Pedoman menjadi aktivis sekolahan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pedoman menjadi aktivis sekolahan

on

  • 841 views

 

Statistics

Views

Total Views
841
Views on SlideShare
841
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
17
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Pedoman menjadi aktivis sekolahan Pedoman menjadi aktivis sekolahan Document Transcript

  • SEKAPUR SIRIH GAGASAN [ Buah Pikiran yang Baru Terungkap dari Sang Mantan Aktivis ] RIFKY Ketua KIR SMA 32 Jakarta 1983-1984 Sekretaris Umum OSIS SMA 32 Jakarta 1983-1984 KIR (KELOMPOK ILMIAH REMAJA) 1. KARYA dan PRESTASI sebagai VISI KIR SMAN 32 JAKARTA Memang harus diakui ketika KIR SMAN 32 Jakarta lahir, terbentuk dan berdiri sampai kini dengan catatan usia menjelang 29 tahun, belum dirumuskan Visinya sebagai sebuah organisasi. Namun, sebenarnya apa yang diinginkan oleh para pendiri, perintis, pengurus di tiap periode dan anggota, serta alumni akan menuju dan mengerucut pada dua kata: PRESTASI dan KARYA. Ketika PIR (Perkemahan Ilmiah Remaja) pertama yang dilangsungkan di Cisarua, 6-9 Juni 1983, KIR SMAN 32 Jakarta sudah memiliki moto, yakni KELOMPOK ILMIAH REMAJA SEBAGAI PENUNJANG KEGIATAN UNTUK BERKARYA DAN BERPRESTASI. Kemudian di kepengurusan periode kedua, bersamaan dengan sosialisasi hasil revisi lambang KIR, moto tersebut disederhanakan dan dipertajam menjadi: KIR, WADAHNYA REMAJA UNTUK BERKARYA DAN BERPRESTASI. Sehingga dapatlah dirumuskan VISI KIR SMAN 32 Jakarta, sebagai berikut: MENJADIKAN SISWA SMAN 32 JAKARTA SEBAGAI REMAJA YANG DAPAT BERPRESTASI SECARA AKADEMIS DAN DAPAT MENGHASILKAN KARYA ILMIAH DI BIDANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. Dengan demikian, visi ini juga akan memberi inspirasi dan motivasi bagi alumninya untuk selalu berusaha membuat “karya & prestasi” di bidang profesi masing-masing, dalam penyaluran hobi, atau ketika berkontribusi dalam bermasyarakat untuk memberi yang terbaik. Dengan hasil yang berbobot, nilai dan mutu yang tinggi dari usaha yang serius dan kerja yang keras, tak ada dan tak akan pernah ada sesuatu yang menggantikan dengan kepuasan yang didapat.
  • 2. KIR, kegiatan ekskul yang juga ko-kul dan bisa “kul” Eksistensi KIR sebenarnya tidak hanya sebagai kegiatan ekskul (ekstra kurikuler), tetapi juga kokul (kegiatan ko kurikuler), sebagai penunjang KBM yang kurikuler (kul), yakni ada kurikulumnya. Dan tidak mengada-ada kalau KIR juga punya kurikulum (sebagai versi lain program aktivitas) bagi anggotanya (2 tahun aktif & 6 bulan pasif, selama 5 semester), karena anggota KIR belajar berorganisasi, penelitian, dan aktivitas ilmiah lainnya. Belajar berorganisasi, dimulai dari rekruitmen & pelantikan anggota, pelatihan dasar berorganisasi, keterlibatan di kepanitiaan, menjadi pengurus, menjadi duta organisasi berinteraksi dengan organisasi lain, pergantian pengurus dan persiapan pensiun (semester awal di kelas 12 / 6 bulan pasif ) serta masuk pensiun (semester akhir, fokus ujian akhir sekolah). Peneltian di KIR dapat diorganisasi perkelompok atau sendiri-sendiri. Kalau diorganisasi perkelompok , tiap kelompok terdiri dari 6 orang: 1 orang kelas 12 (ketua), dan anggota terdiri dari 2 orang kelas 11 dan 3 orang kelas 10. Pembimbing dalam riset ini, terdiri dari 2 yaitu Pembimbing teknis (Guru Pembimbing KIR & Guru Bahasa Indonesia) dan Pembimbing Materi (Guru Bidang Studi yang berkaitan, atau Alumni yang berlatar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang riset). Nah, dalam kegiatan penelitian ini perlu program pelatihan meneliti (metodologi penelitian), pengenalan sarana & fasilitas penelitian, tempat & jenis penelitian, kegiatan penelitian, pembuatan laporan penelitian, sampai keikutsertaan dalam kompetisi dalam Lomba Karya Ilmiah (iptek). Aktivitas ilmiah yang lain, adalah Pameran Ilmiah (Science Fair & Technology Expo), Ceramah, Diskusi dan Seminar Ilmiah, Kunjungan Ilmiah (Anjangsana sesama organisasi ilmiah & riset), Kolaborasi antar KIR, Permainan (Games) Ilmiah, Karya Wisata (Wisata Ilmiah), Majalah Dinding Ilmiah, Penerbitan & Publikasi Ilmiah (buletin atau majalah), dan PIR (Perkemahan Ilmiah Remaja), baik berskala besar (7-14 hari), atau 2-3 hari (PIRSAMI atau PIRJUSAMI). Dengan begitu, di KIR metode pendidikan seperti kognitif, afektif, dan psikomotor telah terealisasikan dengan sendirinya, hanya tidak terstruktur (memiliki kurikulum) seperti halnya lembaga pendidikan formal. Kan, bukan tidak mungkin kalau KIR juga bisa berbuat seperti anakanak SMK sekarang. Dan, bukan hil yang mustahal… (eh…maksudnya), bukan hal yang mustahil jika suatu saat mobil setara “Kiat Esemka” bisa dibuat anak-anak KIR. Iya, kan?
  • 3. KIR = Keorganisasian Iptek (ilmu pengetahuan & teknologi) bagi Remaja Ada 3 kata yang terdapat dalam K.I.R, yakni kelompok, ilmiah, dan remaja. Kelompok adalah sebuah kumpulan, karena memang asalnya anggota KIR adalah kumpulan siswa yang berkumpul belajar di luar jam belajar yang ditetapkan sekolah, dalam bentuk kelompok belajar (study club). Konotasi kelompok berkembang menjadi organisasi seiring, dengan bertambahnya jum lah anggota dan beragamnya program kegiatan yang berkaitan langsung dengan pelajaran (diskusi, percobaan, dan penulisan karya ilmiah). Sebagai sebuah organisasi maka, hal-hal yang menyangkut dasardasar kepemimpinan, sistem berorganisasi, manajemen, dan administrasi sudah harus built-in dengan sendirinya. Kata “ilmiah” diserap dari kata sifat “scientific”, yang berarti sifat keilmuan, berdasarkan ilmu pengetahuan, dan ke-ilmu pengetahuan-an(?) Memang ada kerancuan antara kata “ilmu”, “pengetahuan”, dan “ilmu pengetahuan” dalam bahasa Indonesia ketika disesuaikan dengan kata “science”, “knowledge” dalam bahasa Inggris. Pasalnya, telah dikenal dalam rumpun ilmu bahwa terjemahan dari “natural science” dan “social science” adalah IPA (ilmu pengetahuan alam) dan IPS (ilmu pengetahuan sosial). Di sini digunakan 2 kata sekaligus, “ilmu pengetahuan” yang dalam bahasa Inggris masing-masing memiliki arti tersendiri. “Knowledge’ artinya pengetahuan, dan “science” artinya ilmu. Kalau begitu padanan IPA dan IPS dengan “natural science” dan “social science” tidak tepat? Perlu diganti dengan IA (ilmu alam) dan IS (ilmu sosial)? Sedangkan “physics” diartikan sebagai ilmu alam (fisika), “biology” sebagai ilmu hayat (biologi), “chemistry” menjadi ilmu kimia. Dalam ilmu pengetahuan sosial, ada sosiologi (=ilmu sosial?). Sementara “economics” dikonotasikan sebagai “social studies” bukan science dalam social science lainnya. Celakanya, terminologi “ilmu pengetahuan” diperkenankan kata “sains”. Sebuah adopsi yang kurang dapat dipertanggung jawabkan, bahkan cenderung gegabah. Kata “sains” menafsirkan MIPA = matematika + IPA (fisika, kimia, biologi dan cabang-cabang serta paduannya). Tidak disadari atau tidak disengaja, kata “science” sering dilekatkan dengan “technology” atau “sainstek”, akhirnya seolah-olah “science” itu adalah hanya ilmu-ilmu (pengetahuan) alam. Akhirnya,….kasian deh ilmu-ilmu (pengetahuan) sosial tidak punya tempat. Ilmu-ilmu (pengetahuan) sosial secara halus bisa dikatakan bukan “science”. Dengan pemahaman ini, maka jurang antara ilmu-ilmu (pengatahuan) alam dan ilmu-ilmu (pengetahuan) sosial semakin lebar dan dalam. Oleh karena itu dibutuhkan ilmuwan yang memandang antara keduanya bukan berada pada hierarki tetapi paralel, tidak dalam levelisasi tetapi seteraan dan kesejajaran. IPA dan IPS harus bergandengan tangan. Hal ini PR bagi yang merindukan runtuhnya tembok pembatas serta pagar pemisah. Mereka berada di dalam dunia pendidikan, organisasi ilmuwan, dan komunitas sosial. Remaja, sering diidentikan sebagai anak usia belia atau belasan tahun (teenagers). Namun, definisi dari Dariyo dalam Husamah (2011), remaja adalah masa transisi/peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa depan dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan fisik, psikis, dan psikososial. Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 12/13-21 tahun. Penggolongan remaja terbagi menjadi 3 tahap yaitu (a) remaja awal (usia 13-14 tahun), (b) remaja tengah (usia 15-17), dan remaja akhir (usia 18-21 tahun). Masa remaja awal, umumnya individu telah memasuki masa pendidikan di bangku SLTP (SMP/MTs), sedangkan saat masa remaja tengah individu sudah duduk di bangku SMU (SMA/MA/SMK). Kemudian, mereka yang tergolong remaja akhir
  • umumnya sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau lulus SMU dan mungkin sudah bekerja. Remaja anggota KIR, ada pada remaja tengah. Sedangkan untuk remaja awal sudah seharusnya mengenal KIR, tetapi sosialisasi KIR di tingkat SLTP masih sangat kurang, walaupun pernah ada siswa kelas akhir SLTP yang memenangkan lomba karya ilmiah yang diperuntukan bagi siswa SMU. Sosialisasi KIR harus terus dilakukan dengan gencar, agar tak ada lagi sekolah setingkat SMU yang tidak memiliki KIR. Juga mulai diekspansi KIR di tingkat SLTP. Sekolah SMU yang sudah memiliki KIR seyogyanya mengagendakan dalam satu tahun ada pertemuan ajang silaturahim antar KIR sekolah (misal: Science & Technology Expo) dalam satu wilayah baik kecamatan, kotamadya/kabupaten, propinsi atau nasional (sesuai kemampuan) dengan mengikutsertakan juga sekolah-sekolah yang belum ada KIR-nya. Manfaatkan juga “link” dan “network” – dalam bentuk kerja sama (pengisian acara), kunjungan atau kemitraan (aktivitas terprogram) - dengan lembaga pemerintah/negara dan swasta, seperti: 1. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) 2. Pusat Dokumentasi Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), 3. Perpustakaan Nasional 4. Puspiptek (Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) 5. Kementerian Riset dan Teknologi 6. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) 7. Perguruan Tinggi (PTN dan PTS) 8. Lembaga Penelitian lain 9. Industri 10. UKM berbasis teknologi (technopreneur) & industri kreatif Akhirnya, semoga KIR di sekolah turut memberi kontribusi bagi pengembangan ipteks dalam skala nasional bahkan mampu berkiprah dalam kancah internasional. Insya Allah, semoga.
