Hukum pidana khusus

25,872 views
25,673 views

Published on

tugas kuliah,..

Published in: Education
2 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
25,872
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
299
Comments
2
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hukum pidana khusus

  1. 1. HUKUM PIDANA KHUSUSSINOPSISHukum Pidana khusus adalah mempelajari suatu hukum dibidang pidana yang pada umumnya beradaketentuannya diatur diluar KUHP yang berhubungan dengan hukum pidana umum. Pidana umum danpenyimpangan – penyimpangan yang ada terhadap hukum pidana umum dalam bentuk serta lembagayang berwenang mengadilinya.Bisa saja ketentuan – ketentuan itu ditemukan dalam KUHD tapi karena lemahnya ketentuan –ketentuan yang ada dalam KUHP tersebut maka oleh yang berwenang dikeluarkan atau dibuat sendiriketentuan diluar KUHP.Contoh : SuapDalam KUHP, suap ringan hukumannya, tapi akibat yang ditimbulkan sangar besar karena itu dibuatperaturan sendiri tentang suap, ini berhubungan dengan mereka yang digaji oleh negara atau merekayang digaji oleh orang lain.TUJUAN PIDANA KHUSUSTujuan dari pidana khusus adalah membahas bentuk – bentuk hukum pidana yang tergolong kedalamhukum pidana khusus :- Latar belakang- Jenis – jenis- Perundang – undangan yang mengaturnya- Proses penyelesaianLatar belakang munculnya tindak pidana khusus : 1. Karena dalam kenyataan sehari – hari banyak ditemukan delik – delik yang tidak diatur dalam KUHP. 2. Adanya delik yaitu pidananya relatif ringan, sedangkan delik itu pada waktu sekarang mempunyai dampak yang besar.Berdasarkan tujuan tersebut, maka dalam hukum pidana khusus ini dipelajari dan dibahas tentang : 1. Hukum Pidana khusus secara umum 2. Tindak pidana ekonomi
  2. 2. 3. Tindak pidana Narkotika 4. UU tentang lalu lintas jalanLITERATUR 1. Prof. Soedarto, Kapita Selekta hukum Pidana 2. Andi Hamzah, Delik – delik tersebar diluar KUHP 3. Andi Hamzah, Hukum Pidana Ekonomi 4. UU tentang : 1. UU Darurat No. 7/1945, tindak pidana ekonomi 2. UU No. 12/1992, tentang lalu lintas jalan 3. UU. No. 22/1997 tentang narkotika 4. KUHP dan KUHAPTimbul pertanyaan apakah pidana khusus ini bersifat menyimpang dari KUHP ?Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh KUHP yaitu yang berdasarkan kepada pasal 103 KUHP yangmenyatakan bahwa ketentuan dari 8 bab.Yang pertama dari buku ini berlaku juga terhadap perbuatan yang dapat dihukum menurut peraturanyang lain kecuali kalau ada UU / Wet/ tindakan umum pemerintahan/ordonanasi menentukan peraturanlain/peraturan lain menyatakan lain.Dijelaskan oleh NOLTE dalam bukunya “Het straft recht en afzon pengke wetten” (Pasal 91) yaitu hukumpidanan dan hukum pidana khusus.Seperti yang dikutip oleh Ali Hamzah menyatakan bahwa ada 2 macam pengecualian : berlakunya pasal91 WvS (Pidana) yang sama bunyinya dengan pasal 103 KUHP yaitu :1. UU lain yang menentukan dalam pasal 50 ayat 3 UU darurat no. 7 tahun 1955 tentang tindakpidana ekonomi yang berbunyi : “Apabila ketentuan dalam ataupun berdasarkan UU lain bertentangandengan ketentuan ini maka akan berlaku ketentuan dalam UU ini:.2. UU lain itu menentukan secara diam – diam pengecualian seluruh/sebagian dari pasal tadiberdasarkan asas lex specially derogat legi generalis.Pasal 103 KUHP : “Bahwa bab I – Bab VIII KUHP akan berlaku juga tindakan peraturan – peraturanhukum pidana lainnya, kecuali ketentuan lain menyatakan lain”.Seperti pasal 12 UU No. 3 tahun 1958 tentang penempatan tenaga asing antara lain berbunyi : “Apabilaketika diperbuat pelanggaran sesuai pasal 9 belum lewat waktu 2 tahun semenjak melanggardikeluarkan yang tidak dapat dirubah lagi karena pelanggaran yang sama, maka hukuman yang setinggi-tingginya yang disebut pasal tersebut dapat ditambah 1/3 nya.HUBUNGAN ANTARA PIDANA UMUM DAN PIDANA KHUSUS
  3. 3. Hukum pidana khusus adalah ketentuan – ketentuan tentang hukum pidana yang ada diluar kodifikasihukum pidana itu sendiri (KUHP), maka untuk itu oleh SUDARGO telah diberikan pengertian apa yangdisebut sebagai hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang ditetapkan untuk golongan orangkhusus atau yang berhubungan dengan perbuatan – perbuatan khusus.Jadi hubungannya adalah ada pada pasal 103 Buku I KUHPKODIFIKASIHukum pidana khusus yang ada dalam Hukum Pidana UmumHukum pidana khusus yang ada diluar KUHP ibarat kita harus tahu terlebih dahulu apa itu KUHAPterutama tentang pembukuan dan kodifikasi.Menurut para ahli, kodifikasi adalah suatu himpunan dari segala aturan hukum dan bahan hukumtertentu yang disusun secara sistematis, lengkap dan tuntas.Kodifikasi adalah buku yang berisi himpunan dari hukum tetapi bagian hukum tertentu.Ex. : - Kumpulan dari bahagian hukum perdata - Kumpulan dari bahagian hukum pidana - Kumpulan dari bahagian hukum acaraSIFAT KODIFIKASISifat kodifikasi ada 3 yaitu : 1. SistematisYaitu suatu rangkaian yang tidak bertentangan satu sama lain, buku dalam KUHP ada 3, pada masing –masing buku ada bab, pasal, ayat, masing – masing itu tidak bertentangan satu sama lain. 2. LengkapYaitu semua tingkah laku manusia dibidang hukum tertentu itu sudah diatur atau sudah ditentukandidalam kodifikasi tersebut. 3. TuntasYaitu semua yang telah diatur tadi digunakan oleh hakim tidak boleh hakim keluar dari apa yang telahdisebutkan didalam kodifikasi.Ex. : Maksimal hukuman 15 tahun paling tinggi 20 tahun, maka hakim tidak boleh menjatuhkan 21tahun.
  4. 4. Apa yang disebutkan oleh kodifikasi oleh kodifikasi maka tidak boleh menyimpang dengan kata lainadanya kepastian hukum.Kenapa ada kepastian hukum ?Dilihat dari sejarah Perancis.Maka kekhasan Prancis, sebelum revolusi di Prancis dan daerah jajahan dimana sering terjadipembunuhan, pembunuhan atau perbuatan yang dilakukan oleh raja yang mungkin rakyat dimana halini hukum ditentukan oleh kaisar itu adalah C’CTAT – ET MOL ————–à Negara adalah saya Hukum yang mnejadi kekuatan adalah apa yang saya ucapkan.Karena sudah berlalurt – larus (LOUIS 14) maka timbul pemberontakan walaupun sebelumnya adapendapat dari para ahli dimana ada nasehat yang diadakan oleh ahli pada raja akan ada pemberontakandimana berawal dari perjanjian BASTILE.Pemberontakan hasilnya :- Liberti- Egalite- FertenitaOleh NAPOLEON sewaktu menjadi kaisar maka dia berusaha untuk menciptakan kepastian hukumsebagai tujuan dari revolusi Prancis, sehingga tercipta beberapa kodifikasi :1. Kitab Kodifikasi hukum sipil ———à Hukum Perdata (Code Civil)2. Code Commerce ————–à Hukum dagang3. Code Penal ————-à Hukum pidana4. Code tentang hukum acara pidana dan hukum acara perdataOleh karena Prancis menjajah Belanda maka kode yang dibuat Napoleon maka diberlakukan di Belandaatau negara jajahannya, jadi di Perancis sudah berlaku code Penal, kemudian Belanda memerdekakandiri maka mereka punya rasa kebangsaan yang tinggi, sehingga code Prancis tidak berlaku lagi dan 1851suatu kodifikasi hukum Belanda yaitu WvS.Karena Belanda menjajah Indonesia maka indonesia memberlakukan WvS dengan asas korkodansi makaWvS itu dibuat sama dengan di Indonesia, dimana di Indonesia yang ada kondisi tertentu dibuat 1951suatu kodifikasi hukum pidana dan 1915 dibuat kodifikasi yang unifikasi.
  5. 5. Kodifikasi ini yang digunakan sampai sekarang pada tahun 1918 yang telah berlaku KUHP, Belandamenyerah dan Jepang masuk, Indonesia merdeka WvS yang dibuat 1918 maka WvS itu ditetapkan dalamKUHP Indonesia.Yang menjadi Sifat KUHP Indonesia adalah ;1. Sistematis2. Lengkap3. TuntasYang menjadi masalah pada sifat KUHPYaitu sifat LengkapDimana hukum itu ketinggalan dari kemajuan masyarakat sehingga apa yang dikatakan jahat atau tidakjahat pada waktu dulu atau sekarang mungkin terjadi perbedaan.Jika kita menganut kodifikasi, dimana kodifikasi itu sangat berat sekali dan sangat susah mengubah,maka jika terjadi suatu perbuatan yang tidak diatur dalam KUHP atau dihukum dengan pidana ringanmaka untuk mengubahnya sangat sulit dan ini membuat rakyat tidak tenang.Ex. : SuapJalan keluarnya oleh KUHP BelandaKemungkinan asas lengkap tidak dapat diberlakukan maka oleh pemerintahan Belanda 1953 dibuatpertama kali suatu peraturan yang tidak diterapkan pertama kali suatu peraturan yang tidak diterapkandalam KUHP, tapi peraturan itu sangat besar akibatnya.Maka pada tahun 1933.Dibuat suatu peraturan tentang peraturan lalu lintas yang disebut wegverkeer ordonantie. Dalam hal inidia melihat tour lalu lintas tetapi dia memberikan sanksi beban pidana.Dalam UU tersebut disebutkan :Kalau dalam UU lalu lintas itu disebutkan maka disebut pelanggaran, dimana sanksinya hanya dalamKUHP.Mengapa UU lalu lintas ini dapat dibuat ???Karena Belanda takut hukum, dikarenakan salah satu pasal dalam KUHP Belanda yaitu pasal 91 WvSmenyatakan seperti yang tersebut dalam pasal 103 KUHP Indonesia yang pada umumnya dikatakan :”Bahwa tentang kemungkinan adanya UU pidana yang ada diluar KUHP”. Hal ini dibuat dalam Buku I BabVIII.
  6. 6. Dengan memperhatikan pasal 103 KUHP tersebut maka suatu peraturan pidana yang dibuat berlakudiluar KUHP dapat pula diterima dalam hukum pidana dengan dicabut kecuali ditentukan lain ataudengan kata lain dapat disebut “ASAS LEX SPECIALLY DEROGAT LEGI GENERALYArtinya ketentuan – ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan – ketentuan umum.Dalam kenyataan : mulai dari hindia Belanda lama, hakim sudah menganut hukum ini dengan tuntas,dimana hukum adat bukan sebagai hukum yang berlaku tapi kenyataannya hakim Belanda mengambilhukum kebiasaan sebagai hukum yang berlaku.Berdasarkan pernyataan dalam peraturan :Bahwa apabila peraturan menyatakan suatu hukum kebiasaan itu dapat berlaku maka hakim yangmengambil kebiasaan itu untuk berlaku.Pasal 103 Peraturan Penghabisan :Ketentuan dari VII bab yang pertama dari bukum ini berlaku yang terhadap perbuatan yang dapatdihukum menurut peraturan per UU an lain kecuali kalau ada UU atau wet, tindakan umumpemerintahan/Algemene metragelen van bestuur (Ordonantie peraturan lain)Buku I Bab I – VII KUHPBerlaku untuk KUHP itu sendiri, tapi juga berlaku untuk hal – hal atau peraturan – peraturan yang laindiluar KUHP yang berhubungan dengan hukum pidana, kecuali apabila peraturan itu menetapkan lain.Ex. : Pasal 1 KUHPT (Kitab UU hukum Pidana Tentara) KUHPM (Kitab UU Hukum Pidana Militer)Pasal 1 KUHPT :Apabila yang diatur dalam KUHPM itu sama dengan yang disebut dalam KUHP, tapi jika dikatakan lainoleh KUHPT yang berlaku KUHPT.Dasar diberlakukan kodifikasi :Adalah untuk kepastian hukumKarena perkembangan zaman, kodifikasi tidak mungkin cocok begitu saja berkemungkinan ada yangtidak sesuai tetapi untuk merubah kodifikasi sangat sulit sehingga dibuat peraturan yang fleksibel sepertiUU, dengan merubah UU maka hukum pidana bisa mengikuti perkembangan zaman.Mengapa lebih baik membuat UU daripada merubah kodifikasi hukum ?
