Imunisasi

28,182 views
27,642 views

Published on

Published in: Health & Medicine
6 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
28,182
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
1,279
Comments
6
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Here is the vaccine classification. We are going to see each of it, emphasizing the stake of the disease and its vaccine, today.
  • AAP. Informing Patients and Parents. In : Pickering LK. Ed. Red Book : 2003 Report of the Committee on Infectious Disease. 26 th ed. Elk Grove Village, IL: AAP; 2003; 4-7 Depkes RI. Permenkes no tentang Persetujuan Medik (Informed Concent)
  • Vaccines are usually given by injection. (  ) Most live-attenuated viral vaccines are given by the subcutaneous route but some can be given intramuscularly, if this is in line with local practice. (  ) The intramuscular route is favoured for killed, inactivated vaccines and sub-unit vaccines. Injections are usually made into the anterolateral muscle of the thigh in babies and into the deltoid muscle of the upper arm in older subjects. Vaccines should not be injected into the buttocks because then they may be deposited in fat layers which reduces their immunogenicity. (  ) The BCG tuberculosis vaccine is injected intradermally. This route shouldn’t be used for any other vaccines as it is unlikely to provoke an adequate immune response. Other ways of administering vaccines are continually being investigated. (  ) People who don’t like injections would find orally administered vaccines much more acceptable than injectable vaccines but, to date, the only oral vaccines are the Sabin polio vaccine and a live-attenuated typhoid fever vaccine. Intranasal vaccination may be feasible for some respiratory diseases. An intranasally administered flu vaccine has recently been launched in the US. Vaccines are never given intravenously. There is a serious risk of a severe reaction if antigens were to be administered directly into the blood stream. (  )
  • Imunisasi

    1. 1. IMUNISASI Kenggi Rinaningtyas
    2. 2. Imunisasi <ul><li>Adalah pemberian zat anti/ imunitas kedalam tubuh untuk mencegah penyakit tertentu sehingga tubuh terhindar dari penyakit tertentu. </li></ul><ul><li>IMUNITAS </li></ul><ul><li>Kata imun berasal dari Bhs Latin “imunitas” = pembebasan (kekebalan) </li></ul>
    3. 3. <ul><li>Sistem imun = suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yg bekerjasama scr kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing spt kuman-kuman penyakit atau racun, yg msk kedalam tubuh. </li></ul><ul><li>Vaksin = antigen baik bakteri/ kuman yg diberikan kpd org untuk membentuk/ merangsang pembentukan anti bodi yg spesifik/ khas </li></ul>
    4. 4. <ul><li>Kuman = antigen </li></ul><ul><li>Pd saat pertama kali antigen masuk kedalam tubuh, maka sbg reaksinya tubuh akan membuat zat anti yg disebut dg antibodi. </li></ul>
