BMP EKMA4262 Manajemen Risiko

15,191 views

Published on

Download from Google Drive http://adf.ly/u1Fj3
Link updated November 2014

Published in: Education
0 Comments
15 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
15,191
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
11
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
15
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

BMP EKMA4262 Manajemen Risiko

  1. 1. Modul 1 Risiko, Proses Manajemen Risiko, dan Enterprise Risk Management Dr. Mamduh M. Hanafi, MBA. PENDAHULUAN odul satu ini membicarakan risiko, proses manajemen risiko, dan enterprise risk management. Secara singkat, pengertian dan definisi risiko cukup beragam. Sumber risiko pada dasarnya adalah ketidakpastian. Ketidakpastian memunculkan risiko. Proses manajemen risiko adalah tahapan yang dilakukan untuk mengelola risiko secara sistematis. Enterprise Risk Management (ERM) adalah manajemen risiko dalam suatu organisasi. Modul satu berikut ini membicarakan lebih lanjut ketiga konsep dasar manajemen risiko tersebut. Setelah mempelajari Modul 1 ini, secara umum Anda diharapkan dapat menjelaskan gambaran secara umum mengenai risiko dan pengelolaan risiko tersebut. Secara khusus, setelah mempelajari Modul 1 ini, Anda diharapkan bisa menjelaskan: 1. Beberapa pengertian dan definisi risiko. 2. Kondisi ketidakpastian sebagai sumber risiko. 3. Beberapa contoh kerugian yang dialami organisasi akibat kegagalan mengelola risiko. 4. Proses atau tahapan dalam pengelolaan risiko. 5. Enterprise Risk Management (pengelolaan risiko dalam suatu organisasi). 6. Komponen-komponen dalam Enterprise Risk Management.
  2. 2. 1.2 Manajemen Risiko • Kegiatan Belajar 1 Risiko, Kondisi Ketidakpastian, dan Proses Manajemen Risiko A. RISIKO DAN KONDISI KETIDAKPASTIAN Risiko merupakan kata yang sudah kita dengar hampir setiap hari. Biasanya kata tersebut mempunyai konotasi yang negatif, sesuatu yang tidak kita sukai, sesuatu yang ingin kita hindari. Sebagai contoh, jika kita jalan keluar dengan mobil, maka ada risiko mobil kita bertabrakan dengan mobil lainnya (kejadian yang tidak kita inginkan). Jika kita mempunyai saham, ada risiko harga saham yang kita pegang turun nilainya, sehingga kita tidak memperoleh keuntungan (kejadian yang tidak kita harapkan). Jika bank memberikan kredit kepada suatu perusahaan, maka ada kemungkinan perusahaan tersebut gagal bayar (tidak membayar bunga dan/atau cicilan pinjamannya). Apa yang dimaksud dengan risiko? Risiko bisa didefinisikan dengan berbagai cara. Sebagai contoh, risiko bisa didefinisikan sebagai kejadian yang merugikan. Definisi lain yang sering dipakai untuk analisis investasi, adalah kemungkinan basil yang diperoleh menyimpang dari yang diharapkan. Deviasi standar merupakan alat statistik yang bisa digunakan untuk mengukur penyimpangan, karena itu deviasi standar bisa dipakai untuk mengukur risiko. Pengukuran yang lain adalah menggunakan probabilitas. Sebagai contoh, pengemudi kendaraan orang muda lebih sering mengalami kecelakaan dibandingkan dengan orang dewasa. Probabilitas terjadinya kecelakaan untuk orang muda lebih tinggi dibandingkan dengan untuk orang dewasa. Karena itu risiko kecelakaan untuk orang muda lebih tinggi dibandingkan untuk orang dewasa. Kenapa muncul suatu risiko? Risiko berkaitan erat dengan kondisi ketidakpastian. Risiko muncul karena ada kondisi ketidakpastian. Praktis kita menghadapi banyak ketidakpastian di dunia ini. Sebagai contoh, hari ini bisa hujan, bisa juga tidak hujan. lnvestasi kita bisa mendatangkan keuntungan (harga naik), bisa juga menyebabkan kerugian (harga turun). Kepastian dalam dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian tersebut menyebabkan munculnya risiko. Ketidakpastian itu sendiri ada banyak
  3. 3. • EKMA4262/MODUL 1 1.3 tingkatannya. Tabel berikut ini menunjukkan tingkatan ketidakpastian dengan karakteristiknya. Tabel 1.1. Tingkatan Ketidakpastian TINGKAT KETIDAKPASTIAN KARAKTERISTIK CONTOH TIDAK ADA (PASTI) HASIL BISA DIPREDIKSI DENGAN PASTI HUKUM ALAM KETIDAKPASTIAN HASIL BISA DIIDENTIFIKASI DAN PERMAINAN OBJEKTIF PROBABILITAS DIKETAHUI DADU,KARTU KETIDAKPASTIAN HASIL BISA DIIDENTIFIKASI TAPI KEBAKARAN, SUBJEKTIF PROBABILITAS TIDAK DIKETAHUI KECELAKAAN MOBIL, INVESTASI SANGAT TIDAK PASTI HASIL TIDAK BISA DIIDENTIFIKASI DAN EKSPLORASI PROBABILITAS TIDAK DIKETAHUI ANGKASA Pada tingkatan pertama, kondisi kepastian sangat tinggi. Hasil bisa diprediksi dengan relatif pasti. Hukum alam merupakan contob kepastian tersebut. Sebagai contob, kita bisa memprediksi dengan pasti babwa bumi mengitari matabari selama 360 bari (satu tabun). Tingkatan selanjutnya adalab ketidakpastian objektif, dengan contob adalab dadu, jika kita melempar dadu, ada enam kemungkinan yaitu angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 (ada enam kemungkinan basil). Kita bisa mengbitung probabilitas masing-masing angka untuk keluar, yaitu 1/6. Tingkatan berikutnya adalab ketidakpastian subjektif, dengan contob adalab kecelakaan mobil. ldentifikasi basil dan probabilitas (kemungkinan) yang berkaitan dengan kecelakaan mobil lebib sulit dilakukan. Sebagai contob, jika kita pergi keluar dengan mobil, berapa besar probabilitas kita mengalami kecelakaan mobil? Dan jika terjadi kecelakaan, kerusakan atau kerugian yang bagaimana yang akan kita dapatkan? Tidak mudab untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tingkatan berikutnya adalab kondisi sangat tidak pasti, dengan contob eksplorasi angkasa. Kita tidak tabu apa basil yang akan diperoleb dari eksplorasi angkasa, apakab akan bertemu dengan makhluk asing (alien), ataukab menemukan planet yang mirip bumi, atau apa
  4. 4. 1.4 Manajemen Risiko • yang akan kita temukan. Sangat sulit memprediksi atau mengidentifikasi basil yang barangkali bisa diperoleb dari eksplorasi angkasa seperti itu. Tentu saja juga akan sangat sulit menentukan probabilitas untuk masing-masing kemungkinan basil tersebut. Ketidakpastian bisa tercermin dari fluktuasi pergerakan yang tinggi; Semakin tinggi fluktuasi, semakin besar tingkat ketidakpastiannya. Bagan berikut ini menunjukkan fluktuasi barga beberapa instrumen (dibitung berdasarkan deviasi standar tabunan). Terlibat babwa semua barga instrumen berfluktuasi. Sebagai contob, sabam mempunyai fluktuasi sebesar 14%, sementara barga listrik mernpunyai fluktuasi sebesar 228%. Hasil empiris pada hagan di atas menunjukkan babwa di dunia ini semuanya serba tidak pasti. Sabam, valas (FX), barga minyak, sampai dengan barga listrik, mempunyai fluktuasi, meskipun dengan tingkat fluktuasi yang berbeda-beda. Kepastian adalab ketidakpastian itu sendiri. Dengan demikian risiko ada di mana-mana, mencakup semua instrumen. Annualized Volatility by Product/Instrument Type 121°/o 36o/o 9o/o Stocks Real Estate Bond FX Oil (S&P SOO) (Dow Jones (Lehman (DM/$US) (WTI Oil) US Real Corporate Gas Electricity (Henry Hub) (Palo Verde) Estate Index) Bond Index) Gambar 1.1. Fluktuasi Tahunan Berdasarakn Tipe lnstrumen
  5. 5. • EKMA4262/MODUL 1 1.5 Selain itu, fluktuasi harga cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai ilustrasi, Indonesia mengalami perubahan sistem kurs dari tetap menjadi mengambang pada pertengahan tahun 1997. Sebelum krisis pada tahun 1997, Indonesia menganut sistem kurs tetap, dengan menetapkan kurs Rp/$ pada tingkat sekitar Rp2.500/$. Pada pertengahan tahun 1997, untuk mengurangi tekanan terhadap kurs karena ada krisis ekonomi, pemerintah mengambangkan kurs Rp/$. Sistem kurs mengambang tersebut masih berlaku sampai saat ini. Kurs Rp/$ tidak lagi tetap, tetapi bisa berubah tergantung mekanisme pasar. Sistem kurs mengambang tersebut mengakibatkan fluktuasi kurs Rp/$ jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fluktuasi kurs Rp/$ pada sistem kurs tetap. Mengapa fluktuasi cenderung meningkat? Ada beberapa faktor yang mendorong peningkatan fluktuasi tersebut, seperti: 1. Globalisasi dunia. 2. Liberalisasi dunia. 3. Proses Informasi yang semakin cepat, reaksi investor yang semakin cepat. Globalisasi dunia membuat keterkaitan perekonomian dunia lebih erat. Kejadian di suatu negara akan lebih cepat mempengaruhi negara lain. Dengan kondisi seperti itu, fluktuasi akan cenderung meningkat. Liberalisasi dunia (membuka pasar domestik terhadap investor asing) mempunyai efek yang sama dengan globalisasi. Hambatan antar negara menjadi berkurang. Aliran modal menjadi lebih mudah untuk masuk atau keluar. Hal semacam ini akan meningkatkan fluktuasi dunia. Sebagai ilustrasi, krisis ekonomi di Thailand pada tahun 1997, memicu terjadinya krisis ekonomi di negara- negara sekitarnya (Indonesia, Filipina, Malaysia) dengan cepat. Investor dengan cepat memindahkan dananya dari Thailand dan negara-negara sekitarnya ke negara-negara lain yang dianggap lebih aman. Terbukanya perekonomian dunia memungkinkan pergerakan modal yang cepat semacam itu. Teknologi yang semakin maju membuat investor atau pelaku pasar semakin canggih dalam memproses informasi. Kecanggihan tersebut akan mendorong pelaku pasar untuk lebih cepat memperoleh informasi dan bertindak lebih cepat atas informasi tersebut. Kemudahan informasi dan reaksi yang cepat dari investor akan mendorong fluktuasi harga yang semakin tinggi.