  • 4. KIR = Student Group + Science Club ? Menurut Wikipedia, kelompok ilmiah remaja (disingkat KIR) adalah kelompok remaja yang melakukan serangkaian kegiatan yang menghasilkan karya ilmiah. KIR merupakan kegiatan ekstrakurikuler di SMP, SMA, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, maupun pondok pesantren. Ekstrakurikuler ini merupakan organisasi yang sifatnya terbuka bagi para remaja yang ingin mengembangkan kreativitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi pada masa kini maupun masa yang akan datang. Sejarahnya KIR bermula dari Konferensi Anak se Dunia di Grenoble, Prancis tahun 1963 yang diadakan UNESCO, yang menghasilkan rumusan untuk membuat kegiatan bagi remaja yang berusia 12-18 tahun di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dibentuklah Youth Science Club (disingkat YSC). Di Indonesia pelopor pembentukan kegiatan ilmiah ini datang dari koran Harian Berita Yudha yang membentuk Remaja Yudha Club (RYC). Selanjutnya, setelah difasilitasi oleh LIPI dan mengalami perkembangan, maka Remaja Yudha Club berubah menjadi Kelompok Ilmiah Remaja. Istilah ini masih digunakan hingga saat ini, walaupun beberapa sekolah ada yang tetap menggunakan istilah Science Club. Student group (kelompok pelajar) merupakan kelompok yang dibentuk pelajar dalam mendalami dan mendapatkan pengayaan materi pelajaran di luar proses kegiatan belajar mengajar. Kelompok ini juga dikenal sebagai Study Club, yang tetap beraktivitas berkaitan dengan pelajar sekolah. Sedang dalam perguruan tinggi, sekolah tinggi, dan universitas sering disebut sebagai Kelompok Studi, yang anggotanya terdiri dari mahasiswa yang membahas bidang studi tertentu secara bersama-sama. Pada organisasi profesi atau organisasi massa biasa dikenal sebagai Kelompok Kajian. Bahkan pada perusahaan tertentu juga terdapat hal serupa, dengan sebutan FGD (Forum Grup Diskusi). Di universitas terdapat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan KSM (Kelompok Studi Mahasiswa), selain badan eksekutif dan badan legislatifnya. UKM adalah wadah aktivitas kemahasiswaan untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu bagi para aktivis yang ada di dalamnya. Unit Kegiatan Mahasiswa sebetulnya adalah bagian/organ/departemen dari Dewan Mahasiswa. Ketika dilakukan pembubaran Dewan Mahasiswa, departemen-departemen Dewan Mahasiswa ini kemudian berdiri sendiri-sendiri menjadi unit-unit otonom di Kampus. Unit Kegiatan Mahasiswa terdiri dari tiga kelompok minat : Unit-unit Kegiatan Olahraga, Unit-unit Kegiatan Kesenian dan Unit Khusus (Pramuka, Resimen Mahasiswa, Pers Mahasiswa, Koperasi Mahasiswa, Unit Kerohanian dan sebagainya). Sementara KSM berada pada jurusan atau program studi yang merupakan wahana aktvitas mahasiswa dalam menelaah, membahas, mengkaji persoalan yang berkaitan dengan jurusan atau program studi sesuai spesialisasi disiplin ilmu, sedangkan pada tingkat fakultas atau universitas sebagai forum diskusi yang membahas masalah ditinjau dari berbagai multi disiplin ilmu. KSM lebih cenderung dalam pengasahan ketajaman intelektualitas, perluasan wawasan pemikiran, menumbuhkan kepekaan sebagai social control terhadap kebijakan publik, dan meningkatkan keterampilan dan keahlian dalam spesialisasi bidang masing-masing.
  • Oleh karena itu, jika ditarik garis merah antara kegiatan Ektrakurikuler (Ekskul) non KIR dan KIR (Science Club) di Sekolah Menengah dengan UKM dan KSM di Perguruan Tinggi, maka hasilnya adalah, Ekskul non KIR sepadan dengan UKM sedangkan KIR setara dengan KSM. Jika dalam pelaksanaan KIR di sekolah menengah, menggabungkan kegiatan Study Club dan Science Club, maka kena banget dah! Masa sih anggota KIR hanya jago buat rangking di kelas doang tapi engga mampu membuat karya ilmiah minimal tulisan ilmiah. Atau sebaliknya, jadi anggota KIR pinter banget meneliti dan membuat karya ilmiah, tapi jeblok dalam UAS sehingga masuk dalam kelompok di bawah ”garis kemiskinan” di bidang akademis (nilai rapor berhias angka merah). Parah kan?! Namun, kabar kurang baik datang pada Rancangan (Draf) Kurikulum 2013 walaupun belum digetok palu untuk disahkan sebagai kurikulum jadi dan masih dalam Uji Publik. Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) tidak disebutkan secara definitif sebagai komponen ekstrakuler (slide 24 dari 72). Mencermati slide itu penulis hanya bergumam. ”TER..LA...LU !!!”, kata Bang Haji, sebutan pedangdut Rhoma Irama (seorang ”Raja” yang ingin menjadi Presiden) ketika melihat fenomena yang membuat dirinya kesal, gemas, dan marah. Sungguh ironis, kalau KIR dianggap anak tiri atau anak hilang. Kaciaa....aan deeh KIR ! Menurut FOSCA (Forum Of SCientist teenAgers), LIPI dan DEPDIKNAS memfasilitasi kegiatan KIR dengan Event Tahunan yakni Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tingkat Nasional yang diadakan LIPI dan Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) tingkat Nasional yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional RI. Sedangkan untuk kegiatan pelatihan tentang penelitian LIPI mengadakan PIRN (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) yang diadakan di daerah-daerah di Indonesia. Dari blog FOSCA, beberapa data yang berkaitan dengan perkembangan KIR dapat disebutkan: A. Komunitas KIR tingkat Wilayah 1. KIR Jakarta Selatan 2. KIR Jakarta Timur 3. KIR Jakarta Utara 4. KIR Jakarta Pusat 5. KIR Bekasi 6. KIR Bogor
  • B. Komunitas KIR tingkat SMAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. KIR SMA 1 Jakarta KIR SMA 4 Jakarta KIR SMA 6 Jakarta KIR SMA 8 Jakarta KIR SMA 13 Jakarta KIR SMA 14 Jakarta KIR SMA 15 Jakarta KIR SMA 16 Jakarta KIR SMA 18 Jakarta KIR SMA 21 Jakarta KIR SMA 25 Jakarta KIR SMA 28 Jakarta KIR SMA 29 Jakarta KIR SMA 30 Jakarta KIR SMA 31 Jakarta KIR SMA 32 Jakarta KIR SMA 33 Jakarta KIR SMA 34 Jakarta KIR SMA 38 Jakarta KIR SMA 39 Jakarta KIR SMA 47 Jakarta KIR SMA 48 Jakarta KIR SMA 51 Jakarta KIR SMA 54 Jakarta KIR SMA 55 Jakarta KIR SMA 59 Jakarta KIR SMA 61 Jakarta KIR SMA 66 Jakarta KIR SMA 70 Jakarta KIR SMA 71 Jakarta KIR SMA 72 Jakarta KIR SMA 77 Jakarta KIR SMA 78 Jakarta KIR SMA 80 Jakarta KIR SMA 83 Jakarta KIR SMA 84 Jakarta KIR SMA 87 Jakarta KIR SMA 88 Jakarta KIR SMA 90 Jakarta KIR SMA 95 Jakarta KIR SMA 97 Jakarta KIR SMA 98 Jakarta KIR SMA 1 Bogor KIR SMA 5 Bogor KIR SMA 1 Depok KIR SMA 1 Bekasi KIR SMA 4 Bekasi KIR SMA 5 Bekasi KIR SMA 1Tangerang
  • C. Komunitas KIR tingkat MAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. KIR MAN 1 Jakarta KIR MAN 2 Jakarta KIR MAN 4 Jakarta KIR MAN 7 Jakarta KIR MAN 13 Jakarta KIR MAN 14 Jakarta KIR MAN 18 Jakarta KIR MAN 19 Jakarta KIR MAN 2 Bogor D. Kompetisi KIR 1. ISPO (Indonesian science Project Olympiad) 2. LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja) 3. NYIA (National Young Innovator Awards) 4. LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) 5. INAYS (Indonesian Young Scientist Competition) 6. OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) 7. INEPO (International Environmental Project Olympiad) 8. ICYS (International Conference of Young Scientists) 9. ISWEEEP (International Sustainable World Engineering, Energy & Environment Project Olympiad) 10. IYIPO (International Young Inventor Project Olympiad) 11. INESPO (International Environment & Scientific Project Olympiad) Penulis merasa heran, apakah ini kesengajaan atau kelalaian. Mungkinkah para penyusun Draft Kurukulum 2013 tidak pernah menjadi anggota KIR saat sekolah dulu atau tidak pernah mendengar “makhluk” yang bernama KIR itu. Masa sih ada orang pinter picik atau naïf? Penulis yakin, tidak mungkin. Kalau disimak dengan seksama, nampaknya para penyusun bukan aktivis waktu sekolahnya dan hanya berkutat dengan buku teks saja hidupnya, karena tidak dapat membedakan posisi OSIS dengan Ekskul. Kemana MPK (Majelis Perwakilan Kelas) sebagai lembaga legislatif? Ada satu lagi yang lucu, suatu kegiatan Ekskul wajib diikuti oleh semua siswa. Seolah dipaksakan. Seperti di perguruan tinggi beberapa negara (terutama saat Perang Dunia) pernah ada keharusan wajib militer bagi mahasiswa untuk diikuti. Semestinya semua siswa diwajibkan memilih minimal satu dari sekian kegiatan Ekskul yang ada. Penulis kira lebih bijak demikian, karena kegiatan sifatnya sukarela dan ada unsur peminatan. Jika Anda peduli dengan perkembangan KIR, Anda dapat nimbrung dalam Uji Publik Draft Kurikulum 2013 itu dengan memberikan komentar, pendapat, atau saran terutama slide 24 bagian 5 Elemen Perubahan tentang Ekstrakurikuler. Ingat, uji publik ditutup tanggal 23 Desember 2012. Selamat berkontribusi.
