Your SlideShare is downloading. ×
0
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Teknik penulisan berita dan Feature bagi Praktisi Humas

1,866

Published on

ini materi bagi peserta Diklat Pranata Humas Tingkat Ahli yang diselenggarakan oleh Diklat Kementerian Kominfo di wisma Diklat jalan Kelapa Dua Kebon Jeruk Jakarta

ini materi bagi peserta Diklat Pranata Humas Tingkat Ahli yang diselenggarakan oleh Diklat Kementerian Kominfo di wisma Diklat jalan Kelapa Dua Kebon Jeruk Jakarta

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,866
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Pelatihan Penulisan Pelatihan Penulisan BERITA & FEATUREBERITA & FEATURE Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si indiwanx@gmail.com
  • 2. INSTRUKTUR
  • 3. INDIWAN SETO WAHJU 082112297660 3 Drs Indiwan seto wahju W. MSi Tangerang, 8 Maret 1966 Residence: Jl.Zeta Raya 112 Kodya Tangerang Banten Telp 021 5513947 Pengalaman Kerja 1993- 2005 wartawan LKBN Antara 2005 –2009 Kepala Unit Lembaga PJA 2009-2012 Editor di LKBN ANTARA 2010-kini Dosen di UMN Pendidikan 1992 lulus S1 Komunikasi UGM 2003 Lulus S2 Komunikasi UI 2008 Mahasiswa S3 Komunikasi UI
  • 4. karyakarya
  • 5. “ jangan ngaku Praktisi Hubungan Masyarakat... kalau nggak bisa Nulis......”
  • 6. Tujuan Pelatihan 1. Peserta bisa memahami dan mengetahui teknik penulisan berita dan feature dan bisa menerapkan dalam bidangnya masing-masing 2. Peserta bisa dengan segala kreatifitasnya menggunakan kata-kata dan kalimat efektif dalam penulisan media online 3. Peserta bisa membuat rancangan penulisan artikel, dan feature, mencari data dan sumber tulisan menggunakan teknik wawancara dan browsing 4. Peserta bisa menuliskan gagasan masing-masing dalam media blog atau website terpadu
  • 7. Time schedule pelatihan hari 1 08.00- Registrasi 08.00-08.30 Pre Test untuk peserta 08.30-09.00 Ice Breaking – perkenalan peserta- instruktur 09.00- 10.30 Materi sekilas Jurnalistik, etika jurnalistik, nilai berita, jenis berita 10.30-10.45 Istirahat 10.45 -12.00 Teknik wawancara dan praktik penulisan Berita 12.00-13.00 Makan Istirahat Sholat
  • 8. Time schedule pelatihan 13.00 – 13.30 penulisan berita 13.30 – 15.30 Presentasi kelompok 15.30 – 16.00 Evaluasi mentor Hari kedua 08.00 – 09.00 teknik feature, jenis-jenis feature 09.00- 10.00 perencanaan feature 10.00- 11.00 presentasi kelompok artikel/feature evaluasi 11.00 -12.00 Post Test- selesai
  • 9. APA ITU JURNALISTIK ? Indiwan Seto Wahyu Wibowo., M.Si
  • 10. Apa itu jurnalistik? • Jurnalistik lahir ketika manusia sudah mampu menulis. Sedangkan suratkabar muncul ketika manusia sudah mampu menulis secara teratur. Para ahli berpendapat bahwa jurnalistik menjadi kegiatan manusia yang lebih teratur kira-kira 50 tahun sebelum Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Julius Caesar, maharaja Kerajaan Romawi, yang menjadi pusat peradaban Barat. Ketika itu Julius Caesar memerintahkan penempelan "Acta Diurna" (catatan harian) dan "Acta Senatus" di tempat umum di kota Roma untuk kemudian disalin kembali oleh para "budak" kaum elite Roma yang merupakan cikal bakal suratkabar.
  • 11. definisi Jurnalistik adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan dan sarana yang digunakan dalam mencari, memproses dan menyusun berita dan ulasan mengenai berita sehingga mencapai publik
  • 12. Strata jurnalis Yang disebut jurnalis, sebenarnya juga mengenal strata. Ada wartawan yang kerjanya berburu berita, ada redaktur yang mengolah bahan menjadi tulisan, ada redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Jabatan-jabatan struktural ini biasanya diisi oleh tenaga wartawan terbaik di media bersangkutan. Hingga profesi jurnalis di media massa besar, sebenarnya juga banyak “diganggu” secara intern oleh iming-iming jabatan struktural tersebut
  • 13. Wartawan? Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga.
  • 14. ETIKA JURNALISTIK Indiwan seto wahyu wibowo., M.Si
  • 15. Etika jurnalistik Namun gangguan paling besar dari profesi kewartawanan di Indonesia saat ini adalah, lunturnya idealisme. Godaan untuk minta-minta atau melakukan pemerasan, tidak hanya dilakukan oleh wartawan di daerah tetapi juga di ibukota. Bukan hanya oleh wartawan dari penerbitan kecil yang miskin, melainkan juga oleh mereka yang bekerja di perusahaan besar dan prestisius. ketika profesi ini harus berjuang terhadap tekanan kekuasaan amplop, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan
  • 16. Arus bermanfaat Banjirnya informasi dalam media massa, baik media massa cetak dan elektronik, di satu sisi memberi informasi yang tidak ada habisnya. Namun, di sisi lain informasi itu tidak begitu bermakna manakala informasi yang diberikan tidak bermanfaat bagi pembaca. Meminjam istilah Parakitri T Simbolon[1] “berita-berita pers Indonesia yang pada umumnya tanpa peristiwa, dan kalau ada peristiwa, tanpa jalan cerita. Peristiwa-peristiwa penting seperti Kasus “cicak vs Buaya”, “Centurygate”, “Kriminalisasi KPK” di media cetak setiap hari ditulis wartawan tetapi pembaca tidak memperoleh informasi duduk perkaranya. [1] Simbolon, Parakitri, Melepaskan Diri dari Cengkeaman Bahasa Pers Orde Baru (Jakarta: Kongres Bahasa ke-7: 1998)
  • 17. Yellow journalism In 1941, Frank Luther Mott named its five main features: (1) scare headlines, often on minor junk food news. (2) lavish use of photos, pictures, or imaginary drawings. (3) fake interviews, misleading headlines, pseudo-science, featuring paid-for-media “experts.” (4) full-color Sunday supplements. (5) sympathizing with the underdog against the system, a practice now reversed, mischaracterizing or wrongfully vilifying people; among many others –example: Hillary Clinton Adopts alien baby”.
