PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARANDI SMK NEGERI 1 BINTAN, KAB. BINTAN,     PROVINSI KEPULAUAN RIAU            Disusun Sebagai ...
PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARAN               DI SMK NEGERI 1 BINTAN, KABUPATEN BINTAN,                            PROVINSI...
Learning Community (LC) dalam organisasi sekolah adalah komunitas-komunitaspakar yang membentuk organisasi yang akan memba...
B. Profil Organisasi Pembelajaran di SMK Negeri 1 Bintan          PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAHDi bawah ini me...
II. Transformasi Organisasi : Visi, Budaya, Strategi, dan Struktur           dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab....
III. PEMBERDAYAAN ORANG/WARGA SEKOLAH : Manajer, Guru dan Karyawan, Pelanggan, Rekan, Supplier, dan Komunitas           da...
IV. MANAJEMEN PENGETAHUAN :  Pemerolehan, Kreasi, Penyimpanan, Pemulihan, Transfer, dan Penggunaan           dalam Organis...
V. APLIKASI TEKNOLOGI:       Sistem Informasi Pengetahuan, Pembelajaran Berbasis Teknologi,                    Sistem Elek...
Skor Total Semuanya dari lima sub sistem adalah:            175         5 Subsistem (skor maksimum 200)        Tingkat pen...
karyawan dan siswa, (2) pembelajaran antar team di sekolah melalui berbagai media(buletin elektronik, surat kabar, atau pe...
diperlukannya tambahan dukungan dari top level yang dalam hal ini adalah Kepala   Sekolah, penghargaan bagi individu yang ...
tingkatan yang cukup besar dan mendekati pelaksanaan secara total pada subsistempemberdayaan warga sekolah.       Pemberda...
warga sekolah, dan pada waktu yang sama meraih ide-ide dan masukan mereka   dalam rangka belajar dan meningkatkan prestasi...
dan ditransfer agar pengetahuan tersebut tetap ada dan bisa diakses oleh siapa saja   walaupun organisasi tersebut senanti...
SMKN 1 Bintan, terlihat dari media pembelajaran yang belum semuanya berbasis       TI, masih ada sebagian guru yang belum ...
D. Menjadikan Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajaran        Alasan mengapa Learning Organization (Organisasi Pembelajaran...
organisasi dibuat dalam lintas fungsi yang biasanya berbasis team. Kemampuan    organisasi untuk mensinergikan kegiatan ti...
desain-desain kegiatan pembelajaran siswa yang dapat menantang daya kreatifitas siswa,sehingga siswa dapat mengembangkan k...
7. Dinas Pendidikan        Berperan sebagai capacity builder artinya dinas adalah lembaga yang mensuportsekolah dengan men...
7. Pemimpin pendidikan mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas dan kepala dinas       menunjukkan komitmen dan keteladan...
2. Meningkatkan komitmen untuk perbaikan output dan outcame serta pelayanan   yang berkelanjutan, agar tidak mengalami dem...
Daftar PustakaMarquardt, M. J. 2002. Building the Learning Organization: Mastering 5 Element for    Corporate Learning. Ca...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Profil Organisasi Pembelajaran di SMKN 1 Bintan, Kepulauan Riau.

1,596 views
1,502 views

Published on

Profil Organisasi Pembelajaran di SMKN 1 Bintan, Kepulauan Riau.
1. Learning (pembelajaran)
2. Organization (keorganisasian)
3. People (manusia)
4. Knowledge (pengetahuan)
5. Technology (teknologi).

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,596
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
35
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Profil Organisasi Pembelajaran di SMKN 1 Bintan, Kepulauan Riau.

  1. 1. PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARANDI SMK NEGERI 1 BINTAN, KAB. BINTAN, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Disusun Sebagai Tugas IndividuMata Kuliah “Organizational Development and Learning” yang diasuh Oleh: 1. Prof. Dr. Anik Gufron, M.Pd. 2. Prof. Djamaludin Ancok, MA., Ph.D. Oleh : JOKO PRASETIYO NIM. 11/327329/PEK/16768 FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS MAGISTER MANAJEMEN MANAJEMEN KEPENGAWASAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS GADJAH MADATugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 1
  2. 2. PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 1 BINTAN, KABUPATEN BINTAN, PROVINSI KEPULAUAN RIAUA. Pendahuluan Sekolah sebagai Learning Organization (organisasi pembelajaran) adalah gambaran ideal sebuah sekolah. Sekolah sebagai organisasi pembelajaran merupakan inti dari pembelajaran itu sendiri, dalam organisasi pembelajaran sekolah adalah lingkungan pembelajaran yang terus belajar dalam menyesuaikan diri dengan keadaan atau beradaptasi dengan tantangan kemajuan jaman yang selalu dinamis, kunci dari sekolah sebagai organisasi pembelajaran adalah belajar yang tiada henti dan melakukan perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement). Organisasi belajar atau organisasi pembelajaran adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Peter Senge (1990) mengatakan sebuah organisasi pembelajar adalah organisasi “yang terus menerus memperbesar kemampuannya untuk menciptakan masa depannya” dan berpendapat mereka dibedakan oleh lima disiplin, yaitu: penguasaan pribadi, model mental, visi bersama, pembelajaran tim, dan pemikiran sistem. Agar sekolah mampu menjadi Learning Organization (LO) ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar sekolah mampu menjadi organisasi pembelajaran antara lain: 1. Individu Individu yang dimaksud agar sekolah dapat menjadi organisasi pembelajaran adalah semua warga sekolah, bukan hanya siswa yang belajar tetapi guru, tenaga kependidikan, wakil kepala sekolah, kepala sekolah bahkan wali murid yang merupakan bagian dari sekolah juga harus terus belajar dan belajar yang tiada henti. 2. Community of Learners (COL) Adalah komunitas pembelajar yang bertemu secara insidental yang belajar bersama dan sharing pengetahuan. Dalam COL ini dicontohkan adalah guru yang bertemu dengan guru yang lain dan melakukan diskusi untuk membahas strategi pembelajaran yang paling baik untuk siswa agar mampu menguasai materi. 3. Learning Community (LC) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 2
