tingkah laku kerbau

227 views
192 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
227
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

tingkah laku kerbau

  1. 1. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 KARAKTERISTIK TINGKAH LAKU KERBAU UNTUK MANAJEMEN PRODUKSI YANG OPTIMAL 1 EKO HANDIWIRAWAN, 2SURYANA dan 1CHALID TALIB 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Jl. Raya Pajajaran Kav. E-59, Bogor 2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalmantan Selatan ABSTRAK Dalam lima tahun terakhir (2004-2008) populasi kerbau mengalami penurunan sekitar 8,8 persen. Kurangnya pengetahuan peternak tentang tingkah laku kerbau sering menyebabkan kerbau tidak dapat berproduksi secara optimal. Informasi tingkah laku biologi penting bagi peternak dalam upaya mengkondisikan lingkungan dan mendesain manajemen yang sesuai dengan kebutuhan kerbau. Beberapa tingkah laku penting yang terkait dengan produksi diuraikan dalam makalah ini. Kerbau tidak mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap panas sehingga akan menderita bila langsung terkena sinar matahari dalam waktu lama atau dikerjakan secara berlebihan di siang hari yang terik. Stres panas yang terus menerus dan berlangsung lama membuat laju pertumbuhan kerbau berkurang dan reproduktivitasnya juga menurun. Kerbau suka merumput (grazing) tetapi tidak pemilih sehingga beberapa tanaman yang tidak disentuh sapi, oleh kerbau tetap dimakan. Dengan sifat tersebut maka kerbau dapat diberikan pakan yang mempunyai palatabilitas rendah bagi ternak lain namun memiliki kualitas yang baik. Dalam kondisi kualitas pakan yang buruk, kerbau lebih efisien dalam memanfaatkan pakan dibandingkan sapi. Dengan kelebihan tersebut maka pemeliharaan kerbau sangat menguntungkan di daerah-daerah dengan kondisi pakan yang berkualitas. Kerbau mempunyai daya tahan yang baik dalam bekerja di sawah karena memiliki kaki yang kokoh disertai teracak yang lebar. Sebagai hewan pekerja, kerbau lebih baik dibandingkan dengan sapi dalam kondisi tanah basah atau terendam air. Pada padang penggembalaan, rasio jantan dan betina yang tepat akan menjaga selang beranak yang optimal. Tanda-tanda estrus pada kerbau kurang intense dibandingkan sapi dan menjadi lebih lemah (silent heat) terutama selama musim kemarau. Kesediaan menerima pejantan adalah tanda estrus yang paling dipercaya pada kerbau. Dengan karakteristik khas estrus pada kerbau tersebut maka praktek inseminasi buatan pada kerbau tidak umum dilakukan dan angka konsepsi akan rendah karena sukar mendeteksi estrus, terkecuali dengan pemanfaatan pejantan pemancing (teaser). Kerbau jantan lebih cenderung untuk menyerang (agresif) kerbau jantan lain dan ini akan berbahaya bagi ternak bunting maupun pedet dalam pemeliharaan ekstensif. Tingkah laku seksual kerbau jantan kurang intense dibandingkan sapi. Libido tertahan selama siang hari yang panas, menurun selama musim kemarau dan membaik dalam musim yang lebih dingin. Kata kunci : Kerbau, tingkah laku, produksi, optimal PENDAHULUAN Populasi kerbau di dunia sekitar 158 juta ekor dan 97% berada di Asia (FAO, 2000) sehingga dapat dikatakan bahwa kerbau adalah ternak Asia. Di Indonesia, populasi kerbau tahun 2008 berjumlah 2,2 juta ekor, dimana lebih dari setengahnya (51%) berada di Pulau Sumatera. Tiga propinsi dengan jumlah populasi kerbau terbanyak adalah Nanggroe Aceh Darussalam (410,5 ribu ekor), Sumatera Barat (197,3 ribu ekor) dan Sumatera Utara (189,2 ribu ekor). Selama lima tahun terakhir (2004-2008) populasi kerbau naik turun dan cenderung mengalami penurunan sekitar 8,8% (DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN, 2008). Pertumbuhan populasi kerbau yang kurang menggembirakan dikarenakan beberapa sebab di antaranya adalah masyarakat yang memiliki kerbau hanya sebagai keeper (bukan sebagai producer atau breeder), penyusutan luasan padang pangonan dan daya dukungnya dengan signifikan (DIWYANTO dan HANDIWIRAWAN, 2006), penyakit, perhatian peternak yang kurang baik dalam manajemen pemeliharaan, dan lain-lain. Pengetahuan peternak yang kurang baik dalam tingkah laku biologi kerbau juga sering menyebabkan kerbau tidak dapat berproduksi dan bereproduksi seperti yang diharapkan. Pemahaman mengenai tingkah laku kerbau dapat memberikan informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh kerbau dalam 97
