Hubungan credit rating dan cost of debt

1,962 views

Published on

Published in: Economy & Finance, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,962
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hubungan credit rating dan cost of debt

  1. 1. HubunganKenaikanKredit Rating dan Cost of Debt 1. PENDAHULUAN Hutang luar negeri sudah menjadi bagian penting dalam pendanaanpembangunan suatu negara berkembang. Pembiayaan eskternal inidiperlukan dalam rangka menutupi savinginvestment gap yang biasanyaadalah negatif. Hutang luar negeri ini dapat timbul dalam berbagai bentukseperti hutang pemerintah, surat hutang negara, obligasi korporasi,pinjamanbilateral-multilateral, dsb. Harga pinjaman tersebut sangat tergantung dengan skema, kondisiekonomi (fiskal dan moneter) dan reputasi. Beberapa dekade belakangan ini,terdapat suatu trend institusi yang melakukan spesialisasi dalam melakukanvaluasi hutang. Institusi ini, sering disebut sebagai lembaga pemeringkat,mengukur secara kuantitatif dan kualitatif kemampuan membayar (risiko kredit)suatu entitas dan memberikan suatu peringkat sebagai ukuran. Khususnyauntukentitas berdaulat (sovereign), pemeringkatan telah dilakukan sejak 1975oleh Standard & Poors (Beers dan Cavanaugh, 2006). Pengukuran risiko kredit sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Suatumodel risiko kredit dalam bentuk probabilitas default telah disusun olehAltmandengan statistik Z nya yang terkenal ditahun 1968. Perkembanganpemodelan risiko kredit sudah sangat maju dan mencakup baik darikemutakhiran teknik statistik maupun kalibrasi variabel-variabel yang digunakan.Cantor (2004) memberikan suatu review mengenai kondisi terkini pemodelanrisiko kredit.
  2. 2. 2. ISI Risiko kredit suatu negara (sovereign risk) menjadi perhatian yang sangatbesar dikalangan investor. Berbeda dengan risiko kredit swasta, investor tidakdapat melakukan sita agunan atau penghasilan ketika terjadi event default.Dengan demikian arti valuasi kredit bagi pinjaman oleh negara menjadi lebihpenting lagi. Seperti juga halnya risiko kredit korporasi, sovereign risk jugasangat dipengaruhi oleh kondisi dalam negeri dan luar negeri (Beers danCavanaugh, 2006). Kondisi yang berpengaruh dari dalam negeri meliputi baikekonomi maupun politik. Tekanan fiskal, misalnya akibat hutang dan defisityang terlalu besar dapat memaksa pemerintah untuk melakukanpenundaanpembayaran cicilan dan bunga hutang. Demikian juga halnya denganperubahan rezim yang terjadi melalui pergolakan politik. Secara praktis sudah tidak ada negara yang dapat mengisolasikan dirinyadari berbagai gejolak yang ada diperekonomian global. Krisis sub primemortgage di US tahun 2007 dan kontraksi perekonomian dunia ditahun 2008-2009 adalah bukti nyata dari tingginya keterkaitan suatu negara dengan negaralainnya. Hal ini selanjutnya dapat mendorong pemerintahan yang ada untukmerestrukturisasi kembali skedul pembayaran hutang yang ada. Fasilitas kredit ekspor adalah pinjaman komersial yang diberikan olehlembaga keuangan atau non keuangan di negara pengekspor anggotaOrganization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dijaminoleh lembaga resmi penjamin kredit ekspor yang ditetapkan oleh negara pemberipinjaman. Persyaratan pinjaman kredit ekspor adalah maturity berkisar antara 6–15 tahun termasuk masa tenggang 2-3 tahun dengan pilihan bungamengambang LIBOR, EURIBOR, atau Commercial Interest Rate Reference(CIRR) ditambah suatu margin, atau bunga tetap yang mengacu pada CIRRyang berlaku pada saat pinjaman ditandatangani atau berlaku efektif, ditambahdengan insurance premium yang mengacu pada country risk classification suatunegara, dan biayabiaya lainnya seperti commitment fee, up-front fee,management fee, dan lain-lain.Sehinggakarenahal yang menjadiacuandariinsurance premium adalah CRC OECD ketika rating tersebutturun(acuanhalpositif yang menunjukkanturunnyaresiko) semakinrendah pula nominal
