• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
87280501 perencanaan-sistem-drainase
 

87280501 perencanaan-sistem-drainase

on

  • 16,047 views

suces

suces

Statistics

Views

Total Views
16,047
Views on SlideShare
16,047
Embed Views
0

Actions

Likes
8
Downloads
874
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    87280501 perencanaan-sistem-drainase 87280501 perencanaan-sistem-drainase Document Transcript

    • REKAYASA LINGKUNGAN PERANCANAAN SISTEM DRAINASE Oleh : MUHAMMAD LANTIP . R NIM. 0909025030 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 0
    • DAFTAR ISIBAB I. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE JALAN RAYA 31.1. Pendahuluan1.2.Landasan Teori1.3.Contoh desain drainase1.4.BAB II. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE LAPANGAN TERBANG 162.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain DrainaseBAB III. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERTANIAN 202.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain DrainaseBAB IV. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE REL KERETA API 252.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain DrainaseBAB V. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE RUMAH TINGGAL 302.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain Drainase 1
    • BAB VI. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE RUMAH TINGGAL DAN GEDUNGSISTEM BIOPORI,SISTEM PEMBUANGAN BERTEKANAN DAN SISTEMPEMBUANGAN GRAVITASI 582.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain DrainaseBAB VII. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE LAPANGAN GOLF 652.1. Pendahuluan2.2. Landasan teori2.3. Contoh Desain Drainase 2
    • BAB I PERENCANAAN DRAINASE JALAN RAYA1.1 Pendahuluan Salah satu aspek terpenting dalam perencanaan jalan raya adalah melindungi jalan dari air permukaan dan air tanah. Dengan kata lain drainase merpakan salah satu factor terpenting dalam perencanaan pekerjaan jalan. Genangan air dipermukaan jalan memperlambat kendaraan dan memberikan andil terjadinya kecelakaan akibat terganggunya pandangan oleh cipratan dan semprotan air. Jika air memasuki struktur jalan, perkerasan dan tanah dasar (subgrade) menjadi lemah, dan hal ini akan menyebabkan konstruksi jalan lebih peka terhadap kerusakan akibat lalu lintas. Air juga berpengaruh kurang baik pada bahu jalan, lereng, saluran, dan bagian lain dari jalan. Kegagalan dapat terjadi pada saat pemotongan tebing atau pembuatan tanggul dan jembatan karena disapu oleh banjir. Kecepatan air yang besar pada saat terjadi banjir menyebabkan erosi yang berakibat pada keruntuhan jalan dan/atau jembatan. Di sisi lain, kecepatan air yang rendah pada bangunan-bangunan drainase mendorong adanya sedimentasi yang mengakibatkan terjadinya penyempitan dan penyumbatan. Penyumbatan mengakibatkan erosi lebih lanjut atau limpas dan mungkin juga keruntuhan1.2 Landasan Teori 1.2.1 Drainase Permukaan Langkah awal dalam perencanaan system drainase adalah analisis hidrologi, dalam analisis ini ditentukan karateristik debit rencana dari semua bangunan drainase, sungai dan saluran yang berada di sekitas alinyemen. Debit rencana dapat dihitung berdasarkan du pendekatan, tergantung pada data yang tersedia, yaitu analisis data debit banjir dan permodellan aliran (rainfall-runoff model). Sistem drainase permukaan pada jalan raya mempunyai tiga fungsi utama, yaitu: 3
    • 1) Membawa air hujan dari permukaan jalan ke pembuangan air 2) Menampung air tanah (dari subdrain) dan air permukaan yang mengalir menuju jalan 3) Membawa air menyebrang alinyemen jalan secara terkendaliDua fungsi yang pertama dikendalikan oleh komponen drainase memanjang,sementara fungsi ketiga memerlukan bangunan drainase melintang, seperticulvert, gorong-gorong, dan jembatan.a. Drainase Memanjang Makin lebar perkerasan makin besar daerah tangkapan air, sehingga meningkatkan kuantitas air hujan yang harus dibuang. Kemiringan memanjang untuk bahu jalan diharuskan tidak kurang dari 0,3% dan untuk daerah yang sangat datar tidak kurang dari 0,2%. Saluran terbuka di tepi jalan dapat dibedakan berdasarkan fungsinya menjadi parit atau selokan (ditchs), talang (gutters), saluran menikung keluar (turnouts), saluran curam (chutes), parit intersepsi (intercepting ditchs).b. Drainase Melintang Saluran melintang sering menelan biaya yang cukup besar, oleh karena itu sangat penting untuk melakukan analisis semua drainase melintang utama sepuanjang alinyemen jalan. Tipe drainase melintang dapat berupa : 1) Fords 2) Drifts 3) Gorong-gorong (culverts) 4) Jembatan 4
    • Tabel 1. Periode ulang debit rencana yang direkomendasikan untuk bangunan drainaseutama (Hassing, J.M. 1996) Kelas Jalan Periode ulang (tahun) Jalan Tol (expressways) 100 Jalan Arteri (arterial roads) 50 Jalan Pengumpul (collector roads) 50 Jalan Penghubung (access roads) 25 1.2.2 Drainase Bawah Permukaan Pengaruh air pada perkerasan jalan akibat penetrasi air hujan melalui retak- retak, sambungan, permukaan perkerasan, bahu jalan, hasil infiltrasi air tanah dari muka air tanah yang tinggi, akifer yang terpotong, dan sumber air lokal. Pengaruh air yang terperangkap di dalam struktur perkerasan jalan, antara lain : 1) Air menurunkan kekuatan material butiran lepas dan tana subgrade. 2) Air menyebabkan penyedotan (pumping) pada perkerasan beton yang dapat menyebabkan retakan dan kerusakan bahu jalan. 3) Dengan tekanan hidrodinamik yang tinggi akibat pergerakan kendaraan, menyebabkan penyedotan material halus pada lapisan dasar perkerasan fleksibel yang mengakibatkan hilangnya daya dukung. 4) Kontak dengan air yang menerus dapat menyebabkan penelanjangan campuran aspal dan daya tahan keretakan beton 5) Air menyebabkan perbedaan peranan pada tanah yang bergelombang. Pemilihan jenis material untuk selokan samping umumnya ditentukan oleh besarnya kecepatan rencana aliran air yang akan melewati selokan samping.Tabel 2. Kecepatan aliran air yang diizinkan berdasarkan jenis material Jenis Bahan Kecepatan aliran air yang diizinkan (m/detik) Pasir Halus 0,45 Lempung Kepasiran 0,50 Lanau Aluvial 0,60 Kerikil Halus 0,75 Lempung kokoh 0,75 5
    • Lempung padat 1,10 Kerikil kasar 1,20 Batu-batu besar 1,50 Pasangan batu 1,50 Beton 1,50 Beton bertulang 1,50Sumber : Petunjuk desain drainase permukaan jalan No. 008/T/BNKT/1990, BINA MARGA Kecepatan aliran air ditentukan oleh sifat hidrolis penampang saluran, salah satunya adalah kemiringan saluran. Pada tabel 3 dapat dilihat hubungan antara kemiringan selokan samping dan tipe material yang digunakan.Tabel 3. Hubungan kemiringan selokan samping (i) dan jenis material Jenis Material Kemiringan Selokan Samping (%) Pasir Halus Tanah asli Napal kepasiran 0 - 5 Lanau Aluvial Kerikil Halus Lempung kokoh Lempung padat 5 - 10 Kerikil kasar Batu-batu besar Pasangan batu Beton 10 Beton bertulangSumber : Petunjuk desain drainase permukaan jalan No. 008/T/BNKT/1990, BINA MARGA 6