  6. 6. 1.6 Manajemen Risiko • Globalisasi, liberalisasi, dan teknologi yang semakin canggih akan semakin meningkatkan fluktuasi harga, semakin meningkatkan ketidakpastian. Fluktuasi tersebut ternyata praktis dialami oleh semua atau sebagian besar instrumen keuangan atau komoditas di dunia. Dengan demikian bisa diambil kesimpulan bahwa risiko ada di mana-mana, dan risiko cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun. B. TIPE-TIPE RISIKO Risiko beragam jenisnya, mulai dari risiko kecelakaan, kebakaran, risiko kerugian, fluktuasi kurs, perubahan tingkat bunga, dan lainnya. Untuk memudahkan pemahaman dan analisis terhadap risiko, kita bisa memetakan atau mengelompokkan risiko-risiko tersebut. Salah satu cara untuk mengelompokkan risiko adalah dengan melihat tipe-tipe risiko. Bagan berikut ini menunjukkan bahwa risiko bisa dikelompokkan ke dalam dua tipe risiko: risiko murni dan risiko spekulatif, risiko subjektif dan objektif, dan dinamis dan statis. RISIKO PURE SPEKULAT.IF STATIS D.INAMIS STATI.S DINAMIS. SUBJEKTIF SUBJEKTIF SUBJEKTI'F SUBjEKTIF OBJEKTIF OBJEKTIF OBJE.KTIF OBJEKTIF Gambar 1.2. Kategorisasi Risiko
  7. 7. • EKMA4262/MODUL 1 1.7 Risiko bisa dikelompokkan ke dalam risiko murni dan risiko spekulatif dengan penjelasan sebagai berikut ini. 1. Risiko mumi (pure risks) adalah risiko di mana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. Jadi kita membicarakan potensi kerugian untuk risiko tipe ini. Beberapa contoh risiko tipe ini adalah risiko kecelakaan, kebakaran, dan semacamnya. Contoh lain adalah risiko banjir menghantam rumah kita. Kejadian seperti itu akan merugikan kita. Tetapi rumah berdiri di tempat tertentu tidak secara langsung akan mendatangkan keuntungan tertentu. Jika terjadi kebakaran atau banjir, di samping individu yang terkena dampaknya, masyarakat secara keseluruhan juga akan dirugikan. Asuransi biasanya lebih banyak berurusan dengan risiko murni. 2. Risiko spekulatif adalah risiko di mana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan. Potensi kerugian dan keuntungan dibicarakan dalam jenis risiko ini. Contoh tipe risiko ini adalah usaha bisnis. Dalam kegiatan bisnis, kita mengharapkan keuntungan, meskipun ada potensi kerugian. Contoh lain adalah jika kita memegang (membeli) saham. Harga pasar bisa meningkat (kita memperoleh keuntungan), bisa juga analisis kita salah, harga saham bukannya meningkat, tetapi malah turun (kita memperoleh kerugian). Risiko spekulatifjuga bisa dinamakan sebagai risiko bisnis. Kerugian akibat risiko spekulatif akan merugikan individu tertentu, tetapi akan menguntungkan individu lainnya. Misalkan suatu perusahaan mengalami kerugian karena penjualannya turun, perusahaan lain barangkali akan memperoleh keuntungan dari situasi tersebut. Secara total, masyarakat tidak dirugikan oleh risiko spekulatif tersebut. Di samping kategorisasi murni dan spekulatif, risiko juga bisa dibedakan antara risiko yang dinamis dan yang statis. 1. Risiko statis muncul dari kondisi keseimbangan tertentu. Sebagai contoh, risiko terkena petir merupakan risiko yang muncul dari kondisi alam yang tertentu. Karakteristik risiko ini praktis tidak berubah dari waktu ke waktu. 2. Risiko dinamis muncul dari perubahan kondisi tertentu. Sebagai contoh, perubahan kondisi masyarakat, perubahan teknologi, memunculkan jenis-jenis risiko baru. Misal, jika masyarakat semakin kritis, sadar akan haknya, maka risiko hukum (legal risk) yang muncul karena masyarakat
  8. 8. 1.8 Manajemen Risiko • lebih berani mengajukan gugatan hukum (sue) terhadap perusahaan, akan semakin besar. Risiko juga bisa dikelompokkan ke dalam risiko subjektif dan objektif dengan penjelasan sebagai berikut ini. 1. Risiko objektif adalah risiko yang didasarkan pada observasi parameter yang objektif. Sebagai contoh, fluktuasi harga atau tingkat keuntungan investasi di pasar modal bisa diukur melalui standar deviasi, misal standar deviasi return saham adalah 25% per tahun. 2. Risiko subjektif berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap risiko. Dengan kata lain, kondisi mental seseorang akan menentukan kesimpulan tinggi rendahnya risiko tertentu. Sebagai contoh, untuk standar deviasi return pasar yang sama sebesar 25%, dua orang dengan kepribadian berbeda akan mempunyai cara pandang yang berbeda. Orang yang konservatif akan menganggap risiko investasi di pasar modal terlalu tinggi. Sementara bagi orang yang agresif, risiko investasi di pasar modal dianggap tidak terlalu tinggi. Perhatikan bahwa kedua orang tersebut melihat pada risiko objektif yang sama, yaitu standar deviasi return sebesar 25% per tahun. Berikut ini contoh-contoh risiko yang biasa dihadapi oleh suatu organisasi. Risiko-risiko tersebut dikelompokkan ke dalam risiko murni dan spekulatif. TIPE RISIKO Risiko Aset Fisik Risiko karyawan Risiko legal Tabel 1.2. Contoh-contoh Risiko Murni DEFINISI Risiko yang terjadi karena kejadian tertentu berakibat buruk (kerugian) pada aset fisik organisasi. Risiko karena karyawan organisasi mengalami peristiwa yang merugikan Risiko kontrak tidak sesuai yang diharapkan, dokumentasi yang tidak benar ILUSTRASI Kebakaran yang melanda gudang atau bangunan perusahaan. Banjir mengakibatkan kerusakan pada bangunan dan peralatan Kecelakaan kerja mengakibatkan karyawan cedera, kegiatan operasional perusahaan terganggu Terjadi perselisihan sehingga perusahaan lain menuntut ganti rugi yang signifikan
  9. 9. • EKMA4262/MODUL 1 1.9 Tabel 1.3. Contoh-Contoh Risiko Spekulatif TIPE RISIKO Risiko pasar Risiko kredit Risiko Likuiditas DEFINISI Risiko yang terjadi dari pergerakan harga atau volatilitas harga pasar Risiko karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan Risiko tidak bisa memenuhi kebutuhan kas, risiko tidak bisa menjual dengan cepat karena ketidaklikuidan atau gangguan pasar ILUSTRASI Harga pasar saham dalam portofolio perusahaan mengalami penurunan, yang mengakibatkan kerugian yang dialami perusahaan. Debitur tidak bisa membayar cicilan dan bunga hutang, sehingga perusahaan mengalami kerugian. Piutang dagang tidak terbayar. Perusahaan tidak mempunyai kas untuk membayar kewajibannya (misal melunasi hutang). Perusahaan terpaksa menjual tanah dengan harga murah (di bawah standar) karena suiit menjual tanah tersebut (tidak likuid), padahal perusahaan membutuhkan kas den an cepat. ~----------4----------------- ----------~ Risiko operasional Risiko kegiatan operasional tidak berjalan lancar dan mengakibatkan kerugian: kegagalan sistem, human error, pengendalian dan prosedur yang kurang Komputer perusahaan terkena virus sehingga operasi perusahaan terganggu. Prosedur pengendalian perusahaan tidak memadai sehingga terjadi pencurian barang-barang yang dimiliki perusahaan. Pembagian risiko ke dalam dua tipe, yaitu risiko murni dan risiko spekulatif, barangkali tidak sepenuhnya memuaskan. Ada beberapa jenis risiko yang barangkali bisa masuk ke dalam risiko murni maupun spekulatif. Sebagai contoh, risiko tuntutan hukum bisa dimasukkan ke dalam risiko murni, tetapi jika dilihat sebagai konsekuensi kegiatan bisnis, maka risiko tersebut bisa dimasukkan ke dalam risiko spekulatif. Pembagian semacam itu bukan 'harga mati'. Pembagian semacam itu diharapkan memudahkan kita memahami jenis-jenis risiko dan karakteristiknya. C. PROSES MANAJEMEN RISIKO Risiko ada di mana-mana, bisa datang kapan saja, dan sulit dihindari. Jika risiko tersebut menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut bisa
  10. 10. 1.10 Manajemen Risiko • mengalami kerugian yang signifikan. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut bisa mengakibatkan kehancuran organisasi tersebut. Karena itu risiko penting untuk dikelola. Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko tersebut sehingga kita bisa memperoleh basil yang paling optimal. Dalam konteks organisasi, organisasi juga akan menghadapi banyak risiko. Jika organisasi tersebut tidak bisa mengelola risiko dengan baik, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Karena itu risiko yang dihadapi oleh organisasi tersebut juga harus dikelola, agar organisasi bisa bertahan, atau barangkali mengoptimalkan risiko. Perusahaan sering kali secara sengaja mengambil risiko tertentu, karena melihat potensi keuntungan dibalik risiko tersebut. Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses berikut ini. 1. Identifikasi risiko. 2. Evaluasi dan Pengukuran Risiko, dan 3. Pengelolaan risiko. 1. ldentifikasi Risiko Identifikasi risiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi oleh suatu organisasi. Banyak risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi, mulai dari risiko penyelewengan oleh karyawan, risiko kejatuhan meteor atau komet, dan lainnya. Ada beberapa teknik untuk mengidentifikasi risiko, misal dengan menelusuri sumber risiko sampai terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, kompor ditaruh dekat penyimpanan minyak tanah. Api merupakan sumber risiko, kompor yang ditaruh dekat minyak tanah merupakan kondisi yang meningkatkan terjadinya kecelakaan, bangunan yang bisa terbakar merupakan eksposur yang dihadapi perusahaan. Misalkan terjadi kebakaran, kebakaran merupakan peristiwa yang merugikan (peril). ldentifikasi semacam dilakukan dengan melihat sekuen dari sumber risiko sampai ke terjadinya peristiwa yang merugikan. Pada beberapa situasi, risiko yang dihadapi oleh perusahaan cukup standar. Sebagai contoh, bank menghadapi risiko terutama adalah risiko kredit (kemungkinan debitur tidak melunasi hutangnya). Untuk bank yang juga aktif melakukan perdagangan sekuritas, maka bank tersebut akan menghadapi risiko pasar. Setiap bisnis akan menghadapi risiko yang berbeda-beda karakteristiknya.
  11. 11. • EKMA4262/MODUL 1 1.11 2. Evaluasi dan Pengukuran Risiko Langkah berikutnya adalah mengukur risiko tersebut dan mengevaluasi risiko tersebut. Tujuan evaluasi risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk 'mengukur' risiko tersebut. Ada beberapa teknik untuk mengukur risiko tergantung jenis risiko tersebut. Sebagai contoh kita bisa memperkirakan probabilitas (kemungkinan) risiko atau suatu kejadian jelek terjadi. Dengan probabilitas tersebut kita berusaha 'mengukur' risiko. Sebagai contoh, ada risiko perusahaan terkena jatuhan meteor atau komet, tetapi probabilitas risiko semacam itu sangat kecil (0,000000001). Karena itu risiko tersebut tidak perlu diperhatikan. Contoh lain adalah risiko kebakaran dengan probabilitas (misal) 0,6. Karena probabilitas yang tinggi, maka risiko kebakaran perlu diberi perhatian ekstra. Contoh tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik probabilitas kita bisa melakukan prioritisasi risiko, sehingga kita bisa lebih memfokuskan pada risiko yang mempunyai kemungkinan yang besar untuk terjadi. Contoh lain adalah membuat matriks dengan sumbu mendatar adalah probabilitas terjadinya risiko, dan sumbu vertikal adalah tingkat keseriusan konsekuensi risiko tersebut (severity, atau besarnya kerugian yang timbul akibat risiko tersebut). Setiap risiko bisa dievaluasi kemudian dimasukkan ke dalam matriks tersebut. Sebagai contoh, risiko kebakaran mempunyai probabilitas 0,6 (tinggi). Jika kebakaran terjadi, maka kerugian yang diakibatkan akan besar juga (tinggi). Dengan demikian risiko kebakaran akan ditempatkan pada kuadran probabilitas tinggi dan severity tinggi. Selanjutnya langkah yang lebih tepat bisa dirumuskan. Sebagai contoh, untuk risiko kebakaran seperti itu, langkah yang lebih aktif bisa ditujukan untuk menangani risiko kebakaran tersebut. Untuk risiko lain, evaluasi dan pengukuran yang berbeda bisa dilakukan. Sebagai contoh, risiko perubahan tingkat bunga bisa diukur dengan teknik duration (durasi). Modul identifikasi dan pengukuran risiko spekulatif akan banyak membicarakan pengukuran risiko perubahan tingkat bunga. Risiko pasar bisa dievaluasi dengan menggunakan teknik VAR (Value At Risk). Pemahaman kita terhadap beberapa risiko sudah cukup baik sehingga teknik pengukuran risiko tersebut sudah berkembang. Sementara pemahaman kita terhadap risiko lain belum begitu baik sehingga teknik pengukuran risiko tersebut belum begitu berkembang.
  12. 12. 1.12 Manajemen Risiko • Teknik lain untuk mengukur risiko adalah dengan mengevaluasi dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan. 3. Pengelolaan Risiko Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah berikutnya adalah mengelola risiko. Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang diterima bisa cukup serius, misal kerugian yang besar. Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, seperti penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke pihak lainnya. Erat kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk control), dan pendanaan risiko (risk financing). a. Penghindaran. Cara paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah menghindar. Tetapi cara semacam ini barangkali tidak optimal. Sebagai contoh, jika kita ingin memperoleh keuntungan dari bisnis, maka mau tidak mau kita harus keluar dan menghadapi risiko tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko tersebut. b. Ditahan (Retention). Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi sendiri risiko tersebut (menahan risiko tersebut, atau risk retention). Sebagai contoh, misalkan seseorang akan keluar rumah membeli sesuatu dari supermarket terdekat, dengan menggunakan kendaraan. Kendaraan tersebut tidak diasuransikan. Orang tersebut merasa asuransi terlalu repot, mahal, sementara dia akan mengendarai kendaraan tersebut dengan hati-hati. Dalam contoh tersebut, orang tersebut memutuskan untuk menanggung sendiri (menahan, retention) risiko kecelakaan. c. Diversifikasi. Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Sebagai contoh, kita barangkali akan memegang aset tidak hanya satu, tetapi pada beberapa aset, misal saham A, saham B, obligasi C, properti, dan sebagainya. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut diharapkan bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset lainnya. d. Transfer Risiko. Jika kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mentransfer risiko tersebut ke pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Sebagai contoh, kita bisa membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.
  13. 13. • EKMA4262/MODUL 1 1.13 e. Pengendalian Risiko. Pengendalian risiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Sebagai contoh, untuk mencegah terjadinya kebakaran, kita memasang alarm asap di bangunan kita. Alarm tersebut merupakan salah satu cara kita mengendalikan risiko kebakaran. f. Pendanaan Risiko. Pendanaan risiko mempunyai arti bagaimana 'mendanai' kerugian yang terjadi jika suatu risiko muncul. Sebagai contoh, jika terjadi kebakaran, bagaimana menanggung kerugian akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi, ataukah menggunakan dana cadangan? Isu semacam itu masuk dalam wilayah pendanaan risiko. Di samping proses manajemen risiko seperti yang disebutkan di muka, manajemen risiko suatu organisasi juga memerlukan infrastruktur baik keras maupun lunak. Sebagai contoh, manajemen risiko barangkali akan memerlukan sistem komputer untuk analisis risiko. Manajemen risiko juga memerlukan staf dan struktur organisasi yang tepat. Infrastruktur manajemen risiko tidak dibahas secara khusus dalam modul ini. Modul enam menyajikan ilustrasi bagaimana perusahaan terkemuka dunia mengembangkan manajemen risiko dalam organisasinya. • ---- ~ - LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Jelaskan kenapa risiko muncul? Apakah di dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti? Jelaskan! 2) Jelaskan tipe-tipe risiko. Kenapa tipe-tipe risiko penting dipelajari? 3) Jelaskan proses manajemen risiko, kenapa proses manajemen risiko penting dipelajari? Petunjuk Jawaban Latihan 1) Risiko muncul karena kondisi ketidakpastian. Sebagai contoh, kita mengharapkan memperoleh tingkat keuntungan sebesar 10%, tetapi ternyata kita hanya memperoleh 5%. Dengan demikian harapan kita tidak terpenuhi. Kondisi ketidakpastian membuat harapan kita meleset.
