• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hak siapa yang ingin ditegakkan
 

Hak siapa yang ingin ditegakkan

on

  • 205 views

Community System Strengthening, Penguatan Sistem Komunitas, Program Penanggulangan HIV dan AIDS, ...

Community System Strengthening, Penguatan Sistem Komunitas, Program Penanggulangan HIV dan AIDS,
Social Movement, Advocacy, Communication, Mobilization Sosial, Advokasi, HAM, Hak Asasi Manusia, Human Right,
LGBT Right, Sex Worker Right, Eliminating Stigma and discrimination, reducing Stigma and discrimination, menghapus
stigma dan diskriminasi, civil right, hak sipil, hak warga negara, hak perempuan, women right, hak anak, child right

Statistics

Views

Total Views
205
Views on SlideShare
205
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hak siapa yang ingin ditegakkan Hak siapa yang ingin ditegakkan Document Transcript

    • Briefing Paper   Pebruari 2012      # Seni Memfasilitasi Dialog    HAK SIAPA YANG HARUS DITEGAKKAN ?  Melihat Hak dari Berbagai Perspektif       Paulo  Freire  dalam  bukunya  “Pendidikan  Kaum  Tertindas”  (1972)  menuliskan :  Pembebasan hanya bisa dicapai dengan dialog.  Dialog menuntut kerendahan hati.  Dialog  akan  rusak  jika  pelaku  (atau  salah  satu  dari  mereka))  tidak  memiliki  kerendahan hati.  Bagaimana  bisa  masuk  dalam  suatu  dialog  –  jika  saya  selalu  memandang  bodoh orang lain dan selalu lupa pada kelemahan sendiri ?  Bagaimana bisa masuk dalam suatu dialog – jika saya menganggap diri saya  sebagai  bagian  yang  terpisah  dari  orang  lain  sedangkan  saya  tidak  melihat  ‘bagian’ yang lain?  Bagaimana bisa masuk dalam suatu dialog – jika saya menganggap diri saya  dari golongan‐golongan ‘bersih’ sebagai pemilik kebenaran dan pengetahuan,  sedangkan semua orang yang bukan anggota adalah “orang‐orang ini” atau  “rakyat gembel”  Dialog tidak terjadi tanpa kerendahan hati.      1. Pengantar  Dalam  pertemuan  ataupun  diskusi  di  milis  para  penggiat  HIV  dan  AIDS,  seringkali  topik yang diangkat berkaitan dengan hak, apakah hak kesehatan ataupun hak asasi  manusia. Hampir semua narasi tentang hak yang dibangun lebih menekankan pada  relasi Hak Rakyat dengan Pemerintah, misalnya :  ” bahwa kesehatan pada dasarnya adalah hak dasar setiap manusia tanpa melihat  latar  belakang  sosial,  suku,  agama,  orientasi  seksual  bahkan  kewarganegaraan.  Batas  negara  seharusnya  tidak  menjadi  hambatan  dalam  pemenuhan  hak  kesehatan setiap manusia di muka bumi.”  ”  pemerintah  harus  mengupayakan  tersedianya  obat‐obatan  essensial  dan  bersubsidi bagi rakyat..”  ” ...menyediakan obat murah (ARV, obat IO, obat Hepatitis C) bagi rakyat Indonesia  miskin. ”  ” Kriminalisasi yang dijalankan selama ini, selain mengandung unsur pelanggaran  HAM  namun  juga  tanpa  disadari  menjauhkan  akses  komunitas  ini    dari  layanan  kesehatan  (contoh  terkait  AIDS;  VCT,  CST  dll)  serta  akses‐akses  lain  termasuk  pekerjaan, pendidikan, berpergian dll...”    “ Razia terhadap WPS merupakan bentuk pelanggaran HAM ….” 
    • Page 2 of 20    ”  teman2  pecandu,  ODHA,  pekerja  sex  gay,  waria  atau  siapapun  BERHAK  mendapatkan pelayanan terbaik. Jadi jika pemerintah tidak memberikan layanan  kesehatan  yang  baik,  maka  kita  sebagai  rakyat  berhak  menuntut  layanan  kesehatan tersebut. ”  ”  kriminalisasi  dan  diskriminasi  terhadap  Pekerja  Seks  semakin  menjadi  dengan  lolosnya Peraturan‐Peraturan daerah yang memberangus hak pekerja seks untuk  terlindungi dari paparan HIV.”    Namun,  sangat  jarang  diangkat  mengenai  hubungan  HAK  antara  individu  dengan  individu  lain,  misalnya  orang  terinfeksi  HIV  dengan  pasangannya,  seorang  pembeli  seks  yang  berstatus  HIV  positif  dengan  pekerja  seks  atau  sebaliknya,  penasun  status  hiv  positif  dengan  teman  berbagi  jarum  suntik.  Bagaimana hak mereka untuk tidak tertular ? Atau Hak antara orang terinfeksi  HIV  dengan  lingkungan  sosialnya  (masyarakat).  Bagaimana  hak  masyarakat  untuk tidak tertular ?   Apakah  hak  asasi  manusia  ataupun  hak  kesehatan  hanya  semata‐mata  berhubungan antara rakyat dengan pemerintah?  Kalau membahas tentang hak yang  paling sering dijadikan studi kasus  adalah perilaku perokok.  Merokok  adalah  hak  kebebasan  setiap  orang.  Disisi  lain,  mendapatkan udara bersih adalah  hak untuk hidup.  Namun,  seringkali  seorang  perokok  menggunakan  hak  kebebasannya  (baca  Hak  Asasi  Manusia‐nya) dalam ruang publik (misalnya angkutan umum) yang pada saat  bersamaan  ada  orang  lain  (wanita  hamil,  anak‐anak,  dan  bayi)  yang  membutuhkan udara  bersih yang merupakan hak mereka.  Apakah setiap orang bisa menggunakan HAM‐nya untuk melanggar HAM orang  lain ?  Bagi  seorang  Community  Organizer  yang  memfasilitasi  multipihak  harus  memiliki  pandangan  yang  luas  (mampu  melihat  dari  berbagai  perspektif)  tentang HAK. Oleh karena, setiap orang memiliki pemahaman berbeda tentang  haknya.  Community  Organizer  dalam  memfasilitasi  pertemuan  multipihak  harus  memastikan  terjadinya  dialog  antar  peserta  untuk  membangun  pemahaman  bersama  sehingga  tercipta  kesepakatan  bersama  yang  memberikan  manfaat  bagi semua orang dan meminimalkan adanya kerugian bagi orang lain.     