    5. 5. Sejarah imunisasi <ul><li>Di Indonesia dimulai th 1956  imunisasi cacar dijawa. </li></ul><ul><li>Indonesia bebas cacar oleh WHO th 1974, terbukti keampuhan imunisasi thd cacar. </li></ul><ul><li>Th 1973  BCG </li></ul><ul><li>Th 1974  Vaksin TT ibu hamil </li></ul><ul><li>Th 1976  Vaksin DPT </li></ul><ul><li>Th 1977  perkembangan program imunisasi di 55 Puskesmas </li></ul>
    6. 6. Vaksin dibuat dari <ul><li>Kuman yg telah dilemahkan/ dimatikan </li></ul><ul><li>contoh : </li></ul><ul><li>- Vaksin dari kuman yg dimatikan  pertusis, batuk rejan, polio (salk). </li></ul><ul><li>- Vaksin dari kuman hidup dilemahkan  BCG, polio (sabin), campak. </li></ul>
    7. 7. <ul><li>Zat racun kuman (toxin) yg dilemahkan </li></ul><ul><li>contoh : TT dan DT </li></ul><ul><li>Bagian kuman tertentu/ protein khusus kuman </li></ul><ul><li>contoh : vaksin hep B </li></ul>
    8. 8. Tujuan Imunisasi <ul><li>Mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu </li></ul><ul><li>Bila terjadi penyakit tidak terlalu parah/ berat </li></ul><ul><li>Dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat/ kematian. </li></ul>
    9. 9. Syarat pemberian imunisasi <ul><li>Pada bayi/ anak yang sehat </li></ul><ul><li>Vaksin harus baik </li></ul><ul><li>Pemberian imunisasi dg teknik yg tepat </li></ul><ul><li>Mempertahankan dosis </li></ul><ul><li>Mengetahui jadwal umur dan jenis imunisasi yang diterima </li></ul>
    10. 10. Sistem kekebalan a da 2 macam : <ul><li>Kekebalan Aktif </li></ul><ul><li>Adl kekebalan/ perlindungan yg dibuat oleh tubuh sendiri, akibat terpajan pd antigen spt imunisasi/ terpajan scr ilmiah. Imunisasi aktif biasanya berlangsung lbh lama & menetap lbh lama. </li></ul>
    11. 11. <ul><li>Kekebalan aktif alamiah </li></ul><ul><li>didptkn bila seseorg menderita suatu penyakit. Mis. Pnykt campak </li></ul><ul><li>b. Kekebalan aktif buatan </li></ul><ul><li>didapat bila seseorg mendapat vaksin/ imunisasi. </li></ul>
    12. 12. <ul><li>Kekebalan pasif </li></ul><ul><li>Adl kekebalan/ perlindungan yg diperoleh dr luar tubuh, bukan dibuat oleh indivisu itu sendiri. Kekebalan pasif tdk berlangsung lama, krn akan dimetabolisme oleh tubuh. </li></ul>
    13. 13. <ul><li>Kekebalan pasif alamiah </li></ul><ul><li>kekebalan yg didpat oleh bayi yg menerima kekebalan dari ibunya. Antibodi disalurkan mll plasenta pd 1-2 bln, antibodi ini akan melindungi bayi dr pnykt t3 smp usia 1th </li></ul><ul><li>b. Kekebalan pasif buatan </li></ul><ul><li>kekebalan yg diberikan dg cara menyuntikkan zat antibodi. Mis. Suntik ATS pd pasien yg terluka. </li></ul>
    14. 14. <ul><li>Imunisasi yg diwajibkan </li></ul><ul><li>BCG </li></ul><ul><li>Hepatitis B </li></ul><ul><li>DPT </li></ul><ul><li>Polio </li></ul><ul><li>Campak </li></ul>
    15. 15. <ul><li>Imunisasi yang dianjurkan : </li></ul><ul><li>MMR </li></ul><ul><li>Hib </li></ul><ul><li>Hepatitis A </li></ul><ul><li>Cacar air </li></ul>
    16. 16. Jadwal Vaksinasi Rekomendasi IDAI 2004 Jenis Vaksin Umur Vaksinasi Bulan Tahun lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 10 12 BCG HepB 1 2 3 Polio 0 1 2 3 4 5 DTP 1 2 3 4 5 Campak 1 2 Hib 1 2 3 4 MMR 1 2 Tifoid Ulangan tiap 3 th HepA 2x interval 6-12 bln Varisela