  14. 14. 1.14 Manajemen Risiko • Hampir semua yang ada di dunia ini mengandung elemen ketidakpastian. Sebagai contoh, besok bisa hujan, bisa juga tidak. Bahkan kematian, sesuatu yang pasti bagi makhluk yang bernyawa, mempunyai elemen ketidakpastian, yaitu timing dari kematian tersebut. Semua makhluk hidup akan mati, itu pasti. Kapan matinya? Waktu kematian merupakan hal yang tidak pasti. Ketidakpastian timing tersebut memunculkan risiko kematian. Sebagai ilustrasi, jika kita memperkirakan kematian kita, maka kita melakukan persiapan yang secukupnya. Sayang kita tidak tahu pasti timing tersebut, sehingga kita menghadapi risiko kematian. 2) Risiko bisa dikelompokkan dengan berbagai kategori, seperti risiko bisnis dan risiko spekulatif, risiko objektif dan risiko subjektif, risiko dinamis dan statis. Setelah melakukan pengelompokan semacam itu, diharapkan kita bisa mempelajari karakteristik risiko lebih baik. Jika kita bisa mengetahui karakteristik risiko dengan baik, maka diharapkan kita bisa mengelola risiko lebih baik. Mengenali sesuatu dengan baik merupakan kunci untuk mengendalikan atau menaklukkan sesuatu tersebut. Jika kita bisa mempelajari risiko dengan baik, maka kita bisa mengelola atau 'menaklukkan' risiko tersebut dengan baik. 3) Proses manajemen dilakukan melalui tahapan-tahapan: (1) ldentifikasi risiko, (2) Evaluasi dan pengukuran risiko, dan (3) Pengelolaan risiko. Risiko banyak dan ada di mana-mana. Melalui identifikasi risiko, kita bisa mengenali risiko yang relevan yang kita hadapi. Kemudian kita mempelajari risiko tersebut dengan melakukan evaluasi dan pengukuran risiko. Setelah kita memperoleh pemahaman yang baik mengenai risiko tersebut, kita bisa mengelola risiko tersebut lebih baik. Manajemen risiko penting dipelajari, karena banyak contoh kerugian yang dialami oleh organisasi karena kegagalannya mengelola risiko, Bahkan beberapa organisasi mengalami kerugian yang signifikan, bahkan kebangkrutan, karena organisasi tersebut 'gagal' mengelola risiko. Kegiatan belajar satu ini membicarakan risiko dan proses manajemen risiko. Risiko ada di mana-mana, dengan berbagai tipe dan jenis risiko. Risiko muncul karena ada ketidakpastian. Banyak cara untuk mempelajari risiko. Salah satunya adalah dengan mengelompokkan risiko. Risiko bisa dikategorikan sebagai risiko murni
  15. 15. • EKMA4262/MODUL 1 1.15 dan spekulatif (bisnis). Risiko juga bisa dikategorikan sebagai risiko objektif dan subjektif, dan risiko dinamis dan statis. Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko. Kegagalan mengelola risiko bisa mengakibatkan konsekuensi yang serius terhadap organisasi. Proses manajemen risiko mencakup identifikasi risiko, evaluasi dan pengukuran risiko, dan pengelolaan risiko. Kegiatan tersebut pada dasarnya bertujuan mempelajari karakteristik risiko dengan baik sehingga kita bisa mengelola risiko dengan baik. Di samping itu, manajemen risiko juga memerlukan infrastruktur pendukungnya, baik keras maupun lunak. TES FORMATIF 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Berikut ini contoh risiko bisnis .... A. risiko kematian B. risiko beneana alam C. risiko banjir D. risiko pasar 2) Mengevaluasi seberapa besar dampak risiko terhadap organisasi, merupakan kegiatan .... A. identifikasi risiko B. pengukuran risiko C. pengelolaan risiko D. manajemen risiko terpadu 3) Membeli asuransi kendaraan merupakan contoh pengelolaan risiko dengan cara .... A. penghindaran risiko B. transfer risiko C. penahanan risiko D. pendanaan risiko 4) Misalkan kita memiliki saham, kemudian harga saham tersebut kemudian turun sehingga mengakibatkan kerugian. Dalam situasi tersebut kita menghadapi risiko .... A. pasar B. kredit C. perubahan tingkat bunga D. murni
  16. 16. 1.16 Manajemen Risiko • 5) Berikut ini faktor yang cenderung meningkatkan risiko .... A. globalisasi B. liberalisasi C. teknologi yang semakin tinggi D. sistem kurs tetap Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1. Jumlah Jawaban yang Benar Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100% Jumlah Soal Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% =baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
  17. 17. • EKMA4262/MODUL 1 1.17 Kegiatan Belajar 2 Enterprise Risk Management akhluk hidup secara natural akan mengantisipasi dan 'mengelola' risiko. Sebagai contoh, jika kita keluar mengendarai mobil, maka kita akan waspada dengan kondisi sekitamya. Jika dari arah yang berlawanan ada mobil yang agak ke tengah jalannya, kita akan menghindari mobil tersebut dengan jalan mengendarainya agak ke kiri, supaya tidak terjadi tabrakan. Konon binatang mempunyai indera keenam yang bisa mendeteksi risiko lebih baik dibandingkan manusia. Pada waktu tsunami melanda wilayah Asia pada tahun 2004, binatang (gajah, dan sebagainya) yang menjadi korban tsunami jauh lebih kecil dibandingkan manusia. Binatang tersebut sepertinya mampu mendeteksi datangnya bahaya, kemudian menyingkir sebelum bahaya tersebut datang. Konon manusia dulu juga mempunyai kemampuan yang serupa, tetapi karena tidak banyak digunakan, karena manusia lebih banyak mengandalkan otak mereka, kemampuan indera keenam tersebut menghilang. Bagaimana dengan organisasi? Organisasi tidak mempunyai kemampuan mengelola risiko seperti halnya manusia atau makhluk hidup mengelola risiko, karena organisasi bukan makhluk hidup. Tugas dari manajer suatu organisasi adalah membuat agar organisasi bisa mengantisipasi dan mengelola risiko sebagaimana halnya makhluk hidup mengelola risiko yang dihadapinya. Dengan kata lain, tugas manajer adalah membuat organisasi menjadi sadar risiko, sehingga risiko bisa diantisipasi dan dikelola dengan baik. Tabel 1.4 berikut ini menyajikan konsekuensi merugikan jika suatu organisasi gagal mengelola risiko Tabel 1.4. Beberapa Contoh Kegagalan Mengelola Risiko Tahun Penjelasan 1997 Trader Bank Baring (Nick Leeson) membeli instrument derivative saham Jepang (futures Nikkei). Bank Baring adalah Bank dari lnggris. Ekonomi Jepang turun drastic karena ada bencana gempa Kobe. Akibatnya dia mengalami kerugian besar. Transaksi selanjutnya Oual opsi) tidak mengurangi kerugian, tetapi memperparah kerugian. Pada akhirnya Bank Baring mengalami kerugian sebesar $1,3 miliar. Bank Baring terpaksa bangkrut karena kerugiannya sudah melebihi modalnva.
  18. 18. 1.18 Tahun 1997 2001 1980-an 1995 Manajemen Risiko • Pen"elasan Long Term Capital (LTC), perusahaan investasi di Amerika Serikat, mempunyai posisi pada mata uang Rusia Rubel yang cukup besar. Mereka memperkirakan Rusia tidak akan bangkrut. Tetapi Rusia ternyata bangkrut, mendeklarasikan tidak mampu dan tidak akan membayar hutang-hutangnya. Akibatnya Long Term Capital mengalami kerugian yang sangat besar, sekitar $3,5 miliar, dan pada akhirn 'a LTC ter:)aksa ban krut. Enron merupakan perusahaan yang memperdagangkan energi Uual beli energi). Mereka juga masuk ke kontrak derivative energi. Usaha mereka cukup kompleks sehingga transparansi menjadi lebih sulit. Transparansi yang kompleks dimanfaatkan untuk menjalankan sistem akuntansi yang tidak wajar. Di samping itu Enron melakukan beberapa manuever agar laporan keuangannya kelihatan baik. Akhirnya investor mengetahui trik-trik mereka. Keuntungan mereka yang sesungguhnya ternyata tidak sebesar yang dilaporkan. Harga saham Enron jatuh dari $80 per lembar menjadi hanya $0,5. Mereka mempunyai kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Mereka tidak bisa memperoleh bantuan dana. Tidak ada yang percaya dengan mereka. Enron akhirnya bangkrut. Saving Loan (S &L) Association (bank yang memberi pinjaman kredit rumah di Amerika Serikat) mempunyai struktur neraca: memberi kredit rumah dengan bunga tetap jangka panjang (misal 20 tahun), sementara memperoleh dana melalui deposito jangka pendek (misal 1 tahun). Struktur semacam itu rentan terhadap risiko perubahan tingkat bunga. Pada waktu tingkat bunga di Amerika Serikat naik signifikan pada tahun 1980-an, banyak S & L yang mengalami masalah dan puluhan S& Lban krut karenanva. Bank Duta (Indonesia) mengalami kerugian yang sangat besar karena mereka melakukan perdagangan valas dan mengalami kerugian besar dari perdagangan valas tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah bisakah organisasi-organisasi di atas menghindari kerugian besar karena munculnya risiko-risiko tersebut? Manajemen risiko organisasi bertujuan menciptakan sistem atau mekanisme dalam organisasi sehingga risiko yang bisa merugikan organisasi bisa diantisipasi dan dikelola untuk tujuan meningkatkan nilai perusahaan. Pentingnya pengelolaan risiko juga bisa dilihat melalui Bagan 1.1 berikut ini. Bagan 1.1 tersebut menggambarkan pandangan lama (sebelah kiri) dan baru (sebelah kanan) dalam kaitannya antara risiko dengan tingkat keuntungan. Pandangan lama menganggap ada hubungan positif antara risiko dengan tingkat keuntungan. Semakin tinggi risiko, akan semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan. Jika suatu organisasi ingin meningkatkan tingkat keuntungannya, maka organisasi tersebut harus menaikkan risikonya.
  19. 19. • EKMA4262/MODUL 1 1.19 Pandangan baru mengatakan bahwa hubungan antara risiko dengan tingkat keuntungan tidak bersifat linear, tetapi non-linear. Pada wilayah satu, risiko yang diambil oleh perusahaan terlalu kecil, sehingga keuntungan yang diperoleh juga kecil. Pada tahap ini, risiko masih bisa ditingkatkan untuk meningkatkan tingkat keuntungan. Contoh ekstrem situasi ini adalah jika manajer hanya tinggal di rumah, tidak pergi ke mana-mana. Dia bisa menghindari banyak risiko (risiko kecelakaan, dan sebagainya), tetapi dia juga tidak mendapatkan banyak keuntungan. Di tahap ini, pengelolaan risiko belum optimal. Returr1 Higher Risk leads to lhigher return. Risk PANDANGAN LAMA: SEMAKIN TlNGGI RISIK01 SEMAKIN IINGGI TIN.GKAT KEUNTU.NGAN RJsk- Adjust~d Return Zone ·1 l.nsufficien.t Ris~ Takrng Zone2 Optimal Risk Taking Zone 3 Exo(!"ssive Risk Taking Risk PANDANGAN BARUz RISIKO HARtiS·DfKEILOLAH Gambar 1.3. Hubungan Risiko dan Tingkat Keuntungan (Return): Pandangan Lama dan Baru Pada tahap berikutnya (zona 2), penambahan risiko tidak banyak meningkatkan tingkat keuntungan. Tahap ini merupakan tahap optimal. Tahap berikutnya (zona 3), risiko yang diambil organjsasi terlalu tinggi, sehingga penambahan risiko akan berakibat negatif terhadap organisasi. Sebagai contoh, bank memberi pinjaman pada sektor-sektor yang risikonya terlalu tinggi, misal usaha burung walet, usaha perjudian. Risiko yang terlalu tinggi menjadi sulit untuk dikendalikan, sehingga hisa berakibat membahayakan dan merugikan perusahaan. Berdasarkan kerangka tersebut, pengelolaan risiko organisasi seharusnya berada pada wilayah tengah (zona 2), yang merupakan zona optimal.
  20. 20. 1.20 Manajemen Risiko • Pengelolaan risiko yang digambarkan dalam hagan di atas bisa diilustrasikan melalui perjalanan dengan menggunakan kendaraan (mobil). Mobil yang berjalan terlalu lambat barangkali tidak menguntungkan, karena beberapa hal, misal terlalu lama, atau bahkan bisa membahayakan kendaraan lainnya. Mobil tersebut perlu dipacu lebih cepat. Jika mobil berjalan terlalu cepat (misal, ngebut), maka risiko bertabrakan atau kehilangan kendali menjadi semakin besar. Tentu saja hal ini tidak menguntungkan. Yang paling optimal adalah mobil berjalan dengan kecepatan optimal, yaitu cukup cepat tetapi bisa dikendalikan. Pengelolaan risiko bisa diilustrasikan sebagai kombinasi penekanan gas (mempercepat kendaraan) dan penekanan rem (memperlambat kendaraan). Kombinasi yang ideal bisa membuat mobil berjalan kencang tetapi tetap terkendali. B. DEFINISI DAN PENGERTIAN MANAJEMEN RISIKO Manajemen risiko organisasi adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang dihadapi oleh organisasi secara komprehensif untuk tujuan meningkatkan nilai perusahaan. Meskipun pengertian manajemen risiko organisasi adalah seperti yang disebutkan di atas, tetapi ada banyak definisi dan pengertian manajemen risiko organisasi. Berikut ini beberapa definisi manajemen risiko organisasi. Manajemen risiko adalah seperangkat kebijakan, prosedur yang lengkap, yang dipunyai organisasi, untuk mengelola, memonitor, dan mengendalikan eksposur organisasi terhadap risiko (SBC Warburg, The Practice of Risk Management, Euromoney Book, 2004) Enterprise Risk Management adalah kerangka yang komprehensif, terintegrasi, untuk mengelola risiko kredit, risiko pasar, modal ekonomis, transfer risiko, untuk memaksimumkan nilai perusahaan (Lam, James, Enterprise Risk Management, Wiley, 2004) Manajemen risiko organisasi mempunyai elemen-elemen berikut ini: Identifikasi Misi: Menetapkan Tujuan manajemen risiko. Penilaian Risiko dan Ketidakpastian: Mengidentifikasi dan mengukur risiko. • Pengendalian Risiko: Mengendalikan risiko melalui diversifikasi, hedging, penghindaran, dan lain-lain. asuransz,
  21. 21. • EKMA4262/MODUL 1 1.21 Pendanaan Risiko: Bagaimana membiayai manajemen risiko. Administrasi program: Administrasi organisasi, seperti manual, dan sebagainya. (Williams, Smith, Young, Risk Management and Insurance, McGraw Hill, 1998) Enterprise Risk Management (ERM) adalah suatu proses, yang dipengaruhi oleh manajemen, board ofdirectors, dan personel lain dari suatu organisasi, diterapkan dalam setting strategi, dan mencakup organisasi secara keseluruhan, didisain untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang mempengaruhi suatu organisasi, mengelola risiko dalam toleransi suatu organisasi, untuk memberikan jaminan yang cukup pantas berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi. (COSO, COSO Enterprise Risk Management -Integrated Framework. COSO, 2004) . Selanjutnya COSO menampilkan format berikut ini yang menunjukkan bahwa ERM adalah manajemen risiko yang komprehensif (Lihat bagan berikut ini). Gambar 1.4. COSO - Enterprise Risk Management
  22. 22. 1.22 Manajemen Risiko • Gamhar 1.4 tersehut menunjukkan delapan komponen ERM yaitu (1) lingkungan internal, (2) penentuan tujuan, (3) Identifikasi kejadian, (4) Evaluasi (assessment) risiko, (5) Respons terhadap risiko, (6) Aktivitas pengendalian, (7) Informasi dan komunikasi, (8) Monitoring. Risiko yang dikelola mencakup risiko strategis, operasi, pelaporan, dan kepatuhan (compliance). Kemudian ERM mencakup keseluruhan organisasi, mulai dari level perusahaan keseluruhan (entity level), level divisi, level unit hisnis, dan level anak perusahaan (subsidiary). Perhatikan hahwa definisi-definisi tersehut menggunakan istilah yang heragam untuk menjelaskan manajemen risiko organisasi, seperti terlihat pada hagan herikut ini. RISE RISK MANAG. · r • •• {E.RM) ORGANTZATION RISK tviANAGEMENT (ORM) INTEGRATED RISK MANAGEMENT TOTAl RISK MANAGEMENT- . . Gambar 1.5. Beberapa lstilah Manajemen Risiko Organisasi RJSIKG Kemudian, ciri lain dari definisi tersehut adalah pengelolaan risiko yang komprehensif, dan hertujuan mencapai tujuan organisasi. Dengan menggahungkan heherapa karakteristik tersehut, hagan herikut ini menyajikan pengertian manajemen risiko suatu organisasi yang menjadi acuan modul ini.