  • 18. Jenis-jenis tulisan Berita Feature Opini dan artikel
  • 19. JENIS-JENIS TULISAN News, Berita –laporan peristiwa, rekonstruksi kejadian, disusun dengan paduan unsur 5W+1H (What,Who, When, Where, Why, dan How) dan sistematika: Head/Judul, Lead/Alinea Pertama, Body/Isi Berita. [Rumus Standard Penulisan Berita: Who does What Where When Why How).
  • 20. JENIS-JENIS TULISANJENIS-JENIS TULISAN Views, Opini , artikel–tulisan berisikan opini, pendapat, atau analisis tentang suatu peristiwa atau masalah. Struktur penulisan: judul, penulis, opening, body, closing. Feature –tulisan berisi paduan antara fakta dan opini. Struktur tulisan: judul, lead, body, closing. Masuk dalam kategori feature a.l. tips, biografi, pengalaman, ”curhat”, dan catatan perjalanan.
  • 21. BERITA Berita adalah sesuatu yang luar biasa. Dog bites a man is not news. Man bites a dog is a news. Bad news is good news, karena pers adalah watchdog.
  • 22. 1.1. Straight NewsStraight News:: berita langsung, apa adanya,berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas.ditulis secara singkat dan lugas. Straight NewsStraight News ada 2 Macam :ada 2 Macam :  a.a. Hard NewsHard News:: yakni berita yang memiliki nilaiyakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi aktualitas dan kepentingan ataulebih dari segi aktualitas dan kepentingan atau amat penting segera diketahui pembaca. Berisiamat penting segera diketahui pembaca. Berisi informasi peristiwa khusus (informasi peristiwa khusus (special eventspecial event) yang) yang terjadi secara tiba-tiba.terjadi secara tiba-tiba.  b.b. Soft NewsSoft News,, nilai beritanya di bawah Hardnilai beritanya di bawah Hard News dan lebih merupakan berita pendukung.News dan lebih merupakan berita pendukung.
  • 23. 2.2. Depth NewsDepth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan. 3.3. Investigation NewsInvestigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber. 4.4. Interpretative NewsInterpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penelitian penulisnya/reporter. 5.5. Opinion NewsOpinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.
  • 24. Berita…… • Ada juga yang merumuskan berita seperti dalil matematika. 1 orang biasa + 1 kehidupan biasa = bukan berita 1 orang biasa + terima dana bulog Rp40 miliar = berita 1 orang biasa + terima dana bulog Rp40 miliar + diselewengkan= top news 1 orang presiden + berkuasa 32 tahun + mundur = berita 1 orang presiden + skandal buloggate + keluarkan dekrit + dipecat = top news
  • 25. BERITA
  • 26. berita Berita adalah segala informasi yang menarik perhatian manusia dan menyangkut kepentingan umum serta dilaporkan oleh wartawan. Sebelum dicetak di koran, disiarkan di radio, atau ditayangkan di TV, belum bisa dikatakan berita. Baru informasi dari mulut ke mulut, desas-desus atau kabar burung.
  • 27. NILAI-NILAI BERITA Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si
  • 28. Salah satu cara untuk menilai sesuatu punya nilai berita (news value) adalah dengan melihat hal-hal berikut ini 1.Significance. Seberapa jauh dan seberapa besar penting sesuatu itu terhadap khalayak. Sesuatu dianggap significant jika menyangkut banyak orang dan berdampak luas terhadap masyarakat. Contoh gampangnya kenaikan harga BBM adalah penting untuk jadi berita karena terkait dengan kehidupan masyarakat. Begitu juga masalah amandemen UUD, presiden dipilih langsung atau tidak langsung, pergantian pimpinan TNI , pemberantasan preman di DKI, soal terorisme.
  • 29. NILAI BERITA 2. Magnitude, yaitu berapa banyak, berapa besar dan berapa cepat. Satu juta lebih besar dari seribu. Kecelakaan pesawat yang menewaskan 200 orang lebih punya nilai berita daripada yang hanya menewaskan lima orang. Badai topan dengan kecepatan 200 km/jam lebih hebat ketimbang angin puyuh 50 km/jam. Gempa skala 7,8 richter lebih dahsyat ketimbang dibawah itu.
  • 30. NILAI BERITA 3. Proximity, unsur kedekatan dengan khalayak juga menentukan sesuatu punya nilai berita atau tidak. Ada yang mengatakan “a dog fight on Main Street is worth more than a revolution in Latin America”. Main Street adalah jalan atau alamat kantor dari koran New York Times. Jadi bagi orang New York, anjing yang berkelahi di Main Street lebih bernilai berita ketimbang sebuah revolusi di Amerika Latin. Contoh lain: Bagi orang Indonesia, pemilihan Gubernur DKI lebih menarik untuk dibaca beritanya ketimbang pemilihan presiden di Afrika sana.