    17. 17. Vaksinasi <ul><li>M emberikan vaksin (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid </li></ul><ul><li>D isuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut </li></ul><ul><li> untuk merangsang kekebalan tubuh </li></ul><ul><li> penerima </li></ul><ul><li> hati-hati : dapat menimbulkan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) </li></ul><ul><li>Prosedur vaksinasi yang benar : </li></ul><ul><li>Merangsang kekebalan lebih baik </li></ul><ul><li>M e m perkecil dampak KIPI : medik, non medik </li></ul>
    18. 18. Prosedur Vaksinasi <ul><li>Penyimpanan dan transportasi vaksin </li></ul><ul><li>Persiapan alat dan bahan : untuk vaksinasi dan mengatasi gawat - darurat </li></ul><ul><li>Persiapan pemberian : </li></ul><ul><ul><li>anamnesis, umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya, riwayat KIPI, Indikasi kontra dan perhatian khusus </li></ul></ul><ul><ul><li>Informed consent : manfaat, risiko KIPI </li></ul></ul><ul><ul><li>pemeriksaan fisik </li></ul></ul><ul><li>Cara pemberian </li></ul><ul><ul><li>dosis, interval </li></ul></ul><ul><ul><li>Lokasi, sudut, kedalaman </li></ul></ul><ul><li>Pemantauan KIPI </li></ul><ul><li>Sisa vaksin, pemusnahan alat suntik </li></ul><ul><li>Pencatatan (dan pelaporan) </li></ul>
    19. 19. Jenis-jenis Vaksin <ul><li>BCG </li></ul><ul><li>Difteria </li></ul><ul><li>Tetanus </li></ul><ul><li>Pertusis </li></ul><ul><li>Kolera </li></ul><ul><li>Meningo </li></ul><ul><li>Pneumo </li></ul><ul><li>Hib </li></ul><ul><li>Typ hoid Vi </li></ul><ul><li>Campak </li></ul><ul><li>Parotitis </li></ul><ul><li>Rubela </li></ul><ul><li>Varisela </li></ul><ul><li>OPV </li></ul><ul><li>Yellow </li></ul><ul><li>Fever </li></ul><ul><li>Influenza </li></ul><ul><li>Hepatitis B </li></ul><ul><li>Hepatitis A </li></ul><ul><li>IPV </li></ul><ul><li>Rabies </li></ul>Vaksin Bakteri Vaksin Virus Vaksin Hidup Vaksin Inaktif
    20. 20. VAKSIN BCG ( BACILUS CALMETE GUERIN ) <ul><li>Pengebalan terhadap penyakit TBC </li></ul><ul><li>Susunan kuman BCG masih hidup yg dilemahkan </li></ul><ul><li>Penyimpanan 2-8 º C, lebih baik dlm freze e r , diberikan pd usia 0-2bln </li></ul><ul><li>Dosis pemberian Bayi = 0,05 ml  IC pd deltoid kanan </li></ul><ul><li>Kemasan vaksin dilarutkan dlm 4 ml pelarut, efektif untk 25 org, hrs hbs dlm 4 jam </li></ul>
    21. 21. <ul><li>Efek samping </li></ul><ul><li>Reaksi scr normal akan timbul 2 minggu spt pembengkakan kecil, merah pd tempat penyuntikan yg kmd abses kecil dg diameter 10 mm, luka akan sembuh sendiri meninggalkan jar. Parut, biasanya bayi tdk menderita demam. </li></ul>
    22. 22. Vaksin BCG
    23. 23. VAKSIN DPT (DIFTERIA, PERTUSIS, TETANUS) <ul><li>Guna untuk memberikan kekebalan thd penyakit difteri, pertusis, tetanus. </li></ul><ul><li>Susunan vaksin pertusis terbuat dari kuman bordetella pertusis yg telah dimatikan , dikemas dg vaksin difteri dan tetanus. </li></ul><ul><li>Penyimpanan 2-8 º C </li></ul><ul><li>Dosis 0,5 cc  IM/ SC </li></ul>
