Pedoman teknis pembibitan kerbau

173 views
158 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
173
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pedoman teknis pembibitan kerbau

  1. 1. PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PERBIBITAN KERBAU TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kerbau (Bubalus bubalis) yaitu ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam penyediaan daging. Peranan ternak kerbau cukup signifikan dalam menunjang program swasembada daging sapi (termasuk kerbau) tahun 2014, dilihat dari jumlah populasi kerbau sebanyak 2, 2 juta ekor dan dihasilkan produksi daging sebesar 46 ribu ton atau sebesar 2 % dari jumlah produksi daging nasional, sedangkan kontribusi daging kerbau sebesar 19 %. Dengan demikian ternak kerbau juga mendukung penyediaan daging di Indonesia. Secara umum usaha ternak kerbau telah lama dikembangkan oleh masyarakat sebagai salah satu mata pencaharian dalam skala usaha yang masih relatif kecil. Usaha ternak kerbau ini dilakukan untuk tujuan produksi daging, kulit dan tenaga kerja. Meskipun di beberapa wilayah tertentu produk daging kerbau sangat diminati masyarakat, seperti di daerah Sumatera Barat, Banten dan wilayah lain, namun pada segmen pasar tertentu permintaan produk daging kerbau masih relatif terbatas. Seperti diketahui bahwa produktivitas ternak kerbau di Indonesia masih relatif rendah, karena secara teknis masih terdapat beberapa kendala yang memerlukan pemikiran untuk mengatasinya. Masalah peternakan kerbau cukup bervariasi antara lain pola pemeliharaan tradisional, berkurangnya lahan penggembalaan, tingginya pemotongan pejantan yang berdampak pada kekurangan pejantan, pemotongan ternak betina produktif, kekurangan pakan dimusim tertentu, kematian pedet yang cukup tinggi (sekitar 10%), rendahnya produktivitas, pengembangan sistem pemeliharaan semi intensif yang masih terbatas, serta kesan negatif terhadap kerbau. Namun demikian, usaha ternak kerbau memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan terutama di beberapa wilayah yang memiliki sumberdaya pakan melimpah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penyelamatan populasi dan pengembangannya yang dapat dilakukan melalui berbagai macam usaha dari berbagai pihak antara lain pemberdayaan kelompok ternak dan penerapan teknologi tepat guna seperti Inseminasi Buatan (IB), Intesifikasi Kawin Alam (INKA) serta program pembibitan lainnya. 1
  2. 2. Pada tahun 2012 dialokasikan kegiatan pengembangan pembibitan ternak kerbau melalui dana Tugas Pembantuan Provinsi di beberapa Kabupaten/Kota dengan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk (1) meningkatkan populasi dan produktivitas kerbau, (2) menciptakan sentra/kawasan sumber bibit kerbau, (3) membentuk kelompok pembibit kerbau yang berdaya saing, mandiri dan berkelanjutan, (4) pelestarian plasma nutfah kerbau lokal. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka disusunlah Pedoman Teknis Pengembangan Pembibitan Kerbau Tahun 2012 sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. B. Maksud, Tujuan dan Sasaran 1. Maksud ditetapkannya pedoman teknis pengembangan pembibitan kerbau tahun 2012, yaitu sebagai acuan Dinas Peternakan atau dinas yang membidangi fungsi peternakan tingkat provinsi untuk menyusun petunjuk pelaksanaan dan tingkat kabupaten/kota untuk menyusun petunjuk pelaksanaan. 2. Tujuan yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatkan populasi dan produktivitas kerbau. b. Menciptakan sentra/kawasan sumber bibit kerbau. c. Membentuk kelompok pembibit kerbau berdaya saing, mandiri dan berkelanjutan. d. Pelestarian plasma nutfah kerbau lokal. 3. Sasaran a. Meningkatnya populasi dan produktivitas kerbau. b. Terciptanya sentra/kawasan sumber bibit kerbau. c. Terbentuknya kelompok pembibit kerbau berdaya saing, mandiri dan berkelanjutan. d. Terlestarikannya plasma nuftah kerbau lokal. C. Ruang Lingkup 1. 2. 3. 4. Penentuan Lokasi dan Kelompok Peternak. Pelaksanaan Kegiatan. Pembinaan dan Pengembangan. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan. 2