  7. 7. Bahwa dengan merubah UU bisa lebih cepat untuk menyelesaikan tindakan – tindakan anggotamasyarakat dengan peraturan – peraturan yang harus mengaturnya.Mengapa perkembangan masyarakat lebih cepat dari perkembangan hukum yang mengatur tingkahlaku masyarakat ?- Adanya masalah globalisasi yang timbul dalam masyarakat oleh karena itu peraturan hukum ituberusaha untuk mempertahankan masyarakat maka dia perlu mengikuti perubahan masyarakat itukarena hukum itu mengatur tingkah laku masyarakat (sosial eigenering).- Dengan semakin moderennya kehidupan manusia, maka diperlukan perubahan hukum yang cepat,dengan kata lain dibuat perubahan hukum yang bersifat temporer, karena ada globalisasi, makamasyarakat modern dan masyarakat itu ingin cepat maka dia berupaya agar peraturan – peraturan itudengan cepat dirubah. Ex. : 1927 oleh pemerintah Belanda dibuat peraturan tentang obat bius (narkotika) beberapa tahunkemudian peraturan ini berubah dan bertambah.Misal : 1927 obat bius itu adalah ganja maka tahun 1970 an bukan ganja lagi dan okaina saja tapi jugatumbuh – tumbuhan juga bahan kimia, campuran kimia dengan tumbuh – tumbuhan. Sehingga 1976peraturan obat bius ditukar dan diberlakukan UU narkotika 1976 kemudian dirobah lagi dengan UUnarkotika 1997.Diperlukan dalam beberapa peraturan yang berada diluar hukum pidana yang perlu dikaitkan dengnasanksi yang berupa pidana (pada umumnya diklasifikasikan sehingga pelanggaran) dengan tujuan :- Agar peraturan tersebut dapat ditaati walaupun sudah ada ketentuannya ditemukan dalam KUHPtetapi pidananya ringan.- Agar lebih ditaati maka perlu dihubungkan sanksi dengan pidana, walaupun sebenarnya(materilnya) tidak materi tentang pidana, agar ditaati perlu diberikan sanksi seperti : hukum pidanabiasa relatif bukan kejahatan tapi pelanggaran. Ex. : ganti rugi (perdata) UU lalu lintas jalan ( pelanggaran) Pidana ringan DendaDalam KUHP buku IIAda istilah SUAP, SOGOK
  8. 8. Dimana pidananya ringan sekali, hanya beberapa bulan akibatnya orang banyak melanggar, makawalaup diatur dalam KUHP, kemudian oleh pemerintah membuat peraturan baru tentang suap,sehingga apa yang diatur dalam KUHP tidak berlaku lagi tapi yang ada UU tindak pidana korupsi.Sehubungan dengan hal diatas, maka ANDI HAMZAH menyebutkan bahwa :NOIRE dalam bukunya “ Het straft reht en de of zun derlijke wetten” (Hukum pidana umum dan UUkhusus) menyatakan ada 2 macam pengertian berlakunya pasal 91 WvS Belanda pasal 103 KUHPIndonesia) :1. UU lain tadi menentukan dengan tegas pengecualian berlakunya pasal 91 WvS Belanda. Ex. : Pasal 50 (3) UU darurat No. 7/19552. UU lain itu menentukan secara diam – diam pengecualian seluruh atau sebagian dari pasal tersebutberdasarkan asas Lex specially derogat legi generally. Ex. : Pasal 12 UU penempatan tenaga asing ( UU No. 3 / 1958, lembaran negara no. 8/1958).Jadi ANDI HAMZAH menyebutkan pendapat NOITE : bahwa UU lain yang bukan berasal dari kodifikasitersebut dapat :- secara tegas- secara diam – diamkalau peraturan tentang tindak pidana ekonomi ada yang mengaturnya maka peraturan itu akan berlakukecuali ada UU yang mengaturnya.v Hukum pidana bagian umum adalah hukum yang mempelajari masalah – masalah dalam buku I KUHPdan mempelajari ajaran – ajaran dalam hukum pidana.v Hukum pidana umum adalah hukum yang mempelajari materi dari KUHPv Hukum Pidana bagian khusus adalah hukum yang membicarakan tentang delik – delikv Hukum pidana khusus adalah hukum yang mempelajari hukum pidana yang berbeda diluar hukumumum / diluar KUHP.Diatas telah dsebutkan bahwa hukum pidana khusus itu pada umumnya banyak yang diatur diluarkodifikasi. Maka kalau dia diatur diluar kodifikasi maka harus dalam bentuk UU yang dalam hal inipengertian UU pidana khusus adalah ketentuan – ketentuan tentang hukum pidana selain dari KUHPdan mengatur khusus baik tentang perbuatan tertentu ataupun orang tertentu..PENGERTIAN HUKUM PIDANA KHUSUSPengertian hukum pidana khusus menurut para ahli :
  9. 9. 1. Menurut SOEDARTO Bahwa pada umumnya berdasarkan uraian diatas dapat dibagi berdasarkan sifatnya : 1. Peraturan UU pidana dalam arti sesungguhnya yaitu UU yang menurut tujuannya bermaksud mengatur hak memberi pidana dari engara jaminan dari ketertiban hukum. 2. Peraturan – peraturan hukum pidana dalam suatu UU tersendiri yaitu peraturan – peraturan yang hanya dimaksudkan untuk memberikan sanksi pidana terhadap aturan – aturan salah satu bidang yang terletak diluar hukum pidana. Ex. : UU tentang penyelesaian perselisihan perburuhan dan yang mengatur hukum pidanakeseluruhan seperti UU tentang narkotikaHukum pidana sifatnya : 1. Hukum pidana kodifikasi ————- > KUHP 2. Hukum pidan non kodifikasi ———à UU Narkotika 3. Aturan lain tapi sanksinya pidana : Ex. : Hukum perburuhan UU lalu lintasHukum pidana khusus :- Merupakan hukum pidana terhadap orang – orang tertentu atau orang – orang khusus. Ex. : militer (KUHPT)- Yang diberlakukan terhadap perbuatan – perbuatan tertentu Ex. : Pajak, merupakan perbuatan tertentu, dimana hukum fiskal merupakan hukum pidana khusus.Dalam hukum pidana ada : 1. Hukum pidana bagian khusus tidak sama dengan hukum pidana khusus.Hukum pidana yang mempelajari khusus tentang perbuatan, perbuatan tindak pidana yang diatur dalambuku II dan Buku III dan juga buku IV KUHP 2. Hukum pidana bahagian umum tidak sama dengan hukum pidana umum.Hukum pidana yang membicarakan ajaran – ajaran umum tentang hukum pidana, pada buku I KUHP.UU Pidana Khusus
  10. 10. Peraturan – peraturan hukum pidana khusus yang tertentuEx. : UU tentang narkotika- Narkoba ——–à Lebih luas- Narkotika ——-à Lebih khusus- Nopza ———–à Lebih sempit- Psikotropika —à Lebih khususHukum pidana khususTerdiri dari beberapa UU pidana khususKumpulan dari beberapa UU pidana khususUU Pidana KhususAda didalam hukum pidana non kodifikasiDimana hukum pidana yang tidak dikodifikasi dapat disebut hukum pidana khusus jika :1. Mengatur hukum pidana sendiri2. Tidak mengatur hukum pidana tapi sanksinya pidanaIMPLIKASI/AKIBAT ADANYA HUKUM PIDANA KHUSUSAdanya akibat pidana khusus adalah : 1. Memberi corak tentang hukum pidana kita yang terpecah – pecah seakan – akan adanya hukum pidana dinegara kita berbeda – beda, akibat hukum pidana terpecah – pecah terlihat diadakan upaya penanggulangannya kalau hukum pidana umum dan khusus yang menanggulanginya berbeda – beda dari :- Hakim- Polisi- PenyidikDan hal ini membutuhkan biaya yang banyak 2. Polisi atau kejaksaan dalam penanggulangan kejahatan juga akan berbeda – beda
  11. 11. Ex. : Pelanggaran terhadap pidana khusus lebih berat dari pidana umum 3. Adanya pengertian hukum pidana khusus ini akan berperan dalam penyusunan konsep KUHP kita yang baru nanti.PENYIMPANGAN DALAM HUKUM PIDANA KHUSUSPada umumnya yang menyimpang dalam hukum pidana khusus yaitu : 1. Didahulukan dari perkara lain penyidangannya terlihat dalam :- Pasal 25 UU tentang pemberantasan tidak pidana korupsi- Pasal 65 UU tentang narotika- Pasal 58 UU tentang psikotropika 2. Adanya peradilan in – abtentia (ketidak hadiran terdakwa)- Pasal 16 (6) UU tentang tindak pidana ekonomi- Pasal 38 UU No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi 3. Kalau dinyatakan secara tersendiri tidak berlakunya KUHAP oleh peraturan tersebut.TINDAK PIDANA EKONOMIPada umumnya di Eropa khusus Inggris sebelum adanya revolusi industri, maka penduduk lebih banyakbekerja dibidang pertanian, kemudian sebelum terjadinya revolusi industri dibidang ekonomi telahmantap berlaku prinsip bahwa :Dalam rangka melakukan usaha untuk mencapai kemakmuran bagi masyarakat pada umumnya dianutprinsip “Principle laysser paire layserr passer”Artinya : biarkanlah orang – raong itu mencapai kemakmuran untuk mereka sendiri jangan ada campurtangan (Pemerintah) untuk atau dalam mencapai kemakmuran tersebut.Ini adalah prinsip yang dikemukakan oleh pakar ekonomi inggris yaitu ……………………………………………Oleh karena banyaknya kritikan maka pemerintah mulai mengambil tindakan dengan membuatperaturan – peraturan yang dalam hal ini dapat diberikan sanksi pidana kalau terjadi pelanggaran dalamrangka mencapai kemakmuran anggota – anggota masyarakat sehingga disini muncul pertama kali suatuperaturan – peraturan “Hinder Ordonantie” yang mengatur tentang penempatan adanya daerah –daerah industri.Upaya ganti rugi pada buruh :
  12. 12. 1. Penempatan daerah industri 2. Kesehatan buruhKarena pada umumnya adanya peraturan – peraturan yang dibuat masih bersifat mengatur maka dibuatperaturan yang isinya bersifat memaksa (Dwingend) maka mulai saat itulah negara – negara di Eropamulai menciptakan peraturan – peraturan yang bersifat dwingend yang dalam hal ini di negeri Belandadibuat suatu peraturan tentang hukum pidana di bidang ekonomi, dimana dalam tahun 1932 dikenaldengan nama “ Wet op de Economische delicten” (UU tentang Delik – Delik ekonomi).Karena negara mulai memperhatikan rakyat kecil maka negara – negara di Eropa itu membuat peraturan– peraturan khusus dibidang ekonomi, di Belandapun telah diatur tentang hal – hal yang berkaitandibidang ekonomi.Dalam kodifikasi KUHP Belanda tidak ada diatur tentang masalah Ekonomi, sehingga tahun 1932 olehpemerintah Belanda dibuat aturan dibidang ekonomi, siapapun yang melanggar harus dikenakan “Wetop de economische delicten” dengan catatan bagi indonesia walaupun ada asas korkodansi belumdibuat ketentuan tersebut tapi di Belanda mengenai tindak pidana ekonomi sudah ada peraturandihindia belanda tidak dibuat, padahal seharusnya dibuat dengan asas korkodansi.Walaupun asas korkodansi ada, bagi hindia belanda tidak ada peraturan seperti UU 1932 tadi sampaitahun 1955 baru muncul peraturan yang mengatur tentang pidana kalau melanggar hal – hal dibidangekonomi tersebut yaitu :UU darurat No. 7 tahun 1955 tentang tindak pidana ekonomi yang mulai berlaku 13 Mei 1955, yangtelah mengalami beberapa perubahan, pencabutan, penambahan dibidang ekonomi.Dasar adanya UU Darurat No. 7 tahun 1955 pasal 96 ini adalah UUDS 1950 yang berbunyi bahwa :Pemerintah berhak atas kuasa dan tanggung jawab sendiri menetapkan UU darurat untuk mengatur hal– hal penyelenggaraan pemerintah yang karena keadaan – keadaan yang mendesak perlu dengansengaja. UU darurat mempunyai kekuatan dan derajat UU kekuatan ini tidak mengurangi yangditerapkan dalam pasal tersebut.Pasal 96 UU darurat No. 7 tahun 1955Dalam keadaan darurat atau memaksa maka pemerintah dapat membuat UU secara tepat tanpaparlemen UU darurat tersebut sebelum berlakunya UUDS 1950. ketentuannya sudah ada dalam UUD1945. oleh UUDS apa yang dikatakan dalam UUD 1945 disebut sebagai UU Darurat.UU Darurat = PerpuUrutannya :- Pancasila- UUDS
