Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011        HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY        DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA(S...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011                                    ABSTRAKDesti Mahardikawati (0704679). Hu...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011                                        ABSTRACTThe Correlation between Self...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011                           RINGKASAN SKRIPSIA.   Latar Belakang     Tuntutan...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011menentukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas (Sunarto,2...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan. Lebih singkat lagi Banduramendefi...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011orang lain), verbal persuation (pengakuan dari pihak lain), physiological an...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011yang terlihat dari kinerja yang lebih besar dan bertahan lebih lama dibandin...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi termasuk Rintisan SekolahStand...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011sekolah. Meskipun penentuan KKM tersebut sudah dipertimbangkan sesuaidengan ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011B.   Rumusan Masalah     Mencapai prestasi belajar yang tinggi merupakan har...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011C.    Tujuan Penelitian      Berdasarkan pertanyaan yang telah dirumuskan di...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011E.    Hipotesis      Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011ketika memilih apakah seseorang tersebut akan terlibat dan gigih dalammengha...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011      b.     generality, berkaitan dengan luas bidang kemampuan seseorang,  ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     a.    Faktor Internal, berkaitan dengan kondisi kesehatan, psikologis  ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011atau figur modeling), verbal persuation (pengakuan orang lain) danphysiologi...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011          Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini, dapat diilustrasika...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     Adapun desain penelitian untuk menggambarkan hubungan antara self-effic...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011validitas dan reliabilitasnya. Penguian validitas instrument self-efficacy i...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     normal dan self-efficacy linear terhadap prestasi belajar siswa. oleh k...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011tinggi, 17 orang siswa (22,37%) memiliki self-efficacy tinggi, 28 orangsiswa...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011experience, vicarious experience, verbal persuation, physiological andaffect...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Pada masa ini peran teman sebaya sangat penting, self-efficacy akanberkemban...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Bandura (Setiadi, 2010) mengungkapkan satu kesatuan afektif atauemosional ya...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011SMP negeri 2 sukaraja Kabupaten Sukabumi mencapai prestasi belajarsedang. Ha...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011dibutuhkan siswa. Dukungan yang diberikan oleh orang tua, baik motivasimaupu...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011          Hasil Uji Korelasi antara Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar   ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.201137,6996% self-efficacy memberikan kontribusi terhadap pencapaian prestasibel...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011yang memiliki self-efficacy sangat tinggi cenderung mencapai prestasibelajar...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011dan lingkungan yang bersifat reciprocal determinism. Walaupun tidakdiketahui...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     akan menghasilkan suatu strategi untuk mencapai tujuan. Secara tidak   ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011            mengembangkan kemampuannya dalam berbagai bidang studi          ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011     2)   menjadikan pengalaman kegagalan masa lalu sebagai langkah         ...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011d.   Bagi peneliti selanjutnya diharapkan:     1) dapat melakukan penelitian...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011                             DAFTAR PUSTAKAArikunto, S. (1998). Prosedur Pen...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Ihsan, H. (2010). Metode Kuantitatif: Aplikasi SPSS. Diktat Jurusan Psikolog...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Santrock, J.W. (1999). Life-Span Development (Seventh Edition). United State...
Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Wagner III, J.A. & Hollenbeck, J.R. (2010). Organizational Behavior: Securin...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Ringkasan full teks

2,540

Published on

Published in: Education, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,540
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
105
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ringkasan full teks

  1. 1. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011-2012) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Jurusan Psikologi Oleh Desti Mahardikawati 0704679 JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011
  2. 2. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 ABSTRAKDesti Mahardikawati (0704679). Hubungan antara Self-Efficacy denganPrestasi Belajar Siswa (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011-2012). Skripsi JurusanPsikologi FIP UPI, Bandung (2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacydengan prestasi belajar siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIISMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi yang berjumlah 76 orang. Metodeyang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknikkorelasional. Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan uji korelasi ProductMoment dari Pearson dengan menggunakan software SPSS Versi 16.0. Instrumenpengukuran variabel self-efficacy menggunakan skala Likert yang dikembangkandari teori self-efficacy Albert Bandura, sedangkan instrumen untuk mengukurvariabel prestasi belajar menggunakan dokumentasi nilai rata-rata hasil midsemester I siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahunajaran 2011-2012. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis antara variabel self-efficacy dengan prestasi belajar siswa, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar0,614. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara self-efficacydengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja KabupatenSukabumi tahun ajaran 2011-2012. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwasemakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggi pula prestasi belajar yangdicapai oleh siswa dan semakin rendah self-efficacy maka semakin rendah pulaprestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Sebagian besar siswa kelas VIII SMPNegeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 berada padakategori sedang untuk variabel self-efficacy dan prestasi belajar. Hal tersebutmengindikasikan bahwa siswa memiliki standar keyakinan cukup mampu untukmemahami dan mengerjakan soal dari pokok bahasan yang paling mudah sampaidengan yang sulit, mengembangkan kemampuannya dalam berbagai bidang studiyang diajarkan di sekolah, dan bertahan menyelesaikan tugas sampai tuntas.Rekomendasi dari penelitian ini, diharapkan siswa dapat melakukanpengembangan internal untuk meningkatkan self-efficacy yang dimilikinya. Bagiorang tua dan guru, diharapkan dapat menciptakan iklim yang kondusif bagipengembangan self-efficacy. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menelitidengan tema yang sama dan lebih menitikberatkan terhadap lingkunganpendukung pengembangan self-efficacy siswa.Kata kunci : prestasi belajar, self-efficacy.
