Your SlideShare is downloading. ×

Seminar propinsi

178

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
178
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. SEMINAR PROPINSI PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK PENDIDIK SE KALIMANTAN SELATAN; PENCIPTAAN SUASANA LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP MORAL GURU DAN SISWA* Oleh : SARBAINI FKIP UNLAM **PENDAHULUAN Lahirnya pendidikan karakter berbasis nilai akhir-akhir ini di Indonesia sendiridibidani oleh kegagalan pola pendidikan modern yang tidak membawa kedamaian danperbaikan terhadap peradaban manusia. Hegemoni peradaban Barat yang didominasi olehpandangan hidup saintifik (scientific world view) selain mengakibatkan dampak positif (dibidang sain dan teknologi), juga mengakibatkan dampak negatif terhadap manusia. Dampaknegatif tersebut menjalar juga terhadap bidang ilmiah dengan hebat, khususnya dalam bidangepistemologi. Hal itu berawal dari para pemikir raksasa yang mencoba mengubah peradabanmanusia. Salah satunya, Rene Descartes (1650 M) sebagai icon Barat, yang menyandanggelar “bapak filsafat modern” dengan prinsip “Aku berfikir, maka Aku ada” (cogito ergosum), berhasil menggiring peradaban manusia sebagai ‘pemuja’ rasio. Pendidikan era modern tersebut, yang lebih menitikberatkan pada pendidikan bebasnilai (value free) telah memporak-porandakan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Perubahanmasyarakat akibat perkembangan IPTEK membawa dampak yang besar pada budaya, nilaidan agama (Susanto, 1998). Derasnya gelombang globalisasi mengakibatkan terjadinyapergeseran nilai dan terjadinya degradasi moral pada peserta didik. Keluarga dan sekolahakhir-akhir ini kebanyakan tidak dapat berperan sepenuhnya dalam pembinaan moral,sehingga pembinaan moral saat ini (di lembaga formal nonformal, dan informal) merupakansesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika pun pendidikan dikatakan sudah tidak bebas nilai, dan sudah menganut nilaitertentu, maka nilai yang menjadi orientasi utama dalam pendidikan adalah nilai ekonomisdan pragmatisme, karena diarahkan pada ajang pemenuhan tuntutan pasar semata, karena halitu sebenarnya merupakan tuntutan kalangan kapitalis yang sarat dengan nilai pragmatismedan ekonomis. Sehingga dalam dunia pendidikan dan masyarakat terjadi :1. Pergeseran sistem pendidikan Indonesia yang cenderung berorientasi pada pemenuhan kepentingan kalangan kapitalis, mengejar target indikator dengan standar keberhasilan pendidikan hanya menggunakan ukuran-ukuran formal yang bertumpu pada nilai akademik (UAN), rating sekolah dan fasilitas fisik berbasis teknologi (SBI, SSN). Semua tenaga dan waktu yang dimiliki sekolah dialokasikan hanya untuk memacu kemampuan kognitif siswa. Akibatnya fungsi-fungsi normatif pendidikan sebagai arena pembelajaran dan penyadaran siswa sebagai sosok pribadi manusia cenderung terabaikan. Sekolah sebagai institusi yang semestinya menanamkan nilai-nilai moral seperti kepatuhan, rasa toleransi, kebersamaan dan musyawarah kian memudar, berganti menjadi ajang kompetisi individualistis, bahkan menunjukkan ketidakpatuhan pada norma-norma yang menjadi akar pendidikan, yaitu nilai-nilai agama dan budaya.
