PEMBINAAN KEPATUHAN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH

14,751 views
14,281 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
14,751
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
184
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

PEMBINAAN KEPATUHAN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH

  1. 1. SarbainiPEMBINAAN NILAI, MORAL DAN KARAKTER KEPATUHAN PESERTA DIDIK TERHADAP NORMA KETERTIBAN DI SEKOLAH; SEKOLAHLandasan Konseptual, Teori, Juridis, dan Empiris i
  2. 2. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)Anggota IKAPI No.: 071/DIY/2011PEMBINAAN NILAI, MORAL DAN KARAKTERKEPATUHAN PESERTA DIDIK TERHADAP NORMAKETERTIBAN DI SEKOLAHLandasan Konseptual, Teori, Juridis, dan Empiris© SarbainiAswaja Pressindo, Yogyakarta 2012All right reservedHak cipta dilindungi oleh undang-undangDilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isibuku ini dengan cara apapun, tanpa izin tertulis dari penerbitviii + 160 Halaman; 15 x 23 cmISBN: 979-...ISBN13: 978-979-...Editor : ???Rancang Sampul : Agung IstiadiPenata Isi : AgvendaDiterbitkan pertama kali oleh:ASWAJA PRESSINDOJl. Plosokuning Raya V No. 73Minomartani, Sleman, Yogyakartae-mail: aswajapressindo.co.idaswajapressindo@gmail.comtelp. 0274 - 4462377Cet. I: Januari 2012ASWAJA PRESSINDO YOGYAKARTA@Hak cipta dilindungi Undang-undangii
  3. 3. KATA PENGANTARA lhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah yang Maha Terpuji, Pemberi RIdho, Karunia, Ilham dan Inspirasi,sehingga rampunglah buku yang telah lama sekali ingindiwujudkan. Shalawat dan Salam semoga selalu dicurahkan kepadaMuhammad, Rasulullah saw, keluarga, sahabat dan pengikut beliauyang selalu konsisten menegakkah sunah hingga akhir jaman. Tema buku ini di inspirasi oleh Surah al-A’araf ayat 58, “Wal-baladut-tayyibu yakhruju nabaatuhuu bi izni rabbih, wallazii khabusalaa yakhruju illaa nakidaa, kazaalika nusarriful-aayaati li qaumiy yasy-kuruun “ Artinya “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuhsubur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannyatumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”. Bagipenulis makna tanah yang baik adalah lingkungan fisik, manusiadan segala yang mempengaruhi dan membentuk nilai, moral dankarakter. Sementara tanaman-tanaman adalah manusia,khususnya peserta didik, namun penentu utama baiknya manusiaadalah karena izin Tuhan, manusia hanya berusaha menatalingkungan yang baik, agar manusia-manusia tumbuh denganbaik. Namun lingkungan yang buruk, manusia-manusianya akantumbuh merana dan merugi. Buku ini memuat landasan-landasan konseptual, teori, yuridisdan empiris hasil –hasil penelitian tentang pembinaan nilai, moraldan karakter kepatuhan dalam berbagai perspektif, terutama iii
  4. 4. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...kepatuhan peserta didik terhadap norma ketertiban di sekolah.Bahasan buku ini berakar pada kepatuhan sebagai nilai, moral dankarakter. Kepatuhan adalah akar dari disiplin, sedangkan disiplinberupakan bagian dari nilai, moral dan karakter perilaku demokrasi.Sementara ini anggapan perilaku demokrasi hanya mengutamakanpada aspek kebebasan semata, sedangkan sisi lainnya aspekkepatuhan, yakni kepatuhan kepada norma Tuhan, norma sosialdan norma budaya, kurang dipublikasikan. Fungsi buku inibertujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentangnilai, moral dan karakter kepatuhan sebagai bagian dari perilakudemokrasi, sandingan setara dan penyeimbang dari kebebasan. Banyak pihak yang berkontribusi terhadap rampungnyabuku ini. Pada kesempatan ini perkenankanlah saya mengucapkanterima kasih kepada Dekan FKIP UNLAM, Drs. Ahmad Sofyan,MA, yang selalu mendorong untuk menulis buku, juga kepadakedua pembimbing “spiritual akademik” yakni, Prof.Dr.Wahyu,MS dan Prof.Dr. Soeratno, M.Pd, pemberi inspirasi, peneguhtekad dan motivator untuk menulis dan mewujud menjadi buku,sahabat pemberi inspirasi jiwa, sarantang saruntung Dr.ZulkifliMusaba, M.Pd, dan istriku Dra.Fatimah Maseri, dan anak-anakkuAulia Rahman dan Fani Akhmadi, yang memberikan suasanatenang dan damai selama penulisan buku ini. Kepada semua pihakyang tidak bisa disebutkan namanya, saya ucapkan terima kasihyang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT membalasnya denganridhaNya dan KaruniaNya. Semoga isi buku bermanfaat untukkehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegaradi dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang akar filosofinyaadalah harmoni di antara dua aspek kebebasan dan kepatuhan. Banjarmasin, 21 September 2011 Sarbainiiv
  5. 5. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ........................................................... iiiSAMBUTAN-SAMBUTAN .............................................. ???DAFTAR ISI .......................................................................... vBab IPENDAHULUAN ................................................................. 1 A. Latar Belakang ............................................................... 1 B. Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter ........................... 3Bab IIPEMBINAAN;Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakter .. 25 A. Konseptual Pembinaan ................................................ 25 B. Pembinaan Perspektif Sosialisasi, Internalisasi dan Personalisasi ................................................................ 26Bab IIIKEPATUHAN;Konseptual dan Multiperspektifnya ................................ 37 A. Konseptual Kepatuhan ................................................ 37 B. Kepada Terhadap Otoritas ............................................ 40 1. Perspektif Agama .................................................... 40 v
  6. 6. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... 2. Perspektif Kebajikan Moral dan Kewajiban Moral .. 44 3. Perspektif Demokrasi .............................................. 50 4. Perspektif Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter .... 55Bab IVNORMA KETERTIBAN DI SEKOLAH............................ 63 A. Konseptual Norma ...................................................... 63 B. Norma Ketertiban di Sekolah ...................................... 66Bab VWARGA NEGARA DEMOKRATIS ................................. 71 A. Warga Negara Demokratis .......................................... 71 B. Konseptual Warga Negara Demokratis ....................... 72 C. Karakteristik Warga Negara Demokratis .................... 74 D. Pendidikan Demokratis dan Sekolah Demokratis ....... 76Bab VILANDASAN PEMBINAAN NILAI, MORAL DANKARAKTER KEPATUHAN ............................................... 81 A. Landasan Teori ............................................................. 81 1. Teori Tindakan Talcott Parsons ............................... 81 2. Teori Kategori Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Vessel dan Huitts ..................................... 87 3. Teori Pendekatan Perkembangan Moral Downey dan Kelly ................................................................. 91 4. Teori Perkembangan Kognitif dan Moral Puente .... 93 B. Landasan Juridis-Normatif .......................................... 96 1. UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak-Hak Asasi Manusia ............................ 96 2. UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak .................................... 98vi
  7. 7. Daftar Isi 3. UU RI No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ...................... 99 4. Peraturan Mendiknas RP No. 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan ............................. 100 C. Landasan Empiris ...................................................... 104Bab VIISEKOLAH DAN PEMBINAAN KEPATUHANPESERTA DIDIK TERHADAP NORMAKETERTIBAN ................................................................... 109 A. Pembinaan Kepatuhan terhadap Norma sebagai Kewajiban Moral Sekolah .......................................... 109 B. Komponen Sekolah dalam Pembinaan Kepatuhan terhadap Norma......................................................... 111 1. Visi dan Misi ......................................................... 111 2. Program dan Kegiatan .......................................... 115 3. Penataan Situasi .................................................... 118 4. Proses Pembelajaran ............................................. 123Bab VIIIPENUTUP ......................................................................... 137 A. Kesimpulan ................................................................ 137 B. Saran-saran ................................................................ 139DAFTAR PUSTAKA ......................................................... 143BIODATA PENULIS......................................................... 159 vii
  8. 8. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...viii
  9. 9. Bab I PENDAHULUANA. Latar BelakangM enurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2, PendidikanNasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila danUUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaannasional dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuandan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabatdalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuanuntuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadimanusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab (pasal 3 UU SPN Tahun 2003). Undang-undang tersebut memberikan landasan bagi pelak-sanaan pendidikan di Indonesia, baik dalam hal akar pendidikan,maupun fungsi dan tujuan pendidikan. Ketiga hal tersebut,yakni, akar, fungsi dan tujuan pendidikan hendaknya menyatudalam suatu proses mengembangkan potensi peserta didiksesuai dengan kepribadian yang dicita-citakan. Hopkins dan Stanley (1981: 10) mengemukakan “three pri-mary components of the educational process – a process for changing 1
  10. 10. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...the behavior and attitudes of student. First, educational goals, second,learning experiences and finally, evaluation”. Proses pendidikanadalah proses untuk mengubah berbagai perilaku dan sikap-sikap (aspek-aspek kepribadian) peserta didik yang ditunjangtiga komponen utama, yaitu tujuan pendidikan, pengalamanbelajar, dan prosedur evaluasi. Dengan demikian, proses pendi-dikan membina seluruh aspek-aspek kepribadian peserta didik,baik aspek perilaku maupun sikap secara kognitif, emosional,sosial dan motorik serta dapat mencapai hasil optimal, jikaditunjang dengan waktu, fasilitas, alat pendidikan serta fasilitasmemadai, menuju sosok pribadi manusia yang diharapkanmenurut tujuan pendidikan nasional. Hal demikian mengisyaratkan keharusan untuk melaksana-kan secara konsisten antara tujuan pendidikan nasional yangdiharapkan dengan tujuan pendidikan yang dilakukan olehpraktisi di sekolah-sekolah. Sebagaimana Sauri (2009: 2-3)tegaskan pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003mengisyaratkan bahwa praktik pendidikan di Indonesia diarah-kan kepada upaya mengembangkan manusia utuh, manusiayang bukan hanya cerdas dari aspek kecakapan intelektual saja,melainkan juga kepribadian dan keterampilannya, atau dalamistilah lain sebagai insan yang cerdas otaknya, lembut hatinyadan terampil tangannya (head, heart, hand). Oleh karenanya pendidikan bukanlah sebagai ajang peme-nuhan tuntutan pasar semata, sebab sebenarnya itu merupakantuntutan kalangan kapitalis yang sarat dengan nilai pragmatismedan ekonomis. Tetapi pendidikan merupakan proses pembuda-yaan dan pemberdayaan peserta didik dalam membentuk watakdan kehidupan warga negara Indonesia yang potensial, danbangsa yang bermartabat dan beradab berlandaskan nilai-nilailuhur budaya bangsa. Untuk mewujudkan hal demikian, makapada setiap jenjang persekolahan wajib dibina program yang2