    • Page 3 of 20      2. Apa itu hak ?  Bartens (2011) menyatakan bahwa hak seringkali diartikan sebagai klaim yang dibuat  orang atau kelompok yang satu terhadap yang lain atau terhadap masyarakat. Orang  yang punya hak bisa menuntut (dan bukan saja mengharapkan atau menganjurkan)  bahwa orang lain akan memenuhi dan menghormati hal itu. Namun jika dimaknai  demikian, harus ditambah dengan sesuatu yang penting : hak adalah klaim yang sah  atau klaim yang dapat dibenarkan.  Sebab menyatakan klaim begitu saja jelas tidak  cukup. Seorang penodong bisa saja mengklaim harta milik penumpang dalam kereta  api.  Namun  kita  akan  sepakat  bahwa  klaim  itu  tidak  sah.  Sebaliknya,  kondektur  kereta api bisa meminta agar penumpang membayar karcis. Klaim ini dibenarkan dan  penumpang arus memenuhi permintaan yang bersangkutan.  Untuk  membantu  pemahaman  tentang  hak,  maka  kita  perlu  tahu  jenis‐jenis  hak,  yaitu :  1. Hak secara alamiah (natural) adalah hak hak yang secara alami  dalam arti "tidak  dibuat‐buat,  bukan  buatan  manusia",  seperti  pada  hak  yang  berasal  dari  sifat  manusia  ,  atau  dari  hak  yang  diberikan  oleh  Tuhan.  Hak  ini  bersifat  universal,  yaitu hak yang  berlaku untuk semua orang, dan tidak berasal dari hukum dari  suatu  masyarakat  tertentu.  Mereka  ada  tentu,  melekat  dalam  setiap  individu,  dan  tidak  dapat  dibawa  pergi.  Sebagai  contoh,  telah  berpendapat  bahwa  manusia memiliki hak alami untuk hidup. Hak ini disebut juga hak moral atau hak  asasi.   2. Hak‐hak secara legal (hukum) adalah hak yang didasarkan pada kebiasaan suatu  masyarakat, hukum, undang‐undang atau tindakan oleh legislatif . Contoh dari  hak  legal  adalah  hak  pilih  warga  negara.  Kewarganegaraan  sering  dianggap  sebagai bentuk hak‐hak hukum, yang dirumuskan sebagai: "hak untuk memiliki  hak".  Hak‐hak  hukum  sering  juga  disebut  hak‐hak  sipil  yang  maknanya  sangat  bergantung  pada  konteks  masyarakat  tertentu  sesuai    dengan  budaya  dan  politiknya.    Beberapa pemikir melihat hak hanya dalam satu sisi sementara yang lain menerima  bahwa kedua indra memiliki ukuran validitas. Ada perdebatan filosofis yang cukup  besar tentang hak sepanjang sejarah. Misalnya Jeremy Bentham percaya bahwa hak‐ hak hukum adalah esensi dari hak, dan ia menyangkal adanya hak alam, sedangkan  Thomas  Aquinas  berpendapat  bahwa  hak  yang  hanya  berlandaskan  hukum  positif  tetapi mengabaikan hukum universal (natural), hak tersebut bukanlah hal dalam arti  sebenarnya,  tetapi  hanya  sebuah  alasan  pembenaran  (dalih)  tentang  hak  asasi  manusia.     3. Hak Positif dan  Hak Negatif   Hak positif adalah hak mendapatkan sesuatu dari orang lain, atau hak yang  harus dilakukan kepada seseorang/sesuatu.   Secara umum, semua orang yang terancam bahaya mempunyai hak bahwa  orang  lain  membantu  menyelematkan  mereka.  Misalnya  seorang  anak  tertabrak  mobil  dan  tergeletak  di  jalan  raya.  Anak  tersebut  berhak  untuk 
    • Page 4 of 20  diselamatkan dan orang yang yang  kebetulan menyaksikan kejadian tersebut  harus menolong anak tersebut.  Contoh  hak  positif  adalah  hak  atas  kehidupan  yang  layak,  hak  atas  pendidikan, hak atas pelayanan kesehatan, hak atas pekerjaan yang layak.  Hak negatif adalah hak kebebasan untuk melakukan (atau tidak melakukan)  sesuatu atau memiliki sesuatu. Hak ini memberi arti bahwa oang lain tidak  boleh  menghalangi  saya  untuk  tidak  melakukan  atau  memiliki  sesuatu.  Penganut  aliran  liberal  menganggap  hak  negatif  sebagai  hak  untuk  "tidak  campur tangan."   Bartens  (2011)  menyatakan  bahwa  hak  negatif  sepadan  dengan  kewajiban  orang lain untuk tidak melakukan untuk tidak melakukan sesuatu, yaitu tidak  menghindari saya untuk melakukan atau memiliki apa yang menjadi hak saya.  Contoh  hak  negatif  adalah  hak  atas  kehidupan,  kesehatan,  hak  atas  keamanan,  hak  beragama,  hak  mengemukakan  pendapat,  hak  berkumpul  dengan orang lain.    Contoh  praktek  hak  positif  dan  negatif  seperti  di  beberapa  negara  demokrasi  misalnya  terkait  partisipasi  dalam  pemilihan  umum,    di  Amerika  Serikat,  warga  negara memiliki hak positif untuk memilih dengan mendatangi bilik pemberian suara  dan mereka juga memiliki hak negatif untuk tidak memilih dan tetap tinggal di rumah  dan  menonton  televisi.  Sedangkan  di  Australia,  warga  negara  memiliki  hak  positif  untuk  memberikan  suara  tetapi  mereka  tidak  memiliki  hak  negatif  untuk  tidak  memilih, karena warga negara tidak memiliki hak suara dapat didenda.   (Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Rights)    Dalam  prakteknya,  sulit  memahami  antara  pembagian  hak  positif  dan  hak  negatif  karena kadang‐kadang tidak dapat dibedakan dengan jelas antara hak positif dan hak  negatif. Bartens (2011) mengambil contoh hak atas kesehatan yang merupakan hak  negatif,  namun  bagi  orang  yang  sakit  hak  mendapat  pelayanan  kesehatan  merupakan hak positif.  Hak  atas  kesehatan  berarti  orang  lain  tidak  boleh  melakukan  sesuatu  yang  menganggu  atau  membahayakan  kesehatan  saya,  misalnya  merokok  ditempat  umum.  Tapi  hak  atas  kesehatan  tidak  selalu  bersifat  hak  negatif  tetapi  bisa  mencakup hak positif, dimana negara harus mengambil tindakan untuk melindungi  kesehatan  saya  dan  para  warga  negara  terhadap  peredaran  narkotika  ilegal,  penularan penyakit menular, bahan kimia berbahaya, dan sebagainya.    TL Beauchamp mengusulkan bahwa kita harus memandang hak secara lengkap yang  meliputi  hak  atas  kebebasan  (hak  negatif)  dan  hak  atas  perlindungan  aktif  oleh  negara (hak positif).    Bartens (2011) melakukan pembagian atas hak negatif menjadi 2 (dua), yaitu :  1. Hak negatif aktif adalah hak untuk berbuat atau tidak berbuat seperti yang  dikehendaki  orang.  Orang  lain  tidak  boleh  menghalangi  saya  untuk  melakukan sesuatu. Misalnya saya mempunyai hal mengeluarkan pendapat.  Hak negatif aktif disebut hak kebebasan. 
