Book report kontek budaya

2,015 views
1,844 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,015
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Book report kontek budaya

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN Walaupun beberapa penelitian, teori-teori dan metode yang adadalam ilmu-ilmu sosial memilki langkah yang menggembirakan(mangalami kemajuan), namun dalam beberapa dekade tarakhir, studiterhadap budaya hanya mengalami sedikit kamjuan. Secara umum teori-teori yang dihasilkan didasarkan pada hasil kerja empirik. Sejak perangdunia kedua ilmu-ilmu sosial condong untuk memberikan sedikit perhatianterhadap faktor kebudayaan. Dalam tradisi Marxist yang terkenalcenderung mengabaikan alam budaya. Neo-marxis di Amerika dan Inggrisjuga diusahakan dihilangkan dengan alasan hal itu adalah ideologis bukanbudaya. Pandangan Struktural-Fungsional terutama oleh Parsonmengidentifikasi budaya sebagai suatu sistem autonomous, tetapipenelitian pengembangan terhadap sistem ini sangatlah sedikit.Sedangkan simbolic interactionism menekankan pada simbol dan arti,pengembagannya sekitarnya persepsi individu dalam lingkungan terkecildari pada dengan contoh/pola budayanya itu sendiri. Pandangan lainadalah psikologi sosial, yang didalamnya mengamati fenomenakebudayaan antara lain tentang kepercayaan dan sikap, tetapipenekanannya lebih kepada jiwa individu dari pada mencurahkan teorinyauntuk penyelidikan tentang budaya. Dalam psikologi sosial, dimanahubungan antara ‘budaya dan kepribadian’ menempati posisi formal yangcukup penting, penelitiannya yang memfokuskan pada tiap kehidupanjuga kurang mengarah kepada budaya itu sendiri. Mengapa studi tentang kebudayaan itu terhenti untuk dilanjutkan ?beberapa waktu yang lalu, menurut interpretasi ini, para ilmuwan dibidangsosial menemukan bahwa kebudayaan itu benar-benar sedikit berbedadalam urusan manusia. Mereka menganggap segalanya sebagai faktadari kehidupan sosial. 1
  2. 2. BAB II ISI BUKUA. Empat Pandangan Tentang Budaya Dalam buku dikemukakan mengenai empat pendekatan dalammempelajari kebudayaan. Secara garis besar mainstreamnya ada diluarilmu sosial. Keempat Pendekatan ini berorientasi terhadp kenyataan daripikiran, simbolism, bahasa dan percakapan. Dalam tradisi filosofi adayang disebut positivistik dari ilmu sosial kontemporer. Keempatpendekatan itu yaitu, pertama Fenomenologi, kedua, antropologi budaya,ketiga strukturalime dan keempat adalah teori kritik. Pendekatan-pendekatan ini merupakan yang terbesar di wilayahEropa, karena itu sebagian mungkin tidak cukup dikenal oleh bangsaAmerika. Dalam buku ini yang memberikan kontribusi penulisan yaitu :1. Peter L Berger yang mengemukakan pendekatan fenomenologi pada pertengahan tahun 1960-an. Fenomenologi ini diilhami dari pendapat Hegel dan merupakan refleksi dari filsafat teori tentang manusia.2. Mary Douglas yang mengemukakan tentang antropologi budaya dari tradisi British. Douglas mengemukakan pandangannya tentang ritual, simbol-simbol, tata kehidupan sosial dan perbandingan kosmologis. Pandangan Dougla ini merupakan inspirasi dari Manowski dan Durkheim tentang sistem klasifikasi dalam masyarakat.3. Michel Foucault, yang memberikan pandangan tentang tradisi strukturalisme dari analisis budaya perancis.4. Jurgen Habermas, orang jerman yang mengemukan tentang teori kritik terhadap ilmu-ilmu sosial.Seperti halnya dengan penganut Madzhab Frankfurt lainnya, ia memberi tafsiran baru pada ide Marx untuk disesuaikan dengan keadaaan zaman modern. Konsep materialistik sejarah Marx dianggap terlalu terikat pada falsafah Hagel., kaena itu andaian Marx tentang metafisik harus diganti dengan teori kritik (critical theory). Habermas mengenalkan alternatif model baru yaitu Logika 2
