Your SlideShare is downloading. ×
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Makalah Sistem Periodik ke-3
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Makalah Sistem Periodik ke-3

10,177

Published on

0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
10,177
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
285
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN Alam semesta ini kaya akan kadungan unsur-unsur kimia. Hingga saat ini, unsurunsur kimia berjumlah sekitar 114 unsur. Ada beberapa hal yang mendasari pengelompokan unsur-unsur kimia, yaitu sifat logam,elektron valensi, dan jumlah kulit elektron. Brdasarkan sifat logamnya, unsur kimia dikelompokan menjadi logam, semilogam, nonlogam, dan gas mulia. Berdasarkan elektron valensinya unsur kimia dikelompokan menjadi golongan utama dan transisi. Golongan utama terdiri dari golongan, IA, IIA. IIIA, IVA, VA, VIA, VIIA, dan VIIIA. Adapun golongan tarnsisi dapat dibagi lagi menjadi golongan transisi dalam, lantanida dan aktinida. Berdasarkan jumlah kulit elektron yang dimilikinya, unsur kimia dapat dikelompokan menjadi 7 periode yaitu periode 1 sampai 7. sifat logam unsur-unsur seperiode dari kiri kekanan semakin bersifat nonlogam. Dalam hal ini, Unsur-unsur periode ketiga memiliki sifat kimia dan sifat fisika yang bervariasi. Unsur-unsur yang terdapat pada periode ketiga adalah Natrium (Na), Magnesium (Mg), Aluminium (Al), Silikon (Si), Fosfor (P), Belerang (S), Klor (Cl), dan Argon (Ar). Dari kiri (Natrium) sampai kanan (Argon), jari-jari unsur menyusut, sedangkan energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan meningkat. Selain itu, terjadi perubahan sifat unsur dari logam (Na, Mg, Al) menjadi semilogam/metaloid (Si), nonlogam (P, S, Cl), dan gas mulia (Ar). Unsur logam umumnya membentuk struktur kristalin, sedangkan unsur semilogam/metaloid membentuk struktur molekul raksasa (makromolekul). Sementara, unsur nonlogam cenderung membentuk struktur molekul sederhana. Sebaliknya, unsur gas mulia cenderung dalam keadaan gas monoatomik. Variasi inilah yang menyebabkan unsur periode ketiga dapat membentuk berbagai senyawa dengan sifat yang berbedaUnsur-unsur logam umumnya diperoleh sebagai bijih logam dalam batuan. Alam Indonesia sangat kaya akan sumber mineral bijih logam, karena itu perlu penguasaan teknologi untuk mengolahnya menjadi logam yang dibutuhkan. 1
  • 2. BAB II ISI A. Definisi o Natrium atau sodium (Na) adalah logam reaktif yang lunak, keperakan, dan seperti lilin, yang termasuk ke logam alkali yang banyak terdapat dalam senyawa alam. Dia sangat reaktif, apinya berwarna kuning, beroksidasi dalam udara, dan bereaksi kuat dengan air. Natrium memiliki nomor atom 11 dan berat atom 22,99. o Magnesium (Mg) adalah elemen terbanyak kedelapan yang membentuk 2% berat kulit bumi, serta merupakan unsur terlarut ketiga terbanyak pada air laut. Magnesium memiliki nomor atom 12 dan berat atom 24,31. o Aluminium (Al) adalah elemen yang berjumlah sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga.Alumunium memiliki nomor atom 13 dan berat atom 26,98. o Silikon (Si) adalah elemen terbanyak kedelapan di alam semesta dari segi massanya. Lebih dari 90% kerak bumi terdiri dari mineral silikat, menjadikan silikon sebagai unsur kedua paling melimpah di kerak bumi (sekitar 28% massa) setelah oksigen. Silikon memiliki nomor atom 14 dan berat massa 28,09. o Fosfor(P) berupa jenis senyawa logam transisi atau senyawa tanah langka seperti