  • 2. 2. Perubahan sosial di masyarakat telah terjadi pergeseran nilai atau orientasi, serta format relasi, bahkan ditenggarai anomi. Hal ini tampak pada merasuknya teknologi yang mendorong masyarakat cenderung berpikir instan dan pragmatis, secara struktural telah mempengaruhi pola interaksi seseorang, termasuk peserta didik. Visualisasi media sebagai pentas realitas dan ekspresi identitas, terjerembab sebagai instrumen pengganda kultur kekerasan dan kebebasan untuk melanggar norma-norma luhur, yakni nilai-nilai agama dan budaya. Media yang terlalu banyak menampilkan tayangan-tayangan menjadi inspirasi dan tuntunan bagi remaja untuk mendapatkan citranya sebagai yang “tak terkalahkan”dan “boleh melanggar” norma apa saja.3. Sekarang ini sudah menggejala di kalangan anak muda, bahkan orang tua yang menunjukkan bahwa mereka mengabaikan nilai-nilai moral, bahkan tidak mematuhi tata krama pergaulan, yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang beradab. Dalam era reformasi sekarang ini seolah-olah orang bebas berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. Misalnya, perkelahian massal, penjarahan, pemerkosaan, pembajakan kendaraan umum, penghujatan, perusakan tempat ibadah, lembaga pendidikan, kantor- kantor pemerintahan dan sebagainya, yang menimbulkan keresahan pada masyarakat.PEMBAHASANPengertian Karakter dan Pendidikan Karakter Istilah karakter (character) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan denganwatak, adalah sifat-sifat hakiki seseorang atau suatu kelompok atau bangsa yang sangatmenonjol sehingga dapat dikenali dalam berbagai situasi atau merupakan trade mark atauciri khas orang tersebut (Tilaar, 2008). Karakter adalah perangkat individual darikarakteristik psikologis yang mempengaruhi kemampuan dan kecenderungan seseoranguntuk berfungsi secara moral. Karakter adalah terdiri dari karakteristik-karakteristik yangmengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang benar atau tidak melakukan sesuatuyang benar (Berkowitz, 2002). Lickona (Martadi, 2010) merujuk pada konsep goodcharacter yang dikemukakan oleh Aristoteles “... the life of right conduct-right conduct inrelation to other persons and in relation to one self (karakter dapat dimaknai sebagaikehidupan berperilaku baik/penuh kebajikan, yakni berperilaku baik terhadap pihak lain(Tuhan YME, manusia, dan alam semesta) dan terhadap diri sendiri). Karakter (Berkowitz,2002) memerlukan kapasitas untuk berpikir mengenai benar dan salah, pengalaman emosi-emosi moral ( bersalah, empati, keharuan/kasihan), terlibat dalam perilaku-perilaku moral(berbagi bersama, menyumbang untuk amal, menceritakan kebenaran), yakin terhadapkebaikan-kebaikan moral (memperlihatkan kecenderungan menetap untuk bertindak denganjujur, altruisme (mementingkan orang lain), tanggung jawab, dan karakteristik-karakteristikyang mendukung fungsi moral. Hanya Howard Gardner yang mendefinisikan kembalikecerdasan sebagai karakteristik-karakteristik psikologis yang kompleks dalam teorinyatentang kecerdasan majemuk. Pendidikan karakter mengandung dua makna. Dalam pengertian yang luas,pendidikan karakter mengacu pada hampir semua hal yang mungkin sekolah coba lakukan
