1                                         GENDER1. SEKS DAN GENDER    Sejak dua dasawarsa terakhir, diskursus tentang gend...
2      Bertolak dari fenomena tersebut maka konsep penting yang harus dipahamiterlebih dahulu sebelum membicarakan masalah...
3    Melalui penentuan jenis kelamin secara biologis ini maka dikatakan bahwaseseorang akan disebut berjenis kelamin laki-...
4lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan bahwa seorang perempuan itu lemahlembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok ...
5keluarga maupun budaya masyarakat, sehingga perlahan-lahan citra tersebutmempengaruhi masing-masing jenis kelamin, laki-l...
6     Proses sosialisasi ini tidak berhenti sampai pada keluarga saja, tapi masih adalembaga lain. Cohan (1983) mengatakan...
7atribut-atribut yang melekat pada dirinya itu. Demikian pula halnya dengan seorangperempuan yang karena dia lahir dengan ...
8“penjaga nilai-nilai halus-kasar dan adiluhung” di dalam rumah.(Kompas, 23 Oktober1995)    Penjajahan kultural yang demik...
9    3. GENDER DAN STRATIFIKASI       Pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akanmendatangkan...
10    Proses terjadinya pelapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atausengaja disusun untuk mencapai satu...
11diarahkan untuk masuk ke sektor domestik dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama inimemang dianggap sebagai “urusan” pere...
12       Mengenai marginalisasi perempuan ini, Ivan Illich mengungkapkan sebuah   fakta sebagai berikut:            Selama...
13     lahir tersebut. Kelahiran seorang bayi laki-laki akan disambut dengan     kemeriahan yang lebih besar dibanding den...
14        Bertolak dari kondisi demikianlah maka jika dulu Karl Marx memperjuangkankesamaan kelas, kini kaum feminis mengg...
15                               DAFTAR PUSTAKABudiman, Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan       Sos...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Gender

1,114 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,114
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Gender

  1. 1. 1 GENDER1. SEKS DAN GENDER Sejak dua dasawarsa terakhir, diskursus tentang gender sudah mulai ramaidibicarakan orang. Berbagai peristiwa seputar dunia perempuan di berbagai penjurudunia ini juga telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentangpemikiran gerakan feminisme yang berlandaskan pada analisis “hubungan gender”. Berbagai kajian tentang perempuan digelar, di kampus-kampus, dalam berbagaiseminar, tulisan-tulisan di media massa, diskusi-diskusi, berbagai penelitian dansebagainya, yang hampir semuanya mempersoalkan tentang diskriminasi danketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Pusat-pusat studi wanita pun menjamurdi berbagai universitas yang kesemuanya muncul karena dorongan kebutuhan akankonsep baru untuk memahami kondisi dan kedudukan perempuan dengan menggunakanperspektif yang baru. Dimasukkannya konsep gender ke dalam studi wanita tersebut, menurut Sita vanBemmelen paling tidak memiliki dua alasan. Pertama, ketidakpuasan dengan gagasanstatis tentang jenis kelamin. Perbedaan antara pria dan wanita hanya menunjuk padasosok biologisnya dan karenanya tidak memadai untuk melukiskan keragaman arti priadan wanita dalam pelabagi kebudayaan. Kedua, gender menyiratkan bahwa kategoripria dan wanita merupakan konstruksi sosial yang membentuk pria dan wanita. (dalamIbrahim dan Suranto, 1998: xxvi) Namun ironisnya, di tengah gegap gempitanya upaya kaum feminismemperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender itu, masih banyak pandangan sinis,cibiran dan perlawanan yang datang tidak hanya dari kaum laki-laki, tetapi juga darikaum perempuan sendiri. Masalah tersebut mungkin muncul dari ketakutan kaum laki-laki yang merasa terancam oleh kebangkitan perempuan atau mungkin juga muncul dariketidaktahuan mereka, kaum laki-laki dan perempuan akan istilah gender itu sendiri danapa hakekat dari perjuangan gender tersebut.
