang dihitung denganmenerapkan tarif Pasal 17 Undang-undang Nomor 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubahterakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.Apabila Pegawai Negeri Sipil atau anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia atau Pensiunan merangkap juga sebagaiPejabat Negara, maka penghasilan yang diterima baik berupagaji atau uang pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil atauanggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atauPensiunan, maupun penghasilan berupa gaji kehormatan dantunjangan lainnya selaku Pejabat Negara sebagaimanatersebut di atas, Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutangjuga ditanggung pemerintah selaku pemberi kerja.Ayat (2)Adakalanya Pejabat Negara atau Pegawai Negeri Sipil atauanggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atauPensiunan, disamping menerima penghasilan yang bersifattetap seperti gaji kehormatan, gaji, dan tunjangan lainnyadan uang pensiun sebagaimana diuraikan di atas, menerimapula penghasilan yang sifatnya tidak tetap antara lain berupahonorarium, dan imbalan lain dengan nama apapun dari danaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 82yang dibebankan kepada Keuangan Negara atau KeuanganDaerah.Oleh karena penghasilan-penghasilan yang sifatnya tidak tetapseperti honorarium dan imbalan lain tersebut hanya diterimaoleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia, dan Pensiunan tertentu saja,maka atas penghasilan dimaksud dipotong Pajak PenghasilanPasal 21.Namun demikian penghasilan serupa yang diterima oleh PegawaiNegeri Sipil golongan II/d kebawah dan anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia berpangkat Pembantu LetnanSatu kebawah, Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang tidakdipotong pajaknya, oleh karena penghasilan berupa gaji ditambahhonorarium dan sebagainya yang diterimanya dari KeuanganNegara atau Keuangan Daerah pada umumnya masih dibawahPenghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).Pasal 2Ayat (1)Sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat (3) Undang-undangNomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhirdengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, imbalan dalambentuk kenikmatan yang diterima atau diperoleh sehubungandengan pekerjaan atau jasa dari Pemerintah, tidak termasukObjek Pajak Penghasilan. Oleh karena itu Pajak PenghasilanPasal 21 yang ditanggung pemerintah atas penghasilan PejabatNegara, Pegawai Negeri Sipil, anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia, dan Pensiunan merupakan kenikmatanbagi mereka dan tidak ditambahkan sebagai penghasilan dalammenghitung Penghasilan Kena Pajak.Ayat (2)Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2)yang diterima Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggotaAngkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan Pensiunandipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 sebesar 15% (lima belaspersen) dari penerimaan bruto, dan bersifat final.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 83Pasal 3Ayat (1) dan ayat (2)Apabila Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia dan Pensiunan termasuk jandaatau duda dan/atau anak-anaknya mempunyai penghasilanlain diluar penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,pengenaan Pajak Penghasilan yang terutang dihitungberdasarkan tanggungan penghasilan sebagaimana tersebutdalam Pasal 1 ayat (1) dan penghasilan lain denganmenerapkan tarif Pasal 17 Undang-undang Nomor 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubahterakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.Pajak Penghasilan Pasal 21 yang ditanggung pemerintah tersebutdalam Pasal 1 ayat (1) merupakan kredit pajak terhadap PajakPenghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan dari PejabatNegara atau Pegawai Negeri Sipil atau anggota AngkatanBersenjata Republik Indonesia atau Pensiunan tersebut.Contoh:A seorang Pensiunan yang diangkat sebagai Pejabat Negaramempunyai seorang isteri yang berusaha di bidang angkutan daratdalam kota, dan 2 (dua) orang anak yang masih merupakantanggungan sepenuhnya. Penghasilan A dalam tahun 1995 adalahsebagai berikut :1. Penerimaan uang pensiun dan tunjangan tetap lain yang terkaitdengan uang pensiun Rp. 5.000.000,002. Gaji kehormatan dan tunjangan-tunjangan tetap lain yang terkaitdengan gaji kehormatan Rp. 48.000.000,003. Penghasilan neto isteri dari usaha swasta Rp. 10.500.000,004. Penghasilan berupa honorarium yang diterima dari BendaharawanPemerintah yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 Rp.2.000.000,00Penghitungan pajak yang terutang oleh Pensiunan A dalam tahun1995 adalah sebagai berikut:I. Pajak Penghasilan yang ditanggung pemerintah1. Uang pensiun Rp 5.000.000,00 Biaya pensiun 5% x Rp5.000.000,00 = Rp 250.000,00 maksimum diperkenankanRp. 216.000,00 Penghasilan neto Pensiunan Rp. 4.782.000,00ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 842. Gaji kehormatan Rp. 48.000.000,00 Biaya jabatan 5% xRp. 48.000.000,00 = Rp 2.400.000,00 maksimumdiperkenankan Rp. 648.000,00 Penghasilan neto sebagaiPejabat Negara Rp. 47.352.000,003. Jumlah penghasilan neto (1 + 2) Rp. 52.134.000,004. P T K P K/2 Rp. 4.320.000,005. Penghasilan Kena Pajak dari penghasilan Pensiunan dansebagai Pejabat Negara Rp. 47.814.000,006. Pajak Penghasilan yang ditanggung pemerintah 10% x Rp25.000.000,00 = Rp. 2.500.000,00 15% x Rp 22.814.000,00= Rp. 3.422.100,00 Rp 5.922.100,00II. Pajak Penghasilan dari seluruh penghasilan (uang pensiun + gajikehormatan + penghasilan lain dari usaha) :1. Penghasilan neto dari Pensiunan dan Pejabat Negara (angkaI butir 3) Rp. 52.134.000,002. Penghasilan neto usaha isteri Rp. 10.500.000,003. Penghasilan neto seluruhnya Rp. 62.634.000,004. P T K P K/2 Rp. 4.320.000,005. Penghasilan Kena Pajak Rp. 58.314.000,006. Pajak Penghasilan 10% x Rp 25.000.000,00 = Rp.2.500.000,00 15% x Rp 25.000.000,00 = Rp. 3.750.000,0030% x Rp 8.314.000,00 = Rp. 2.494.200,00 Rp.8.744.200,007. Kredit Pajak : a. PPh yang ditanggung pemerintah (angka Ibutir 6) Rp. 5.922.100,00 b. Kredit pajak lainnya Jumlahkredit pajak Rp. 5.922.100,00 8. Pajak Penghasilan daripenghasilan lain yang masih harus dibayar Rp. 2.822.100,00Sedangkan penghasilan berupa honorarium yang diterima A dipotongPajak Penghasilan Pasal 21 oleh Bendaharawan Pemerintah yangmembayarkan honorarium tersebut sebesar 15% (lima belas persen)dari Rp. 2.000.000,00 = Rp 300.000,00 dan bersifat final, sehinggatidak ditanggungkan lagi dengan penghasilan lainnya.Pasal 4Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 85Pasal 5Cukup jelasPasal 6Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 86PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 9 TAHUN 2003TENTANGWEWENANG PENGANGKATAN, PEMINDAHAN, DANPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPILPresiden Republik IndonesiaMenimbang : bahwa untuk melaksanakan salah satu fungsimanajemen kepegawaian dan dalam upayamenigkatkan hubungan antara Pemerintah denganDaerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota, sertauntuk mendorong peranan Pegawai Negeri Sipilsebagai salah satu unsur perekat dan pemersatubangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,dipandang perlu mengatur kembali ketentuanmengenai wewenang pengangkatan, pemindahan,dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil denganPeraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041), sebagaimana telah diubahdengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara 3890);3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3839);PRESIDENREPUBLIK INDONESIAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 874. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentangPerimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusatdan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54.Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);MEMUTUSKAN:Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG WEWENANGPENGANGKATAN, PEMINDAHAN, DANPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Pegawai Negeri Sipil Pusat adalah Pegawai Negeri Sipil yang gajinyadibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara danbekerja pada Departemen, Kejaksaan Agung, KesekretariatanLembaga Kepresidenan, Kantor Menteri Negara Koordinator, KantorMenteri Negara, Kepolisian Negara Republik Indonesia, LembagaPemerintah Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Badan Narkotika Nasional, Kesekretariatan Lembagalain yang dipimpin oleh Pejabat struktural eselon I dan bukanmerupakan bagian dari Departemen/Lembaga Pemerintah NonDepartemen, Instansi Vertikal di Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota,Kepaniteraan Pengadilan, atau dipekerjakan untuk menyelenggara-kan tugas negara lainnya.2. Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah Pegawai Negeri Sipil yanggajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah dan bekerja pada Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau dipekerjakan di instansi induknya.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 883. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat adalah Menteri, JaksaAgung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Kepresidenan, KepalaKepolisian Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/TinggiNegara, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional sertaPimpinan Kesekretariatan Lembaga lain yang dipimpin oleh pejabatstruktural Eselon I dan bukan merupakan bagian dariDepartemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen.4. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi adalah Gubernur.5. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota adalahBupati/Walikota.6. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyaikewenangan mengangkat, memindahkan, dan memberhentikanPegawai Negeri Sipil sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan yang berlaku.7. Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan adalah Pegawai NegeriSipil yang melaksanakan tugas di luar instansi induknya yanggajinya dibebankan pada instansi yang menerima perbantuan.8. Pangkat adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seseorangPegawai Negeri Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaiansusunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasar penggajian.9. Golongan ruang adalah golongan ruang gaji pokok sebagaimanadiatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yangberlaku tentang gaji Pegawai Negeri Sipil,10.Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkantugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seseorang PegawaiNegeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi negara,11.Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas,tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang Pegawai NegeriSipil dalam rangka menjalankan tugas pokok dan fungsi keahliandan/atau keterampilan untuk mencapai tujuan organisasi.BAB IIPENGANGKATAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPILDAN PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 2(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkan :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 89a. pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil Pusat dilingkungannya; danb. pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil Pusat bagi CalonPegawai Negeri Sipil Pusat di lingkungannya, kecuali yangtewas atau cacat karena dinas.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapatmendelegasikan wewenangnya atau memberikan kuasa kepadapejabat lain di lingkungannya.Pasal 3(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi atau Kabupaten/Kota menetapkan :a. Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah dilingkungannyab. Pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil Daerah bagi CalonPegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungannya, kecuali yangtewas atau cacat karena dinas.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapatmendelegasikan wewenangnya atau memberikan kuasa kepadapejabat lain di lingkungannya.Pasal 4(1) Kepala Badan Kepegawaian Negara menetapkan pengangkatanmenjadi Pegawai Negeri Sipil bagi Calon Pegawai Negeri Sipil Pusatdan Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah yang tewas atau cacatkarena dinas.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapatmendelegasikan atau memberi kuasa kepada pejabat lain dilingkungannya.BAB IIIKENAIKAN PANGKATPasal 5(1) Presiden menetapkan kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Pusatdan Pegawai Negeri Sipil Daerah untuk menjadi Pembina UtamaMuda golongan ruang IV/c, Pembina Utama Madya golonganADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 90ruang IV/d, dan Pembina Utama golongan ruang IV/e setelahmendapat pertimbangan teknis dari Kepala Badan KepegawaianNegara,(2) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)diajukan secara tertulis kepada Presiden oleh :a. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat dan Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Propinsi danb. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotamelalui Gubernur.(3) Pengajuan kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud dalam ayat(2), tembusannya disampaikan kepada Kepala BadanKepegawaian Negara.Pasal 6(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkan kenaikanpangkat Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil yangdiperbantukan di lingkungannya untuk menjadi Juru Muda TingkatI golongan ruang I/b sampai dengan Pembina Tingkal I golonganruang IV/b.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud daiam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya.Pasal 7(1)Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi menetapkankenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsi danPegawai Negeri Sipil yang diperbantukan di lingkungannya untukmenjadi Juru Muda Tingkat I golongan ruang I/b sampaidengan Pembina Tingkat I golongan, ruang IV/b.(2) Gubernur menetapkan kenaikan pangkat Pegawai Negeri SipilDaerah Kabupaten/Kota dan Pegawai Negeri Sipil yangdiperbantukan dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Kotauntuk menjadi Pembina golongan ruang IV/a dan PembinaTingkat I golongan ruang IV/b.(3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 91Pasal 8(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotamenetapkan kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah danPegawai Negeri Sipil yang diperbantukan di lingkungannya untukmenjadi Juru Muda Tingkat I golongan ruang I/b sampai denganPenata Tingkat I golongan ruang III/d.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya.Pasal 9Pejabat Pembina Kepegawaian dan Gubernur sebagaimana dimaksuddalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 dikecualikan dalam penetapankenaikan pangkat anumerta dan kenaikan pangkat pengabdian.Pasal 10(1) Kepala Badan Kepegawaian Negara menetapkan kenaikanpangkat anumerta dan kenaikan pangkat pengabdian bagiPegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerahuntuk menjadi Juru Muda Tingkat I golongan ruang I/b sampaidengan Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapatmendelegasikan wewenangnya atau memberikan kuasa kepadapejabat lain di lingkungannya.BAB IVPENGANGKATAN, PENUNDAAN, DANPEMBERHENTIAN DALAM DAN DARI JABATANPasal 11Presiden menetapkan pengangkatan, pemindahan, danpemberhentian Pegawai Negeri Sipil dalam dan dari jabatan strukturaleselon I, jabatan fungsional jenjang utama atau jabatan lain yangpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentiannya menjadiwewenang Presiden, kecuali pengangkatan, pemindahan, danpemberhentian pejabat struktural eselon I di lingkungan PemerintahDaerah Propinsi.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 92Pasal 12(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkanpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil Pusat di lingkungannya dalam dan dari jabatanstruktural eselon II ke bawan atau jabatan fungsional yangjenjangnya setingkat dengan itu.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya untuk menetapkanpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil dalam dan dari jabatan struktural eselon III ke bawah danjabatan fungsional yang jenjangnya setingkat dengan itu.Pasal 13(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi menetapkana. pengangkatan Sekretaris Daerah Propinsi setelah mendapatpersetujuan dari pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat DaerahPropinsi;b. pemberhentian Sekretaris Daerah Propinsi.c. pengangkatan pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil dalam dan dan jabatan struktural eselon II kebawah dan jabatan fungsional yang jenjangnya setingkatdengan itu di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi.(2) Pengangkatan dan pemberhentian Sekretaris Daerah Propinsisebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b, dilakukansetelah berkonsultasi secara tertulis dengan Menteri Dalam Negeri.(3) Calon Sekretaris Daerah Propinsi yang akan dikonsultasikan untukdiangkat dalam/jabatan Sekretaris Daerah Propinsi sebagaimanadimaksud dalan ayat (1) huruf a, harus memenuhi syarat untukdiangkat dalam jabatan struktural.(4) Konsultasi pengangkatan Sekretaris Daerah sebagaimanadimaksud dalam ayat (2) dilakukan sebelum Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Propinsi mengajukan permmtaanpersetujuan kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.(5) Konsultasi pengangkatan Sekretaris Daerah Propinsi sebagaimanadimaksud dalam ayat (4) dilakukan secara tertulis denganmengajukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang calon dariPegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 93(6) Hasil konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (4)disampaikan secara tertulis oleh Menteri Dalam Negeri.(7) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikankuasa kepada pejabat lain di lingkungannya untuk menetapkanpengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil di Propinsi dalam dan dari jabatan struktural eselon III kebawah dan jabatan fungsional yang jenjangnya setingkatdengan itu.Pasal 14(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotamenetapkana. pengangkatan Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota setelahmendapat persetujuan dan pimpinan Dewan PerwakilanRakyat Daerah Kabupaten/Kotab. pemberhentian Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota;c. pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil dalarn dan dari jabatan stuktural eselon II dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.d. Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil dan dari jabatan struktural eselon III ke bawahdan jabatan fungsional yang jenjangnya setingkat denganjabatan struktural eselon II kebawah di lingkungan PemerintahDaerah Kabupaten/Kota,(2) Pengangkatan dan pemberhentian Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dan pejabat struktural eselon II sebagaimana dimaksuddalam ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c, dilakukan setelahberkonsultasi secara tertulis dengan Gubernur.(3) Calon Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota yang akandikonsultasikan untuk diangkat dalam jabatan Sekretaris DaerahKabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hurufa, harus memenuhi syarat untuk diangkat dalam jabatanstruktural.(4) Konsultasi pengangkatan Sekretaris Daerah sebagaimanadimaksud dalam ayat (2), dilakukan sebelum Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Kabupaten/Kota mengajukan permintaanpersetujuan kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat DaerahKabupaten/Kota.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 94(5) Konsultasi pengangkatan Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota danpengangkatan dan pemberhentian dalam dan dari jabatanstruktural eselon II sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),dilakukan secara tertulis dengan mengajukan sekurang-kurangnya3 (tiga) orang calon Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.(6) Hasil konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (21) dan(5) disampaikan secara tertulis oleh Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Propinsi.(7) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya untuk menetapkanpengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil di Kabupaten/Kota dalam dan dari jabatan struktural eselonIV ke bawah dan jabatan fungsional yang jenjangnya setingkatdengan itu.Pasal 15Tata cara konsultasi pengangkatan dan pemberhentian SekretarisDaerah Propinsi, Kabupaten/Kota serta tata cara konsultasipengangkatan dan pemberhentian pejabat struktural eselon IIKabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal14, diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri.BAB VPEMINDAHAN ANTAR INSTANSIPasal 16(1) Kepala Badan Kepegawaian Negara menetapkan pemindahana. Pegawai Negeri Sipil Pusat antar Departemen/Lembaga;b. Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerahantara Propinsi/Kabupaten Kota dan Departemen/Lembaga;c. Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsi; dan Daerah Kabupaten/Kota;d. Pegawai Negeri Sipil Daerah antara Daerah Kabupaten/Kotadan Daerah Kabupaten/Kota Propinsi lainnya.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 95(2) Penetapan oleh badan Kepegawaian Negara sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan atas permintaan danpersetujuan dari instansi yang bersangkutan(3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan wewenangnya atau memberikan kuasa kepadapejabat lain dilingkungannya.Pasal 17(1)Pejabat pembina Kepegawaian Daerah Propinsi menetapkanpemindahan :a. Pegawai Negeri Sipil Daerah antar Kabupaten/Kota dalamsatu Propinsi; danb. Pegawai Negeri Sipil Daerah antara Kabupaten/Kota danDaerah Propinsi.(2) Penetapan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Daerahsebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dilaksanakanatas permintaan dan persetujuan dari Pejabat PembinaKepegawaian Daerah yang bersangkutan.(3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan wewenangnya atas memberikan kuasa kepadapejabat lain di lingkungannya.BAB VIPEMBERHENTIAN SEMENTARA DARI JABATAN NEGERIPasal 18Presiden menetapkan pemberhentian sementara dari jabatan negeribagi Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural eselonI, jabatan fungsional jenjang utama atau jabatan lain yangpengangkatan dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden,kecuali pemberhentian sementara dari jabatan negeri bagi PegawaiNegeri Sipil yang menduduki jabatan struktural eselon I di lingkunganPernerintah Daerah Propinsi.Pasal 19(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkan pemberhentiansementara dan jabatan negeri bagi Pegawai Negeri Sipil Pusat diADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 96lingkungan yang menduduki jabatan struktural eselon II ke bawahatau jabatan fungsional yang jenjangnya setingkat dengan itu.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya untuk memberhentikansementara dari jabatan negeri bagi Pegawai Negeri Sipil Pusatyang menduduki jabatan struktural eselon III ke bawah danjabatan fungsional yang jenjangnya setingkat dengan itu.Pasal 20(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi menetapkan :a. pemberhentian sementara Sekretaris Daerah Propinsi;b. pemberhentian sementara dari jabatan negeri bagi PegawaiNegeri Sipil di lingkungannya yang menduduki jabatan strukturaleselon II ke bawah, dan jabatan fungsional yang jenjangnyasetingkat dengan itu(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikankuasa kepada pejabat lain di lingkungannya untukmemberhentikan sementara dari jabatan negeri bagi PegawaiNegeri Sipil di lingkungannya yang menduduki jabatan strukturaleselon III ke bawah atau jabatan fungsional yang jenjangnyasetingkat dengan itu.Pasal 21(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotamenetapkana. pemberhentian sementara Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota;b. pemberhentian sementara dari jabatan negeri bagi PegawaiNegeri Sipil di lingkungannya yang menduduki jabatan strukturaleselon II ke bawah dan jabatan fungsional yang jenjangnyasetingkat dengan itu.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya untuk memberhentikansementara dari jabatan negeri bagi Pegawai Negeri Sipil diKabupaten/Kota yang menduduki jabatan struktural eselon IVdan jabatan fungsional yang jenjangnya setingkat dengan itu.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 97BAB VIIPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPILATAU CALON PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 22Presiden menetapkan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pusat danPegawai Negeri Sipil Daerah yang berpangkat Pembina Utama Mudagolongan ruang IV/c, Pembina Utama Madya golongan ruang IV/ddan Pembina Utama golongan ruang IV/e.Pasal 23(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkana. pemberhentian Calon Pegawai Negeri Sipil Pusat yang tidakmemenuhi syarat untuk diangkat menjadi Pegawai NegeriSipil Pusat di lingkungannya danb. pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pusat yang berpangkatPembina Tingkat I golongan ruang IV/b ke bawah dilingkungannya,(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya, untuk menetapkanpemberhentian dengan normal sebagai Calon Pegawai NegeriSipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Pusat yang berpangkat PenataTingkat I golongan ruang III/d ke bawah.Pasal 24(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi menetapkana. pemberhentian Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsiyang tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PegawaiNegeri Sipil Daerah di lingkungannya; danb. pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsi yangberpangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b ke bawahdi lingkungannya.(2) Gubernur menetapkan pemberhentian Pegawai Negeri SipilDaerah Kabupaten/Kota yang berpangkat Pembina golonganruang IV/a dan Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b.(3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 98kepada pejabat lain di lingkungan Propinsi, untuk menetapkanpemberhentian dengan hormat sebagai Calon Pegawai Negeri SipilDaerah Propinsi dan Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsi yangberpangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d ke bawah.Pasal 25(1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten Kotamenetapkan :a. pemberhentian Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten/Kota yang tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadiPegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungannya;b. pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten/Kotayang berpangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d kebawah di lingkungannya.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatmendelegasikan sebagian wewenangnya atau memberikan kuasakepada pejabat lain di lingkungannya, untuk menetapkanpemberhentian dengan hormat sebagai Calon Pegawai NegeriSipil Daerah Kabupaten/Kota dan Pegawai Negeri Sipil DaerahKabupaten/Kota yang berpangkat Pengatur Tingkat I golonganruang II/d ke bawah.Pasal 26Pejabat Pembina Kepegawaian dan Gubernur sebagaimana dimaksuddalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 dikecualikan dalam penetapanpemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang tewas, meninggal dunia,cacat karena dinas atau mencapai batas usia pensiun.Pasal 27(1) Kepala Badan Kepegawaian Negara menetapkan, pemberhentiandan pemberian pensiun bagi Pegawai Negeri Sipil Pusat danPegawai Negeri Sipil Daerah yang berpangkat Pembina Tingkat Igolongan ruang IV/b ke bawah yang tewas, meninggal dunia,cacat karena dinas, dan mencapai batas usia pensiun.(2) Penetapan pemberhentian dan pemberian pensiun sebagaimanadimaksud dalam ayat (1), termasuk pemberian pensiun janda/duda dalam hal pensiunan Pegawai Negeri Sipil meninggal dunia.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 99(3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapatmendelegasikan wewenangnya atau memberi kuasa kepadapejabat lain di lingkungannya.BAB VIIIPENGAWASAN DAN PENGENDALIANPasal 28(1) Presiden melakukan pengawasan dan pengendalian ataspelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidangkepegawaian.(2) Untuk melaksanakan pengawasan dan pengendaliansebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Presiden dibantu olehKepala Badan Kepegawaian Negara.(3) Kepala Badan Kepegawaian Negara dalam melaksanakanpengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalamayat (2), berkoordinasi dengan :a. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat untuk Instansi Pusat;b. Gubernur untuk Instansi Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota di wilayahnya.Pasal 29Dalam rangka penyelenggaraan dan pemeliharaan manajemeninformasi kepegawaian, Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat danPejabat Pembina Kepegawaian Daerah wajib menyampaikan setiapjenis mutasi kepegawaian kepada Kepala Badan KepegawaianNegara mengenai pelaksanaan pengangkatan, pemindahanPegawai Negeri Sipil.Pasal 30(1) Pelanggaran atas pelaksanaan peraturan perundang-undangandi bidang kepegawaian dapat dikenakan tindakan administratif.(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)berupaa. peringatan;b. teguran;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 100c. pencabutan keputusan atas pengangkatan, pemindahan,atau pemberhentian.(3) Pencabutan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)huruf c, mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.(4) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)dilakukan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara, kecualiterhadap keputusan yang ditetapkan oleh Presiden.(5) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dapatmendelegasikan atau memberikan kuasa kepada pejabat laindilingkungan untuk melakukan tindakan administratif sebagaimanadimaksud dalam ayat (2), kecuali atas keputusan yangditandatangani oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan Gubernur.BAB IXKETENTUAN LAIN-LAINPasal 31Kewenangan penjatuhan hukuman disiplin dan penilaian prestasi kepadaPegawai Negeri Sipil serta kewenangan lain dilaksanakan sesuai dengariperaturan perundang-undangan yang mengatur masalah tersebutdengan mempematikan Peraturan Pemerintah ini.Pasal 32Pendelegasian wewenang atau pemberian kuasa untukpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil menurut Peraturan Pemerintah ini, ditetapkan dengan KeputusanPejabat Pembina Kepegawaian Pusat atau Pejabat PembinaKepegawaian Daerah.BAB XKETENTUAN PEMINDAHANPasal 33Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelumberlakunya Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tetap berlaku.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 101BAB XIKETENTUAN PENUTUPPasal 34Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjutoleh Kepala Badan Kepegawaian Negara.Pasal 35Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, maka :a. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 tentang WewenangPengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai NegeriSipil, dinyatakan tidak berlaku.b. Ketentuan pelaksanaan mengenai pengangkatan, pemindahan,dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang ada sebelumditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tetap berlakusepanjang tidak bertentangan dan belum diubah berdasarkanPeraturan Pemerintah ini.Pasal 36Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada Tanggal 17 Pebruari 2003PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdMEGAWATI SOEKARNOPUTRIDiundangkan di JakartaPada Tanggal 17 Pebruari 2003SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdBAMBANG KESOWOADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 102PENJELASANATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 9 TAHUN 2003TENTANGWEWENANG PENGANGKATAN, PEMINDAHAN, DANPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL,1. UMUMDalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 antara lain ditegaskan bahwamanajemen Pegawai Negeri Sipil diarahkan untuk menjaminpenyelengaraan tugas pemerintahan dan pembangunan secaraberdaya guna dan berhasil guna.Kebijaksanaan manajemen Pegawai Negeri Sipil berada padaPresiden selaku Kepala Pemerintahan. Sesuai dengan Pasal 25Undang-undang Nornor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubahdengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999, pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dilakukanoleh Presiden. Untuk kelancaran pelaksanaan pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, Presidendapat mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada PejabatPembina Kepegawaian Pusat dan menyerahkan sebagianwewenangnya kepada Pejabat Pembina Kepegawaian Daerahyang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Sesuaidengan amanat undang-undang tersebut di atas, maka perlumenyempurnakan kembali ketentuan mengenai pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.Untuk kepentingan kedinasan dan sebagai salah satu usaha untukmemperluas pengalaman, wawasan, dan kemampuan, makadiadakan perpindahan jabatan, tugas, dan wilayah bagi PegawaiNegeri Sipil terutama bagi yang menjabat pimpinan dengan tidakmerugikan hak kepegawaiannya.Sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian, sebagaimana telah diubah denganUndang-undang Nomor 43 Tahun 1999 yang antara lainmenegaskan bahwa untuk dapat lebih meningkatkan daya gunaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 103dan hasil guna yang sebesar-besarnya, maka sistem pembinaankarier yang harus diiaksanakan adalah sistem pembinaan kariertertutup dalam arti negara.Dengan sistem karier tertutup dalam arti negara, makadimungkinkan perpindahan Pegawai Negeri Sipil dari Departemen/Lembaga/Propinsi/Kabupaten/Kota yang satu ke Departemen/Lembaga/Propinsi/Kabupaten/Kota yang lain atau sebaliknya,terutama untuk menduduki jabatan-jabatan yang bersifatmanajerial. Hal ini mengandung pengertian bahwa seluruh PegawaiNegeri Sipil merupakan satu kesatuan, hanya tempatpekerjaannya yang berbeda.Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mekanisme konsultasipengangkatan dan, pemberhentian Sekretaris Daerah Propinsikepada Menteri Dalam Negeri dan mekanisme pengangkatandan pemberhentian Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota sertapejabat struktural eselon I pada Kabupaten/Kota kepada PejabatPembina Kepegawaian Daerah Propinsi. Pengaturan mekanismekonsultasi ini dimaksudkan dalam rangka mewujudkan pembinaankarier Pegawai Negeri Sipil secara nasional dan menjaminkesetaraan kualitas sumber daya rnanusia aparatur agar sesuaidengan persyaratan jabatan.Dalam Peraturan Pemerintah ini juga diberikan kewenanganpembinaan Karier Pegawai Negeri Sipil Daerah secara berjenjangkhususnya pembinaan Karier kenaikan pangkatnya. Dengandemikian tetap terdapat hubungan yang sinergi antara Pemerintahdengan Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.Pada prinsipnya pembinaan kenaikan pangkat dilakukan olehPejabat Pembina Kepegawaian instansi induk. Namun demikian,dalam hal terdapat Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan diluar instansi induknya, maka gajinya dibebankan pada instansiyang menerima perbantuan dan pembinaan kenaikan pangkatnyadilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian instansi yangmenerima perbantuan.Sedangkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan di luarinstansi induknya, maka gajinya tetap menjadi beban instansiinduknya dan pembinaan kenaikan pangkatnya dilakukan olehPejabat Pembina Kepegawaian instansi induknya.Sebagai pelaksanaan ketentuan dimaksud serta untuk mendukungpelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunanbaik di tingkat pusat maupun daerah, perlu diatur dan ditetapkanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 104kembali pejabat yang berwenang mengangkat, memindahkan,dan memberhentikan Pegawai Negeri Sipil.Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil oleh pejabat yang berwenang harus dilaksanakan berdasarkanPeraturan Pemerintah ini yang merupakan norma, standar, danprosedur dalam pengangkatan, pemindahan dan pemberhentianPegawai Negeri Sipil.II. PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelasPasal 2Ayat(1)Dalam hal pengangkatan, pemindahan, danpemberhentian Pegawai Negeri Sipil di lingkungankesekretariatan lembaga kepresidenan, Pejabat PembinaKepegawaiannya adalah Sekretaris Negara. Pada saatini, kesekretariatan lembaga kepresidenan dimaksud yaituSekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, SekretariatPresiden, Sekretariat Militer, dan Sekretariat Wakil Presiden.Dengan ketentuan ini, maka kesekretariatan lembagalain yang dipimpin oleh pejabat struktural eselon I danbukan merupakan bagian dari Departemen/LembagaPemerintah Non Departemen, misalnya SekretariatJenderal Komisi Pemeriksa Kekayaan PenyelengaraNegara dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia,berwenang untuk mengangkat, memindahkan danmemberhentikan Pegawai Negeri Sipil di lingkungannyamasing-masing.Penjelasan ini berlaku selanjutnya dalam PeraturanPemerintah ini dan peraturan perundang-undangan dibidang kepegawaian yang terkait.Ayat (2)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 105Pasal 3Ayat(1)Cukup jelasAyat(2)Cukup jelasPasal 4Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 5Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Huruf aCukup jelasHuruf bGubernur dalam mengajukan usul kenaikan pangkatPegawai Negeri Sipil di lingkungan PemerintahKabupaten/Kota dalam kapasitas sebagai wakilPemerintah.Ayat (3)Cukup jelasPasal 6Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 106Pasal 7Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Gubernur dalam menetapkan kenaikan pangkat PegawaiNegeri Sipil Daerah Kabupaten/Kota adalah dalamkapasitas sebagai wakil Pemerintah.Ayat (3)Cukup jelasPasal 8Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 9Cukup jelasPasal 10Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 11Dalam ketentuan ini, yang dimaksud dengan jabatanstruktural eselon I antara lain Sekretaris Jenderal, DirekturJenderal, dan Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen. Jabatan lain yang pengangkatan, pemindahan,dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden antaralain Hakim dan Panitera Mahkamah Agung.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 107Pasal 12Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 13Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jeiasAyat (3)Cukup jelasAyat (4)Cukup jelasAyat (5)Cukup jelasAyat (6)Menteri Dalam Negeri menyampaikan keputusan hasilkonsultasi kepada Pejabat Pembina Kepegawaian DaerahPropinsi berdasarkan pertimbangan dari Tim yang antaralain terdiri dari unsur Departemen Dalam Negeri, KantorMenteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, danBadan Kepegawaian Negara.Ayat (7)Cukup jelasPasal 14Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 108Ayat (3)Cukup jelasAyat (4)Cukup jelasAyat (5)Cukup jelasAyat (6)Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsimenyampaikan keputusan hasil konsultasi kepada PejabatPembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotaberdasarkan pertimbangan dari Badan Pertimbangan,Jabatan dan Kepangkatan Instansi Daerah Propinsi.Ayat (7)Cukup jelasPasal 15Cukup jelasPasal 16Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelasPasal 17Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 109Pasal 18Cukup jelasPasal 19Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 20Ayat(1)Cukup JelasAyat (2)Cukup jelasPasal 21Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 22Dalam hal Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dengan hormatdengan hak pensiun, maka dalam keputusan pemberhentian-nya ditetapkan sekaligus pemberhentian pensiun dan pensiunjanda/dudanya.Pemberhentian yang dimaksud dalam ketentuan ini adalahpemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat,antara lain karena :a. atas permintaan sendiri;b. meninggal dunia;c. hukuman, disiplin,d. perampingan organisasi pemerintah;e. menjadi anggota partai politik;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 110f. dipidana penjara;g. dinyatakan hilang;h. keuzuran jasmani;i. cacat karena dinas;j. tewas;k. mencapai batas usia pensiun.Pasal 23Ayat(1)Huruf aCukup jelasHuruf bDalam hal Pegawai Negri Sipil diberhentikan denganhormat dengan hak pensiun, maka dalam keputusanpemberhentiannya ditetapkan sekaligus pemberianpensiun dan pensiun janda/dudanya.Pemberhentian yang dimaksud dalam ketentuan iniadalah pemberhentian dengan hormat atau tidakdengan hormat, antara lain karena :a. atas permintaan sendiri;b. hukuman disiplin;c. perampingan organisasi pemerintah;d. menjadi anggota partai politik;e. dipidana penjara;f. dinyatakan hilang;g. keuzuran jasmani.Ayat (2)Cukup jelasPasal 24Ayat (1)Huruf aCukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 111Huruf bDalam hal Pegawai Negeri Sipil diberhentikan denganhormat dengan hak pensiun, maka dalam keputusanpemberhentiannya ditetapkan sekaligus pemberianpensiun dan pensiun janda/ dudanya,Pemberhentian yang dimaksud dalam ketentuan iniadalah pemberhentian dengan hormat atau tidakdengan hormat antara lain karena:a. atas permintaan sendiri;b. hukuman disiplin;c. perampingan organisasi pemerintah;d. menjadi anggota partai politik;e. dipidana penjara;f. dinyatakan hilang;g. keuzuran jasmani.Ayat(2)Gubernur dalam menetapkan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil Daerah Kabupaten/Kota adalah dalamkapasitas sebagai wakil Pemerintah.Ayat (3)Cukup jelasPasal 25Ayat (1)Huruf aCukup jelasHuruf bDalam hal Pegawai Negeri Sipil diberhentikan denganhormat dengan hak pensiun, maka dalam keputusanpemberhentiannya ditetapkan sekaligus pemberianpensiun dan pensiun janda/dudanya. Pemberhentianyang dimaksud dalam ketentuan ini adalahpemberhentian dengan hormat atau tidak denganhormat, antara lain karena :a. atas permintaan sendiri;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 112b. hukuman disiplin;c. perampingan organisasi pemerintah;d. menjadi anggota partai politike. dipidana penjara;f. dinyatakan hilang;g. keuzuran jasmani.Ayat (2)Cukup jelasPasal 26Cukup jelasPasal 27Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Dalam menetapkan keputusan pemberhentian danpemberian pensiun yang dimaksud dalam ketentuan ini,sekaligus ditetapkan pemberian pensiun janda/dudanya.Ayat (3)Cukup jelasPasal 28Ayat(1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Huruf aCukup jelasHuruf bMekanisme pengawasan dan pengendalianadministrasi Kepegawaian dan karier pegawai di wilayahADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 113Propinsi diatur lebih lanjut oleh Kepala BadanKepegawaian Negara.Pasal 29Cukup jelasPasal 30Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Keputusan pencabutan atas pengangkatan, pemindahan,dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkantidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tidak berlaku surut.Ayat (4)Cukup jelasAyat (5)Cukup jelasPasal 31Cukup jelasPasal 32Pejabat yang diberi delegasi wewenang untuk menetapkanpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PegawaiNegeri Sipil yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini,menandatangani surat keputusan tersebut untuk atasnamanya sendiri, tidak atas nama pejabat yang memberidelegasi wewenang. Pejabat yang diberi delegasi wewenangdapat memberi kuasa kepada pejabat lain.Pejabat yang diberi kuasa untuk menetapkan pengangkatan,pemindahan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil,ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 114menandatangani surat keputusan tersebut tidak atasnamanya sendiri tetapi atas nama pejabat yang berwenangpada instansi yang bersangkutan.Pejabat yang diberi kuasa untuk menetapkan pengangkatan,pemindahan, dan pemberhentian dimaksud, tidak dapatmemberikan kuasa lagi kepada pejabat lain.Pasal 33Cukup jelasPasal 34Cukup jelasPasal 35Cukup jelasPasal 36Cukup jelasADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 115PRESIDENREPUBLIK INDONESIAKEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANOMOR 33 TAHUN 1986TENTANGKEWAJIBAN PENYAMPAIAN LAPORAN PAJAK-PAJAKPRIBADI BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI NEGERISIPIL, ANGGOTA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIKINDONESIA, DAN PEGAWAI BADAN USAHA MILIKNEGARA DAN DAERAHPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunanserta dicabutnya Ordonansi Pajak Kekayaan Tahun1982, Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor71 Tahun 1985 tentang Kewajiban PenyampaianLaporan Pajak-Pajak Pribadi Bagi Pejabat Negara,Pegawai Negeri Sipil, Anggota Angkatan BersenjataRepublik Indonesia, dan Pegawai Badan Usaha MilikNegara dan Daerah, perlu ditinjau kembali;Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangpokok-pokok kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1983 Nomor 56, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041).3. Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentangketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan(Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262);4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentangPajak Penghasilan (Lembaran Negara Tahun 1983ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 116Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor3263);5. Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 tentangPajak Bumi dan Bangunan (Lembaran NegaraTahun 1985 Nomor 68, Tambahan LembaranNegara Nomor 3312);6. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1983tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3176);MEMUTUSKAN :Menetapkan : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIATENTANG KEWAJIBAN PENYAMPAIAN LAPORANPAJAK-PAJAK PRIBADI BAGI PEJABAT NEGARA,PEGAWAI NEGERI SIPIL, ANGGOTA ANGKATANBERSENJATA REPUBLIK INDONESIA, DAN PEGAWAIBADAN USAHA MILIK NEGARA DAN DAERAH.Pasal 1Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI, dan PegawaiBadan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), pegawai bankmilik Negara/Daerah, yaitu :a. Menteri, Jaksa Agung, Panglima ABRI, dan Gubernur BankIndonesia;b. Pimpinan Kesekretariatan Jenderal pada Lembaga Tertinggi/TinggiNegara dan Ketua atau Kepala Lembaga Pemerintah NonDepartemen;c. Kepala Staf Angkatan/Kapolri;d. Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, Inspektur Jenderal danPejabat-pejabat yang bertanggung jawab langsung dan beradadi bawah Menteri, Jaksa Agung, Panglima ABRI, dan GubernurBank Indonesia;e. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;f. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 117g. Pejabat yang memegang jabatan setingkat di bawah pejabat-pejabat sebagaimana dimaksud pada huruf b, huruf c, huruf d,huruf e, dan huruf f;h. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II;i. Semua Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen) dilingkungan ABRI lainnya yang tidak termasuk pada huruf a sampaidengan huruf h;j. Semua Pegawai Negeri Sipil Golongan III/a PGPS-1968 ke atasdan Anggota ABRI yang setingkat dengan Pegawai Negeri Sipilgolongan III/a PGPS-1968 ke atas dan yang tidak termasukdalam huruf h, termasuk Camat dan Lurah, sepanjang jumlahpenghasilan setahun yang diterima atau diperoleh baik daripekerjaan maupun di luar pekerjaan melebihi Penghasilan TidakKena Pajak (PTKP);k. Direktur Utama, Direktur, dan para pegawai lainnya sepanjangpenghasilan setahun yang diterima atau diperoleh baik daripekerjaan maupun di luar pekerjaan melebihi Penghasilan TidakKena Pajak (PTKP), di lingkungan BUMN , BUMD, Bank MilikNegara dan Milik Daerah; wajib menyampaikan Laporan Pajak-Pajak Pribadi, disingkat LP2P, dan selanjutnya disebut WajibLP2P, menurut bentuk yang contohnya terlampir padaKeputusan Presiden ini.Pasal 2Pajak-pajak pribadi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presidenini adalah Pajak Penghasilan berdasarkan Undang-undang Nomor 7Tahun 1983 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50, TambahanLembaran Negara Nomor 3263) dan Pajak Bumi dan Bangunanberdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 (LembaranNegara Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor3312).Pasal 3(1) yang dilaporkan dalam LP2P adalah :a. Jumlah penghasilan, Pajak Penghasilan yang terhutang danPajak Penghasilan yang telah dibayar, menurut SuratPemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 118b. Jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang terhutang dan yangtelah dibayar menurut Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang(SPPT) dan/atau Surat Ketetapan Pajak (SKP).(2) Dalam hal wanita kawin Wajib LP2P yang suaminya wajibmenyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilanmaka yang dilaporkan dalam LP2P adalah :a. Jumlah penghasilan, Pajak Penghasilan yang terhutang danPajak Penghasilan yang telah dibayar semata-matasehubungan dengan pekerjaan atau jabatannya;b. Pajak Bumi dan Bangunan yang terhutang dan yang telahdibayar berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang(SPPT) dan/atau Surat Ketetapan Pajak (SKP).(3) Dalam hal wanita kawin wajib LP2P yang suaminya tidak wajibmenyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan makayang dilaporkan dalam LP2P adalah :a. Jumlah penghasilan, Pajak Penghasilan yang terhutang, danPajak Penghasilan yang telah dibayar, menurut SuratPemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan wanita kawin yangbersangkutan;b. Jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang terhutang dan yangtelah dibayar menurut Surat Pemberitahuan Pajak terhutang(SPPT) dan/atau Surat Ketetapan Pajak (SKP).Pasal 4(1) LP2P sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 disampaikan tiaptahun selambat-lambatnya tanggal 10 September setelah tahunPajak berakhir.(2) LP2P dibuat dalam dua rangkap, lembar kedua wajib disimpanoleh wajib LP2P dan lembar pertama disampaikan kepada :a. Presiden, sepanjang mengenai LP2P Pejabat Negara,Pegawai Negeri Sipil, dan Anggota ABRI sebagaimanadimaksud dalam Pasal 1 huruf a sampai dengan huruf f;b. Menteri, Jaksa Agung, Gubernur Bank Indonesia, PimpinanKesekretariatan Jenderal pada Lembaga Tertinggi/TinggiNegara, Ketua atau Kepala Lembaga Pemerintah NonDepartemen yang bersangkutan sepanjang mengenai LP2PPejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI, Pegawaibank milik Negara yang dibawahinya;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 119c. Panglima ABRI dan para Kepala Staf Angkatan/Kapolri,sepanjang mengenai LP2P anggota ABRI selain mereka yangberdasarkan Keputusan Presiden ini wajib menyampaikan LP2Pmereka kepada Presiden dan Menteri serta pejabat lainnyasebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, yangpenentuan pangkat dan jabatan serta tata carapenyampaiannya diatur lebih lanjut oleh panglima ABRI;d. Menteri tehnis yang bersangkutan, sepanjang mengenai LP2PDirektur Utama, para Direktur dan pegawai lainnya dilingkungan BUMN;e. Gubernur Kepala Daerah, sepanjang mengenal LP2P PegawaiNegeri Sipil golongan III/a yang diperbantukan PemerintahPusat pada Pemerintah Daerah, Pegawai Negeri Sipil golonganIII/a pada Pemerintah Daerah, Anggota ABRI setingkat yangdikaryakan pada Pemerintah Daerah, Camat, Lurah danPegawai lainnya yang setingkat di lingkungan BUMD dan bankmilik Daerah.Pasal 5Presiden dan Pejabat yang menerima LP2P sebagaimana dimaksuddalam Pasal 4 ayat (2):a. melakukan penelitian dan penilaian LP2P yang diterimanya, danapabila dipandang perlu wajib LP2P yang bersangkutan dapatdiminta keterangan atau penjelasan lebih lanjut mengenai isiLP2P yang disusunnya;b. menyimpan LP2P sebagai dokumen dalam berkas khusussehingga dapat dijamin ketertiban administrasi, keamanan, dankerahasiaannya.Pasal 6(1) Dalam melakukan penelitian dan penilaian LP2P, Presiden dibantuoleh suatu Tim yang terdiri dari beberapa petugas yang khususditunjuk oleh Presiden untuk tugas-tugas dimaksud.(2) Para Pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat(2) dalam melakukan penelitian dan penilaian LP2P dibantu olehTim yang terdiri dari beberapa petugas yang khusus ditunjuknyauntuk tugas-tugas dimaksud.(3) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaporkankepada Presiden, dan dalam hal oleh pejabat sebagaimanaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 120dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e laporan tersebutdisampaikan melalui Menteri Dalam Negeri.Pasal 7LP2P wajib dijaga kerahasiaannya oleh semua petugas yang ditunjuksebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan dilarang mempeRIihatkan,meminjamkan atau memberitahukan kepada siapapun kecuali atasIzin tertulis dari wajib LP2P yang bersangkutan, atau Presiden, atauPejabat yang menerima LP2P.Pasal 8(1) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 yang tidakmelaksanakan kewajiban LP2P sebagaimana mestinya dapatdikenakan sanksi administrasi kepegawaian menurut ketentuanperaturan perundang-undangan yang berlaku.(2) Semua petugas yang diwajibkan merahasiakan isi LP2Psebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 yang karena kealpaanatau kesengajaan mengakibatkan terjadinya kebocoran terhadapkerahasiaan LP2P, dikenakan sanksi administratif dan sanksilainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganyang berlaku.Pasal 9Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, Keputusan PresidenNomor 71 Tahun 1985 tentang Kewajiban Penyampaian LP2P bagiPejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI, dan PegawaiBUMN dan BUMD, dinyatakan tidak berlaku lagi.Pasal 10Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, danpertama kalinya diberlakukan untuk LP2P Tahun 1986.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 29 Juli 1986PRESIDEN REPUBLIK INDONESIAttdS O E H A R T OADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 121PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANOMOR 1 TAHUN 2006TENTANGPENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPILMENURUT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 11 TAHUN2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURANPEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1977TENTANGPERATURAN GAJI PEGAWAI NEGERI SIPILSEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAHTERAKHIR DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR26 TAHUN 2001 KE DALAM GAJI POKOK PEGAWAINEGERI SIPIL MENURUT PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 66 TAHUN 2005TENTANGPERUBAHAN KETUJUH ATAS PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 7 TAHUN 1977 TENTANG PERATURAN GAJIPEGAWAI NEGERI SIPILDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : bahwa dengan ditetapkannya gaji pokok PegawaiNegeri Sipil berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor66 Tahun 2005 tentang Perubahan Ketujuh AtasPeraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentangPeraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil, perlu mengaturpenyesuaian gaji pokok Pegawai Negeri Sipil menurutPeraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003 tentangPerubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipilsebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir denganPeraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001 ke dalamPRESIDENREPUBLIK INDONESIAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 122gaji pokok Pegawai Negeri Sipil menurut PeraturanPemerintah Nomor 66 Tahun 2005 tentang PerubahanKetujuh Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil;Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945;2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3041), sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3890);3. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentangPeraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 11,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3098) sebagaimana telah beberapa kalidiubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor66 Tahun 2005 (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2005 Nomor 151);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENYESUAIANGAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL MENURUTPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 11 TAHUN 2003TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURANPEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1977 TENTANGPERATURAN GAJI PEGAWAI NEGERI SIPILSEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAHTERAKHIR DENGAN PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 26 TAHUN 2001 KE DALAM GAJI POKOKPEGAWAI NEGERI SIPIL MENURUT PERATURANPEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 2005 TENTANGPERUBAHAN KETUJUH ATAS PERATURANPEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1977 TENTANGPERATURAN GAJI PEGAWAI NEGERI SIPILADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 123Pasal 1(1) Gaji pokok Pegawai Negeri Sipil menurut golongan ruang danmasa kerja golongan sebagaimana tercantum dalam LampiranPeraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003 tentang PerubahanAtas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentangPeraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah beberapakali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26Tahun 2001, terhitung mulai tanggal 1 Januari 2006 disesuaikandengan gaji pokok menurut golongan ruang dan masa kerjagolongan sebagaimana tercantum dalam Lampiran PeraturanPemerintah Nomor 66 Tahun 2005 tentang Perubahan KetujuhAtas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentangPeraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil(2) Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud paia ayat (1),termasuk Calon Pegawai Negeri Sipil(3) Rincian penyesuaian gaji pokok sebagaimana dimaksud padaayat (1) adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I,Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV PeraturanPresiden ini.Pasal 2(1) Penyesuaian gaji pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,ditetapkan dengan keputusan Pejabat Pembina Kepegawaiandalam lingkungan masing-masing sesuai dengan peraturanperundang-undangan.(2) Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan keputusandapat mendelegasikan wewenangnya kepada pejabat lain dilingkungannya untuk menetapkan penyesuaian gaji pokoktersebutPasal 3Ketentuan teknis pelaksanaan Peraturan Presiden ini diatur lebihlanjut oleh Menteri Keuangan dan/atau Kepala Badan KepegawaianNegara, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri menurutbidang tugasnya masing-masing.Pasal 4Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, Keputusan PresidenNomor 64 Tahun 2003 tentang Penyesuaian Gaji Pokok PegawaiADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 124Negeri Sipil menurut Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003, dicabutdan dinyatakan tidak berlakuPasal 5Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkanDitetapkan di Jakartapada tanggal 11 Januari 2006PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdDR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONOSalinan sesuai dengan aslinyaDeputi Sekretaris KabinetBidang Hukum,ttdLambock V. NahattandsADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 125LAMPIRAN IPERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANomor : 1 Tahun 2006Tanggal : 11 Januari 2006DAFTARPENYESUAIANGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR11TAHUN2003TENTANGPERUBAHANATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILSEBAGAIMANATELAHBEBERAPAKALIDIUBAHTERAKHIRDENGANPERATURANPEMERINTAHNOMOR26TAHUN2001KEDALAMGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR66TAHUN2005TENTANGPERUBAHANKETUJUHATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILGolongan IMKG a b c dLama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru0 575.000 661.30012 587.900 676.1003 619.700 712.600 645.900 742.800 673.200 774.2004 601.100 691.3005 633.600 728700 660.400 759.500 688.400 791.6006 614.700 706.9007 647.900 745.00 675.300 776.600 703.800 809.4008 628.500 722.7009 662.400 761.800 690.500 794.000 719.700 827.60010 642.600 739.00011 677.300 778.900 706.000 811.900 735.800 846.20012 657.000 755.60013 692.500 796.400 721.800 830.100 752.400 865.20014 671.800 772.60015 708.100 814.300 738.100 848.800 769.300 884.70016 686.900 790.00017 724.000 832.600 754.700 867.900 786.600 904.600ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 126PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,ttdDR.H.SUSILOBAMBANGYUDHOYONOSalinan sesuai aslinyaDeputi Sekretaris KabinetBidang HukumttdLambock V. Nattands18 702.400 807.70019 740.300 851.400 771.600 887.400 804.300 924.90020 718.200 825.90021 757.000 870.500 789.000 907.300 822.400 945.70022 734.300 844.10023 774.000 890.100 806.700 927.700 840.800 967.00024 750.800 863.40025 791.400 910.100 824.800 948.600 859.700 988.70026 767.700 882.80027 809.200 930.500 843.400 969.900 879.100 1.010.900ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 127LAMPIRAN IIPERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANomor : 1 Tahun 2006Tanggal : 11 Januari 2006DAFTARPENYESUAIANGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR11TAHUN2003TENTANGPERUBAHANATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILSEBAGAIMANATELAHBEBERAPAKALIDIUBAHTERAKHIRDENGANPERATURANPEMERINTAHNOMOR26TAHUN2001KEDALAMGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR66TAHUN2005TENTANGPERUBAHANKETUJUHATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILGolongan IIa b c dMKGLama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru0 725.600 834.4001 733.700 843.80023 750.200 862.700 782.000 899.200 815.000 937.300 849.500 976.90045 767.100 882.100 799.500 919.500 833.400 958.400 868.600 998.90067 784.300 902.000 817.500 940.100 852.100 979.900 888.100 1.021.40089 801.900 922.200 835.900 961.300 871.2001.001.900 908.100 1.044.3001011 820.000 943.000 854.700 982.900 890.8001.024.500 928.500 1.067.8001213 838.400 964.200 873.9001.005.000910.9001.047.500 949.400 1.091.8001415 857.300 985.800 893.5001.027.600931.3001.071.000 970.700 1.116.3001617 876.5001.008.000913.6001.050.700952.3001.095.100 992.600 1.141.4001819 896.2001.030.700934.2001.074.300973.7001.119.7001.014.9001.167.10020ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 128PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,ttdDR.H.SUSILOBAMBANGYUDHOYONOSalinan sesuai aslinyaDeputi Sekretaris KabinetBidang HukumttdLambock V. Nattands21 916.400 1.053.800 955.200 1.098.400 995.600 1.144.9001.037.7001.193.3002223 937.00 1.077.500 976.600 1.123.1001.017.9001.170.6001.061.0001.220.2002425 958.000 1.101.800 998.600 1.148.4001.040.8001.197.0001.084.0001.247.6002627 979.600 1.126.5001.021.0001.174.2001.064.2001.223.9001.109.3001.275.60028291.001.6001.151.800 1.044.00 1.200.6001.088.2001.251.4001.134.2001.304.30030311.024.1001.177.7001.067.4001.227.6001.112.6001.279.5001.159.7001.333.60032331.047.1001.204.2001.091.4001.255.2001.137.6001.308.3001.185.8001.363.600ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 129LAMPIRAN IIIPERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANomor : 1 Tahun 2006Tanggal : 11 Januari 2006DAFTARPENYESUAIANGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR11TAHUN2003TENTANGPERUBAHANATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILSEBAGAIMANATELAHBEBERAPAKALIDIUBAHTERAKHIRDENGANPERATURANPEMERINTAHNOMOR26TAHUN2001KEDALAMGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR66TAHUN2005TENTANGPERUBAHANKETUJUHATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILGolongan IIIa b c dMKGLama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru0 905.400 1.041.200 943.700 1.085.200 983.600 1.131.1001.025.2001.179.00012 925.700 1.064.600 964.900 1.109.6001.005.7001.156.6001.048.3001.205.50034 946.500 1.088.500 986.600 1.134.6001.028.3001.182.6001.071.8001.232.60056 967.800 1.113.0001.008.8001.160.1001.051.4001.209.2001.095.9001.260.30078 989.600 1.138.0001.031.4001.186.1001.075.1001.236.3001.120.6001.288.600910 1.011.8001.163.6001.054.6001.212.8001.099.2001.264.1001.145.8001.317.6001112 1.034.6001.189.7001.078.3001.240.1001.124.0001.292.5001.171.5001.347.2001314 1.057.8001.216.5001.102.6001.268.0001.149.2001.321.6001.197.8001.377.5001516 1.081.6001.243.8001.127.4001.296.5001.175.1001.351.3001.224.8001.408.5001718 1.105.9001.271.8001.152.7001.325.6001.201.5001.381.7001.252.3001.440.1001920 1.130.8001.300.4001.178.6001.355.4001.228.5001.412.7001.280.5001.472.500ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 130PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,ttdDR.H.SUSILOBAMBANGYUDHOYONOSalinan sesuai aslinyaDeputi Sekretaris KabinetBidang HukumttdLambock V. Nattands2122 1.156.2001.329.6001.205.1001.385.9001.256.1001.444.5001.309.2001.505.6002324 1.182.2001.359.5001.232.2001.417.0001.284.3001.477.0001.338.7001.539.5002526 1.208.8001.390.1001.259.9001.448.9001.313.2001.510.2001.368.8001.574.1002728 1.235.9001.421.3001.288.2001.481.5001.342.7001.544.1001.399.5001.609.5002930 1.263.7001.453.3001.317.2001.514.8001.372.9001.578.8001.431.0001.645.6003132 1.292.1001.485.9001.346.8001.548.8001.403.800 1614.300 1.463.2001.682.600ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 131LAMPIRAN IVPERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIANomor : 1 Tahun 2006Tanggal : 11 Januari 2006DAFTARPENYESUAIANGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR11TAHUN2003TENTANGPERUBAHANATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILSEBAGAIMANATELAHBEBERAPAKALIDIUBAHTERAKHIRDENGANPERATURANPEMERINTAHNOMOR26TAHUN2001KEDALAMGAJIPOKOKPEGAWAINEGERISIPILMENURUTPERATURANPEMERINTAHNOMOR66TAHUN2005TENTANGPERUBAHANKETUJUHATASPERATURANPEMERINTAHNOMOR7TAHUN1977TENTANGPERATURANGAJIPEGAWAINEGERISIPILGolongan IVa b c d eMKGLama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru0 1.068.6001.228.9001.113.8001.280.9001.160.9001.335.1001.210.1001.391.6001.261.2001.450.40012 1.092.6001.256.5001.138.8001.309.7001.187.0001.365.1001.237.3001.422.8001.289.6001.483.00034 1.117.2001.284.8001.164.4001.339.1001.213.7001.395.8001.285.1001.454.8001.318.8001.516.40056 1.142.3001.313.6001.190.6001.396.2001.241.0001.427.1001.293.5001.487.5001.348.2001.550.50078 1.168.0001.343.2001.217.4001.400.0001.268.9001.459.2001.322.6001.521.0001.378.5001.585.300910 1.194.2001.373.4001.244.8001.431.5001.297.4001.492.0001.352.3001.555.2001.409.5001.621.0001112 1.221.1001.404.2001.272.7001.463.6001.326.6001.525.6001.382.7001.590.1001.441.2001.657.4001314 1.248.5001.435.8001.301.3001.496.5001.356.4001.559.9001.413.8001.625.9001.473.6001.694.7001516 1.276.6001.468.1001.330.6001.530.2001.385.9001.594.9001.445.6001.662.4001.506.7001.732.8001718 1.305.3001.501.1001.360.5001.560.6001.418.1001.630.8001.478.1001.699.8001.540.6001.771.7001920 1.334.6001.534.8001.391.1001.599.8001.450.0001.667.4001.511.300 1.738.00 1.575.2001.811.5002122 1.364.6001.569.3001.422.4001.635.7001.482.6001.704.9001.545.3001.777.1001.610.7001.852.3002324 1.395.3001.604.5001.454.3001.672.5001.515.9001.743.300 1.580.00 1.817.0001.646.9001.893.9002526 1.426.7001.640.7001.487.0001.710.1001.550.0001.782.4001.615.5001.857.9001.683.9001.936.5002728 1.458.7001.677.6001.520.5001.748.5001.584.8001.822.5001.651.9001.899.6001.721.7001.980.00029ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 13230 1.491.500 1.715.300 1.554.600 1.787.800 1.620.400 1.863.500 1.689.00 1.942.300 1.760.400 2.024.5003132 1.525.100 1.753.800 1.589.600 1.828.000 1.656.900 1.905.400 1.727.000 1.986.000 1.800.000 2.070.000PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,ttdDR.H.SUSILOBAMBANGYUDHOYONOSalinan sesuai aslinyaDeputi Sekretaris KabinetBidang HukumttdLambock V. NattandsADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 133KEPUTUSANKEPALA BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARANOMOR : 1158a/KEP/1983TENTANGKARTU ISTERI/SUAMI PEGAWAI NEGERI SIPILKEPALA BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARAMenimbang : bahwa dengan diundangkannya Peraturan Pemerintahperlu menetapkan Kartu Isteri/Suami Pegawai NegeriSipil.Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041);2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1972tentang Badan Administrasi Kepegawaian Negara(Lembaran Negara Tahun 1972 Nomor 42);3. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1933tentang izin Perkawinan dan Perceraian BagiPegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun1983 Nomor 13, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3250).MEMUTUSKANMenetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN ADMINISTRASIKEPEGAWAIAN NEGARA TENTANG KARTU ISTERI/SUAMI PEGAWAI NEGERI SIPIL.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 134Pasal 1Kepada setiap isteri Pegawai Negeri Sipil, diberikan Kartu Isteri PegawaiNegeri Sipil disingkat dengan KARIS dan kepada setiap suami PegawaiNegeri Sipil diberikan Kartu Suami Pegawai Negeri Sipil disingkat denganKARSU.Pasal 2(1) Bentuk, ukuran, warna, dan isi KARIS dan KARSU bagi isteri/suami Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalamUndang-undang Nomor 8 Tahun 1974, adalah sebagai tersebutdalam lampiran I-A dan lampiran I-B Keputusan ini.(2) Bentuk, ukuran, warna, dan isi KARIS dan KARSU Dagi isteri/suami Pegawai Bank milik Negara, Bank milik Daerah, BadanUsaha milik Negara. Badan Usaha milik Daerah, adalah sebagaitersebut dalam lampiran II-A dan lampiran II-B Keputusan ini.(3) Bentuk, ukuran, warna, dan isi KARIS dan KARSU bagi isteri/suami Kepala Desa, Perangkat Desa, dan petugas yangmenyelenggarakan urusan pemerintahan di Desa, adalahsebagai tersebut dalam lampiran III-A dan lampiran III-BKeputusan ini.Pasal 3(1) KARIS diberi seri dan nomor urut yang dimulai dengan hurufseri A dan dibelakang huruf tersebut dituliskan nomor urut yangdimulai dan angka 000001 sampai dengan 999999.(2) KARSU diberi seri dan nomor urut yang dimulai dengan hurufseri AA dan dibelakang huruf tersebut dituliskan nomor urutyang dimulai dari angka 000001 sampai dengan 999999.Pasal 4KARIS/KARSU adalah kartu identitas istri/suami Pegawai Negeri Sipil,dalam arti bahwa pemegangnya adalah isteri/suami sah dari PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan.Pasal 5KARIS/KARSU berlaku selama yang bersangkutan menjadi istri/suamisah dari Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 135Pasal 6Apabila Pegawai Negeri Sipil berhenti sebagai Pegawai Negeri Sipiltanpa hak pensiun, maka KARIS/KARSU yang telah diberikan kepadaistri/suaminya dengan sendirinya tidak berlaku lagi.Pasal 7(1) Apabila isteri/suami Pegawai Negeri Sipil bercerai, maka KARIS/KARSU yang telah diberikan kepadanya dengan sendirinya tidakberlaku lagi.(2) Apabila isteri/suami Pegawai Negeri Sipil yang bercerai itu rujuk/kawin kembali, dengan bekas suami/isterinya, maka KARIS/KARSU tersebut dengan sendirinya berlaku kembali.Pasal 8(1) Apabila Pegawai Negeri Sipil berhenti dengan hormat denganhak pensiun, maka KARIS/KARSU yang telah diberikan kepadaisteri/suaminya tetap berlaku.(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku jugaapabila Pegawai Negeri Sipil yang berssngkutan meninggal dunia.Pasal 9(1) KARIS/KARSU bagi isteri/suami Pegawai Negeri Sipilsebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun1974 dan Pegawai bulanan disamping pensiun, ditetapkan olehKepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara.(2) KARIS/KARSU bagi istri/suami pegawai Bank Milik Negara. BankMilik Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha MilikDaerah, ditetapkan oleh pimpinan Bank/Badan Usaha yangbersangkutan.(3) KARIS/KARSU bagi istri/suami Kepala Desa, Perangkat Desa,dan petugas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan didesa. ditetapkan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II yangbersangkutan.Pasal 10Hal-hal lain tentang KARIS/KARSU yang belum cukup diatur dalamKeputusan ini, akan diatur kemudian.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 136Pasa! 11Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Keputusan inidisampaikan dengan homat kepada :1. Bapak Presiden2 Menteri Sekretaris Negara3. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara4. Semua Menteri Kabinet Pembangunan IV5. Jaksa Agung6. Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia7. Semua Pimpinan Kesekretsriatan Lembaga Tertinggi Negara/Tinggi Negara8. Semua Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen9. Semua Gubemur Kepala Daerah Tingkat I10. Semua Bupati/Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II danWalikota di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta11. Semua Pimpinan BanK milik Negara12. Semua Pimpinan Badan Usaha Milik Negara13. Semua Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah14. PertinggalDitetapkan di Jakartapada tanggal 25 April 1933KEPALABADAN ADMINISTRASIKEPEGAWAIAN NEGARAttdAEMANIHURUKADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 137KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIANOMOR : SK.279/OR/VIII/83/01 TAHUN 1983TENTANGPERATURAN DASAR PEJABAT DINAS LUAR NEGERIMENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAMenimbang : a. bahwa ketentuan Dasar Kepegawaian Dinas LuarNegeri berdasarkan Keputusan Menteri LuarNegeri RI Nomor SK. 2783/BU/IX/81/01 tanggal15 September 1981 tidak lagi mencerminkankecenderungan pemikiran yang ada dalamDepartemen Luar Negeri dewasa ini;b. bahwa Keputusan Menteri Luar Negeri NomorSK. 