• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hadis dhaif
 

Hadis dhaif

on

  • 3,745 views

Mengetahui kriteria suatu hadis diperlukan untuk menentukan suatu hadis dapat digunakan untuk dalil atau tidak boleh sebab itu dalam makalah kali ini akan dibahas tentang hadis dhaif meliputi, ...

Mengetahui kriteria suatu hadis diperlukan untuk menentukan suatu hadis dapat digunakan untuk dalil atau tidak boleh sebab itu dalam makalah kali ini akan dibahas tentang hadis dhaif meliputi, Kriteria dan Macam-macam Hadis Dhaif, Hadis-hadis daif ditinjau dari segi terputusnya sanad Hadis-hadis daif ditinjau dari segi cacat perawi, dan Hukum Meriwayatkan dan Mengamalkan Hadis dhaif

Statistics

Views

Total Views
3,745
Views on SlideShare
3,745
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
110
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hadis dhaif Hadis dhaif Document Transcript

    • Takhrij Hadis dan Metode-Metodenya Oleh: Early Ridho Kismawadi 11 EKNI 2364 Dosen Pembimbing: Prof. Dr. H. Nawir Yuslem, MA PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2013 M/1433 H 1
    • Hadis Dhaif1. Pendahuluan Dhaif menurut bahasa adalah lawan dari kuat, Dhaif ada dua macam yaitulahiriah dan maknawiyah, sedangkan yang dimaksud disini adalah dhaif maknawiyah. Hadis dhaif menurut istilah adalah hadis yang didalamnya tidak didapatisyarat hadis shahih dan tidak pula didapati syarat hadis hasan.1 Senada denganMannan Al Qathan menurut T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy hadis dhaif adalah 2Hadis yang tidak terdapat sifat hadis shahih dan tidak pula terdapat sifat hadishasan. Mengetahui kriteria suatu hadis diperlukan untuk menentukan suatu hadisdapat digunakan untuk dalil atau tidak boleh sebab itu dalam makalah kali ini akandibahas tentang hadis dhaif meliputi, Kriteria dan Macam-macam Hadis Dhaif,Hadis-hadis daif ditinjau dari segi terputusnya sanad Hadis-hadis daif ditinjau darisegi cacat perawi, dan Hukum Meriwayatkan dan Mengamalkan Hadis dhaif2. Kriteria dan Macam-macam Hadis Dhaif Sebab-sebab kedaifan ketika diteliti kembali kepada dua hal pokok yaitu:Ketidakmuttashilan sanad, dan Selain ketidakmuttashilan sanad seperti; cacatnyaseorang atau beberapa rawi3. Fatchur Rahman mengutip pendapat al-„Iraqi, bahwahadis adaif bisa dibagi menjadi 42 bagian dan sebagian ulama mengatakan bahwahadis adaif terdiri atas 129 macam, bahkan bisa lebih dari itu.4 1 Manna al qathan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004), h. 129. 2 T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits, (cet.VII; Jakarta : BulanBintang, 1987), Jilid I, h. 220 3 A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalaha al-Hadits. (cet. III; Bandung: CV. Diponegoro, 1987)h. 91 4 Fathur Rahman, Ikhstisar Mushthalahul Hadits. (cet.VIII; Bandung : PT.Almaarif, 1995), h.140. 2
    • 3. Hadis-hadis daif ditinjau dari segi terputusnya sanada. Hadis Mursal Hadits mursal yaitu: hadits yang dimarfu‟kan oleh seoarng tabi‟iy kepadarasul SAW., baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir, dengan tidak menyebutkanorang yang menceritakan kepadanya: contoh hadis berikut ini: Abdullah bin Abi Bakr pada hadis di atas merupakan seorang Tabi‟i,sedangkan seorang tabi‟I tidak semasa dan tidak bertemu dengan Nabi Saw. Akantetapi di tidak menyebutkan orang yang mengabarkan kepadanya sehingga dinamakanmursalb. Hadis Munqathi’ Hadits munqathi yaitu dalam sanadnya gugur satu orang perawi dalam satutempat atau lebih, atau didalamnya disebutkan seorang perawi yang mubham. Darisegi gugurnya seorang perawi ia sama dengan hadits mursal. Hanya saja, kalu hadismursal gugurnya perawi