    • Tabel 4. Hubungan kondisi permukaan dengan koefisien hambatan Kondisi lapis permukaan nd Lapisan semen dan aspal beton 0,013 Permukaan licin dan kedap air 0,020 Permukaan licin dan kotor 0,010 Tanah dengan rumput tipis dan gundul dengan permukaan sedikit 0,20 kasar Padang rumput dan rerumputan 0,40 Hutan gundul 0,60 Hutan rimbun dan hutan gundul rapat dengan hamparan rumput jarang 0,80 sampai rapatSumber : Petunjuk desain drainase permukaan jalan No. 008/T/BNKT/1990, BINA MARGATabel 5. Hubungan kondisi permukaan tanah dan koefisien pengaliran (C) Kondisi Permukaan Tanah Koefisien Pengaliran ( C )* 1. Jalan beton dan jalan aspal 0.70 - 0.95 2. Jalan kerikil dan jalan tanah 0.40 - 0.70 3. Bahu jalan : - Tanah berbutir halus 0.40 - 0.65 - Tanah berbutir Kasar 0.10 - 0.20 - Batuan masif keras 0.70 - 0.85 - Batuan masif lunak 0.60 - 0.75 4. Daerah perkotaan 0.70 - 0.95 5. Daerah Pinggir Kota 0.60 - 0.70 6. Daerah industri 0.60 - 0.90 7. Pemukiman padat 0.40 - 0.60 8. Pemukiman tidak padat 0.20 - 0.40 9. Taman dan kebun 0.45 - 0.60 10. Persawahan 0.70 - 0.80 11. Perbukitan 0.75 - 0.90 12. PegununganSumber : Sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan,Dr. Ir. Suripin, M. Eng 7
    • Tabel 6. Kemiringan saluran memanjang(is)berdasarkan jenis material No. Jenis Material Kemiringan Saluran (is %) 1. Tanah asli 0 - 5 2. Kerikil 5 - 7,5 3. Pasangan 7,5Sumber : Petunjuk desain drainase permukaan jalan No. 008/T/BNKT/1990, BINA MARGATabel 7. Kemiringan saluran memanjang(is)berdasarkan jenis materialSumber : Perencanaan sistem drainase jalan Pd. T-02-2006-B, DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM 8
    • 1.3 Contoh Perencanaan Drainase 1.3.1 Data kondisi 1.3.2 Penentuan daerah layanan Trase jalan pada peta rupabumi Panjang segmen 1 saluran (L)= 200m ditentukan dari rute jalan yang telah diplot di peta topografi daerah tersebut memungkinkan adanya pembuangan kesungai di ujung segmen Dianggap segmen saluran ini adalah awal dari sistem drainase sehingga tidak ada debit masuk (Q masuk) selain dari A1,A2 ,A3 Gorong-gorong menggunakan beton 9
    • Direncanakan di ujung segmen aliran air akan dibuang ke sungai melalui gorong-gorong melintang badan jalan Perencanaan gorong-gorong, menampung debit air dari segmen yang ditinjau dan segmen sesudah itu.1.3.3 Kondisi eksisting permukaan jalan Panjang saluran drainase (L) = 200 meter L1 : perkerasan jalan (aspal) = 5 meter L2 : Bahu jalan = 2 meter L3 : bagian luar jalan (perumahan) = 10 meter Selanjutnya tentukan besarnya koefisien C (tabel 2) Aspal : L1 , koefisien C1 = 0,70 Bahu Jalan : L2 , Koefisien C2 = 0,65 Perumahan : L3 , Koefisien C3 = 0,60 Tentuan luas daerah Aspal A1 = 5,00 m’ x 200,00 m’ = 1000 m2 Bahu jalan A2 = 2,00 m’ x 200,00 m’ = 400 m2 10
    • Perumahan A3 = 10,00 m’ x 200,00 m’ = 2000 m2 fk Perumahan padat = 2,0 Koefisian pengaliran rata-rata1.3.4 Waktu konsentrasi (Tc) Tc = t1 + t2 (1) t1 =( ) (2) √ t2 = (3) Ket : lo : jarak titik terjauh ke fasilitas drainase (m) nd : Koefisien hambatan is : Kemiringan daerah pengairan V : Kecepatan air rata-rata pada saluran (m/dtk) Tc : Waktu konsentrasi L : Panjang saluran (m)Sumber : Pedoman perencanaan sistem drainase jalan Pd. T-02-2006-B, DEPARTEMEN PU √ √ √ t1 dari badan jalan = 1,00 + 0,86 = 1,86 menit t1 dari perumahan = 1,04 menit 11
    • 1.3.5 Data curah hujan Data curah hujan dari pos pengamatan BMG sebagai berikut:1.3.6 Tentukan intensitas curah hujan maksimum Menentukan curah hujan maksimum dengan memplotkan harga T c = 4,06 menit, kemudian tarik garis keatas sampai memotong lengkung intensitas hujan rencana pada periode ulang 5 tahun didapat : I = 190 mm/jam. 12
    • 1.3.7 Hitung besarnya debit Perhitungan ini menggunakan rumus sebagai berikut : Q = 0,00278 x C x I x A…………..(2.l) (Suripin, 2004:79) Keterangan : Q = Debit banjir rencana (m/dt) C = Koefisien pengaliran (tabel) I = Intensitas curah hujan (mm/jam) A = Daerah pengaliran (m2) ⁄ ⁄1.3.8 Penentuan dimensi saluran Penentuan dimensi diawali dengan penentuan bahan  Saluran direncanakan dibuat dari beton dengan kecepatan aliran yang diijinkan 1,50 m/detik ( Tabel 2 )  Bentuk penampang : segi empat  Kemiringan saluran memanjang yang diijinkan : sampai dengan 7,5% (Tabel 6)  Angka kekasaran permukaan saluran Manning (dari Tabel 7) → n = 0,0131.3.9 Tentukan kecepatan saluran (V) < kecepatan ijin dan kemiringan saluran 13
    • V = 1,3 m/detik ( < V ijin = 1,50 m/detik ) iS= 3% (disesuaikan dengan kemiringan memanjang jalan) Keterangan : V = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik) Q = Debit banjir rencana (m3/dtk) n = Koefisien kekasaran R = Radius hidrolik S = Kemiringan saluran A = Luas saluran (m2) P = Keliling basah saluran (m) Dengan dimensi : h =0,5m maka R = A/P = (hxb)/(2h+b) = 0,5b/(1+b) Dari persamaan rumus didapat : maka lebar saluran (b) = 0,7m 1.3.10 Tentukan tinggi jagaan saluran √ √Jadi gambar dimensi saluran drainase pemukaan : 14
    • 15
    • BAB II PERENCANAAN DRAINASE LAPANGAN TERBANG2.1 Pendahuluan Airport adalah area daratan atau air yang secara regular dipergunakan untuk kegiatan tinggal landas (Take off) dan mendarat (landing) pesawat udara, dilengkapi dengan fasilitas untuk pendaratan, parkir pesawat, perbaikan pesawat,naik turun penumpang, dan barang sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. Sistem drainase pada Bandar udara sangat diperlukan untuk menjaga keselamatan moda transportasi, tidak mengurangi skid resistance ban, dan akibat buruk lainnya.2.2 Landasan Teori Fungsi drainase lapangan terbang: 1. Intersepsi dan mengalirkan air permukaan tanah yang berasal dari lokasi d sekitar lapangan terbang 2. Membuang air permukaan dari lapangan terbang 3. Membuang air bawah tanah dari lapangan terbang Drainase permukaan, berfungsi untuk menangani air permukaan di sekitar lapangan terbang , khususnya yang berasal dari hujan. Langkah perencanaan: a. menentukan debit rencana (berupa aliran permukaan / runoff); b. menentukan layout drainase permukaan Drainase bawah permukaan berfungsi untuk membuang air dari base course, membuang air dari subgrade di bawah permukaan, menerima, mengumpulkan, dan membuang air dari mata air atau lapisan tembus air. Untuk saluran bawah tanah dapat dipakai pipa berlubang dengan bahan pipa terbuat dari metal, beton, PVC, dll. Lubang-lubang biasanya meliputi sepertiga dari keliling pipa. Berdasarkan pengalaman, pipa dengan diameter 6 inch (15 cm) sudah cukup untuk mengalirkan air. Dalam suatu perencanaan dan perancangan drainase lapangan terbang, perlu diperhatikan hal-hal berikut di bawah ini :  Saluran drainase harus berada di bawah muka tanah dan tidak memotong landasan pacu, agar pada saat perawatan tidak mengganggu.  Tanah di bawah runway, taxiway dan apron harus mempunyai daya dukung yang cukup kuatterhadap beban pesawat terbang yang lalu di atasnya. 16