zink sulfida (ZnS) yang ditambah tembaga atau perak, dan zink silikat (Zn2SiO4)yang dicampur dengan mangan. Fosfor memiliki nomor atom 15 dan berat massa 30,97. o Sulfur atau belerang (S) adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa. Belerang, dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfida dan sulfat. Belerang memiliki nomor atom 16 dan berat massa 32,06 o Klor (Cl) adalah pembentuk garam dan senyawa lain yang tersedia di alam dalam jumlah yang sangat berlimpah dan diperlukan untuk pembentukan hampir semua bentuk kehidupan, termasuk manusia. Unsur ini termasuk kelompok halogen berbentuk gas, klorin berwarna kuning kehijauan, dan sangat beracun. Klor memiliki nomor atom 17 dan berat massa 35,45. o Argon (Ar) adalah elemen yang hampir tidak mengalami reaksi kimia. Argon merupakan kelompok golongan Gas mulia. Argon membentuk 1% dari atmosfer bumi. Argon memiliki nomor atom 18 dan berat massa 39,95. 2
  • 3. B. Pembuatan unsur periode ketiga a. Unsur Natrium diperoleh dengan cara elektrolisis NaCl yang dicairkan dengan katode besi dan anode karbon. Sel yang digunakan adalah sel Downs. Natrium cair terbentuk pada katode, selanjutnya dialirkan dan ditampung dalam wadah berisi minyak tanah. Dalam proses ini bejana elektrolisis dipanaskan dari luar dan dijaga agar natrium yang terbentuk tidak bersinggungan dengan udara, karena akan terbakar. Hasil samping elektrolisis ini adalah klorin b. Unsur Magnesium diperoleh dengan cara elektrolisis lelehan magnesium klorida. Sekarang ini, Mg juga dapat diperoleh dari air. Selain itu Mg diperoleh juga dari reduksi MgO dengan karbon. c. Unsur Aluminium diperoleh dari elektrolisis bauksit yang dilarutkan dalam kriolit cair. Proses ini dikenal dengan proses Hall. Pada proses ini bauksit ditempatkan dalam tangki baja yang dilapisi karbon dan berfungsi sebagai katode. Adapun anode berupa batangbatang karbon yang dicelupkan dalam campuran. d. Unsur silikon dapat dibuat dari reduksi SiO2 murni dengan serbuk aluminium pada suhu tinggi. e. Unsur Fosfor diperoleh melalui reaksi batuan fosfat dengan batu bara dan pasir dalam pembakaran listrik. Fosfor didistilasi dan terkondensasi di bawah air sebagai P4. f. Unsur Belerang, cara untuk mengekstrak belerang yang dikenal dengan cara Frasch. Pada proses ini pipa logam berdiameter 15 cm yang memiliki dua pipa konsentrik yang lebih kecil ditanam sampai menyentuh lapisan belerang. Uap air yang sangat panas dipompa dan dimasukkan melalui pipa luar, sehingga belerang meleleh, selanjutnya dimasukkan udara bertekanan tinggi melalui pipa terkecil, sehingga terbentuk busa belerang yang keluar mencapai 99,5%. g. Unsur Klor diperoleh dari garam klorida dengan mereaksikan zat oksidator atau lebih sering dengan proses elektrolisis h. Unsur Argon dihasilkan dari penyulingan bertingkat udara cair karena atmosfer mengandung 0.94% Argon. 3
  • 4. C. Sifat – Sifat Fisis dan sifat-sifat kimia a. Struktur/konfigurasi elektronik Pada periode ketiga, orbital 3s dan 3p terisi oleh elektron. (Ne = 1s2, 2s2, 2p6) Unsur Konfigurasi Unsur Konfigurasi 11 Na [Ne] 3s1 15 P [Ne] 3s2 3p3 12 Mg [Ne] 3s2 16 S [Ne] 3s2 3p4 13 Al [Ne] 3s2 3p1 17 Cl [Ne] 3s2 3p5 14 Si [Ne] 3s2 3p2 18 Ar [Ne] 3s2 3p6 b. Jari-jari atom Jari-jari atom unsur periode ke-3 ―dari kiri ke kanan, jari-jari atom makin kecil‖. Meskipun sama – sama terdiri atas tiga lapis kulit, ―jumlah proton dan jumlah elektron dalam masing – masing atom makin ke kanan makin banyak‖. Hal itu menyebabkan