  2. 2. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 hidupnya. Informasi ini penting bagi peternak dalam upaya mengkondisikan lingkungan dan mendesain manajemen yang sesuai dengan keperluan kerbau. Dengan demikian kerbau dapat menghasilkan produksi yang optimal sesuai potensi genetiknya. Kelebihan yang dimiliki kerbau dapat dimanfaatkan sesuai kondisi yang diperlukan agar kelebihan tersebut dapat ditampilkan. Makalah ini menguraikan beberapa aspek tingkah laku kerbau yang dihubungkan dengan manajemen untuk optimalisasi produktivitas. Tingkah Laku Umum yang Khas Untuk dapat hidup nyaman kerbau memerlukan kondisi ideal dengan temperatur lingkungan berkisar 16–24ºC, dengan batas toleransi hingga 27,6ºC (MARKVICHITR, 2006). Walaupun pada kenyataannya kerbau ditemukan paling banyak di daerah tropis dan subtropis, akan tetapi kerbau tidak mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap panas. Kerbau akan menderita bila diletakkan dalam waktu lama yang langsung terkena sinar matahari. Apalagi bila dikerjakan secara berlebihan selama siang hari yang panas, yang menyebabkan temperatur tubuh, denyut nadi dan laju pernafasan akan meningkat lebih cepat dibandingkan sapi. Exposure langsung sinar matahari selama 2 jam menyebabkan temperatur tubuh kerbau meningkat 1,3ºC, sementara sapi hanya meningkat 0,2–0,3ºC (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1987; LIGDA, 1998). Kerapatan kelenjar keringat kerbau hanyalah sepersepuluh dari yang dimiliki sapi, sehingga pelepasan panas dengan cara berkeringat tidak banyak membantu. Selain itu, kerbau mempunyai bulu yang sangat jarang, sehingga mengurangi perlindungannya terhadap sinar matahari langsung. Hal inilah yang menyebabkan kerbau kurang tahan terhadap sengatan sinar matahari atau udara yang dingin. Penurunan temperatur yang tibatiba dapat menimbulkan pneumonia dan kematian (HARDJOSUBROTO, 1994; LIGDA, 1998). Di bawah naungan atau di kubangan, temperatur tubuh kerbau akan menurun lebih cepat daripada sapi, mungkin karena kulit tubuh yang hitam kaya akan pembuluh darah 98 yang menghantarkan dan mengeluarkan panas secara efisien (LIGDA, 1998). Karena tidak tahan dengan panas dan sinar matahari langsung, kerbau sangat suka dengan air, mereka suka berkubang di dalam air yang tidak mengalir atau lumpur, khususnya pada saat udara panas di siang hari dan pada malam hari (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1987). Kerbau aktif terutama pada senja dan malam hari, menghabiskan istirahat siang hari dengan berkubang di dalam lumpur atau beristirahat di tanah yang dinaungi pepohonan (ANONIMOUS, 2008a). Karena kebiasaannya ini kerbau menjadi tidak mudah terserang kutu atau ektoparasit lainnya (FAO, 2000). Kulit kerbau ditutupi dengan epidermis yang tebal, sel-sel basal yang mengandung banyak partikel melanin memberikan karakteristik warna hitam pada permukaan kulit. Partikel melanin menangkap sinar ultraviolet dan mencegahnya menerobos melalui epidermis kulit. Sinar-sinar ini melimpah dari radiasi sinar matahari di daerah tropis dan subtropis, dan exposure yang berlebihan pada jaringan hewan dapat bersifat merugikan, bahkan menghasilkan tumor kulit (SHAFIE, 2008). Kulit kerbau hampir tanpa rambut, terutama pada kerbau yang sudah