  • 3. untuk memberikan hal-hal di luar kegiatan akademik, khususnya ketika tujuannya untukmembantu anak-anak tumbuh-kembangan menjadi orang yang baik. Dalam pengertian yangsempit merupakan gaya tertentu dari pelatihan moral yang mencerminkan nilai-nilai tertentuseperti asumsi-asumsi khusus tentang sifat dan bagaimana anak-anak belajar.Pengertian pendidikan karakter dapat diamati dari beberapa definisi berikut :• Proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, rasa, pikir, karsa, raga dan karya. Peserta didik diharapkan memiliki karakter yang baik meliputi kejujuran, tanggung jawab, cerdas, bersih dan sehat, peduli, dan kreatif. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI, PIKIR, RAGA, serta RASA dan KARSA.• Sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.• Berhubungan dengan pembentukan dan pengembangan karakter secara disengaja dan komprehensif berdasarkan standar dan prinsip tertentu mencakup agenda nilai-nilai yang jelas, implementasi yang cerdas di sekolah, memajukan hubungan-hubungan positif dan motivasi instrinsik, menetapkan karakter secara komprehensif, bekerja sama dengan para orang tua dan masyarakat.Sekolah sebagai Salah Satu Sumber Karakter Sumber-sumber dari pembentuk karakter adalah keluarga ( khususnya para orang tua)adalah secara khusus dianggap memberikan pengaruh yang utama terhadap pembentukankarakter anak. Selain itu sekolah, teman-teman sebaya, masyarakat (termasuk media), religi,dan biologi merupakan para kontributor. Sekolah-sekolah dapat mempengaruhi konsep dirianak (termasuk harga diri), keterampilan-keterampilan sosial (khususnya keterampilan-keterampilan sosial teman-teman sebaya), nilai-nilai, kematangan penalaran moral, perilakudan kecenderungan-kecendrungan prososial, pengetahuan tentang moralitas, nilai-nilai, danlain-lain. Dilihat dari kacamata moral, maka lingkungan terdiri atas nilai moral, norma, prinsipdan perilaku (Kay, 1975: 196). Lingkungan sekolah, termasuk lingkungan kelas tidaklahberada dalam keadaan kosong nilai, tetapi sarat dengan muatan nilai-moral dan norma.Lingkungan sekolah yang sarat dengan muatan nilai-moral-norma berpengaruh pada situasisekolah dan membentuk suasana nilai-moral-norma iklim sekolah atau iklim sekolah. Jadisekolah dalam bentuk lingkungan mengandung muatan nilai-moral-norma karena merupakantempat bertemunya nilai-moral-norma kehidupan yang lahir secara pribadi dan ditampilkandalam bentuk pikiran, ucapan, tindakan perorangan, yang muncul secara spontan dalamberbagai kekhasan pribadi setiap orang (Mulyana, 2004: 29) Situasi pendidikan di lingkungan sekolah yang suasananya dihayati oleh guru danpeserta didik dan mereka merasakan terlibat di dalamnya sebut iklim sekolah. Iklim sekolah
  • 4. (Gallay dan Pong, 2004: 2-3) adalah bagian dari lingkungan sekolah yang dihubungkandengan dimensi-dimensi moral, sikap, afeksi dan sistem keyakinan dari sekolah yangmempengaruhi perkembangan kognitif, sosial dan psikologis moral anak-anak. melaluiinteraksi sosial di dalam dan di luar kelas. Iklim adalah mengandung semacam muatan,nuansa dan warna kehidupan, sehingga memberikan atau menciptakan kondisi bagi lahirnyatingkah laku moral tertentu pada mereka yang ada di dalamnya (Soelaeman, 1985 : 157;1994: 48). Untuk itu untuk kepentingan pendidikan maupun pembinaan nilai moral tertentu,situasi pendidikan, khususnya iklim sekolah perlu dilakukan penataan. Menurut Soelaeman (1994:51) dalam upaya penataan situasi pendidikan, makadalam penataannya hendaknya bersifat padu menjadi satu kesatuan dan tak dapat dipilah-pilah. Mungkin hanya prioritasnya saja yang membedakan tekanan pada penataannya, kepadasalah satu momen atau dimensi dari situasi atau iklim sekolah. Dalam menata situasipendidikan termasuk iklim sekolah yang dapat menumbuhkan moral yang baik, maka dalampenataannya memperhatikan tiga momen, yaitu :” momen fisik, momen psikologi danmomen sosiokultural (Soelaeman, 1985: 157). Penataan suasana momen fisik meliputi penataan lingkungan ruang atau fisikmenyangkut keadaan fisik sekolah, antara lain bangunan, kelas, ruang guru, ruang kepalasekolah, halaman, kantin, dan kantor. Suasana lingkungan fisik dapat menyajikan suasanadan iklim yang diharapkan