  • 5. KIR: Club for Science, Engineering & Technology? [Sebuah Tantangan buat Pengurus dan Aktivis KIR] Science diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan. Dari kamus maya Wikipedia, ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu. 1.Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian. 2.Metodis Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah. 3.Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga. 4.Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula. Bidang keilmuan terdiri dari: ilmu alam (fisika, biologi, kimia, ilmu bumi), ilmu sosial (antropologi, ekonomi, ilmu politik, linguistik/ilmu bahasa, psikologi, sosiologi, kriminologi, hukum, administrasi negara, administrasi niaga, administrasi fiskal, ilmu komunikasi), dan ilmu terapan (ilmu komputer dan informatika, rekayasa)
  • Engineering diterjemahkan sebagai teknik atau rekayasa. Teknik atau rekayasa adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan, matematika dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna. Cabang-cabang rekayasa: teknik elektro, teknik fisika, teknik pangan, teknik astronautika dan aeronautika, teknik geodesi dan geomatika, teknik industri, teknik informatika, teknik kimia, teknik lingkungan, teknik metalurgi dan material, teknik mesin, teknik molekular, teknik nuklir, teknik penerbangan, teknik perkapalan, teknik perminyakan, teknik geologi, teknik pertambangan, teknik pertanian, teknik sipil, teknik bioproses, teknik planologi, dan manajemen rekayasa industri. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini. Teknologi dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan. Ilmu, rekayasa, dan teknologi Ilmu adalah penyelidikan bernalar atau pengkajian fenomena, ditujukan untuk menemukan prinsipprinsip yang melekat di antara unsur-unsur dunia fenomenal dengan membekerjakan teknik-teknik formal seperti metode ilmiah. Rekayasa adalah proses berorientasi tujuan dari perancangan dan pembuatan peralatan dan sistem untuk mengeksploitasi fenomena alam dalam konteks praktis bagi manusia, seringkali (tetapi tidak selalu) menggunakan hasil-hasil dan teknik-teknik dari ilmu. Teknologi tidak mesti hasil ilmu semata-mata, oleh karena teknologi harus memenuhi persyaratan seperti utilitas, kebergunaan, dan keselamatan. Teknologi seringkali merupakan konsekuensi dari ilmu dan rekayasa — meskipun teknologi sebagai kegiatan manusia seringkali justru mendahului kedua-dua ranah tersebut. Pengembangan teknologi dapat dilukiskan pada banyak ranah pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, rekayasa, matematika, linguistika, dan sejarah, guna mencapai suatu hasil yang praktis. Para ilmuwan dan rekayasawan (insinyur) kedua-duanya dapat dipandang sebagai "teknolog"; ketiga-tiga ranah ini seringkali dapat dipandang sebagai satu untuk tujuan penelitian dan referensi.
  • KIR = Kelompok Ilmiah Remaja atau Kelompok Ipteks Remaja Di atas sudah jelas pengertian dan batasan ilmu, rekayasa, dan teknologi. Selanjutnya bagaimana dengan konteksnya dengan KIR, sebagai wadah ektrakurikuler yang membidangi ketiganya. Dalam praktiknya, science saja lebih dikenal sebagai sains hanya mengurus bidang IPA (biologi, fisika, dan kimia) saja. Dengan merk sebagai Science Club, KIR seolah hanya mengkaji bidang IPA saja, tidak membahas bidang IPS, apalagi Matematika, Bahasa, Teknik (rekayasa) atau Komputer dan Informatika. Dengan mempersempit definisi Science menjadi sains sehingga mengkerdilkannya hanya pada ilmu (pengetahuan) alam sebagai ilmu murni (pure science) yang terdiri dari “biomafia” (biologi, matematika, fisika, & kimia). Ilmu (pengetahuan) sosial disisihkan sebagai saudara jauh dan terbuang. Ironisnya, tidak semua alumni KIR yang meneruskan belajarnya menempuh bidang IPA. Bahkan lebih banyak alumni KIR yang melanjutkan studi mengambil jurusan/program studi non eksakta (non biomafia). Seandainya, dalam aktvitasnya KIR juga memprogram kajian dan penelitian tentang IPS akan lebih menyiapkan bekal buat semua mantan aktivis dalam melanjutkan studinya kelak. Jadi punya banyak pilihan. Demikian pula, dengan paradigma sains hanya mengurus ilmu ‘IPA’ murni, maka akan meninggalkan ilmu terapan (applied science), yang dapat masuk dalam teknik (rekayasa) dan teknologi seperti diungkap di atas. Bahkan sesama si ‘murni’ saja saling berkolaborasi membentuk ilmu baru sebagai tetap dalam kemurniannya atau telah masuk ranah penerapan. Kimia [Q3A, istilah gaul] saja dapat dikenal sebagai ilmu kimia (chemistry), teknik kimia (chemical engineering), dan kimia teknik (engineering chemistry), yang ketiganya memilki spesialisasi kajian tersendiri. KIR menghadapi dilema pengelolaan organisasi yang merangkum semua bidang IPA, IPS, Bahasa, dan Teknologi. Organisasi menjadi gemuk. Semoga tidak bergerak lamban dan lemot apalagi letoy. Insya Allah, tetap energik, proaktif dan progresif. Kepanjangan KIR menjadi Kelompok Ipteks Remaja? Atau KIR merampingkan organisasinya sesuai pengertian sempitnya Science di atas, hanya pada ‘bifia’ (biologi, fisika & kimia). Jika ini pilihan yang diambil KIR, maka harus rela dan ikhlas memberikan otonomi kepada kelompok studi membentuk organisasi ekskul baru. Ekskul merupakan organisasi otonom yang mandiri dan tidak memilki garis struktural dengan organisasi kesiswaan di sekolah (OSIS dan MPK). Jika di perguruan tinggi, maka ekskulnya adalah UKM dan KSM (sebagai badan otonom) yang berdampingan dengan organisasasi kemahasiswaan (BEM dan BPM). Kemungkinan organisas ekskul baru yang bisa lahir dari rahim KIR, adalah Mathematic Club, English Club, Social or Economic Studies, Mechatronic Club, Automation Club, Robotic Club, atau ICT Club. Nah, tantangan nih buat Pengurus KIR. Sebuah ‘PR’ yang harus segera diselesaikan tanpa menunggu ditagih supaya dapat nilai (layaknya tugas dari guru).
  • 6. KIR: hanya untuk SMU? Atau dari SLTP hingga Perguruan Tinggi ! Menurut Husamah dalam bukunya, Jago KARYA ILMIAH REMAJA, KIR itu Selezat Ice Cream, menyebutkan batasan usia remaja 12/13 sampai 21 tahun. Remaja digolongkan menjadi 3 tahap yaitu (a) remaja awal (usia 13-14 tahun), (b) remaja tengah (usia 15-17 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun). Masa remaja awal, umumnya individu telah memasuki masa pendidikan di bangku SLTP (SMP/MTs), sedangkan saat masa remaja tengah individu sudah duduk di bangku SMU (SMA/MA/SMK). Kemudian, mereka yang tergolong remaja akhir umumnya sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau lulus SMU dan mungkin sudah bekerja. Secara historis dan kenyataanya, KIR didominasi oleh remaja tengah yang sedang duduk di bangku SMU (Sekolah Menengah Umum), baik SMA (Sekolah Menengah Atas), Madrasah Aliyah (MA) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Bahkan jika ditinjau lebih jauh lagi, SMA merupakan sekolah yang paling banyak memilki ekstra kurikuler yang bergerak di bidang ilmiah ini. Belum ada penelitian yang menunjukan berapa prosen SMA yang sudah mempunyai KIR dibandingkan dengan seluruh SMA yang ada di Indonesia. Demikian juga dengan di MA dan SMK yang memilki KIR dengan seluruh MA dan SMK yang ada. Dengan dasar ini, maka bukan mustahil KIR masih menjadi ekskul minoritas di tengah beragamnya ekskul lainnya. KIR masih asing di telinga dan maya di mata siswa di beberapa sekolah, sekalipun di tingkat SMA. Karena mayoritas siswa SMA sudah lebih dahulu mengenal beberapa ekskul non KIR sejak SD dan SLTP, sehingga mereka sudah familiar dan tak akan berpindah ke lain hati, kecuali ada perubahan pikiran dan pertimbangan lain, misalnya ingin mencoba yang baru atau sebagai penunjang belajar. Berpijak organisasi ini menggunakan kata ‘remaja’, maka KIR semestinya sudah ada dan eksis di SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) yang terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan masih digeluti oleh mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT) minimal sampai semester 6 (tahun ke-3) atau setingkat Program Diploma-3 (D3), Akademi, dan Politeknik. Namun, faktanya jauh dari konsep organisasi remaja itu sendiri. Dengan menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah, maka sosialisasi pentingnya KIR di sekolah serta pembinaan dan pengembangan KIR yang sudah ada menjadi tanggung jawab bersama. Mengandalkan harapan pada pemerintah saja melalui kebijakannya hanya akan membuat kecewa. Bukti konkretnya dalam Rancangan Kurikulum 2013, KIR tidak disebutkan sebagai salah satu Ekskul secara definitif. Artinya KIR tidak dikenal apalagi populer. Ironis sekali. Karena KIR adalah ekskul yang paling dekat konteksnya dengan bidang akademik, dan bahkan (menurut penulis) lebih tepatnya KIR itu Ko-kurikuler, penunjang/pendamping kegiatan kurikulum sekolah. Penulis sangat mengapresiasi apa yang dilakukan FOSCA dengan mengkoordinasi KIR-KIR di sekolah dalam bentuk Komunitas, terutama dalam bentuk tingkat wilayah. Ini adalah bagian dari upaya masyarakat dalam mengimplementasikan tanggung jawab pendidikan. Semestinya usaha seperti ini juga diikuti oleh organisasi atau kelompok masyarakat lain yang peduli dengan kemajuan bangsa melalui kegiatan ilmiah. Sayangnya organisasi, lembaga, dan institusi yang berlabel ilmiah, ilmu pengetahuan, pendidikan, riset, kajian, studi, dan teknologi hanya berkutat pada Lomba Karya Ilmiah itu sendiri sebagai even terjadwal yang rutin, tanpa melakukan pembinaan KIR secara berkala dan berkontinuitas. Si penyelengara even, hanya memandang peserta lomba masuk babak finalis dengan karyanya. Tidak ada tindak lanjutnya, apakah si
  • pemenang lomba berhasil mencapai prestasi tersebut akibat perjuangannya sendiri karena di sekolahnya belum ada KIR, atau KIR di sekolahnya yang memberi peran dan sarana sehingga dia tumbuh dan berkembang hingga sampai tahan pencapaian tertinggi. Penulis belum menemukan data dari penelitian tentang siswa yang memenangkan Lomba Karya Ilmiah itu berapa prosen yang berasal dari didikan KIR di sekolahnya dan yang tidak pernah mengenal KIR sama sekali. Penulis memandang masih terbelenggunya pemikiran pada hasil ketimbang proses dan masih terkungkungnya pemikiran pada penciptaan figur daripada membangun sistem, yang pada gilirannya penyelesaian masalah hanya berkutat pada jangka pendek tidak membuat prediksi dan estimasi untuk mengantisipasi kemungkinan tantangan masa depan. Ibarat penyakit sekedar cukup menghilangkan rasa nyeri (analgesik), tanpa berupaya mencari obat mujarab (panasea) yang mampu menghabiskan akar-akar penyebabnya. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan seharusnya sadar bahwa prestasi tertinggi yang dicapai siswanya adalah output pendidikan itu sendiri. Sekalipun memiliki siswa yang memiliki segudang prestasi dengan tingkat internasional di bidang non akademik, apalah artinya jika dia tidak dapat naik kelas. Jelas, bahwa mahkota tertinggi seorang siswa adalah prestasi akademik. Sekolah juga harus memahami dengan bekal pelajaran di sekolah, siswa memilki hard skill dan dengan mengikuti ekskul sebagai soft skill-nya. Oleh karena itu, pembinaan ekskul yang serius juga menjadi tanggung jawab sekolah. Menetapkan guru pembina/pembimbing yang memilki kompetensi dan dedikasi menjadi keharusan. Dan melakukan monitoring & evaluasi (monev) terhadap kinerja guru tersebut secara periodik adalah bagian dari pengawasan yang merupakan fungsi manajemen sekolah. Serta memberi batas waktu masa jabatan tersebut. Untuk melakukan sosialisasi KIR ke SLTP, peranan aktivis KIR setingkat SMU sebagai ujung tombaknya. Beragam acara ilmiah dapat diselenggarakan untuk mengundang siswa-siswi dari sejumlah SLTP sekitar SMU itu berada. Apalagi bagi SMU swasta menjadikan ajang promosi calon siswanya yang berasal dari SLTP. Spanduk dalam promosi sekolah yang memiliki ekskul KIR sekarang ini belum mempunyai nilai plus. Saatnya harus dimulai. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan aktivis KIR, siapa lagi. KIR di tingkat PT (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Akademi, Politeknik) belum ada. Mungkin kesannya kalau sudah mahasiswa bukan remaja lagi, walaupun usianya belum 22 tahun. Memang mahasiswa masuk dalam rentang usia remaja akhir dan dewasa muda (jenjang S-1 standar). Pernah penulis menemukan ada sebuah jurusan di sebuah PT yang mendirikan Kelompok Ilmiah, tetapi umurnya tidak panjang. Mahasiswa lebih memilih nama kelompok studi atau kajian dengan sebutan Kelompok Studi Mahasiswa (KSM). Biasanya KSM ini berada di suatu jurusan/program studi yang sesuai dengan spesialisasinya. Jarang sekali yang ada di tingkat fakultas apalagi perguruan tinggi. Meskipun KIR tidak ada dan seolah tidak berkelanjutan di PT, sesungguhnya semua aktivitas akademis adalah kegiatan ilmiah. Paling terasa ‘aroma KIR’ nya jika berada di jurusan MIPA, Kedokteran, Farmasi, atau Teknik yang tidak lepas dari laboratorium baik untuk praktikum mupun penelitian. Sementara program studi lain (Ekonomi, ISIP, Sastra, KIP, Psikologi, Hukum) berativitas ilmiah dengan diskusi, seminar, dan penelitian. Artinya, KIR di PT bukan terletak pada nama organisasi (kulit dan bingkai) tetapi lebih pada aktivitas (content, isi, esensi dan substansi). Dengan demikian, semua aktivitas di PT adalah aktivitas yang prinsip dasarnya dirintis di KIR (diklat KOMA & KIR, diskusi, penulisan karya ilmiah, praktikum laboratorium, praktik lapangan pada PIR atau Karya Wisata, penelitian) yang mengalami pengembangan. Jika di KIR hasil akhir pencapaian adalah kemampuan membuat Karya Tulis Ilmiah yang melalui penelitian dan uji presentasi, maka di PT pun demiikian. Seseorang baru dapat
  • memperoleh gelar akademis dan menyandang status bukan lagi mahasiswa setelah melalui ujian sidang mempertahankan Tugas Akhir (skripsi, tesis, atau disertasi)nya. Dan Tugas Akhir adalah finalisasi dari penelitian sebelumnya. Sebagai seorang mantan anggota KIR ada satu kebanggaan penulis ketika mengetahui ada PT memakai inisial serupa KIR. Sebuah PT tertua dan terbesar di negeri ini, yakni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) mempunyai ajang seminar hasil penelitian tahunan, yang diberi label “QiR”, yaitu Quality in Research. KIR dan QiR, serupa tapi tak sama! Engga apa-apa, kan?