  2. 2. 2 Bertolak dari fenomena tersebut maka konsep penting yang harus dipahamiterlebih dahulu sebelum membicarakan masalah perempuan ini adalah perbedaan antarakonsep seks (jenis kelamin) dengan konsep gender. Pemahaman yang mendalam ataskedua konsep tersebut sangatlah penting karena kesamaan pengertian (mutualunderstanding) atas kedua kata kunci dalam pembahasan bab ini akan menghindarkankita dari kemungkinan pemahaman-pemahaman yang keliru dan tumpang tindih antaramasalah-masalah perempuan yang muncul karena perbedaan akibat seks dan masalah-masalah perempuan yang muncul akibat hubungan gender, disamping itu juga untukmemudahkan pemahaman atas konsep gender yang merupakan kata dan konsep asingke dalam konteks Indonesia.A. Pengertian Selama lebih dari sepuluh tahun istilah gender meramaikan berbagai diskusitentang masalah-masalah perempuan, selama itu pulalah istilah tersebut telahmendatangkan ketidakjelasan-ketidakjelasan dan kesalahpahaman tentang apa yangdimaksud dengan konsep gender dan apa kaitan konsep tersebut dengan usahaemansipasi wanita yang diperjuangkan kaum perempuan tidak hanya di Indonesia yangdipelopori ibu Kartini tetapi juga di pelbagai penjuru dunia lainnya. Kekaburan makna atas istilah gender ini telah mengakibatkan perjuangan gendermenghadapi banyak perlawanan yang tidak saja datang dari kaum laki-laki yang merasaterancam “hegemoni kekuasaannya” tapi juga datang dari kaum perempuan sendiri yangtidak paham akan apa yang sesungguhnya dipermasalahkan oleh perjuangan gender itu. Konsep gender pertama kali harus dibedakan dari konsep seks atau jenis kelaminsecara biologis. Pengertian seks atau jenis kelamin secara biologis merupakanpensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis,bersifat permanen (tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan), dibawasejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan; sebagai seorang laki-laki atau seorangperempuan.
  3. 3. 3 Melalui penentuan jenis kelamin secara biologis ini maka dikatakan bahwaseseorang akan disebut berjenis kelamin laki-laki jika ia memiliki penis, jakun, kumis,janggut, dan memproduksi sperma . Sementara seseorang disebut berjenis kelaminperempuan jika ia mempunyai vagina dan rahim sebagai alat reproduksi, memiliki alatuntuk menyusui (payudara) dan mengalami kehamilan dan proses melahirkan. Ciri-cirisecara biologis ini sama di semua tempat, di semua budaya dari waktu ke waktu dantidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Berbeda dengan seks atau jenis kelamin yang diberikan oleh Tuhan dan sudahdimiliki seseorang ketika ia dilahirkan sehingga menjadi kodrat manusia, istilah genderyang diserap dari bahasa Inggris dan sampai saat ini belum ditemukan padanan katanyadalam Bahasa Indonesia, ---kecuali oleh sebagian orang yang untuk mudahnya telahmengubah gender menjadi jender--- merupakan rekayasa sosial, tidak bersifat universaldan memiliki identitas yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ideologi,politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, etnik, adat istiadat, golongan, juga faktorsejarah, waktu dan tempat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Kompas, 3September 1995) Oleh karena gender merupakan suatu istilah yang dikonstruksi secara sosial dankultural untuk jangka waktu yang lama, yang disosialisasikan secara turun temurunmaka pengertian yang baku tentang konsep gender ini pun belum ada sampai saat ini,sebab pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan hubungan gender dimaknaisecara berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu budaya ke budaya lain dan dariwaktu ke waktu. Meskipun demikian upaya untuk mendefinisikan konsep gender tetapdilakukan dan salah satu definisi gender telah dikemukakan oleh Joan Scoot, seorangsejarahwan, sebagai “a constitutive element of social relationships based on perceiveddifferences between the sexes, and…a primary way of signifying relationships ofpower.” (1986:1067) Sebagai contoh dari perwujudan konsep gender sebagai sifat yang melekat padalaki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, misalnya jikadikatakan bahwa seorang laki-laki itu lebih kuat, gagah, keras, disiplin, lebih pintar,