  3. 3. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 ABSTRACTThe Correlation between Self-Efficacy and Student’s Academic Achievement (Descriptive Study on Class VIII Students of SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi School Year 2011-2012). Mini-Thesist of Psychology Departement at FIP UPI, Bandung (2011). Desti Mahardikawati 1 Titin Kartini 2 Tina Hayati Dahlan 3 The aim of the study is to find out the correlation between self-efficacyand the student’s academic achievement. The samples of the study are the studentsof class VIII of SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi. The numbers of thesample are 76 students. The method use in this study is a descriptive method witha correlational technique. The hypothesis of the study tested with a productmoment correlation test from Pearson and the SPSS software version 16.0. Themeasuring instrument of self-efficacy variable is using the Likert Scale which isthe expansion of self-efficacy theory from Albert Bandura. While the measuringinstrument of the student’s academic achievement variable is using the gradedocuments of the first mid semester test of class VIII students of SMP Negeri 2Sukaraja Kabupaten Sukabumi. According to the hypothesis test between thevariable of self-efficacy and the student’s academic achievement, showed that thecorrelation coefficient value of the test is 0,614. This result showed that there is apositive correlation between self-efficacy and academic achievement of the classVIII students of SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi school year 2011-2012. Most of the students of class VIII of SMP Negeri 2 Sukaraja KabupatenSukabumi are belong to the middle category of self-efficacy variable andacademic achievement. This is indicates that the students have enough self-beliefto understand and to perform various tasks from the simple on the most difficultone, to develop their capability in all kinds of lesson subjects in school and torestrain until the tasks performed completely. The study has somerecommendation, for the students, they are expected to be able to perform aninternal development to improve their self-efficacy. For parents and teachers, theyare suggested to create positive atmospheres for the development of self-efficacy.For the researchers, it is hope that they can study the similar theme which moreemphasize to the importance role of the environment on supporting thedevelopment of student’s self-efficacy.Key words: Academic Achievement, Self-efficacy1 Student of Psychology Departement, Faculty of Education, Indonesia University of Education2 Faculty of Education, Indonesia University of Education3 Faculty of Education, Indonesia University of Education
  4. 4. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 RINGKASAN SKRIPSIA. Latar Belakang Tuntutan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di zaman ini cukuptinggi. Teknologi yang semakin canggih mendorong manusia untuk dapat berpikirdan bersaing lebih keras lagi. Hal ini tidak hanya berlaku dalam satu aspek saja,namun berbagai aspek dalam kehidupan memiliki tuntutan yang sama. Aspek-aspek tersebut meliputi perekonomian, sosial, politik, budaya dan pendidikan.Dengan demikian, perlu adanya keseimbangan antara tuntutan dan sumber dayamanusia yang memadai. Kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai pada suatu negaradapat menjadikan negara tersebut kalah bersaing bahkan tertinggal oleh negaralain. Fakta di lapangan, menurut Institute of Management Development (IMD)tahun 2000 Indonesia menduduki peringkat ke-45 (dari 47 negara) dalam hal dayasaing. Ditinjau dari segi mutu sumber daya manusia, Indonesia mendudukiperingkat 46. Dari data tersebut maka sumber daya manusia Indonesia dapatdiindikasikan kurang menguasai sains dan teknologi, serta kurang mampu secaramanajerial (Syaubari, 2006). Dengan kurang memadainya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki,mengakibatkan terhambatnya kemajuan di beberapa aspek kehidupan. GubernurJambi H. Zulkifli Nurdin dalam Kabar Indonesia Jambi mengatakan bahwa salahsatu faktor penting dan sentral dalam pembangunan adalah sumber daya manusiayang berkualitas dan professional (Sunarto, 2009). Lebih lanjut lagi, gubernurmenyampaikan bahwa peranan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat
  5. 5. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011menentukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas (Sunarto,2009). Pendidikan memiliki tujuan untuk mencetak sumber daya manusia yangberkualitas. Hal tersebut tercantum pada Undang-Undang Sistem PendidikanNasional (UU SISDIKNAS) No. 20 tahun 2003 BAB II pasal 3: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentukwatak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupanbangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (http://www.inherent-dikti.net/). Banyak permasalahan dalam pendidikan yang menjadi hambatan untukterselenggaranya tujuan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh N. Idrus padatahun 1999 menyatakan bahwa rendahnya produktivitas sumber daya manusiaIndonesia diakibatkan oleh kurang percaya diri, kurang kompetitif, kurang kreatifdan sulit berprakarsa sendiri (Syaubari, 2006). Dalam dunia pendidikan,permasalahan-permasalahan tersebut akan berdampak pada rendahnya prestasiyang dicapai oleh siswa di sekolah. Selain hal di atas, aspek penting yang menjadi dorongan bagi seseorang atausiswa untuk dapat menjadi berkualitas atau memiliki prestasi tinggi adalah dengandimilikinya self-efficacy yang tinggi. Pernyataan ini dibuktikan dengan penelitianyang dilakukan oleh Susilowati (2009) terhadap siswa-siswi kelas XII SMANegeri 8 Surakarta yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif yangsignifikan antara efikasi diri (self-efficacy) dengan prestasi belajar siswa. Self-efficacy didefinisikan oleh Bandura (1997:3) sebagai keyakinanseseorang terhadap suatu kemampuan yang dimilikinya untuk mengorganisasikandan melaksanakan serangkaian tindakan yang harus dilakukan untuk
  6. 6. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan. Lebih singkat lagi Banduramendefinisikan self-efficacy sebagai suatu persepsi diri untuk dapat berfungsidalam situasi tertentu (Hall dan Lindzey, 1985:539). Self-efficacy ini dibagimenjadi dua tipe yaitu efficacy expectation dan outcome expectation (Hall danLindzey, 1985:539-540). Efficacy expectation merupakan keyakinan seseorangbahwa seseorang tersebut dapat berhasil melakukan tindakan yang diperlukanuntuk mencapai hasil tertentu, sedangkan outcome expectation merupakanpenilaian seseorang bahwa tindakan yang diberikan akan memberikan hasiltertentu (Hall dan Lindzey, 1985: 539-540). Banyak peneliti menunjukkan bahwaself-efficacy mempengaruhi motivasi akademik, belajar dan prestasi (Schunk danPajares, 2001:2). Idealnya setiap individu harus memiliki self-efficacy yangpositif, karena hal tersebut sangat berpengaruh tehadap keberhasilan seseorangdalam menjalani kehidupannya. Self-efficacy yang dimiliki oleh seseorang yang satu dengan yang laintentunya akan berbeda. Tinggi rendahnya self-efficacy yang dimiliki seseorangtergantung kepada tingkatan tugas yang dihadapi, luasnya bidang yang mampudilakukan seseorang dan ketekunan dalam melakukan tindakan untuk mencapaitujuan. Pembentukan self-efficacy yang dialami seseorang tidak berlangsungsecara otomatis, akan tetapi membutuhkan informasi-informasi yangmendukungnya. Informasi-informasi tersebut dapat dijadikan sumber yang akanmeningkatkan self-efficacy seseorang. Bandura (1997:41-43) menegaskan terdapatempat sumber self-efficacy yaitu enactive mastery experience (pengalaman yangdimiliki oleh individu), vicarious experience (pengalaman yang dimiliki oleh
  7. 7. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011orang lain), verbal persuation (pengakuan dari pihak lain), physiological andaffective states (keadaan fisiologis dan keadaan emosional). Self-efficacy sangat penting dimiliki setiap orang. Pada umumnya seseorangakan melakukan usaha untuk mencapai tujuannya, jika seseorang merasa akanmendapatkan apa yang diinginkan dari tindakan tersebut (Baron dan Byrne,2004:183). Artinya, tindakan akan muncul apabila ada keyakinan yangmenyertainya. Jika seseorang tidak memiliki keyakinan untuk dapat mencapaitujuannya, ada kemungkinan seseorang tersebut tidak akan bertindak untukmencapai tujuannya. Dengan memiliki keyakinan yang kuat, keinginan untukmencapai tujuan akan hadir, sehingga akan menimbulkan semangat untuk meraihapa yang diinginkan. Pernyataan tersebut sesuai dengan ungkapan Musfirah,Rahmahana, dan Kumolohadi (2003:39) yang menyatakan bahwa dengan self-efficacy yang tinggi seorang individu akan mempunyai keyakinan bahwa dirinyaakan berhasil melakukan sesuatu sehingga seseorang tersebut akan melakukanberbagai usaha untuk mencapai tujuannya. Demikian juga dalam bidang pendidikan, self-efficacy memiliki perananyang penting terutama bagi para siswa dalam meraih prestasi belajar. MenurutKertamuda (2008:28) prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh atau dicapaisiswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diberikan oleh guru.Urdan (Kertamuda, 2008:28) berpendapat bahwa prestasi belajar yang akandihasilkan oleh siswa tentunya berbeda-beda, hal tersebut tergantung kepadatujuan yang ingin dicapainya. Pencapaian prestasi tersebut tidak terlepas darifaktor-faktor yang mempengaruhinya, salah satu diantaranya adalah self-efficacy.Siswa yang memiliki self-efficacy tinggi akan sukses untuk memecahkan masalah
  8. 8. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011yang terlihat dari kinerja yang lebih besar dan bertahan lebih lama dibandingkansiswa yang memiliki self-efficacy lebih rendah (Schunk dan Pajares, 2001:14). Kenyataan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa self-efficacy yangdimiliki siswa sangat memprihatinkan. Dari hasil wawancara informal pada bulanOktober 2010 dengan wakil kepala sekolah (Wakasek) urusan kurikulum,beberapa guru mata pelajaran dan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMPNegeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi, terdapat fenomena siswa seringmencontek ketika ulangan, baik ulangan harian maupun ulangan akhir semester,membolos pada beberapa mata pelajaran yang menurut keyakinan siswa tertentutidak akan mampu memahaminya, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yangdiyakininya sulit, dan tidak mau menampilkan kompetensi dirinya ketika dimintauntuk berdramatisasi dengan alasan tidak yakin mampu melakukannya, sertabanyak yang menghindari pengayaan matematika karena mereka yakin tidak akanbisa menyelesaikannya. Kurangnya keyakinan siswa dalam mencapai prestasi belajar, berdasarkanpenuturan Wakasek urusan kurikulum berdampak pada rendahnya prestasi yangdicapai. Faktor lain yang ikut berperan dalam pencapaian prestasi ini diantaranyaadalah kondisi keluarga dan sekolah, khususnya guru. Mayoritas siswa beradapada perekonomian menengah ke bawah. Hal ini ditandai dengan terdapat banyakorang tua siswa terutama ibu yang pergi menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) keArab Saudi disertai ayah yang berpenghasilan rendah yang kurang menunjangpemenuhan kebutuhan siswa atau bahkan diperparah dengan situasi pemindahanpengasuhan pada pihak yang kurang bertanggung jawab.
