Hukum dasar kimia dan stoikiometr1
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Hukum dasar kimia dan stoikiometr1

  • 2,370 views
Uploaded on

. Hukum Kekekalan Massa ( Lavoisier) ...

. Hukum Kekekalan Massa ( Lavoisier)
2. Hukum Proust ( Hukum Perbandingan tetap)
3. Hukum Dalton ( Hukum Perbandingan Berganda)
4. Hukum Boyle
5. Hukum Gay Lussac
6. Hipotesis avogadro
7. Konsep Ar
8. Konsep Mr
9. Konsep mol
10. Massa molar
11. Volume molar
12. Pereaksi Pembatas

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,370
On Slideshare
2,370
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
47
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. HUKUM DASAR KIMIA DAN STOIKIOMETRI (Tugas Telaah Kurikulum Kimia Sekolah 1) Disusun oleh Kelompok 5 Ekayana Putriyani 1213023021 Irma Ria Ferdianti 1213023033 Ratna Manika 1213023055 Risko Apriyandi 1213023059 Sinta Chintia T 1213023065 Yogi Apriyanto 0813023021 ROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2013 1
  • 2. KI, KD, MATERI, PRODUK, PROSES, SERTA INDIKATOR Identitas : Kelas X Semester 2 Kompetensi Dasar : 1.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif. 2.3 Menunjukkan perilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan V 3.11 Menerapkan konsep massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia. 4.11 Mengolah dan menganalisis data terkait massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia. Materi : Hukum Dasar Kimia dan Stoikiometri Produk : 1. Hukum Kekekalan Massa ( Lavoisier) 2. Hukum Proust ( Hukum Perbandingan tetap) 3. Hukum Dalton ( Hukum Perbandingan Berganda) 4. Hukum Boyle 2
  • 3. 5. Hukum Gay Lussac 6. Hipotesis avogadro 7. Konsep Ar 8. Konsep Mr 9. Konsep mol 10. Massa molar 11. Volume molar 12. Pereaksi Pembatas Proses : 1. Menganalisis reaksi yang terjadi dalam perkaratan besi. 2. Mengkaji konsep redoks berdasarkan pelepasan dan pengikatan oksigen. 3. Mengkaji kekurangan konsep redoks berdasarkan pelepasan dan pengikatan oksigen 4. Menentukan variabel bebas, variabel kontrol dan variabel terikat pada percobaan reaksi reduksi dan oksidasi. 5. Menentukan hipotesis percobaan. 6. Merancang prosedur percobaan yang akan dilakukan. 7. Menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan reaksi reduksi oksidasi. 8. Merancang tabel hasil pengamatan. 9. Melakukan percobaan reaksi reduksi oksidasi menggunakan reagen larutan MgSO4, larutan CuSO4, logam Mg dan logam Cu. 10. Mengamati perubahan yang terjadi pada percobaan. 11. Membandingkan hasil pengamatan dengan hipotesis awal percobaan. 12. Mengkaji konsep reaksi reduksi dan oksidasi berdasarkan pelepasan dan pengikatan elektron pada percobaan. 13. Menganalisis konsep bilangan oksidasi dari atom, ion dan molekul. 3
  • 4. 14. Mengkaji konsep reaksi reduksi dan oksidasi berdasarkan kenaikan bilangan oksidasi pada percobaan. 15. Menganalisis konsep oksidator dan reduktor berdasarkan persamaan reaksi. 16. Mengkaji reaksi reduksi oksidasi pada reaksi antara NaOH dan Cl2. 17. Menganalisis konsep autoredoks berdasarkan reaksi oksidasi dan reduksi antara NaOH dan Cl2. 18. Mengidentifikasi penyetaraan persamaan reaksi reduksi oksidasi dengan metode bilangan oksidasi. 19. Membandingkan kecenderungan beberapa zat dalam mengalami oksidasi dan reduksi berdasarkan percobaan potensial reduksi. 20. Mengidentifikasi penyetaraan persamaan reaksi reduksi oksidasi dengan metode setengah reaksi. Indikator :1.1.1 Menyadari bahwa adanya reaksi reduksi oksidasi merupakan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa 2.1.1 Menunjukkan rasa ingin tahu tentang reaksi reduksi oksidasi 3.9.1 Menjelaskan konsep reduksi oksidasi berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen. 3.9.2 Menyebutkan kekurangan konsep reduksi oksidasi berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen. 3.9.3 Menjelaskan konsep reduksi oksidasi berdasarkan pengikatan dan pelepasan elektron. 3.9.4 Menyebutkan pengertian bilangan oksidasi. 3.9.5 Menentukan bilangan oksidasi dari beberapa atom dalam molekul dan ion. 4
  • 5. 3.9.6 Menjelaskan konsep reduksi oksidasi berdasarkan kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi. 3.9.7 Menjelaskan konsep reduktor dan oksidator pada reaksi reduksi oksidasi. 3.9.8 Menyebutkan oksidator dan reduktor dalam reaksi antara NaOH dan CL2 . 3.9.10 Menjelaskan konsep autoredoks. 3.9.11 Menentukan persamaan reaksi yang setara menggunakanmetode bilangan oksidasi. 3.9.12 Menyebutkan potensial reduksi beberapa zat. 3.9.13 Mengelompokkan zat – zat yang cenderung mengalami oksidasi dan zat – zat yang cenderung mengalami reduksi berdasarkan nilai potensial reduksinya. 3.9.14 Menjelaskan konsep tentang kecenderungan oksidasi dan reduksi zat – zat dalam deret volta. 3.9.15 Menentukan persamaan reaksi yang setara menggunakan metode setengah reaksi. 4.9.1 Menentukan variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol pada percobaan reaksi reduksi oksidasi. 4.9.2 Menentukan hipotesis percobaan. 4.9.3 Menentukan prosedur percobaan yang akan dilakukan. 4.9.4 Menggambarkan rancangan tabel hasil pengamatan. 4.9.5 Melakukan percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah didiskusikan. 5