    •  Air dari luar wilayah landasan terbang tidak boleh membebani sistem drainase lapangan udara. Genangan air akibat air hujan dan tebal salju maksimum 10 cm di atas runway dan harus segera dapat dikeringkan.  Kemiringan runway kecil sekali yaitu maksimum 1 % ke arah memanjang dan 1,5 % ke arah melintang, denagn kemiringan shoulder ke arah melintang maksimum 2,5 – 5 %.  Sistem drainase lapangan terbang harus baik. Tidak diperkenankan ada selokan terbuka, kecuali selokan keliling lapangan terbang (interception ditch) yang menampung air yang akan memasuki lapangan terbang dari daerah sekelilingnya.  Saluran drainase lapangan terbang didesain dengan intensitas hujan 1 kali dalam 5 tahun terlampaui. Yang berarti dalam waktu 5 tahun boleh terjadi banjir 1 kali atau banjir dengan periode ulang 5 tahun.2.3 Contoh Perencanaan Drainase Menurut peraturan FAA: - Untuk lapangan terbang sipil digunakan hujan rencana dengan kala ulang 5 tahun - Untuk lapangan terbang militer digunakan hujan rencana dengan kala ulang 2 tahun - Penentuan layout sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta kontur landasan pacu (runway), landasan taksi (taxiway), dan apron. - Layout harus dapat menghindari gerusan dan pengendapan saluran. - Jika digunakan saluran bulat maka diameter minimumnya tidak boleh kurang dari 12 inchi (30 cm). - Jarak antar inlet (lubang pemasukan) ke arah memanjang berkisar antara 60 – 120 m sedangkan jauhnya tidak lebih dari 75 ft (22,5 m) dari tepi perkerasan. - Inlet pada apron diletakkan pada perkerasan. Pedoman acuan perencanaan biasanya mengacu pada: FAA (Federal Aviation Administration) ICAO (International Civil Aviation Organization) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 70 Tahun 2001 tentang kebandarudaraan Kepmen perhubungan No.KK 44 Tahun 2002 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional 17
    • 2.3.1 Contoh Gambar Rencana DrainaseTampak atas landacan pacuKet : : Inlet (saluran pemasukan air permukaan) : jalur drainase 18
    • Detail saluran bawah permukaanPenampang Melintang Runway Pipa pembuangan Aggregat halus Aggregat kasar Pipa bawah tanah 19
    • BAB III PERENCANAAN DRAINASE PERTANIAN3.1. Pendahuluan Dalam merancang bangun suatu drainase agar tidak terjadi kelebihan pada lahan pertanaman, yang perlu diperhatkan yaitu jenis tanah dan lahan yang akan diberi saluran drainase, kondisi iklim terutama curah hujan, kedalaman permukaan air tanah yang sesuai untu jenis tanaman yang dibudidayakan. Dengan adanya drainase yang baik, maka tanaman tidak akan mengalami genangan berlebih sehingga produktivitas tanaman meningkat. Pada pelaksanaannya penggalian-penggalian saluran dan penempatan pipa hendaknya mentaati apa yang telah dirancangkan, baik secara random, paralel, atau secara mengikuti arah garis kontur atau secara memotong lereng seperti yang telah dirancangkan oleh ahli irigasi. Dengan demikian saluran drainase minimal sebaiknya disesuaikan dengan saluran air irigasi, agar lebih menguntungkan terutama dalam pemeliharaannya di kemudian hari. Saluran irigasi dan drainase diberi jalan inspeksi, untuk melancarkan pengawasan dan pemeliharaan saluran-saluran tersebut. Penggalian secara random (tidak teratur) diterapkan pada lahan-lahan pertanaman dengan penurunan yang cukup dalam danlebar. SAluran-saluran yang digali menghubungkan suatu penurunan dengan penurunan lainnya. Sedangkan pada lahan-lahan pertanaman yang yang merupakan lahan penurunan dangkal sampai hamper dangkal dengan topografi teratur, penggalian seluruh drainase dibuat sejajar antara satu dengan yang lainya. Penggalian saluran drainase pada lahan pertanaman yang berkemiringan dilakukan dengan jalan memotong lereng atau mengikuti garis kontur, sehingga kecepatan aliran airnya dapat terbatasi dan erosi dapat dicegah. 20
    • 3.2. Landasan Teori Agar dapat melakukan pekerjaan untuk mengatasi masalah pengatusan pertanian dengan baik haruslah dilakukan tindakan survai dan penyidikan kondisi lahan serta mengkaji data historis yang tersedia. Dalam melakukan survai dan penyidikan ini dibutuhkan pengumpulan semua data yang ada termasuk peta rancangan dan catatan-catatan yang berhubungan dengan masalah pengatusan yang ada serta wawancara dengan nara sumber. Data yang telah terkumpul ini kemudian dievaluasi untuk dapat dipakai mengidentifikasi masalah. Data yang diperlukan antara lain : 1. Peta, termasuk peta situasi dan topografi, peta tanah, peta geologi, peta air tanah, tata guna tanah dan tata jaringan irigasi dan drainase 2. Data : data klimat termasuk curah hujan, data debit sungai, data pola tanam dan tata tanam, hasil dan produksi tanaman 3. Data lainnya yang berhubungan dengan masalah tersebut, antara lain ketersediaan dan kapasitas outlet saluran pengatus, data ketersediaan pompa beserta suku cadang dan bengkel perbaikan3.3. Contoh perencanaan Berikut adalah contoh perencanaan saluran irigasi-drainase pertanian. Saluran pembuang dilambangkan dengan Saluran Induk dilambangkan dengan 21
    • 22
    • 23
    • 24
    • BAB IV PERENCANAAN DRAINASE REL KERETA API4.1. Pendahuluan Sistem pematusan/drainase, yaitu sistem pengaliran pembuangan air disuatu daerahjalan rel agar tidak sampai terjadi penggenangan.Sistem Drainase berfungsi : a. Mengurangi pengaruh air yang dapat merubah konsistensi tanah sehingga tubuh jalan selelu dalam kondisi firm (mantap, keras dan padat). Akibatnya pembentukan kantong-kantong balas tidak terjadi. b. Tidak ada genangan air tubuh jalan), di mana ini akan menyebabkan terjadinya pembuangan lempung dan gaya (efek) pompa disaat kereta api lewat yang bisa maikin memperlemah kestabilan dan kekuatan jalan rel. c. Perjalanan kereta ap tidak terganggu Perencanaan pematusan harus dikonsultasikan secara seksama kestaf perencanaan jalan K.A. 25
    • Ada 3 (tiga) macam Drainase, yaitu:a. Pematusan permukaan (Surface Drainage)b. Pematusan bawah tanah (Sub- Drainage)c. Pematusan lereng (Drainage of Slope)Diperlukan tidaknya salah satu atau semua dari ketiga macam drainase tersebut harusdianalisa dengan seksama Rel Balast REL BANTALAN REL BALAST. 26