2783/BU/IX/81/01 tersebut kurangmencakup masalah Pejabat Dinas Luar Negeri;c. bahwa oleh karenanya perlu mengadakanpenyempurnaan atas Ketentuan DasarKepegawaian Dinas Luar Negeri berdasarkanSK.2783/BU/IX/81/01 tersebut di atas;d. bahwa perlu disusun kembali ketentuan-ketentuanyang mengatur Pejabat Dinas Luar Negeri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 138Mengingat : 1. Undang-Undang Dasar 1945.2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-Pokok Kepegawaian.3. Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1974tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen.4. Keputusan Presiden RI Nomor 45 Tahun 1974tentang Susunan Organisasi Departemen,sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhirdengan Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun1982.5. Keputusan Presiden RI No. 51 Tahun 1976tentang Pokok-Pokok Organisasi Perwakilan RI diLuar Negeri.6. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK.203tahun 1983 tentang Organisasi dan Tata KerjaDepartemen Luar Negeri.7. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK. 236Tahun 1983 tentang Kebijaksanaan KepegawaianDepartemen Luar Negeri.8. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor 208 Tahun1983 tentang Alih Jabatan dari PejabatAdministrasi dan Pejabat Komunikasi ke PejabatDiplomatik dan Konsuler.MEMUTUSKANMenetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI TENTANGPERATURAN DASAR PEJABAT DINAS LUAR NEGERIBAB IPENGERTIANPasal 1Yang dimaksud dalam Surat Keputusan ini dengan :1. Dinas Luar Negeri adalah aparatur pemerintah yangmelaksanakan tugas dibidang politik dan hubungan luar negeri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 1392. “Pejabat Dinas Luar Negeri” disingkat PDLN adalah pegawai dalamlingkungan Departemen Luar Negeri yang telah memenuhi syarat-syarat untuk melaksanakan tugas Perwakilan.3. “Perwakilan” adalah Perwakilan RI di luar negeri, baik KedutaanBesar, Perutusan Tetap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa,Konsulat Jenderal maupun Konsulat.4. “Pejabat Diplomatik Konsuler” adalah Pejabat Dinas Luar Negeriyang melaksanakan tugas-tugas pokok dalam bidang politik danhubungan luar negeri.5. “Status Diplomatik” adalah kedudukan dengan hak-hak diplomatikyang didapat dari negara asing untuk pejabat-pejabat tertentuyang ditetapkan oleh negara Republik Indonesia atas dasar timbalbalik.6. “Tingkat PDLN” adalah tingkat kepangkatan golongan pegawaiDepartemen Luar Negeri yang berkedudukan sebagai PejabatDinas Luar Negeri sewaktu bertugas di dalam negeri.7. “Gelar Kepangkatan” adalah gelar yang diberikan kepada seorangPejabat Dinas Luar Negeri sesuai tingkat PDLN-nya sewaktubertugas pada Perwakilan.8. “Gelar Jabatan” adalah gelar yang diberikan oleh Kepala Negara/Menteri Luar Negeri kepada seseorang sehubungan denganjabatan yang dipangkunya di Perwakilan.BAB IIGOLONGAN PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 2Yang termasuk PDLN adalah :1. Pejabat Diplomatik Konsuler.2. Pejabat Administrasi3. Pejabat SandiPasal 3PDLN mempunyai status diplomatik selama bertugas di perwakilan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 140BAB IIISYARAT PENERIMAAN UNTUK MENJADICALON PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 41. Untuk diterima sebagai calon PDLN pada Departemen Luar Negeriseorang harus memenuhi syarat-syarat umum sebagai berikut :a. Berkewarganegaraan Indonesia;b. Fisik dan mental dinyatakan sehat;c. Bersedia ditempatkan dimana saja;d. Tidak beristeri/bersuami seorang yang berkewarganegaraanasing atau tanpa warganegara.2. Selain syarat-syarat umum tersebut harus pula dipenuhi syarat-syarat khusus :a. Untuk Pejabat Diplomatik Konsuler dan Pejabat Administrasi :- berumur setinggi-tingginya 28 tahun;- berijazah Sarjana Universitas/Perguruan Tinggi Negeriatau yang dipersamakan dari jurusan yang ditetapkanoleh Menteri Luar Negeri;- lulus ujian saringan yang diselenggarakan olehDepartemen Luar Negeri.b. Untuk Pejabat Sandi :- berumur setinggi-tingginya 25 tahun;- berijazah Sarjana Muda dari Akademi Sandi Negaradengan mendapat rekomendasi dari Lembaga SandiNegara;- lulus ujian saringan yang diselenggarakan olehDepartemen Luar Negeri.3. Dalam keadaan tertentu Menteri Luar Negeri dapat mengadakanpengecualian dari ketentuan-ketentuan mengenai PerguruanTinggi dan batas umur seperti yang ditetapkan dalam ayat 2pasal ini.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 141BAB IVJENJANG TINGKAT PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 5Jenjang Tingkat PDLN adalah sebagai berikut :(1) Pejabat Diplomatik Konsuler :a. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat I;b. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat II;c. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat III;d. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat IV;e. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat V;f. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat VI;g. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat VII;h. Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat VIII;(2) Pejabat Administrasia. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat I;b. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat II;c. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat III;d. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat IV;e. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat V;f. Pejabat Administrasi (PA) Tingkat VI;(3) Pejabat Sandia. Pejabat Sandi (PS) Tingkat I;b. Pejabat Sandi (PS) Tingkat II;c. Pejabat Sandi (PS) Tingkat III;d. Pejabat Sandi (PS) Tingkat IV;e. Pejabat Sandi (PS) Tingkat V;f. Pejabat Sandi (PS) Tingkat VI;g. Pejabat Sandi (PS) Tingkat VII;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 142BAB VKENAIKAN TINGKAT PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 6Kenaikan tingkat PDLN adalah berdasarkan :a. Sistem karier, sistem prestasi kerja dan potensi pengembangan;b. Masa kerja tingkat PDLN terakhir selama 4 tahun terkecualitingkat PDLN terendah;c. Formasi memungkinkan;d. Daftar urut;e. Untuk kenaikan tingkat PDLN tertentu diperlukan persyaratanpendidikan.Pasal 7Kenaikan tingkat luar biasa dapat diberikan oleh Menteri Luar Negeriberdasarkan prestasi luar biasa seorang PDLN.BAB VIGELAR PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 8Para PDLN yang ditempatkan pada Perwakilan diberi gelarkepangkatan dan gelar jabatan.Pasal 91. Gelar kepangkatan yang diberikan kepada Pejabat DiplomatikKonsuler yang ditempatkan pada Perwakilan Diplomatik adalah :a. Duta Besar untuk PDK I;b. Minister untuk PDK II;c. Minister Counsellor untuk PDK III;d. Counsellor untuk PDK IV;e. Sekretaris Pertama untuk PDK V;f. Sekretaris Kedua untuk PDK VI;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 143g. Sekretaris Ketiga untuk PDK VII;h. Atase untuk PDK VIII;2. Gelar Kepangkatan Pejabat Administrasi yang ditempatkan padaPerwakilan Diplomatik :a. Minister Counsellor (Administrasi) untuk PA I;b. Counsellor (Administrasi) untuk PA II;c. Sekretaris Pertama (Administrasi) untuk PA III;d. Sekretaris Kedua (Administrasi) untuk PA IV;e. Sekretaris Ketiga (Administrasi) untuk PA V;f. Atase (Administrasi) untuk PA VI;Dengan ketentuan bahwa gelar Minister Counsellor (Administrasi)dapat diberikan kepada Pejabat Administrasi Tingkat I yangpernah memangku Jabatan Eselon II pada Departemen LuarNegeri.3. Gelar Kepangkatan Pejabat Sandi yang ditempatkan padaPerwakilan Diplomatik :a. Counsellor (Administrasi) untuk PS I;b. Sekretaris Pertama (Administrasi) untuk PS III;c. Sekretaris Kedua (Administrasi) untuk PS III;d. Sekretaris Ketiga (Administrasi) untuk PS IV;e. Atase (Administrasi) untuk PS V;f. Atase (Administrasi) untuk PS VI;g. Atase (Administrasi) untuk PS VIII.Dengan ketentuan bahwa gelar Counsellor (Administrasi) hanyadiberikan kepada Pejabat Sandi Tingkat I yang telah lulusSESPARLU.Pasal 10Gelar jabatan pada Perwakilan Diplomatik adalah :a. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh diberikan kepadaKepala Perwakilan Diplomatik;b. Kuasa Usaha Sementara diberikan kepada seorang PejabatDiplomatik Konsuler yang mempunyai tingkat atau gelar tertinggipada Perwakilan Diplomatik untuk memangku jabatan sementaraKepala Perwakilan;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 144c. Wakil Kepala Perwakilan diberikan kepada Pejabat DiplomatikKonsuler yang menjabat sebagai Wakil Duta Besar Luar Biasadan Berkuasa Penuh.Pasal 111. Gelar jabatan yang diberikan kepada Pejabat Diplomatik Konsuleryang ditempatkan pada Perwakilan Konsuler adalah :a. Konsul Jenderal untuk PDK I atau PDK II;b. Konsul untuk PDK III, IV, V atau VI;c. Konsul Muda untuk PDK VII atau VIII.2. Gelar jabatan yang diberikan kepada Pejabat Administrasi yangditempatkan pada Perwakilan Konsuler adalah :a. Konsul untuk PA I, II, III atau IV;b. Konsul Muda untuk PA V atau PA VI.3. Gelar jabatan yang diberikan kepada Pejabat Sandi yangditempatkan pada Perwakilan Konsuler adalah :a. Konsul untuk PS I, II atau III;b. Konsul Muda untuk PS IV, V atau VI.BAB VIIPEJABAT–PEJABAT YANG DIPERBANTUKANPasal 12Menteri Luar Negeri dapat mengangkat seseorang dari luar lingkunganDepartemen Luar Negeri untuk ditugaskan pada Departemen LuarNegeri atau di Perwakilan.Pasal 13Kepada Pejabat yang diperbantukan pada Departemen Luar Negeridan ditempatkan pada Perwakilan Diplomatik diberikan gelar jabatan :a. Atase Pertahanan dan Asisten Atase Pertahanan bagi KepalaBidang dan Kepala Sub Bidang Pertahanan;b. Atase dengan sebutan yang sesuai dengan bidangnya masing-masing bagi Kepala Bidang Teknis.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 145Pasal 14Kepada Pejabat yang diperbantukan pada Departemen Luar Negeridan memangku jabatan pada Perwakilan Konsuler dapat diberikangelar jabatan :a. Konsul bagi Pejabat/Pegawai Negeri Sipil dari golongan III/d keatas;b. Konsul bagi anggota ABRI dari pangkat Mayor sampai denganKolonel;c. Konsul Muda bagi Pejabat/Pegawai Negeri Sipil dari golonganIII/a sampai dengan III/c;d. Konsul Muda bagi ABRI dari Pangkat Letnan Satu sampai denganKapten.BAB VIIIPENDIDIKANPasal 15Pendidikan dan latihan merupakan unsur penting dalam pembinaanPDLN dan berfungsi sebagai sarana untuk memupuk danmenyempurnakan kemampuan profesional serta menentukankualifikasi pejabat dalam hubungan dengan persyaratan kepangkatandinas luar negeri dan jabatan di lingkungan Departemen Luar Negeridan Perwakilan.Pasal 16Sistim pendidikan dan latihan yang diselenggarakan oleh DepartemenLuar Negeri baik dengan sarana pendidikan dan latihan di dalamDepartemen Luar Negeri maupun dengan sarana lain di luarlingkungan Departemen Luar Negeri meliputi :1. Pendidikan berjenjang terdiri atas : Sekolah Dinas Luar Negeri(SEKDILU), Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (SESDILU), SekolahStaf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri (SESPARLU).2. Pendidikan dan latihan tidak berjenjang untuk berbagai keahliandan kejuruan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 146Pasal 17Pendidikan yang diselenggarakan untuk Pejabat Diplomatik Konsuler,Pejabat Administrasi dan Pejabat Sandi dibedakan satu denganlainnya sesuai dengan kebutuhan bidang masing-masing.Pasal 18Jenis, tujuan ruang lingkup, kwalifikasi pendidikan dan latihan sertapersyaratan masing-masing ditetapkan dengan Keputusan MenteriLuar Negeri.BAB IXALIH GOLONGAN PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 19Bagi Pejabat Administrasi dan Pejabat Sandi bila dibutuhkan olehDepartemen Luar Negeri, dibuka kesempatan untuk beralih golonganmenjadi Pejabat Diplomatik Konsuler dengan syarat-syarat yangditetapkan dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.BAB XPENUGASAN PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 20PDLN dapat ditugaskan di dalam negeri, di Perwakilan atau padaOrganisasi Internasional. Penugasan di dalam negeri dapat dilakukandi Departemen Luar Negeri atau pada instansi Pemerintah lainnya.Pasal 21Penugasan pada dasarnya dilakukan untuk jangka waktu empattahun terkecuali apabila ditentukan lain oleh Menteri Luar Negeri.Pasal 22Masa penugasan dan penentuan jabatan bagi Pejabat yangdiperbantukan pada Departemen Luar Negeri ditentukan oleh MenteriLuar Negeri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 147Pasal 23Persyaratan jabatan baik di Departemen maupun di Perwakilan akandiatur dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.BAB XIIPENGAKHIRAN DINASBAGI PEJABAT DINAS LUAR NEGERIPasal 24Pengakhiran dinas bagi PDLN dapat terjadi karena :1. Meninggal dunia.2. Pensiun.3. Atas permintaan sendiri.4. Dinyatakan tidak memenuhi syarat kejasmanian dan kerohanianbagi Dinas Luar Negeri.5. Diberhentikan sebagai Pegawai Negeri.6. Dicabut kedudukannya sebagai PDLN.7. Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia.BAB XIIIPERNIKAHANPasal 251. Pernikahan para PDLN dilakukan sesuai dengan peraturanperundang-undangan yang berlaku.Pasal 261. Seorang PDLN, apabila hendak menikah harus mengajukanketerangan lengkap tentang calon isteri/suami kepada MenteriLuar Negeri untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pemberianizin menikah. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapatmengakibatkan yang bersangkutan dicabut kedudukannyasebagai PDLN.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 148BAB XIVKETENTUAN PERALIHANPasal 27Penyesuaian jabatan, tingkat dan gelar PDLN yang terdapatsekarang, dengan adanya keputusan ini diatur sedemikian rupa agartidak merugikan Pejabat.BAB XVKETENTUAN PENUTUPPasal 28Pada saat berlakunya keputusan ini, maka Keputusan Menteri LuarNegeri Nomor SK. 2783/BU/XI/81/01, tanggal 15 September 1981tentang Ketentuan Dasar Kepegawaian Dinas Luar Negeri sertaperaturan-peraturan lainnya yang bertentangan dengan keputusanini dinyatakan tidak berlaku lagi.Pasal 29Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Keputusan ini,diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.Pasal 30Keputusan Menteri Luar Negeri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.Ditetapkan di : JakartaPada tanggal : 19 Agustus 1983MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAttdPROF. DR. MOCHTAR KUSUMAATMADJAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 149Salinan Keputusan ini disampaikan kepada :1. Yth. Sdr. Menteri Sekretaris Negara di Jakarta2. Yrh. Sdr. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara diJakarta3. Yth. Sdr. Menteri HANKAM / PANGAB di Jakarta4. Yth. Sdr. Menteri Kehakiman di Jakarta5. Yth. Sdr. Menteri Keuangan di Jakarta6. Yth. Sdr. Menteri Pertanian di Jakarta7. Yth. Sdr. Menteri Perhubungan di Jakarta8. Yth. Sdr. Menteri Agama di Jakarta9. Yth. Sdr. Menteri Perdagangan di Jakarta10. Yth. Sdr. Menteri Perindustrian di Jakarta11. Yth. Sdr. Kepala BAKN di Jakarta12. Yth. Sdr. LAN di Jakarta13. Yth. Sdr. Ketua Lembaga Sandi Negara di Jakarta14. Yth. Sdr. Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional di Jakarta15. Yth. Sdr. Para Pejabat Eselon I dan II Departemen Luar Negeridi Jakarta16. Yth. Sdr. Para Kepala Perwakilan RI di Luar Negeri17. ArsipADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 150DEPARTEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAS A L I N A NKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIA NOMOR : SK. 2783/BU/IX/81/01TENTANGKETENTUAN DASAR KEPEGAWAIAN DINAS LUAR NEGERIMENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIAMenimbang : a. bahwa peraturan dasar tentang pembinaanKepegawaian Departemen Luar Negeri yangditetapkan dengan Peraturan Menteri Luar NegeriNomor SK. 102/BU/I/80/01 tanggal 15 Januari1980 perlu di sesuaikan dengan perkembanganpembinaan kepegawaian secara menyeluruh danterpadu;b. bahwa untuk itu perlu diatur kembali ketentuandasar kepegawaian Dinas Luar Negeri.Mengingat : 1. Pasal 11 dan 13 Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian;3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 1975tentang wewenang Pengangkatan, Pemindahandan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 5 Tahun 1976tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil;5. Keputusan Presiden RI Nomor 237 Tahun 1967tentang Pembentukan Sekretariat NasionalASEAN;6. Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1974tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 151ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN7. Keputusan Presiden RI Nomor 45 Tahun 1974tentang Susunan Organisasi Departemen;8. Keputusan Presiden RI Nomor 51 Tahun 1976tentang Pokok-Pokok Organisasi Perwakilan R.I.di Luar Negeri.M E M U T U S K A NMenetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI TENTANGKETENTUAN-KETENTUAN DASAR KEPEGAWAIANDINAS LUAR NEGERI.BAB IPENGERTIANPasal 1Yang dimaksud dalam Keputusan ini dengan :(1) Departemen adalah Departemen Luar Negeri;(2) Perwakilan adalah Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri,baik berupa Kedutaan Besar Republik Indonesia, Perutusan TetapRepublik Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa, KonsulatJenderal Republik Indonesia, maupun Konsulat RepublikIndonesia;(3) Pegawai Departemen adalah Pegawai Negeri Sipil RepublikIndonesia di lingkungan Departemen Luar Negeri, yang diangkatoleh Menteri Luar Negeri untuk diserahi tugas atau jabatan diDepartemen Luar Negeri;(4) Tingkat Kepangkatan Pegawai Dinas Luar Negeri adalah tingkatyang diberikan kepada seorang Pegawai Dinas Luar Negeri;(5) Konsul Jenderal Kehormatan dan Konsul Kehormatan adalahseorang warga negara Republik Indonesia bukan pegawai negeriatau seorang warga negara asing yang diangkat oleh PresidenRepublik Indonesia untuk mengurus kepentingan konsuler NegaraRepublik Indonesia di satu wilayah tertentu disuatu negara;(6) Gelar Jabatan adalah gelar yang diberikan oleh Menteri LuarNegeri kepada seseorang sehubungan dengan jabatan yangdipangkunya di Perwakilan;
    • 152(7) Pegawai yang diperbantukan adalah Pegawai Negeri dariDepartemen lain atau Lembaga Pemerintah Non-Departemen,yang diangkat oleh Menteri Luar Neperi untuk diserahi tugasatau jabatan baik di Departemen Luar Negeri maupun diPerwakilan;(8) Pegawai Setempat adalah mereka yang diangkat oleh KepalaPerwakilan untuk dipekerjakan di Perwakilan;(9) Gelar Kepangkatan adalah gelar yang diberikan kepada seorangPegawai Dinas Luar Negeri sewaktu ia memegang jabatan padaatau melaksanakan suatu tugas di Perwakilan;(10) Dinas Luar Negeri adalah aparat Pemerintah yang berfungsi dilingkungan Departemen Luar Negeri untuk melaksanakan tugasdi bidang politik dan hubungan luar negeri Republik Indonesia.BAB IIKATEGORI KEPEGAWAIANDINAS LUAR NEGERIPasal 2Kepegawaian Dinas Luar Negeri meliputi kategori Pegawai sebagaiberikut :(1) Pegawai Dinas Luar Negeri yang diperinci dalam golongan :a. Golongan Pejabat Diplomatik :- Pejabat Diplomatik/Konsuler,- Pejabat Administrasi,- Pejabat Komunikasi.b. Golongan Pejabat Non-Diplomatik :- Pejabat Pembantu Administrasi,- Pejabat Pembantu Komunikasi,(2) Pegawai yang diperbantukan pada Dinas Luar Negeri :a. Atase Pertahanan/Asisten Atase Pertahanan,b. Atase Teknis,c. Pembantu Atase Pertahanan/Tehnis.(3) Pegawai Setempat.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 153BAB IIIPENERIMAAN DAN PENGANGKATANPasal 3(1) Untuk penerimaan dan pengangkatan sebagai Pegawai DinasLuar Negeri seorang calon harus memenuhi syarat-syarat umumsebagai berikut :a. Berkewarganegaraan Republik Indonesia karena kelahiran.b. Fisik dan mental dinyatakan mampu untuk bertugas di manasaja di seluruh dunia oleh instansi yang berwenang.(2) Selain syarat-syarat umum tersebut harus pula dipenuhi syarat-syarat khusus :a. Untuk Pejabat Diplomatik/konsuler- Berumur setinggi-tingginya 28 tahun;- Berijazah Sarjana Lengkap dari Perguruan Tinggi/Universitas Negeri atau Swasta yang disamakan darijurusan yang ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri;- Lulus Pendidikan Dasar Pejabat Diplomatik/Konsuler yangdiselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri.b. Untuk Pejabat Administrasi :- Berumur setinggi-tingginya 28 tahun;- Berijazah Sarjana lengkap dari Perguruan-Tinggi/Universitas Negeri atau Swasta yang disamakan darijurusan yang ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri;- Lulus Pendidikan Dasar Pejabat Administrasi Luar Negeriyang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri.c. Untuk Pejabat Komunikasi :- Berumur setinggi-tingginya 25 tahun;- Berijazah Sarjana Muda dari Akademi Sandi Negara;- Lulus Pendidikan Dasar Pejabat Komunikasi Lu-ar Negeriyang diselenggarakan oleh atau untuk Departemen LuarNegeri.d. Untuk Pejabat Pembantu Komunikasi- Berumur setinggi-tingginya 35 tahun- Berijazah Sekolah Menengah Atas Negeri Jurusan IlmuPasti-Alam/Sekolah Tehnik Negeri atau Swasta yangdisamakan, jurusan listrik;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 154- Lulus Pendidikan Pejabat Pembantu Komunikasi yangdiselenggarakan oleh atau untuk Departemen LuarNegeri.(3) Pejabat Administrasi dan Pejabat Komunikasi dapat beralih kePejabat Diplomatik/Konsuler bila memenuhi syarat dan lulusPendidikan Madya dan/atau Sespa untuk Pejabat Diplomatik/Konsuler yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri.(4) Dalam hal–hal yang khusus Menteri Luar Negeri dapatmenyimpang dari ketentuan-ketentuan batas umur yangditetapkan dalam ayat (2) tersebut diatas.Pasal 4Menteri Luar Negeri dapat mengangkat seorang pegawai dari luarlingkungan Departemen Luar Negeri pada Perwakilan dengan gelarDiplomatik atas dasar pertimbangan khusus.BAB IVPENDIDIKANPasal 5Pendidikan dan latihan merupakan unsur penting dalampembinaan Pegawai Dinas Luar Negeri dan berfungsi sebagai saranauntuk memupuk dan menyempurnakan kemampuan profesionalserta menentukan kualifikasi pegawai dalam hubungan denganpersyaratan kepangkatan dinas luar negeri dan jabatan di lingkunganDepartemen Luar Negeri dan Perwakilat Perwakilan.Pasal 6Sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeribaik dengan sarana pendidikan dan latihan organik maupun dengansarana. Lain di luar lingkungan Departemen, meliputi :(1) Pendidikan berjenjang untuk karier Pegawai Dinas Luar Negeri.(2) Pendidikan dan latihan tidak berjenjang untuk berbagai keahliandan kejuruan Dinas Luar NegeriADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 155Pasal 7Pendidikan yang diselenggarakan untuk Pejabat Diplomatik/Konsuler,Pejabat Administrasi dan Pejabat Komunikasi dibedakan satu denganlainnya sesuai dengan kebutuhan bidang masing-masing.Pasal 8Jenis, tujuan, ruang lingkup, kualifikasi pendidikan dan latihan sertapersyaratan masing-masing ditetapkan dengan Keputusan MenteriLuar Negeri.BAB VKEPANGKATANPasal 9Jenjang kepangkatan Pegawai Dinas Luar Negeri adalah sebagaiberikut :(1) Pejabat Diplomatik/Konsuler :a. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat Ib. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat IIc. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat IIId. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat IVe. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat Vf. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat VIg. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat VIIh. Pejabat Diplomatik/Konsuler (PDK) tingkat VIII(2) Pejabat Administrasi :a. Pejabat Administrasi (PA) tingkat Ib. Pejabat Administrasi (PA) tingkat IIc. Pejabat Administrasi (PA) tingkat IIId. Pejabat Administrasi (PA) tingkat IVe. Pejabat Administrasi (PA) tingkat Vf. Pejabat Administrasi (PA) tingkat VI.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 156(3) Pejabat Komunikasi :a. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat Ib. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat IIc. Pejabat Komun ikasi (PK) t ingkat IIId. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat IVe. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat Vf. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat VIg. Pejabat Komunikasi (PK) tingkat VII.(4) Kepangkatan Pegawai yang diperbantukan pada Dinas LuarNegeri adalah kepangkatan Instansi pegawai yangbersangkutan.BAB VISTATUSPasal 10Status diplomatik diberikan kepada :a. Pejabat Diplomatik;b. Atase dan asisten Atase Pertahanan;c. Atase Teknis.Pasal 11Menteri Luar Negeri dapat memberikan status diplomatik kepadapegawai dari Departemen lain atau Lembaga Pemerintah NonDepartemen yang diperbantukan pada Departemen Luar Negeriuntuk diserahi tugas dan jabatan di Perwakilan.BAB VIIKENAIKAN TINGKATPEGAWAI DINAS LUAR NEGERIPasal 12Kenaikan tingkat Pegawai Dinas Luar Negeri adalah berdasarkan :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 157(1) Sistem karier dan sistem prestasi kerja;(2) Ketentuan-ketentuan tentang syarat-syarat kenaikan tingkatdiatur dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.BAB VIIIGELARPasal 13Gelar Jabatan dapat diberikan sebagai gelar jabatan biasa atausebagai jabatan kehormatan :(1). Gelar jabatan biasa adalah :a. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RepublikIndonesia diberikan kepada Kepala Perwakilan Diplomatik;b. Konsul Jenderal Republik Indonesia diberikan kepada KepalaPerwakilan Konsuler tingkat Konsulat Jenderal;c. Konsul Republik Indonesia diberikan kepada Kepala Perwakilantingkat Konsulat;d. Kuasa Usaha Sementara Republik Indonesia diberikan kepadaseorang Pejabat Diplomatik/Konsuler yang berpangkattertinggi pada Perwakilan Diplomatik untuk memangkusementara jabatan Kepala Perwakilan Diplomatik;e. Atase Pertahanan dan Asisten Atase Pertahanan di berikankepada Kepala Bidang dan Kepala Sub Bidang Pertahanandi Perwakilan Diplomatik;f. Atase dengan sebutan yang sesuai dengan bidangnyamasing-masing diberikan kepada Kepala Bidang Teknis diPerwakilan Diplomatik.(2). Gelar jabatan kehormatan adalah :Konsul Jenderal Kehormatan Republik Indonesia dan KonsulKehormatan Republik Indonesia yang diberikan kepada seorangwarga negara Republik Indonesia bukan pegawai negeri atauwarga negara asing yang diangkat sebagai Wakil KehormatanNegara Republik Indonesia,(3). Pejabat-pejabat yang telah mempunyai gelar jabatan tidakmendapatkan gelar kepangkatan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 158Pasal 14Gelar kepangkatan dapat diberikan sebagai gelar kepangkatan biasa,gelar kepangkatan tituler dan gelar kepangkatan lokal :(1). Gelar kepangkatan biasa diberikan kepada Pegawai Dinas LuarNegeri sesuai dengan tingkat kepangkatannya;(2). Gelar kepangkatan tituler/pribadi diberikan kepada pegawai negeribukan Pegawai Dinas Luar Negeri yang karena kebutuhan dinasdianggap perlu memakai gelar kepangkatan;(3). Gelar kepangkatan lokal diberikan kepada Pegawai Dinas LuarNegeri yang karena suatu tugas tertentu perlu memakai gelarlain dari pada gelar yang dapat diberikan sesuai dengantingkatnya.Pasal 15Gelar kepangkatan yang diberikan kepada Pegawaian Dinas LuarNegeri yang ditentukan pada Perwakilan adalah :(1). Gelar kepangkatan diplomatik yang diberikan kepada PejabatDiplomatik/Konsuler yang ditempatkan pada Perwakilandiplomatik :a. Duta Besar untuk PDK Ib. Minister untuk PDK IIc. Minister Counsellor untuk PDK IIId. Counsellor untuk PDK IVe. Sekretaris Pertama untuk PDK Vf. Sekretaris Kedua untuk PDK VIg. Sekretaris Ketiga untuk PDK VIIh. Atase untuk PDK VIII(2). Gelar kepangkatan diplomatik yang diberikan kepada PejabatAdministrasi yang ditempatkan pada Perwakilan Diplomatik :a. Counsellor (Administrasi) untuk PA Ib. Counsellor (Administrasi) untuk PA IIc. Sekretaris Pertama (Administrasi) untuk PA IIId. Sekretaris Kedua (Administrasi) untuk PA IVe. Sekretaris Ketiga (Administrasi) untuk PA Vf. Atase (Administrasi) untuk PA VIADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 159dengan ketentuan bahwa gelar Minister Counsellor (Administrasi)dapat diberikan kepada Pejabat Administrasi Tingkat I yangpernah memangku jabatan Eselon II pada Departemen LuarNegeri dan ditempatkan sebagai Kepala Bagian Administrasipada Perwakilan D I(3). Gelar kepangkatan diplomatik yang diberikan kepada PejabatKomunikasi yang ditempatkan pada Perwakilan Diplomatik :a. Sekretaris Pertama (Administrasi) untuk PK Ib. Sekretaris Pertama (Administrasi) untuk PK IIc. Sekretaris Kedua (Administrasi) untuk PK IIId. Sekretaris Ketiga (Administrasi) untuk PK IVe. Atase (Administrasi) untuk PK Vf. Atase (Administrasi) untuk PK VIg. Atase (Administrasi) untuk PK VIIdengan ketentuan, bahwa gelar Counsellor (Administrasi) dapatdiberikan kepada Pejabat Komunikasi tingkat I yang mengepalaiUnit Komunikasi Jenis A pada Perwakilan Diplomatik D-l(4). Gelar kepangkatan konsuler yang diberikan kepada PejabatDiplomatik/Konsuler yang ditempatkan pada Perwakilan Konsuler :a. Konsul untuk PDK IIIb. Konsul untuk PDK IVc. Konsul untuk PDK Vd. Konsul untuk PDK VIe. Konsul Muda untuk PDK VIIf. Konsul Muda untuk PDK VIII(5). Gelar kepangkatan Konsuler yang diberikan kepada PejabatAdministrasi yang ditempatkan pada Perwakilan Konsuler :a. Konsul untuk PA Ib. Konsul untuk PA IIc. Konsul untuk PA IIId. Konsul untuk PA IVe. Konsul Muda untuk PA Vf. Konsul Muda untuk PA VI(6). Gelar kepangkatan Konsuler yang diberikan kepada PejabatKomunikasi yang ditempatkan pada Perwakilan Konsuler :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 160a. Konsul untuk PK Ib. Konsul untuk PK IIc. Konsul untuk PK IIId. Konsul Muda untuk PK IVe. Konsul Muda untuk PK Vf. Konsul Muda untuk PK VIg. Konsul Muda untuk PK VII(7). Gelar kepangkatan Konsuler untuk pegawai yang diperbantukanpada Dinas Luar Negeri :1. Konsul bagi pegawai negeri sipil dari Golongan III/d keatas;2. Konsul bagi anggota ABRI dari pangkat Mayor sampaidengan Kolonel;3. Konsul Muda bagi pegawai negeri sipil dari golongan III/asampai dengan III/c;4. Konsul Muda bagi ABRI dari pangkat Letnan Satu sampaidengan Kapten.BAB IXPENUGASANPasal 16Penugasan Pegawai Dinas Luar Negeri diselenggarakan atas sistempergiliran tugas dan jabatan di dalam negeri, baik di DepartemenLuar Negeri maupun Instansi Pemerintah lainnya dan di luar negeriterutama pada Perwakilan.Pasal 17Pergiliran tugas dan jabatan bagi Pegawai Dinas Luar Negeri dilakukanuntuk jangka waktu kurang lebih 4 tahun di luar negeri, denganketentuan setelah bertugas selama kurang lebih 3 tahun di dalamnegeri.Pasal I8Pergiliran tugas dan jabatan bagi pegawai diperbantukan pada DinasLuar Negeri di luar negeri dilakukan untuk jangka waktu kurang lebih4 tahun.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 161Berdasarkan pertimbangan dinas Menteri Luar Negeri dapatmenetapkan jangka waktu penugasan yang lain dari pada ke tentuandi dalam pasal 16 dan 17 bagi seseorang Pegawai Dinas Luar Negeridan pasal 18 bagi Pegawai dinerbantukan pada Dinas Luar Negeri.Pasal 20Dasar penugasan dan penempatan Pegawai Dinas Luar Negeri padagolongan atau jabatan di dalam dan di luar negeri ditetapkan denganKeputusan Menteri Luar Negeri.Pasal 21Persyaratan jabatan baik di Departemen maupun di Perwakilan akandiatur dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.BAB XPENGAKHIRAN DINASPasal 22Pengakhiran dari Dinas Luar Negeri dapat terjadi karena:(1) Meninggal dunia;(2) Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia;(3) Pensiun;(4) Penghentian sebagai pegawai negeri;(5) Dinyatakan tidak memenuhi syarat kejasmanian dankerokhanian bagi Dinas Luar Negeri;(6) Atas permintaan sendiri.BAB XIPENGHASILAN LUAR NEGERIPasal 23Kepada Pegawai yang ditempatkan pada Perwakilan diberikanpenghasilan sebagaimana diatur dengan Keputusan Presiden.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 162BAB XIIPERNIKAHANPasal 24(1) Untuk kepentingan dinas, Menteri Luar Negeri menetapkanpersyaratan khusus bagi calon istri atau calon suami PegawaiDinas Luar Negeri.(2) Seorang calon Pegawai Dinas Luar Negeri yang sudah beristriatau bersuami harus mengajukan keterangan lengkap tentangistri atau/suaminya kepada Menteri Luar Negeri untuk menjadibahan pertimbangan dalam pemeriksaannya sebagai PegawaiDinas Luar Negeri.(3) Seorang Pegawai Dinas Luar Negeri, apabila hendak menikahharus mengajukan permohonan ijin kepada Menteri Luar Negeridisertai keterangan lengkap tentang calon istri atau suaminya.Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dalam ayat ini dapatmengakibatkan yang bersangkutan diberhentikan sebagaiPegawai Dinas Luar Negeri.BAB XIIIKETENTUAN PERALIHANPasal 25Kepada para lulusan SESDILU angkatan VI Jurusan Administrasidan kepada para Pembantu Pejabat Pimpinan Administrasi(PPPTULN) diberikan gelar Pejabat Administrasi tingkat VII dan/atau Pejabat Administrasi tingkat VIII sesuai dengan ketentuanyang akan diatur dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.Pasal 26Pada saat berlakunya Keputusan ini, segala peraturan perundang-undangan yang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuandalam Keputusan ini, tetap berlaku selama belum ada yang baruberdasarkan Keputusan ini.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 163BAB XIVKETENTUAN PENUTUPPasal 27Pada saat berlakunya Keputusan ini dinyatakan tidak berlaku lagiPeraturan Menteri Luar Negeri Nomor SK.102/BU/1/80/01, tanggal15 Januari 1980 tentang Peraturan Dasar Kepegawaian Dinas LuarNegeri.Pasal 28Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Keputusan ini,diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Luar Negeri.Pasal 29Keputusan Menteri Luar Negeri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.Ditetapkan di : J A K A R T APada tanggal : 15 September 1981MENTERI LUAR NEGERIttdPROF. DR. MOCHTAR KUSUMAATMADJADisalin sesuai dengan aslinya:Sub. Bagian Peraturan Perundang-undanganBiro Kepegawaian,ttdSADEWO JOEDO, S.HNIP. 020002155ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 164KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIANOMOR : SK.30/OR/III/84/01 TAHUN 1984TENTANGPEDOMAN TATA CARA PEMBINAAN PEJABATDEPARTEMEN LUAR NEGERIMENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIAMenimbang : a. bahwa perlu melestarikan pengetahuan,ketrampilan dan pengalaman para pejabatDepartemen Luar Negeri senior;b. bahwa perlu mengembangkan pengetahuan,ketrampilan dan pengalaman pejabatDepaRIemen Luar Negeri senior denganmemberikan pembinaan mental, moral danketrampiran kepada pejabat Departernen LuarNegeri junior agar dapat bekerja secaraberdaya guna dan berhasil guna;c. bahwa untuk itu perlu ditetapkan KeputusanMenteri Luar Negeri tentang Pedoman TataCara Pembinaan Pejabat Departemen LuarNegeri Republik Indonesia.Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 Tahun1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai NegeriSipil;2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun1979 tentang Daftar Penilaian PelaksanaanPekerjaan Pegawai Negeri Sipil;3. Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1974tentang Pokok-pokok Organises! PerwakilanRI di Luar Negeri;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 165ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN4. Keputusan Presiden RI Nomor 51 Tahun 1976tentang Pokok-pokok Organisasi PerwakilanRI di Luar Negeri;5. Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1964tentang Susunan Organisasi Departemen;6. Keputusan Menteri Luar Negeri RI NomorSK.582/BU/III/79/01 Tahun 1979 tentangSusunan Organisasi Perwakilan RI di LuarNegeri;7. Keputusan Menteri Luar Negeri RI NomorSK.203/OR/2/83/01 Tahun 1983 tentangOrganisasi dan Tata Kerja Departemen LuarNegeri;8. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.236/OR/VIII/83/01 Tahun 1983 tentangKebijaksanaan Kepegawaian DepartemenLuar Negeri;9. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.279/OR/VIII/83/01 Tahun 1983 tentangKebljaksanaan Kepegawaian DepartemenLuar Negeri;10. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.283/OR/VIII83/01 Tahun 1983 tentang SistimPendidikan dan Latuhan Berjenjang PejabatDinas Luar Negeri, sebagaimana telah diubahdan ditambah dangan Keputusan MenteriLuar Negeri RI Nomor SK. 23/OR/III/84/01Tahun 1984:11. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.17/OR/III/84/01 Tahun 1983 tentangProgram Penugasan Pertama Pejabat DinasLuar Negeri PDK dan PA;12. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.22/OR/lll/84/01 Tahun 1984 tentang ProgramPenugasan Pertama Pejabat DiplomatikKonsuler Lulusan Sesdilu Dasar Angkatan VIIVIII pada Perwakilan RI.