dewasa, dan terdapat kelenjar sebaceous yang berkembang dengan baik. Kelenjar ini mensekresi zat seperti lemak yang disebut sebum yang menutupi dan sebagai pelumas yang membuat licin air dan lumpur di permukaan kulit. Sebum yang menutupi seluruh lapisan atas kulit kerbau mencegah air dan senyawa yang terdapat di dalamnya terabsorbsi ke dalam kulit. Dengan cara ini, kerbau terlindungi dari pengaruh berbahaya beberapa senyawa kimia berbahaya di dalam air. Di samping itu, lapisan sebum meleleh selama cuaca panas dan menjadi lebih halus dan mengkilap untuk memantulkan banyak sinar panas sehingga mengurangi beban kerbau terhadap panas eksternal yang berlebihan (SHAFIE, 2008). Karakteristik khas kulit dan kelenjar keringat yang dimiliki kerbau menyebabkan kerbau kurang tahan terhadap paparan sinar matahari langsung atau panas. Desain kandang perlu dibuat untuk mengurangi panas lingkungan sehingga memberikan kenyamanan bagi ternak. Stres akibat cekaman panas tidak menguntungkan kerbau. EWING et al. (1999)
  3. 3. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 menguraikan homeostasis pengaturan panas tubuh akibat stres panas, yang menstimulir kelenjar adrenalin mensekresikan hormon epinephrine yang merangsang kelenjar keringat untuk melakukan evaporasi. Namun demikian karena kelenjar keringat kerbau tidak cukup banyak, evaporasi juga dilakukan melalui vasodilatasi pembuluh darah periferal. Kedua mekanisme tersebut tidak banyak membantu pelepasan panas tubuh yang membuat kerbau menjadi tersiksa dengan panas. Hormon epinephrine juga bersifat memobilisasi cadangan energi melalui glikogenolisis, glukoneogenesis dan lipolisis (DJOJOSOEBAGIO, 1996). Dengan demikian stres panas yang terus menerus dan berlangsung lama membuat laju pertumbuhan kerbau menjadi berkurang dan jika berlangsung lama akan berpengaruh terhadap kemampuan reproduktivitasnya. Tingkah Laku Makan Kerbau termasuk hewan yang suka merumput (grazer) (SCHOENIAN, 2005). Kerbau kurang memilih dalam mencari makan dan oleh karena itu mengkonsumsi dalam jumlah lebih besar pakan yang kurang bermutu, tidak seperti yang dimakan oleh sapi. Hal ini menjadi alasan mengapa kerbau dapat berkembang dengan baik dibandingkan sapi pada kondisi pakan yang buruk (BANERJEE, 1982). Seringkali karena sifat kurang memilih pakan maka kerbau diberi pakan seadanya tanpa memperhatikan kualitas yang diberikan yang mengakibatkan laju pertumbuhan yang dicapai rendah. Justru dengan sifat tersebut maka kerbau dapat diberikan pakan yang mempunyai palatabilitas rendah bagi ternak lain namun memiliki nilai nutrisi yang baik. Kerbau memiliki kemampuan mencerna pakan bermutu rendah lebih efisien daripada sapi, dengan kemampuan mencerna 2-3% unit lebih tinggi. Hal ini diduga erat kaitannya dengan lambannya gerakan makanan dalam saluran pencernaan kerbau sehingga makanan tersebut dapat diolah lebih lama dan penyerapan zat gizinya akan lebih banyak (DEVENDRA, 1987; WANAPAT et al., 1994). Pemanfaatan nitrogen pada kerbau lumpur lebih efisien daripada sapi di Malaysia (DEVENDRA, 1985). Superioritas kerbau di atas sapi terutama menyolok dalam situasi dimana penyediaan pakan dalam jumlah dan kualitas rendah. Superioritas pencernaan kerbau karena perbedaan dalam proporsi dan jumlah mikroba rumen yang mempengaruhi bentuk proses fermentasi dan produk akhir dari fermentasi. Jumlah bakteri dan fungi di dalam rumen kerbau lebih tinggi sedangkan jumlah protozoa lebih rendah dibandingkan sapi. Hal tersebut menyebabkan kemampuan untuk memanfaatkan pakan lebih tinggi dan oleh karena itu kecernaan pakan menjadi lebih tinggi (WANAPAT, 2001). Oleh karena itu jarang sekali ditemukan kerbau yang kurus walaupun dengan ketersediaan pakan yang seadanya. YURLENI (2000) hanya menemukan 2,5 – 12,5% kerbau yang diamatinya dalam kondisi kurus. Pada