gaya tarik inti atom terhadap elektron – elektron makin kuat, sehingga elektron – elektron tertarik lebih dekat kearah inti atom. perubahan jari-jari atom pada unsur-unsur periode 3 Perubahan tersebut berdasarkan pada: Jari-jari metalik / ionik untuk Na, Mg dan Al Jari-jari kovalen untuk Si, P, S dan Cl; Jari-jari van der Waals untuk Ar, karena Ar tidak dapat membentuk ikatan yang kuat. Wajar jika kita membandingkan jari-jari metalik dengan jari-jari kovalen karena keduanya menunjukkan ikatan yang sangat rapat. Akan tetapi tidak wajar bila kita membandingkan jarijari metalik dan jari-jari kovalen dengan jari-jari van der Waals. Kecenderungan secara umum menunjukkan atom makin kecil sepanjang periode kecuali pada Argon. Kita tidak dapat membandingkan hal yang tidak sejenis. Sebaiknya, kita mengabaikan Argon pada diskusi selanjutnya. 4
  • 5. Penjelasan kecenderungan Jari-jari metalik dan kovalen menunjukkan jarak dari inti ke pasangan elektron ikatan. Dari Natrium hingga Argon, ikatan elektron semuanya berada di kulit ke-3. Peningkatan jumlah proton dalam inti sepanjang perioda akan meningkatkan tarikan elektron menjadi lebih dekat ke inti. c. Daya hantar arus listrik (konduktor) Penghantar / konduktor arus listrik yang baik : Natrium, Magnesium dan Alumunium Semikonduktor : Silikon Sisanya bukan merupakan konduktor. Tiga logam pertama, sudah pasti merupakan penghantar listrik karena adanya delokalisasi elektron (suatu keadaan dimana elektron valensi logam tidak tetap posisinya pada 1 atom) yang bebas bergerak / berpindah sepanjang padatan atau cairan logam. Silikon memiliki struktur seperti intan. Jadi kita tidak dapat memperkirakan silikon dapat menghantarkan arus listrik, tapi silikon memang dapat menghantarkan arus listrik. Sisanya tidak menghantarkan arus listrik karena merupakan senyawa dengan molekul sederhana. Tidak ada elektron yang dapat bebas bergerak. d. Titik leleh dan titik didih Tabel Titik leleh dan titik didih Senyawa Na Mg Al Si P S Cl Ar Titik leleh 97,81 648,8 660,37 1,410 44,1 119,0 -101 -184,2 Titik didih 903,8 1,105 2467 2,355 280 44,67 -35 -185,7 - Struktur metalik Titik didih dan titik leleh meningkat sepanjang tiga logam pertama karena meningkatnya kekuatan ikatan metalik. Jumlah elektron pada masing-masing atom menyumbang untuk meningkatkan delokalisasi elektron. Atom-atom juga menjadi lebih kecil dan memiliki jumlah proton yang lebih banyak dari natrium hinggga magnesium dan alumunium. 5
  • 6. Tarikan dan titik leleh serta titik didih pada strukur metalik meningkat karena: Inti atom memiliki muatan positif yang semakin besar Elektron makin bermuatan negatif Elektron makin dekat ke inti dan tertarik makin kuat. Keterlibatan elektron pada struktur metalik:  Dalam natrium hanya ada satu elektron yang terlibat dalam ikatan metalik.  Dalam magnesium, kedua elektron terluarnya terlibat.  Dalam alumunium, ketiga elektron terluarnya terlibat. Cara penyusunan atom dalam kristal logam pada struktur metalik:  Natrium mengalami koordinasi-8 di mana masing-masing atom natrium bersentuhan dengan 8 atom natrium yang lain.  Magnesium dan alumunium mengalami koordinasi-12 (meskipun dengan cara yang berbeda). Ini adalah cara yang lebih efisien dalam menyusun atom untuk mengurangi pemborosan tempat dalam struktur logam dan ikatan logam yang lebih kuat. - Silikon Silikon memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih tinggi karena memiliki struktur kovalen raksasa. Kita harus memutuskan ikatan kovalen yang kuat itu sebelum akhirnya meleleh atau mendidih. Bagian terkecil dari struktur dapat dilihat seperti di bawah ini: Strukturnya terikat dengan ikatan kovalen yang kuat dalam tiga dimensi. 6