    • 166Memperhatikan : Sapta Prasetya Korps Pegawai RepublikIndonesia.MEMUTUSKANMenetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMANTATA CARA PEMBINAAN PEJABATDEPARTEMEN LUAR NEGERI.Pertama : Menetapkan Pedoman Tata Cara PembinaanPejabat Departemen Luar Negeri RepublikIndonesia, sebagaimana tercantum dalamLampiran Keputusan ini.Kedua : Pedoman Tata Cara Pembinaan PejabatDepartemen Luar Negeri ini wajib dilaksanakanbaik di Departemen Luar Negeri maupumperwakilan RI.Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggalditetapkan.Ditetapkan di : JAKARTAPada tanggal : 24 Maret 1984MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAttdPROF. DR. MOCHTAR KUSUMAATMADJAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 167LAMPIRANKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI RINOMOR : SK. 30/OR/lII/84/01TANGGAL : 24 MARET 1984PEDOMAN TATA CARA PEMBINAANPEJABAT DEPARTEMEN LUAR NEGERIBAB IU M U MPasal 1Pembinaan adalah setiap usaha untuk meningkatkan kemampuanpara pejabat junior oleh para pejabat senior di lingkunganDepartemen Luar Negeri dan Perwakilan RI.Pasal 2Para pejabat Departemen Luar Negeri sebagai insan Pancasila wajibmemiliki watak dan budi luhur, keuletan, semangat juang yang tinggiserta ketrampilan untuk dapat melaksanakan tugasnya secaraberdaya guna dan berhasil guna.Pasal 3Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki para pejabat seniorwajib dilestarikan dan dikembangkan oleh para pejabat junior baik diDepartemen Luar Negeri maupun di Perwakilan RI melalui pembinaan.BAB IITATA CARA PEMBINAANPasal 4Pembinaan tidak dalam bentuk formal, tetapi merupakan tindakansehari-hari dalam melaksanakan tugas dan dilakukan secara berlanjutselama masih berdinas oleh setiap senior terhadap juniornya.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 168BAB IIIPELAKSANAANPasal 5Pembinaan pejabat Departemen Luar Negeri terdiri dan :(1) Pembinaan mental meliputi;a. pemberian tauladan sebagai insan Pancasila oleh pejabatsenior kepada pejabat junior;b. ketaatan, kesetiaan, keuletan dan kegigihan dalam membelaNegara dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkanPancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;c. pelaksanaan tugas dengan motivasi yang kuat, jujur,berdisiplinrbersemangt, bertanggung jawab dan penuhpengabdian untuk kepentingan bangsa dan negara;d. sikap yang saleh, menjunjung tinggi kehormatan Negara,Pemerintah martabat pejabat Departemen Luar Negeri(2) Pembinaan ketrampilan meliputi :a. tugas secara baik;b. pengecekan hasil penugasan;c. saran-saran perbaikan;d. pemberian tauladan yang baik;e. cara-cara pembinaan masyarakat secara umum.BAB IVLAIN-LAINPasal 8Kelalaian dalam melaksanakan pembinaan dapat mempengaruhiconduite pejabat yang bersangkutan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 169ADMINISTRASI KEPEGAWAIANMENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIANOMOR: SK. 01/A/KPI/2002/01TENTANGTUGAS, FUNGSI, DAN SUSUNAN KEANGGOTAANBADAN PERTIMBANGAN JABATAN DAN KEPANGKATANDEPARTEMEN LUAR NEGERIMENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA,Menirnbang: a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalamPeraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil DalamJabatan Struktural, perlu meninjau kembali tugas,fungsi dan susunan keanggotaan BadanPertimbangan Jabatan dan KepangkatanDepartemen Luar Negeri;b. bahwa Badan Pertimbangan Jabatan danKepangkatan Departemen Luar Negeri (BPJK)yang diatur dalam Keputusan Menteri Luar NegeriNomor SK. 131/KP/IX/95/01 Tahun 1995 tentangBadan Pertimbangan Jabatan dan KepangkatanDepartemen Luar Negeri dinilai tidak sesuai lagidengan peraturan perundang-undangan yangberlaku;c. bahwa dengan ditetapkannya struktur organisasiDepartemen Luar Negeri yang baru dan untukkelancaran pelaksanaan manajemen pegawaidalam rangka perencanaan, pengembangan, danpembinaan karier serta peningkatan mutu
    • 170kepemimpinan dalam Jabatan Struktural dilingkungan Departemen Luar Negeri dan PerwakilanRepublik Indonesia di luar negeri, maka perludibentuk Badan Pertimbangan Jabatan danKepangkatan, selanjutnya disebut Baperjakat;d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam huruf a, b, dan c perlumenetapkan Keputusan Menteri Luar Negeritentang Tugas, Fungsi, dan Susunan KeanggotaanBadan Pertimbangan Jabatan dan KepangkatanDepartemen Luar Negeri;Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041), sebagaimana telah diubahdengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999Nomor 169. Tambahan Lembaran Negara Nomor3890);2. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentangHubungan Luar Negeri (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun1999 Nomor 156, TambahanLembaran Negera Nomor 3882);3. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, danPemberhentian Pegawai Negeri Sipil (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor193, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4014);4. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000Nomor 196, Tambahan Lembaran Negara Nomor4017) sebagaimana telah diubah denganPeraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002tentang Perubahan Atas Peraturan. PemerintahNomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan PangkatPegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara RepublikADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 171ADMINISTRASI KEPEGAWAIANIndonesia Tahun 2002 Nomor 32, TambahanLembaran Negara Nomor 4193);5. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil DalamJabatan Struktural (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2000 Nomor 197, TambahanLembaran Negara Nornor 4018), sebagaimanatelah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor13 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas PeraturanPemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentangPengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam JabatanStruktural (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2002 Nomor 33. Tambahan LembaranNegara Nomor 4094);6. Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2000tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan danBelanja Negara;7. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2000tentang Perubahan Atas Keputusan PresidenNomor 51 Tahun 1976 tentang Pokok-pokokOrganisasi Perwakilan sebagaimana telah diubahdengan Keputusan Presiden Nomor 1231 Tahun1999;8. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan,Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen;9. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon IDepartemen;10. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK.279/OR/VIII/83/01 Tahun 1933 tentang PeraturanDasar Pejabat Dinas Luar Negeri;11. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK. 69/OR/X/87/01 Tahun 1987 Tentang Susunan OrganisasiPerwakilan Republik Indonesia di luar negeri besertaPerubahan Lampiran A dan Lampiran Bsebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhirdengan Keputusan Menteri Luar Negeri NomorSK.059/OT/111/2002/01 Tahun 2002;
    • 17212. Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK. 053/OT/II/2002/01 Tahun 2002 tentang, Organisasidan Tata Kerja Departemen Luar Negeri;M E M U T U S K A NMenetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI TENTANGTUGAS, FUNGSI, DAN SUSUNAN KEANGGOTAANBADAN PERTIMBANGAN JABATAN DANKEPANGKATAN DEPARTEMEN LUAR NEGERI.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Keputusan Menteri Luar Negeri ini yang dimaksud dengan :1. Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan DepartemenLuar Negeri (selanjutnya disebut Baperjakat) adalah perangkatDepartemen Luar Negeri (selanjutnya disebut Deplu) yangmempunyai tugas rnemberikan pertimbangan kepada PejabatPembina Kepegawaian Deplu, di bidang kepegawaian untukJabatan Kepala Perwakilan, Jabatan Struktural Eselon II kebawah, Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) Tingkat I dan PDKTingkat II di lingkungan Deplu dan Perwakilan Republik Indonesiadi luar negeri (selanjutnya disebut Perwakilan), dan atau yangdiperbantukan pada Departemen, Lembaga Pemerintah NonDepartemen, dan atau Lembaga/Organisasi Internasional.2. Tim Pendukung Baperjakat adalah perangkat Deplu yangmempunyai tugas memberikan pertimbangan kepadaBaperjakat di bidang kepegawaian para Pegawai Deplu dalamJabatan Struktural Eselon III dan Eselon IV, PDK Tingkat III,Pejabat Administrasi (PA) Tingkat I dan Pejabat Sandi (PS)Tingkat I ke bawah di lingkungan Deplu dan Perwakilan, danatau yang, diperbantukan pada Departemen, LembagaPemerintah Non Departemen atau Pemerintah Daerah Otonomi,dan atau Lembaga/Organisasi Internasional.3. Pegawai Deplu adalah Pegawai Negeri Sipil yang telah memenuhipersyaratan dan diangkat dengan Surat Keputusan MenteriADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 173Luar Negeri untuk bertugas di lingkungan Deplu, Perwakilan,dan atau yang diperbantukan pada Departemen, LembagaPemerintah Non Departemen atau Lembaga/OrganisasiInternasional.4. Jabatan Struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkantugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang, PegawaiNegeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasinegara.5. Eselon adalah tingkatan jabatan struktural.6. Pejabat Pembina Kepegawaian Deplu adalah Menteri LuarNegeri.7. Pemindahan adalah penempatan, penarikan, pemindahanPegawai Deplu antar unit dan antar Perwakilan, dan ataupemulangan dari Perwakilan karena melakukan pelanggaran/tindak pidana/penyelewengan, dan atau pemindahan PegawaiDeplu yang diperbantukan pada Departemen, LembagaPemerintah Non Departemen atau Lembaga/OrganisasiInternasional.BAB IITUGAS DAN FUNGSI BAPERJAKATBagian PertamaTugas BaperjakatPasal 2(1) Baperjakat mempunyai tugas pokok rnemberikan pertimbangankepada Pejabat Pembina Kepegawaian Deplu, dalam halpengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dandari Jabatan Kepala Perwakilan, Jabatan Struktural Eselon IIke baweh, PDK Tingkat I dan PDK Tingkat II di lingkunganDeplu dan Penwakilan, dan atau yang diperbantukan padaDepartemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen dan atauLembaga/Organisasi Internasional.(2) Baperjakat bertugas pula memberikan pertimbangan kepadaPejabat Pembina Kepegawaian Deplu, dalam hal pemberiankenaikan pangkat bagi yang menduduki jabatan struktural,menunjukkan prestasl kerja luar biasa baiknya, menemukanADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 174penemuan baru yang bermanfaat bagi negara danperpanjangan batas usia pensiun Pegawai Deplu yangmenduduki Jabatan Struktural Eselon I dan Eselon II, sertadalam Jenjang PDK Tingkat I dan PDK Tingkat II,(3) Di samping tugas ssbagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan(2) Baperjakat dapat memberikan usul pertimbangan kepadaPejabat Pembina Kepegawaian Deplu, dalam hal pengangkatan,pemindahan, penjatuhan sanksi. Dan pemberhentian PegawaiDeplu dalam dan dari Jabatan Struktural Eselon I, PDK TingkatI dan PDK Tingkat II di lingkungan Deplu dan jabatan-jabatandi lingkungan Perwakilan dan atau yang diperbantukan padaDepartemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen atauLembaga/Organisasi IntemasionalBagian KeduaFungsi BaperjakatPasal 3Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,Baperjakat menyelenggarakan fungsi :a. pemberian pertimbangan pengangkatan, pemindahan,penjatuhan sanksi dan pemberhentian Pegawai Deplu dalamdan dari Jabatan Kepala Perwakilan, Jabatan Struktural EselonII ke bawah, PDK Tingkat I dan PDK Tingkat II di lingkunganDeplu dan Perwakilan, dan atau yang diperbantukan padaDepartemen Lembaga Pemerintah Non Departemen atauLembaga/Organisasi Internasional;b. pemberian pertimbangan kenaikan pangkat bagi Pegawai Depluyang menduduki jabatan struktural dan Jenjang PDKsebagaimana tersebut dalam butir a, menunjukkan prestasikerja luar biasa baiknya, dan atau menemukan penemuan baruyang bemanfaat bagi negara;c. pemberian pertimbangan kenaikan percepatan Jenjang PDLN/Gelar Diplomatik bagi Pegawai Deplu pada Jenjang PDK TingkatI dan PDK Tingkat II yang menduduki jabatan struktural danatau menunjukkan prestasi kerja luar biasa baiknya, dan ataumenemukan penemuan baru ini yang bermanfaat bagi negara;d. pemberian pertimbangan penjatuhan sanksi dan pemulanganbagi Pegawai Deplu pada jabatan struktural dan Jenjang PDKADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 175sebagaimana tersebut dalam butir a yang bertugas di Perwakilankarena melakukan pelanggaran/tindak pidana penyelewengan;dane. pemberian pertimbangan perpanjangan batas usia pensiun bagiPegawai Deplu yang menduduki Jabatan Struktural Eselon Idan Eselon II, serta pejabat dengan Jenjang PDK Tingkat Idan PDK TingKat II.Pasal 4Baperjakat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya berpedomankepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB IIIORGANISASI BAPERJAKATBagian PertamaKeanggotaan BaperjakatPasal 5(1) Ketua dan Anggota Baperjakat adalah Pejabat Eselon I Deplu.(2) Jumlah Anggota Baperjakat paling banyak 7 (tujuh) orang danmenurut masa keanggotaannya terbagi menjadi Anggota Tetapdan Anggota Tidak Tetap.(3) Anggota Tetap Baperjakat terdiri dari :a. Sekretaris Jenderal selaku Ketua;b. Inspekturc. Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang ManajemenDepartemen(4) Untuk periode Pertama, Susunan Anggota Tidak TetapBaperjakat adalah:a. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika;b. Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN;c. Direktur Jenderal Multilateral Politik, Sosial, dan Keamanan;d. Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler.(5) Untuk periode Kedua, Susunan Anggota Tidak Tetap Baperjakatadalah :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 176a. Direktur Jenderal Amerika dan Eropa;b. Direktur Jenderal Multilateral Ekonomi, Keuangan danPembangunan;c. Direktur Jenderal Informasi, Diplomasi Publik, danPerjanjian Intenasional;d. Kepala Badan Pengajian dan Pengembangan Kebijakan.(6) Susunan Anggota Tidak Tetap Baperjakat sebagaimanadimaksud dalam ayat (4) dan (5) dilakukan dengan mekanismerotasi setiap 1 (satu) tahun sekali, dimulai dengan AnggotaTidak Tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) terhitungsejak berlakunya Keputusan Menteri Luar Negeri ini.(7) Dalam hal terjadi mutasi terhadap Anggota Tidak TetapBaperjakat, maka kedudukannya diteruskan oleh PejabatStruktural Penggantinya sampai dengan berakhirnya periodekeanggotaan.(8) Sekretaris Baperjakat adalah Pejabat Eselon II Deplu yangsecara fungsional bertanggung jawab di bidang kepegawaian.Pasal 6Ketua Baperjakat mempunyai tugas memimpin kegiatan Baperjakat,membuat rencana kerja, termasuk mengkoordinasikan, memantaudan membantu pelaksanaan rekomendasi yang dihasilkan olehBaperjakat.Pasal 7Ketua, Anggota, baik Anggota Tetap maupun Angoota Tidak TetapBaperjakat, melaksanakan tugas sebagai suatu Tim dan masing-masing mempunyai hak suara dalam proses pengambilan keputusansecara kolektifBagian KeduaPertimbangan BaperjakatPasal 8(1) Keputusan tentang Pertimbangan yang akan disampaikankepada Pejabat Pembina Kepegawaian Deplu adalah sah apabiladiputuskan dalam rapat yang dihadiri oleh paling sedikit 5 (lima)anggota, termasuk Ketua.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 177(2) Pengambilan Keputusan tentang Pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara mufakat atau caralain yang disepakati dalam Rapat Baperjakat.(3) Ketua Baperjakat menyampaikan Keputusan tentangPertimbangan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian Deplupaling lama satu minggu setelah diadakannya rapatBagian KetigaRapat BaperjakatPasal 9(1) Rapat Baperjakat diselenggarakan satu kali dalam sebulan ataubeberapa kali berdasarkan keperluan.(2) Bahan rapat, pertimbangan-pertimbangan yang disampaikan,dan keputusan yang diambil rapat bersifat rahasia.Pasal 10(1) Sekretaris Baperjakat mempunyai tugas membantu Ketua dibidang administrasi termasuk menyiapkan dan mengumpulkankelengkapan data kepegawaian yang diperlukan bagi RapatBaperjakat.(2) Sekretaris Baperjakat dapat hadir dalam rapat tanpa hak suara.Pasal 11Kelengkapan data kepegawaian yang disiapkan oleh SekretarisBaperjakat sekurang-kurangnya terdiri dari :a. Riwayat Hidup lengkap dan pasphoto pegawai;b. Hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan tahunan, yang mencakupDaftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipilserta Evaluasi dan Penilaian Hasil Kerja Pegawai, sekurang-kurangnya untuk 3 (tiga) tahun terakhir;c. Hasil Penilaian Akhir Pendidikan Berjenjang (SEKDILU, SESDILU,dan SESPARLU), hasil pelatihan teknis lainnya serta hasilpendidikan akademis karena Tugas Belajar atau selama menjadiPegawai Deplu;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 178d. Hasil pengawasan atau Catatan tentang pegawai yangbersangkutan oleh Inspektorat Jenderal;e. Lain-lain yang dianggap perlu,BAB IVTIM PENDUKUNG BAPERJAKATBagian PertamaTugas dan Fungsi Tim Pendukung BaperjakatPasal 12(1) Dalam melaksanakan Tugasnya, Baperjakat dibantu TimPendukung Baperjakat.(2) Tim Pendukung Baperjakat mempunyai tugas pokokmemberikan pertimbangan kepada Baperjakat mengenaimasalah-masalah kepegawaian para Pegawai Deplu dalamJabatan Struktural Eselon III dan Eselon IV di lingkungan Depludan atau yang diperbantukan pada Departemen, LembagaPemerintah Non Departemen, atau Pemerintah DaerahOtonomi.(3) Tim Pendukung Baperjakat mempunyai tugas pokokmemberikan Pertimbangan kepada Baperjakat mengenaimassalah-masalah kepegawaian, para Pegawai Deplu dalamjenjang PDK Tingkat III, PA Tingkat I dan PS Tingkat I kebawah di lingkungan Deplu dan Perwakilan, dan atau yangdiperbantukan pada Lembaga/Organisasi Internasional(4) Tim Pendukung Baperjakat dapat memberikan usulpertimbangan kepada Baperjakat dalam hal pengangkatan,pemindahan, penjatuhan sanksi, dan pemberbentian PegawaiDeplu dalam Jabatan Struktural Eselon II di lingkungan Depludan Pegawai Deplu dalam jabatan yang setara di Perwakilan,dan atau yang diperbantukan pada Departemen, LembagaPemerintahan Non Departemen atau Pemerintah DaerahOtonom dan atau Lembaga/Organisasi Internasional.(5) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat(2) dan (3), Tim Pendukung Baperjakat menyelenggarakanfungsi :ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 179a. pemberian pertimbangan pengangkatan, pemindahan,penjatuhan sanksi, dan pemberhentian bagi Pegawai Depludalam dan dari Jabatan Struktural Eselon III dan Eselon IVdi lingkungan Deplu dan Perwakilan, dan atau yangdiperbantukan pada Departemen, Lembaga Pemerintah NonDepartemen atau Pemerintah Daerah Otonom dan atauLembaga Organisasi Internasional;b. pemberian pertimbangan kenaikan pangkat bagi PegawaiDeplu yang menduduki jabatan struktural, menunjukkanprestasi kerja luar biasa baiknya, dan atau menemukanpenemuan baru yang bermanfaat bagi negara;c. pemberian pertimbangan kenaikan percepatan JenjangPDLN/Gelar Diplomatik bagi Pegawai Deplu yang mendudukijabatan struktural, atau pejabat dengan jenjang PDK Tingkatlll PA Tingkat I, dan PS Tingkat I ke bawah yangmenunjukkan prestasi kerja luar biasa baiknya, dan ataumenemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara;d. pemberian pertimbangan pemindahan bagi Pegawai Depluyang akan bertugas ke dan dari luar negeri dan atau yangdiperbantukan pada Departemen Lembaga Pemerintah NonDepartemen atau Pemerintah Daerah Otonomi dan atauLembaga/Organisasi Internasional;e. pemberian pertimbangan penjatuhan sanksi danpemulangan bagi Pegawai Deplu yang bertugas di Perwakilankarena melakukan pelanggaran/tindak pidana/penyelewengan; danf. Pemberian pertimbangan dalam pendidikan berjenjang bagipengembangan Sumber Daya Manusia Deplu.Pasal 13(1) Tim Pendukung Baperjakat dalam melaksanakan tugas danfungsinya berpedoman kepada peraturan perundang-undanganyang berlaku.(2) Tim Pendukung Baperjakat bertanggung jawab menghimpunkelengkapan data kepegawaian sebagaimana dimaksud dalamPasal 11 dan menyampaikan semua berkas tersebut kepadaseturuh anggola Baperjakat satu minggu sebelum diadakannyaADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 180rapat yang akan digunakan sebagai acuan dan konsultasi antarAnggota Baperjakat.Bagian KeduaKeanggotaan Tim Pendukung BaperjakatPasal 14(1) Tim Pendukung Baperjakat terdiri dari Penasihat, Ketua,Anggota dan Sekretaris.(2) Penasihat adalah Pejabat Eselon I B Deplu.(3) Ketua, Anggota, dan Sekretaris Tim Pendukung Baperjakatadalah Pejabat Eselon II Deplu(4) Susunan Keanggotaan Tim Pendukung Baperjakat terdiri dari :a. Penasihat : Staf Ahli Menteri LuarNegeri Bidang ManajemenDepartemenb. Ketua merangkap Anggota : Kepala Biro Kepegawaianc. Sekretaris merangkap : Kepala Biro Tata UsahaAnggota dan PerlengkapanAnggota : 1. Sekretaris Direktorat Jenderal Asia Pasifik danAfrika;2. Sekretaris Direktorat Jenderal Amerika danEropa;3. Sekretaris Direktorat Jenderal KerjasamaASEAN;4. Sekretaris Direktorat Jenderal MultilateralPolitik, Sosial dan Keamanan;5. Sekretaris Direktorat Jenderal MultilateralEkonomi, Keuangan dan Pembangunan;6. Sekretaris Direktorat Jenderal InformasiDiplomasi Publik dan Perjanjian Internasional;7. Sekretaris Direktorat Jenderal Protokol danKonsuler;8. Sekretaris Inspektorat Jenderal;ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 1819. Sekretaris Badan Pengkajian danPengembangan Kebijakan; dan10. Kepala Biro Administrasi Menteri,Pasal 15(1) Penasihat mempunyai tugas memberikan nasihat danpedoman dalam kaitannya dengan manajemen kepegawaiandan pembinaan karier.(2) Ketua Tim Pendukung Baperjakat mempunvai tugas yangmeliputi pembuatan rencana kegiatan bersama-sama denganseluruh anggota mengkoordinasikan, dan memantaupelaksanaan rencana kegiatan serta menyiapkan danmengumpulkan data pegawai yang diperlukan dalam RapatTim Pendukung Baperjakat.(3) Anggota Tim Pendukung Baperjakat mempunyai tugasmembantu Ketua dalam melaksanakan tugasnya.(4) Sekretaris Tim Pendukung Baperjakat mempunyai tugasmembantu Ketua dari bidang administrasi.Pasal 16(1) Dalam hal pembahasan menyangkut perencanaan kebutuhananggaran untuk mendukung kebijakan kepegawaian, KepalaBiro Keuangan diundang untuk hadir dalam Rapat TimPendukung, Baperjakat.(2) Dalam hal diperlukan pertimbangan yuridis atas masalah yangdibahas. Kepala Biro Hukum diundang untuk hadir dalam RapatTim Pendukung Baperjakat.(3) Dalam hal pembahasan menyangkut pelaksanaan pendidikandan pelatihan pegawai, Kepala Pusat Pendidikan dan PelatihanPegawai diundang untuk hadir dalam Rapat Tim PendukungBaperjakat.(4) Dalam hal pembahasan menyangkut penempatan danpenarikan staf Komunikasi,......... ..... (masih kurang lengkap)ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 182Bagian KetigaRapat Tim Pendukung BaperjakatPasal 17Rapat Tim Pendukung Baperjakat diselenggarakan satu kali dalamsebulan dan atau beberapa kali berdasarkan keperluan.Bagian KeempatPertimbangan Tim Pendukung BaperjakatPasal 18(1) Pertimbangan yang diterima dalam rapat Tim PendukungBaperjakat adalah sah apabila rapat dihadiri oleh paling sedikit7 (tujuh) orang Anggota, termasuk Ketua.(2) Pertimbangan Tim Pendukung Baperjakat diputuskan secaramusyawarah mufakat atau cara lain yang disepakati oleh rapatTim Pendukung Baperjakat(3) Ketua Tim Pendukung Baperjakat menyampaikan pertimbanganhasil rapat kepada Ketua Baperjakat paling lama satu minggusetelah diadakannya rapat.BAB VANGGARANPasal 19Segala sesuatu yang menyangkut biaya kegiatan Baperjakat danTim Pendukung.BAB VIKETENTUAN PENUTUPPasal 20(1) Pada saat berlakunya Keputusan Menteri Luar Negeri ini makaKeputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK. 131/KP/IX/95/01ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 183Tahun 1995 tentang Badan Pertimbangan Jabatan danKepangkatan Deplu, dinyatakan tidak berlaku.(2) Keputusan Menteri Luar Negeri ini mulai berlaku pada tanggalditetapkan.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 3 Juni 2002MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIA,ttdN. HASSAN WIRAJUDAADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 184DEPARTEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIANOTA DINASNomor : 1139/KP/V/2004/19Kepada : Yth. Bapak Sekretaris Jenderal/Ketua BAPERJAKATTembusan : 1. Yth. Para Pejabat Eselon I dan Pejabat Eselon II2. Yth. Para AnggotaTim Pendukung BAPERJAKATDari : Kepala Biro Kepegawaian/Ketua Tim PendukungBAPERJAKATPerihal : Pedoman Mutasi Pegawai ke Perwakilan, PedomanPenarikan Pegawai dari Perwakilan dan OrientasiPenempatan Pegawai ke PerwakilanMerujuk perihal pokok Nota, dengan hormat disampaikan hal-hal sebagai berikut :1. Rapat Tim Pendukung Baperjakat tanggal 20 April 2004 dantanggal 7 Mei 2004 telah merumuskan suatu Pedoman MutasiPegawai ke Perwakilan, Pedoman Penarikan Pegawai dariPerwakilan dan Orientasi Penempatan Pegawai ke Perwakilan(terlampir).2. Pedoman Mutasi Pegawai ke Perwakilan dan Pedoman PenarikanPegawai dari Perwakilan dimaksudkan sebagai panduan praktismengenai langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pegawaiyang akan berangkat ke perwakilan dan pegawai yang telahkembali dari Perwakilan. Sedangkan Orientasi PenempatanPegawai dimaksudkan sebagai pengganti melopen dengan lebihmenekankan pemahaman hal-hal praktis dalam kaitannya denganpelaksanaan restrukturisasi perwakilan melalui pembekalan yangdiberikan oleh Unit-unit Kerja terkait di Deplu.3. Sesuai dengan Pedoman Mutasi Pegawai ke Perwakilan, makaproses yang harus diselesaikan sampai dilerbitkannya SK MenluADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 185ADMINISTRASI KEPEGAWAIANmengenai penempatan yang bersangkutan ke Perwakilan adalah(a) Kelengkapan Administrasi, (b) Orientasi Penempatan Pegawai,(c) Pemantapan Substansi, (d) Penyelesaian Akhir Administrasioleh Sekretaris Jenderal dan Kepala Biro Kepegawaian. Denganditetapkannya Pedoman ini, maka pengedaran Mutasi tidak lagidiberlakukan.4. Orientasi Penempatan Pegawai ke Perwakilan dilaksanakan melaluimetode tatap muka dan diskusi bersama dalam suatu kelas(termasuk pegawai dari Departemen lain yang diperbantukan keDeplu yang akan ditempatkan di Perwakilan) denganmenghadirkan para narasumber dan Unit-unit Kerja terkait. Waktuorientasi berlangsung selama kurang lebih 10 hari, dilanjutkandengan pendalaman dan pemantapan substansi ke masing-masing Unit Kerja terkait di Deplu dan Departemen terkait lainnyadalam rangka membangun networking guna memudahkanpelaksanaan tugas yang bersangkutan di Perwakilan.5. Sehubungan dengan hal tersebut, Tim Pendukung BAPERJAKATmohon dukungan dan bantuan dari seluruh Pejabat Eselon Idan Pejabat Eselon II dalam rangka mempercepat danmeningkatkan pelayanan kepada pegawai.Demikian, atas perhatian dan arahan Bapak Sekretaris Jenderal/Ketua BAPERJAKAT diucapkan terima kasih.PEDOMAN MUTASI PEGAWAI KE PERWAKILANI. Umuma. Diusulkan oleh Unit yang bersangkutan dengan tembusanke Inspektorat Jenderal.b. Inspektoral Jenderal memberikan klarifikasi mengenaikepegawaian bersangkutan.c. Dibahas dalam TP Baperjakat.d. Keputusan TP Baperjakat sekurang-kurangnya 3 bulansebelum pegawai ditempatkan.e. Segera (selama-lamanya 2 minggu) setelah keputusan TPBaperjakat, Biro Kepegawaian akan mengeluarkan NotaPemberitahuan kepada pegawai yang akan ditempatkan.f. Dalam waktu selambat-lambatnya 10 hari kerja (2 minggu)setelah menerima Nota Pemberitahuan, pegawaibersangkutan harus menghubungi Biro Kepegawaian.
    • 186g. Apabila setelah 2 minggu tidak menghubungi BiroKepegawaian, keputusan TP Baperjakat dianggap batal.h. Pembahasan kembali pegawai bersangkutan akan dilakukan1 tahun setelah diketuarkan Nota.i. Unit asal pegawai yang akan ditempatkan di perwakilandiharapkan dapat memberi waktu/ijin kepada pegawaibersangkutan untuk menyiapkan diri.II. Pegawai yang telah menghubungi Biro Kepegawaian,langkah selanjutnya adalah :A. Kelengkapan Administrasi1. Mengisi formulir.2. Melakukan pemeriksaan kesehatan.3. Hutang Piutang, Yakes, Perumahan, Dharma WanitaPersatuan, dsb.B. Orientasi Penempatan Pegawai (10 hari kerja)Pembekalan dari unit terkait:1. Sekretariat Jenderal2. Inspektorat Jenderal3. Ditjen Protkons4. Ditjen IDPPI5. Ditjen Amerop6. Ditjen Aspasaf7. Ditjen Multilateral Polsoskam/Ekubang8. Ditjen ASEAN9. BPPKC. Pemantapan Substansi (1 bulan)1. Mempersiapkan diri dari segi substansi dengan mengikutiproses magang di Direktorat yang membawahi wilayahnegara pegawai yang akan ditempatkan atau isu-isu yangakan ditangani.2. Melakukan orientasi kerja ke Departemen/Instansi Teknisterkait.3. Menjalin networking sesuai dengan kebutuhan tugasnyadi Perwakilan.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 187D. Penyelesaian Akhir Administrasi1. Kepala Biro Kepegawaian.2. Sekretaris Jenderal.E. Penerbitan Surat Keputusan1. Surat Keputusan akan diterbitkan setelah menyelesaikanproses pada butir A, B, C, dan D.2. Penerbitan SK (paling lambat 1 minggu setelah memenuhike-4 persyaratan tsb).3. Paling lama 3 minggu setelah SK terbit harus berangkatmenuju Perwakilan. Sebelum berangkat, pegawaibersangkutan harus mengisi Buku Keberangkatan di BiroKepegawaian. Apabila pegawai bersangkutan tidakmengisi, maka waktu penempatannya di Perwakilandihitung sejak dikeluarkannya SK Menlu. Bagi pegawaiyang mengisi Buku Keberangkatan, lamanya penempatandi Perwakilan dihitung sejak tanggal tiba di Perwakilan atausejak mengisi buku Keberangkatan.PEDOMAN PENARIKAN PEGAWAIDARI PERWAKILAN RII. Umum1. Pegawai yang telah ditempatkan di Perwakilan antara 3 tahun-4 tahun dapat ditarik dari Perwakilan ke Deplu Jakarta, kecualiapabila ada hal-hal lain yang menyebabkan yangbersangkutan ditarik lebih awal atau ditunda penarikannya.2. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tanggalpenempatan pegawai diPerwakilan berakhir, Biro Kepegawaianmemberitahukan kepada pegawai bersangkutan di Perwakilanmengenai batas akhir kepulangannya.II. Penempatan di Unit Lingkungan DEPLU1. Segera setelah ditetapkan mengenai penempatan pegawaibersangkutan oleh TP Baperjakat, Biro Kepegawaianmemberitahukan Kepada Perwakilan RI di luar negerimengenai penempatan pegawai bersangkutan di Unit KerjaDepartemen Luar Negeri.ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 1882. Segera setelah datang dari Perwakilan, pegawai bersangkutanmelaporkan kedatangannya ke Bagian Mutasi Luar NegeriBiro Kepegawaian untuk mengisi Buku Kedatangan danmenyelesaikan prosedur administratif lainnya.3. Sementara itu, pegawai bersangkutan juga segeramelaporkan kedatangannya ke Bagian Tata UsahaKepegawaian Biro Kepegawaian untuk memprosespenyelesaian Slip Kuning penempatan Unit Kerja yang telahditetapkan oleh TP Baperjakat dan menghubungi Unit Kerjatermaksud.4. Surat Keputusan Menteri Luar Negeri mengenai penarikanpegawai bersangkutan dikeluarkan dalam kurun waktu 2 (dua)minggu setelah melapor ke Bagian Mutasi Luar Negeri, BiroKepegawaian.5. Lama waktu penugasan di dalam negeri dihitung sejak tanggalpegawai bersangkutan melaporkan kedatangannya ke BagianMutasi Luar Negeri, Biro Kepegawaian.III. Mulai Bekerja di Unit Lingkungan DEPLU1. Dalam waktu 1 (satu) minggu sejak melaporkankedatangannya, Slip Kuning penempatan pegawaibersangkutan di Unit Kerja dikeluarkan oleh Bagian Tata UsahaKepegawaian, Biro Kepegawaian.2. Selambat-lambatnya 2 (dua) minggu setelah kedatangannyadi Jakarta, pegawai bersangkutan mulai bekerja di Unit Kerjayang telah ditetapkan oleh TP Baperjakat.MATERI ORIENTASI PENEMPATANPEGAWAI KE PERWAKILANA. Sekretariat JenderalBiro Perencanaan dan OrganisasiOrganisasi PerwakilanPerencanaan Departemen/RepenasRenstra DepartemenRencana Kerja PemerintahRencana Kerja Depertemen/LPNDADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 189Perencanaan Perwakilan Evaluasi Kinerja DepartemenPenerapan SAKIPRenstraRKTLAKIPBiro KeuanganSistem Informasi Manajemen Keuangan (SIM-Keu)Penyusunan AnggaranPelaksanaan AnggaranPerhitungan AnggaranPerbendaharaan NegaraBiro PerlengkapanPengelolaan PerlengkapanInventaris Barang/Kekayaan Milik NegaraSistem Informasi Manajemen InventarisBiro KepegawaianSistem Informasi dan Manajamen Sumber Daya Manusia(SIMSDM)Mutasi PegawaiPeraturan KepegawaianPengangkatan Dalam Jabatan dan Kenaikan PangkatBiro hukumPenyusunan Surat Keputusan dan KontrakBiro Administrasi MenteriPusat KomunikasiPengamanan Jaringan InformasiSistem Informasi TerpaduADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 190B. Inspektorat JenderalAudit Internal (APIP)Obyek PemeriksaanSubyek PemeriksaanHasil Temuan Pemeriksaan di PerwakilanHal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pegawai (Code ofConduct)C. Direktorat Jenderal Protokol dan KonsulerPerlindungan Warga Negara Indonesia dan BHIMasalah-Masalah KonsulerKeprotokolanPemberian Fasilitas DiplomatikD. Direktorat Jenderal IDPPIDiplomasi Publik Pengamanan Diplomatik Penyusunan PerjanjianInternasionalE. BPPKKebijakan Pengkajian dan PengembanganF. Masalah-masalah Multilateral yang Menonjol di BidangPOLSOSKAM dan EKUBANGG. Kerjasama Bilateral dan Regional ASPASAF, AMEROP danASEANJakarta, 7 Mei 2004TIM PENDUKUNG BAPERJAKATADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 191ADMINISTRASI KEPEGAWAIANBERITA RAHASIADEPETEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAPUSAT KOMUNIKASI TGL. 17 JANUARI 1997 DARI KONSEP NOMORHER 111454PRO PERWAKILAN : ALL PERWAKILAN ......................................................................................................PRO PERWAKILAN :..........................................KELALAIAN SAUDARA – BENCANA NEGARANO. : 970186PRO : SEMUA KEPRIS UP KABAGMIN /KASUBAGMINEX : SEKJENdisampaikan hal – hal sebagai berikut ttk duaa. akhirs ini masih ada kbtu perwakilans ri meninggalkan wilayahakreditasi tanpa persetujuan pusat cq sekjen deplu ttk.b. Untuk menjaga displin dan tertib administrasi diulangi kembalibahwa kbtu perwakilan ri hanya dapat meninggalkan daerahakreditasi dengan seijin sekjen deplu ttk bendaharawan perwakilanhanya dapat meninggalkan daerah akreditasi dengan seijin keppridengan pemberitahuan kepada sekjen deplu ttk.c. Bagi para kbtu dan/atau bendaharawan yang akan ke indonesiauntuk kepentingan dinas harus memberitahukan danmencantumkan secara jelas alasan kepergiannya ke indonesiattkd. Bagi kbtu dan bendaharawan perwakilan yang malanggarketentuan di atas merupakan tindakan indisipliner dan akanmendapat sanksi sesuai peraturan yang berlaku ttk.Demikian ump ttk hbs- deplu –biaya pengawatan dibebankan kepada : -DEPLU –CC. MENLU, SEKJEN, IRJEN, SEKMEN, KARO KEU, KARO PERENC,KARO KEPEG. KARO UMUM.