  3. 3. BAB II LOKASI DAN KELOMPOK PETERNAK Ketepatan lokasi dan kelompok peternak sangat menentukan keberhasilan kegiatan pengembangan pembibitan ternak kerbau, maka lokasi dan kelompok peternak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : A. Lokasi 1. Kondisi agroekosistem sesuai untuk pengembangan usaha pembibitan kerbau, antara lain didukung oleh ketersediaan sumber pakan lokal dan air. 2. Lokasi bukan merupakan daerah endemis penyakit hewan menular yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah, tidak terdapat gejala klinis dan dilaporkan bebas dari penyakit seperti radang limpa (Anthrax), kluron menular (Brucellosis), TBC (Tuberculosis), Anaplasmosis, Leptospirosis, Salmonellosis, Piroplasmosis, IBR (infectious Bovine Rhinotracheitis), BVD (Bovine Viral Diarrhea), SE (Septicaemia Epizootica/Ngorok). 3. Perlu disediakan sarana dan prasarana serta kelembagaan pelayanan petugas teknis peternakan dan kesehatan hewan. 4. Kemudahan akses transportasi dan keamanan. B. Kelompok Peternak Syarat Kelompok Peternak Kelompok peternak peserta pengembangan pembibitan kerbau, memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Sudah ada dan aktif minimum 2 tahun terakhir. b. Memiliki jumlah anggota minimum 20 orang. c. Belum pernah mendapatkan penguatan modal, bantuan langsung masyarakat (BLM), bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) atau tidak mendapatkan fasilitas dari kegiatan lain pada saat yang bersamaan. d. Terkendala dalam mengakses sumber permodalan. e. Mengajukan proposal kepada kepala dinas kabupaten/kota. f. Berpotensi dan berminat menjadi penggerak dalam mendorong pengembangan pembibitan ternak. 3
  4. 4. g. Kelompok mengarah pada usaha pembibitan kerbau yang akan dikembangkan untuk terbentuknya village breeding center (VBC) atau memperkuat VBC yang sudah ada. h. Bersedia dibina serta diarahkan oleh tim teknis untuk pengembangan pembibitan kerbau. 4
  5. 5. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN A. Lokasi Kegiatan dan Pemanfaatan Dana 1. Lokasi Kegiatan a. Dana pengembangan pembibitan ternak kerbau di daerah pada tahun 2012 ini dalam bentuk dana Bantuan Sosial, terdapat pada Satker Dinas Peternakan Provinsi .(Lampiran-1). b. Tata cara pengajuan, penyaluran, penggunaan dan pertanggungjawaban dana dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku. 2. Pemanfaatan Dana Dana yang telah disalurkan melalui pola Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) kepada kelompok peternak digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Pembelian ternak kerbau (minimal 80% dari total dana) baik betina maupun jantan termasuk biaya transport dan pengujian kesehatan hewan/karantina. Dalam rangka penambahan populasi kerbau, kelompok agar mengadakan ternak yang berasal dari luar provinsi. b. Sarana produksi lainnya, seperti : pakan, obat-obatan (antibiotik, vaksin, dll), perbaikan kandang, peralatan kandang, jasa pelayanan perkawinan dan operasional pemeriksaan kesehatan ternak serta biaya konsultasi ke Dinas (maksimal 15% dari total