  3. 3. Learning Community (LC) dalam organisasi sekolah adalah komunitas-komunitaspakar yang membentuk organisasi yang akan membahas kesulitan-kesulitan yang dialamioleh guru, misalnya MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). 4. Learning Organization (LO) Merupakan bagian yang paling tinggi kedudukannya, organisasi pembelajaran inihanya dapat tercapai jika unsur-unsur pembentuk di atas sudah tercapai. Jadi membangunorganisasi sekolah untuk menjadi organisasi pembelajaran adalah melalui tahap-tahap diatas. Menurut Marquardt (2002:24) ada lima sub sistem yang harus dipahami dan harusdikembangkan dalam organisasi pembelajaran yaitu : (1) Learning (pembelajaran), (2)Organization (keorganisasian), (3) People (manusia), (4) Knowledge (pengetahuan), (5)Technology (teknologi). Gambar. System Learning Organization Model (Sumber: Marquardt, 2002: 24) Kelima hal ini sangat penting untuk mempertahankan keberadaan organisasipembelajaran yang tengah berlangsung dan meyakinkan kesuksesan sekolah. Kelimasubsistem ini akan saling berinteraksi dan saling melengkapi satu sama lainnya. Jika adasalah satu saja yang melemah atau tidak ada maka yang lainnya akan melemah pula.Learning (pembelajaran) merupakan subsistem inti dari sebuah organisasi pembelajaran. Bagaimanakah cara kita mengukur sekolah sebagai organisasi pembelajaran ?Angket yang di adopsi dari buku Building the Learning Organization yang ditulis olehMarquardt (2002:237-241) di bawah ini akan mencoba menjawab apakah sekolah andasudah menjadi organisasi pembelajaran. Dalam paparan data yang akan disajikan adalahdata yang diambil pada sebuah organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, ProvinsiKepulauan Riau, sebagai berikut: Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 3
  4. 4. B. Profil Organisasi Pembelajaran di SMK Negeri 1 Bintan PROFIL ORGANISASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAHDi bawah ini merupakan daftar berbagai pernyataan tentang organisasi sekolah Bapak/Ibu.Bacalah tiap pernyataan dengan hati-hati dan putuskan pada tingkatan apa yangmerepresentasikan terhadap organisasi sekolah Bapak/Ibu. Gunakan skala berikut ini : (4) = apabila dilaksanakan secara total (Besar =75%-100% ) (3) = apabila dilaksanakan pada tingkatan cukup besar (Cukup Besar =50%-75%) (2) = apabila dilaksanakan pada tingkatan moderat (Sedang =25%-50%) (1) = apabila dilaksanakan pada tingkatan kecil atau tidak ada tingkatan(Kurang=0-25%) I. Dinamika Pembelajaran Individu, Kelompok atau Tim, dan Organisasi dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, Prov. KepriPetunjuk : Berilah pilihan skor 1,2,3 atau 4 berdasarkan kondisi organisasi sekolah bapak/ ibu pada kolom yang telah disediakan NO DAFTAR PERNYATAAN SKOR 1. Kami melihat pembelajaran berkelanjutan oleh semua guru dan karyawan 3 sebagaimana tingginya prioritas Satuan pendidikan. 2. Kami terdorong dan diharap untuk mengelola pembelajaran dan 4 pengembangan kami sendiri. 3. Warga sekolah menghindari membelokkan informasi dan menghalangi saluran komunikasi dengan secara aktif mendengarkan orang lain dan 4 mempersilakan mereka memberikan timbal balik yang efektif. 4. Tiap individu dilatih dan dibina dalam belajar bagaimana untuk belajar yang 4 baik. 5. Kami menggunakan berbagai metodologi percepatan pembelajaran (peta 4 fikiran, mnemonics, gambar, musik). 6. Warga sekolah (guru, karyawan, siswa) memperluas pengetahuan melalui 4 pendekatan pembelajaran adaptif, anticipatory, dan kreatif. 7. Semua rumpun mata pelajaran dan individu menggunakan proses pembelajaran aksi – yaitu, mereka belajar dari refleksi yang sangat baik 4 pada permasalahan atau situasi dan menerapkan pengetahuan baru untuk aksi mendatang. 8. Semua rumpun mata pelajaran didorong untuk belajar dari satu sama lain dan berbagi tentang apa yang mereka pelajari dalam berbagai cara (melalui 3 buletin elektronik, newsletter cetak, atau pertemuan antar grup). 9. Warga sekolah mampu berfikir dan bertindak dengan pendekatan 3 komprehensif dan sistem. 10. Semua rumpun mata pelajaran menerima pelatihan dalam hal bagaimana 3 bekerja dan belajar dalam kelompok. SKOR TOTAL 36 Dinamika Pembelajaran (Skor Maksimal = 40) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 4
  5. 5. II. Transformasi Organisasi : Visi, Budaya, Strategi, dan Struktur dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, Prov. KepriPetunjuk : Berilah pilihan skor 1,2,3 atau 4 berdasarkan kondisi organisasi sekolah bapak/ ibu pada kolom yang telah disediakan (4) = apabila dilaksanakan secara total (Besar =75%-100% ) (3) = apabila dilaksanakan pada tingkatan cukup besar (Cukup Besar =50%-75%) (2) = apabila dilaksanakan pada tingkatan moderat (Sedang =25%-50%) (1) = apabila dilaksanakan pada tingkatan kecil atau tidak ada tingkatan(Kurang=0-25%) NO DAFTAR PERNYATAAN SKOR 1. Pentingnya untuk menjadi organisasi pembelajaran difahami oleh semua 4 warga di sekolah tersebut. 2. Manajemen level atas mendukung visi organisasi pembelajaran 4 3. Terdapat iklim yang mendukung dan menghargai pentingnya pembelajaran. 