  9. 9. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi termasuk Rintisan SekolahStandar Nasional (RSSN) yang menuntut tidak hanya siswa saja yang harusmeningkatkan prestasi belajar yang dicapainya, namun membutuhkan sumberdaya manusia seluruh warga sekolah termasuk seluruh pembuat kebijakan yangterkait dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Guru sebagai pengembangkurikulum juga harus meningkatkan kompetensinya agar pembelajaran dapatterlaksana sebagaimana yang diharapkan. Pemerintah berusaha meningkatkankualitas pendidikan agar semua guru dapat meningkatkan kompetensinya melalui“Better Education Through Reform Management Unversal Teacher Upgrading”(BERMUTU) melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dengankeharusan guru mengikuti kegiatan tersebut, tentunya ada hal-hal yang harus dikorbankan salah satunya kegiatan belajar mengajar di kelas. Berdasarkan hasil wawancara informal lanjutan pada bulan Februari 2011dengan Wakasek urusan kurikulum, fenomena ketiga unsur antara siswa, orangtua dan guru secara tidak langsung mempengaruhi pencapaian nilai KriteriaKetuntasan Minimal (KKM) siswa. Nilai KKM merupakan salah satu upayapemerintah dalam meningkatkan kualitas siswa terutama dalam prestasi belajaryang dicapainya. Dengan penerapan KKM ini diharapkan dapat memacusemangat siswa untuk berjuang lebih keras dalam mencapai prestasi belajar yangdiharapkan. Dalam penentuan nilai KKM di sekolah, terlebih dahulu pihak sekolahmemusyawarahkannya dengan komite sekolah serta mempertimbangkan beberapahal seperti intake siswa (nilai-nilai yang dihasilkan siswa sebelumnya), dayadukung sekolah, dan kompleksitas yang sesuai dengan kenyataan yang ada di
  10. 10. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011sekolah. Meskipun penentuan KKM tersebut sudah dipertimbangkan sesuaidengan keadaan dan kemampuan dalam berbagai aspek yang ada di sekolah, padakenyataannya masih terdapat siswa yang belum dapat mencapainya, padahalKKM ini tidak dapat dihindari, sehingga mau tidak mau siswa harus mencapaisetiap nilai KKM yang telah ditentukan pada setiap mata pelajaran. Jika siswamemiliki salah satu saja nilai di bawah KKM, maka kemungkinan besar siswatersebut harus melakukan remidial sampai mendapatkan nilai yang mencapaiKKM yang telah ditetapkan dalam mata pelajaran tersebut. Seandainya siswatetap tidak mencapai KKM, besar kemungkinan siswa tersebut tidak dapat naikkelas. Berdasarkan data hasil Ujian Akhir Sekolah (UAS) semester ganjil yangdiperoleh pada tahun ajaran 2010-2011 di SMP Negeri 2 Sukaraja KabupatenSukabumi yaitu untuk kelas VII siswa yang sudah mencapai KKM mencapai 73%yaitu sekitar 185 siswa, sedangkan yang belum mencapainya 27% yaitu sekitar 68siswa; untuk kelas VIII siswa yang sudah mencapai KKM 66% yaitu sekitar 160siswa, sedangkan yang belum mencapainya 34% yaitu sekitar 83 siswa; dan kelasIX yang sudah mencapai KKM 76% yaitu sekitar 149 siswa, sedangkan yangbelum mencapainya 24% yaitu sekitar 47 siswa. Dengan dilatarbelakangi fenomena yang telah di paparkan di atas, makapeneliti memfokuskan penelitian ini pada hubungan antara self-efficacy denganprestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumitahun ajaran 2011-2012.
  11. 11. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011B. Rumusan Masalah Mencapai prestasi belajar yang tinggi merupakan harapan bagi semua siswa.Pencapaian prestasi belajar yang tinggi tidak terlepas dari faktor-faktor yangmempengaruhinya. Faktor internal tidak kalah pentingnya dari faktor eksternaldalam menentukan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai siswa. Salah satu faktorinternal yang mempengaruhi prestasi belajar ialah self-efficacy. Self-efficacymerupakan keyakinan yang dimiliki oleh seseorang terhadap kemampuannyauntuk mengorganisasikan serangkaian tindakan dalam mencapai tujuan yangdikehendakinya. Salah satu penyebab kegagalan siswa dalam mencapai prestasi belajar yangtinggi, yaitu rendahnya keyakinan siswa terhadap kemampuan yang dimilikinyauntuk mencapai prestasi. Rendahnya self-efficacy secara tidak langsung dapatberpengaruh terhadap kegigihan dalam pencapaian prestasi. Berdasarkan permasalahan di atas, rumusan masalah dalam penelitian inidijabarkan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. 1. Bagaimana gambaran self-efficacy yang dimiliki siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012? 2. Bagaimana gambaran prestasi belajar yang dicapai siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012? 3. Apakah terdapat hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012?
  12. 12. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan yang telah dirumuskan di atas, maka tujuanpenelitian ini adalah sebagai berikut: 1. untuk mengetahui gambaran umum self-efficacy yang dimiliki siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012, 2. untuk mengetahui gambaran prestasi belajar yang dicapai siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011- 2012, dan 3. untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012.D. Asumsi Berikut ini adalah asumsi yang menjadi landasan dari penelitian ini. 1. Self-efficacy yang tinggi dapat membantu seseorang untuk selalu optimis dalam mencapai tujuannya. 2. Self-efficacy dibutuhkan dalam bidang pendidikan, kehidupan sosial di masyarakat, serta untuk mengatur kehidupan pribadi. 3. Self-efficacy menentukan usaha yang dilakukan seseorang dalam pencapaian tujuannya (Luthans, 2002). 4. Self-efficacy yang tinggi dapat menentukan prestasi yang dicapai seseorang (Schunk & Pajares, 2001).