dana). c. Sarana dan prasarana rekording (insentif rekorder, alat dan kartu rekording) maksimal 5% dari total dana. Dana yang diberikan merupakan stimulan bagi kelompok yang jelas penggunaannya sesuai dengan RUK dalam mengembangkan usaha pembibitan kerbau. Kelompok penerima harus segera menyelesaikan realisasi pembelian ternak kerbau setelah pencairan dana. Oleh karena itu semua anggota kelompok harus memberikan kontribusi dalam penyediaan modal usaha kelompok yang besarnya ditetapkan atas kesepakatan anggota kelompok. Selain itu anggota kelompok harus menyediakan sarana produksi seperti lahan, kandang, pakan hijauan dan pendukung lainnya. B. Teknis Perbibitan Teknis perbibitan yang harus pembibitan kerbau antara lain : diperhatikan dalam pengembangan 5
  6. 6. 1. Pemilihan Bibit Bibit kerbau yang digunakan harus memenuhi persyaratan teknis minimal sebagai berikut : a. Sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti : mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya. b. Bibit kerbau betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan. c. Bibit kerbau jantan harus memenuhi persyaratan sebagai pejantan. d. Pemilihan bibit kerbau dilakukan oleh kelompok didampingi oleh tim teknis kabupaten. e. Khusus pemilihan bibit pejantan diharuskan berasal dari daerah lain. f. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi untuk masing-masing rumpun kerbau yaitu sebagai berikut : Kerbau Sungai Kualitatif - Kulit umumnya berwarna hitam, dengan bulu hitam panjang pada telinga. - Tanduk melingkar pendek menuju kebelakang dan keatas, kemudian berputar kedalam membentuk spiral. - Badan berbentuk siku, langsing menuju tipe perah, ambing berkembang baik dan simetris. Kuantitatif Betina : - Umur 24 – 36 bulan. - Tinggi pundak 120125 cm Jantan : - Umur 30 - 40 bulan. - Tinggi pundak 125– 130 cm 6
  7. 7. Kerbau Lumpur Kualitatif Betina : - Warna kulit belang, hitam, hitam keabu-abuan, dan putih kemerahan, serta bulu berwarna abu-abu sampai hitam dan putih, ada dua garis putih terdapat dileher bawah dan dari tarsus ke bawah berwarna abu-abu. - Tanduk mengarah ke belakang horizontal, bentuk pipih dengan bagian ujung yang meruncing dan atau membentuk setengah lingkaran. - Kondisi badan baik konformasi tubuh yang seimbang. - Ambing normal dan berputing simetris Kuantitatif Betina : Umur 24 – ≤ 36 bulan. - Tinggi pundak 105 cm. - Lingkar dada 160 cm. Umur ≥ 36 bulan. - Tinggi pundak 115 cm. - Lingkar dada 170 cm. Jantan : Umur 30 - ≤ 36 bulan. - Tinggi pundak Jantan : 110 cm. - Warna kulit belang, hitam, dada hitam keabu-abuan, dan - Lingkar 180 cm. putih kemerahan, serta bulu berwarna abu-abu sampai hitam dan putih, Umur ≥ 36 bulan. pundak ada dua garis putih - Tinggi 120 cm. terdapat di leher bawah dada dan dari tarsus ke bawah - Lingkar 190 cm berwarna abu-abu. - Tanduk mengarah ke belakang horizontal, bentuk pipih dengan bagian ujung yang meruncing serta membentuk setengah lingkaran. - Kondisi badan baik konformasi seimbang. - Testes menggantung dan simetris 2. Perkawinan a. Perkawinan diutamakan dengan menggunakan kawin alam dan atau pada kondisi tertentu dapat dilakukan teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku/semen cair yang sudah teruji dan memenuhi standar mutu. 7