dibatasi oelh tingkatan sahabat, sementara dalam haditsmunqathi seperti itu.Jadi setiap hadits yang sanadnya gugur satu orang perawi baikawal, ditengah ataupun diakhir- disebut munqathi.Dari Abdur Razzaq: dari At Tsauri: dari Abu Ishaq: dari Zaid bin Yatsi‟: dariHudzaifah, secara marfu‟: „Kalau kalian menjadikan Abu Bakar sebagai pemimpin,sungguh dia itu kuat dan terpercaya Dalam hadits terputus sanadnya pada 2 tempat.Pertama, Abdur Razzaq tidakmendengar dari At Tsauri. Yang benar, Abdur Razzaq meriwayatkan dari Nu‟man binAbi Syaibah Al Janadi dari Ats Tauri. Kedua, Ats Tsauri tidak mendengar dari AbuIshaq. Yang benar, Ats Tsauri mendengar dari Syuraik dari Abu Ishaq 3
    • c. Hadis Mu’dhal Yaitu hadis dari sanadnya gugur dua atau lebih perawinya secaraberturutturut.hadits ini sama, bahkan lebih rendah dari hadits munqathi. Sama darisegi keburukan kualitasnya, Imam syafi‟I berkata, telah menceritakan kepada kami, said ibn salam, dariibn juraij bahwa nabi Muhammad apabila melihat baitullah beliu mengangkat keduatangannya5. Ibnu Juraij dalam sanad diatas adalah tidak sezaman dengan nabi, bahkanmasanya itu dibawah tabi‟in, sehingga ia disebut tabi‟it tabi‟in, yakni pengikuttabi‟in. jadi antara juraij dengan rasulullah SAW ada dua perantara yaitu shahabat dantabi‟in. karena kedua orang ini( sahabat dan tabi‟in ) tidak disebutkan ditengah sanadini maka periwayatan hadits diatas disebut mu‟dhal.d. Hadis Mudallas Kata Muddalas adalah isim maf‟ul dari tadlis, yang secara etimologi berarti“Menyembunyikan” Tadlisdalam jual-beli berarti menyembunyikan aib barang adripembelinya. Dari sinilah disinilah diambil dalam pengertian dalam sanad. Karenakeduanya memiliki kesamaan alasan, yakni menyembunyikan sesuatu dengan caradiam tanpa menyebutkan. 5 Totok jumantoro, Kamus Ilmu Hadits. (Jakarta: Bumi Aksara,2002), h. 143 4
    • Diriwayatkan oleh nu‟man ibn rasyid, dari zuhri dari urwah dari aisyah,bahwasannya rasulullah SAW bersabda tidak pernah sekalikali memukul seorangperempuan dan juga tidak seorang pelayan, melainkan jika ia berjihad dijalan Allah6 Imam Abu Khatim berkata bahwa: Zuhri tidak pernah mendengar hadis inidari Urwah, ini berarti ada seorang yang tidak disebutkan oleh zuhri. Sehinggamenjadi samar.Tadlis terdiri dari dua jenis, yaitu tadlis al- Isnad dan tadlis asy-syuyukh. (1). Tadlis al- isnad yaitu seseorang perawi (mengatakan) meriwiyatkan sesuatu dari sesamanya yang tidak pernah ia bertemu dengan orang itu, atau pernah bertemu tetapi diriwiyatkannya itu tidak didengar dari orang tersebut, dengan cara menimbulkan dugaan mendengar langsung.Rasulullah SAW bersabda:”bila salah seorang mengantuk di tempat duduknya padahari jumat, hendaklah ia bergeser ke tempat lain.”(H.R. Abu Dawud) Dalam sanad hadits Ibnu „Umar tersebut, terdapat seorang rawi bernamaMuhammadbin Ishaq yaitu seorang mudallis dan ia telah membuat „an „anah(meriwayatkan dengan „an). (2). Tadlis asy- syuyukh jenis ini lebih ringan dari pada tadlis al-isnad. Karena perawi tidak sengaja mengugurkan salah seorang dari sanad dan tidak sengaja pula menyamarkan dan tidak mendengar langsung dengan ungkapan yang menunjukkan mendengar langsung.Perawi hanya menyebut gurunya, yang memberi tahu.atau mensifati gurunya dengan sifat-sifat yang tidak/ belum dikenal oleh orang banyak. Misalnya seperti kata Abu Bakar bin Mujahid Al-Muqry: 6 Ibid, 141 5
