Makalah Strategi Pembelajaran tentang STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Makalah Strategi Pembelajaran tentang STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

on

  • 18,143 views

 

Statistics

Views

Total Views
18,143
Views on SlideShare
18,141
Embed Views
2

Actions

Likes
3
Downloads
370
Comments
0

1 Embed 2

https://twitter.com 2

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Makalah Strategi Pembelajaran tentang STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF Makalah Strategi Pembelajaran tentang STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF Document Transcript

  • MAKALAH KELOMPOK ‘‘Kasus Strategi Pembelajaran Kooperatif dan Upaya Pemecahannya” Sebagai salah satu syarat untuk menempuh mata kuliah Strategi Pembelajaran Pengampu: Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd. I. Widiani Trisnaningsih, S.Pd. Disusun oleh: Kelompok 6 B 1. Puspita Fajerin 11340046 2. Royana Mukorobin 11340050 3. Sri Rahayu 11340078 4. Mas Amah 11340066 5. Verdian Linda Riana 09340840 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO APRIL
  • KATA PENGANTAR Puji syukur kami hanturkan kepada Allah atas segala rahmat-Nya yang telah memberikan kesempatan waktu bagi kami dalam menyusun tugas kelompok ini. Makalah ini ditulis penulis sebagai pemenuhan tugas mata Strategi Pembelajaran Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Allah Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd. I. dan Ibu Widiani Tresnaningsih, S.Pd. sebagai dosen pengampu yang telah memberikan arahan kepada kami dalam rangka penyelesaian makalah ini. 2. Kepada orang tua yang memotivasikan kami sehingga penyelesaian makalah ini terselesaikan. 3. Kepada teman-teman yang memberi semangat hingga makalh ini terselesaikan. . Tiada Manusia yang Sempurna, begitupun dengan makalah ini. Masih ada beberapa kesalahan yang ada tanpa disadari oleh penulis, oleh karena itu penulis harapkan akan adanya kritik dan saran atas makalah ini yang membangun. Dan dari penulis sendiri kami ucapkan terima kasih, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Metro, Mei 2013 Penulis
  • DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A. Latar Belakang.......................................................................................... 1 B. Tujuan Penulisan....................................................................................... 2 C. Sistematika Makalah................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 3 A. Pengertian Strategi..................................................................................... 3 ..................................................................................................................................... B. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)....................................................... 3 C. Karakteristik dan prinsip-prinsip SPK........................................................ 6 D. Keunggulan dan Kelemahan SPK.............................................................. 10 E. Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif...................... 11 F. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif........................... 12 G. Variasi-variasi dalam Model Pembelajaran Kooperatif............................. 13 H. Upaya-upaya Kasus Pembelajaran Bahasa Inggris melalui SPK............... 18 BAB IV PENUTUP................................................................................................... 21 Kesimpulan............................................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 23
  • BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelaksanaan pembelajaran yang aktif ,inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan baik yang akan dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas diperlukan persiapan yang matang oleh pendidik semua mata pelajaran. Persiapan yang dimaksud adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan skenario dalam pembelajaran. Dalam penyusunan RPP seorang pendidik perlu memperhatikan pendekatan dan metode jenis apa yang akan dipilih dan dipakai dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi pembelajaran.Pada hakikatnya tidak pernah terjadi satu materi pelajaran disajikan dengan menggunakan hanya satu metode. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna (Rustaman,2003:107). Hal ini dilakukan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai dengan baik. Metode apa yang paling tepat untuk diterapkan dalam suatu proses pembelajaran ? Hal itu jelas harus dikuasai oleh guru. Lebih jelasnya adalah bahwa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guru harus mampu menguasai berbagai metode yang paling tepat sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan. Penguasaan terhadap metode, alat / media dan teknik pembelajaran ini harus diterapkan dan tercermin dalam program pembelajaran. Jadi pada intinya proses pembelajaran harus bervariatif, metode yang digunakan tidak monoton, sehingga potensi yang ada pada masing- masing anak dapat dikembangkan secara optimal. Berbagai tuntutan di atas akan dapat terlaksana dengan baik apabila guru yang bersangkutan memiliki kemampuan professional, artinya baik dalam motivasi untuk mengajar maupun kemampuan secara teknis instruksional, guru tersebut benar-benar dapat diandalkan. Salah satu bentuk profesionalitas seorang guru adalah jika yang bersangkutan mampu menerapkan metode mengajar yang baik, salah satunya adalah metode diskusi dalam pembelajaran.