  23. 23. • EKMA4262/MODUL 1 PRASARAN.A.LUNA.K:r-__, Buday,a Risiko Dukuti'gan 'Manajemen .PRASAR:6lNA KERAS.~ Teknologllrn1foremasi ...--------J Pra fislk la1nnya I PROS.Es·MANAJEMEN RIS.IKO 0RGANISA_SI: 1. PERENCANAAN: Peneta_pan tujuan, IJW~isi; 1.23 .Penelapan target, penyusunan ke'bijakafl~ ,· pro.sedurr. 2. PELAKSANAAN·: Jdentlfikas1 dan Peng_ukuran Risiko. Manaj'emen Risi~o.: asurarts1,.div.ersiffk~sl, .Hedg'ir;.gj pengMJn·d~ran J dsb .. Or@a.t:ttsasi M.an~ajemen Risiko: struktur orQEltnsast ·staffintiJ1 msentlt, ~1c. S. PENGENDA~: E~a.h,Jasi t pefaplotam, korrnunlkasi umpan..;baUk ·~AKSIMI'S;ASI MILA1 P.ERUSAtLJAAN Gambar 1.6. Kerangka Manajemen Risiko Organisasi Gambar 1.6 tersebut menunjukkan manajemen risiko organisasi (enterprise risk management) terdiri dari dua elemen besar: (1) Infrastruktur atau prasarana, yang terdiri dari prasarana lunak dan keras, dan (2) Proses Manajemen Risiko. Kemudian manajemen risiko organisasi bertujuan membantu pencapaian tujuan organisasi, dalam hal ini dirumuskan secara eksplisit menjadi memaksimumkan nilai perusahaan. C. ELEMEN MANAJEMEN RISIKO ORGANISASI Misalkan kita ditugaskan untuk membuat dan memimpin departemen manajemen risiko suatu perusahaan, bagaimana kita memulainya? Bagan di atas menunjukkan kerangka yang bisa digunakan untuk memulai membangun departemen manajemen risiko. Pertama, kita harus menyiapkan prasarana yang diperlukan untuk memulai pekerjaan manajemen risiko, yang meliputi prasarana lunak (non-fisik) dan prasarana keras (fisik).
  24. 24. 1.24 Manajemen Risiko • 1. Prasarana Manajemen Risiko Salah satu hal yang penting dikerjakan untuk mempersiapkan manajemen risiko adalah menyiapkan prasarana yang mendukung manajemen risiko, yang meliputi prasarana lunak dan keras. a. Prasarana lunak Ada beberapa isu yang berkaitan dengan penyiapan prasarana lunak untuk manajemen risiko, yaitu: (1) Mengembangkan budaya sadar risiko untuk anggota organisasi, (2) Dukungan manajemen. Mengembangkan Budaya Sadar Risiko. Tujuan dari budaya sadar risiko adalah agar setiap anggota organisasi sadar adanya risiko, dan mengambil keputusan tertentu dengan mempertimbangkan aspek risikonya. Dengan singkat, tujuan budaya sadar risiko adalah agar anggota lebih berhati- hati dalam pengambilan keputusan. Jika anggota tersebut sadar akan risiko, maka organisasi (yang terdiri dari kumpulan individu) akan menjadi lebih peka terhadap risiko. Bagaimana mengembangkan perilaku yang sadar risiko untuk anggota organisasi? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memaksa mereka untuk berpikir risiko untuk setiap keputusan yang akan diambil. Pebisnis secara natural adalah orang yang optimis (karena itu mereka berani terjun ke dunia bisnis), dan cenderung melupakan aspek risiko (yang mendorong mereka untuk lebih berhati-hati). Jika dipaksa untuk berpikir mengenai risiko, maka mereka akan lebih seimbang dalam memutuskan sesuatu. Sebagai contoh, hagan berikut ini menunjukkan tiga aspek yang harus dipikirkan oleh manajer dalam pengambilan keputusan, yaitu aspek strategis, operasi, dan risiko. Evaluasi terhadap risiko yang mungkin terjadi harus dipikirkan dan dilaporkan secara eksplisit.
  25. 25. • EKMA4262/MODUL 1 Strategic Management Operation Management R.i.s1 k Management Gambar 1.7. Risiko secara ekspli$tt dimuncul kan Aspek Risiko Yang Dimunculkan Secara Eksplisit 1.25 Misalkan seorang manajer akan meluncurkan produk baru. Dia harus memikirkan tiga aspek yang disebutkan di atas, dengan pertanyaan seperti berikut ini. 1) Aspek Strategis: Apakah produk ini bisa memenuhi kebutuhan konsumen? Apakah produk ini bisa membantu pencapaian tujuan perusahaan (mencapai target keuntungan tertentu)? 2) Aspek Operasi: Bagaimana memproduksi produk ini? Apakah perusahaan mempunyai kemampuan memproduksi produk ini? Bagaimana memasarkan dan mengembangkan jaringan distribusi untuk produk ini? 3) Aspek Risiko: Risiko apa saja yang bisa muncul berkaitan dengan peluncuran produk ini? Bagaimana perusahaan bisa mengendalikan risiko-risiko tersebut? Perhatikan pertanyaan aspek risiko secara eksplisit dimunculkan. Misalkan seorang manajer akan meluncurkan program promosi/iklan. Dia harus memikirkan tiga aspek yang disebutkan di atas, melalui pertanyaan- pertanyaan berikut ini. 1) Aspek Strategis: Bagaimana strategi promosi yang efektif? Bagaimana kontribusi promosi ini terhadap tujuan organisasi? 2) Aspek Operasi: Bagaimana menjalankan program promosi ini? Media apa yang paling efektif? Bagaimana timing (waktu yang tepat) untuk promosi ini? Bagaimana aspek detillainnya dari promosi ini? Bagaimana
  26. 26. 1.26 Manajemen Risiko • mengendalikan risiko-risiko yang barangkali muncul akibat peluncuran program promosi ini? 3) Aspek Risiko: Risiko apa yang potensial muncul akibat dari program promosi ini? Apakah promosi ini bisa menimbulkan gugatan hukum? Apakah promosi ini sudah etis? Pihak-pihak mana saja yang barangkali berkeberatan dengan promosi ini? Perhatikan bahwa sama seperti sebelumnya, aspek risiko secara eksplisit perlu dipikirkan dan dimunculkan. Jika manajer terbiasa berpikir secara eksplisit mengenai risiko-risiko yang mungkin muncul, maka manajer tersebut akan semakin sadar terhadap risiko. Jika semua anggota organisasi sadar akan risiko, maka organisasi menjadi lebih sadar dan lebih peka terhadap risiko. Mengembangkan kesadaran risiko juga bisa dilakukan melalui workshop atau pertemuan secara berkala antar manajer atau anggota organisasi. Agenda dalam workshop tersebut adalah membicarakan kejadian-kejadian yang bisa menimbulkan dampak yang negatif terhadap organisasi, alternatif-alternatif pemecahannya. Workshop tersebut bisa dikelola oleh manajer risiko perusahaan atau departemen risiko perusahaan. Melalui workshop atau pertemuan yang regular yang membicarakan risiko dengan segala aspeknya yang relevan, anggota organisasi diharapkan menjadi lebih sadar akan risiko yang dihadapi organisasi. Teknik lain yang bisa digunakan adalah memasukkan risiko ke dalam elemen penilaian kinerja. Sebagai contoh, alokasi modal diberikan kepada usulan investasi yang memberikan risk-adjusted return (tingkat keuntungan setelah disesuaikan dengan risikonya) yang paling tinggi. Jika kriteria semacam itu yang akan dipakai, maka organisasi akan secara langsung 'menghukum' manajer yang berperilaku risiko tinggi. Risiko tinggi bisa dibenarkan sepanjang memberikan tingkat keuntungan yang diharapkan yang lebih tinggi juga. Dengan mekanisme evaluasi semacam itu, manajer diharapkan akan lebih sadar mengenai risiko, dan budaya risiko di organisasi akan menjadi semakin baik (semakin sadar akan risiko). Dukungan Manajemen. Sarna seperti program lainnya, dukungan manajemen khususnya manajemen puncak terhadap program manajemen risiko penting diberikan. Bentuk dukungan bisa eksplisit maupun implisit. Dukungan manajemen puncak bisa dituangkan antara lain ke dalam pernyataan tertulis, misal manajemen puncak mendukung atau ikut
  27. 27. • EKMA4262/MODUL 1 1.27 merumuskan/menyetujui misi dan visi, prosedur dan kebijakan, yang berkaitan dengan manajemen risiko. Dukungan manajemen juga bisa ditunjukkan melalui partisipasi manajemen pada program-program manajemen risiko. b. Prasarana keras Di samping prasaran lunak, prasarana keras juga perlu disiapkan. Contoh prasarana keras yang perlu disiapkan adalah ruangan perkantoran, komputer, dan prasarana fisik lainnya. Prasarana fisik tersebut perlu dipersiapkan agar pekerjaan manajemen risiko berjalan sebagaimana mestinya. 2. Proses Manajemen Risiko Elemen yang lebih penting lagi adalah proses manajemen risiko. Proses atau fungsi manajemen sering diterjemahkan ke dalam tiga langkah: perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Mengikuti kebiasaan tersebut, proses manajemen risiko juga bisa dibagi ke dalam tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian manajemen risiko. a. Perencanaan Perencanaan manajemen risiko bisa dimulai dengan menetapkan visi, misi, dan tujuan, yang berkaitan dengan manajemen risiko. Kemudian perencanaan manajemen risiko bisa diteruskan dengan penetapan target, kebijakan, dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen risiko. Akan lebih baik lagi jika visi, misi, kebijakan, dan prosedur tersebut dituangkan secara tertulis. Dokumen tertulis semacam itu memudahkan pengarahan, sekaligus menegaskan dukungan manajemen terhadap program manajemen risiko. Berikut ini beberapa contoh misi atau kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen risiko dari beberapa perusahaan/organisasi. PERNYATAAN MISI MANAJEMEN RISIKO GOLDMAN SACH: Misi dari departemen risiko adalah mengumpulkan, menganalisis, memonitor, dan mendistribusikan informasi yang berkaitan dengan risiko pasar dari posisi perusahaan supaya traders, manajer, dan personel lain dalam organisasi dan terutama komite risiko memahami dan membuat keputusan berdasarkan informasi (informed decisions) mengenai manajemen dan pengendalian risiko yang diambil. (Goldman Sach adalah perusahaan sekuritas Amerika Serikat)
  28. 28. 1.28 Manajemen Risiko • PERNYATAAN MISI SWISS BANK CORPORATION: Pengendalian risiko Swiss Bank memfokuskan pada perlindungan terhadap modal dan memungkinkan pengambilan risiko yang sesuai. Kepentingan investor Swiss Bank adalah hal yang utama. Modal yang mereka investasikan harus dikompensasi untuk risiko yang ditanggung, baik untuk transaksi individual maupun portofolio. Setelah misi dan kebijakan serta prosedur yang umum ditetapkan, langkah berikutnya adalah menyusun kebijakan serta prosedur yang lebih spesifik. b. Pelaksanaan Pelaksanaan manajemen risiko meliputi aktivitas operasional yang berkaitan dengan manajemen risiko. Proses identifikasi dan pengukuran risiko, kemudian diteruskan dengan manajemen (pengelolaan) risiko merupakan aktivitas operasional yang utama dari manajemen risiko. Identifikasi, pengukuran, dan manajemen risiko akan dibicarakan lebih detil di bagian dua, tiga, dan empat, dari modul ini. Bagian empat khusus membicarakan ilustrasi bagaimana perusahaan menerapkan manajemen risiko secara terencana dan sistematis di organisasinya. Untuk melaksanakan pekerjaan manajemen risiko, diperlukan organisasi (struktur organisasi) dan staffing (personel). Struktur organisasi manajemen risiko bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Berikut ini contoh struktur organisasi manajemen risiko. Direlk1tur 1UI1.al1ll1a Chii.ef:Risk ..cJ ... Dixektmnr Officetr IL.ini un&tt 1lJlil)itt; Ma~majem.ellm ..-: .. }vAI'an.ajem.m Rink5 . :o lL.. .,ID1 Gambar 1.8. Struktur Organisasi Manajemen Risiko
  29. 29. • EKMA4262/MODUL 1 1.29 Dalam Gambar 1.8 di atas, unit manajemen risiko bertanggung jawab ke manajer risiko yang disebut sebagai chief risk officer (CRO). CRO kemudian melapor (bertanggung jawab) langsung ke direktur utama. Pemisahan unit manajemen risiko menjadi bagian sendiri diharapkan mampu menjaga independensi unit manajemen risiko. Unit manajemen risiko mempunyai kedudukan yang sejajar dengan unit lini (pemasaran, keuangan, produksi). Status sebagai unit lini memungkinkan kekuatan yang cukup dalam organisasi untuk mendorong praktek manajemen risiko yang baik dalam suatu organisasi. Unit lini berkomunikasi dengan unit manajemen risiko (seperti ditunjukkan panah dua arab). Komunikasi semacam itu penting agar unit manajemen risiko memperoleh gambaran yang lengkap mengenai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Aspek perilaku dari struktur organisasi manajemen risiko juga perlu diperhatikan. Pekerjaan manajemen risiko cenderung bertentangan dengan pekerjaan manajemen lini. Manajemen lini (misal pemasaran) ingin berjalan cepat tanpa memperhitungkan risiko. Manajemen risiko cenderung menahan keinginan semacam itu dengan mengingatkan risiko-risiko yang mungkin muncul. Struktur organisasi bisa diakomodasi untuk mengatasi potensi konflik semacam itu. Sebagai contoh, unit manajemen risiko bisa dibuat untuk melapor ke manajer risiko dan manajer lini sekaligus. Tetapi cara semacam itu barangkali tidak sempurna, karena pelaporan menjadi tidak jelas (ambigu). Contoh lain, unit manajemen risiko bertanggung jawab ke manajer lini dan memberikan laporan (hubungan garis terputus) kepada manajer risiko. Contoh lain adalah sebaliknya, unit lini bertanggung jawab ke manajer lini dan memberikan laporan ke manajer risiko. Contoh terakhir mirip seperti struktur organisasi pada hagan di atas. Berikut ini dua contoh variasi dari struktur manajemen risiko.