  8. 8. b. Pejantan yang digunakan adalah pejantan terpilih yang memenuhi persyaratan sebagai pejantan unggul dan harus dihindari perkawinan kerabat dekat (inbreeding). c. Rasio pejantan dan betina 1 : 10. 3. Pencatatan (Rekording) a. Materi pencatatan meliputi : 1) Silsilah. 2) Perkawinan (tanggal kawin/tanggal IB, kode straw/identitas pejantan). 3) Beranak (beranak ke, tanggal beranak). 4) Kelahiran anak (tanggal lahir, bobot lahir/lingkar dada). 5) Penyapihan pada umur 7 bulan (tanggal disapih, bobot sapih/lingkar dada). 6) Pengukuran performa (lingkar dada dan tinggi pundak umur 2 tahun). 7) Penyakit (vaksinasi, pengobatan). 8) Mutasi. b. Pencatatan dilakukan pada kartu rekording dan buku registrasi dengan model rekording yang sederhana dan mudah diterapkan di lapangan. Data tersebut digunakan untuk bahan seleksi calon bibit. Format rekording sebagaimana terlampir. 4. Seleksi a. Seleksi dilakukan oleh petugas teknis pendamping Kabupaten terhadap ternak yang akan dikembangkan untuk keperluan peremajaan atau dijual sebagai bibit. b. Seleksi calon bibit betina dipilih 50% dan calon bibit jantan 20% terbaik dari hasil keturunan untuk menghasilkan bibit yang memenuhi kriteria mutu. c. Sifat kuantitatif induk kerbau yang perlu diperhatikan dalam seleksi adalah : Umur pubertas (2 tahun), kelahiran yang teratur (calving interval teratur), bobot lahir, bobot sapih, bobot kawin, bobot dewasa, laju pertumbuhan setelah disapih dan produksi susu. d. Sifat kualitatif induk kerbau yang perlu diperhatikan dalam seleksi adalah : bentuk tubuh/eksterior.ada tidaknya cacat, tidak ada kesulitan melahirkan dan tabiat (behavior). 8
  9. 9. 5. Afkir (culling) a. Kerbau induk yang tidak produktif harus segera diafkir. b. Keturunan yang tidak terpilih sebagai calon bibit (tidak lolos seleksi) diafkir dari kategori calon bibit. C. Manajemen Pemeliharaan 1. Perkandangan Perkandangan harus memenuhi persyaratan teknis untuk pembibitan kerbau antara lain: a. Konstruksi kandang harus kuat dan berbentuk koloni. b. Sirkulasi udara dan sinar matahari cukup. c. Drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah dibersihkan. d. Lantai dengan kemiringan 2 – 5 derajat, tidak licin, tidak kasar, mudah dibersihkan dan tahan injakan. e. Luas kandang sesuai peruntukan. f. Kandang dekat sumber air minum atau mudah mendapatkan aliran air. g. Tidak mengganggu fungsi lingkungan hidup dan keamanan. 2. Pakan a. Pakan hijauan berupa rumput, legume dan hasil samping pertanian, perkebunan dan agroindustri serta pakan tambahan berupa mineral dan pakan tambahan lainnya dalam jumlah yang cukup dan mutu yang baik. b. Air minum disediakan tidak terbatas (ad libitum). 3. Obat Hewan a. Obat hewan yang digunakan meliputi sediaan biologik, farmasetik, premiks dan obat alami. b. Obat hewan yang digunakan seperti bahan kimia dan bahan biologik harus memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan obat alami tidak dipersyaratkan memiliki nomor pendaftaran. c. Penggunaan obat keras harus dibawah pengawasan dokter hewan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku dibidang obat hewan. 9
  10. 10. d. Penggunaan disinfektan dalam bentuk pencegahan masuknya penyakit dari luar. foot deeping untuk e. Vaksinasi dan obat cacing diberikan secara berkala sesuai kebutuhan. D. Manajemen Kesehatan Ternak 1. Peternak kerbau harus melakukan vaksinasi dan pengujian laboratorium terhadap penyakit tertentu (seperti Brucellosis) secara terprogram sesuai ketentuan serta mencatat jenis vaksin dan waktu pelaksanaan vaksinasi. 2. Pada kandang dan peralatan harus dilakukan disinfeksi, pembersihan dan penyemprotan pembasmi serangga (insektisida) secara berkala. 3. Setiap terjadi kasus penyakit terutama penyakit menular harus segera dilaporkan kepada yang berwenang. 4. Setiap ternak yang sakit harus segera dikeluarkan dari kandang untuk diobati atau dikeluarkan dari kelompok ternak/peternakan. 10
