Question & Answer untuk sAIIG
(Suplemen untuk presentasi tentang sAIIG)
2
Pertanyaan yang sering muncul (Q and A) :
Q1 : Apakah kegiatan sanitasi yang telah dibiayai daerah bisa dibayar
oleh pro...
3
Q3 : Daripada sistem OBA, apakah tidak lebih baik kalau hibah diberikan langsung
sehingga dana hibah itu bisa dipakai un...
4
Q5 : Daerah kami berminat, tetapi tidak punya SSK (Strategi Sanitasi Kota).
Kami hanya punya RPIJM. Apakah kami memenuhi...
5
Q8 : Masyarakat kami sudah terbiasa dengan WC dan septic
tank-nya. Murah dan tidak ada masalah. Apa perlunya dengan
sist...
6
Q10 : Kalau sistem air limbah ini harus dikelola pemda, berarti
akan membebani APBD untuk biaya operasionalisasi.
A10 : ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Question & Answer mengenai Program Hibah Australia-Indonesia untuk Pembangunan Sanitasi (sAIIG)

590 views

Published on

Question & Answer mengenai Program Hibah Australia-Indonesia untuk Pembangunan Sanitasi (sAIIG)

Published in: Business
1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
590
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Question & Answer mengenai Program Hibah Australia-Indonesia untuk Pembangunan Sanitasi (sAIIG)

  1. 1. Question & Answer untuk sAIIG (Suplemen untuk presentasi tentang sAIIG)
  2. 2. 2 Pertanyaan yang sering muncul (Q and A) : Q1 : Apakah kegiatan sanitasi yang telah dibiayai daerah bisa dibayar oleh program hibah ini? A1 :Tidak bisa. Yang dibayar program ini adalah kegiatan baru yang disepakati terlebih dahulu dalam suatu perjanjian hibah. Q2 : Kalau pemda disuruh membiayai dulu, kami tidak ada dana. Semua dana sudah terserap habis oleh Belanja Operasional dan kegiatan lain. A2 : Soal keterbatasan dana daerah memang benar dan dialami hampir semua daerah. Tetapi ini soal alokasi, tergantung pada “kepedulian daerah”. Jadi dana untuk sanitasi bisa berasal dari “penggeseran” (realokasi) kegiatan lain yang sudah direncanakan. Atau mengalokasikan dana baru sehingga menambah angka defisit. Sepanjang defisit ini masih memenuhi syarat yang diatur PMK dan dapat ditutupi SILPA, maka tidak masalah. Rata-rata SILPA di daerah masih besar (>Rp 30 milyar).
  3. 3. 3 Q3 : Daripada sistem OBA, apakah tidak lebih baik kalau hibah diberikan langsung sehingga dana hibah itu bisa dipakai untuk membangun prasarana sanitasi? A3 : Sistem Output Base Aid (OBA) ini memang keinginan pemberi hibah. Maksudnya, hibah ini tidak hanya bersifat memberi dan menerima, tetapi juga bersama-sama ikut bertanggungjawab dan transparan dalam melaksanakan kegiatan. Q4 : Sistem OBA, atau bayar dulu baru diganti, daerah akan menanggung risiko. Misalnya sudah dibangun, ternyata tidak diganti. Ini merepotkan terutama pertanggunjawaban di DPRD. A4 : Hibah ini pasti dibayar. Untuk itu dilakukan perjanjian terlebih dahulu antara Kemenkeu dan Daerah. Setiap perjanjian hibah, maka dana disetor ke rekening kas umum negara (Menteri Keuangan). Jadi sudah dicadangkan dan tidak perlu kuatir tidak dibayar (sepanjang memenuhi persyaratan yang dinilai oleh konsultan verifikasi). Seandainya pembayaran hibah lebih kecil daripada yang diperjanjikan – akibat hasil verifikasi yang tidak sesuai, ini juga tidak masalah karena pembayaran hibah tidak tercatat sebagai pengganti biaya, tetapi diterima sebagai pendapatan lain yang sah pada tahun anggaran berikutnya. Hanya target penerimaannya yang sedikit meleset (berkurang).
  4. 4. 4 Q5 : Daerah kami berminat, tetapi tidak punya SSK (Strategi Sanitasi Kota). Kami hanya punya RPIJM. Apakah kami memenuhi syarat? A5 : Karena program ini multiyear (sampai 2014), maka daerah masih bisa memenuhi syarat sepanjang tahun ini juga segera menyusun SSK dan memasukkan program hibah ini dalam SSK. Q6 : Kami berminat dan butuh program ini, tetapi kami di daerah kesulitan SDM untuk menyiapkan DED-nya. A6 : Tidak perlu kuatir. DED akan dipandu oleh konsultan kami sampai siap dilelangkan. Q7 : Program hibah ini seperti Sanimas, DAK Sanitasi, dan Wasap-D. Apa yang membedakan program hibah sAIIG ini dengan ke-3 program sebelumnya? A7 : Ketiganya dikelola masyarakat, sedangkan sAIIG ini dikelola oleh pemda sendiri sesuai dengan kewenangan wajib yang dimiliki. Melalui pengelolaan pemda, diharapkan ada keberlanjutan dan peningkatan pelayanan .
  5. 5. 5 Q8 : Masyarakat kami sudah terbiasa dengan WC dan septic tank-nya. Murah dan tidak ada masalah. Apa perlunya dengan sistem pengelolaan air limbah terpusat ini? A8 : Memang benar WC-Septic Tank murah dan praktis. Tapi untuk kawasan kota yang padat, masalah air limbah dengan septik tank menjadi masalah serius. Pencemaran air tanah pasti terjadi dan bila septic tank penuh, sulit disedot karena mobil penyedot tinja tidak bisa memasuki gang-gang sempit. Jadi tetap sistem pengelolaan terpusat penting dan perlu dirintis. Q9 : Bukankah ongkos pengelolaan instalasi pengolahan (Septic Tank Komunal) itu mahal? A9 : Tidak mahal, karena menggunakan sistem anaerobic, yaitu menggunakan jasa mikroorganisme yang bisa mendegradasi lumpur tinja secara mandiri.
  6. 6. 6 Q10 : Kalau sistem air limbah ini harus dikelola pemda, berarti akan membebani APBD untuk biaya operasionalisasi. A10 : Benar, tetapi beban itu tidak besar. Apalagi bila sistem ini dibangun di kawasan padat dan daerah komersial, maka menjadi jasa umum yang bisa ditarik retribusinya. Penerimaan retribusi bisa untuk menutupi ongkos operasional. Q11 : Besaran hibah yang dibayarkan Rp 4 juta/SR untuk sistem baru dan Rp 3 juta/SR untuk disambung ke sistem yang ada, sepertinya kecil atau tidak cukup untuk pengadaan. A11 : Besaran itu (Rp 4 juta dan Rp 3 juta) hanya mencakup 60% biaya pengadaan. Jadi yang 40% sisanya dari APBD. Hibah memang tidak pernah diberikan 100%, kecuali pada kasus bencana alam.

×