INDUSTRI PERUNGGASAN
PTP3820
(Kuliah: selasa, 08.45-10.25,
di ruang 304)
PENGAMPU MATAKULIAH:
1.Dr. Ismoyowati
2.Ir. Roesd...
DESKRIPSI MATA KULIAH : Mata kuliah ini
mempelajari tentang perkembangan industri
perunggasan di Indonesia, industri pembi...
KOMPETENSI UMUM MATA KULIAH :
Setelah menempuh mata kuliah Industri
Perunggasan, mahasiswa akan dapat menjelaskan
perkemba...
KOMPETENSI KHUSUS MATAKULIAH:
1.Mahasiswa akan mampu menjelaskan perkembangan
industri perunggasan di Indonesia.
2.Mahasis...
OUTCOME :
1.Mahasiswa akan mampu bertanggung jawab,
disiplin, tekun dan memiliki jiwa kewirausahaan
2.Mahasiswa akan mampu...
JADWAL KEGIATAN PEMBELAJARAN
Mingg
u ke
Kompetensi
Khusus
Substansi Metode
Pembelajara
n
Media
Pembelajara
n
Dosen Atribut...
Ming
gu
ke
Kompetensi
Khusus
Substansi Metode
Pembelajar
an
Media
Pembelajar
an
Dosen Atribut
Softskill
5 menjelaskan
indu...
Ming
gu
ke
Kompetensi
Khusus
Substansi Metode
Pembelaja
ran
Media
Pembelajar
an
Dosen Atribut
Softskill
11 menjelaskan
ind...
Ming
gu
ke
Kompetensi
Khusus
Substansi Metode
Pembelajar
an
Media
Pembelajar
an
dosen Atribut
Softskill
15 menjelaskan
ind...
KRITERIA PENILAIAN:
1.Softskill 10%:
berkomunikasi, bekerja sama, berfikir kritis, teliti dan
bertanggung jawab, disiplin ...
Judul makalah untuk tugas terstruktur kelompok:
1.Industri penetasan/hatchery di Indonesia
2.Perkembangan peternakan ayam ...
FORMAT MAKALAH: ditulis dengan huruf TNR font 12, spasi 1,5
1.COVER: JUDUL, LOGO, KELOMPOK, NAMA, NIM ANGGOTA
2.PENDAHULUA...
PERKEMBANGAN INDUSTRI PERUNGGASAN DI iNDONESIA
Industri peternakan unggas:
 Relatif mampu bertahan dibanding dengan indus...
Produksi perunggasan:
1. Daging
Poduk 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Daging ayam
broiler (ton)
779,108 861,263 942,786 1.01...
2. Telur
Poduk 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Ayam
kampung (ton)
175,428 193,953 230,472 166,618 174,331
Ayam petelur
(ton)...
Jumlah perusahaan peternakan unggas (tahun 2006)
Breeding Petelur
1.Pure line : Sumatra utara 4; Jateng 1; Jatim 1 Sulteng...
Tahun 2009
Breeder petelur : PL = 2; GPS = 6 dan PS = 15 perusahaan
Breeder pedaging : PL = 2; GPS = 7 dan PS = 35 perusah...
Perkembangan volume impor dan ekspor ternak dan hasil ternak
unggas
Jenis komoditi 2006 2007 2008
Impor (000 ekor)
DOC bib...
Jenis komoditi 2006 2007 2008
Ekspor
Bahan pangan
Ayam (ton) 25 0 0
Telur konsumsi
(ton)
3.0 0 38.9
Bahan selain
pangan
DO...
Permasalahan industri perunggasan:
1. kelebihan pasokan ayam mencapai 5-27% (2008-2009)
2. harga ayam di pasar lokal menja...
Final Stock yaitu jenis ayam yang tidak untuk dikembang biakkan lagi, hanya
dipelihara dalam satu siklus produksi.
Untuk...
Kapasitas produksi dan produsen
•Peternakan ayam broiler dan petelur penghasil DOC sebagian besar
merupakan perusahaan bes...
Industri peternakan unggas terintegrasi
Industri peternakan di dalam negeri masih didominasi oleh investor asing seperti
C...
Peternakan rakyat yang jumlahnya lebih banyak dari pabrikan besar tersebut kini
mulai tersingkir. Padahal sebelumnya peter...
Sistem Kemitraan
1.Penetapan harga kontrak
2.Skala usaha
3.Agunan
4.Adanya insentis bila feed convertion ratio (FCR) memen...
Kemitraan banyak diterapkan pada perusahaan ayam broiler.
Setelah ayam yang dipelihara siap panen (hari dan laku dijual), ...
Perusahaan unggas besar di Indonesia
1. Charoen Popkhand Indonesia Tbk
Charoen Popkhand Indonesia Tbk (CPI) didirikan pad...
Sementara itu, pengolahan daging ayam dilakukan oleh anak perusahaan
Charoen Popkhnad Group yaitu PT. Primafood Internati...
2. Japfa Comfeed
 Japfa Comfeed (JC) berdiri pada 1971 dan bergerak dalam bidang industri
pakan ternak. Pemegang saham JC...
3. Cheil Jedang Feed Indonesia
CJ Feed Indonesia merupakan anak perusahaan Cheil Jedang dari Korea
Selatan yang mulai ber...
4. Malindo Feedmill
5. Sierad Produce Tbk (salah satu produsen pakan ternak terbesar di Asia
Tenggara
6. PT. Super Unggas ...
INDUSTRI PENETASAN
PETERNAKAN UNGGAS LOKAL
ITIK, AYAM LOKAL, PUYUH
Tabel 3 Potensi kontribusi oleh unggas lokal di pedesaan untuk Goals Pembangunan Millenium
Development Millenium Goal Kont...
Ternak Itik
Potensi Itik:
1. Produksi telur 15,43%
2. Produksi daging 2,297%
3. Hasil ikutan: bulu, pupuk
4. Pendapatan
5....
Kendala utama dalam pengembangan dan produksi itik:
Faktor internal: Mutu genetik
☺pertumbuhan lambat
☺produksi telur rend...
Upaya peningkatan produktivitas itik dapat dilakukan:
1. Secara genetik: seleksi dan persilangan beberapa jenis itik
2. Pe...
Bangsa Itik lokal
Variabel yang diamati Itik Tegal Itik Magelang Itik Mojosari
Bobot badan (g) 1482±124 1734±136 1476±120 ...
Itik Tegal
Itik Magelang gambiran dan wiroko
Itik Magelang kalung dan
putih
Itik Magelang jarakan kalung
Tabel 2. Data Bobot badan, warna bulu, shank, paruh dan bentuk badan itik Bali
dan Alabio
Variabel yang diamati Itik Bali ...