  • 6. 4.9.6 Menuliskan pengamatan hasil pengamatan berdasarkan pada pengamatan tabel hasil yang telah dilakukan. 4.9.7 Menyimpulkan hasil percobaan mengenai penentuan zat yang mengalami oksidasi dan reduksi. SKENARIO PEMBELAJARAN Kegiatan Pendahuluan Guru masuk kedalam kelas dan mengucapkan salam, kemudian guru mengecek kehadiran murid. Guru : “ Anak – anak, apakah kalian pernah memperhatikan kayu terbakar?”. Murid : “ pernah bu ”. Guru : “ Perubahan apa saja yang terjadi pada proses pembakaran kertas itu? ”. Murid : “ Perubahan fisik bu, karena bentuknya berubah menjadi abu dan warnanya juga berubah menjadi abu - abu ”. Murid lain : “ Selain itu ada perubahan massa juga bu. Karena pada abu yang dihasilkan tidak sebanyak kayu yang kita bakar ” Guru : “ Oke, pendapat kalian ibu tampung. Apakah ada yang lain yang ingin berpendapat untuk menyanggah atau menambahi? ”. Murid : “ bu, saya ingin menyanggah bu. Pada saat proses pembakaran kayu menurut saya sebenarnya tidak terjadi perubahan massa karena pada saat proses pembakaran kayu ada zat lain yang dihasilkan selain abu”. Guru : “ iya nak, zat apa yang kamu maksud? ”. 6
  • 7. Murid : “ asap bu atau gas. Kan kalau gas tidak keliatan jadi tidak bisa di timbang”. Guru : “ Anak – anak, pendapat teman kalian ibu terima. Perubahan yang terjadi pada pembakaran kayu hanyalah perubahan fisik seperti berubah bentuk dan warna, sedangkan perubahan massa memang tidak terjadi seperti pendapat teman kalian yang kedua”. Murid : “ Jadi benar bu kalau ada zat lain yang dihasilkan selain abu? ”. Guru : “ benar nak, ada zat lain yang dihasilkan yaitu gas. Ibu akan sedikit meralat pendapat teman kalian tadi. Gas itu walaupun wujudnya tidak dapat kita lihat sebenarnya dapat ditimbang, apabila pembakaran kayu tersebut dilakukan dalam system yang tertutup. Nah nak, ini ada hubungannya dengan hukum dasar kimia yang pertama ”. Murid : “ o… hukum kekekalan massa ya bu? ”. Guru : “ tepat sekali, oleh karena itu mari kita buka buku masing – masing dan kita mulai materi kita tentang hukum dasar kimia ”. Murid : “ baik bu ”. Kegiatan Inti Kegiatan Inti Guru : “ Anak-anak pada hari ini kita akan mempelajari tentang hukumhukum dasar ilmu kimia diantaranya yaitu hukum kekakalan massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan ganda (Dalton), .................. . Baiklah anak-anak, kita akan mempelajari tentang hukum dasar kimia yang pertama, yaitu hukum kekekalan massa (Hukum Lavoisier). Agar lebih mudah mempelajarinya kita akan melakukan suatu percobaan. Sebelum melakukan percobaan 7
  • 8. Ibu akan membagi kelompok. Nanti setelah ibu bagikan kelompoknya, kalian duduk berkelompok sesuai dengan kelompok yang ibu bagi ya nak. Mengerti ?” : “ mengerti Buk… ” Siswa (Guru membagikan kelompok dan siswa duduk sesuai kelompok yang telah ditentukan guru) Berikut adalah lembar kerja siswa mengenai hukum kekekalan massa yaitu : LKS 1 HUKUM KEKEKALAN MASSA Tujuan Percobaan : Membuktikan bahwa massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Alat dan Bahan: 1. Labu Erlenmeyer 2 buah 2. Tabung reaksi kecil 1 buah 3. Pipet tetes 1 buah 4. Benang 5. Sumbat gabus 6. Neraca 7. Batu pualam 1 gram 8. Larutan HCl 4 mL Prosedur Percobaan: 1. Masukkan 1 gram batu pualam ke dalam labu erlenmeyer 250 mL dan masukkan 4 mL larutan HCl ke dalam tabung reaksi kecil. 2. Ikat tabung reaksi kecil dengan benang dan masukkanke dalam labu erlenmeyer yang berisi batu pualam (usahakan agar larutan HCl tidak tumpah), kemudian tutup erlenmeyer dengan sumbat gabus. 3. Timbang labu erlenmeyer beserta isinya. Catat massanya. 4. Tumpahkan larutan HCl yang ada dalam tabung reaksi kecil ke dalam labu 8
  • 9. erlenmeyer. Amati reaksi yang terjadi hingga semua batu pualam habis bereaksi. 5. Timbang kembali labu erlenmeyer beserta isinya. Catat massanya. 6. Ulangi langkah 1-5, namun erelnmeyer dalam keadaan terbuka. Hasil Pengamatan Percobaan Massa Sebelum reaksi (gram) Sesudah reaksi (gram) erlenmeyer tertutup dan isinya Massa erlenmeyer terbuka dan isinya Pertanyaan: 1. Reaksi apa yang terjadi saat HCl bereaksi dengan batu pualam? 2. Bagaimana massa erelnmeyer sebelum dan sesudah reaksi? 3. Apa perbedaan massa erlenmeyer dalam keadaan terbuka dan tertutup? 4. Apa yang dapat dismpulkan dari percobaan tersebut? Guru : ” adakah yang ingin ditanyakan dari prosedur percobaan yang telah ibu berikan apakah sudah mengerti anak-anak ?” Siswa : ” sudah Bu..” Guru : ” baiklah, sekarang pada masing-masing kelompok lakukan percobaannya..” Siswa : ” Baik Bu..” (Siswa kelompok 2) Siswa : ” Bu, pada labu erlenmeyernya terdapat gelembung-gelembung..” 9