benar-benar dihayati oleh guru dan peserta didik dalampembinaan kepatuhan terhadap norma ketertiban. Penataan momen psikologi adalah penataan hal-hal yang berhubungan dengansuasana psikologis yang dapat menunjang pada tumbuhnya situasi dan sikap patuh padanorma ketertiban, antara lain keteladanan, keterbukaan, keramahtamahan, suasana hangat,egalitarian dari pimpinan sekolah dan guru. Penataan suasana psikologis juga melibatkanpenataan emosional dan suasana kejiwaan yang memberikan nuansa tertentu pada suasanapsikologis di lingkungan sekolah. Penataan sosiokultural adalah berkaitan dengan penataan suasana pola hubunganantara guru dengan peserta didik, di antara sesama peserta didik, peserta didik dengan stafsekolah, dan cara bergaul di dalam dan di luar kelas. Karenanya pola hubungan, cara bergauldi lingkungan sekolah memberikan suasana untuk lahirnya kepatuhan pada norma ketertiban.Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter di Sekolah1. Pendidikan karakter berbasis nilai adalah bagian penting dari seluruh lini pendidikan di sekolah-sekolah. Ia bukan menjadi pendidikan bebas nilai atau netral nilai. Sekolah- sekolah harus melengkapi pendidikan karakter berbasis nilai yang diberikan di rumah, khususnya ketika rumah-rumah tidak utuh.2. Membangun karakter adalah berakar pada tegaknya nilai-nilai. Tanpa pendidikan karakter,
  • 5. hanya mengetahui apa yang benar adalah tidak menjamin bahwa kita akan melakukannya dan menggabungkan beberapa nilai dalam kehidupan. Penting untuk mengembangkan karakter adalah dua kecakapan yaitu disiplin-diri dan empati. Disiplin-diri adalah diwajibkan, karena tanpa itu para individu tidak dapat mengontrol gerak-gerak hati mereka dan akan tumbuh menjadi tidak beradab, tidak beretika, dan tidak berguna. Kontrol- kontrol eksternal dibutuhkan untuk menumbuhkan, tetapi jika diperkuat melampaui hal itu, ia merusak penanaman disiplin-diri. Empati adalah kapasitas untuk merasakan perasaan orang lain, adalah juga penting. Ia adalah landasan dari banyak nilai-nilai, dan tanpanya orang yang mempunyai disiplin-diri mungkin melakukan diri mereka sendiri untuk tujuan-tujuan yang jahat.3. Pendidikan karakter akan mengilhami para siswa dengan nuansa penuh dari pengalaman- pengalaman sekolah – kurikulum manusiawi sebaik kurikulum akademik. Ia tidak akan terbatas untuk kelas-kelas mata pelajaran, tidak hanya persoalan-persoalan materi kurikulum. Cara-cara berolahraga dilakukan, tingkatan-tingkatan kelas yang diberikan, para guru berperilaku, dan lahan-lahan koridor-koridor dan tempat parkir adalah mencatat semua makna pesan-pesan moral dan secara signifikan mempengaruhi perkembangan karakter.Praktek Empiris Memajukan Perkembangan Karakter Soloman, Watson, dan Battistich (2001) menghimpun review yang luas dari studi-studi penelitian spesifik tentang program-program dan praktek-praktek khusus dalammelaksanakan pendidikan karakter. Mereka menyimpulkan terdapat beberapa praktek yangmemiliki dukungan empiris yang kuat dalam memajukan perkembangan karakter, yaitu;memajukan otonomi peserta didik melalui partisipasi, diskusi, dan kolaborasi; melatih danmembantu keterampilan-keterampilan sosial; perilaku pelayanan sosial; dan atmosfer(suasana) moral.Tujuh Peraturan Pendidikan Karakter yang Efektif1. Bagaimana sekolah memperlakukan anak. Ketika sekolah-sekolah fokus pada nasihat (pengumuman-pengumuman, poster-poster, ceramah-ceramah pada pertemuan-pertemuan khusus) atau didaktik-didaktik (kurikulum) sebagaimana secara khusus sekolah mengatur apa yang dilakukan, sekolah telah kehilangan kualitas. Untuk melakukan pendidikan karakter yang efektif di sekolah, juga harus fokus pada bagaimana sekolah (khususnya hal- hal