Itik Bali putih Itik Bali coklat, hitam dan kombinasi coklat-hitam-putih
Itik Alabio
Daerah sentra peternakan itik di Indonesia
No Propinsi 2005 2006 2007 2008 2009
1 Jabar 5305485 5296757 6534753 7962095 82...
Macam usaha peternakan itik:
1.Budidaya itik petelur
2.Pembibitan itik
3.Budidaya itik pedaging
4.Usaha peternakan itik te...
Skala usaha:
1.< 100
2.100-500
3.500-1000
4.1000-3000
5.3000-5000
6.5000-10000
Permasalahan yang ada pada budidaya itik ad...
1. Teknologi pakan, dengan tujuan untuk menurunkan harga
pakan tanpa mempengaruhi produksinya, pemanfaatan pakan
lokal yan...
KETERSEDIAAN BIBIT ITIK
Tabel. Analisis pemenuhan kebutuhan bibit itik 2008-2010
No. Uraian Pemenuhan daging, telur itik d...
Strategi dan langkah operasional penyediaan bibit itik
Populasi Itik lokal
49 juta ekor
(2008), 53 juta
ekor (2009)
dan 65...
Analisis Usaha Ternak Itik
Analisis kelayakan usaha: R/C (revenue cost ratio)
Merupakan perbandingan antara total penerima...
1. Biaya operasional
a. Bibit itik 1000 ekor x Rp 28.000 Rp 28.000.000
b. Sewa lahan Rp 500.000
c. Upah tenaga kerja 365 h...
3. Pendapatan = total penerimaan – total biaya
130.350.000 - 111.390.000
= Rp 18.960.000
4. R/C = penerimaan/ biaya
= 130....
AYAM LOKAL
Indonesia memiliki banyak jenis ayam lokal yang berpotensi untuk
dikembangkan, dimana sebagian besar populasiny...
Restrukturisasi sistem budidaya unggas lokal di pedesaan dilakukan terutama di
sektor 4 melalui pendekatan kelompok dengan...
Tujuan pengembangan pembibitan ayam lokal adalah :
1. Menstimulasi peningkatan populasi dan mutu bibit ayam lokal;
2. Mena...
Persyaratan Teknis Minimal Bibit Ayam Kampung
a. Ayam bibit harus sehat, tidak cacat, ukuran tubuh seragam, bulu
boleh ber...
pembiakan ayam lokal hasil seleksi melalui perkawinan yang seleksinya
didasarkan pada sifat produksi dan/atau reproduksi. ...
BUDIDAYA AYAM KAMPUNG
•Bibit :
• Ayam lokal Indonesia, tidak mempunyai ciri spesifik yang khas
(keragaman fenotipe dan gen...
Breeder ayam kampung:
PT. unggul
PT. AKI
Citra Lestari Farm
Jimmy’s Farm
Kuda Hitam
PUYUH
Mulai masuk di Indonesia sekitar tahun 1979
Tujuan pemeliharaan:
Daging dan telur
Peningkatan pendapatan
Pemanfaatan...
PT. Peksi, perusahaan burung puyuh terbesar di Indonesia
Populasi : 30-40% populasi nasional (2,2 juta ekor)
Harga telur r...
PR
1.Mengapa industri perunggasan lebih mampu bertahan dibandingkan
dengan industri yang lain?
2.Berapakan kontribusi dagi...
12. Sebutkan permasalahan yang ada pada peternakan budidaya
itik dan bagaimana solusinya?
13. Sebutkan strategi untuk peny...
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Industri perunggasan
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Industri perunggasan

199 views
138 views

Published on

industri perunggasan

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
199
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
11
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Industri perunggasan

  1. 1. INDUSTRI PERUNGGASAN PTP3820 (Kuliah: selasa, 08.45-10.25, di ruang 304) PENGAMPU MATAKULIAH: 1.Dr. Ismoyowati 2.Ir. Roesdiyanto, MP. 3.Ir. Rosidi, MP.
  2. 2. DESKRIPSI MATA KULIAH : Mata kuliah ini mempelajari tentang perkembangan industri perunggasan di Indonesia, industri pembibitan dan hatchery, industri ayam komersial, industri unggas lokal, dan industri pendukung peternakan unggas (pakan, obat dan peralatan) serta industri RPA (rumah potong ayam) dan pengolahan produk unggas.
  3. 3. KOMPETENSI UMUM MATA KULIAH : Setelah menempuh mata kuliah Industri Perunggasan, mahasiswa akan dapat menjelaskan perkembangan industri perunggasan di Indonesia, industri pembibitan dan hatchery, industri ayam komersial, industri unggas lokal, dan industri pendukung peternakan unggas (pakan, obat- obatan dan peralatan) serta industri RPA (rumah potong ayam) pengolahan produk unggas.
  4. 4. KOMPETENSI KHUSUS MATAKULIAH: 1.Mahasiswa akan mampu menjelaskan perkembangan industri perunggasan di Indonesia. 2.Mahasiswa akan mampu menjelaskan industri pembibitan dan hatchery. 3.Mahasiswa akan mampu menjelaskan industri peternakan unggas lokal. 4.Mahasiswa akan mampu menjelaskan industri ayam komersial. 5.Mahasiswa akan mampu menjelaskan industri pendukung peternakan unggas (pakan, obata-obatan dan peralatan). 6.Mahasiswa akan mampu menjelaskan Mahasiswa akan mampu menjelaskan industri RPA (rumah potong ayam) dan pengolahan produk perunggasan.
  5. 5. OUTCOME : 1.Mahasiswa akan mampu bertanggung jawab, disiplin, tekun dan memiliki jiwa kewirausahaan 2.Mahasiswa akan mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim 3.Mahasiswa akan mampu berfikir kritis
  6. 6. JADWAL KEGIATAN PEMBELAJARAN Mingg u ke Kompetensi Khusus Substansi Metode Pembelajara n Media Pembelajara n Dosen Atribut Softskill 1 Menjelaskan kontrak pembelajaran Tujuan, manfaat, ruang lingkup dan rambu-rambu dalam proses pembelajaran Paparan dosen & diskusi, mhs menyusun makalah LCD dan White Board Ismoyowati berkomunikasi, bekerja sama, berfikir kritis, teliti dan bertanggung jawab, disiplin. 2 menjelaskan perkembangan industri perunggasan di Indonesia perkembangan industri perunggasan di Indonesia Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ismoyowati 3 menjelaskan industri hatchery Industri hachery Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ismoyowati 4 menjelaskan industri peternakan unggas lokal Industri itik Paparan dosen , diskusi LCD, OHP dan White Board Ismoyowati
  7. 7. Ming gu ke Kompetensi Khusus Substansi Metode Pembelajar an Media Pembelajar an Dosen Atribut Softskill 5 menjelaskan industri peternakan unggas lokal Industri ayam kampung Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ismoyowati 6 menjelaskan industri peternakan unggas lokal Industri puyuh Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ismoyowati 7 menjelaskan industri pembibitan Industri breeder Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Roesdiyanto , MP 8 UTS 2-6 Soal ujian Ismoyowati Jujur, disiplin, Tanggungja wab 9 menjelaskan industri pembibitan Industri breeder Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Roesdiyanto , MP 10 menjelaskan industri ayam komersial Industri ayam petelur Paparan dosen, diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Roesdiyanto , MP
  8. 8. Ming gu ke Kompetensi Khusus Substansi Metode Pembelaja ran Media Pembelajar an Dosen Atribut Softskill 11 menjelaskan industri ayam komersial Industri ayam broiler Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Roesdiyanto , MP berkomunikasi, bekerja sama, berfikir kritis, teliti dan bertanggung jawab, disiplin.12 menjelaskan industri pendukung peternakan unggas Industri pakan unggas Paparan dosen , mhs menyusun makalah, presentasi , diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Rosidi, MP. 13 menjelaskan industri pendukung peternakan unggas menjelaskan industri pendukung peternakan unggas Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Rosidi, MP. 14 menjelaskan industri pendukung peternakan unggas Industri obat- obatan dan peralatan unggas Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Rosidi, MP.