  • 7. KIR, diantara Intrakurikuler, Ekstrakurikuler, Kokurikuler, Intra Sekolah, atau Ekstra Sekolah? Meletakan posisi KIR sebagai kegiatan ekstrakurikuler dan sebagai organisasi intra sekolah sudah dapat dimaklumi. Namun, pernahkan terbayang bahwa KIR juga bisa ditinjau sebagai kegiatan kurikuler, intra kurikuler, ko-kurukuler, serta kemungkinan menjadi organisasi ekstra sekolah. Secara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002), kurikuler adalah bersangkutan dengan kurikulum, istilah kokurikuler adalah rangkaian kegiatan kesiswaan yang berlangsung di sekolah, intrakurikuler adalah kegiatan siswa di sekolah atau mahasiswa di kampus yang sesuai atau sejalan dengan komponen kurikulum, dan ekstrakurikuler adalah berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum. Sedangkan organisasi di sekolah yang berada di dalam dikenal sebagai OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di tingkat SLTP dan SMTA. Di SMTA selain OSIS sebagai lembaga eksekutifnya, ada MPK (Majelis Perwakilan Kelas) sebagai lembaga legislatif dan yudikatif nya(?). Di tingkat SLTP dan SMTA, juga terdapat OSES (Organisasi Siswa Ekstra Sekolah), yakni organisasi siswa/pelajar yang berada di luar sekolah, seperti PII (Pelajar Islam Indonesia), IPM (ikatan Pelajar Muhammadiyah), dan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama). Seperti pada tulisan sebelumnya, pada komunitas ini penulis pernah mengangkat bahwa KIR sejatinya adalah kegiatan yang mendukung, mendampingi, dan menunjang aktivitas KBM (kegiatan belajar mengajar). KIR dapat masuk sebagai intrakurikuler atau paling tidak kokurikuler. Jikalau nyatanya masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler, dikarenakan tidak ada silabus atau GBPP (garis-garis besar program pengajaran) yang memasukan KIR sebagai mata pelajaran dan lagi KIR mempunyai organisasi sendiri yangmana siswa tidak diwajibkan ikut serta menjadi anggota. Keanggotaan KIR hanya sukarela, hobi, berdasarkan minat, bakat, atau kemampuan (jika ada tes masuk menjadi anggota KIR). Istilah ekstrakurikuler, seingat penulis baru dikenal tahun 1982 dan belum begitu populer seperti sekarang ini. Ketika SD dahulu dikenal ada kegiatan Pramuka selain Olah Raga (Senam Pagi Indonesia, Atletik, Sepak Bola, Bola Voli) sebagai kegiatan tambahan di luar pelajaran sekolah. Namun, waktu itu tidak disebutkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler dan pelaksanaan kegiatannyapun ‘angin-anginan’, ‘teratur’ yakni kadang ada kadang tidak ada, ‘senin kamis’, juga sesuai “tempo”: tempo-tempo ramai, tempo-tempo sepi. Menanjak SLTP, selain Pramuka juga diperkenalkan OSIS, Pentas Seni, dan Olah Raga (ada tambahan Bola Basket). Baik SD maupun SLTP peranan guru sangat dominan mengatur dan membimbing kegiatan. Walaupun sebagian siswa menjadi pengurus (misal pengurus OSIS), tetap saja setiap rapat sampai pelaksanaan kegiatan masih melibatkan guru sebagai pembimbing sekaligus pengurus pendamping yang dibentuk pimpinan sekolah. Bahkan konyolnya, ada sekolah yang waktu itu masih menerapkan perpeloncoan ketika menyambut siswa baru, beberapa guru ikut nimbrung bersama para siswa senior mengerjain anak-anak baru. Kata “ekstrakurikuler”, penulis dapatkan pada buku Pedoman Pendidikan di SMTA, meskipun begitu tidak dipopulerkan bahwa kegiatan-kegiatan siswa di luar kegiatan belajarnya adalah kegiatan ekstrakurikuler. Memang di SMTA ada OSIS dan MPK, juga ada Pramuka, beberapa cabang olah raga baik yang rutin maupun tidak rutin latihan (kegiatan di”tempo”). Tahun 1988 penulis ingat pencanangan kegiatan ekstrakurikuler sudah disemarakan, bahkan dibuat istilah dengan akronim yang baku sampai gaul, seperti: Ekskur, Ekskul, Ex-Kul, dan X-School.
  • Bagi KIR sebagai kegiatan ekstrakurikuler dapat disejajarkan dengan kegiatan ekskul yang lain, sebagai organisasi otonom disamping OSIS dan MPK. Memang awalnya, KIR berada di bawah Seksi Pendidikan OSIS, akan tetapi ruang geraknya akan terbatas jika terus berada dalam naungan sebuah seksi, apalagi akan membuat jalur birokratis yang panjang ketika akan membuat program kegiatan di luar sekolah. Fenomena yang unik, adalah adanya KIR di tingkat wilayah Kotamadya DKI Jakarta. Nah, apakah ini termasuk organisasi intra sekolah atau ekstra sekolah? Secara eksistensi KIR di tingkat wilayah itu bukan organisasi intra sekolah, tetapi anggotanya mewakili atau membawa nama sekolah minimal KIR sekolah? Jika KIR di tingkat wilayah itu sebagai organisasi ekstra sekolah, maka seharusnya anggotanya adalah orang per orangan yang tidak mewakili atau membawa nama KIR di sekolahnya. Jalan yang moderat, adalah KIR di tingkat wilayah itu hanya berfungsi sebagai forum komunikasi dan koordinasi antar KIR di wilayah tersebut, sebagai wadah saling sharing, bersinergi, dan bekerja sama. Apresiasi, sanjungan dan angkat topi buat Aktivis KIR yang terus berjuang membesarkan peran KIR di negara ini !