  30. 30. 1.30 Manajemen Risiko • DewaJmtDiu:e;lk:si +~ -~ -· - -·-~ -·-··-·--·_, Ko;mlite M~mjemen Riisik:o1 ; 1DJitrektu1r ~Uzmagjen· ][)lfurekm,rr· l.iimrii.Kep~tmlhlm ru "k.S] Q1 ..•" : Unitt 1Jni~: BiiSill.lUJs ...~ urut Kepmwfulm MZ!imjeme.nm Rii.sik:«:i) Gambar 1.9. Struktur Organisasi Manajemen Risiko Bank Pada struktur di atas, komite manajemen risiko mengawasi manajemen risiko organisasi. Direktur risiko mengelola kegiatan operasional manajemen risiko. Unit bisnis berkomunikasi dengan unit manajemen risiko untuk melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan risiko organisasi. Direktur risiko mempunyai garis keanggotaan kepada komite manajemen risiko. Contoh Risk Managemen·t St11uctute (Bank) ' Board of DJre€Jt(;)rs ~ecutfve C.Gmmittee: Mead of Rlsk' . . I , Securities. trading. ' .Rrmwide risk committee: head ·Of risk Matk.et risk O.redit ri.sk S'ettlement risk Liquidltidsk - Operational rl Legal risk sk_ riskRepli:t~fjpr)al Other rtsks B'usfnes.s·Unit 'Risk M.amagem:ent C.omr:nitees - , Fund I Corporate: Priv.ate·clfe finance .management nts Gambar 1.10. Struktur Organisasi Manajemen Risiko Bank (2)
  31. 31. • EKMA4262/MODUL 1 1.31 c. Pengendalian Tahap berikutnya dari proses manajemen risiko adalah pengendalian yang meliputi evaluasi secara periodik pelaksanaan manajemen risiko, output pelaporan yang dihasilkan oleh manajemen risiko, dan umpan balik (feedback). Format pelaporan manajemen risiko bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lainnya, dan dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Sebagai contoh, bagan berikut ini menampilkan laporan profil risiko regular (misal bulanan). G:ross_L_osses • Current Y'TD~ Operational Lo.s.ses Oredlt L,osses Market Losses Other Losses Sub-Totar.: Loss/Re.ven~e. Ratio~ l.!..osses Accoufltl.,g for ~ualloss~s .Incurred 1'997' 1998 1999 2000 ~001 !2002 Monthly Risk Rep.ort Risk ln.cid~nt .Incident Exgosure Be.sppnse 1. 2. 3, 4. Report pf risk Incidents, exposure, cwnd near mts_'&d Gambar 1.11 . Contoh Laporan Risiko Bulanan Man_ag-emenlAssessment 1. 2. 3. ------- 11.8nagei:n8Jlt ~~~-"'-~til m•Jil$) {JsueJS '~at b'eps·roe upat J)ighl!"'l Gambar 1.11 tersebut menunjukkan laporan kerugian (keuntungan) di sebelah kiri. Gambar di tengah menunjukkan laporan mengenai kejadian- kejadian penting yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian, atau hampir rugi, eksposur perusahaan terhadap kejadian tersebut, dan respons yang dilakukan oleh organisasi. Sebagai contoh, perusahaan barangkali melaporkan kejadian naiknya tingkat bunga sebesar 1% (cukup tinggi). Kemudian perusahaan melaporkan eksposur yaitu posisi obligasi dengan nilai $10 juta (sepuluh juta dolar AS). Jika tingkat bunga naik, maka nilai obligasi akan turun (yang berarti perusahaan mengalami kerugian). Kolom berikutnya menyajikan respons yang dilakukan perusahaan dalam situasi tersebut (misal
  32. 32. 1.32 Manajemen Risiko • melakukan hedging). Bagan paling kanan menunjukkan evaluasi dan diskusi oleh manajemen terhadap risiko-risiko utama yang dihadapi oleh perusahaan. Unit manajemen risiko bisajuga menampilkan laporan berikut ini. VAR Analyst's / ~ ~..................,._ VAR ~~~~-·=- ~~- ~/-----~'~-----• Limit Waktu Trading Error - - - - - - - - - - - - - - - - - Waktu Gambar 1.12. Contoh Laporan Risiko Untuk VAR dan Trading Error Kedua bagan tersebut menunjukkan perkembangan VAR (Value At Risk, yang merupakan indikator risiko pasar) dan kesalahan perdagangan dari waktu ke waktu. Perusahaan juga menampilkan batas untuk masing-masing variabel risiko tersebut. Jika variabel risiko tersebut masih berada di bawah batas toleransi, maka risiko tersebut belum menunjukkan tingkat keseriusan yang tinggi. Tetapi jika variabel yang diamati tersebut bergerak melewati batas toleransi perusahaan, maka perusahaan harus lebih aktif untuk mengelola risiko tersebut. Manajer risiko bisa juga menampilkan profil risiko untuk kegiatan tertentu. Sebagai contoh tabel berikut ini menunjukkan profil risiko untuk dua proyek A dan B. Risiko dilihat berdasarkan dimensi keuangan, sosial, dan politik.
  33. 33. • EKMA4262/MODUL 1 1.33 Tabel 1.4. Profil Risiko Usulan lnvestasi Keuangan Sosial Politik Proyek A 1) Tinggi 3) Tinggi 5) Tinggi 4 Tin 1~ i Proyek B 1) Medium 3) Medium 5) Rendah 2 Rendah 4 Rendah Keuangan: (1) Risiko kesulitan akses dana, (2) Risiko perubahan kurs Sosial: (3) Penerimaan masyarakat sekitar, (4) Dukungan pemerintah lokal Politik: (5) Stabilitas politik, (6) Perubahan Peraturan Tabel 1.4 tersebut menunjukkan beberapa item risiko untuk keuangan, sosial, dan politik yang dievaluasi. Sebagai contoh, untuk keuangan ada dua item yang dievaluasi, yaitu risiko kesulitan akses dana dan risiko perubahan kurs. Proyek A tidak mempunyai risiko perubahan kurs karena lebih banyak beroperasi di pasar domestik. Dari tabel tersebut terlihat bahwa proyek A nampaknya mempunyai risiko yang lebih besar dibandingkan dengan proyek B. Semua item risiko untuk proyek A mempunyai penilaian risiko yang tinggi. Sedangkan untuk proyek B, kebanyakan item risiko dinilai medium atau rendah. Dengan demikian bisa diambil kesimpulan bahwa proyek A mempunyai risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan proyek B. Jika pelaporan tersebut belum memuaskan (misal belum cukup informatif), maka format pelaporan bisa di rubah-rubah lagi. Proses umpan balik (feedback) harus dijamin bisa berjalan sebagaimana mestinya. Di samping itu basil evaluasi dari manajemen risiko harus dikomunikasikan ke pihak-pihak yang berkepentingan dan relevan (stakeholders). Komunikasi yang baik menjamin disclosure dan transparansi yang baik, yang merupakan elemen manajemen risiko yang baik. Kasus Enron yang bangkrut pada tahun 2001 menunjukkan bahwa organisasi tersebut gagal membangun komunikasi dan transparansi yang baik. Manajemen risiko yang baik harus menjamin terjadinya good corporate governance, diantaranya terjaminnya disclosure dan transparansi yang baik.
  34. 34. 1.34 ____........ Manajemen Risiko • LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Jelaskan komponen-komponen enterprise risk management! 2) Manajemen risiko membuat manajer menjadi berhati-hati, konservatif. Hal semacam itu tidak menguntungkan perusahaan. Beri komentar atas pernyataan tersebut! 3) Jelaskan beberapa cara untuk meningkatkan budaya risiko! Petunjuk Jawaban Latihan 1) Enterprise risk management mempunyai komponen-komponen: (1) Proses manajemen risiko, (2) prasarana lunak dan keras, dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan. Enterprise risk management merupakan kegiatan manajemen risiko yang dilakukan dalam organisasi secara komprehensif, terintegrasi, dan formal (terstruktur). Dikatakan terintegrasi, karena mencakup semua aspek dalam organisasi. Manajemen risiko tidak hanya tugas manajer risiko, tetapi juga tugas dari manajer lini (yang membuat keputusan bisnis). Terintegrasi menunjukkan bahwa kegiatan manajemen risiko dilakukan secara terpadu, tidak terpisah-pisah. Formal menunjukkan bahwa kegiatan manajemen risiko merupakan aktivitas resmi yang dilakukan oleh perusahaan, dan dilakukan secara terstruktur. 2) Manajemen risiko diharapkan membuat organisasi menjadi sadar risiko dan menjadi berhati-hati dalam pengambilan keputusan. Hasil yang diharapkan dari perilaku tersebut adalah keputusan yang optimal. Keputusan tersebut lebih baik dibandingkan dengan keputusan yang diambil tanpa memperhitungkan risiko. Manajemen risiko diibaratkan dengan mengendarai kendaraan dengan cepat, tetapi tetap terkendali sehingga pada waktu menikung, mobil kita akan tetap jalan. Jika tidak ada manajemen risiko, perusahaan bisa berlari terlalu kencang. Pada waktu belok, mobil tersebut bisa oleng, keluar jalur, dan menabrak sekitarnya. Hal semacam itu tentu saja tidak diinginkan.
  35. 35. • EKMA4262/MODUL 1 1.35 3. Banyak cara membuat pelaku dalam organisasi menjadi sadar akan risiko, seperti workshop dan penilaian kerja yang memasukkan risiko. Workshop dilakukan untuk mendiskusikan kejadian-kejadian atau risiko yang dianggap bisa merugikan perusahaan. Kemudian dilakukan diskusi untuk menentukan akar atau sumber permasalahan, dan bagaimana perusahaan bisa mengatasi kejadian tersebut jika menimpa perusahaan. Melalui diskusi semacam itu, pelaku dalam organisasi diharapkan menjadi sadar akan risiko. Penilaian kerja yang memasukkan risiko juga bisa dikembangkan. Pada intinya penilaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan risiko secara eksplisit. Sebagai ilustrasi, manajer yang akan menggunakan sumber daya perusahaan untuk melakukan kegiatan bisnis yang lebih berisiko, akan dikenakan tingkat keuntungan minimal yang lebih tinggi dibandingkan dengan manajer yang melakukan kegiatan bisnis yang kurang berisiko. Contoh lain, karyawan yang sering melakukan kesalahan operasional (rnisal, teller bank sering salah menghitung uang) bisa ditegur atau diberi peringatan. Melalui cara tersebut, manajer dan karyawan dalam perusahaan akan semakin berhati- hati, karena kehati-hatian tersebut akan mempengaruhi kinerja mereka. RANGKUMAN Kegiatan belajar ini membicarakan manajemen risiko organisasi. Manajemen risiko tersebut bertujuan membuat organisasi menjadi sadar akan risiko, sehingga laju organisasi bisa dikendalikan. Organisasi bisa melaju dengan kencang tetapi tetap terkendali. Manajemen risiko organisasi mempunyai banyak istilah. Pada intinya, manajemen organisasi terdiri dari prasarana (lunak dan keras), dan proses manajemen risiko. Proses manajemen risiko pada intinya mencakup: identifikasi risiko, pengukuran risiko, dan pengelolaan risiko. Pengelolaan risiko mencakup aktivitas perencanaan (penyusunan visi, rnisi, dan sebagainya), pengelolaan risiko (diversifikasi, asuransi, dan sebagainya), aspek governance (struktur organisasi, staf, dan semacamnya), dan sistem pelaporan (umpan balik). Elemen-elemen tersebut bertujuan membuat organisasi menjadi sadar risiko untuk meningkatkan nilai organisasi.