  13. 13. - UU- UU Darurat- Dst.Perpu ———à mengatakan bahwa ia sederajat dengan UU tapi UU dibuat oleh DPR/Parlemen.Perpu dibuat oleh pemerintah karena keadaan memaksa dengancatatan Perpu itu harus diserahkankepada DPR untuk minta persetujuan DPR, kalau disetujui maka perpu jadi UU.Ex.: Perpu No. 1 tahun 1992Jika disetujui maka dia menjadi UU Perpu no. 5 tahun 1992 jika tidak diterima oleh DPR maka perpudicabut.Pasal 96,Disebut UU darurat karena keadaan memaksa nama awalnya UU darurat no. 7 tahun 1955. dimana jikadibuat tentang masalah perekonomian maka dapat menghancurkan negara dimana sering terjadipenyelundupan dibidang ekonomi.Karena UU darurat harus diajukan atau kepada parlemen untuk disyahkan menjadi UU, dengan memintapersetujuan.Dalam kenyataannya UU darurat No. 7 tahun 1955, itu tidak pernah diajukan oleh pemerintah kepadaDPK atau parlemen untuk disyahkan naru dalamt ahun 1963 UU darurat No. 7 tahun 1955 tersebutdiajukan oleh pemerintah kepada DPR dan UU darurat no. 7 tahun 1955 tersebut berdasarkan UU no. 1tahun 1965 dinyatakan sebagai UU dengan nama UU darurat No. 7 tahun 1955.PELANGGARAN DIBIDANG EKONOMIPasal 1 Sub 1e, 2e, 3eSekarang menjadi pasal 1 ayat 1,2,3 yaitu :1. Semua peraturan masa hindia belanda, masa peraturan yang dibuat oleh pemerintah, DPR dandibawahnya2. Berdasarkan peraturan yang akan datang3. Berdasarkan apa yang disebut sendiri oleh TPE ituApa yang dikatakan TPK itu telah disebutkan UU tindak pidana Ekonomi pasal 1 UU TPE terdiri dari 3ayat yaitu 1,2, dan 3Pasal 1 UU No. 7 tahun 1955,
  14. 14. 1. Peraturan dibidang yang telah ada dimasa hindia belanda dan di indonesia sampai dengan adanyaUU TPE2. UU TPE menyatakan ia adalah tindak pidana ekonomi3. Oleh UU TPE dinyatakan sebagai TPE apabila ada peraturan nantinya akan ada klasifikasinyadibidang ekonomiBidang ekonomi yang kalau dilanggar disebut tindak pidana ekonomi baik itu peraturan yang telah adaperaturan yang menyatakan itu tidak pidana ekonomi dan peraturan yang akan datang.Maka menurut ANDI HAMZAH berdasarkan pasal UU Tindak pidana ekonomi itu disebut sebagai tindakpidana ekonomi adalah apabila :Pasal 1 ayat 1 UU No. 7 tahun 1955Melanggar peraturan – peraturan tentang ekonomi dibidang : 1. Bidang Eksport, terdiri dari :- Crisis uit voer ordonantie (stb 1933/383)- Kapok Belangan ordantie (Stb 1935/165 tentang kepentingan kapuk- Ordantie aethe rischa olien ( stb 1937/601) tentang peraturan minyak eter- Krosok ordonantie (stb 1937/7604) ——–à ordonantie tembakau- Crisis uit voer ordonantie———à UU tentang eksport antar pulau 2. Bidang import, terdiri dari :- Crisis in voer ordonantie (stb 1933/ 349)- Ordonantie gecontroleend goederen (stb 1948/144) 3. Moneter- UU No. 10 tahun 1990- Indische larier- UU No. 17 tahun 1964 4. Bidang produksi dan industri- UU perusahaan (Stb 1948/144)
  15. 15. - UU tentang penyelesaian harga 5. Perhubungan- UU tentang perkapalan- UU tentang pelayaran- UU tentang lalu lintas jalanPasal 1 ayat 2 UU No. 7 tahun 1955 :Tindak pidana tersebut dalam pasal 26,32, 33 UU darurat ini dalam hal ini yang dimaksud tindak pidanaekonomi adalah apa yang disebut juga didalam pasal 26,32,33.Pasal 26 UU Darurat :Bahwa dengan sengaja memenuhi tuntutan pegawai pengusut berdasarkan suatu aturan dan UUdarurat ini adalah tindak pidana ekonomi.Pegawai pengusut = Pasal 2Penyidik = Pasal 26Penyidik dalam KUHAP = - Polisi - Penyidik dan pembantunyaPasal 32 UU Darurat :Bahwa barang siapa sengaja berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan suatuhukuman tambahan sebagai tercantum :- Pasal 7 ayat 1 sub a,b,c- Pasal 8Dengan suatu peraturan seperti termaksud dalam pasal 10 atau dengan suatu tindakan tata tertibsementara atau menghindari hukuman tambahan tindakan tata tertib tindakan tata tertib sementaraseperti tersebut diatas, maka ia melaksanakan suatu tindak pidana ekonomi.Sebagai tindak pidana ekonomi,Apabila yang bersangkutan berbuat atau tidak berbuat seperti apa yang telah dijatuhkan oleh hakimkepada yang bersangkutan sanksi yang harus dibutuhkan atau dalam hal ini ia berusaha untukmenghindari apa yang telah dijatuhkan oleh hakim itu maka ia juga disebut sebagai tindak pidanaekonomi.
  16. 16. Sanksi dapat dalam bentuk UU No. 1 Darurat pasal 8 No. 7 tahun 1955- Pemidanaan- Tindakan tata tertib- Tindakan tata tertib sementara- Pidana tambahanJika hal diatas ini tidak dilaksanakan dan dihindari maka dapat disebut tindak pidana ekonomi.Pasal 33 UU Darurat :Barang siapa sengaja baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain menarik bagian – bagiankekayaan untuk dihindarkan dari tagihan – tagihan atau pelaksanaan suatu hukuman baik tindakan tatatertib atau tindakan tata tertib sementara yang dijatuhkan berdasarkan UU darurat ini, maka inimelakukan suatu tindakan pidana ekonomi.Kalau telah dijatuhkan pidana berupa :- Denda- Tindakan tata tertib yang harus dibayar dengan uang- Tindakan tata tertin sementara yang harus dibayar dengan uangTapi yang bersangkutan menghindarkan pembayaran tadi baik sendiri – sendiri atau perantaraan oranglain maka merupakan tindak pidana ekonomi.Pasal 1 ayat 3 No. 7 tahun 1955 :Bahwa tindak pidana tersebut dalam pasal 26, 32,33 UU lain sekedar UU itu menyebut “Pelanggaran itusebagai Tindak Pidana Ekonomi”.Apa yang disebut oleh pasal 26,32,33 sudah jelas apabila terjadi maka merupakan tindak pidanaekonomi sedangkan pasal 1 ayat 3 menyatakan apabila ada UU lain maka kalau ditemukan dalam UUtersebut bunyi seperti pasal 26,32,33 dalam hal ini UU tersebut menyatakan sama seperti yangdikatakan dalam pasal 26,32,33 yaitu juga disebut sebagai tindak pidana ekonomi.Jika seseorang tidak memenuhi permintaan pegawai pengusut atau penyidik maka juga merupakan TPE.Jadi dalam hal ini apa yang dikatakan TPE dapat dilihat dalam :1. UU NO. 7 Tahun 1955- Pasal 1 ayat 1
  17. 17. - Pasal 1 ayat 2- Pasal 1 ayat 32. UU lain yang bunyinya sama dengan yang disebut dalam : - Pasal 26 - Pasal 32 - Pasal 33PENGERTIAN TINDAK PIDANA EKONOMI MENURUT PARA AHLIMengenai TPE, ANDI HAMZAH dan Mohammad ANWAR telah menggolongkan tindak pidana ini kedalam beberapa penggolongan berdasarkan :UU No. 7 tahun 1955 :- Pasal 1 ayat 1- Pasal 1 ayat 2- Pasal 1 ayat 31. Menurut ANDI HAMZAH :Dalam bukunya Hukum Pidana Ekonomi membagi tindak pidana ekonomi atas 3 golongan :1. Golongan PertamaPeraturan – peraturan yang terdapat pada pasal 1 ayat 1 UU Tindak Pidana Ekonomi.2. Golongan KeduaKetentuan yang ditentukan oleh UU tindak pidana ekonomi itu sendiri seperti yang diatur dalam pasal26, 32,333. Golongan KetigaPemberian lowongan kepada kaidah – kaidah yang akan datang apakah berbentuk UU ataupun Perpudimana dia ditentukan bahwa pelanggaran atas UU atau Perpu tadi merupakan delik ekonomi (Pasal 1ayat 3).Jika boleh kita katakan :
  18. 18. - Bahwa pasal 1 ayat 1,2 itu peraturannya sudah ada sedangkan pasal 1 ayat 3 disebut Iusconstituendum.- Peraturan ekonomi itu sudah diprediksi oleh apa yang dikatakan Andi Hamzah dan akanmuncul peraturan itu nantinya jadi ada ius constitutum dan ius constituendum.2. Menurut MUHAMMAD ANWAR :Dalam bukunya Hukum Pidana dibidang Ekonomi menyebutkan bahwa ada 2 jenis kelompok tindakpidana dibidang Ekonomi yaitu :1. Tindak Pidana dalam arti SempitTindak pidana ekonomi yang bersumber pada pasal 1 UU Tindak Pidana Ekonomi.Hal ini dapat dibagi 3 yaitu : 1. Tindak pidana Ekonomi berdasarkan pasal 1 ayat 1 Himpunan peraturan – peraturan dibidang ekonomi yang sudah ada sebelum UU tindak pidanaekonomi ini diundangkan. 2. Tindak pidana ekonomi berdasarkan pasal 1 ayat 2 UU TPE yakni sebagai yang diatur dalam pasal 26, 32,33 3. Tindak Pidana ekonomi berdasarkan pasal 1 ayat 3 UU TPE yakni pelanggaran suatu ketentuan :- Didalam UU lain- Berdasarkan UU lain Ketentuan didalam UU lain :UU yang bersangkutan (UU lain) harus memuat suatu ketentuan bahwa pelanggaran terhadapketentuan – ketentuan tersebut dinyatakan sebagai TPE.Dalam UU lain dinyatakan atau menyatakan sendiri itu adalah TPE seperti yang tertera dalam pasal26,32,33Ex.: Perpu No. 8 tahun 1962 menjadi UU berdasarkan UU No. 7 tahun 1964 tentang perdagangan barang– barang dalam pengawasan.Berdasarkan UU lain :UU tersebut berdasarkan peraturan :- sebagaimana tersebut dalam pasal 1 ayat 1
  19. 19. - sebagaimana tersebut dalam pasal 1 ayat 3UU lain itu dasarknya kepada peraturan – peraturan yang ada didalam pasal 1 ayat 1 dan pasal 1 ayat 3maka itu adalah tindak pidana ekonomi.Menurut MUHAMMAD ANWAR :Adanya kata – kata berdasarkan tadi adalah untuk memberikan kesempatan wewenang membuatperaturan dibidang pidana ekonomi kepada DPRD, karena didalam daerah – daerah tertentu adakekhususannya sehingga DPRD itu diberikan wewenang pula untuk membuat peraturan dibidangekonomi.2. Tindak pidana dalam arti luasDapat dibagi atas :a. Pelanggaran terhadap ketentuan – ketentuan dari peraturan – peraturan dibidang ekonomi,pelanggaran mana diancam dengan hukuman yang termuat dalam UU TPE yang biasanya berdasarkanketentuan – ketentuan pidana dalam peraturan khusus dibidang ekonomi. Antara lain :- UU tentang perbankan Ex. : menjalankan usaha bank tanpa izin- UU tentang merek perusahaan dan merk perniagaan. Ex.: Pemalsuan merek.- Peraturan tentang lautan teritorial dan lingkungan lautan larangan yaitu stb. 1939 / 442 dan denganbeberapa peraturan lain. Ex.: Penangkapan ikan tanpa izin- UU tentang hak cipta- UU tentang pemberantasan tindak pidana korupsi- UU tentang tindak pidana tera (timbangan, ukuran dan takaran).b. Perbuatan – perbuatan pelanggaran hukum yang menyangkut bidang ekonomi dapat diberlakukanbeberapa ketentuan dalam KUHP.Pelanggarannya :- Dengan menggunakan daya upaya atau sarana yang ada