  4. 4. 4lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan bahwa seorang perempuan itu lemahlembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok untuk bekerja di dalam rumah (mengurusanak, memasak dan membersihkan rumah) maka itulah gender dan itu bukanlah kodratkarena itu dibentuk oleh manusia. Gender bisa dipertukarkan satu sama lain, gender bisa berubah dan berbeda dariwaktu ke waktu, di suatu daerah dan daerah yang lainnya. Oleh karena itulah,identifikasi seseorang dengan menggunakan perspektif gender tidaklah bersifatuniversal. Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki mungkin saja bersifat keibuan danlemah lembut sehingga dimungkinkan pula bagi dia untuk mengerjakan pekerjaanrumah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan kaumperempuan. Demikian juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan bisasaja bertubuh kuat, besar pintar dan bisa mengerjakan perkerjaan-pekerjaan yang selamaini dianggap maskulin dan dianggap sebagai wilayah kekuasaan kaum laki-laki. Disinilah kesalahan pemahaman akan konsep gender seringkali muncul, dimanaorang sering memahami konsep gender yang merupakan rekayasa sosial budaya sebagai“kodrat”, sebagai sesuatu hal yang sudah melekat pada diri seseorang, tidak bisa diubahdan ditawar lagi. Padahal kodrat itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,antara lain berarti “sifat asli; sifat bawaan”. Dengan demikian gender yang dibentuk danterbentuk sepanjang hidup seseorang oleh pranata-pranata sosial budaya yangdiwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bukanlah bukanlah kodrat.2. GENDER DAN SOSIALISASIA. Pengertian Sosialisasi Kuatnya citra gender sebagai kodrat, yang melekat pada benak masyarakat,bukanlah merupakan akibat dari suatu proses sesaat melainkan telah melalui suatuproses dialektika, konstruksi sosial, yang dibentuk, diperkuat, disosialisasikan secaraevolusional dalam jangka waktu yang lama, baik melalui ajaran-ajaran agama, negara,
  5. 5. 5keluarga maupun budaya masyarakat, sehingga perlahan-lahan citra tersebutmempengaruhi masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan secara biologisdan psikologis. Melalui proses sosialisasi, seseorang akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan proses sosialisasi, seseorang “diharapkan” menjadi tahubagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkunganbudayanya, sehingga bisa menjadi manusia masyarakat dan “beradab”. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggotamasyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial. Sosialisasi menitikberatkan padamasalah individu dalam kelompok. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkankedirian dan kepribadian seseorang. (Soelaeman, 1998:109) Kedirian sebagai suatu produk sosialisasi, merupakan kesadarn terhadap dirisendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Adapun asal mulatimbulnya kedirian antara lain karena: a) Dalam proses sosialisasi seseorang mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya, apakah dirinya dianggap baik, buruk, pintar, cantik dan sebagainya. b) Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang yang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus dia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain. Proses sosisalisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Gambaran diriseseorang merupakan pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada dirinya.Persepsinya tentang diri, tentang dunia dan masyarakat sekelilingnya secara langsungdipengaruhi oleh tindakan dan keyakinan keluarganya. Sehingga nilai-nilai yangdimiliki oleh seorang individu dan berbagai peran yang diharapkan dilakukan olehnya,smeua berawal dari dalam lingkungan sendiri.