    • 4.2. Landasan TeoriTujuan drainase yang baik pada rel kereta:  Menghindari genangan  Mencegah erosi pada ballast  Menjaga badan jalan kereta tetap stabil  Menjaga kuat daya dukung konstruksi Dasar-dasar perencanaan, sejajar dengan jalan kereta api dibuat selokan drainase di kiri dan kanan badan rel, pada ballast atau alas jalan bagian bawahnya diberi konstruksi drain atau batu kosongan melintang jalan dengan jarak antara 6m diselang-seling kiri kanan, untuk mengeringkan dengan segera air hujan yang meresap. Talud pada jalankereta api di atas timbunan juga harus dilindungi terhadap erosi dengan membuat konstruksi drain terbuka, batu kosongan yang dilapisi ijuk untuk menjaga butir-butir tanah tidak ikut larut terbawa air hujan. Konstruksi ini berfungsi memperkuat talud. Drain batu kosongan ini pada bagian bawahnya disambung dengan selokan drainase yang sejajar sumbu jalan. Kea rah memanjang juga harus diperhatikan mengenai kemiringan selokan, minimal 2%, maksimal 10%. Jika kemiringan > 10% harus dibuat konstruksi bertangga agar air hujan tidak menimbulkan erosi. Penampang Melintang rel kereta 27
    • Tampak samping, batu kosongan melintang selang-seling4.3. Contoh Gambar Rencana 28
    • 29
    • BAB V PERENCANAAN SISTEM DRAINASE RUMAH TEMPAT TINGGAL5.1. Pendahuluan Dalam pembuatan tempat tinggal dan perumahan, perlu diperhatikan saluran yangakan dibuat. Saluran drainase merupakan suatu jaringan untuk menampung limpasanpermukaan dan limbah rumah tangga. Perumahan Puri Edelweis dimana perumahan inimerupakan salah satu perumahan besar di kota Probolinggo, masih memiliki kekurangandalam hal saluran drainase terutama saluran primernya. Masih banyak terjadi kerusakan padadinding salurannya dan dimensi salurannya kurang sesuai dengan perencanaan.Berdasarkanuraian sebelumnya, maka akan direncanakan jaringan drainase yang sesuai dengan daerahtersebut sehingga nantinya dapat berfungsi dengan baik dan tidak merugikan mayarakatsekitar.5.2. Landasan TeoriDrainaseDrainase atau disebut juga saluran pembuangan memiliki fungsi sebagai saluran untukmengalirkan air buangan atau air kotor dan juga limbah yang berasal dari rumah. Dalambidang ketekniksipilan, secara umum drainase diartikan sebagai suatu tindakan untukmengurangi kelebihan air baik dari air hujan, rembesan, maupun irigasi.Macam-macam Drainase1. Menurut Asalnya, menurut asalnya drainase dibedakan menjadi saluran alam (natural) dan saluran buatan (artificial).2. Menurut Letak Saluran 1. Drainase Permukaan a. Drainase Memanjang b. Drainase Melintang 2. Drainase Bawah Permukaan Drainase bawah permukaan mempunyai fungsi utama yaitu untuk menampung dan membuang air yang masuk ke dalam strukur jalan, sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan pada jalan (Suripin, 2004:272). 30
    • 3. Macam Drainase Menurut Konstruksi  Saluran terbuka  Saluran tertutup4. Menurut Fungsi Drainase a) Single Purpose b) Multi PurposeSyarat – Syarat Perencanaan Syarat itu meliputi tegangan geser, kecepatan ijin, tegangan geser, jenis aliran, danbanjir rencana.Data-data yang DibutuhkanData-data yang dibutuhkan dalam perencanaan saluran drainase tersebut meliputi:1. Data hidrologi, yaitu data curah hujan dari stasiun hujan yang terdekat dengan lokasi2. Peta topografi3. Peta situasiLay Out Jaringan DrainasePenentuan lay out sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta kontur.Analisis HidrologiPenyiapan Data Curah Hujan Data curah hujan yang digunakan dalam perencanaan drainase adalah data curah hujanharian maksimum minimal 10 tahun terakhir dari 3 stasiun hujan terdekat. (Loebis, 1984:8)Uji Konsistensi Uji konsistensi adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek konsisten dantidak konsistennya suatu data hujan yang akan digunakan dalam suatu perencanaan(Soemarto, 1987:38). Agar data hujan tersebut konsisten, maka harus dikalikan dengan faktor koreksi.Rumus yang dipakai adalah : tanβ fk  ………………. ..................................(2.a) (Soemarto, 1987 : 38) tanγ Keterangan : fk = Faktor koreksi. 31
    • tanβ = Arah garis lurus sebagai trend baru. tanγ = Arah garis lurus sebagai trend lama.Uji Homogenitas Setelah uji konsistensi dilakukan maka dilanjutkan dengan uji homogenitas yaitu suatupengujian yang dilakukan untuk mengecek homogen atau tidak homogennya suatu data yangakan digunakan dalam perencanaan. Suatu kumpulan data yang akan dianalisis harushomogen. Uji homogenitas dilakukan dengan meninjau apakah plot titik (N, TR) pada kertasgrafik homogenitas berada pada batas yang homogen. Keterangan : N = Jumlah data. R 10 TR’ = .x.T R sebagai ordinat. ..........................(Soemarto, 1987 : 38) R R10 = Curah hujan rancangan dengan kala ulang 10 tahun. R = Rata-rata curah hujan. TR = Kala ulang untuk R.Curah Hujan Daerah Curah hujan daerah merupakan curah hujan rata-rata di seluruh daerah yangbersangkutan dan bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Tinggi rata-rata curah hujandidapatkan dengan mengambil harga rata-rata hitung (arithmetic mean) karena data yangdigunakan adalah curah hujan harian pada penakar hujan dalam areal tersebut. Jadi : d1 .  .d 2 .  .d 3 ................  d n n d d   1 …….. (2.b) (Soemarto, 1987 : 31) n 1 n Keterangan : d = Tinggi curah hujan rata-rata areal d1, d2, d3…….dn = Tinggi curah hujan pada pos penakar 1, 2, 3……n n = Banyaknya pos penakarPengolahan Data 32
    • Curah Hujan RancanganMetode yang digunakan dalam menghitung curah hujan rancangan adalah Log Pearson tipeIII a. Ubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = log X b. Hitung harga rata-rata : n  logXi i l Log X = …………………. (2.c) n c. Hitung harga simpangan baku : Si =  (logXi  logX) 2 ………………… (2.d) n 1 d. Hitung koefisien kepencengan. n. (logXi  logX) 2 Cs = ………………… (2.e) (n  1)(n  2)Si 3 e. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ualang dengan rumus f. Log X = Log X + G. S…………………… (2.f) g. Harga G tergantung dari koefisien skew (Cs) dan tingkat probabilitasnya, pada tabel yang merupakan nilai – nilai distribusi log pearson III. h. Menghitung harga curah hujan rancangan dengan periode ulang tertentu dengan antilog X. i. X = Invers log XUji kecocokan Penguji parameter digunakan untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi sampeldata terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan ataumewakili distribusi frekuensi tersebut. Pengujian parameter yang sering dipakai adalah ujiChi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov.Uji Chi-KuadratPengambilan keputusan dari uji ini menggunakan parameter X 2, yang dapat dihitung denganrumus berikut : G O i  E i 2 ……………….. (2.g) X2  Σ h (Suripin, 2004:57) i 1 Ei Keterangan : X2 h = Parameter Chi-Kuadrat terhitung. 33