  • KEGIATAN EKSTRAKURIKULER 1. Organisasi Sekolah dan Kegiatan Ekstrakurikuler, sebagai titian tangga menjadi Aktivis Sejati Kalau sekolah hanya belajar adalah itu biasa buat seorang siswa. Jika kuliah hanya menuntut Ilmu (idealnya sih?) apalagi sekedar persyaratan pengumpulan portofolio karir masih biasa. Namun, akan menjadi luar biasa bila seorang siswa/pelajar atau mahasiswa menjadi aktivis organisasi kesiswaan atau organisasi kemahasiswaan. Ungkapan ini bukanlah kalimat agitatif apalagi provokatif. Tak bisa dinafikan seorang aktivis adalah ‘makhluk’ penuntut ilmu yang punya ‘kelebihan’ minimal dalam bersosialisasi, sensitivitas, empati, dan mencari hal-hal di luar kemapanan dan kebiasaan. Meneguhkan jati diri, menggali bakat, memodifikasi minat, meningkatkan kemampuan, menebarkan aroma kepedulian, dan mengepakan sayap pengembangan diri. Terlepas beragamnya kriteria dan penilaian hasil pencapaiannya, tidak dapat dimungkiri seorang aktivis di lembaga pendidikan adalah seorang penuntut ilmu plus. Penulis pernah mengungkapkan dalam komunitas maya ini, bahwa ada jenjang yang berkesinambungan dan merupakan untaian mata rantai yang panjang tentang aktivis, bahkan seorang aktivis hanya sekedar dari satu mata rantai. Seorang aktivis biasanya terikat dengan organisasi. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, jika sampai menemukan seorang aktivis yang tidak pernah nimbrung dalam organisasi. Sehingga, bermula dari FUNGSIONARIS (pengurus, pengelola organisasi), kemudian menjadi ORGANISATORIS (pemimpin pengembangan sistem dan kultur organisasi), membentuk jadi AKTIVIS, serta diharapkan berwujud PEJUANG, yang kelak insya Allah dianugerahi sebagai PAHLAWAN. Namun, dalam artikel kali ini penulis hanya bertutur sekitar dan seputar peran aktivis. Ada 3 cerita atau kisah nyata yang penulis alami tentang pentingnya ikut organisasi semasa sekolah. Pertama, ada seorang teman pergaulan di tempat tinggal yang tidak pernah satu sekolah dengan penulis. Akan tetapi, seumuran dengan usia penulis. Kejadiannya waktu sama-sama duduk di SMA. Penulis sekolah di Kebayoran Lama, teman ini di Kebayoran Baru. Alhamdulillah, penulis menjadi Sekretaris Umum OSIS, dia menjadi Ketua Umum OSIS. Nah, apa bedanya dan masalahnya? Sebelum menjadi ‘petinggi OSIS’ penulis pernah memegang jabatan yang sama di SMP sebelumnya, dan ketika masuk SMA penulispun sudah merintis ikut organisasi ekskul yang serius (merintis karir) dan beberapa ekskul tidak serius diikuti (hanya perluasan gaul) dan juga Seksi di salah satu bidang kegiatan OSIS. Teman ini tidak pernah sekalipun ikut organisasi, baik sejak SMP ataupun sebelum “diceburin” menjadi Ketua Umum OSIS. Istilah “diceburin” ini adalah istilah teman-teman aktivis, yang artinya ‘mengerjain’ seseorang untuk menjadi pimpinan organisasi, karena organisasi tidak punya sistem pengkaderan sehingga kesulitan mencari pemimpin. Kalimat sederhananya, daripada kagak ada siape aje dah ! nyang penting masih ada yang mao duduk. Sehari setelah pelantikannya, kata yang pertama keluar dari mulut teman ini, adalah “bingung”. Mau ngapain? Curhat dengan teman-teman nongkrong di lingkungan tempat tinggal. Kedua, seorang kawan sekelas waktu SMA dan ketika kuliah berada di perguruan tinggi yang sama, hanya berbeda fakultas. Sewaktu SMA kawan ini pernah terdaftar jadi anggota salah satu ekskul, tetapi tidak aktif dan mengundurkan diri dengan sendirinya secara tidak resmi. Karena
  • tidak mengajukan dengan surat. Hal seperti ini sudah lumrah di aktivis ekskul dan sudah biasa. Suatu saat kawan ini bertemu penulis di kampus dalam satu perjalanan ke fakultasnya. Setelah berbasa basi tentang kabar, tanpa ujung pangkalnya, beliau berujar: “Ki, gue nyesel dulu waktu SMA enggak aktif di sekolah!” . Penulis memandang heran dan mengerutkan dahi. “Memang kenapa?” Belum sempat menjawab, kendaraan pas berhenti di depan halte fakultasnya dan kawan kita ini langsung lompat sambil melambaikan tangan. Ketiga, ternyata kegiatan ekskul tidak hanya ada di sekolah, kalau mau beraktif-aktif ria ada saja kesempatan dan tentu saja juga didorong niat. Kata penceramah kondang, da’i sejuta umat KH. Zainudin MZ (alm.), suatu perbuatan akan dilakukan seseorang jika ada faktor N dan K, yaitu Niat dan Kesempatan. Selain bekerja, di tempat penulis mencari nafkah ada 3 organisasi karyawan, yakni Serikat Pekerja, Koperasi, dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Dari ketiga organisasi tersebut penulis ikut menjadi anggota, bahkan untuk DKM sendiri penulis menjadi salah satu deklaratornya. Teman-teman karyawan sebagai aktivis berganti-ganti dari satu organisasi pindah ke organisasi lainnya. Atau merangkap jabatan di lebih dari satu organisasi. Dan ada juga yang pernah menjabat di suatu periode hanya diselingi satu periode kembali menjabat lagi. Penulis hanya fokus di DKM dan tetap berinteraksi dengan aktvis di organisasi lain. Jikapun membantu sekedar menjadi panitia pemilihan pengurus atau forum tertinggi organisasi (dalam sidang-sidang). Penulis selalu menolak (sudah 2X3 kali) menjadi bakal calon pimpinan kedua organisasi (Serikat Pekerja dan Koperasi). Alasan penulis, ketika penulis menjadi lokomotif seberapa gerbong yang sevisi dan semisi dengan penulis. Penulis pernah menantang, akan mau menjadi pimpinan Serikat Pekerja, jika ‘calon kabinet’ siap menguasai UU tentang Tenaga Kerja dan Siap di PHK. Bagi penulis, di serikat tidak cukup punya otot, otak juga perlu diisi. Di Koperasi, penulis akan siap menjadi Ketua dengan program utama: tidak menjual rokok, tidak boleh hutang untuk urusan mulut dan perut, serta dalam pinjaman (bersifat sosial: biaya sekolah, sakit, darurat) tidak dikenakan tambahan dalam pengembalian. Lagi pula penulis berguyon, bahwa Serikat Pekerja, Koperasi, dan DKM ibarat 3 partai di era Orde Baru (PDI, Golkar, PPP), sehingga kalau masih muda dan bersemangat dengan idealisme aktif di Serikat Pekerja, jika ingin ‘cari’ kesempatan dan ‘perbaikan ‘ hidup di Koperasi, kemudian aktif di DKM bila ingin berdakwah, sosial, dan perbaikan sipiritual, dan setelah itu pensiun. Sesuai hukum demokrasi, penulis hanya memegang tampuk selama 2 periode di DKM dan tidak mau diikutsertakan lagi dalam kepengurusan apapun. Pelajaran apa yang dipetik dari ‘ekskul’ di tempat kerja itu? Dari hasil perbincangan, mereka yang menduduki jabatan pengurus tidak pernah ikut organisasi sewaktu sekolah. Sehingga, untuk mengembangkan organisasi perlu waktu dan tenaga ekstra untuk mendidik SDM yang minim dalam dasar-dasar KOMA (kepemimpinan, organisasi, manajemen, administrasi). Ada AD/ART tidak dipakai, karena tidak mengerti. Tidak mengerti, karena tidak pernah dibaca. Konsep berorganisasi asing. Job description pengurus tidak nampak. Program tidak ada. Aktivis yang berganti-ganti jabatan dan organisasi, juga tidak menghasilkan apa-apa terhadap organisasinya hanya memiliki wadah kongres (kongkow ngga’ beres-beres) yang berganti rupa. Cara berpikir yang terlampau praktis, terlalu mengejar target jangka pendek, ajang pemanfaatan ‘orang pintar’ yang ‘tidak benar’ terhadap pengurus yang lugu, atau menitipkan anak buah (di
  • pekerja an) menjadi pengurus untuk mandapatkan ‘hak istimewa’, sehingga pada akhirnya organisasi hanya sekedar ada. Hidup bosan mati tak mau. Sekedar ilustrasi dari ketiga kisah di atas dapat diambil pemahaman bahwa untuk menjadi seorang aktivis sejati butuh waktu yang panjang dan belajar yang terus menerus. Setiap peroide atau jenjang adalah saat mengukur dan mengevaluasi pengayaan ilmu dan kemampuan praktik. Mau memulai dari jenjang manapun tergantung si aktivis untuk mengejar ketertinggalannya dan mau belajar cepat. Seorang aktivis sejati selayaknya memiliki idealisme tanpa meninggalkan titian realitas kehidupannya. Proporsionalitas antara kebutuhan sendiri dan kepentingan masyarakat. Bukankah, sebaik-baiknya manusia adalah yang paing banyak manfaatnya buat orang lain?
  • 2. EksKul di SMA dengan UKM di Perguruan Tinggi [Pilihan, Jalur dan Jenjang ‘Karir’ Aktivis Masa Studi] Dari Wikipedia, secara lengkap Kegiatan Ekstrakurikuler diuraikan: Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan siswa sekolah atau universitas, di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah. 1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. 2. Visi dan Misi a. Visi Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. b. Misi 1) Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka. 2) Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok. 3. Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka. b. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik c. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan. d. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik. 4. Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing. b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti
  • secara sukarela peserta didik. c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh. d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik. e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil. f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat. 5. Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian. c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan. d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya. 6. Format Kegiatan a. Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan. b. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik. c. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas. d. Gabungan, yaitu format kegiatan antarkelas/antarsekolah/madraasah. ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik e. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan. Kegiatan ekstrakurikuler di SMA adalah kegiatan di luar KBM dan dilakukan siswa baik setelah pulang sekolah atau pada hari-hari tidak belajar (libur). Awalnya kegiatan yang akrab disingkat dengan EKSKUL ini berada di bawah naungan OSIS (terutama Olah Raga), kecuali Pramuka yang lebih dahulu ada. Seiring dengan perkembangan pengetahuan berorganisasi dan kebutuhan akan peningkatan kapasitas dari aktivitas Ekskul itu sendiri menuntut untuk memiliki otoritas dan kemandirian dalam pengelolaan organisasi. Sehingga organisasi Ekskul posisinya kini berada di samping OSIS dengan MPK-nya. Saling sejajar (paralel) dengan hubungan koordinasi bukan lagi hubungan struktural dengan garis komando. Masing-masing memilki peran, karakteristik, tugas, fungsi, tanggung jawab, dan aktvitas yang berbeda. OSIS adalah organisasi pelajar atau organisasi kesiswaan yang menampung seluruh pelajar/siswa sekolah itu wajib menjadi anggotanya. OSIS ialah lembaga eksekutif organisasi kesiswaan,
  • sedangkan MPK sendiri lembaga legislatifnya. Berbeda dengan OSIS, keanggotaan MPK berasal dari Ketua-Ketua Kelas dan Wakilnya. Pengurus OSIS sebagai penyelenggara ‘pemerintahan’ organisasi kesiswaan, sementara MPK yang menetapkan peraturan dan mengawasi jalannya ‘pemerintahan’ tersebut. Keduanya dipilih oleh siswa dan harus mempertanggung jawabkan hasil kerja dan baktinya dalam satu periode (1 tahun). OSIS berperan besar dalam pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) dasar-dasar KOMA (kepemimpinan, organisasi, manajemen, administrasi) dalam berorganisasi. Walaupun berposisi sejajar dengan Ekskul, OSIS yang menampung seluruh siswa dapat membuat aturan dan peraturan tentang eksistensi dan garis-garis besar cakupan aktivitas Ekskul dengan media koordinasi. Aturan dan peraturan yang disepakati bersama antara OSIS dengan seluruh Ekskul yang ada di sekolah itu. Ekskul yang ada di SMA dapat disebutkan antara lain: 1. Pramuka 2. Palang Merah Remaja (PMR) 3. Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) 4. Pencinta Alam 5. Kerohanian: Islam, Kristen 6. Teater 7. Olah Raga: Sepak Bola, Bulu Tangkis, Tenis Meja, Bola Voli, Bola Basket, Bola Keranjang, Pencak Silat, Karate, Paskibra. Bagi para aktivis Ekskul di SMA setelah menamatkan pendidikannya dan kuliah di Perguruan Tinggi (PT), dapat melanjutkan ‘karir’nya dengan mengikuti UKM. Di PT penggunaan kata “Ekskul” kurang akrab ditelinga mahasiswa, sebagai penggantinya adalah istilah “UKM”, yakni Unit Kegiatan Mahasiswa. Tidak menutup kemungkinan juga para mantan ‘petinggi’ OSIS dan MPK di SMA dapat masuk ke dalam organisasi kemahasiswaan (ormawa) atau lembaga kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Nama-nama lembaga ini tergantung PT-nya, karena antara satu PT dengan PT yang lain memiliki nama lembaga yang berbeda tentang lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif di ormawa tersebut. Diambil dari berbagai sumber, penulis menyajikan contoh UKM yang ada di PTN yang pernah disebut sebagai “the big five”. Kelima PTN ini memiliki nilai historis dalam penerimaan mahasiswa baru sebagai proyek rintisan penerimaan mahasiswa baru secara serentak. Mereka bergabung di tahun 1976 dengan nama SKALU (Sekretariat Kerja sama Antar Lima Universitas). Para PTN tersebut merupakan lima PTN paling diminati (favorit) oleh para calon mahasiswa, diantaranya Universitas Indonesia di Jakarta, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, dan Universitas Airlangga di Surabaya. Susunan Ormawa sebagai berikut:
  • Tingkat Perguruan Tinggi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Keluarga Mahasiswa Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (di IPB) Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (di ITS) Kongres Mahasiswa (di UGM) Senat Mahasiswa (di UGM) Dewan Perwakilan Mahasiswa (di IPB) Lembaga Legislatif Mahasiswa (di ITS) Badan Eksekutif Mahasiswa Lembaga Minat dan Bakat (di ITS) Tingkat Fakultas: 1) Keluarga Mahasiswa 2) Dewan Perwakilan Mahasiswa (di IPB) 3) Senat Mahasiswa (di UGM) 4) Lembaga Legislatif Mahasiswa (di ITS) 5) Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Jurusan/Program Studi/Departemen: Himpunan profesi (Himpro) merupakan organisasi mahasiswa tingkat Jurusan/Program Studi/Departemen yang berfungsi sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa di bidangnya masing-masing untuk selanjutnya berkontribusi dalam masyarakat. Nama organisasinya diawali dengan kata Himpunan Mahasiswa atau Ikatan Mahasiswa dengan diikuti atau tidak kata Jurusan, Program Studi, atau Departemen, dan menyebutkan bidang spesialisasi kelimuan di Jurussan, Program Studi atau Departemen tersebut. Contoh: Himpunan Mahasiswa Jurusan Kimia, Ikatan Mahasiswa Teknik Metalurgi, atau Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada, adalah: 1. UKM di Universitas Indonesia (UI) • UKM Seni: 1. Marching Band Madah Bahana 2. Orkes Simfoni Mawaditra 3. Paduan Suara Paragita 4. Liga Tari Krida Budaya 5. Teater Mahasiswa 6. Sinematografi Sinetra
  • • UKM Olah Raga: 1. Bulu Tangkis 2. Softball 3. Hockey 4. Bola Voli 5. Atletik 6. Tenis Meja 7. Tenis Lapangan 8. Sepak Bola 9. Bola Basket 10. Renang 11. Catur 12. Bridge 13. Menembak 14. Berkuda 15. Memanah 16. Cricket • UKM Bela Diri: 1. Inkai/Karate 2. Tae Kwon Do 3. Sin Lam Ba 4. Merpati Putih 5. Bangau Putih 6. Pencak Silat Tenaga Besar 7. Judo 8. Tapak Suci 9. Kempo 10. Satria Muda Indonesia 11. Perisai Diri 12. Aikido • UKM lain-lain 1. Nuansa Islam Mahasiswa UI (SALAM UI) 2. Wira Makara (Ex. Resimen Mahasiswa) 3. Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam UI) 4. Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya 5. Perhimpunan Fotografi 6. EDS Komunitas Debat Bahasa Inggris 7. CEDS (Kewirausahaan) 8. Persekutuan Oikumene Universitas Indonesia 9. Keluarga Mahasiswa Katolik UI 10. Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa UI 11. Radio Mahasiswa 12. Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia 13. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Indonesia 14. Pramuka Sekar Kalpavriska
  • 2. UKM di Istitut Pertanian Bogor (IPB) • UKM Seni dan Budaya 1. UKM Paduan Swara "Agria Swara" 2. UKM Lingkung Seni Sunda "Gentra Kaheman" 3. UKM Seni Musik "Music Agriculture X-pression" • UKM Olah Raga 1. Sepak Bola 2. Futsal 3. Bola Basket 4. Bulu Tangkis 5. Bola Voli 6. Tenis Meja 7. Tenis Lapangan 8. Catur, CHESS UNITY OF AGRICULTURE (CUA) 9. Panahan, CABOR PANAHAN IPB 10.ORYZA BASEBALL-SOFTBALL IPB • UKM Bela Diri 1. Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI 2. Tae Kwon Do 3. Sin Lam Ba 4. PPS Betako Merpati Putih 5. PS Perisai Diri 6. PS Setya Buana 7. PS Tapak Suci 8. Tarung Derajat AA-Boxer 9. PS Seroja Putih 10.Thifan Po Khan 11.Tae Kwon Do 12.UKM "Gerak Alam" IPB 13.Aikido IPB 14.Inkai IPB • UKM Kerohanian 1. Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) 2. Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) (bermitra dengan Perkantas) 3. Kesatuan Mahasiswa Katolik Indonesia (KEMAKI) 4. Kesatuan Mahasiswa Budha (KMBA) 5. Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma • UKM bidang khusus 1. Resimen Mahasiswa 2. Pramuka 3. Lawalata (Pecinta Alam) 4. Korps Sukarela PMI 5. UKM Center of Entrepreneurship Development for Youth (Century) 6. KOPERASI MAHASISWA IPB
  • • UKM bidang keilmuan 1. International Association of Students in Agriculture and Related SciencesLocal Committe IPB (IAAS-LC IPB) 2. Forces (Penalaran/Keilmuan) 3. Unit Konservasi Fauna 4. IPB DEBATING COMMUNITY • UKM bidang jurnalistik 1. Gema Almamater 2. Koran Kampus
  • 3. UKM di Institut Teknologi Bandung (ITB) • Rumpun Agama 1. 2. 3. 4. 5. • Rumpun Keilmuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. • ShARE ITB Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan "PSIK" (Societal Study Union) Majalah Ganesha – Kelompok Studi Sejarah, Ekonomi dan Politik ITB Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal ITB Institut Sosial Humaniora "Tiang Bendera" ITB Unit Kajian Islam Ideologis HATI ITB (Harmoni Amal Titian Ilmu) Rumpun Pendidikan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. • Persekutuan Mahasiswa Kristen "PMK" (Christian Student Fellowship) Keluarga Mahasiswa Katolik "KMK" (Catholic Student Society) Keluarga Mahasiswa Hindu "KMH" (Hindu Student Society) Keluarga Mahasiswa Buddha "Dhammanano" (Buddhist Student Society) Keluarga Mahasiswa Islam "GAMAIS" (Islamic Student Society) Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa "KOKESMA" Unit Robotika U-Green ITB Techno Enterpreneur Club Student English Forum "SEF" Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I/ITB (Student Regiment Battalion I/ITB)] Pramuka ITB (Gudep 06005-06006) Liga Film Mahasiswa "LFM" ITB Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) ITB Ganesha Model United Nations Club Kelompok Studi Visual Budaya Modern (Genshiken ITB) Amateur Radio Club ITB - ARC ITB Keluarga Mahasiswa Pencinta Alam Ganesha "KMPA" Rumpun Seni dan Budaya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. ITB Dance and Performance Art Community (INFINITY) Unit Kebudayaan Aceh (UKA) Unit Kesenian Sumatera Utara (UKSU) Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS) Unit Kebudayaan Melayu Riau (UKMR-ITB) Unit Kesenian Minangkabau (UKM) Unit Kebudayaan Jepang (UKJ) Unit Kebudayaan Irian (UKIR) ITB Unit Kebudayaan Banten DEBUST ITB Unit Kebudayaan Betawi Unit Budaya Lampung (UBALA) Studi Teater Mahasiswa (STEMA) Serumpun Mahasiswa Bangka Belitung Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa Paduan Suara Mahasiswa (PSM-ITB) Mahasiswa Bumi Sriwijaya (MUSI) Maha Gotra Ganesha (MGG) Marching Band Waditra Ganesha (MBWG)
  • 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. • Rumpun Media 1. 2. 3. 4. 5. • Lingkung Seni Sunda (LSS) Lingkar Sastra ITB Paguyuban Seni Budaya Jawa Timuran - Loedroek ITB Keluarga Paduan Angklung ITB Keluarga Mahasiswa Jambi - Siginjai (KMJ-Siginjai) ITBJazz ITB Students Orchestra (ISO) Unit Apresiasi Musik (apres!) ITB Tabloid Mahasiswa Boulevard Radio Kampus - ITB community radio Pers Mahasiswa (Persma) ITB GaneshaTV (GTV) 8EH Radio ITB Rumpun Olah Raga dan Kesehatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Unit Tenis ITB Unit Renang dan Polo Air (URPA) Unit Judo ITB Unit Capoeira Quizumba (UCI) ITB Unit Bola Voli (UBV) Unit Bulu Tangkis (UBT) ITB Unit Basket "GANESHA" (UBG-ITB) Unit Aktivitas Tenis Meja ITB (UATM ITB) Tarung Drajat (Boxer) Unit Taekwondo Syufu Taeshukan Hent Lanah ITB Unit Softball Satuan Kegiatan Olah Raga (SKOR) Hoki ITB Persatuan Sepak Bola ITB (PS ITB) Persatuan Catur Mahasiswa ITB Perisai Diri Unit Panahan PASOPATI ITB Unit Selam Nautika ITB Unit Kendo ITB Shorinji Kempo ITB Unit Karate (Bandung Karate Club) cabang ITB Bela Diri Hikmatul Iman Ranting ITB Ganesha Bicycler Unit Aktivitas Bridge (UAB) Atletik Ganesha (ATLAS) Aikido
  • 4. UKM di Universitas Gadjah Mada (UGM) • Unit Kegitan Olahraga 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. • Unit Atletik Unit Berkuda Unit Bola Basket Unit Bola Volly Unit Bridge Unit Bulu Tangkis Unit Catur Unit Hockey Unit Judo Unit Karate inkai Unit Karate Kala Hitam Unit Shorinji Kempo Unit Merpati putih Unit Perisai Diri (PD) Unit IKS Pro-Patria Unit Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) Unit Renang Unit Selam Unit Sepak Bola Unit Softball & Baseball (USB) Unit Taekwondo Unit Tenis Lapangan Unit Tenis Meja Unit Terjun Payung Unit Kegiatan Kesenian 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Unit Fotografi (UFO) Unit Gama Band Unit Keroncong Unit Kesenian Mahasiswa Gaya Surakarta (UKMGS) Unit Kesenian Mahasiswa Gaya Yogyakarta (Swagayugama) Unit Marching band Unit Paduan Suara Mahasiswa (PSM UGM) Unit Seni Rupa (User) Unit Tari Bali Unit Teater Gadjah Mada
  • • Unit Kegiatan Kerohanian 1. 2. 3. 4. 5. • Unit Kegiatan Khusus 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. • Jamaah Shalahuddin Unit Kerohanian Budha (Keluarga Mahasiswa Budhis) Unit Kerohanian Hindu (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) Unit Kerohanian Katholik (Misa Kampus) Unit Kerohanian Kristen Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung Unit Kesehatan Mahasiswa SKM-Bulaksumur Pos Mapagama UKM Pramuka UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) Unit Suporter Kegiatan Penalaran Mahasiswa 1. 2. 3. 4. Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM) Lomba Karya Inovatif Produktif (LKIP) Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), yang meliputi: a. PKM Penelitian (PKMP) b. PKM Penerapan Teknologi (PKMT) c. PKM Kewirausahaan (PKMK) d. PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM) e. PKM Penulisan Ilmiah (PKMI) 5. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasioal (Pimnas) a. Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), meliputi: bidang ilmu, bidang teknologi, dan bidang seni. b. Lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), meliputi semua bidang PKM dan gelar produk dan posten hasil PKM. c. Studium Generate d. Seminar Nasional Sehari e. Sarasehan f. Pemeran Inovasi Teknologi, Telekomunikasi, dan Komputer berisikan kegiatan-kegiatan: Pameran Karya Ilmiah Mahasiswa, Pameran Produk Industri, Job Fair. g. Jenis Perlombaan, yang akan diselenggarakan adalah: Business Game (B), Desai Web, Java Overland Varsities English Debate (JOVED), Lomba Poster non-PKM, Lomba Karikatur dan Fotografi, Pentas Seni dan Budaya, dan City Tour. 6. Seminar Akademik
  • 5. UKM di Universitas Airlangga (Unair) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. UKM Kelatnas Indonesia Perisai Diri UKM Merpati Putih UKM Tapak Suci UKM PSH. Terate UKM Tari dan Karawitan UKM Paduan Suara UKM Seni Fotografi UKM Teater UKM Kerohanian Islam UKM Kerohanian Kristen UKM Kerohanian Katolik UKM Kerohanian Hindu Dharma UKM Kerohanian Budha UKM Sinematografi UKM Menwa UKM Pramuka UKM Penalaran UKM Mapanza UKM Pencinta Alam (Wapala) UKM KSR. PMI UKM Sepak Bola UKM Bola Basket UKM Bola Voli UKM Tenis Lapangan UKM Bulu Tangkis UKM Bridge UKM Softball UKM Tae-Kwondo UKM Kempo Demikian sekilas tentang Ekskul di SMA dan daftar UKM di ke-5 PTN sebagai contoh untuk memberi informasi bagi calon aktivis baru atau aktivis lama yang tengah meniti ‘karir’. Semoga bermanfaat. Selamat menjadi Aktivis Indonesia. Berguna bagi Bangsa ini.