  9. 9. Ming gu ke Kompetensi Khusus Substansi Metode Pembelajar an Media Pembelajar an dosen Atribut Softskill 15 menjelaskan industri RPA dan pengolahan produk unggas Industri RPA dan pengolahan produk unggas Paparan dosen & diskusi LCD, OHP dan White Board Ir. Rosidi, MP 16 UAS 7, 9-15 Soal ujian Ir. Roesdiyanto , MP & Ir. Rosidi, MP. Jujur, disiplin, Tanggungja wab
  10. 10. KRITERIA PENILAIAN: 1.Softskill 10%: berkomunikasi, bekerja sama, berfikir kritis, teliti dan bertanggung jawab, disiplin dan jujur. 2. Hardskill 90%: a. TT 20% b. UTS 30% c. UAS 30% d. Praktikum 20 % : kunjungan ke perusahaan peternakan yang terjangkau ( hactchery, ayam petelur, ayam lokal atau itik)
  11. 11. Judul makalah untuk tugas terstruktur kelompok: 1.Industri penetasan/hatchery di Indonesia 2.Perkembangan peternakan ayam kampung di Indonesia 3.Perkembangan peternakan itik di Indonesia 4.Perkembangan peternakan puyuh di Indonesia 5.Industri pembibitan ayam di Indonesia 6.Industri peternakan ayam broiler (commercial) di Indonesia 7.Industri peternakan ayam niaga petelur di Indonesia 8.Industri pakan unggas di Indonesia 9.Industri obat-obatan unggas di Indonesia 10.Industri Rumah Potong Ayam /unggas di Indonesia
  12. 12. FORMAT MAKALAH: ditulis dengan huruf TNR font 12, spasi 1,5 1.COVER: JUDUL, LOGO, KELOMPOK, NAMA, NIM ANGGOTA 2.PENDAHULUAN 3.PEMBAHASAN: INDUSTRI SESUAI TEMA DALAM KELOMPOK MASING-MASING, PERMASALAHAN/PROBLEMATIKANYA, SOLUSINYA 4.KESIMPULAN 5.DAFTAR PUSTAKA (Minimal 15 sumber pustaka) -INTERNET: WEB: go.id, edu, perusahaan -Texsbook: Daghir (poultry in hot climate) -Statistik peternakan: perkembangan populasi dan produksi -Jurnal/artikel ilmiah: poultry science -www.wpsa-uk. -www.wpsa-asia -Majalah peternakan: poultry indonesia & world poultry, feedtech.
  13. 13. PERKEMBANGAN INDUSTRI PERUNGGASAN DI iNDONESIA Industri peternakan unggas:  Relatif mampu bertahan dibanding dengan industri lainnya  Di Indonesia sepanjang 2008 lalu menunjukkan kinerja yang cukup bagus  Tahun 2009 ketika krisis global: ketika terjadi penurunan daya beli justru mendorong substitusi pangan ke produk unggas,oki industri perunggasan masih mampu bertahan  Produk unggas yang tetap bertahan di tengah krisis adalah ayam dan telur, yang termasuk sebagai protein hewani yang harganya relatif murah dibandingkan dengan harga daging sapi
  14. 14. Produksi perunggasan: 1. Daging Poduk 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Daging ayam broiler (ton) 779,108 861,263 942,786 1.018,734 1,016,876 Daging ayam petelur (ton) 45,193 57,631 58,162 57,274 59,073 Daging ayam kampung (ton) 301,427 341,254 294,889 273,546 282,692 Daging itik (ton) 21,351 24,531 44,105 30,980 31,945 Daging puyuh (ton) 0 0 0 Merpati (ton) 0 619 635
  15. 15. 2. Telur Poduk 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Ayam kampung (ton) 175,428 193,953 230,472 166,618 174,331 Ayam petelur (ton) 681,147 816,834 944,133 955,999 1,013,543 Itik (ton) 194,957 193,629 207,534 200,989 216,701
  16. 16. Jumlah perusahaan peternakan unggas (tahun 2006) Breeding Petelur 1.Pure line : Sumatra utara 4; Jateng 1; Jatim 1 Sulteng 3 (jml 10) 2.GPS : Jabar 4; Jateng 1 (jml 5) 3.PS : Jabar 8; Jateng 3; Jatim 4; Banten 2; Bali 1(jml 18) Breeding Pedaging 1.Pure line : Jabar 1; Jateng 2; Jatim 3; Bali 1; Sulteng 1 (jml 8) 2.GPS : Jabar 1; Jateng 1; Jatim 3; Banten 1 (jml 6) 3.PS : Sumbar 4; Jabar 4; DIY 1; Jatim 4; Banten 2; Kaltim 1 (jml 16) Budidaya 1.Petelur: 2,243 2.Pedaging : 1,944 3.Unggas lain : 53
  17. 17. Tahun 2009 Breeder petelur : PL = 2; GPS = 6 dan PS = 15 perusahaan Breeder pedaging : PL = 2; GPS = 7 dan PS = 35 perusahaan Budidaya petelur : 122 Budidaya pedaging : 94 Status permodalan: PMA : 11 PMDN : 83 Lainnya : 189
  18. 18. Perkembangan volume impor dan ekspor ternak dan hasil ternak unggas Jenis komoditi 2006 2007 2008 Impor (000 ekor) DOC bibit /PS 122.6 233.6 0 DOC FS 0 0 0 Produk pangan unggas(ton) 3,468.4 4,675.2 7,495.1 Bahan selain pangan Telur tetas (ton) 27.0 55.2 131.7 Bulu itik (ton) 1,322.3 1,254.2 188.9
  19. 19. Jenis komoditi 2006 2007 2008 Ekspor Bahan pangan Ayam (ton) 25 0 0 Telur konsumsi (ton) 3.0 0 38.9 Bahan selain pangan DOC FS (000 ekor) 0 0 0.05 Telur tetas (ton) 8.7 0 3.4 Bulu itik (ton) 1,182.2 23 90.2 Unggas (000 ekor) 0 0 0.1
  20. 20. Permasalahan industri perunggasan: 1. kelebihan pasokan ayam mencapai 5-27% (2008-2009) 2. harga ayam di pasar lokal menjadi tertekan 3. kenaikan harga pakan dan biaya produksi 4. kenaikan harga ayam hidup terkait dengan daya beli masyarakat yang sangat tergantung terhadap pendapatan Deskripsi produk peternakan unggas: 1. Unggas lokal: ayam kampung, Itik, puyuh dan unggas lain banyak dipelihara secara tradisional, oleh peternak skala kecil. 2. Ayam ras, yang asal mulanya diimpor dari luar negeri. Ayam jenis ini dikenal dengan istilah ayam broiler (ayam niaga pedaging) dan ayam niaga petelur. Impor anak ayam dalam umur sehari atau disebut Day Old Chick (DOC) dalam bentuk DOC komersial (DOC Final Stock/DOC FS).