  • 10. Guru : ” iya, apakah ada yang tahu mengapa terdapat gelembunggelembung di dalam labu?” Siswa : ” karena terjadi reaksi kimia Bu.. kan salah satu ciri dari terjadinya reaksi kimia adalah timbul gelembung gas Bu...” Guru : ” iya benar Nak..” (Siswa kelompok 4) Siswa : ” karena HCl bereaksi dengan batu pualam Buk..” Guru : ” iya, benar. Apakah sekarang batu pualamnya telah habis bereaksi ?” Siswa : ” sudah Bu..” Guru : ” Jika batu pualamnya telah habis bereaksi dengan HCl sekarang timbang labu erlenmeyernya tuliskan data yang diperoleh pada hasil pengamatan dengan jujur ya nak... jangan lupa timbang labu erlenmeyrnya beserta dengan sumbat gabusnya..” Siswa : ” Baik Buk..” (Siswa mulai menimbang labu erlenmeyer dan menuliskan data hasil pengamatan dengan jujur) Guru : ”apakah dari masing-masing kelompok telah selesai menimbang labu erlenmeyer dan menuliskan datanya ? ” Siswa : ” Sudah Bu,” Guru : ”baiklah sekarang lihat prosedur percobaan yang keenam dan lakukan prosedur keenam, langkah-langkahnya sama seperti yang tadi namun labu erlenmeyernya tidak perlu ditutup dengan sumbat gabus. Mengerti ?” Siswa : ” mengerti Bu..” (Selanjutnya siswa kembali meneruskan percobaan untuk prosedur yang selanjutnya) 10
  • 11. Guru : ” apakah masing-masing kelompok telah selesai melakukan percobaannya ?” Siswa : ” sudah Bu...” Guru : ” selanjutnya kembali ditimbang labu erlenmeyernya dan tuliskan data hasil pengamatannya kembali.” Siswa : ” Baik Bu..” Guru : ” baiklah jika sudah selesai melakukan percobaan nya dan telah mendapatkan data hasil pengamatannya, sekatang ibu minta dari perwakilan kelompok ada yang menjelasakan hasil pengamatan yang tealh didapatkan setelah melakukan percobaan. ” (masing-masing siswa dari beberapa kelompok mengangkat tangan) Guru : ” baiklah, silahkan dari kelompok 1 perwakilan dari kelompoknya unutk menjelaskan hasil pengamatan kelompoknya.” Siswa : ” baik Bu. Saya mewakili kelompok 3 akan memprsentasikan hasil yang kami dapat dari percobaan tadi. Pertama kali, kami memasukkan 1 gram batu pualam ke dalam labu erlenmeyer 250 mL dan memasukkan 4 mL larutan HCl ke dalam tabung reaksi kecil. Kemudian mengikat tabung reaksi kecil dengan benang dan memasukkan ke dalam labu erlenmeyer yang berisi batu pualam (mengusahakan agar larutan HCl tidak tumpah). Lalu menutup erlenmeyer dengan sumbat gabus. Selanjutnya, menimbang labu erlenmeyer beserta isinya dan mencatat massanya. Massanya adalah 148,45 gram. Kemudian, saat larutan HCl ditumpahkan, muncul gelembung-gelembung gas. Dan setelah gelembung habis kemudian menimbang kembali labu erelnmeyer beserta isinya, didapat massanya 148,4 gram.” 11
  • 12. Guru : ”Iya, terimakasih. Sekarang, dari perwakilan dari kelompok 3 silahkan maju untuk mempresentasikan hasil yang didapat dari percobaan kedua!” Siswa : ” baik Bu.. Saya perwakilan dari kelompok 3 akan mempresentasikan hasil pengamatan dari percobaan kedua. Langkah-langkah yang dilakukan sama seperti pada percobaan pertama, hanya saja pada percobaan ini, labu erlenmeyer tidak ditutup dengan sumbat gabus. Massa labu erlenmeyer beserta isinya sebelum bereaksi adalah 123,8 gram. Sedangkan, setelah direaksikan antara batu pualam dengan larutan HCl, muncul gelembung-gelembung gas. Kemudian setelah itu, menimbang kembali labu erlenmeyer beserta isinya dan didapatkan massany adalah 123,6 gram.” Guru : ”ya terimakasih, semuanya tolong perhatikan ke depan! Dari data percobaan hasil pengamatan teman kalian, pada percobaan pertama, massa sebelum reaksi adalah 148,45 gram dan sesudah reaksi massany adalah 148,4 gram. Ada yang bisa menganalis data tersebut?” Siswa 1 : ”Saya, Bu. Berdasarkan data tersebut massa sebelum dan sesudah reaksi adalah hampir sama atau mendekati kesamaan, hanya berbeda 0,05 gram saja. Sehingga dapat dikatakan bahwa massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.” Guru : ” iya, benar nak... selisih data dari hasil pengamatan saat batu pualam telah tepat beraksi dengan HCl selisihnya sangat sedikit sekali bukan ? jadi dapat dikatan bahwa massa zat sebelum dan sesudah bereaksi adalah sama. Lalu untuk percobaan yang selanjutnya bagaimana data hasil pengamatannya?” Siswa : ” Berdasarkan data hasil percobaan kedua, massa zat sebelum dan sesudah bereaksi juga sama, hanya berbeda 0,2 gram saja Buk..” 12