    • Page 5 of 20  2. Hak negatif pasif adalah hak untuk tidak diperlakukan orang lain dengan cara  tertentu. Misalnya saya mempunyai hak bahwa orang lain tidak ikut campur  dalam urusan pribadi saya, hak rahasia pribadi saya tidak dibongkar,  nama  baik saya tidak dicemarkan.  Hak negatif pasif ini disebut juga hak keamanan.      3. Mengurai Hak Kesehatan dari Perspektif UU No 36/2009 tentang kesehatan.    Uraian  tentang  makna  HAK  ternyata  mengantarkan  kepada  kita  bahwa  hak  tidak  berdiri sendiri dan melekat pada satu individu. Tapi, hak merupakan interaksi antara  satu  individu  dengan  individu  lain,  satu  individu  dengan  lingkungan  sosialnya  (masyarakat) ataupun individu dengan pemerintah (negara).  Untuk  memudahkan  kita  untuk  melihat  perbedaan  makna  hak  dalam  interaksi  sosialnya, ada baiknya kita menggunakan UU No 36/2009 tentang kesehatan sebagai  rujukan tentang Hak Kesehatan sebagai rujukan Hak Legal yang diakui semua orang  di negara ini.  Berikut  beberapa  hak  yang  termuat  dalam  UU  No  36/2009  (silahkan  ditambahi/dikurangi atau dikoreksi jika menurut anda tidak sesuai) :  Pasal‐pasal UU N0 36/2009  Berkaitan dengan HAK  Keterangan   Kolom  ini  merupakan  interpretasi pribadi.  (silahkan  diubah  sesuai  pemahaman  masing‐ masing)  Pasal 4  Setiap orang berhak atas kesehatan  Hak  positif  dan  hak  negatif  Pasal 5 (1)  Setiap  orang  mempunyai  hak  yang  sama  dalam  memperoleh  akses  atas  sumber  daya  dibidang  kesehatan.  Hak positif  Pasal 5 (2)  Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh  pelayanan  kesehatan  yang  aman,  bermutu  dan  terjangkau.  Hak positif  Pasal 5 (3)  Setiap  orang  berhak  secara  mandiri  dan  bertanggungjawab menentukan sendiri pelayanan  kesehatan yang diperlukan bagi dirinya sendiri.   Hak negatif (aktif)  Pasal 6  Setiap  orang  berhak  mendapatkan  lingkungan  yang  sehat  bagi  pencapaian  derajat  kesehatan  (pasal 6)  Hak positif  Pasal 7  Setiap  orang  berhak  mendapatkan  informasi  dan  edukasi  tentang  kesehatan  yang  seimbang  dan  bertanggungjawab.  Hak  positif  dan  hak  negatif  Pasal 8  Setiap  orang  berhak  memperoleh  informasi  tentang kesehatan dirinya termasuk tindakan dan  pengobatan  yang  telah  maupun  yang  akan  diterimanya dari tenaga kesehatan.  Hak  positif  dan  hak  negatif  Pasal 9  Setiap  orang  berkewajiban  ikut  mewujudkan,  mempertahankan  dan  meningkatkan  derajat  Hak negatif (aktif) 
    • Page 6 of 20  Pasal‐pasal UU N0 36/2009  Berkaitan dengan HAK  Keterangan   Kolom  ini  merupakan  interpretasi pribadi.  (silahkan  diubah  sesuai  pemahaman  masing‐ masing)  kesehatan  Pasal 10  Setiap orang berkewajiban menghormati hak  orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan  yang sehat, baik fisik, biologi maupun sosial.   Hak negatif (aktif)  Pasal 11  Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat  untuk mewujudkan, mempertahankan dan  memajukan kesehatan yang setinggi‐tingginya    Hak negatif (aktif)  Pasal 12  Setiap orang berkewajiban menjaga dan  meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain  yang menjadi tanggungjawabnya.    Hak negatif (aktif)  Hak negatif (pasif)    orang lain yang  menjadi  tanggungjawabnya.    Pasal 13  Setiap orang berkewajiban turut serta dalam  program jaminan kesehatan sosial.    Hak negatif (aktif)  Hak positif  Pasal 33  Setiap  pimpinan  penyelenggaraan  fasilitas  pelayanan  kesehatan  masyarakat  harus  memiliki  kompetensi  manajemen  kesehatan  masyarakat  yang dibutuhkan.  Hak positif  Pasal 34  Setiap  pimpinan  penyelenggaraan  fasilitas  pelayanan kesehatan perseorangan harus memiliki  kompetensi  manajemen  kesehatan  perseorangan  yang dibutuhkan.  Hak positif  Pasal 36  Pemerintah  menjamin  ketersediaan,  pemerataan,  dan  keterjangkauan  perbekalan  kesehatan  terutama obat esensial  Hak positif   Hak negatif  Pasal 53 (1)  Pelayanan  kesehatan  perseorangan  ditujukan  untuk  menyembuhkan  penyakit  dan  memulihkan  kesehatan perseorangan dan keluarga  Hak positif  Pasal 53 (2)  Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk  memelihara  dan  meningkatkan  kesehatan  serta  mencegah  penyakit  suatu  kelompok  dan  masyarakat  Hak positif  Pasal 53 (3)  Pelaksanaan  pelayanan  kesehatan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  harus  mendahulukan  pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding  kepentingan lainnya  Hak positif  Pasal 54  Penyelenggaraan  pelayanan  kesehatan  dilaksanakan  secara  bertanggungjawab,  aman,  bermutu, serta merata dan nondiskriminatif  Hak positif  Pasal 56 (1)  Setiap  orang  berhak  menerima  atau  menolak  sebagian  atau  seluruh  tindakan  yang  akan  diberikan  kepadanya  setelah  menerima  dan  Hak negatif (aktif) 