    • “Telah bercerita kepadaku „Abdullah bin Abi „Ubaidillah.” Yang dimaksudkan dengan Abdullah ini ialah Abu Bakar bin Abi Dawud As-Sijistani.e. Hadis Mu’alallaq Mu‟allaq secara etimologis merupakan bentuk isim maf‟ul dari kata „alaqa( ) yang berarti menggantungkan. Kemudian dari kata at-ta‟lliq ( ), kata at-ta‟lliq diambil dari ungkapan seperti: ta‟liqul jidar ( ) atau ta‟liquth thalaq( ) dan lain sebagainya ketika semuanya berserikat untuk memutuskanhubungan. Sedangkan secara terminologis hadits mu‟allaq adalah hadits yang padabagian awal sanadnya, terdapat seorang rawi atau lebih yang dihilangkan.Abu Isa (Tirmidzi) berkata; "Diriwayatkan dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihiwasallam, bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa shalat dua puluh rakaat setelahmaghrib, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga."4. Hadis-hadis daif ditinjau dari segi cacat perawia. Hadis Mudhtharib Hadis Mudltharib, yakni hadis yang diriwayatkan dengan berbagai jalan yangsaling bertentangan, sementara kedudukan dan nilai para periwayatnya, atau sanadnyarelatif sama, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan naskh maupun tarjih.Hadis Mudhtharib dibagi menjadi dua yaitu 6
    • Hadis Mudhtharib Sanad Diriwayatkan oleh Abu Bakar, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, aku melihatrambutmu beruban”. Maka beliau bersabda: ”Yang telah membuat rambutku berubanadalah Hud dan saudara-saudaranya”. (HR. Tirmidzi) Imam Daruquthni berkata, ”Hadits ini adalah Hadits Mudhtharib, karenahadits ini tidak diriwayatkan kecuali dari satu jalan, yaitu dari Abu Ishaq”.Periwayatan dari Abu Ishaq diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits : Hadis Mudhtharib Matan Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Syuraik, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya‟bi, dari Fathimah binti Qais, ia berkata, ”Rasulullah shallallaahu „alaihi wasallamditanya tentang zakat”. Maka beliau bersabda: ”Sesungguhnya dalam harta adakewajiban yang lain selain kewajiban zakat”. Sedangkan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dari jalur sanad yangsama dengan menggunakan ungkapan :”Tidak ada kewajiban dalam harta selainkewajiban zakat” Imam Al-„Iraqi berkata, ”Ketidaktetapan (Al-Idhthirab) yang ada pada haditsdi atas tidak memungkinkan untuk ditakwilkan”.b. Hadis Maqlub Hadis Maqlub, yakni hadis yang di dalamnya terdapat pergantian, baikperiwayat, sanad, maupun matannya, yang dilakukan oleh seorang periwayat, baikdilakukannya dengan sengaja maupun tidakMaqlub Sanad Maqlub Sanad adalah hadits yang terjadi penggantian pada sanadnya. Maqlubsanad mempunyai dua bentuk : 7
    • 1. Seorang rawi mendahulukan dan mengakhirkan nama salah seorang rawi dan namabapaknya. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Ka‟ab bin Murrah kemudian adayang meriwayatkan dari Murrah bin Ka‟ab.2. Seorang rawi mengganti salah seorang rawi hadits dengan rawi yang lain dengantujuan ighrab (menjadikannya gharib, asing). Seperti hadits yang masyhur dari Salim,kemudian ada yang menjadikan hadits tersebut dari Nafi‟.Diantara rawi yang melakukan hal itu adalah Hammad bin Amr An-Nashibi.Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Hammad An-Nashibi dari A‟masydari Abu Shalih dari Abu Hurairah secara marfu‟ (disandarkan kepada Rasulullah) :“Kalau kalian bertemu dengan orang-orang musyrik di jalan, maka janganlah kamumendahului memberi salam” Hadits ini adalah hadits Maqlub yang diriwayatkan secara maqlub olehHammad. Dia menjadikan hadits tersebut dari jalan A‟masy, padahal yang terkenalbahwa hadits itu adalah dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah,seperti yang dikeluarkan oleh Imam Muslim.Maqlub MatanMaqlub Matan adalah hadits yang terjadi penggantian pada matannya. Jenis ini jugamempunyai dua bentuk :1. Seorang rawi mendahulukan dan mengakhirkan pada sebagian matan hadits.Contohnya adalah hadits Abu Hurairah pada riwayat Muslim tentang tujuh golonganyang akan diberi naungan oleh Allah di hari yang tidak ada naungan kecualinaunganNya. Dalam hadits tersebut ada : 8