  • 13. Guru : ” benar sekali.. sekarang coba kalian bandingkan antara hasil pengamatan percobaan yang pertama dengan hasil pengamatan percobaan yang kedua.” Siswa : ” bu,, pada percobaan pertama didapatkan hasil pengamatan dari data yang diperoleh perbedaannya hanya 0,05 gram dan pada percobaan kedua berbeda 0,2 gram Bu..” Guru : ” iya benar.. menurut kalian, apakah yang menyebabkan hasil pengamatan yang diperoleh itu terdapat perbedaan yang cukup besar pada percobaan kedua ini ?” Siswa : ” hmmm..... apa ya... Bingung Bu...” Guru : ” apakah tidak ada yang tahu mengapa terjadi demikian ?” Siswa : ” mungkin karena perlakuannya Bu.. yang satu tadi labu erlenmeyernya terbuka dan satu laginya tertutup Bu..” Guru : ” iya nak, Ibu akan menjelaskannya... Pada labu erlenmeyer yang tertutup, semua zat yang dihasilkan selama reaksi berlangsung tidak dapat keluar dan tertampung di labu erlenmeyer. Jadi semua zat hasil reaksi ada didalam labu erlenmeyer itu. ” Siswa : ” Jadi Pada labu erlenmeyer yang terbuka, hasil reaksinya ada yang keluar dari labu erlenmeyer sehingga massanya berkurang. Begitu ya Bu...” Guru : ” Iya benar nak... seandainya hasil reaksi yang keluar tadi dapat dikembalikan ke dalam labu erlenmeyer lagi, apakah massa sebelum dan sesudah reaksi akan sama ?” Siswa : ” jelas tetap akan sama Bu..” Guru : ” iya, pintar. Betul nak.. massa sesudah reaksi akan sama. Jadi menurut kalian sistem apa yang ada pada percobaan pertama dan percobaan kedua yang telah kita lakukan tadi?” 13
  • 14. Siswa : ” sistem yang terjadi pada percobaan yang pertama adalah dilakukan pada sistem tertutup dan dan pada percobaan yang kedua yaitu pada sistem terbuka Bu.. ” Guru : ” Benar,, jadi, pada percobaan pertama berlaku sistem tertutup dan pada percobaan kedua berlaku sistem terbuka. Ada yang dapat menyimpulkan hasil percobaan tad?” Siswa : ” saya Bu.. menurut saya baik dalam sistem terbuka maupun sistem tertutup massa zat sebelum dan sesudah beraksi adalah sama Bu..” Guru : ” Iya, benar nak. Nah jawaban yang telah disebutkan oleh teman kalian tadi merupakan bunyi hukum kekekalan massa menurut Lavoisier. Biasanya juga disebut hukum Lavoisier. Selanjutnya jika dihubungkan dengan sistem tertutup dan terbuka tadi bagaiamana hubungannya, siapa yang ingin melengkapi ?” Siswa : ” saya Bu. Jadi hukum dasar ilmu kimia yang salah satunya hukum kekeklan massa ini baik massa zat sebelum dan sesudah bereaksi adalah sama dalam sistem terbuka maupun sistem tertutup Bu..” Guru : ” nah jadi itu tadi adalah salah satu hukum dasar ilmu kimia. Hukum kekekalan massa. Nah hukum kekelan massa ini menyatakan bahwa massa tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan selama reaksi kimia berlangsung. Dengan kata lain massa dari reaktan sama dengan massa produk. Jadi dapat disimpulkan bahwa massa zat sebelum dan sesudah beraksi adalah sama. Sesuai dengan yang telah disimpulkan bersama-sama tadi. Siapa tokoh yang mencetuskan hukum kekekalan massa?” Siswa : ” Lavoisier, Bu..” Guru : ” iya benar. .. lavoisiser adalah seorang ilmuwan Perancis (17431794). Beliau memiliki nama lengkap Antonie Laurent Lavoisier. 14
  • 15. Beliau adalah orang yang pertama menggunakan kesetimbangan analitis untuk mengamati reaksi kimia yang terjadi. Ternyata ditemukan massa zat sebelum dan sesudah bereaksi tetap sama. Nah, hukum kekekalan massa merupakan salah satu konsep yang paling mendasar dalam mempelajari ilmu kimia. Sampai sini ada yang ingin ditanyakan? Ada yang kurang dimengerti anak-anak ?” Siswa : ” sudah mengerti Bu...” Guru : “ Baiklah kalan begitu, kita masuk ke hukum dasar kimia yang selanjutnya. Silahkan kalian amati kembali LKS yang akan ibu berikan. Silahkan satu orang maju ke depan dan bagikan LKSnya kepada teman – teman yang lain”. ( Seorang murid maju ke depan dan mengambil LKS , kemudian membagikannya kepada teman – teman yang lain ). LKS 2 Joseph Louis Proust (1754-1826) seorang ahli kimia dari Prancis. Pada tahun 1799 menyelidiki perbandingan massa unsur-unsur penyusun senyawa. Indikator : 1. Mengamati data hasil percobaan dan melakukan analisis data untuk merumuskan kesimpulan tentang berlakunya Hukum Proust. 2. Mendeskripsikan hukum Proust melalui data percobaan. Pr Hasil Pengamatan 1. Pada percobaan pembentukan senyawa tembaga (II) sulfida, tembaga dicampur dengan belerang, kemudian dipanaskan. Dari hasil pengamatan diperoleh data sebagai berikut Massa 1 Perbandingan Tembaga Belerang massa (gram) Percobaan ke- Massa (gram) belerang 1,0 0,5 2:1 tembaga 15
  • 16. 2 2,0 1,0 ….. 3 3,0 1,5 ….. 4 4,0 2,0 ….. 5 5,0 2,5 ….. Pertanyaan Kesimpulan apa yang kalian dapatkan? ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... ............................................................................................................................... Guru : “ Bagaimana anak – anak, sudah selesai? ”. Murid : “ Sudah bu ”. Guru : “ Baiklah, sekarang silahkan satu orang menunjukkan hasil pengamatannya”. ( salah seorang murid menunjukkan hasil pengamatannya) LKS 2 Massa Massa Perbandingan Tembaga Belerang massa (gram) (gram) belerang 1 1,0 0,5 2:1 2 2,0 1,0 2:1 3 3,0 1,5 2:1 Percobaan ke- tembaga 16