  11. 11. BAB IV PEMBINAAN, INDIKATOR KEBERHASILAN DAN PENGEMBANGAN KELOMPOK A. Pembinaan Pembinaan, pengawasan dan pengendalian bagi kelompok peternak penerima dana Tugas Pembantuan (TP) dilakukan oleh Dinas Provinsi/Kabupaten baik teknis maupun administrasi. Pembinaan teknis dilakukan dalam bentuk pengawalan pengembangan pembibitan ternak yang meliputi pemantauan, pencatatan oleh tenaga recorder yang ditunjuk oleh Dinas, monitoring dan evaluasi. Selanjutnya untuk memotivasi peternak pembibit dan kelompok peternak untuk mengembangkan usaha pembibitan ternak, salah satu caranya adalah dengan melaksanakan lomba/kontes ternak dan kegiatan promosi lainnya. Sedangkan pembinaan administrasi dapat dilakukan antara lain dengan memantau pemanfaatan dana yang dikelola oleh kelompok. Pembinaan pengembangan pembibitan kerbau tahun 2012 meliputi : 1. Pembinaan Teknis, dilakukan oleh Tim Teknis Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota terhadap kelompok peternak menyangkut : a. Aspek pelaksanaan kegiatan pengembangan pembibitan (pemilihan lokasi/kelompok peternak, pemilihan bibit ternak, pemeliharaan, perkawinan, pencatatan/rekording dan sertifikasi). b. Aspek pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan. c. Aspek pengembangan pembibitan kerbau. 2. Pembinaan kelembagaan, dikembangkan dalam rangka meningkatkan usaha kelompok sehingga berkembang menjadi gabungan kelompok, koperasi atau usaha berbadan hukum lainnya. Penguatan kelembagaan mutlak dilakukan melalui : dinamisasi aktivitas kelompok, kemampuan memupuk modal, kemampuan memilih bentuk dan memanfaatkan peluang usaha yang menguntungkan dan pengembangan jaringan kerjasama dengan pihak lain. 3. Pembinaan Usaha Kelompok, difokuskan kepada usaha pembibitan kerbau, namun dapat dikembangkan jenis-jenis usaha lainnya dalam rangka mendukung usaha pembibitan kerbau. 11
  12. 12. B. Indikator Keberhasilan Keberhasilan pengembangan pembibitan kerbau dapat diukur dari beberapa aspek, antara lain : 1. Aspek teknis a. Meningkatnya populasi dan mutu bibit kerbau. b. Terciptanya sentra/kawasan sumber bibit kerbau. 2. Aspek kelembagaan a. Terbentuknya gapoktan, koperasi maupun usaha berbadan hukum lainnya. b. Menguatnya kelembagaan perbibitan kerbau. 3. Aspek usaha a. Meningkatnya skala usaha kelompok. b. Berkembangnya usaha agribisnis lainnya pada kelompok tersebut. C. Pengembangan Kelompok 1. Usaha pembibitan kerbau dikembangkan seiring dengan semakin meningkatnya skala usaha kelompok. 2. Penguatan kelembagaan pembibitan kerbau dilakukan melalui pengembangan aktivitas organisasi kelompok, pengembangan kemampuan memupuk modal, pengembangan kemampuan kelompok memilih bentuk dan memanfaatkan peluang usaha yang menguntungkan, serta pengembangan jaringan kerja sama dengan pihak lain. Pada dasarnya kelompok usaha adalah organisasi yang berorientasi bisnis, bukan organisasi yang bersifat sosial. 3. Dengan demikian pengembangan organisasi kelompok diarahkan untuk memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Kelompok peternak pembibit mempunyai struktur organisasi yang dilengkapi dengan uraian tugas dan fungsi secara jelas dan disepakati bersama anggota kelompok. b. Mekanisme dan tata hubungan kerja antar berbagai komponen di dalam maupun antar kelompok disusun secara partisipatif. c. Proses pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dan dituangkan dalam berita acara atau risalah rapat yang ditandatangani oleh pengurus dan diketahui oleh unsur pembina atau instansi terkait. d. Pengembangan kelembagaan kelompok diarahkan menuju 12