    • “Dan seseorang yang bershodaqoh dengan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi,sampai-sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya”Hadits ini adalah terbalik yang terjadi di sebagian rawi hadits, karena yang benaradalah :“Dan seseorang yang bershodaqoh dengan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi,sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kananya”2. Seorang rawi menjadikan salah satu matan hadits untuk sanad yang lain danmenjadikan sanad suatu hadits untuk matan hadits yang lain (membolak-balikkanantara matan dan sanad hadits). Ini dilakukan untuk menguji. Ini seperti yang dilakukan oleh penduduk Baghdad kepada Imam Bukhari,dimana mereka membolak-balikkan 100 hadits kemudian ditanyakan kepada ImamBukhari tentangnya untuk menguji hafalan beliau. Imam Bukharipun mampumengembalikan semua hadits ke tempat semula (sebelum dibolak-balikkan) tanpa adakesalahan sedikitpun.c. Hadis Syadz Imam Syafi‟ilah yang mula-mula memperkenalkan hadis syadz inimenurutnya bila diantara perawi tziqat ada diantara mereka yang menyimpang darilainnya. Selanjutnya generasi setelahnya sepakat bahwa hadis syadz ialah hadis yangdiriwayatkan oleh perawi maqbul dalam keadaan menyimpang dari perawi lain yanglebih kuat darinya. Hadis Syadz dapat terjadi pada Sanad dan Matan 9
    • Hadis Syadz pada Sanad Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, An-Nasa‟I, dan IbnuMajah; dari jalur Ibnu „Uyainah dari Amr bin Dinar dari Ausajah dari Ibnu„Abbas,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang meninggal di masa Rasulullahshallallaahu „alaihi wasallam dan ia tidak meninggalkan ahli waris kecuali bekasbudaknya yang ia merdekakan. Maka Rasulullah shallallaahu „alaihi wasallammemberikan semua harta warisannya kepada bekas budaknya”.Imam Tirmidzi, An-Nasa‟I, dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits tersebutdengan sanad mereka dari jalur Ibnu Juraij, dari „Amr bin Dinar, dari Ausajah, dariIbnu „Abbas,“Sesungguhnya seorang laki-laki meninggal…………”.Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu „Uyainah, karena ia meriwayatkan haditstersebut dari „Amr bin Dinar dari Ausajah tanpa menyebutkan Ibnu „Abbas. Masing-masing dari Ibnu „Uyainah, Ibnu Juraij, dan Hammad bin Yazidadalah perawi yang terpercaya. Namun Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu„Uyainah dan Ibnu Juraij, karena ia meriwayatkan hadits di atas secara mursal (tanpamenyebutkan shahabat Ibnu „Abbas). Sedangkan keduanya meriwayatkannya secarabersambung dengan menyebutkan perawi shahabat.Oleh karena keduanya lebihbanyak jumlahnya, maka hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dan Ibnu„Uyainah dinamakan Hadits Mahfudh. Sedangkan hadits Hammad bin Yaziddinamakan Hadits Syadz.Hadis Syadz pada Matan Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi; dari hadits AbdulWahid bin Ziyad, dari Al-A‟masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah secara marfu‟: “Jika salah seorang di antara kalian selesai shalat sunnah fajar, maka hendaklah iaberbaring di atas badannya yang kanan”. 10