  • B. Tujuan Dari rumusan masalah di atas dapat diketahui tujuan pembuatan makalah ini adalah: 1. Mendefinisikan definisi strategi pembelajaran yang digunakan dalam RPP 2. Menjelaskan metode yang digunakan dalam RPP 3. Menjelaskan teknik atau cara pelaksanaan metode tersebut C. Sistematika Makalah Adapun susunan dari makalah Strategi Pembelajaran ini adalah; Cover. Kata Pengantar. Daftar isi. Bab I Pendahuluan adapun bab ini berisi tentang; A. Latar Belakang. B. Tujuan. C. Sistematika Makalah. Bab II Pembahasan, adapun bab ini berisi tentang; A. Pengertian Strategi. B. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK). C. Karakteristik dan prinsip-prinsip SPK. D. Keunggulan dan Kelemahan SPK. E. Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif. F. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif. G. Variasi-variasi dalam Model Pembelajaran Kooperatif. H. Upaya Kasus Pembelajaran Bahasa Inggris melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif. Bab III Penutup, adapun bab ini berisi tentang; A. Simpulan DAFTAR PUSTAKA
  • BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Strategi Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particulareducational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran. Sementara itu, (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaranadalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dapat pula diartikan sebagai usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa untu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan yang dimaksud dengan strategi pembelajaran kooperatif (SPK) adalah merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. B. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK) Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK yaitu :
  • Adanya peserta dalam kelompok Adanya aturan kelompok Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok Adanya tujuan yang ingin dicapai Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa di tetapkan dalam beberapa pendekatan, diantaranya : pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa pengelompokkan yang didasarkan atas latar belakang kemampuan pengelompokkan yang didasarkan atas campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun ditinjau dari kemampuan. Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi pertimbangan. Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik maupun siswa sebagai anggota kelompok. Misalnya, aturan tentang pembagian tugas setiap kelompok, waktu dan tetap pelaksanakan dan lain sebagainya. Upaya belajar adalah segala aktifitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar pserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Aspek tujuan dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar. Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah startegi pembelajaran kooperatif (cooperative learning/SPK). SPK merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995)mengemukkan dua alasan, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan penggunakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekuarangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran
  • kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memcahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan. Dari dua alasan tersebut, maka pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sisitem pengelompokkan atau tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akdemik, jenis kelamin, ras atau suku berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh (reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setiap individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok. SPK mempunyai dua komponen yaitu komponen tugas kooperatif (cooperatible task) dan komponen struktur insentif kooperatif (cooperative insentive structure). Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyeselaikan tugas kelompok, sedangkan struktur insentif kooperatif merupakan sesuatu yang membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari pembelajaran kooperatif karena melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar, mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran, sehingga mencapai tujuan kelompok. Jadi hal yang menarik dari SPK adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar pesetrta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap psesrta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, pengahargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan kepada yang lain. Startegi pembelajaran ini bisa digunakan manakala : guru menekankan pentingnya usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar
  • jika guru menghendaki seluruh siswa (bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar. Jika guru ingin menanamkan bahawa setiap siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dan belajar dari bantuan orang lain. Jika guru menghendaki untuk menegmbangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum. Jika guru menghendaki untuk mengembangkan motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka. Jika guru mengehndaki berekembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan. C. Karakteristik dan Prinsip-Prinsip SPK 1. Karakteristik SPK Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran lainnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Slavin, Abrani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu : Perspektif motivasi Artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan kepada setiap anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian keberhasilan setiap individu adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya. Perspektif sosial Artinya bahwa melalui belajar kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan setiap anggota kelompoknya memperoleh kebrhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh kelompok, merupakan
  • iklim yang bagus dimana setiap anggota kelompok menginginkan semuanya memperoleh kebrhasilan. Perspektif perkembangan kognitif Artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berfikir mengolah berbagai informasi. Elaborasi kognitif artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya. Dengan demikian, karakteristik startegi pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dibawah ini : a) Pembelajaran secara tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran di tentukkan oleh keberhasilan tim. Setiap anggota bersifat hiterogen. Artinya kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok. b) Didasarkan pada menejemen kooperatif Sebagaimana pada umumnya, menejemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, fungsi kontrol. Demikian juga dalam pemeblajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaraan kooperatif memerluhakn perencanaan yang matang agar proses pemeblajaran berjalan secara efektif. Misalanya tujuan pembelajaran apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pemeblajaran yang sudah di tentukkan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaraan kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota
  • kelompok oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu dintentukkan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes. c) Kemauan untuk bekerja sama. Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukkan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu prinsip kerja sama perlu di tekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masin, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnaya yang pinta membantu yang kurang pintar. d) Keterampilan bekerja sama Kemampuan untuk bekrja sama itu kemudian di praktikan melalui aktifitas dan kegiatan yang tergambar dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggung berinteraksi dan berinteraksi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikkan ide, mengemukakan pendapat dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok. 2. Prinsip-Prinsip Pembelajaraan Kooperatif Terdapat empat prinsip dasar pembelajaraan kooperatif, seperti di jelaskan di bawah ini : a. Prinsip Ketergantungan Positif (Positive Interdependence) Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaikan tugas sangat tergantung pada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu perlu di sadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan di tentukkan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan saling ketergantungan. Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif setiap anggota kelompok masing-masing perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu saja disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Inilah hakikat ketergantungan
  • positif. Artinya tugas kelompok tidak mungkin diselesaikan manakala ada anggota yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya. Dan semua ini memerluhakan kerjasama yang baik dari masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan mampu membantu temannya untuk menyelesaikan tugasnya. b. Tanggung Jawab Perseorangan ( Individual accountability) Prinsip ini merupakan kosekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya. Untuk mencapai hal tersebut, guru memberikan penilaian terhadap individu dan juga kelompok. Penilaian individu bisa berbeda, akan tetapi penilaian kelompok harus sama. c. Interaksi Tatap Muka ( face to face interaction) Pembelajaran koopertif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memebrikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekrja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing dan mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara hiterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok. d. Partisipasi dan Komunikasi (Participation and Communication) Pembelajaran kooperatif membantu siswa untuk dapata mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan mendengarakan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok ditentukkan oleh partisipasi setiap anggotanya. Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi. Misalnya cara menyatakan ketidaksetujuan atau