    • Page 7 of 20  Pasal‐pasal UU N0 36/2009  Berkaitan dengan HAK  Keterangan   Kolom  ini  merupakan  interpretasi pribadi.  (silahkan  diubah  sesuai  pemahaman  masing‐ masing)  memahami informasi mengenai tindakan tersebut  secara lengkap.  Pasal 56 (2)  Hak  menerima  atau  menolaj  sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:  a. Penderita  penyakit  yang  penyakitnya  dapat  secara  cepat  menular  ke  dalam  masyarakat  yang lebih luas.  b. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri  c. Ganguan mental berat.  Hak negatif (pasif)  Hak positif.  Pasal 57 (1)  Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan  pribadinya  yang  telah  dikemukakan  kepada  penyelenggara pelayanan kesehatan  Hak negatif (pasif)  Pasal 57(2)  Ketentuan  mengenai  hak  rahasia  kondisi  kesehatan  pribadi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat (2) tidak berlaku dalam hal :  a. Perintah Undang‐undang  b. Perintah pengadilan  c. Izin yang bersangkutan.  d. Kepentingan masyarakat atau  e. Kepentingan orang tersebut  Hak negatif (pasif)  Hak positif.  Pasal 58  Setiap orang berhak menuntuk ganti rugi terhadap  seseorang,  tenaga  kesehatan,  dan/atau  penyelenggara  kesehatan  yang  menimbulkan  kerugian  akibat  kesalahan  atau  kelalaian  dalam  pelayanan kesehatan yang diterimanya.  Hak negatif  Pasal 72  Setiap  orang  berhak  menjalani  kehidupan  reproduksi  dan  kehidupan  seksual  yang  sehat,  aman  serta  bebas  dari  paksaan  dan/atau  kekerasan dengan pasangan yang sah  Hak negatif  Pasal 98 (1)  Sediaan  farmasi  dan  alat  kesehatan  harus  aman,  berkhasiat/bermanfaat, bermutu dan terjangkau  Hak positif.  Pasal 132 (1)  Anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh  secara  bertanggungjawab  sehingga  memungkinkan  anak  tumbuh  dan  berkembang  secara sehat dan optimal  Hak negarif (pasif)  Pasal 133 (1)  Setiap  bayi  dan  anak  berhak  terlindungi  dan  terhidar dari segala bentuk diskriminasi dan tindak  kekerasan yang dapat menganggu kesehatannya.  Hak negarif (pasif)             
    • Page 8 of 20  Secara ringkas hak‐hak yang berkaitan dengan kesehatan dapat dilihat pada bagan  berikut ini :          4. Apakah Hak Bersifat Absolut ?     Suatu  hak  disebut  absolut,  jika  berlaku  mutlak  tanpa  pengecualian.  Suatu  hak  bersifat absolut, kalau berlaku kapan saja dan dimana saja, tanpa terpengaruh oleh  suatu  keadaan.  Hak  absolut  dalam  konteks  ini  berarti  tidak  mungkin  mengalamai  konflik dengan hak lain.  Dalam  diskusi  sehari‐hari  begitu  besar  penekanan  yang  diberikan  kepada  HAK,  sehingga timbul kesan seolah‐olah semua hak adalah absolut.   Bartens  (2011)  menyebutkan  para  ahli  etika  mengatakan  kebanyakan  hak  adalah  prima  facie,  artinya  hak  itu  berlaku  sampai  dikalahkan  oleh  hak  lain  yang  lebih  kuat. Dengan kata lain, kebanyakan hak tidak absolut.  Contoh : Hak atas kehidupan merupakan hak yang penting, tapi bukan hak absolut.  Setiap orang punya hak atas hidup, artinya hak tidak akan dibunuh oleh orang lain,  tapi hak ini tidak berlaku dalam keadaan apa pun. Hak ini harus dirumuskan : setiap  orang mempunyai hak tidak akan dibunuh oleh orang lain tanpa alasan yang cukup.  Bila  seorang  perampok  menyerang  saya,  dan  untuk  membela  diri  saya  boleh  membunuh perampok tersebut, jika tidak ada jalan lain untuk melumpuhkannya. 
    • Page 9 of 20  Contoh lain, yaitu hak kebebasan. Setiap manusia berhak untuk hidup bebas. Tidak  seorang  pun  boleh  ditahan  begitu  saja  atau  dirampas  kebebasannya.  Tapi  hak  ini  tidak absolut, karena dapat dikalahkan oleh hak lain. Seorang pasien gangguan jiwa  yang  berbahaya  bagi  masyarakat  sekitarnya  dapat  dipaksa  dirawat  inap  di  rumah  sakit  jiwa,  sekalipun  dia  tidak  mau.  Orang  ini  tidak  bersalah  dan  mempunyai  hak  kebebasan layaknya semua orang. Namun haknya atas kebebasan dalam konteks ini  dapat  dikalahkan,  karena  orang  lain  mempunyai  hak  untuk  dilindungi  terhadap  bahaya yang mengancam mereka jiwa mereka.  Faktor  yang  mempengaruhi  suatu  hak  tidak  bisa  absolut  adalah  terjadinya  konflik  antara hak‐hak. Hampir setiap hak bisa berbenturan dengan hal lain.  Dalam contoh pasien gangguan jiwa, terjadi konflik antara hak kebebasan (pasien)  dengan  hak  untuk  tidak  diganggu  (masyarakat),  dan  hak  masyarakat  lebih  kuat  sehingga harus dimenangkan.   Contoh  ini  menunjukkan,  setiap  kali  terjadi  konflik  antara  hak  negatif  aktif  (kebebasan) dengan hak negatif pasif (hak keamanan), dan umumnya hak negatif  pasif (hak keamanan) lebih kuat dan diutamakan.  Hak hak negatif aktif (kebebasan) tidak pernah absolut.    5. Hak Tanpa Kewajiban Tak Pantas Disebut ”Hak”  Setiap Hak Asasi Manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggungjawab  untuk  menghormati  hak  asasi  orang  lain  secara  timbal  balik  serta  menjadi  tugas  pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukannya   (UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 69, ayat 2)    Bartens  (2011)  menyatakan  selalu  ada  hubungan  timbal  balik  antara  hak  dan  kewajiban.  Pandangan  ini  disebut  ”teori  korelasi”  yang  umumnya  dianut  para  pengikut  utilitarianisme.  Menurut  aliran  ini,  setiap  kewajiban  seseorang  berkaitan  dengan hak orang lain dan —  sebaliknya —  setiap hak seseorang berkaitan dengan  kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. Kita dapat berbicara hak dalam  arti sesungguhnya, jika ada korelasi itu. Hak yang tidak ada kewajiban yang sesuai  dengannya tidak pantas disebut ”hak.”    Misalnya  dalam  konteks  orang  yang  merokok  di  area  publik,  jelas  tidak  bisa  disebut  HAK  KEKEBASAN  karena  telah  melanggar HAM orang lain.  UU  No  39/1999  bahwa  setiap  HAM  seseorang  menimbulkan  kewajiban  dan  tanggungjawab  untuk  menghormati  hak  asasi orang lain. 
