Tazkiyatun nafs
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tazkiyatun nafs

on

  • 898 views

 

Statistics

Views

Total Views
898
Views on SlideShare
898
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
34
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tazkiyatun nafs Tazkiyatun nafs Presentation Transcript

  • Faizal Pratama
  •  Secara lughowi (bahasa), tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki dan tazkiyyatan yang berarti “mensucikan” dan “memperbaiki”  Secara istilah, tazkiyah mempunyai maksud mensucikan hati manusia dan keyakinan yang salah untuk ditanamkan keyakinan yang benar sehingga manusia tersebut bahagia dan selamat di dunia dan akhirat.  Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat mudl- ghoh, apabila ia baik maka baikllah seluruh jasadnya dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruhnya jasadnya, ketahuilah ia sesungguhnya adalah hati. (al Hadist).
  •  Rata-rata umat Islam menjawab pentingnya nasehat berkali-kali secara rutin/istiqomah dalam jangka waktu yang lama (misal: pengajian). Dengan demikian diharapkan suci jiwanya.  Menurut ahli dzikir (dzakirin): orang akan menjadi baik bila banyak berdzikir: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak- banyaknya. (QS. Al Ahzab, 33/41)”. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ro’ad, 13/28).
  •  Politikus: dengan ditegakkannya hukum islam  Ekonom dengan perbaikan ekonomi, logika berfikir mereka: Bagaimana sholat jika lapar?  Teknokrat: dengan mengejar ketertinggalan teknologi dari negara-negara lain.  Untuk mengelola hal ini dengan benar kita perlu merujuk kembali kepada orang yang paling paham masalah ini yaitu RasuluLLah SAW yang narasumbernya adalah Dzat pencipta manusia yaitu Allah SWT.  Bagaimana menurut Allah SWT pencipta manusia (yang paling tahu bagaimana manusia menjadi baik dan bahagia).  Untuk menjawab ini Allah telah mengutus para Nabi dan Rosul
  •  Doa Nabi Ibrahim untuk keselamatan umatnya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rosul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqoroh, 2/129) Inti ayat tersebut Nabi Ibrahim meminta agar Allah SWT mengutus Rosul yang bertugas: - Membacakan ayat (Tilawah) - Mengajarkan ayat-ayat Engkau (Taklim) -Mensucikan hati mereka (Tazkiyah)
  • • Al Baqorah (surat 2) 151. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. • Al Imran (surat 3) 164. Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. • Al Jumu’ah (surat 62) 2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
  • (a) Apakah Nabi SAW pernah membacakan ayat kepada kita (ummat manusia hari ini) secara langsung? Apakah jiwa kita pernah disucikan nabi? Apakah kita pernah diajar lansung oleh nabi? (b) Kalau yag dimaksud ‘kum’ kita sekalian umat manusia hari ini, mungkinkah keadaan umat manusia hari ini seperti ini? Amburadul, kemaksiatan, kemusyrikan, dll. Meraja lela? 1. Yang dimaksud tentulah para sahabat sebab kalau yang dimaksud kita umat hari ini, itu menunjukkan kegagalan Nabi yang mustahil terjadi karena metode Nabi semuanya ditunjuki/diwahyui Allah SWT. 2. Karena Rosul tilawah, tazkiyah dan taklim kepada para sahabat, maka para sahabat yang berlatarbelakang macam-macam, yang semula sesat di segala bidang (aqidah, ibadah, muamalah, mu’asaroh, ahlaq) menjadi baik, bersih jiwanya, diridhoi Allah SWT, menjadi manusia terbaik dan selamat dunia akhirat.
