Pertemuan 4-5 Teori Belajar dan Pembelajaran Teori Belajar Kognitif Betty Zelda, Dr. M.M. <ul><li>Jurusan Fisika </li></ul...
JEAN PIAGET (1896 – 1980) 10/03/11 ©  2010 Universitas Negeri Jakarta  |  www.unj.ac.id  |
Piaget (lanjutan) <ul><li>Jean Piaget menekankan bahwa anak-anak  membangun secara aktif  dunia kognitif mereka; informasi...
Piaget (lanjutan) <ul><li>“ My central aim has always been the search for the mechanisms of biological adaptation and the ...
Piaget (lanjutan) <ul><li>Children are active builders of their knowledge.  </li></ul><ul><li>Like little scientists, they...
PROSES KOGNITIF PIAGET <ul><li>Skema    kerangka kognitif / kerangka referensi </li></ul><ul><li>Asimilasi   proses sso ...
Tahap-tahap perkembangan Piaget <ul><li>Tahap sensorimotorik (0-2 tahun) </li></ul><ul><li>Tahap praoperasional (2-7 tahun...
Tahap 1: sensorimotorik <ul><li>Berlangsung pada usia 0 – 2 tahun. </li></ul><ul><li>Perkembangan mental ditandai oleh kem...
Tahap sensorimotorik  terbagi 6 periode <ul><li>Periode 1:  refleks (0 – 1 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 2:  kebiasaan ...
Ciri-ciri sensorimotor <ul><li>Didasarkan tindakan praktis. </li></ul><ul><li>Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi. <...
Tahap praoperasional (2-7 tahun) <ul><li>Dicirikan dengan adanya fungsi semiotik (simbol)    2-4 tahun. </li></ul><ul><li...
Fungsi semiotik pd beberapa gejala <ul><li>Imitasi tak langsung    membuat imitasi yang secara tidak langsung dari bendan...
Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Menggambar. Anak dapat menggambar realistis tetapi tidak proporsional. Contoh: gambar rum...
Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Gambaran mental </li></ul>10/03/11 ©  2010 Universitas Negeri Jakarta  |  www.unj.ac.id  |
Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Bahasa ucapan. Anak mulai menggunakan suara sebagai representasi benda atau kejadian. </l...
Pemikiran intuitif <ul><li>Pemikiran anak berkembang pesat secara bertahap ke arah tahap konseptualisasi. </li></ul><ul><l...
Ciri-ciri pemikiran lain <ul><li>Egosentris. Anak belum bisa melihat dari perspektif orang lain. </li></ul><ul><li>Adaptas...
Ciri-ciri pemikiran lain lanjutan <ul><li>Reversibilitas belum terbentuk. Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan...
Tahap operasi konkret  (7-11 tahun) <ul><li>Logika tentang sifat reversibilitas dan kekekalan. </li></ul><ul><li>Berpikir ...
Tahap operasi formal  (mulai 11-15 tahun) <ul><li>Mulai perkembangan reasoning dan logika remaja. </li></ul><ul><li>Asimil...
Teori Belajar Kognitif <ul><li>belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta ...
Prinsip Belajar <ul><li>belajar aktif    akan menghindarkan siswa dari kebosanan </li></ul><ul><li>belajar lewat interaks...
Implikasi dalam Belajar <ul><li>Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar ...
Contoh Aplikasi <ul><li>Menentukan tujuan instruksional </li></ul><ul><li>Memilih materi pelajaran </li></ul><ul><li>Menen...
TERIMA KASIH <ul><li>To be continued </li></ul>10/03/11 ©  2010 Universitas Negeri Jakarta  |  www.unj.ac.id  |
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Week4-5 teori belajar-kognitif

2,255

Published on

Week4-5 teori belajar-kognitif

Published in: Education, Travel
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,255
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Week4-5 teori belajar-kognitif"