  • 17. 4 4,0 2,0 2:1 5 5,0 2,5 2:1 Kesimpulan : Perbandingan massa tembaga dan belerang selalu tetap, yakni 2 : 1 Guru : “ Selain itu, ada yang ingin menambahkan kesimpulannya? ”. Murid : “ Sama bu ”. Guru : “Kesimpulan kalian semua benar. Berdasarkan fakta tersebut perbandingan massa antara tembaga dan belerang selalu tetap. ”. Murid : “ Bu, apakah perbandingan massa semua senyawa itu selalu tetap ataukah hanya berlaku untuk senyawa Tembaga Sulfida saja”. Guru : “Pertanyaan yang bagus. Anak – anak, perbandingan massa unsur – unsur dalam semua persenyawaan kimia selalu tetap ”. Murid : “ Bu, apakah kesimpulan dari fakta itu merupakan hukum kimia yang selanjutnya? ”. Guru : “ Iya, tepat sekali. Kasimpulan tadi merupakan Hukum Perbandingan Tetap atau dikenal juga dengan hukum proust ”. Murid : “ Bu, kenapa dinamakan hukum Proust bu? ”. Guru : “ Ada yang tahu? ”. Murid : “ Karena orang yang melakukan pengujian ini untuk pertama kali dan menghasilkan perbandingan tetap adalah Joseph Louis Proust, sehingga hukum perbandingan tetap dinamakan hukum Proust”. Guru : “ Baiklah. Itu tadi yang dinamakan dengan hukum proust. Ada yang ingin ditanyakan?, kalau tidak ada yang ditanyakan, coba salah satu menyebutkan kembali mengenai hukum proust.”. 17
  • 18. : “ Hukum proust menyatakan bahwa perbandingan massa unsur – Murid unsur dalam semua persenyawaan kimia selalu tetap”. : “ Tadi kita telah membahas hukum perbandingan tetap. Sekarang Guru kita akan membahas mengenai hukum perbandingan berganda. Untuk lebih jelasnya kalian kerjakan LKS 3 ”. : “ Baik bu ”. Murid LKM 3 No Senyawa Massa Senyawa Massa Oksigen Massa unsur (gram) kedua (gram) 1 H2O 18 16 2 2 H2O2 34 32 2 3 CO 28 16 12 4 CO2 44 32 12 5 CuO 81 16 65 6 CuO2 97 32 65 Pertanyaan 1. Bagaimana perbandingan unsur oksigen antara senyawa 1: senyawa 2, senyawa 3: senyawa 4, dan senyawa 5: senyawa 6? 2. Bagaimana perbandingan unsur oksigen antara senyawa 1: senyawa 2, senyawa 3: senyawa 4, dan senyawa 5: senyawa 6? 3. Bagaimanakah hubungan kedua hasil pengamatan kalian dengan hukum perbandingan berganda? Guru : “ Apakah sudah diskusi kalian anak – anak?”. Murid : “ Sudah bu, kami sudah menemukan jawabannya ”. Guru : “ Baik silahkan jelaskan ”. 18
  • 19. Murid : “ Jawaban pertanyaan pertama berdasarkan tabel yaitu perbandingan unsur hidrogen pada senyawa 1 dan 2 adalah sama yaitu 2:2, perbandingan unsur karbon pada senyawa 3 dan 4 adalah sama yaitu 1:1, begitu pula perbandingan unsur tembaga pada senyawa 5 dan 6 adalah sama yaitu 1:1”. Guru : “ Iya, tepat sekali nak. Bagaimana dengan pertanyaan selanjutnya? Silahkan ada yg ingin menjelaskan? ”. Murid : “ saya bu, menurut saya untuk jawaban yang kedua berdasarkan tabel yaitu perbandingan unsur oksigen pada senyawa 1 dan senyawa 2 adalah 1:2, pada senyawa 3 dan senyawa 4 adalah 1:2, dan begitu pula pada senyawa 5 dan senyawa 6 adalah 1:2”. Guru : “ Nah anak anak, jadi pada senyawa yang mengandung oksigen dan hidrogen yaitu senyawa 1 apa yang dapat kalian simpulkan? ”. Murid : “ perbandingan unsur hidrogennya adalah sama bu, namun perbandingan unsur oksigennya adalah 1:2. ”. Guru : “ya nak, bagaimana dengan senyawa 3 dengan4, dan 5 dengan 6?”. Murid : “ Sama bu. Yang perbandingannya tetap adalah unsur karbon dan tembaga, sedangkan perbandingan unsuur oksigennya adalah 1:2 pada senyawa 3 dengan 4, dan 5 dengan 6”. Guru : “ Baiklah kesimpulan kalian tepat sekali. sekarang apakah ada yang mengetahui apa hubungan dari perbandingan tersebut ”. Murid : “ Menurut saya, pada senyawa 1 dan 2 itu kan sama – sama mengandung unsur hidrogen dan oksigen. Namun, perbandingan massa unsur oksigen pada massa unsur hidrogen yang tetap adalah 1:2. Menurut saya, inilah yang dinamakan dengan hukum perbandingan berganda, karena perbandingan massa oksigen pada 19
  • 20. senyawa yang kedua yaitu kelipatan atau penggandaan dari senyawa yang pertama ”. Guru : “ Iya betul sekali pendapat teman kalian, namun ada yang perlu ditambahkan sedikit lagi. Apakah ada yang bisa menambahkan? ”. Murid : “ Saya bu, karena kelipatannya menggunakan angka 1, 2 dan seterusnya menurut saya kelipatan ini menggunakan bilangan bulat dan yang paling sederhana ”. Guru : “Tepat sekali anak anak. Apa yang disampaikan teman kalian sudah benar. Dari kedua pendapat teman kalian siapa yang bisa menggabungkan dan menghubungkan dengan hukum perbandingan berganda ”. Murid : “ Saya bu, hukum perbandingan berganda menyatakan bahwa apabila dua unsur dapat membentuk satu atau lebih senyawa, maka perbandingan massa unsur dalam senyawa senyawa tersebut akan menunjukkan bilangan bula yang paling sederhana ”. Guru : “ Nah, anak – anak inilah yang dinamakan dengan hukum perbandingan berganda yang dicetuskan oleh john Dalton. Apakah ada yang ingin ditanyakan? ”. Murid : “ Saya bu? Mengapa yang unsur hidrogen, karbon dan tembaga perbandingan massanya tetap?”. Guru : “ Pertanyaan bagus sekali nak. Unsur hidrogen, karbon dan tembaga pada senyawa tersebut tetap unsur – unsur tersebut yang digunakan sebagai variable kontrolnya, dan unsur oksigen adalah variable bebasnya ”. Murid : “ Baik bu. Saya paham sekarang ”. Guru : “ Oke, apakah ada yang ingin bertanya kembali? ”. Murid : “ Tidak bu ”. 20