kondisi pakan yang jelek setidaknya kerbau dapat tumbuh menyamai sapi, tetapi pada kondisi pakan yang sangat baik, misalnya pada penggemukan, kecepatan pertumbuhannya tidak dapat melampaui pertumbuhan sapi (HARDJOSUBROTO, 1994). Di Australia, kerbau dapat beradaptasi dengan wilayah padang rumput yang kurang baik, terlalu basah atau berkualitas marginal bagi sapi. Kerbau dapat mencari makan dalam kondisi yang berawa-rawa. Kerbau juga memakan jenis pakan dalam kisaran yang lebih luas dibandingkan sapi dan telah terobservasi membersihkan saluran irigasi dari alang-alang dan tumbuhan lain yang secara normal tidak disentuh oleh sapi. Kelebihan lain dari kerbau adalah dapat hidup baik dengan memakan jerami dan limbah pertanian yang berkualitas rendah (LEMCKE, 2008). Lokomosi (pergerakan) Dari sisi kemampuan fisik kerbau memiliki kaki yang kokoh disertai teracak yang lebar. Sungguh pun jalannya lambat tetapi mampu menarik beban yang berat serta menempuh medan yang becek bahkan berlumpur. Kerbau mempunyai kekuatan dan daya tahan yang baik dalam bekerja. Sebagai hewan pekerja, kerbau lebih baik dibandingkan sapi dalam kondisi basah atau terendam air, seperti bekerja di sawah yang berlumpur. Kerbau dapat menarik bajak di tanah berlumpur dalam dimana traktor tidak dapat dipergunakan. Kerbau juga dapat dipekerjakan untuk menarik gerobak, 99
  4. 4. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 membawa angkutan yang lebih berat dibandingkan sapi (FAO, 2000; ANONIMOUS, 2008d). Kelebihan-kelebihan yang dimiliki kerbau ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu kerbau lebih beranfaat sebagai ternak kerja. Kerbau sangat cocok digunakan sebagai ternak penarik hasil produksi pertanian dan kehutanan di lokasi-lokasi yang hampir mustahil dilalui oleh kendaraan lainnya. Tingkah Laku Sosial Kerbau jantan lebih cenderung untuk menyerang kerbau jantan dibandingkan sapi perah atau sapi potong jantan, sehingga memerlukan perhatian untuk memelihara mereka secara terpisah. Perkelahian antar kerbau jantan sangat berbahaya dan sering berakhir dengan kematian (BANERJEE, 1982). Kerbau liar hidup dalam kelompokkelompok kecil dengan betina dan anak kerbau beranggota 10 - 20 individu meskipun teramati bisa sampai 100 individu, yang menempati area untuk mencari pakan, minum, berkubang dan istirahat. Ada hirarki yang terbentuk di dalam kelompok dimana pemimpin kelompok adalah kerbau betina paling tua dan sering dikawal oleh satu kerbau jantan dewasa. Kerbau jantan lain hidup menyendiri atau membentuk kelompok kerbau jantan muda berjumlah sekitar 10 ekor. Kerbau jantan muda berlatih bertarung dengan kerbau jantan muda yang lain untuk menegaskan dominansi tetapi menghindari perkelahian yang serius. Kerbau jantan akan bergabung dengan kelompok betina pada musim kawin. Pada musim kawin kerbau jantan menghimpun harem-harem kerbau betina (MASSICOT, 2004; ANONIMOUS, 2008b; ANONIMOUS, 2008c). Rasio pejantan dan betina yang tepat perlu diperhatikan sehingga betina yang ada dapat terlayani oleh pejantan. Jumlah betina yang terlalu banyak akan memperpanjang selang beranak sehingga pemanenan pedet menjadi lebih rendah. Rasio yang tepat sesuai dengan kemampuan dalam penguasaan betina sehingga dapat menghindari perkelahian antar pejantan yang dapat bersifat fatal baik bagi pejantan, betina bunting maupun pedet. Tingkah Laku Reproduksi Kerbau Betina Kerbau mencapai pubertas pada umur yang lebih lambat dibandingkan sapi (Tabel 1). Kerbau sungai menunjukkan estrus pertama lebih awal (15–18 bulan) daripada Tabel 1. Karakteristik reproduksi kerbau betina Parameter Umur pubertas (bulan) Lama 21 (15-36) Siklus estrus Panjang (hari) 21 (18-22) Estrus (jam) 21 (17-24) Ovulasi Tipe Waktu dari onset (jam) Jumlah sel telur yang diovulasikan Spontan 32 (18-45) 1 Usia corpus luteum (hari) 16 Lama kebuntingan (hari) 315 (305 - 330) Umur beranak pertama (bulan) 42 (36 - 56) Interval postpartum (hari) Involusi uterus 35 (16 - 60) Ovulasi pertama 75 (35 - 180) Calving interval (bulan) 18 (15 - 21) Sumber : JAINUDEEN dan HAFEZ (1980) 100