  • 31. NILAI BERITA 4. Prominence atau keterkenalan. Names make news. Kata orang, nama membuat berita. Presiden, ketua parlemen, selebritis, atlit, selalu membuat berita. Orang-orang ingin tahu apa yang dikatakan, dialami dan dilakukan oleh para newsmakers tersebut. Apapun yang mengenai SBY, Jokowi-Ahok, Mega, Amien Rais, Anas, Jupe, David Beckam, Jenifer Lopez, pasti menjadi berita.
  • 32. NILAI BERITA 5. Timeliness. Orang ingin membaca sesuatu yang baru. . Para ahli komunikasi mengatakan news is anything that you didn’t know yesterday. Tidak ada yang lebih basi dari koran kemarin. Di zaman komunikasi digital dan internet sekarang ini orang bahkan ingin membaca berita yang tengah berlangsung ( a real time story). Jadi, mungkin peribahasanya berubah menjadi news is anything that you didn’t know last second, karena berita sedetik yang lalu mungkin sudah basi.
  • 33. TAHAP-TAHAP PENULISAN BERITA Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si
  • 34. TAHAP PEMBUATAN BERITA TAHAP PERTAMA •Wawancara: adalah wartawan mengumpulkan fakta dari mana saja lewat serangkaian wawancara. •Data-Data lain. Fakta bisa diperoleh dari kejadian yang terlihat, terdengar, terbaca, informasi dari pihak lain, data-data atau angka statistik.
  • 35. TEKNIK WAWANCARA Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si
  • 36. Hakikat Wawancara Wawancara  proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik. Wawancara sangat penting dalam dunia jurnalistik. Wawancara vs reportase Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabnya adalah tidak. Reportase memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dari wawancara, sedangkan wawancara adalah salah satu teknik reportase.
  • 37. Jenis Wawancara 1. Man in the street interview. Untuk mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu/persoalan yang akan diangkat jadi bahan berita. 2. Casual interview. Wawancara mendadak. Jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya. 3, Personality interview. Wawancara terhadap figur-figur publik terkenal. Atau orang yang memiliki kebiasaan/prestasi/sifat unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita. 4. News interview. Wawancara untuk memperoleh informasi dari sumber yang mempunyai kredibilitas atau reputasi di bidangnya.
  • 38. Wawancara yang Baik 1. Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. 2. Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. 3. Jangan mendebat nara sumber. 4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum 5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin 6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya 7. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber 8. Bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber 9. Tidak memihak 10. Proses untuk menemui nara sumber
  • 39. Wawancara yang Baik 1. Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya. 2. Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
  • 40. Wawancara yang Baik 3. Jangan mendebat nara sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah. Contoh yang baik: "Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?" Contoh yang lebih baik lagi: "Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?" Contoh yang tidak baik: "Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak.“ 4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum, dan biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber.
  • 41. Wawancara yang Baik 5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point. Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara. 6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.
  • 42. Wawancara yang Baik 7. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber. Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber "buka mulut". Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara. 8. Pewawancara juga hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber, dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.
  • 43. Wawancara yang Baik 9. Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, "Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing". 10. Bagi seorang reporter pers yang belum ternama, seperti pers kampus dan sebagainya, kendala terbesar dalam proses wawancara biasanya bukan wawancaranya itu sendiri, melainkan proses untuk menemui nara sumber. Agar kita dapat menemui nara sumber tertentu dengan sukses, diperlukan perjuangan dan kiat-kiat yang kreatif dan tanpa menyerah. Salah satu caranya adalah rajin bertanya kepada orang-orang yang dekat dengan nara sumber. Koreklah informasi sebanyak mungkin mengenai nara sumber tersebut, misalnya nomor teleponnya, alamat villanya, jam berapa saja dia ada di rumah dan di kantor, di mana dia bermain golf, dan sebagainya.
  • 44. TAHAP-TAHAP PENTING TAHAP KEDUA Tahap kedua adalah wartawan menganalisa fakta-fakta yang didapat itu dan kemudian melakukan cross check sehingga data, fakta dan informasi yang diperoleh itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tahap ketiga adalah wartawan melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang kompeten terhadap fakta yang diperole htersebut. Mereka bisa orang-orang yang terlibat langsung, saksi mata, aparat, pejabat, pakar dan pengamat.
  • 45. TAHAP-TAHAP PENTING • Tahap keempat adalah wartawan merangkai fakta-fakta itu dalam bentuk laporan tertulis untuk media cetak, laporan lisan untuk adio, atau laporan audio-visual untuk televisi. Ingat definisi berita adalah “segala bentuk informasi yang menarik perhatian manusia dan menyangkut kepentingan umum serta DILAPORKAN oleh wartawan”. • Sebelum dicetak di koran, disiarkan di radio, atau ditayangkan di TV, belum bisa disebut berita. Mungkin baru informasi dari mulut ke mulut, desas-desus atau kabar burung.
  • 46. PENULISAN BERITA Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si
  • 47. PENULISAN BERITA Struktur Piramida Terbalik Mengail dengan judul dan lead yang baik Memperkaya dengan isi ‘body’ berita yang sempurna Dan ditutup dengan penutup yang menarik
  • 48. 5W5W++HH:: WhoWho sayssays WhatWhat atat WhereWhere andand WhenWhen soso WhyWhy and thenand then HowHow??
  • 49. PENULISAN BERITA Piramida terbalik mengibaratkan bahwa bagian yang besar (isinya banyak, penting); berada di bagian atas. Makin ke bawah, bentuk piramida tersebut makin mengecil dan meruncing. Ibaratnya, makin ke bawah volume berita tersebut makin sedikit, sementara isinya juga menjadi kurang penting.
  • 50. anatomi berita 1. Judul Berita (Headline) a) Berfungsi menolong pembaca yang bergegas mengenal kejadian di sekelilingnya. b) Dengan teknik grafika tipe-tipe huruf, judul berita dapat ditonjolkan sehingga menarik orang untuk membaca. c) Mengapa bergegas? Karena sifat manusia modern yang serba tergesa sehingga banyak pembaca yang hanya membaca judul berita.