    • d. Hadis Munkar Hadis Munkar, yakni hadis yang tidak ada periwayat lain meriwayatkannya,sedangkan periwayat tersebut sangat jauh dari kriteria kedlabithan. Atau dengan katalain ada yang mendefinisikan sebagai hadis yang diriwayatkan oleh seorang yangjelas-jelas fasiq, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan juga kedlabithannyasangat rendah disebabkan salah dan lupanya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari jalur Habib bin Habib Az-Zyyat-tidak tsiqah-dari abu ishaq dan Aizar bin Haris, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Sawbersabda: Barang siapa mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadahhaji, berpuasa dan menghormati tamu, maka dia masuk surga Abu hatim berkata.Hadis ini munkar” karena perawi yang tsiqah selain (HabibAz-Zayyat) meriwayatkannya dari Abu Ishaq hanya sampai kepada sahabat (mauquf),dan riwayat inilah yang dikenal7.e. Hadis Matruk Hadis matruk ialah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang dituduhberdusta dalam hadis nabawiy, atau sering bersdusta dalam pembicaraannya, atauyang terlihat kefasikannya melalui perbuatan maupun kata-katanya. Atau yang seringsekali salah dan lupa.Misalnya hadis-hadis Amr ibn Syamr dari Jabir al-Ja‟fiy. Hadits „Amru bin Syamr Al-Ju‟fi Al-Kufi Asy-Syi‟i dari Jabir, dari AbuThufail, dari „Ali dan „Ammar, keduanya berkata,”Adalah Nabi shallallaahu „alaihiwasallam melakukan qunut pada shalat fajar, dan bertakbir pada hari Arafah dalamshalat Dhuhur dan memotong shalat „ashar pada akhir hari tasyriq“. Imam An-Nasa‟i dan Ad-Daruquthni dan ulama lainnya berkata tentang„Amru bin Syamr,”Haditsnya matruk“. 7 Manna al qathan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, h. 151. 11
    • f. Hadis Mu’allal Hadis Muallal, yakni hadis yang di dalamnya terdapat cacat tersembunyiyang secara sepintas tidak cacat. Cacat tersebut bisa berada di dalam sanad maupundi matan. Memang untuk mengetahui cacat tersebut sangat sulit dan dibutuhkankecermatan, dengan cara mengumpulkan seluruh hadis yang ada untuk kemudiandilakukan pengkajian terhadap keseluruhan hadis tersebut. .“dari Sofyan Ats-Tsaury dari „Amr bin Dinar dari Ibnu „ Umar dari Nabi saw,ujarnya: Sipenjual dan sipembeli boleh memilih selama belum berpisah”. Illat hadits ini terletak pada „Amr bin Dinar, sebab mestinya bukan dia yangmeriwayatkan, melainkan „Abdullah bin Dinar. Hal itu dapat diketahui berdasarkanriwayat-riwayat lain, yang juga melalui sanad tersebut.g. Hadis Mudraj Hadis Mudraj, yakni hadis yang didalamnya terdapat tambahan, baik dalamsanad maupun dalam matannya, yang sesungguhnya bukan termasuk hadis, tetapidapat menyebabkan orang mengira bahwa hal tersebut termasuk di dalam hadis.Hadismudraj dibagi menjadi Mudraj Sanad dan Mudraaj Matan. Contohnya, hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi dari jalan Ibnu Mahdidari ast-Tsauri dari Wasil al Ahdab dari Mansur al a‟masy dari Abu Wa‟il dari Amerbin Syurahbil dari Ibnu mas‟ud r.a, katanya aku telah bertanya kepada Rasulullahtentang dosa yang paling besar, kataku: “mana dosa yang paling besar?”. Nabi 12
    • menjawab:”engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanengkau”, aku bertanya: “kemudian apa?”.Nabi menjawab “engkau membunuh anakengkau karena khawatir akan makan dia bersama engkau”. Aku bertanya pula:“kemudian apa?”. Nabi menjawab: :engkau menzinai istri tetangga engkau”. Dalam sanad ini terdapat sanad yang disisipkan yaitu Amer bin Syurahbil,sebenarnya Abi Wail menerima langsung dari Ibnu Mas‟ud r.a dengan tidak memakaiperantara Amer ibn Syurahbil. Diriwayatkan oleh Khatib Al Baghdadi, Riwayat Abu Qathan dan Syababahdari Syu`bah dari Muhammad bin Ziad dari Abu Hurairah berkata Rasululllah saw.Telah bersabda sempurnakanlah wudhumu, neraka wail bagi tumit-tumit (milikorang-orang yang tidak membasuh dengan sempurna ketika berwudhu)". Kata-kata "Sempunakanlah wudhumu" pada hadis tersebutbukanlah sabda Nabi, melainkan kata-kata Abu Hurairah. Dan kata-kata tersebut olehpenerima riwayat dikira bagian dari matan hadis