  20. 20. - Pasal – pasal yang berhubungan dengan perdagangan, produksi, retribusi yang kesemuanyamemberikan pengaruh terhadap situasi dan perkembangan ekonomi atau moneter.Kesemua pelanggaran diatas tentang tindak pidana Ekonomi yang dapat diberlakukan KUHP tersebutadalah :Seperti yang ditemukan dalam buku II : 1. Bab 10Tentang hal memalsukan mata uang dan uang kertas negara serta uang kertas bank. 2. Bab 11 Tentang memalsukan materai dan merek 3. Bab 12 Tentang memalsukan surat – surat 4. Bab 24 tentang penggelapan 5. Bab 25 tentang penipuan 6. Bab 26 tentang merugikan penagih hutang atau orang yang berhutan 7. Bab 30 tentang pertolongan jahatPERSAMAAN PENDAPAT ANDI HAMZAH DAN MHD. ANWAR ADALAH :Sama – sama melihat pasal 1 ayat 1,2, dan 3PERBEDAANNYA : 1. Mhd. Anwar lebih memperjelas pengertian dari pasal 1 ayat 1,2,3 itu sebagai TPE 2. Mhd. Anwar lebih memperjelas maksud ius constituendum pada pasal 1 ayat 3 yaitu dapat berupa :- Ketentuan dalam UU lain- Ketentuan berdasarkan UU lainPerbuatan pelanggaran hukum yang menyangkut bidang ekonomi dapat diperlukan ketentuan dalamKUHP berupa : 1. Menggunakan daya upaya dan alat atau sarana. Hal ini bisa dalam bentuk :1. Surat – surat berharga
  21. 21. 2. Warkat – warkat bank3. Fasilitas – fasilitas yang dikeluarkan oleh bank4. Sarana produksi5. Bahan – bahan pokok dalam pengawasan yang dapat merugikan produksi dan distribusi yangbiasanya dalam bidang pertanian dan industri serta prasaranya antara lain :- Ditemukan dalam pasal 263, 264, 266 dan 271 KUHP yang pada umumnya berisikan pemalsuanberbagai jenis surat.- Bab 12 KUHP tentang pemalsuan surat – surat pasal 264 tentang menyuruh menempatkanketerangan palsu.- Tentang pengelapan Pasal 372 dan 374 KUHP bab 24 dengan judul penggelapan- Ketentuan – ketentuan tentang penipuan, pasal 378 KUHP- Membeli sengaja tidak melunasi:Pasal 379 a KUHP“ Mereka yang sebagai mata pencahariannya atau kebiasaan membeli barang – barang dengan maksudsupaya ia sendiri atau orang lain mendapat barang itu dengan tidak melunaskan sama sekalipembayarannya”.- Penipuan beberapa kali atas konsumen yang sama : Pasal 383 Bis “ Pemegang surat pengangkutan dilaut (Konosemen) yang dengan sengaja mempunyai beberapalembar surat konosemen serta telah diikat dengan perjanjian utang untuk keperluan beberapa orangyang mendapatnya”. 2. Tindak pidana yang berhubungan langsung dengan perdagangan. Hal ini dapat dilihat pada pasal 383 dan 386 KUHP yaitu :1. Pasal 383 KUHP, penipuan oleh penjual dalam jual beli :- Sengaja menyerahkan barang yang lain daripada yang telah ditunjuk oleh pembeli.- Keadaan sifat atau banyaknya barang
  22. 22. Yang diserahkan dengan memakai akal dan tipu muslihat. Pasal 386 KUHP :“ Menjual, menawarkan atau menyerahkan barang makanan, atau minuman/obat, sehinggadiketahuinya barang itu dipalsukan dan kepalsuan itu disembunyikan”.2. Pemalsuan terhadap nama atau tanda atas karya kesastraan ilmu pengetahuan dan industri.Terlihat dalam pasal 386, 393 KUHP.3. Penipuan dalam asuransi Pasal 381, 382 KUHP4. Persaingan curang pasal 382 Bis5. Penipuan dalam pemborongan pasal 387 KUHP“ Seorang pemborong atau ahli bangunan dan suatu pekerjaan yang pada waktu melakukan pekerjaanbangunan itu melakukan hal tipu yang mendatangkan bahaya bagi orang banyak”.6. Penjualan, penawaran, penyerahan, pembagian, penyediaan untuk dijual atau untuk dibagikanbarang yang diketahui atau dapat diduga bahwa pada barang itu sendiri atau pada bungkusnya dibelisecara palsu nama/firma/cap/ merek yang menjadi hak orang lain.Pasal 393 KUHP.Jadi dalam arti sempit dan luas yang dikemukakan Mohammad Anwar yaitu :1. Adalah berupa penafsiran terhadap tindak pidana ekonomi berdasarkan pasal 1 ayat 1,2,3 UU TPE.2. Sedangkan apa yang dinyatakan dalam pasal 26,32, dan 33 tetap merupakan TPE juga seperti apayang diatur oleh UU tentang TPE diatas tadi.HAL – HAL YANG BERSIFAT KHUSUS DALAM TPEAda 8 hal yang bersifat khusus dalam TPE yaitu : 1. Ketentuan – ketentuan dalam peraturan TPE ini adalah bersifat elastis 2. Perbedaan pengertian, kejahatan dan pelanggaran dalam TPE 3. Perluasan berlakunya ketentuan pidana UU TPE 4. Percobaan dan pemberian bantuan yang berbeda dengan KUHP 5. Keadilan in absensia 6. Penyelesaian perkara diluar beracara (Schiking atau denda damai) 7. Perluasan tentang subjek yang dapat dihukum 8. Aneka ragam sanksi dan penjatuhan pidana
  23. 23. Ad.1. Ketentuan – ketentuan dalam peraturan TPE bersifat elastisANDI HAMZAH dalam bukunya hukum pidana ekonomi menyebutkan bahwa:Peraturan tentang TPE ini bersifat elastis, artinya peraturan – peraturan dibidang pidana ekonomi itudisesuaikan dengan pasar.Menurut Andi Hamzah,Di Indonesia pada umumnya terlihat dalam praktek per UU an dilapangan ekonomi ini berubah dengancap silih berganti guna mengejar akal licik pedagang dan pencatut.Bahwa pejabat dilapangan ini seperti polisi, jaksa dan hakim termasuk pengacara/advokat seringkalibelum sempat membaca atau menemukan suatu peraturan maka peraturan itu sudah diubah pulaterutama yang berbentuk PP, peraturan menteri.Jadi perubahan sosial ekonomi serta merta diikuti oleh peraturan pidana ekonomi yang bersifattemporer untuk mengatasi kesulitan pada waktu tertentu.ad. 2. perbedaan pengertian kejahatan dan pelanggaran dalam tpe.Dalam TPE klasifikasi kejahatan dan pelanggaran disesuaikan dengan penggolongan tindak pidana yangdikemukakan sebelumnya.Menurut ANDI HAMZAH :Bagi tindak ekonomi golongan I dipakai klasifikasi dalam UU yang tercantum dalam pasal 1 ayat 1 itu :- Jika dalam UU tersebut memberikan pengertian kejahatan dan pelanggaran secara tersendiri makadiklasifikasikan itulah yang dipakai.- Jika tidak memberi pengertian secara sendiri maka pengertian kejahatan dan pelanggaran didalamhukum pidana umum yang dipakai.Dalam hal ini menurut Andi Hamzah, kita dapat melihat bahwa menurut UU TPE atau hukum pidanaekonomi apa yang disebut oleh UU TPE sebagai kejahatan dan pelanggaran dapat kita lihat berdasarkanpenggolongan dari UU TPE tadi.Ø Golongan I :Apabila dalam UU TPE itu disebut klasifikasi kejahatan maka dia adalah kejahatan, walaupun tidakdijelaskan bahwa itu adalah perbuatan berupa pelanggaran hukum pidana umum.Ex.: Makhoda kapal yang tidak melaporkan isi dari kapalnya itu adalah perbuatan kejahatan dimilikiperbuatan itu langsung perbuatan kejahatan, walaupun nakhoda itu lupa atau lalai.
  24. 24. Kalau dalam klasifikasi UU TPE itu dikatakan pelanggaran dan mungkin dalam KUHP itu merupakankejahtan maka dia adalah pelanggaran bukan kejahatan, sebaliknya jika dalam UU TPE tersebut tidakdinyatakan secara tegas itu adalah kejahatan atau pelanggaran maka yang berlaku adalah klasifikasiKUHP.Artinya kalau dalam KUHP itu ada kata “Barangsiapa dengan sengaja” maka itu adalah kejahatan tapikalau dinyatakan kata “ lalai atau lupa” maka itu adalah pelanggaran.Ø Golongan II :- Pasal 26- Pasal 32- Pasal 33Hal ini jelas kalau dia dipakai sebagai klasifikasi kejahatan.Ø Golongan III : Sama seperti yang disebutkan untuk golongan I tersebut.DASAR PEMIKIRAN PERBEDAAN KEJAHATAN DENGAN PELANGGARANØ Pasal 2 ayat 1 :Tindak pidana ekonomi tersebut dalam pasal 1 ayat 1 adalah kejahatan atau pelanggaran sekedar tindakpidana itu menurut ketentuan dalam UU yang bersangkutan adalah kejahatan atau pelanggaran TPElainnya, yang tersebut dalam pasal 1 ayat 1 adalah kejahatan apabila tindak pidana itu dilakukan dengansengaja.Ø Pasal 2 ayat 2 :TPE tersebur dalam pasal 1 ayat 2 adalah kejahatan apabila tindak itu mengandung anasir sengaja,tindak pidana itu adalah pelanggaran satu dengan lainnya dengan UU itu tidak ditentukan lain.Ad.3. Perluasan berlakunya ketentuan pidana UU TPEPemberlakuan ketentuan TPE pada umumnya lebih luas dari ketentuan berlakunya KUHP pasal 2 yangpasal 2 tersebut menganut asas TERITORIALITAS.Bahwa TPE ini asas pemberlakuannya lebih luas daripada asas teritorialitas seperti yang dianut tindakpidana umum (Pasal 2 KUHP).Pasal 2 KUHP :
  25. 25. Ketentuan pidana dalam UU Indonesia berlaku bagi tiap orang yang dalam indonesia melakukan suatuperbuatan yang boleh dihukum/peristiwa pidana.Dalam TPE asas pemberlakuan yang berbeda ditemukan dalam pasal 3 UU TPE bahwa :“Barangsiapa turut melakukan suatu TPE yang diberlakukan dalam daerah hukum RI dapat dipidanabegitu pula jika turut melakukan TPE diluar negeri”.Maksudnya : kalau seandainya ada orang yang turut melakukan TPE baik berada di indonesia atau tidakdiindonesia maka orang itu dapat dipidana menurut hukum indonesia.Mengenai turut melakukan tersebut ada beberapa sarjana yang telah memberikan pendapatnya antaralain :1. Menurut SOEPRAPTO Dalam bukunya hukum pidana ekonomi menyatakan bahwa : kami tidak mengerti mengapa turutmelakukan saja yang tersebut dalam pasal 3 untuk dijadikan delik sendiri sedangkan hal menuyuruhlakukan (Doen Plegen) membujuk melakukan (Uit Lokken) tidak dijadikan delik tersendiri dan masihmengikuti pasal 55 KUHP. Sebenarnya yang penting dalam pasal 3 UU TPE adalah perluasan berlakunya hukum TPE ke luar negeriantara lain :- Perhatikannlah penjelasan umum bagian ke 5 dan UU TPE yang menyatakan bahwa ………………..sebagai perluasan pasal 2 KUHP ………- Maka perbuatan turut serta yang dilakukan diluar negeri dapat dipidana juga.Analisa yang sama juga dikemukakan oleh :KARNIDalam bukunya tindak pidana ekonomi :Pasal 55 KUHP terdapat dalam Bab 5 buku I KUHP dengan judul turut serta melakukan perbuatan yangdapat dihukum.Maka sebaiknya pasal 55 KUHP ini juga dapat diberlakukan bagi seseorang yang turut serta diluar negeri.2. Menurut ANDI HAMZAHDalam bukunya Tindak Pidana EkonomiAndi Hamzah menyatakan bahwa : dalam pasal 3 UU TPE ini pembuat UU memakai istilah lain lagi yaituikut serta.
