Modul lengkap UKJ AJI 2012   2013
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Modul lengkap UKJ AJI 2012 2013

  • 1,331 views
Uploaded on

Hotel Numbay, Jayapura, Provinsi Papua ...

Hotel Numbay, Jayapura, Provinsi Papua
9 - 11 Februari 2013

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,331
On Slideshare
1,331
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
32
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. UJI KOMPETENSI JURNALIS ALIANSI JURNALIS INDPENDENMateri Kompetensi Kunci UKJ AJI Disiapkan Oleh Divisi Etik & Biro Pendidikan AJI Indonesia Editor: Willy Pramudya Jakarta, 2012
  • 2. Penjelasan AJI &Peraturan Dewan Pers -1-
  • 3. Uji Kompetensi Jurnalis AJI Oleh Willy PramudyaUji Kompetensi Jurnalis (selanjutnya disingkat UKJ) yang diselenggarakan oleh AliansiJurnalis Independen (AJI) merupakan salah satu agenda yang sejak lama didesakkan anggotaAJI untuk menjawab problem profesionalisme dan independensi jurnalis serta penegakanetika jurnalistik di Indonesia. Oleh karena itu dalam perjalanan waktu, Kongres AJI Tahun2011 di Makassar memasukkan UKJ sebagai salah satu program nasional yang harusdijalankan oleh pengurus AJI. Selain itu UKJ juga dipandang sebagai salah satu cara AJI untukmeningkatkan profesionalisme, terutama ketaatan jurnalis kepada kode etik jurnalistik (KEJ),dan independensi jurnalis anggota AJI. Kemudian pada Rapat Kerja Nasional AJI 2012(Februari, 2012) lahir kesepakatan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun kepengurusan AJIIndonesia (periode 2011-2014) setidaknya separuh dari jumlah anggota AJI telah memilikisertifikat kompeten.AJI memahami bahwa UKJ bukanlah program eksklusif milik AJI. Dewan Pers sudahmenjadikan UKJ dengan nama Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai program yang telahmulai dilaksanakan sejak tahun 2011. Demikian juga organisasi jurnalis di luar AJI. SejakDewan Pers menaja UKW, memang ada beberapa anggota AJI yang mengikuti ujikompetensi tersebut sehingga mereka telag memliki serttifikat kompetensi. Namun masihbanyak anggota AJI yang belum memiliki sertifikat sehingga AJI merasa perlu membuatprogram UKJ versi AJI yang diharapkan lebih mencerminkan atau sesuai dengan visi dannilai-nilai perjuangan AJI.Pada April 2012 untuk kali pertama AJI menyelanggarakan UKJ versi AJI yangpelaksanaannya tetap sesuai dengan standar Dewan Pers. Namun UKJ perdana AJI yangberlangsung di Wisma Hijau Cimanggis, Depok, Jawa Barat itu juga menjadi rintisan UKJversi AJI yang menggunakan standarnya sendiri setelah AJI berhasil merumuskan standarkompetensi jurnalis (SKJ) yang lebih sesuai dengan ideologi, filosofi dan nilai -nilaiperjuangan AJI. Secara ringkas dapat dikatakan ada dua tujuan utama penyelenggaraan UKJdi linmgkungan AJI. Pertama, untuk menyiapkan dan mengantarkan anggota agar memilikiSKJ. Kedua, UKJ dan SKJ AJI menjadi acuan standar jurnalistik yang tinggi sekaligus gayutdengan perkembangan pers.Dari segi materi, UKJ AJI tentu berbeda dengan sistem pendidikan dan jurnalisme diperguruan tinggi maupun sistem pengujiannya. Pada umumnya pendidikan dan oengujianjurnalisme di perguruan tinggi diorganisasikan pada seputar tiga poros atau jalurperkembangan. Pertama, poros yang mengajarkan norma-norma, nilai -nilai, perangkat, -2-
  • 4. standar, dan praktek jurnalisme; kedua, poros yang menekan pada aspek-aspek sosial,budaya, politik, ekonomi, hukum dan etika dari praktek jurnalisme, baik di dalam negerimaupun di luar negeri; dan ketiga, poros yang terdiri dari pengetahuan umum mengenaidunia dan tantangan -tantangan intelektual dalam dunia jurnalisme. [Lihat Buku PanduanPenyusunan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme (Versi Asli: Model Curricula for JournalismeEducation oleh Uniesco, 2007)]. Sementara UKJ AJI, sesuai dengan tujuannya lebihdiorganisasikan pada empat poros utama, yakni pertama, Pengetahuan Umum; kedua,Jurnalisme; ketiga, Praktik Jurnalistik; dan keemoat, Pendalaman Kode Etik Jurnalistik (KEJ).Pertama, Pengetahuan Umum, adalah materi yang berkaitan dengan