  • AKTIVIS ⇌ ORGANISASI 1. 7 (tujuh) manfaat menjadi Aktivis Organisasi Terkadang bagi kebanyakan siswa (di sekolah) atau mahasiswa (di kampus) tersirat pertanyaan, buat apa sih aktif di luar kegiatan belajar. Ngapain aja di organisasi ekskul itu. Kan, tujuan kita sekolah atau kuliah belajar. Secara sepintas, memang benar bahwa lembaga pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi) adalah tempat belajar. Namun, perlu disadari yang dipelajari adalah hard skill (keteramplilan teknis) sebanyak 90%, sedangkan ketika akan terjun ke masyarakat hard competence ini hanya dipakai 15% saja. Oleh karena itulah, berorganisasi menjadi “kawah candradimuka”, untuk mendapatkan tambahan ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang tidak didapatkan di ruang kelas. Ada 7 manfaat yang diperolah bagi pelajar atau mahasiswa yang menjadi aktivis organisasi, diantaranya adalah: 1. Kepemimpinan. Secara pribadi akan mengetahui kemampuan mempengaruhi atau mendominasi terhadap orang lain. Termasuk tipe dan gaya kepemimpinan manakah diri sendiri. 2. Manajemen waktu. Membagi waktu untuk belajar dan aktvitas organisasi. Terlatih membedakan antara hal yang mendesak dengan yang penting. 3. Softskill. Mengembangkan kecerdasan emosional diri yang dengan sendirinya akan berkembang menjadi kemampuan yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan inter personal dibanding kemampuan teknis dan akademis. Intrapersonal adalah keterampilan dalam mengatur diri sendiri, sedangkan interpersonal adalah keterampilan untuk mengembangkan unjuk kerja secara maksimal dan diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. 4. Networking. Menjadi aktivis akan berhubungan tidak saja dengan sesama teman belajar, tetapi juga dengan guru atau dosen, karyawan secara internal. Secara eksternal akan lebih luas lagi jalinan pertemanan ini. Hal ini akan bermanfaat untuk kemudian hari. 5. Kecerdasan sosial. Aktivitas organisasi akan mendidik aktvists untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Dampaknya adalah sikap bekerja sama, melihat peluang, peran, bertanggung jawab, toleransi, dan dapat menerima perbedaan.
  • 6. Manajemen mutu. Bekerja dalam organisasi dituntut untuk membiasakan diri pada standar dan prosedur dalam proses aktivitas untuk menghasilkan produk (proyek kegiatan) dengan target waktu. Keteraturan dan terorganisasi segala aktvitas dengan administrasi dokumen yang baik, merupakan langkah mengelola mutu. 7. Manajemen konflik. Ketidakcocokan, ketidaksepahaman, ketidaksepakatan, dan perselisihan adalah hal alamiah dan wajar dalam hubungan antar manusia. Adanya perbedaan, atau berlawanannya keinginan atau kehendak akan nilai, persepsi, interpretasi, status dan tujuan inilah yang dikenal sebagai konflik. Fenomena ini dapat berdampak positif atau negatif tergantung bagaimana mengelolanya. Ini merupakan pendekatan berorientasi proses yang mengarah pada bentuk komunikasi. Nah, dengan demikian beraktif-aktif, dan bergiat-giat di luar belajar sangat penting untuk modal masa depan. Apalagi, ilmu dan pengetahuan yang didapatkan langsung secara praktik dan diaplikasikan dalam kegiatan organisasi. Kalau begitu, masih ragu untuk menjadi aktivis organisasi sekolahan?
  • 2. Aktivis > Organisatoris > Fungsionaris Dalam organisasi ada manajemen yang harus dijalankan oleh pengurus atau pengelola organisasi. Orang yang mengurus dan mengelola organisasi menjalankan fungsi-fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Setiap orang yang ada di dalam organisasi mempunyai jabatan, tugas, fungsi, tanggung jawab, dan kewenangan yang berbeda sesuai dengan struktur organisasi. Masing-masing juga menjalankan fungsi manajemen sesuai kapasitas dan dalam ruang lingkup kerjanya. Oleh karena itu mereka disebut sebagai fungsionaris organisasi, yakni orang yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Orang yang berfungsi atau berguna bagi kelangsungan aktivitas organisasi. Dalam skala ruang lingkupnya, aspek kepemimpinan juga tidak bisa dilapaskan. Pengelolaan waktu aktivitas, pengaturan orang-orang, pendayagunaan sumber daya, serta penyelenggaraan administrasi menjadi pekerjaan rutin keseharian sebagai insan fungsionaris. Pengelolaan organisasi tidak hanya bertumpu pada sistem manajemen yang diterapkan, juga dipengaruhi oleh sifat pemimpin tertinggi organisasi itu sendiri. Organisasi yang dipimpin oleh pemimpin yang pemikir, visioner, berkarakter, jujur, cerdas, berani, dan bertanggung jawab akan menjadi idaman dan dambaan semua pengikut (anggota) organisasi. Namun, sebuah organisasi belum cukup memiliki pemimpin yang baik dan sistem manajemen yang canggih, jika tidak memiliki budaya (kultur organisasi) yang kuat dan maju. Budaya organisasi dan atmosfer organisasi harus berorientasi pada kemajuan dan masa depan organisasi. Semua anggota harus memahami budaya tersebut dan menikmati atmosfernya, sehingga hidup dan beraktivitas di organisasi dalam suasana aman, mapan, dan nyaman. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar memiliki kepemimpinan yang selaras dengan sistem manajemen serta mampu mengkondisikan organisasi dalam budaya yang baik dengan suasana atmosfer yang sehat. Orang-orang seperti ini pantas menyandang sebagai sang organisatoris. Dalam perkembangannya, sebuah organisasi harus menyeimbangkan antara karya dan aktivitas. Karya dalam arti produk intelektual dan pemikiran, sedangkan aktivitas lebih pada pergerakan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Organisasi apapun selayaknya bisa menjadi ladang penyemaian bibit kualitas SDM, sehingga ’sekolahan’ tidak hanya ada di institusi pendidikan formal saja yang memang menjadi ”core business”nya. Beberapa tempo lalu, dalam akun Komunitas ini penulis pernah memaparkan 7 manfaat menjadi aktivis sekolah atau aktivis universitas. Sekedar mengingat kembali, ketujuh manfaat itu adalah: 1. Kepemimpinan. 2. Manajemen waktu. 3. Softskill. 4. Networking. 5. Kecerdasan sosial. 6. Manajemen mutu. 7. Manajemen konflik. Aktivis lekat dengan organisasi. Sukar dijumpai orang yang bergerak sebagai aktivis tidak berada dalam organisasi yang menyertainya. Suatu hil yang mustahal, kali ya? (sengaja dibalik!).
  • Aktivis dengan organisasi laksana ikan dengan air. Terlepas dia berada di dalam suatu organisasi atau berada di atas banyak organisasi, tetap saja si aktivis dengan organisasi memiliki hubungan mutualisma. Seandainya tidak berorganisasi formal, sang aktivis akan mengorganisasi dalam kelompok atau grup informal atau nonformal, minimal kelompok diskusi. Bisa saja pengaruh seorang aktivis dapat melampaui bargaining position sebuah organisasi dengan kompetitor atau rivalnya pada suatu ketika. Kamus Besar Bahasa Indonesia membuat pengertian, aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Dalam bidang politik, aktivis ialah seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dan sebagainya). Namun, aktivis bisa saja setiap orang yang aktif bergerak membuat perubahan di lingkungan terkecilnya. Bisa dalam organisasi, sekolah, kantor, pabrik, masyarakat, atau komunitas. Seorang aktivis juga memiliki spektrum yang lebar. Artinya tidak bisa digeneralisir perbuatan seorang aktivis merupakan perbuatan setiap dan semua yang menyandang status aktivis. Seorang aktivis dapat bersikap idealis atau realistis pragmatis, dan bahkan bisa saja oportunis. Beberapa catatan sejarah yang dikutip dari Wikipedia dan beberapa sumber, tentang organisasi dan gerakan aktivisnya berdasarkan urutan berdirinya. Secara kronologis, adalah: 1.Jamiatul Khair Organisasi sosial yang berperan dalam melakukan perubahan sistem atau lembaga pendidikan Islam terutama di Jakarta. Lengkapnya Al-Jamiatul Khairiyah. Merupakan organisasi pendidikan Islam tertua di Jakarta, didirikan tahun 1901 dengan peran besar para ulama asal Arab Hadramaut dan juga pemuda Alawiyyin, seperti Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, Sayid Muhammad Al-Fakir Ibn. Abn. Al Rahman Al Mansyur, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Abubakar bin Muhammad Alhabsyi dan Syechan bin Ahmad Shahab. Organisasi Pembaharuan Islam ini berkantor di daerah Pekojan di Tanjung Priok (Jakarta). Oleh karena perkembangannya dari waktu ke waktu semakin pesat, maka pusat organisasi ini dipindahkan dari Pekojan ke Jl. Karet, Tanah Abang. Organisasi ini dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam, terdiri dari tokoh-tokoh gerakan pembaharuan agama Islam antara lain, Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islam), dan H. Agus Salim. Bahkan beberapa tokoh perintis kemerdekaan juga merupakan anggota atau setidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiatul Khair. 2.Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) Pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912. Pada tahun 1912, oleh pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI).
  • 3.Boedi Oetomo Wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. 4. Muhammadiyah Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. 5.Perhimpunan Al-IrsyadAl-Islamiyyah(Jam'iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) Berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915. Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-'Alamah Syeikh Ahmad Bin Muhammad Assoorkaty Al-Anshary, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami'at Khair yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905. 6. Mathlaúl Anwar Awalnya para kyai di Menes, Banten mengadakan musyawarah di bawah pimpinan KH. Entol Mohamad Yasin dan KH. Tb. Mohamad Sholeh memanggil pulang seorang pemuda (KH. Mas Abdurrahman bin Mas Jamal) yang sedang belajar di Makkah al Mukarramah pada seorang guru besar yang juga berasal dari Banten, yaitu Syekh Mohammad Nawawi al Bantani. Pada tanggal 10 bulan ramadhan 1334 H, bersamaan dengan tanggal 10 Juli 1916 M, diadakan suatu musyawarah untuk membuka sebuah perguruan Islam dalam bentuk madrasah yang akan dimulai kegiatan belajar mengajarnya pada tanggal 10 Syawwal 1334 H/9 Agustus 1916 M. Sebagai Mudir atau direktur adalah KH. Mas Abdurrahman bin KH. Mas Jamal dan Presiden Bistirnya KH.E. Moh Yasin dari kampung Kaduhawuk, Menes, serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat di sekitar Menes. Mathla’ul Anwar (bahasa Arab, yang artinya tempat lahirnya cahaya). 7. Persatuan Islam (disingkat Persis) Didirikan pada 12 September 1923 (1 Shafar 1342 H) diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam) di Bandung yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan
  • lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Persis bertujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadits yang shahih. Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang juga dikenal dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam yang hanya bersumber dari Al-Quran dan Hadits (sabda Nabi). 8.Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an. Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI. 9.Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) Didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan) 10..Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). 11. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia adalah suatu wadah organisasi pemuda yang didirikan pada tahun 1926 oleh Raden Tumenggung Djaksodipoera bersama 5 kawannya (Soegondo, Soewirjo, Goelarso, Darwis, dan Abdoellah Sigit), dengan alamat Jl. Kramat No. 106 Weltevreden Batavia. Organisasi ini menirukan Indonesisch Vereniging (Perhimoenan Indonesia) yang didirikan oleh Mohammad Hatta di Negeri Belanda tahun 1908.