    • 192DEPARTEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAPUSAT KOMUNIKASIBERITA RAHASIAKELALAIAN SAUDARA ADALAH BENDANA BAGI NEGERASK / 2Tanggal : 03 Januari 2002 KONSEP NO. 123652PRO PERWAKILAN RI : SEMUA PERWAKILANSANGAT RAHASIANO : 020019PRO : SEMUA KEPPRISEX : SEKJENRE : MENINGGALKAN DAERAH AKREDITASImenunjuk pd kawat sekjen no. Pl-4212/121900 tgl. 19 desember2000 re hal tsb diatas bersama ini disampaikan :a. keppris yagn berencana utk melakukan perjalanan keluar daerahakreditasi memerlukan izin dari pusat cq menlu/sekjen.b. Keppris yg melakukan perjalanan ke indonesia, hanya dapatmemperoleh “exit permit” dari direktorat konsuler apabilamelampirkan izin tertulis dari menlu/sekjendemikian ump ttkbsbiaya pegawasan dibebankan kepada : DEPLUCC. MENLU, SEKJEN, IRJEN, DI POL, SJ HELN, DJ HSBPEN, DJPROTKONS, DJ, KS. ASEAN, KA BADAN LITBANG, SEKJEN, DIRKONSULERADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 193ADMINISTRASI KEPEGAWAIANDEPARTEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAPUSAT KOMUNIKASIBERITA RAHASIAKELALAIAN SAUDARA ADALAH BENDANA BAGI NEGERASK / 2TANGGAL : 17 PEBRUARI 2004 KONSEP NO. 2381PRO PERWAKILAN RI : SEMUA PERWAKILANKILATNO : 040489PRO : ALL KEPPRISINFO : MENLU RI DI TEHERANEX : SEKJENRE : IZIN UNTUK MENINGGALKAN WILAYAHAKREDITASI (KE JAKARTA)menunjuk perihal tsb pada pokok kawat dengan hormat disampaikansbb :1. pada prinsipnya perjalanan kepala perwakilan ke luar wilayahakreditasi, terutama perjalanan ke jakarta, dapat dilakukandengan mempertimbangkan pentingnya maksud perjalanandalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi pokok kepalaperwakilan.2. tingkat/bobot kepentingan perjalanan, khususnya ke Jakartadipersilahkan untuk dipertimbangkan oleh para keppris dalamkonteks :a. efisiensi dari perjalanan yang akan dilakukanb. frekwensi perjalanan keluar akreditasi masih dalam tingkatyang wajar (sering atau tidak seringnya dilakukan perjalanantersebut)c. prioritas dari permasalahan yang akan ditangani khususnyadalam hal perjalanan ke Jakarta3. hal–hal tsb diatas disampaikan utk sekedar mengingatkanmengenai sangat pentingnya tugas–tugas dan tanggung jawbkepala perwakilan et utk itu sedapat mungkin keppri selalu beradadi wilayah akreditasi (terutama selaku pimpinan sebuahperwakilan ri)
    • 1944. dalam hal perjalanan untuk keperluan pribadi agar keppri sejauhmungkin melakukannya dalam konteks cuti sesuai keputusanmenlu no. Sk. 53/or/v/84/01 tahun 1984 tentang cuti pejabatperwakilan Republik Indonesia di luar negeri.demikian ump ttkbsBiaya pegawasan dibebankan kepada : DEPLUCC. MENLU, SEKJEN, IRJEN, KA. BAM, KARO KEPEGAWAIANPenting : Bila terdapat kesalahan pada SALINAN ini harap segera memberitahukannya per surat kepada pusatkomunikasi –deplu-ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 195ADMINISTRASI KEPEGAWAIANDEPARTEMEN LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAPUSAT KOMUNIKASI 8 : 14 AMKAWAT KELUAR( TIDAK RAHASIA )KONSEP NO : 5815Tanggal : 030205INDONESIA ALL PERWAKILANSEGERANO : PL – 0687/030305PRO : ALL KEPPRISEX : SEKJENRE : IZIN MENINGALKAN WILAYAH AKREDITASIBERSAMA INI DISAMPAIKAN DENGAN HORMAT HALS SBB :1. UU NO. 37/1999 TENTANG HUBUNGAN LUAR NEGERI PASAL34 MENYATAKAN BAHWA HUBUNGAN KERJA ANTARADEPARTEMEN LUAR NEGERI DAN PERWAKILAN REPUBLIKINDONESIA DIATUR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI.HUBUNGAN KERJA TERMASUK TATA KERJA KEPALAPERWAKILAN, DIATUR LEBIH LANJUT DALAM SK MENLU SK.06/A/OT/VI/2004/01 TAHUN 2004 TENTANG ORGANISASI DANTATA KERJA PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI.2. KEPUTUSAN PRESIDEN RI NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANGORGANISASI PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI PASAL 3MENYATAKAN BAHWA PEMBINAAN DAN PENGAWASANTERHADAP PERWAKILAN RI (TERMASUK KEPALA PERWAKILANRI) SECARA OPERASIONAL DAN ADMINISTRATIFDILAKSANAKAN OLEH DAN MENJADI TANGGUNG JAWABMENTERI LUAR NEGERI.3. KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI RI NOMOR : SK.016/A/OT/VI/2004/01 TAHUN 2004 PASAL 52 MENYEBUTKANBAHWA :
    • 196(1) KEPALA PERWAKILAN DIPLOMATIK DAPAT MENINGGAL-KAN WILAYAH AKREDITASI SETELAH MENDAPAT IZINMENTERI LUAR NEGERI MELALUI SEKRETARIS JENDERAL,(2) KEPALA PERWAKILAN KONSULER DAPAT MENINGGALKANWILAYAH KERJANYA SETELAH MENDAPAT IZIN MENTERILUAR NEGERI MELALUI SEKRETARIS JENDERAL DANMEMBERITAHUKAN KEPADA KEPALA PERWAKILANDIPLOMATIK YANG MEMBAWAHKANNYA.4. SEHUBUNGAN DENGAN HALS TERSEBUT, SEKALI LAGIDIMOHON PERHATIAN ALL KEPPRIS UNTUK KIRANYA DAPATMENGAJUKAN PERMINTAAN IZIN KEPADA MENTERI LUARNEGERI SETIAP KALI REPEAT SETIAP KALI AKANMENINGALKAN WILAYAH AKREDITASI.DEMIKIAN, UMP ET ATAS KERJASAMANYA DIUCAPKAN TERIMAKASIH TTKHBS.DEPLU JAKARTACC. MENLU, SEKJEN, IRJEN, DJ PROTKONS, SAHLIMANAJEMEN, KABAM, KARO KEU, KARO KEPEG, SUBAGPROTOKOL BAM.Biaya pengawatan dibebankan kepada – DEPLU –PENTING!Bila terjadi kesalahan pada salinan ini, mohon SEGERA menghubungi tlp.3848627, atau 3441508 axt. 5020, 5021ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
    • 197IIKESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 198
    • 199PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 25 TAHUN 1981TENTANGASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : a. bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai alat negaradan abdi masyarakat mempunyai potensi yangdapat menentukan kelancaran pelaksanaanpembangunan nasional sehingga dianggapperlu untuk selalu dibina kesejahteraannya agardapat dipelihara dan dikembangkan daya cipta,daya guna, dan hasil gunanya;b. bahwa usaha pembinaan kesejahteraaandimaksud dapat terwujud dengan usahamenyelenggarakan asuransi sosial PegawaiNegeri Sipil yang diusahakan secara terpusatdan terarah untuk dapat mencapai dayagunadan hasilguna dalam penyelenggaraannya;c. bahwa berhubung dengan itu, dipandang perlumenetapkan Peraturan Pemerintah tentangAsuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan RakyatNomor IV/MPR/1978 tentang Garis-garisBesar Haluan Negara;3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1969tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Tahun 1969Nomor 42, Tambahan Lembaran NegaraNomor 2906);PRESIDENREPUBLIK INDONESIAKESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 2004. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);5. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974tentang Pokok-pokok Kepegawaian(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);M E M U T U S K A NDengan mencabut :(1) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1963 tentangPembelanjaan Kesejahteraan Pegawai Negeri (LembaranNegara Tahun 1963 Nomor 14);(2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1963 tentang Tabungandan Asuransi Pegawai Negeri (Lembaran Negara Tahun 1963Nomor 15);(3) Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1964 tentangPenanggungan Iuran-iuran Pensiun Pegawai Negeri/Janda, YatimPiatu oleh Negara (Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 77,Tambahan Lembaran Negara Nomor 2670);Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ASURANSISOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Menteri adalah Menteri yang bertanggungjawab dalam bidangKeuangan.2. Asuransi Sosial adalah Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipiltermasuk dana pensiun dan tabungan hari tua.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 2013. Pegawai Negeri Sipil adalah Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 8Tahun 1974.4. Pensiun adalah penghasilan yang diterima oleh pensiunan setiapbulan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.5. Tabungan hari tua adalah suatu program asuransi, terdiri dariasuransi dwiguna yang dikaitkan dengan usia pensiun ditambahdengan asuransi kematian.BAB IIPESERTAPasal 2(1) Semua Pegawai Negeri Sipil, kecuali Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Departemen Pertahanan Keamanan, adalah pesertadari Asuransi Sosial.(2) Dalam hal Pegawai Negeri Sipil dari instansi di lingkunganDepartemen Pertahanan Keamanan berpindah ke instansi dilingkungan Departemen lain, maka hak dan kewajiban dalamrangka Asuransi Sosialnya akan mengikutinya.Pasal 3Pegawai lain termasuk Pegawai Badan Usaha Negara dapatditetapkan sebagai peserta Asuransi Sosial dengan peraturanPemerintah tersendiri.BAB IIISAAT MENJADI PESERTAPasal 4(1) Saat menjadi peserta Asuransi Sosial dimulai pada tanggalpengangkatannya sebagai calon Pegawai Negeri Sipil, PegawaiNegeri Sipil.(2) Mereka yang pada tanggal berlakunya Peraturan Pemerintahini sudah mempunyai kedudukan sebagai calon Pegawai NegeriSipil, Pegawai Negeri Sipil, menjadi peserta mulai tanggal tersebut.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 202BAB IVKEWAJIBAN PESERTAPasal 5(1) Peserta wajib memberi keterangan secara tepat mengenaidirinya beserta seluruh anggota keluarganya.(2) Pengaturan atas ketentuan ayat (1) dilakukan oleh badan yangdiserahi tugas untuk menyelenggarakan Asuransi Sosialsebagaimana termaksud dalam Pasal 13 dengan bekerjasamadengan badan yang diserahi urusan kepegawaian berdasarkanperaturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 6(1) Peserta wajib membayar iuran setiap bulan sebesar 8% (delapanpersen) dari penghasilan sebulan tanpa tunjangan pangan.(2) Iuran sejumlah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),peruntukannya ditentukan sebagai berikut:a. 4 3/4 % (empat tiga perempat persen) untuk pensiun;b. 3 1/4 % (tiga seperempat persen) untuk tabungan hari tua.(3) Besarnya iuran dan peruntukannya sebagaimana dimaksuddalam ayat (1) dan ayat (2) dapat diubah dengan KeputusanPresiden.(4) Kewajiban membayar iuran dimaksud dalam ayat (1) dimulaipada bulan peserta menerima penghasilan dan berakhir padaakhir bulan yang bersangkutan berhenti sebagai peserta.BAB VSUMBANGAN PEMERINTAHPasal 7Sejalan dengan ketentuan Pasal 6 ayat (2) huruf a, Pemerintahtetap menanggung beban-beban sebagai berikut :a. pembayaran sumbangan untuk iuran pensiun Pegawai NegeriSipil yang besamya akan ditetapkan dengan Keputusan Presiden;b. pembayaran pensiun dari seluruh penerima pensiun yang telahada pada saat Peraturan Pemerintah ini diundangkan;KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 203c. bagian dari pembayaran pensiun bagi penerima pensiun yangbelum memenuhi masa iuran yang telah ditetapkan.BAB VIHAK PESERTAPasal 8Hak-hak peserta terdiri atas :a. pensiunb. tabungan hari tuaPasal 9(1) Hak atas pembayaran pensiun sebagaimana dimaksud dalamPasal 8 huruf a diberikan berdasarkan ketentuan peraturanperundang-undangan yang berlaku.(2) Hak atas tabungan hari tua sebagaimana dimaksud dalam Pasal8 huruf b, diberikan dalam hal peserta berhenti karena pensiun,meninggal dunia, atau karena sebab-sebab lainPasal 10(1) Yang berhak mendapat pensiun sebagaimana dimaksud dalamPasal 8 huruf a dan Pasal 9 ayat (1) ialah :a. peserta; ataub. janda/duda dari peserta, dan janda/duda dari penerimapensiun; atauc. yatim piatu dari peserta, dan yatim piatu dari penerimapensiun; ataud. orang tua dari peserta yang tewas yang tidak meninggalkanjanda/duda/ anak yatim piatu yang berhak menerimapensiun.(2) Yang berhak mendapat tabungan hari tua sebagaimanadimaksud dalam Pasal 8 huruf b dan Pasal 9 ayat (2) ialah:a. peserta dalam hal yang bersangkutan berhenti dengan hakpensiun atau berhenti sebelum saat pensiun;b. isteri/suami, anak atau ahli waris peserta yang sah dalamhal peserta meninggal dunia.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 204(3) Kepada peserta yang berhenti tanpa hak pensiun, baik yangberhenti dengan hormat maupun tidak dengan hormat,dibayarkan kembali nilai tunai iuran asuransi sosialnya.Pasal 11(1) Persyaratan, jumlah, dan tatacara pembayaran pensiun pesertadilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku.(2) Persyaratan, jumlah, dan tatacara pembayaran tabungan haritua dan perumahan diatur oleh Menteri yang bertanggung jawabdalam bidang kepegawaian.(3) Dalam hal Menteri yang bertanggung jawab dalam bidangkepegawaian hendak mengubah peraturan mengenaipenggajian dan pensiun yang dapat membawa pengaruh padabesamya iuran serta besarnya jaminan pensiun bagi PegawaiNegeri Sipil maka terlebih dahulu berkonsultasi dengan Menteri.BAB VIISAAT BERHENTI SEBAGAI PESERTAPasal 12Kedudukan sebagai peserta Asuransi Sosial berakhir dalam halpeserta :1. meninggal dunia;2. tidak lagi menjadi peserta karena alasan-alasan lainberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB VIIIBADAN PENYELENGGARAPasal 13(1) Untuk menyelenggarakan Asuransi Sosial ini didirikan suatu BadanUsaha Negara yang berbentuk Perusahaan Perseroan(PERSERO) sebagaimana dimaksud dalam Undang-undangNomor 9 Tahun 1969.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 205(2) Pendirian Perusahaan Perseroan (PERSERO) tersebut dalamayat (1) diatur dengan Peraturan Pemenntah tersendiri.BAB IXJAMINAN NEGARAPasal 14Dalam hal Perusahaan Perseroan (PERSERO) tersebut dalam Pasal13 ayat (1) tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadapPegawai Negeri Sipil berdasarkan Peraturan Pemerintah ini, makaNegara bertanggung jawab penuh untuk itu.BAB XKETENTUAN PENUTUPPasal 15Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini,ditetapkan lebih lanjut oteh Menteri setelah berkonsultasi denganserta memperhatikan pendapat Menteri yang bertanggungjawabdalam bidang kepegawaian.Pasal 16Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkanpengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Ditetapkan di : JakartaPada tanggal : 30 Juli 1981PRESIDEN REPUBLIK INDONESIAttdS O E H A R T OKESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 206Diundangkan di : JakartaPada tanggal : 30 Juli 1981MENTERI/SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIAttdSUDHARMONO, SHLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1981NOMOR 37KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 207MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIANOMOR : 113/KP/VIII/2000/01TENTANGDANA KESEJAHTERAANMENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA,Menimbang: a. bahwa dalam rangka mengupayakan pemerataandan peningkatan kesejahteraan Pejabat DinasDalam Negeri di lingkungan Departemen LuarNegeri, diperlukan upaya untuk menghimpun danmengelola secara optimal sumber-sumber danabagi kesejateraan;b. bahwa untuk mewujudkan maksud sebagaimanadimaksud dalam pertimbangan huruf a, perludibentuk Dana Kesejahteraan yang merupakanwujud kepedulian dan rasa kebersamaan danPimpinan Departemen Luar Negeri :c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkanKeputusan Menteri Luar Negeri Tentang DanaKesejahteraan;Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 lentangPokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telahdiubah dengan Undang-undang Nomor 43Tahun1999,2. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentangHubungan Luar Negeri;KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 2083. Keputusan Presiden RI No. 61 Tahun 1998 tentangSusunan Organisasi Departemen, sebagaimanatelah beberapa kali diubah terakhir denganKeputusan Presiden RI No. 102 Tahun 1998;4. Keputusan Menteri Luar Negeri RI No. 203/OR/III/83/01 Tahun 1983 tentang Organisasi danTata Kerja Departemen Luar Negeri, sebagaimanatelah beberapa kali diubah terakhir denganKeputusan Menteri Luar Negeri RI No. 141/OT/VI/98/01 Tahun 1998.M E M U T U S K A NMenetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIKINDONESIA TENTANG DANA KESEJAHTERAAN,Pasal 1Dana Kesejahteraan(1) Dalam rangka mengupayakan pemerataan dan peningkatankesejahteraan Pejabat Dinas Dalam Negeri, dibentuk DanaKesejahteraan Departemen Luar Negeri yang selanjutnyadisebut Dana Kesejahteraan.(2) Dana Kesejahteraan adalah suatu dana yang dikumpulkan dandiperoleh dari berbagai sumber yang sah dan diperuntukanbagi upaya peningkatan kesejahteraan Pejabat Dinas DalamNegeri.(3) Upaya peningkatan kesejahteraan tersebut terutama diarahkanuntuk bidang bidang pendidikan, kesehatan, dan perumahan.Pasal 2Sumber Dana KesejahteraanSumber Dana Kesejahteraan berasal dari :1. Kontribusi “Home Staff” di Perwakilan Republik Indonesia yangbesarnya 1% dari AngKa Pokok Tunjangan Luar Negeri (APTLN)KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 2092. Sumbangan donatur.3. Sumber-sumber lain yang sah.Pasal 3Pengelola Dana Kesejahteraan(1) Pengelola Dana Kesejahteraan adalah Yayasan Kesejahteraan(Yakes).(2) Dalam melaksanakan pengelolaan Dana Kesejahteraan, Yakesbertanggung jawab kepada Panitia Pengarah dan Pengawasyang dibentuk untuk itu.(3) Anggota Panitia Pengarah dan Pengawas terdiri dari KepalaBiro Umum dan para Sekretaris Direktorat Jenderal, InspektoratJenderal, serta Badan Penelitian dan Pengembangan.(4) Panitia Pengarah dan Pengawas sebagalmana dimaksud dalamayat (3) dipimpin oleh Kepala Biro Kepegawaian.Pasal 4Hak dan Kewajiban Pengelola(1) Pengelola Dana Kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalamPasal 2 berkewajiban :a. Mengelola dana secara optimal sesuai dengan ketentuanmengenai alokasi, tata cara dan persyaratan penggunaandana;b. Dapat menyarankan tentang cara pengelolaan yang efektif;c. Melaksanakan Kebijaksanaan pengelolaan yang talahdigariskan oleh Panitia Pengarah dan Pengawas;d. Menyelesaikan laporan tahunan dan kepada PanitiaPengarah dan Pengawas;e. Menyusun laporan jika diminta oleh Panitia Pengarah danPengawas sewaktu-waktu;f. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaandana kepada Panitia Pengarah dan Pengawas secara tertulissetiap tahun;KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 210(2) Pengelola Dana Kesejahteraan berhak :a. Mengambil inisiatif untuk mengoptimalkan pengelolaan danaberdasarkan alokasi tata cara dan persyaratan penggunaandana.b. Menyampaikan saran, pendapat dan usul dalam rapatantara Pengelola dan Panitia Pengarah dan Pengawas;c. Mengajukan usul untuk mengadakan rapat antara Pengeloladan Panitia Pengarah dan Pengawas.Pasal 5Hak dan Kewajiban Panitia Pengarah dan Pengawas(1) Panitia Pengarah dan Pengawas sebagaimana dimaksud dalamPasal 3 (2) berkewajiban :a. Menentukan kebijaksanaan Pengelolaan danakesejahteraan;b. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan danaberdasarkan ketentuan mengenai alokasi tata cara danpersyaratan penggunaan dana;c. Melaporkan hasil pengawasan kepada Sekretaris Jenderaldan Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri.(2) Panitia Pengarah dan Pengawas berhak :a. Meminta sewaktu-waktu laporan dan pertanggungjawabanpengelolaan dana oleh Pengelola apabila dipandang perlu;b. MenyampaiKan saran, pendapat dan usul dalam rapatantara Pengelola dan Panitia Pengarah dan Pengawas;c. Mengajukan usul untuk mengadakan rapat antara Pengeloladan Panilia Pengarah dan Pengawas.Pasal 6Alokasi, Tata Cara dan Persyaratan PenggunaanAlokasi, Tata Cara dan Persyaratan Penggunaan DanaKesejahTeraan ditentukan secara bersama oleh Yakes dan PanitiaPengarah dan Pengawas.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 211Pasal 7Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, denganketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalampenetapan Keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimanamestinya.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 1 Agustus 2000MENTERI LUAR NEGERI RIttdDr. ALWI SHIHABKESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 212KEPUTUSAN BADAN PEMBINAYAYASAN “UPAKARA”YAYASAN KESEJAHTERAAN KARYAWANDEPARTEMEN LUAR NEGERINOMOR : SK 003/BIN/I/90TENTANGSUMBANGAN UANG PESANGON PENSIUN, SUMBANGANUANG DUKA/KEMATIAN DAM SUMBANGAN UANGKELAHIRAN MENINGKATKAN KESEJAHTERAANKARYAWANBADAN PEMBINA YAYASAN “UPAKARA”Membaca : Nota Pengurus Harian Yayasan “UPAKARA”Yayasan kesejahteraan Karyawan Deplu No. 783/UPA/XII/89 tanggal 14-12-1989 perihal perkiraanperkembangan dana Yayasan dalam TahunAnggaran 1990 dan usul peningkatan pelayanankesejahteraan para karyawan Departemen LuarNegeri.Menimbang : a. bahwa besarnya sumbangan uang pesangonpensiun dan sumbangan uang duka/kematianserta sumbangan uang kelahiran sebagaibantuan Yayasan “UPAKARA” untuk kesejah-teraan para karyawan Departemen Luar Negeri,dianggap sudah tidak sesuai lagi denganperkembangan kenaikan-kenaikan biayapenghidupan dan ongkos-ongkos jasa yang naikrata-rata antara 15% -30% pada sekarang ini.b. bahwa dana Yayasan “UPAKARA” memungkin-kan untuk menaikkan besarnya sumbangantermaksud di atas sebagai peningkatanpelayanan kesejahteraan para karyawan.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 213Mengingat : a. Anggaran Dasar No. 5 Tahun 1981 pasal 10ayat 2a tentang kewenangan penentuanpokok-pokok program kerja dan pedomanpengarahan tentang usaha-usaha kegiatanYayasan dan Anggaran Rumah TanggaYayasan Bab III pasal 4 ayat 2.b. Keputusan Menteri Luar Negeri RI No.SK3123/BU/X/31 tanggal 8-7-1981 tentangpenetapan Susunan Badan Pembina Yayasan“UPAKARA” sesuai dengan Anggaran DasarNo.5 Tahun 1981.Memperhatikan : Perkembangan dana Yayasan “UPAKARA” padadewasa ini yang memungkinkan pelaksanaankenaikan besarnya uang sumbangan bagikesejahteraan karyawan.MEMUTUSKANMenetapkan :Pertama : Mencabut ketentuan besarnya jumlah uangsumbangan pesangon pension, sumbangan uangduka/kematian dan sumbangan uang kelahiranyang ditetapkan dengan keputusan-keputusanterdahulu.Kedua : Menaikkan besarnya sumbangan bantuankesejahteraan karyawan, yaitu :a. uang pesangon pensiun yang semula Rp.200.000,00 menjadi sebesar Rp. 240.000,00(dua ratus empat puluh ribu rupiah),b. uang duka/kematian yang sernula Rp.200.000,00 menjadi sebesar Rp. 240 000,00(dua ratus empat puluh ribu rupiah).c. uang kelahiran yang semula Rp, 25.000,00menjadi sebesar Rp. 30.000,00 (tiga puluhribu rupiah) untuk kelahiran tiap anak pertamadan kedua (maksimum 2 orang anak).KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 214Ketiga : Pelaksanaan dan pembayaran diatur olehPengurus Harian Yayasan “UPAKARA” YayasanKesejahteraan Karyawan Departemen LuarNegeri.Keempat : Keputusan ini berlaku mulai tanggal 1 Pebruari1990. Dengan catatan, apabila kemudian terdapatkekeliruan dalam keputusan ini akan diadakanperubahan seperlunya,Ditetapkan di : J A KARTAPada tanggal : 30 Januari 1990BADAN PEMBINA YAYASAN “UPAKARA”KETUA,ttdSOEWARNO DANUSUTEDJOSekretaris Jenderal Departemen Luar NegeriTEMBUSAN disampaikan kepada :1. Yth. Bapak Menteri Luar Negeriselaku Pelindung dan Penasehat,2. Yth. Semua Pejabat Eselon tertinggiselaku Anggota Badan Pembina.3. Yth. Sdr Kepala Biro Umum Setjenselaku Sekretaris Badan Pembina.4. Yth. Semua Anggota Badan Pengawas.5. Yth. Semua Anggota Badan Pengurus/Pengurus Harian Yayasan “UPAKARA” YAKES DEPLU.6. A r s i pKESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 215MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIASALINANPERATURAN MENTERI KEUANGANNOMOR : 22/PMK.05/2007TENTANGPEMBERIAN UANG MAKAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPILMENTERI KEUANGAN;Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahtera-an pegawai negeri sipil, selain gaji dan tunjanganlainnya, kepadanya diberikan uang makan;b. bahwa besaran tarif uang makan Pegawai NegeriSipil telah diatur dalam Peraturan MenteriKeuangan Nomor 96/PMK.02/2006 tentangStandar Biaya Tahun Anggaran 2007;c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud pada huruf a dan b di atas, perlumenetapkan Peraturan Menteri Keuangantentang Pemberian Uang Makan bagi PegawaiNegeri Sipil;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok – Pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55,KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 216Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3041) sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor : 3890);2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentangKeuangan Negara (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2003 Nomor 47, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor4286);3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentangPerbendaharaan Negara (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4355);4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentangPemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung JawabKeuangan Negara (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 Nomor 66, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor4400);5. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002tentang Pedoman Pelaksanaan AnggaranPendapatan dan Belanja Negara (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor73, Tambahan Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4212) sebagaimana telahdiubah dengan Keputusan Presiden Nomor 72Tahun 2004 (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 Nomor 92, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor4418);6. Keputusan Presiden Nomor 20 / P Tahun 2005;7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.02/2006 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran2007;KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 217MEMUTUSKANMenetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANGPEMBERIAN UANG MAKAN BAGI PEGAWAI NEGERISIPIL.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini, yang dimaksud dengan :1. Pegawai Negeri Sipil adalah Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang Nomor 43 Tahun 1999, yang berada dilingkungan Kementerian Negara/Lembaga.2. Uang Makan adalah uang yang diberikan kepada Pegawai NegeriSipil berdasarkan tarif dan dihitung secara harian untuk keperluanmakan Pegawai Negeri Sipil.BAB IIPEMBERIAN UANG MAKANPasal 21. Kepada Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada hari kerja yangditetapkan diberikan uang makan.2. Uang makan diberikan paling banyak 22 (dua puluh dua) harikerja dalam satu bulan.3. Dalam hal hari kerja dalam 1 (satu) bulan melebihi 22 (duapuluh dua) hari kerja, kepada Pegawai Negeri Sipil hanya diberikanUang Makan sebanyak 22 (dua puluh dua) hari kerja.4. Dalam hal hari kerja dalam 1 (satu) bulan kurang dari 22 (duapuluh dua) hari kerja, kepada Pegawai Negeri Sipil diberikan UangMakan sebanyak jumlah hari kerja pada bulan berkenaan.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 218Pasal 31. Besarnya uang makan yang diberikan kepada Pegawai NegeriSipil adalah sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per harikerja.2. Uang makan dibayarkan sebulan sekali pada awal bulanberikutnya.Pasal 4Uang Makan tidak diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang tidakhadir pada hari kerja.BAB IIITATA CARA PEMBAYARAN UANG MAKANPasal 5Pembayaran uang makan didasarkan pada daftar hadir PegawaiNegeri Sipil.Pasal 6Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran mengajukan SuratPerintah Membayar Langsung (SPM-LS) untuk pembayaran UangMakan Pegawai Negeri Sipil kepada Kantor PelayananPerbendaharaan Negara (KPPN) dengan dilampiri :a. Daftar Perhitungan Uang Makan satuan kerja berkenaan; danb. Pernyataan tanggung jawab mutlak dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.BAB IVKETENTUAN LAIN – LAINPasal 7Prosedur dan tata cara permintaan serta pembayaran Uang MakanPegawai Negeri Sipil ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 219BAB VKETENTUAN PENUTUPPasal 8Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkandan mempunyai daya laku surut terhitung sejak tanggal 1 Januari2007.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumumanPeraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalamBerita Negara Republik Indonesia.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 23 Februari 2007MENTERI KEUANGANttdSRI MULYANI INDRAWATISalinan sesuai dengan aslinyaKepala Biro Umumu.b.Kepala Bagian TU DepartementtdAntonius SuhartoNIP. 060041107KESEJAHTERAAN PEGAWAI
    • 220
    • 221IIIF O R M A S I
    • 222
    • 223PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 98 TAHUN 2000TENTANGPENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang: bahwa untuk mengisi formasi yang lowong danmendapatkan Pegawai Negeri Sipil yang profesional,berkualitas serta mewujudkan obyektivitas dalampelaksanaan pengadaan Pegawai Negeri Sipil,dipandang perlu mengatur kembali ketentuanmengenai pengadaan Pegawai Negeri Sipil dalamPeraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041) sebagaimana telah diubahdengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890);PRESIDENREPUBLIK INDONESIAF O R M A S I
    • 2243. Undang–undang Nomor 22 tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 60, TambahanLembaran Negara nomor 3839);4. Undang–undang Nomor 25 tahun 1999tentang Perimbangan Keuangan AntaraPemerintah Pusat dan Daerah (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 72, TambahanLembaran Negara Nomor 3839);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000tentang Wewenang Pengangkatan,Pemindahan, dan Pemberhentian PegawaiNegeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 2000Nomor 193, Tambahan Lembaran NegaraNomor 4014);7. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 194,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4015);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah kegiatan untuk mengisiformasi yang lowong.F O R M A S I
    • 2252. Pejabat Pembina Kepegawaian adalah Menteri, Jaksa Agung,Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer, SekretarisPresiden, Sekretaris Wakil Presiden, Kepala Kepolisian Negara,Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, PimpinanKesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Gubernurdan Bupati/Walikota.Pasal 2(1) Pengadaan Pegawai Negeri Sipil dilakukan mulai dariperencanaan, pengumuman, pelamaran, penyaringan,pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil sampai denganpengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil.(2) Pengadaan Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan oleh PejabatPembina Kepegawaian.Pasal 3Setiap Warga Negara Republik Indonesia mempunyai kesempatanyang sama untuk melamar menjadi Pegawai Negeri Sipil setelahmemenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PeraturanPemerintah ini.BAB IIPERENCANAAN, PENGUMUMAN, PERSYARATAN,DAN PELAMARANPasal 4Pejabat Pembina Kepegawaian membuat perencanaan pengadaanPegawai Negeri Sipil.Pasal 5(1) Lowongan formasi Pegawai Negeri Sipil diumumkan seluas-luasnya oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.(2) Pengumuman dilakukan paling lambat 15 (lima belas) harisebelum tanggal penerimaan lamaran.(3) Dalam pengumuman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),dicantumkan :F O R M A S I
    • 226a. jumlah dan jenis jabatan yang lowong;b. syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar;c. alamat dan tempat lamaran ditujukan; dand. batas waktu pengajuan lamaran.Pasal 6Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah :a. Warga Negara Indonesia;b. berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dansetinggi-tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun;c. tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkankeputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukumyang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan;d. tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaansendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil,atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta;e. tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri;f. mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan ketrampilanyang diperlukan;g. berkelakuan baik;h. sehat jasmani dan rohani;i. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara RepublikIndonesia atau negara lain yang ditentukan oleh Pemerintah;danj. syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan.BAB IIIPENYARINGANPasal 7(1) Ujian penyaringan bagi pelamar yang memenuhi syaratdilaksanakan oleh suatu panitia yang dibentuk oleh PejabatPembina Kepegawaian.(2) Tugas panitia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :a. menyiapkan bahan ujian;F O R M A S I
    • 227b. menentukan pedoman pemeriksaan dan penilaian ujian;c. menentukan tempat dan jadwal ujian;d. menyelenggarakan ujian;e. memeriksa dan menentukan hasil ujian.(3) Materi ujian meliputi :a. Test kompetensi;b. Psikotes.Pasal 8Pejabat Pembina Kepegawaian menetapkan dan mengumumkanpelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringan.BAB IVPENGANGKATANCALON PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 9Pelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 8, wajib menyerahkan kelengkapanadministrasi sesuai ketentuan yang berlaku.Pasal 10(1) Daftar pelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringansebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 yang akan diangkatmenjadi Calon Pegawai Negeri Sipil disampaikan oleh PejabatPembina Kepegawaian kepada Kepala Badan KepegawaianNegara untuk mendapat nomor identitas Pegawai Negeri Sipil.(2) Dalam menyampaikan daftar pelamar sebagaimana dimaksuddalam ayat (1) dilengkapi data perorangan sesuai denganpersyaratan yang ditentukan.Pasal 11(1) Pelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringan dan telahdiberikan nomor identitas Pegawai Negeri Sipil diangkat sebagaiCalon Pegawai Negeri Sipil.F O R M A S I
    • 228(2) Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksuddalam ayat (1), ditetapkan dengan keputusan Pejabat PembinaKepegawaian.(3) Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksuddalam ayat (2) dilakukan dalam tahun anggaran berjalan, danpenetapannya tidak boleh berlaku surut.(4) Golongan ruang yang ditetapkan untuk pengangkatan sebagaiCalon Pegawai Negeri Sipil, adalah :a. Golongan ruang I/a bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki dan menggunakan Surat Tanda TamatBelajar/Ijazah Sekolah Dasar atau yang setingkat;b. Golongan ruang I/c bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki dan menggunakan Surat Tanda TamatBelajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau yangsetingkat;c. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki dan menggunakan Surat Tanda TamatBelajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Diploma I,atau yang setingkat;d. Golongan ruang II/b bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki dan menggunakan Surat Tanda TamatBelajar/Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa atauDiploma II;e. Golongan ruang II/c bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki dan menggunakan Ijazah Sarjana Muda,Akademi, atau Diploma III;f. Golongan ruang III/a bagi yang pada saat melamarserendah-rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahSarjana (S1), atau Diploma IV;g. Golongan ruang III/b bagi yang pada saat melamarserendah-rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahDokter, Ijazah Apoteker dan Ijazah lain yang setara, Magister(S2), atau Ijazah Spesialis I;h. Golongan ruang III/c bagi yang pada saat melamarserendah-rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahDoktor (S3), atau Ijazah Spesialis II.i. Ijazah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) adalah Ijazahyang diperoleh dari sekolah atau Perguruan Tinggi NegeriF O R M A S I
    • 229dan/atau Ijazah yang diperoleh dari sekolah atau PerguruanTinggi Swasta yang telah diakreditasi oleh Menteri yangbertanggungjawab di bidang pendidikan nasional atau pejabatlain yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku berwenang menyelenggarakan pendidikan.j. Ijazah yang diperoleh dari Sekolah atau Perguruan Tinggi diLuar Negeri hanya dapat dihargai apabila telah diakui danditetapkan sederajat dengan Ijazah dari Sekolah atauPerguruan Tinggi Negeri yang ditetapkan oleh Menteri yangbertanggung jawab di bidang pendidikan nasional atau pejabatlain yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku berwenang menyelenggarakan pendidikan.Pasal 12(1) Hak atas gaji bagi Calon Pegawai Negeri Sipil mulai berlakupada tanggal yang bersangkutan secara nyata melaksanakantugasnya yang dinyatakan dengan surat pernyataan oleh kepalakantor/satuan organisasi yang bersangkutan.(2) Calon Pegawai Negeri Sipil yang penempatannya jauh daritempat tinggalnya sudah dianggap nyata melaksanakan tugassejak ia berangkat menuju ke tempat tugasnya, yang dibuktikandengan surat perintah perjalanan/penugasan dari pejabat yangberwenang menugaskan.Pasal 13(1) Masa kerja yang diperhitungkan penuh untuk penetapan gajipokok pengangkatan pertama adalah :a. selama menjadi Pegawai Negeri Sipil, kecuali selamamenjalankan cuti diluar tanggungan negara;b. selama menjadi Pejabat Negara;c. selama menjalankan tugas pemerintahan;d. selama menjalankan kewajiban untuk membela negara; ataue. selama menjadi pegawai/karyawan perusahaan milikpemerintah.(2) Masa kerja sebagai pegawai/karyawan dari perusahaan yangberbadan hukum di luar lingkungan badan-badan pemerintahyang tiap-tiap kali tidak kurang dari 1 (satu) tahun dan tidakF O R M A S I
    • 230terputus-putus, diperhitungkan 1/2 (setengah) sebagai masakerja untuk penetapan gaji pokok dengan ketentuan sebanyak-banyaknya 10 (sepuluh) tahun.BAB VPENGANGKATAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPILMENJADI PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 14(1) Calon Pegawai Negeri Sipil yang telah menjalankan masapercobaan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun dan paling lama2 (dua) tahun, diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil oleh PejabatPembina Kepegawaian dalam jabatan dan pangkat tertentu,apabila :a. setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnyabernilai baik;b. telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani untukdiangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil; danc. telah lulus Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan.(2) Syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf bdinyatakan dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh DokterPenguji Tersendiri/Tim Penguji Kesehatan yang ditunjuk olehMenteri Kesehatan.(3) Syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dinyatakandengan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Prajabatanyang ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.(4) Tanggal mulai berlakunya keputusan pengangkatan menjadiPegawai Negeri Sipil tidak boleh berlaku surut.Pasal 15Calon Pegawai Negeri Sipil yang telah menjalankan masa percobaanlebih dari 2 (dua) tahun dan telah memenuhi syarat sebagaimanadimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) tetapi karena sesuatu sebabbelum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil hanya dapat diangkatmenjadi Pegawai Negeri Sipil apabila alasannya bukan karenakesalahan yang bersangkutan.F O R M A S I
    • 231Pasal 16Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14ayat (1) dan Pasal 15 yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipildiberikan pangkat :a. Juru Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/a;b. Juru bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/c;c. Pengatur Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruangII/a;d. Pengatur Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalamgolongan ruang II/b;e. Pengatur bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/c.f. Penata Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruangIII/a.g. Penata Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalam golonganruang III/b.h. Penata bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/c.Pasal 17(1) Calon Pegawai Negeri Sipil yang tewas, diangkat menjadi PegawaiNegeri Sipil terhitung mulai awal bulan yang bersangkutandinyatakan tewas.(2) Calon Pegawai Negeri Sipil yang cacat karena dinas, yang olehTim Penguji Kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerja lagi dalamsemua jabatan negeri diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipilterhitung mulai tanggal surat keterangan Tim Penguji Kesehatanyang bersangkutan.BAB VIPEMBERHENTIANCALON PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 18(1) Calon Pegawai Negeri Sipil diberhentikan apabila :a. mengajukan permohonan berhenti;F O R M A S I
