Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
  • Save
Metode kimia
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply
Published

teknik konservasi tanah dan air dengan metode kimia

teknik konservasi tanah dan air dengan metode kimia

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
3,473
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. METODE KONSERVASI TANAH DAN AIR 4.3 Metode Kimia
  • 2. The keys Page 2 Struktur tanah yang stabil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepekaan erosi tanah dan pertumbuhan tanaman
  • 3. Metode Kimia Page 3 Penggunaan preparat kimia baik berupa senyawa sintetik maupun barupa bahan alami yang telah diolah, dalam jumlah yang relatif sedikit, untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan mencegah erosi
  • 4. In 1950-an Page 4 • Dikembngkan preparat-preparat kimia untuk membentuk struktur tanah yang stabil preparat kimia(soil conditioner) • Van Bavel menggunakan soil conditioner untuk pertama kalinya •1952 Mosanto Chemical company mempublikasikan pembuatan soil conditioner Soil Conditioner merupakan bahan pembenah tanah yang dibuat dari bahan alami atau sintetis, dan terdiri dari beberapa jenis seperti emulsi bitumen, Polyacrylamide (PAM), dan Lateks untuk memperbaiki sifat-sifat tanah
  • 5. Jenis Pembenah Tanah (soil Conditioner) Page 5
  • 6. Page 6 Soil Conditioner Polymer tak terionisasi Polyvinyl alcohol (PVA) Dipole polimer Polyacrylamide (PAM)
  • 7. Page 7 Menurut Schamp (1976), bahan-bahan polimer yang dapat dipakai sebagai pemantap tanah yang baik harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :  bahan tersebut harus mempunyai sifat yang adhesif (melekat).  dapat menyebar dan bercampur dengan tanah secara merata.  harus dapat membentuk agregat tanah yang mantap didalam air.  bahan pemantap tanah tersebut tidak boleh bersifat racun (phytotonic).  bahan tersebut harus murah harganya.
  • 8. Cara pemakaian soil conditioner kedalam tanah dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara, yaitu : 1. Pemakaian di permukaan tanah (surface aplication), yaitu larutan atau emulsi soil conditioner pada pengenceran yang dikehendaki disemprotkan langsung ke atas permukaan tanah dengan sprayer seperti yang biasa digunakan untuk menyemprot hama/ penyakit. 2. Pemakaian secara dicampur (incorporation treatment), yaitu larutan atau emulsi soil conditioner pada pengenceran yang dikehendaki disemprotkan langsung ke permukaan tanah sambil tanah tersebut diaduk atau diolah dengan cangkul yang nantinya akan didapat campuran yang merata pada lapisan olah tanah. 3. Pemakaian setempat/lobang (local / pit treatment), yaitu pemakaian soil conditioner hanya dilakukan pada lubang-lubang yang dipersiapkan untuk ditanami tanaman (biasanya pada tanaman tahunan).
  • 9. Page 10 Contoh penggunaan: PAM bersifat non-hidrofobik, memiliki bagian aktif amide yang mengikat -OH pada butir liat melalui ikatan hidrogen. Liat OH N N C H R O Polimer Cara aplikasi: -PAM dicampur air denganperbandingan volume tertentu -Dicampur tanah dengan menyemprotkan emulsi tersebut ke permukaan tanah kemudian diaduk dengan cangkul/garpu.
  • 10. Manfaat Polyacrilamide (PAM) Page 11
  • 11. Page 12 • Bitumen adalah hidrokarbon yang tidak dapat menyerap air dan mempuyai berat molekul cukup tinggi. • Bitumen → Preparat termurah, mengandung gugus aktif Carboxyl Pengaruh: • Bitumen melekatkan partikel-partikel tanah menjadi satu kesatuan atau akan menjadika stuktur tanah yang kedap air Emulsi Bitumen
  • 12. Page 13 The Effect of Bitumen Aplication in Soil
  • 13. Zhang and Miller’s Experiment (1996) Page 14 Kejadian Hujan Perlakuan PAM Laju infi ltrasi mm/hours Laju Aliran Permukaan mm/hours Koefisien Aliran Permukaan m/m Konsentrasi Sedimen g/L Laju Erosi g/m/meni 1 Kontrol PAM (15+30) Perbedaan 38,8 83,6 * 48,6 2,8 * 0,56 0,03 * 64,6 17,3 * 52,3 0,8 * 1+2 Kontrol PAM (15+30) Perbedaan 31,8 51,3 * 50,3 30,0 * 0,61 0,37 * 56,4 40,5 NS 47,3 20,2 * Rata-rata Kontrol PAM (15+30) perbedaan 35,3 67,5 * 49,5 16,4 * 0,58 0,20 * 60,5 28,9 * 49,8 10,5 *
  • 14. Page 15