Penetapan Area Beresiko Sanitasi Permukiman

  • 1,041 views
Uploaded on

Tata Cara Penetapan Area Beresiko Sanitasi Permukiman dengan menggunakan hasil Studi EHRA, persepsi SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah), hasil kajian potensi dan permasalahan sanitasi, dan …

Tata Cara Penetapan Area Beresiko Sanitasi Permukiman dengan menggunakan hasil Studi EHRA, persepsi SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah), hasil kajian potensi dan permasalahan sanitasi, dan pertimbangan lainnya,

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
1,041
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
43
Comments
1
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide
  • There are many methods that can be used to collect data for sanitation needs assessment. The best option is to use a variety of methods, as this will enable the assessor to cross-check the accuracy and reliability of the information. For example: demographic information, questionnaires, observations, group discussion, etc. Explain where do we get information The purpose of analysis is to obtain a clear picture of the current situation and provide the data necessary to prioritise interventions. Some of data may have to be estimated and assumptions made because of lack of information or time. The collected data were then assigned scores. Where indicated, multiply the base score number by ‘multiplier’ that weights the score so that quality (technical appropriateness, sustainability), quantity (number of facilities, distances) and usage (accessibility, o&m) have equal importance in the analysis.

Transcript

  • 1. PENETAPAN AREA BERISIKO
  • 2. Tujuan dan Maksud
    • Ditetapkannya area berisiko berdasarkan tingkat risiko sanitasi
    • Sebagai salah satu kriteria dalam menentukan prioritas dari pelaksanaan program/kegiatan sektor sanitasi
  • 3. Definisi
    • Risiko sanitasi adalah terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan, bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat
  • 4. Penentuan Area Berisiko
    • Mengklasifikasi dan memetakan area-area yang berada dalam kabupaten / kota berdasarkan tingkat/derajat risiko sanitasi.
    • Unit area: kelurahan/desa/banjar
  • 5. Proses Penentuan Area Berisiko
    • DataSekunder
    • Data Primer
    Pengumpulan Data Analisa data Penentuan Area Berisiko
    • Indikator sebagai variabel
    • Indeks Risiko ( Risk Index )
    • Skoring dan pembobotan
    • Analisa frekuensi, mean weighted
    • Diskusi kelompok terfokus
  • 6.
    • Skor/nilai:
    • 4 = resiko sangat tinggi
    • 3 = resiko tinggi
    • 2 = resiko rendah
    • 1 = resiko sangat rendah
    • Pembobotan ( data sekunder ):
    • - seluruh variabel data sekunder sama pentingnya (pembobotan sama besar)
    • - bobot variabel bisa berbeda-beda sesuai pertimbangan dan kesepakatan pokja
    • ( misalnya kepadatan penduduk dan angka kemiskinan memiliki bobot yang lebih besar )
    Analisa Area Berisiko
  • 7. Data Sekunder
      • Cakupan layanan air minum
      • Jumlah jamban
      • Kepadatan penduduk (populasi, luas area)
      • Jumlah KK miskin
      • Bila tersedia:
      • Jumlah sampah yang terangkut
      • Luas Genangan
  • 8. Data Primer – Persepsi SKPD
      • Persepsi: keahlian profesi, pengetahuan praktis
      • Persepsi SKPD termasuk didalamnya mempertimbangkan fungsi tata ruang ( urban function ) dimasa mendatang
      • SKPD yang terlibat dalam memberikan skor harus disepakati bersama
      • Berikan waktu 1 minggu untuk mengisi tabel yang disediakan
  • 9. Data Primer - Hasil Studi EHRA
    • Faktor risiko (per cluster/kelurahan/desa):
    • Aspek sarana prasarana sanitasi
      • 1. Sumber air : pencemaran sumber air; kelangkaan air
      • 2. Air limbah domestik: Pencemaran oleh tangki septik > 5thn atau tak pernah disedot; pencemaran karena pembuangan isi tangki septik; pencemaran karena SPAL
      • 3. Persampahan: pengelolaan, pengangkutan (frekuensi dan ketepatan waktu), dan pengolahan setempat sampah tidak memadai
      • 4 . Drainase: genangan air
    • Aspek perilaku hidup bersih sehat
      • 5. Perilaku ‘cuci tangan pakai sabun (CTPS)’ di saat 5 waktu penting
      • 6. Higiene jamban
      • 7. Penanganan air rumah tangga / wadah penyimpanan
      • 8. BABS
  • 10. Instrumen Analisa Data Sekunder
  • 11. Instrumen Analisa Persepsi SKPD
  • 12. Instrumen Analisa Data EHRA
  • 13. Penetapan Area Berisiko
    • Sandingkan seluruh hasil pemberian skor (data sekunder, EHRA, persepsi SKPD)
    • Diskusi dan sepakati cara menetapkan skor akhir area berisiko
    • Lakukan observasi lapangan untuk mengecheck hasil kesepakatan
    • Sepakati hasil akhir
    • Gambarkan dalam peta dan deskripsikan alasan pemilihan area-area berisiko tsb
  • 14. Instrumen Analisa Data
  • 15. Peta Area Berisiko (Contoh: Kota Tegal)
  • 16. Outline Buku Putih Sanitasi Bab 2: Gambaran Umum Wilayah Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah Bab 4: Program Pengembangan Sanitasi Saat Ini dan Yang Direncanakan Bab 5: Prioritas Pengembangan Sanitasi Bab 1: Pendahuluan
  • 17.
    • Terima kasih