  • 51. ANATOMI BERITA 2. Baris Tanggal (Dateline) a) Umumnya tanggal berita dibuat singkatan dari surat kabarnya atau sumber beritanya. b) Contoh: Harian Suara Karya menggunakan Madiun, Sabtu (SK) c) Baris tanggal tersebut menunjukkan bahwa berita tadi ditulis di Madiun di tempat kejadian dan saat ditulisnya adalah pada hari Senin. Kependekan SK menunjukkan bahwa berita didapat dari wartawan Suara Karya sendiri. Sebab kependekan tsb bisadari kutipan media massa lain. Misalnya, Antara
  • 52. 3. Teras Berita a) Menulis teras berita merupakan bagian yang tersulit. b) Karena harus menyajikan fakta penting dan menarik minat pembaca. c) Ada seloroh: bahwa menulis lead sama dengan mencium gadis, jika kamu dapat sekali maka yang lainnya akan mudah. d) Karena ingin menonjolkan bagian penting, teras berita merupakan ringkasan dari berita. e) Teras berita umumnya memuat lengkap unsur-unsur berita. f) Unsur berita lazimnya disebut 5W dan 1H.
  • 53. 5W dan 1H 1. What: Apa yang terjadi. 2. Who: Siapa yang terlibat dalam kejadian Itu. 3. Where: Di mana hal itu terjadi. 4. When: Kapan peristiwa itu terjadi. 5. Why: Kenapa hal itu terjadi, dan How: Bagaimana peristiwa itu terjadi.
  • 54. 3A – 3M Untuk istilah Indonesia: 3A – 3M Kependekan dari Apa; si-Apa; meng-Apa; bila-Mana; di-Mana; dan bagai-Mana.
  • 55. Macam Gaya Penulisan Teras Berita Berdasarkan Unsur 5W dan 1H 1. Teras Berita Apa (What) Penataran wartawan kesra seluruh Indonesia telah dibuka dengan resmi kemarin pagi oleh Menteri sosial Petruk Gareng Bagong, M.Si di hotel Sahid Jakarta
  • 56. 2. Teras Berita Siapa (Who) Menteri Agama Petruk Gareng Bagong kemarin pagi dengan bertempat di Pondok Pesantren Pabelan telah membuka penataran wartawan agama seluruh Indonesia.
  • 57. WHERE LEAD 3. Teras Berita Di mana (Where) Di Hotel Sahid Jakarta , kemarin pagi telah dibuka dengan resmi oleh Menteri Sosial Petruk Gareng Bagong pelatihan bagi pranata humas di jajaran Depkominfo .
  • 58. WHEN LEAD 4. Teras Berita Kapan (When) Kemarin pagi dengan bertempat di Hotel Sahid Jakarta oleh Menkoinfo telah dibuka pelatihan bagi pranata Humas di jajaran Depkominfo.
  • 59. WHY LEAD 5. Teras Berita Mengapa atau Bagaimana (Why) Untuk meningkatkan mutu pranata Humas Depsos dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis kemarin pagi oleh Menteri Sosial Petruk Gareng Bagong telah dibuka penataran pranata humas tingkat nasional ke-2.
  • 60. Macam Teras Berita Di Luar Rumus 5W dan 1H 1. Teras Berita yang Menjerit (Exclamation Lead) Contoh: “Asyik!” demikian jerit gadis-gadis yang memenuhi jalan Thamrin dan sekitar Monas dalam pesta semalam suntuk untuk memperingati hari kelahiran kota Jakarta.
  • 61. Quotation Lead 2. Teras Berita Kutipan (Quotation Lead) Contoh: “Kita jalan terus, meskipun mahasiswa akan turun ke jalan”, demikian Walikota Ngalengka Togog menanggapi aksi-aksi mahasiswa Unsar yang menentang konsep normalisasi poligami.
  • 62. 3. Teras Berita Kontras (Contrast Lead) Contoh: “Kerawang gudang beras di Jawa Barat kini mengalami kelaparan untuk pertama kalinya Rakyat tidak lagi memakan beras melainkan melahap enceng gondok.
  • 63. TEKNIK MENULIS TUBUH BERITA Motto: Mempertahankan kesatuan di dalam gaya menulis (unity in news style) dan tidak berbunga-bunga dan ber- tele-tele (zakelijk to the point)
  • 64. 5 Pegangan Pokok dalam Menulis Tubuh Berita 1. Laporan berita harus bersifat menyeluruh. 2. Ketertiban dan keteraturan mengikuti gaya menulis berita. 3. Tepat di dalam penggunaan bahasa dan tatabahasa. 4. Ekonomi kata harus diterapkan 5. Gaya penulisan harus hidup, punya makna, warna, dan imajinasi.
  • 65. MENULIS DI MEDIA ONLINE Indiwan Seto Wahyu Wibowo., M.Si 6
  • 66. MENULIS DI MEDIA ONLINEMENULIS DI MEDIA ONLINE Media online (online media) adalah media massa yang tersaji secara online di situs web (website) internet (Romli, 2013) Media online adalah media massa ”generasi ketiga” setelah media cetak (printed media) –koran, tabloid, majalah, buku-- dan media elektronik (electronic media) –radio, televisi, dan film/video. (Asep Syamsul M. Romli - Dosen jurnalistik & penyiaran di UIN SGD Bandung. Website: www.romeltea.com. E-mail: romeltea@yahoo.com. Facebook: facebook.com/romeltea1. Twitter: twitter.com/romeltea. Tinggal di Bandung.).