  21. 21. Final Stock yaitu jenis ayam yang tidak untuk dikembang biakkan lagi, hanya dipelihara dalam satu siklus produksi. Untuk DOC broiler (ayam pedaging) selama maksimal 8 minggu, sedangkan untuk DOC layer (ayam petelur) selama 73-80 minggu. Ayam ras komersial merupakan hasil kemajuan teknologi pemuliaan ternak (animal breeding), baik melalui persilangan beberapa bangsa ayam atau galur murni (pre bred/line). Ayam jenis ini memiliki karakteristik yaitu produktivitas tingi, tahan penyakit dan memiliki sifat-siaft unggul. Dengan tumbuh pesatnya industri perunggasan, maka tumbuh spesialisasi industri yaitu pembibitan (animal breeder), penetasan (hatchery), pemotongan/pemrosesan ayam pedaging, telur tetas, telur konsumsi, pakan ternak, obat-obatan hewan, sarana produksi dan sebagainya.
  22. 22. Kapasitas produksi dan produsen •Peternakan ayam broiler dan petelur penghasil DOC sebagian besar merupakan perusahaan besar yang sudah menggunakan teknologi modern. •Sebagian besar industri peternakan ayam komersial di Indonesia merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) yang mendominasi pasar, dengan menguasai sekitar 70%-80% pasar. •Sejumlah perusahaan asing tersebut diantaranya Charoen Popkhand yang berpusat di Thailand, Cheil Jedang dari Korea, Sierad berasal dari Malaysia dan lain-lain.
  23. 23. Industri peternakan unggas terintegrasi Industri peternakan di dalam negeri masih didominasi oleh investor asing seperti Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce dan CJ Feed. Produsen besar tersebut umumnya terintegrasi dengan industri pakan ternak dan pengolahan produk ternak. PT. Charoen Pokphand salah satu peternakan ayam terbesar, merupakan industri terpadu yang memiliki industri pakan ayam, industri pakan udang dan peternakan ayam. Disamping itu, Charoen Pokphand juga memiliki industri pengolahan daging ayam berupa sosis yang dipasarkan dengan merk Prima Food. PT. Japfa Comfeed juga memiliki indutri yang terintegrasi mulai dari industri pakan ternak ayam, industri peternakan ayam dan industri pengolahan daging ayam. Produk olahan daging ayam berbentuk sosis dipasarkan dengan merk So Good. Peternakan rakyat sebagai mitra
  24. 24. Peternakan rakyat yang jumlahnya lebih banyak dari pabrikan besar tersebut kini mulai tersingkir. Padahal sebelumnya peternakan rakyat inilah yang sebelumnya menguasai pasar, namun kini menjadi terpinggirkan. Hal ini disebabkan karena peternakan rakyat belum menggunakan teknologi modern yang membutuhkan investasi besar Sejumlah produsen besar seperti Sierad Produce, Charoen Pokphand Indonesia, Japfa Comfeed Indonesia, telah mengembangkan pola kemitraan dengan menjalin kerjasama dengan perternakan rakyat. Perusahaan besar tesebut menyiapkan dana awal untuk membuka usaha peternakan rakyat, produsen memberi fasilitas pemeliharaan dan sapronak (sarana produksi peternakan) seperti bibit DOC, pakan, obatan-obatan, vitamin. Sedangkan. tugas sebagai peternak hanyalah mengusahakan agar anak ayam (DOC) tetap sehat dan panen tepat waktu ( peternak sebagai buruh dikandang sendiri).
  25. 25. Sistem Kemitraan 1.Penetapan harga kontrak 2.Skala usaha 3.Agunan 4.Adanya insentis bila feed convertion ratio (FCR) memenuhi standar perusahaan umumnya sekitar 1% atau akan mendapatkan 30% dari selisih harga kontrak dengan harga pasar. Jenis pola kemitraan: Kemitraan di Indonesia memiliki konsep contract farming antara produsen pakan ternak besar dengan para peternakan rakyat. Konsep kemitraan secara umum yaitu seorang peternak memelihara ayam untuk sebuah perusahaan yang terintegrasi secara vertikal. Ada dua pihak yang terlibat dalam kemitraan, yakni peternak dan perusahaan. Biasanya peternak menyediakan tanah, kandang, peralatan dan tenaga kerja. Sedangkan perusahaan menyediakan bibit berupa DOC (day old chicken), pakan, obat-obatan dan pengarahan manajemen.
  26. 26. Kemitraan banyak diterapkan pada perusahaan ayam broiler. Setelah ayam yang dipelihara siap panen (hari dan laku dijual), peternak baru mendapat hasilnya. Pola kemitraan ternak ayam ini, bagi hasilnya meliputi dua bentuk: 1. Pertama, setelah panen, peternak hanya mendapat upah sekitar Rp500 per ekornya. 2.Kedua, peternak menerima upah dari selisih perhitungan antara jumlah modal yang diberikan dan hasil penjualan ayam. Dalam pola kemitraan ini, perusahaan akan menjamin harga minimum ayam siap jual, artinya bila harga ayam di pasar jatuh, peternak tidak akan dirugikan karena produksi ayam akan dibeli perusahaan inti dengan harga dasar yang telah disepakati.