  1. 1. Pertemuan 4-5 Teori Belajar dan Pembelajaran Teori Belajar Kognitif Betty Zelda, Dr. M.M. <ul><li>Jurusan Fisika </li></ul><ul><li>Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  2. 2. JEAN PIAGET (1896 – 1980) 10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  3. 3. Piaget (lanjutan) <ul><li>Jean Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. </li></ul><ul><li>Seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  4. 4. Piaget (lanjutan) <ul><li>“ My central aim has always been the search for the mechanisms of biological adaptation and the analysis and epistemological interpretation of that higher form of adaptation which manifests itself as scientific thought” (Piaget, 1977a, p. xi). </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  5. 5. Piaget (lanjutan) <ul><li>Children are active builders of their knowledge. </li></ul><ul><li>Like little scientists, they constantly construct and test their own theories of the world. </li></ul><ul><li>“ Intelligence does not by any means appear at once </li></ul><ul><li>derived from mental development, like a higher </li></ul><ul><li>mechanism, and radically distinct from those which </li></ul><ul><li>have preceded it. Intelligence presents, on the </li></ul><ul><li>contrary, a remarkable continuity with the acquired or </li></ul><ul><li>even inborn processes on which it depends and at the </li></ul><ul><li>same time makes use of.” (Piaget, 1963, p. 21) </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  6. 6. PROSES KOGNITIF PIAGET <ul><li>Skema  kerangka kognitif / kerangka referensi </li></ul><ul><li>Asimilasi  proses sso memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yg sudah ada </li></ul><ul><li>Akomodasi  menyesuaikan diri dengan infomasi yg baru </li></ul><ul><li>Organisasi  mengelompokkan perilaku/ konsep kedalam kelompok2 yg terpisah ke dalm sistem kognitif yang lebih tertib, lancar; dengan menggunakan kategori2  meningkatkan LTM </li></ul><ul><li>Ekulibirasi  bergerak dari satu tahap ke tahap yg lain  rawan konflik dalam usahanya memahami unia (dsekulibium). Jika berhasil akan mendapatkan keseimbangan pemikiran </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  7. 7. Tahap-tahap perkembangan Piaget <ul><li>Tahap sensorimotorik (0-2 tahun) </li></ul><ul><li>Tahap praoperasional (2-7 tahun) </li></ul><ul><li>Tahap operasi konkret (7-11 tahun) </li></ul><ul><li>Tahap operasi formal (mulai 11 atau 12 tahun) </li></ul><ul><li>Tahap-tahap ini secara kualitatif sangat berbeda. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  8. 8. Tahap 1: sensorimotorik <ul><li>Berlangsung pada usia 0 – 2 tahun. </li></ul><ul><li>Perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang pesat dalam kemampuan bayi mengorganisasikan & mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan2 dan tindakan2 fisik. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  9. 9. Tahap sensorimotorik terbagi 6 periode <ul><li>Periode 1: refleks (0 – 1 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 2: kebiasaan (1 – 4 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 3: reproduksi (4 – 8 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 4: koordinasi skemata (8 – 12 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 5: eksperimen (12 – 18 bulan) </li></ul><ul><li>Periode 6: representasi (18 – 24 bulan) </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  10. 10. Ciri-ciri sensorimotor <ul><li>Didasarkan tindakan praktis. </li></ul><ul><li>Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi. </li></ul><ul><li>Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek. </li></ul><ul><li>Mengenai periode sensorimotor: </li></ul><ul><li>Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pd banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik. </li></ul><ul><li>Urutan periode tetap. </li></ul><ul><li>Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  11. 11. Tahap praoperasional (2-7 tahun) <ul><li>Dicirikan dengan adanya fungsi semiotik (simbol)  2-4 tahun. </li></ul><ul><li>Berkembangnya pemikiran intuitif  4-7 tahun. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  12. 12. Fungsi semiotik pd beberapa gejala <ul><li>Imitasi tak langsung  membuat imitasi yang secara tidak langsung dari bendanya sendiri. Contoh: anak bermain kue-kuean sendiri, pasar-pasaran. </li></ul><ul><li>Permainan simbolis. Contoh: mobil-mobilan dengan balok-balok kecil. </li></ul><ul><li>Permainan simbolis dapat merupakan ungkapan diri anak. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  13. 13. Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Menggambar. Anak dapat menggambar realistis tetapi tidak proporsional. Contoh: gambar rumah dan pepohonan tegak lurus di lereng pegunungan. </li></ul><ul><li>Mengetahui bentuk-bentuk dasar geometris: bulat, bundar, persegi. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  14. 14. Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Gambaran mental </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  15. 15. Fungsi semiotik lanjutan <ul><li>Bahasa ucapan. Anak mulai menggunakan suara sebagai representasi benda atau kejadian. </li></ul><ul><li>Perkembangan bahasa sangat memperlancar perkembangan konseptual anak dan juga perkembangan kognitif anak. </li></ul><ul><li>Menurut Piaget: perkemb bahasa merupakan transisi dari sifat egosentris ke interkomunikasi sosial. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  16. 16. Pemikiran intuitif <ul><li>Pemikiran anak berkembang pesat secara bertahap ke arah tahap konseptualisasi. </li></ul><ul><li>Belum bisa berpikir multidimensi. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  17. 17. Ciri-ciri pemikiran lain <ul><li>Egosentris. Anak belum bisa melihat dari perspektif orang lain. </li></ul><ul><li>Adaptasi yang tidak disertai gambaran yang akurat. Ingatan recognition dan ingatan evocation. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  18. 18. Ciri-ciri pemikiran lain lanjutan <ul><li>Reversibilitas belum terbentuk. Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya. </li></ul><ul><li>Pengertian kekekalan belum lengkap. </li></ul><ul><li>Klasifikasi figuratif. </li></ul><ul><li>Relasi ordinal/serial. Anak masih kesulitan mengurutkan suatu seri. </li></ul><ul><li>Kausalitas. Banyak bertanya “mengapa?” </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  19. 19. Tahap operasi konkret (7-11 tahun) <ul><li>Logika tentang sifat reversibilitas dan kekekalan. </li></ul><ul><li>Berpikir decentering , seriasi, klasifikasi, kesimpulan probalistis. </li></ul><ul><li>Tidak lagi egosentris. </li></ul><ul><li>Masih terbatas pada hal-hal konkret. </li></ul><ul><li>Belum dpt memecahkan persoalan yang abstrak. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  20. 20. Tahap operasi formal (mulai 11-15 tahun) <ul><li>Mulai perkembangan reasoning dan logika remaja. </li></ul><ul><li>Asimilasi dan akomodasi berperan membentuk skema lebih menyeluruh. </li></ul><ul><li>Pemikiran remaja = dewasa secara kualitas, namun beda kuantitas, skema org dewasa lebih banyak. </li></ul><ul><li>Pemikiran deduktif, induktif dan abstraktif. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  21. 21. Teori Belajar Kognitif <ul><li>belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. </li></ul><ul><li>Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. </li></ul><ul><li>Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  22. 22. Prinsip Belajar <ul><li>belajar aktif  akan menghindarkan siswa dari kebosanan </li></ul><ul><li>belajar lewat interaksi sosial,manusia </li></ul><ul><li>belajar lewat pengalaman sendiri,pada pembelajaran ini proses mencari ilmu dilakukan secara tidak sengaja, jadi siswa merasa tidak terpaksa untuk belajar </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  23. 23. Implikasi dalam Belajar <ul><li>Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa. </li></ul><ul><li>Siswa-siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. </li></ul><ul><li>Bahan yang harus dipelajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. </li></ul><ul><li>Berikan peluang agar siswa belajar sesuai tahap. </li></ul><ul><li>Di dalam kelas, siswa-siswa hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  24. 24. Contoh Aplikasi <ul><li>Menentukan tujuan instruksional </li></ul><ul><li>Memilih materi pelajaran </li></ul><ul><li>Menentukan topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh mahasiswa </li></ul><ul><li>Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk topik yang akan dipelajari mahasiswa. </li></ul><ul><li>Mempersiapkan pertanyaan yang dapat memacu kreatifitas mahasiswa untuk berdiskusi atau bertanya </li></ul><ul><li>Mengevaluasi proses dan hasil belajar   </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |
  25. 25. TERIMA KASIH <ul><li>To be continued </li></ul>10/03/11 © 2010 Universitas Negeri Jakarta | www.unj.ac.id |

×