4 4. Kami berkomitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dalam pengejaran 4 peningkatan 5. Kami belajar dari kesalahan sebagaimana juga belajar dari kesuksesan, 3 dalam hal itu bahwa kesalahan masih ditoleransi. 6. K Kami memberikan penghargaan kepada orang dan rumpun mata pelajaran 3 untuk pembelajaran dan bantuan kepada orang lain untuk belajar 7. Kesempatan pembelajaran digabungkan ke dalam program dan pelaksanaan 3 8. Kami merancang cara-cara untuk berbagi pengetahuan dan meningkatkan pembelajaran melalui organisasi (rotasi pekerjaan yang sistematik lintas 3 urusan sekolah, sistem on the job learning yang terstruktur). 9. Organisasi itu efisien dengan sedikit level fungsi organisasi, untuk 3 memaksimalkan komunikasi dan pembelajaran lintas urusan sekolah. 10. Kami mengkoordinasikan usaha kami melalui lintas urusan dalam basis tujuan bersama dan pembelajaran, daripada pemeliharaan batasan urusan 3 yang sudah tetap. SKOR TOTAL 34 Transformasi Organisasi (Skor Maksimal = 40) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 5
  6. 6. III. PEMBERDAYAAN ORANG/WARGA SEKOLAH : Manajer, Guru dan Karyawan, Pelanggan, Rekan, Supplier, dan Komunitas dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, Prov. KepriPetunjuk : Berilah pilihan skor 1,2,3 atau 4 berdasarkan kondisi organisasi sekolah bapak/ ibu pada kolom yang telah disediakan (4) = apabila dilaksanakan secara total (Besar =75%-100% ) (3) = apabila dilaksanakan pada tingkatan cukup besar (Cukup Besar =50%-75%) (2) = apabila dilaksanakan pada tingkatan moderat (Sedang =25%-50%) (1) = apabila dilaksanakan pada tingkatan kecil atau tidak ada tingkatan(Kurang=0-25%) NO DAFTAR PERNYATAAN SKOR 1. Kami berjuang untuk mengembangkan suatu kekuatan kerja yang 4 terberdayakan yang mampu untuk belajar dan berkinerja. 2. Kewenangan didesentralisasikan dan didelegasikan dalam proporsi untuk 4 tanggung jawab dan kemampuan pembelajaran. 3. Kepala Sekolah dan bawahannya bekerja dalam rekanan kerja untuk belajar 4 dan memecahkan masalah bersama-sama. 4. Kepala Sekolah mengambil peran sebagai pelatih, mentor, dan fasilitator 4 pembelajaran. 5. Kepala Sekolah menghasilkan dan meningkatkan kesempatan pembelajaran sebagaimana dorongan eksperimentasi dan refleksi pada pengetahuan baru 4 sehingga hal itu dapat digunakan. 6. Warga sekolah secara aktif berbagi pengetahuan dengan siswa dan pada waktu yang sama meraih ide-ide dan masukan mereka dalam rangka belajar 3 dan meningkatkan prestasi belajar siswa. 7. Kami memberikan kesempatan kepada siswa dan orang tua untuk 3 berpartisipasi dalam pembelajaran dan pelatihan. 8. Belajar dari rekan (rumpun/non rumpun mata pelajaran) dimaksimalkan melalui perencanaan terdepan sumberdaya dan strategi yang dikhususkan 4 untuk pemerolehan pengetahuan dan keterampilan. 9. Kami berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran dengan para orang tua 4 siswa, kelompok komunitas, asosiasi profesional, dan institusi akademik. 10. Kami secara aktif terus mencari rekan pembelajaran diantara warga sekolah, 4 pemerhati pendidikan, dan orang tua siswa. SKOR TOTAL 38 PEMBERDAYAAN ORANG (Skor Maksimal = 40) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 6
  7. 7. IV. MANAJEMEN PENGETAHUAN : Pemerolehan, Kreasi, Penyimpanan, Pemulihan, Transfer, dan Penggunaan dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, Prov. KepriPetunjuk : Berilah pilihan skor 1,2,3 atau 4 berdasarkan kondisi organisasi sekolah bapak/ ibu pada kolom yang telah disediakan (4) = apabila dilaksanakan secara total (Besar =75%-100% ) (3) = apabila dilaksanakan pada tingkatan cukup besar (Cukup Besar =50%-75%) (2) = apabila dilaksanakan pada tingkatan moderat (Sedang =25%-50%) (1) = apabila dilaksanakan pada tingkatan kecil atau tidak ada tingkatan(Kurang=0-25%) NO DAFTAR PERNYATAAN SKOR 1. Secara aktif kami mencari informasi yang meningkatkan kerja organisasi sekolah dengan penggabungan hasil lulusan dan/atau proses yang ada di luar 4 fungsi organisasi sekolah. 2. Kami mempunyai sistem yang dapat diakses untuk pengumpulan informasi 3 internal dan eksternal. 3. Kami memonitor trend yang terjadi di luar organisasi sekolah dengan melihat pada apa yang dilakukan orang lain; hal ini termasuk praktek terbaik oleh 3 sekolah lain, menghadiri konferensi, dan pengujian penelitian yang dipublikasikan. 4. Warga sekolah dilatih dalam hal keterampilan berfikir kreatif, inovasi, dan 4 eksperimentasi. 5. Kami sering menciptakan media pembelajaran sebagai alat tes sebagai cara 3 baru mengembangkan prestasi siswa dan/atau layanan pendidikan di sekolah 6. Kami telah mengembangkan sistem dan struktur untuk meyakinkan bahwa pengetahuan penting diberikan kode, disimpan, dan dibuat tersedia bagi mereka 3 yang memerlukan dan dapat menggunakannya. 7. Warga sekolah sadar akan perlunya mempertahankan pembelajaran organisasi 3 yang penting dan berbagi pengetahuan dengan yang lain. 8. Tim lintas urusan sekolah digunakan untuk mentransfer pembelajaran penting 3 pada lintas mata pelajaran dan fungsi pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. 9. Kami melanjutkan untuk mengembangkan strategi dan mekanisme baru untuk 3 berbagi pembelajaran melalui organisasi sekolah. 10. Kami mendukung lokasi sekolah, unit kegiatan, dan program tertentu yang menghasilkan pengetahuan dengan menyediakan orang dengan kesempatan 4 belajar. SKOR TOTAL 33 MANAJEMEN PENGETAHUAN (Skor Maksimal = 40) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 7