    • Page 10 of 20  UU  ini  jelas  mengamanatkan  agar  setiap  orang  (perokok)  berkewajiban  untuk  menghormati  hak  asasi  orang  lain  (mendapatkan  udara  bersih).  Namun,  dalam  prakteknya  banyak  perokok  yang  tidak  melaksanakan  kewajibannya  ini  dan  jelas‐ jelas merupakan pelanggaran HAM.  Banyaknya  perokok  yang  melakukan  pelanggaran  HAM,  maka  beberapa  daerah  menerapkan  peraturan  daerah  tentang  larangan  merokok  di  area  publik.  Perda  ini  tidak  melarang  orang  merokok,  namun  membatasi  area  tempat  merokok  untuk  memberikan  ruang  bagi  orang  yang  tidak  merokok mendapatkan udara yang bersih.  Keluarnya  PERDA  Larangan  Merokok  sejalan  dengan UU  UU No 39/1999 pasal 69 ayat 3 :  Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap  orang wajib dan tunduk kepada pembatasan yang  ditetapkan  oleh  Undang‐Undang  dengan  maksud  untuk  menjamin  pengakuan  serta  penghormatan  atas  hak  dan  kebebasan  orang  lain  dan  untuk  memenuhi  tuntutan  yang  adil  sesuai  dengan  pertimbangan  moral,  keamanan  dan  ketertiban  umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.    Amanat UU 39/1999 memberikan tugas kepada pemerintah untuk menegakkan HAM  sehingga pada situasi dan kondisi tertentu, pemerintah dapat membuat peraturan  dalam  upaya  menjamin  penghormatan  atas  hak  orang  lain  dan  memberikan  pembatasan bagi setiap orang dalam menjalankan hak dan kebebasannya.                                Sumber bacaan :  K. Bartens, Etika, 2011  Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, 1972  UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia  UU No 36/2009 tentang Kesehatan   http://en.wikipedia.org/wiki/Rights   
    • Page 11 of 20  STUDI KASUS :  Bayangkan Anda seorang Community Organizer. Anda diminta menjadi fasilitator pertemuan  perencanaan program penanggulangan HIV dan AIDS dengan perspektif Hak Asasi Manusia  (HAM) dan berkeadilan sosial.  Anda akan memfasilitasi pertemuan multi pihak disebuah kota yang berpenduduk kurang  lebih 2.000.000 jiwa, dengan estimasi :  jumlah populasi rawan (WPS, LSL, Waria, Penasun, Pria Pembeli Seks) sebanyak 48.000  orang.  Jumlah pasangan dari kelompok rawan sebanyak 21.000 orang.  Jumlah orang terinfeksi HIV sebanyak 2.500 orang.    Apa langkah yang anda lakukan ?   Apa saja point‐point  kesepakatan yang akan dihasilkan ?          (bagi  yang belum punya pengalaman memfasilitasi dinamika kelompok multi pihak dapat  membaca Langkah Fasilitasi di bagian akhir tulisan ini)   
    • Page 12 of 20    LAMPIRAN 1 :    HAK ASASI MANUSIA PERSPEKTIF NEGARA REPUBLIK INDONESIA  ( UU NO 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia)      A. Defenisi  Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat  keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan  anugerah‐Nya yang wajib dihormati. Dijunjung tinggi dan dilindungi negara,  hukum, pemerintag dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan  harkat dan martabat manusia (pasal 1 poin 1).  Kewajiban Dasar Manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak  dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya Hak Asasi Manusia.  (pasal 1 poin 2)      B. Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia menurut Negara Indonesia  1. Hak Untuk hidup (pasal 9)  2. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan (pasal 10)  3. Hak Mengembangkan Diri (Pasal 11), meliputi :  a. Hak  pemenuhan  kebutuhan  dasarnya  untuk  tumbuh  dan  berkembang  secara layak. (pasal 11)  b. Hak  atas  perlindungan  bagi  pengembangan  diri  untuk  memperoleh  pendidikan,  mencerdaskan  dirinya  serta  meningkatkan  kualitas  hidupnya.  (pasal 12)  c. Hak  untuk  mengembangkan  dan  memperoleh  manfaat  dari  ilmu  pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya. (pasal 13)  d. Hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi (pasal 14, ayat 1)  e. Hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan dan menyampaikan  informasi (pasal 14, ayat 2)  f. Hak  memperjuangkan  hak  pengembangan  dirinya,  baik  secara  pribadi  maupun  kolekrif  untuk  membangun  masyarakat,  bangsa  dan  negaranya  (pasal 15).  g. Hak untuk melakukan pekerjaan sosial dan kebajikan mendirikan organisasi  untuk itu (pasal 16)  4. Hak Memperoleh Keadilan (Pasal 17‐Pasal 19)  5. Hak Atas Kebebasan Pribadi (Pasal 20), meliputi :  a. Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba (pasal 20 ayat 1)  b. Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita,  dan segala bentuk perbuatan berupa apapun yang tujuannya serupa,  dilarang (pasal 20, ayat 2)  c. Hak atau keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani dan karena itu tidak  boleh menjadi objek penelitian tanpa persetujuan darinya (pasal 21)  d. Hak kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agama masing‐ masing (pasal 22) 
    • Page 13 of 20  e. Hak kebebasan untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya (pasal  23, ayat 1)  f. Hak kebebasan mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat  sesuai  dengan  hati  nuraninya  secara  lisan  dan  tulisan  dengan  memperhatikan  nilai‐nilai  agama,  kesusilaan,  ketertiban,  kepentingan  umum dan keutuhan bangsa (pasal 23, ayat 2)  g. Hak  untuk  berkumpul,  melakukan  rapat  dan  berserikat  untuk  maksud‐ maksud damai (pasal24, ayat 1)  h. Hak  untuk  mendirikan  partai  politik,  lembaga  swadaya  masyarakat  atau  organisasi  lainnya  untuk  berperan  dalam  jalannya  pemerintahan  dan  penyelenggaran negara (pasal 24, ayat 2)  i. Hak  untuk  menyampaikan  pendapat  dimuka  umum  termasuk  hak  untuk  mogol (pasal 25)  j. Hak untuk memiliki, memperoleh, mengganti atau mempertahankan status  kewarganegaraan (pasal 26, ayat 1).  k. Hak kebebasan memilih kewarganegaraannya tanpa diskriminasi (pasal 26,  ayat 2)  6. Hak Atas Rasa Aman, meliputi :  a. Hak mencari suaka politik dari negara lain (pasal 28)  b. Hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak  miliknya (pasal 29).  c. Hak  atas  rasa  aman  dan  tenteram  serta  perlindungan  terhadap  ancaman  ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu (pasal 30)  d. Tempat kediaman siapapun tidak boleh diganggu (pasal 31)  e. Kemerdekaan  dan  rahasia  dalam  hubungan  surat  menyurat  termasuk  hubungan komunikasi (pasal 32)  f. Hak  untuk  bebas  dari  penyiksaan,  penghukuman  atau  perlakukan  yang  kejam,  tidak  manusiawi,  merendahkan  derajat  dan  martabat  kemanusiaannya (pasal 33, ayat 1).  