    24. 24. <ul><li>Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular, gejala demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil/ amandel. </li></ul><ul><li>Di Indonesia vaksin difteri, pertusis, tetanus tdp 3 jenis kemasan yaitu : </li></ul><ul><li>Kemasan tunggal khusus untk tetanus, bentuk kombinasi DT & kombinasi DPT diberikan 3 X, yaitu sejak bayi umur 2 bln,selang wkt penyuntikan min 4 mgg </li></ul>
    25. 25. <ul><li>suntikan pertama tdk memberikan perlindungan apa2, shg suntikan ini hrs diberikan 3. Imunisasi ulang pertama dilakukan pd usia 1-2 th, 6 th, kls 6 SD dg vaksin DT tanpa P </li></ul><ul><li>Efek samping panas </li></ul>
    26. 26. Vaksin D ifteri Tetanus Pertusis whole cells (DTPw) dan Tetanus T oksoid (TT) Heat Marker / Vaccine Vial Monitor (VVM)
    27. 27. Vaksin D ifteri T etanus P ertusis aselul a r (DTPa)
    28. 28. VAKSIN POLIO <ul><li>Guna untuk kekebalan thd polio melitis </li></ul><ul><li>Dosis 2 tetes </li></ul><ul><li>Terdapat 2 jenis vaksin yg beredar : </li></ul><ul><li>- Vaksin yg mengandung virus polio yg dimatikan (vaksin salk), suntikan </li></ul><ul><li>- vaksin yg mengandung virus polio yg masih hidup, yg telah dilemahkan (virus sabin), oral/ mulut dlm bentuk cairan </li></ul>
    29. 29. <ul><li>Di Indonesia yg umum diberikan adl virus sabin (kuman yg dilemahkan). Cara pemberiannya melalui cairan yang diteteskan ke mulut. </li></ul>
    30. 30. Vaksin Polio Oral (OPV) Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)
    31. 31. Perubahan warna vaksin polio karena perubahan pH Boleh diberikan
    32. 32. VAKSIN CAMPAK <ul><li>Guna untuk kekebalan thd campak </li></ul><ul><li>Susunan kuman yg dilemahkan </li></ul><ul><li>Penyimpanan suhu 6 º C </li></ul><ul><li>Setelah dilarutkan vaksin minimal 8 jam </li></ul><ul><li>Dosis pemberian 0,5 ml  SC, dideltoid lengan atas </li></ul><ul><li>Gejala khas timbulnya bercak-bercak merah dikulit stlh 3-5 hari anak menderita demam, batuk/ pilek </li></ul>
    33. 33. <ul><li>Proteksi : mulai 2 mgg setelah vaksinasi </li></ul><ul><li>BIAS : ulangan campak saat masuk SD </li></ul>
    34. 34. Vaksin Campak Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)
    35. 35. VAKSIN HEPATITIS B <ul><li>Cara penularan hepatitis B dpt tjd melalui mulut, tranfusi darah dan jarum suntik. </li></ul><ul><li>Pd bayi, hep B dpt tertular dari ibu melalui placenta semasa bayi dlm kandungan/ pd saat kelahiran. </li></ul><ul><li>Penyimpanan 2-8 º C </li></ul><ul><li>Imunisasi dasar hep B diberikan 3X dg tenggang wkt 1 bln antara suntikan 1 & 2 </li></ul>
    36. 36. <ul><li>dan tenggang wkt 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga, imunisasi ulang diberikan 5 th stlh pemberian imunisasi dasar. </li></ul>
    37. 37. VAKSIN MMR (Mumps, Morbili, Rubella) <ul><li>Penyimpanan 2-8 º C </li></ul><ul><li>Penyuntikan SC/ IM </li></ul><ul><li>Vaksin ini masih di impor dan harganya cukup mahal </li></ul><ul><li>Imunisasi MMR diberikan 1X stlh anak berumur 15 bulan </li></ul>