  • 67. Media Online merupakan produk jurnalistik online. Jurnalistik online –disebut juga cyber journalisme– didefinisikan sebagai “pelaporan fakta atau peristiwa yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet” (wikipedia). Secara teknis atau ”fisik”, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet). Termasuk kategori media online adalah portal, website (situs web, termasuk blog), radio online, TV online, dan email. Isi media online terdiri: Teks, Visual/Gambar, Audio, dan Audio-Visual (Video)
  • 68. KHARAKTERISTIKKHARAKTERISTIK Kapasitas luas --halaman web bisa menampung naskah sangat panjang Pemuatan dan editing naskah bisa kapan saja dan di mana saja. Jadwal terbit bisa kapan saja bisa, setiap saat. Cepat, begitu di-upload langsung bisa diakses semua orang. Menjangkau seluruh dunia yang memiliki akses internet.
  • 69. KHARAKTERISTIK MEDIA ONLINEKHARAKTERISTIK MEDIA ONLINE Aktual, berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajian. Update, pembaruan informasi terus dan dapat dilakukan kapan saja. Interaktif, dua arah, dan ”egaliter” dengan adanya fasilitas kolom komentar, chat room, polling, dsb. Terdokumentasi, informasi tersimpan di ”bank data” (arsip) dan dapat ditemukan melalui ”link”, ”artikel terkait”, dan fasilitas ”cari” (search). Terhubung dengan sumber lain (hyperlink) yang berkaitan dengan informasi tersaji.
  • 70. JURNALISME ONLINEJURNALISME ONLINE Kehadiran media online memunculkan ”generasi baru” jurnalistik, yakni jurnalisme online (online journalism) – disebut juga cyber journalism. Per definisi, jurnalisme online merupakan proses penyampaian informasi dengan menggunakan media internet (website).
  • 71. JURNALISME ONLINEJURNALISME ONLINE  Kamus bebas Wikipedia mendefinisikan jurnalisme online sebagai ”pelaporan fakta yang diproduksi dan disebarkan melalui internet” (reporting of facts produced and distributed via the Internet).  Jurnalisme online adalah ”jurnalisme judul” karena perilaku pembaca yang umumnya ”headline reader” atau ”lead reader” –perilaku yang juga berlaku bagi pembaca koran. Tubuh berita biasanya diformat dalam bentuk singkat dan padat. Kelengkapan informasi tetap terjaga karena ada ”berita/tulisan terkait” (linkage).
  • 72. Teknik penulisan di media onlineTeknik penulisan di media online Menyesuaikan dengan karakter pembaca, gaya bahasa jurnalisme online hendaknya: ringkas, padat, to the point. Judul sederhana dan padat. Tulisan mudah dipindai memindai (scannable), misalnya dengan subjudul (maksimum tiap lima paragraf), highlight kata-kata penting dengan warna berbeda, cetak tebal, jenis huruf, ukuran huruf, hypertext/hyperlink
  • 73. Teknik Penulisan di media onlineTeknik Penulisan di media online Tulisan pendek lebih disukai. Jumlah kata paling banyak 50% dari media cetak. Alinea pendek. Satu alinea idealnya hanya terdiri dari 65 karakter atau maksimal lima baris (lines). Gunakan alinea/paragraf pendek dan jarak antar- alinea. Uraian panjang dipecah-pecah menjadi beberapa judul, sambungkan melalui multiple hyperlink. Pembaca tidak suka tulisan panjang dan harus men- scroll jauh ke bawah.
  • 74. Teknik penulisanTeknik penulisan Gunakan tabel atau poin/angka urut ke bawah (bullets or numbering). Pembaca lebih mudah dan lebih nyaman membaca uraian berurut ke bawah daripada membaca alinea panjang. Terapkan prinsip Piramida Terbalik -- yang penting di atas, uraian selanjutnya. Gunakan bahasa sederhana dan ”informal” untuk tulisan opini (artikel) dan feature.
  • 75. Teknik penulisan di media onlineTeknik penulisan di media online Pendekatan ”Piramida Terbalik” lebihPendekatan ”Piramida Terbalik” lebih intens digunakan dalam penulisan beritaintens digunakan dalam penulisan berita online, yaitu benar-benar mengedepankanonline, yaitu benar-benar mengedepankan yang paling penting dan mendesak diketahuiyang paling penting dan mendesak diketahui pembaca.pembaca. Bahasa Jurnalistik (Bahasa Jurnalistik (language of masslanguage of mass mediamedia) juga kian penting berperan) juga kian penting berperan mengingat karakter bahasa jurnalistik yangmengingat karakter bahasa jurnalistik yang lugas, ringkas, sederhana, dan mudahlugas, ringkas, sederhana, dan mudah dipahami.dipahami.
  • 76. The 10 Commandments ofThe 10 Commandments of Internet WritingInternet Writing
  • 77. The 10 Commandments of Internet WritingThe 10 Commandments of Internet Writing ByBy Garth A. BuchholzGarth A. Buchholz,, Webpronews.com  Online content is informally written.  Online content is not just about words.  Words are graphical images, too.  Layout and design are critical in a visual medium like the Web.  Chunk it out, chunk it down. (broke into smaller blocks of text separated by a break) or "chunked down" (shortened).  Write strong meta-content (headlines, subheads, cutlines, labels, etc).  Don't reinvent the wheel - just link to it.  Use the traditional newspaper structure of "inverted pyramid" writing.  Make the writing compelling, personal and energetic.  Know your Internet community.
  • 78. Short –ringkas, the shorter the better. Active voice –gunakan kalimat aktif. Strong verbs –pilih kata kerja yang kuat. Contextual hyperlinking –lengkapi dengan tautan informasi terkait; memungkinkan pembaca memperkaya pengetahuan dan informasi pendukung. Use formatting –gunakan variasi tampilan huru atau kalimat (), misalnya dengan menggunakan daftar (list), header tebal, dan kutipan (blockquotes). Easy to read – mudah dibaca; jangan ada blok teks/alinea yang lebih dari lima baris. “No block of text more than five lines on the screen.”