Nabih. Hadis Mushahhaf Yakni hadis yang diriwayatkan secara berbeda disebabkan adanya pergantianatau perubahan satu huruf atau lebih, baik dalam pengucapan (bentuk hurufnya)maupun dalam syakalnya, baik terjadi di dalam sanad maupun matan. Jika ditinjau dari tempat terjadinya kesalahan, maka hadits mushahhaf dibagimenjadi dua : Tashhif dalam sanad Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syu‟bah, dari Awwam binMurajim Al-Qaisi, dari Abu „Utsman An-Nahdi. Namun Yahya bin Ma‟in melakukankesalahan dalam menyebut nama ayah dari Al-Awwam. Beliau mengatakan dengan :“..dari Al-Awwam bin Muzahim”; dengan menggunakan huruf dan yangdikasrah. 13
    • Tashhif dalam matan Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit:“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam membuat kamar di dalammasjid. Namun Ibnu lahi‟ah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits diatas dengan menggunakan kalimat : “Sesungguhnya Rasulullah melakukan berkam didalam masjid Bila ditinjau dari sebab terjadinya kesalahan, maka hadits mushahhaf dibagimenjadi dua : Tashhif Bashar (Penglihatan) Tashhif bashar ini adalah sebab kesalahan yang sering terjadi. Sedangkanyang dimaksud dengan tashhif bashar adalah ketidakjelasan tulisan suatu hadits bagiyang membacanya. Hal ini disebabkan karena tulisannya yang jelek atau huruf-hurufnya yang tidak bertitik. Contohnya adalah hadits yang berbunyi : Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan kemudian diikuti 6 hari di bulanSyawal Disebabkan karena ketidakjelasan tulisan maka seorang perawi meriwayatkanhadits tersebut dengan menggunakan kata syaian sebagai ganti kata yang seharusnya,yaitu sittan Tashhif Sama’ (Pendengaran) Tashhif ini terjadi disebabkan karena pendengaran yang lemah, jarak antarapendengar dan yang ia dengarkan sangat jauh, dan lain sebagainya. Hal inimenyebabkan sebagian kata menjadi tidak jelas bagi seorang perawi karena sebagiankata tersebut terbentuk dari pola yang sama. 14
    • Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari „Ashim bin Al-Ahwal. Namun sebagian perawi hadits tersebut meriwayatkan dari Washil bin Al-Ahdab. Ditinjau dari segi kata atau maknanya, maka hadits mushahhaf terbagimenjadi 2 bagian : Tashhif dalam Lafal Tashhif inilah yang banyak terjadi seperti pada contoh-contoh di atas. Tashhif dalam Makna Yang dimaksudkan dengan Tashhif ini adalah : Seorang perawi mushahhif(yang melakukan kesalahan) meriwayatkan sebuah hadits dengan menggunakankaliamt-kalimat sesuai dengan aslinya, namun ia memberikan makna yangmenunjukkan bahwa ia memahami hadits tersebut dengan pemahaman yang tidaksesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hadits tersebut. Contohnya adalah apa yang diucapkan oleh Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna Al-„Anzi, seorang laki-laki dari kabilah „Anazah. Ia berkata,”Kami adalahKabilah „Anazah. Kami adalah suatu kamu yang mempunyai kemuliaan sebabaRasulullah shallallaahu „alaihi wasallam shalat menghadap ke arah kami”. Makna tersebut ia pahami dari sebuah hadits yang berbunyi,“SesungguhnyaRasulullah shallallaahu „alaihi wasallam shalat menghadap ke „Anazah”. Maka iamemahaminya bahwa Rasulullah shallallaahu „alaihi wasallam shalat menghadap kearah mereka. Padahal kata „Anazah (huruf „Ain dan Nun difathah) berarti tombakkecil yang bermata dua, bentuknya persis seperti „Ukazah. Dimana Rasulullahshallallaahu „alaihi wasallam menancapkannya di hadapan beliau sebagai pembatas(sutrah) ketika beliau shalat di tanah lapang. Al-Hafidh Ibnu Hajar membagi hadits mushahhaf menjadi dua bagian : Bagian pertama beliau namakan dengan sebutan Tashhif; yaitu jikaperubahannya adalah merubah titik-titik yang ada pada satu atau beberapa huruf,sedangkan bentuk katanya masih berupa bentuk yang semula. 15