  3. 3. fee insurance tersebutdemikian pula sebaliknya Trend lanjutan dalam pengelolaan risiko kredit yang terjadi diawal abad ke21 adalah kemunculan Credit Default Swap (CDS). Instrumen derivatif inimemiliki fungsi seperti suatu asuransi surat hutang/pinjaman suatu entitas.Pembeli CDS (disebut sebagai protection buyer) dapat menukar surat hutangyang dimilikinya dengan cash sebesar nilai nominalhutang (face value) kepadapenjual CDS (protection seller) ketika terjadi event default (Taylor, 2007). Untukmemperoleh proteksi ini, pembeli CDS harusmembayar suatu premi tertentu(biasanya suatu persentase dari nilai hutang). Dampak pengelolaan utang bagi APBN dan perekonomian negaramenunjukkan kecenderungan yang positif. Rasio utang terhadap PDB menurundari semula sekitar 47% pada tahun 2005 menjadi sekitar 28% pada tahun 2009dan diperkirakan semakin menu-run pada tahun 2010. Penurunan rasio inimengindikasikan bahwa size/ukuran utang relatif semakin kecil bagiperekonomianIndonesia. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatandan belanja negara menurun dari semula masing-masing sekitar 13% padatahun 2005 menjadi masing-ma-sing sekitar 11 % dan 10% pada tahun 2009.Penurunan rasio ini mengindikasikan bahwa size/ukuran utang yang semakinmengecil telah diikuti oleh penurunan beban utang ter-hadap APBN sehinggaPemerintah memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam meng-gunakan sumberpenerimaan negara untuk membiayai belanja prioritas. Selain itu, dampak pengelolaan utang yang baik dan kondisiperekonomian yang stabil telah mendorong perbaikan sovereign credit ratingIndonesia. Perbaikan sovereign credit rating ini akan menurunkan persepsi risikoIndonesia sehingga berpotensi menurunkan biaya utang. Saat ini rating Indonesia berdasarkan penilaian Moody’s dan S&P telahmencapai Ba2/BB atau hanya 2 notch menuju investment grade. Berdasarkanpenilaian Fitch, rating Indonesia telah mencapai BB+ dan hanya tinggal 1 notchmenuju invest-ment grade. Berdasarkan JCRA (Japan CreditRating Agency),rating Indonesia telah mencapai investment grade. Sedangkan untuk indicatorCRC (Country Risk Classification) menunjukkan perbaikan yaitu menurun darilevel 5 menjadi level 4. Berdasarkan data historis, setiap peningkatan credit
  4. 4. rating sebesar 1 notch berpotensi menurunkan yield SBN valas baru sekitar 75-115 bps dan perbaikan 1 level CRC berpotensi menurunkan biaya pinjaman luarnegeri khususnya fasilitas kredit ekspor baru sekitar 130-150bps.Sebaliknyakonsekuensi penurunan sovereign credit rating dan peningkatancountry risk classification. Dari sisi biaya, penurunan rating kurangmenguntungkan mengingat terjadinya penurunan satu notch akan menyebabkanyield SBN valas Pemerintah naik sekitar 75-115bps. Peningkatan satu tingkatcountry risk classification berdampak pada naiknya biaya pinjaman terutamayang berasal dari negara-negara anggota OECD sebesar 130-150bps juga "Yield(imbal hasil) SBN (Surat Berharga Negara) rupiah dan valas akan semakinrendah (cost of debt berkurang), default risk premium turunKenaikan peringkat itulangsung direspons positif oleh investor. Beberapa saat kemudian, yield IndoGlobal Bond berjangka 30 tahun turun 5 basis poin dari 5,35% menjadi 5,30%.Sementara CDS 5 tahun juga turun 10 bps.Pergerakan imbal hasil obligasipemerintah Indonesia bertenor 10 tahun tampaknya justru berkebalikan denganpergerakan imbal hasil obligasi di Negara-negara dengan keuangan bermasalahdi Eropa. Di bulan November lalu bahkan imbal hasil obligasi ini mengalamiposisi rekor terendah di level 6.20%. Imbal hasil obligasi Indonesia pada periode 2003 – 2011 mengalamipergerakan yang cukup volatile dengan rata-rata yield sebesar 11.09%. Padamasa krisis tahun 2008 lalu imbal hasil obligasi sempat meroket tajam danmencapai rekor tertinggi pada posisi 20.96% di bulan Oktober, bersamaandengan rontoknya bursa saham dalam negeri.SelainituKenaikan CRC olehOECD yang telah diupayakan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini akanberdampak pada penurunan cost of fund atas pinjaman kredit ekspor yangditerima pemerintah, terutama penurunan yang cukup signifikan pada biayainsurance premium, untuk selanjutnya dapat mengurangi beban APBN. Per Desember 2009, posisi pinjaman kredit ekspor pemerintah mencapai10,5% dari total utang luar negeri pemerintah, ungkap Deputi Gubernur BankIndonesia (BI) Hartadi A Sarwono dalam pernyataan resminya. Menurut BI, halpositif lainnya dari kenaikan CRC ini adalah posisi tawar Indonesia dalamnegosiasi pinjaman luar negeri menjadi lebih baik sehingga diharapkan akanmemperoleh pinjaman luar negeri khususnya pinjaman kredit ekspor denganterms and conditions yang lebih menguntungkan.