    • G = Jumlah sub kelompok. Oi = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i. Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i.Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut:1. Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan dapat diterima.4. Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan tidak dapat diterima.5. Apabila peluang berada diantara 1-5%, maka tidak mungkin mengambil keputusan, misal perlu data tambahan.Uji Smirnov-KolmogorovUji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-parametric,karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Prosedur pelaksanaannyaadalah sebagai berikut :1. Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut X1 = P(X1) X2 = P(X2) X3 = P(X3), dan seterusnya.2. Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya) X1 = P(X1) X2 = P(X2) X3 = P(X3), dan seterusnya3. Dari kedua nilai tersebut, tentukan selisih terbesarnya antar peluang pengamatan dengan peluang teoritis. D = maksimum (P(Xn) – P’(Xn))4. Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test) tentukan harga Do.Intensitas Curah Hujan 34
    • Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Intensitas CurahHujan dapat dibuat dengan Rumus Mononobe, rumus ini digunakan apabila data hujanjangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian. Rumus yang digunakanadalah: 2 R  24  3 I  24   ……………….(2.h) (Suripin, 2004 : 67) 24  t  Keterangan : I = Intensitas curah hujan (mm/jam). R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm). t = Lamanya curah hujan (jam).Perhitungan Waktu Konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mengalir darititik terjauh pada suatu daerah pengaliran menuju titik tertentu yang ditinjau sehingga akandidapatkan debit yang maksimum. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannyamenjadi dua komponen yaitu waktu konsentrasi terdiri dari waktu yang dibutuhkan oleh airhujan untuk mengalir diatas permukaan tanah ke saluran yang terdekat (to) dan waktu yangdiperlukan air hujan mengalir di dalam saluran (td), sehingga : t c  .t o .  .t d (Suripin,2004 : 82) Untuk to dapat dihitung dengan rumus : 2 n  to   .x.3,28.x. L.x. 3  menit …………(2.i)  (Suripin, 2004 : 82)  S Sedangkan untuk td dapat dihitung dengan rumus : Ls td  menit………………………….. (2.j) (Suripin, 2004 : 82) 60V Keterangan : tc = Waktu konsentrasi dalam jam. to = Waktu limpasan menuju saluran (menit). td = Waktu aliran pada saluran dari satu titik ke titik lainnya (menit). 35
    • n = Angka kekasaran Manning S = Kemiringan lahan. L = Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m). Ls = Panjang lintasan lahan di dalam saluran/sungai (m). V = Kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).Debit Banjir Rancangan Besarnya debit banjir rencana air hujan diatas permukaan tanah (limpasan hujan) kesaluran air hujan air hujan yang ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :1. Luas permukaan daerah aliran.2. Jenis permukaan tanah.3. Intensitas hujan yang terjadi.4. Nilai koefisien kekasaran pengaliran Perhitungan ini menggunakan rumus sebagai berikut : Q = C x I x A ……………..(2.k) (Suripin, 2004:79) Keterangan : Q = Debit banjir rencana (m/dt) C = Koefisien pengaliran (tabel) I = Intensitas curah hujan (mm/jam) A = Daerah pengaliran (m2) Jika A dalam Ha maka : Q = 0,00278 x C x I x A…………..(2.l) (Suripin, 2004:79)Debit Air Kotor Debit air kotor adalah debit yang berasal dari buangan aktivitas penduduk sepertimandi, cuci dan lain-lain baik dari lingkungan rumah tangga, bangunan (fasilitas) umum atauinstansi, bangunan komersial, dan sebagainya. 36
    • Tabel Pembuangan Limbah Cair Rata-Rata Per Orang Setiap Hari Volume Limbah Beban BOD Jenis Bangunan Cair (gram/orang/hari) (liter/orang/hari)Daerah Perumahan : - -- Rumah besar untuk keluarga tunggal. 400 100- Rumah tipe tertentu untuk keluarga tunggal.- Rumah untuk keluarga ganda (rumah susun). 300 80- Rumah kecil (cottage).(Jika dipasang penggilingan sampah, kalikan BOD 240 – 300 80dengan faktor 1,5) 200 80Perkemahan dan Motel :- Tempat peristirahatan mewah. 400 – 600 100- Tempat parkir rumah berjalan (mobile home).- Kemah wisata dan tempat parkir trailer. 200 80- Hotel dan motel. 140 70 200 50Sekolah :- Sekolah dengan asrama. 300 80- Sekolah siang hari dengan kafetaria.- Sekolah siang hari tanpa kafetaria. 80 30 60 20Restoran :- Tiap pegawai. 120 50- Tiap langganan.- Tiap makanan yang disajikan. 25 – 40 20 15 15Terminal transportasi :- Tiap pegawai. 60 25- Tiap penumpang. 20 10 37
    • Rumah sakit. 600 - 1200 30 Kantor 60 25 Teater mobil (drive in theatre), per tempat duduk. 20 10 Bioskop, per tempat duduk. 10 - 20 10 Pabrik, tidak termasuk limbah cair industri dan 60 - 120 25 cafeteria.Sumber : Soeparman dan Suparmin, 2001:30Analisis HidrolikaBentuk-bentuk Saluran Drainase Dalam perencanaan ini, bentuk yang digunakan adalah :1. Segiempat/persegi Gambar 1: Penampang Persegi2. Lingkaran D h Gambar 2: Penampang LingkaranPerencanaan Dimensi SaluranRumus kecepatan rata-rata pada perhitungan dimensi penampang saluran menggunakanrumus Manning, karena rumus ini mempunyai bentuk yang sederhana tetapi memberikanhasil yang memuaskan. Untuk menghitung saluran dapat dihitung dengan menggunakanrumus-rumus sebagai berikut : 38
    • Manning 2 1 1 V= R 3 . S 2 …………………….(2.m) n A R= …………………………….(2.n) P Q= V . A ………………………......(2.o) Keterangan : V = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik) Q = Debit banjir rencana (m3/dtk) n = Koefisien kekasaran R = Radius hidrolik S = Kemiringan saluran A = Luas saluran (m2) P = Keliling basah saluran (m)Tinggi Jagaan (Free Board) Jagaan suatu saluran adalah jarak vertikal dari puncak saluran ke permukaan air padakondisi rencana. (Chow 1985:158 )Kecepatan Maksimum dan Minimum yang Diijinkan1. Kecepatan Maksimum adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak akan menimbulkan erosi pada tubuh saluran. (Chow 1984:164) Kecepatan-kecepatan maksimum pada aliran sub kritis, dalam pemakaiannya dianjurkan seperti dalam KP-03, 1986:39, sebagai berikut : - Pasangan batu : 2 m/dt - Pasangan beton : 3 m/dt2. Kecepatan Minimum adalah kecepatan terendah yang tidak akan menimbulkan sedimentasi dan mendorong pertumbuhan tanaman air dan ganggang. Untuk kecepatan rata-rata yang diizinkan kurang dari 0,6 m/det biasanya cukup untuk mencegah tumbuhnya tanaman air yang dapat menurunkan kapasitas angkut atau kapasitas hantaran suatu saluran (KP-03, 1986:79). 39
