LAPORAN asidi alkalimetri
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

LAPORAN asidi alkalimetri

on

  • 6,273 views

LAPORAN PRAKTIKUM kimia analitik I - asidi alkalimetri

LAPORAN PRAKTIKUM kimia analitik I - asidi alkalimetri

Statistics

Views

Total Views
6,273
Views on SlideShare
6,266
Embed Views
7

Actions

Likes
2
Downloads
202
Comments
0

1 Embed 7

http://www.slideee.com 7

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

LAPORAN asidi alkalimetri Document Transcript

  • 1. ASIDI-ALKALIMETRI TUJUAN Memahami reaksi asidi-alkalimetri DASAR TEORI Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. Reaksi dijalankan dengan titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit, sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran, sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat (Harjadi, 1987). Asidi Alkalimetri adalah suatu analisis titrimetri yang melibatkan titrasi asam-basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hydrogen dan ion hidroksida akan membentuk air sebagai hasil akhir dari reaksi ini (Basset,1994). Proses di mana konsentrasi larutan ditentukan secara akurat dinamakan standarisasi. Ada dua macam larutan standar, yakni standar primer dan sekunder. Larutan standar primer adalah suatu zat yang tersedia dalam bentuk murni atau keadaan dengan kemurnian yang diketahui, yang digunakan untuk menstandarkan suatu larutan, contohnya KHC₈H₄O₄, HSO₃NH₂, dan KH(IO₃). Sementara itu, larutan standar sekunder adalah larutan yang harus distandarisasi dahulu sebelum digunakan, misalnya KMnO₄, Na₂S₂O₃, dan K₂Cr₂O₇ (Harjadi, 1987). Natrium adalah logam putih-perak yang lunak, yang melebur pada 97,5°C. Natrium teroksidasi dengan cepat dalam udara lembab, maka harus disimpan terendam seluruhnya dalam pelarut nafta atau stilena. Logam ini bereaksi keras dengan air, membentuk natrium hidroksida dan hidrogen: (Svehla, 1979) Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air (Greenwood, 1997). Na₂CO₃ memiliki nama resmi natrii carbonas, sedangkan nama lainnya yaitu natrium karbonat dengan berat molekul 124. Senyawa ini hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih. Kelarutannya dalam air yakni tidak mudah larut dalam air, melainkan mudah larut dalam air mendidih. Senyawa Na₂CO₃ biasanya disimpan dalam wadah yang tertutup,
  • 2. sedangkan untuk menggunaannya biasanya sebagai bahan tambahan (pelengkap bahan utama) (Ditjen POM, 1979) Soda api NaOH merupakan alkali terpenting dalam industri yang digunakan dalam berbagai tujuan termasuk dalam pembuatan senyawa anorganik dan organik, pembuatan kertas, penetralan, dan pembuatan alumina dan sabun. Sementara itu, soda abu Na₂CO₃ biasa digunakan saling bertukaran dengan NaOH dalam beberapa aplikasi, seperti pembuatan kertas, sabun, dan detergen. Dalam jumlah besar juga digunakan dalam pembuatan gelas, fosfat, silikat, dan pembersihan serta penghilangan polusi SO₂ dari cerobong asap pembakaran bahan bakar (Mido, 1994). Ion-ion amonium diturunkan dari amonia (NH₃) dan ion hidrogen H⁺. Ciri-ciri khas ion ini adalah serupa dengan ciri-ciri khas ion logam alkali. Garam-garam amonium umumnya adalah senyawa-senyawa yang larut dalam air dengan membentuk larutan yang tak berwarna (kecuali bila anionnya berwarna). Dengan pemanasan, garam amonium terurai menjadi amonia dan asam yang sesuai. Kecuali jika asamnya tak mudah menguap, garam amonium dapat dihilangkan secara kuantitatif dari campuran kering dengan memanaskan (Svehla, 1979). METODE PERCOBAAN  ALAT Alat-alat yang diperlukan dalam percobaan ini meliputi buret, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, pemanas (kompor listrik), pipet ukur, pipet tetes, dan propipet.  BAHAN Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini meliputi larutan boraks, larutan HCl 0,1 N, campuran larutan NaOH dan Na₂CO₃, larutan sampel garam amonium, larutan NaOH 0,1 M, akuades, indikator PP, dan indikator metil orange (MO).  CARA KERJA  Standarisasi larutan HCl Diambil  Penetapan campuran NaOH dan Na₂CO₃  Menentukan amonia di dalam garam amonium Diambil 25 ml larutan sampel garam ammonium dan ditambahkan 10 ml larutan standar NaOH 0,1 M. Setelah campuran didihkan, ditambahkan indikator MO dan dititrasi dengan larutan HCl 0,1 M. Titrasi diulangi sebanyak 3 kali. HASIL PENELITIAN