  26. 26. Menurut Andi Hamzah, maksudnya bukalah kata – kata serta dan turut melakukan yang disalin dengankata MEDE PLEGEN akan tetapi mestinya DEEL NEMINGMEDE PLEGEN bisa diartikan :- Turut berbuat- Serta berbuatDalam hal ini ditemukan dalam pasal 55 ayat 1 KUHP.DEEL NEMING adalah :- Turut serta (dalam makna yang luas)Yang bisa ditemukan dalam pasal 55 – 62 KUHPAd.4. Percobaan dann pemberian bantuanHal ini diatur dalam pasal 4 UU TPE bahwa :Jika dalam UU TPE pada umumnya atau TPE pada khususnya maka didalamnya termasuk pemberianbantuan pada atau untuk melakukan tindak pidana itu dan percobaan melakukan tindak pidana itusekedar suatu ketentuan tidak menerapkan sebaliknya.UU TPE tidak memberikan penjelasan terhadap pasal 4 ini, namun bila dilihat materi pasal ini ada 2perbuatan yang diancam dengan pidana yaitu :1. Percobaan2. Pemberian bantuan (Pasal 53 KUHP dan 56 KUHP).PERCOBAAN :Suatu perbuatan yang belum selesai, tidak selesai karena bukan atas kehendak sipelaku.Ex. : Mencongkel pintu orang lain tapi diketahui oleh orang lain.Pidananya : dikurangi ½ nya karena deliknya belum selesai.Menurut Pasal 4 UU TPE :Baik percobaan maupun pemberian bantuan seseorang dipidana dengan delik selesai.Menurut pasal 54 KUHP :Percobaan untuk pelanggaran tidak diancam hukuman
  27. 27. Percobaan pelanggaran pada TPE dapat dipidana dasarnya pasal 2 UU TPE.Terhadap pernyataan pasal 4 UU TPE : 1. Kami menyatakan bahwa : Percobaan pada delik ekonomi adalah sama dengan delik telah selesai 2. Menurut Andi Hamzah :Tidak sepakat dengan pendapat karena kami sama dengan delik selesai tetapi kalau dilihat dariakibatnya yang berbahaya dari delik ekonomi yang dinyatakan sebagai alasan menetapkan percobaansama dengan delik selesai maka alasan itu dapat diterima. 3. Menurut Kami :Dia menyatakan bahwa pasal 4 itu menyimpang dari pasal 53 dan 60 KUHP dianggap perlu khususnyaterhadap yang dipandang pelanggaran.4. Menurut Andi Hamzah :Bagaimana hakim dan jaksa bisa tiba pada pengurangan hukuman kalau tidak terlebih dahuludiklasifikasikan delik yang bersangkutan sebagai percobaan pasal 53 KUHP atau memberi bantuan pasal56 KUHP.Dan ketentuan pasal 4 UU TPE :Hanya diberlakukan untuk TPE yang digolongkan pada golongan 1 dan 3.Ad.5. Peradilan in – AbsentiaPeradilan in absentia ini ditemukan didalam pasal 16 ayat 1 sampai dengan pasal 16 ayat 8 UU TPE danditambah dengan peraturan pemerintah pengganti UU No. 15 tahun 1992 dengan ayat 7 – 9.Bunyi pasal 16 ayat 1 TPE menyatakan bahwa :Jika ada cukup alasan untuk menduga bahwa seseorang yang meninggal dunia sebelum/perkaranya adaputusan yang tidak dapat diubah lagi telah melakukan TPE maka hakim atas tuntutan penuntut umumdengan putusan pengadilan dapat :a. Memutus perampasan barang – barang yang telah disita yang dalam hal ini pasal 10 UU darurat iniberlaku sepadanb. Memutus bahwa tindakan tata tertib yang disebut dalam pasal 8 sub C yang dilakukan denganmemberatkannya pada harta orang yang meninggal tersebut.Pasal 16 ayat 6 menyatakan bahwa :
  28. 28. Ketentuan dalam pasal 1 diatas pada permulaan kalimat dan dibawah a berlaku juga jika berdasarkanatas alasan – alasan dapat diterima bahwa TPE itu dilakukan oleh seorang yang tidak dikenal orang,putusan itu diumumkan dalam berita negara dan didalam satu atau lebih surat kabar yang akanditunjukkan oleh hakim.Ayat 1 :Yang bisa tidak perlu adil adalah orang yang telah meninggalAyat 6 :Disamping orang yang meninggal juga ada orang yang tidak dikenal orang.Tentang masalah meninggal dunia :Dapat diadili in absentia relatif berbeda dengan apa yang ditentukan dalam pasal 77 KUHP (e) hakmenuntut hukuman gugur lantaran sitertuduh meninggal dunia. Mengenai pasal 16 (6) ini banyakmenimbulkan kesulitan karena penafsiran terhadap orang tidak dikenal (orang) sehingga dapatmenimbulkan relatif ketidakpastian.Dalam hal ini penafsiran tersebut sangat tergantung kepada penafsiran tersebut. Mengenai penafsiranterhadap pengertian orang tidak dikenal orang tersebut, oleh amir Hamzah tidak dinyatakan bahwapenafsiran itu berdasarkan putusan pengadilan yang dapat dibagi dua yaitu :- Sempit- LuasMenurut Andi Hamzah, penafsiran sempit ini ditemukan pada putusan PT. Surabaya dalam kasus Malayaindonesia Grd. Co. Ltd. (Grading company ltd) dalam tahun 1960. kesimpulan putusannya : bahwa orangyang tidak dikenal adalah sungguh – sungguh tidak dikenal.Sedangkan penafsiran dalam arti luas ditemukan pada putusan PN Malang tahun 1961 yang dalamputusannya berpendapat bahwa “Fisik ada tetapi setelah dicari dengan perantaraan alat – alat negaratidak terdapat dimana alamatnya yang setepat – tepatnya. Maka untuk diterima namanya dalam artikata pasal 16 (6) yaitu dikenal namanya akan tetapi melarikan diri atau sebab lain tidak lagi berada diindonesia sehingga orang tidak mengenalnya sekalipun didalam pasal ini tidak ditentukan dengan kata –kata yang tegas mengenai kata – kata orang yang tidak dikenal itu.Oleh Andi Hamzah, kata – kata sebab yang lain tidak lagi berada di indonesia maka PN malang berasumsikarena tidak ditemui di indonesia, berarti ia sudah pergi ke luar negeri.Maka untuk keseragaman penafsiran, pemerintah mengeluarkan perpu No. 15 tahun 1962 yangmenambah pasal 16 itu dengan tiga pasal yaitu pasal 16 ayat 7,8 dan 9.Maka pasal 16 tersebut berbunyi ayat 1 – 6, ayat 7 yang diartikan dengan seorang yang tidak dikenaltermasuk pula :
  29. 29. a. Setiap orang yang diketahui namanya dan tempat kediamannya diluar negeri yang telahdipanggil dengan perantaraan perwakilan RI atau dengan surat panggilan yang ditempelkan padatempat pengumuman di PN atau ditempatkan dalam satu/lebih surat kabar dan tidak menghadapkepada instansi yang memanggilnya.b. Setiap orang yang diketahui namanya, akan tetapi tidak diketahui tempat kediamannya yangtelah dipanggil dengan surat panggilan yang ditempelkan pada papan pengumuman di PN atau yangditempatkan dalam satu atau lebih surat kabar tidak datang menghadap yang memanggilnya.Kesimpulan : yang disebut orang yang tidak dikenal relatif dikenal (Panggilan sehari – harinya dikenal).Bahwa hal yang 3,4 dan 5 dari pasal 16 tersebut dapat diperlakukan juga terhadap perkara – perkaratersebut dalam ayat 6,7 dari pasal 16 ini, kemudian oleh pasal 16 : 6 dinyatakan berlaku sebagiandaripada apa yang disebutkan dari pasal 3,4, dan 5 tadi.Pasal 16 : 9 bahwa orang – orang tersebut dalam ayat 6 dan 7 tidak boleh diwakili oleh siapapun juga.Ad. 6. PENYELESAIAN DILUAR ACARA/DENDA DAMAIDenda damai dalam bahasa aslinya Beshikhing —à penyelesaian perkara dalam TPE.Penyelesaian diluar acara adalah penyelesaian kasus tanpa diajukan ke sidang pengadilan denganmembayar denda damai yang disepakati antara tersangka dengan kejaksaan.Maksud denda damai ini ditemukan permulaannya dalam pasal 29 rechten ordonantie ( UU Bea) yangdalam hal ini telah diganti dengan pasal 113 UU No. 10 tahun 1995 tentang kepabeanan.Pasal 113 : 1 :Untuk kepentingan penerimaan negara atas permintaan menteri keuangan, jaksa agung dapatmenghentikan penyidikan dibidang kepabeanan.Ayat 2 :Penghentian, penyidikan dibidang kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 hanya apabila yangbersangkutan melunasi bea masuk yang tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan sanksiadministratif berupa denda sebesar 4 x jumlah bea masuk yang tidak/kurang dibayar.Bagaimana kepastian hukum denda damai ini ?Apakah dalam denda damai itu masih dapat dilakukan penuntutan. Apakah asas nebis in idem tidakdapat diterapkan? Itulah masalahnya.Ditemukan 2 pendapat sampai sekarang :1. Denda damai ini tidak dimajukan lagi ke persidangan pengadilan. Alasannya telah ada keputusanjaksa agung sesuai dengan asas opportunitas yang ada padanya.
  30. 30. 2. Terdapat tersangka telah membayar denda damai yang juga merupakan sanksi.3. Sesuai dengan asas kepastian hukum, yang biasanya perkara yang telah diselesaikan diluar acaratersebut, tidak dapat dimajukan lagi.Sedangkan peraturan yang kedua, denda damai itu belum merupakan keputusan hakim, maka masihdapat dimajukan kepersidangan karena asas nebis in idem (putusan yang telah diputuskan tidak bisa lagidiajukan ke pengadilan).Ad.7. PERLUASAN OBJEK YANG DAPAT DIHUKUMDalam hukum pidana umum subjek yang dapat dihukum adalah manusia saja, kecuali kalau telahberlaku nantinya konsep hukum pidana nasional maka disamping subjek hukumnya manusia juga badanhukum. Sedangkan dalam pidana khusus pertama dalam TPE, dinyatakan sebagai subjek hukum adalahmanusia dan badan hukum.Kelainan/keistimewaan adalah bahwa sanksi yang bisa dijatuhkan kepada TPE adalah bersifatkumulasi/kumulatif, artinya suatu TPE biasanya dijatuhi pidana kumulasi yaitu suatu penjatuhan pidanayang bersifat gabungan, antara pidana badan ditambah dengan pidana denda. Namun, bisa juga sanksiTPE itu adalah bersifat alternatif/pilihan, artinya bisa pidana badan saja atau pidana denda satu.Contoh : Dijatuhi pidana penjara atau denda.Penjatuhan pidana didalam TPE, biasanya dijatuhi pidana pokok dan kalau mungkin dijatuhi pidanatambahan dan bisa juga dijatuhi pidana dalam bentuk seperti yang disebutkan dalam pasal 8 yaitutindakan tata tertib dan juga bisa ditambahkan dengan tindakan tata tertib sementara dan disamping itujuga bisa dijatuhkan berdasarkan hukum perdata. Dan juga bisa diikuti dengan penjatuhan menuruthukum administrasi.PENYIDIKANKemudian mengenai masalah PENYIDIKAN itu bisa dilihat bahwa sesuai dengan ketentuan hukum pidanakhusus penyidikan dilakukan berdasarkan KUHAP kecuali apabila ditentukan lain oleh UU ini.Pada umumnya, sebagai penyidik adalah pihak kejaksaan sendiri kalau penyidik tersebut mempunyaikewenangan untuk menyita atau menyerahkan barang untuk disita atau merampas ataupunmemusnahkan barang yang disita tersebut.PENYITAANKalau dihapuskan, maka jaksa membuat surat keterangan agar dalam menyidangkan nantinya akan jelasmengenai status dari barang sitaan tersebut.Penyitaan juga berhak memasuki setiap tempat yang menurut pendapatnya akan membantupenyidikannya. Apabila perlu dia bisa meminta bantuan kepada kekuasaan umum (penegak hukum).
  31. 31. Dan dalam hal ini yang tidak kalah pentingnya adalah dia wajib merahasiakan sesuatu hal yang dapatmenolak untuk memperhatikan surat – surat yang termasuk kewajiban merahasiakan itu.PENYIDANGANMengenai penyidangan TPE adalah pada PN yang hakim panitera jaksa disebut dikhususkan dalammasalah perkara pidana ekonomi, maka pengadilan itu disebut pengadilan ekonomi.Sama seperti PN, pengadilan ekonomi juga bisa bersidang diluar tempat kedudukan pengadilan ekonomitersebut. Pada pemeriksaan dipersidangan, ada satu hal yang berbeda yaitu ada badan/pegawaipenghubung., ARTINYA untuk kepentingan pengusutan, penuntutan dan peradilan pidana TPE denganpersetujuan menteri kehakiman, HAM dapat diangkat pegawai yang dianggap ahli dalam bidangperekonomian yang berkewajiban memberikan bantuannya kepada hakim, kepada penyidik dan kepadapenuntut baik diluar persidangan maupun didalam persidangan.MASALAH NARKOTIKAPengertian Narkotika menurut UU No. 22 tahun 1997 (Pasal 1) :Narkotika adalah zat/obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, kehilangan rasa, mengurangisampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalamgolongan – golongan sebagaimana terlampir dalam UU ini atau yang kemudian ditetapkan dengankeputusan menteri kesehatan.Keterangan :Zat/obat —-à disebut dengan ‘Drug”Adalah campuran kimiawi yang bila dimasukkan ke dalam badan akan menimbulkan suatu efek.Sintesis :Adalah suatu bahan yang berupa reaksi kimia antara 2 atau lebih zat membentuk zat baru, yangbiasanya tidak diturunkan dari hasil alam, dan biasanya bersifat hasil pengolahan manusia.Psikotropika :Adalah juga merupakan drug tapi dia merupakan alat penenang.Mengenai narkotika, bisa kita temukan dalam KUHP, yaitu pasal 204 dan 205 tentang barang yangberbayaha bagi jiwa dan kesehatan manusia, juga ditemukan dalam pasal 300 KUHP tentang meminumyang memabukkan dan dalam pasal 531, 538 dan 539 tentang minuman keras.Mengenai masalah narkotika ini, jauh sebelum tahun 2000 sebelum masehi telah dikenal sebagai alatritual dan pengobatan yaitu berupa opium/candu yang berkembang pesat di mesir, yunani danbeberapa daerah di timur tengah.