  • cara menyanggah pendapat orang lain dengan santun, tidak memojokkan, cara menyampaikan gagasan, ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna. Keterampilan berkomunikasi memang perlu waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai akhirnya siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik. D. Keunggulan dan Kelemahan SPK 1. Keunggulan SPK Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu startegi pembelajaran diantaranya  Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.  SPK dapat mengembangkan kemampuan meningkatkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.  SPK dapat membantu anak untuk respek untuk orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaannya.  SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.  SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termnasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan ayang lain, mengembangkan keterampilan me-menege waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.  Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk mneguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat mempraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan , karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.  SPK dapat meningkatkan kemampuan siwa dapat menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstark menjadi nayat atau rill  Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan gagasan untuk berfikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
  • 2. Kelemahan SPK  Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filosofis cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan terhambat oleh siswa yang memiliki kemampuan kurang. Akibatnya keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerjasama dalam kelompok.  Ciri utama dari SPK adalah bahawa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dari pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan di pahami tidak pernah dicapai oleh siswa.  Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu.  Keberhasilan SPK dalam upaya menegmbangkan kesadaran berkelompok memerluhakan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi ini.  Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu SPK memang bukan pekerjaan yang mudah. E. Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sanjaya, 2009: 243), yaitu sebagai berikut. 1) Guru menekankan pentingnya usaha kolektif di samping usaha individudual dalam belajar. 2) Guru menghendaki seluruh siswa berhasil dalam belajar. 3) Guru ingin menunjukkan pada siswa bahwa siswa dapat belajar dari temannya, 4) Guru ingin mengembangkan kemampuan komunikasi siswa. 5) Guru menghendaki motivasi dan partisipasi siswa dalam belajar meningkat 6) Guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
  • F. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif. A. Langkah pelaksanaan strategi pembelajaraan kooperatif terdiri dari empat tahap yaitu : 1. Penjelasan Materi Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam thap ini adalah pemahaman sisiwa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat mempergunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian lebih menarik siswa. 2. Belajar dalam Kelompok Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkan dalam SPK bersifat heterogen artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan gender, latar belakang agama, sosial-ekonomi, dan etnik serta perbedaan kemampuan akademik. Dalam hak kemampuan akademis, kelompok pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan berkemampuan akademis sedang dan satu lainnya dari kelompok akademis yang berkemampuan akademis kurang (Anita Lie, 2005). Selanjutnya lie menjelaskan beberapa alasan lebih disukainya pengelompokkan hiterogen, yaitu, pertama kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mnegajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antara agama, etnis, dan gender. Yang ketiga kelompok hiterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang. Melalui pembelajaran dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar menukar (sharing) informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