  5. 5. Pendekatan Sovereign Rating TerhadapPremi CDS Rating inimencerminkanevaluasirisikokreditkepadaseluruhentitaslain yangadapadasuatu Negara. Rating kreditentitas laintersebutbiasanyaakanlebihkecilatausamadengan sovereign rating.Dengandemikianarti sovereign rating menjadisangatpenting,mengingatbiayakreditberbagaientitasdidalamnegeriakanterpengaruhapabilasovereign rating mengalamidegradasi.maka 1% kenaikanpersepsirisiko globalmendorongpeningkatan CDS sebesar 0.861% s/d 1.457%.Temuanempirisinimengkonfirmasihasilstudi Matsumura dan Vicente (2010) Terdapat hubungan yang negatif antara premi CDS dengan sovereignrating. Negaranegara dengan rating sovereign yang lebih rendah rata-ratamembayar premi CDS yang lebihtinggiDengandemikiandapatdisimpulkanmeskipunCDSadalahsuatuinstrumenderivatif yang tradeable, para pelaku pasar (trader) tetap mendasarkankeputusan pembelian-penjualan didasarkan pola yang kurang lebih sejalandengan rating kredit. Suatu studi yang mengukur reaksi CDS sovereignnegara berkembang (emerging market) terhadap perubahan rating kredit(Standard & Poor) dilakukan oleh Ismailescu dan Kazemi (2010). Merekamenggunakan dataset yang terdiri dari 22 negara pada frekuensi harian padaperiode 2 Januari 2001 sampai dengan 22 April 2009. Sebagai variabeltergantung adalah perubahan CDS terkait dengan suatu dummy credit event dansekelompok variabel kontrol. Terdapat 2 tipe dummy credit event yangdigunakan, yakni credit event bagi negara yang mengalami (country credit event)dan credit event bagi negara yang satu blok (regional credit event). Mereka menemukan bahwa credit rating event memiliki sifat yangtidak simetris.Pengumuman perubahan rating yang positif memberikan dampaklangsung, sedangkan yang negatif tidak membawa dampak. Hal ini menimbulkandugaan bahwa pengumuman positif menyampaikan informasi yang lebih banyakdibandingkan yang negatif. Premi CDS juga memiliki kemampuan untukmemprediksi event rating kredit yang negatif (downgrade) namun tidak untukyang positif. Terakhir, event rating kredit memiliki dampak spill over yang lebihkuat jika ia positif daripada negatif.