  32. 32. Pada waktu sekarang, masalah narkotika terutama ganja, yang produksiya dari daerah segitiga emas,daerah bulan sabit emas (iran, aganistan dan pakistan) dan pegunungan Andes (Bolivia, chili, Ekuador,Barazil, Argentina dan peru) yang ada izin menanamnya.Indonesia, yang mulanya merupakan daerah transit sekarang telah menjadi penghasil maka keadaan inimenimbulkan kerugian bagi bangsa dan negara yaitu : 1. Merugikan pribadi dan masyarakat terutama generasi penerus/muda 2. Bisa membahayakan bagi kehidupan dan nilai budaya bangsa.Kalau telah terjadi ABUSE OF NARCOTICS, maka akan menimbulkan : 1. Terjadi toleransi yaitu adanya perasaan yang makin menebal terhadap obat/drug.Toleransi ini akan menyebabkan dosis pemakaian harus di tingkatkan untuk memperoleh efek yangsama. 2. Dependen/ketergantunganArtinya seseorang itu merasakan didalam tubuhnya harus ada narkotika. Dependen tersebut dapatsecara fisik, artinya dirasakan dalam dirinya tidak sempurna kalau tidak ada obat dalam dirinya. 3. Secara psikis/kejiwaan. Yaitu merasa tidak sehat kalau tidak menggunakan obat 4. Eforio Yaitu suatu perasaan yang berkelebihan kegembiraannya. 5. Bersifat halusinogenYaitu zatyang menimbulkan perasaan tidak real sehingga menimbulkan persepsi yang salah dan kalaukekuatan drug habis, timbul rasa takut atau tidak menyenangkan dirinya. 6. Bersifat EstalasiArtinya peningkatan pemakaian dari satu zat kepada zat yang lebih tinggi atau lebih kuat lagi.Pada tahun 1912 dikenal “Leage of nations” liga bangsa – bangsa pada saat itu diadakan pertemuanyang bernama “The hague convention” untuk mengatasi candu supaya dicekal masuk ke eropa.Kemudian pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1925 dengan nama “The geneva internasional opiumconvention”.
  33. 33. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan tahun 1931 dengan nama The g. For limiting manufacturesand regulating the distribution of n drugs (Pengaturan dijenewa untuk mengatasi dan mengatasidistribusi dari narkotika).Kemudian pada tahun 1936 diadakan The convention for the suppressions of the illicitraffic audangerous drug (Pelarangan secara luas tentang zat – zat berbahaya).Pada tahun 1961 diadakan United nations tentang single on d drugs (konvensi tunggal tentangnarkotika).Yang kemudian diubah dan ditambha dengan protokol 1961 yang bernama Protokol amending the……………….. (Protokol perubahan konvensi tunggal tentang narkotika).Yang dalam hal ini teah disyahkan oleh pemerintahan indonesia dengan UU No. 8 tahun 1976 dengannama Pengesahan konvensi tunggal indonesia tahun 1961 beserta protokol yang mengubahnya.Akibat pengesahan itu, pemerintah mengeluarkan UU No. 9 tahun 1976 tentang narkotika.Sesudah konvensi tunggal narkotika tahun 1988, diadakan convention on psychotropic substances, diWina “disini mulai diadakan perhatian terhadap narkotika.Kemudian juga tahun 1988 diadakan konvensi diwina yang bernama the convention against ilucit trafficin narcotics drugs and psychotropic substances (konvensi menentang perdagangan gelap tentangnarkotika dan xat adiktif).Konvensi diwina ini diratifikasi oleh pemerintah dengan UU No. 7 tahun 1997 dengan judul tentangpengesahan UU konvensi 1988.Pengesahan konvensi wina ini menimbulkan UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan jugasebelumnya UU No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika.Di indonesia ada 2 nama narkotika sekarang ini : 1. Narkoba ——-à narkotika dan obat – obatan terlarang 2. Nopza ——à narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.Keduanya adalah narkotika secara garis besar.Narkotika sebelumnya belum dikenal di Eropa, tapi setelah perang candu mereka mulai memperhatikantentang ganja yaitu pada tahun 1912.Narkotika tersebut adalah relatif berbahaya jika disalahgunakan.KETENTUAN – KETENTUAN TENTANG MASALAH NARKOTIKA(BISA DALAM ARTI LUAS DAN DALAM ARTI SEMPIT)
  34. 34. Dalam artian yang luas itu ditemukan didalam KUHP sedangkan artian yang sempit (narkotika saja) ataupsikotropika saja ditemukan didalam UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika, dapat dilihat padalembaran negara No. 67 dan tambahan lembaran negara no. 3698, yang dalam hal ini UU No. 22 tahun1997 mencabut UU no. 9 tahun 1976 tanggal 01 September 1997.UU No. 9 tahun 1976 adalah mencabut ordonantie tentang obat bius, tahun 1927 dalam Stb. No. 278 Jo.No. 536 dengan nama VERDOOVENDE MIDELEN ORDONANTIE atau (VMO) atau ordonansi obat bius/UUtentang obat bius.Sedangkan tentang psikotropika, dapat ditemukan dalam lembaran negara no. 10 dan dalam tambahanlembaran negara No. 3671 dengan nama UU tentang psikotropika.Mengenai isi dari ordonantie obat bius yang diartikan dengan obat bius itu dilarang menanam,memelihara tanaman papaper atau coca dan ganja / indische hennep.Disamping melarang, juga ditujukan untuk peraturan lalu lintas perdagangan ganja papaper, jugamelarang pemakaian dan pemberian ganja dan coca itu kepada yang tidak berhak dan juga ditemukansanksi kalau apa yang disebutkan diatas tidak diikuti/dilanggar.Kemudian pada UU No. 9 tahun 1976 telah ditemukan beberapa zat atau bahan yang pada umumnyalebih luas dan lebih lengkap apabila kita bandingkan dengan PMO, antara lain : 1. Telah ditemukan adanya pelayanan kesehatan dalam rangka pemyembuhannya. 2. Ada narkotika sebagai bahan / zat baru, sedangkan sanksinya tergantung kepada bahaya dari narkotika tersebut kalau disalahgunakan. 3. Pengaturan bukan saja dibidang lalu lintas perdagangan tapi lebih luas lagi, yaitu tentang menanam, meracik narkotika tersebut. 4. Kalau PMO acaranya bersifat umum, maka UU No. 9 tahun 1976 tidak lagi mengikuti HIR, akan tetapi sudah bersifat khusus. 5. Adanya insentif terhadap mereka yang mengungkapkan narkotika ini 6. Mulai adanya kerjasama secara internasional dalam menanggulangi narkotika 7. Adanya beberapa ketentuan yang menyimpang dari pidana umum antara lain dapat dipidana badan hukum 8. Ancaman pidananya diperberat, bahkan bisa pidana mati. Dan berikut dend ditingkatkan dari Rp. 1 juta bisa menjadi Rp. 50 juta.Tetapi oleh karena berkembangnya narkotika itu dan semakin banyaknya jenis – jenis narkotika, makaoleh UU No. 22 tahun 1997 dicabut UU No. 9 tahun 1976 tadi, sehinggaUU No. 22 tahun 1997 melengkapi, menambah isi UU No. 9 tahun 1976 tadi, antara lain : 1. Adanya penggolongan narkotika yang bisa kita lihat dalam pasal 2 UU No. 22 tahun 1997 itu. Yang dalam hal ini penggolongan narkotika itu didasarkan kepada dapat tidaknya dijadikan obat danataupun akibat ketergantungan pemakai terhadap narkotika tersebut. Dalam pasal 2 ayat 2 nyadinyatakan bahwa narkotika ini ada 3 golongannya yaitu : 1. Narkotika golongan I
  35. 35. Narkotika yang hanya dapat untuk kepentingan ilmu pengetahuan saja tidak boleh digunakan dalanterapi serta mempunyai potensi yang sangat tinggi dalam mengakibatkan ketergantunga. 2. Narkotika golongan IINarkotika yang berkhasiat didalam pengobatan dengan catatan sebagai ultimum remedium dan jugadigunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan mempunyai potensi yang tinggi untukmenimbulkan ketergantungan. 3. Narkotika golongan IIINarkotika yang berkhasiat oengobatan biasanya digunakan didalam terapi dan ilmu pengetahuan danpotensi ringan untuk ketergantungan. 2. Mengenai Pengadaan narkotika Pasal 6 : 2 UU No. 22 tahun 1997 mengatakan : Untuk keperluan tersedianya narkotika demi untuk kepentingan pelayanan ksesehatan atau untukpengembangan ilmu pengetahuan meneliti kesehatan harus menyusun rencana kebutuhan narkotikatadi akan dapat dijadikan pedoman dalam pengadaan, pengendalian dan pengawasan narkotika secaranasional. 3. Adanya harus pencantuman label dari obat narkotika Ini dilihat pada pasal 41 dan juga mengenai publikasi dari narkotika yang ditemukan pada pasal 42.Pasal 41 berbunyi :Pada kemasan narkotika harus dibuat label/merek.Pasal 42 berbunyi :Hanya media tertentu saja yang boleh mengiklankan narkotika, yaitu media cetak ilmu kedokteran danmedia cetak ilmu farmasi. 4. Lebih menegaskan peran serta dari masyarakat Yang ditemukan dalam pasal 57 yang berbunyi :Masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas dalam rangka membantupencegahan/pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.Penyalahgunaan narkotika :Artinya orang yang menggunakan narkotika tanpa sepengetahuan dan pengawasan dokter
  36. 36. Peredaran gelap :Adalah setiap kegiatan/serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak dan melawan hukum yangditetapkan sebagai tindak pidana narkotikanPengertian tanpa hak :Adalah semua perbuatan syah asal dilegalisir oleh UU kecuali yang tidak bolehMelawan hukum :Adalah menunjukkan tidak sah suatu tindakan atau suatu maksudPasal 57 ayat 2 :Wajib melaporkan kepada pejabat yang berwenang, apabila mengetahui adanya penyalahgunaan danperedaran tersebut.Pasal 57 ayat 3 :Pemerintah wajib memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada pelapor tersebut. 5. Pemusnahan narkotika sebelum putusan yang incracht : Hal ini terlihat dalam pasal 61 – 66 pemusnahan narkotika ittu dilakukan oleh pemerintah ataupunbisa oleh mereka – mereka yang bertanggung jawab atas produksi/peredaran narkotika ataupun bisadilakukan oleh sarana kesehatan tertentu ataupun oleh lembaga ilmu pengetahuan yang tertentu olehkarena produksi narkotika itu tidak memenuhi standar atau karena lewat waktu ataupun bisa juga olehkarena tidak memenuhi syarat untuk dipakai sebagai pelayanan kesehatan ataupun narkotika ituberkaitan dengan tindak pidana.Sedangkan hal – hal yang perlu dilakukan sebelum narkotika itu dimusnahkan, hendaklah dicatat dalamberita acara : 1. Nama, jenis, merek 2. Kapan dimusnahkan dan dimana tempatnya 3. Tandatangan dan identitas yang melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan tersebut.Jika seandainya narkotika itu masih dalam taraf penyelidikan, penyidikan oleh pejabat penyidik polisi,maka pemusnahannya disamping disaksikan oleh pejabat yang mewakili kejaksaan, begitupun pejabatkesehatan yang ditunjuk oleh menteri ataupun bisa oleh pejabat PNS yang menguasai barang tersebut.Kalau putusan sudah mempunyai kekuatasn hukum tetap oleh pengadilan, pemusnahannya dilakukanoleh pejabat kejaksaan dan pejabat yangmewakili POLRI dan departemen sosial. 6. Perpanjangan jangka waktu penangkapan