  13. 13. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011E. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 SukarajaKabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. Dengan mengacu pada hipotesis penelitian, hipotesis yang akan diujidinyatakan dengan hipotesis statistik (H 0 dan Ha) berikut ini. 1. H0: ρ = 0 Tidak terdapat hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. 2. H a: ρ > 0 Terdapat hubungan positif antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. Hipotesis statistik tersebut diuji dengan koefisien α sebesar 0,05 denganketentuan H0 ditolak apabila angka probabilitas ≤ 0,05 dan H 0 diterima apabilaangka probabilitas > 0,05 (Ihsan, 2010:43).F. Kajian Teoritis Tentang self-Efficacy dan Prestasi Belajar Siswa 1. Teori Self-Efficacy Premis dasar dari teori self-efficacy adalah kepercayaan seseorang dalam kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan dari tindakan yang dilakukan, hal tersebut merupakan penentu perilaku bagi seseorang
  14. 14. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011ketika memilih apakah seseorang tersebut akan terlibat dan gigih dalammenghadapi rintangan dan tantangan atau sebaliknya (Maddux, 2000:2). Untuk lebih memahami pengertian self-efficacy, Bandura (1997:3)mendefinisikan bahwa self-efficacy adalah “ refers to beliefs in one’scapabilities to organize and execute the courses of action required toproduce given attainment” yang artinya self-efficacy mengacu padakeyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya untukmengorganisasikan dan melaksanakan serangkaian tindakan yang harusdilakukan untuk menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan. Self-efficacy yang dimiliki seseorang tidak terbentuk secara ototomatis(Setiadi 2010). Dalam pementukannya, seseorang memerlukan beberapasumber atau informasi sebagai faktor penunjang terbentuknya self-efficacyyang dimilikinya. Bandura (1997) menyebutkan terdapat empat sumberyang dapat membentuk self-efficacy seseorang, yaitu: a. enactive mastery experience (pengalaman diri sendiri), b. vicarious experience (pengalaman orang lain), c. verbal persuation (pengakuan sosial), dan d. physiological and affective states (kondisi fisiologis dan emosional). Tinggi rendahnya self-efficacy yang dimiliki seseorang akan berbedasatu sama lain. tinggi rendahnya self-efficacy tergantung kepada tigadimensi yang diungkapkan Bandura (1997), yaitu: a. level/magnitude, berkaitan dengan derajat kesulitan tugas yang dirasakan seseorang,
  15. 15. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 b. generality, berkaitan dengan luas bidang kemampuan seseorang, dan c. strength, berkaiatan dengan ketahan seseorang dalam mengatasi hambatan dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas.2. Teori Prestasi belajar Prestasi belajar terdiri dari dua suku kata yaitu prestasi dan belajar.Prestasi diartikan sebagai bukti usaha yang dapat dicapai, sedangkan belajardiartikan sebagai suatu proses mental yang mengarah kepada penguasaanpengetahuan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap, yang semuanyadiperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah lakuyang progresif dan adaptif (Winkel, 1983). Prestasi terbagi menjadi tiga bagian yaitu prestasi akademis, prestasibelajar dan prestasi kerja (Sudibyo AP, 2005). Dalam Kamus Besar BahasaIndonesia (1989:787) prestasi belajar diartikan sebagai penguasaanpengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan olehguru. Prestasi belajar juga diartikan sebagai hasil yang diperoleh atau dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diberikan olehguru (Kertamuda, 2008:28). Sedangkan menurut Arikunto (2010a:4)prestasi belajar adalah hasil dari kegiatan belajar mengajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar ang dicapai oleh siswa tidak terlepasdari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Slameto (2010) mengungkapkanterdapat dua faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor internal dan faktoreksternal.
  16. 16. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 a. Faktor Internal, berkaitan dengan kondisi kesehatan, psikologis dan kelelahan, baik kelelahan jasmani maupun rohani. b. Faktor Eksternal, berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.3. Kerangka Berpikir Mencapai prestasi belajar yang tinggi merupakan harapan semuasiswa. pencapaian prestasi tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor yangmendukungnya. Bandura (Santrock, 2009:216) mengungkapkan bahwa self-efficacy merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukanapakah siswa berprestasi atau tidak. Self-efficacy merupakan keyakinanbahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memberikan hasil positif. Self-efficacy ini dibangun dalam hubungan triadik antara sifat-sifatpribadi, pola perilaku dan faktor lingkungan. Hubungan tersebut tidakterjadi secara otomatis, bisa jadi melalui proses yang panjang (Setiadi,2010). Ketiga komponen tersebut digambarkan saling berhubungan dantidak terputus. Hal ini mengindikasikan ketiga komponen tersebut salingmempengaruhi satu sama lain. Dalam pembangungan self-efficacy, seseorang akan dipengaruhi olehbeberapa hal diantaranya pengalaman dan lingkungan. Pengalaman danlingkungan ini dapat dijadikan sebagai sumber terbentuknya self-efficacy.Bandura (Setiadi, 2010) mengungkapkan bahwa terdapat empat sumberutama yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan self-efficacyseseorang (siswa) yaitu enactive mastery experience (pengalaman kegagalandan keberhasilan seseorang), vicarious experience (pengalaman orang lain
  17. 17. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011atau figur modeling), verbal persuation (pengakuan orang lain) danphysiological and affective states (kadaan fisik dan emosional). Bandura(Setiadi, 2010) mengingatkan bahwa sumber-sumber tersebut tidak dapatsecara otomatis membentuk self-efficacy, sumber-sumber self-efficacytersebut harus diproses terlebih dahulu melalui pemikiran kognitif yangmelibatkan sistem diri. Adapun fungsi dari sistem diri ini adalah untukmengatur perilaku secara terus menerus yang terlibat dalam pengamatandiri, proses menilai dan reaksi terhadap perilaku sendiri. Pada umumnya, jika siswa memiliki sumber self-efficacy yang positifdan dapat diterima oleh sistem diri dan sitem kognitif, maka akanmelahirkan self-efficacy yang tinggi sehingga akan melahirkan usaha yangmaksimal sehingga siswa dapat mencapai prestasi yang tinggi. Sedangkansubjek yang memiliki sumber self-efficacy yang negatif, maka akanmelahirkan self-efficacy yang rendah sehingga akan melahirkan usaha yangminimal dan siswa hanya mencapai prestasi yang rendah. Selanjutnya,karena pembangunan self-efficacy seseorang (siswa) ini dibangun dalamhubungan triadik, maka prestasi belajar atau tujuan-tujuan yang telahdicapai seseorang (siswa) secara tidak langsung akan mempengaruhilingkungan dan dijadikan pengalaman oleh seseorang (siswa) tersebut yangnantinya akan dijadikan sebagai informasi atau sumber self-efficacy dalammencapai tujuan yang sama.