  13. 13. terbangunnya lembaga ekonomi seperti koperasi atau unit usaha berbadan hukum lainnya dan membangun kerja sama kemitraan dengan pihak terkait. 13
  14. 14. BAB V PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan sedini mungkin untuk mengetahui berbagai masalah yang timbul dan tingkat keberhasilan yang dicapai, serta pemecahan masalahnya. Untuk itu kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala dan berjenjang sesuai dengan tahapan kegiatan pengembangan usaha kelompok. Tim Teknis Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota yang melaksanakan fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi serta membuat laporan tertulis hasil pemantauan dan evaluasi secara berjenjang untuk dilaporkan ke pusat meliputi : 1. Kemajuan pelaksanaan program pengembangan pembibitan kerbau. 2. Penyelesaian masalah lapangan yang dihadapi di tingkat kelompok, kabupaten/kota. 3. Perkembangan populasi ternak, pola pembibitan dan perkembangan modal usaha dari kelompok sasaran. B. Pelaporan Pelaporan dilakukan secara berkala dan berjenjang untuk mengetahui pelaksanaan pengembangan perbibitan kerbau, dengan tahapan sebagai berikut : 1. Kelompok peternak penerima kerbau wajib melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan setiap bulan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota, selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. 2. Dinas Kabupaten/Kota melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Dinas Provinsi dan Dinas Provinsi melaporkan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan cq. Direktur Perbibitan Ternak setiap triwulan, selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. 3. Dinas provinsi melakukan rekapitulasi seluruh laporan perkembangan yang diterima dari kabupaten/kota setiap triwulan disampaikan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, selambatlambatnya tanggal 15 bulan berikutnya. 14
  15. 15. BAB VI PENUTUP Pedoman Teknis Pengembangan Pembibitan Ternak Kerbau ini merupakan acuan bagi Dinas Provinsi, Dinas Kabupaten/Kota untuk kelancaran operasional pengembangan pembibitan ternak kerbau pada tahun 2012. Semua kegiatan yang terkait dengan kegiatan ini harus dilaksanakan dalam rangka terwujudnya kawasan sumber bibit kerbau di perdesaan yang mandiri secara berkelanjutan. Dengan pedoman teknis ini diharapkan semua pelaksana kegiatan baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota dapat melaksanakan seluruh tahapan kegiatan secara baik dan benar. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 15
  16. 16. Lampiran-1. Lokasi Kegiatan Pengembangan Pembibitan Kerbau melalui Dana Tugas Pembantuan Tahun 2012 sebagai berikut : 1. Provinsi Banten 2. Provini Jawa Timur 3. Provinsi Nusa Tenggara Timur 4. Provinsi Kalimantan Selatan 5. Provinsi Sulawesi Selatan 16
  17. 17. Lampiran-2. KARTU PERKAWINAN Nama rekorder Nama pemilik Alamat No.telinga/ear tag Nama Kerbau Perkawinan - Tanggal perkawinan/IB - Nama pejantan/Kode semen - Tanggal lahir - Status kelahiran - No. telinga anak : : : : : : : : : tunggal/kembar : Catatan : Sebutkan status kembar (jantan-jantan/betina-betina/betina-jantan) 17
  18. 18. Lampiran-3. CATATAN KELAHIRAN No No. Eartag Jenis Kelamin Tgl. Lahir ID Induk ID Bapak Berat Lahir Keterangan 18
  19. 19. Lampiran-4. FORM PENGUKURAN ANAK (calon bibit) Lokasi : No No. Telinga Nama Kerbau Tgl. Ukur BB Lahir PB TG LD Umur Sapih BB PB TG LD Materi Pengukuran Umur 12 bulan BB PB TG LD BB Umur 18 bulan Umur 24 bulan Keterangan PB TG LD BB PB TG LD

×