  • 79. TIPS MENULIS MEDIA ONLINETIPS MENULIS MEDIA ONLINE  Layout Sederhana.  Tidak terlalu dinamis dengan animasi berlebihan.  Gunakan foto atau video terkait.  Tempatkan iklan dengan tepat agar tidak mengganggu pembaca.  Hindari font aneh dan berwarna terang.  Gunakan EYD/kata baku.  Hindari background musik automatic play.  Hindari Windows Pop Up. Informasi kontak/contact form.  Cerita apa pun dapat diceritakan dalam 800 kata  Panjang 300-500 kata. Maks. 800 kata. Satu paragraf terdiri atas 3-5 kalimat  Hindari bahasa slank/bahasa gaul. Akurat, tidak salah ketik.
  • 80. PENULISAN FEATURE Indiwan Seto Wahyu Wibowo., M.Si
  • 81. Apa perbedaannya? Kalau penulisan berita (harus taat asas pada aturan 5W + 1H dalam teras berita atau lead), penulisan feature tidak demikian. Penulis feature dapat bertindak bebas, dapat menulis seperti menulis cerita, yang terpenting feature yang ditulis menarik perhatian dan memberikan sesuatu (nilai lebih) pada pembaca. Penulis feature adalah penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi dan kreativitasnya untuk membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, untuk mencengangkan, untuk menjawab keragu-raguan, atau untuk membuat pembaca haru, tertawa, bahkan menangis.
  • 82. Apa itu opini dan features Opini merupakan jenis tulisan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat dan ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Contoh: Persoalan di masyarakat. Kualitas Pendidikan Yang Buruk, Kisah Negara Korupsi, Bencana yang terus mendera, mentalitas pejabat, etika yang makin merosot, dll
  • 83. Apa itu features  Features merupakan karangan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi, atau aspek kehidupan seseorang.Dalam istilah surat kabar features disebut juga berita ringan (soft news). Atau kisah dibalik berita.  Contoh: Berita di balik musibah bencana, Kisah penjual daun jati, pemecah batu,atau peraih medali emas IOS, atau kisah perjalanan menakhlukkan Mount Everest. Humanistic Features. ADVENTURING FET. HISTORICAL FET. SIDE BARN FET.
  • 84. STRUKTUR FEATURES Artikel dan feature tidak berbentuk piramida terbalik melainkan balok sama besar yang memanjang dari atas ke bawah . Bentuk demikian dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam artikel maupun feature, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah.
  • 85. FEATURE  A d a y a n g m e n y e b u t f e a t u r e s e b a g a i “ b e r i t a k i s a h ” , a d a y a n g m e n y e b u t n y a i “ t u l i s a n d e n g a n g a y a ” .  S i f a t n y a m e n g h i b u r s e k a l i g u s m e m b e r i i n f o r m a s i d e n g a n a s p e k m e n g h i b u r l e b i h k u a t . J i k a s e k a d a r i n f o r m a t i f k i t a b i s a m e m p e r o l e h n y a d a r i b e r i t a - b e r i t a k e r a s ( h a r d / b r e a k i n g n e w s ) a t a u t u l i s a n a k a d e m i s .  S i f a t m e n g h i b u r n y a m e m b u a t t u l i s a n f e a t u r e y a n g b a i k s e l a l u b e r m u l a d a r i a s p e k h u m a n i n t e r e s t .
  • 86. Lead Ringkasan Lead Bercerita Lead Deskriptif Lead Kutipan Lead Pertanyaan Lead Menuding Lead Penggoda Lead Nyentrik Lead Gabungan Penulis terkenal Putu Setia (1998) memaparkan berbagai model lead, seperti :
  • 87. Lead Ringkasan Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti cerita. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang. Misal: Walaupun salah satu kakinya buntung, Pak Kardi sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai penjual koran dan majalah di depan kampus itu... Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah penjual koran bernama Pak Kardi yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat -- apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Kardi itu -- bisa melewatkan begitu saja.
  • 88. Lead Bercerita Lead ini menciptakan suasana dan membenamkan pembaca seakan-akan ikut jadi tokohnya. Misal: Adi dengan girangnya melambai-lambaikan bendera sambil berdiri di atas atas kereta yang melaju. Sesaat terdengar bunyi “prak...” Kepala Adi pecah membentur terowongan hingga membuat tubuhnya terlempar ke areal persawahan di sisi rel.... Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang kematian tragis remaja supporter bola yang terjatuh dari kereta.
  • 89. Lead Deskriptif Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu peristiwa. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang. Misal:Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani ..... Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.
  • 90. Lead Kutipan Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise. Misal:"Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah," kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-istri... Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru.
  • 91. Hati-hati kutipan klise Hati-hati dengan kutipan klise. Contoh: ”Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama," kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang agak unik.
  • 92. Lead Pertanyaan Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal:Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik?Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan ... Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.
  • 93. Lead Menuding Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata "Anda" atau "Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau tak terlibat persoalan. Misal:Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang. Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin nasional. 
  • 94. Lead Penggoda Lead Penggoda Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki. Misal: Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat. 
  • 95. Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea berikutnya:Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran... Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.
  • 96. Lead Nyentrik Lead Nyentrik Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal: Reformasi total. Mundur. Sidang Istimewa. Tegakkan hukum. Hapus KKN. Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat .... .
  • 97. Lead Gabungan Lead Gabungan Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi. Misal: "Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti," kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri berkata pendek: "Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat..." Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif.