  18. 18. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini, dapat diilustrasikan dengan gambar berikut ini. Pengalaman dan Lingkungan Sistem Diri Struktur Kognitif Prestasi Usaha SE Tinggi Maksimal Belajar Tinggi Self-Efficacy Prestasi Usaha SE Rendah Minimal Belajar Rendah Gambar 2.3 Kerangka Berpikir Hubungan Antara Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar SiswaG. Metode Penelitian 1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana penelitian ini ditujukan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, yang pengumpulan datanya menggunakan instrumen penelitian dan analisis datanya bersifat statistik yang selanjutnya digunakan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2008:8). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional. Metode ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa, apabila ada, berapa erat hubungan tersebut serta berarti atau tidak hubungan tersebut (Arikunto, 1998; Sugiyono, 2008).
  19. 19. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 Adapun desain penelitian untuk menggambarkan hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa, dapat dilihat pada gambar 3.1. X r Y Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan: X = Self-efficacy Y = Prestasi belajar siswa2. Populasi dan Sampel Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Sukaraja KabupatenSukabumi. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIISMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012.Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik cluster sampling,dimana pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengambil sampel darisetiap kelompok yang ada pada populasi (Arikunto, 2010b:96). Sampel yangdiikutsertakan dalam penelitian ini sebesar 30% dari jumlah populasipenelitian ini sejumlah 76 orang siswa.3. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupakuesioner dan dokumentasi. Instrument berupa kuesioner digunakan sebagaialat pengumpul data self-efficacy, sedangkan Dokumentasi digunakansebagai pengumpul data prestasi belajar siswa. Instrumen self-efficacy ini dikembangkan dengan mengacu padadimensi dari teori self-efficacy Albert Bandura dengan terlebih dahulu diuji
  20. 20. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011validitas dan reliabilitasnya. Penguian validitas instrument self-efficacy inidilakukan dengan penilaian tiga orang professional judgement dan analisisitem. Penilain professional judgment dilakukan oleh tiga orang dosen yaituDr. Titin Kartini, M.Si, Tina Hayati Dahlan, S.Psi, M.Pd, Psi dan HelliIhsan, S.Ag, M.Si. Setelah dilakukan penilaian oleh professional judgment,selanjutnya dilakukan uji coba instrument pada 35 siswa kelas VIII SMPNegeri 1 Gegerbitung. Berdasarkan data yang dihasilkan dari uji cobainstrument tersebut, terdapat beberapa item yang layak dan tidak layakdigunakan. Jumlah item sebelum uji coba sebanyak 35 item, setelahdilakukan analisis item dengan batas koefisien korelasi sebesar 0,3, terdapat29 item layak digunakan dan 6 item tidak layak digunakan dan dibuang. Setelah dilakukan pengujian validitas, maka langkah selanjutnyaadalah pengujian reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach.Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan software SPSS versi16.0, dihasilkan reliabilitas 0,901 sebelum penghapusan item tidak layak,namun setelah penghapusan item yang tidak layak, reliabilitas meningkatmenjadi 0,908. Untuk pengumpul data prestasi belajar siswa, dokumen yangdigunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi nilai rata-rata midsemester I siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumitahun ajaran 2011-2012.4. Teknik Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji regresi linear, data self-efficacy dan prestasi belajar yang diperoleh menunjukkan berdistribusi
  21. 21. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 normal dan self-efficacy linear terhadap prestasi belajar siswa. oleh karena itu, teknik analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik dan uji korelasi yang digunakan adalah uji korelasi Product Moment dari Pearson. Uji korelasi tersebut dibantu dengan menggunakan software SPSS versi 16.0. Untuk mengetahui tingkat kecocokan hasil pengujian korelasi antara self-efficacy yang dimiliki siswa dengan tingkat pencapaian prestasi belajarnya, maka data tersebut selanjutnya di analisis dengan menggukan tabel silang (Crosstab). Hasil korelasi dan kecocokan tersebut dapat diperkuat juga dengan melihat seberapa besar sumbangan yang diberikan oleh self-efficacy terhadap prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan menghitung secara manual koefisien determinasi dengan rumus di bawah ini. KD = r2 x 100% KD = Koefisien Determinasi r = Koefisien korelasiH. Hasil dan Pembahasan 1. Gambaran Self-Efficacy yang Dimiliki Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011- 2012. Berdasarkan hasil pengelompokkan ke dalam lima kategori tingkat self-efficacy yang dimiliki siswa, terdapat 5 orang siswa kelas VIII (6,58%) SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi memiliki self-efficacy sangat
  22. 22. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011tinggi, 17 orang siswa (22,37%) memiliki self-efficacy tinggi, 28 orangsiswa (36,84%) memiliki self-efficacy sedang, 24 orang siswa (31,58%)memiliki self-efficacy rendah dan 2 orang siswa (2,63%) memiliki self-efficacy sangat rendah. Dengan melihat hasil perhitungan tersebut, dapatdiindikasikan bahwa mayoritas siswa kelas VIII SMP Negeri 2 SukarajaKabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 untuk variabel self-efficacyberada pada kategori sedang. hal ini mengindikasikan bahwa siswa memilikistandar keyakinan cukup mampu untuk memahami dan mengerjakan soaldari pokok bahasan yang paling mudah sampai dengan yang sangat sulit,mengembangkan kemampuannya dalam berbagai bidang studi yangdiajarkan di sekolah, dan bertahan menyelesaikan tugas sampai tuntas. Kategori sedang yang dimiliki oleh sebagian besar siswa, didukungpula oleh hasil perhitungan ketiga dimensi self-efficacy yang dimiliki siswa.Besrdasarkan hasil perhitungan ketiga dimensi tersebut, mayoritas siswakelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 berada pada kategori sedang untuk dimensi level/magnitude,generality, dan strength. Tinggi rendahnya self-efficacy dipengaruhi oleh beberapa faktor,diantaranya faktor pembentuk self-efficacy itu sendiri dan tahapanperkembangan yang sedang dilalui. Bandura (Setiadi, 2010)mengungkapkan bahwa pembentukan self-efficacy tidak terjadi secaraotomatis, tetapi memerlukan proses dan membutuhkan beberapa sumberatau informasi yang akan mempengaruhi tinggi rendahnya self-efficacy yangdimiliki oleh seseorang. Sumber-sumber tersebut adalah enactive mastery
  23. 23. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011experience, vicarious experience, verbal persuation, physiological andaffective states. Enactive mastery experience berkaitan dengan pengalaman kegagalandan keberhasilan mencapai prestasi. Hal ini dipengaruhi pula oleh tahapperkembangan yang dialami siswa. Sampel dalam penelitian ini adalahsiswa kelas VIII dengan kisaran usia 13-14 tahun yang tergolong sebagairemaja awal. Masa remaja ini ditandai dengan rasa ingin tahu yang besaryang mendorong siswa melakukan hal baru sebagai bentuk pemenuhan rasaingin tahu, termasuk dalam hal mencapai prestasi. Dengan banyakmengeksplor hal baru tersebut, secara tidak langsung, siswa remaja akanmengadopsi pengalaman baik berupa kegagalan maupun keberhasilan.Siswa yang banyak memiliki pengalaman kegagalan dalam mencapaiprestasi belajar, akan cenderung memiliki self-efficacy rendah, sedangkansiswa yang banyak memiliki pengalaman keberhasilan, akan cenderungmemiliki self-efficacy tinggi dalam mencapai prestasi belajar. Vicarious experience berkaitan dengan bagaimana seseorang belajarmenerima pengalaman dari luar dirinya yang berkaitan erat dengan prosesmodeling. Perkembangan masa remaja ditandai dengan pencarian identitasdiri yang melibatkan peran figur. Lingkungan keluarga merupakan tempatawal bagi siswa dalam mengembangkan self-efficacy. Siswa yang memilikibanyak figur orang sukses di dalam keluarganya, akan cenderung memilikiself-efficacy tinggi. Seiring perkembangan siswa, peranan keluarga sedikitdemi sedikit akan berkurang. Siswa remaja akan lebih banyak berinteraksidengan teman sebaya dan menghabiskan waktu di luar rumah yaitu sekolah.