  • 7. - Empat unsur molekuler Fosfor, sulfur, klor dan argon adalah senyawa molekuler sederhana yang hanya dipengaruhi gaya van der Waals (gaya tarik-menarik yang lemah) di antara molekul-molekulnya. Titik leleh dan titik didihnya akan semakin rendah dari pada empat unsur pertama dalam periode 3. Ukuran titik leleh dan titik didih dipengaruhi oleh ukuran molekul. Ingat struktur molekul: Penjelasan :  Untuk molekul fosfor, anda tidak dapat memecahkan ikatan kovalennya. Molekul dengan gaya van der Waals antar molekulnya yang lemah.  Molekul sulfur berbentuk cincin, lebih besar dari pada molekul fosfor dengan gaya van der Waals yang lebih kuat, hal ini penting untuk menjelaskan titik leleh dan titik didih yang lebih tinggi.  Klor adalah molekul yang lebih kecil dengan gaya van der Waals yang lebih lemah dan klor memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih rendah dari sulfur dan fosfor.  Molekul argon hanya terdiri dari satu atom. Jangkauan gaya van der Waals antar atom-atomnya sangat terbatas serta titik leleh dan titik didih argon paling rendah. e. Keelektronegatifan Keelektronegatifan adalah ukuran kecenderungan atom untuk menarik pasangan elektron ikatan. Harga keelektronegatifan unsur – unsur periode ke-3, ― makin ke kanan, makin besar ―. Artinya, makin ke kanan kemampuan atom untuk menarik elektron dari atom lain makin bertambah. Harga keelekrtonegatifan terbesar dalam periode ketiga dimiliki oleh klorin, karna Argon dalam struktur elektronnya sudah stabil dan tidak membentuk ikatan kovalen sehingga secara nyata tidak memiliki keelektronegatifan. 7
  • 8. Penjelasan kecenderungan Kecenderungan dijelaskan dengan cara yang sama seperti kecenderungan pada jari-jari atom. Sepanjang periode, elektron ikatan selalu berada pada kulit yang sama yaitu kulit ke-3, dan selalu diperisai oleh elektron dalam yang sama. Semuanya berbeda dalam hal jumlah proton yang terus meningkat dan tarikan pasangan elektron ikatan makin mendekati inti. f. Energi ionisasi Energi ionisasi adalah energi yang dibutuhkan untuk melepaskan satu elektron yang terikat paling lemah dari satu mol atom dalam keadaan gas menjadi satu mol ion dalam keadaan gas dengan muatan +1. Contoh : Dibutuhkan energi untuk tiap perubahan 1 mol X. Dengan jari – jari atom yang makin kecil ( makin kuatnya gaya tarik inti atom), energi ionisasi unsur – unsur periode ketiga ―dari kiri ke kanan, makin besar‖. Secara umum, kecenderungannya meningkat kecuali antara magnesium dan alumunium serta antara fosfor dan sulfur yang menurun. Penjelasan Energi ionisasi dipengaruhi oleh: Muatan dalam inti Jarak elektron terluar dari inti Banyaknya pemerisaian oleh elektron yang lebih dalam Apakah elektron dalam orbital berpasangan atau tidak. Kecenderungan meningkat Dalam semua unsur-unsur periode 3, elektron terluar berada pada kulit orbital ke-3. Semuanya memiliki jarak yang sama dari inti dan diperisai oleh elektron yang sama yaitu elektron pada kulit pertama dan kedua. 8