    • 232b. tidak memenuhi syarat kesehatan;c. tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan;d. tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakan tugas;e. menunjukkan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yangdapat mengganggu lingkungan pekerjaan;f. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat;g. pada waktu melamar dengan sengaja memberikanketerangan atau bukti yang tidak benar;h. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusanpengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yangtetap karena dengan sengaja melakukan sesuatu tindakpidana kejahatan atau melakukan sesuatu tindak pidanakejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan/tugasnya; ataui. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.(2) Calon Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan karena ketentuansebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, b, c, d, dan ediberhentikan dengan hormat.(3) Calon Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan karena ketentuansebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf g, h, dan idiberhentikan tidak dengan hormat.(4) Calon Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan karena ketentuansebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f diberhentikandengan hormat atau tidak dengan hormat.Pasal 19Pemberhentian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, ditetapkanoleh Pejabat Pembina Kepegawaian.BAB VIIKETENTUAN LAIN-LAINPasal 20Anggaran untuk menyelenggarakan pengadaan Pegawai Negeri SipilPusat dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja NegaraF O R M A S I
    • 233dan Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Daerah dibebankan padaAnggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.Pasal 21Untuk mengisi lowongan formasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal2, dapat dilakukan melalui penyaluran kelebihan Pegawai Negeri Sipildari instansi pemerintah Pusat/Daerah yang mengalamipenyederhanaan organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Pasal 22Untuk membangun data kepegawaian Pegawai Negeri Sipil secaranasional, Pejabat Pembina Kepegawaian wajib menyampaikantembusan surat keputusan pengangkatan sebagai Calon PegawaiNegeri Sipil dan surat keputusan pengangkatan menjadi PegawaiNegeri Sipil kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara.BAB VIIIKETENTUAN PENUTUPPasal 23Ketentuan teknis yang diperlukan bagi pelaksanaan PeraturanPemerintah ini diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan KepegawaianNegara.Pasal 24Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka PeraturanPemerintah Nomor 6 Tahun 1976 tentang Pengadaan Pegawai NegeriSipil, dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1983 tentangPerlakuan Khusus Terhadap Calon Pegawai Negeri Sipil Yang Tewasdan Cacat Karena Dinas, serta segala ketentuan lain yangbertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tidakberlaku.Pasal 25Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.F O R M A S I
    • 234Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdABDURRAHMAN WAHIDDiundangkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIAttdDJOHAN EFFENDILEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000NOMOR 195Salinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIAT KABINET RIKepala Biro Peraturan Perundang-undangan IIttdEdy SudibyoF O R M A S I
    • 235PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 11 TAHUN 2002TENTANGPERUBAHAN ATASPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 98 TAHUN 2000TENTANG PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIAMenimbang : bahwa untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yangprofesional dan bertanggung jawab, dipandang perlumengubah Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil,dengan Peraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang–undang Dasar1945;2. Undang–undang Nomor 8 Tahun 1974tentang Pokok -pokok Kepegawian (LembaranNegara tahun 1974 Nomor 55, TambahanLembaran Negara Nomor 3041),sebagaimana telah diubah dengan Undang–undang Nomor 43 Tahun 1999 (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 169, TambahanLembaran Negara Nomor 3890);3. Undang–undang Nomor 22 tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 60, TambahanLembaran Negara nomor 3839);4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999tentang Perimbangan Keuangan AntaraPRESIDENREPUBLIK INDONESIAF O R M A S I
    • 236Pemerintah Pusat dan Daerah (LembaranNegara Tahun 1999 Nomor 72, TambahanLembatran Negara Nomor 3848);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000tentang Wewenang Pengangkatan,Pemindahan, dan Pemberhentian PegawaiNegeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 2000Nomor 193, Tambahan Lembaran NegaraNomor 4014);7. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 194,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4015);8. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 195,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4016);MEMUTUSKANMenetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 98 TAHUN 2000 TENTANG PENGADAANNEGERI SIPIL.Pasal I1. Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :“Pasal 6(1) Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah :a. warga negara Indonesia;F O R M A S I
    • 237b. berusia serendah–rendahnya 18 (dalapan belas) tahundan setinggi–tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun :c. tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkanputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatanhukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidanakejahatan;d. tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak ataspermintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil atau diberhentikan tidak denganhormat sebagai pegawai swasta;e. tidak berkedudukan sebagai calon/Pegawai Negeri;f. mempnyai pendidikan, kecakapan, keahlian danketerampilan yang diperlukang. berkelakuan baik;h. sehat jasmani dan rohani;i. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara KesatuanRepublik Indonesia atau negara lain yang ditentukan olehpemerintah; danj. syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan.(2) Pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dapatdilakukan bagi mereka yang melebihi usia 35 (tiga puluh lima)tahun berdasarkan kebutuhan khusus dan dilaksanakansecara selektif.”2. Ketentuan Pasal 11 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :“Pasal 11(1) Pelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringan dan telahdiberikan nomor identitas Pegawai Negeri Sipil diangkat sebagaiCalon Pegawai Negeri Sipil.(2) Pengangatan Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan keputusanPejabat Pembina Kepegawaian.(3) Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam ayat (2) dilakukan dalam tahun anggaranberjalan dan penetapannya tidak boleh berlaku surut.F O R M A S I
    • 238(4) Golongan ruang yang ditetapkan untuk pengangkatan sebagaiCalon Pegawai Negeri Sipil, adalah :a. Golongan ruang I/a bagi yang pada saat melamarserendah-rendahnya memiliki dan menggunakan SuratTanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Dasar atau yangsetingkat;b. Golongan ruang I/c bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan SuratTanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan TingkatPertama atau yang setingkat;c. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan SuratTanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan TingkatAtas, Diploma I, atau yang setingkat;d. Golongan ruang II/b bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan SuratTanda Tamat Belajar/ Ijazah Sekolah Guru PendidikanLuar Biasa atau Diploma II;e. Golongan ruang II/c bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahSarjana Muda, Akademi, atau Diploma III;f. Golongan ruang III/a bagi yang apda saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahSarjana (SI) atau Diploma IV;g. Golongan ruang III/b bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahDokter, Ijazah Apoteker dan Magister (S2) atau ijazahlain yang setara;h. Golongan ruang III/c bagi yang pada saat melamarserendah–rendahnya memiliki dan menggunakan IjazahDokter (S3).3. Diantara Pasal 11 dan Pasal 12, disisipkan 1 (satu) Pasal baru,yakni Pasal 11A yang berbunyi sebagai berikut :“Pasal 11ACalon Pegawai Negeri Sipil wajib melaksanakan tugas selambat-lambatnya 1 (satu) bulan, setelah menerima keputusanpengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil.”F O R M A S I
    • 2394. Ketentuan Pasal 13 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :“Pasal 13(1) Masa kerja yang diperhitungkan penuh untuk penetapangaji pokok pengangkatan pertama adalah :a. selama menjadi Pegawai Negeri, kecuali selamamenjalankan cuti di luar tanggungan negara;b. selama menjadi Pejabat Negara;c. selama menjalankan tugas pemerintahan;d. selama menjalankan kewajiban untuk membela negara;ataue. selama menjadi pegawai/karyawan perusahaan milikpemerintah.(2) Masa kerja sebagai pegawai/karyawan dari perusahaan yangberbadan hukum di luar lingkungan badan–badan pemerintahyang tiap–tiap kali tidak kurang dari 1 (satu) tahun dan tidakterputus–utus, diperhitungkan ½ (setengah) sebagai masakerja untuk penetapan gaji pokok dengan ketentuansebanyak–banyaknya 8 (delapan) tahun.5. Ketentuan Pasal 17 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :“Pasal 17(1) Calon Pegawai Negeri Sipil yang tewas, diangkat menjadiPegawai Negeri Sipil terhitung mulai awal bulan yangbersangkutan dinyatakan tewas.(2) Calon Pegawai Negeri Sipil yang cacat karena dinas, yangoleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerjalagi dalam semua jabatan negeri, diangkat menjadi PegawaiNegeri Sipil.(3) Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalamayat (2) setelah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipildiberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipildan diberikan hak-hak kepegawaian sesuai dengan peraturanperundang-undangan yang berlaku.F O R M A S I
    • 240(4) Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil menjadi PegawaiNegeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berlakuterhitung mulai tanggal 1 (satu) pada bulan ditetapkannyasurat keterangan Tim Penguji Kesehatan.6. Ketentuan Pasal 18 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :“Pasal 18(1) Calon Pegawai Negeri Sipil diberhentikan apabila :a. mengajukan permohonan berhenti;b. tidak memenuhi syarat kesehatan;c. tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan;d. tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakantugas;e. menunjukkan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yangdapat menggangu lingkungan pekerjaan;f. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat;g. pada waktu melamar dengan sengaja memberikanketerangan atau bukti yang tidak benar;h. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusanpengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukumyang tetap karena dengan sengaja melakukan sesuatutidak pidana kejahatan atau melakukan sesuatu tindakpidana kejahatan yang ada hubungannya denganjabatan/tugasnya;i. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik;j. 1 (satu) bulan setelah diterimanya keputusanpengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil tidakmelapor dan melaksanakan tugas, kecuali bukan karenakesalahan yang bersangkutan;(2) Calon Pegawai Neger Sipil yang diberhentikan karenaketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a,b, c, d, e, dan j, diberhentikan dengan hormat.(3) Calon Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan karenaketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf g,dan h, diberhentikan tidak dengan hormat.F O R M A S I
    • 241(4) Calon Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan karenaketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf fdan i, diberhentikan dengan hormat atau tidak denganhormat.Pasal IIPeraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 17 April 2002PRESIDEN REPUBLIK INDONESIAttdMEGAWATI SOEKARNOPUTRIDiundangkan di JakartaPada tanggal 17 April 2002SEKRETARIAT NEGARAREPUBLIK INDONESIAttdBAMBANG KESOWOLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 31Salinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIAT KABINET RIKepala Biro Peraturan Perundang–Undangan IIttdEdy SudibyoF O R M A S I
    • 242PENJELASAN ATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 11 TAHUN 2002TENTANGPERUBAHAN ATASPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 98 TAHUN 2000TENTANG PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPILI. UMUMDalam Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 8Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimanatelah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999,antara lain diatur bahwa Pegawai Negeri Sipil untuk mengisi formasiyang lowong dalam suatu organisasi pada umumnya berdasarkankebutuhan.Bahwa untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang profesional,bertanggung jawab, jujur dan adil, maka perlu mengubahbeberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 98Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil.II. PASAL DEMI PASALPasal IPasal 6Ayat (1)Cukup JelasAyat (2)Pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil yangmelebihi usia 35 (tiga puluh lima) tahun dilaksanakanberdasarkan kebutuhan, khususnya bagi mereka yang telahmengabdi kepada instansi yang menunjang kepentingannasional sekurang–kurangnya 5 (lima) tahun, sebelumPeraturan Pemerintah ini ditetapkan.F O R M A S I
    • 243Pasal 11Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Yang dimaksud dengan penetapan pengangkatan CalonPegawai Negeri Sipil tidak boleh berlaku surut dalam ketentuanini adalah apabila penetapannya pada bulan yang sedangberjalan maka mulai berlakunya dalah tanggal 1 (satu) bulanberikutnya.Ayat (4)Huruf a sampai dengan huruf fCukup jelasHuruf gYang dimaksud dengan Ijazah lain yang setara adalahIjazah yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi yang bobotuntuk memperolehnya setara dengan Ijazah Dokter/Ijazah Apoteker dan Ijazah Magister (S2) yangpenetapan kesetaraannya dilaksanakan oleh Menteriyang bertanggung jawab di bidang pendidikan nasional.Huruf hCukup jelasAyat (5)Cukup jelasAyat (6)Cukup jelasPasal 11ACalon Pegawai Negeri Sipil yang telah menerima suratkeputusan pengangkatan, segera melapor pada satuanorganisasi dan melaksanakan tugasnya.F O R M A S I
    • 244Pasal 13Ayat (1)Huruf aCukup jelasHuruf bCukup jelasHuruf cMasa selama menjalankan tugas pemerintahan antaralain masa penugasan sebagai :a. Lokal Staf pada Perwakilan Republik Indonesia di luarnegeri;b. Pegawai tidak tetap;c. Perangkat Desad Pegawai/Tenaga pada Badan -badan Internasional.e. Petugas pada pemerintahan lainnya yangpenghasilannya dibebankan pada AnggaranPendapatan dan Belanja Negara.Huruf dMasa selama menjalankan kewajiban untuk membelaNegera, antara lain masa sebagai :a. Prajurit wajib, danb. Sukarelawan.Huruf ePerusahaan milik Pemerintah terdiri dari Badan UsahaMilik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.Ayat (2)Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perusahaan yangberbadan hukum termasuk perusahaan swasta asing yangberbadan hukum.Pasal 17Ayat (1)Cukup jelasF O R M A S I
    • 245Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelasAyat (4)Cukup jelasPasal 18Ayat (1)Huruf a sampai dengan huruf fCukup jelasHuruf gDalam ketentuan ini yang termasuk pengertianketerangan–keterangan atau bukti–bukti yang tidak benaradalah apabila keterangan tersebut mengakibatkankerugian pada negara atau setelah diketahuikebenarannya seharusnya tidak memenuhi syarat untukdiangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, misalnya padawaktu melamar memberikan keterangan tidak pernahdiberhentikan tidak dengan hormat, pada hal pernahdikenakan pemberhentian tersebut, dan lain sebagainyayang serupa dengan itu.Huruf h, i dan jCukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelasAyat (4)Calon pegawai Negeri Sipil diberhentikan dengan hormat,apabila :a. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang;b. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik dantelah mengajukan surat permohonan berhenti secaratertulis kepada Pejabat Pembina Kepegawaian.F O R M A S I
    • 246Calon Pegawai Negeri Sipil diberhentikan tidak denganhormat, apabila :a. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat :b. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpamengajukan surat permohonan berhenti secara tertuliskepada Pejabat Pembina Kepegawian.Pasal IICukup jelasTAMBAHAN LEMBARAN NEGERA REPUBLIK INDONESIANOMOR 4192F O R M A S I
    • 247PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 97 TAHUN 2000TENTANGFORMASI PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : bahwa untuk meningkatkan daya guna dan hasilguna Pegawai Negeri Sipil sesuai denganperkembangan keadaan dan kebutuhan organisasiNegara, dipandang perlu mengatur kembaliketentuan mengenai formasi Pegawai Negeri Sipildalam Peraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok- pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041) sebagaimana telah diubahdengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890);3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3839);4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentangPerimbangan Keuangan Antara PemerintahPusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3848);PRESIDENREPUBLIK INDONESIAF O R M A S I
    • 2485. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan,dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 193,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4014);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGFORMASI PEGAWAI NEGERI SIPIL.Pasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Formasi Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut denganformasi adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai NegeriSipil yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi Negarauntuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktutertentu.2. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat adalah Menteri, JaksaAgung, Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer,Sekretaris Presiden, Sekretaris Wakil Presiden, Pimpinan LembagaPemerintah Non Departemen, Kepala Kepolisian Negara danPimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.3. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi adalah Gubernur.4. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota adalahBupati/Walikota.Pasal 2Formasi Pegawai Negeri Sipil terdiri dari :a. Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat;b. Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah.F O R M A S I
    • 249Pasal 3(1) Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat untuk masing-masing satuanorganisasi Pemerintah Pusat setiap tahun anggaran ditetapkanoleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaanaparatur negara, setelah mendapat pertimbangan Kepala BadanKepegawaian Negara berdasarkan usul dari Pejabat PembinaKepegawaian Pusat.(2) Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah untuk masing-masingsatuan organisasi Pemerintah Daerah setiap tahun anggaranditetapkan oleh Kepala Daerah.Pasal 4(1) Formasi masing-masing satuan organisasi Negara disusunberdasarkan analisis kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuaidengan jabatan yang tersedia, dengan memperhatikan norma,standar, dan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah.(2) Analisis kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)dilakukan berdasarkan :a. jenis pekerjaan;b. sifat pekerjaan;c. analisis beban kerja dan perkiraan kapasitas seorang PegawaiNegeri Sipil dalam jangka waktu tertentu;d. prinsip pelaksanaan pekerjaan; dane. peralatan yang tersedia.Pasal 5Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjutoleh Kepala Badan Kepegawaian Negara.Pasal 6Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka PeraturanPemerintah Nomor 5 Tahun 1976 tentang Formasi Pegawai NegeriSipil dan semua ketentuan yang bertentangan dengan PeraturanPemerintah ini dinyatakan tidak berlaku.F O R M A S I
    • 250Pasal 7Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttd,ABDURRAHMAN WAHIDDiundangkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIAttdDJOHAN EFFENDILEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000NOMOR 194F O R M A S I
    • 251PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 54 TAHUN 2003TENTANGPERUBAHAN ATASPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 97 TAHUN 2000TENTANG FORMASI PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : bahwa dalam rangka perencanaan kepegawaiansecara nasional serta terpenuhinya jumlah danmutu Pegawai Negeri Sipil pada satuan organisasinegara, dipandang perlu mengubah PeraturanPemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang FormasiPegawai Negeri Sipil, dengan Peraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041), sebagaimana telahdiubah dengan Undang-undang Nomor 43Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999Nomor 169, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3890);3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran NegaraTahun 1999 Nomor 60, Tambahan LembaranNegara Nomor 3839);4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentangPerimbangan Keuangan Antara PemerintahPusat dan Daerah (Lembaran Negara TahunPRESIDENREPUBLIK INDONESIAF O R M A S I
    • 2521999 Nomor 72, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3848);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (LembaranNegara Tahun 2000 Nomor 194, TambahanLembaran Negara Nomor 4015);7. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan,dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 15,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4263);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 97 TAHUN 2000 TENTANG FORMASIPEGAWAI NEGERI SIPIL.Pasal IBeberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil diubah, sebagai berikut :1. Ketentuan Pasal 1 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :Pasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Formasi Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut denganformasi adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai NegeriSipil yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi negarauntuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangkawaktu tertentu.F O R M A S I
    • 2532. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat adalah Menteri, JaksaAgung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Kepresidenan,Kepala Kepolisian Negara, Pimpinan Lembaga PemerintahNon Departemen, Pimpinan Kesekretariatan LembagaTertinggi/Tinggi Negara, Kepala Pelaksana Harian BadanNarkotika Nasional serta Pimpinan Kesekretariatan Lembagalain yang dipimpin oleh pejabat struktural eselon I dan bukanmerupakan bagian dari Departemen/Lembaga PemerintahNon Departemen.3. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi adalahGubernur.4. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotaadalah Bupati/Walikota.2. Ketentuan Pasal 2 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :Pasal 2(1)Formasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional setiap tahunanggaran ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawabdi bidang pendayagunaan aparatur negara, setelahmemperhatikan pendapat Menteri Keuangan danpertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.(2) Formasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional terdiri dari :a. Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat.b. Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah.3. Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :Pasal 3(1) Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat untuk masing-masingsatuan organisasi Pemerintah Pusat setiap tahun anggaranditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidangpendayagunaan aparatur negara setelah mendapatpertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara.F O R M A S I
    • 254(2) Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah untuk masing-masingsatuan organisasi Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota setiap tahun anggaran ditetapkan oleh Kepala Daerahmasing-masing setelah mendapat persetujuan tertulis dariMenteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaanaparatur negara, berdasarkan pertimbangan dari KepalaBadan Kepegawaian Negara.(3) Penetapan dan persetujuan formasi Pegawai Negeri SipilPusat dan formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilakukan berdasarkanusul dari :a. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat; danb. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah yangdikoordinasikan oleh Gubernur.Pasal IIPeraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 3 Nopember 2003PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdMEGAWATI SOEKARNOPUTRIDiundangkan di Jakartapada tanggal 3 Nopember 2003SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdBAMBANG KESOWOLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2003NOMOR 122F O R M A S I
    • 255P E N J E L A S A NA T A SPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 54 TAHUN 2003TENTANGPERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 97 TAHUN 2000TENTANG FORMASI PEGAWAI NEGERI SIPILI. UMUMSesuai dengan ketentuan Pasal 15 Undang-undang Nomor 8Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimanatelah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999,disebutkan bahwa jumlah dan susunan pangkat Pegawai NegeriSipil yang diperlukan ditetapkan dalam formasi untuk jangkawaktu tertentu berdasarkan jenis, sifat, dan beban kerja yangharus dilaksanakan.Sejalan dengan hal tersebut dan dalam rangka perencanaankepegawaian secara nasional serta terpenuhinya jumlah danmutu Pegawai Negeri Sipil pada satuan organisasi Negara, sesuaidengan jenis, sifat, dan beban kerja yang harus dilaksanakan,maka formasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional ditetapkansetiap tahun anggaran. Selanjutnya, berdasarkan formasiPegawai Negeri Sipil secara nasional tersebut ditetapkan formasiPegawai Negeri Sipil untuk masing-masing satuan organisasiPemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan.Penetapan dan persetujuan penetapan Formasi Pegawai NegeriSipil Pusat dan Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah dalam satukesatuan Formasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional tersebutdidasarkan atas usul Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat,Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi, dan PejabatPembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota.Dalam Peraturan Pemerintah ini, Pejabat Pembina Kepegawaiandi lingkungan Kesekretariatan Lembaga Kepresidenan sesuaidengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentangWewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan PemberhentianPegawai Negeri Sipil adalah Sekretaris Negara. Pada saat ini,F O R M A S I
    • 256Kesekretariatan Lembaga Kepresidenan dimaksud adalahSekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Presiden,Sekretariat Militer, dan Sekretariat Wakil Presiden. SedangkanPejabat Pembina Kepegawaian untuk Kesekretariatan Lembagalain yang dipimpin oleh Pejabat Struktural Eselon I dan bukanmerupakan bagian dari Departemen/Lembaga Pemerintah NonDepartemen sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan,dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil adalah Pimpinan LembagaKesekretariatan dimaksud, misalnya Sekretariat Jenderal KomisiNasional Hak Asasi Manusia, Pejabat Pembina Kepegawaiannyaadalah Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.II. PASAL DEMI PASALPasal IPasal 1Cukup jelasPasal 2Ayat (1)Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan FormasiPegawai Negeri Sipil secara nasional adalah jumlah dansusunan pangkat Pegawai Negeri Sipil secara nasionalyang diperlukan untuk menyelenggarakan tugas-tugaspemerintahan dan pembangunan dalam satu tahunanggaran yang penetapannya dilakukan denganmemperhatikan kemampuan anggaran yang tersedia.Ayat (2)Cukup jelasPasal 3Ayat (1)Khusus untuk penetapan formasi Pegawai Negeri Sipildi luar negeri, juga memperhatikan pertimbanganMenteri Luar Negeri.F O R M A S I
    • 257Ayat (2)Formasi untuk suatu satuan organisasi PemerintahDaerah bagi :a. Propinsi ditetapkan oleh Gubernur;b. Kabupaten ditetapkan oleh Bupati; danc. Kota ditetapkan oleh Walikota.Ayat (3)Usul pengajuan formasi Pegawai Negeri Sipil Pusatdisampaikan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Pusatyang bersangkutan kepada Menteri yangbertanggung jawab di bidang pendayagunaanaparatur negara dan Kepala Badan KepegawaianNegara.Usul pengajuan Formasi Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Kesekretariatan Lembaga Kepresidenandisampaikan oleh Sekretaris Negara kepada Menteriyang bertanggung jawab di bidang pendayagunaanaparatur negara dan Kepala Badan KepegawaianNegara.Usul pengajuan formasi Pegawai Negeri Sipil DaerahPropinsi disampaikan oleh Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Propinsi yang bersangkutankepada Menteri yang bertanggung jawab di bidangpendayagunaan aparatur negara dan Kepala BadanKepegawaian Negara.Usul pengajuan formasi Pegawai Negeri Sipil DaerahKabupaten/Kota disampaikan oleh Pejabat PembinaKepegawaian Daerah Kabupaten/Kota yangbersangkutan kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara danKepala Badan Kepegawaian Negara melalui Gubernurselaku wakil Pemerintah.Gubernur dalam mengajukan usul formasi PegawaiNegeri Sipil Daerah dibuat secara kolektif denganmerinci jumlah formasi yang dibutuhkan olehPemerintah Daerah Propinsi dan masing-masingPemerintah Daerah Kabupaten/Kota di lingkunganPropinsi yang bersangkutan sesuai dengan yangF O R M A S I
    • 258diusulkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian DaerahKabupaten/Kota. Dengan demikian, Gubernur tidakdapat mengubah jumlah usul formasi yang diajukanoleh Pejabat Pembina Kepegawaian DaerahKabupaten/Kota.Pasal IICukup jelasTAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIANOMOR 4332F O R M A S I
    • 259IVPENGANGKATAN
    • 260
    • 261PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 100 TAHUN 2000TENTANGPENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAMJABATAN STRUKTURALPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pasal 17 ayat (1)Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentangPerubahan Atas Undang-undang Nomor 8Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian,Pegawai Negeri Sipil diangkat dalam jabatantertentu;b. bahwa dalam rangka perencanaan,pengembangan dan pembinaan karir sertapeningkatan mutu kepemimpinan dalamjabatan struktural, dipandang perlu mengaturkembali ketentuan tentang pengangkatanPegawai Negeri Sipil dalam jabatan strukturaldalam Peraturan Pemerintah.Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041) sebagaimana telah diubahdengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890);3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangPemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran NegaraNomor 3839);PRESIDENREPUBLIK INDONESIAPENGANGKATAN
    • 2624. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentangPenyelenggaraan Negara Yang Bersih danBebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Sebagai Daerah Otonomi(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165);7. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000tentang Kewenangan Pengangkatan,Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai NegeriSipil (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 193,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4014);8. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 196,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4017).MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILDALAM JABATAN STRUKTURALBAB IKETENTUAN UMUMPasal 11. Pegawai Negeri Sipil adalah Pegawai Negeri Sipil sebagaimanadimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah denganUndang-undang Nomor 43 Tahun 1999.PENGANGKATAN
    • 2632. Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkantugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang PegawaiNegeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasinegara.3. Eselon adalah tingkatan jabatan struktural.4. Pimpinan Instansi adalah Menteri, Jaksa Agung, SekretarisNegara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer, Sekretaris Presiden,Sekretaris Wakil Presiden, Kepala Kepolisian Negara, PimpinanLembaga Pemerintah Non Departemen, Pimpinan KesekretariatanLembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Gubernur dan Bupati/Walikota.5. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat adalah Menteri, JaksaAgung, Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer,Sekretaris Presiden, Sekretaris Wakil Presiden, Kepala KepolisianNegara, Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen,Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.6. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi adalah Gubernur.7. Pejabat Pembina Kepegawaian Kabupaten/Kota adalah Bupati/Walikota.8. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang berwenangmengnagkat, memindahkan dan/atau memberhentikan PegawaiNegeri Sipil dalam dan dari jabatan struktural sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.9. Pola karier adalah pola pembinaan Pegawai Negeri Sipil yangmenggambarkan alur pengembangan karier yang menunjukkanketerkaitan dan keserasian antara jabatan, pangkat, pendidikandan pelatihan jabatan, kompetensi serta masa jabatanseseorang Pegawai Negeri Sipil sejak pengangkatan pertamadalam jabatan tertentu sampai dengan pensiun.BAB IIJABATAN STRUKTURAL DAN ESELONPasal 2(1) Jabatan Struktural Eselon I pada Instansi Pusat ditetapkan olehPresiden atas usul Pimpinan Instansi setelah mendapatpertimbangan tertulis dari Menteri yang bertanggungjawab dibidang pendayagunaan aparatur negara.PENGANGKATAN
    • 264(2) Jabatan Struktural Eselon II ke bawah pada Instansi Pusatditetapkan oleh Pimpinan Instansi setelah mendapat pertimbangantertulis dari Menteri yang bertanggungjawab di bidangpendayagunaan aparatur negara.(3) Jabatan Struktural Eselon I ke bawah di Propinsi dan JabatanStruktural Eselon II ke bawah di Kabupaten/Kota ditetapkansesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yangberlaku.Pasal 3(1) Eselon tertinggi sampai dengan eselon terendah dan jenjangpangkat untuk setiap eselon adalah sebagaimana tersebut dalamLampiran Peraturan Pemerintah ini.(2) Penetapan eselon sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),ditetapkan berdasarkan penilaian atas bobot tugas, tanggungjawab dan wewenang.BAB IIIPENGANGKATAN, PEMINDAHAN DAN PEMBERHENTIANDALAM DAN DARI JABATAN STRUKTURALPasal 4(1) Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai NegeriSipil dalam dan dari jabatan struktural ditetapkan dengankeputusan pejabat yang berwenang.(2) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan struktural,wajib dilantik dan mengucapkan sumpah di hadapan pejabatyang berwenang.Pasal 5Persyaratan untuk dapat diangkat dalam jabatan struktural adalah :a. berstatus Pegawai Negeri Sipil;c. memiliki kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan;d. semua unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilaibaik dalam 2 (dua) tahun terakhir;e. memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan; danf. sehat jasmani dan rohani.PENGANGKATAN
    • 265Pasal 6Di samping persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, PejabatPembina Kepegawaian Pusat dan Pejabat Pembina KepegawaianDaerah perlu memperhatikan faktor senioritas dalam kepangkatan,usia, pendidikan dan pelatihan jabatan dan pengalaman yang dimiliki.Pasal 7Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan struktural belummengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sesuaidengan tingkat jabatan struktural, wajib mengikuti dan lulus pendidikandan pelatihan kepemimpinan selambat-lambatnya 12 (dua belas)bulan sejak yang bersangkutan dilantik.Pasal 8Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural tidak dapatmenduduki jabatan rangkap, baik dengan jabatan struktural maupunjabatan fungsional.Pasal 9(1) Untuk kepentingan dinas dan dalam rangka memperluaspengalaman, kemampuan dan memperkokoh persatuan dankesatuan bangsa, diselenggarakan perpindahan tugas dan/atauperpindahan wilayah kerja.(2) Secara normal perpindahan tugas dan/atau perpindahan wilayahkerja dapat dilakukan dalam waktu antara 2 (dua) sampai 5(lima) tahun sejak seseorang diangkat dalam jabatan struktural.(3) Biaya pindah dan penyediaan perumahan sebagai akibatperpindahan wilayah kerja, dibebankan kepada negara sesuaidengan ketentuan yang berlaku.Pasal 10Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dari jabatan struktural karena :a. mengundurkan diri dari jabatan yang didudukinya;b. mencapai batas usia pensiun;c. diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil;d. diangkat dalam jabatan struktural lain atau jabatan fungsional;PENGANGKATAN
    • 266e. cuti di luar tanggungan negara, kecuali cuti di luar tanggungannegara karena persalinan;f. tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan;g. adanya perampingan organisasi pemerintah;h. tidak memenuhi persyaratan kesehatan jasmani dan rohani; ataui. hal-hal lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 11Ketentuan penilaian mengenai pengangkatan, pemindahan danpemberhentian dalam dan dari jabatan struktural diatur lebih lanjutdengan Keputusan Presiden.BAB IVPOLA KARIER PEGAWAI NEGERI SIPILPasal 12(1) Untuk menjamin kepastian arah pengembangan karier,ditetapkan pada dasar karier dengan Keputusan Presiden.(2) Setiap pimpinan instansi menetapkan pola karier Pegawai NegeriSipil di lingkungannya berdasarkan pola dasar karier PegawaiNegeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).BAB VPENILAIAN DAN PERTIMBANGAN PENGANGKATANDALAM JABATANPasal 13Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dalam dan dariJabatan Struktural Eselon I pada Instansi Pusat ditetapkan olehPresiden atas usul Pimpinan Instansi dan setelah mendapatpertimbangan tertulis dari Komisi Kepegawaian Negara.Pasal 14(1) Untuk menjamin kualitas dan obyektivitas dalam pengangkatan,pemindahan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dalam danPENGANGKATAN