    • Bagian kedua beliau namakan dengan Tahrif. Sebutan ini beliau berikan padaperubahan yang terjadi pada bentuk kata. Ini adalah pembagian yang baru. Jika seorang perawi sering melakukan Tashhif (kesalahan), maka hal ini dapatmengurangi kekuatan hafalannya. Namun apabila kadang-kadang saja iamelakukannya, maka (dimaafkan karena) mustahil orang selamat dari kesalahan.5. Hukum Meriwayatkan dan Mengamalkan Hadis dhaifDari Abdullah bin Zubair, ia berkata : Aku berkata kepada Zubair(bapaknya), Akutidak mendengarkan engkau menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihiwasallam sebagaimana yang (banyak) disampaikan oleh si fulan dan si fulan‟. Beliaumenjawab, “Sesungguhnya aku ini tidak pernah berpisah dengan beliau akan tetapiaku telah mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namakudengan sengaja maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka” Terkait dengan pengamalan hadis daif, terdapat beberapa pendapat Pertama,Muhammad „Ajjaj al-Khatib mengemukakan bahwa ada tiga pendapat mengenaipengamalan hadis daif,8yaitu : a. Hadis daif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadail al-„amal maupun dalam menetapkan hukum; b. Hadis daif bisa diamalkan secara mutlak, karena hadis daif lebih kuatdaripada ra‟y (pendapat) perseorangan; 8 Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis, h. 315-316 16
    • c. Hadis daif bisa diamalkan dalam masalah fadail al-„amal bila memenuhisyarat. Ibn Hajar mengemukakan syarat-syarat tersebut, yaitu : 1. Ke-daif-annya tidak terlalu lemah. Misalnya tidak terdapat periwayat pendusta atau tertuduh berdusta serta tidak terlalu sering melakukan kesalahan; 2. Hadis daif itu masuk dalam cakupan hadis pokok yang bisa diamalkan; 3. Ketika mengamalkannya tidak diyakini bahwa ia berstatus kuat, tetapi sekedar berhati-hati.Penutup Hadis dhaif menurut istilah adalah hadis yang didalamnya tidak didapatisyarat hadis shahih dan tidak pula didapati syarat hadis hasan, Kedaifan suatu hadisterjadi ketika Ketidakmuttashilan sanad, dan Selain ketidakmuttashilan sanad seperti;cacatnya seorang atau beberapa rawiHadis-hadis daif ditinjau dari segi terputusnya sanad Hadis Mursal Hadis Munqathi‟ Hadis Mu‟dhal Hadis Mudallas Hadis Mu‟alallaqHadis-hadis daif ditinjau dari segi cacat perawi Hadis Mudhtharib Hadis Maqlub Hadis Syadz Hadis Munkar Hadis Matruk Hadis Mu‟allal Hadis Mudraj Hadis Mushahhaf 17
    • Pendapat menganai Pengamalan Hadis Dhaif: Hadis daif tidak bisa diamalkan secara mutlak Hadis daif bisa diamalkan secara mutlak Hadis daif bisa diamalkan dalam masalah fadail al-„amal bila memenuhi syaratDaftar PustakaA. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalaha al-Hadits. cet. III; Bandung: CV. Diponegoro, 1987Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis, diterjemahkan oleh Qadirun-Nur dengan judul Ushul al- Hadis cet.I; Jakarta : Gaya Media, 1998.Fathur Rahman, Ikhstisar Mushthalahul Hadits. cet.VIII; Bandung : PT.Almaarif, 1995.Mahmud Tohan. Taisir Mustholah al Hadits. Surabaya :Al Hidayah, 1985.Manna al qathan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004Subhis-Shaleh, Membahas Ilmu-ilmu Hadits, Jakarta. Pustaka Firdaus,1997.T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits, cet.VII; Jakarta : Bulan Bintang, 1987.Totok jumantoro, Kamus Ilmu Hadits.Jakarta: Bumi Aksara,2002.Yulem, Nawir, 9 (Sembilan) Kitab Induk Hadis, Jakarta: Hijri Pustaka Utama, 2006.Yuslem, Nawir, Ulumul Hadis, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, Cetakan Pertama, 2001 18