  • 9. Perbedaan yang paling utama adalah meningkatnya jumlah proton dalam inti mulai dari natrium hingga argon. Hal inilah yang menyebabkan tarikan inti terhadap elektron terluarnya makin besar sehingga meningkatkan energi ionisasi. Penurunan pada alumunium Ukuran alumunium lebih besar dari pada magnesium karena jumlah proton yang lebih banyak. Elektron terluar dari alumunium berada pada orbital 3p, bukan 3s. Elektron pada orbital 3p sedikit lebih jauh dari inti dari pada elektron pada orbital 3s, dan sebagian mendapatkan pemerisaian dari elektron 3s sebagai elektron yang lebih dalam. Kedua faktor inilah yang mengimbangi jumlah proton yang lebih banyak. Penurunan pada sulfur Pada fosfor ke sulfur, sesuatu yang lebih harus mengimbangi pengaruh proton yang lebih banyak. Pemerisaian yang sama pada fosfor dan sulfur dan elektron yang akan dilepaskan berasal dari orbital yang sama. Perbedaannya adalah bahwa pada sulfur, elektron yang akan dilepaskan berasal dari salah satu elektron yang berpasangan pada orbital 3px2. Tolakan antara 2 elektron yang berada dalam orbital yang sama menunjukkan bahwa elektron lebih mudah dikeluarkan dari pada elektron yang tidak berpasangan. g. Kelogaman Sifat kelogaman unsur-unsur periode ketiga, ―dari kiri ke kanan, makin berkurang‖ :  Unsur logam : Natrium ( Na ), magnesium ( Mg ), dan aluminium( Al )  Unsur metaloid : Silikon ( Si )  Unsur non logam : Fosfor ( P ), belerang ( S ), dan klor ( Cl )  Gas mulia : Argon (Ar ) (Bukan logam) D. Pereduksi dan Pengoksidasi ―Dari kiri ke kanan, Sifat reduktor berkurang dan sifat oksidator bertambah‖ Sifat pereduksi semakin bertambah, sedangkan sifat pengoksidasi unsure-unsur periode ke tiga ini dapat anda lihat dari harga potensial reduksinya. 9
  • 10. Tabel potensial reduksi standart unsur-unsur periode ketiga. Sifat Senyawa Na Mg Al Si P S Cl Ar Potensial reduksi -2,711 -2,375 -1,706 - - -0,508 +1,358 - Natrium merupakan pereduksi yang reaktif terhadap air. Sifat pereduksi magnesium lebih lemah dibandingkan natrium. Sehingga logam Mg hanya dapat bereaksi dengan air panas. Contoh : Mg (5) + H2O (l) (tidak bereaksi) Mg (5) + 2H2O (l) (panas) Mg (OH)2 + H2 (g) Sedangkan silicon memiliki sifat pereduksi lebih lemah dibandingkan aluminium sehingga silicon yang bereaksi dengan oksidator kuat, seperti oksigen dan klorin. Contoh : Si (5) + O2 (g) Si O2(5) Si (5) + 2Cl2 (g) Si Cl4 (l) E. Asam dan Basa Unsur – unsur dalam satu periode makin ke kanan makin kuat menarik elektron. Jadi unsur periode ketiga, ―Semakin ke kanan, sifat basa makin berkurang, dan sifat asam makin bertambah‖. Sifat asam adalah sifat yang berkaitan dengan sifat nonlogam, sedangkan sifat basa adalah sifat yang berkaitan dengan sifat logam. M = semua unsur periode ketiga kecuali Argon Senyawa yang dapat bertindak sebagai basa dengan memutuskan MOH sehingga terbentuk ion hidroksida ( OH- ). M-OH M+ ( aq ) + OH- ( aq) Senyawa dengan struktur diatas dapat pula bertindak sebagai asam dengan memutuskan ikatan MO-H sehingga berbentuk ion hidrogen ( H+ ). M-OH M- ( aq ) + OH+ ( aq) 10
  • 11. F. Reaksi - reaksi pada periode ke-3 1. Reaksi dengan Air a. Natrium Natrium mengalami reaksi yang sangat eksoterm dengan air dingin menghasilkan hidrogen dan larutan NaOH yang tak berwarna. b. Magnesium Magnesium mengalami reaksi yang sangat lambat dengan air dingin, tetapi terbakar dalam uap air. Lempeng magnesium yang sangat bersih dimasukkan ke dalam air dingin akhirnya akan tertutup oleh gelembung gas hidrogen yang akan mengapungkan lempeng magnesium ke permukaan. Magnesium hidroksida akan terbentuk sebagai lapisan pada lempengan magnesium dan ini cenderung akan menghentikan reaksi. Magnesium terbakar dalam uap air dengan nyala putih yang khas membentuk magnesium oksida dan hidrogen. c. Aluminium Serbuk alumunium dipanaskan dalam uap air menghasilkan hidrogen dan alumunium oksida. Reaksinya berlangsung relatif lambat karena adanya lapisan alumunium oksida pada logamnya, membentuk oksida yang lebih banyak selama reaksi. d. Silikon Umumnya silikon abu-abu yang berkilat dengan keadaan agak seperti logam hampir tidak reaktif. 11