  27. 27. Perusahaan unggas besar di Indonesia 1. Charoen Popkhand Indonesia Tbk Charoen Popkhand Indonesia Tbk (CPI) didirikan pada tahun 1972 dan bergerak dalam industri pakan ternak, peternakan dan pengolahan daging ayam. Perusahaan merupakan PMA (Penanaman Modal Asing) dengan pemegang saham terdiri dari PT. Central Proteinaprima, Royal Bank of Canada (Asia) Ltd., UBS AG Singapura dan publik. CPI memiliki kapasitas produksi pakan ternak dari unit-unit pabriknya yang tersebar di Mojokerto, Jakarta dan Medan sebesar 2,6 juta ton per tahun. Pada 2006 CPI dan anak perusahaan CP Jaya Farm membeli 100% saham PT. Centralavian Pertiwi senilai Rp 30 miliar. Centralavian Pertiwi bergerak dalam bidang pembibitan DOC parent stock yang berlokasi di Subang, Bogor dan Lampung. Transaksi ini untuk memperkuat posisi CP di bidang agribisnis.
  28. 28. Sementara itu, pengolahan daging ayam dilakukan oleh anak perusahaan Charoen Popkhnad Group yaitu PT. Primafood International. Seluruh produk olahan ayam ini dikemas dan dipasarkan dengan merk Fiesta.  Saat ini CPI memiliki 8 pabrik pakan ternak yang tersebar di Medan, Bandar Lampung, Ancol (Jakarta), Balaraja, Semarang, Krian (Sidoarjo), Sepanjang (Sidoarjo), dan Makassar. CPI juga memiliki empat pabrik pengolahan daging (Rumah Potong Ayam), yakni di Cikande, Salatiga, Medan dan Surabaya. Rencananya akan bangun lagi satu unit di Bandung.  Hingga saat ini total kapasitas produksi pakan ternak CPI sekitar 4 juta ton/tahun, yang diproduksi dari 7 pabrik. Total kapasitas produksi DOC sekitar 607 juta ekor per tahun. Adapun total kapasitas produksi ayam potong 105 ribu ton/tahun. Pangsa pasar CPI di pasar modern diklaim 72% dan di pasar tradisional 91%. PT Charoen Phokphand membangun industri pembibitan Daily Old Chicken (DOC) --bibit ayam umur harian-- dengan investasi senilai Rp 75 miliar lebih.
  29. 29. 2. Japfa Comfeed  Japfa Comfeed (JC) berdiri pada 1971 dan bergerak dalam bidang industri pakan ternak. Pemegang saham JC terdiri dari Pacific Focus Enterprises, Ltd. (28,94%), JP Morgan Chase Bank (9,65%), Coutts Bank Von Ernst, Ltd. (9,15%), Rangi Management Ltd. (8,57%), BNP Paribas Private Bank Singapore (6,63%) dan publik dengan kepemilikan masing- masing kurang dari lima persen sebanyak (37,06%).  JC adalah perusahaan agrobisnis terintegrasi di Indonesia, saat ini industri pakan ternak memiliki total kapasitas produksi 1,73 juta ton per tahun. Pembibit ayam yang dikelola oleh anak perusahaan, PT Multibreeder Adirama Tbk, usaha aquakultur yang dikelola anak perusahaan, PT Suri Tani Pemuka. Lokasi pabrik pakan ternak dan peternakan tersebar di Lampung, Cirebon (Jawa Barat), Sidoarjo (Jawa Timur) dan Tangerang.  pada 2007 total pendapatan Japfa mencapai Rp 7,9 triliun dan laba bersih sebesar Rp 180,9 .miliar. Diantaranya 80% merupakan kontribusi dari
  30. 30. 3. Cheil Jedang Feed Indonesia CJ Feed Indonesia merupakan anak perusahaan Cheil Jedang dari Korea Selatan yang mulai berbisnis di Indonesia pada 1989. CJFI mengoperasikan 2 perusahaan pakan (feedmill) yaitu PT. CJ Superfeed yang berdiri pada 1996 dan PT. CJ Feed Jombang yang berdiri pada 2004. Pabrik pakan ternak ini masing-masing berlokasi di Serang, Banten dan Jombang, Jawa Timur dengan total kapasitas produksi 750.000 ton per tahun. Pakan ternak yang diproduksi CJ Feed terdiri dari pakan broiler, layer, breeder, babi, puyuh, konsentrat dan udang. untuk melayani permintaan pelanggan yang berada di wilayah Jawa Barat, Jabodetabek, Sumatera dan Kalimantan. Produk pakan ternak yang diproduksi CJS menggunakan merk Superfeed.
  31. 31. 4. Malindo Feedmill 5. Sierad Produce Tbk (salah satu produsen pakan ternak terbesar di Asia Tenggara 6. PT. Super Unggas jaya dll
  32. 32. INDUSTRI PENETASAN
  33. 33. PETERNAKAN UNGGAS LOKAL ITIK, AYAM LOKAL, PUYUH
  34. 34. Tabel 3 Potensi kontribusi oleh unggas lokal di pedesaan untuk Goals Pembangunan Millenium Development Millenium Goal Kontribusi unggas di pedesaan 1: Memberantas kemiskinan dan kelaparan Peningkatan unggas di pedesaan dapat menghasilkan pendapatan dan meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga (Alder, 2004), unggas di pedesaan adalah ternak hanya dimiliki oleh banyak bagian termiskin di dunia (Dolberg, 2003) 2:Mencapai pendidikan Universal unggas di pedesaan dapat dijual untuk membayar biaya sekolah untuk anak-anak dari keluarga miskin ( Alder dan Spradbrow, 2001) 3: Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan Peningkatan produksi unggas di pedesaan telah memberdayakan perempuan miskin (Bagnol, 2001; Dolberg, 2003) 4: Mengurangi kematian pada anak kecil unggas di pedesaan dan produknya mempunyai kualitas nutrisi yang tinggi, dapat menambah pendapatan untuk keluarga miskin, dan pendidikan untuk wanita dalam keseimbangan makanan dan control penyakit untuk unggas yang sangat bermanfaat untuk kesehatan keluarga dan semuanya (Alders et al., 2007a) 5: Meningkatkan kesehatan Sama seperti nomer 4 6: Melawan HIV/ AIDS, malaria, dan penyakit lainnya unggas di pedesaan memberikan kualitas nutrisi yang tinggi untuk manusia, sangat bermanfaat untuk kesehatan, dan membutuhkan tenaga kerja yang sedikit (Alders et al., 2007b) 7: Menjamin keberlanjutan lingkungan unggas di pedesaan berkontribusi untuk control hama, menyediakan pupuk kandang untuk sayuran dan hasil produksi, dan konsumen local dapat mengkonsumsi secara berkelanjutan (Alders and Spradbrow, 2001) 8: Memperkuat Global Partnership (kerjasama global) untuk pembangunan Kerjasama global dalam pengembangan unggas di pedesaan mempunyai beberapa jaringan (the International Network for Family Poultry Development, the Asian Pacific Federation Working Group on Small-scale Family Poultry Farming, the Danish Smallholder Poultry Network and the International Rural Poultry Centre) dengan beberapa organisasai
  35. 35. Ternak Itik Potensi Itik: 1. Produksi telur 15,43% 2. Produksi daging 2,297% 3. Hasil ikutan: bulu, pupuk 4. Pendapatan 5. Ekspor Kelebihan Itik: 1. Lebih tahan penyakit 2. Sudah beradaptasi 3. Pertumbuhan cepat 4. Dipelihara secara sederhana 5. Memanfaatkan bahan pakan limbah 6. Protein dan lemak telur lebih tinggi 7. Harga lebih stabil
  36. 36. Kendala utama dalam pengembangan dan produksi itik: Faktor internal: Mutu genetik ☺pertumbuhan lambat ☺produksi telur rendah/bervariasi ☺mortalitas tinggi ☺reproduksi rendah Faktor eksternal: Peternak ☺modal dan lahan terbatas ☺tenaga kerja kurang berkualitas dan adopsi inovasi teknologi rendah Kebijakan pemerintah: ☺tidak disediakan duck breeding center ☺penyedian modal dengan bunga rendah sulit diperoleh karena resiko kematian tinggi ☺kurangnya informasi innvasi teknologi tepat guna Produksi telur dapat mencapai 250 butir/ekor/tahun
  37. 37. Upaya peningkatan produktivitas itik dapat dilakukan: 1. Secara genetik: seleksi dan persilangan beberapa jenis itik 2. Pemeliharan secara intensif maupun semi intensif 3. Pemberian pakan seimbang sesuai kebutuhan 4. Pencegahan terhadap penyakit Usaha ternak itik masih berpeluang menguntungkan: 1. Permintaan daging dan telur semakin meningkat 2. Arus pemasaran telur dan daging itik terbuka luas (sentra itik hanya terdapat dibeberapa daerah) 3. Aspek sosial ekonomi: permintaan yang tinggi dan didukung sumber daya alam lokal.