g. Hak untuk  bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa (pasal  33, ayat 2).  h. Orang  tidak  boleh  ditangkap,  ditahan,  disiksa,  dikucilkan,  diasingkan  atau  dibuang secara sewenang‐wenang (pasal 34)  i. Hak  untuk  hidup  dalam  tatanan  masyarakat  dan  kenegaraan  yang  damai,  aman dan tenteram yang menghormati, melindungi dan melaksanakan Hak  Asasi Manusia dan Kewajiban Dasar Manusia.  7. Hak Atas Kesejahteraan  a.    Hak mempunyai kepemilikan baik sendiri maupun bersama‐sama (pasal 36,  ayat 1)  b.    Pencabutan  hak  milik  atas  suatu  benda  demi  kepentingan  umum,  hanya  diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar (pasal 37)  c.   Hak atas pekerjaan yang layak (pasal 38)  d.   Hak  mendirikan  serikat  pekerja  dan  tidak  boleh  dihambat  menjadi  anggotanya (pasal 39)  e.    Hak bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak (pasal 40)  f.   Hak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak (pasal 41, ayat 1) 
    • Page 14 of 20  g.    Hal  memperoleh  kemudahan  dan  perlakukan  khusus  bagi  penyandang  cacat, orang berusia lanjut, wanita hamil dan anak‐anak (pasal 41, ayat 2)  h.   Hak  memperoleh  perawatan,  pendidikan,  pelatihan  dan  bantuan  khusus  atas  biaya  negara  untuk  menjamin  kehidupan  yang  layak  sesuai  dengan  martabat kemanusiaanya bagi warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik  dan atau cacat mental (pasal 42)  8. Hak Turut Serta dalam Pemerintahan  a. Hak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum (pasal 43, ayat 1)  b. Hak turut serta dalam pemerintahan (pasal 43, ayat 2)  c. Hak  mengajukan  pendapat,  permohonan,  pengaduan  dan  atau  usulan  kepada  pemerintah  dalam  rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih,  efektif dan efisien baik dengan lisan maupun tulisan (pasal 44)  9. Hak Wanita (pasal 45‐51), point penting terkait reproduksi wanita :  a. Hak  wanita  untuk  mendapat  perlindungan  khusus  dalam  pelaksanaan  pekerjaan  atau  profesinya  terhadap  hal‐hal  yang  dapat  mengancam  keselamatan dan kesehatannya berkenaan dengan reproduksi wanita (pasal  49, ayat 2).  b. Hak  khusus  yang  melekat  pada  diri  wanita,  dikarenakan  fungsi  reproduksinya dijamin dan dilindungi oleh hukum (pasal 49, ayat 3)  10. Hak Anak (pasal 52‐pasal 66)      C. Kewajiban Dasar Manusia  1. Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib patuh pada  peraturan perundang‐undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional  mengenai Hak Asasi Manusia yang telah diterima Republik Indonesia (pasal  67).  2. Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara (pasal  68)  3. Setiap orang wajib menghormati Hak Asasi Manusia orang lain, moral, etika  dan  tata  tertib  kehidupan  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara  (pasal  69, ayat 1)  4. Setiap  Hak  Asasi  Manusia  seseorang  menimbulkan  kewajiban  dasar  dan  tanggungjawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik  serta menjadi tugas pemerintah untk menghormati, melindungi, menegakkan  dan memajukannya (pasal 69, ayat 2)  5. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib dan tunduk  kepada  pembatasan  yang  ditetapkan  oleh  Undang‐Undang  dengan  maksud  untuk  menjamin  pengakuan  serta  penghormatan  atas  hak  dan  kebebasan  orang  lain  dan  untuk  memenuhi  tuntutan  yang  adil  sesuai  dengan  pertimbangan  moral,  keamanan  dan  ketertiban  umum  dalam  suatu  masyarakat yang demokratis.           
    • Page 15 of 20  LAMPIRAN 2:    DEKLARASI UNIVERSAL  HAK‐HAK ASASI MANUSIA    Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB  pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III)      Mukadimah   Menimbang,  bahwa  pengakuan  atas  martabat  alamiah  dan  hak‐hak  yang  sama  dan  tidak  dapat  dicabut  dari  semua  anggota  keluarga  manusia  adalah  dasar  kemerdekaan,  keadilan  dan perdamaian di dunia,   Menimbang,  bahwa  mengabaikan  dan  memandang  rendah  hak‐hak  manusia  telah  mengakibatkan perbuatan‐perbuatan bengis yang menimbulkan rasa kemarahan hati nurani  umat  manusia,  dan  terbentuknya  suatu  dunia  tempat  manusia  akan  mengecap  nikmat  kebebasan berbicara dan beragama serta kebebasan dari rasa takut dan kekurangan telah  dinyatakan sebagai cita‐cita yang tertinggi dari rakyat biasa,   Menimbang,  bahwa  hak‐hak  manusia  perlu  dilindungi  dengan  peraturan  hukum,  supaya  orang  tidak  akan  terpaksa  memilih  jalan  pemberontakan  sebagai  usaha  terakhir  guna  menentang kelaliman dan penjajahan,   Menimbang, bahwa pembangunan hubungan persahabatan di antara negara‐negara perlu  ditingkatkan,   Menimbang,  bahwa  bangsa‐bangsa  dari  Perserikatan  Bangsa‐Bangsa  di  dalam  Piagam  Perserikatan Bangsa‐Bangsa telah menegaskan kembali kepercayaan mereka pada hak‐hak  dasar dari manusia, akan martabat dan nilai seseorang manusia dan akan hak‐hak yang sama  dari laki‐laki maupun perempuan, dan telah memutuskan akan mendorong kemajuan sosial  dan tingkat hidup yang lebih baik dalam kemerdekaan yang lebih luas,   Menimbang, bahwa Negara‐negara Anggota telah berjanji untuk mencapai kemajuan dalam  penghargaan  dan  penghormatan  umum  terhadap  hak‐hak  asasi  manusia  dan  kebebasan‐ kebebesan yang asasi, dalam kerja sama dengan Perserikatan Bangsa‐Bangsa,   Menimbang, bahwa pemahaman yang sama mengenai hak‐hak dan kebebasan‐kebebasan  tersebut sangat penting untuk pelaksanaan yang sungguh‐sungguh dari janji tersebut,   maka dengan ini,   Majelis Umum,   Memproklamasikan  Deklarasi  Universal  Hak  Asasi  Manusia  sebagai  suatu  standar  umum  untuk keberhasilan bagi semua bangsa dan semua negara, dengan tujuan agar setiap orang  dan  setiap  badan  di  dalam  masyarakat,  dengan  senantiasa  mengingat  Deklarasi  ini,  akan  berusaha  dengan  cara  mengajarkan  dan  memberikan  pendidikan  guna  menggalakkan  penghargaan  terhadap  hak‐hak  dan  kebebasan‐kebebasan  tersebut,  dan  dengan  jalan  tindakan‐tindakan  yang  progresif  yang  bersifat  nasional  maupun  internasional,  menjamin  pengakuan dan penghormatannnya yang universal dan efektif, baik oleh bangsa‐bangsa dari  Negara‐negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa‐bangsa dari wilayah‐wilayah yang ada  di bawah kekuasaan hukum mereka.    
