Hubungan da’wah dengan ilmu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Hubungan da’wah dengan ilmu

  • 617 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
617
On Slideshare
617
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
16
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Hubungan Da’wah dengan Ilmu Faizal Pratama Geofisika Ugm
  • 2. Pendahuluan Pemahaman umum kaum muslimin tentang da’wah adalah: 1. Aktivitas yang dilakukan di mimbar-mimbar pengajian, ceramah, kuliah subuh atau melalui media-media lain, misalnya madrasah/sekolah, TV, radio, cassette, majalah, buletin, dlsb. 2. Aktivitas tersebut harus dibawakan oleh Kyai, Ulama, Muballigh, Ahli Ilmu agama atau kursus kilat menggunakan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist . 3. Semua itu dilakukan dalam rangka pembekalan (pemberian materi) agar berilmu untuk bisa berda’wah Apakah benar untuk berda’wah harus mempunyai ilmu yang memadai??? 1. Tidak sepenuhnya benar, meskipun pemahaman seperti itu merata di kalangan ummat Islam, hampir semua strata, hampir di seluruh dunia. 2. Opini seperti itu muncul akibat kesalahfahaman /kerancuan dalam membedakan antara “Da‟wah” dan “Taklim”.
  • 3. PERMASALAHAN Jika alur pemikiran seperti itu kita ikuti, maka muncul permasalahan- permasalahan sebagai berikut: 1. Seberapa tinggi ilmu yang dituntut agar boleh berda’wah? 2. Siapa atau Lembaga apa yang berhak mengukur kadar ilmu tersebut? 3. Andaikata ada suatu lembaga yang diakui siapa yang berhak menentukan lembaga tersebut? 4. Adakah dalil Al Qur’an dan Hadist yang membenarkan alur pemikiran di atas? 5. Adakah yang lebih berilmu daripada Nabi? Bagaimanakah keadaan Nabi pada saat beliau mulai berda’wah? 6. Seberapa tinggikah bekal ilmu Nabi pada saat mulai berda’wah?
  • 4. Diskusi/Pembahasan Marilah kita sepakati dulu hal-hal berikut: 1. Kita umat Islam sepakat bahwa dasar/patokan bergama yang utama adalah Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Nabi (Hadist). Tidak ada yang lebih faham, apakah namanya ulama, kyai, muballigh, waliyullah, guru agama, dll. Yang bisa melebihi kefahamannya tentang Alqur’an melebihi kefahamannya Nabi saw. 2. Ummat Islam pun sepakat bahwa praktek Al Qur’an dan sunnah yang paling tepat/sesuai dengan yang dikehendaki Nabi saw adalah yang dilakukan oleh murid-murid langsung Nabi saw yang dituntun langsung oleh Allah swt dan RasulNya yaitu para sahabat Nabi radliyallohu ‘anhum (r.hum). Karena itu untuk melihat apakah da’wah memerlukan bekal ilmu yang tinggi kita harus melihat praktek Rasulullah dan para Sahabat pada saat mulai berda’wah
  • 5. A. Sejarah Nabi: Latar Belakang Keilmuan Nabi Sebelum diangkat menjadi Nabi A1. Pendidikan orang tua dan lingkungan: 1. Beliau saw sudah ditinggal wafat ayahnya sebelum beliau lahir 2. Ibunya pun Allah panggil ketika beliau berumur 6 tahun 3. Semasa bayi sampai berhenti menyusu beliau diasuh oleh ibunda Halimatus Sa’diyah di desanya yang jauh dari kota Makkah (lebih terbelakang dari kota Makkah) 4. Bagaimana kondisi masyarakat tempat beliau diutus (Makkah): 2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, ........(Al Jumu’ah 62/2) 67. Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? (Al Ankabut 29/67). 157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka ...... (Al A’raaf 7/157). 48. Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (Al Ankabut 29/48).
  • 6. A2. Sebelum menjadi Nabi 1. Meskipun Nabi Cerdas (contoh penyelesaian sengketa hajar Aswad) tetapi dikatakan oleh Allah dalam keadaan bingung dalam hal bagaimana menyelesaikan persoalan umat saat itu, lalu Allah memberinya hidayah berupa jalan keluar dari masalah yang dihadapi ummatnya, sebagaimana tercantum dalam Al Qur‟an surat Adh-Dhuha, 93/7: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk”. [1583]. Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat. 2. Sebelum beliau diangkat sebagai sebagai Nabi dan Rasul, beliau dalam keadaan tidak mengerti Kitab dan Iman (:QS Asy-Syuraa 42/52): “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.
  • 7. A3. Bekal Wahyu ketika harus mulai berdakwah • Wahyu pertama yang turun adalah QS Al Alaq 1-5: 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [1589]. Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. • Sesudah itu turun wahyu kedua surat Al Qolam • Kemudian setelah agak lama turun wahyu ke-tiga, QS Al Mudatstsir 74/1-7: 1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan Tuhanmu agungkanlah! 4. dan pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. “ Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat” (Al Hadist)
  • 8. B. Praktek para Sahabat Nabi B1. Fase Makiyah (1) Sahabat Abu Bakar Ashidiq, ra. Setelah masuk Islam lalu beliau bertanya kepada RasuluLLah SAW: “Apa tugasku sekarang?” jawah Rasul: “Tugasmu adalah sebagaimana tugasku”, yakni berdakwah. Lalu beliau langsung berdakwah dan pada hari pertama mendapatkan 4 orang yang masuk Islam, yaitu Utsman bin Waqqash . Pada hari kedua masuk Islam 5 orang, yaitu Utsman bin Madz‟un, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Abdurrahman bin „Auf, Abu Salamah bin As‟ad dan Arqom bin Abil Arqom. Bayangkan kalau hal seperti ini terjadi saat ini tentu orang-orang akan berkomentar dengan sinis: “berani-beraninya dia berdakwah padahal baru saja masuk Islam, apa bekal ilmu yang ia punyai? bisa sesat dan menyesatkan!”