  24. 24. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Pada masa ini peran teman sebaya sangat penting, self-efficacy akanberkembang melalui keikutsertaan siswa dalam komunitas yang lebih luas.Faktor usia pun dapat diperhitungkan, dimana siswa yang lebih dewasacenderung menjadi model dalam meningkatkan kemampuan berpikir danbertingkah laku (Bandura, 1997). Verbal persuation berkaitan dengan pengakuan sosial atau umpanbalik evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan seseorang. Dalam halini reward dapat menjadi alat bantu bagi pihak yang secara langsung atautidak langsung berinteraksi dalam pengembangan self-efficacy siswa. Orangtua, guru, teman atau siapapun dapat memberikan kontribusi dalamperkembangan self-efficacy dengan tidak mengabaikan sensitivitas sertaproses usaha yang telah dilakukan siswa yang cenderung memilih temansebaya yang memiliki kesepahaman dan sensitif terhadap perbandingandalam hal pencapaian prestasi dan keterarahan. Bandura (Setiadi, 2010)mengungkapkan bahwa pengakuan sosial ini akan mendorong seseorangmelakukan upaya lebih besar dalam mempertahankan pengakuan tersebutuntuk mencapai keberhasilan. Physiological and affective states berkaitan dengan kondisi fisiologisdan emosional seseorang. Kondisi fisiologis ini berkaitan dengan kesehatansiswa. Kesehatan siswa akan berpengaruh pada proses belajar dan prestasiyang dicapainya. Penurunan kesehatan, dapat menurunkan self-efficacydalam pencapaian prestasi belajar yang disebabkan oleh kelemahan fisiksehingga menyebabkan siswa tidak dapat melakukan upaya-upaya untukdapat mencapai prestasi yang diharapkannya. Selain kondisi fisiologis,
  25. 25. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Bandura (Setiadi, 2010) mengungkapkan satu kesatuan afektif atauemosional yang memberikan kontribusi penting bagi self-efficacy adalahsuasana hati. Pada masa remaja, keadaan emosi yang dimiliki siswacenderung bersifat fluktuatif dan rentan. Banyak faktor baik positif maupunnegatif dapat dengan mudah mempengaruhi kondisi emosional siswa.suasana hati yang dimiliki siswa cenderung cepat berubah. Ini disebabkankarena pada masa remaja, siswa dihadapkan pada beberapa perubahan dantuntutan yang harus dilakukannya. Kebingungan yang dialami siswaberdampak terhadap suasana hati siswa itu sendiri. Ketika seorang siswamemiliki suasana hati yang baik, siswa akan memiliki self-efficacy danmenampilkan usaha yang baik dalam mencapai tujuan. Sebaliknya, jikasiswa sedang memiliki suasana hati kurang baik, maka akan cenderungmemiliki self-efficacy rendah dan banyak menemui kesulitan dalammencapai tujuan.2. Gambaran Prestasi Belajar yang Dicapai Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011- 2012. Berdasarkan pengelompokkan ke dalam lima kategori tingkatpencapaian prestasi belajar, terdapat 3 orang siswa kelas VIII (3,94%)mencapai prestasi belajar sangat tinggi, 22 orang siswa (28,95%) mencapaiprestasi belajar tinggi, 24 orang siswa (31,58%) mencapai prestasi belajarsedang, 22 orang siswa (28,95%) mencapai prestasi rendah dan 5 orangsiswa (6,58%) mencapai prestasi sangat rendah. Dengan melihat hasilperhitungan tersebut, dapat diindikasikan bahwa mayoritas siswa kelas VIII
  26. 26. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011SMP negeri 2 sukaraja Kabupaten Sukabumi mencapai prestasi belajarsedang. Hasil tersebut membuktikan bahwa siswa mencapai standar cukupbaik dalam menampilkan keberhasilan dalam proses belajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar yang dicapai siswa kelas VIII SMPNegeri 2 Sukaraja ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dalampencapaian prestasi belajar. Slameto (2010) mengungkapkan terdapat duafaktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor faktor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung dapatmempengaruhi prestasi belajar siswa. Menurut Slameto (2010) yangmerupakan faktor internal diantaranya faktor psikologis yaitu inteligensi,perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan, sedangkan yangtermasuk faktor eksternal diantaranya lingkungan keluarga, lingkungansekolah dan lingkungan masyarakat. Untuk faktor psikologis, rendahnya prestasi belajar siswa ini selaindipengaruhi oleh faktor-faktor yang diungkapkan oleh Slameto, self-efficacyjuga memiliki peranan penting dalam menentukan tinggi rendahnya prestasibelajar siswa. pernyataan tersebut senada dengan ungkapan Schunk danPajares (2001:2) bahwa telah banyak penelitian menunjukkan self-efficacymempengaruhi motivasi akademik, belajar dan prestasi. tingkatan self-efficacy yang dimiliki oleh siswa akan berpengaruh kepada motivasi belajaryang nantinya akan berdampak pada tinggi rendahnya prestasi yang dicapaioleh siswa. Faktor lingkungan tidak kalah penting dari faktor psikologis.Lingkungan keluarga terutama orang tua merupakan peran utama yang
  27. 27. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011dibutuhkan siswa. Dukungan yang diberikan oleh orang tua, baik motivasimaupun materi yang proporsional akan berkontribusi positif terhadapperkembangan psikis siswa yang pada akhirnya mempengaruhi self-efficacydan pencapaian prestasi. Perkembangan psikis ini selanjutnya akanberdampak pada interaksi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Sekolah merupakan sarana siswa dalam mengembangkan fungsikognitifnya dan tempat dimana siswa dapat mengeksplorasi kemampuannya(Bandura, 1997). Tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh seorang siswadi lingkungan sekolah tergantung kepada cara mengajar guru, kurikulumyang diterapkan, hubungan antara guru dengan siswa, hubungan siswadengan siswa, kedisiplinan siswa di sekolah, kelengkapan fasilitas disekolah dan lain sebagainya. Masyarakat juga berkontribusi terhadap tinggi rendahnya prestasisiswa diantaranya teman sebaya, mass media dan bentuk kehidupanmasyarakat. Jika masyarakat di lingkungan sekitar terdiri dari orang-orangyang tidak terpelajar dan mempunyai kebiasaan tidak baik, maka siswa akanterpengaruh oleh lingkungan yang tidak mendukung tersebut.3. Hubungan antara Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011-2012. Pengujian korelasi antara variabel self-efficacy dengan variabelprestasi belajar siswa, secara lebih rinci dapat dilihat pada hasil uji korelasidalam tabel di bawah ini.