    • Page 16 of 20  Pasal 1   Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak‐hak yang sama. Mereka  dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan.   Pasal 2   Setiap  orang  berhak  atas  semua  hak  dan  kebebasan‐kebebasan  yang  tercantum  di  dalam  Deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit,  jenis  kelamin,  bahasa,  agama,  politik  atau  pandangan  lain,  asal‐usul  kebangsaan  atau  kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain.   Selanjutnya,  tidak  akan  diadakan  pembedaan  atas  dasar  kedudukan  politik,  hukum  atau  kedudukan  internasional  dari  negara  atau  daerah  dari  mana  seseorang  berasal,  baik  dari  negara yang merdeka, yang berbentuk wilyah‐wilayah perwalian, jajahan atau yang berada  di bawah batasan kedaulatan yang lain.   Pasal 3   Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai induvidu.   Pasal 4   Tidak  seorang pun boleh diperbudak  atau diperhambakan; perhambaan dan perdagangan  budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.   Pasal 5   Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau dikukum  secara tidak manusiawi atau dihina.   Pasal 6   Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja  ia berada.   Pasal 7   Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa  diskriminasi.  Semua  berhak  atas  perlindungan  yang  sama  terhadap  setiap  bentuk  diskriminasi  yang  bertentangan  dengan  Deklarasi  ini,  dan  terhadap  segala  hasutan  yang  mengarah pada diskriminasi semacam ini.   Pasal 8   Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten  untuk  tindakan‐tindakan  yang  melanggar  hak‐hak  dasar  yang  diberikan  kepadanya  oleh  undang‐undang dasar atau hukum.   Pasal 9   Tidak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenang‐wenang.   Pasal 10   Setiap orang, dalam persamaan yang penuh, berhak atas peradilan yang adil dan terbuka  oleh  pengadilan  yang  bebas  dan  tidak  memihak,  dalam  menetapkan  hak  dan  kewajiban‐ kewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya.    
    • Page 17 of 20  Pasal 11   (1) Setiap  orang  yang  dituntut  karena  disangka  melakukan  suatu  tindak  pidana  dianggap  tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam suatu pengadilan  yang  terbuka,  di  mana  dia  memperoleh  semua  jaminan  yang  perlukan  untuk  pembelaannya.   (2) Tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan tindak pidana karena perbuatan atau  kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana menurut undang‐undang nasional  atau  internasional,  ketika  perbuatan  tersebut  dilakukan.  Juga  tidak  diperkenankan  menjatuhkan  hukuman  yang  lebih  berat  daripada  hukum  yang  seharusnya  dikenakan  ketika pelanggaran pidana itu dilakukan.   Pasal 12   Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau  hubungan  surat  menyuratnya  dengan  sewenang‐wenang;  juga  tidak  diperkenankan  melakukan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat  perlindungan hukum terhadap gangguan atau pelanggaran seperti ini.   Pasal 13   (1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas‐batas setiap  negara.   (2) Setiap orang berhak meninggalkan suatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan berhak  kembali ke negerinya.   Pasal 14   (1) Setiap orang berhak mencari dan mendapatkan suaka di negeri lain untuk melindungi  diri dari pengejaran.   (2) Hak ini tidak berlaku untuk kasus pengejaran yang benar‐benar timbul karena kejahatan‐ kejahatan  yang  tidak  berhubungan  dengan  politik,  atau  karena  perbuatan‐perbuatan  yang bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa‐Bangsa.   Pasal 15   (1) Setiap orang berhak atas sesuatu kewarganegaraan.   (2) Tidak  seorang  pun  dengan  semena‐mena  dapat  dicabut  kewarganegaraannya  atau  ditolak hanya untuk mengganti kewarganegaraannya.   Pasal 16   (1) Laki‐laki  dan  Perempuan  yang  sudah  dewasa,  dengan  tidak  dibatasi  kebangsaan,  kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan untuk membentuk keluarga.  Mereka mempunyai hak yang sama dalam soal perkawinan, di dalam masa perkawinan  dan di saat perceraian.   (2) Perkawinan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan pilihan bebas dan persetujuan penuh  oleh kedua mempelai.   (3) Keluarga adalah kesatuan yang alamiah dan fundamental dari masyarakat dan berhak  mendapatkan perlindungan dari masyarakat dan Negara.    
    • Page 18 of 20  Pasal 17   (1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama‐sama dengan orang  lain.   (2) Tidak seorang pun boleh dirampas harta miliknya dengan semena‐mena.   Pasal 18   Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini termasuk  kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan kebebasan untuk menyatakan agama  atau  kepercayaann  dengan  cara  mengajarkannya,  melakukannya,  beribadat  dan  mentaatinya,  baik  sendiri  maupun  bersama‐sama  dengan  orang  lain,  di  muka  umum  maupun sendiri.   Pasal 19   Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini  termasuk  kebebasan  menganut  pendapat  tanpa  mendapat  gangguan, dan  untuk  mencari,  menerima dan menyampaikan keterangan‐keterangan dan pendapat dengan cara apa pun  dan dengan tidak memandang batas‐batas.   Pasal 20   (1) Setiap  orang  mempunyai  hak  atas  kebebasan  berkumpul  dan  berserikat  tanpa  kekerasan.   (2) Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki suatu perkumpulan.   Pasal 21   (1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negaranya, secara langsung atau  melalui wakil‐wakil yang dipilih dengan bebas.   (2) Setiap  orang  berhak  atas  kesempatan  yang  sama  untuk  diangkat  dalam  jabatan  pemerintahan negeranya.   (3) Kehendak  rakyat  harus  menjadi  dasar  kekuasaan  pemerintah;  kehendak  ini  harus  dinyatakan dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara berkala dan murni, dengan  hak pilih yang bersifat umum dan sederajat, dengan pemungutan suara secara rahasia  ataupun dengan prosedur lain yang menjamin kebebasan memberikan suara.   Pasal 22   Setiap  orang,  sebagai  anggota  masyarakat,  berhak  atas  jaminan  sosial  dan  berhak  akan  terlaksananya hak‐hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan untuk martabat  dan  pertumbuhan  bebas  pribadinya,  melalui  usaha‐usaha  nasional  maupun  kerjasama  internasional, dan sesuai dengan pengaturan serta sumber daya setiap negara.   Pasal 23   (1) Setiap  orang  berhak  atas  pekerjaan,  berhak  dengan  bebas  memilih  pekerjaan,  berhak  atas  syarat‐syarat  perburuhan  yang  adil  dan  menguntungkan  serta  berhak  atas  perlindungan dari pengangguran.   (2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk pekerjaan  yang sama.  