    38. 38. VAKSIN TIFUS/ TIFOID <ul><li>Penyimpanan 2-8 º C, penyuntikan IM/ SC </li></ul><ul><li>Ada 2 jenis vaksin tifoid: </li></ul><ul><li>- Vaksin oral (vivotif)  diberikan umur 6 th/ lbh, kemasan 3 kapsul </li></ul><ul><li>- Vaksin suntikan (TyphimVi)  </li></ul><ul><li>diberikan sekali pd anak umur 6 th dan diulang 3 th </li></ul>
    39. 39. VAKSIN RADANG SELAPUT OTAK HAEMOPHILUS INFLUENZA tipe B (Hib) <ul><li>Penyimpanan 2-8 º C, jgn beku </li></ul><ul><li>Penyakit ini berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 6-12 bulan. </li></ul>
    40. 40. <ul><li>Radang selaput otak Hib sering mengakibatkan cacat saraf/ kematian </li></ul><ul><li>Di Indonesia telah beredar 2 jenis vaksin Hib yaitu ActHIB buatan perancis dan PedvexHIB buatan USA </li></ul><ul><li>PedvexHIB  imunisasi dasar diberikan 2 kali pd usia 2-14 bln dg selang wkt 2 bln. </li></ul><ul><li>ActHIB  imunisasi dasar diberikan pd usia 2-6 bln sebanyk 3X dg jarak wkt 1-2 bln </li></ul>
    41. 41. Vaksin Haemophilus influenza b (Hib)
    42. 42. VAKSIN HEPATITIS A <ul><li>Penyuntikan IM </li></ul><ul><li>Kontraindikasi demam, infeksi akut </li></ul><ul><li>Imunisasi dasar dengan vaksin Havrix diberikan 2 X dg selang waktu 2-4 mgg, dosis ke 3 diberikan 6 bln stlh suntikan pertama </li></ul>
    43. 43. VAKSIN CACAR AIR (VARICELLA) <ul><li>Penyuntikan SC </li></ul><ul><li>Kontraindikasi demam, infeksi akut </li></ul><ul><li>Cacar air mrp penyakit yg sangat menular, ttp ringan. </li></ul>
    44. 44. <ul><li>Gejala yg khas : mula-mula timbul bintik kemerahan yg makin membesar membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dlm wkt 1 mgg </li></ul>
    45. 45. Penyimpanan vaksin <ul><li>Di Tingkat Propinsi : kmr dingin & kmr beku </li></ul><ul><ul><li>Suhu kamar dingin: +2 s/d +8 Cº </li></ul></ul><ul><ul><li>Suhu kamar beku: -15 s/d -25 Cº </li></ul></ul><ul><li>Di Kabupaten dan Pelayanan Primer </li></ul><ul><ul><li>Jarak lemari es dengan dinding belakang 15 cm </li></ul></ul><ul><ul><li>Lemari es tidak terkena sinar matahari langsung </li></ul></ul><ul><ul><li>Sirkulasi ruangan cukup </li></ul></ul><ul><li>Penyusunan vaksin </li></ul><ul><ul><li>Jarak menyusun dos vaksin 1-2 cm atau </li></ul></ul><ul><ul><li>satu jari antar dos vaksin </li></ul></ul>
    46. 46. Cool Box Untuk Menyimpan Vaksin
    47. 48. Plastik penetes (dropper) Polio JANGAN disimpan di lemari es krn jadi rapuh, mudah robek
    48. 50. Masa simpan vaksin belum dipakai Vademicum Bio Farma Jan.2002 Jenis Vaksin Suhu Penyimpanan Umur Vaksin BCG +2 s/d +8°C -15°s/d -25°C 1 tahun 1 tahun DPT +2° s/d +8°C 2 tahun Hepatitis B +2° s/d +8°C 26 bulan TT +2° s/d +8°C 2 tahun DT +2° s/d +8°C 2 tahun OPV +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 6 bulan 2 tahun Campak +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 2 tahun 2 tahun
    49. 51. Penyediaan vaksin dan alat-alat <ul><li>Vaksin + pelarut khusus </li></ul><ul><li>termos, ice-packed , es batu </li></ul><ul><li>peralatan vaksinasi (alat cuci tangan, pemotong ampul, alat suntik sekali pakai, kapas alkohol, plester, kotak limbah) </li></ul><ul><li>Alat penanganan kedaruratan (adrenalin, kortikosteroid, selang dan cairan infus, oksigen), </li></ul><ul><li>Pencatatan : Buku KIA, KMS, blangko vaksinasi </li></ul>