  3. 3. interaksi dan logika hermenutik, yang cenderung menuju kepada praksis dengan logika dijadikan dasar herneutik. Dalam model ini hal yang ditekankan adalah komunikasi, inti modelnya ialah dialog yang berlangsung itu haruslah berdasarkan atas pengakuan diantara orang- orang yang mengambil bagian dalam dialog tersebut dalam mencari kemungkinan manusia menguasai teknologi. Melalui logika interaksi dan hermeneutik, politik mewujudkan suatu ruang lingkup yang bebas dari penguasaan dari semua orang dalam upaya mencapai bersama serta kemanusiaan. Dari uraian itu tampak bahwa Habermas mencoba untuk memindahkan pernanan kaum proletariat kepada para ilmuwan yang melibatkan diri dari proses ilmiah., karena kini ilmu merupakan daya kratifitas penting dalam masyarakat. Adapaun faktor utama yang menentukan keadaan dan perkembangan masyarakat adalah ilmu, serta cara-cara bagimanakah ilmuwan memahami tugas mereka, teori kritik memberikan arahan dan pedoman bagi para ilmuwan itu. Model yang ketiga yang diajukan Habermas adalah Praksis kritik atau emansipatori, yang bertujuan untuk menjamin terjadinya perubahan dalam struktur penguasaan dalam masyarakat (apabila model kedua dianggap gagal). Dalam mengembangkan masyarakat perlu dicari cara baru tentang struktur masyarakat dengan cara menghilangkan represif, seperti menumbuh-kembangkan kaidah dalam menemukan unsur tak sadar (psikoanalisis Frued) akibat tekanan, sehingga memungkinkan para individu menerimanya secara sadar. Kritik terhadapHabermas dalam memberikan konsep dialektik baru ialah ketiga model yang tampak seperti lapisan itu berkaitan satu sama lainnya dianggap tidak jelas. Kontribusi dari Peter berger, Mary Douglas, Michel Foucault danJurgen Heberrmas memberikan gambran yang jelas sebagai alternatifdalam melakukan penyelidikan tentang budaya. Berger menekankan padainterpretasi personal mengenai seseorang dalam menyesuaikan denganrealitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan Douglas menekankan pada 3
  4. 4. aturan ritual dan benda-benda artifact dalam mendefinisikan konsep;Kalau Foucault kekuatan masalah–penguatannya pada kategoripengetahuan dan Habermas asumsi utamanya adalah tindakankomunikatif sebagai dasar epistimologi.B. Analisis Budaya Kesimpulannya, kerangka yang jelas muncul dari Berger, Douglas,Foucault dan Habermas yang mengidentifikasi budaya sebagai aspeknyata dari realitas sosial. Pola-pola yang muncul merupakan subyek untukdiobservasi dan diinterpretasi secara teoritis. Analisis budaya dapatdidefinisikan sebagai studi terhadap dimensi simbolic expresive darikehidupan sosial. Subjek dari analisis budaya adalah apa yang nampakdalam tindakan objektif, peristiwa-peristiwa, ungkapan-ungkapan danobyke dari interaksi sosial. Level yang tepat dari analisis adalah polaantara interaksi dengan benda dari pada usaha untuk mereduksi budayalain sebagai bagian dari internal individu atau kondisi jasmaniah darimasyarakat. Untuk itu analisis budaya berbeda dari disiplin ilmu yang lainseperti psikologi sosial atau sosiologi dalam aspek unik dari tingkah lakumanusia. Pertanyaan yang timbul apakah analisis budaya dapat produktifdan apakah strateginya cukup berhasil untuk melakukan penyelidikan ?Jawaban dari pertanyaan ini masih jauh dari kejelasan, tetapi beberapapetunjuk dapat diidentifikasikan. Sebagai contoh: metode difokuskan padapenyimpangan yang biasanya terlihat jelas pada strategi nilai darikerangka yang dikemukakanoleh Foucault dan Douglas. Kegilaan,penyakit, siksaan, hukuman penjara, penyimpangan seksual semuanyaitu memberikan sumber pengetahuan tentang budaya. Penyimpangancenderung mendorong pembicaraan yang dapat dianalisis. Hal itu jugamerupakan merupakan tutjuan secara teoritis, sebagimana yangdiungkapkan Douglasdalam tindakan penyimpangan dramatis dari batasbudaya dan sebaliknya. Tindakan yang menyimpang batas budaya 4
  5. 5. menjadi didefinisikan sebagai penyimpangan. Karena itu penyimpanganadalah sebuah kategori khusus untuk memahami sifat umum dari maknabudaya. Tugas dasar dari anlisis budaya seharusnya menjadi studi daribatas-batas simbolis untuk konstitusi pokok dari urusan perintah budaya.Batas-batas simbolis memisahkan bidang, menciptakan kontek dalampikiran yang berarti dapat menggantikan tindakan. Selain itu yangdipisahkan oleh batas-batas simbolis dapat juga join dengan mereka.Sebagaimana yang diamati oleh Douglas dan Berger bahwa salah satuyang mampu untuk mendorong (secara fisik dan mengandung ibarat) darisatu bidang untuk lainnya umumnya ungkapan, konstitusi juga merupakandasar