  6. 6. 6 Proses sosialisasi ini tidak berhenti sampai pada keluarga saja, tapi masih adalembaga lain. Cohan (1983) mengatakan bahwa lembaga-lembaga sosialisasi yangterpenting ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media massa. Sosialisasi pada dasarnya menunjuk pada semua faktor dan proses yang membuatsetiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah orang lain. Sehinggameskipun proses sosialisasi yang dijalani setiap orang tidak selalu sama, namun secaraumum sasaran sosialisasi itu sendiri hampir sama di berbagai tempat dan budaya, yaituantara lain: a) Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat. b) Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya. c) Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan- latihan mawas diri yang tepat. d) Bertingkah laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya.B. Sosialisasi Peran Gender Pranata sosial yang kita masuki segabai individu, sejak kita memasuki keluargapada saat lahir, melalui pendidikan, kultur pemuda, dan ke dalam dunia kerja dankesenangan, perkawinan dan kita mulai membentuk keluarga sendiri, memberi pesanyang jelas kepada kita bagaimana orang “normal” berperilaku sesuai dengan gendernya.(Mosse, 1996:63) Karena konstruksi sosial budaya gender, seorang laki-laki misalnya haruslahbersifat kuat, agresif, rasional, pintar, berani dan segala macam atribut kelelakian lainyang ditentukan oleh masyarakat tersebut, maka sejak seorang bayi laki-laki lahir, diasudah langsung dibentuk untuk “menjadi’ seorang laki-laki, dan disesuaikan dengan
  7. 7. 7atribut-atribut yang melekat pada dirinya itu. Demikian pula halnya dengan seorangperempuan yang karena dia lahir dengan jenis kelamin perempuan maka dia punkemudian dibentuk untuk “menjadi” seorang perempuan sesuai dengan kriteria yangberlaku dalam suatu masyarakat dan budaya dimana dia lahir dan dibesarkan, misalnyabahwa karena dia dilahirkan sebagai seorang perempuan maka sudah menjadi “kodrat”pula bagi dia untuk menjadi sosok yang cantik, anggun, irrasional, emosional dansebagainya. Proses sosialisasi peran gender tersebut dilaksanakan melalui berbagai cara, darimulai pembedaan pemilihan warna pakaian, accessories, permainan, perlakuan dansebagainya yang kesemuanya diarahkan untuk mendukung dan memapankan prosespembentukan seseorang “menjadi” seorang laki-laki atau seorang perempuan sesuaidengan ketentuan sosial budaya setempat. Pembedaan identitas berdasarkan gender tersebut telah ada jauh sebelumseseorang itu lahir. Sehingga ketika pada akhirnya dia dilahirkan ke dunia ini, dia sudahlangsung masuk ke dalam satu lingkungan yang menyambutnya dengan serangkaiantuntutan peran gender. Sehingga seseorang terpaksa menerima identitas gender yangsudah disiapkan untuknya dan menerimanya sebagai sesuatu hal yang benar, yang alamidan yang baik. Akibatnya jika terjadi penyimpangan terhadap peran gender yang sudahmenjadi bagian dari landasan kultural masyarakat dimana dia hidup, maka masyarakatpun lantas menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif bahkan mungkin sebagaipenentang terhadap budaya yang selama ini sudah mapan. Dan sampai sejauh ini yangsering menjadi korban adalah kaum perempuan. Sebagai contoh dalam adat budaya Jawa di Indonesia, seorang budayawanterkemuka, Umar Kayam, mengungkapkan bahwa sebutan wanita sebagai kancawingking (teman di belakang) merupakan pengembangan dialektika budaya adiluhung.Sosok budaya inilah yang berkembang di bawah ilham “halus – kasar” yang secarategar menjelajahi semua sistem masyarakat Jawa. Sistem kekuasaan feodal aristokratik,demikian Kayam, telah menetapkan wanita untuk memiliki peran atau role menjadi