  11. 11. Pendahuluanharus memperhatikan dan berlandaskan 10 Nilai Luhur sebagaiMoralitas/Keharusan (Djahiri, 2009:1), pengembangan kuriku-lum dilakukan hendaknya mengacu pada standar nasional pendi-dikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional di Indo-nesia. Salah satu pendidikan yang peduli dengan pembentukankepribadian manusia secara utuh dan menyeluruh adalah Pendi-dikan Nilai, Moral, dan Karakter. 10 Nilai Luhur sebagai Morali-tas/Keharusan itu terdapat dalam Tujuan Pendidikan Nasional,adalah Iman, Takwa, Akhlak Mulia, Sehat, Berilmu, Cakap,Kreatif, Mandiri, Demokratis dan Bertanggungjawab.B. Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter merupakan programpendidikan yang diberikan kepada setiap orang, dengan mem-berikan pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan makna esensial,serta keterampilan yang diperlukan oleh setiap manusia dalamupaya membina peserta didik menjadi manusia yang baik, yangberkepribadian menyeluruh terpadu. Dalam perspektif Indone-sia Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter adalah pendidikan har-monis yang mengembangkan aspek kognitif (pengetahuan,pengertian, pemahaman dan sebagainya), aspek afektif (nilai,moral, sikap dan sebagainya), dan psikomotor (keterampilan).Namun dari ketiga aspek tersebut, penekanannya lebih besarpada aspek afektif. Hal ini sejalan dengan tujuan PendidikanNilai, Moral dan Karakter, yaitu membina warga negara Indo-nesia yang memiliki kepribadian yang baik, terpadu, dan terdidik,membentuk manusia seutuhnya. Sejalan dengan hal itu, maka Pendidikan Nilai, Moral danKarakter bernuansakan dan bermisikan pada pembentukankepribadian, watak, jati diri manusia, kehidupan substansi danpotensinya memuat sarat nilai, moral, dan karakter, serta memilikivisi dan misi memanusiakan (humanizing), pembudayaan (civiliz- 3
  12. 12. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...ing), pemberdayaan (empowering) dan sosialisasi (socializing) untukkehidupan bersama manusia dan kehidupannya secara pribadi. Sebagai pendidikan yang bernuansakan dan bermisikanpembentukan kepribadian, maka dalam upaya pembentukankepribadian tersebut, tentulah tidak bisa lepas dari muatan nilai,moral dan karakter yang dicita-citakan dan dipandang luhur.Karena nilai, moral dan karakter itulah yang hendaknya disosiali-sasikan, dan dinternalisasikan, sehingga menjadi personalisasi,mempribadi dalam sosok kepribadian yang diinginkan. ArtinyaPendidikan Nilai, Moral dan Karakter menjadikan nilai dan moralsebagai “spirit” dari karakter, karena sosok kepribadian yang dici-ta-citakan oleh Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter, hendaknyadiberikan “ruh” berupa muatan nilai, moral dan karakter luhuryang mempribadi dalam sosok kepribadian yang diharapkan olehPendidikan Nilai, Moral dan Karakter. Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter, mengacu kepadaRena (2006: 3) adalah tidak hanya sebagai hati dari pendidikan(heart of education), tetapi juga sebagai pendidikan hati (educa-tion of heart). Pendidikan, Nilai, Moral dan Karakter adalah kom-ponen yang diperlukan bagi pelaksanaan pendidikan danpembelajaran secara holistik. Karenanya mendidik dan mengajarnilai-nilai, moral dan karakter, tidak hanya mengajar bagaimanamenilai, bermoral dan berkarakter, tapi juga bagaimana membe-rikan pengetahuan dalam tingkat pemahaman dan wawasanyang lebih dalam. Pengalaman belajar secara holistik bertujuanuntuk melakukan internalisasi nilai-nilai, moral dan karakter,kemudian oleh peserta didik diwujudkan ke dalam perilakunya.Internalisasi dan pewujudan nilai-nilai, moral dan karakter kedalam perilaku pastilah berbasis fitrah dasar manusia yangmenuju kepada pribadi manusia yang diharapkan. PendidikanNilai, Moral dan Karakter dapat dimaknai sebagai upaya yangdilakukan secara sadar dan terencana dalam rangka mengem-4
  13. 13. Pendahuluanbangkan fitrah dasar manusia secara utuh menuju terbentuknyainsan berakhlakul karimah. Secara tegas pelaksanaan Pendidikan Nilai, Moral dan Ka-rakter perspektif Indonesia sebagai upaya penanaman danpengembangan nilai, moral dan karakter pada diri pribadi, berupapemberian bantuan agar peserta didik dapat menyadari danmengalami nilai-nilai, moral dan karakter, sehingga mampumenempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya,dalam menuju terbentuknya insan berakhlakul karimah. Pelak-sanaan Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter perspektif Indo-nesia demikian tentulah tidak terpisahkan dari visi PendidikanNasional yang sarat dengan muatan nilai, misi dan tujuanmengenai sosok pribadi manusia Indonesia yang utuh, padudan menyeluruh. Pendidikan Nilai, Moral maupun Karakter dapat dikatakanmempunyai visi dan misi dalam lapangan pendidikan. VisiPendidikan Nilai, Moral dan Karakter adalah Manusia Indone-sia yang memiliki akhlakul karimah, berkepribadian mulia,sebagai manusia yang kaffah (utuh) baik sebagai individu,makhluk sosial serta sebagai insan ciptaan Tuhan (makhluk reli-gius). Sementara Misi Pendidikan Nilai, Moral maupun Karak-ter, yang diinspirasi oleh Maftuh (2007: 70-71) adalah:1. Membina peserta didik agar memahami dan menyadari nilai- nilai, moral dan karakter dirinya dan nilai-nilai, moral dan karakter orang lain (termasuk nilai, moral dan karakter indi- vidu, keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia) serta sumber- sumber nilai, moral dan karakter (agama, sosial budaya, adat, hukum, metafisik, ilmu) dan muatan nilai, moral dan karak- ter (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama).2. Membina peserta didik agar mampu mengaktualisasikan diri (mengapresiasi dan melakonkan) sebagai pribadi yang 5
  14. 14. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... memiliki akhlakul karimah dan berkepribadian mulia dalam hubungan di antara manusia (keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia), dalam hubungannya dengan alam sekitar (ruang, waktu dan budaya) serta hubungannya dengan pencipta, yakni ibadah pada Allah Subhanahu wata’ala dalam menata hidup hari ini, esok dan hari kemudian.3. Membina peserta didik agar mampu melakukan proses pembelajaran pendidikan nilai, moral, dan karakter (dalam pendidikan formal maupun non/in formal) dalam bentuk cognitive moral, affective moral (pendekatan qolbiyah), behav- ior moral, pendekatan metafisis, pendekatan kultural, serta pendekatan holisitik. Tujuan Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter adalah mem-bantu peserta didik agar memahami, menyadari, dan mengalaminilai-nilai, moral dan karakter serta mampu menempatkannyasecara integral dalam kehidupan. Visi Pendidikan Nilai, Moraldan Karakter adalah harapan untuk terbentuknya manusia In-donesia yang diharapkan di masa depan, sedangkan misi adalahpilihan utama dari apa dan hendak menjadi apa, dan tugas-tugasyang dianggap paling penting dilakukan untuk mewujudkansosok manusia Indonesia yang diinginkan. Tujuan PendidikanNilai, Moral dan Karakter sendiri diturunkan dari upaya mereali-sasikan visi dan misi. Visi, misi dan tujuan Pendidikan Nilai,Moral dan Karakter perspektif Indonesia secara simultan berge-rak dalam suatu tatanan nilai, moral dan karakter luhur yangberbasis pada penyadaran dan penempatan sumber dan muatannilai, moral dan karakter yang berdimensi manusia yang kaffah,baik untuk masa kini maupun ke masa depan. Beberapa nilai moral luhur yang dimuat secara juridis nor-matif dalam Tujuan Pendidikan Nasional, menurut Djahiri(2009: 1) adalah merupakan 10 Nilai Luhur yang merupakan6
  15. 15. PendahuluanMoralitas/Keharusan adalah iman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggungjawab. Dari 10 Nilai Luhur sebagai karakter moralyang hendaknya dibentuk dan dibina oleh Pendidikan Nasional,khususnya Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter antara lainadalah nilai demokratis. Mengacu pada pendapat Venkataiah(2007:6), maka Pendidikan nilai, moral dan karakter adalahbertujuan melatih generasi muda sepenuhnya dalam maknanilai-nilai, moral dan karakter secara fisik, emosional, intelektual,imajinasi, estetik, demokratis, ilmiah, sosial, moral dan spiritual. Sejalan dengan nilai, moral dan karakter demokratis yanghendaknya dibentuk dan dibina dalam dunia pendidikan nasio-nal, maka Berkowitz dan Simmons (2003:119) mengkaitkannyaantara masyarakat demokratis dan sekolah. Untuk berfungsinyamasyarakat yang modern, demokratis dan teknologis, para warganegara (para guru dan kepala sekolah), dan warga negara masadepan (para siswa), harus tidak hanya memahami nilai-nilai,moral dan karakter atas nama masyarakat demokratis yangdibangun, tetapi juga mempraktikkan kondisi-kondisi nilai,moral dan karakter yang dibolehkan dari demokrasi. Karenademokrasi didasarkan atas nilai, moral dan karakter dari parawarga negara dan institusi-institusi publik, seperti sekolah-sekolah. Dapat dikatakan bahwa nilai, moral dan karakter warganegara yang demokratis amat tergantung pada nilai, moral dankarakter peserta didik yang dihasilkan oleh sekolah. Berkowitz dan Simmons (2003: 119) juga mencatat empatelemen yang dibutuhkan untuk mendidik nilai, moral dan karak-ter para siswa untuk demokrasi; (1) belajar tentang demokrasi,(2) mempraktikkan demokrasi, (3) membantu landasan psiko-logis untuk partisipasi demokrasi, dan (4) mengembangkankarakter moral secara umum. Terdapat lima nilai, moral dan 7
  16. 16. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...karakter dari warga negara yang demokratis yang dapat dikem-bangkan dan dipraktikkan oleh para siswa, yaitu; (a) etika kepe-dulian/tanggung jawab; (b) respek terhadap hak-hak setiap or-ang; (c) apresiasi terhadap apa yang penting bagi publik; (d)analisis berdasar perspektif sosial; dan (e) kapasitas untukpartisipasi aktif dalam demokrasi. Kerangka acuan mengenai nilai, moral dan karakter warganegara dan sekolah-sekolah demokratis yang terbaik dapatdicapai melalui perkembangan nilai, moral dan karakter. Prosesperkembangan nilai, moral dan karakter peserta didik pada masa-masa sekolah dipengaruhi dengan kuat oleh persekolahan,khususnya yang fokus pada isu-isu nilai dan moral, pedulidengan kontek (sekolah dan kelas sebagai masyarakat yangpeduli) dalam mendidik peserta didik, memajukan interaksiantar teman sebaya tentang isu-isu nilai dan moral, dan integrasidari karakter seluruh sekolah (Berkowitz dan Simmons, 2003:120). Oleh karena itu amat wajar, jika Dayton (1994:5) menge-mukakan bahwa penanaman nilai, moral dan karakter demokra-tis adalah tujuan fundamental dari sekolah-sekolah umum.Melalui sekolah diselenggarakan pendidikan nilai, moral dankarakter yang mengacu pada perilaku demokratis, karenanyadiharapkan sekolah dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaranmestilah berbasis prakarsa-prakarsa yang didesain untuk mema-jukan perkembangan peserta didik, agar menjadi para warganegara yang commitment, competence dan confidence dari masyarak-at demokratis. Mendidik untuk kebaikan secara khusus penting sekalidalam demokrasi di mana orang memerintah diri mereka sendiri(self-governed). Rakyat yang demokratis harus memahami danmenjalankan prinsip, nilai, moral, dan karakter demokrasi;menghormati hak-hak orang lain, peduli terhadap kebaikanbersama, secara sukarela mematuhi hukum, dan berpartisipasi8