  8. 8. V. APLIKASI TEKNOLOGI: Sistem Informasi Pengetahuan, Pembelajaran Berbasis Teknologi, Sistem Elektronik Pendukung Kinerja dalam Organisasi di SMK Negeri 1 Bintan, Kab. Bintan, Prov. KepriPetunjuk : Berilah pilihan skor 1,2,3 atau 4 berdasarkan kondisi organisasi sekolah bapak/ ibu pada kolom yang telah disediakan (4) = apabila dilaksanakan secara total (Besar =75%-100% ) (3) = apabila dilaksanakan pada tingkatan cukup besar (Cukup Besar =50%-75%) (2) = apabila dilaksanakan pada tingkatan moderat (Sedang =25%-50%) (1) = apabila dilaksanakan pada tingkatan kecil atau tidak ada tingkatan(Kurang=0-25%) NO DAFTAR PERNYATAAN SKOR 1. Pembelajaran difasilitasi oleh sistem informasi berbasis komputer yang 4 efektif dan efisien. 2. Warga sekolah telah siap mengakses jalur informasi melalui, misalnya LAN 4 (Local Area Network), internet, dan intranet. 3. Fasilitas pembelajaran menggabungkan dukungan multimedia elektronik dan suatu lingkungan berbasis pada integrasi seni, warna, musik, dan visual 3 yang kuat. 4. Program pembelajaran yang dibantu komputer dan bantuan pekerjaan 3 dengan alat elektronik (tepat waktu dan software flowchart) sudah tersedia. 5. Kami menggunakan teknologi groupware untuk mengelola proses kelompok 2 seperti kegiatan sekolah, urusan, dan manajemen organisasi sekolah. 6. Kami mendukung pembelajaran tepat waktu, suatu sistem yang mengintegrasikan sistem pembelajaran teknologi tinggi, pelatihan, dan kerja 3 aktual pada pekerjaan ke dalam proses tunggal. 7. Sistem pendukung kinerja elektronik memampukan warga sekolah untuk 4 belajar dan berkinerja lebih baik. 8. Kami merancang dan menata sistem pendukung kinerja elektronik agar 4 sesuai dengan persyaratan pembelajaran di sekolah. 9. Warga sekolah mempunyai akses penuh terhadap data yang diperlukan 3 dalam rangka melakukan pekerjaan secara efektif. 10. Kami dapat mengadaptasikan sistem software untuk mengumpulkan, memberi kode, menyimpan, membuat, dan mentransfer informasi agar 4 benar-benar sesuai dengan kebutuhan di sekolah. SKOR TOTAL 34 APLIKASI TEKNOLOGI (Skor Maksimal = 40) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 8
  9. 9. Skor Total Semuanya dari lima sub sistem adalah: 175 5 Subsistem (skor maksimum 200) Tingkat pencapaian profil sekolah sebagai organisasi pembelajaran adalah 87.5 %, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.5, berarti pelaksanaan Learning Organization (Organisasi Pembelajaran) dari kelima subsistem di SMKN 1 Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar.C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengisian angket yang telah dilakukan di SMKN 1 Bintan, dengan metode evaluasi diri (pihak sekolah menilai diri sendiri) tingkat pencapaian dan implementasi profil organisasi pembelajaran, maka dapat dianalisis sebagai berikut : 1. Dinamika Pembelajaran, Individu, grup atau tim, dan organisasi Pada bagian dinamika pembelajaran tersebut, jumlah skor adalah 36 dari 40 skor total, artinya 90% dinamika pembelajaran yang dilakukan oleh individu, grup maupun organisasi. kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.6, berarti pelaksanaan subsistem Learning (pembelajaran) di SMKN 1 Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar. Learning (pembelajaran) merupakan subsistem inti dari sebuah organisasi pembelajaran. Jika kita lihat dari pengertiannya, bahwa belajar adalah suatu proses dimana individu memperoleh pengetahuan dan insight yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan tindakan, baik itu pembelajaran afektif, kognitif maupun psikomotorik. Menurut Redding (1994), individuall learning adalah hal yang sangat mendasar untuk melanjutkan transformasi organisasi, memperluas kemampuan inti organisasi dan mempersiapkan semua orang untuk menghadapi masa depan yang belum menentu. Kelebihan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem Learning adalah: (1) Sudah mengelola dan mengembangkan pembelajaran secara mandiri, (2) pelatihan dan pembinaan individu dalam pembelajaran sudah dilaksanakan secara total, (3) berbagai metodologi pembelajaran sudah dilaksanakan dengan baik, (4) pendekatan pembelajaran adaptif, anticipatory, pembelajaran kreatif, dan proses pembelajaran aksi sudah dilaksanakan secara total. Kekurangan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem Learning adalah: (1) perlu peningkatan pembelajaran berkelanjutan (continuous learning) oleh semua guru, Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 9
  10. 10. karyawan dan siswa, (2) pembelajaran antar team di sekolah melalui berbagai media(buletin elektronik, surat kabar, atau pertemuan antar grup) perlu ditingkatkan, (3)pendekatan komprehensif dan pendekatan sistem dalam pembelajaran perlu ditingkatkan. Subsistem Learning (pembelajaran) dapat digambarkan sebagai berikut: (Sumber: Marquardt, 2002: 36) 2. Transformasi Organisasi : Visi, Budaya, Strategi dan Struktur Pada bagian transformasi organisasi tersebut, jumlah skor yang diperoleh adalah 34 dari skor total 40, artinya transformasi organisasi yang ada di SMKN 1 Bintan adalah 85%, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.4, berarti pelaksanaan subsistem Organization di SMKN 1 Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar, baik itu transformasi visi, budaya, strategi maupun struktur yang ada. Dari hasil pengisian angket tersebut terdapat nilai yang cukup tinggi yaitu bagaimana para guru belajar dari kegagalan masa lalu, dan berkomitmen terhadap pembelajaran yang berkelanjutan. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Marquardt (2002) menyatakan bahwa bahwa untuk berkembang sebagai suatu entitas yang baru, organisasi harus mengkonfigurasi ulang dirinya dengan berfokus pada empat dimensi dari subsistem organisasi yaitu : visi, budaya, strategi, dan struktur. Masing-masing dimensi tersebut harus berubah dalam tujuan dan bentuk, dari fokus pada kerja dan produktivitas menjadi fokus pada pembelajaran dan pengembangan. Di sekolah tersebut dapat disimpulkan hanya sebagian guru dan karyawan saja yang menyadari pentingnya pembaharuan visi, kultur, strategi dan struktur organisasi sekolah tersebut, artinya sangat Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 10