  • 1. Tilawah, membacakan ayat-ayat, dakwah tentang kebesaran Allah SWT 2. Tazkiyah dengan cara “jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, yakni bersungguh-sungguh mengerahkan potensi untuk dakwah dan tahammul (tahan uji) dalam rangka tegaknya agama. Inti dakwah Nabi dan Rosul adalah mengeluarkan 3 hal dan memasukkan 3 hal, yaitu: a. Mengeluarkan keyakinan akan kebesaran “Mahluk” dari dalam hati dan memasukkan keyakinan akan kebesaran “Kholiq” ke dalam hati. b. Mengeluarkan keyakinan akan kebesaran “Dunia” dari dalam hati dan memasukkan keyakinan akan kebesaran “Akhirat” ke dalam hati. c. Mengeluarkan keyakinan akan kebesaran “Maal” (materi) dari dalam hati dan memasukkan keyakinan akan kebesaran “Amal” (ibadah) ke dalam hati. 3. Taklim (pengajaran), yaitu nabi sebagai mu’allim (guru) mengajarkan al Qur’an dan sunnah kepada para sahabat atau ngajinya para sahabat kepada Nabi saw.
  • 1. Manusia terdiri dari “Jasmani (jasad)” dan Ruhani. 2. Jasmani dari tanah, kehendak atau kecenderungannya membumi (menuju ke bumi dan kelak akan kembali ke bumi (tanah), untuk sehat perlu makanan, minuman obat-obatan istirahat yang semuanya ada di bumi 3. Ruhani berasal dari Allah swt, kehendak dan kecenderungannya ke arah Allah (melangit), kelak akan kembali ke Allah (ke langit). Untuk sehat perlu amal misal: iman, sholat, puasa, haji, dzikir, do’a tilawah, shodaqoh dll. 4. Kemana manusia bergairah tergantung kehendak mana yang lebih kuat. Bila kehendak ruhani lebih kuat (sebagaimana para sahabat pilihan yang sudah menjalani proses tazkiyah oleh nabi), maka yang terjadi sebagimana digambarkan dalam QS 9/ayat 122: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. Mereka semua ingin ikut pergi berperang, meskipun mereka tahu resikonya terbunuh, istri menjadi janda, anak menjadi yatim, dll karena kehendak ruhani mereka lebih kuat.
  • 1. Walaupun hati dijelas-jelaskan agar bergantung kepada mahluk, tetapi kecenderungan hatinya selalu bergantung kepada Allah swt. 2. Kehendak jasadi (badan) mengikut pada kehendak rohani. 3. Jiwa/hati/rohani akan lezat dan nikmat dengan amalan agama 4. Ketika datang masalah, misal musuh datang, semakin yakin kepada Allah dan Rosulnya (Q.S. Al Ahzab 33/22; Q.S. Al Imran, 3/173). 5. Apabila tidak bisa berangkat dalam perjuangan/dakwah maka hati yang telah tazkiyah akan bersedih, bahkan menangis (Q.S. At Taubah, 9/91-92). 6. Ketika dituntut/diajak berjihad/berdakwah maka terasa nikmat bukan terasa sebagai beban (Q.S. At Taubah, 9/86-88). 7. Beramal agama terasa ringan, senang, bersemangat, melihat amalan terasa haus/lapar seperti orang lapar melihat makanan. 8. Nafsu(jiwa)nya tenang dengan beragama (Q.S. Al Fajar, 89/27-31). 9. Datang dan perginya dunia tidak berpengaruh/mengubah hati, jiwanya stabil, dunia cukup di tangan tidak bersemayam di dalam hati. 10. Di luar sholat tetap ingat Allah, apalagi di dalam sholat. 11. Kerja dunia bernilai agama, apalagi kerja agama nilainya luar biasa. 12. Beramal benar, tidak beramalpun benar, maksudnya Allah tetap ridho karena adanya udzur syar’i. Ini terjadi karena niat dan yaqin serta jalannya benar.