  36. 36. 1.36 Manajemen Risiko • I TES FORMATIF 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Berikut ini elemen-elemen dalam Enterprise Risk Management, kecuali .... A. infrastruktur lunak B. infrastruktur keras C. proses manajemen risiko D. COSO Enterprise Risk Management 2) Berikut ini kegiatan yang bisa meningkatkan kesadaran risiko (budaya risiko) .... A. workshop B. pengukuran risiko C. spesialisasi D. staffing 3) Berikut ini contoh prasarana lunak dalam Enterprise Risk Management .... A. komputer B. model analisis risiko C. budaya risiko D. gedung dan peralatan untuk departemen manajemen risiko 4) Analisis profil risiko dilakukan dengan .... A. menghitung Value At Risk b. mengevaluasi risiko dan menentukan tingkatannya (tinggi, medium, rendah) C. mengidentifikasi dan menjalankan pengelolaan risiko melalui diversifikasi, asuransi, dan lainnya D. merumuskan format pelaporan 5) Berikut ini contoh manajemen risiko yang baik .... A. melakukan pengelolaan risiko secara terpisah sehingga spesialisasi bisa dilakukan B. memfokuskan pada aspek analitis manajemen risiko C. mengembangkan infrastruktur lunak D. memasukkan pertimbangan risiko ke dalam keputusan bisnis
  37. 37. • EKMA4262/MODUL 1 1.37 Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2. Jumlah Jawaban yang Benar Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100% Jumlah Soal Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% =baik sekali 80 - 89% =baik 70 - 79% = cukup < 70% =kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
  38. 38. 1.38 Manajemen Risiko • Kunci Jawaban Tes Formatif Tes Formatif1 Tes Formatif2 1) D 1) D 2) B 2) A 3) B 3) c 4) A 4) B 5) D 5) D
  39. 39. • EKMA4262/MODUL 1 1.39 Daftar Pustaka Anderson, Sweeny, and Williams. (1999). Statistics for Business and Economics, South-Western Publishing, Cincinnati. Barton, Thomas, William G. Shenkir, Paul L. Walker. (2002). Making Enterprise Risk Management Pay Off New Jersey: Prentice Hall. Boodie, Zvi and Robert C. Merton. (2000). Finance. New Jersey: Prentice Hall. Doherty, Neil. (2000). Integrated Risk Management. New York: McGraw Hill. Hanafi, Mamduh. (2005). Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE. Hanafi, Mamduh. (2004). Manajemen Keuangan Internasional. Yogyakarta: BPFE. Harrington, Scott E., dan Gregory R. Niehaus. (2003). Risk Management and Insurance. Boston: McGraw Hill. Lam, James. (2004). Enterprise Risk Management. Wiley. Marshall, John F., dan Vipul K. Bansal. (1992). Financial Engineering, A Complete Guide to Financial Innovation. New York: Institute of Finance. Pande, Pete and Larry Holpp. (2002). What is Six Sigma. New York. Risk Group (ed.). (2001). Advances in Operational Risk. London: Risk Water Group Ltd. Saunders and Cornett. (2003). Financial Institutions Management, A Risk Management Approach, McGraw Hill.
  40. 40. 1.40 Manajemen Risiko • SBC Warburg. (2004). The Practice ofRisk Management, Euromoney Book. Stulz, Rene M. (2003). Risk Management and Derivatives. Thomson-South Western. Trieschmann, dan Gustavson. (1995). Risk Management and Insurance, South Western College Publishing. Williams, C. Arthur, Michael Smith, and Peter C. Young. (1998). Risk Management and Insurance, Boston: McGraw Hill. http ://www. wikip edia. corn. Kembali ke Daftar lsi
  41. 41. Modul 2 ldentifikasi,Pengukuran Risiko dan Beberapa Tipe Risiko Murni Dr. Mamduh M. Hanafi, MBA. PENDAHULUAN odul dua ini membicarakan identifikasi dan pengukuran risiko secara umum dan beberapa jenis risiko murni. Bagian pertama modul ini membicarakan teknik identifikasi dan pengukuran risiko secara umum. Jika kita ingin mengelola risiko dengan baik, maka kita harus bisa mengidentifikasi risiko tersebut. Setelah risiko bisa diidentifikasi, kita bisa mempelajari karakteristik risiko tersebut, dan kemudian bisa mengukur risiko tersebut. Pengukuran risiko tersebut meliputi pengembangan indikator besar kecilnya risiko dan pengukuran dampak risiko tersebut terhadap kinerja (misal laba/rugi) organisasi. Jika kita memperoleh pemahaman yang baik mengenai suatu risiko, maka kita bisa mengelola risiko tersebut lebih baik. Pengukuran risiko menambah manfaat lain karena kita bisa memperoleh gambaran risiko dengan lebih obyektif dengan tingkat presisi (akurasi) yang lebih baik lagi. Untuk mengukur risiko, teknik kuantitatif seperti statistik, merupakan alat yang sangat bermanfaat. Pengukuran risiko akan banyak menggunakan teknik statistik seperti probabilitas, deviasi standar, distribusi normal, dan lainnya. Bagian berikutnya dari modul dua ini membicarakan beberapa jenis risiko murni. Risiko murni didefinisikan sebagai risiko di mana kita tidak mengharapkan keuntungan dari risiko tersebut, tetapi kita akan memperoleh kerugian dari risiko tersebut. Beberapa jenis risiko mumi yang dibahas adalah risiko kematian, risiko gugatan hukum, risiko kerusakan aset (property), dan risiko kecelakaan. Setelah mempelajari modul ini, secara umum Anda diharapkan bisa menjelaskan teknik identifikasi dan pengukuran risiko secara umum dan menjelaskan karakteristik beberapa risiko murni, seperti risiko kematian, risiko kerusakan aset, dan risiko gugatan hukum. Secara khusus, setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan bisa menjelaskan
  42. 42. 2.2 Manajemen Risiko • 1. Identifikasi risiko dengan teknik analisis sekuen risiko. 2. Identifikasi risiko dengan teknik lainnya. 3. Teknik pengukuran risiko secara umum. 4. Tabel mortalitas dan perhitungan probabilitas kematian dengan menggunakan tabel mortalitas. 5. Eksposur dari risiko kematian. 6. Karakteristik risiko gugatan hukum. 7. Pelanggaran hukum yang bisa menimbulkan gugatan hukum. 8. Karakteristik risiko kerusakan harta benda. 9. Eksposur dari risiko kerusakan harta benda.
  43. 43. • EKMA4262/MODUL 2 2.3 Kegiatan Belajar 1 ldentifikasi dan Pengukuran Risiko egiatan belajar ini membicarakan identifikasi dan pengukuran risiko. Tiap risiko mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga pengukurannya juga akan berbeda-beda. Pembicaraan dalam bagian ini dimulai dengan teknik mengidentifikasi risiko, yang kemudian diteruskan dengan pengukuran risiko. Bagian akhir membicarakan ilustrasi bagaimana suatu perusahaan penerbangan Unggul Air mengidentifikasi risiko yang dianggap penting dan melakukan pengukuran terhadap risiko tersebut. A. IDENTIFIKASI RISIKO Secara umum langkah-langkah dalam identifikasi dan pengukuran risiko adalah sebagai berikut ini. 1. Mengidentifikasi risiko dan mempelajari karakteristik risiko tersebut 2. Mengukur risiko tersebut, melihat seberapa besar dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan, dan menentukan prioritas risiko tersebut. Bagan berikut ini menggambarkan siklus mapping risiko. Pertama kali, risiko perlu diidentifikasikan. Kemudian kita perlu mempelajari karakteristik risiko tersebut, serta melakukan evaluasi. Pemahaman yang baik terhadap karakteristik tersebut akan bermanfaat untuk merumuskan metode yang tepat untuk mengelola risiko tersebut. Langkah berikutnya adalah melakukan prioritisasi risiko, di mana kuantifikasi risiko merupakan salah satu komponen penting dalam langkah tersebut. Melalui kuantifikasi tersebut, kita bisa mengukur tinggi rendahnya risiko dan bagaimana dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan. Selanjutnya kita bisa memfokuskan pada risiko yang paling relevan (misal, mempunyai dampak paling besar dan probabilitas yang besar) bagi perusahaan. Langkah selanjutnya adalah mengelola risiko. Langkah berikutnya adalah revisit, yaitu mengevaluasi ulang langkah- langkah yang sudah dilakukan, untuk meningkatkan efektivitas manajemen risiko.
  44. 44. 2.4 Manajemen Risiko • MEMAHAMI : EV.ALUA . REVISIT KELOL.A Gambar 2.1. S1klus Manajemen R1s1ko (Proses Mapping R1s1ko) Bagaimana mengidentifikasi risiko, mengidentifikasi bahwa perusahaan atau organisasi mempunyai eksposur terhadap risiko tertentu? Beberapa teknik bisa digunakan. Bagian berikut ini membicarakan teknik-teknik tersebut. 1. Analisis Sekuen Risiko Risiko mempunyai sekuen dari sumber risiko sampai kemudian munculnya kerugian karena risiko tersebut. Bagan berikut ini menggambarkan sekuen semacam itu disertai dengan ilustrasi analisis sekuen risiko untuk risiko kebakaran.
  45. 45. • EKMA4262/MODUL 2 EKSPOSUR SUMBER RISIK,Q :> RJSK FACTORS 1 ~' TERHADAP KQN,DISI YANG MEW(IKKAJN RISIKO KEMUN~G.KINAN :KcRUGIAN . ,lr ,.. ~ , MINYAATAN.AH ¥1NG GUDANG.,.._ API DfT~Rl!J~ DIDEKAT . - - => YANG BISAI KOMP<!JR TERBAKAR- _.,. ~ Jt<ERUGIAN ...------'1 TERJADI KEBAKARAN PERIL~ KEJADlAN YAN.G.MENGAKIBATKAN IKERUGIAN Gambar 2.2. Sekuen Risiko 2.5 Gambar di atas menunjukkan, pertama ada sumber risiko yaitu api. Api bisa menyebabkan kebakaran dan kerugian bagi organisasi. Kemudian ada risk factors (faktor risiko) yang menjadi katalis (catalyst), yaitu yang mempercepat atau memperbesar kemungkinan munculnya kejadian yang tidak diinginkan. Dalam contoh di atas, risk factor tersebut adalah minyak tanah yang ditaruh di dekat kompor. Situasi tersebut akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran. Jika terjadi kebakaran maka gedung yang ditempati kompor tersebut akan terbakar. Dengan kata lain, gedung tersebut menghadapi eksposur terhadap risiko kebakaran. Kemudian terjadi kejadian yang tidak kita inginkan (peril), yaitu kebakaran. Kebakaran tersebut mengakibatkan kerugian. Setelah melakukan analisis sekuen semacam itu, kita bisa melakukan pencegahan munculnya kejadian yang tidak diinginkan dengan memfokuskan pada sekuen yang terjadi. Sebagai contoh, api barangkali tidak bisa dihilangkan. Api selalu ada, dan keberadaannya dalam beberapa situasi bisa membantu manusia. Tetapi kita bisa melakukan sesuatu misal terhadap risk factors atau bangunan yang menghadapi eksposur terhadap kebakaran. Sebagai contoh, kita bisa mengendalikan risiko (risk control) dengan jalan
  46. 46. 2.6 Manajemen Risiko • menjauhkan minyak tanah dari kompor. Altematif lain, kita bisa menggunakan kompor listrik yang tidak akan terpengaruh oleh minyak tanah. Kita juga bisa melakukan sesuatu terhadap gedung yang ditempati kompor tersebut. Misal, kita membuat gedung yang tahan api, sehingga bisa mengurangi kemungkinan kerusakan karena kebakaran. Kita juga bisa memasang tabung pemadam kebakaran di gedung tersebut, sehingga jika api muncul, pencegahan bisa dilakukan dengan cepat. Analisis semacam itu sangat sesuai untuk eksposur aset fisik seperti gedung yang rentan terhadap kebakaran, bangunan yang rentan terhadap kebanjiran, dan sebagainya. Tetapi meskipun demikian, analisis sekuen semacam itu juga bisa dipakai untuk risiko lainnya. Sebagai contoh, Fidelity Investment (sebuah bank di Amerika Serikat) mempunyai program risk event log, di mana setiap kerugian yang signifikan dicatat di database perusahaan. Kemudian manajer risiko menganalisis akar permasalahannya (penyebabnya), dan alternatif pencegahan yang bisa dilakukan. Analisis semacam itu pada dasarnya sama dengan analisis sekuen risiko seperti dalam hagan di atas. Program tersebut diklaim cukup sukses karena bisa mengurangi potensi kerugian sampai 72%. 2. Mengidentifikasi Sumber-Sumber Risiko Teknik lain adalah dengan memperluas pengamatan terhadap sumber- sumber risiko. Setelah sumber-sumber risiko tadi diidentifikasi, kita mencoba melihat risiko-risiko apa saja yang bisa muncul dari sumber-sumber risiko tersebut. Berikut ini sumber-sumber risiko dari lingkungan di sekitar kita. a. LINGKUNGAN FISIK: bangunan yang dimakan usia sehingga menjadi rapuh, sungai yang bisa menyebabkan banjir, gempa bumi, badai, topan, vandalism (pengrusakan). b. LINGKUNGAN SOSIAL: kerusuhan sosial, demonstrasi, konflik dengan masyarakat lokal, pemogokan pegawai, pencurian, perampokan. c. LINGKUNGAN POLITIK: perubahan perundangan, perubahan peraturan, konflik antar Negara yang mendorong boikot produk perusahaan. d. LINGKUNGAN LEGAL: gugatan karena gagal mematuhi peraturan dan perundangan yang berlaku. e. LINGKUNGAN OPERASIONAL: kecelakaan kerja, kerusakan mesin, kegagalan sistem komputer, serangan virus terhadap komputer.