    • Jenis Aliran Aliran dikatakan kritis apabila kecepatan aliran sama dengan kecepatan kritis (kecepatan yang diijinkan ). Jika kecepatan aliran lebih kecil daripada kecepatan kritis (Fr <1), maka alirannya disebut subkritis, sedangkan jika kecepatan alirannya lebih besar daripadakecepatan kritis, maka alirannya disebut superkritis (Fr > 1).(Anggrahini,1997:47) Parameter yang menentukan ketiga jenis aliran tersebut adalah bilangan Froude (Fr)yaitu perbandingan antara kecepatan dengan gaya gravitasi. Bilangan Froude untuk salurandidefinisikan sebagai : V (Anggrahini,1997:47) Fr  g.x.h Keterangan : V = Kecepatan aliran (m/dt), h = Kedalaman aliran (m), g = Percepatan gravitasi (m/dt2)Jenis-jenis PasanganBanyak bahan yang dapat dipakai untuk pasangan saluran. Tetapi pada prakteknya diIndonesia hanya ada tiga bahan yang dianjurkan pemakaiannya:- Pasangan batu- Beton, dan- Tanah (KP-03, 1986:36).Bangunan PelengkapGorong-gorong x y r D d5.3. Contoh Gambar DesainPerhitungan Curah Hujan Daerah 40
    • Curah hujan daerah adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan,bukan curah hujan pada satu titik tertentu. Data yang digunakan dalam perhitungan ini adalahdata akhir hasil konsistensi yang homogen. Dalam perencanaan ini metode perhitungannyadigunakan metode rata-rata aljabar karena data yang digunakan merupakan data hujan harianmaksimum tiap tahun. Tabel Perhitungan Curah Hujan Daerah RATA- No Tahun STASIUN STASIUN STASIUN RATA Wonoasih Jorongan Triwung 1 1997 98 105 142 115,000 2 1998 92 54 118 88,000 3 1999 64 80 92 78,667 4 2000 96 91 84 90,333 5 2001 102 90 127 106,333 6 2002 87 76 118 93,667 7 2003 111 102 101 104,667 8 2004 127.647 78 163.881 123,176 9 2005 69.276 100 118.279 95,852 10 2006 54.523 63 106.879 74,801Pengolahan DataPerhitungan Curah Hujan RancanganMetode Log Person Setelah menghitung curah hujan daerah kemudian dihitung besarnya curah hujanrancangan dengan Metode Log Pearson type III. Tabel 4: Perhitungan Curah Hujan Daerah dengan Log Person Tipe III 41
    • Log X - Log X (Log X - (Log X - LogCurah X P(%) Log X Log X)² X)³Hujan 115 123,176 9,090909 2,091 0,108 0,0118 0,00127 88 115,000 18,182 2,061 0,079 0,0062 0,0004978,667 106,333 27,273 2,027 0,045 0,0020 0,0000990,333 104,667 36,364 2,020 0,038 0,0014 0,00005106,333 95,852 45,455 1,982 0,000 0,0000 0,0000093,667 93,667 54,545 1,972 -0,011 0,0001 0,00000104,667 90,333 63,633 1,956 -0,026 0,0007 -0,00002123,176 88,000 72,727 1,944 -0,038 0,0014 -0,0000595,852 78,667 81,818 1,896 -0,086 0,0074 -0,0006474,801 74,801 90,909 1,874 -0,108 0,0117 -0,00127 jumlah 19,821 jumlah 0,0427 -0,00008 Rata2 1,982 s 0,0689 Cs -0,03Uji kecocokanUji Chi-KuadratUji Chi-Kuadarat digunakan untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telahdipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Tabel 5: Perhitungan Chi-Kuadrat X X (X em-X n Tahun empiris teoritis t)2/X t 42
    • a B c d e 1 1999 123,176 130,000 0,3582 2 2000 115,000 119,120 0,1425 3 2002 106,333 111,500 0,2394 4 2006 104,667 106,000 0,0168 5 2003 95,852 96,850 0,0103 6 2005 93,667 95,620 0,0399 7 2001 90,333 94,032 0,1455 8 1998 88,000 92,000 0,1739 9 2004 78,667 80,130 0,0267 10 1997 74,801 77,435 0,0896 970,496 ∑x² 1,2428Diperoleh ΣX2 tabel = 14,067 (derajat kepercayaan 5 %)ΣX2 tabel lebih besar daripada ΣX2 hitung, maka distribusi yang dipakai sesuai.Uji Smirnov-Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-parametric,karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Tabel 6: Uji Smirnov Kolmogorov No Ch P P [ΔP] Empiris Empiris Teoritis 1 123,176 9,091 6,0 0,031 2 115,000 18,182 11,3 0,069 3 106,333 27,273 26,0 0,013 4 104,667 36,364 30,9 0,055 43
    • 5 95,852 45,455 58,0 -0,125 6 93,667 54,545 66,0 -0,115 7 90,333 63,636 70,2 -0,066 8 88,000 72,727 72,0 0,007 9 78,667 81,818 88,1 -0,063 10 74,801 90,909 97,0 -0,061 Dilihat dari tabel nilai ∆P yang paling maksimum adalah 0,069Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test)n = 10Do = 0,410---- 0,069 < 0,410 (Sesuai)Perhitungan Waktu KonsentrasiContoh perhitungan blok NC saluran 7 - 81. Blok NC Saluran 7 - 82. Jenis saluran = Tersier→TR = 5 Tahun3. Ls (panjang saluran) = 30,000 m4. L (panjang limpasan) = 15,000 a. Jalan = 4,5 m (jarak as jalan ke saluran) b. Blok = 15,000 m (panjang bagian belakang rumah ke saluran)5. A (Luas) = 450,000 m2 a. Jalan = 135,000 m2 b. Blok = 450,000 m26. S (kemiringan limpasan) a. Jalan = 0.02 b. Blok = 0,0057. n (Koefisien kekasaran) a. Jalan = 0.013 b. Blok = 0,02 44
    • 8. C (koefisien limpasan) a. Jalan = 0,8 aspal b. Blok = 0,69. V (kecepatan rata-rata aliran dalam saluran) Karena kecepatan rata-rata dalam saluran = a. Jalan = 0,6 m/dt b. Blok = 0,4 m/dt10. R24 (curah hujan maksimum harian selam 24 jam (mm)) a. Jalan = 109,647 mm. b. Blok = 109,647 mm.11. to (waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan (waktu limpasan) menuju saluran terdekat) 2 n  to   .x.3,28.x. L.x. 3    S 2 n  to jalan   .x.3,28.x. L.x. 3    S 2 0,016  to jalan   .x.3,28.x. 6,000.x.  3 0,020    = 1,095 menit 2 0,030  toblok   .x.3,28.x. L12,750x.  3 0,005    = 1,025 menit.12. td (waktu aliran pada saluran dari satu titik ketitik lainya) Ls td  menit 60V 60 = satuan konversi dari jam ke menit. 108,750 td jalan  60.x.0,600 = 0,833 menit. 45
    • 108,750 td blok  60.x.0,400 = 1,25 menit tc (waktu konsentrasi dalam jam) t c  .t o .  .t d tc jalan = to + td = 1,095 + 0,833 = 1.929 menit = 0,032 jam. tc blok = to + td = 1,025 + 1,25 = 2,275 menit = 0,038 jam.Perhitungan Intensitas Curah HujanUntuk menghitung intensitas curah hujan digunakan rumus Mononobe, karena data yang adaadalah data curah hujan harian.Curah Hujan (R24) pada kala ulang 10 tahun = 117,489 mm.Rumus Mononobe 2 R  24  3 I  24   (Suripin,2004:67) 24  t  Keterangan : I = Intensitas curah hujan (mm/jam). R24 = Curah hujan maximum dalam 24 jam (mm). t = Lamanya curah hujan (jam). 46
    • Contoh perhitungan 2 R  24  3I  24   24  t  2 117,489  24  3I jalan    24  0,032  = 376,817 mm/jam. 2 117,489  24  3I blok    24  0,038  = 337,521 mm/jamDebit Banjir RancanganContoh perhitungan pada blok C1 saluran 7 – 8. Jika A dalam Ha maka : Q = 0,00278 x C x I x A Q blok = 0,00278 x 0,600 x 337,521 x 0,045 = 0,025 m3/dtk. Q jalan = 0,00278 x 0,800 x 376,817 x 0,014 = 0.011 m3/dtk. Q total = 0,025 + 0,011 = 0,036 m3/dtk.Debit Air KotorDebit air kotor diperhitungkan sebagai berikut:Debit air buangan tiap orang = 300 lt/orng/hari = 0,003472222 lt/org/jam = 0,000003472 m3/org/detik.Pada saluran 7 – 81. Jenis saluran : tersier2. Jumlah rumah : 2 unit3. Tipe rumah : 60 47