  11. 11. diperlukannya tambahan dukungan dari top level yang dalam hal ini adalah Kepala Sekolah, penghargaan bagi individu yang melaksanakan pembelajaran, tugas belajar/ijin belajar, serta merekayasa ulang kebijakan dan struktur pembelajaran. Kelebihan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem organisasi adalah: (1) Semua warga sekolah memahami pentingnya untuk menjadi organisasi pembelajaran, (2) Kepala sekolah mendukung visi organisasi pembelajaran, (3) Iklim sekolah yang mendukung dan menghargai pentingnya pembelajaran, dan komitmen terhadap peningkatan pembelajaran berkelanjutan (continuous learning) yang tinggi. Kekurangan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem organisasi adalah: (1) perlu peningkatan pemberian penghargaan kepada guru, karyawan dan warga sekolah yang berkomitmen terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, (2) perlu peningkatan koordinasi antar stakeholder sekolah dalam peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah, (3) perlu peningkatan sistem on the job learning bagi semua warga sekolah. Sub sistem Organisasi dapat digambarkan sebagai berikut: (Sumber: Marquardt, 2002: 74)3. Pemberdayaan Warga Sekolah: Manager, Karyawan/Guru, Pelanggan/ Siswa, Rekanan, Suplier dan Komunitas Pada bagian pemberdayaan warga sekolah tersebut, jumlah skor yang diperoleh adalah 38 dari skor total 40, artinya pemberdayaan warga sekolah di SMKN 1 Bintan adalah 95%, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.8, berarti pelaksanaan subsistem pemberdayaan warga di SMKN 1 Bintan berada pada Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 11
  12. 12. tingkatan yang cukup besar dan mendekati pelaksanaan secara total pada subsistempemberdayaan warga sekolah. Pemberdayaan tersebut meliputi Kepala Sekolah, guru dan karyawan,siswa, mitra sekolah, dalam hal ini dunia industri dan dunia usaha, supplier atausekolah asal siswa atau pemasok bahan-bahan sarana dan prasarana bagi sekolahdan komunitas atau Komite sekolah, forum alumni dan lain-lainnya. Dari hasil pengisian angket tersebut, delapan dari sepuluh komponenmendapatkan skor 4. Hal ini karena pada kenyataannya Kepala Sekolah mampumendorong stafnya, dalam hal ini guru, untuk melanjutkan pendidikan lanjut,melanjutkan kuliah S 2, atau pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru bidang studiproduktif, normatif dan adaptif yang diselenggarakan oleh P4TK Malang, P4TKMedan dan P4TK Bandung dan P4TK Yogyakarta, maupun pelatihan-pelatihanguru dan karyawan di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi. Hal ini sangatdisadari benar oleh Kepala Sekolah bahwa warga sekolah adalah aspek pentingbagi organisasi pembelajaran karena hanya orang yang mempunyai kapasitas untukbalajar untuk mengambil informasi dan memindahkannya menjadi pengetahuanyang berharga bagi orang lain secara personal dan organisasi. Menyeimbangkan kebutuhan individu dan organisasi adalah hal pentingagar produktivitas dan kualitas hidup kerja guru dan karyawan bisa baik. Selain ituhubungan dengan pihak eksternal sangat diperlukan untuk mengetahui keinginandan tuntutan pasar akan output kita. Pemberdayaan komite sebagai pemberipertimbangan dalam proses pengambilan keputusan sangat diperlukan, agarkebijakan atau hasil keputusan dapat diterima oleh semua pihak dengan penuh rasatanggung jawab. Kelebihan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem people ataupemberdayaan warga sekolah adalah sudah mengimplementasikan dengan baiksubsistem pemberdayaan warga sekolah, karena 8 dari 10 komponen subsistemmendapatkan skor 4. Kepala Sekolah mampu mendorong stafnya, dalam hal iniguru, untuk melanjutkan pendidikan lanjut, melanjutkan kuliah S 2, ataupendidikan dan pelatihan. Kekurangan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem people ataupemberdayaan warga sekolah adalah: Perlu peningkatan kesadaran warga sekolahuntuk secara aktif berbagi pengetahuan (knowledge sharing) antar guru, siswa, dan Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 12
  13. 13. warga sekolah, dan pada waktu yang sama meraih ide-ide dan masukan mereka dalam rangka belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa dan prestasi sekolah. Sub sistem People dapat digambarkan sebagai berikut: (Sumber: Marquardt, 2002: 112)4. Manajemen Pengetahuan: Akuisisi, kreasi, penyimpanan, pemulihan dan transfer. Pada bagian Manajemen Pengetahuan tersebut, skor yang diperolah adalah 33 dari skor total 40, artinya penerapan manajemen pengetahuan di sekolah tersebut adalah 82.5%, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.3, berarti pelaksanaan subsistem knowledge (pengetahuan) di SMKN 1 Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar. Hal ini menunjukkan lebih dari sebagian warga sekolah sudah menerapkan manajemen pengetahuan, baik pada tingkat individu, kelompok maupun organisasi. Dalam hal ini perlu disadari bersama bahwa manajemen pengetahuan telah menjadi unsur penting bagi organisasi dibanding sumber daya lain seperti posisi pasar, teknologi serta asset organisasi lainnya (Steward, 1997). Dalam kasus manajemen pengetahuan yang ada di SMKN 1 Bintan tersebut masih berada pada level storage (penyimpanan), dimana penyimpanan pengetahuan menggunakan sistem teknis seperti rekaman, data base, dan proses manusiawi, sehingga sangat riskan terhadap ancaman kehilangan pengetahuan karena penyimpanan tersebut menjadi terpisah secara fisik dan terdesentralisi. Pada level inilah perlu sekali pembenahan, agar pengetahuan yang sudah tersimpan di organisasi bisa dianalisis Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 13