  28. 28. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 Hasil Uji Korelasi antara Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011-2012 prestasi self-efficacy belajar siswa self-efficacy Pearson 1 .614** Correlation Sig. (2-tailed) .000 N 76 76 prestasi belajar siswa Pearson .614** 1 Correlation Sig. (2-tailed) .000 N 76 76 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2- tailed). Dengan melihat hasil dari perhitungan statistik di atas, diketahuibahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,614 dan nilai probabilitas sebesar0,000. Dengan merujuk pada ketentuan bahwa H 0 ditolak apabila nilaiprobabilitas ≤ 0,05 dan H0 diterima apabila nilai probabilitas > 0,05, makahasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa H 0ditolak dan Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat hubunganpositif antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPNegeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. Hubunganpositif tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy yangdimiliki siswa semakin tingggi pula prestasi belajar yang dicapainya, begitupula sebaliknya. Besar kecilnya kontribusi self-efficacy terhadap prestasibelajar siswa dapat diketahui dengan perhitungan koefisien determinasi.Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi (lihat lampiran IV), sebesar
  29. 29. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.201137,6996% self-efficacy memberikan kontribusi terhadap pencapaian prestasibelajar siswa. Hasil pengujian korelasi di atas, selanjutnya diperkuat dengan melihatkecocokan antara tingkat self-efficacy yang dimiliki oleh siswa dengantingkatan prestasi belajar yang dicapainya. secara lebih rinci, kecocokantersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Tabel Silang Antara Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2011-2012 Prestasi belajar Sangat Sangat Siswa Tinggi Sedang Rendah Total Tinggi RendahSelf-efficacy Sangat Tinggi 2 3 1 0 0 6 Tinggi 1 10 1 3 1 16 Sedang 0 5 15 7 1 28 Rendah 0 4 7 11 2 24 Sangat rendah 0 0 0 1 1 2 Total 3 22 24 22 5 76 Berdasarkan hasil uji korelasi antara variabel self-efficacy denganvariabel prestasi belajar siswa menunjukkan hubungan positif antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 SukarajaKabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. Hal tersebutmengindikasikan bahwa semakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggipula prestasi belajar yang dicapai oleh siswa, begitu pula sebaliknyasemakin rendah self-efficacy, semakin rendah pula prestasi belajar yangdicapai oleh siswa. Dari hasil pencocokan tingkat self-efficacy dengan prestasi belajaryang dicapai siswa pada tabel silang di atas, menunjukkan bahwa siswa
  30. 30. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011yang memiliki self-efficacy sangat tinggi cenderung mencapai prestasibelajar sangat tinggi dan tinggi, siswa yang memiliki self-efficacy yangtinggi cenderung mencapai prestasi belajar tinggi, siswa yang memiliki self-efficacy sedang cenderung mencapai prestasi belajar sedang, siswa yangmemiliki self-efficacy rendah cenderung mencapai prestasi belajar rendah,dan siswa yang memiliki self-effiacy sangat rendah cenderung mencapaiprestasi belajar rendah dan sangat rendah. Meskipun demikian, masihterdapat beberapa siswa yang kurang sesuai antara self-efficacy yangdimiliki dengan prestasi belajar yang dicapainya, sehingga kecocokan antaraself-efficacy dengan prestasi yang dicapai siswa menjadi tersebar padatingkatan yang berbeda dengan self-efficacy yang dimilikinya. Penyebaran tingkatan kecocokan antara self-efficacy denganpencapaian prestasi siswa, dapat disebabkan oleh karena self-efficacy bukanmerupakan satu-satunya faktor yang berkorelasi dengan prestasi belajar,begitu juga sebaliknya. Hal tersebut diperkuat oleh nilai koefisiendeterminasi bahwa sebesar 37,6996% self-efficacy memberi kontribusiterhadap pencapaian prestasi belajar siswa, sedangkan sebesar 62,3004%prestasi belajar berkorelasi dengan faktor lain yang juga memberi kontribusiterhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Dengan demikian, hasil tingkatkecocokan tersebut mendukung hasil perhitungan korelasi antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa. Hubungan antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa terjadikarena pada dasarnya self-efficacy dibangun oleh kerangka teori sosialkognitif dalam hubungan triadik antara aspek pribadi (sistem diri), perilaku,
  31. 31. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011dan lingkungan yang bersifat reciprocal determinism. Walaupun tidakdiketahui darimana pusat atau awal pergerakan hubungan tersebut, apakahsistem diri menggerakan lingkungan atau sebaliknya, Bandura (Hall danLindzey, 1985) mengungkapkan bahwa hubungan tersebut diawali darisistem diri. Dalam pencapaian prestasi belajar, selain faktor eksternal, faktorinternal pun memberikan kontribusi penting. Self-efficacy merupakankeyakinan seseorang akan kemampuan yang dimilikinya dan merupakanfaktor internal yang berkontribusi terhadap pencapaian prestasi belajarsiswa. Setiap siswa pasti memiliki harapan atau tujuan untuk mencapaiprestasi belajar tinggi. Dengan memiliki keyakinan kuat untuk berhasilmencapai prestasi, siswa akan berusaha maksimal untuk mewujudkanharapannya tersebut. Sebaliknya dengan memiliki keyakinan yang lemah,siswa menjadi cenderung tidak berusaha dengan maksimal dalam mencapaiprestasi belajar. Self-efficacy sangat diperlukan siswa untuk meningkatkan motivasiuntuk mencapai prestasi belajar tinggi. Pembentukan self-efficacy dalam dirisiswa dibentuk oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman kegagalan dankeberhasilan serta lingkungan yang mendukung pembentukan self-efficacy.Pengalaman dan lingkungan yang dimiliki siswa selanjutnya akan diprosesoleh sistem diri yang mengacu kepada sistem kognitif untuk dilakukanpemaknaan. Pemaknaan tersebut melibatkan regulasi diri dimanapengalaman dan lingkungan dicocokan dengan pengaturan diri sehingga
  32. 32. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 akan menghasilkan suatu strategi untuk mencapai tujuan. Secara tidak langsung pengalaman dan lingkungan juga mempengaruhi tinggi rendahnya self-efficacy yang dimiliki siswa. Tanpa adanya self-efficacy tinggi, semua rangkaian tindakan yang telah disusun oleh sistem diri tidak akan terealisasi. Self-efficacy yang tinggi akan membantu siswa untuk dapat melakukan usaha yang maksimal sehingga mampu mencapai prestasi belajar yang tinggi. Sedangkan self-efficacy yang rendah akan cenderung membuat siswa meminimalisasi usaha yang dilakukannya sehingga hanya akan mencapai prestasi belajar yang rendah. Oleh karena self-efficacy didasarkan pada kerangka teori sosial kognitif yang digambarkan dengan hubungan triadik, maka kegagalan dan keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar akan dijadikan sebagai pengalaman untuk membentuk self-efficacy dalam mencapai prestasi belajar pada waktu yang akan datang.I. Kesimpulan dan Rekomendasi 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: a. Self-efficacy yang dimiliki sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukarja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 termasuk ke dalam kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki standar keyakinan cukup mampu untuk memahami dan mengerjakan soal dari pokok bahasan yang paling mudah sampai dengan yang sangat sulit, mampu untuk
  33. 33. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 mengembangkan kemampuannya dalam berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, dan bertahan menyelesaikan tugas sampai tuntas. b. Prestasi Belajar yang dimiliki sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 termasuk ke dalam kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mencapai standar cukup baik dalam menampilkan keberhasilan dalam proses belajar. c. Terdapat hubungan positif antara self-efficacy dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi tahun ajaran 2011-2012. Hal ini mengindikasikan bahwa self-efficacy yang dimiliki siswa berkaitan dengan prestasi yang dicapainya. Semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki siswa semakin tinggi pula prestasi belajar yang dicapainya, begitu juga sebaliknya semakin rendah self-efficacy siswa semakin rendah pula prestasi belajar yang dicapainya.2. Rekomendasi Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, rekomendasi dalampenelitian ini diajukan untuk siswa, pihak orang tua, sekolah, guru danpeneliti selanjutnya.a. Bagi siswa diharapkan untuk melakukan pengembangan internal (self- efficacy) dengan cara seperti: 1) memfokuskan tujuan untuk berhasil dalam pencapaian prestasi belajar belajar yang tinggi,
  34. 34. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 2) menjadikan pengalaman kegagalan masa lalu sebagai langkah awal dalam mencapai keberhasilan di masa yang akan datang, 3) tetap mempertahankan prestasi yang telah dicapai saat ini dan sebelumnya, dan 4) membuat daftar atau urutan pokok bahasan dan soal-soal dari yang paling mudah hingga yang paling sulit.b. Bagi orang tua siswa diharapkan untuk: 1) dapat menciptakan iklim pembelajaran dengan bimbingan orang tua di rumah, dan 2) dapat memfasilitasi kebutuhan pembelajaran anak.c. Bagi Guru diharapkan untuk: 1) dapat menciptakan suasana belajar kondusif dengan cara memberikan pelayanan belajar tambahan bagi siswa yang memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran di ruang kelas, 2) dapat mengikutsertakan siswa siswinya dalam lomba-lomba yang bersifat akademik baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, 3) dapat memotivasi siswa melalui reward dengan pujian bagi siswa yang mendapatkan nilai yang bagus dan memberikan kata-kata penyemangat bagi siswa yang mendapatkan nilai kurang bagus, dan 4) dapat menjalin komunikasi secara berkala dengan orang tua atau wali siswa.