  47. 47. • EKMA4262/MODUL 2 2.7 f. LINGKUNGAN EKONOMI: kelesuan ekonomi (resesi), inflasi yang tidak terkendali. Dengan mengamati sumber-sumber risiko semacam itu, kita bisa memperoleh gambaran risiko-risiko apa saja yang mungkin muncul dan membahayakan organisasi. Alternatif kategori sumber risiko adalah sebagai berikut ini. a. KONSUMEN: keluhan dari konsumen yang mengakibatkan kekecewaan dan tidak mau lagi membeli produk perusahaan, konsumen merasa dirugikan kemudian menuntut perusahaan. b SUPLIER: pasokan dari supplier tidak datang sesuai dengan yang diharapkan (terlambat atau spesifikasinya berbeda). c PESAING: pesaing meluncurkan produk baru yang lebih baik, pesaing menurunkan harga yang bisa mengakibatkan persaingan harga yang menurunkan tingkat keuntungan perusahaan. d. REGULATOR: perusahaan gagal mematuhi peraturan atau perundangan yang berlaku, perubahan perundangan yang berlaku yang mengakibatkan perusahaan merugi (misal upah minimum naik, aturan pesangon, dan sebagainya). Kita juga bisa menggabungkan sumber di atas dengan sumber risiko sebelumnya. Nampak bahwa dengan mengamati sumber-sumber risiko tersebut, risiko yang dihadapi oleh perusahaan menjadi tidak terbatas. Daftar risiko tersebut akan sangat banyak, di luar kendali perusahaan. Tahap berikutnya adalah melakukan prioritisasi, yaitu menetapkan risiko mana saja yang paling relevan terhadap organisasi. 3. Teknik Pendukung Lainnya Di samping teknik identifikasi risiko yang telah dijelaskan di atas, berikut ini teknik pendukung lainnya untuk mengidentifikasi risiko. a. Metode laporan keuangan Metode tersebut dimulai dengan melihat rekening-rekening dalam laporan keuangan. Dari rekening tersebut, kemudian dianalisis risiko-risiko apa saja yang bisa muncul dari rekening atau transaksi yang melibatkan rekening tersebut. Sebagai contoh, kas merupakan salah satu rekening di neraca. Risiko apa saja yang bisa muncul dari atau yang melibatkan kas?
  48. 48. 2.8 Manajemen Risiko • Tentu saja banyak, misal, pencurian kas, penyelewengan kas, dan seterusnya. Ada istilah yang mengatakan bahwa cash is a king. Kas merupakan item yang paling banyak memicu kejahatan. Contoh lain adalah utang bank. Risiko apa saja yang bisa muncul dari utang bank. Sarna seperti sebelumnya, banyak risiko yang melibatkan utang bank, seperti risiko gagal membayar kewajibanlbunga dan cicilan pada saat jatuh tempo. Dengan melihat rekening laporan keuangan satu persatu dan melihat risiko yang bisa muncul dari rekening tersebut, kita bisa memperoleh gambaran risiko apa saja yang mungkin dihadapi oleh perusahaan. b. Menganalisis flow chart kegiatan dan operasi perusahaan Metode ini berusaha melihat sumber-sumber risiko dari flow-chart kegiatan dan operasi perusahaan. Metode ini terutama sangat sesuai untuk risiko tertentu, seperti risiko dari proses produksi. Proses produksi dimulai dari masuknya input tertentu, pengerjaan input tersebut, sampai menjadi output tertentu. Dalam rangkaian kegiatan produksi tersebut, ada kemungkinan munculnya kejadian yang tidak diinginkan, misal kecelakaan kerja, kerusakan mesin, dan sebagainya. Dengan mengamati rangkaian prosesnya, kita akan bisa melihat atau melokalisir terjadinya kejadian tersebut, kemudian bisa mengidentifikasi sumber risiko yang menyebabkan kejadian negatif tersebut. c. Analisis kontrak Analisis kontrak bertujuan melihat risiko yang bisa muncul karena kontrak tertentu. Risiko ini lebih berkaitan dengan risiko tuntutan hukum. Spesifikasi kontrak yang tidak menyeluruh bisa menimbulkan celah-celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu sedapat mungkin kontrak dituliskan dengan bahasa yang jelas (hitam putih), menyeluruh, untuk meminimalkan risiko seperti risiko tuntutan hukum atau ganti rugi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan meminta departemen hukum atau kepatuhan untuk memeriksa poin-poin dalam kontrak, menganalisis kemungkinan-kemungkinan konsekuensi hukum jika suatu kontrak dituliskan dengan redaksi yang tertentu. d. Catatan statistik kerugian dan laporan kerugian perusahaan Jika perusahaan mempunyai database yang baik, perusahaan bisa mencatat kerugian-kerugian yang dialami oleh perusahaan. Perusahaan bisa
  49. 49. • EKMA4262/MODUL 2 2.9 menetapkan standar ke-normal-an yang tertentu untuk setiap kejadian. Jika suatu kejadian muncul dengan catatan yang tidak normal, maka manajer risiko bisa memeriksa lebih lanjut penyebabnya. Ketidaknormalan tersebut bisa terjadi karena frekuensi yang terlalu sering (lebih sering dibandingkan dengan frekuensi normal), atau nilai kerugian yang terlalu tinggi (lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kerugian yang normal). Analisis terhadap penyimpangan bisa membantu mengidentifikasi sumber-sumber risiko. e. Survey atau wawancara terhadap manajer Manajer merupakan pihak paling tahu operasi perusahaan, termasuk risiko-risiko yang dihadapi perusahaan. Karena itu mereka bisa diminta bantuannya untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi oleh organisasi. Yang diperlukan adalah metodologi yang sistematis yang bisa memfasilitasi sesi diskusi tersebut. Sebagai ilustrasi, United Grain Growers yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian di Kanada melakukan sesi 'brainstorming' antara manajernya dengan konsultan manajemen risiko, untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang paling penting yang dihadapi oleh perusahaan. Hasil diskusi tersebut menunjukkan ada enam tipe risiko yang paling penting, dengan urutan sebagai berikut. 1) Risiko komoditas: harga komoditas yang jatuh padahal perusahaan memegang komoditas tersebut. 2) Risiko cuaca: cuaca yang tidak menguntungkan sehingga mengacaukan panen, dan kemudian menurunkan volume pertanian yang dikirimkan oleh perusahaan (penjualan menurun). 3) Risiko counterparty: yaitu counterparty perusahaan gagal memenuhi kontraknya terhadap perusahaan. 4) Risiko lingkungan: yaitu perusahaan menghadapi tuntutan hukum karena perusahaan dituduh merusak lingkungan (seperti mencemarkan lingkungan). 5) Risiko persediaan: yaitu persediaan yang dipegang mengalami kerusakan (misal membusuk). 6) Risiko kredit: yaitu counterparty gagal bayar kepada perusahaan. Diskusi selanjutnya menyimpulkan bahwa risiko komoditas merupakan risiko yang dianggap paling penting oleh manajer UGG.
  50. 50. 2.10 Manajemen Risiko • B. MENGUKUR RISIKO Setelah risiko diidentifikasi, tahap berikutnya adalah mengukur risiko. Jika risiko bisa diukur, kita bisa melihat tinggi rendahnya risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Kemudian bisa melihat dampak dari risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan, sekaligus bisa melakukan prioritisasi risiko (risiko mana yang paling relevan). Pengukuran risiko biasanya dilakukan melalui kuantifikasi risiko. Kuantifikasi bisa dilakukan dengan metode yang sederhana sampai metode yang sangat kompleks. Pengukuran dan kuantifikasi risiko akan sangat tergantung dari karakteristik risiko tersebut. Sebagai contoh, risiko pasar dengan risiko kredit akan menghasilkan teknik kuantifikasi yang berbeda, dan dengan demikian pengukuran yang berbeda. Tabel berikut ini menyajikan ringkasan tipe-tipe risiko dan teknik pengukurannya yang berbeda-beda. Tabel 2.1. Pengukuran Untuk Beberapa Risiko Tipe Risiko Definisi Teknik Pen ukuran Risiko pasar Harga pasar bergerak ke arah yang Value At Risk (VAR), stress- tidak men untun~ kan meru~ikan testing Risiko kredit Counterparty tidak bisa membayar Credit rating, Creditmetrics kewajibannya (gagal bayar) ke perusahaan Risiko perubahan Tingkat bunga berubah yang Metoda pengukuran jangka tingkat bunga mengakibatkan kerugian pada waktu, Durasi portofolio :)erusahaan Risiko Kerugian yang terjadi melalui operasi Matriks frekuensi dan Operasional perusahaan (misal sistem yang gagaI, signifikansi kerugian, VAR seran an teroris operasional Risiko kematian Manusia mengalami kematian dini Probabilitas kematian dengan lebih cepat dari usia kematian wa·ar tabel mortalitas Risiko kesehatan Manusia terkena penyakit tertentu Probabilitas terkena penyakit dengan menggunakan tabel morbiditas Risiko Teknologi Perubahan teknologi mempunyai Analisis skenario konsekuensi negatif terhadap perusahaan Tabel di atas menunjukkan tipe risiko yang berbeda menghadirkan teknik pengukuran yang berbeda juga. Teknik pengukuran berbeda tingkat kecanggihannya (tingkat kuantifikasinya), mulai dari yang paling sederhana,
  51. 51. • EKMA4262/MODUL 2 2.11 yaitu matriks frekuensi dan signifikansi kerugian, sampai pada stress-testing yang lebih rumit. Beberapa tipe risiko lebih sulit di kuantifikasi, misal risiko teknologi. Untuk tipe risiko tersebut, kita bisa menggunakan teknik analisis skenario, yaitu mengembangkan beberapa skenario dan melihat dampaknya terhadap organisasi. 1. Matriks Frekuensi dan Signifikansi Risiko Teknik pengukuran yang cukup sederhana (tidak terlalu melibatkan kuantifikasi yang rumit) adalah mengelompokkan risiko berdasarkan dua dimensi yaitu frekuensi dan signifikansi. Proses tersebut pada dasarnya melakukan dua hal: (1) mengembangkan standar risiko, dan (2) menerapkan standar tersebut untuk risiko yang telah diidentifikasi. Sebagai contoh, manajer risiko membuat standar frekuensi munculnya kejadian yang merugikan dengan menggunakan tiga kriteria, misal frekuensi rendah, sedang, dan menengah. Manajer tersebut juga bisa membuat standar signifikansi kerugian dengan menggunakan, misal, tiga kriteria yaitu normal, menengah, dan serius. Setelah kita menetapkan standar untuk dua dimensi tersebut, langkah berikutnya adalah menerapkan teknik tersebut untuk mengevaluasi risiko tertentu. Sebagai contoh, misal kita menggunakan dua standar untuk frekuensi dan signifikansi, yaitu tinggi dan rendah. Kemudian kita ingin mengevaluasi risiko kesalahan manusia (human error) dalam pemrosesan transaksi. Berdasarkan pengalaman masa lalu, kejadian seperti itu sering terjadi. Manusia gampang melakukan kesalahan jika mereka kelelahan atau tidak konsentrasi. Tetapi kerugian yang ditimbulkan biasanya tidak terlalu besar. Berdasarkan informasi tersebut, risiko kesalahan manusia dalam pemrosesan transaksi bisa dikategorikan sebagai frekuensi tinggi, signifikansi rendah. Bagan berikut ini meringkaskan basil tersebut.
  52. 52. 2.12 Manajemen Risiko • -~-· Oll D) c• ;- J , _ ~f1B1J c ~j .::£ I1.M= ·-c: a } ·- RisiikoOOJ ~esala.lha.rnl .c: " m ma;niLJlsua "'CJ "c 0 0a!: Tiimlggi FrrekUieJrnlsii Gambar 2.3. Matriks Frekuensi dan Signifikansi Penentuan tinggi rendah untuk frekuensi dan signifikansi bisa diperoleh melalui survei terhadap manajer. Sebagai ilustrasi yang lain, misalkan ada 50 manajer yang berpartisipasi dalam sesi untuk mengevaluasi risiko peraturan (regulatory) dan lingkungan. Masing-masing manajer akan memberikan skor untuk dimensi signifikansi dan kemungkinan untuk risiko peraturan dan lingkungan tersebut. Misalkan saja rata-rata dari skor tersebut adalah 2 untuk frekuensi dan 6 untuk signifikansi. Dengan kata lain, nampaknya risiko tersebut mempunyai kemungkinan terjadi yang jarang (frekuensi yang rendah), dan mempunyai dampak yang serius (signifikansi tinggi). Dampak yang serius tersebut barangkali disebabkan karena munculnya tuntutan ganti rugi dengan nilai yang signifikan. Bagan berikut ini meringkaskan hasil analisis tersebut. Terlihat bahwa risiko regulatory dan lingkungan terlihat berada pada kuadran signifikansi tinggi dan frekuensi rendah.