  • 21. Guru : “ Anak – anak, dalam kehidupan sehari-hari kita tentu pernah membeli gula atau beras di warung bukan? ” Murid : “ iya bu.” Guru : “ jika kita membeli gula atau beras apa yang biasanya kita ucapkan?” Murid : “ beli beras 1 Kg atau beli gula 1 Kg” Guru : “ nah, dengan begitu, banyaknya gula atau beras yang kita beli itu dihitung bukan berdasarkan banyaknya butiran beras atau gula. Tetapi berdasarkan massanya yang memiliki satuan Kg” Murid : “ iya juga ya bu. Lalu apa hubungannya dengan materi yang akan kita bahas hari ini bu?” Guru : “ ada yang tahu materi apa yang akan kita bahas hari ini?” Murid : “ stoikiometri atau perhitungan kimia bu” Guru : “ benar, dalam kimia kita mengenal atom, molekul dan ion bukan?” Murid : “ iya bu” Guru : “ siapa yang tahu bagaimana cara menghitung banyaknya atom, molekul dan ion dalam suatu senyawa?” Murid : “ atom, molekul dan ion kan sangat kecil bu. Bahkan ketiganya tidak dapat diamati secara langsung. Bagaimana ya bu cara menghitungnya?” Guru : “ ayo coba kaitkan dengan contoh saat kita membeli gula atau beras tadi”. Murid : “ jika dikaitkan dengan contoh gula dan beras tadi, berarti atom, molekul dan ion dalam suatu senyawa punya satuan gitu ya bu?” Guru : “ benar, jadi untuk menentukan banyaknya atom, molekul atau ion dalam suatu senyawa, kita dapat menghitung jumlah partikelnya. Nah, perhitungan ini yang kemudian disebut dengan stoikiometri atau perhitungan kimia” Murid : “ bu, setau saya jumlah partikel itu juga nilainya masih sangat besar. Apa tidak ada satuan yang lebih sederhana yang bisa digunakan bu?” 21
  • 22. Guru : “ pertanyaan yang bagus, jadi jawabannya adalah ada. Satuan itu adalah mol yang nanti juga akan kita bahas. Sekarang satu anak maju ke depan mengambil LKS ini kemudian dibagikan ke masingmasing anak, 1 orang hanya mendapat 1 rangkap LKS” (guru membagikan LKS untuk para siswa, LKS terlampir) LKS 4 HUKUM GAY LUSSAC Tujuan Mengamati dan membuktikan Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay Lussac) berdasarkan data percobaan. Alat dan Bahan Data percobaan Langkah Kerja Cermati data reaksi hidrogen dan oksigen membentuk uap air berikut. Percobaan dilakukan pada kondisi temperatur dan tekanan yang sama. Tabel pengamatan Percobaan Hidrogen (Liter) Oksigen (Liter) Uap Air (Liter) 1 2 1 2 2 1 0,5 1 3 …. 2 4 4 5 …. 5 5 3 1,5 …. Pertanyaan: Jawablah pertanyaan berikut untuk menyimpulkan fakta. 1. Tentukan perbandingan volume hidrogen; oksigen; uap air untuk percobaan 1 dan percobaan 2. hidrogen oksigen uap air 22
  • 23. Percobaan 1 : : Percobaan 2 : : 2. Tentukan volume hidrogen pada percobaan 3 sesuai dengan perbandingan volume percobaan 1 dan percobaan 2. 3. Tentukan volume oksigen pada percobaan 4. 4. Tentukan volume uap air pada percobaan 5. 5. Bandingkan perbandingan volume hidrogen; oksigen; uap air dengan perbandingan koefisien reaksi H2(g) + O2(g)→ H2O(g) setelah disetarakan. 6. Apakah menunjukkan perbandingan yang sama? *setelah selesai, sampaikan hasil yang didapatkan pada nomer 6 pada guru Joseph Louis-Gay Lussac, seorang ahli kimia Prancis pada 1808 mengamati volume gas-gas yang terlibat dalam suatu reaksi. Pengamatan menunjukkan bahwa pada reaksi pengukuran temperatur dan tekanan yang sama diperoleh hasil sebagai berikut. a. Satu bagian volume gas hidrogen bereaksi dengan satu bagian volume gas klorin menghasilkan dua volume gas hidrogen klorida: H2(g) + Cl2(g)→2 HCl(g) b. Dua bagian volume gas hidrogen bereaksi dengan satu bagian volume gas oksigen menghasilkan 2 bagian volume air: 23
  • 24. 2 H2(g) + O2(g)→ 2 H2O(g) 7. Apa bunyi hukum gay lussac atau yang dikenal dengan hukum perbandingan volume adalah ….. Guru : “ untuk dapat melakukan perhitungan kimia ada beberapa hukum dasar kimia. Nah, untuk kali ini kita akan membahas tentang hukum gay lussac. Untuk mengetahui hukum gay lussac silahkan diisi LKS yang sudah dibagikan tadi” (setelah beberapa menit) Murid : “ bu. Sudah selesai. Hasil dari analisis yang saya lakukan adalah perbandingan volume hidrogen; oksigen; uap air dari data dengan perbandingan koefisien reaksi H2(g) + O2(g)→ H2O(g) setelah disetarakan adalah sama yaitu 2 : 1: 2.” Guru : “bagaimana dengan yang lain. Apakah hasilnya sama atau ada berbeda?” Murid : “ sama bu” Guru : “ jika kita sudah melakukan pengolahan data dan menganalisis data, sekarang kita amati data dari percobaan yang dilakukan oleh gay lussac seperti yang terdapat pada LKS kalian Pengamatan menunjukkan bahwa pada reaksi pengukuran temperatur dan tekanan yang sama diperoleh hasil sebagai berikut. c. Satu bagian volume gas hidrogen bereaksi dengan satu bagian volume gas klorin menghasilkan dua volume gas hidrogen klorida : H2(g) + Cl2(g)→2 HCl(g) d. Dua bagian volume gas hidrogen bereaksi dengan satu bagian volume gas oksigen menghasilkan 2 bagian volume air : 2 H2(g) + O2(g)→ 2 H2O(g) 24