  • 3. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut.  Percobaan standarisasi larutan HCl Titrasi ke- Volume larutan standar yang diperlukan 1. 4,1 ml 2. 3,3 ml 3. 3,4 ml  Percobaan penetapan campuran NaOH dan Na₂CO₃  Titrasi saat menggunakan indikator PP Titrasi ke- Volume larutan standar yang diperlukan 1. 19 ml 2. 18,3 ml 3. 18 ml  Titrasi saat menggunakan indikator MO Titrasi ke- Volume larutan standar yang diperlukan 1. 9,9 ml 2. 9,9 ml 3. 10,6 ml  Percobaan menentukan amonia di dalam garam amonium Titrasi ke- Volume larutan standar yang diperlukan 1. 4,7 ml 2. 4,6 ml 3. 3 ml PEMBAHASAN Metode titrimeti merupakan suatu metode analisis kuantitatif di mana dengan mereaksi suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya ke dalam larutan yang ingin diketahui konsentrasinya. Pada percobaan ini lebih digunakan metode titrimeti untuk asidimetri. Hal ini dikarenakan larutan standar yang digunakan dalam percobaan ini yaitu larutan HCl, di mana HCl bersifat asam. Telah diketahui bahwa proses titrasi yang menggunakan larutan standar berupa asam dikenal sebagai asidimetri. Pada percobaan pertama yakni percobaan standarisasi HCl. Larutan HCl inilah yang nantinya akan digunakan sebagai titran dalam percobaan-percobaan selanjutnya. Akan tetapi, larutan HCl harus distandarisasikan terlebih dahulu. HCl harus distandardisasi karena larutan ini mudah menguap dan mudah bereaksi dengan senyawa lain di udara. Dengan kata lain larutan HCl bersifat higrokopis, menyerap uap air, dan menyerap CO2 pada waktu proses penimbangannya, sehingga konsentrasinya dapat berubah degan cepat. Oleh karena itu, larutan HCl merupakan contoh dari larutan standar sekunder. Larutan standar sekunder
  • 4. merupakan larutan standar yang tidak dapat dibuat dan ditentukan konsentrasinya hanya dengan melarutkan padatannya dalam sebuah pelarut dikarenakan sifatnya yang mudah bereaksi dengan senyawa lain di udara, sehingga setiap kali ingin digunakan dalam proses titrasi maka harus distandarisasi terlebih dahulu. Pada larutan standar sekunder, konsentrasi pasti ditentukan dengan menitrasi larutan asam tersebut dengan suatu titran tertentu (titran harus berupa larutan standar primer) yang sudah diketahui konsentrasi pastinya. Pada percobaan ini, larutan HCl akan distandarisasi menggunakan larutan boraks. Boraks digunakan dalam standarisasi larutan HCl karena sifatnya yang mudah diperoleh dalam keadaan murni, cukup stabil, mudah dikeringkan, dan memiliki berat ekuivalen yang tinggi (dapat mengurangi konsekuensi akibat kesalahan dalam penimbangan). Boraks yang akan digunakan harus dilarutkan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan boraks berbentuk kristal sehingga tidak bisa dititrasi secara langsung. Reaksi yang terjadi pada saat pelarutan boraks dengan air adalah sebagai berikut. Na₂B₄O₇ + 2H₂O → 2NaOH + H₂B₄O₇ Standarisasi HCl dengan menggunakan Na₂B₄O₇ ini disebut metode acidimetri, di mana menggunakan larutan asam sebagai titrannya. Indikator yang digunakan pada percobaan ini yakni metil orange. Indikator metil orange ini memilike range pH dari 3,1 sampai 4,4. Warna larutan akan berubah menjadi warna merah pada pH dibawah 3.1 dan menjadi warna kuning pada pH diatas 4.4 jadi warna transisinya adalah orange. Indikator ini biasa digunakan dalam analisis larutan yang bersifat basa. Jingga metil adalah salah satu indikator yang banyak digunakan dalam