    50. 52. Anamnesis / KIE <ul><ul><li>Cek identitas , vaksinasi yang telah didapat </li></ul></ul><ul><ul><li>Umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya </li></ul></ul><ul><ul><li>Informed consent : manfaat dan KIPI </li></ul></ul><ul><ul><li>Indikasi kontra, perhatian khusus, penyakit, obat </li></ul></ul><ul><ul><li>KIPI vaksinasi sebelumnya </li></ul></ul><ul><ul><li>Penanggulangan KIPI seandainya terjadi </li></ul></ul><ul><ul><li>Rutin pediatrik </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Asupan nutrisi, miksi, defekasi, tidur </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Pertumbuhan dan perkembangan </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Jadwal vaksinasi berikutny a </li></ul></ul>
    51. 53. VVM = Vaccine Vial Monitor
    52. 54. Penempatan alat untuk memudahkan vaksinasi Kursi pasien Kursi vaksinator Tempat sampah Kotak pembawa vaksin Kotak pembuangan jarum bekas Form R&R Air & sabun untuk cuci tangan
    53. 55. Informed consent (1) <ul><li>Di Amerika, Australia : belum ada ketentuan pasien atau keluarganya harus menanda tangani pernyataan mengerti dan menyetujui </li></ul><ul><li>Di Indonesia (Permenkes no. 585 /1989 ttg Persetujuan Tindakan Medik) pernyataan tertulis hanya untuk tindakan diagnostik atau terapeutik, vaksinasi belum perlu pernyataan tertulis </li></ul>
    54. 56. <ul><li>Boleh meminta tanda tangan dari orangtua atau pengasuh bahwa telah diberikan informasi, dimengerti dan menyetujui vaksinasi </li></ul><ul><li>Penjelasan tentang manfaat dan risiko vaksinasi disampaikan dengan empathy </li></ul><ul><li>Bukan dengan cara menghakimi (non - judgmental approach) </li></ul><ul><li>Gunakan istilah awam dan sederhana </li></ul>
    55. 57. Persiapan pemberian vaksin <ul><li>Cuci tangan dengan antiseptik </li></ul><ul><li>B aca nama vaksin, tanggal kadaluwarsa, </li></ul><ul><li>Teliti kondisi vaksin apakah masih layak : warna indikator VVM , </li></ul><ul><li>Kocok : penggumpalan, perubahan warna </li></ul><ul><li>Alat suntik : sekali pakai </li></ul><ul><li>Encerkan dan ambil vaksin sebanyak dosis </li></ul><ul><li>Ukuran jarum : ketebalan otot bayi / anak </li></ul><ul><li>Pasang dropper polio dengan benar </li></ul>
    56. 58. Ukuran jarum <ul><li>Intramuskular di paha mid-anterolateral </li></ul><ul><li>Neonatus </li></ul><ul><ul><li>kurang bulan / BBLR : 5/8 inch (15,8 mm) </li></ul></ul><ul><ul><li>cukup bulan : 7/8 inch (22,2 mm) </li></ul></ul><ul><li>1 – 24 bulan : 7/8 – 1 inch </li></ul><ul><ul><li>(22,2-25,4 mm) </li></ul></ul><ul><li>Intramuskular di deltoid </li></ul><ul><li>> 2 thn (tergantung ketebalan otot) </li></ul><ul><li> 7/8 – 1,25 inch (22,2 -31,75 mm) </li></ul><ul><li>Usia sekolah dan remaja : 1,5 inch (38,1mm) </li></ul>
    57. 59. Mengatasi ketakutan dan nyeri <ul><li>Jangan menakut-nakuti anak </li></ul><ul><li>Empati, jangan dipaksa dengan dipegang kuat </li></ul><ul><li>Diajak bicara, dielus-elus, ditenangkan </li></ul><ul><li>Bayi baru lahir : diberi sukrosa dilidahnya </li></ul><ul><li>Tekan 10 detik sebelum disuntik </li></ul><ul><li>Tempe l es batu 1 – 2 detik tidak direkom e ndasikan </li></ul><ul><li>Krim EMLA ( Eutetic Mixture of Local Anesthesia ) 1 jam sebelum penyuntikan, efek sampai 24 jam </li></ul>