  • 12. Banyak sumber menyatakan bahwa bentuk silikon ini bereaksi dengan uap air pada suhu tinggi menghasilkan silikon dioksida dan hidrogen. Tapi juga mungkin untuk membuatnya menjadi bentuk silikon yang lebih reaktif yang akan bereaksi dengan air dingin menghasilkan produk yang sama. e. Fosfor dan sulfur Fosfor dan sulfur tidak bereaksi dengan air. f. Klor Klor dapat larut dalam air untuk beberapa tingkat membentuk larutan berwarna hijau. Terjadi reaksi reversibel (dapat balik) menghasilkan asam klorida dan asam hipoklorit. g. Argon Argon tidak bereaksi dengan air 2. Reaksi dengan Klor a. Natrium Natrium terbakar dalam klor dengan nyala jingga menyala. Padatan NaCl akan terbentuk. b. Magnesium Magnesium terbakar dengan nyala putih yang kuat menghasilkan magnesium klorida. 12
  • 13. c. Aluminium Alumunium seringkali bereaksi dengan klor dengan melewatkan klor kering di atas alumunium foil yang dipanaskan sepanjang tabung. Alumunium terbakar dalam aliran klor menghasilkan alumunium klorida yang kuning sangat pucat. Alumunium klorida ini dapat menyublim (berubah dari padatan ke gas dan kembali lagi) dan terkumpul di bagian bawah tabung saat didinginkan. d. Silikon Jika klor dilewatkan di atas serbuk silikon yang dipanaskan di dalam tabung, akan bereaksi menghasilkan silikon tetraklorida. Silikon tetraklorida adalah cairan yang tak berwarna yang berasap dan dapat terkondensasi. e. Fosfor Fosfor putih terbakar di dalam klor menghasilkan campuran dua klorida. Fosfor (III) klorida dan fosfor (V) klorida (fosfor triklorida dan fosfor pentaklorida). Fosfor (III) klorida adalah cairan tak berwarna yang berasap. Fosfor (V) klorida adalah padatan putih (hampir kuning). f. Sulfur Jika aliran klor dilewatkan di atas sulfur yang dipanaskan, akan bereaksi menghasilkan cairan berwarna jingga dengan bau tak sedap, disulfur diklorida, S2Cl2. 13
  • 14. g. Klor dan Argon Tidak bermanfaat bila kita membicarakan klor bereaksi dengan klor lagi dan argon tidak bereaksi dengan klor. 3. Reaksi dengan Oksida Unsur-unsur periode ketiga dapat membentuk oksida melalui reaksi pembakaran dengan gas oksigen. Reaksi yang terjadi pada masing-masing unsur adalah sebagai berikut : a. Natrium Oksida Natrium mengalami reaksi hebat dengan oksigen. Logam Natrium yang terpapar di udara dapat bereaksi spontan dengan gas oksigen membentuk oksida berwarna putih yang disertai nyala berwarna kuning. 4 Na(s) + O2(g) ——> 2 Na2O(s) b. Magnesium Oksida Magnesium juga bereaksi hebat dengan udara (terutama gas oksigen) menghasilkan nyala berwarna putih terang yang disertai dengan pembentukan oksida berwarna putih. 2 Mg(s) + O2(g) ——> 2 MgO(s) c. Aluminium Oksida Alumunium akan terbakar dalam oksigen jika bentuknya serbuk, sebaliknya lapisan oksidanya yang kuat pada alumunium cenderung menghambat reaksi. Jika kita taburkan serbuk alumunium ke dalam nyala bunsen, maka akan kita dapatkan percikan. Alumunium oksida yang berwana putih akan terbentuk. Oksida ini berwarna putih. 4 Al(s) + 3 O2(g) ——> 2 Al2O3(s) 14