titrasi. Pada larutan yang bersifat basa, jingga metil berwarna kuning dan strukturnya adalah: Larutan boraks dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan indikator metil orange 2 tetes. Larutan ini kemudian dititrasi dengan HCl. Semula larutan boraks bersifat basa, namun ketika dititrasi dengan larutan HCl akan berangsur-angsur menjadi asam yang mana ditandai dengan turunnya nilai pH. Penambahan larutan HCl akan menyebabkan ion hidrogen tertarik pada salah satu ion nitrogen pada ikatan rangkap nitrogen-nitrogen untuk memberikan struktur yang dapat dituliskan seperti berikut ini:
  • 5. Kesetimbangan terjadi saat warna larutan boraks berubah dari yang semula berwarna kuning menjadi merah keorangean. Di mana pada saat itu terjadi jumlah mol ion H+ yang ditambahkan ke larutan sama dengan jumlah mol ion OH- yang semula ada. Reaksi yang terjadi saat penambahan larutan HCl ke dalam larutan boraks adalah sebagai berikut. Na₂B₄O₇.10 H₂O + 2 HCl → 2NaCl + 4H₃BO₃ + 5 H₂O Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume larutan HCl yang digunakan dalam proses titrasi dengan larutan boraks dalam 3 kali perulangan yakni 4,1 ml, 3,3 ml, dan 3,4 ml. Apabila volume tersebut dirata-rata diperoleh hasil volume rata-rata titrasi yaitu 3,6 ml. Hasil volume ini yang digunakan untuk menghitung nilai normalitas larutan HCl. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai normalitas larutan HCl yakni 0,0927 N. Pada percobaan kedua yaitu penetepan campuran NaOH dan Na₂CO₃. Percobaan ini dilakukan dengan menitrasi larutan tersebut dengan larutan HCl 0,1 N. Percobaan ini terdapat dua kali titrasi. Di mana pada dua kali titrasi ini akan menggunakan dua indikator yang berbeda (indikator campuran), yaitu indikator PP dan MO (metil orange). Indikator campuran adalah dua indikator yang berbeda range pHnya lalu dicampurkan, di mana pada indikator PP memiliki range pH antara 8,2-10 sementara pada indikator MO memiliki range pH antara 3,1-4,4. Alasan digunakannya dua indikator ini yakni karena larutan yang akan ditentukan yakni dalam bentuk campuran, sehingga dapat menentukan konsentrasi komponen-komponen dalam campuran. Selain itu, juga dapat memperkecil kesalahan titrasi dan dapat memperpendek range pH. Pada waktu titrasi pertama penetapan campuran NaOH dan Na₂CO₃ dipakai indikator PP. Penggunaan indikator PP ini dikarenakan NaOH dan Na₂CO₃ mempunyai pH diatas 7, sedangkan diketahui bahwa indikator PP memiliki rentang pH antara 8,3 sampai 10,0. Sehingga dengan indikator tersebut dapat mengidentifikasi perubahan pH pada larutan campuran tersebut. Larutan HCl 0,1 N digunakan sebagai larutan standar dalam percobaan ini. Warna awal larutan setelah ditambahkan indikator PP dan sebelum dititrasi yakni merah muda. Warna ini karena kondisi campuran larutan sebelumnya yakni dalam kondisi basa. Dengan adanya penambahan larutan asam HCl, perlahan kondisi larutan akan mengalami penurunan pH, di mana ditandai dengan perubahan warna menjadi bening. Kondisi inilah yang disebut ekivalen. Namun, titrasi harus dihentikan pada waktu sesaat sebelum warna jadi bening hal ini untuk menghindari kelebihan volume titran yang digunakan. Pada proses titrasi kedua, digunakan indikator metil orange (MO). Indikator ini memiliki rentang pH antara 3,1 sampai 4,4. Penggunakan indikator MO ini karena pada reaksi yang ke 2 terjadi penurunan pH, sehingga pH lebih kecil dari 7, sehingga MO cocok dipakai sebagai indikator pada reaksi yang ke II. Warna awal larutan saat telah ditambahkan MO dan sebelum dititrasi dengan HCl 0,1 N yaitu kuning. Penambahan larutan HCl akan menyebabkan kenaikan pH, sehingga warna larutan akan berubah menjadi orange. Reaksi keseluruhan pada penetapan campuran NaOH dan Na2CO3 adalah sebagai berikut.