    58. 60. <ul><li>Lidocaine topikal : 10 menit sebelum disuntik </li></ul><ul><li>Anak : bernafas dalam, tiup baling-baling, ajak bicara, bacakan cerita, musik </li></ul><ul><li>Dipijat atau digoyang-goyang sesudah vaksinasi </li></ul>
    59. 61. Penyuntikan dan penetesan vaksin <ul><li>Bicara pada bayi dan anak </li></ul><ul><li>Tentukan lokasi penyuntikan : paha, lengan </li></ul><ul><li>Posisi bayi / anak : nyaman dan aman </li></ul><ul><li>Desinfeksi </li></ul><ul><li>Pegang; peregangan kulit, cubitan </li></ul><ul><li>Penyuntikan: dosis, sudut, cara </li></ul><ul><li>Tetesan: dosis, hati-hati dimuntahkan </li></ul><ul><li>Penekanan bekas suntikan </li></ul>
    60. 62. <ul><li>Membuang alat suntik bekas </li></ul><ul><li>Penulisan tanggal vaksinasi di kolom yang sudah disediakan </li></ul>
    61. 63. Teknik dan posisi penyuntikan <ul><li>Bayi digendong pengasuh, </li></ul><ul><li>Anak dipeluk menghadap pengasuh (chest to chest) </li></ul><ul><li>Otot yang akan disuntik : lemas (relaks) </li></ul><ul><li>Tungkai : sedikit rotasi ke dalam </li></ul><ul><li>Lengan : sedikit fleksi pada sendi siku </li></ul><ul><li>Anak dipersilahkan memilih lokasi suntikan </li></ul>
    62. 64. <ul><li>Metode Z tract : sebelum jarum disuntikkan geser kulit dan subkutis ke samping, setelah disuntik kemudian lepaskan </li></ul><ul><li>Jarum disuntikan dengan cepat </li></ul><ul><li>Bila suntikan lebih dari 1 kali, disuntikan bersamaan </li></ul>
    63. 65. Posisi anak ketika di vaksinasi Tungkai anak dijepit paha ibu Lengan yg satu dijepit ketiak ibu Tangan yg lain dipegang ibu, Kemudian anak dipeluk
    64. 66. Posisi Anak kurang aman Kaki bebas Bisa berontak suntik Tangan bebas Bisa meraih jarum suntik
    65. 67. Posisi b ayi dalam pelukan i bu pada penyuntikan BCG
    66. 68. Penetesan vaksin polio
    67. 69. Teknik Penyuntikan dan Penetesan Oral e.g. polio Subcutaneous e.g. measles, mumps, rubella, varicella Intramuscular e.g. hepatitis A and B, DTP Intradermal BCG
    68. 70. Sisa vaksin <ul><li>BCG </li></ul><ul><ul><li>setelah dilarutkan harus segera diberikan dalam 4 </li></ul></ul><ul><ul><li>jam (simpan dalam suhu 2 – 8 ◦ C) </li></ul></ul><ul><li>Polio </li></ul><ul><ul><li>Setelah dibuka harus segera diberikan dalam 7 hari (simpan dlm suhu 2 – 8 ◦ C) </li></ul></ul><ul><li>DPT </li></ul><ul><ul><li>Bila ada penggumpalan atau partikel yang tidak hilang setelah dikocok  jangan dipakai </li></ul></ul><ul><li>Campak </li></ul><ul><ul><li>Setelah dilarutkan harus diberikan dlm 8 jam (simpan dlm suhu 2 – 8 ◦ C) </li></ul></ul>
    69. 71. Pemantauan setelah vaksinasi <ul><li>Perhatikan keadaan umum </li></ul><ul><li>Tunggu 30 menit di ruang tunggu </li></ul>