  • 3. Penilaian Penilaian dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa, dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dibagi dua. Nilai kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil akhir kerja sama setiap anggota kelompok. 4. Pengakuan Tim Pengakuan tim (team reognition) adalah penetapan tim yang paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian di beri penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka. G. Variasi-variasi dalam Model Pembelajaran Kooperatif Ada 4 metode yang dapat dilaksanakan oleh guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007: 49). Keempat metode dimaksud adalah: metode STAD, Metode Jigsaw, Metode GI (group investigation), dan metode struktural. 1. Metode STAD a. Karakteristik Metode STAD STAD kependekan dari Student Team Achievement Divisions. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. dari Universitas John Hopkins. Dalam metode STAD guru membagi siswa suatu kelas menjadi beberapa kelompok kecil atau tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4 atau 5 orang siswa secara heterogen. Setiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan saling membantu untuk menguasai materi ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim. Secara individual atau kelompok setiap satu atau dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang telah mereka pelajari. Setelah itu seluru siswa dalam kelas tersebut diberikan materi tes tentang materiajar yang telah mereka pelajari. Pada saat menjalani tes mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
  • b. Sintaks Metode STAD Sintaks metode STAD terdiri atas 6 fase (Trianto, 2007: 54), yaitu sebagai berikut ini. Fase ke-1: menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk aktif belajar. Fase ke-2: menyajikan materi ajar kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau melalui bahan bacaan. Fase ke-3: menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar . Fase ke-4: membimbing setiap kelompok belajar untuk belajar dan bekerja. Fase ke-5: mengevaluasi hasil belajar dan kerja masing-masing kelompok. Fase ke-6: Guru memberikan penghargaan pada para siswa baik sebagai individu maupun kelompok, baik karena usaha yang telah mereka lakukan maupun karena hasil yang telah meerka capai. 2. Metode Jigsaw a. Karakteristik Metode Jigsaw Metode Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Elliot Aronson dan rekan-rekan sejawatnya (Arends, 2008: 13). Dalam metode Jigsaw para siswa dari suatu kelas dikelompokkan menjadi beberapa tim belajar yang beranggotakan 5 atau 6 orang secara heterogen. Guru memberikan bahan ajar dalam bentuk teks kepada setiap kelompok dan setiap siswa dalam satu kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari satu porsi materinya. Para anggota dari tim-tim yang berbeda tetapi membahas topik yang sama bertemu untuk belajar dan saling membantu dalam mempelajari topic tersebut. Kelompok semacam ini dalam metodeJigsaw disebut kelompok ahli (expert group). b. Sintaks metode Jigsaw Pelaksanaan metode Jigsaw terdiri dari 6 langkah kegiatan (Trianto, 2007: 56-57) sebagai berikut. Fase ke-1: Guru membagi kelas menjadibeberapa kelompok belajar. Setiap kelompok beranggotakan 5 – 6 orang siswa.
  • Fase ke-2: Guru memberikan materi ajar dalam bentuk teks yang telah terbagi menjadi beberapa sub materi untuk dipelajari secara khusus oleh setiap anggota kelompok. Fase ke-3: Semua kelompok mempelajari materi ajar yang telah diberikan oleh guru. Fase ke-4: Kelompok ahli bertemu dan membahas topik materi yang menjadi tanggung jawabnya. Fase ke-5 : Anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing (home teams) untuk membantu kelompoknya. Fase ke-6: Guru mengevaluasi hasil belajar siswa secara individual. 3. Metode Invenstigasi Kelompok (Group Investigation) a. Karakteristik metode investigasi kelompok Metode investigasi kelompok dirancang oleh Herbert Thalen dan metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit diimplementasikan (Arends, 2008: 14). Kompleksitas dan sulitnya implementasi metode ini dikarenakan keterlibatan siswa dalam merencanakan topik-topik materi ajar maupun cara mempelajarinya melalui investigasi. Pada metode investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok secara heterogen yang masing-masing beranggota 5 atau 6 orang siswa. Siswa memilih topik-topik tertentu untuk dipelajari, melakukan investigasi mendalam terhadap sub-sub topik yang dipilih kemudian menyiapkan dan mempresentasikan hasil belajar di kelas. b. Sintaks metode investigasi kelompok Sharan dkk. sebagaimana pendapatnya dikutip Arends (2008: 14) mendeskripsikan 6 langkah metode investigasi kelompok sebagai berikut. Fase ke-1: pemilihan topik Siswa memilih sub-sub topik tertentu dalam bidang permasalahan umum yang biasanya dibahas oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggota 5 atau 6 orang.
  • Fase ke-2: perencanaan kooperatif Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan sub-sub topik yang telah dipilih. Fase ke-3: implementasi Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan pada fase ke-2. Fase ke-4: analisis dan sintesis Sisma menganalisis dan mensistesis informasi yang diperoleh pada kegiatan fase ke-3. Fase ke-5: presentasi hasil akhir Beberapa atau semua kelompok melakukan presentasi di kelas tentang topik-topik yang mereka pelajari di bawah koordinasi guru. Fase ke-6: evaluasi Siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan. Evaluasi dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau keduanya. 4. Metode Struktural a. Karakteristik metode struktural Metode struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan dkk. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan metode lainnya, metode structural menekankan penggunaan struktur tertent yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Dua macam struktur yang dapat dipilih guru untuk melaksanakan metode structural adalah think-pair- share dan numbered head together. 1) Sintaks think-pair-share Pelaksanaan think-pair-share terdiri 3 langkah : thinking, pairing, dan sharing(Arends, 2008: 15-16). Langkah pertama: thinking(berpikir) Guru mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait dengan materi ajar dan memberikan waktu satu menit kepada siswa untuk memikirkan sendiri jawabannya.