  53. 53. • EKMA4262/MODUL 2 - .., 15~ ~ o ·~. .' i2! - ~ ff ~- • ·::I .,.,......-· 1' ~~­ LJkiiUr ®II' . Gambar 2.4. Map Risiko Untuk Risiko Pengrusakan Lingkungan 2.13 Matriks frekuensi dan signifikansi merupakan salah satu contoh bagaimana kita berusaha mengkuantifisir risiko. Setelah kita bisa mengetahui posisi dari risiko yang kita evaluasi, kita bisa merancang tindakan yang lebih tepat untuk menghadapi risiko tersebut (menentukan prioritas risiko). Sebagai contoh, jika suatu risiko berada dalam kuadran frekuensi rendah dan signifikansi rendah, maka monitoring secara berkala barangkali cukup. Jika suatu risiko berada dalam kuadran frekuensi tinggi dan signifikansi tinggi, maka risiko tersebut sangat serius. Organisasi harus cepat-cepat mengatasi permasalahan tersebut. Jika tidak, risiko seperti itu bisa mengakibatkan kehancuran perusahaan dengan cepat. 2. Teknik Kuantifikasi Risiko Lainnya Selain matriks frekuensi dan signifikansi, masih banyak teknik pengukuran atau kuantifikasi risiko lainnya. Penggunaan teknik tersebut akan tergantung dari karakteristik risiko yang kita evaluasi. Lihat Tabel 2.1 di muka sebagai ilustrasi teknik pengukuran risiko yang beragam. Bagian
  54. 54. 2.14 Manajemen Risiko • berikut ini memberikan ilustrasi bagaimana identifikasi risiko dilakukan dengan mempelajari karakteristik bisnis. Kemudian pengukuran terhadap risiko yang diidentifikasi dilakukan dengan melihat dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan, yang dilihat melalui EPS (Earning Per Share)- nya. C. ILUSTRASI: IDENTIFIKASI RISIKO UNGGUL AIRLINES Unggul Airlines adalah perusahaan penerbangan yang berdiri sepuluh tahun yang lalu. Perusahaan tersebut didirikan oleh dua orang bersaudara, yang tertarik dengan bisnis penerbangan. Mereka memperkirakan bahwa suatu saat akan terjadi deregulasi di hidang penerbangan. Deregulasi tersebut memunculkan kesempatan bisnis, karena salah satu komponen deregulasi adalah membolehkan perusahaan penerbangan baru untuk terjun di bisnis tersebut. Antisipasi mereka temyata benar, lalu PT Unggul Airlines akhirnya berdiri. Joko Muryanto merupakan staf yang baru saja masuk. Dia lulusan program Magister Manajemen universitas ternama di negeri ini. Atasannya meminta Joko untuk mengevaluasi risiko yang dihadapi oleh perusahaan penerbangan Unggul Airlines, dan mengembangkan solusi untuk menghadapi risiko tersebut. Secara spesifik, atasannya meminta Joko untuk mengidentifikasi risiko strategis (strategic risks), yaitu risiko yang dianggap secara signifikan mempengaruhi bisnis penerbangan PT Unggul Airlines. Joko kemudian mencoba melakukan analisis yang mendalam mengenai bisnis PT Unggul Airlines. Hasil dari analisis tersebut diringkaskan sebagai berikut ini. 1. PT Unggul Airline menggunakan pesawat yang lebih tua dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya. Pesawat tua tersebut digunakan karena biaya sewa dan biaya pembelian (sebagian dibeli oleh PT Unggul Airlines) lebih murah. Sayangnya pesawat tua tersebut lebih boros bahan baker. Diperkirakan bahan bakar mencapai sekitar 30% dari komponen, sementara persentase untuk pesaing adalah sekitar 15-20%. Dengan struktur biaya yang semacam itu, PT Unggul Airlines menjadi lebih rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar pesawat. Untuk melihat seberapa besar pengaruh bahan bakar tersebut, Joko memplot pengaruh perubahan harga bahan bakar terhadap EPS (Earning PerShare) PT Unggul Airlines, seperti berikut ini.
  55. 55. • EKMA4262/MODUL 2 Hiawga1BalimrnltB~a2~ (peJ:r·gal}]_(j)l11J) 5..4-5 1!------------------: ~-------- ' $0..50 $0..60 .. ·. $tt10 $0.80 -3>..45 t-- Gambar 2.5. Pengaruh Harga Bahan Bakar Terhadap EPS 2.15 Terlihat bahwa jika harga bahan bakar meningkat, maka EPS perusahaan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Untuk melihat seberapa besar pengaruh tersebut, Joko kemudian mencoba membandingkan pengaruh harga bakar terhadap EPS untuk PT Unggul Airlines dan perusahaan penerbangan lainnya. Perbandingan tersebut bisa dilihat pada bagan berikut ini. E.PS-----r--------r---.....-----------r----~-- _ Unggul Airlines ~- 16'.4.7 j 20..00 Con.fidenc.e Jnteryal Gambar 2.6. Penerbangan Lain 23.53- ._ ·~' I R.ataRata Har@a Baban Ba.kar Perbandingan Pengaruh Harga Bahan Bakar: Unggul Airlines dan Penerbangan Lainnya
  56. 56. 2.16 Manajemen Risiko • Bagan di atas menunjukkan bahwa EPS Unggul Airlines lebih sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar. Jika harga bahan bakar rendah, maka EPS Unggul Airlines cenderung lebih tinggi dibandingkan EPS perusahaan penerbangan lain. Tetapi jika harga bahan bakar bergerak naik, maka EPS Unggul Airlines akan jatuh cukup signifikan. Analisis tersebut menunjukkan bahwa Unggul Airlines mempunyai eksposur terhadap perubahan harga bahan bakar yang lebih besar dibandingkan dengan pesaingnya. 2. PT Unggul Airlines mempunyai rute penerbangan luar negeri (terutama ke Australia, Malaysia, Hongkong). Selama ini PT Unggul Airlines lebih banyak mengandalkan wisatawan domestik atau pebisnis domestik yang akan bepergian ke luar negeri untuk rute-rute tersebut. Yang menjadi masalah, jika Rupiah melemah terhadap mata uang asing maka, harga tiket yang biasanya ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat ($) menjadi lebih mahal. Penetapan harga dalam $ dilakukan karena PT Unggul Airlines harus membayar biaya dalam $ untuk operasi luar negeri mereka. Sebagai contoh, biaya parkir pesawat di airport, membayar tenaga kerja di Australia, Hongkong, dan lainnya, menggunakan dolar. Jika Rupiah melemah terhadap dolar, maka biaya dalam Rupiah (setelah dikonversi ke Rupiah) akan meningkat. Peningkatan biaya tersebut akan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan. Perusahaan dengan demikian menghadapi masalah ganda jika Rupiah menguat, yaitu menurunnya daya beli masyarakat Indonesia, dan meningkatnya biaya operasional rute luar negeri. Tabel berikut ini mengilustrasikan efek depresiasi Rupiah terhadap dolar. Harga tiket ($) Kurs Harga tiket (Rp) Awal periode $100 Rp10.000/$ Rp1.000.000 Akhir periode $100 Rp20.000/$ Rp2.000.000 Bia,,a Operasional $ Kurs Bia 1a Operasional Rp Awal periode $100 Rp10.000/$ Rp1.000.000 Akhir periode $100 R:>20.000/$ RJ2.000.000 Panel A tabel di atas menunjukkan efek perubahan kurs terhadap penumpang domestik. Misalkan harga tiket ditetapkan $100. Jika kurs
  57. 57. • EKMA4262/MODUL 2 2.17 adalah Rp10.000/$, maka harga tiket dalam Rupiah adalah Rp1 juta. Jika Rupiah terdepresiasi terhadap dolar, misal menjadi Rp20.000/$, maka harga tiket sekarang menjadi Rp2 juta. Dengan kata lain, harga meningkat hanya karena perubahan kurs. Peningkatan harga tersebut akan menurunkan minat penumpang domestik untuk bepergian ke luar • neger1. Panel B menunjukkan efek perubahan kurs terhadap biaya operasional rute luar negeri. Misalkan biaya operasional adalah $100. Sebelum perubahan kurs, biaya tersebut dalam Rp adalah Rp1 juta. Jika Rupiah melemah terhadap dolar, biaya tersebut akan meningkat menjadi Rp2 juta. Rute penerbangan luar negeri dengan demikian rentan terhadap perubahan kurs. PT Unggul Airlines mempunyai eksposur terhadap perubahan kurs yang signifikan. 3. PT Unggul Airlines saat ini menggunakan utang yang cukup signifikan. Utang tersebut terdiri dari dua tipe: (1) membayar bunga secara tetap, dan (2) membayar bunga mengambang. Joko Muryanto kemudian mencoba menganalisis efek perubahan tingkat bunga terhadap EPS PT Unggul Airlines. Bagan berikut ini menyajikan efek tersebut. EPS 5.45 3o/o 7°/o Libor Gambar 2.7. Pengaruh Utang Bunga Mengambang Terhadap EPS 11o/o Catatan: LIBOR adalah London Interbank Offering Rate, tingkat bunga yang dijadikan patokan di pasar Euro dolar (Eropa).
  58. 58. 2.18 Manajemen Risiko • EPS • 5.45 11o/o Gambar 2.8. Pengaruh Utang Bunga Tetap Terhadap EPS Dari kedua bagan tersebut terlihat bahwa jika tingkat bunga naik, EPS Unggul Airlines juga mengalami kenaikan. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa tingkat bunga meningkat pada kondisi perekonomian baik, di mana lebih banyak penumpang yang memanfaatkan jasa penerbangan (karena pendapatan mereka meningkat). Karena itu meskipun biaya bunga naik, efek bersih yang terjadi adalah kenaikan EPS. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa pengaruh utang dengan bunga tetap terhadap EPS ternyata lebih besar dibandingkan pengaruh utang dengan bunga variabel (mengambang). Sekilas nampaknya hasil tersebut tidak masuk akal, karena bunga tetap membayarkan bunga yang tetap, sementara bunga mengambang membayarkan bunga yang berubah. Dengan bunga mengambang, biaya bunga bisa meningkat pada saat tingkat bunga meningkat. Tetapi analisis lanjutan menunjukkan terjadinya 'hedging' secara alamiah dari utang mengambang. Pada saat kondisi ekonomi membaik, lebih banyak penumpang yang memanfaatkan jasa penerbangan. Penjualan perusahaan akan meningkat dalam situasi tersebut. Jika perekonomian meningkat, ancaman inflasi menjadi lebih besar. Bank sentral biasanya tidak suka dengan peningkatan inflasi, karena dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Bank sentral cenderung menaikkan tingkat bunga dalam situasi tersebut, untuk mengendalikan inflasi. Dengan demikian pada saat tingkat bunga meningkat, perusahaan sudah punya kas yang lebih banyak, yang bisa digunakan untuk membayar utang.
  59. 59. • EKMA4262/MODUL 2 2.19 Pada akhirnya Joko Muryanto menyimpulkan bahwa PT Unggul Airlines menghadapi tiga jenis risiko strategis yaitu: (1) risiko kenaikan harga bahan bakar, (2) risiko perubahan kurs (Rupiah melemah), dan (3) risiko perubahan tingkat bunga. Joko kemudian membuat laporan ke atasannya untuk ditindaklanjuti. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) PT A merupakan perusahaan sekuritas yang baru saja mengalami kebangkrutan karena ada kerugian yang diakibatkan salah seorang trademya (pedagang saham). Trader tersebut memegang dua fungsi sekaligus yaitu fungsi perdagangan dan fungsi pencatatannya. Akibatnya, jika ada kerugian, manajer tersebut tidak mencatat kerugian tersebut. Pada waktu untung, dia akan mencatatkan keuntungan tersebut. Perusahaan sekuritas tersebut merupakan perusahaan yang masih kecil, sehingga kerugian yang dialami langsung menghabiskan modal perusahaan tersebut, yang mengakibatkan kebangkrutan. Analisis situasi tersebut dengan menggunakan teknik analisis sekuen risiko. Informasi yang kurang bisa ditambahkan sendiri. 2) Jelaskan metode pengukuran dengan menggunakan matriks frekuensil signifikansi. Beri ilustrasi bagaimana metode tersebut bisa digunakan. 3) Jelaskan bagaimana PT Unggul Airlines mengidentifikasi risiko strategis mereka. Risiko-risiko apa saja yang menjadi kekhawatiran mereka? Bagaimana mereka mengidentifikasi dan mengukur risiko tersebut? Petunjuk Jawaban Latihan 1) Berikut ini alternatifjawaban untuk pertanyaan tersebut. Sumber risiko: Sifat manusia yang tamak Risk factors: tidak adanya pemisahan antara fungsi pencatatan dengan fungsi trading Eksposur terhadap risiko: modal perusahaan sekuritas yang tidak terlalu besar Peril: terjadi peristiwa tidak adanya pencatatan transaksi yang benar,
  60. 60. 2.20 Manajemen Risiko • Kemudian terjadi kerugian. 2) Metode frekuensi/dampak mengelompokkan risiko ke dalam dua dimensi tersebut. Sebagai contoh, misalkan kita akan mengevaluasi risiko kesalahan pencatatan oleh teler suatu bank. Kita bisa mengamati frekuensi kesalahan tersebut. Misalkan kesalahan semacam itu sering terjadi. Kemudian kita mengamati dampak dari kesalahan tersebut. Misalkan kerugian dari kesalahan tersebut. Misalkan kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Dengan informasi tersebut, kita bisa mengelompokkan risiko kesalahan tersebut ke dalam kuadran frekuensi sering dan dampak rendah. 3) PT Unggul Airlines mengidentifikasi risiko dengan jalan mendalami kegiatan bisnis yang dilakukan. Dari analisis terhadap kegiatan bisnis tersebut, diperoleh kesimpulan ada tiga risiko strategis: risiko kenaikan harga bahan bakar, risiko perubahan kurs, dan risiko kenaikan tingkat bunga. Selanjutnya PT Unggul Airlines melakukan pengukuran risiko tersebut dengan jalan mengevaluasi dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan, dengan cara melihat pengaruh risiko tersebut terhadap EPSnya. Jika harga bahan bakar naik 10%, berapa besar EPS yang baru (berapa besar penurunan EPSnya). Melalui analisis tersebut akan terlihat risiko mana yang paling besar dampaknya terhadap EPS PT Unggul Airlines. RANGKUMAN Kegiatan Belajar 1 ini membicarakan identifikasi dan pengukuran risiko secara umum. Jika kita ingin mengelola risiko dengan baik, maka risiko harus bisa diidentifikasi, dipelajari karakteristiknya, dan kemudian diukur. Pengukuran tersebut ingin melihat indikator tinggi rendahnya risiko, dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan. Jika kita bisa melakukan langkah-langkah tersebut, pengelolaan risiko bisa dilakukan lebih baik. Identifikasi risiko bisa dilakukan melalui berbagai teknik, seperti menganalisis sekuen sumber risiko ~ risk factors ~ peril ~ kerugian, mengidentifikasi sumber-sumber risiko dari lingkungan dan menganalisis risiko yang barangkali bisa muncul dari setiap sumber tersebut, mewawancarai manajer mengenai risiko-risiko yang dianggap penting bagi organisasi. Setiap risiko mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga pengukuran risikonya juga berbeda. Sebagai contoh, risiko pasar banyak

×