  37. 37. Ditemukan dalam pasal 67 ayat 2 dapat diperpanjang 48 jam 7. Mengenai penyadapan telepon oleh penyidik ataupun alat komunikasi lain yang dilakukan oleh orang yang diduga keras telah melakukan tindak pidana narkotika. Ditemukan dalam pasal 66 ayat 2. 8. Adanya teknik penyerahan yang diawasi dan pembelian yang terselubung Pembelian yang terselubung ———à penyidik dalam hal penyamarannya membeli barang tersebut,dengan catatan teknik pembelian yang terselubung ini hanya diketahui oleh atasannya saja.PENYIDIKAN MENGENAI NARKOTIKADalam hal ini, pada umumnya, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan disidang pengadilan, itudidasarkan oleh KUHAP kecuali jik aditentukan lain.Sedangkan persidangan itu diutamakan dari yang lain mengenai penyidik bisa dari POLRI sesuai denganKUHAP juga petugas penyidik PNS, yang dalam hal ini lebih difokuskan pada petugas BPOM.Khusus penyidik dari POLRI, disamping dia mempunyai kewenangan dalam KUHP tapi mereka itu jugamempunyai kewenangan dalam hal menyadap telepom dan memeriksa surat – surat juga bisamelakukan teknik penyerangan dan pembelian terselubung tadi.Sedangkan bagi penyidik PNS itu ditambah kewenangan berdasarkan pasal 65 UU No. 22 tahun 1997yaitu : 1. Kewenangan memeriksa lapora dan keterangan tentang TPN 2. Memeriksa mereka yang diduga melakukan TPN 3. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang / badan hukum sehubungan dengan TPN itu tadi 4. Memeriksa dan menyita barang bukti tentang TPN tersebut 5. Memeriksa atas surat – surat dan atau dokumen yang berhubungan dengan narkotika sebagai tindak pidana tadi 6. Meminta bantuan tenaga ahli untuk tugas penyidikan TPN 7. Menangkap dan menahan orang yang disangka melakukan TPNKemudian dalam persidangan, itu relatif sama dengan KUHAP, yang bermasalah adalah mengenaiputusan hakim, putusan hakim yang bermasalah itu adalah relatif bagi mereka pecandu narkotika.Kemudian yang istimewa, tentang mereka yang disidangkan oleh hakim sebagai pecandu narkotika(orang yang telah menyalahgunakan narkotika) mengenai putusan hakim tadi, itu ditemukan dalampasal 47.Pasal 47 menyebutkan :Ayat 1 : Hakim yang memeriksa perkara pecandu narkotika dapat :
  38. 38. 1. Memutuskan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan perawatan apabila pecandu narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan TPN 2. Menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan, menjalani pengobatan dan atau perawatan apabila pecandu narkotika tersebut tidak terbukti berusaha melakukan TPN.Penjelasan pasal 47 ini sbb :v Penggunaan kota memutuskan bagi pecandu narkotika yang terbukti bersalah, mengandungpengertian bahwa putusan hakim tersebut merupakan vonis/hukuman bagi pecanduv Sedangkan kata menetapkan mengandung pengertian bahwa itu bukan vonis / hukuman tapi untukmemberikan suatu penekanan bahwa walau tidak terbukti bersalah tapi tetap wajib menjalanipengobatan dan perawatan yang biayanya selama dalam status tahanan tetap beban negara, kecualitahanan rumah dan kota.v Sedang yang terbukti, beban sepenuhnya tanggung jawab negara karena pengobatan dan perawatantersebut merupakan bahagian dari masa menjalani pidana.Kalau di indonesia ada RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) di jakarta.Bahwa dalam persidangan dan begitupun dalam penyidikan tersangka ataupun terdakwa tadi harusmemberikan keterangan mengenai harta bendanya dan ataupun harta anak istinya/suaminya ataupunsetiap orang atau badan yang diketahuinya ataupun yang diduganya mempunyai hubungan atau kaitanterhadap TPN dari yang bersangkutan (Pasal 74 UU Narkotika).Sedangkan pasal 75 UUN adalah merupakan salah satu hal yang dianggap baru yaitu pembalikan bebanpembuktian.Dalam hal tertentu hakim berwenang meminta terdakwa membuktikan bahwa seluruh harta bendanyadan harta benda istri/suami/anak dan setiap orang atau badan bukan berasal dari hasil TPN yangdilakukan terdakwa.KETENTUAN PIDANA YANG ADA DALAM TPNMengenao ketentuan pidana itu ditemukan dalam pasal 78 – 100 yang pada umumnya penjatuhanpidana lebih banyak yang bersifat kumulasi dibanding dengan yang bersifat alternatif, namun disampingpidana bisa juga dijatuhkan sanksi berupa tindakan adminstrasi yang dapat dilihat pada pasal 11 ayat 4dan pasal 56 ayat 3,pasal 11 ayat 4 menyatakan :kalau terjadi pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan mengenai pelaporan yang telahditetapkan dalam UU ini oleh menteri kesehatan dapat dikenakan sanksi administratif berupa : 1. Teguran 2. Peringatan 3. Denda administrasi
  39. 39. 4. Penghentian sementara kegiatan ybs 5. Pencabutan izin usha ybsSedangkan pasal 56 ayat 3 menyatakan :Bahwa apabila ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup atau berdasarkan petunjuk permulaanyang patut diduga telah terjadi pelanggaran terhadap adanya pengawasan dalam bidang kegiatan yangberhubungan dengan narkotika maka menteri kesehatan berwenang dalam bentuk seperti yangdimaksud dalam pasal 11 ayat 4 mengenakan sanksi administratif.Disamping itu juga apabila terjadi kekhilafan pemerintah dalam pemusnahan barang (narkotika) yangtelah mempunyai kekuatan hukum tetap itu sebetunya dimiliki/diperoleh secara syah maka pemerintahmemberikan ganti rugi kepada pemilik barang yang syah itu tadi.Kedua:Bahwa penjatuhan pidana bisa dalam bentuk kumulasi, kemudian bentuk pidana yang maksimal (pidanamati) ditemukan dalam TPN yaitu dalam pasal 80 ayat 1a dan 2a.Ayat 1a : memiliki / memproduksi narkotika golongan IAyat 2a : Apabila ayat 1a tadi didahului dengan pemufakatan jahatSedangkan pidana minimum ditemukan dalam pasal 86 yaitu kurungan paling lama 6 bulan yaituorangtua/wali dari pecandu yang tidak melaorkan si pecandu kepada yang berwenang.Sedangkan pidana denda yang paling tinggi bagi orang adalah Rp. 5 M (Pasal 80 : 3a).Sedangkan bagi korporasi /Badan hukum paling tinggi dendanya Rp. 7 M (Pasal 80 : 4a) paling rendahdendanya Rp. 1 jt.Ketiga :Pada umumnya kita bisa menemukan bentuk / klasifikasi dari Tindak pidana ini : 1. T.P.N ditentukan sendiri oleh pembuat UU, dilihat dalam pasal 78 – 89 dan ditambah pasal 99. 2. TPN yang ada kaitan/hubungan dengan masalah narkotika ditemukan dalam pasal 92 dan 93.- Pasal 92 : mereka – mereka yang tanpa hak dan melawan hukum yang tidak melaksanakanketentuan tentang penyimpanan harus dalam pembungkusan yang khusus kalau barang tersebutdibawa didalam kapal yang harus disegel oleh nakhoda kapal dengan disaksikan oleh yang mengirim.- Pasal 93 : Barang itu dikirim melalui pesawat udara 3. T.P yang berhubungan proses peradilan itu ditemukan dalam pasal 94 – 98.
  40. 40. - Pasal 94 : Pejabat PNS yang secara melawan hukum tidak melaksanakan penyegelan terhadap yangdiduga atau mengandung narkotika dan tidak membuat berita acara yang resmi dan ataupun kewajiban– kewajiban lain yang harus dilakukannya maka PNS tersebut bisa dikenakan hukuman kurungan 6 bulanataupun mereka – mereka yang sebagai penyidik dari POLRI.- Pasal 95 : Saksi yang tidak memberikan keterangan yang benar dimuka pengadilan pidananyapidana penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp. 300 juta.- Pasal 96 : Tentang Residivis. pemidanaannya ditambah 1/3 dari pidana Pokok- Pasal 97 : Mereka – mereka yang melakukan tindak pidana diluar wilayah NKRI diberlakukan pulaUU ini.- Pasal 98 :Ayat 1 : WNA yang telah selesai menjalani pidana langsung diusir ke luar wilayah RI Ayat 2 : Mereka itu tadi tidak boleh lagi memasuki wilayah RI (dilarang) Ayat 3 : Mereka yang melakukan TPN diluar negeri dilarang memasuki wilayah RI 4. Bahwa didalam pemidanaan terutama yang disebutkan pasal 78 – 82 :a. Bisa disebut sebagai alasan pemberat dari pidana yang dikarenakan adanya permufakatan jahatsebelum melakukan TPN (Ayat 2) dan dilakukan secara terorganisasi (Ayat 3 )b. Pernyataan tentang pemidanaan yang dilakukan oleh korporasi yang dinyatakan sebagai pidanadenda saja.Bentuk perumusan dan bentuk pemidanaan yang bisa dijatuhkanSebagaimana telah dikatakan terdahulu bahwa TPN ini dalam hal – hal tertentu bisa ditemukanperumusan tanpa hak dan melawan hukum; antara lain pasal 78 – 82 :1. Pasal 78 :ayat 1 :Mereka yang tanpa hak dan melawan hukum :a. menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan atau menguasainarkotika Golongan I (Bukan dalam bentuk tanaman)b. Memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan atau menguasai narkotika golongan Ibukan tanaman maksimal pidana penjara 10 tahun dan denda maksimal Rp. 500 juta
  41. 41. Ayat 2 :Apabila ayat 1 tadi didahului dengan permufakatan jahat dipidana dengan pidana penjara paling singkat2 tahun dan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp. 25 juta dan paling tinggi Rp. 750 jutaAyat 3 :Apabila Tindak pidana ayat 1 dilakukan secara terorganisir dipidana penjara paling singkat 3 tahun danpaling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp. 100 juta dan paling banyak Rp. 2,5 MAyat 4 :Apabila tindak pidana ayat 1 dilakukan oleh korporasi pidana denda paling banyak Rp. 5 M2. Pasal 79 :a: Hanya memiliki dst narkotika golongan 2 pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyakRp. 250 jutab : Yang memiliki dst narkotika golongan 3 pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyakRp. 100 jutaa: Dilakukan dengan permufakatan jahat paling lama penjara 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 400jutaAyat 2b :Yang dilakukan dengan permufakatan jahat pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyakRp. 150 juta.a : Secara terorganisir melakukan tindak pidana narkotika golongan 2 paling lama 12 tahun dan dendapaling banyak Rp. 2Mb : Apabila golongan 3 dilakukan secara terorganisir penjara maks. 10 tahun dan denda maks. Rp. 400 jtAyat 4 :Kalau dilakukan korporasi tentang narkotika golongan 2 paling banyak dendanya Rp. 3 M, kalaugolongan 3 Rp. 1M3. Pasal 80 :a : Mereka yang tanpak hak dan melawan hukum memproduksi, mengolah, mengekstraksi,mengkonversi, merakit atau menyediakan narkotika golongan 1 dipidana dengan pidana mati ataupidana penjara seumur hidup atau pidana penjara maks. 20 tahun dan denda mak. Rp. 1M
  42. 42. b : Memproduksi dst narkotika golongan 2 dipidana dengan penjara maks 15 tahun dan denda maks Rp.500 jutac : Memproduksi narkotika golongan 3, dipidana penjara maks 7 tahun dan denda maks Rp. 200 juta.Ayat 2 :a : Apabila didahului dengan permufakatan jahat dipidana dengan pidana mati atau pidana penjaraseumur hidup atau pidana penjara min. 4 tahun dan maks. 20 tahun dan denda min. Rp. 200 jt danmaks. Rp. 2Mb : Apabila golongan 2 pidana penjara 18 tahun dan denda paling banyak Rp. 1Mc : Golongan 3 pidana penjara maks, 10 tahun dan denda maks. Rp. 400 jt.Ayat 3 :a : Apabila dilakukan secara terorganisir pidananya pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjaramin. 4 tahun dan maks. 20 tahun dan denda min. Rp. 500 jt dan maks. Rp. 5Mb : Apabila dilakukan secara terorganisir pidana penjara maks. 20 thn dan denda maks. Rp. 3Mc : Bagi golongan III secara terorganisir, pidana penjara maks. 15 tahun dan denda maks. Rp. 2MAyat 4 : dilakukan korporasi terhadap :- golongan I denda maks. Rp. 7M- golongan II denda maks. Rp. 4M- golongan III denda maks. Rp. 3M4. Pasal 81 :Ayat 1 : tanpa hak atau melawan hukuma : Membawa, mengirim, mengangkut atau mentransitokan narkotika golongan I pidana penjara maks.15 tahun, denda Rp. 750 jtb : Membawa dst narkotika golongan II pidana penjara maks. 10 tahun dan denda maks Rp. 500 Jt.c : Membawa dst, narkotika golongan III pidana penjara maks. 7 tahun dan denda maks Rp. 200 juta.Ayat 2 : bila dengan didahului permufakatan jahat :a :Tindak pidana gol. I Pidana penjara min. 2 tahun, maks. 12 tahun, denda min. Rp. 100 jt maks Rp. 2M