    • Page 19 of 20  (3) Setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan menguntungkan, yang  memberikan  jaminan  kehidupan  yang  bermartabat  baik  untuk  dirinya  sendiri  maupun  keluarganya, dan jika perlu ditambah dengan perlindungan sosial lainnya.   (4) Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat‐serikat pekerja untuk melindungi  kepentingannya.  Pasal 24   Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan‐pembatasan jam kerja  yang layak dan hari liburan berkala, dengan tetap menerima upah.   Pasal 25   (1) Setiap  orang  berhak  atas  tingkat  hidup  yang  memadai  untuk  kesehatan  dan  kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan  dan  perawatan  kesehatan  serta  pelayanan  sosial  yang  diperlukan,  dan  berhak  atas  jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai  usia  lanjut  atau  keadaan  lainnya  yang  mengakibatkannya  kekurangan  nafkah,  yang  berada di luar kekuasaannya.   (2) Ibu  dan  anak‐anak  berhak  mendapat  perawatan  dan  bantuan  istimewa.  Semua  anak‐ anak,  baik  yang  dilahirkan  di  dalam  maupun  di  luar  perkawinan,  harus  mendapat  perlindungan sosial yang sama.   Pasal 26   (1) Setiap  orang  berhak  memperoleh  pendidikan.  Pendidikan  harus  dengan  cuma‐cuma,  setidak‐tidaknya  untuk  tingkatan  sekolah  rendah  dan  pendidikan  dasar.  Pendidikan  rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka  bagi semua orang, dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama  oleh semua orang, berdasarkan kepantasan.   (2) Pendidikan  harus  ditujukan  ke  arah  perkembangan  pribadi  yang  seluas‐luasnya  serta  untuk  mempertebal  penghargaan  terhadap  hak  asasi  manusia  dan  kebebasan‐ kebebasan  dasar.  Pendidikan  harus  menggalakkan  saling  pengertian,  toleransi  dan  persahabatan  di  antara  semua  bangsa,  kelompok  ras  maupun  agama,  serta  harus  memajukan kegiatan Perserikatan Bangsa‐Bangsa dalam memelihara perdamaian.   (3) Orang tua mempunyai hak utama dalam memilih jenis pendidikan yang akan diberikan  kepada anak‐anak mereka.   Pasal 27   (1) Setiap orang berhak untuk turut serta dalam kehidupan kebudayaan masyarakat dengan  bebas,  untuk  menikmati  kesenian,  dan  untuk  turut  mengecap  kemajuan  dan  manfaat  ilmu pengetahuan.   (2) Setiap  orang  berhak  untuk  memperoleh  perlindungan  atas  keuntungan‐keuntungan  moril  maupun  material  yang  diperoleh  sebagai  hasil  karya  ilmiah,  kesusasteraan  atau  kesenian yang diciptakannya.   Pasal 28   Setiap  orang  berhak  atas  suatu  tatanan  sosial  dan  internasional  di  mana  hak‐hak  dan  kebebasan‐kebebasan  yang  termaktub  di  dalam  Deklarasi  ini  dapat  dilaksanakan  sepenuhnya.  
    • Page 20 of 20  Pasal 29   (1) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat tempat satu‐satunya di mana  dia dapat mengembangkan kepribadiannya dengan bebas dan penuh.   (2) Dalam menjalankan hak‐hak dan kebebasan‐kebebasannya, setiap orang harus tunduk  hanya  pada  pembatasan‐pembatasan  yang  ditetapkan  oleh  undang‐undang  yang  tujuannya  semata‐mata  untuk  menjamin  pengakuan  serta  penghormatan  yang  tepat  terhadap  hak‐hak  dan  kebebasan‐kebebasan  orang  lain,  dan  untuk  memenuhi  syarat‐ syarat yang adil dalam hal kesusilaan, ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu  masyarakat yang demokratis.   (3) Hak‐hak  dan  kebebasan‐kebebasan  ini  dengan  jalan  bagaimana  pun  sekali‐kali  tidak  boleh  dilaksanakan  bertentangan  dengan  tujuan  dan  prinsip‐prinsip  Perserikatan  Bangsa‐Bangsa.   Pasal 30   Tidak  sesuatu  pun  di  dalam  Deklarasi  ini  boleh  ditafsirkan  memberikan  sesuatu  Negara,  kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa pun, atau melakukan  perbuatan yang bertujuan merusak hak‐hak dan kebebasan‐kebebasan yang mana pun yang  termaktub di dalam Deklarasi ini.                                                    
    • Technical Paper   Pebruari 2012      # Seni Memfasilitasi Dinamika Kelompok      BERPIKIR KONVERGEN —  DIVERGEN      Salah  satu  metode  yang  dapat  digunakan  untuk  memfasilitasi  dinamika  kelompok  dengan  menggunakan  model  berpikir  konvergen–  divergen.  Istilah  gaya  berpikir  konvergen  –  divergen  diperkenalkan  Joy  Paulus  Guilford  (1950)  dalam  konsepnya  tentang kreativitas.    Dalam  memfasilitasi  diskusi  tentang    “HAK“,  model  konvergen‐divergen  dapat  dipergunakan.  Oleh  karena,  setiap  orang  memiliki  klaim  pribadi  terhadap  hak  sehingga dengan pendekatan berpikir divergen, setiap orang mendapat kebebasan  untuk mengemukakan pendapat masing‐masing tentang hak mereka.  Setelah semua  orang mengemukakan pendapatnya, maka dilanjutkan dengan pendekatan berpikir  konvergen,  meminta  semua  orang  merumuskan  konsensus  untuk  HAK  yang  akan  menjadi acuan bersama.    1. Pengertian Berpikir Divergen dan Konvergen  Berpikir  divergen  adalah  proses  pikiran  atau  metode  yang  digunakan  untuk  menghasilkan  ide‐ide  kreatif  dengan  mengeksplorasi  banyak  kemungkinan  solusi.  Untuk  menemukan  solusi  terbaik,  langkah  pertama  yang  dilakukan  adalah  menemukan sejumlah alternatif yang baik. Berpikir divergen biasanya dengan cara  melakukan stimulasi (mengajukan pertanyaan) sehingga ide atau gagasan mengalir  secara bebas dan  spontan sehingga banyak ide yang dihasilkan.     
    • Page 2 of 3  Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendorong terjadinya gaya berpikir divergen  adalah membuat daftar pertanyaan, curah gagasan, pemetaan menciptakan karya  seni, dan menulis bebas.    Berpikir Konvergen adalan proses pikiran untuk mempersempit jumlah solusi yang  mungkin  untuk  masalah  dengan  menerapkan  logika  dan  pengetahuan.    Berpikir  konvergen berorientasi menemukan pilihan terbaik dari semua jawaban dari sebuah  pertanyaan.  Gaya  berpikir  ini  menekankan  pada  kecepatan,  akurasi,  logika,  dan  berfokus pada pengetahuan.   Berpikir konvergen merupakan proses menggabungkan ide‐ide yang ada berdasarkan  pola‐pola  ide  yang  memiliki  kesamaan.  Berpikir  konvergen  berarti  menempatkan  bagian  yang  berbeda  dari  ide‐ide  yang  ada  secara  terorganisir,  terstruktur  dan  mudah dipahami.           2. Mengajukan Pertanyaan yang Tepat  Dalam memfasilitasi pertemuan dengan metode gaya berpikir konvergen‐divergen,  fasilitator harus mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang tepat  dapat  memberikan  stimulasi  untuk  mendorong  peserta  pertemuan  menghasilkan  ide, gagasan ataupun pendapat yang sesuai dengan tujuan pertemuan.  Kevin  Kogan  dalam  bukunya  Covert  Persuasion  (2006)  menyatakan  pertanyaan  adalah  alat  yang  sangat  mengagumkan.  Pertanyaan  memiliki  kekuatan  sekaligus  kesederhanaan.  Pertanyaan  bisa  membentuk,  mengarahkan,  membujuk,  memengaruhi, menginformasikan bahkan menuduh.        
    • Page 3 of 3  ALUR FASILITASI PERTEMUAN :