Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment)

on

  • 698 views

Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment)

Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment)

Statistics

Views

Total Views
698
Views on SlideShare
655
Embed Views
43

Actions

Likes
0
Downloads
19
Comments
1

2 Embeds 43

http://www.fasilitatorsanitasi.org 28
http://www.weebly.com 15

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) Metodologi Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) Presentation Transcript

  • METODOLOGIMETODOLOGI STUDI EHRASTUDI EHRA Pelatihan Studi EHRA
  • Metoda Sampling EHRA a. Metoda penentuan target area survei secara geografi dan demografi didahului proses yang dinamakan Klastering. b. Hasil klastering digunakan sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. c. Teknik sampling/pengambilan sampel yang digunakan adalah ”Probability Sampling”  memberikan peluang yang sama pada semua populasi. d. Metoda sampling yang digunakan adalah “Cluster Random Sampling”
  • Metoda Sampling - Lanjutan e. Penentuan Klaster Desa/Kelurahan berdasarkan pada 4 Kriteria  menunjukkan indikasi awal lingkungan beresiko di Tingkat Desa/Kelurahan f. Klastering Desa/Kelurahan dilakukan oleh Pokja bersama Camat atau oleh Camat saja
  • 4 Kriteria Penetapan Klaster 1. Kepadatan penduduk  ∑ penduduk per Luas wilayah 2. Angka kemiskinan  (∑ Pra-KS + ∑ KS-1) x 100% ∑ KK 3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/sal. Drainase/sal.irigasi dg potensi digunakan sbg MCK & pembuangan sampah 4. Daerah yang sering terkena banjir dan dinilai mengganggu
  • Metoda Sampling – Jumlah Sampel/Responden Menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota dapat juga menggunakan “Rumus Slovin” sebagai berikut: Dimana: •n adalah jumlah sampel •N adalah jumlah populasi •d adalah persentase toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05) •Asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan α=0,05, sehingga diperoleh nilai Z=1,96 yang kemudian dibulatkan menjadi Z=2. •Asumsi keragaman populasi yang dimasukan dalam perhitungan adalah P(1-P), dimana P = 0,5
  • Metoda Sampling – Jumlah sampel/responden Contoh:  Jumlah populasi rumah tangga di Kabupaten A adalah 155.000 KK  dengan menggunakan Rumus Slovin pada tingkat kesalahan 5%, maka jumlah sampel yang harus diambil adalah 155,000/(1+155,000 x 0.05^2) = 399.  Apabila dikehendaki pengambilan sampel yang lebih tinggi presisi dengan tingkat kesalahan 2.5% dan anggaran biaya survey mencukupi maka jumlah sampel respondennya menjadi 155,000/(1+155,000 x 0.025^2) = 1,584.
  • Metoda Sampling – Jumlah sampel/responden Menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota dapat juga menggunakan “Tabel Krejcie-Morgan”  yang dihitung dg “Rumus Krejcie-Morgan”: Dimana: •n adalah jumlah sampel •N adalah jumlah populasi •X2 adalah nilai Chi kuadrat  asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan nilai Chi kuadrat = 3.841 yang artinya memakai =0,05α pada derajat bebas 1 •d adalah persentase toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05) •Asumsi keragaman populasi yang dimasukan dalam perhitungan adalah P(1-P), dimana P = 0,5
  • Metoda Sampling – penentuan jumlah responden a. Bilamana Kabupaten/Kota mempunyai dana studi terbatas,, maka penentuan jumlah lokasi target area survey untuk tiap klaster dapat menggunakan metoda “Proporsionate Startified Random Sampling” artinya populasi tidak homogen dan strata berbeda, sehingga sampel diambil berdasarkan Persentase (%) untuk tiap strata/klaster b. Jumlah sampel RT per Kelurahan/Desa  minimal 8 RT, yang dipilih secara random c. Jumlah Responden per Kelurahan/Desa  minimal 40 rumah tangga, yang tersebar di minimal 8 RT terpilih dan pemilihan responden secara random  jumlah minimal responden @ 5 responden per RT
  • Ilustrasi Klastering Target Area Survei EHRA
  • Ilustrasi Hasil Klastering Desa/Kelurahan (setelah kompilasi) Desa m1 Desa e1Desa b1Desa l1 Desa f1 Desa m2 Desa e2Desa b2Desa l2 Desa f2 Desa q1Desa k1 Desa n1 Desa m3 Desa g1Desa b3Desa j3 Desa f3 Desa q2Desa k2 Desa n2 Desa q3Desa k3 Desa ...Desa ... Klaster 0 Klaster 4 Klaster 1 Klaster 3 Klaster 2 Desa ... Desa ...Desa ...