  8. 8. 8“penjaga nilai-nilai halus-kasar dan adiluhung” di dalam rumah.(Kompas, 23 Oktober1995) Penjajahan kultural yang demikian panjang dan membuat perempuan lebih banyakmenjadi korban itu terus dilestarikan. Tidak jarang, alasan-alasan kultural memberikanlegitimasi sangat ampuh. Ia dicekokkan melalui pelbagai pranata sosial dan adat istiadatyang mendarahdaging dalam jantung kesadaran anggotanya. Rasionalisasi kulturalinilah yang pada gilirannya membuat perempuan secara psikologis mengidap sesuatuyang oleh Collete Dowling disebut Cinderella Complex, suatu jaringan rasa takut yangbegitu mencekam, sehingga kaum wanita merasa tidak berani dan tidak bisamemanfaatkan potensi otak dan daya kreativitasnya secara penuh. (Ibrahim danSuranto, 1998:xxvi) Sosialisasi yang jika kita cermati pengertiannya, yaitu merupakan sebuah prosesyang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak danberpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi baik sebagai individu maupun sebagaianggota masyarakat. (Noor, 1997:102) telah juga dilakukan tidak hanya melaluilembaga keluarga dan lembaga adat, melainkan juga oleh lembaga negara dan lembagapendidikan. Pemapanan citra bahwa seorang perempuan itu lebih cocok berperan sebagaiseorang ibu dengan segala macam tugas domestiknya yang selalu dikatakan sebagai“urusan perempuan”, seperti membersihkan rumah, mengurus suami dan anak,memasak, berdandan dan sebagainya. Sementara citra laki-laki, disosialisasikan secaralebih positif, dimana dikatakan bahwa laki-laki karena kelebihan yang dimilikinya makalebih sesuai jika dibebani dengan “urusan-urusan laki-laki” pula dan lebih seringberhubungan dengan sektor publik, seperti mencari nafkah, dengan profesi yang lebihbervariasi daripada perempuan. Kesemua itu disosialisasikan sejak dari kelas satuSekolah Dasar melalui buku-buku pelajaran di sekolah hingga Panca Dharma Wanita,yang menyatakan bahwa tugas utama seoarang perempuan adalah sebagai“pendamping” suami, dan itulah yang diyakini secara salah oleh sebagian orang sebagai“kodrat wanita.”
  9. 9. 9 3. GENDER DAN STRATIFIKASI Pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akanmendatangkan masalah jika pembedaan itu tidak melahirkan ketidakadilan gender(gender inequalities) baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Meskiketidakadilan itu lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan, sehinggabermunculanlah gerakan-gerakan perjuangan gender. Ketidakadilan gender tersebut antara lain termanifestasi pada penempatanperempuan dalam stratifikasi sosial masyarakat, yang pada kelanjutannya telahmenyebabkan kaum perempuan mengalami apa yang disebut dengan marginalisasi dansubordinasi.A. Pengertian Stratifikasi Bila ditinjau dari asal katanya, istilah stratifikasi berasal dari kata stratus yangartinya lapisan (berlapis-lapis). Sehingga dengan istilah stratifikasi diperoleh gambaranbahwa dalam tiap kelompok masyarakat selalu terdapat perbedaan kedudukan seseorangdari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah, berlapis-lapis dariatas ke bawah. Pelapisan sosial dalam masyarakat tersebut terjadi karena adanya “sesuatu” yangdihargai dalam masyarakat tersebut. Misalnya, berupa pemilikian uang atau benda-benda ekonomis lainnya seperti mobil, rumah, benda-benda elektronik dan lainsebagainya. Pemilikan kekuasaan, ilmu pengetahuan, agama atau keturunan keluarga.Untuk selanjutnya masyarakat dinilai dan ditempatkan pada lapisan-lapisan tertentuberdasarkan tingkat kemampuannya dalam memiliki “sesuatu” yang dihargai tersebut.