  38. 38. Bangsa Itik lokal Variabel yang diamati Itik Tegal Itik Magelang Itik Mojosari Bobot badan (g) 1482±124 1734±136 1476±120 (coklat) 1462±112 (putih) Warna bulu Branjangan (warna coklat pada seluruh tubuh), itik jantan warnanya lebih gelap, putih, kalung Jarakan kalung (coklat, pada leher terdapat kalung putih), coklat, gambiran (coklat campur putih), wiroko (hitam campur putih), putih mendominasi coklat (kapasan), putih jambul, bambangan (seperti itik Tegal),putih, hitam . Coklat gelap, putih polos, coklat kombinasi putih Warna paruh Hitam, kuning Hitam, kuning Hitam, kuning Warna shank Hitam, kuning Hitam, kuning Hitam, kuning Bentuk badan Seperti botol, ramping, leher panjang (rotan) Tubuh besar, dada tegap, bagian perut bulat Badan kecil, lebih pendek dibanding itik Tegal Ismoyowati dan Purwantini, 2009 Tabel 1. Karakteristik morfologi tubuh itik Tegal, Magelang dan Mojosari
  39. 39. Itik Tegal Itik Magelang gambiran dan wiroko Itik Magelang kalung dan putih Itik Magelang jarakan kalung
  40. 40. Tabel 2. Data Bobot badan, warna bulu, shank, paruh dan bentuk badan itik Bali dan Alabio Variabel yang diamati Itik Bali Itik Alabio Bobot badan (g) 1480±120 1670±150 Produksi telur (butir/tahun) Warna kerabang telur 200-260 Putih pada itik Bali putih dan hijau kebiruan pada itik Bali coklat, hitam dan variasi putih 250-300 Hijau kebiruan Warna bulu (1)Warna bulu putih mulus tanpa variasi baik jantan maupun betin. Itik jantan memiliki jambul dibagian atas kepala. (2) Variasi coklat, hitam dan putih. Warna bulu didominasi warna coklat keabuan dengan tutul agak kuning pada betina dan tutul hitam pada jantan disekitar punggung. Ujung sayap berwarna biru kehijauan pada betina, sedangkan pada jantan biru jingga. Pada jantan bulu ekor berwarna hitam, sebagian helai mencuat ke atas. Bagian atas kepala berwarna hitam. Warna paruh Kuning pada itik yang berbulu putih. Kuning atau hitam pada yang berbulu coklat, hitam dan kombinasi coklat-hitam atau hitam putih. Kuning Warna shank Kuning pada itik yang berbulu putih. Kuning atau hitam pada yang berbulu coklat, hitam dan kombinasi coklat-hitam atau hitam putih. Kuning Bentuk badan Seperti botol, ramping, leher panjang. Tubuh relatif besar, dada tegap, bagian perut bulat Sumber: Ismoyowati dan Purwantini, 2010
  41. 41. Itik Bali putih Itik Bali coklat, hitam dan kombinasi coklat-hitam-putih Itik Alabio
  42. 42. Daerah sentra peternakan itik di Indonesia No Propinsi 2005 2006 2007 2008 2009 1 Jabar 5305485 5296757 6534753 7962095 8200958 2 Jateng 4917777 4614468 4541807 4530868 5430199 3 Jatim 2402113 2430767 2464623 4344838 4410010 4 Kalsel 3041695 3487002 3771176 4137949 4194535 5 NAD 2910449 2909182 2330837 2596927 2674206 6 Sulsel 2485042 2423162 1036367 2468432 2497646 7 Sumut 1994803 1840447 3360591 2165366 2184854 8 Sulbar 209694 240873 1799266 1871992 2066268 9 Sumsel 2029000 1843000 1851000 1282030 1323400 10 Banten 723576 953217 1279230 1617181 1666031 11 Sumbar 985443 1040966 1006445 1054957 1196146 12 Indonesia 32405428 32480718 35866833 39839520 42090110
  43. 43. Macam usaha peternakan itik: 1.Budidaya itik petelur 2.Pembibitan itik 3.Budidaya itik pedaging 4.Usaha peternakan itik terintegrasi 5.Usaha pegolahan produk itik Sistem budidaya/pemeliharaan: 1.Ekstensif 2.semi intensif 3.Intensif Status usaha: 1.Usaha pokok 2.Usaha sambilan
  44. 44. Skala usaha: 1.< 100 2.100-500 3.500-1000 4.1000-3000 5.3000-5000 6.5000-10000 Permasalahan yang ada pada budidaya itik adalah: 1.Tingginya harga pakan 2.belum tersedianya bibit itik yang terjamin mutu genetiknya 3.Terbatasnya modal 4.Penyakit dan perubahan iklim
  45. 45. 1. Teknologi pakan, dengan tujuan untuk menurunkan harga pakan tanpa mempengaruhi produksinya, pemanfaatan pakan lokal yang belum optimal seperti sumber protein yaitu keong mas, ikan rucah, hijauan misalnya eceng gondok 2. Pembentukkan vilage breeding center di daerah sentra peternakan itik 3. Pengendalian dan pencegahan penyakit terutama penyakit berbahaya dan menular dengan cara penyuluhan yang intensif dan pengadaan vaksin 4. Pemantapan kelembagaan akan pentingnya kelembagaan dalam hal pengendalian harga baik produk itik maupun saprodi itik (pakan, bibit) 5. Penguatan modal usaha, dengan cara meningkatkan jalinan kerjasama baik dengan pemerintah dan swasta dengan kesepakatan dan perjanjian agar tidak ada yang dirugikan
  46. 46. KETERSEDIAAN BIBIT ITIK Tabel. Analisis pemenuhan kebutuhan bibit itik 2008-2010 No. Uraian Pemenuhan daging, telur itik dan DOD 2008 2009 2010 1 Populasi (juta ekor) 49 53 65 2 Daging itik lokal (ribu ton) Kebutuhan 13,5 13,9 14,3 Pemenuhan 13,5 13,9 14,3 3 Telur itik local (ribu ton) Kebutuhan 174 184 193 Pemenuhan 174 184 193 4 DOD itik local (juta ekor) Kekurangan/kelebihan utk daging 7 0,3 3,1 Kekurangan untuk telur 17 7,0 4,0 Jumlah kekurangan 24 7,3 0,9 5 Jumlah penduduk (juta jiwa) 226,8 229,4 232