  17. 17. Pendahuluanaktif dan konstruktif dalam kehidupan publik (Mosher, Kennydan Garrod, 1994:3). Lawrence Kohlberg mengemukakan bahwasekolah berjalan secara demokratis adalah dalam konteks untukpendidikan nilai, moral dan karakter. John Dewey menyatakansekolah berjalan demokratis adalah hal yang esensial untukpendidikan kewarganegaraan (Berkowitz, 1998:1). Nilai, moral dan karakter demokrasi yang semestinya dibinadan dikembangkan dalam dunia persekolahan dalam perspektifPendidikan Nilai, Moral dan Karakter tidaklah berdiri sendiri.Nilai, moral dan karakter demokrasi sendiri adalah terdiribeberapa unsur nilai, moral, dan karakter. Nilai, moral dankarakter demokrasi dengan mengacu pada nilai demokrasimenurut Unesco-Apnieve (1998:12) adalah terdiri dari Respectfor Law and Order, Discipline, Respect for Authority, dan Mutualtrust. Dalam prinsip-prinsip untuk pendidikan nilai, moral dankarakter, maka salah satu prinsipnya adalah prinsip disiplin diri(self discipline), yang terdiri dari nilai, moral dan karakter kebu-latan tekad (determination), kepatuhan (obedience), dan pengenda-lian (restraint), “When we have the determination to restraint ourlower desires, the door is opened for us to fulfill our highest aspira-tions. Through obedience to our higher self, we develop an inner con-trol and greater confidence on ourselves”. (www.teachingvalues.com; July 9, 2008). Tekad seseorang untuk mengendalikanhasrat-hasrat yang lebih rendah, akan terbuka bagi pemenuhanaspirasi-aspirasinya yang tertinggi. Salah satunya adalah melaluinilai, moral dan karakter kepatuhan terhadap diri yang lebihtinggi, mengembangkan kontrol diri dan kepercayaan yang lebihbesar terhadap diri sendiri. Untuk mengembangkan kontrol diridan kepercayaan, lebih dulu perlu dibentuk dan dibina nilai,moral dan karakter kepatuhan. 9
  18. 18. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... Dapat ditegaskan bahwa kepatuhan sebagai nilai, moral dankarakter adalah landasan untuk mengembangkan kontrol diri(self-discipline) dan kepercayaan terhadap diri (self-belief), makasebelum kontrol diri dikembangkan, hendaklah dibentuk dandibina kepatuhan sebagai nilai, moral dan karakter terlebih dahu-lu, agar menjadi perilaku peserta didik. Karena dari 9 pilar nilai,moral dan karakter yang perlu diajarkan kepada anak-anak,menurut Indonesia Heritage Foundation, salah satunya adalahkepatuhan, sebagaimana dikutip dari Megawangi (2004: 95),yaitu; Hormat (respect), Santun (courtesy), dan Patuh (obedience).Selain itu dilihat dari indikator nilai, moral dan karakter warganegara, Sparks (1991: 182) memasukkan kepatuhan kepada oto-ritas yang sah (obedience to legitimate authority) ke dalam salahsatu indikator dari nilai, moral dan karakter Hormat (Respect-ful). Dengan demikian kepatuhan sebagai nilai, moral dan karak-ter selain menjadi dasar bagi pengembangan kontrol diri dansebagai nilai, moral dan karakter yang perlu diajarkan kepadapeserta didik, juga merupakan indikator dari karakter warganegara, sebagai bagian dari karakter respek. Artinya kepatuhanmenjadi landasan pengembangan kontrol diri dan respek sertamenjadi indikator karakter warga negara suatu negara. Karenanilai, moral dan karakter demokratis mengacu di antaranya padaself-discipline dan respek, sedangkan self-discipline dan respekbasisnya adalah kepatuhan, maka dapat dikatakan dasar nilai,moral dan karakter demokrasi itu adalah kepatuhan, khususnyakepada hukum dan ketertiban. Nilai Demokrasi dalam kehidup-an bernegara dan bermasyarakat, jelas tidak bisa berjalan denganbaik, kecuali ada kepatuhan dari warga negaranya terhadaphukum dan ketertiban publik. Dalam kehidupan bernegara, maka konsep-konsep otoritas,kepatuhan dan kewajiban adalah inti dalam memahami hukum10
  19. 19. Pendahuluandan institusi politik. Ketiga konsep itu juga dilibatkan dalamlegitimasi terhadap negara; pembelaan negara yang membuatperkara normatif sebagai otoritas negara, hak-hak negara untukmeminta kepatuhan, dan para warga negara berkewajibanmematuhi perintah-perintah negara (Edmundson, 2009, http://ssrn.com/abstract=1340497). Demikian juga berkaitandengan perkara normatif yang ditetapkan otoritas negara,lazimnya bertalian dengan will of all dan general will, yang dike-mudian dirumuskan menjadi kemauan bersama. Kemauanbersama itu kemudian bermetamorfosa menjadi kontrol sosial.Ketika kontrol sosial selesai dirumuskan, setiap orang wajibpatuh pada hukum, Kepatuhan itulah, antara lain menjadi cirikehidupan manusia di negara modern (Rengka, 1996, http://www.suarapembaharuan.com). Untuk menyiapkan warga negara yang memiliki kepatuhansebagai nilai, moral dan karakter terhadap hukum dan normayang mengatur kehidupan bersama, baik bernegara dan berma-syarakat, maka peranan sekolah amatlah urgen. Azra (2001:4)menyatakan bahwa sekolah bukanlah sekadar tempat transferof knowledge, namun juga merupakan lembaga yang memfasili-tasi usaha dan upaya pembelajaran yang berorientasi pada nilai,moral dan karakter. Nilai, moral dan karakter yang dimaksudsalah satunya adalah demokrasi, termasuk di dalamnya kepa-tuhan. Sekaitan dengan itu, Yudhoyono (http://antikorupsi.org,21 September 2009) mengemukakan bahwa kepatuhan kepadanilai-nilai agama, moral, dan norma-norma hukum harusdikembangkan. Tanpa kesadaran dan kepatuhan kepada nilai-nilai dan norma-norma tersebut, setangguh apa pun sistem yangkita bangun akan sia-sia. Sebab, mereka yang tidak memilikikesadaran dan kepatuhan akan dengan mudah mengotak-atikdan memanipulasi sistem yang kita bangun dengan susah payah. 11
  20. 20. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... Kepatuhan sebagai nilai, moral dan karakter adalah elemendalam struktur kehidupan sosial, sebagai cara-cara yang palingsering dilakukan dalam mengejar tujuan umum, biasanyaketeraturan sosial. Sehingga kepatuhan terhadap otoritas dalamkehidupan sosial memainkan peranan kunci dalam memeliharaketertiban sosial (Passini dan Morselli, 2009: 96), dan merupa-kan nilai-nilai yang paling penting dalam memelihara ketera-turan dalam masyarakat (http://wikiethica.wikidot/com/ordeliness, diakses 20 November 2009). Melalui proses sosialisasi, generasi muda dalam masyara-kat, belajar untuk patuh terhadap figur-figur otoritas, keterampil-an hidup, sifat, karakter, dan kontrol diri yang diperlukan untukkehidupan dewasa bagi para individu, guna berkontribusi dalammasyarakat. Namun baru-baru ini, menurunnya harapan-harap-an dan standar-standar dalam masyarakat terhadap kepatuhanadalah dikontribusi oleh menurunnya moral sama seperti prob-lem sosial yang lain (http://wikiethica.wikidot/com/ordeliness,diakses 20 November 2009). Demokratisasi, keterbukaan, dan kebebasan yang digenjotsejak reformasi 1998 telah menampilkan wajah baru Indone-sia. Meski demikian, ia juga menimbulkan banyak situasi keke-rasan dan kebebasan nyaris tanpa batas. Demokrasi yang kitanikmati saat ini adalah demokrasi yang menciptakan kekerasan.(Siahaan, Kompas, 2008: 27). Kekerasan itu bahkan juga terjadidi lingkungan sekolah dan pondok pesantren, dan di antaranyadigunakan sebagai bagian dari pembinaan disiplin, khususnyakepatuhan kepada norma sekolah (Yayasan Perlindungan HakAnak, 2006: 5). Ada dua faktor mengapa reproduksi kekerasan dalam insi-tusi sekolah tersebut masih berlangsung (http://puan.vox.com/library/post, diakses 29 November 2007). Pertama, terjadinyapergeseran sistem pendidikan Indonesia yang cenderung ber-12
  21. 21. Pendahuluanorientasi pada pemenuhan kepentingan kalangan kapitalis,mengejar target indikator dengan standar keberhasilan pendidik-an hanya menggunakan ukuran-ukuran formal yang bertumpupada nilai akademik, rating sekolah dan fasilitas fisik berbasisteknologi. Semua tenaga dan waktu yang dimiliki sekolahdialokasikan hanya untuk memacu kemampuan kognitif siswa.Akibatnya fungsi-fungsi normatif pendidikan sebagai arena pem-belajaran dan penyadaran siswa sebagai sosok pribadi manusiacenderung terabaikan. Sekolah sebagai institusi yang semesti-nya menanamkan nilai-nilai moral seperti kepatuhan, rasa tole-ransi, kebersamaan dan musyawarah kian memudar, bergantimenjadi ajang kompetisi individualistis, bahkan menunjukkanketidakpatuhan pada norma-norma yang menjadi akar pendi-dikan, yaitu nilai-nilai agama dan budaya. Kedua, perubahansosial di masyarakat telah terjadi pergeseran nilai atau orientasi,serta format relasi, bahkan ditenggarai anomi. Hal ini tampakpada merasuknya teknologi yang mendorong masyarakat cende-rung berpikir instan dan pragmatis, secara struktural telah mem-pengaruhi pola interaksi seseorang, termasuk kalangan remajasekolah. Visualisasi media sebagai pentas realitas dan ekspresiidentitas, terjerembab sebagai instrumen pengganda kulturkekerasan dan kebebasan untuk melanggar norma-norma luhur,yakni nilai-nilai agama dan budaya. Media yang terlalu banyakmenampilkan tayangan-tayangan menjadi inspirasi dan tuntun-an bagi remaja untuk mendapatkan citranya sebagai yang “takterkalahkan”dan “boleh melanggar” norma apa saja. Sekarang ini sudah menggejala di kalangan anak muda,bahkan juga orang tua yang menunjukkan bahwa merekamengabaikan nilai-nilai moral, bahkan tidak mematuhi tatakrama pergaulan, yang sangat diperlukan dalam suatumasyarakat yang beradab. Dalam era reformasi sekarang iniseolah-olah orang bebas berbuat apa saja sesuai dengan 13
  22. 22. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...kehendaknya. Misalnya, perkelahian massal, penjarahan,pemerkosaan, pembajakan kendaraan umum, penghujatan,perusakan tempat ibadah, lembaga pendidikan, kantor-kantorpemerintahan dan sebagainya, yang menimbulkan keresahanpada masyarakat (Sauri, 2007: 4). Dapat dikatakan bahwa secaranasional ketidakpatuhan warga negara terhadap norma agama,norma sosial (kesusilaan dan kesopanan), dan norma hukumhampir terjadi di semua lini kehidupan. Fakta-fakta yang mendu-kung hampir dapat dijumpai setiap hari di massmedia, baikmedia cetak maupun media televisi. Baru-baru ini terjadi dua kali tawuran mahasiswa antar kam-pus UKI dan YAI (Kompas, 15 Oktober 2008: 27) dan ditemu-kannya senjata dan narkoba di dua kampus tersebut (Kompas,17 Oktober 2008: 30). Rahman dan Chaniago, (Kompas, 2008:30), menyatakan, mengatasi tawuran antarmahasiswa tidakcukup hanya dengan pemisahan secara fisik. Namun diperlukanpula pendidikan sadar hukum, rehabilitasi personal, dan sistemkontrol terpadu. Andrinof menambahkan, tawuran antarmaha-siswa atau antarsiswa sering terjadi di semua daerah. Sebagiankaum muda justru memunculkan semangat premanisme massa(Garin, 2008: 27). Rahardjo (2008: 6) mengemukakan: “Kitateringat buku Ortega y Gasset, La Rebelion de las Masas atauThe Revolt of Masses, De opstand de horden. Saya pernahbertanya, apakah ini demokrasi atau bangkitnya para preman?”.Azra (2006: 173) berpendapat bahwa berbagai persoalan yangtimbul mencerminkan ketiadaan karakter dari anak bangsa,banyak di antara anak-anak yang alim dan baik di rumah, tetapinakal di sekolah, terlibat tawuran, penggunaan obat-obat terla-rang, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, sepertiperampokkan bus dan sebagainya. Demokrasi kelihatannya cenderung disalahpahami kalang-an masyarakat sebagai demonstrasi massa dan berbagai bentuk,14