  • 25. Guru : “ Ada yang bisa menyimpulkan jadi bagaimana hukum gay lussac atau hukum perbandingan volume? ” Murid : “ Perbandingan volume gas-gas sama dengan perbandingan koefisien dalam reaksi yang sama.” Guru : “ bagus, hanya kurang sedikit lagi. ada yang bias melengkapi?” Murid : “ Pada kondisi temperatur dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas-gas sama dengan perbandingan koefisien dalam reaksi yang sama.” Guru : “ tepat sekali. Ada yang bias menuliskan secara matematis?” Murid : (menuliskan di papan tulis) Perbandingan koefisien dalam reaksi kimia = Perbandingan volume pada keadaan suhu dan tekanan yang sama Guru : “ benar. Selanjutnya setelah memahami dengan bagaimana hukum perbandingan volume oleh gay lussac. Sekarang kita akan mengaitkannya dengan jumlah partikel sebagaimana sedikit kita bahas di awal pertemuan. Silahkan dilanjutkan untuk mengisi LKS 2” LKS 2 HIPOTESIS AVOGADRO Tujuan Mengamati dan menemukan hubungan antara volume gas dan jumlah molekulnya Alat dan Bahan Data percobaan Langkah Kerja Cermati data percobaan berikut : Reaksi hidrogen + klor → hidrogen klorida 25
  • 26. Tabel Pengamatan Percobaan Hidrogen (Liter) Oksigen (Liter) Uap Air (Liter) 1 1x molekul 1x molekul 1x molekul 2 2x molekul 2x molekul 4x molekul 3 3x molekul 3x molekul 6x molekul 4 4x molekul 4x molekul 8x molekul 5 5x molekul 5x molekul 10x molekul Jawablah pertanyaan berikut untuk menyimpulkan fakta. 1. Hitunglah jumlah molekul klor pada percobaan 3. …………………………………………………………………………………. 2. Hitunglah jumlah molekul hidrogen, klor, dan hidrogen klorida pada percobaan 4 dan percobaan 5. …………………………………………………………………………………. 3. Berapakah perbandingan jumlah molekul hidrogen, klor dan hidrogen klorida? …………………………………………………………………………………. 4. Berapakah perbandingan volume hidrogen, klor dan hidrogen klorida? …………………………………………………………………………………. 5. Apakah perbandingan jumlah molekul dan perbandingan volume menunjukkan nilai yang sama? …………………………………………………………………………………. * setelah selesai, sampaikan hasil yang didapatkan pada nomer 5 pada guru Seorang ahli fisika Italia, Amedeo Avogadro pada 1811 menemukan bahwa gabungan dari atom-atom yang sama membentuk suatu molekul (bukan merupakan atom-atom bebas). Dengan demikian, Hipotesis Avogadro adalah (setelah beberapa menit) Murid : “perbandingan jumlah molekul dan perbandingan volume menunjukkan nilai yang sama” Guru : “bagaimana dengan yang lain. Apakah hasilnya sama atau ada berbeda?” Murid : “ sama bu” 26
  • 27. Guru : “ nah, selanjutnya siapa yang bisa menjelaskan bagaimana hipotesis Avogadro?” Murid : “Pada temperatur dan tekanan yang sama, volume yang sama dari semua gas mengandung jumlah molekul yang sama.” Guru : “ tepat sekali. Ada yang bisa menuliskan secara matematis?” Murid : (menuliskan di papan tulis) Pada keadaan suhu dan tekanan yang sama Perbandingan molekul = Perbandingan volume Guru : “ benar. Setelah memahami hubungan jumlah molekul atau jumlah partikel dengan volume. Seperti yang sudah sempat ditanyakan oleh teman kalian, ada satuan yang lebih sederhana yang dapat digunakan agar nilai banyaknya yang dapat dihitung tidak terlalu besar. Satuan ini adalah mol. Berikut ini ada beberapa data yang sesuai fakta, yaitu (guru menampilkan di slide) Zat mol Jumlah partikel Na 2 1,204 x 1024 H2O 3 1,806 x 1024 O2 5 3,01 x 1024 Guru : “ siapa yang dapat menganalisis data di slide tersebut?” Murid : “ saya bu, jika jumlah partikel dibagi dengan mol akan menghasilkan nilai sebesar 6,02 x 1023.” Guru : “ benar. Nah 6,02 x 1023 inilah yang biasa disebut bilangan Avogadro. Ada yang bisa menyimpulkan 1 mol senilai dengan berapa jumlah partikel?” Murid : “ 1 mol sama dengan 6,02 x 1023 jumlah partikel” Guru : “ benar, jika diamati lebih dalam lagi jumlah partikel ini ada yang berupa atom dari suatu unsur atau berupa molekul pada suatu senyawa. Jadi 1 mol juga dapat diartikan sama dengan…” Murid : “ 1 atom unsur atau 1 molekul senyawa” 27
  • 28. Guru : “ jawaban yang bagus. Perlu diketahui bahwa banyaknya zat yang mengandung partikel-partikel zat itu disamaratakan dengan sebanyak atom yang terkandung dalam 12 gram 12C” Murid : “ ooo. Kok bisa gitu ya bu? Kenapa 12C yang menjadi acuan?” Guru : “ itu sudah merupakan perjanjian antar para ahli. Ngasal yang ini mbak  Guru : “setelah mengetahui tentang mol, selanjutnya akan dianalisis bagaimana hubungan mol dengan massa. sekarang coba amati SPU yang kalian miliki. Pada bagian bawah terdapat angka-angka. Angka ini menunjukkan massa atom relative dari suatu atom.” Murid : “ apa itu bu massa atom relative?” Guru : “Massa Atom Relatif atau Ar adalah perbandingan massa rata-rata suatu atom terhadap 1/12 massa 1 atom isotop C-12. Murid : “mengapa terhadap 1/12 1 massa 1 atom isotop C-12 bu?” Guru : “IUPAC telah menetapkan 1 sma = 1/12 massa satu atom C-12 isotop. Murid : “ bu, di SPU saya kan massa atom relative Atom H adalah 1,008. Nah, 1,008 ini didapatkan darimana ya bu?” 28