  43. 43. b :Tindak pidana gol. II Pidana penjara maks. 12 tahun, denda maks Rp. 1Mc :Tindak pidana gol. III Pidana penjara maks. 9 tahun, denda maks Rp. 500 jtAyat 3 : dilakukan secara terorganisir bagi :a : Golongan I pidana mati/penjara seumur hidup atau pidana penjara min. 4 thn maks. 20 thn, dendamin. Rp. 200 jt dan maks. Rp. 4Mb : Golongan II pidana penjara maks. 15 thn dan denda maks. Rp. 2Mc : Golongan III pidana penjara maks. 10 thn dan denda maks. Rp. 1MAyat 4 : narkotika dilakukan korporasi :a : Golongan I dikenakan denda maks. Rp. 5Mb : Golongan II dikenakan denda maks. Rp. 3Mc : Golongan III dikenakan denda maks. Rp. 2M5. Pasal 82 :Ayat 1:a : Mereka yang tanpa hak dan melawan hukum mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual,menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima menjadi perantara dalam jual beli ataumenukar narkotika golongan I, pidananya pidana mati/seumur hidup maks. 20 tahun dan denda maks.Rp. 1Mb : Mengimpor dst golongan II Pidana penjara maks. 15 tahun denda maks rp. 500 jutac : Golongan III pidana penjara maks 10 tahun dan denda maks Rp. 300 JutaAyat 2 :a : Apabila didahului dengan permufakatan jahat maks dipidana dengan pidana mati/penjara seumurhidup atau pidana penjara minimal 4 tahun dan maks 20 tahun, denda min Rp. 200 jt maks Rp. 2Mb : Golongan II, penjara maks 18 tahun, denda maks Rp. 1Mc : Golongan III, penjara maks 12 tahun, denda maks Rp. 750 jutaAyat 3 : secara terorganisir :a : golongan I, pidana mati/seumur hidup maks. Penjara min. 5 th dan maks 20 tahun, denda min Rp.500 Jt, maks Rp. 3M
  44. 44. b : Golongan II, pidana penjara maks 20 th, denda maks Rp. 4Mc : Golongan III, pidana penjara maks 15 th, denda maks Rp. 2MAyat 4 : Korporasi :a : golongan I Pidana denda maks Rp. 7Mb : golongan II Pidana denda maks Rp. 4Mc : golongan III Pidana denda maks Rp. 3M6. Pasal 83 :Percobaan atau permufakatan jahat pidananya adalah sama dengan pidana selesai.7. Pasal 84 :a : Mereka yang menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika itu kepadaorang lain pidana 15 th maks denda Rp. 750 jutab : Golongan II, penjara maks 10 thn denda maks Rp. 500 jtc : Golongan III, penjara maks 5 th, denda maks Rp. 250 juta8. Pasal 85 :Tanpa hak dan melawan hukum menggunakan narkotika:- golongan I untuk diri sendiri pidana penjara maks. 4 thn- golongan II pidana penjara maks 2 thn- golongan III pidana penjara maks 1 thn9. Pasal 86 :Tentang orangtua/wali pecandu yang belum cukup umur tidak melaporkan kepada yang berwajibmaksimal 6 bulan denda maks Rp. 1jtAyat 2 :Sedang mereka yang telah melaporkan tidak dituntut pidana10. Pasal 87 :
  45. 45. Mereka yang memberi, menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikankemudahan, memaksa dengan ancaman, memaksa dengan kekerasan, melakukan dengan tipu muslihatatau membujuk atau yang belum cukup umur untuk melakukan TPN dipidana penjara seumur hidupatau min. 5 thn dan maks 20 thn, denda min Rp. 20 jt dan maks. Rp. 600 jt.11. Pasal 89 :Mereka yang merupakan pengurus pabrik obat tidak melaksanakan seperti yang disebutkan dalampemberian label dan publikasi, pidana penjara 7 thn dan denda maks Rp. 200 jt.12. Pasal 99 :Mereka yang baik pimpinan rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, sarana penyimpanan persediaanfarmasi milik pemerintah, apotik dan dokter yang mengedarkan narkotika gologan 2, 3 bukan untukkepentingan pelayanan kesehatan begitupun pimpinan lembaga ilmu pengetahuan yang menanam,memberi, menyimpan atau menguasai tanaman narkotika bukan untuk kepentingan ilmu pengetahuanatau pimpinan pabrik yang memproduksi golongan I, bukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan ataupimpinan pedagang besar farmasi yang mengedarkan narkotika golongan bukan untuk kepentingan ilmupengetahuan, narkotika golongan 2,3 untuk kepentingan pelayanan kesehatan dipidana penjara maks 10thn, denda maks Rp. 200 jt.13. Pasal 100 :Apabila putusan pidana denda sebagaimana diatur dalam UU ini tidak dapat dibayar oleh pelakudojatuhkan pidana kurungan pengganti denda sebagaimana diatur dalam peraturan per UU an lain.TINDAK PIDANA LALU LINTAS JALANWEGVERKEER ORDONANTIESebagaimana telah diketahui bahwa adanya kodifikasi hukum pidana belum tentu akan terpenuhi sifatdari kodifikasi tersebut yaitu tuntas dan sudah mencerminkan tindak pidana yang ada dalam masyarakathal itu terlihat pada KUHP Belanda yang pada abag ke 20 tampak tidak bisa lagi mencerminkan tindakpidana yang ada dalam masyarakat tidak bisa ditemukan didalam KUHP Belanda tersebut. Antara lainmengenai pengaturan dibidang lalu lintas maka dalam tahun 1932 di Belanda dibuat suatu UU pidanayang mengatur masalah lalu lintas yang nama UU itu adalah WEGVERKEER ORDONANTIE (1932) makauntuk Indonesia dalam tahun 1933 yang terlihat dalam Stb. 1933 no. 86 tertanggal 02 februari 1933dengan nama yang sama dibuat pula peraturan dibidang lalu lintas dengan nama yang sama yaituWEGVERKEER ORDONANTIE yang dalam hal ini peraturan pelaksanaannya mulai dibuat 1936 baikdengan nama peraturan :v Penetapan lalu lintas jalan yang ditemukan dalam stb. No. 452/1936 tertanggal 15 agustus 1936v Penetapan lalu lintas jalan perhubungan berdasarkan SK direktur perhubungan dan pengairantertanggal 20 September 1936
  46. 46. v Penetapan lalu lintas jalan dalam negeri berdasarkan SK direktur pemerintahan dalam negeritertanggal 08 Oktober 1936Setelah indonesia merdeka wegverkeer ordonantie tetap tidak diganggu gugat (masih tetap berlaku)namun karena perkembangan zaman wegverkeer ord. Sudah tidak sesuai lagi dibuat oleh pemerintah RIUU yang baru dengan nama UU tentang lalu lintas dan angkutan jalan raya yaitu UU No. 3 tahun 1965yang dapat terlihat dalam lembaran negara No. 25 dan tambahan lembaran negara No. 2742 dan dalamhal ini pada tahun 1992 UU No. 3 tahun 1965 diganti dengan UU tentang lalu lintas angkutan jalan yaituUU no. 14 tahun 1992 yang dinyatakan akan berlaku tanggal 17 September 1992.Dalam memberlakukan UU ini banyak ditemukan pendapat para ahli / pendapat anggota masyarakat(orang awam) maupun pendapat pengusaha angkutan yang menentang pemberlakuan UU No. 14 tahun1992 itu.Alasan mereka – mereka yang menyanggah (orang awam, mahasiswa, pengusaha, ilmuan) adalah :1. Masalah UU itu belum dikenal oleh masyarakat awam2. Kalau diperlakukan UU itu maka akan menimbulkan kerawanan dalam bidang transportasi padamasyarakat3. Masalah sanksi yang ada dalam UU tersebut kalau sebelumnya sanksi UU kalau dilanggar hanyapuluhan ribu saja bahkan ribuan saja.Kemudian mengenai sanksi ini ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu setelah keluarnya PerpuNo. 1 tahun 1992 tentang penangguhan mulai berlakunya UU No. 14 tahun 1992 yang Perpu itu dapatditemukan pada kebakaran negara no. 75 dan dalam tambahan lembaran negara No. 3486, dalam hal inisanksi yang berat tersebut pengaturannya disesuaikan dengan kondisi dari daerah masing – masing yangdalam hal ini untuk daerah sumbar telah ditetapkan jumlah yang harus dibayar oleh pelanggar UU lalulintas jalan tadi. Menurut ketua pengadilan tinggi Sumbar uang denda karena melanggar itu adalahberkisar antara Rp. 5000 – Rp. 30.000 dan tergantung kepada jenis pelanggaran dan kenderaan yangmelakukan pelanggaran tersebut, kemudian berdasarkan SKB itu yaitu untuk menghindari pungli di jalanraya maka jumlah uang denda itu bisa dibayarkan ke BRI dalam bentuk uang titipan.Juklak dari UU No. 14 tahun 1992 adalah sbb : 1. Peraturan pemerintah No. 41 tahun 1993 tentang angkutan jalan yang dapat dilihat pada lembaran negara No. 59 dan tambahanlembaran negara no. 3527 2. PP no. 42 tahun 1993 tentang pemeriksaan kenderaan bermotor dijalan. Lembaran negara no. 60 tambahan lembaran negara no. 3528 3. PP no. 43 tahun 1993 tentang prasarana dan lalu lintas jalan ditemukan dalam lembaran negara no. 63 tambahan lembaran negara no. 3529 4. PP no. 44 tahun 1993 tentang kenderaan dan pengemudi lembaran negara no. 64 tambahan lembaran no. 3530.
  47. 47. Dalam hal ini pengertian terhadap masalah traffic accident/peristiwa lalu lintas jalan menurut MKARYADI dalam bukunya mengurus kejahatan lalu lintas menyebutkan bahwa traffic accident itu ada 3bentuk : 1. Kejahatan lalu lintas 2. Pelanggaran lalu lintas 3. Kecelakaan lalu lintasMenurut M. KARYADI kejahatan lalu lintas itu bisa ditemukan dalam pasal 359, 360, 406, 408, 409 dan410 KUHP.Sedangkan pelanggaran lalu lintas bisa ditemukan pada pasal 510, 511, 492 KUHPSedangkan pelanggaran lalu lintas sendiri itu adalah menurut orang awam melanggar ketentuan –ketentuan lalu lintas jalan sedangkan kecelakaan lalu lintas itu adalah peristiwa dijalan raya yang beradadiluar kemampuan manusia, sedangkan pengertian kejahatan lalu lintas adalah apabila suatu kejadiandijalan raya yang disengaja ataupun karena kelalaian manusia.Mengenai penyidikan dan penuntutan dan persidangan tindak pidana lalu lintas tidak ditemukandidalam UU No. 14 akan tetapi ditemukan dalam KUHAP yaitu dalam Bab ke 16 dengan judulpemeriksaan disidang pengadilan pada bahagian ke 6 dengan judul acara pemeriksaan singkat padaparagraf 2 dengan judul acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas jalan yang dalam pasal –pasal dari paragraf 2 bagian ke 6 dan bab 16 itu terlihat penuntutan pembuktian terhadap pelanggaranlalu lintas jalan sedangkan ketentuan pidana memang ditemukan dalam UU No. 14 yaitu dari pasal 54 –70 yang bentuk sanksinya bisa berupa pidana baik dalam pidana penjara kurungan ataupun pidanadenda.Dalam bentuk pencabutan hak – hak tertentu yang ditemukan dalam pasal 70 yaitu pencabutan SIMpaling lama selama 2 tahun sedangkan bentuk ketentuan pidananya hanya 1 yang bersifat kumulasiyaitu ditemukan dalam pasal 55 karena mengenai masalah memasukkan beberapa merek kenderaanbermotor ataupun jenis kenderaan bermotor yang tidak sesuai penuntutannya di indonesia yaitu pidanakurungan paling lama 1 tahun dan denda setinggi – tingginya Rp. 12 juta sedangkan yang lainnyasemuanya bersifat alternatif dan pasal 68 semua hal yang dilarang menurut pasal – pasal sebelumnya ituadalah klasifikasinya adalah pelanggaran.Sedangkan pasal 69 adalah mengenai mereka yang residiv/residivis dalam hal ini mereka melakukanpelanggaran yang sama dengan pelanggaran yang pertama belum lewat jika waktu 1 tahun makapelanggaran itu bisa ditambah pidana kurungannya 1/3 dari pidana pokok atau kalau denda ½ nya.

×