  23. 23. Pendahuluankebebasan, hak dan unjuk rasa lainnya, sehingga memunculkanistilah “demo-crazy”. Juga, kebebasan cenderung disalahartikansebagai “kebebasan tanpa aturan” (lawlessness freedom) dan tanpakepatuhan kepada hukum. Hasilnya yang terjadi adalah anarki.Anarkisme bukan hanya mencederai, tetapi bahkan jelas berten-tangan dengan demokrasi. Sehingga salah satu persoalan yangdihadapi bangsa Indonesia adalah perilaku masyarakat yangdengan ringannya melanggar kaidah-kaidah etis-normatif,tradisi, bahkan hukum formal (Kompas, 2009: 12). Fenomena demikian mengindikasikan bahwa masih dianut-nya nilai, moral, dan karakter tidak demokratis, khususnya nilai,moral, dan karakter yang tidak mematuhi hukum dan ketertiban(Unrespect/Disobedience for Law and Order). Jika dibiarkan belarut-larut, akan memberikan dampak negatif terhadap generasi mu-da, khususnya terhadap peserta didik dalam hal kepatuhannyapadanorma-norma di sekolah. Karena hal demikian merupakansosialisasi secara tidak langsung terhadap peserta didik, bahwaketidakpatuhan sebagai nilai, moral dan karakter terhadap normahukum dan ketertiban adalah hal biasa, dan boleh-boleh sajadilanggar. Secara nasional, jumlah kenakalan remaja (bolos sekolah,keluyuran di mall-mall, tempat wisata, halte bis, mabuk-mabuk-an, pemerasan, pemalakan, “ngutil” [mencuri di mall-mal atautoko kelontong], perkosaan, pekerja seks komersial, pelanggaranlalu lintas, penggunaan obat terlarang, menjadi anak jalanan,dan sebagainya) selama tiga tahun terakhir dari tahun 1998-2001 mengalami kenaikan sekitar 9% dari 166.669 orang menjadi181.561 orang (Tajri, 2009: 5). Dari jumlah tersebut, 85.331orang (sekitar 47%) di antaranya terpaksa ditahan atau menja-lani rehabilitasi di sasana rehabilitasi, karena perbuatan melawanhukum. Menurut pantauan, jumlah kenaikan terus bertambahsetiap tahun sekitar 3,5% (Tadjri, 2009: 5). 15
  24. 24. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... Hasil penelitian yang dilakukan Balitbangda Provinsi JawaTengah (2004, http://litbang.patikab.go.id) menunjukkan bahwafaktor utama yang mendorong peserta didik untuk melanggarnorma sekolah adalah ciri perkembangan remaja yang ditujukanoleh; (1) keinginan mencari “siapa” saya sebenarnya; (2) adanya idiom di kalangan mereka “masa sekolah di SLTA masa yang paling indah”, sehingga jangan terlalu dikekang dalam pencarian jati diri; (3) tidak ingin terlalu dikekang dalam mengekspresikan diri pada masa remaja; (4) siswa atau remaja masih mudah terombang-ambing dalam mencari jatidirinya dan keinginan untuk mengekspresikan keingin- annya; (5) merasa nyaman mengekspresikan diri, meski melanggar norma sekolah; (6) adanya sikap puas, sehingga memberontak terhadap aturan norma sekolah yang diang- gap terlalu mengekang kebebasan siswa; (7) mencontoh teman yang dinilai memiliki kesamaan dengan jatidirinya; (8) mencontoh kakak kelas; (9) siswa mencontoh idolanya dalam penampilan; (10) mencontoh model pakaian dan asesoris idolanya, baik yang muncul di televisi maupun media lain, dan (11) lingkungan sekolah (guru killer, guru suka pemarah, guru merokok di kelas, guru sering membolos/ kosong jam pelajaran). Hasil penelitian (Sutrisno, 2009. http://jurnaljpi.wordpress.com), menunjukkan bahwa ketidakpatuhan peserta didik adalahkarena faktor dalam dan luar diri siswa. Faktor dari diri siswaantara lain, adalah mereka tidak bisa berkonsentrasi dalambelajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah, sulit menangkappelajaran, malas belajar, bosan dalam mengikuti pelajaran, sulitmemahami pelajaran, kesulitan belajar sendiri di rumah. Faktordari sekolah adalah takut dimarahi guru piket/wali kelas karenaterlambat datang ke sekolah, pintu pagar sekolah sudah ditutup,sehingga ingin membolos, dan takut dimarahi oleh guru, karenatidak menyelesaikan tugas dan malu pada teman sekelas.16
  25. 25. Pendahuluan Di suatu SMA, siswa senior memaksa puluhan siswa kelassatu berkelahi dengan siswa kelas dua dan tiga. Tempatnya tidakdi lingkungan sekolah, tetapi di luar di lapangan bola. Menurutlaporan seorang siswa, perkelahian paksa itu terjadi hanya kare-na siswa junior memarkir sepeda motornya di tempat parkirsiswa senior. Di sekolah lain, seorang siswa dikeroyok empatseniornya, karena kancing saku celana sebelah kiri hilang.Menurut ayah siswa, yang melaporkan kejadian itu ke polisi,pemukulan tidak hanya diketahui kepala sekolah. Bahkan kepalasekolah ikut menampar siswa tersebut. (Panggabean, MediaIndonesia, 15 Desember 2008:17). Beberapa kasus menunjukkan bahwa dalam pembinaankepatuhan sebagai nilai, moral dan karakter peserta didik terha-dap norma di sekolah dilandasi oleh tindak kekerasan. Gurusendiri dengan mengatasnamakan pembinaan kepatuhanterhadap norma, menggunakan tindakan berbasis kekerasan.Misalnya kasus hukuman loncat katak 150 kali di kelas terhadapsiswa MTs (Banjarmasin Post, 19 November 2008: 1), atau kasusdi SMKN 4 tidak memakai celemek dipungut Rp.10.000(Kalimantan Post, 6 November 2008: 10), kasus kekerasanpelajar coreng SMKN 4, di ruang kelas saat istirahat siang, se-orang pelajar pria menampar pipi kiri perempuan teman sekelas-nya, sehingga terjatuh ke lantai kelas, kemudian diinjak bagianlehernya (Banjarmasin Post, 27 Februari 2009: 2), dan akibatbaju tak rapi, guru hajar siswa di SMK Darussalam (Banjarmasin,17 Juni 2009: 17), serta tiga siswa kelas VIII SMP KartikaSiliwangi I Bandung, ditampar gurunya, hanya karena bertukartempat duduk (Galamedia, 19 November 2009: 1). Kekerasan dilakukan oleh guru di sekolah-sekolah umummaupun pesantren. Berbagai bentuk kekerasan fisik sepertidilempar dengan kapur, dan penghapus papan tulis, dipukultangannya dengan mistar besi panjang, disuruh berdiri di depan 17
  26. 26. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...kelas, dan dijemur di lapangan upacara sering dialami oleh anak-anak di sekolah. Penghukuman fisik (corporal punishment) masihmenjadi alat untuk mendisiplinkan murid di sekolah, Mulai daridisuruh push up puluhan kali, lari mengelilingi lapangan upacara,hingga pemukulan (Yayasan Perlindungan Hak Anak, 2006: 5). Wayson, dkk (1982: 1) mengemukakan adalah tidak meng-untungkan, dari begitu banyak sekolah, anak-anak tidak menun-jukkan disiplin diri. Mereka melanggar peraturan-peraturan danmemperlihatkan perilaku yang tidak kondusif untuk belajar. Keciltetapi menguatirkan dari sejumlah anak-anak yang menunjukkankekerasan atau perilaku penghancuran diri dan merusak saranasekolah. Perilaku negatif demikian melahirkan kepedulian besarpublik mengenai “problem disiplin sekolah”. Akar dari semua ituadalah berkaitan dengan pembinaan kepatuhan yang dilakukansekolah, karena kepatuhan itu sendiri merupakan akar dari disi-plin. Selanjutnya Wayson, dkk (1982: 1) mengungkapkan bahwamemandang disiplin sebagai bagian terpisah dari pendidikansering mengarah kepada langkah-langkah represif untuk mene-gakkan kembali ketertiban. Lebih bijaksana adalah denganmemberikan pendekatan-pendekatan pendidikan yang positifterhadap disiplin yang perlu diketahui dan sangat baik dikerjakanoleh para pendidik. Zapata (1998:275) mengutip pendapat Piaget mengemuka-kan basis kerusakan dari pendidikan moral tradisional terletakdalam suasana otoritas, yaitu maksud-maksud dan inspirasi-inspirasinya. Hasilnya adalah untuk mengembangkan moral ter-hadap siswa, adalah jika itu cukup untuk disampaikan “denganotoritas semata dari guru”. Akhirnya, “ceramah-ceramah” nilai,moral dan karakter kepatuhan akan diperkuat, dengan sistemstimulus dan sanksi-sanksi menghukum, atau apa yangKohlberg sebut sebagai sosialisasi belaka terhadap peserta didik,dan sebagaimana dikemukakan pengikut Durkheim, bahwa18
  27. 27. Pendahuluanpendidikan telah diredusir untuk menjadi nilai, moral dan karak-ter konformitas terhadap norma-norma sosial dan peraturan-peraturan. Martin dan Briggs (1986: 147) mengemukakan bahwa sis-tem pendidikan telah dikritik dengan keras, karena kurang perha-tian terhadap seluruh perkembangan dari peserta didik, terma-suk tidak hanya kurang menyediakan iklim bagi perkembangandiri, tetapi juga kurang peduli dengan perkembangan sikap-sikap, nilai-nilai, moral dan perasaan-perasaan peserta didik, dankelayakan dari strategi-strategi untuk pengembangan karakter,perilaku-perilaku dan etika peserta didik, sehingga dalamkenyataan, pada banyak mata pelajaran, pengetahuan kognitiftidak secara penuh berpengaruh kuat, tanpa referensi dan pem-bahasan dari nilai, moral, dan karakter. Di sekolah “peserta didiktelah belajar tentang demokrasi, tetapi mereka tidak dibolehkanmempraktikkan demokrasi” (Mosher, Kenny dan Garrod, 1994:1-2; Power, 2002: 129). Berbagai fakta yang terjadi di masyarakat dan di sekolahtelah menunjukkan bahwa nilai, moral dan karakter demokrasi,khususnya kepatuhan terhadap norma hukum dan ketertibancenderung berkembang menjadi tidak patuh, kalau tidak maudikatakan anarkis. Karena menganggap demokrasi adalah pahamkebebasan terhadap apa saja, termasuk kebebasan dalam me-langgar norma hukum dan ketertiban. Hal demikian, jika tidaksegera diatasi, bukan saja mempengaruhi, bahkan sudah terjadidi kalangan generasi muda, khususnya peserta didik di sekolah.Bisa jadi terbentuk pemahaman yang keliru tentang demokrasi,yakni demokrasi adalah paham, nilai, moral dan karakter ber-basis kebebasan yang menegasikan hukum dan peraturan. Sisilainnya, kalau pembinaan nilai, moral dan karakter kepatuhanterhadap norma hukum dan ketertiban di sekolah masih sajadominan, kalau tidak dikatakan seluruhnya dimuati dengan 19
  28. 28. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...kekerasan dan kekuasaan semata, maka akan terbentuk kepatuh-an semu, atau sosialisasi maupun konformitas semata. Demokrasi sebagai nilai, moral dan karakter, lebih dimaknaisebagai hak individu untuk mewujudkan kebebasan (freedom)dengan sebebasnya, bahkan menjadi kesewenang-wenangan,akibatnya tidak menyadari kewajibannya sebagai warga negarauntuk mematuhi hukum, peraturan dan ketentuan yang telahdisepakati bersama. Kebebasan yang dilakukan dalam artikesewenang-wenang, menurut Berten (2007: 102) sebenarnyatidak pantas disebut “kebebasan”, karena kata “bebas” telahdisalahgunakan. Sebab “bebas” sesungguhnya tidak berarti“lepas dari segala keterikatan”. Selanjutnya kebebasan yang sejatimengandalkan keterikatan pada norma-norma, kebebasan sejatimembutuhkan norma-norma, karena perilaku manusia bukandiatur oleh instink belaka, tetapi ia sendiri harus mengatur ke-cenderungan-kecenderungan alamiahnya. Norma-norma tidakmenghambat adanya kebebasan, tetapi justru memungkinkantingkah laku bebas. Inilah alasan utama diperlukannya suatutatanan dalam kehidupan manusia, dan kepatuhan sebagai nilai,moral dan karakter adalah kebutuhan untuk mengendalikankecenderungan-kecenderungan alamiah, agar tidak menjadi liar,dan melalui pendidikan kepatuhan, kebebasan diarahkan untukmenjadi teratur sesuai dengan hakikat kebebasan demimengembangkan otonomi manusia secara bertahap dan berke-lanjutan menuju kemandirian. Dalam upaya pembinaan kepatuhan kepada norma sekolahuntuk menyiapkan warga negara demokratis, maka PendidikanNilai, Moral dan Karakter di sekolah baik dalam bentuk polamaupun operasionalisasinya, memerlukan penjabaran yanglebih rinci yang menyentuh aspek-aspek komponen-komponenpendidikan. Menurut Mulyana (2002: 20) dalam pengertian ini,Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter dimaknai sebagai “tindakan20