  • 12. Nahdlatul Wathan Organisasi massa Islam terbesar di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Organisasi ini didirikan di Pancor, Kabupaten Lombok Timur oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Tuan Guru Pancor) pada tanggal 25 Agustus 1935. 13. Majelis Islam A'la Indonesia atau MIAI Badan federasi bagi ormas Islam yang dibentuk dari hasil pertemuan 18-21 September 1937. KH Hasyim Asy'ari merupakan pencetus badan kerja sama ini, sehingga menarik hati kalangan modernis seperti KH Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Wondoamiseno dari Syarekat Islam. MIAI mengoordinasikan berbagai kegiatan dan menyatukan umat Islam menghadapi politik Belanda seperti menolak undang-undang perkawinan dan wajib militer bagi umat Islam. KH Hasyim Asy'ari menjadi ketua badan legislatif dengan 13 organisasi tergabung dalam MIAI. Setelah Jepang datang, MIAI dibubarkan dan digantikan dengan Masyumi. 14. Masyumi Bulan Desember 1942, 32 orang Kiai diundang ke Istana Gambir yang megah dan asri di Jakarta untuk beraudiensi dengan Gunseikan, Gubernur Militer Jepang yang merupakan pimpinan tertinggi pemerintahan pendudukan saat itu. Pengelolaan Masyumi era Jepang ini banyak diserahkan kepada tokoh-tokoh pesantren. Sebenarnya Masyumi didirikan pada 24 Oktober 1943 karena Jepang memerlukan suatu badan untuk menggalang dukungan masyarakat Indonesia melalui lembaga agama Islam. Pada masa pendudukan Jepang, Masyumi belum menjadi partai, tapi federasi dari empat organisasi Islam diizinkan pada masa itu, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia. 15.Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa. Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok. 16. Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi Sebuah partai politik yang berdiri pada tanggal 7 November 1945 di Yogyakarta. Partai ini didirikan melalui sebuah Kongres Umat Islam pada 7-8 November 1945, dengan tujuan sebagai partai politik yang dimiliki oleh umat Islam dan sebagai partai penyatu umat Islam dalam bidang politik. Masyumi pada akhirnya dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960 dikarenakan tokoh-tokohnya dicurigai terlibat dalam gerakan pemberontakan dari dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada masa pemerintahan Soeharto, terjadi rehabilitasi sebagian dari tokoh-tokoh Masyumi, di mana beberapa tokoh-tokoh Masyumi diperbolehkan aktif kembali dalam politik dengan meleburkan diri ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
  • 17. Himpunan Mahasiswa Islam (disingkat HMI) Sebuah organisasi yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta. (sekarang Universitas Islam Indonesia, UII). 18.Pelajar Islam Indonesia disingkat PII Sebuah organisasi Pelajar Islam yang pertama setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Didirikan di Kota Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Joesdi Ghazali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, dan Ibrahim Zarkasji. 19. Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947. Organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partaipartai politik. Misalnya, GMKI Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia, PMKRI Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia dengan Partai Katholik,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain. Menurut Nugroho Notosusanto, organisasi mahasiswa ekstra yang pernah ada di Indonesia dapat dibagi atas 3 jenis, yakni: a. yang berdasarkan agama b. yang berdasarkan politik partai/golongan c. yang berdasarkan lokalitas. Contoh daripada jenis pertama adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan lain-lain. Contoh daripada jenis kedua adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GM Sos), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), dan lain-lain. Contoh daripada jenis ketiga adalah Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD), Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada), Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB) dan sebagainya. 20. Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan. Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain. 21. Dewan Da`wah Islamiyah Indonesia Dewan Da`wah Islamiyah Indonesia atau disingkat “Dewan Da`wah”, didirikan oleh para ulama, pejuang dan tokoh Masyumi atas inisiatif Alm. Dr. Mohammad Natsir, mantan Ketua
  • Umum Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dan Mantan Perdana Menteri pertama RI, melalui musyawarah alim ulama se-Jakarta yang difasilitasi oleh Pengurus Masjid Al-Munawarah, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 26 Februari 1967, bertepatan tanggal 17 Dzulqa’dah 1386 H, satu tahun setelah jatuhnya rezim Orde Lama setelah pemberontakan G 30 S PKI. Para pemimpin nasional Mochtar Lubus, K.H. Isa Anshari, Mr. Assaat, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, S.H., M. Yunan nasution, Buya Hamka, Mr, Kasman Singodimedjo dan K.H E.Z. Muttaqin yang bersikap kritis terhadap politik Demokrasi terpimpin, ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Dalam kata-kata Pak Natsir, dulu berdakwah lewat jalur politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah. 22. Mahasiswa melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, seperti: • Golput yang menentang pelaksanaan pemilu pertama pada masa Orde Baru pada 1972 karena Golkar dinilai curang. • Gerakan menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah pada 1972 yang menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut. Lahirlah, apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat" yang dimotori Arif Budiman yang program utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi. Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan. Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. 23. Gerakan mahasiswa tahun 1977/1978 ini tidak hanya berporos di Jakarta dan Bandung saja namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota Surabaya, Medan, Bogor, Ujungpandang (sekarang Makassar), dan Palembang. 28 Oktober 1977, delapan ribu anak muda menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, "Turunkan Suharto!". Besoknya, semua yang berteriak, raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun, sekejap kembali tentram. 10 November 1977, di Surabaya dipenuhi tiga ribu jiwa muda. Setelah peristiwa di ITB pada Oktober 1977, giliran Kampus ITS Baliwerti beraksi. Dengan semangat pahlawan, berbagai pimpinan mahasiswa se-Jawa hadir memperingati hari Pahlawan 1977. Seribu mahasiswa berkumpul, kemudian berjalan kaki dari Baliwerti menuju Tugu Pahlawan. Di Jakarta, 6000 mahasiswa berjalan kaki lima kilometer dari Rawamangun (kampus IKIP) menuju Salemba (kampus UI), membentangkan spanduk,"Padamu Pahlawan Kami Mengadu". Juga dengan pengawalan ketat tentara.
  • 24.Peringatan 12 tahun Tritura, 10 Januari 1978, peringatan 12 tahun Tritura itu jadi awal sekaligus akhir. Penguasa menganggap mahasiswa sudah di luar toleransi. Dimulailah penyebaran benih-benih teror dan pengekangan. Sejak awal 1978, 200 aktivis mahasiswa ditahan tanpa sebab. Bukan hanya dikurung, sebagian mereka diintimidasi lewat interogasi. Banyak yang dipaksa mengaku pemberontak negara. Tentara pun tidak sungkan lagi masuk kampus. Berikutnya, ITB kedatangan pria loreng bersenjata. Rumah rektornya secara misterius ditembaki orang tak dikenal. Di UI, panser juga masuk kampus. Wajah mereka garang, lembaga pendidikan sudah menjadi medan perang. Kemudian hari, dua rektor kampus besar itu secara semena-mena dicopot dari jabatannya. Alasannya, terlalu melindungi anak didiknya yang keras kepala. Di ITS, delapan fungsionaris DM masuk "daftar dicari" Detasemen Polisi Militer. Sepulang aksi dari Jakarta, di depan kos mereka sudah ditunggui sekompi tentara. 25. 1978 diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa lewat Dooed Yusuf dan Pangkopkamtib Soedomo Konsep ini mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim dan melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa. Hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) 26. Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula. Mahasiswa meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa. 27. Badan Kontak Majelis Taklim(BKMT) Badan Kontak Majelis Taklim(BKMT) berdiri tanggal 1 Januari 1981 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari kesepakatan lebih dari 735 Majelis Taklim yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Organisasi BKMT telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Cakupan perkembangan anggotanya mencapai ribuan majelis taklim dengan meliputi jutaan orang jamaah yang tersebar di 33 propinsi. Konon KH. Abdullah Syafi’ie (1910-1985) orang pertama yang memperkenalkan istilah majlis ta’lim (sering ditulis ; majelis taklim). Beliau mengembangkan pengajian di masjid AlBarkah yang beliu sebut dengan majlis ta’lim, baik untuk bapak-bapak maupun yang dikhusukan untuk ibu-ibu. Akhirnya Istilah majlis ta’lim menjadi trade mark dari pengajianpengajian KH. Abdullah Syafi’ie. Sebelum itu orang kalau mau menghadiri pengajian tidak pernah menyebutnya pergi ke majlis ta’lim, tetapi lebih suka menyebutnya mau pergi ke pengajian. Penamaan majlis ta’lim akhirnya melahirkan identitas tersendiri yang membedakan dengan pengajian umum biasa, yaitu sifatnya yang tetap dan berkesinambungan. Akhirnya terbukti
  • bahwa kegiatan yang bersifat majlis ta’lim itu menjadi kebutuhan masyarakat Islam, baik dikota-kota yang sibuk maupun di desa-desa yang terpencil. 28. Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen. 29.Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia disingkat ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia.Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondiri umat Islam, terutama kadena ?berserakannya? keadaan cendekiawan muslim, sehingga menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing. Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema ?Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas? yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September ? 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Kemudian para mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafi?i Anwar menghadap Menristek Prof. B.J. Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. 30. KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Sebuah organisasi mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya tanggal 29 Maret 1998 di Malang. Anggotanya tersebar di hampir seluruh PTN/PTS di Indonesia. KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63
  • kampus (PTN-PTS) di seluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktivis dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29 Maret 1998 pukul 13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang. KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan terutama pada sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM - Malang. 31.Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. 32. Front Pembela Islam [Hidup Mulia atau Mati Syahid] Front Pembela Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam bergaris keras yang berpusat di Jakarta. FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek. FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan. Latar belakang pendirian FPI sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut antara lain: 1. Adanya penderitaan panjang ummat Islam di Indonesia karena lemahnya kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa. 2. Adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela di seluruh sektor kehidupan. 3. Adanya kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta ummat Islam. PERSPEKTIF ORGANISASI "Posisi FPI menjadi semacam Pressure Group di Indonesia, untuk mendorong berbagai unsur pengelola negara agar berperan aktif dalam memperbaiki dan mencegah kerusakan moral dan akidah umat Islam, serta berinisiatif membangun suatu tatanan sosial, politik & hukum yang sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam" (Habib Rizieq, Ketua Umum FRONT PEMBELA ISLAM, 2007). 33. Hidayatullah Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 (kalender Islam: 2 Dzulhijjah 1392 Hijr) di Balikpapan dalam bentuk sebuah pesantren oleh Ust. Abdullah Said (alm), kemudian berkembang dengan berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah di seluruh provinsi di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional I pada tanggal 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah mengubah bentuk organisasinya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam.
  • Jika kini Anda sedang aktif dalam organisasi, posisi manakah yang tepat bagi Anda? Apakah sudah benar menjadi Fungsionaris, telah menyandang peran Organisatoris, dan mungkin sudah sekaliber seorang Aktivis? Standarisasi dan ukuran ketiga kategori di atas memang belum ada, akan tetapi ’standar menurut definisi’ sementara bisa dirujuk. Yang jelas, setiap standar menjadi cermin bagi si pemakai dan akan merefleksi (memantul) kembali pada dirinya, sehingga terlihat kelebihan dan kekurangannya sendiri. Cermin tidak akan berdusta. Dan buruk peran kita, bukan cermin yang dipecah.