  5. 5. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 kerbau lumpur (21–24 bulan) (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Panjang siklus estrus kira-kira 21 hari dan lama estrus berkisar antara 12–30 jam. Tanda estrus pada kerbau kurang intense dibandingkan sapi (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980), menjadi lebih lemah selama bulan-bulan musim panas (silent heat) (BANERJEE, 1982) sehingga lebih sukar dideteksi dibandingkan sapi apalagi dengan ketiadaan kerbau jantan. Lebih dari dua pertiga kerbau betina mengalami silent heat dan semua menampilkan perubahan endokrin yang sama dengan sapi yang memperlihatkan tanda-tanda estrus dengan jelas (TERZANO et al., 2005). Dengan karakteristik khas estrus pada kerbau tersebut maka praktek inseminasi buatan pada kerbau tidak umum dilakukan dan angka konsepsi akan rendah karena sukar mendeteksi estrus (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1987; JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980), terkecuali dengan pemanfaatan pejantan pemancing (teaser) untuk mendeteksi estrus pada kelompok kerbau betina. Kesediaan menerima pejantan adalah tanda estrus yang paling dapat dipercaya pada kerbau. Pengeluaran mucus bening dari vulva, gelisah, peningkatan frekuensi urinasi, bersuara dan menurunnya produksi susu adalah bukan tanda-tanda estrus yang dapat dipercaya (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Jika ingin mengawinkan, kerbau betina seharusnya dikumpulkan dalam satu kandang bersama kerbau jantan sepanjang malam. Secara alami banyak perkawinan kerbau terjadi pada malam hari (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1987). Estrus dimulai menjelang petang, dengan puncak aktivitas seksual antara jam 18.00 dan 06.00, serta teramati maksimal pada tengah malam. Perkawinan berlanjut sampai pagi pada kerbau sungai tetapi biasanya berhenti saat siang pada kerbau lumpur (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980; BANERJEE, 1982). Ovulasi, sebagaimana pada sapi, terjadi 15 – 18 jam setelah akhir estrus atau kira-kira 35– 45 jam setelah onset estrus (Tabel 1). Ovulasi didahului sekresi LH (Luteinizing Hormon) pada onset estrus dan sebuah sel telur dilepaskan selama satu siklus estrus (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Kadar progesteron dalam plasma dan susu, seperti pada sapi, merefleksikan aktivitas endokrin dari korpus luteum tetapi dengan kadar yang lebih rendah (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Konsepsi pertama terjadi pada rataan bobot badan 250–275 kg yang biasanya dicapai pada umur 24–36 bulan (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Pola beranak musiman telah dilaporkan pada beberapa negara dihubungkan dengan temperatur udara, fotoperiod, dan penyediaan pakan. Kerbau beranak pada musim panas atau musim gugur dengan siklus ovarium lebih awal daripada pada musim dingin atau musim semi. Kemungkinan menurunnya panjang hari dan temperatur udara yang lebih dingin membantu siklus. Selama musim panas, ketika temperatur udara dan fotoperiod pada kondisi maksimum, kadar prolaktin dalam darah mencapai paling tinggi (KAKER et al., 1982) dan kadar progesteron darah adalah paling rendah (RAO dan PANDEY, 1982). Kerbau mempunyai periode kebuntingan lebih lama dibandingkan sapi (Tabel 1). Lama kebuntingan berkisar antara 305–320 hari untuk kerbau sungai dan 320–340 hari untuk kerbau lumpur. Mekanisme endokrin yang mengawali kelahiran kerbau tidak sepenuhnya dipahami, tetapi kira-kira 15 hari sebelum kelahiran, plasma