  29. 29. Pendahuluanatau praktik mendidik” yang utuh dan menyeluruh. Shulman(1983: 39) menyebutkan bahwa tumpuan utama pendidikanadalah sesuatu yang disebut “praktik”, sebagai perkawinanantara pengetahuan teoritis dan tindakan praktis yang bercirikanpendidikan. Dengan demikian meminjam pengertian dari Mulyana(2002: 22), Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter merupakantindakan atau praktik mendidik yang berlandaskan pada kajianproses tentang hubungan manusia dengan lingkungan sekitar.Dalam pendidikan formal-persekolahan, manusia diberi predikat“guru” selaku pendidik, dan “peserta didik” selaku terdidik.Sementara lingkungan maknanya sangat luas, namun dilihatdari dari kacamata nilai, moral, dan karakter, maka lingkunganterdiri atas; nilai, moral, norma, prinsip, perilaku (Kay, 1975:196). Dalam hal ini, Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter padapola dan operasionalisasinya merupakan manifestasi daripendidikan seutuhnya, khususnya dalam hal pengembangansikap, nilai, moral dan karakter. Pendidikan nilai, moral, danmerupakan bagian lingkungan yang berpengaruh, dirancangsecara sengaja untuk mengembangkan dan mengubah caraberpikir dan bertindak dalam situasi nilai, moral dan karakter. Melalui program pendidikan formal, pemerintah berusahamembina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral dankarakter di sekolah, khususnya di tingkat Sekolah MenengahAtas (SMA). Karena peserta didik di tingkat SMA berada dalammasa remaja (adolescence atau dari kata adolescere berarti “togrow”) adalah tahap transisi dari perkembangan fisik dan men-tal manusia yang antara masa anak-anak dan masa dewasa(http://en.wikipedia.org/wiki/Adolescence, 20 Januari 2010).Menurut Mussen, Conger, dan Kagan (1979: 505), tidak adamasa dalam kehidupan seseorang yang mungkin peduli terhadapstandar-standar dan nilai, moral, dan karakter, selain semasa 21
  30. 30. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...remaja. Pada satu sisi, kapasitas-kapasitas kognitif remaja mem-bantu perkembangan kesadaran yang lebih tinggi dan lebih cerdikdalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan nilai-nilai, moral dankarakter. Pada sisi lainnya, menuntut menempatkan para remajadalam masyarakat yang berubah dengan cepat, dan itu sendirimenghendaki secara terus penilaian kembali terhadap nilai-nilaidan keyakinan-keyakinan moral, sosok karakter idaman, khusus-nya dalam masyarakat yang dipenuhi dengan tekanan-tekanandan nilai-nilai yang bertentangan. Kondisi peserta didik di tingkatSMA dengan demikian menjadi amat penting, terutama dalammemperkuat basis nilai, keyakinan moral, dan karakter yangdiinginkan bagi kehidupannya di masa dewasa dan di dalamkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, salah satu-nya adalah nilai, moral dan karakter kepatuhan terhadap normasebagai wujud dari kewajiban warga negara yang demokratisdan bertanggungjawab. Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, dapatlahditarik benang merah sebagai faktor yang mendorong penulisanbuku ini, yaitu: Pertama, nilai, moral, dan karakter Demokratis adalah salahsatu dari 10 Nilai Luhur yang terdapat dalam tujuan PendidikanNasional sebagai Moralitas atau Keharusan yang harus dibinadalam jenjang pendidikan dasar dan menengah. Salah satu dariunsur nilai, moral, dan karakter Demokratis adalah Disiplin.Kepatuhan adalah salah satu aspek dari Disiplin. Nilai dasardemokrasi adalah kepatuhan kepada norma hukum dan keter-tiban. Kepatuhan terhadap norma hukum adalah ciri kehidupanmanusia di negara modern dan demokratis. Hal demikian dapatdiwujudkan melalui Pendidikan Nilai, Moral dan Karakter yangmenekankan pada kepatuhan peserta didik di persekolahan,khususnya peserta didik tingkat SMA.22
  31. 31. Pendahuluan Kedua, pendidikan nilai, moral dan karakter mencakupsemua aspek persekolahan yang berpengaruh kuat terhadapperkembangan nilai, moral, dan karakter para peserta didiktingkat SMA. Pendidikan nilai, moral, dan karakter demokrasimengacu pada sekolah yang memajukan perkembangan parapeserta didik untuk menjadi warga negara demokratis. Sekolahberjalan secara demokratis adalah dalam konteks untuk pendi-dikan nilai, moral dan karakter, dan esensial untuk pendidikankewarganegaraan. Ketiga, demokrasi cenderung disalahpahami dan dipandangpemuda dan remaja sebagai, “kebebasan tanpa aturan” (law-lessness freedom) dan tanpa kepatuhan kepada hukum. Hasilnyaadalah perilaku masyarakat yang dengan ringannya melanggarkaidah-kaidah etis-normatif, tradisi, bahkan hukum formal.Fenomena demikian mengindikasikan bahwa masih dianutnyanilai, moral, dan karakter tidak demokratis, khususnya nilai,moral, dan karakter yang tidak mematuhi hukum dan ketertiban(Unrespect/Disobedience against Law and Order). Jika dibiarkan ber-larut-larut, akan memberikan dampak negatif terhadap generasimuda, khususnya terhadap peserta didik dalam hal kepatuhan-nya terhadap norma-norma di sekolah. Karena hal demikianmerupakan sosialisasi secara tidak langsung terhadap pesertadidik, bahwa nilai, moral dan karakter ketidakpatuhan padanorma hukum dan ketertiban adalah hal biasa, dan boleh-bolehsaja dilanggar. Keempat, perilaku ketidakpatuhan peserta didik tingkat SMAterhadap norma-norma sekolah, khususnya pelanggaran terha-dap norma ketertiban di sekolah, selain dipacu oleh fenomenaketidakpatuhan pada kaidah-kaidah normatif, tradisi bahkanhukum formal, juga dipicu oleh pembinaan nilai, moral dankarakter kepatuhan di sekolah masih saja dominan, kalau tidakdikatakan seluruhnya dimuati dengan kekerasan dan kekuasaan 23
  32. 32. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...yang berbasis otoritas serta model tradisional semata, maka akanterbentuklah nilai, moral dan karakter kepatuhan semu, atausosialisasi atau konformitas belaka. Kelima, dalam upaya pembinaan nilai, moral dan karakterkepatuhan kepada norma di ketertiban di SMA untuk menyiap-kan warga negara demokratis, maka Pendidikan Nilai, Moraldan Karakter di sekolah baik dalam bentuk pola maupun opera-sionalisasinya, memerlukan penjabaran yang lebih rinci yangmenyentuh aspek-aspek komponen-komponen pendidikan seba-gai lingkungan yang berpengaruh, dirancang secara sengajauntuk mengembangkan dan mengubah cara berpikir danbertindak dalam situasi pembinaan nilai, moral dan karakter. Dari benang merah di atas, dapat dikatakan bahwa terdapatfenomena, selain adanya nilai, moral dan karakter ketidakpatuh-an terhadap norma, juga pembinaannya masih diwarnai olehkekerasan atau kekuasaan berbasis otoritas dan dengan polatradisional semata di masyarakat dan di sekolah, yang berten-tangan dengan upaya menyiapkan warga negara demokratis,serta kondisi peserta didik tingkat SMA yang berada dalam masatransisi menuju masa kedewasaan, sehingga posisi peserta didiktersebut di masa kini akan menentukan kondisi nilai, moral dankarakter kepatuhan terhadap norma ketertiban di masa depan,maka pembinaannya di SMA menjadi hal yang amat urgenuntuk ditelaah dan dikaji. Tulisan dalam buku ini akan memaparkan konseptual, teo-ritis, dan praktis tentang pembinaan kepatuhan dalam perspektifsosialisasi dan internalisasi sebagai bagian yang amat pentingdalam penumbuh-kembangkan, pembentukan dan pengem-bangan nilai, moral dan karakter sehingga mempribadi sebagaijati diri manusia.24
  33. 33. Bab II PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan KarakterA. Konseptual PembinaanM enurut Kamus Pusat Bahasa Depdiknas (2002: 152) kata pembinaan mempunyai tiga makna, yaitu:1. Proses, cara, perbuatan untuk mengupayakan sesuatu menja- di lebih maju/baik,2. Pembaruan, penyempurnaan,3. Usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk perolehan hasil yang lebih baik. Dari ketiga makna tersebut, intinya pembinaan merupakanberagam upaya atau usaha dalam bentuk proses, cara, perbuatan,tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektifuntuk mencapai hasil yang lebih baik dan maju menuju pemba-ruan dan penyempurnaan. Hal demikian sejalan dengan pendapat Thoha (1987: 7),yang mengemukakan pembinaan adalah suatu tindakan, proses,hasil atau pernyataan lebih baik. Dalam hal ini menunjukkanadanya perkembangan dalam bentuk kemajuan, pertumbuhanatau peningkatan terhadap sesuatu. Sementara Mangunharjana(2001: 1dan14) lebih menekankan pembinaan sebagai suatuproses belajar dengan melepaskan hal-hal yang sudah dimiliki,dan mempelajari hal-hal baru yang belum dimiliki, dengan tujuan 25
  34. 34. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...membantu orang yang menjalaninya, untuk membetulkan danmengembangkan pengetahuan serta kecakapan baru, gunamencapai tujuan hidup dan kerja yang sedang dijalani agar lebihefektif. Karena itu fungsi pokok dari pembinaan menyangkuttiga hal: (1) penyampaian informasi dan pengetahuan; (2) per-ubahan dan pengembangan sikap; (3) latihan dan pengembang-an kecakapan serta keterampilan. Dengan demikian secara umum pembinaan diartikan seba-gai usaha untuk memberikan pengarahan dan bimbingan, gunamencapai suatu tujuan tertentu. Pembinaan pada dasarnya ada-lah suatu proses yang mengarah pada pencapaian suatu tujuanyang diinginkan, secara individu dan kolektif, baik dalam kerang-ka pembaruan, pengembangan maupun penyempurnaan. Olehkarena itu secara konseptual pembinaan adalah terdiri dari empatunsur pengertian, pertama, pembinaan adalah suatu upaya atauusaha melalui tindakan, proses atau pernyataan dari suatu tuju-an. Kedua, menunjukkan kegiatan berupa penyampaian informa-si dan pengetahuan, pengarahan dan bimbingan, latihan danpengembangan kecakapan, keterampilan dan pengembangansikap, sehingga menghasilkan perubahan dari individu maupunkolektif. Ketiga, menunjukkan ke arah kemajuan berupa pertum-buhan, perbaikan, peningkatan, pembaruan, pengembangan danpenyempurnaan atas sesuatu. Keempat, ada prosedur dan prosesevaluasi yang dilakukan terhadap upaya pembinaan. Keempatunsur pengertian itu dalam perspektif pembinaan kepatuhanterhadap norma sekolah adalah berupaya mewujudkan kepa-tuhan peserta didik sebagai warga negara yang demokratis.B. Pembinaan Perspektif Sosialisasi, Internalisasi, dan Personalisasi Secara konseptual istilah pembinaan mengandung empatpengertian. Pembinaan dalam pengertian kedua menunjukkan26
  35. 35. PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakterkegiatan berupa penyampaian informasi dan pengetahuan,pengarahan dan bimbingan, latihan dan pengembangankecakapan, keterampilan dan pengembangan sikap, sehinggamenghasilkan perubahan dari individu maupun kolektif. Unsurpengertian itu dalam perspektif pembinaan kepatuhan terhadapnorma sekolah mengandung makna sosialisasi, internalisasi danpersonalisasi. Pembinaan dalam perspektif sosialisasi dianggap sebagaiproses sosialisasi atau proses penerapan nilai-nilai tertentuterhadap objek sosialisasi yaitu, seperti terhadap peserta didik.Menurut Arnett (1995:617-628), tujuan dari sosialisasi, antaralain adalah; (1) mengontrol gerak hati dan mengembangkankesadaran; (2) menanamkan sumber-sumber yang bermakna,atau apa yang dianggap penting, bernilai dan untuk kehidupan;dan (3) proses untuk mempersiapkan manusia-manusia agarberfungsi dalam kehidupan sosial. Istilah sosialisasi digunakan oleh para sosiolog, psikologsosial dan pendidik yang mengacu pada proses belajar terhadapsatu kultur untuk hidup didalamnya (Clausen, 1968:5). Untukindividu, sosialisasi memberikan keterampilan-keterampilan dankebiasaan yang diperlukan untuk bertindak dan berpartisipasidi dalam masyarakat. Bagi masyarakat, sosialisasi memasukkansemua anggota secara individu ke dalam norma-norma moral,sikap-sikap, nilai-nilai, motif-motif, peran-peran sosial, bahasadan simbol-simbol masyarakat. Dengan melalui sosialisasisebagai proses interaksi sosial, orang memperoleh kepribadiandan belajar pandangan hidup dari masyarakatnya. Jadi, pembinaan dari perspektif sosialisasi, internalisasi danpersonalisasi dengan mengacu pada pendapat Bulajeva danTargamadze (2005. www.vpu.it.pedagogika. pdf) adalah proses-proses dan cara-cara sosial, yang secara langsung atau tidaklangsung mempengaruhi perkembangan individu sebagai ang- 27