  35. 35. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011d. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan: 1) dapat melakukan penelitian dengan variabel yang sama dan menitikberatkan terhadap lingkungan yang mendukung perkembangan self-efficacy siswa dalam pencapaian prestasi belajarnya. 2) dapat melakukan penelitian lebih mendalam tentang variabel yang sama dengan menggunakan metoda penelitian kualitatif.
  36. 36. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011 DAFTAR PUSTAKAArikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.Arikunto, S. (2010a). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.Arikunto, S. (2010b). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.Azwar, S. (2009). Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company.Baron, R. A., & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial Jilid I. Penerjemah: Ratna Djuwita, dkk. Jakarta: Erlangga.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Pertama). Jakarta: Balai Pustaka.Depdikbud KBRI Tokyo. (2003). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. [online] tersedia: http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf [24 Februari 2010]Hall, C.S. dan Linzey, G. (1985). Introduction to Theories of Personality. Canada: John Wiley & Sons, Inc.Hartoto. (2009). Penelitian Deskriptif. [online] tersedia: http://www.penalaran- unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/163-penelitian-deskriptif.html [28 Maret 2011].Ihsan, H. (2009). Penyusunan Skala Psikologi. Diktat Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak diterbitkan.
  37. 37. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Ihsan, H. (2010). Metode Kuantitatif: Aplikasi SPSS. Diktat Jurusan Psikologi Universitas Indonesia: Tidak diterbitkan.Kertamuda, F. (2008). ”Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar”. Jurnal Psikologi, 21, (1), 25-38Luthans, F. (2002). Organizational Behavior. United States: McGraw-Hill.Maddux, J.E. (2000). “Self-Efficacy: The Power of Believing You Can”, dalam Handbook of Positive Psychology (ed Snyder, C. R. and Lopez, S. J.). New York: Oxford University Press.Musfirah., Rahmahana, R.S. & Kumolohadi, R. (2003). “Hubungan antara Computer Self-Efficacy dan Kecemasan Menggunakan Komputer”. Psikologika. 8, (15), 37-46.Nasution, S. (2006). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.Nugroho, O.A. (2007). Hubungan antara Self-Efficacy, Penyesuaian Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa. Jurusan Bimbingan Konseling FKIP Universitas Widya Mandala Madiun. Tidak diterbitkan.P, Sudibyo A. (2005). “Kebiasaan Menyontek PR terhadap Prestasi yang Diraih Seorang Siswa”. Jurnal Pendidikan Iswara Manggala, 1, (6), 17-36.Partino. (1999). Hubungan antara Efikasi Diri dengan Unjuk Kerja: Suatu Studi Meta Analisis. Psikologika. -, (8), 53-63.R, Litasari. (2003). Hubungan antara Self-Efficacy pada Pelajaran Matematika dengan Minat Mengikuti Bimbingan di Lembaga Bimbingan Belajar Piramida Tulungagung.” Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak Diterbitkan.Riduwan dan Akdon. (2010). Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfa Beta.
  38. 38. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Santrock, J.W. (1999). Life-Span Development (Seventh Edition). United States of America: McGraw-Hill.Santrock, J.W. (2009). Psikologi Pendidikan: Educational Psychology (Edisi Ketiga). Jakarta: Salemba Humanika.Schunk, D.H. dan Pajares, F. (2001).”The Development of Academic Self- Efficacy”, dalam “Development of Achievement Motivation” (ed A. Wigfield and J. Eccles). San Diego: Academic Press.Selvianti dan Aryani, L. (2009). “Self-Efficacy Penderita Kangker Payudara”. Jurnal Psikologi. 5, (2), 275-295.Setiadi, R. (2010). Self-Efficacy in Indonesia Literacy Teaching Context: A theoretical and Empirical Perspective. Bandung: Rizqi Press.Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.Sunarto. (2009). Pentingnya SDM Berkualitas dalam Pembangunan. [online]. Tersedia:http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&jd=Pentingn ya+SDM+Berkualitas+dalam+Pembangunan&dn=20090312113314. [10 Maret 2010].Suryabrata, S. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Susilowati, A. (2009). Hubungan antara Efikasi Diri dengan Prestasi Belajar Pada Siswa SMA Negeri 8 Surakarta. Skripsi pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta: Tidak diterbitkan.Syah, M. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.Syaubari, M. (2006). Revolusi di Dunia Pendidikan Indonesia. [online]. Tersedia: http://re-searchengines.com/0706muamar.html. [10 Maret 2010].
  39. 39. Nomor Skripsi: 241/Skripsi/Psi-FIP/UPI/12.2011Wagner III, J.A. & Hollenbeck, J.R. (2010). Organizational Behavior: Securing Competitive Advantage. New York: Routledge.Wasito, H. (2004). “Hubungan antara Self-Efficacy dengan Penyesuaian Akademik dan Prestasi Akademik”. Jurnal Psikologi. 14, (2), 92-109.Winkel, W.S. (1983). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia.Winkel, W.S. (2009). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.Zimmerman, B.J dan Cleary, T.J. (2006). “Adolescents’ Development of Personal Agency: The Role of Self-Efficacy Beliefs and Self-Regulatory Skill”, dalam Self-Efficacy Beliefs of Adolescents (ed Frank Pajares dan Tim Urdan). Greenwich: Information Age Publishing.

×