  • Penentuan Kecamatan dan Desa/Kelurahan Area Survei (bila dana terbatas) Alternatif 1: 1. Ambil porsi tertentu dari jumlah desa/kelurahan pada tiap klasternya sebagai area survey 2. Misalkan: a. Jumlah desa/kelurahan dalam kabupaten/kota = 225 dengan komposisi klaster sebagaimana pada slide berikutnya b. Diambil 10% dari tiap klaster sebagai desa/kelurahan area survey sehingga jumlah desa/kelurahan area survey =25 c. Dalam 1 desa/kelurahan harus ada 40 responden maka jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 25 X 40 = 1.000 responden (>384 maka secara statistik mencukupi). 3. Untuk keperluan penyesuaian dengan ketersediaan anggaran biaya survey, tentukan besaran prosentase jumlah desa/kelurahan yang akan djadikan area survey 4. Setiap klaster harus terwakili minimal oleh 1 desa/kelurahan
  • Penentuan Desa/Kelurahan Area Survey No. Jumlah Total Sampel Target Desa/Kel. (10%) Jumlah yg tdk diambil Desa/Kel. Desa/Kel. Klaster 0 45 5 40 Klaster 1 75 8 67 Klaster 2 15 2 13 Klaster 3 75 8 67 Klaster 4 15 2 13 Klaster 5 0 0 0 Jumlah 225 25 200
  • Alternatif 2: Penentuan Kecamatan dan Desa/Kelurahan Area Survey Misal: Dana tersedia untuk 600 responden. Maka jumlah desa/kelurahan yang bisa dijadikan area survei sebanyak 600/40 = 15 desa/kelurahan.
  • Ilustrasi Klastering Desa/Kelurahan Desa m1 Desa e1Desa b1Desa l1 Desa f1 Desa m2 Desa e2Desa b2Desa l2 Desa f2 Desa q1Desa k1 Desa n1 Desa m3 Desa g1Desa b3Desa j3 Desa f3 Desa q2Desa k2 Desa n2 Desa q3Desa k3 Desa q4Desa k4 Klaster 0 Klaster 4 Klaster 1 Klaster 3 Klaster 2 Desa n3 Desa g2Desa j5 14% 25% 25% 21% 14% 4/28=14% 4/28=14% 7/28=25% 7/28=25% 6/28=21%
  • Ilustrasi Hasil Penentuan Desa/Kelurahan area survei
  • Manfaat Klastering a. Penentuan target area survei EHRA, bilamana anggaran survei terbatas b. Gambaran umum profil risiko kesehatan lingkungan berdasarkan 4 kriteria (geografi dan demografi) c. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan prioritas lokasi target pemicuan STBM
  • Metoda Studi EHRA: Kelebihan dan Kelemahan a. Kelebihan: • Enumerator oleh anggota masyarakat setempat (kader PKK, Posyandu, dll) sehingga aspek pengamatan bisa lebih akurat • Meningkatkan kepedulian terhadap sanitasi lingkungan masyarakat yang bersangkutan • Para Enumerator tersebut bisa menjadi agen perubahan di tengah lingkungannya • Sebelum wawancara, Enumerator membacakan ”pernyataan kesediaan” sehingga responden memahami betul hak-haknya dan bebas memutuskan keikutsertaan dengan sukarela dan sadar a. Kelemahan: • Enumerator bisa jadi tidak/ kurang memahami makna pertanyaan dalam survey sehingga bisa mengakibatkan error responses atau bias • Responden menolak • Berpotensi data entry salah
  • NILAI TAMBAH EHRA 2011 1. Kemandirian Pokja dalam menyelenggarakan studi EHRA lebih terjamin: a. Kriteria penetapan area survey/studi sangat jelas sehingga diperoleh klaster wilayah (kecamatan dan desa/kelurahan) b. Kuesioner lebih sederhana, dengan pengolahan data yang mudah  waktu wawancara dan pengamatan untuk tiap responden menjadi lebih singkat c. Penyediaan Alat bantu gambar (Visual Aid) bagi Enumerator  mengurangi tingkat kesalahan respon oleh responden (meminimasi error respon) 2. Dengan metoda Cluster Random Sampling dan “Proporsionate Startified Random Sampling” memberikan fleksibilitas kepada Pokja untuk menyesuaikan jumlah sampel yang pada akhirnya berpengaruh pada pembiayaan, dengan tetap memperhatikan kualitas/validitas hasil studi
  • 3. Lebih banyak mengandalkan atau memakai SDM lokal dari Pokja 4. Waktu pelaksanaan yang relatif sama, tetapi dapat memberikan dampak advokasi yang lebih besar kepada Camat dan Lurah 5. Ketersediaan data dan informasi tentang indikasi lingkungan beresiko dari tingkat Desa/Kelurahan, dapat membantu Pokja untuk melihat secara garis besar kondisi seluruh Kabupaten/Kota (“Helicopter View”) NILAI TAMBAH EHRA 2011
  • Terima kasihTerima kasih