  36. 36. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...gota dari masyarakat sekolah, melalui faktor-faktor lingkungansekolah yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, danproses dari penyebaran model-model nilai-nilai, norma-normadan perilaku sosial, sehingga anggota masyarakat sekolah men-jadi sangat kuat dan efektif. Dengan demikian, pembinaan yangdilakukan pada intinya adalah tumbuhnya tanggung jawab daripeserta didik terhadap nilai-nilai dan peraturan-peraturan moralserta pembentukan keyakinan-keyakinan mengenai masyarakatsekolah sebagai tatanan moral, sehingga melalui proses interaksisosial peserta didik memperoleh kepribadian. Sehubungan dengan pembinaan dalam perspektif sosiali-sasi, maka persekolahan bagian dari perangkat proses sosialisasiyang dilakukan di sekolah-sekolah. Sosialisasi dan persekolahanmerupakan dua aspek prinsipil. Pertama, sosialisasi teknis,mengembangkan keterampilan-keterampilan intelektual,motorik dan belajar item-item informasi serta sistem-sistem ber-pikir yang mengorganisir mereka. Kedua, sosialisasi moral, orangmemperoleh nilai-nilai dan tujuan-tujuan untuk perilaku, belajardan menjadi peka terhadap aturan-aturan moral (norma-norma),dan memperoleh pandangan terhadap dunia sosial sebagaitatanan moral (Bidwell, 1972: 1). Sekolah adalah agen formal yang diberi tanggung jawaboleh masyarakat dalam melakukan sosialisasi peserta didik dalamketerampilan-keterampilan dan nilai-nilai tertentu. Peserta didikbelajar respek terhadap otoritas dan mematuhi perintah-perintahdari orang-orang yang memiliki otoritas sosial terhadap mereka.(www.soc.ucsb.edu/faculty/baldwin/classes/soc142/scznSCI.html). Sehingga melalui sekolah sebagai agen sosialisasi, makapeserta didik, menurut (Horton, 1984: 99-100) menempuh sua-tu proses yang membuatnya menjadi menghayati (mendarahda-gingkan... internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup,dan berkembanglah peserta didik menjadi diri yang unik.28
  37. 37. PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakter Pembinaan dalam perspektif sosialisasi, tidak bisa dipisahkandari perspektif internalisasi, karena melalui sosialisasi juga terjadiinternalisasi. Internalisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(2002: 439) berarti; (1) penghayatan; (2) penghayatan terhadapajaran, doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dankesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkandalam sikap dan tindakan. Jadi, internalisasi merupakan prosespenghayatan terhadap nilai-nilai tertentu, sehingga menumbuhkankeyakinan dan kesadaran terhadap kebenaran nilai tersebut yangdiwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Secara umum dapat dikatakan bahwa internalisasi adalahproses menggabungkan dan menanamkan keyakinan-keyakin-an, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang dimiliki, ketika menjadi peri-laku moral. Saat perilaku moral berubah, berarti seperangkathal baru dari keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, dan nilai-nilai,telah “ditanamkan” (internalized), ditempatkan kembali atau dila-kukan. Internalisasi adalah mengacu pada proses diperolehnyasikap, keyakinan, atau peraturan perilaku oleh individu darisumber-sumber eksternal dan secara progresif dirubah menjadinilai pribadi. Dengan demikian sebagai suatu proses, internalisasi adalahproses penerimaan dari seperangkat norma-norma yang ditetap-kan oleh orang atau kelompok-kelompok yang berpengaruh ter-hadap individu. Proses itu dimulai dengan belajar apakah normaitu, dan kemudian individu tumbuh melalui proses pemahaman,mengapa norma mempunyai nilai atau mengapa norma mem-bentuk perasaan, sampai akhirnya mereka menerima sebagaisudut pandang mereka sendiri, menjadikannya sebagai bagiandari milik dirinya (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989: 196-197), baik melalui identifikasi terhadap model-model yangmemberikan “keteladan” dari figur-figur idolanya maupunmelalui interaksi sosial dengan teman sebaya. 29
  38. 38. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... Deskripsi dari proses internalisasi tidak dihasilkan darisalah satu teori atau sudut pandang. Internalisasi bukan konsepbaru, tetapi menggabungkan konsep-konsep lama secara ber-manfaat. English dan English (1958: 272) mendefinisikan inter-nalisasi sebagai “menggabungkan beberapa hal dalam pikiranatau tubuh, pemakaian ide-ide, praktik-praktik, standar-standarsebagai milik sendiri, atau nilai-nilai dari orang atau masyarakatlain”. Definisi English dan English terhadap internalisasi seperti“ menggabungkan... dalam (diri)” atau “memakai sebagai miliksendiri” merupakan aspek utama dari internalisasi. Internalisasimungkin muncul dalam beragam tingkat, tergantung padatingkat pemakaian terhadap nilai-nilai lain. Internalisasi dipan-dang sebagai proses melalui, pertama adalah pemakaian tidaklengkap dan kedua, sementara dari hanya perwujudan-perwu-judan lahir dari perilaku yang diharapkan dan akhirnyapemakaian yang lebih konkret. English dan English mencatat bahwa istilah yang relatiftertutup dari istilah “sosialisasi”, meskipun “sering digunakansebagai sinonim... (cara-cara dengan pantas)... penyesuaiandalam perilaku luar tanpa menerima nilai-nilai yang dibutuhkan”Mereka mendefinisikan Sosialisasi didefinisikan sebagai “prosesdi mana seseorang... memperoleh kepekaan terhadap stimulisosial... dan belajar berhubungan dengan, dan untuk berperilakuseperti, orang-orang lain dalam kelompok atau kebudayaannya(1958: 508). Dilihat juga bahwa sosialisasi adalah bagian pentingdari perolehan kepribadian. Konsep sosialisasi dari English dan English membantuuntuk menentukan porsi dari muatan domain afektif, yang dita-namkan – sebagaimana bagian pertama dari proses itu sendiri.Tetapi tetap sebagai deskripsi dari muatan domain afektif, penen-tuan itu harus ditafsirkan secara luas, karena “kepekaan terhadap30
  39. 39. PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakterstimuli sosial” harus termasuk seni sebagaimana perilaku oranglain. Definisi itu mengusulkan bahwa kebudayaan dirasakansebagai kekuatan kontrol dalam tindakan-tindakan individu.Benar bahwa internalisasi nilai-nilai umum dari kebudayaanmenggambarkan bagian terbesar dari tujuan-tujuan jaman seka-rang. Tetapi adalah secara sama benar bahwa sekolah-sekolah,dalam peran-peran mereka sebagai pengembang-pengembangdari paham individual dan sebagai agen-agen perubahan dalamkebudayaan, adalah tidak semata-mata peduli dengan penye-suaian (conformity). Internalisasi Jjuga menyediakan secara samabagi perkembangan penyesuaian dan tidak penyesuaian, sepertitiap peran yang meliputi perilaku individu. Istilah “internalisasi”yang mengacu pada proses melalui mana nilai-nilai, sikap-sikap,dan lain-lain, secara umum diperoleh, jadi lebih luas dari sosiali-sasi, yang mengacu hanya pada penerimaan pola nilai jamansekarang dari masyarakat. Aksioma pendidikan dulu menyatakan bahwa “pertumbuh-an muncul dari dalam”. Istilah “internalisasi” mengacu padapertumbuhan dari dalam yang ditempatkan sebagai “penerima-an oleh individu terhadap sikap-sikap, sandi-sandi, prinsip-prinsip, atau sanksi-sanksi yang menjadi bagian dari dirinyasendiri dalam membentuk pertimbangan-pertimbangan nilaiatau dalam menentukan perilakunya” (Good, 1959: 296), Per-tumbuhan ditempatkan dengan cara-cara yang berbeda. Salahsatu dari berbagai cara itu adalah meningkatnya pengaruhemosional yang kuat dari pengalaman. Pada tingkat yang lebihrendah dari kontinuum internalisasi adalah emosi yang kecildalam perilaku. Pada akhirnya individu sebagian besar hanyamerasakan fenomena. Pada tingkat menengah, respon emosio-nal adalah diakui dan bagian penting dari perilaku sebagairespon-respon individu yang aktif. Sepertinya perilaku menjadi 31
  40. 40. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...diinternalisasi secara lengkap dan teratur, emosi ini berkurangdan bukan bagian teratur dari sebagian besar respon-respon. Aspek yang lain dari pertumbuhan adalah tingkat kontroleksternal oleh lingkungan mengalah pada kontrol dari dalamsebagai satu kenaikan kontinuum. Jadi pada akhir yang palingrendah dari kontinuum, kontrol dari dalam hanya memenuhiterhadap perhatian langsung. Pada tingkat yang lebih tinggi kon-trol dari dalam menghasilkan respons-respon yang tepat, tetapihanya pada perintah otoritas eksternal. Masih pada tingkat yanglebih tinggi, kontrol dari dalam menghasilkan respon-responyang tepat, bahkan pada saat ketidakhadiran otoritas eksternal.Memang pada tingkat yang lebih tinggi, respon-respon dihasil-kan secara konsisten, walaupun terdapat rintangan-rintangandan halangan-halangan. Aspek-aspek yang berbeda dari pertumbuhan memberikesan bahwa kontinuum internalisasi adalah multidimensional.Memang internalisasi adalah dari aspek sederhana ke kompleksseperti konkret ke abstrak, transisi kontrol dari eksternal keinternal. Itu adalah komponen emosional yang makin meningkatterhadap poin pada kontinuum. Akhirnya dari aspek sadar-disengaja kepada ketidaksadaran-tidaksengaja dan aspek-aspekkognitif dari penyusunan komponen-komponen sikap. Petunjuk lebih lanjut terhadap makna internalisasi dapatditemukan dalam pemakaian kata-kata terdahulu, seperti Pitts(1961) menggunakan istilah yang tepat untuk menempatkankembali istilah “identifikasi”, yang belakangan ini mengacukepada pembicaraan seseorang tentang nilai-nilai dan sikap-sikapterhadap orang lain. Jadi, dalam deskripsinya terhadap konsepFreud tentang perbedaan superego, Pitts mencatat bahwa anakmenginternalisasi figur bapak ke dalam bentuk superego sebagaicara untuk memecahkan tekanan-tekanan dan keadaan daruratdari keluarga. Pitts (1961: 687) juga mengemukakan bahwa32
  41. 41. PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakter“kolektivitas-kolektivitas utama seperti, gereja, negara dan ten-tara menempatkan kembali figur-figur kebapakan yang menum-buhkan remaja, yang ditemukan dalam kondisi kurang dalamkemahakuasaan atau mahamengetahui”. Mungkin dapat ditam-bahkan sekolah dalam daftar ini sebagai satu dari kolektivitasyang menempatkan figur kebapakan dan kemudian mengubahpola internalisasi dari nilai-nilai. Sekolah memajukan perbedaandari superego, memberikan model-model tambahan denganmenempatkan kembali orang tua, dan seperti yang dilakukanberbagai institusi, menggunakan cara-cara lain di samping mem-berikan model untuk melengkapi perkembangan sikap dan nilai.Jadi, istilah “internalisasi” yang digunakan Pitts dalam deskripsiperkembangan superego menggambarkan cara untuk melihatinternalisasi yang konsisten. Kelman (1958) menggunakan istilah yang menjelaskan teoridari perubahan sikap. Kelman membedakan tiga proses yangberbeda (penyesuaian [compliance], identifikasi [identification],dan internalisasi [internalization] melalui mana seorang individumenerima pengaruh atau menyesuaikan diri. Tiga proses itudidefinisikan sebagai berikut: Penyesuaian dapat dikatakan muncul ketika individu mene-rima pengaruh, karena ia berharap untuk mencapai reaksi yangmenyenangkan dari orang atau kelompok lain. Ia mengadopsiperilaku yang dimasukkan, bukan disebabkan ia meyakini muat-an perilaku itu, tetapi karena ia berharap untuk memperolehpenghargaan-penghargaan khusus atau persetujuan dan meng-hindari hukuman-hukuman khusus atau tidak dihargai melaluipenyesuaian. Identifikasi dapat dikatakan muncul saat individu menerimapengaruh karena ia ingin menetapkan atau memelihara hubung-an yang memuaskan terhadap orang atau kelompok lain (sepertiguru atau otoritas sekolah lain)... Individu sebenarnya meyakini 33