  • 98. Jika seorang reporter menulis news story, maka leadnya akan seperti ini: Puluhan mahasiswa Universitas Gunadarma dari beragam jurusan kemarinPuluhan mahasiswa Universitas Gunadarma dari beragam jurusan kemarin mengikuti program kursus creative writing dengan pembicara Habiburrahman Al-mengikuti program kursus creative writing dengan pembicara Habiburrahman Al- Shirazi di aula kampusShirazi di aula kampus.. Alur berita selanjutnya berlanjut dengan pola seperti ini, diAlur berita selanjutnya berlanjut dengan pola seperti ini, di mana hal yang terpenting selalu berada di atasmana hal yang terpenting selalu berada di atas semakin ke bawah semakinsemakin ke bawah semakin tak pentingtak penting Ini adalah lead dasar.Ini adalah lead dasar. lead seperti ini memberikan fakta—lead seperti ini memberikan fakta— who, what, when, where, why and howwho, what, when, where, why and how dari berita itu.dari berita itu.
  • 99. Jika berita tadi ditulis dalam model feature, maka leadnya bisa jadi seperti ini: Mata Cici terpaku menatap layar monitor laptop di pangkuannya. Jari-jari lentiknya mulai menariMata Cici terpaku menatap layar monitor laptop di pangkuannya. Jari-jari lentiknya mulai menari di atas tombol-tombol keyboard. Seiring itu, di layar monitor laptop sang mahasiswi tersebut,di atas tombol-tombol keyboard. Seiring itu, di layar monitor laptop sang mahasiswi tersebut, kata-kata indah pun teruntai. ”kata-kata indah pun teruntai. ”SukaSuka adalah kau akan menemaninya bila ituadalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.menguntungkan. SSayangayang adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan. CCintainta adalah kau akan menemaninya di saat bagaimanaadalah kau akan menemaninya di saat bagaimana punpun keadaanmukeadaanmu…” Tujuan dari lead feature ini adalah untuk menarik perhatian dari pembaca, yaituTujuan dari lead feature ini adalah untuk menarik perhatian dari pembaca, yaitu membuat mereka semakin ingin tahu…membuat mereka semakin ingin tahu… Apa yang sebenarnya dikerjakan Cici?Apa yang sebenarnya dikerjakan Cici? Mungkinkan ini kisah mahasiswi jatuh cinta?Mungkinkan ini kisah mahasiswi jatuh cinta? I want to know more!I want to know more!
  • 100. Body (1) Chronological order; (2) Logical order; (3) Narrative order. Pastikan tulisan Anda tetap fokus pada alur dan jangan lupa memberi sentuhan-sentuhan tone, rasa, serta deskripsi detail subyek…
  • 101. Ending Ending konklusi Ending Penyengat Ending Klimak Open Ending Pada feature tidak hanya kesan pertama yang menggoda, namun kesan terakhir juga membawa peran penting bagi pembaca. Berikut adalah jenis-jenis ending dalam feature seperti dipaparkan oleh Putu Setia (1998).
  • 102. Ending konklusi Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead. Ending Penyengat Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga- duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya, menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.
  • 103. Ending Klimak Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya. Open Ending Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.
  • 104. Show not Tell... Umurnya 70 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya,orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar-kumuh Kota Bandung, mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. “Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam.” Bandingkan: Nasib nenek itu sangat malang...
  • 105. ARTIKEL Indiwan seto wahyu wibowo, M.Si
  • 106. Rambu-Rambu Penulisan Artikel  Walaupun semua persoalan dapat ditulisdalam bentuk opini, ada yang harus diperhatikan.  1. Persoalan aktual dan menjadi perhatian masyarakat.  2. Masalah yang ditulis tidak menghasut, mengadudomba, memfitnah.  3. Tulisan berupa solusi terhadap persoalan. (Kasus Dana Rekonstrusi, Kasus Lapindo Brantas, Kasus Jilbab Gaul, Kasus kondom di dompet mahasiswa?,kekerasan dalam pendidikan, pungli dalam pendidikan, pendidikan profetik, pembebasan, kreatif. Mandiri, dll).
  • 107. Teknik MenulisArtikel (Opini) 1. Ada masalah yang akan ditulis. Masalahdapat diperoleh dari searching di internet membaca buku atau pengalaman. 2. Lengkapi masalah dengan bahan pustaka. 4. Bagi penulis pemula, diskusikan masalah dengan teman / pakar. 5. Artikel harus didukung fakta dan data. 6. Artikel harus ada saran dan pemecahan. 7. Mencantumkan sumber kutipan, jika mengutip pendapat orang lain. 8. Jika penulis ragu terhadap persoalanbatalkan saja penulisan.
  • 108. Aktualitas Opini 1.Berkaitan dengan kejadian yang ada di tengah- tengah masyarakat seperti wabah, unjuk rasa, kenaikan gaji, mahalnya biaya pendidikan, kekejian Israil terhadap rakyat Libanon, dll. 2. Aktualitas berkaitan dengan hari besar nasional dan internasional, misalnya hari AID/HIV, hari tanpa asap rokok, pramuka, Natal,Idul Fitri, pendidikan, hari ibu, valentine, dsb.
  • 109. PROSES PENULISAN ARTIKEL • Adatiga tahap dalam kegiatan menulis yaitu prapenulisan, penulisan,dan pascapenulisan. 1. Tahap prapenulisan • Pada tahap ini penulis harus mampu mencari pokok pesoalan yang ditulis , mencari referensi, menyiapkan outline. Penulis harus memiliki kebiasaan menulis apa yang dibaca, dilihat, didengar,dirasa maupun yan dialaminya. Dalam kegiatan ini penulis memiliki kebiasaan menulis pikiran pokok, paragraf pernyataan, menyalin teks, dsb.