  • 6. i. ii. Pada titik ekivalen I NaOH akan bereaksi sempurna dengan HCl membentuk NaCl dan H₂O. Sementara itu, Na₂CO₃ akan melepaskan satu ion Na⁺ dan diganti kedudukannya dengan atom H⁺ dari HCl dan membentuk NaHCO₃. Setelah itu, reaksi berlanjut dengan melepaskan Na⁺ dari NaHCO₃ kemudian digantikan kedudukannya dengan kelebihan HCl sehingga terbentuk H₂O, CO₂, dan NaCl. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume HCl yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen pada titrasi pertama yaitu 19 ml, 18,3 ml, dan 18 ml. Sementara itu, volume HCl yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen pada titrasi kedua yaitu 9,9 ml, 9,9 ml, dan 10,6 ml. Dengan hasil volume tersebut, maka dapat diketahui massa NaOH dan massa Na₂CO₃ dalam campuran tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil bahwa massa NaOH dalam campuran yitu 33,198 ml, sedangkan massa Na₂CO₃ dalam campuran yaitu 214,734 mg. Percobaan terakhir yakni menentukan amonia di dalam garam amonuim. Sama dengan percobaan sebelumnya, pada percobaan ini juga menggunakan larutan HCl 0,1 N sebagai larutan standarnya. Percobaan ini dilakukan dengan mencampurnkan sampel garam ammonium dengan larutan NaOH 0,1 M. Larutan ini kemudian dididihkan. Tujuan dari mendidihkan campuran larutan ini yaitu untuk menguapkan ammonia. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut. Titrasi baru dilakukan sesudah larutan mendidih dan bau ammonia hilang. Sehingga setelah larutan mendidih perlu didiamkan beberapa saat dahulu (± 5 menitan). Pada percobaan ini digunakan indikator MO, sehingga warna larutan sebelum dititrasi yakni kuning. Titrasi baru dihentikan ketika terjadi perubahan menjadi orange (jingga). Pada saat melakukan percobaan ini, diusahakan rentang waktu antara titrasi tidak terlalu lama. Hal ini dikarenakan larutan sebelumnya didihkan harus didiamkan dahulu. Pendiaman ini akan menyebabkan penurunan suhu. Apabila saat dilakukan titrasi terdapat perbedaan suhu yang mencolok antara titrasi pertama dan seterusnya, maka akan menyebabkan pengaruh yang cukup besar terhadap hasil. Hal ini karena ketika titrasi dilakukan pada waktu larutan masih panas volume titran yang diperlukan lebih sedikit sedangkan ketika titrasi dilakukan pada keadaan yang lebih dingin volume titran yang dipakai lebih banyak. Kejadian ini dapat disebabkan karena adanya faktor panas/suhu. Seperti yang telah diketahui bahwa kecepatan/laju reaksi dipengaruhi oleh suhu, sehingga reaksi akan berjalan lebih cepat saat suhu tinggi demikian sebaliknya.
  • 7. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume larutan HCl yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen yakni 4,7 ml, 4,6 ml, dan 3 ml. Dengan hasil volume tersebut dapat digunakan untuk menghitung massa amonia yang terkandung dalam sampel garam ammonium. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh massa amonia yaitu 10,048 mg. Setiap percobaan titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Percobaan yang di lakukan 3 kali ini bertujuan agar diketahui hasil titrasi yang relatif dekat dengan hasil volume yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalennya (lebih akurat). KESIMPULAN Reaksi asidi alkalimetri merupakan metode analisis titrimetri yang melibatkan titrasi asam basa, di mana asidimetri menggunakan larutan asam sebagai larutan standarnya sedangkan alkalimetri menggunakan larutan basa sebagai larutan standarnya. DAFTAR PUSTAKA Basset, J., 1994, Teknik Analisis Kuantitatif, Erlangga, Jakarta. Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta. Greenwood, N. N., 1997, Chemistry Of The Elements, Edisi Kedia, Butterworth-Heinemann, Oxford. Harjadi, W., 1987, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta. Mido, Y., 1994, Chemistry Of S-Block Elements, Edisi Kedua, Discovery Publishing House, New Delhi. Svehla, G., 1979, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT Kalman Media Pustaka, Jakarta.