yang sebagian besar signifikan terhadap anak, tetapi tidak hanya itu) memperlakukan anak. Apa yang dialami anak dalam penggunaan hari-harinya di sekolah? Apakah anak diperlakukan secara penuh kebaikan dan dengan hormat, atau digertak atau diabaikan? Apakah anak merasa sekolah dan kelas sebagai tempat pengasuhan, tempat-tempat yang mendukung atau mengandung racun secara psikologis dan fisik? Hubungan-hubungan adalah penting untuk perkembangan karakter, jadi pendidikan karakter harus fokus pada kualitas hubungan-hubungan di sekolah. Hal ini termasuk hubungan-hubungan guru dengan anak dan anak dengan anak-anak.. Hubungan-hubungan itu butuh untuk menjadi
  • 6. kebaikan (pengasuhan, mendukung), asli (jujur, terbuka), penuh penghargaan (memadukan, menghargai suara-suara siswa), dan konsisten (dapat diperkirakan, stabil).2. Bagaimana orang-orang lain memperlakukan orang lain dalam kehadiran anak, karena “The Students Are Watching”. Anak-anak memantau dan banyak menyimpan dari apa yang mereka amati terhadap para guru dalam kegiatan di sekolah, dan mencerminkan secara beragam perilaku keluarga di kelas. Dalam kasus-kasus perilaku yang diamati dan refleksi perilaku keluarga oleh siswa sering suatu teladan-teladan orang dewasa tidak mencapai apa yang diharapkan secara moral ideal. Para siswa sungguh-sungguh memperhatikan. Apa yang buruk juga mereka juga tiru. Jika ingin tahu apakah bentuk moralitas guru di sekolah, perhatikan saja para siswa yang bermain di sekolah. Keteladanan, seperti mementingkan orang lain dan empati mengarahkan kepada perilaku itu kepada anak-anak. Keteladanan dari perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti kekerasan dan ketidakjujuran serupa mengarah pada meningkatnya perilaku-perilaku itu. Tidak ada artinya mengharapkan anak-anak memberikan respek dan bertanggung jawab. Jika banyak para pendidik menyatakan bahwa mereka bukan para pendidik karakter dan sering bahwa mereka tidak melakukan hal itu. Jika telah bekerja sebagai pendidik, dengan atau di sekeliling anak-anak, kita tidak dapat tidak telah menjadi pendidik karakter. Perilaku kita akan mempengaruhi perkembangan karakter anak, baik atau buruk.3. Sekolah-sekolah mengharapkan karakter yang baik untuk semua warga sekolah. Sekolah menuntut karakter yang baik dan dapat dicapai, dan menjadi pendukung yang memberikan kesempatan bagi para siswa dan para warga sekolah untuk memenuhi harapan-harapan itu. Harapan-harapan itu dapat datang dari beragam sumber, tetapi secara ideal mereka datang dari sepenuhnya komunitas sekolah dan stakeholder.4. Nasehat-nasehat bukan cara-cara utama untuk mempengaruhi perkembangan karakter. Namun tempat yang mendukung karakter positif memenuhi dua fungsi. Pertama, memperkuat apa yang anak-anak pelajari dan berkembang dari memperhatikan dan perlakuan secara positif oleh orang-orang lain. Kedua, menjernihkan pesan-pesan yang sering tidak jelas dari perilaku. Perilaku pengasuhan moral orang tua yang sangat kuat disebut kerja-kerja prabawa (induction) yang begitu luas, sebab ia memerlukan penjelasan-penjelasan dari perilaku orang tua yang mengevaluasi (memuji, menghukum untuk kebaikan). Kita butuh tidak hanya mempraktekkan apa yang kita menasihati, tetapi juga butuh penjelasan agar nasihat juga kita kerjakan.5. Anak-anak juga butuh kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan karakter yang