  • Langkah kedua: pairing(berpasangan) Guru meminta siswa untuk mendiskusikan secara berpasangan tentang apa yang siswa pikiran Langkah ketiga: sharing (berbagi) Guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi hasil diskusinya dengan seluruh siswa di kelas. 2) Numbered heads together Sintaks numbered heads together terdiri dari tiga langkah (Arends, 2008: 16), yaitu sebagai berikut. Langkah pertama: numbering(penomoran) Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5 orang dan member setiap anggota kelompok tersebut nomor secara berurutan. Langkah kedua: questioning(pengajuan pertanyaan) Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan bias bervariasi. Langkah ketiga: head together(berpikir bersama) Para siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban atas pertanyaan dari gurunya. Langkah keempat: answering(pemberian jawaban) Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari setiap kelompok yang nomornya sama dengan nomor yang disebutkan guru mengangkat tangannya dan memberikan jawaban di depan kelas.
  • H. Upaya Kasus Pembelajaran Bahasa Inggris melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif Kompetensi Dasar Materi Kategori Karakeristik Metode / teknik Langkah-langkah pembelajaran 1. Siswa dapat memahami dan mengidenti fikasi bagian- bagian dalam narative teks. Narrative Text Analyze Prinsip Jigsaw/ diskusi 1.Siswa dibagi dalam beberapa kelompok lalu guru membagikan sebuah teks narative. Lalu guru menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa, bahwa siswa diminta untuk mengidentifikasi teks yang telah dibagikan. Mengidentifikasi bagian-bagian dari narative text. Kelompok pertama mengidentifikasi tentang pengertian serta generic structure dari narative dalam teksnya. Kelompok kedua diminta untuk mengidentifikasi language feature pada narative teks tersebut dan kelompok terakhir diminta untuk mengidentifikasi moral value yang terdapat
  • dalam teks. Setiap kelompok diberikan waktu 10menit untuk mendiskusikan tentang hal tesebut. Lalu setelah 10 menit berlalu, guru memecah kelompok lagi. Lagi dari setiap kelompok diambil satu siwa untuk digabungkan dengan kelompok lainya. Jadi mereka dapat berbagi temuan mereka yang telah mereka diskusikan dengan kelompok sebelumnya. Jadi dikelompok yang baru mereka dapat saling berbagi apa-apa yang belum mereka katahui. Sehingga pada akhirnya mereka dapat mengetahui keseluruhan dari pengertian, generic structure, language feature and moral value of narrative text. 2. Siswa dapat mendeskripsi kan gambar Descriptiv e text. Understan d Konsep diskusi Guru membagi siswa kedalam tiga kelompok. Lalu memberikan tiga
  • yang diberikan dalam bentuk deskriptif. buah gambar yang berbeda kepada siswa. Dan siswa diminta mendiskusikan apa yang ada dalam gambar tersebut dalam bentuk deskriptif. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk menggambarkan apa yang telah kelompok mereka temukan dari gambar yang telah diberikan oleh guru. Dengan demikian guru akan mengetahui seberapa mampu kelompok-kelompok tersebut bekerjasama dalam menemukan hal- hal yang bisa dideskripsikan dari sebuah gambara tersebut.
  • BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok- kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Langkah-langkah sebagai berikut: 1) Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2) Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. 3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar 4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide- ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas. 6) Kesimpulan guru
  • Kelebihan: a) Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan. b) Setiap siswa mendapat peran c) Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Kekurangan: a) Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu b) Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).
  • DAFTAR PUSTAKA Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. Nurul, Maghfiroh. (2012). Strategi Pembelajaran Kooperatif. http://nurulmaghfirohq.blogspot.com/2012/09/strategi-pembelajaran-kooperatif.html. Diakses 1 April 2013. Anonim. (2012). Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif. http://id.shvoong.com/social- sciences/education/2253776-karakteristik-strategi-pembelajaran-kooperatif- cooperative/. Diakses 1 April 2013 Anonim. (2009). Untitled. http://ebekunt.wordpress.com/2009/07/31/untitled/ . Diakses 1 April 2013.