  14. 14. dan ditransfer agar pengetahuan tersebut tetap ada dan bisa diakses oleh siapa saja walaupun organisasi tersebut senantiasa berganti sumber daya. Kelebihan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan sub sistem knowledge atau manajemen pengetahuan adalah: (1) Warga sekolah secara aktif mencari informasi yang meningkatkan kerja organisasi sekolah, (2) adanya kesempatan warga sekolah untuk dilatih dalam hal keterampilan berfikir kreatif, inovasi, dan eksperimentasi. Kekurangan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan sub sistem knowledge atau manajemen pengetahuan adalah: kurangnya kesadaran para warga sekolah untuk melakukan knowledge sharing (berbagi pengetahuan) kepada warga sekolah yang lain. Sub sistem Knowledge (pengetahuan) dapat digambarkan sebagai berikut: (Sumber: Marquardt, 2002:143)5. Aplikasi Teknologi: Sistem Pengetahuan Informasi, Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Sistem Pendukung Kinerja Elektronik. Pada bagian Aplikasi Teknologi tersebut, skor yang diperoleh adalah 34 dari skor total 40, atau sekitar 85% pemanfaatan teknologi yang diaplikasikan sekolah tersebut dalam proses pembelajaran maupun administrasi, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah 3.6, berarti pelaksanaan subsistem teknologi di SMKN 1 Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar. Teknologi Informasi (TI) dapat meningkatkan komunikasi, melebur batas- batas dalam organisasi dan meningkatkan berbagai kemungkinan hubungan diluar hirarki, bahkan menciptakan lingkungan belajar elektronis dimana semua warga sekolah memiliki akses data yang sama, hal ini masih kurang disadari warga Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 14
  15. 15. SMKN 1 Bintan, terlihat dari media pembelajaran yang belum semuanya berbasis TI, masih ada sebagian guru yang belum menggunakan pembelajaran berbasis TI, kurang optimalnya penggunaan website yang dimiliki sekolah untuk kegiatan pembelajaran seperti meng upload soal-soal atau materi-materi pembelajaran. Masih enggannya guru untuk membuat blog dan website sebagai sarana berbagi pengetahuan antar guru baik dalam satu sekolah maupun lintas sekolah. Kelebihan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem teknologi adalah: (1) Pembelajaran sudah difasilitasi oleh sistem teknologi informasi berbasis komputer, (2) sebagian besar warga sekolah telah mengakses jalur informasi melalui, misalnya LAN (Local Area Network), internet, dan intranet, (3) pihak sekolah sudah merancang dan menata sistem pendukung kinerja elektronik agar sesuai dengan persyaratan pembelajaran di sekolah. Kekurangan SMKN 1 Bintan dalam menerapkan subsistem teknologi adalah: (1) masih ada sebagian guru yang belum menggunakan pembelajaran berbasis TI, kurang optimalnya penggunaan website yang dimiliki sekolah untuk kegiatan pembelajaran seperti meng upload soal-soal atau materi-materi pembelajaran, (2) Masih enggannya guru untuk membuat blog dan website sebagai sarana berbagi pengetahuan antar guru baik dalam satu sekolah maupun lintas sekolah.Sub sistem Teknologi dapat digambarkan sebagai berikut: (Sumber: Marquardt, 2002:178) Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 15
  16. 16. D. Menjadikan Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajaran Alasan mengapa Learning Organization (Organisasi Pembelajaran) perluditerapkan dalam organisasi sekolah adalah: (1) Organisasi tangguh adalah organisasi yangtak lapuk dimakan usia dan bersifat “survival of the fittest”, (2) Konsep “survival of thefittest” menuju “the survival of the fittest to learn”, (3) Organisasi pembelajaran sebagaialternatifnya, yang diharapkan mampu beradaptasi dan merespons tuntutan kebutuhan, (4)Organisasi pembelajaran memiliki tuntutan setiap warga belajar terus menerus untukmemenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat (Schlechty, 2009). Peter Senge (1990) mengemukakan bahwa di dalam learning organization yangefektif diperlukan 5 dimensi yang akan memungkinkan organisasi untuk belajar,berkembang, dan berinovasi yakni :1. Personal Mastery. Kemampuan untuk secara terus menerus dan sabar memperbaiki wawasan agar objektif dalam melihat realitas dengan pemusatan energi pada hal-hal yang strategis. Organisasi pembelajaran memerlukan karyawan yang memiliki kompetensi yang tinggi, agar bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan, khususnya perubahan teknologi dan perubahan paradigma bisnis dari paradigma yang berbasis kekuatan fisik ke paradigma yang berbasis pengetahuan.2. Mental Model. Suatu proses menilai diri sendiri untuk memahami, asumsi, keyakinan, dan prasangka atas rangsangan yang muncul. Mental model memungkinkan manusia bekerja dengan lebih cepat. Namun, dalam organisasi yang terus berubah, mental model ini kadang-kadang tidak berfungsi dengan baik dan menghambat adaptasi yang dibutuhkan. Dalam organisasi pembelajar, mental model ini didiskusikan, dicermati, dan direvisi pada level individual, kelompok, dan organisasi.3. Shared Vision. Komitmen untuk menggali visi bersama tentang masa depan secara murni tanpa paksaan. Oleh karena organisasi terdiri atas berbagai orang yang berbeda latar belakang pendidikan, kesukuan, pengalaman serta budayanya, maka akan sangat sulit bagi organisasi untuk bekerja secara terpadu kalau tidak memiliki visi yang sama. Selain perbedaan latar belakang karyawan, organisasi juga memiliki berbagai unit yang pekerjaannya berbeda antara satu unit dengan unit lainnya. Untuk menggerakkan organisasi pada tujuan yang sama dengan aktivitas yang terfokus pada pencapaian tujuan bersama diperlukan adanya visi yang dimiliki oleh semua orang dan semua unit yang ada dalam organisasi.4. Team Learning. Kemampuan dan motivasi untuk belajar secara adaptif, generatif, dan berkesinambungan. Kini makin banyak organisasi berbasis tim, karena rancangan Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 16