  • 7. baik. Mereka butuh sekolah-sekolah yang mendukung otonomi siswa dan mempengaruhinya. Mereka butuh kesempatan untuk membangun keterampilan- keterampilan seperti menempatkan pandangan, berpikir kritis, dan memecahkan konflik, memerlukan untuk keberadaan seseorang untuk karakter. Mereka juga butuh kesempatan- kesempatan untuk melakukan hal yang baik. Sekolah-sekolah secara meningkat mendorong aktivitas-aktivitas pelayanan dalam berbagai bentuk. Media teman sebaya, pengaturan diri siswa secara organisasi (student self-governance), dan aktivitas-aktivitas dermawan adalah contoh-contoh dari peluang-peluang itu.6. Untuk memelihara perkembangan dari kapasitas-kapasitas berpikir moral, para siswa butuh kesempatan-kesempatan untuk pertimbangan yang sehat tentang sesuatu, membahas, dan memikirkan isu-isu moral. Termasuk kesempatan-kesempatan untuk menerima pandangan-pandangan orang lain, khususnya ketika pandangan-pandangan itu berbeda dengan dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan kurikulum, seperti dalam pelajaran-pelajaran dan metode-metode yang memajukan diskusi teman sebaya siswa tentang isu-isu moral yang ditambahkan dalam IPS dan Bahasa, atau studi-studi kasus dalam IPA. Dapat juga dilakukan dalam kelas-kelas dan program-program yang berdiri sendiri dengan fokus pada isu-isu tentang karakter dan moral. Kuncinya adalah membuat bentuk atmosfer, sehingga siswa melibatkan teman-teman sebaya mereka untuk mendiskusikan isu-isu itu dan mereka secara sosial aman untuk melakukannya secara jujur dan terus terang. Para pendidik sering dikehendaki membantu dalam menghasilkan atmosfer itu, tetapi adalah esensial untuk sekolah-sekolah untuk memajukan secara efektif perkembangan karakter dari para siswa.7. Akhirnya, lebih baik jika para orang tua dilibatkan secara aktif dan positif dalam upaya-upaya pendidikan karakter sekolah. Para orang tua akan selalu merupakan pengaruh utama dari perkembangan karakter anak-anak. Pendidikan karakter adalah lebih efektif ketika sekolah-sekolah dan para orang tua bekerja dalam persaudaraan dan kebersamaan.SIMPULAN1. Karakter adalah sifat-sifat hakiki seseorang, kelompok, bangsa yang sangat menonjol sebagai ciri khas berupa perangkat karakteristik psikologis yang memberikan kapasitas kecerdasan yang mempengaruhi kemampuan, kecenderungan dan mengarahkan seseorang berfungsi secara moral, untuk berpikir mengenai benar dan salah, melakukan sesuatu yang benar atau tidak benar, pengalaman emosi-emosi moral ( bersalah, empati, keharuan/kasihan), terlibat dalam perilaku-perilaku moral (berbagi bersama, menyumbang untuk amal, menceritakan kebenaran), yakin terhadap kebaikan-kebaikan moral (memperlihatkan kecenderungan menetap untuk bertindak dengan jujur, altruisme (mementingkan orang lain), tanggung jawab, dan karakteristik-karakteristik yang mendukung fungsi moral.
  • 8. 2. Pendidikan karakter mengacu pada hampir semua hal yang dilakukan dengan tujuannya untuk membantu anak-anak tumbuh-kembang menjadi orang yang baik.3. Sekolah adalah salah satu sumber dan kontributor pembentuk karakter anak, karena lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang sarat dengan nilai-moral-norma yang berperan menumbuh-kembangkan karakter moral guru dan khususnya anak, melalui penataan suasana fisik, psikologi, dan sosial kultural melalui penerapan prinsip, praktek dan interaksi sosial yang terjadi dalam lingkungan sekolah. BIODATA Nama : Drs. H. Sarbaini, M.Pd Tempat dan tanggal lahir : Banjarmasin, 27 Desember 1959 NIP : 19591227 198603 1 003 Jabatan : Lektor Kepala Pangkat : IV/c, Pembina Utama Madya Pendidikan : S1 FKIP UNLAM (1984) : S2 IKIP Bandung (1993-1996) : S3 UPI Bandung (2008-2011) Alamat : Jl.Tanjung II No.19 RT 20 Blok IV Perumnas Kayutangi Banjarmasin HP : 081521949136/081351151914 Email : sar8aini59@yahoo.com. Facebook : anang sarbaini Kegiatan lain : Redaksi Jurnal Pendidikan Karakter Program Studi Pendidikan Nilai Sekolah Pascasarjana UPI Bandung : Redaksi Jurnal Wiramartas Jurusan PIPS FKIP UNLAM

×