    70. 72. Safe injection <ul><li>Aman bagi </li></ul><ul><ul><ul><ul><li>yang disuntik </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>penyuntik </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>lingkungan </li></ul></ul></ul></ul>
    71. 73. Tidak aman bagi yang disuntik <ul><li>Vaksin </li></ul><ul><ul><li>Suhu > 8° C, atau VVM telah terpapar panas </li></ul></ul><ul><ul><li>Botol vaksin bocor, retak, atau terpasang jarum </li></ul></ul><ul><ul><li>Ada partikel dalam larutan </li></ul></ul><ul><ul><li>Telah dilarutkan lebih dari 6 jam </li></ul></ul><ul><ul><li>Beku : DPT, DT, TT, HepB, Hib (tidak boleh beku) </li></ul></ul><ul><ul><li>Uji kocok tetap menggumpal (kecuali HepB atau Hib) </li></ul></ul>
    72. 74. Tidak aman bagi yang disuntik <ul><li>Alat suntik </li></ul><ul><ul><li>Spuit disposable dipakai ulang </li></ul></ul><ul><ul><li>Hanya mengganti jarum </li></ul></ul><ul><ul><li>Tidak dibersihkan dulu langsung disterilkan </li></ul></ul><ul><ul><li>Hanya dengan desinfektan </li></ul></ul><ul><ul><li>Membakar jarum di api </li></ul></ul><ul><ul><li>Merebus dalam panci terbuka </li></ul></ul><ul><ul><li>Menyentuh ujung jarum </li></ul></ul>
    73. 75. Tidak aman bagi yang disuntik <ul><li>Cara m elarutkan / p engambilan vaksin </li></ul><ul><ul><li>Cairan pelarut untuk vaksin lain atau > 8°C </li></ul></ul><ul><ul><li>1 spuit diisi beberapa dosis sekaligus </li></ul></ul><ul><ul><li>jarum ditinggalkan menancap di vial </li></ul></ul><ul><ul><li>Mencampur isi 2 vial </li></ul></ul><ul><li>Lokasi, posisi , kedalaman penyuntikan </li></ul><ul><li>Tidak ada alat / obat gawat - kedaruratan </li></ul>
    74. 76. Tidak aman bagi penyuntik <ul><li>Menekan luka berdarah dengan jari </li></ul><ul><li>(semua cairan tubuh dapat menularkan kuman) </li></ul><ul><li>Membawa atau meletakkan alat suntik bekas sembarangan (tidak langsung membuang ke kotak limbah) </li></ul><ul><li>Menyentuh atau mencabut jarum suntik </li></ul><ul><li>Menutup kembali (recapping) jarum suntik </li></ul><ul><li>Mengasah jarum bekas </li></ul><ul><li>Memilah-milah tumpukan jarum bekas </li></ul><ul><li>Tidak ada alat / obat gawat darurat </li></ul><ul><li>Tidak aman bagi lingkungan : </li></ul><ul><li>Meninggalkan alat suntik bekas sembarangan </li></ul>
    75. 77. Tempat Pembuangan Limbah
    76. 78. Pemusnahan Kotak + Isi limbah <ul><li>Dibakar dalam insinerator khusus (suhu 600 - 1100° C) </li></ul><ul><ul><li>risiko pencemaran kecil </li></ul></ul><ul><ul><li>Rp. 10 – 30 juta, BBM / kayu bakar </li></ul></ul><ul><li>Dibakar dalam lubang atau drum </li></ul><ul><li>Di giling </li></ul><ul><ul><li>Milling atau shreeding </li></ul></ul><ul><ul><li>Serbuk masih infeksius </li></ul></ul><ul><ul><li>375-750 alat suntik / jam </li></ul></ul><ul><ul><li>listrik 750 w </li></ul></ul>
    77. 79. Pemberian Vitamin A <ul><li>Di Indonesia pemberia vit A dimulai setelah anak umur 6 bulan </li></ul><ul><li>Dosis Umur 6-12 bulan = vit A 100.000 IU sekali </li></ul><ul><li>Dosis umur 1-5 th = Vit A 200.000 IU, dua kali dlm setahun </li></ul><ul><li>Pemberian serentak pd bln Februari & Agustus </li></ul>
    78. 80. <ul><li>MATUR NUWUN...... </li></ul>

    ×