  17. 17. organisasi dibuat dalam lintas fungsi yang biasanya berbasis team. Kemampuan organisasi untuk mensinergikan kegiatan tim ini ditentukan oleh adanya visi bersama dan kemampuan berfikir sistemik seperti yang telah diuraikan di atas. Namun demikian tanpa adanya kebiasaan berbagi wawasan sukses dan gagal yang terjadi dalam suatu tim, maka pembelajaran organisasi akan sangat lambat, dan bahkan berhenti. Pembelajaran dalam organisasi akan semakin cepat kalau orang mau berbagi wawasan dan belajar bersama-sama. Berbagi wawasan pengetahuan dalam tim menjadi sangat penting untuk peningkatan kapasitas organisasi dalam menambah modal intelektualnya.5. Sistem Thinking. Organisasi pada dasarnya terdiri atas unit yang harus bekerja sama untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Unit-unit itu antara lain ada yang disebut divisi, direktorat, bagian, atau cabang. Kesuksesan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk melakukan pekerjaan secara sinergis. Kemampuan untuk membangun hubungan yang sinergis ini hanya akan dimiliki kalau semua anggota unit saling memahami pekerjaan unit lain dan memahami juga dampak dari kinerja unit tempat dia bekerja pada unit lainnya. Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM, karena mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan mengantisipasi perubahan di masa depan. Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM, karena mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan mengantisipasi perubahan di masa depan. Adapun kondisi sekolah dalam learning organization dan peran masing-masingkomponen dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Kegiatan inti sekolah Sekolah dalam organisasi pembelajaran adalah mendesain kegiatan yangmenantang siswa untuk belajar. Artinya tujuan sekolah adalah memberikan fasilitas agar Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 17
  18. 18. desain-desain kegiatan pembelajaran siswa yang dapat menantang daya kreatifitas siswa,sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal. Tujuan utamasekolah bukan lagi semata-mata bisa meluluskan siswanya 100% dan Nilai UjianNasionalnya tinggi, tetapi lebih menekankan pada prosesnya, dan sekolah juga haruslebih menekankan pada outcome yaitu seberapa banyak lulusan sekolah yang mendapatkanpekerjaan sesuai dengan kompetensinya atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,bukan semata-mata hanya mengejar output saja. 2. Siswa Dalam lingkungan sekolah sebagai organisasi pembelajaran kegiatan siswa adalahsebagai knowledge worker atau pencari pengetahuan dengan menggunakan sudut pandangsiswa maka siswa dalam mencari pengetahuan dengan bekerja dalam tim, memecahkanmasalah bersama, dan yang paling penting siswa tahu bagaimana cara belajar yang baik. 3. Guru Dalam organisasi pembelajaran guru berperan sabagai pemimpin dan desainer sertapemandu pembelajaran dengan memberikan motivasi kepada siswa, merancang tugas-tugas yang menantang bagi siswa, memberikan alternatif berbagai sumber belajar yangrelevan, serta bersama siswa dan orang tua membuat jaringan belajar. 4. Peran Kepala Sekolah Dalam organisasi pembelajaran adalah manjadi pemimpinnya pemimpin artinyakepala sekolah yang dapat memberdayakan guru untuk menjadi bertanggung jawab atasapa yang di lakukannya di kelas, sehingga guru menjadi pemimpin yang dapat langsungdapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas permasalahan di kelas tanpaharus menunggu kepala sekolah, sehingga peran kepala sekolah dalam LearningOrganization adalah menjadi pemimpinnya pemimpin (leader of leaders). 5. Orang tua Dalam organisasi pembelajaran orang tua adalah school partner, artinya orang tuaberpartisipasi penuh, aktif, pembelajar, dan membentuk jaringan belajar untuk optimalisasipembelajaran siswa. 6. Pengawas Sekolah Berperan sebagai pemimpin moral dan intelektual yang berperan sebagai orangyang memecahkan masalah dengan pemberdayaan guru dan kepala sekolah, jadi inti dariperan pengawas adalah pemberdayaan bukan datang ke sekolah untuk mengatasi masalahsendiri, tanpa melibatkan guru dan kepala sekolah. Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 18