  42. 42. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...dalam melakukan respon-respon yang ia adopsi melalu identi-fikasi... Kepuasan digerakkan dari identifikasi adalah keharusanbertindak terhadap penyesuaian seperti itu. Internalisasi dapat dikatakan muncul saat individu meneri-ma pengaruh, karena muatan perilaku yang dimasukkan, ide-ide dan tindakan-tindakan dari mana ia disusun, adalah penghar-gaan secara instrinsik. Ia mengadopsi perilaku yang diinginkankarena ia sama dan sebangun dengan sistem nilainya... Perilakuyang diadopsi dalam kebiasaan cenderung berpadu dengan nilai-nilai keberadaan individu. Jadi kepuasan digerakkan dari inter-nalisasi adalah keharusan terhadap muatan dari perilaku yangbaru. Istilah “internalisasi” jika dibandingkan dengan tiga istilahKelman, maka diakui sebagai tahap-tahap perbedaan dalamproses internalisasi. Jadi “penyesuaian” Kelman berhubungandengan tingkat yang amat awal dalam kontinuum internalisasidi mana siswa menyesuaikan dengan harapan-harapan, tanpakomitmen dari mereka. “Identifikasi” Kelman adalah jauh lebihpanjang dalam proses internalisasi dan diperlakukan sebagaitahap-tahap pertengahan dari kontinuum. Pada tahap-tahap inirespon-respon individu terhadap perilaku yang diharapkan,memperoleh beberapa kepuasan dari respon itu dan menerimanilai-nilai yang terdapat dalam perilaku–atau sebagaimanaKelman katakan “sebenarnya meyakini” nilai-nilai. PenggunaanKelman terhadap istilah “internalisasi” mengacu produk akhirdari pendidikan dan proses internalisasi; seseorang yang meneri-ma nilai-nilai, sikap-sikap, minat-minat tertentu, dan lain-lainke dalam sistemnya dan dibimbing oleh berbagai hal tanpamenghiraukan pengawasan atau colokan mata dari agen yangmempengaruhi, seperti guru, kepala sekolah, atau orang-oranglain. Orang yang bertindak sebagaimana ia lakukan, karenamelakukan hal itu dalam dirinya memuaskannya. Sebagaimana34
  43. 43. PEMBINAAN; Konseptual dan Perspektif Nilai, Moral dan Karakterakan diharapkan, bentuk perilaku itu digambarkan paling tinggipada akhir kontinuum. Orang yang dilukiskan adalah melaku-kan respon dengan komitmen; menerima nilai ke dalam sistem-nya, mengorganisir sistem, dan mengembangkan kompleks nilaiyang memandu perilakunya. Selain itu, dalam proses internalisasi, orientasi nilai danbudaya tempat individu belajar berpengaruh juga. Orientasi nilaimempengaruhi komitmen organisasi yang pada gilirannya akanmenentukan proses pembelajaran yang dilakukan. Sebuah pene-litian orientasi nilai di tempat kerja dan komitmen organisasibagi sekolah dasar dan sekolah lanjutan menunjukkan bahwaada hubungan antara orientasi nilai dengan komitmen organi-sasi (Shaw, 1992: 295-302). Sehingga sekolah hendaknyamenyadari adanya nilai-nilai yang ada di sekolah dan yang padasiswa, kemudian mempertemukan nilai itu dengan kebutuhansiswa. Internalisasi adalah awal yang esensial. Menurut Carkhuff(1983: 113) merupakan titik penting pada proses pempribadian(personalisasi). Pempribadian merupakan dimensi penting padaperolehan atau perubahan diri manusia. Pempribadian termasukpempribadian makna (nilai) adalah implikasi respon individuterhadap makna. Internalisasi dan personalisasi secara langsungakan mengarahkan pada suatu tujuan, juga mengembalikanperasaan baru, atau membantu mempersonalisasikan makna,masalah, dan tujuan. Personalisasi membantu pemahaman danmembantu bertindak. Internalisasi dan personalisasi tidak dapat dipisahkan dalammembentuk dan mengembangkan kepribadian individu, karenahakekat internalisasi adalah proses belajar. Individu belajar me-nanamkan dalam kepribadiannya segala pengetahuan, sikap-sikap, perasaan, nilai-nilai yang diperoleh dari pola-pola pan-dangan, tindakan, dan interaksi dengan segala macam individu 35
  44. 44. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...dan lingkungan alam yang ada di sekelilingnya. Lingkungan pen-didikan baik informal, formal, non formal memberikan berbagaipengetahuan, pengembangan perasaan, emosi, motivasi, ke-mauan, keterampilan, nilai-nilai, dalam menginternalisasikansemua itu dalam kepribadiannya. Internalisasi lebih mengarahpada aspek individu dalam aspek personalisasi, baik dalampembentukan maupun pengembangan kepribadian. Karena itu,internalisasi menurut Lawrence (1993: 150-167) adalah prosesyang menyangkut transformasi materi semiotik yang diimpordari dunia sosial menjadi pengalaman subjektif yang tersusunsecara personal. Pembinaan dalam perspektif sosialisasi, internalisasi danpersonalisasi adalah proses-proses dan cara-cara yang secaralangsung atau tidak langsung dari penyebaran model-model nilai-nilai, norma-norma dan perilaku sosial, melalui interaksi sosialdan faktor-faktor lingkungan sekolah, untuk mempengaruhiperkembangan kepribadian peserta didik sebagai individu dananggota dari masyarakat sekolah, sehingga tumbuh tanggungjawab terhadap nilai-nilai dan peraturan-peraturan moral danmembentuk keyakinan-keyakinan bahwa masyarakat sekolahmerupakan tatanan moral yang semestinya dipatuhi.36
  45. 45. Bab III KEPATUHAN; Konseptual dan MultiperspektifnyaA. Konseptual KepatuhanUyakni: ntuk membahas konseptual dari kepatuhan, terlebih dahulu dikemukakan beberapa definisi dari kepatuhan,a) Dilihat dari asal kata, kepatuhan dikaitkan dengan kata dalam bahasa Inggris “obedience”. Obedience berasal dari kata dalam bahasa Latin “obedire” yang berarti untuk mendengar terha- dap, karena itu makna obedience adalah “mematuhi”. Dengan demikian kepatuhan dapat diartikan patuh dengan perintah dan aturan. (www.newadvent.org/cathen.20Desember 2008).b) Menurut American Heritage Dictionary (http://www. wordnik.com/words/obedience/definitions) definisi kepa- tuhan (obedience) adalah kualitas atau kondisi dari keadaan patuh; tindakan untuk mematuhi; dan kelompok orang di bawah suatu otoritas.c) Webster’s (http://www.wordnik.com/words/obedience/ definitions) mendefinisikan kepatuhan adalah tindakan dari mematuhi, atau keadaan dari kondisi kepatuhan; kerelaan dengan apa yang dikehendaki oleh otoritas; persoalan terha- dap pengendalian secara sah atau kontrol. 37
  46. 46. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...d) Definisi kepatuhan dalam WordNet (http://www.wordnik .com/words/obedience/definitions) adalah perilaku yang diharapkan untuk menyenangkan orang tua; perilaku tindak- an untuk mematuhi; perilaku mematuhi dan kerelaan dengan menghormati terhadap orang lain; dan karakter dari keadaan bersedia untuk patuh.e) Century Dictionary (http://www.wordnik.com/words/obe- dience/definitions) memberikan definisi terhadap kepatuhan, yaitu; tindakan atau kebiasaan untuk mematuhi; patuh me- menuhi terhadap perintah, larangan, atau mengetahui hu- kum dan peraturan yang ditentukan; ketundukan pada otoritas; Dari paparan beberapa definisi kepatuhan di atas, makakepatuhan dapat dilihat dari beberapa sisi, pertama dari sisiotoritas, kepatuhan adalah persoalan terhadap pengendaliansecara sah atau kontrol berupa ketundukan dari sekelompokorang yang berada di bawah suatu otoritas berupa perilaku yangdiharapkan menyenangkan para pemegang otoritas. Kedua, darikondisi, kepatuhan adalah kualitas atau kondisi dari keadaanpatuh baik berupa karakter dari keadaan bersedia untuk patuh.Ketiga dari orang yang mematuhi, maka kepatuhan adalah berupaperilaku, tindakan, kebiasaan dan kerelaan untuk mematuhikebijakan, hukum, regulasi, ketentuan, peraturan, perintah, danlarangan yang ditentukan. Dengan demikian melihat persoalan kepatuhan dalam reali-tasnya ditentukan oleh tiga aspek, pemegang otoritas, kondisiyang terjadi dan khususnya orang yang mematuhi. Karenamenurut Watson (2009.www.opapera.com/essay/obedience/213895.) kepatuhan memang secara otomatis bermakna mema-tuhi peraturan-peraturan, hukum-hukum, regulasi-regulasi dankebijakan. Namun terdapat sudut pandang lain yang melihat38
  47. 47. KEPATUHAN; Konseptual dan Multiperspektifnyakepatuhan adalah satu dorongan untuk menyangsikan beberapaperaturan, hukum, regulasi dan kebijakan yang serupa. Apapunpandangan tentang reaksi terhadap kepatuhan, tergantung padapengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan penyesuaian(conformity) dan kepatuhan (obedience), atau tidak sama sekali,dan konsekuensi-konsekuensi baik yang mengikutinya maupunmenantangnya. Kepatuhan seseorang secara esensial tergantungpada sudut pandang pemegang otoritas dan kondisi konsekuen-si-konsekuensi yang dialami secara pribadi. Namun dalam kenyataan kepatuhan, menurut Martin(2006, http://www.midwifery.org.uk/obedience.htm) telahdipersempit aplikasinya. Ruang lingkupnya hanya dibatasi padatindakan dari seseorang yang patuh terhadap otoritas. Padahaldikemukakan oleh Milgram (1963:371-378) kepatuhan adalahelemen dasar dari struktur kehidupan sosial sebagai satu unsuresensial yang diperlukan untuk kehidupan bersama. Kepatuhanadalah faktor yang menentukan perilaku, karena sesuai dengankondisi manusia. Kepatuhan adalah mekanisme psikologis yangcenderung menghubungkan tindakan individu dan mempereratikatan-ikatan manusia dengan sistem-sistem otoritas. Pandangan terhadap kepatuhan tidak hanya sekadar sese-orang patuh pada otoritas juga diperkuat oleh hasil Stanfordprison experiment (www.viswiki.com/en/Obedience_human_behavior) yang mengemukakan bahwa kepatuhan terhadap oto-ritas adalah norma. Kepatuhan dalam perilaku manusia, adalahkualitas dari keadaan patuh, yang mengambarkan tindakan yangmenerima perintah-perintah yang sudah dikeluarkan, atau yangsedang dijalankan. Kepatuhan berbeda dari pemenuhan (com-pliance). Pemenuhan merupakan perilaku yang dipengaruhi olehpara teman sebaya. Kepatuhan berbeda dengan konformitas(penyesuaian) sebagai perilaku yang diperuntukkan untuk cocokdengan mayoritas. Manusia-manusia telah memperlihatkan 39
  48. 48. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap...kepatuhan terhadap figur-figur otoritas yang dirasa absah, dankepatuhan terhadap otoritas adalah norma. Bahkan menurutElms (1972: 128) kepatuhan adalah respon personal. Sementaramenurut (Geertz, 1961; Koentjaraningrat, 1985; Magnis-Suseno, 1988, http://www.unu.edu/unupress/unupbooks/uu13se/uu13se0b.htm), kepatuhan adalah termasuk nilai-nilaikebajikan budaya Jawa yang memberikan kontribusi terhadapintegrasi sosial yang harmonis (rukun). Karena kepatuhan tidakhanya dipandang berguna dalam interaksi sosial, tetapi jugadipandang lebih aman karena menghindari konflik. Sebagai elemen dasar yang esensial dari struktur kehidupansosial yang diperlukan untuk kehidupan bersama, salah satufaktor yang menentukan perilaku, karena sesuai dengan kondisimanusia, maka dalam realitasnya kepatuhan terhadap otoritasada di mana-mana. Apakah siswa mematuhi gurunya, para warganegara mengikuti hukum-hukum atau anak mematuhi ayah atauibunya. Hal itu selalu akan menjadi skenario dari kepatuhankepada otoritas, sebagai rangkaian pelajaran dalam tingkatanyang berbeda mengenai rentang kepatuhan dari kelompokmanusia yang mengikuti pemegang otoritas, seperti di keluarga,sekolah atau bernegara, atau pada kelompok manusia lainnya.Kelompok-kelompok manusia itu sendiri memiliki tingkat-tingkat yang berbeda dari kepatuhan, tergantung pada kondisikepatuhan di lingkungan kelompok manusia itu (Watson, 2009.www.opapera.com/essay/obedience/213895).B. Kepatuhan Terhadap Otoritas1. Perspektif Agama Kepatuhan adalah selalu menjadi ciri-ciri utama dari sebagian besar agama-agama. Agama manapun di dunia, apa- lagi agama-agama samawi, semuanya meletakkan kepatuhan sebagai nilai moral yang utama dan terpuji. Dalam Islam,40