  • 15. d. Silikon Oksida (Silika) Si(s) + O2(g) ——> SiO2(s) e. Fosfor (V) Oksida Fosfor putih secara spontan menangkap api di udara, terbakar dengan nyala putih dan menghasilkan asap putih campuran fosfor (III) oksida dan fosfor (V) oksida. Untuk fosfor (III) oksida: Untuk fosfor (V) oksida: s f. Sulfur / Belerang Dioksida dan Belerang Trioksida Padatan Belerang mudah terbakar di udara saat dipanaskan dan akan menghasilkan gas Belerang Dioksida (SO2). Oksida ini dapat direaksikan lebih lanjut dengan gas oksigen berlebih yang dikatalisis oleh Vanadium Pentaoksida (V2O5) untuk menghasilkan gas Belerang Trioksida (SO3). Sulfur terbakar di udara atau oksigen dengan pemanasan perlahan dengan nyala biru pucat. Ini menghasilkan gas sulfur dioksida yang tak berwarna. S(s) + O2(g) ——>SO2(g) 2 SO2(g) + O2(g) ——> 2SO3(g) g. Klor (VII) Oksida dan Argon Walaupun memiliki beberapa oksida, klor tidak langsung bereaksi dengan oksigen. 2 Cl2(g) + 7 O2(g) ——> 2 Cl2O7(g) h. Argon 15
  • 16. Argon tidak bereaksi dengan oksigen. G. Kegunaan dan Bahaya Unsur-Unsur periode ketiga a. Natrium Kegunaan : • Dipakai dalam pembuatan ester • NaCl digunakan oleh hampir semua makhluk • Na-benzoat dipakai dalam pengawetan makanan • Na-glutamat dipakai untuk penyedap makanan • Isi dari lampu kabut dalam kendaraan bermotor • NaOH dipakai untuk membuat sabun, deterjen, kertas • NaHCO3 dipakai sebagai pengembang kue • Memurnikan logam K, Rb, Cs • NaCO3 Pembuatan kaca dan pemurnian air sadah Bahaya : jika natrium bercampur dengan air, akan bereaksi sangat cepat dan meledak! Jika terjadi kontak dengan natrium hidroksida dalam keadaan kulit telanjang, akan membentuk dan mulai larut melalui kulit b. Magnesium Kegunaan: • Dipakai pada proses produksi logam, kaca, dan semen. • Untuk membuat konstruksi pesawat. Logamnya disebut magnalum. • Pemisah sulfur dari besi dan baja. • Dipakai pada lempeng yang digunakan di industri percetakan. • Untuk membuat lampu kilat. • Sebagai katalis reaksi organik. Bahaya : Magnesium sangat mudah terbakar. pada waktu terbakar, ia melepaskan kalor yang sangat besar mencapai ribuan derajat. Cahaya yang dipancarkan sangat menyilaukan dan dapat membutakan mata. c. Alumunium Kegunaan : 16
  • 17. • Banyak dipakai dalam industri pesawat • Untuk membuat konstruksi bangunan • Dipakai pada berbagai macam aloi • Untuk membuat magnet yang kuat • Tawas sebagai penjernih air • Untuk membuat logam hybrid yang dipakai pada pesawat luar angkasa • Membuat berbagai alat masak • Menghasilkan permata bewarna-warni : Sapphire, Topaz, dll. Bahaya : Aluminium dapat merusak kulit, dalam bentuk bubuk dapat meledak di udara jika dipanaskan , dan dalam bentuk Al2O3 jika di reaksikan dengan karbon akan menyebabkan pemanasan global. d. Silikon Kegunaan : • Dipakai dalam pembuatan kaca • Terutama dipakai dalam pembuatan semi konduktor • Digunakan untuk membuat aloi bersama alumunium, magnesium, dan tembaga • Untuk membuat enamel • Untuk membuat IC Bahaya : Silikon yang digunakan untuk kecantikan wajah dapat menyebabkan kerusakan bentuk wajah dan melumpuhkan beberapa otot wajah. e. Fosfor Kegunaan : • Dipakai pada proses produksi logam, kaca, dan semen • Untuk membuat konstruksi pesawat. Logamnya disebut magnalum • Pemisah sulfur dari besi dan baja • Dipakai pada lempeng yang digunakan di industri percetakan • Untuk membuat lampu kilat • Sebagai katalis reaksi organic 17