untuk menguji perbedaan budaya (khususnya dalam teoriHabermas mengenai evolusi budaya). Berkenaan dengan budaya sebagai aspek yang dapat diobservasidari tingkah laku manusia biasa mengeaskan pada realitas batas-batassimbolis. Sumber yang dikeluarkan dan pemeliharaan aktivitas sosialdapat dipahami sebagai usaha untuk mepertajam batas untukmendefinisikan ulang perbedaan budaya. Pelajarn lain dari teoritis adalah perspektif metateoritis pada alamdari kultur modern yang penting untuk menjadi pedoman seleksi dariproblem konkrit dari penyelidikan. Namun dalam perspektifnya seringkaliterjadi dan bersandar pada asumsi-asumsi tentang pelajaran sejarahbukan subjek diri mereka untu penyelidikan empiris. Analisis budaya dapatdiikuti dengan satu refrensi eksplisit atau lainnya dari kerangkametateoritical. Pada kasus lain proses selektif akan menjadi timbul .Sebagai petunjuk praktis analisis budaya memerlukan diskusi tentangmanfaat konsep alternatif dari sejarah. Pada beberapa kasus hal tersebut merupakan fakta batas budayayang termasuk isu – antara alternatif konsep absolut, antara diri danmasyarakat, antara keadaan dan diri, antara keadaan dan ekonomi danyang lainnya. Kemudian analisis praktis dari problem budaya kontemporer 5
  6. 6. dapat diperluas dengan mengeksplorasi cara pada batas-batas yangdidefinisikan dan menjadi gejala mendefinisikan budaya kembali. Permulaan ini terlihat produktif dari wawasan selanjutnya dalamstudi tentang budaya. Sebagai contoh sepasang struktur bahasa yangsecara penuh dieksploitasi oleh Levi-Strauss meskipun tidak secarauniversal Levi Strauss percaya. Contoh : bagus jahat, gelap terang. Batas-batas simbolis sebagai keseimbangan antara tiap pasangan yangmewakili benda signifikan untuk diselidiki. 6
  7. 7. BAB III KESIMPULAN Untuk melakukan penyelidikan tentang budaya perlu dilakukananlisis budaya. Sehingga analisis budaya ini dianggap sebagai studiterhadap dimensi simbolic expresive dari kehidupan sosial. Subjek darianalisis budaya adalah apa yang nampak dalam tindakan objektif,peristiwa-peristiwa, ungkapan-ungkapan dan obyek dari interaksi sosial.Level yang tepat dari analisis adalah pola antara interaksi dengan bendadari pada usaha untuk mereduksi budaya lain sebagai bagian dari internalindividu atau kondisi jasmaniah dari masyarakat. Untuk itu analisis budayaberbeda dari disiplin ilmu yang lain seperti psikologi sosial atau sosiologidalam aspek unik dari tingkah laku Kerangka yang jelas dari analisis budaya ini muncul dari Peter L.Berger, Mary Douglas, Michel Foucault dan Jurgen Habermas yangmengidentifikasi budaya sebagai aspek nyata dari realitas sosial. Pola-pola yang muncul merupakan subyek untuk diobservasi dan diinterpretasisecara teoritis. Mereka adalah tokoh-tokoh dalam ilmu sosial yang berasaldari daratan Eropa. Ada empat pendekatan dalam menganalisis budaya yang terbesardi wilayah Eropa, karena itu sebagian mungkin tidak cukup dikenal olehbangsa Amerika. Empat pendekatan itu sebagai berikut :1. pendekatan fenomenologi yang dikemukakan oleh Peter L Berger pada pertengahan tahun 1960-an. Fenomenologi ini diilhami dari pendapat Hegel dan merupakan refleksi dari filsafat teori tentang manusia.2. Pendekatan antropologi budaya yang dikemukakan oleh Mary Douglas tentang dari tradisi British. Douglas mengemukakan pandangannya tentang ritual, simbol-simbol, tata kehidupan sosial dan perbandingan kosmologis. Pandangan Dougla ini merupakan inspirasi dari Manowski dan Durkheim tentang sistem klasifikasi dalam masyarakat. 7
  8. 8. 3. Pendekatan Strukturalisme yang dikemukakan oleh Michel Foucault, yang memberikan pandangan tentang tradisi strukturalisme dari analisis budaya perancis.4. Pendekatan Teori kritik yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas. Pendekatan ini merupakan upaya untuk menjamin adanya perubahan- perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. 8
  9. 9. DAFTAR PUSTAKAJudistira Garna, 1996, Ilmu-ilmu Sosial Dasar konsep Posisi, Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran, BandungWuthnow, Robert, James Davison, Albert Bergesen and Edith Kurzweil, 1984, Cultural Analysis, Boston, London 9

×