  10. 10. 10 Proses terjadinya pelapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atausengaja disusun untuk mencapai satu tujuan bersama, misalnya pembagian kekuasaandan wewenang yang resmi dalam organisasi formal. Disamping itu, pelapisan dalam masyarakat juga bisa bersifat tertutup, dimanadidalamnya tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain,baik gerak pindahnya ke atas maupun ke bawah. Misalnya, penempatan seseorangdalam lapisan tertentu yang diperoleh berdasarkan kelahiran. Contoh paling banyakterdapat pada masyarakat dengan sistem kasta, masyarakat feodal dan masyarakat rasial.Sementara pada masyarakat dengan sistem pelapisan terbuka, setiap orang mempunyaikesempatan untuk naik ke lapisan yang lebih tinggi tetapi juga dimungkinkan untukjatuh ke lapisan yang lebih rendah.B. Stratifikasi Perempuan Berlandaskan Perbedaan Gender Jika kita mengaitkan masalah gender dengan stratifikasi maka mau tidak mau kitaharus melihat kembali pada proses sosialisasi yang telah mengawali pemapananpembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender. Selama ini telah disosialisasikan, ditanamkan sedemikian rupa, ke dalam benak, kedalam pribadi-pribadi seseorang, laki-laki dan perempaun, bahwa karena “kodrat”-nyaseorang laki-laki berhak dan sudah seharusnya untuk mendapat kebebasan, mendapatkesempatan yang lebih luas daripada perempuan. Tuntutan nilai-nilai yang ditentukanoleh masyarakat telah mengharuskan seorang laki-laki untuk lebih pintar, lebih kaya,lebih berkuasa daripada seorang perempuan. Akibatnya segala perhatian dan perlakuanyang diberikan kepada masing-masing dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuantersebut pun disesuaikan dan diarahkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kepada laki-laki diberikan prioritas dan kesempatan lebih luas untuk sekolah dan menuntut ilmulebih tinggi daripada kesempatan yang diberikan kepada kaum perempuan. Kepadakaum laki-laki pula dibuka pintu selebar-lebarnya untuk bekerja di berbagai sektorpublik dalam dunia pekerjaan yang dianggap maskulin, sementara perempuan lebih
  11. 11. 11diarahkan untuk masuk ke sektor domestik dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama inimemang dianggap sebagai “urusan” perempuan. Bertolak dari kondisi tersebut maka akses perempuan terhadap “sesuatu” yangdihargai dalam masyarakat, yang menjadi sumber kelahiran pelapisan dalam masyarakatpun menjadi sangat rendah. Sehingga kaum perempuan dengan segala keterbatasanyang sudah ditentukan oleh masyarakat untuknya terpaksa menempati lapisan yanglebih rendah di masyarakat daripada kaum laki-laki. Kondisi yang telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang tidakmenguntungkan di atas telah juga melahirkan pelbagai bentuk ketidakadilan gender(gender inequalities) yang termanifestasi antara lain dalam bentuk: a) Marginalisasi Proses marginalisasi, yang merupakan proses pemiskinan terhadap perempuan, terjadi sejak di dalam rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dengan anggota keluarga perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan. Misalnya, banyak diantara suku-suku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan waris sama sekali atau hanya mendapatkan separuh dari jumlah yang diperoleh kaum laki-laki. Demikian juga dengan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan, berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang akibatnya juga melahirkan perbedaan jumlah pendapatan antara laki-laki dan perempuan. Seorang perempuan yang bekerja sepanjang hari di dalam rumah, tidaklah dianggap “bekerja” karena pekerjaan yang dilakukannya, seberapapun banyaknya, dianggap tidak produktif secara ekonomis. Namun seandainya seorang perempuan “bekerja” pun (dalam arti di sektor publik) maka penghasilannya hanya dapat dikategorikan sebagai penghasilan tambahan saja sebagai penghasilan seorang suami tetap yang utama, sehingga dari segi nominal pun perempuan lebih sering mendapatkan jumlah yang lebih kecil daripada kaum laki-laki.