  • 110. 2. Tahap penulisan •Setelah tahap prapenulisan dilakukan, tahap penulisan dilakukan dengan membuat draft tulisan. Hal yang harus diperhatikan gunakan bahasa Indonesia yang terkesan sederhana dan mudah dipahami. Lebih baik banyak titik daripada banyak koma. Perhatikan kelengkapan subjek- predikat, gaya bahasa, pilihan kata, penataan paragraf, tanda baca dan ejaan. •Perempuan muda yang suka keluyuran di bar diperkosa lelaki pengangguran. •Gadis dibawah umur dicabuli ayah kandungnya. •Mahaisiwi pecinta alam dinodai pacarnya ketika ekspedisi di Semeru.
  • 111. 3. Tahap Pascapenulisan •Setelah draft tulisan selesai, dilakukan editing (penyuntingan) atau revisi berkaitan dengan keamanan tulisan, pemakaian kalimat, bentukan dan pemilihan kata, pemakaian tanda baca, ejaan dsb.
  • 112. JENIS ARTIKEL 1. Artikel pengetahuan populer Artikel yang dapat dibaca siapa saja, menarik, dan mudah dimengerti. Misaalnya artikel temuan penelitian, potret pendidikan, sejarah peradaban. 2. Artikel penuntun praktis (guideline) Artikel yang memberi petunjuk. Misal merawat keantikan, kiat sukses mengelola keuangan, menolong korban, pembagian kerja (di rumah), dsb
  • 113.  3.Artikel Politik Selain pakarpolitik, siapa pun dapat menyoroti persoalan dari dimensi politik. Misalnya: Penulis dapat menginterpretasi permasalahan politik kasus perusakan lingkungan hidup, kebijakan pendidikan, kebijakan ekonomi, dan sosial budaya.  4. Artikel Olahraga Artikel yang paling disukai banyak orang. Penulis dapat menyoroti praktik olahraga, prestasi, tokoh olahraga, termasuk gosipnya.
  • 114. 5. Artikel kebudayaan Artikel untuk sastrawan, seniman, atau penulis yang ingin memaparkan persepsi mereka terhadap peristiwa yang berkaitan dengan budaya. Penulis dapat mengupas untung-rugi kawin campur dalam perspektif sastra dan cinta (Contoh Keluarga Permana, Esai tentang oudipus complex, sastra, dan realitas. dsb
  • 115. Data paling penting Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalulintas hebat yang menewaskan puluhan siswa SMU, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang kecelakaan lalulintas yang memakan korban cukup banyak, jenis kendaraannya, jumlah korbannya, lokasi dan waktu kejadiannya, penanganannya oleh pihak yang berwajib dll
  • 116. Metode INDUKTIF DEDUKTIF? metode ini paling mudah diterapkan bagi para pemula. Misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor (contoh kasus = hal khusus), semua pihak pasti segera mengkaitkannya dengan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan (gejala umum). Metode berpikir induktif ini juga bisa dibalik menjadi deduktif. Pertama kita kemukakan gejala penggundulan hutan dan perusakan alam dengan bergagai data dan faktanya, dari gejala umum ini, kita tarik kesimpulan pada contoh-contoh khusus yang sangat spesifik namun cukup kuat. Misalnya perubahan iklim makro, pemanasan global dll.
  • 117. Metode ilmiah Metode penulisan ilmiah dengan latar belakang, tujuan, kerangka pikir, permasalahan, pemecahan permasalahan, kesimpulan dan saran dsb, tetap bisa digunakan dalam menulis artikel. Namun dalam mengemukakan latar belakang misalnya, tetap harus digunakan data dan fakta aktual. Misalnya kalau kita menggunakan metode deduktif, kerusakan hutan dan lingkungan yang kita jadikan sebagai latar belakang, harus disertai dengan fakta dan data yang jelas, lengkap dan akurat. Analisis dan opini yang disampaikan pun, harus berupa data
  • 118. 9MENULIS RESENSI DI MEDIA Indiwan Seto Wahyu Wibowo., M.Si
  • 119. Resensi Penilaian Buku Ulasan Buku Timbangan Buku Pembahasan,penilaian, dan rekomendasi buku yang sudah diterbitkan
  • 120. Struktur Identitas Buku Judul Penulis Penerbit Jumlah halaman Tahun terbit, edisi. harga
  • 121. Resensi Isi Buku Bab, subbab, subsubbab (Sistematika) Menjelaskan isi (contain) buku Struktur buku terdiri dari pendahuuan, isi dan penutup Buku juga sering ada kata pengantar (orang lain) dan kata penutup
  • 122. RESENSI Rekomendasi Kesan peresensi terhadap buku yang diresensi. Menyarankan pembaca untuk membaca buku tersebut.
  • 123. Praktik Resensi 1. Judul: Disesuaikan dengan isi buku (maksimal 8 kata dan ada kata kunci= key words) 2. Pendahuluan: Teori yang berkait dengan buku yang dibahas (10%) 3. Analisis :Struktur isi buku dan pembahasan. 4. Refleksi: Rekomendasi keunggulan dan kelemahan buku. (Tapi kalau bisa kelemahan jangan diekspos berlebihan)
  • 124. PRAKTIKUM Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si10
  • 125. AYO PRAKTIKUM •Praktikum membuat judul •Praktikum membuat lead berita •Praktikum membuat lead feature/artikel •Praktikum membuat body berita •Praktikum membuat berita lengkap •Praktikum wawancara •Praktikum mencari dan mengolah bahan berita
  • 126. DAFTAR BACAAN Ini sejumlah buku yang dipakai untuk memperkaya materi pelatihanpenulisan berita 1.Drs.AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature, Bandung, 2006 2.Drs Indiwan Seto Wahyu W, Dasar-Dasar Jurnalistik, LPJA Jakarta, 2006 3.Goenawan Mohamad, Seandainya saya wartawan Tempo, Institut Tempo Jakarta, 2007 4. sumber-sumber lain

×