    • 267dari Jabatan Struktural Eselon II ke bawah di setiap instansidibentuk Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan,selanjutnya disebut Baperjakat.(2) Baperjakat terdiri dari :a. Baperjakat Instansi Pusat;b. Baperjakat Instansi Daerah Propinsi;c. Baperjakat Instansi Daerah Kabupaten/Kota.(3) Pembentukan Baperjakat sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) ditetapkan oleh :a. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat untuk Instansi Pusat;b. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi untuk InstansiDaerah Propinsi;c. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kotauntuk Instansi Daerah Kabupaten/Kota.(4) Tugas pokok Baperjakat Instansi Pusat dan Baperjakat Instansidaerah Propinsi/Kabupaten/Kota memberikan pertimbangankepada Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat dan PejabatPembina Kepegawaian Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dalampengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dalam dan darijabatan struktural Eselon II ke bawah.(5) Disamping tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (4),Baperjakat bertugas pula memberikan pertimbangan kepadapejabat yang berwenang dalam pemberian kenaikan pangkatbagi yang menduduki jabatan struktural, menunjukkan prestasikerja luar biasa baiknya, menemukan penemuan baru yangbermanfaat bagi negara dan pertimbangan perpanjangan batasusia pensiun Pegawai Negeri Sipil yang menduduki JabatanStruktural Eselon I dan Eselon II.Pasal 15(1) Susunan keanggotaan Baperjakat terdiri dari :a. seorang Ketua, merangkap Anggota;b. paling banyak 6 (enam) orang anggota; danc. seorang Sekretaris.(2) Untuk menjamin obyektivitas dan kepastian dalam pengambilankeputusan, anggota Baperjakat ditetapkan dalam jumlah ganjil.PENGANGKATAN
    • 268Pasal 16(1) Ketua dan Sekretaris Baperjakat Instansi Pusat adalah PejabatEselon I dan Pejabat Eselon II yang secara fungsionalbertanggung jawab di bidang kepegawaian dengan anggotaPejabat Eselon I lainnya.(2) Bagi Instansi Pusat yang hanya terdapat 1 (satu) Pejabat EselonI, Ketua dan Sekretaris Baperjakat adalah Pejabat Eselon II danPejabat Eselon III yang secara fungsional bertanggung jawab dibidang kepegawaian dengan anggota Pejabat Eselon II lainnya.(3) Ketua Baperjakat Instansi Daerah Propinsi adalah SekretarisDaerah Propinsi, dengan anggota para Pejabat Eselon II danSekretaris secara fungsional dijabat oleh pejabat yangbertanggung jawab di bidang kepegawaian.(4) Ketua Baperjakat Instansi Daerah Kabupaten/Kota adalahSekretaris Daerah Kabupaten/Kota, dengan anggota paraPejabat Eselon III dan Sekretaris secara fungsional dijabat olehpejabat yang bertanggungjawab di bidang kepegawaian.(5) Masa keanggotaan Baperjakat adalah paling lama 3 (tiga) tahundan dapat diangkat kembali untuk masa keanggotaan berikutnya.BAB VITUNJANGAN JABATAN STRUKTURALPasal 17(1) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan struktural,diberikan tunjangan jabatan struktural.(2) Tunjangan jabatan struktural sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) diberikan sejak pelantikan.(3) Tunjangan jabatan struktural ditetapkan dengan KeputusanPresiden.BAB VIIKETENTUAN LAIN-LAINPasal 18(1) Untuk pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara nasional BadanKepegawaian Negara menyusun informasi jabatan struktural.PENGANGKATAN
    • 269(2) Informasi jabatan struktural sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) memuat formasi jabatan, lowongan jabatan dan spesifikasijabatan struktural.BAB VIIIKETENTUAN PERALIHANPasal 19Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan struktural sebelumberlakunya Peraturan Pemerintah ini, apabila belum mengikuti danlulus pendidikan dan pelatihan jabatan yang ditentukan, selambat-lambatnya 12 (dua belas) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku,harus mengikuti pendidikan dan pelatihan jabatan yang ditentukan.Pasal 20(1) Jabatan struktural Eselon V yang masih ada pada saatditetapkannya Peraturan Pemerintah ini masih tetap berlakusepanjang belum diubah/diganti dengan ketentuan yang baru.(2) Perubahan/penggantian Jabatan Struktural Eselon Vsebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan palinglambat sampai dengan akhir bulan Desember 2001.Pasal 21Sebelum Komisi Kepegawaian Negara dibentuk, pertimbanganpengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipildalam dan dari jabatan struktural Eselon I dilakukan berdasarkanketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB IXKETENTUAN PENUTUPPasal 22Ketentuan teknis pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebihlanjut oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara.PENGANGKATAN
    • 270Pasal 23Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka PeraturanPemerintah Nomor 15 Tahun 1994 tentang Pengangkatan PegawaiNegeri Sipil Dalam Jabatan Struktural (Lembaran Negara Tahun 1994Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3546), sebagaimanatelah dua kali diubah, terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor67 Tahun 1998 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 124,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3775), dinyatakan tidak berlaku.Pasal 24Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000PRESIDEN REPUBLIK INDONESIAttdABDURRAHMAN WAHIDDiundangkan di Jakartapada tanggal 10 Nopember 2000SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIA,ttdDJOHAN EFFENDILEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 OMOR 197Salinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIS KABINET RIKepala Biro Peraturan Perundang-undangan IIttdEdy SudibyoPENGANGKATAN
    • 271LAMPIRANPERATURANPEMERINTAHREPUBLIKINDONESIANOMOR : 100 Tahun 2000Tanggal : 10 Nopember 2000ESELONDANJENJANGPANGKATJABATANSTRUKTURALPRESIDENREPUBLIKINDONESIAttdABDURRAHMANWAHIDSalinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIATKABINETRIKepala Biro PeraturanPerundang-undangan IIttdEdy SudibyoJenjang Pangkat, Golongan / RuangTertinggiEselonPangkat Gol / Ruang Pangkat Gol / RuangI a Pembina Utama Madya IV / d Pembina Utama IV / eI b Pembina Utama Muda IV / c Pembina Utama IV / eII a Pembina Utama Muda IV / c Pembina Utama Madya IV / dII b Pembina Tingkat I IV / b Pembina Utama Muda IV / cIII a Pembina IV / a Pembina Tingkat I IV / bIII b Penata Tingkat I III / d Pembina IV / aIV a Penata III / c Penata Tingkat I III / dIV b Penata Muda Tingkat I III / b Penata III / cPENGANGKATAN
    • 272PENJELASANATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 100 TAHUN 2000TENTANGPENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAMJABATAN STRUKTURALI. UMUMDalam era globalisasi yang sarat dengan tantangan, persaingandan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta untukmencapai efektifitas dan efisiensi dalam penyelenggaraan tugaspemerintahan, tidak ada alternatif lain kecuali peningkatan kualitasprofesionalisme Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keunggulankompetitif dan memegang teguh etika birokrasi dalammemberikan pelayanan yang sesuai dengan tingkat kepuasandan keinginan masyarakat.Untuk menciptakan sosok Pegawai Negeri Sipil sebagaimanasimaksud di atas, maka dipandang perlu menetapkan kembalinorma pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatanstruktural secara sistematik dan terukur mampu menampilkansosok pejabat struktural yang profesional sekaligus berfungsisebagai pemersatu serta perekat Negara Kesatuan RepublikIndonesia dengan tetap memperhatikan perkembangan danintensitas tuntutan keterbukaan, demokratisasi, perlindunganhak asasi manusia dan lingkungan hidup.Untuk mencapai obyektivitas dan keadilan dalam pengangkatan,pemindahan dan pemberhentian dalam dan dari jabatanstruktural, ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini jugamenerapkan nilai-nilai impersonal, keterbukaan dan penetapanpersyaratan jabatan yang terukur bagi Pegawai Negeri Sipil.II. PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelasPENGANGKATAN
    • 273Pasal 2Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelasPasal 3Ayat (1)Penetapan jenjang pangkat untuk masing-masingeselon adalah merupakan tindak lanjut dari prinsippembinaan karier dalam jabatan struktural, yaituPegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatanstruktural pangkatnya harus sesuai dengan pangkatyang ditentukan untuk jabatannya.Ayat (2)Yang dimaksud dengan :- Bobot tugas adalah nilai suatu tugas yang antaralain ditentukan atas dasar berat ringannya bebantugas, luasnya lingkup tugas, tanggung jawab,wewenang dan dampak yang ditimbulkan.- Tanggung jawab adalah kesanggupan seorangPegawai Negeri Sipil untuk menyelesaikan pekerjaanyang diserahkan kepadanya dan tepat padawaktunya serta berani menanggung resiko ataskeputusan yang diambilnya atau tindakan yangdilakukannya.- Wewenang adalah keabsahan tindakan yang dimilikioleh Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatanstruktural agar dapat menentukan tata cara dantindakan yang perlu diambil dalam melaksanakandan menyelesaikan tugas pekerjaannya.Pasal 4Ayat (1)Cukup jelasPENGANGKATAN
    • 274Ayat (2)Pelantikan Pegawai Negeri Sipil yang telah diangkatdalam jabatan struktural dilakukan selambat-lambatnya30 (tiga puluh) hari sejak penetapanpengangkatannnya.Pasal 5Huruf aCalon Pegawai Negeri Sipil tidak dapat diangkat dalamjabatan struktural karena Calon Pegawai Negeri Sipiltersebut masih dalam masa percobaan dan kepadanyabelum diberikan pangkat, sedangkan untuk mendudukijabatan struktural antara lain disyaratkan pangkat sesuaidengan sebelumnya.Huruf bCukup jelasHuruf cCukup jelasHuruf dCukup jelasHuruf eKompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yangdimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupapengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yangdiperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.Huruf fCukup jelasPasal 6Cukup jelasPasal 7Cukup jelasPENGANGKATAN
    • 275Pasal 8Untuk optimalisasi kinerja, disiplin dan akuntabilitas pejabatstruktural serta menyadari akan keterbatasan kemampuanmanusia, sudah selayaknya dilarang adanya rangkapanjabatan, baik antara jabatan struktural dengan jabatanstruktural atau antara jabatan struktural dengan jabatanfungsional.Pasal 9Ayat (1)Perpindahan wilayah kerja dalam ketentuan inidimungkinkan untuk perpindahan wilayah kerja pejabatstruktural Eselon III ke atas, yaitu perpindahan antaraKabupaten/Kota, perpindahan dari Kabupaten Kota kePropinsi, atau sebaliknya, perpindahan dari Kabupaten/Kota/Propinsi ke Instansi Pusat atau sebaliknya,perpindahan antar Instansi dan lain sebagainya.Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Biaya pindah dan penyediaan perumahan hanyadiberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang dipindahkankarena dinas.Pasal 10Cukup jelasPasal 11Cukup jelasPasal 12Ayat (1)Pola dasar karier adalah pedoman yang memuat teknikdan metode penyusunan pola karier denganmenggunakan unsur-unsur antara lain pendidikanformal, pendidikan dan pelatihan, usia, masa kerja,pangkat, golongan ruang dan tingkat jabatan.PENGANGKATAN
    • 276Ayat (2)Cukup jelasPasal 13Cukup jelasPasal 14Ayat (1) sampai dengan Ayat (4)Cukup jelasAyat (5)Perpanjangan batas usia pensiun dalam ayat inidilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan yang berlaku.Pasal 15Ayat (1) sampai dengan Ayat (2)Cukup jelasPasal 16Ayat (1) sampai dengan Ayat (5)Cukup jelasPasal 17Ayat (1) sampai dengan Ayat (3)Cukup jelasPasal 18Ayat (1) sampai dengan Ayat (2)Cukup jelasPasal 19Cukup jelasPENGANGKATAN
    • 277Pasal 20Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasPasal 21Cukup jelasPasal 22Cukup jelasPasal 23Cukup jelasPasal 24Cukup jelasTAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIANOMOR 4018PENGANGKATAN
    • 278PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 13 TAHUN 2002TENTANGPERUBAHAN ATASPERATURAN PEMERINTAH NOMOR 100 TAHUN 2000TENTANG PENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILDALAM JABATAN STRUKTURALPRESIDEN REPUBLIK INDONESIAMenimbang : bahwa dalam rangka pengembangan danpembinaan karier Pegawai Negeri Sipil, dipandangperlu mengubah Peraturan Pemerintah Nomor100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan PegawaiNegari Sipil Dalam Jabatan Struktural denganPeraturan Pemerintah.Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang–Undang Dasar 1945.2. Undang–undang Nomor 8 Tahun 1974 Nomor55, Tambahan Lembaran Negara Nomor3041, sebagaimana telah diubah denganUndang–undang Nomor 43 Tahun 1999lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890.3. Undang–undang Nomor 22 Tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah (lembaranNegara Tahun 1999 Nomor 60, TambahanLembaran negara Nomor 3839);4. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999tentang Penyelenggaraan Negara Yang BersihPRESIDENREPUBLIK INDONESIAPENGANGKATAN
    • 279dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000tentang Kewenangan Pemerintah danKewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom(Lebaran Negara tahun 2000 Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);6. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000tentang Pedoman Organisasi PerangkatDaerah (Lembaran Negara Tahun 2000Nomor 165);7. Peraturan pemerintah Nomor 96 Tahun 2000tentang Wewenang Pengangkatan,Pemindahan, dan Pemberhentian PegawaiNegeri Sipil (Lembaran Negara tahun 2000Nomor 193, Tambahan Lembaran Negera4014);8. Peraturan Pemerintah Nomor 99 tahun 2000tentang Kenaikan Pangkat Pegawai negeri Sipil(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 196,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4017)sebagaimana telah diubah dengan PeraturanPemerintah Nomor 12 tahun 2002 (lembaranNegara Tahun 2002 Nomor 32, tambahanlembaran Negara Nomor 4193);9. Peraturan Pemerintah Nomor 100 tahun 2000tentang Pengangkatan Pegawai Negeri SipilDalam Jabatan Struktural (lembaran NegaraTahun 2000 Nomor 197, tambahan LembaranNegara Nomor 4018);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAHNOMOR 100 TAHUN 2000 TENTANGPENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPILDALAM JABATAN STRUKTURAL.PENGANGKATAN
    • 280Pasal 1beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam JabatanStruktural diubah sebagai berikut :1. Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :Pasal 3(1) Eselon tertinggi sampai dengan eselon terendah dan jenjangpangkat untuk setiap eselon adalah sebagaimana tersebutdalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini.(2) Penetapan eselon sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),ditetapkan berdasarkan penilaian atas bobot tugas, tanggungjawab, dan wewenang.(3) Penempatan eselon V dilakukan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang–undangan yang berlaku.(4) Penetapan eselon V sebagaimana dimaksud dalam ayat(3) dilaksanakan dengan memperhatikan :a. kebutuhan, organisasi;b. rentang kendali;c. kondisi, geografis;d. karakteristik tugas pokok dan fungsi jabatan yangberhubungan langsung dengan pelayanan kepadamasyarakat;(5) Ketentuan Pasal 16 diubah, sehingga seluruhnya menjadiberbunyi sebagai berikut :Pasal 16(1) Ketua dan Sekretaris Baperjakat Instansi Pusat adalahpejabat eselon I dan pejabat eselon II yang secara fungsionalbertanggung jawab di bidang kepegawaian dengan anggotapejabat eselon I lainnya.(2) Bagi instansi Pusat yang hanya terdapat 1 (satu) pejabateselon I, Ketua dan Sekretaris Baperjakat adalah pejabateselon II dan pejabat eselon III yang secara fungsionalbertanggung jawab di bidang kepegawaian dengan anggotapejabat eselon II.PENGANGKATAN
    • 281(3) Ketua Baperjakat Instansi Daerah Propinsi adalah SekretarisDaerah Propinsi dengan anggota para pejabat eselon II danSekretaris dijabat oleh pejabat eselon II yang membidangikepegawaian.(4) Ketua Baperjakat Instansi Daerah Kabupaten Kota adalahSekretaris Daerah Kabupaten Kota dengan anggota parapejabat eselon II, dan Sekretaris dijabat oleh pejabat eselonIII yang membidangi kepegawaian(5) Masa keanggotaan Baperjakat adalah paling lama 3 (tiga)tahun, dan dapat diangkat kembali untuk masa keanggotaanberikutnya.2. Ketentuan Pasal 7 diubah, sehingga seluruhnya menjadi berbunyisebagai berikut :Pasal 7(1) Pegawai Negeri Sipil yang akan atau telah menduduki jabatanstruktural harus mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihankepemimpinan sesuai dengan kompetensi yang ditetapkanuntuk jabatan tersebut.(2) Pegawai Negeri Sipil yang telah memenuhi persyaratankompetensi jabatan struktural tertentu, dapat diberikansertifikat sesuatu dengan pedoman yang ditetapkan olehinstansi pembina dan instansi pengendali serta dianggap telahmengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan kepemimpinanyang dipersyaratkan dan pelatihan kepemimpinan yangdipersyaratkan untuk jabatan tersebut :3. Diantara Pasal 7 dan Pasal 8, disisipkan 1 (satu) Pasal hurufyaitu Pasal 7 A, yang berbunyi sebagai berikut :Pasal 7APengawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural dapatdiangkat dalam jabatan struktural setingkat lebih tinggi apabilayang bersangkutan sekurang–kurangnya telah 2 (dua) tahundalam jabatan struktural yang pernah dan atau masihdidudukinya kecuali pengangkatan dalam jabatan struktural yangmenjadi wewenang Presiden.PENGANGKATAN
    • 282Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkanpengundangan Peraturan pemerintah ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negera Republik Indonesia.Pasal 11Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 17 April 2002PERESIDEN REPUBLIK INDONESIAttdMEGAWATI SOEKARNOPUTRIDiundangkan di JakartaPada tanggal 17 April 2002SEKRETARIAT NEGARA,REPUBLIK INDONESIA,ttdBAMBANG KESOWOLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002NOMOR AASalinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIAT KABINET RIKepala Biro PeraturanUndang – Undang IIttdEdy SudibyoPENGANGKATAN
    • 283LAMPIRANPERATURAN PEMERINTAHREPUBLIKINDONESIANOMOR : 13 tahun 2002TANGGAL : 17 April 2002PRESIDENREPUBLIKINDONESIAttdMEGAWATISOEKARNOPUTRISalinan sesuai dengan aslinyaSEKRETARIATKABINETRIKepala Biro PeraturanPerundang–undangan IIttdEdy SudibyoJenjang Pangkat, Golongan/RuangTerendah TertinggiNo EselonPangkatGol/RuangPangkatGol/Ruang1 Ia Pembina Utama Madya IV/d Pembina Utama IV/a2 Ib Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama IV/a3 IIa Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama Madya IV/d4 IIb Pembina Tingkat I IV/b Pembina Utama Muda IV/c5 IIIa Pembina IV/a Pembina Tingkat I IV/b6 IIIb Penata Tingkat I III/d Pembina IV/a7 IVa Penata III/c Penata Tingkat I IV/d8 IVb Penata Muda Tingkat I III/b Penata IV/c9 Va Penata Muda III/a Penata Muda Tingkat I IV/bPENGANGKATAN
    • 284PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 48 TAHUN 2005TENTANGPENGANGKATAN TENAGA HONORERMENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPILDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pelaksanaan sebagiantugas-tugas pemerintahan dan pembangunan,terdapat pejabat instansi pemerintahmengangkat tenaga tertentu sebagai tenagahonorer;b. bahwa tenaga honorer yang telah lama bekerjadan atau tenaganya sangat dibutuhkan olehPemerintah dan memenuhi syarat yangditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini, dapatdiangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil;c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut hurufa dan b, dipandang perlu mengatur ketentuanmengenai pengangkatan tenaga honorermenjadi Calon Pegawai Negeri Sipil denganPeraturan Pemerintah;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945;2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55,PRESIDENREPUBLIK INDONESIAPENGANGKATAN
    • 285Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3041), sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang Nomor 43 Tahun 1999(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 3890);3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4437), sebagaimana telah diubah denganPeraturan Pemerintah Pengganti Undang-UndangNomor 3 Tahun 2005;4. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor194, Tambahan Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4015), sebagaimana telahdiubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54Tahun 2003 (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2003 Nomor 122, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor4332);5. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4016), sebagaimanatelah diubah dengan Peraturan PemerintahNomor 11 Tahun 2002 (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31,Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4192);6. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan,dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4263);PENGANGKATAN
    • 286MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPENGANGKATAN TENAGA HONORERMENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL.Pasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :1. Tenaga honorer adalah seseorang yang diangkat oleh PejabatPembina Kepegawaian atau pejabat lain dalam pemerintahanuntuk melaksanakan tugas tertentu pada instansi pemerintahatau yang penghasilannya menjadi beban Anggaran Pendapatandan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah.2. Pejabat Pembina Kepegawaian adalah pejabat yang berwenangmengangkat, memindahkan, dan memberhentikan PegawaiNegeri Sipil di lingkungannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.3. Instansi adalah instansi pemerintah pusat dan instansi pemerintahdaerah provinsi dan kabupaten/kota.Pasal 2Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipilberdasarkan Peraturan Pemerintah ini, dimaksudkan untukmemenuhi kebutuhan tenaga tertentu pada instansi pemerintah.Pasal 3(1) Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai NegeriSipil diprioritaskan bagi yang melaksanakan tugas sebagai :a. Tenaga guru;b. Tenaga kesehatan pada unit pelayanan kesehatan;c. Tenaga penyuluh di bidang pertanian, perikanan peternakan;dand. Tenaga teknis lainnya yang sangat dibutuhkan pemerintah.(2) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud pada ayat(1) didasarkan pada usia dan masa kerja sebagai berikut :PENGANGKATAN
    • 287a. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 46 (empat puluhenam) tahun dan mempunyai masa kerja 20 (dua puluh)tahun atau lebih secara terus menerus.b. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 46 (empat puluhenam) tahun dan mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahunatau lebih sampai dengan kurang dari 20 (dua puluh) tahunsecara terus menerus.c. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 40 (empat puluh)tahun dan mempunyai masa kerja 5 (lima) tahun atau lebihsampai dengan kurang dari 10 (sepuluh) tahun secara terusmenerus.d. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 35 (tiga puluhlima) tahun dan mempunyai masa kerja 1 (satu) tahunatau lebih sampai dengan kurang dari 5 (lima) tahun secaraterus menerus.Pasal 4(1) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalamPasal 3 ayat (1) dan ayat (2) huruf a, dilakukan melalui seleksiadministrasi, disiplin, integritas, kesehatan, dan kompetensi.(2) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalamPasal 3 ayat (1) dan ayat (2) huruf b, huruf c, dan huruf d,selain melalui seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),wajib mengisi/menjawab daftar pertanyaan mengenaipengetahuan tata pemerintahan/kepemerintahan yang baik, danpelaksanaannya terpisah dari pelamar umum.(3) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalamPasal 3 pada prinsipnya memprioritaskan tenaga honorer yangberusia paling tinggi dan/atau mempunyai masa kerja lebihbanyak.Pasal 5(1) Tenaga dokter yang telah selesai atau sedang melaksanakantugas sebagai Pegawai Tidak Tetap atau sebagai tenaga honorerpada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah, dapat diangkatmenjadi Calon Pegawai Negeri Sipil setelah melalui seleksisebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), tanpamemperhatikan masa kerja sebagai tenaga honorer, denganketentuan :PENGANGKATAN
    • 288a. usia paling tinggi 46 (empat puluh enam) tahun;b. bersedia bekerja pada unit pelayanan kesehatan di daerahterpencil, sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun.(2) Daerah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)ditetapkan oleh Gubernur/Bupati yang bersangkutan sesuaidengan kriteria yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.Pasal 6(1) Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai NegeriSipil berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dilakukan bertahapmulai Tahun Anggaran 2005 dan paling lambat selesai TahunAnggaran 2009, dengan prioritas tenaga honorer yangpenghasilannya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan BelanjaNegara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.(2) Dalam hal tenaga honorer sebagaimana dimaksud pada ayat(1) seluruhnya telah diangkat menjadi Calon Pegawai NegeriSipil sebelum tahun Anggaran 2009, maka tenaga honorer yangbekerja pada instansi pemerintah dan penghasilannya tidakdibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara danAnggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dapat diangkatmenjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.Pasal 7Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalam Pasal6, dilakukan secara objektif dan transparan.Pasal 8Sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, semua PejabatPembina Kepegawaian dan pejabat lain di lingkungan instansi, dilarangmengangkat tenaga honorer atau yang sejenis, kecuali ditetapkandengan Peraturan Pemerintah.Pasal 9(1) Untuk pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi CalonPegawai Negeri Sipil dibentuk Tim Koordinasi Tingkat Nasionaldan Tim Tingkat Instansi.PENGANGKATAN
    • 289(2) Tim Koordinasi Tingkat Nasional sebagaimana dimaksud padaayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang pendayagunaan aparatur negara.(3) Tim Tingkat Instansi ditetapkan oleh Pejabat PembinaKepegawaian yang bersangkutan.(4) Untuk pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi CalonPegawai Negeri Sipil tingkat instansi daerah Kabupaten/Kotadikoordinasikan oleh Gubernur.Pasal 10(1) Penyiapan materi pertanyaan mengenai pengetahuan tatapemerintahan/kepemerintahan yang baik dibuat oleh TimKoordinasi Tingkat Nasional.(2) Penggandaan materi pertanyaan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dan pengolahan hasil pengisian/jawaban dilakukanoleh :a. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat bagi tenaga honorerpada Instansi Pusat;b. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi bagi tenagahonorer pada Instansi Daerah Provinsi; danc. Gubernur bagi tenaga honorer pada Instansi DaerahKabupaten/Kota di wilayahnya.Pasal 11Biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan pengangkatan tenagahonorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2005sampai dengan Tahun Anggaran 2009 dibebankan pada AnggaranPendapatan dan Belanja Negara.Pasal 12(1) Pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini akan diadakan evaluasisetiap tahun.(2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkankepada Presiden.PENGANGKATAN
    • 290Pasal 13Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjutoleh Kepala Badan Kepegawaian Negara.Pasal 14Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam LembaranNegara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 11 Nopember 2005PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdDR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONODiundangkan di Jakartapada tanggal 11 Nopember 2005MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIAREPUBLIK INDONESIA,ttdHAMID AWALUDINLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005NOMOR 122PENGANGKATAN
    • 291PENJELASANATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 48 TAHUN 2005TENTANGPENGANGKATAN TENAGA HONORERMENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPILI. UMUMUntuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, baikpada pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah,sebagian dilakukan oleh tenaga honorer. Di antara tenaga honorertersebut ada yang telah lama bekerja kepada pemerintah dankeberadaannya sangat dibutuhkan oleh pemerintah.Mengingat masa bekerja mereka sudah lama dankeberadaannya sangat dibutuhkan oleh pemerintah, dalamkenyataannya sebagian tenaga honorer tersebut telah berusialebih dari 35 (tiga puluh lima) tahun dan berdasarkan peraturanperundang-undangan tidak dapat diangkat menjadi Calon PegawaiNegeri Sipil, maka bagi mereka perlu diberikan perlakuan secarakhusus dalam pengangkatan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.Dengan Peraturan Pemerintah ini, bagi tenaga honorer yangberusia paling tinggi 46 (empat puluh enam) tahun dan telahbekerja 20 (dua puluh) tahun atau lebih, dapat diangkat menjadiCalon Pegawai Negeri Sipil, setelah melalui seleksi administratif,disiplin, integritas, kesehatan, dan kompetensi.Selanjutnya bagi tenaga honorer yang telah bekerja kurangdari 20 (dua puluh) tahun, pengangkatannya menjadi CalonPegawai Negeri Sipil selain melalui seleksi administratif, disiplin,integritas, kesehatan, dan kompetensi, mereka juga diwajibkanmengisi/menjawab daftar pertanyaan mengenai pengetahuantata pemerintahan/kepemerintahan yang baik antar sesamatenaga honorer yang pelaksanaannya dilakukan terpisah daripelamar umum yang bukan tenaga honorer, denganpengelompokan sebagai berikut :PENGANGKATAN
    • 292a. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 46 (empat puluhenam) tahun dan bekerja selama 10 (sepuluh) tahun sampaidengan kurang dari 20 (dua puluh) tahun secara terusmenerus;b. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 40 (empat puluh)tahun dan bekerja selama 5 (lima) tahun sampai dengankurang dari 10 (sepuluh) tahun secara terus menerus;c. Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 35 (tiga puluhlima) tahun dan bekerja selama 1 (satu) tahun sampaidengan kurang dari 5 (lima) tahun secara terus menerus.Peraturan Pemerintah ini merupakan pengaturan khusus danmengecualikan beberapa Pasal dalam Peraturan PemerintahNomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipilsebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor11 Tahun 2002.Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai NegeriSipil berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dapat dilakukan apabilatenaga honorer tersebut memenuhi syarat yang ditentukan,baik syarat administratif maupun syarat lain yang ditentukandalam Peraturan Pemerintah ini dan peraturan perundang-undangan lainnya.Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini, ditentukan prioritas jenistenaga honorer yang dapat diangkat menjadi Calon PegawaiNegeri Sipil. Demikian juga urutan prioritas usia dan masa bekerjasebagai tenaga honorer yang akan menjadi pertimbangan dalampengangkatannya menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.Tenaga honorer atau yang sejenis yang dimaksud dalamPeraturan Pemerintah ini termasuk guru bantu, guru honorer,guru wiyata bhakti, pegawai honorer, pegawai kontrak, pegawaitidak tetap, dan lain-lain yang sejenis dengan itu.II. PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelas.Pasal 2Cukup jelas.PENGANGKATAN
    • 293Pasal 3Ayat (1)Tenaga honorer yang ditentukan dalam ayat inimenunjukkan prioritas jenis tenaga honorer yangdapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.Yang dimaksud dengan tenaga teknis lainnya padahuruf d dalam ayat ini adalah tenaga teknis yangbersifat operasional dalam rangka pelaksanaan tugaspokok instansi dan bukan tenaga teknis administratif.Ayat (2)Penentuan batas usia dihitung sampai denganpengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil.Penentuan jumlah dan batas masa kerja dihitungmulai sejak pengangkatan sebagai tenaga honorersampai dengan 1 Desember 2005. Dengan demikianjumlah dan batas masa kerja untuk tahun berikutnyaditambah1 (satu) tahun, dan seterusnya, apabilaberlakunya pengangkatan menjadi Calon PegawaiNegeri Sipil setiap tanggal 1 Desember tahunanggaran yang berjalan.Pasal 4Ayat (1)Yang dimaksud dengan :a. Disiplin dan integritas adalah bahwa selama menjaditenaga honorer melakukan tugasnya dengan baikdan disiplin serta mempunyai integritas tinggi yangdibuktikan dengan surat pernyataan oleh atasanlangsungnya serta disahkan kebenarannya olehPejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat lainyang ditunjuk sekurang-kurangnya pejabatstruktural eselon II.b. Kesehatan adalah tenaga honorer tersebut sehatjasmani dan rohani yang dibuktikan dengan suratketerangan dari dokter.Tenaga honorer penyandang cacat tidak berartiyang bersangkutan tidak sehat jasmani danPENGANGKATAN
    • 294rohani. Apabila dokter menyatakan bahwa yangbersangkutan sehat jasmani dan rohani, dapatdiangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipilsepanjang memenuhi persyaratan dalamPeraturan Pemerintah ini dan dapat melaksanakantugas jabatan yang akan dibebankan kepadanya.c. Kompetensi adalah bahwa tenaga honorer tersebutmempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian, atauketerampilan yang sesuai dengan jabatan yangakan diduduki.Ayat (2)Bagi tenaga honorer berdasarkan ketentuan padaayat ini, disamping dilakukan seleksi administratif,diwajibkan juga mengisi/menjawab daftar pertanyaanmengenai pengetahuan tata pemerintahan/kepemerintahan yang baik, dan pelaksanaannyaterpisah dengan pelamar umum yang bukan tenagahonorer.Ayat (3)Tenaga honorer yang berusia lebih tinggi dan/ataumempunyai masa kerja lebih banyak menjadi prioritaspertama untuk diangkat menjadi Calon Pegawai NegeriSipil. Dalam hal terdapat beberapa tenaga honoreryang berusia sama, tetapi jumlah tenaga honorermelebihi lowongan formasi yang tersedia, makadiprioritaskan untuk mengangkat tenaga honorer yangmempunyai masa kerja lebih banyak.Pasal 5Ayat (1)Unit pelayanan kesehatan milik Pemerintah yangdimaksud dalam ketentuan ini adalah PusatKesehatan Masyarakat (Puskesmas).Dalam hal jumlah tenaga dokter yang akan diangkatmenjadi Calon Pegawai Negeri Sipil lebih banyak darijumlah formasi yang lowong, maka prioritaspengangkatan dilakukan terhadap mereka yangmemiliki usia yang paling tinggi. Dalam hal terdapatbeberapa tenaga dokter yang berusia sama, makaPENGANGKATAN
    • 295diprioritaskan untuk mengangkat yang mempunyaimasa kerja lebih banyak sebagai Pegawai Tidak Tetapatau sebagai tenaga honorer.Penentuan batas usia tertinggi dihitung sampai denganpengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 6Ayat (1)Pentahapan ini disesuaikan dengan jumlah lowonganformasi yang ditetapkan Pemerintah denganmemperhatikan kemampuan keuangan negara.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 7Yang dimaksud dengan :a. Objektif adalah bahwa persyaratan pengangkatantenaga honorer dan tenaga dokter dilakukan sesuaidengan syarat yang telah ditentukan dalam peraturanperundang-undangan.b. Transparan adalah bahwa nama tenaga honorer, tenagadokter dan persyaratan pengangkatan menjadi CalonPegawai Negeri Sipil dilakukan secara terbuka dandiumumkan melalui media yang tersedia oleh PejabatPembina Kepegawaian yang bersangkutan, sehinggadapat diakses dan diketahui oleh masyarakat.Pasal 8Cukup jelas.Pasal 9Ayat (1)Cukup jelas.PENGANGKATAN
    • 296Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Cukup jelas.Pasal 10Ayat (1)Materi pertanyaan yang disiapkan oleh Tim KoordinasiTingkat Nasional dimaksudkan untuk mengetahuipemahaman tenaga honorer mengenai tatapemerintahan/kepemerintahan yang baik, digunakansebagai bahan dalam melakukan pembinaanselanjutnya setelah diangkat menjadi Calon PegawaiNegeri Sipil. Materi pertanyaan tersebut bukanmerupakan ujian penyaringan untuk penentuankelulusan.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 11Cukup jelas.Pasal 12Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 13Cukup jelas.PENGANGKATAN
    • 297Pasal 14Cukup jelas.TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIANOMOR 4561PENGANGKATAN
    • 298WAKIL PRESIDENREPUBLK INDONESIAJakarta, 5 Pebruari 2000.Nomor : B-01/Wk.Pres/Set/ll/2000 Kepada Yth,Sifat : Penting/segeraLampiran : 1. Para Menteri KabinetPerihal : Pengangkatan, pemindahan Persatuan Nasionaldan pemberhentian dalam 2. Jaksa Agungdan dari Jabatan Struktural 3. Sekretaris NegaraEselon 4. Para Pimpinan LembagaNon Departemen5. Para PimpinanKesekretariatanLembaga Tertinggi/Tinggi Negara6. Para Gubernurdi-Tempat.Pasal 13 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentangPerubahan atas Udang-undang Nomor 8 Tahun 1974tentang pokok-pokok kepegawaian menentukan bahwauntuk membantu Presiden dalam mempertimbangkanpengangkatan, pemindahan dan pemberhentian pejabatdalam dan dari jabatan tertentu yang menjadi wewenangPresiden, akan dibentuk Komisi Kepegawaian Negara.Mengingat Komisi sebagaimana dimaksud belumterbentuk, dan untuk tetap menjaga objektivitas penilaianterhadap usul pengangkatan, pemindahan danpemberhentian pejabat tersebut, dengan KeputusanPresiden Nomor 162 Tahun 1999 Presiden telahmembentuk Tim Penilai Akhir Pengangkatan.Pemindahan dan Pemberhentian dalam dan dari JabatanStruktural Eselon I. Tim tersebut diketuai Wakil PresidenRepublik Indonesia dan bertugas melakukan penilaianakhir terhadap usul-usul pengangkatan, pemindahan,dan pemberhentian dari atau dalam jabatan eselon Iyang diajukan.PENGANGKATAN
    • 299Berkenaan dengan itu, dan dalam rangka tercapainyaobjektivitas penilaian, bersama ini kami harapkanperhatian Saudara atas hal-hal sebagai berikut :1. Usul pengisian jabatan eselon I diajukan kepadaPresiden, dengan tembusan masing-masing kepadaWakil Presiden selaku Ketua Tim Penilai Akhir melaluiMenteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara,dan Kepala Badan Kepegawaian Negara selakuSekretaris Tim2. Untuk pengisian setiap Jabatan eselon 1, hendaknyadiajukan 3 (tiga) orang calon yang masing-masingmemenuhi persyaratan umum sebagaimanaditentukan dalam Pasal 5 Peraturan PemerintahNomor 15 Tahun 1994 tentang PengangkatanPegawal Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural danpersyaratan kepangkatan sebagaimana ditentukandalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 15Tahun 1994 tersebut, serta persyaratan pendidikansebagaimana ditentukan dalam Peraturan PemerintahNomor 14 Tahun 1994 tentang Pendidikan danPelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.3. Usul pengangkatan disertai dengan riwayat hidup,yang antara lain juga memuat riwayat kepangkatan,Jabatan dan pengalaman tugas setiap calon.Demikian untuk dimaklumi dan diindahkan. Atas perhatianSaudara kami sampaikan terima kasih.Wakil Presiden Republik Indonesiaselaku,Ketua Tim Panitia AkhirPengangkatan, Pemindahan danPemberhentian dalam dan dari JabatanStruktural Eselon IttdMEGAWATI SOEKARNOPUTRIPENGANGKATAN
    • 300BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARAJln. Let. Jend. Sutoyo No. 12Telp. 8010321-8093008, Fax. 8090421Jakarta Timur 136-10Nomor : K-26-25/V.7-46/99 Jakarta, 12 Mei 1993Sifat : PentingLampiran : 1 (satu) lembar Kepada Yth.Perihal : Tatacara pengangkatan 1. Semua Menteri yangPNS sebagai memimpin Departemen;“PelaksanaTugas” 2. Panglima AngkatanBersenjata RepublikIndonesia;3. Jaksa Agung;4. Semua PimpinanK e s e k r e t a r i a t a nLembaga Tertinggi/Tinggi Negara;5. Semua PimpinanLembaga PemerintahNonDepartemen;6. Semua Gubernur KepalaDaerah Tingkat I.diT e m p a t1. Sebagaimana diketahui Pemerintah telah mengeluarkan PeraturanPemerintah Nomor 15 Tahun 1994 tentang PengangkatanPegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural;2. Sebagai petunjuk pelaksanaan peraturan tersebut di atas telahdikeluarkan Keputusan Kepala BAKN Nomor 05 Tahun 1995tentang Ketentuan Pelaksanaan Pengangkatan PNS DalamJabatan Struktural dan Keputusan Bersama Kepala BAKN-KetuaLAN-Dirjen Anggaran Nomor : 35 Tahun 1996-513/IX/6/8/1996-KEP -30/A/0696 tanggal 25 Juni 1996 tentang Pegawai NegeriSipil Yang Diangkat Dalam Jabatan Struktural Belum MemenuhiKetentuan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1994;PENGANGKATAN