  6. 6. Bannier dan Hirsch (2010) membuat suatu studi empiris yang menarikmengenai fungsi ekonomi dari pengumuman creditoutlook. Merekamenggunakan data seluruh seniorunsecured debt yang diterbitkan oleh entitasUS dan dirating oleh Moodys. Secara keseluruhan sample memiliki 4043observasi, yang terdiri atas 2531 upgrades dan 1512 donwgrades. Modelekonometrika yang digunakan adalah linier panel dengan Cumulative AbsoluteReturn (CAR) sebagi variabel tergantung dan 7 variabel penjelas diantaranyabesaran upgrade/downgrade (dalam notchs) dan dummy kategori masuk/keluarinvestment grade. Mereka menemukan bahwa rating downgrade memberikan responpasar yang lebih tinggi dibandingkan saat issuer memasuki watchlist. Temuanempiris juga memberikan dukungan atas hipotesa implicit contract (Boot et al,2006). Dalam hipotesa ini, watch list memiliki fungsi ekonomi sebagai alat untukmengkoordinasi persepsi investor dan mengarahkan issuer kepada persepsitersebut. Studi ini memiliki perbedaan dengan kajian empiris yang telah dilakukansebelumnya. Model empiris yang dilakukan lebih sederhana. Mengingathubungan yang telah established antara premi CDS dengan variabelekonomi makro melalui variabel penentu harga (jatuh tempo, volatilitas, sukubunga bebas risiko, dsb) maka estimasi dilakukan secara langsung melalui suatubentuk reduced form. Model empiris yang bersifat parsimonous ini diharapkanakan memberikan insight yang lebih intuitif. Secara umum tanda aljabar estimasi empiris serta signifikansinya telahmendukung hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini. CDS sebagaisuatu instrumen pasar memiliki keterkaitan dengan variabel fundamentalekonomi (global dan domestik). Dengan demikian pergerakan CDS jugamencerminkan persepsi para pelaku pasar terhadap prospek perekonomian(sovereign risk). Lebih lanjut mengingat instrumen ini adalah diperdagangkansecara harian, maka sangat mungkin ia dapat digunakan sebagaileadingindicator dari prospek risiko sovereign.
  7. 7. 3. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini telah melakukan review terhadap literatur yang ada mengenaihubungan antara CDS dengan variabel fundamental (khususnya ekonomimakro). Mengingat CDS adalah suatu instrumen derivatif (analog sebagai option)maka secara teoritis penilaian tergantung kepada variabel suku bunga bebasrisiko, jatuh tempo, strike price, volatilitas dan harga spot dari underlyingasset. Beberapa studi empiris telah menunjukkan korelasi yang erat dari perilakuCDS terhadap fundamental ekonomi. Studi yang dilakukan oleh Ismailescu danKazemi (2010) menunjukkan adanya hubungan antara CDS dengan perubahansovereign rating. Mengikuti metoda Standard & Poor (Beers dan Cavanaugh,2006), variabel fundamental ekonomi yang berpengaruh terhadap rating dapatdibagi menjadi 7 klasifikasi yakni Risiko Politik, Struktur ekonomi agregat, Prospek pertumbuhan ekonomi, Kondisi dan kebijakan fiskal, moneter sertaeksternal dan posisi kontijen (dalam dan luar negeri). Perubahan terhadapvariabel fundamental ini dapat diduga akan mempengaruhi premi CDS melaluivariabel pricing. Suatu dataset berfrekuensi tahunan yang terdiri atas 10 negaraberkembang pada periode 2004-2009 digunakan untuk memverifikasi hipotesisini. Hasil empiris menunjukkan bahwa sentimen risiko global (diproksikan olehindeks VIX), cadangan devisa serta yield spread merupakan variabelfundamental paling berpengaruh terhadap premi CDS. Temuan ini memberikan beberapa implikasi kebijakan yakni a. Perlunya memonitor sentimen global dan mengurangi dampak dari pengaruhpemburukan melalui kerjasama internasional yang lebih baik. b. Pemupukan cadangan devisa secara mencukup sebagai buffer apabila terjadishocknegatifyangmendadak.Cadangandevisayangtinggijugadapatm enjadisinyalkredibilitaskestabilan sektor eksternal. c. Memperhatikan pergerakan dipasar surat berharga/obligasi. Selisih yieldadalah sinyalindikator terhadap perubahan persepsi risiko sovereign.
  8. 8. Menurut Direktur Jendral Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan RahmatWaluyanto kenaikan rating sovereigncredit Indonesia oleh Moddy akanmembantu pencapain pertumbuhan ekonomi Indonesia karena banyaknya danajangka panjang yang murah.Lebih lanjut ia mengatakan, dengan peningkatanrating ini akan membuat yield SBN rupiah dan valas semakin rendahkarena default resiko premium mengalami penurunan. SelainituDirektur SuratUtang Negara (SUN) Direktorat Jendral Pengelolaan Utang KementerianKeuangan Bimantara Djayawijaya yang mengatakan kenaikan peringkat ini jugadapat menurunkan biaya utang Indonesia.Nama : Y. ARIA RANANDA 3CKebendaharaan Negara(34/093010003736)

×