  47. 47. Strategi dan langkah operasional penyediaan bibit itik Populasi Itik lokal 49 juta ekor (2008), 53 juta ekor (2009) dan 65 juta ekor (2010) Kekurangan bibit itik Lokal (ekor) • 2008 = 24 juta • 2009 = 7,3 juta 2010 = 0,9 juta Strategi perbibitan itik lokal 1. Peningkatan penyediaan bibit itik l a. Mengintensifkan pemeliharaan itik b. Pengembangan sentra pembibitan itik 2. Peningkatan mutu bibit : a. Penjaringan calon pembibit itik , melalui penilaian sistem produksi di daerah sumber bibit; b. Pembentukan struktur populasi pembibitan; c. Peningkatan mutu itik lokal melalui seleksi intensif. 3. Optimalisasi kelembagaan dan SDM perbibitan a. Pembentukan kelompok pembibit itik ldan penguatan modal; b. Optimalisasi peran dan fungsi UPT, UPTD dan pembibitan itik lokal. c. Pembentukan unit kerja perlindungan galur ternak Terpenuhinya permintaan Daging Itik (ribu ton) 2008 : 13,5 2009 : 13,9 2010 : 14,3 Permintaan telur itik lokal (ribu ton) 2008 : 174 2009 :184 2010 :193
  48. 48. Analisis Usaha Ternak Itik Analisis kelayakan usaha: R/C (revenue cost ratio) Merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan. Usaha dinilai menguntungkan bila: R/C >1 Contoh: pemeliharaan itik semi intensif 1. Pembuatan kandang ren 7 x 35 m untuk itik 1000 ekor = Rp7.000.000 2. Sewa lahan 500 m2/tahun = Rp 500.000 3. Penyusutan kandang 3%/tahun 4. Harga itik siap bertelur Rp 28.000/ekor 5. Produktivitas 60% selama 10 bulan produksi 6. Mortalitas 5% 7. Harga jual telur Rp 750
  49. 49. 1. Biaya operasional a. Bibit itik 1000 ekor x Rp 28.000 Rp 28.000.000 b. Sewa lahan Rp 500.000 c. Upah tenaga kerja 365 hari x Rp 12.000 Rp 4.380.000 d. Pakan 365 hari x 1.000 e x 0,15 kg x 1400 Rp 76.650.000 e. Obat dan vitamin Rp 150.000 f. Penyusutan kandang(3%) Rp 210.000 g. Pengemasan dan transportasi Rp 1.500.000 Total Rp 111.390.000 2. Penerimaan a. Penjualan telur 950 (mortalitas 5%) x 60% x 300 hari x Rp 750 Rp 128.250.000 b. Penjualan pupuk 840 sak x Rp 2500 Rp 2.100.000 Total Rp 130.350.000
  50. 50. 3. Pendapatan = total penerimaan – total biaya 130.350.000 - 111.390.000 = Rp 18.960.000 4. R/C = penerimaan/ biaya = 130.350.000/111.390.000 = 1,170 Usaha dianggap layak: setiap penambahan biaya Rp 1000 akan diperoleh penerimaan tambahan sebesar Rp 1170
  51. 51. AYAM LOKAL Indonesia memiliki banyak jenis ayam lokal yang berpotensi untuk dikembangkan, dimana sebagian besar populasinya berada diperdesaan dan sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Secara keseluruhan sumbangan ayam lokal terhadap produksi daging unggas sebanyak 25,73% dan terhadap produksi telur sebesar 16,38 % (Ditjennak, 2009). Upaya pengembangan usaha peternkan unggas lokal: Pemerintah mencanangkan Restrukturisasi Perunggasan melalui Pengembangan Budidaya Unggas di Pedesaan (Village Poultry Farming/VPF) (Ditjenak, 2010) Tujuan PVF: 1.peningkatan produksi daging dan telur unggas lokal 2.mengatasi keadaan rawan gizi pada masyarakat pedesaan 3.membantu membangun kembali industri ayam lokal milik rakyat 4.membantu mempercepat pengembangan plasma nutfah Indonesia 5.membantu masyarakat untuk menjadi mandiri dan dapat meningkatkan pendapatannya
  52. 52. Restrukturisasi sistem budidaya unggas lokal di pedesaan dilakukan terutama di sektor 4 melalui pendekatan kelompok dengan mengaplikasikan Good Farming Practice (GFP) secara optimal. (1) Village Poultry Farming (VPF) : Budidaya Unggas Pedesaan, adalah usaha kelompok peternak dalam pembudidayaan unggas lokal (ayam buras/ayam kampung/ayam lokal), dengan mengaplikasikan Good Farming Practice (GFP) pada satu wilayah pengembangan unggas di pedesaan. (2) Good Farming Practice (GFP) : Budidaya Ternak yang Baik, dalam pedoman ini dimaksudkan sebagai cara budidaya ternak ayam lokal/itik yang baik berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian No. 420/Kpts/Ot.210/7/2001. (3) Budidaya Unggas : Adalah semua kegiatan proses produksi yang dilakukan untuk memproduksi hasil-hasil ternak unggas sesuai dengan tujuannya. (4) Unggas Lokal : Adalah ayam kampong/ayam lokal maupun itik lokal yang berasal dari ayam/itik asli Indonesia yang telah didomestikasi untuk tujuan produksi telur dan daging. (5) Sektor 4 : Adalah peternakan unggas lokal (ayam lokal/kampung, itik) dengan biosekuriti yang rendah, backyard farm atau dengan sistem/dan tipe kandang yang terbuka sehingga sering kontak dengan unggas lainnya.