  49. 49. KEPATUHAN; Konseptual dan Multiperspektifnyakepatuhan merupakan salah satu hal yang utama, karena akanmembawa rahmat dan keselamatan, sebagaimana ditegaskandalam Al Baqarah: 285; Al Imran: 132; Al Anfal: 20 dan AlImran: 17. Kalangan Advent mengemukakan bahwa di antarakewajiban moral, maka kepatuhan memperoleh keutamaansebagai kehormatan. Pemimpin tidak dapat menuntut kepa-tuhan individu, jika melanggar aturan-aturan dari otoritasyang lebih tinggi, dalam hal ini otoritas Tuhan (www.newadvent.org/cathen, 20 Desember 2008). Bahkan teologKristen, MacDonald (Daniel Koehn, www.evangelartist.com/product. htm, 23 Desember 2008) mengemukakan bahwakepatuhan berkaitan dengan istilah pertalian hubungan,kepatuhan membuka jalan bagi bentuk-bentuk khusus dalampertalian hubungan dengan Tuhan. Kepatuhan biasanya dipahami sebagai kerelaan terhadapotoritas eksternal atau seperangkat norma, jika tidak mema-tuhi aturan-aturan berarti melanggar “substansi” spiritual darikemanusiaan. Karena secara secara spiritual Tuhan telahmemberikan struktur kepatuhan kepada manusia. Strukturkepatuhan itu adalah struktur dari kesadaran yang bergerakmelalui transformasi dari mengalami kepada menanyakan,memahami, membuat keputusan-keputusan, dan akhirnyatindakan. Proses ini adalah satu dari kreasi-diri sebagai spirit-diri dalam tindakan. Urutan kejadian dari tindakan-tindakankesadaran dalam struktur kepatuhan adalah terdiri dari; (a)Data (Pengalaman); (b) Apa (Pertanyaan) itu; (c) Pemaham-an; (d) Definisi; (e) Apakah begitu?; (f) Pemahaman; (g) Per-timbangan; (h) Apakah yang dilakukan?; (i) Pemahaman; (j)Pilihan-pilihan; (k) Apakah itu yang telah dilakukan; (l)Pemahaman; (m) Keputusan dan akhirnya (n) Tindakan. Ter-dapat fakta 13 elemen tindakan dari kesadaran dari strukturkepatuhan, yang muncul pada diri manusia masing-masing 41
  50. 50. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... setiap hari. dalam setiap hari (Henman, 2005. www.quodlibet. net/henman-obedience .shtml. Kata Islam artinya kepatuhan atau penyerahan diri. Ke- patuhan atau penyerahan diri yang dimaksud adalah kepada Allah. Penyerahan diri kepada Allah itu disebut “muslim”. Bagi seorang muslim untuk melaksanakan kepatuhan atau penyerahan diri kepada Allah itu, tidak semata-mata memo- hon perlindungan supaya diterima dirinya oleh Allah, melain- kan mematuhi dan mentaati segala kehendak Allah. Segala kehendak Allah yang wajib dipatuhi itu merupakan keseluruh- an perintahNya. Seluruh perintah sebagai satu kesatuan yang terdiri atas bermacam-macam perintah merupakan hal-hal yang perlu dilakukan atau yang perlu dijauhi. Setiap perintah itu dinamakan “Hukum” berupa ketentuan, keputusan, undang-undang, atau peraturan. Di dalam Al Qur’an terdapat paparan mengenai subyek pendidikan, karakter pendidik dan etika anak didik yang berkaitan dengan kepatuhan, yaitu: Tabel 1 Subyek Pendidikan, Karakter Pendidik, Etika Anak Didik dan Kepatuhan Sumber: Diadaptasi dari Huda (2007, http://drhmiftahulhudamag.blogspot.com/2009/model-interaksi-pendidikan-anakdalam.al.html) Interaksi dalam subyek pendidikan antara Nabi Ibrahim dan Ismail dikategorikan interaksi antara karakter pendidik yang demokratis dengan etika anak didik yang patuh dan aktif42
  51. 51. KEPATUHAN; Konseptual dan Multiperspektifnyamengandung muatan nilai dan materi pendidikan. Muatanmakna nilai dan materi pendidikannya (Huda, 2007: 10) ada-lah aspek keimanan dan emosional. Pada aspek keimanan seca-ra implisit berarti uji kepatuhan terhadap perintah Allahsekalipun nyawa menjadi taruhannya. Pada tahapan ini, Ismailtelah menunjukkan dedikasi yang tinggi dengan totalitaskesiapan emosionalnya untuk melaksanakan prosesi korban.Pendidikan Ibrahim terhadap Ismail bertujuan untuk lebihmemanusiakan manusia melalui jalan patuh kepada Allah.Dengan kata lain, pendidikan humanis ini berisi nilai-nilaikeutamaan atau kebajikan yang dapat mengangkat kemuliaanmanusia secara universal. Dalam kontek humanisasi inilahIbrahim mengajarkan kepada Ismail bagaimana membangunharkat dan martabat manusia di sisi Allah. Tujuan ini direali-sasikan dengan membangun citra manusia yang taat kepadanilai-nilai kemanusiaan yang diperintahkan oleh Allah. Nilaikemanusiaan ditegakkan di atas sifat-sifat luhur budaya ma-nusia dengan membebaskan diri dari sifat-sifat kebinatangan. Namun demikian Islam juga mengajarkan bahwa kepa-tuhan hanya dilakukan terhadap hal-hal yang jelas-jelas tidakmelanggar larangan Tuhan. Sebuah dalil keagamaan (Islam)mengatakan: “Tidak ada kewajiban patuh kepada sesama makhlukdalam hal yang bersifat durhaka (maksiat) kepada Tuhan” (Madjid,2004: 61). Karenanya kepatuhan menyangkut hal amat pen-ting, yaitu keabsahan pimpinan masyarakat dan peraturan-peraturan yang dibuatnya, dan hal ini menyangkut legitimasipolitik. Dengan demikian kepatuhan juga menyangkut masa-lah tingkat rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa ikutserta (sense of participation). Selain itu dasar taqwa diperlukanuntuk kepatuhan, sehingga kepatuhan yang dilaksanakan,baik terhadap Tuhan dan pemimpin adalah berdasarkan sikaptulus yang dilandasi oleh keyakinan bahwa semua perbuatan 43
  52. 52. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... ada yang mengawasi secara mutlak, yaitu Allah SWT. Kare- nanya penting sekali ditanamkan keimanan yang mendalam kepada Allah, khususnya keimanan dalam arti keinsyafan akan adanya Yang Maha Hadir yang selalu menyertai dan tidak pernah “absen” barang sedetik pun dalam mengawasi tingkah manusia, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surah al-Baqarah (2: 115); al-Hadid (57: 4); al-Mujadalah (58: 7), dan al-Zalzalah (99: 7-8).2. Perspektif Kebajikan Moral dan Kewajiban Moral. Aquinas mengadopsi definisi keadilan dari Hukum Ro- mawi, yaitu; “Kehendak yang bersifat tetap dan berkelanjutan untuk memberikan orang lain apa yang menjadi hak mereka”. Dari pernyataan fundamental mengenai kebajikan moral itu melahirkan pertanyaan penting dari pertumbuhan teori sosial dan politik. “Apakah memang manusia yang satu diberikan kepatuhan? Apakah manusia yang lain diharuskan untuk patuh? (Cornish, 2008: 7). Kepatuhan secara lebih umum bermakna kepatuhan terhadap perintah Tuhan dan kepada manusia atau kelompok manusia yang memiliki kelebihan- kelebihan (superioritas) di atas beberapa pihak, dan kemudi- an berubah menjadi kepatuhan (obedience) dan ketidakpatuh- an (disobedience) politik atau sipil. Aquinas memandang bahwa kepatuhan diterima secara tunggal dari Tuhan, karenanya satu keharusan mematuhi semua perintah Tuhan. Implikasi dari pernyataan ini, maka semua otoritas manusia secara alamiah dibatasi, demikian juga berbagai tujuan-tujuan manusia, atau tujuan-tujuan yang dikaitkan dengan kondisi-kondisi komunitas-komunitas manusia tertentu. Demikian juga dalam memutuskan untuk bertindak berdasarkan kemampuan-kemampuan sendiri,44
  53. 53. KEPATUHAN; Konseptual dan Multiperspektifnyakhususnya dari akal secara praktis. (Cornish, 2008: 9-10).Dengan demikian pelaksanaan kepatuhan kepada otoritasTuhan tidaklah sama dengan kepatuhan kepada otoritasmanusia. Dalam kehidupan religius, Aquinas (Cornish, 2008: 9)memperkenalkan kepatuhan sebagai kebajikan moral dalamdua aspek, yaitu kepatuhan yang diwajibkan (obligatory obe-dience) dan kepatuhan yang sempurna (perfect obedience).Kepatuhan yang diwajibkan adalah kepatuhan yang dilaksa-nakan berdasarkan perintah-perintah yang mewajibkan.Sementara kepatuhan yang sempurna selain melaksanakanperintah-perintah yang diwajibkan, juga memilih untuk pa-tuh pada cara-cara yang tidak diperintahkan, dan tidak dilarangoleh Tuhan, atau oleh tata tertib mereka. Aquinas memandang kepatuhan terhadap otoritas ma-nusia adalah sesuatu yang normal dalam upaya mencapaikepatuhan sebagai kebajikan moral. Namun dalam kehidup-an masyarakat yang memiliki hubungan-hubungan alamitertentu terdapat peraturan yang mengatur subjek, misalnyaperaturan orang tua terhadap anak; peraturan guru terhadappeserta didik; peraturan perkawinan terhadap suami-isteri;atau peraturan otoritas sipil terhadap warga negara. Sehinggatidak semua tindakan dari kepatuhan adalah kebajikan moral(berbudi luhur), karena dalam melaksanakan kepatuhan se-bagai kebajikan ditemui kondisi-kondisi di mana para indi-vidu-individu harus berhati-hati terhadap perintah-perintahdan menentukan untuk tidak mengikutinya. Kepatuhan di-pandang sebagai kebajikan moral jika dianggap sebagai bagiandari keadilan, dan otoritas tidak memerintahkan tindakan ke-patuhan, tetapi subjek memenuhi perintahnya karena kesa-darannya sendiri berdasarkan alasan-alasan praktis, baik un-tuk persyaratan-persyaratan kehidupan yang luhur maupun 45
  54. 54. Pembinaan Nilai, Moral dan Karakter Kepatuhan Peserta Didik terhadap... akhirnya untuk Tuhan. Kepatuhan sebagai kebajikan moral memuat alasan-alasan yang diberikan kepada seperangkat kondisi-kondisi, baik sama maupun secara khusus akan me- nentukan apakah subjek bertindak mematuhi (obedience) atau tidak mematuhi (disobedience). (Cornish, 2008: 12-14). Ada dua cara untuk mengakui dan kemudian mengadop- si perintah-perintah moral; dari seseorang dengan otoritas memberikan perintah-perintah untuk berperilaku dalam cara tertentu, atau konsensus terhadap bagaimana berperilaku yang diinginkan untuk menjadi bagian darinya. Pertama, dise- but moralitas yang menerima kekuasaan yang memberikan perintah kepatuhan (obedience), dan kedua, moralitas yang ter- gantung pada konsensus, hormat (respect). Perintah-perintah dari dua moralitas ini sering serupa, tetapi mereka mungkin juga berbeda. Kedua moralitas ini merupakan sumber kewa- jiban moral. (On Moralities of Obedience and Respect.http:/ /yalepress. yale.edu/yupbooks/excerpts .welsh_honor. pdf&tbid=80119). Kepatuhan dianggap sebagai sumber perasaan wajib dari kewajiban moral. Karena kepatuhan adalah apa yang terletak pada agen moral dalam bentuk perintah-perintah yang diberi- kan Tuhan, atau monarki absolut maupun dari sekumpulan orang dapat mempengaruhi moral, melalui cara orang mende- finisikan perintah-perintah yang diikuti atau internalisasi perintah-perintah. Meskipun sanksi diberikan untuk mem- perkuat moralitas kepatuhan melalui hukuman atau memper- lakukan hukuman, dan terhadap kondisi ketidakpatuhan dipandang sebagai kesalahan, baik secara jelas dinyatakan, melalui aturan-aturan, maupun secara mental dialami dengan tidak terlihat atau akan menjadi pelanggaran-pelanggaran. Namun jika kepatuhan secara terus menerus digerakkan dengan paksaan akan mengundang untuk kegagalan, bahkan46

×