    • 4. Banyaknya penghuni : 5 orang/rumah5. Jumlah penghuni total : 10 orang6. Debit air kotor (Q) : 10 x 0,000003472 : 0,0000347 m3/dtk.Perhitungan Debit Kumulatif Debit total saluran drainase adalah penjumlahan dari debit air hujan dan debit air kotordari rumah tangga.Contoh perhitungan 1 untuk saluran 7 - 81. Saluran :7–82. Saluran sebelumnya :-3. Jenis saluran : Tersier4. Limpasan dari : blok dan jalan5. Debit aliran air hujan(Q1) :  Blok : 0,025 m3/detik.  Jalan : 0,010 m3/detik.6. Debit aliran air kotor(Q2) : 0,0000347m3/detik7. Debit total : Q1 + Q2 : (0,025+0,010) + 0,0000347 : 0,035 m3/detik.Contoh perhitungan 21. Saluran :8–92. Saluran sebelumnya :7–83. Q 7 – 8 : 0,0367 m3/detik.4. Jenis saluran : Sekunder5. Limpasan dari : blok dan jalan6. Debit aliran air hujan(Q1) :  Blok : 0,042 m3/detik.  Jalan : 0,016 m3/detik. 37. Debit aliran air kotor(Q2) : 0,0000694 m /detik 48
    • 8. Debit total : Q1 + Q2 + Q7 - 8 : (0,042 + 0,016) + 0,035 : 0,093 m3/detik.Perencanaan Dimensi SaluranContoh perhitungan untuk blok NC saluran 7 – 8- Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) =30,000 m- Elevasi muka tanah asli di titik 7 = 17,640 m- Elevasi muka tanah asli di titik 8 = 17,600 m elevasi.7  .elevasi.8- Kemiringan tanah asli = Ls 17,640  17,600 = m 30,000 = 0,0013- Lebar (B) dicoba 0,80 m B - Dipakai tinggi (h) = 2 0,8 = = 0,4 m. 2 - Luas penampang basah (A) = B.h = 0,8.0,4 = 0, 32 m2 - Keliling basah (P) = B+2h = 0,8 + 2.0.4 = 1.6 m A -Jari-jari hidraulik (R) = P 49
    • 0.24 = 1 .4 = 0.2 m-Koefisien Kekasaran Manning Dari tabel 2.9 untuk nilai n bata dalam adukan semen nilainya 0,025- Kecepatan aliran dalam saluran (V) 2 1 1 V = .x.R 3 .x.s 2 n 2 1 1 = .x.0,2 3.x.0,0013 2 0,025 = 0,493 m/dt Kecepatan yang dizinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga kecepatan aliran tidak memenuhi namun lebar bisa dipakai. Jadi penyelesaiannya dengan cara mengurangi elevasi akhir sebesar 0.03 m. elevasi awal.  .elevasi akhir - Kemiringan lahan (s) = Ls (16,640  0,03)  16,570 = m 30,000 = 0,012 2 1 1 V = .x.R 3 .x.s 2 n 2 1 1 = .x.0,20 3 .x.0,012 2 0,025 = 1,478 m/dt- Debit (Qhitung) =VxA = 1,478 x 0,32 = 0,473 m/dt 50
    • - Q rencana = 0,035 m/dtKarena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka dimensi yang direncanakan bisadipakai. V 1,478- Bilangan froude (Fr) = = = 0,747 g.x.h 9,8.x.0,4 Maka jenis aliran subkritis- Tinggi jagaan (Fb) Fb = 0.33 x h = 0,33 x 0,4 = 0.14 m- Elevasi Muka Air  Muka Air Awal = Elevasi tanah asli awal (titik 7) – 0,14 = 17.640 – 0,14 = 17,500 m.  Muka Air Akhir = Elevasi muka air awal (titik 7) – (Ls x s) = 17,500 – (30,000 x 0,012) = 17,460 m.- Elevasi Dasar Pasangan  Elevasi Dasar Pasangan Awal = Elevasi muka air awal (titik 7) - h = 17,500 – 0,40 = 17,100 m  Elevasi Dasar Pasangan Akhir = Elevasi muka air awal (titik 7) - (Ls x s) = 17,500 – (30,000 x 0,012) = 17,60 m- Elevasi Atas Pasangan 51
    •  Elevasi Atas Pasangan Awal = Elevasi muka air awal + Fb (titik 7) = 17,500 + 0,14 = 17,640  Elevasi Atas Pasangan Akhir = Elevasi muka air akhir (titik 7) + Tinggi jagaan ( Fb ) = 17,46 + 0.14 = 17,60 mPerencanaan Dimensi Gorong-gorongContoh Perhitungan Gorong-gorong pada saluran 12 – 711. Blok = NB2. Saluran titik awal = 383. Saluran titik akhir = 674. Jenis saluran = gorong-gorong5. Saluran sebelumnya = 21 - 38 , 73 – 38 ( Q = 0,334 )6. Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) = 8,000 m7. Elevasi muka tanah asli awal = 12,750 m8. Elevasi muka tanah asli akhir = 12,710 m x y r D a h 52
    • Alternatif 1 : Jari-jari gorong-gorong dicoba (r) = 0,30 m - A = 2,738 r² = 2,738 0,302 = 0,246 m2 - P = 4,5 r = 4,5 . 0,30 = 1,35 m - R = 0,608 r = 0,608. 0,30 = 0,18 - Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli : = (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls 12,75  12,71 = = 0,005 8 - Koefisien Manning :untuk nilai n beton nilainya 0,013 - Kecepatan dalam saluran 1 2 V= R 3 S n 1 2 = 0,183 3 0,005 0,013 = 1,75 m/detik Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga diameter bisa dipakai. Kontrol debit : Q = V. A = 1,75. 0,246 = 0,43 m3/dt > Q. Rencana ( dapat digunakan ) 53
    • Alternatif 2 :Fb = D – h h = 0.814 D (SNI) = 0,60 – 0,48 = 0.12 my = 0,18 mr = 0,30 cm 18Cos a = 30 a = 53,15 oβ = 360 – 2 a = 360 – 106 = 254 2aL = x r 2 360 254 = x r 2 360 = 0.199 xsin α = r xsin 53,15 = r x = 0,799 r = 0,239 1L = xy 2 1 = 0,239 x 0,18x 2 = 0,022L (A) =L +2L 54
    • = 0,199 + 2 x 0,022 = 0,243  P = x 2r 360 254 = x 2r 360 = 1,31 A R = P 0,243 = 1,31 = 0,21- Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli : = (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls 12,75  12,71 = = 0,005 8Kontrol s 2 1 1- Kecepatan aliran dalam saluran (V) = .x.R 3 .x.s 2 n 2 1 1 2 = .x.0,213.x.s 2 0,013 s = 0.00547 - Koefisien Manning : untuk nilai n beton nilainya 0,013 2 1 1 - Kecepatan aliran dalam saluran (V) = .x.R 3 .x.s 2 n 2 1 1 = .x.0,213.x.0,005 2 0,013 = 1,94 m/dt 55
    • Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga kecepatan aliran memenuhi.- Kontrol Debit : Q =VxA = 1,94 x 0,243 = 0,45 m³/detik- Debit rencana = 0,348 m³/detik Debit hitung lebih besar dari debit rencana maka diameter dan kemiringan bisa dipakai. 56
    • Keterangan : = Lebar : 1,00 m ; Tinggi : 0.50 m = Lebar : 0,60 m ; Tinggi : 0.30 m = Lebar : 0,80 m ; Tinggi : 0.40 m = Lebar : 0,70 m ; Tinggi : 0.35 m 57
    • BAB VI PERENCANAAN SISTEM DRAINASE RUMAH TINGGAL DAN GEDUNG SISTEM BIOPORI,SISTEM PEMBUANGAN BERTEKANAN DAN SISTEM PEMBUANGAN GRAVITASI6.1 Pendahuluan Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem gunamemenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota(perencanaan infrastruktur khususnya). Secara umum, drainase didefinisikan sebagaiserangkaian bangunan airyang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan airdari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalamkaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan suatu cara pembuangan kelebihan airyang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yangditimbulkan oleh kelebihan air tersebut. Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umumyang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman,bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan kebadan air (sumber air permukaan dan bawah permkaantanah) dan atau bangunan resapan.Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untukmemperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan saluran drainase antara laIn :  Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah.  Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.  Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada. 58