dan kadar estrogen dan PGF2α meningkat dan mencapai puncak pada 3 – 5 hari sebelum kelahiran. Kadar yang meningkat dari progesterone selama kebuntingan menurun secara tajam sampai ke level basal pada 7 – 14 hari setelah kelahiran. Meningkatnya kortisol plasma terjadi pada hari kelahiran tetapi sumbernya, apakah dari fetal atau maternal dan perannya dalam inisiasi kelahiran pada kerbau belum dipahami. Tanda-tanda mendekati kelahiran, proses melahirkan dan lama berbagai tahapan proses kelahiran sama dengan sapi (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Perubahan konsentrasi hormon gonadotropin dan steroid di dalam darah selama siklus aktivitas ovarium pada kerbau betina serupa dengan sapi (JAINUDEEN DAN HAFEZ, 2000 disitasi TERZANO et al., 2005). Involusi uteri selesai dalam 28 hari untuk kerbau lumpur yang menyusui sedangkan kerbau sungai yang diperah dengan tangan selama 45 hari. Beberapa faktor mempengaruhi kecepatan involusi uteri post partus pada kerbau. Involusi uteri selesai lebih awal pada kelahiran normal dibandingkan pada kelahiran abnormal, lebih cepat pada kerbau menyusui dibandingkan yang tidak menyusui atau 101
  6. 6. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 diperah dan kerbau yang menghasilkan produksi lebih rendah dibandingkan yang lebih tinggi. Involusi uteri jga lebih cepat dengan meningkatnya paritas selama musim dingin dan musim semi (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Berbeda dengan sapi, peluang mengawinkan atau melakukan inseminasi buatan pada kerbau baru dapat dilakukan setelah involusi uteri selesai karena ovulasi setelah kelahiran baru terjadi setelah involusi uteri selesai (Tabel 1). Interval ovulasi pertama setelah melahirkan lebih panjang dibandingkan pada sapi. Interval ini lebih lama pada kerbau lumpur yang menyusui dibandingkan pada kerbau sungai yang diperah. Banyak ovulasi pertama setelah melahirkan tidak didahului dengan gejala-gejala estrus. Estrus pertama terobservasi pada 2–3 bulan setelah melahirkan (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Fungsi ovarium dipengaruhi oleh faktor fisiologi, kondisi tubuh, laktasi, menyusui dan umur. Kerbau betina dan kerbau muda yang mempunyai kondisi tubuh yang kurus pada laktasi pertama mempunyai ovarium yang tidak aktif dan mempunyai perpanjangan periode anestrus setelah melahirkan. Menyusui secara nyata meningkatkan interval dari melahirkan sampai estrus pertama dan ovulasi pada kerbau. Siklus ovarium pulih kembali lebih awal pada kerbau lumpur dan sungai yang tidak diperah daripada yang diperah (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Tingkah Laku Reproduksi Kerbau Jantan Meskipun spermatogenesis pada kerbau jantan dimulai pada umur 1 tahun tetapi masih ada kepercayaan bahwa pertumbuhan kerbau jantan lebih lambat daripada sapi bahkan dengan pemberian pakan dan manajemen yang baik, sehingga kerbau mencapai dewasa kelamin lebih lambat (BANERJEE, 1982). Ejakulat yang mengandung spermatozoa hidup baru ada pada umur 24 bulan (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Tingkah laku seksual kerbau jantan sama dengan sapi tetapi kurang intense dibandingkan sapi. Libido tertahan selama siang hari yang panas, terutama pada kerbau lumpur (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Kemampuan seksual kerbau jantan menurun selama musim 102 panas dan membaik dengan musim yang lebih dingin (BANERJEE, 1982). Berkaitan dengan hal tersebut maka penampungan semen bagi pejantan untuk inseminasi buatan perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut. Mencium vulva atau urine betina dan reaksi flehmen adalah tingkah laku awal sebelum menunggangi kerbau betina yang sedang estrus. Perkawinan cepat dan berlangsung hanya beberapa detik dan dorongan intromisi ejaculatory kurang terlihat