  19. 19. 7. Dinas Pendidikan Berperan sebagai capacity builder artinya dinas adalah lembaga yang mensuportsekolah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kepada guru, kepala sekolah dan tenagakependidikan agar mampu dan menguasai bagaimana belajar cara belajar yang baik danyang paling penting adalah guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan terus belajar danbelajar lagi. 8. Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Dunia Usaha dan Dunia Industri berperan sebagai partner and customer darisekolah. DUDI perlu bekerjasama dengan pihak sekolah untuk meningkatkan kualitassekolah dan menuju organisasi pembelajaran, karena pihak DUDI juga berkepentinganuntuk mendapatkan input tenaga kerja yang terampil dan kompeten sesuai dengan yangdipersyaratkan oleh DUDI. Kompetensi manajerial kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 tahun2007 salah satunya antara lain: “Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajaran yang efektif”. Hal ini berarti peran kepalasekolah sangat penting dan sentral dalam menjadikan sekolah menjadi organisasipembelajaran yang efektif dan efisien. Kepala sekolah yang memiliki kompetensi yanghandal akan mampu memimpin dan membawa organisasi sekolah menjadi organisasipembelajaran. Untuk menjawab tantangan di masa yang akan datang memang tidaklah mudah,karena sifat dari perubahan yang tidak pernah berhenti, sehingga adaptasi yang tepat agarsekolah mampu bertahan pada masa yang akan datang. Salah satu bentuk perubahan yangakan di hadapi dunia pendidikan adalah bagaimana menjadikan sekolah kita menjadisekolah yang bersifat learning organization. Adapun langkah yang dapat menjadikansekolah menjadi organisasi pembelajaran menurut Marquardt (2002:211) antara lain: 1. Semua pihak berkomitmen menjadikan sekolah mejadi model organisasi pembelajaran. 2. Membentuk koalisi yang kokoh untuk berubah ke arah yang lebih baik. 3. Menghubungkan pembelajaran dengan semua steakholder yang ada di sekolah. 4. Mengukur semua sub sistem sekolah dengan penilaian kinerja. 5. Mengkomunikasikan visi sekolah yang menjadi model organisasi pembelajaran. 6. Mengenali pentingnya berfikir dan bertindak secara sistem artinya tindakan semua. stakeholder akan dapat mempengaruhi organisasi sekolah. Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 19
  20. 20. 7. Pemimpin pendidikan mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas dan kepala dinas menunjukkan komitmen dan keteladanan pembelajaran. 8. Mentransformasi kultur sekolah menjadi kultur belajar. 9. Membangun strategi dan jaringan yang pembelajaran yang luas dengan semua sumber-sumber belajar yang ada di sekolah. 10. Mereduksi model birokratif dengan cara mengefisiensikan struktur organisasi menjadi lebih ramping dan ringkas. 11. Memperoleh pengetahuan dan budaya berbagi pengetahuan yang menjadi budaya dalam organisasi sekolah. 12. Memperluas budaya belajar ke seluruh rantai organisasi sekolah. 13. Menerapkan teknologi yang terbaik untuk mendukung proses pembelajaran. 14. Menciptakan kultur prestasi sekolah yang dapat dicapai. 15. Mengukur keberhasilan pembelajaran dengan alat ukur kesuksesan. 16. Selalu beradaptasi, memperbaiki, dan belajar tiada henti. Terakhir mau dibawa ke mana organisasi sekolah kita apakah di masa yang akandatang akan menjadi organisasi pembelajaran ataukah menjadi sekolah yang biasa?. Bisadan tidaknya organisasi pendidikan menjadi organisasi pembelajaran bukan semata-matatergantung pada pemerintah, masyarakat, atau kepala sekolah, tetapi hal tersebutbergantung pada kemauan dan itikat baik dari semua stakeholder sekolah agar mau belajardan belajar lagi dan menciptakan budaya organisasi pembelajaran secara berkelanjutan.E. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan yang bisa kita ambil dari hasil analisis pengisian angket mengenaiProfil Organisasi Pembelajaran di SMKN 1 Bintan tingkat pencapaian profil sekolahsebagai organisasi pembelajaran adalah 87.5 %, kalau dihitung skor rata-ratanya adalah3.5, ini berarti pelaksanaan Learning Organization (Organisasi Pembelajaran) di SMKN 1Bintan berada pada tingkatan yang cukup besar, dan menuju ke implementasi secara total. Saran-saran yang bisa diberikan kepada SMKN 1 Bintan untuk menuju OrganisasiPembelajaran yang efektif dan efisien adalah : 1. SMKN 1 Bintan perlu melakukan peningkatan perubahan paradigma pembelajaran dari teacher centre ke student centre, perubahan dari organisasi birokrat ke organisasi pembelajaran, serta perubahan dari wajib belajar ke hak belajar. Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 20
  21. 21. 2. Meningkatkan komitmen untuk perbaikan output dan outcame serta pelayanan yang berkelanjutan, agar tidak mengalami demarketing dalam dunia pendidikan, sehingga bisa tetap bersaing di dunia global.3. Meningkatkan level manajemen pengetahuan dari storage menjadi analisis dan transfer pengetahuan.4. Mengembangkan sistem pendukung kinerja secara terintegrasi dan aplikatif untuk penemuan pengetahuan dan data mining, sehingga sekolah dapat membentuk organisasi pembelajaran yang menjadi pusat keahlian yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan mendistribusikan pengetahuan.5. Penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam pembelajaran dan untuk mengelola proses kelompok seperti kegiatan sekolah, urusan, dan manajemen organisasi sekolah perlu ditingkatkan.6. Mengoptimalkan peran seluruh stakeholder sekolah untuk bersinergi dalam mewujudkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran. Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 21
  22. 22. Daftar PustakaMarquardt, M. J. 2002. Building the Learning Organization: Mastering 5 Element for Corporate Learning. California: Davies-Black Publishing.Nonaka, I., and Takeuchi, H. 1995. The Knowledge-Creating Company. New York: Oxford University Press.Redding, J. 1994. Strategic Readiness: The Making of the Learning Organization. San Fransisco: Jossey-Bass.Schlechty, P.C. 2009. Leading for Learning How to Transform Schools into Learning Organizations. San Francisco, CA: John Wiley & Sons Inc.Senge, Peter. 1990. The Fith Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York: Doubleday.Stewart, T. 1997. Intelectual Capital: The New Wealth of Organization. New York: Doubleday. Tugas Matakuliah | Organizational Development and Learning 22

×