  • 18. Bahaya : Jika biji fosfor diolah menjadi fosfat dan larutan dalam air akan menyebabkan terjadinya limbah radioaktif. f. Belerang Kegunaan : • Dipakai sebagai bahan dasar pembuatan asam sulfat • Digunakan dalam baterai • Dipakai pada fungisida dan pembuatan pupuk • Digunakan pada korek dan kembang api • Digunakan sebagai pelarut dalam berbagai proses Bahaya : Belerang dalam bentuk H2S sangat beracun dan dapat menyebabkan kematian, sedangkan dalam bentuk H2SO4 dapat merusak kulit dan menyebabkan korosi. g. Klor Kegunaan : • Dipakai pada proses pemurnian air • Cl2 dipakai pada disinfectan • KCl digunakan sebagai pupuk • ZnCl2 digunakan sebagai solder • NH4Cl digunakan sebagai pengisi batere • Digunakan untuk menghilangkan tinta dalam proses daur ulang kertas • Dipakai untuk membunuh bakteri pada air minum • Dipakai pada berbagai macam industry Bahaya : Klor mengiritasi sistem pernafasan. Bentuk gasnya mengiritasi lapisan lendir dan bentuk cairnya bisa membakar kulit. Baunya dapat dideteksi pada konsentrasi sekecil 3.5 ppm dan pada konsentrasi 1000 ppm berakibat fatal setelah terhisap dalam-dalam. 18
  • 19. h. Argon Kegunaan : • Sebagai pengisi bola lampu karena Argon tidak bereaksi dengan kawat lampu • Dipakai dalam industri logam sebagai inert saat pemotongan dan proses lainnya • Untuk membuat lapisan pelindung pada berbagai macam proses • Untuk mendeteksi sumber air tanah • Dipakai dalam roda mobil mewah Bahaya : Bila argon menggantikan oksigen diudara dapat menyebabkan sesak napas karena udara yang mengandung oksigen kurang dari 16% sangat berbahaya. 19
  • 20. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian di atas kami dapat menyimpulakan bahwa unsur-unsur periode ketiga dapat dikelompokkan berdasarkan kesamaan sifatnya ke dalam satu golongan, yaitu golongan A (golongan utama). Selain itu, unsur-unsur periode ketiga dapat dikelompokkan menjadi unsur logam, nonlogam, semilogam, dan gas mulia. Dalam kehidupan sehari-hari, unsurunsur periode ketiga banyak membantu kita dalam melaksanakan kegiatan. Sulit dibayangkan jika kita hidup tanpa adanya unsur kimia karena semua benda yang ada di alam ini mengandung unsur kimia, baik dalam bentuk logam atau unsur bebasnya, senyawanya, atau paduan logamnya. Tak bisa dipungkiri, selain memberikan manfaat, unsur-unsur periode ketiga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Kegunaan dan dampak dari unsur-unsur kimia beserta cara mencegah dan menanganinya tidak terlepas dari sifat yang dimiliki unsur-unsur tersebut. B. Saran Saran yang kami dapat berikan bagi pembaca yang senang dengan bahan-bahan kimia, lebih baik anda lebih waspada dengan unsur-unsur yang belum anda kuasai. Ketelitian itu penting dalam hal ini karna kesalahan kecil yang anda lakukan dapat membuat kerusakan besar pada anda ataupun lingkungan anda. Jangan hanya membaca dari satu sumber saja, karna ilmu pengetahuan terus berkembang setiap waktunya. . DAFTAR PUSTAKA 20
  • 21. SITUS WEB : http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium http://id.wikipedia.org/wiki/Magnesium http://id.wikipedia.org/wiki/Alumunium http://id.wikipedia.org/wiki/Silikon http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfur http://id.wikipedia.org/wiki/Fosfor http://id.wikipedia.org/wiki/Klor http://id.wikipedia.org/wiki/Argon http://simuzz.wordpress.com/kimia/unsur-unsur-periode-ketiga/ BUKU : Sutresna, Nana. 2010. Belajar Kimia Secara Menarik. Bandung : Grafindo Sunardi. 2009. Kimia Bilingual. Bandung : Yrama Widya Sofyatiningrum, etty, dkk. 2007 . Sains Kimia. Jakarta : Bumi Aksara Purba, Michael. 2007. Kimia. Jakarta : Erlangga Harjani, Tati dkk. 2012. Sains Kimia. Jakarta : Masmedia 21

×