  • 1. Kehendak jasad lebih kuat dari kehendak ruhani sehingga terasa susah/berat amal, badan terasa berat (Q.S. At Taubah 9/38-39 2. Agama terasa sebagai beban, bahkan hatinya berpenyakit atau lebih berat lagi menjadi munafiq - kalau yang diserukan membawa keuntungan, mereka ikut - mencari-cari alasan: a. Takut tergoda putri roma yang cantik-cantik; b. Cuacanya panas terik (padahal api neraka lebih panas); c. Rumah kami kosong tidak ada yang menjaga; d. Harta dan keluarga kami tidak ada yang mengurus/merintangi kami. 3. Beramalpun terhitung salah, apalagi tidak beramal. 142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364] . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366] . [0]
  • 1. Sahabat Bilal, walaupun seorang budak berkulit hitam ia menjadi muadzin Nabi dan pernah menjadi Gubernur. Ketika masih hidup pun sudah diberitahu kelak akan masuk surga. 2. Aisyah r.ha, ketika mendapt pembagian harta dari Umar r.a., maka seluruhnya dibagi-bagikan hingga habis. Ketika pembantuya mengingatkan agar menyisakan sedikit untuk buka puasa Aisyah r.a. Menjawab: “ wah kamu tidak mengingatkan dari tadi, sudah terlanjur dibagi-bagi sampai habis”. Bandingkan dengan kondisi umat saat ini! 3. Dalam kisah perang tabuk: diperlukan banyak sekali bekal dan kendaraan, Ustman menginfaqkan ± 1000 kendaraan (kuda dan unta). Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya, ketika ditanya Nabi saw: “ apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab: “Allah dan Rasulnya yang aku tinggalkan di rumah”. Umar, r.a. Menyerahkan separuh hartanya. 4. Julaibab: Miskin, agak tua, tidak begitu tampan, terlambat nikah. Nabi mencarikan jodoh dengan wanita yang “cantik”. Para sahabat mengumpulkan uang diberikan ke Julaibab untuk dibelikan mahar. Ketika akan beri mahar datang panggilan untuk keluar/berperang, Maka ia tidak jadi membeli mahar,
  • Tetapi malah dibelikan peralatan perang dan ia pergi berperang dan mati syahid. Nabi saw mengabarkan kalau ruh Julaibib diperebutkan oleh lebih dari 30 bidadari yang cantik. (QS At Taubah: 9/41). 4.Handzalah, sahabat Nabi yang baru menikah (sedang berbulan madu). Ketika datang panggilan sebagaimana ayat di atas, ia langsung keluar/berperang dalam keadaan masih junub (belum mandi besar). Nabi saw mengabarkan bahwa jenazah beliau dimandikan oleh para malaikat sehingga masih tampak bekas-bekas airnya. Riyawat-riwayat tersebut merupakan riwayat yang shokhih.
  • 1. Dalam riwayat hadist yang panjang disebutkan ada tiga jenis manusia yang amalan agamanya luar biasa yaitu alim (hafidz Qur’an), mujahid (sahid di medan perang dan munfiq (ahli sodaqoh), tetapi Allah mencampakkan tiga orang tadi ke neraka jahanam, mengapa? Karena kurang satu syarat, yaitu hatinya kurang suci dalam beramal, yaitu tidak ikhlas. Semua mereka lakukan dalam rangka memperoleh penilaian dari manusia (riya’) dan mereka telah mendapatkannya. (Riyawat lengkap dapat dibaca di banyak buku hadist, diantaranya Riyadhus Shalihin). 2. Kisah Tsa’labah, yang miskin minta dido’akan kaya, kemudian tidak mau membayar zakat, Allah swt turunkan ayat QS At Taubah 9/75-77. Begitu mendengar ayat tsb. Tsa’labah menemui Nabi untuk membayarkan zakatnya. Tetapi berkata Nabi: bagaimana aku akan menerima zakatmu sedangkan Allah telah melarangnya. Hal yang sama ia ulang ketika zaman khalifah Abu Bakar dan Umar tetapi mereka menolaknya dengan mengatakan:” bagaimana aku akan menerimanya sedangkan Rasulullah menolaknya”. Ia meninggal dalam keadaan munafik, na’udzubillahi min dzalik.