    • 3013. Menyadari kenyataan bahwa kemungkinan di lingkungan instansiSaudara benar-benar tidak terdapat PNS yang memenuhi syaratsebagaimana tersebut di atas, maka untuk kelancaranpelaksanaan tugas dapat diangkat “Pelaksana Tugas” denganketentuan sebagai berikut :a. Penetapannya tidak perlu dengan surat keputusanpengangkatan dalam jabatan, melainkan cukup dengan suratperintah dari pejabat yang berwenang karena yangbersangkutan masih melaksanakan tugas jabatannya (contohterlampir);b. “Pelaksana Tugas” tidak diberikan tunjangan jabatanstruktural, oleh karena itu dalam surat perintah tidak perludicantumkan besarnya tunjangan jabatan;c. Pengangkatan “Pelaksana Tugas” tidak boleh menyebabkanlepasnya jabatan definitif pegawai negeri sipil yang diangkat,dan tunjangannya tetap dibayar sebesar yang diterimasebelumnya;d. Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural hanyadapat diangkat sebagai “Pelaksana Tugas” dalam jabatanstruktural yang sama atau setingkat lebih” tinggi di lingkungankerjanya;e. Pegawai Negeri Sipil yang tidak menduduki jabatan Strukturalhanya dapat diangkat sebagai Pelaksana Tugas dalam jabataneselon V;f. Pengangkatan “Pelaksana Tugas” tidak perlu denganpelantikan, karena yang bersangkutan tidak memilikikewenangan secara definitif dalam tugas jabatan yang harusdilaksanakan, seperti pembuatan DP-3, penetapan suratkeputusan, penjatuhan hukuman disiplin, dan sebagainya;4. Demikian untuk menjadikan maklum dan atas perhatiannyadiucapkan terima kasih.KEPALABADAN ADMINISTRASIKEPEGAWAIAN NEGARAttdSOENARKOPENGANGKATAN
    • 302Tembusan :1. Semua Kepala Biro Kepegawaian Departemen;2. Kepala Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung;3. Semua Kepala Biro Kepegawaian Kesekretariatan LembagaTertinggi/Tinggi Negara;4. Semua Kepala Biro Kepegawaian/Kepala Bagian KepegawaianLembaga Pemerintah Non Departemen;5. Semua Kepala Biro Kepegawaian Sekretariat Wilayah DaerahTingkat I;6. Semua Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II;7. Semua Kepala Kantor Wilayah Badan Administrasi KepegawaianNegara.PENGANGKATAN
    • 303MENTERI LUAR NEGERIREPUBLIK INDONESIAKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIKINDONESIANOMOR : 111/KP/VIII/2000/01TENTANGPERUBAHAN KEDUAATAS KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIKINDONESIA NOMOR SP/1010/PD/X /1971 TAHUN 1971TENTANGPENEMPATAN PEGAWAI-PEGAWAI DEPARTEMEN LUARNEGERI BUKAN PEJABAT DINAS LUARNEGERI Dl LUAR NEGERIMENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan dukunganterhadap pelaksanaan tugas-tugas PerwakilanRI di luar negeri, perlu memberdayakan secaraoptimal pengalaman, kemampuan danketerampilan Pegawai Departemen LuarNegeri;b. bahwa Keputusan Menteri Luar Negeri RINomor SP/1010/PD/X/1971 Tahuri 1971tentang penempatan Pegawai pegawaiDepartemen Luar Negeri Bukan Pejabat DinasLuar Negeri di Luar Negeri, perlu ditinjaukembali;c. bahwa berdasarkan pertimbangansebagaimana dimaksud dalam huruf a dan bperlu menetapkan Keputusan Menteri LuarPENGANGKATAN
    • 304Negeri RI tentang Perubahan Kedua AtasKeputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SP/1010/PD/X/1971 Tahun 1971 tentangPenempatan Pegawai-pegawai DepartemenLuar Negeri Bukan Pejabat Dinas Luar Negeridi Luar NegeriMengingat : 1. Undang-undang RI Nomor 6 Tahun 1974tentang Pokok-pokok Kepegawaian,sebagaimana telah beberapa kali diubahterakhir dengan Undang-undang RI Nomor43 Tahun 1999;2. Undang-undang RI Nomor 37 Tahun 1999tentang Hubungan Luar Negeri;3. Keputusan Presiden RI Nomor 51 Tahun 1976tentang Pokok-pokok, Organisasi PerwakilanRI di Luar Negeri, sebagaimana telahbeberapa kali diubah terakhir denganKeputusan Presiden RI Nomor 74 Tahun2000;4. Keputusan Presiden RI Nomor 136 Tahun1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,Susunan Organisasi, dan Tata KerjaDepartemen;5. Keputusan Menteri Luar Negeri RI NomorSK.00705/OR/VII/81/01 Tahun 1931tentang Tata Kerja Umum Perwakilan RI diLuar Negeri :6. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor203/OR/III/83/01 Tahun 1983 tentangOrganisasi dan Tata Kerja Departemen LuarNegeri, sebagaimana telah beberapa kalidiubah terakhir dengan Keputusan MenteriLuar Negeri RI Nomor 141/OT/VI/98/01Tahun 1990;7. Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.69/OR/VI/87/01 Tahun 1987 tentangSusunan Organisasi Perwakilan RI dl LuarNegeri;PENGANGKATAN
    • 305M E M U T U S K A N :Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIKINDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATASKEPUTUSAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIKINDONESIA NOMOR SP/1010/PD/X/ 1971 TAHUN1971 TENTANG PENEMPATAN PEGAWAI-PEGAWAIDEPARTEMEN LUAR NEGERI BUKAN PEJABATDINAS LUAR NEGERI DI LUAR NEGERI,Pasal 1Beberapa ketentuan Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SP/10107PD/X/1971 Tahun 1971 tentang Penempatan Pagawai-pegawai Departemen Luar Negeri Bukan Pejabat Dinas Luar Negeridi Luar Negeri, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhirdengan Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SP/1138/PD/X/1974 Tahun 1974, diubah sebagai berikut :1. Ketentuan Pasal 1 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 1Pada Perwakilan RI di luar negeri dapat ditugaskan PegawaiDepartemen Luar Negeri sebagai Staf Teknis tanpa gelardiplomatik yang selanjutnya disebut Staf Teknis.2. Ketentuan Pasal 2 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 2(1) Staf sebagaimana drmaksud dalam Pasal 1 adalah merekayang;a. Berpendidikan sekurang-kurangnya setingkat SekolahMenengah Umum (SMU) atau yang sederajat;b. Telah bekerja pada Departemen Luar Negeri sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun secara terus menerus;c. Prioritas diberikan bagi mereka yang lulus saringan danmemiliki masa dinas lebih lama dan apabila adaPENGANGKATAN
    • 306keterbatasan daya tampung pendidikan maka prioritasdisusun atas dasar lamanya masa kerja;d. Telah menduduki pangkat Pengatur ruang golongan Il/c;e. Mempunyai Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3)selama 2 (dua) tahun terakhir dengan nilai rata-rata baik;dan diusulkan oleh pimpinan Eselon II yang bersangkutan;f. Berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun dansetinggi-tingginya 52 (lima puluh dua) tahun dan beradadalam keadaan sehat jasmani serta rohani dengandinyatakan oleh surat keterangan dokter; dang. Apabila didalam satu unit terdapat staf yang memenuhipersyaratan namun belum diusulkan unitnya, BiroKepegawaian berkewajiban mengingatkan unit tersebut.(2) Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan :a. Bahasa Inggris;b. Pengoperasian Komputer, danc. Pengetahuan Dasar Administrasi Umum dan AdministrasiKeuangan Perwakilan, yang diselenggarakan olehDepartemen Luar Negeri.3. Ketentuan Pasal 1 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 3Penugasan pegawai yang dimaksud dalam Pasal 1 padaPewakilan RI di luar negeri hanya 1 (satu) kali untuk paling lama3 (tiga) tahun.4. Ketentuan Pasal 4 menjadi berbunyi sebagai berikut :Pasal 4Staf Teknis yang ditugaskan pada Perwakilan RI di luarnegeri diberikan hak-hak sebagai berikut :a. Tunjangan Pokok Luar Negeri yang terdiri dari :1. Golongan III/d keatas Angka Pokok 552. Golongan III/c Angka Pokok 52PENGANGKATAN
    • 3073. Golongan III/a dan III/b Angka Pokok 504. Golongan II/c dan II/d Angka Pokok 48b. Tunjangan keluarga hanya untuk istri/suami dan anak yangbelum berumur 16 tahun dan belum menikah, sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang dan tidak mempunyai penghasilansendiri sesuai ketentuan yang berlaku;c. Tunjangan sewa rumah dibayarkan sesuai ketentuan yangberlaku;d. Biaya restitusi pengobatan dibayarkan sesuai ketentuan yangberlaku. Diantara Pasal 4 dan Pasal 5 disisipkan Pasal 4a,sebagai berikut:5. Diantara Pasal 4 dan Pasal 5 disisipkan Pasal 4a, sebagai berikut :Pasal 4aSelain hak-hak yang diberikan sebagaimana dimaksud dalamPasal 4, Staf Teknis tidak diberikan tunjangan lain.6. Setelah Pasal 4a disisipkan Pasal 4b, sebagai berikut :Pasal 4bBiaya Perjalanan dan Barang Pindahan ditanggung oleh negarasesuai ketentuan yang berlaku,7. Setelah Pasal 4b disisipkan Pasal 4c, sebagai berikut:Pasal 4cBagi mereka yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihansebagaimana tersebut dalam Pasal 3 di atas, dan telah memilikiketerampilan seperti :a. Mengajar (SD/SMP/SMU); dan ataub. Penguasaan Seni Budaya; dan atauc. Audio Visual, dan ataud. Mengemudikan kendaraan roda empat; dan atauPENGANGKATAN
    • 308e. Menguasai bahasa negara setempat dibuktikan denganSertifikat/Surat Keterangan dari lembaga pendidikan tertentu.diberi prioritas penugasan.Pasal 11Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Ditetapkan di JakartaPada tanggal 1 Agustus 2000MENTERI LUAR NEGERI RIttdDr. ALWI SHIHABPENGANGKATAN
    • 309Jakarta, Agustus 1979Nomor : 6314/79/12Lampiran : -Perihal : Kuasa Usaha SementaraKepada Yth,Semua Kepala PerwakilanRepubiik IndonesiadiLuar NegeriSehubungan dengan adanya pertanyaan-pertanyaan mengenaipejabat yang dapat memimpin suatu Perwakilan selama KepalaPerwakilan tidak ada di tempat karena bepergian keluar daerahjabatannya ataupun karena beberapa hal berhalangan menjalankantugasnya, bersama ini kami merasa perlu menegaskan hal-halsebagai berikut :1. Yang dapat memimpin Perwakilan RI sebagai Kuasa UsahaSementara adalah pejabat Departemen Luar Negeri yangberstatus Pejabat Diplomatik Konsuler (PDK) dengan gelartertinggi di Perwakilan.2. Apabila di Perwakilan ada dua pejabat yang mempunyai jabatanKuasa Usaha Sementara ialah pejabat yang lebih dahulupreseance-nya (lebih dahulu/lebih lama di tempat).3. Ketentuan ini berlaku baik di Perwakilan tingkat Kedutaan Besar,Konsulat Jenderal/Konsulat ataupun di Perutusan Tetap RI diPBB.4. Sekiranya ada hal-hal yang tidak dapat diatur menurut ketentuandiatas akan diputuskan oleh Pusat.Demikian agar ketentuan di atas di perhatikan dan di laksanakandengan sebaik-baiknya.A.n. MENTERI LUAR NEGERISekretaris JenderalttdB. S. A R I F I NNIP. 02000077OPENGANGKATAN
    • 310Tindasan disamparkan kepada:1. Yth. Menteri Luar Negeri (sebagai laporan)2. Yth. Sekretariat Negara3. Yth. Sekretariat Kabinet4. Semua Departemen.PENGANGKATAN
    • 311VPEMBERHENTIAN
    • 312
    • 313PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 32 TAHUN 1979TENTANGPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPILPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan mengenaipemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang sekarangberlaku, dipandang tidak sesuai lagi dengan keadaandewasa ini, oleh sebab itu perlu ditinjau kembalidan disempurnakan;Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Kepegawaian (Lembaran NegaraTahun 1974 Nomor 55, Tambahan LembaranNegara Nomor 3041);MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANGPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPILBAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :PRESIDENREPUBLIK INDONESIAPEMBERHENTIAN
    • 314a. Pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil adalahpemberhentian yang mengakibatkan yang bersangkutankehilangan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil;b. Pemberhentian dari Jabatan Negeri adalah pemberhentian yangmengakibatkan yang bersangkutan tidak bekerja lagi pada suatusatuan organisasi negara, tetapi masih tetap berstatus sebagaiPegawai Negeri Sipil;c. Hilang adalah suatu keadaan bahwa seseorang di luar kemauandan kemampuannya tidak diketahui tempatnya berada dan tidakdiketahui apakah ia masih hidup atau telah meninggal dunia;d. Batas usia pensiun adalah batas usia Pegawai Negeri Sipil harusdiberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil.BAB IIPEMBERHENTIANBagian PertamaPemberhentian Atas Permintaan SendiriPasal 21. Pegawai Negeri Sipil yang meminta berhenti, diberhentikandengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.2. Permintaan berhenti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),dapat ditunda untuk paling lama 1 (satu) tahun, apabila adakepentingan dinas yang mendesak.3. Permintaan berhenti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),dapat ditolak apabila Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutanmasih terikat dalam keharusan bekerja pada Pemerintahberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Bagian KeduaPemberhentian Karena Mencapai Batas Usia PensiunPasal 31. Pegawai Negeri Sipil yang telah mencapai batas usia pensiun,diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.PEMBERHENTIAN
    • 3152. Batas usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah56 (lima puluh enam) tahun.Pasal 41. Batas usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dapatdiperpanjang bagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatantertentu.2. Perpanjangan batas usia pensiun sebagaimana dimaksud dalamayat (1), adalah sampai dengan :a. 65 (enam puluh lima) tahun bagi Pegawai Negeri Sipil yangmemangku jabatan :1. Ahli Peneliti dan Peneliti yang ditugaskan secara penuhdi bidang penelitian;2. Guru Besar, Lektor Kepala, Lektor yang ditugaskansecara penuh pada perguruan tinggi;3. Jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden;b. 60 (enam puluh) tahun bagi Pegawai Negeri Sipil yangmemangku jabatan :1. Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda, dan Hakim AnggotaMahkamah Agung;2. Jaksa Agung;3. Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/TinggiNegara;4. Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen;5. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, DirekturJenderal, dan Kepala Badan di Departemen;6. Eselon I dalam jabatan struktural yang tidak termasukdalam angka 2, 3 dan 4.7. Eselon II dalam jabatan struktural;9. Pengawas Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan PengawasSekolah Lanjutan Tingkat Pertama;10. Guru yang ditugaskan secara penuh pada SekolahLanjutan Tingkat Atas dan Sekolah Lanjutan TingkatPertama;11. Penilik Taman Kanak-kanak, Penilik Sekolah Dasar, danPenilik Pendidikan Agama;PEMBERHENTIAN
    • 31612. Guru yang ditugaskan secara penuh pada Sekolah Dasar;13. Jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden;c. 58 (lima puluh delapan) tahun bagi Pegawai Negeri Sipil yangmemangku jabatan :1. Hakim pada Mahkamah Pelayaran;2. Hakim pada Pengadilan Tinggi;3. Hakim pada Pengadilan Negeri;4. Hakim Agama pada Pengadilan Agama Tingkat Banding;5. Hakim Agama pada Pengadilan Agama;6. Jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden.Pasal 5Pemberhentian dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil karenamencapai batas usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3dan Pasal 4, diberitahukan kepada Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan 1 (satu) tahun sebelum ia mencapai batas usia pensiuntersebut.Bagian KetigaPemberhentian Karena Adanya PenyederhanaanOrganisasiPasal 6Apabila ada penyederhaan suatu satuan organisasi negara yangmengakibatkan adanya kelebihan Pegawai Negeri Sipil, maka PegawaiNegeri Sipil yang kelebihan itu disalurkan kepada satuan organisasilainnya.Pasal 7Apabila penyaluran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 tidakmungkin dilaksanakan, maka Pegawai Negeri Sipil yang kelebihan itudiberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil atau dariJabatan Negeri dengan mendapat hak-hak kepegawaian berdasarkanperaturan perundang-undangan yang berlaku.PEMBERHENTIAN
    • 317Bagian KeempatPemberhentian Karena Melakukan Pelanggaran/TindakPenyelewenganPasal 8Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan tidak dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil karena :a. melanggar Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil, Sumpah/JanjiJabatan Negeri atau Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil; ataub. dihukum penjara, berdasarkan keputusan pengadilan yang sudahmempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena dengan sengajamelakukan suatu tindak pidana kejahatan yang diancam denganpidana penjara setinggi-tingginya 4 (empat) tahun, atau diancamdengan pidana yang lebih berat.Pasal 9Pegawai Negeri Sipil diberhentikan tidak dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil apabila dipidana penjara atau kurunganberdasarkan keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatanhukum yang tetap, karena :a. melakukan suatu tindak pidana kejahatan jabatan atau tindakpidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan; ataub. melakukan suatu tindak pidana kejahatan sebagaimana dimaksuddalam Pasal 104 sampai dengan Pasal 161 Kitab Undang-undangHukum Pidana.Pasal 10Pegawai Negeri Sipil diberhentikan tidak dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil apabila ternyata melakukan usaha atau kegiatanyang bertujuan mengubah Pancasila dan atau Undang-Undang Dasar1945 atau teRIibat dalam gerakan atau melakukan kegiatan yangmenentang Negara dan atau Pemerintah.PEMBERHENTIAN
    • 318Bagian KelimaPemberhentian Karena Tidak Cakap Jasmani Atau RohaniPasal 11Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dengan hormat dengan mendapathak-hak kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undanganyang berlaku apabila berdasarkan surat keterangan Tim PengujiKesehatan dinyatakana. tidak dapat bekerja lagi dalam semua Jabatan Negeri karenakesehatannya; ataub. menderita penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinyasendiri dan atau lingkungan kerjanya; atauc. setelah berakhirnya cuti sakit, belum mampu bekerja kembali.Bagian KeenamPemberhentian Karena Meninggalkan TugasPasal 121. Pegawai Negeri Sipil yang meninggalkan tugasnya secara tidaksah dalam waktu 2 (dua) bulan terus menerus, diberhentikanpembayaran gajinya mulai bulan ketiga.2. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yangdalam waktu kurang dari 6 (enam) bulan melaporkan diri kepadapimpinan instansinya, dapat :a. ditugaskan kembali apabila ketidakhadirannya itu karena adaalasan-alasan yang dapat diterima; ataub. diberhentikan dengan hormat sebagai pegawai Negeri Sipil,apabila ketidakhadirannya itu adalah karena kelalaian PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan dan menurut pendapat pejabatyang berwenang akan mengganggu suasana kerja, jika iaditugaskan kembali.3. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),yang dalam waktu 6 (enam) bulan terus menerus meninggalkantugasnya secara tidak sah, diberhentikan tidak dengan hormatsebagai Pegawai Negeri Sipil.PEMBERHENTIAN
    • 319Bagian KetujuhPemberhentian Karena Meninggal Dunia Atau HilangPasal 13Pegawai Negeri Sipil yang meninggal dunia dengan sendirinyadianggap diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.Pasal 141. Pegawai Negeri Sipil yang hilang, dianggap telah meninggal duniapada akhir bulan ke 12 (dua belas) sejak ia dinyatakan hilang.2. Pernyataan hilang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dibuatoleh pejabat yang berwenang berdasarkan surat keteranganatau berita acara dari pejabat yang berwajib.3. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),yang kemudian diketemukan kembali dan masih hidup, diangkatkembali sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan gajinya dibayar penuhterhitung sejak dianggap meninggal dunia denganmemperhitungkan hak-hak kepegawaian yang telah diterima olehkeluarganya.Bagian KedelapanPemberhentian Karena Hal-hal LainPasal 151. Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan diri kembali kepadainstansi induknya setelah habis menjalankan cuti di luartanggungan negara, diberhentikan dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil.2. Pegawai Negeri Sipil yang melaporkan diri kepada instansi induknyasetelah habis masa menjalankan cuti di luar tanggungan Negara,tetapi tidak dapat dipekerjakan kembali karena tidak ada lowongan,diberhentikan dengan hormat dengan mendapat hak-hakkepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku.PEMBERHENTIAN
    • 320BAB IIIHAK-HAK KEPEGAWAIANBagian PertamaHak-hak Pegawai Negeri Sipil Yang Diberhentikan Dengan Hormat.Pasal 16Kepada Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan dengan hormatsebagai Pegawai Negeri Sipil, diberikan hak-hak kepegawaianberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 171. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal11 huruf b dan huruf c, dan Pasal 15 ayat (2) :a. diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipildengan hak pensiun, apabila telah mencapai usia sekurang-kurangnya (lima puluh) tahun dan memiliki masa kerja pensiunsekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun;b. diberhentikan dengan hormat dari Jabatan Negeri denganmendapat uang tunggu, apabila belum memenuhi syarat-syarat usia dan masa kerja sebagaimana dimaksud dalamhuruf a.2. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 hurufa, diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipildengan hak pensiun :a. tanpa terikat pada masa kerja pensiun, apabila oleh TimPenguji Kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerja lagi dalamsemua Jabatan Negeri, karena kesehatannya yangdisebabkan oleh dan karena ia menjalankan kewajibanjabatan;b. jika telah memiliki masa kerja pensiun sekurang-kurangnya 4(empat) tahun, apabila oleh Tim Penguji Kesehatandinyatakan tidak dapat bekerja lagi dalam semua JabatanNegeri, karena kesehatannya yang bukan disebabkan olehdan karena ia menjalankan kewajiban jabatan.PEMBERHENTIAN
    • 321Pasal 18Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil karena mencapai batas usia pensiun, berhakatas pensiun apabila ia memiliki masa kerja pensiun sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun.Bagian KeduaUang TungguPasal 191. Uang tunggu diberikan paling lama 1 (satu) tahun dan dapatdiperpanjang tiap-tiap kali paling lama 1 (satu) tahun.2. Pemberian uang tunggu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)tidak boleh lebih lama dari 5 (lima) tahun.Pasal 201. Besarnya uang tunggu adalah :a. 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok untuk tahunpertama;b. 75% (tujuh puluh lima persen) dari gaji pokok untuk tahun-tahun selanjutnya.2. Uang tunggu diberikan mulai bulan berikutnya, dari bulan PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan diberhentikan dengan hormatdari Jabatan Negeri.Pasal 21Kepada Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu, diberikankenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, tunjangan pangan, dantunjangan lain berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku.Pasal 22Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu diwajibkan :a. melaporkan diri kepada pejabat yang berwenang, setiap kaliselambat-lambatnya sebulan sebelum berakhirnya pemberianuang tunggu;PEMBERHENTIAN
    • 322b. senantiasa bersedia diangkat kembali pada suatu Jabatan Negeri.c. meminta izin lebih dahulu kepada pimpinan instansinya, apabilamau pindah alamat di luar wilayah pembayaran.Pasal 231. Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu, diangkatkembali dalam suatu Jabatan Negeri apabila ada lowongan.2. Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu yang menolakuntuk diangkat kembali dalam suatu Jabatan Negeri, diberhentikandengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada akhir bulanyang bersangkutan menolak untuk diangkat kembali.Pasal 24Pegawai Negeri Sipil yang menerima uang tunggu yang diangkatkembali dalam suatu Jabatan Negeri, dicabut pemberian uangtunggunya terhitung sejak menerima penghasilan penuh kembalisebagai Pegawai Negeri Sipil.Pasal 25Pejabat yang berwenang memberikan dan mencabut uang tunggu,adalah pejabat yang berwenang mengangkat dalam danmemberhentikan dari jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB IVKETENTUAN LAIN-LAINPasal 26Pegawai Negeri Sipil yang akan mencapai usia sebagaimana dimaksuddalam Pasal 3 dan Pasal 4, sebelum diberhentikan dengan hormatsebagai Pegawai Negeri Sipil dengan hak pensiun, dapat dibebaskandari jabatannya untuk paling lama 1 (satu) tahun dengan mendapatpenghasilan berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku.PEMBERHENTIAN
    • 323Pasal 271. Pegawai Negeri Sipil yang dikenakan pemberhentian sementara,pada saat ia mencapai batas usia pensiun, diberhentikanpembayaran gajinya.2. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),yang ternyata tidak bersalah berdasarkan keputusan Pengadilanyang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap,diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil denganmendapat hak-hak kepegawaian berdasarkan peraturanperundang-undangan yang berlaku, terhitung sejak akhir bulandicapainya batas usia pensiun.3. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),yang dipidana penjara atau kurungan berdasarkan keputusanPengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap,karena melakukan suatu tindak pidana sebagaimana dimaksuddalam Pasal 8, apabila diberhentikan dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil, mendapat hak-hak kepegawaian berdasarkanperaturan perundang-undangan yang berlaku, terhitung sejakakhir bulan dicapainya batas usia pensiun.4. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),yang dipidana penjara atau kurungan berdasarkan keputusanPengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap,karena melakukan suatu tindak pidana sebagaimana dimaksuddalam Pasal 9, diberhentikan tidak dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil terhitung sejak akhir bulan dicapainya batasusia pensiun.5. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), berlaku bagiPegawai Negeri Sipil yang diberhentikan tidak dengan hormatsebagai Pegawai Negeri Sipil karena dipidana penjara berdasarkankeputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukumyang tetap, karena melakukan tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam Pasal 8.Pasal 28Pegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi Pejabat Negara dandibebaskan dari jabatan organiknya, pada saat ia mencapai usia 56(lima puluh enam) tahun diberhentikan dengan hormat sebagaiPegawai Negeri Sipil, dengan mendapat hak-hak kepegawaianberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.PEMBERHENTIAN
    • 324Pasal 29Setiap pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, berlaku terhitung sejakakhir bulan pemberhentian yang bersangkutan.Pasal 30Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatan tertentu sebagaimanadimaksud dalam Pasal 4, pada saat berlakunya Peraturan Pemerintahini telah mencapai usia 56 (lima puluh enam) tahun atau lebih,tetapi belum dikeluarkan surat keputusan pemberhentiannya sebagaiPegawai Negeri Sipil dan tidak dibebaskan dari jabatannya, makaketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini berlaku bagimereka.BAB VKETENTUAN PENUTUPPasal 31Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini,diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.Pasal 32Ketentuan-ketentuan teknis pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini,ditetapkan oleh Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara.Pasal 33Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tidak berlakulagi :a. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1951 tentang PeraturanYang Mengatur Penghasilan Pegawai Negeri Warga Negara YangTidak Atas Kemauan Sendiri Diberhentikan Dengan Hormat DariPekerjaannya (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 27.Tambahan Lembaran Negara Nomor 93);b. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1958 tentangPeremajaan Alat-alat Negara (Lembaran Negara Tahun 1958Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1686);PEMBERHENTIAN
    • 325c. Peraturan Pemerintah Nomor 239 Tahun 1961 tentang PemberianPenghasilan Kepada Pegawai-pegawai Negeri yang berhubungandengan Retooling diberhentikan dengan hormat dari jabatannya/jabatan Negeri (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 305,Tambahan Lembaran Negara Nomor 2364);d. Segala peraturan perundang-undangan yang bertentangandengan Peraturan Pemerintah ini.Pasal 34Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkanpengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 29 September 1979PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdSOEHARTODiundangkan di Jakartapada tanggal 29 September 1979MENTERI/SEKRETARIS NEGARAREPUBLIK INDONESIAttdSUDHARMONO, SHLEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1979NOMOR 47PEMBERHENTIAN
    • 326PENJELASAN ATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 32 TAHUN 1979TENTANGPEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPILUMUMKetentuan-ketentuan mengenai pemberhentian Pegawai Negeri Sipilyang sekarang berlaku, diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, dan materinyapun ada yang tidak sesuai dengan keadaandewasa ini, oleh sebab itu perlu disederhanakan dan disempurnakan.Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur berbagai ketentuan tentangPemberhentian Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan jiwa Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka syarat-syaratdan cara-cara pemberhentian Pegawai Negeri Sipil menjadi lebihjelas dan seragam, sehingga memudahkan pelaksanaan tugas parapejabat yang berwenang.PASAL DEMI PASALPasal 1Cukup jelas.Pasal 2Ayat (1)Pada prinsipnya Pegawai Negeri Sipil yang memintaberhenti sebagai Pegawai Negeri Sipil, diberhentikandengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.Ayat (2)Penundaan atas permintaan berhenti dari seorangPegawai Negeri Sipil, hanyalah didasarkan semata-matauntuk kepentingan dinas yang mendesak, umpamanyaPEMBERHENTIAN
    • 327dengan berhentinya Pegawai Negeri Sipil yangbersangkutan akan sangat mengganggu kelancaranpelaksanaan tugas. Permintaan berhenti yang dapatditunda untuk paling lama 1 (satu) tahun antara lainadalah permintaan berhenti dari Pegawai Negeri Sipil yangsedang melaksanakan tugas yang penting.Penundaan ini dilakukan untuk paling lama 1 (satu) tahun,sehingga dengan demikian pimpinan instansi yangbersangkutan dapat mempersiapkan penggantinya.Ayat (3)Permintaan berhenti yang dapat ditolak, antara lain adalahpermintaan berhenti dari seorang Pegawai Negeri Sipilyang sedang menjalankan ikatan dinas, wajib militer, danlain-lain yang serupa dengan itu.Pasal 3Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Ditinjau dari sudut fisik, pada umumnya usia 56 (limapuluh enam) tahun adalah merupakan batas usiaseorang Pegawai Negeri Sipil mampu melaksanakantugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna.Pasal 4Ayat (1)Bagi jabatan-jabatan tertentu, diperlukan Pegawai NegeriSipil yang memiliki keahlian dan pengalaman yangmatang. Pegawai Negeri Sipil yang demikian padaumumnya sangat terbatas jumlahnya, dan sebahagianterdiri dari mereka yang telah berusia 56 (lima puluhenam) tahun atau lebih. Berhubung dengan itu makauntuk kelancaran pelaksanaan tugas, batas usia pensiunbagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatantertentu itu dapat diperpanjang dengan memperhatikankeadaan kesehatannya.PEMBERHENTIAN
    • 328Ayat (2)Pegawai Negeri Sipil yang tidak lagi memangku jabatansebagaimana dimaksud dalam ayat ini dan tidak adarencana untuk diangkat lagi dalam jabatan yang samaatau jabatan yang lebih tinggi, maka ia diberhentikandengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.Pasal 5Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini,dilakukan secara tertulis oleh pimpinan instansi dari PegawaiNegeri Sipil yang bersangkutan untuk semua golongan jangkawaktu 1 (satu) tahun itu dipandang cukup bagi Pegawai NegeriSipil yang bersangkutan untuk menyelesaikan segala sesuatuyang berhubungan dengan tugasnya. Dalam waktu 1 (satu)tahun itu, pimpinan instansi yang bersangkutan harus sudahmenyelesaikan segala sesuatu yang menyangkut tata usahakepegawaian, sehingga Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutandapat menerima hak-haknya tepat pada waktunya.Pasal 6Organisasi bukan tujuan, tetapi organisasi adalah alat dalammelaksanakan tugas pokok, oleh sebab itu susunan suatusatuan organisasi harus disesuaikan dengan perkembangantugas pokok, sehingga dengan demikian dapat dicapaidayaguna dan hasilguna yang sebesar-besarnya.Perubahan satuan organisasi negara adakalanyamengakibatkan kelebihan Pegawai Negeri Sipil. Apabila terjadihal yang sedemikian, maka Pegawai Negeri Sipil yang lebih itudisalurkan pada satuan organisasi negara yang lainnya.Pasal 7Cukup jelasPasal 8Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksuddalam pasal ini, dapat dilakukan dengan hormat atau tidakdengan hormat, satu dan lain hal tergantung padaPEMBERHENTIAN
    • 329pertimbangan pejabat yang berwenang atas berat atauringannya perbuatan yang dilakukan dan besar atau kecilnyaakibat yang ditimbulkan oleh perbuatan itu.a. Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil, Sumpah/Janji JabatanNegeri, dan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil wajibditaati oleh setiap Pegawai Negeri Sipil.Pegawai Negeri Sipil yang telah ternyata melanggarSumpah/Janji atau melanggar Peraturan Disiplin PegawaiNegeri Sipil yang berat dan menurut pertimbangan atasanyang berwenang tidak dapat diperbaiki lagi, dapatdiberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil.b. Pada dasarnya, tindak pidana kejahatan yang diancamdengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau diancamdengan pidana yang lebih berat adalah merupakan tindakpidana kejahatan yang berat.Meskipun maksimum ancaman pidana terhadap suatutindak pidana telah ditetapkan, namun pidana yangdijatuhkan/diputuskan oleh Hakim terhadap jenis tindakpidana itu dapat berbeda-beda sehubungan dengan beratringannya tindak pidana yang dilakukan dan atau besarkecilnya akibat yang ditimbulkannya.Berhubung dengan itu, maka dalam mempertimbangkanapakah Pegawai Negeri Sipil yang telah melakukan tindakpidana kejahatan itu akan diberhentikan atau tidak, atauapakah akan diberhentikan dengan hormat atau tidakdengan hormat, haruslah dipertimbangkan faktor-faktoryang mendorong Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutanmelakukan tindak pidana kejahatan itu, serta harus puladipertimbangkan berat ringannya keputusan Pengadilanyang dijatuhkan.Pasal 9Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi pidana penjara, ataukurungan, berdasarkan keputusan pengadilan yang telahmempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukansesuatu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasalini, harus diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PegawaiNegeri Sipil.PEMBERHENTIAN
    • 330Ketentuan ini tidak berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil yang hanyadijatuhi pidana percobaan.Huruf aPada dasarnya jabatan yang diberikan kepada seorangPegawai Sipil adalah merupakan kepercayaan dari negarayang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.Apabila seorang Pegawai Negeri Sipil dipidana penjaraatau kurungan berdasarkan keputusan Pengadilan yangtelah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karenamelakukan suatu tindak pidana kejahatan jabatan atautindak pidana kejahatan yang ada hubungannya denganjabatan atau pekerjaannya, maka Pegawai Negeri Sipilyang bersangkutan harus diberhentikan tidak denganhormat karena telah menyalahgunakan kepercayaanyang diberikan kepadanya.Tindak pidana kejahatan jabatan yang dimaksud, antaralain adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 413sampai dengan Pasal 436 Kitab Undang-undang HukumPidana.Huruf bTindak pidana kejahatan sebagaimana dimaksud dalamPasal 104 sampai dengan Pasal 161 KUHP, adalah tindakpidana kejahatan yang berat, karena tindak pidanakejahatan itu, adalah tindak pidana kejahatan terhadapkeamanan Negara, kejahatan yang melanggar martabatPresiden dan Wakil Presiden, kejahatan terhadap Negaradan Kepala Negara/Wakil Kepala Negara sahabat,kejahatan mengenai perlakuan kewajiban Negara, hak-hak Negara, dan kejahatan terhadap ketertiban umum.Berhubung dengan itu, maka Pegawai Negeri Sipil yangmelakukan tindak pidana tersebut harus diberhentikantidak dengan hormat.Pasal 10Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur Aparatur Negara, Abdi Negara,dan Abdi Masyarakat yang ternyata telah melakukan usahaatau kegiatan yang bertujuan mengubah Pancasila dan atauUndang-Undang Dasar 1945, atau teRIibat dengan gerakanPEMBERHENTIAN
    • 331atau melakukan kegiatan yang menentang negara dan atauPemerintah sudah menyalahi sumpahnya sebagai Pegawai NegeriSipil. Oleh karena itu Pegawai Negeri Sipil yang demikian harusdiberhentikan dengan tidak hormat. Usaha atau kegiatan manayang merupakan usaha atau kegiatan yang bertujuanmengubah Pancasila dan atau Undang-Undang Dasar 1945,serta kegiatan atau gerakan mana yang merupakan kegiatanatau gerakan yang menentang negara dan atau pemerintah,diputuskan oleh Presiden.Pasal 11Huruf aPegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam hurufini, adalah Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakandengan surat keterangan Tim Penguji Kesehatan bahwakeadaan jasmani dan atau rohani yang bersangkutansudah sedemikian rupa, sehingga tidak dapat bekerjalagi dalam semua Jabatan Negeri.Huruf bPegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam hurufini, adalah Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakandengan surat keterangan Tim Penguji Kesehatan bahwayang bersangkutan menderita penyakit atau kelainanyang sedemikian rupa, sehingga apabila ia dipekerjakanterus dapat membahayakan dirinya sendiri atau oranglain, umpamanya seorang Pegawai Negeri Sipil yangmenderita penyakit jiwa yang berbahaya.Huruf cPegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam hurufini, adalah Pegawai Negeri Sipil yang setelah berakhirnyacuti sakit belum mampu bekerja kembali, yang dinyatakandengan surat keterangan Tim Penguji Kesehatan.Pasal 12Ayat (1)Yang dimaksud dengan meninggalkan tugas secara tidaksah adalah meninggalkan tugas tanpa izin dari pejabatyang berwenang memberikan cuti.PEMBERHENTIAN
    • 332Ayat (2)Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayatini, dapat ditugaskan kembali atau dapat puladiberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai NegeriSipil.Huruf aApabila alasan-alasan meninggalkan tugas secara tidaksah itu dapat diterima oleh pejabat yang berwenang,maka Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dapatditugaskan kembali setelah lebih dahulu dijatuhi hukumandisiplin Pegawai Negeri Sipil berdasarkan peraturanperundang-undangan yang berlaku.Huruf bApabila alasan-alasan meninggalkan tugas secara tidaksah itu tidak dapat diterima oleh pejabat yang berwenang,atau apabila menurut pendapat pejabat yang berwenangakan mungkin mengganggu suasana atau disiplin kerjaapabila Pegawai negeri Sipil yang bersangkutan ditugaskankembali, maka Pegawai Negeri Sipil tersebut diberhentikandengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil mulai padabulan dihentikan pembayaran gajinya.Ayat (3)Cukup jelasPasal 13Untuk kelengkapan tata usaha kepegawaian, maka pimpinaninstansi yang bersangkutan membuat surat keteranganmeninggal dunia.Pasal 14Ayat (1)Pegawai Negeri Sipil yang hilang selama 12 (dua belas)bulan, dianggap sebagai Pegawai Negeri Sipil yang masihtetap bekerja, oleh seba