    •  Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir. Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka sistem drainase yangada dikenal dengan istilah sistem drainase perkotaan. Drainase perkotaan didefinisikansebagai ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang eratkaitannya dengan kondisi lingkungan sosial-budaya yang ada di kawasan kota.6.2 Landasan TeoriKlasifikasi berdasar pengairan : Sistem gravitasi Air buangan mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah secara gravitasi ke saluran umum yang letaknya lebih rendah Sistem Bertekanan Sistem yang menggunakan alat ( pompa ) karena saluran umum letaknya lebih tinggi dari letak alat plambing, sehingga air buangan di kumpulkan terlebih dahulu dalam suatu bak penampungan, kemudian di pompakan keluar ke roil umum. Sistem ini mahal, tetapi biasa di gunakan pada bangunan yang mempunyai alat – alat plambing di basement pada bangunan tinggi / bertingkat banyak.SUMUR RESAPANSumur resapan dibuat dengan tujuan untuk mengalirkan air buangan dari permukaan tanah keakuifer air tanah. Alirannya berlawanan dengan sumur pompa, tetapi konstruksi dan carapembangunannya mungkin dapat saja sama. Pengimbuhan sumur akan lebih praktis apabilaterdapat akuifer tertekan yang dalam dan perlu untuk diimbukan, atau pada suatu kawasankota yang memiliki lahan yang sempit/terbatas. Kriteria perancangan sumur resapan:1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.2. Sumur resapan berjarak minimal lima meter dari tempat penimbunan sampah dan septic tank dan berjarak minimal satu meter dari fondasi bangunan. 59
    • 3. Kedalaman sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) minimal 2,0 cm per jam yang berarti dalam satu jam mampu menyerap genangan air setinggi 2 cm. Prosedur dan tata cara pembuatan lubang resapan Cara pembuatan sumur resapan air pada rumah dengan talang air adalah sebagai berikut:1. Buat sumur dengan diameter 80-100 cm sedalam 1,5 m namun tidak melebihi muka air tanah.2. Untuk memperkuat dinding tanah, gunakan buis beton, pasangan bata kosong (tanpa plesteran) atau pasangan batu kosong.3. Buatlah saluran pemasukan yang mengalirkan air hujan dari talang ke dalam sumur resapan dengan menggunakan pipa paralon.4. Buatlah saluran pembuangan dari sumur resapan menuju parit yang berfungsi membuang limpahan air saat sumur resapan kelebihan air. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari muka air tanah tertinggi pada selokan drainase jalan tersebut.5. Isi lubang sumur resapan air dengan koral setebal 15 cm.6. Tutup bagian atas sumur resapan dengan plat beton. Di atas plat beton ini dapat diurug dengan tanah.Cara Pembuatan Lubang Biopori 1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm. Kedalamannya sekitar 100 cm atau sampai melampaui muka air tanah jika dibuat tanah yang mempunyai permukaan air dangkal. Jarak antar lobang antara 50-100 cm. 60
    • 2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm setebal 2 cm.3. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, atau dedaunan.4. Sampah organik perlu ditambahkan jika isi lubang sudah berkurang atau menyusut akibat proses pelapukan.5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang. 61
    • 6.3. Contoh gambar desain Skema umum sistem pembuangan gravitasi 62
    • Skema umum sistempembuangan bertekanan 63
    • Skema umum sistem sumur resapan 64
    • BAB VII PERENCANAAN SISTEM DRAINASE LAPANGAN GOLF7.1. PendahuluanDrainase pada lapangan golf memiliki peranan vital bagi keadaan tanah, tanah yangmenggenang dapat menyebabkan tanah tergulung dan berlumpur.7.2. Landasan Teori Dalam kasus ini sistem drainase menggunakan Struktur multi-Flow dan bentukmenyediakan drainase yang unik keuntungan. Profil datar menyediakan luas permukaan yangunggul yang memungkinkan lebih kesempatan bagi air untuk memasuki sistem. Its unggulkekuatan secara signifikan mengurangi risiko yang hancur. Dan yang karakteristik aliraninternal memungkinkan air untuk meninggalkan area hijau cepat. Selain itu, tidak perlutrenched dalam tetapi hanya digulung di atas sub-kelas di mana ia terletak jauh darijangkauan pemotong gelas dan coring peralatan. Kebijaksanaan konvensional telah sering 65
    • ditempatkan garis drainase kolektor hanya di titik rendah dari basis sub-hijau. Asumsinyaadalah bahwa karena air akan menemukan daerah dataran rendah tetap dan karena hijaumemungkinkan air bergerak bebas, ini adalah semua yang diperlukan. Praktek inimengabaikan efek bahwa air bergerak telah di struktur hijau. Bergerak air membawa partikelhalus dengan itu. Semakin banyak air yang bergerak dan kecepatan lebih tinggi pada yangbergerak, tanah lebih akan membawa dengan itu. Instalasi pembuangan baris lebih lanjutselain membutuhkan yang bergerak air dalam volume yang lebih besar ke tempatpengumpulan yang lebih sedikit. Hal ini mengakibatkan migrasi besar tanah yangmenyebabkan istirahat down dari struktur tanah dan potensi pemblokiran jalurdrainase.Drainase pada hijau golf harus lembut dan menyeluruh. Pola intensif menurunkankecepatan air gerakan dan akibatnya melindungi integritas rapuh struktur hijau. Penyebaranbaris drainase di atas seluruh sub-kelas dari hijau berarti air memiliki kurang jarak perjalanandan hasil dalam migrasi tanah kurang. Tapi menemukan garis dekat bersama-sama jugamemastikan prompt dan menyeluruh drainase. Lihatlah pembuluh darah di bagian belakangsisi daun untuk model drainase efektif. Semakin sedikit air perlu jarak perjalanan untukmencapai jalan keluar, semakin baik drainase tersebut. Intensif berpola drainasememungkinkan untuk menghilangkan sejumlah besar air dalam waktu singkat tanpamengganggu struktur tanah. Dua filter terpisah menjamin bahwa sistem drainase akan tidakgagal jarum-meninju geotekstil bungkus mencegah pasir dari memasuki saluran aliran. Duainci yang bersih, pasir sangat kasar efektif melindungi geotekstil dari penyumbatan akibatlumpur dan denda tanah lainnya.Sistem Desain dan Tata Letak Ketika merancang drainase untuk hijau, utama Multi- Aruskolektor harus berbaring horizontal pada sub-kelas dan ditempatkan di sepanjang garis jatuhmaksimal. A 4 "diameter Pipa PVC harus ditempatkan langsung di bawah utama line, keluarhijau pada akhir rendah. Tee PVC harus dipasang di jalur PVC, mengarah ke atas, pada setiaplokasi menurut Pola intensif di sebuah herringbone kerahasiaan guration menyediakandrainase seragam untuk setiap bagian dari green. 66
    • 7.3. Contoh Rencana Saluran DrainaseTerlampir dalam file Berbeda 67
    • DAFTAR PUSTAKA 68