  • 9. (2) Sh. Tufail Ad-Dausi, ra. Ahli syair berasal dari suku Daus dan telah diprovokasi oleh orang-orang kafir tentang adanya seorang yang mengaku Nabi sehingga jangan sampai ia mendekat-dekat Nabi. Tufail menutup telinganya dengan kapas agar tidak terhasut omongan Nabi. Suatu ketika ia datang ke Masjidil Harom dengan telinga tertutup kapas tetapi ia tetap mendengar ayat-ayat alqur‟an yang dibaca Nabi, dia heran karena yang dibaca bukan syair, bukan mantera, bukan puisi tetapi terasa indah. Ia kemudian masuk Islam dan langsung meminta ijin untuk berdakwah kepada kaumnya, tetapi sebagian besar kaumnya menolak, ia meminta Rasullulah untuk mendoakan kaumnya agar dimusnahkan semua. Rasullullah saw kemudian berdo‟a tetapi do‟a Beliau lain: “ Ya Allah berilah hidayah kepada kaum Daus, dan pertemukanlah mereka dengan aku”. Rasul saw kemudian berkata kepada Thufail: “ Berdakwahlah kepada mereka dengan lemah lembut, ada mutiara-mutiara di tengah kaummu”. Thufail kembali berdakwah kepada kaumnya tanpa kenal lelah sebagaimana pesan Nabi hingga akhirnya 80 kepala keluarga masuk Islam termasuk di dalamnya Abu Hurairoh, ra. Dan mereka semua ikut berhijrah ke Madinah.
  • 10. B2. Fase Madaniyah Dalam satu riwayat dikisahkan: Ada seorang dari suku Bal „Adawiyah datang ke Madinah. Tidak ada yang paling dibenci di benaknya kecuali orang yang bernama Muhammad (akibat hasutan orang kafir). Ketika masuk Medianah orang ini melihat penjual kambing sedang bertengkar hebat dengan seorang pembeli. Pembeli kemudian melapor kepada seseorang untuk menasehati penjual kambing tersebut agar menjual dagangannya dengan baik.. Setelah dinasehati pertengkaran menjadi surut dan mereka sangat akrab seperti saudara sendiri. Orang dari suku Bal „Adawiyah tadi dengan penuh keheranan kemudian mendekat dan bertanya kepada orang ketiga yang mendamaikan pertengkaran: “siapakah engkau?” dijawab oleh orang ketiga: “Aku Muhammad Rasulullah”. Orang itu bertanya lagi:”Apa yang engkau ajarkan?” jawab Nabi: “Aku mengajarkan bahwasannya Tiada Tuhan selain Allah, maka sembahlah olehmu Allah dan bersaksilah bahwa aku utusan Allah, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat”. Orang tersebut berkata: “kalau dulu orang yang paling kubenci engkau, sekarang tidak ada yang paling kucintai kecuali engkau”. Orang tersebut masuk Islam dan minta ijin untuk berdakwah kepada kaumnnya di balik lembah diantara dua gunung, Nabi pun mengijinkannya hingga semua penduduknya masuk Islam.
  • 11. Kesimpulan Pada fase Madaniyah sudah banyak Da‟i, orang alim yang ilmunya mumpuni, tetapi begitu ada orang masuk Islam dan meminta ijin untuk berdakwah Nabi saw tidak mencegahnya atau tidak menyuruhnya untuk mencari ilmu dulu kemudian berdakwah. Sekarang orang faham tentang ibadah, tetapi berapa banyak yang faham akan pentingnya menuntut ilmu (ta‟lim), dan berapa banyak yang faham akan kewajiban berda‟wah? Bila ada orang yang baru masuk Islam kemudian berda‟wah, bagaimana tanggapan kita? Jangankan masuk Islam terus berda‟wah, masuk islam terus menuntut Ilmu saja tidak banyak. Biasanya yang kita anjurkan sesudah masuk Islam adalah mengerjakan sholat. Ini tentu saja benar, tetapi menandakan betapa asingnya kita terhadap kefahaman “da‟wah”. Hal ini terjadi karena sebagian ummat rancu membedakan “da‟wah” dan “ta‟lim”. Da‟wah berarti “mengajak” (kepada yang baik) sedangkan “ta‟lim” adalah “mengajar”. Untuk mengajar memang perlu ilmu yang memadai, harus „alim, sedangkan untuk mengajak (da‟wah), dengan ilmu seberapapun dapat dilakukan. Da’wah: kepada siapapun, suka atau tidak suka, setuju atau menentang, butuh atau tidak butuh. Ta’lim: Disampaikan hanya kepada yang mau , yang datang adalah orang yang mau dan butuh.