dibandingkan sapi. Setelah ejakulasi, kerbau turun perlahan dan penis masuk secara perlahan ke dalam sheath (JAINUDEEN dan HAFEZ, 1980). Sebagai pejantan untuk inseminasi buatan, kerbau jantan sebenarnya lebih mudah ditangani. BANERJEE (1982) mengemukakan bahwa kerbau jantan dapat lebih mudah dilatih untuk diambil semennya dibandingkan sapi. Kerbau jantan juga kurang rewel dalam urusan teaser dan dengan cepat akan menunggangi betina anestrus atau bahkan kerbau jantan. Sementara itu, teknik pengurutan (massage) untuk koleksi semen kurang responsif pada kerbau dibandingkan pada sapi dan juga memerlukan waktu yang lebih lama. KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat diambil beberapa hal penting sebagai berikut: 1. Kerbau tidak mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap panas sehingga akan menderita bila terkena sinar matahari langsung dalam waktu lama. Apalagi bila dikerjakan secara berlebihan selama hari yang panas di siang hari. Stres panas yang terus menerus dan berlangsung lama membuat laju pertumbuhan kerbau dan daya reproduksi menurun. Oleh karena itu perlu diterapkan manajemen yang memberikan kondisi lingkungan yang nyaman bagi kerbau agar kerbau dapat berproduksi dengan baik. 2. Kerbau suka merumput tetapi kurang pemilih sehingga beberapa tanaman yang tidak disentuh sapi akan dikonsumsi kerbau. Dengan sifat yang kurang pemilih tersebut maka kerbau dapat diberikan pakan yang mempunyai palatabilitas rendah bagi ternak ruminansia lain tetapi memiliki kualitas yang baik.
  7. 7. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 3. Dalam kondisi kualitas pakan yang buruk, kerbau lebih efisien dalam memanfaatkan pakan dibandingkan sapi. Kemampuan kerbau dalam memanfaatkan pakan lebih tinggi yang disebabkan beberapa faktor, di antaranya adalah proporsi dan jumlah mikroba di dalam rumen lebih banyak serta lama pakan bertahan di dalam saluran pencernaan yang lebih lama. 4. Kerbau mempunyai kekuatan dan daya tahan yang baik dalam bekerja karena memiliki kaki yang kokoh disertai teracak yang lebar. Sebagai hewan pekerja, kerbau lebih baik dibandingkan dengan sapi dalam kondisi tanah basah atau terendam air. Namun, dalam kondisi panas di siang hari dimana sinar matahari langsung menerpa tubuh, daya tahan kerbau rendah dalam bekerja. 5. Kerbau jantan lebih cenderung untuk menyerang kerbau jantan lain dalam kelompoknya, sehingga memerlukan perhatian tambahan untuk memelihara mereka secara terpisah. Rasio jantan dan betina yang tepat akan menjaga selang beranak yang optimal pada kerbau betina serta menghindari perkelahian antar pejantan yang dapat berakibat fatal. 6. Tanda-tanda estrus pada kerbau kurang intense dibandingkan sapi dan menjadi lebih lemah (silent heat) selama bulanbulan musim panas sehingga lebih sukar dideteksi dibandingkan sapi. 7. Tingkah laku seksual kerbau jantan sama dengan sapi tetapi kurang intense dibandingkan sapi. Libido tertahan selama siang hari yang panas, menurun selama musim panas dan membaik dengan musim yang lebih dingin. Berkaitan dengan hal tersebut maka penampungan semen bagi pejantan untuk inseminasi buatan perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut. DAFTAR PUSTAKA ANONIMOUS. 2008a. Buffaloes. http://www.abc.net.au/creaturefeatures/facts/ buffalo.htm. [19 Juni 2008]. ANONIMOUS. 2008b. Water Buffalo. http://www.americazoo.com/goto/index/ mammals/383.htm. [19 Juni 2008]. ANONIMOUS. 2008c. Water www.aphca.org/publications/files/ w_buffalo.pdf. [19 Juni 2008]. Buffalo. ANONIMOUS. 2008d. Asiatic Water Buffalo, Bubalus bubalis. http://www.scz.org/ animalinfo.asp?aid=65. [19 Juni 2008]. BANERJEE, G. C. 1982. A Textbook of Animal Husbandry. Fifth Edition. Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi. DEVENDRA, C. 1985. Comparative nitrogen utilization in Malaysia Swamp buffaloes and Kedah-Kelantan cattle. Proc. The 3rd AAAP Animal Science Congress. Volume 2. Seoul, Korea. P. 873-875. DEVENDRA, C. 1987. The Nutrition of Herbivore. HACKER, J.B. dan J.H. TERNOUTH. (ed). Academic Press. Sidney. DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. 2008. Statistika Peternakan 2008. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. DJOJOSOEBAGIO, Endokrin. Jakarta. S. 1996. Fisiologi Kelenjar Universitas Indonesia Press. EWING, S.A., D. C. LAY JR. and E.V. BORELL. 1999. Farm Animal Well-Being : Stres Physiology, Animal Behavior, and Environtmental Design. Prentice-Hall, Inc. New Jersey. FAO. 2000. Water Buffalo : An Asset Undervalued. FAO Regional Office for Asia and The Pasific. Bangkok. Thailand. HARDJOSUBROTO, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta. JAINUDEEN, M. R. and E.S.E. HAFEZ. 1980. Cattle and buffalo. In: Reproduction in Farm Animals. E. S. E. HAFEZ (Editor). 6th Edition. Lea and Febiger. Philadelphia. P. 315-329. KAKER, M. L., M. N. RAZDAN and M. M. GALHOTRA. 1982. Serum prolactin levels of non-cycling Murrah buffaloes (Bubalus bubalis). Theriogenology 17: 469. Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4 - 5 Agustus 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerjasama dengan Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. Hlm. 3-12. 103
  8. 8. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008 DIWYANTO, K dan E. HANDIWIRAWAN. 2006. Strategi pengembangan ternak kerbau: Aspek penjaringan dan distribusi. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4 - 5 Agustus 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerjasama dengan Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. Hlm. 3-12. LEMCKE, B. 2008. Water buffalo. In: a Handbook for farmers and investors. Technical Bulletins and Buffalo Newsletters Pp. 76-82. LIGDA, D. J. 1998. Water buffalo. http://ww2.netnitco.net/users/djligda/ wbfacts.htm. [19 Juni 2008]. MARKVICHITR, K. 2006. Role of Reactive Oxygen Species in the Buffalo Sperm Fertility Assessment. Procceding International Seminar The Artificial Reproductive Bioterchnologies for Buffaloes. ICARD and FFTC-ASPAC. Bogor, Indonesia, August 29-31 2006. P. 6878. MASSICOT, P. 2004. Wild Asian (water) buffalo. http://www.animalinfo.org/ species/artiperi/bubaarne.htm. [19 Juni 2008]. RAO, L. V. and R. S. PANDEY. 1982. Seasonal changes in plasma progesterone concentrations in buffalo cows (Bubalus bubalis). J. Reprod. Fertil. 66:57. SCHOENIAN, S. 2005. Ruminant Digestive System. http://www.sheep101.info/ cud.html. [23 Juni 2008]. 104 SHAFIE, M. M. 2008. Environmental effects on water buffalo production http://www.fao.org/DOCREP/V1650T/V1650 T0A.HTM. [16 April 2008]. SMITH, J. B. and S. MANGKOEWIDJOJO. 1987. The Care, Breeding and Management of Experimental Animals for Research in the Tropics. International Development Program of Australian Universities and Colleges Limited (IDP). Canberra. TERZANO, G. M., S. ALLEGRINI and A. BORGHESE. 2005. Metabolic and Hormonal Parameters in Buffaloes. In: Buffalo Production and Research. A. Borghese (Ed.). Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. PP. 219-247. WANAPAT, M. 2001. Swamp buffalo rumen ecology and its manipulation. Proceeding Buffalo Workshop. Desember 2001. http://www.mekarn.org/ procbuf/wanapat.htm. [23 Juni 2008]. WANAPAT, M., K. SOMMART, C. WACHIRAPAKORN, S. URIYAPONGSON and C. WATTANACHANT. 1994. Recent advances in swamp buffalo nutrition and feeding. M. WANAPAT and K. SOMMART (Eds.). Proc. The 1st Asian Buffalo Association Congress. Khon Kaen, January 17-21, 1994. Khon Kaen University. Khon Kaen. Thailand. YURLENI. 2000. Produktivitas dan Peluang Pengembangan Ternak Kerbau di Propinsi Jambi. Thesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

×