  • 29. Guru : ”atom H mempunyai kerapatan 8,400% dari kerapatan C-12. Jadi, massa atom H = 0,08400 x 12,00 sma = 1,008 sma. Dari perhitungan yang sama kita bisa mengetahui massa atom yang lain.” Murid : “ ooo. Bu, kalo ada massa atom relative berarti ada massa molekul relative juga ya?” Guru : “ ya, ada yang tahu apa itu massa molekul relative atau yang biasa dituliskan Mr?” Murid : “kalo Massa Atom Relatif atau Ar adalah perbandingan massa ratarata suatu atom terhadap 1/12 massa 1 atom isotop C-12. Maka massa molekul relative adalah perbandingan massa rata-rata suatu molekul terhadap 1/12 massa 1 atom isotop C-12.” Murid : “ lalu bagaimana cara menghitung massa molekul relative ini bu?” Guru : “ ada yang tahu?” Murid : “belum bu..” Guru : “ pengertian molekul ada yang tahu?” Murid : “ molekul adalah gabungan unsur-unsur dengan pemakaian pasangan elektron secara bersama” Guru : “ jika kita sudah mengetahui massa dari unsur. Maka massa dari gabungan unsur-unsur dapat dihitung dengan cara?” Murid : “ menjumlahkan massa unsur-unsurnya ya bu?” Guru : “benar sekali. Nah, jika kita sudah mengetahui massa atom dan massa molekul, bagaimana dengan massa 1 mol zat atau massa molar?” Murid : “ belum tau bu” Guru : “ baiklah, ibu beri contoh untuk 1 mol unsur. massa 1 mol zat sama dengan Ar zat yang dinyatakan dalam gram. Sehingga massa molar untuk unsur adalah Ar gram/ mol. Atau secara matematis seperti slide berikut : Massa 1 mol unsur = Ar zat yang dinyatakan dalam gram Massa molar unsur = Ar zat yang dinyatakan dalam gram / mol 29
  • 30. Guru : “ sekarang coba jelaskan bagaimana massa molar untuk senyawa!” Murid : “ massa 1 mol zat sama dengan Mr zat yang dinyatakan dalam gram. Sehingga massa molar untuk unsur adalah Mr gram/ mol. Secara matematis dapat dituliskan seperti di slide dengan mengubah Ar menjadi Mr.” Guru : “ siapa yang dapat menganalisis hubungan massa molar, massa suatu zat dan mol nya?” Murid : (menuliskan di papan tulis) Dari satuannya, Massa molar = Atau Mm = Mol = Massa = mol x Mm Guru : “ tepat sekali apa yang kamu tuliskan. Ada yang ingin ditanyakan?” Murid : “ belum bu..” Guru : “ selain massa molar, juga terdapat volume molar. Siapa yang dapat menjelaskan mengenai volume molar?” Murid : “ boleh saya tuliskan di papan tulis saja bu?” Guru : “ boleh, silahkan” Murid : (menuliskan di papan tulis) Dari satuannya, Volume molar = Atau Vm = Mol = Volume = mol x Vm Guru : “ wah. Tepat. Jadi hanya mengganti kata massa menjadi volume ya. Sedikit berbeda dengan massa, volume suatu gas bergantung pada 30
  • 31. suhu, tekanan, dan jumlah zatnya. Volume molar gas adalah volume satu mol gas pada keadaan standar (0 °C, 1 atm). (guru menjelaskan di papan tulis) Keadaan standar dinyatakan sebagai : tekanan 1 atm = 76 CmHg suhu 0 °C (273 K) jika dimasukkan ke dalam rumus gas ideal PV = nRT keterangan: P = tekanan = 1 atm V = volume n = 1 mol gas R = tetapan gas = 0,082 L atm/mol K T = suhu 0 °C = 273 K Guru : “ ayo dihitung berapa harga volume dalam keadaan standar!” Murid : “Harga volume diperoleh adalah 22,389 L ~ 22,4 liter yang berarti volume 1 mol gas = 22,4 L. Guru : “dari hasil tersebut, siapa yang dapat melengkapi persamaan yang teman kalian tulis tadi?” Murid : (menulis di papan tulis) 22,4 L = Mol = Volume = mol x 22,4 L Guru : “ jika kita mempelajari kimia, tentu tidak akan terlepas dari reaksi kimia. Reaksi kimia dapat dituliskan dalam bentuk persamaan, dimana ada reaktan dan ada produk. Sebelumnya kalian telah mempelajari persamaan reaksi kimia. Tuliskan satu saja reaksi kimia yang kalian ketahui! Murid : (menulis di papan tulis) 31
  • 32. N2(g) + 3 H2(g) Guru 2 NH3(g) : “ untuk dapat melakukan perhitungan kimia, ibu akan member soal dari reaksi yang sudah teman kalian tuliskan di papan tulis. (kasih soal mbak..trus di bahas dikit) Guru : “Dalam reaksi kimia, jika perbandingan mol zat-zat pereaksi tidak sama dengan perbandingan koefisiennya, maka ada pereaksi yang habis terlebih dulu. Pereaksi seperti ini disebut pereaksi pembatas.” Murid : “contoh soalnya yang seperti apa bu?” (guru menampilkan slide) Pada reaksi 0,5 mol gas N2 dengan 2,5 mol gas H2 menurut persamaan reaksi: N2(g) + 3 H2(g) 2 NH3(g) (Ar N = 14 dan H = 1) Tentukan: a. pereaksi pembatasnya; b. berapa gram zat yang tersisa? a. Langkah 1 Mencari zat yang habis bereaksi N2(g) mula-mula + 3 H2(g) 2 NH3(g) : 0,5 mol 2,5 mol yang bereaksi : 0,5 mol 1,5 mol – setelah reaksi : 1,0 mol Jadi, pereaksi yang habis bereaksi adalah N2 (N2 ini yang merupakan reaksi pembatas) b. Langkah 2 Mencari mol pereaksi yang bersisa N2(g) mula-mula + 3 H2(g) 2 NH3(g) : 0,5 mol 2,5 mol yang bereaksi : 0,5 mol 1,5 mol setelah reaksi : – 1,0 mol Pereaksi yang bersisa adalah H2sebanyak 1,0 mol Massa H2 yang sisa = mol sisa x Mm 32
  • 33. = 1,0 mol x 2 gram/mol = 2 gram Kegiatan Penutup Guru : “Sampai di sini apa ada yang ingin ditanyakan?” Murid : “Tidak, Bu” Guru : “ Alhamdulillah kalau begitu. Guru mengucapkan salam lalu meninggalkan kelas 33