  12. 12. 12 Mengenai marginalisasi perempuan ini, Ivan Illich mengungkapkan sebuah fakta sebagai berikut: Selama bertahun-tahun ini, diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan yang berupah, yang terkena pajak, dan yang dilaporkan atau dipantau secara resmi, kedalamannya tidak berubah namun volumenya makin bertambah. Kini 51 % perempuan di Amerika Serikat bekerja di luar rumah, sementara tahun 1880 hanya tercatat 5%. Jika pada tahun 1880 dalam keseluruhan tenaga kerja di Amerika hanya 15% yang perempuan sekarang mencapai 42%. Kini separuh dari semua perempuan yang sudah kawin punya penghasilan sendiri dari suatu pekerjaan luar rumah, sementara seabad silam hanya 5% yang memiliki pendapatan sendiri. Sekarang hukum membuka kesempatan pendidikan serta karier bagi perempuan, sedangkan pada tahun 1880 banyak yang tertutup baginya. Sekarang rata-rata perempuan menghabiskan 28 tahun sepanjang hidupnya untuk bekerja sementara tahun 1880 angka rata-rata yang tercatat hanya 5 tahun. Ini semua kelihatan seperti langkah-langkah penting ke arah kesetaraan ekonomis, tapi tunggu sampai Anda terapkan alat ukur yang tepat. Upah rata-rata tahunan perempuan yang bekerja penuh-waktu masih mandek pada rasio magis dibanding pendapatan laki-laki, yakni 3:5 ----59%, dengan kenaikan atau penurunan 3% --- persis persentase seratus tahun silam. Kesempatan pendidikan, ketersediaan perlindungan hukum, retorika revolusioner --- politis, teknologis, atau seksual ---tak mengubah apa-apa sehubungan dengan rendahnya pendapatan perempuan dibanding laki-laki. (1998:16)b. Subordinasi Pandangan berlandaskan gender juga ternyata bisa mengakibatkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional berakibat munculnya sikap menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Salah satu konsekuensi dari posisi subordinat perempuan ini adalah perkembangan keutamaan atas anak laki-laki. Seorang perempuan yang melahirkan bayi laki-laki akan lebih dihargai daripada seorang perempuan yang hanya melahirkan bayi perempuan. Demikian juga dengan bayi-bayi yang baru
  13. 13. 13 lahir tersebut. Kelahiran seorang bayi laki-laki akan disambut dengan kemeriahan yang lebih besar dibanding dengan kelahiran seorang bayi perempuan. Subordinasi juga muncul dalam bentuk kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kekerasan yang menimpa kaum perempuan termanifestasi dalam berbagai wujudnya, seperti perkosaan, pemukulan, pemotongan organ intim perempuan (penyunatan) dan pembuatan pornografi. Hubungan subordinasi dengan kekerasan tersebut karena perempuan dilihat sebagai objek untuk dimiliki dan diperdagangkan oleh laki-laki, dan bukan sebagai individu dengan hak atas tubuh dan kehidupannya. (Mosse, 1996:76) Anggapan bahwa perempuan itu lebih lemah atau ada di bawah kaum laki- laki juga sejalan dengan pendapat teori nature yang sudah ada sejak permulaan lahirnya filsafat di dunia Barat. Teori ini beranggapan bahwa sudah menjadi “kodrat” (sic!) wanita untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya. (Budiman, 1985: 6) Bahkan Aristoteles mengatakan bahwa wanita adalah laki-laki – yang – tidak lengakap. (Ibid.) Demikianlah pendikotomian laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungangender nyata sekali telah mendatangkan ketidakadilan gender bagi perempuan yangtermanifestasi dalam berbagai wujud dan bentuknya. Karena diskriminasi genderperempuan diharuskan untuk patuh pada “kodrat” –nya yang telah ditentukan olehmasyarakat untuknya. Karena diskriminasi pula perempuan harus menerimastereotype yang dilekatkan pada dirinya yaitu bahwa perempuan itu irrasional, lemah,emosional dan sebagainya sehingga kedudukannya pun selalu subordinat terhadaplaki-laki, tidak dianggap penting bahkan tidak dianggap sejajar dengan laki-laki,sehingga perempuan diasumsikan harus selalu menggantungkan diri dan hidupnyakepada laki-laki.
  14. 14. 14 Bertolak dari kondisi demikianlah maka jika dulu Karl Marx memperjuangkankesamaan kelas, kini kaum feminis menggemakan perjuangannya, untuk memperolehkesetaraan gender. Untuk memperoleh kedudukan dan hak yang sama dengan laki-laki.
  15. 15. 15 DAFTAR PUSTAKABudiman, Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta, Gramedia,1985Fakih, Mansour, DR. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997Ibrahim, Idi Subandy dan Hanif Suranto, (ed). Wanita dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998Illich, Ivan. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998Mosse, Julia Cleves. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Pustaka Pelajar, 1996Munir, Lily Zakiyah, (ed). Memposisikan Kodrat. Bandung: Mizan, 1999Noor, H. M. Arifin, Drs. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia, 1997Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997Soelaeman, M. Munandar. Ir. MS. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Refika Aditama, 1998

×