  53. 53. Tujuan pengembangan pembibitan ayam lokal adalah : 1. Menstimulasi peningkatan populasi dan mutu bibit ayam lokal; 2. Menambah sentra/sumber bibit ayam lokal. Lokasi Kegiatan Pengembangan Pembibitan Ayam Lokal: 1. Provinsi Sumatera Barat 2. Provinsi Jambi 3. Provinsi Sumatera Selatan 4. Privinsi Bangka Belitung 5. Provinsi Jawa Tengah 6. Provinsi DIY 7. Provinsi Bali 8. Provinsi NTB 9. Provinsi Kalimantan Timur 10. Provinsi Maluku Utara
  54. 54. Persyaratan Teknis Minimal Bibit Ayam Kampung a. Ayam bibit harus sehat, tidak cacat, ukuran tubuh seragam, bulu boleh bermacam-macam dan berasal dari ayam induk yang sehat. b. Bentuk Fisik : Warna bulu : beraneka ragam pada ayam yang jantan warnanya lebih indah. Warna kaki : hitam campur putih. Warna kulit : kuning pucat. Bentuk tubuh : Pada ayam jantan : lonjong; Pada ayam betina : segi empat. Bentuk kaki : Pada ayam jantan : tegap dan proposional; Pada ayam betina : tegap. Jengger :Pada ayam jantan : berwarna merah berukuran sedang, ada yang tunggal, rose, bergerigi, dan ada juga yang berbentuk kacang; Pada ayam betina : berwarna merah berukuran kecil, tunggal, rose, bentuk kacang, bergerigi. Pial :Pada ayam jantan : berwarna merah, berukuran sedang; Pada ayam betina : berwarna merah berukuran kecil. Muka : Merah segar Bobot badan: Jantan : 2,4 kg. Betina : 1,5 kg. Umur pada telur pertama : 148 hari.
  55. 55. pembiakan ayam lokal hasil seleksi melalui perkawinan yang seleksinya didasarkan pada sifat produksi dan/atau reproduksi. Tatacara pembiakannya adalah : (a) melakukan perkawinan ayam jantan dan betina untuk menghasilkan telur-telur fertil; (b) menetaskan telur fertil dengan inkubator (mesin tetas) untuk menghasilkan anak ayam. Usaha pembibitan ayam lokal dilakukan mengacu kepada Pedoman Pembibitan Ayam Lokal Yang Baik (Good Breeding Practice). Persyaratan Teknis Bibit Ayam Lokal 1. Diutamakan bibit hasil produksi dari pembibit ayam lokal; 2. Bebas dari penyakit menular; 3. Memenuhi persyaratan teknis minimal bibit ayam lokal; 4. Ayam betina dara siap berproduksi (pullet) dan pejantan siap kawin. Tujuan pengembangan pembibitan ayam lokal adalah : 1. Menstimulasi peningkatan populasi dan mutu bibit ayam lokal; 2. Menambah sentra/sumber bibit ayam lokal.
  56. 56. BUDIDAYA AYAM KAMPUNG •Bibit : • Ayam lokal Indonesia, tidak mempunyai ciri spesifik yang khas (keragaman fenotipe dan genotipe tinggi) •Ciri umum: bentuk tubuh ramping, kaki panjang dan warna bulu beragam •Penghasil telur dan daging •Mempunyai sifat mengeram •Pemilihan bibit disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan •Pejantan dan induk yang produktivitasnya tinggi •Sehat (bulu bersih, berminyak dan mata bersinar) •Rasio Jantan dan betina perlu disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan
  57. 57. Breeder ayam kampung: PT. unggul PT. AKI Citra Lestari Farm Jimmy’s Farm Kuda Hitam
  58. 58. PUYUH Mulai masuk di Indonesia sekitar tahun 1979 Tujuan pemeliharaan: Daging dan telur Peningkatan pendapatan Pemanfaatan pekarangan Pengentasan kemiskinan Kebutuhan : Jabotabek Telur : 9 jt butir/minggu dipenuhi 2,5 jt butir/minggu (70%) Daging : 4 rb ekor/hari dipenuhi 1,5 rb/hari Breeder puyuh: 1.Slamet Quail Farm: Sukabumi 2.PT. Peksi Gunarharja: Yogyakarta
  59. 59. PT. Peksi, perusahaan burung puyuh terbesar di Indonesia Populasi : 30-40% populasi nasional (2,2 juta ekor) Harga telur relatif stabil: Rp165-170 (BEP)---Rp 225 Kapasitas produksi: 400rb/mgg, untuk plasma 250rb, luar plasma 150rb, jumlah plasma 1300 peternak Paket kemitraan Peksi: DOQ, Pakan, obat, vaksin Harga: DOQ : Rp 1100/ekor 1mgg : Rp 1700/ekor 1 bl : Rp 4700/ekor Industri pengolahan: Telur asin puyuh Naget dll
  60. 60. PR 1.Mengapa industri perunggasan lebih mampu bertahan dibandingkan dengan industri yang lain? 2.Berapakan kontribusi daging dan telur asal unggas terhadap produksi daging dan telur nasional? Jelaskan juga berapa kontribusi masing- masing komoditas unggas! 3.Apa yang dimaksud dengan industri perunggasan terintegrasi? 4.Jelaskan sistem dan pola kemitraan pada peternakan ayam broiler? 5.Apa yang dimaksud dengan biosecurity pada industri penetasan ayam dan mengapa perlu dilakukan biosecurity? 6.Jelaskan kegiatan yang dilakukan di holding room! 7.Jelaskan proses setting HE ke dalam setter! 8.Jelaskan proses transfer HE ke hatcher! 9.Jelaskan proses grading pada DOC ayam broiler dan petelur! 10.Sebutkan dan jelaskan potensi peternakan itik! 11.Mengapa usah peternakan itik masih berpeluang menguntungkan?
  61. 61. 12. Sebutkan permasalahan yang ada pada peternakan budidaya itik dan bagaimana solusinya? 13. Sebutkan strategi untuk penyediaan bibit itik lokal! 14. Hitunglan analisis kelayakan usaha pada ternak itik dengan asumsi: a. Pemeliharaan itik dilakukan secara semi intensif b. Populasi itik 500 ekor c. Harga bibit itik siap bertelur Rp 45.000 per ekor d. Biaya pembuatan kandang dan peralatan per ekor Rp 13.000 e. Penyusutan kandang 3%/tahun f. Produktivitas 70% selama 10 bulan g. Mortalitas 5% h. Harga jual telur Rp 1100 per butir i. Sewa laha Rp 500.000/tahun j. Biaya obat, vitamin dan sanitasi kandang Rp 30.000/bulan

×