materi tentangProfesionalisme, Komunikasi Massa, Pers Nasional dan Media Global, Hukum Pers. Kedua,Jurnalisme atau Teori Jurnalistik adalah materi uji yang berkaitan dengan Prinsip -prinsipJurnalistik,; Unsur Berita, Nilai Berita, dan Jenis Berita; Bahasa Jurnalistik; Fakta dan Opini;Narasumber; dan Kode Etik Jurnalistik. Ketiga, Praktik Jurnalistik ialah materi uji yangberkiatan dengan Tekbnik Melakukan Wawancara, Menjalankan Peliputan, MenyusunBerita, Menyunting Berita, Merancang Materi dan Desain, Mengelola Manajemen Redaksi,Menetapkan Kebijakan Redaksi, dan Menggunakan Peralatan Teknologi Informasi.Keempat, Pendalaman KEJ, adalah materi uji yang menyangkut Pe metaan dan PenyikapanProblem Etik serta Perincian Kode Etik ke Kode Perilaku.Sementara itu dari segi metodologi, UKJ AJI menggunakan metode eklektik atau metodepenggabungan. Metode ini dipilih atas dasar asumsi bahwa tidak ada metode yang idealkarena tiap -tiap metode memiliki segi -segi kekuatan dan kelemahan. Secara ringkas metodeeklektik yang dimaksudkan di sini ialah metode yang menggabungkan metode penugasanantara lain menulis artikel atau esai di rumah sebelum mengikuti ujian tertutup, (me njawabpertanyaan secara) tertulis, (tanya jawab secara) lisan, praktik dan simulasi, dan diskusi.Adapun penyangkut pelaksanaanannya, UKJ AJI akan berlangsung selama dua hari hinggadua setengah hari. Setiap pelaksanaan UKJ akan selalu diawali dengan sosialisasi konsep,metodologi dan pelaksanaan ujian. Selain itu peserta juga akan diajak masuk ke pendalamanmateri yang berkaitan dengan KEJ, baik yang berkaitan dengan fenomena yang terjadi dilapangan dan reflaksi atas penegakan KEJ. Oleh sebab itu sebelum memasuki sesi ujianpokok, peserta UKJ AJI diwajibkan mengikuti sesi pendalaman masalah etika jurnalistik danrefleksinya bersama narasumber/pakar/ profesional.Sebagaimana dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa UKJ AJI diselenggarakan untukmenyiapkan dan mengantarkan anggota AJI agar memiliki SKJ serta menjadikan UKJ sebagaiacuan standar jurnalistik yang tinggi dan gayut dengan perkembangan pers. Namun karenapara anggota AJI tidak berada dalam jenjang/tingkatan yang sama, , maka UKJ AJI diberikanberdasarkan jenjang, yakni mulai dari jenjang senior hingga jenjang yunior. Namunpelaksanaanya dilakukan secara serentak dalam satu satuan penyelenggaraan. -3-
  • 5. Dari sisi penguji, setiap penyelenggaraan UKJ akan melibatkan satu tim penguji yangdinamain Tim Penguji AJI Indonesia. Pada umumnya , selama UKJ berlangsung seorangpenguji hanya memiliki kemampuan menguji lima peserta UKJ. Oleh sebab itu, jumlahanggota tim penguji UKJ akan terganting pada jumlah peserta.Untuk saat ini, penyelenggaraan UKJ AJI diprioritaskan bagi jurnalis anggota AJI. Namununtuk selanjutnya AJI tidak menutup peluang bagi jurnalis non-AJI yang ingin mengikuti UKJAJI dengan syarat bersedia memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku maupun kulturyang hidup di lingkungan AJI.Willy PramudyaKoordinator Divisi Etik dan Pengambangan Profesi AJI Indonesia -4-
  • 6. PERATURAN DEWAN PERS Nomor 1/Peraturan-DP/II/2010 Tentang STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN DEWAN PERS,Menimbang : a. Bahwa diperlukan standar untuk dapat menilai profesionalitas wartawan; b. Bahwa belum terdapat standar kompetensi wartawan yang dapat digunakan oleh masyarakat pers; c. Bahwa hasil rumusan Hari Pers Nasional tahun 2007 antara lain mendesak agar Dewan Pers segera memfasilitas perumusan standar kompetensi wartawan; d. Bahwa demi kelancaran tugas dan fungsi Dewan Pers dan untuk memenuhi permintaan perusahaan pers, organisasi wartawan dan masyarakat pers maka Dewan Pers mengeluarkan Peraturan tentang Standar Kompetensi Wartawan.Mengingat : 1. Pasal 15 ayat (2) huruf F Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers; 2. Keputusan Presiden Nomor 7/M Tahun 2007 tanggal 9 Februari 2007, tentang Keanggotaan Dewan Pers periode tahun 2006 – 2009; 3. Peraturan Dewan Pers Nomor 3/Peraturan -DP/III/2008 tentang Standar Organisasi Perusahaan Pers; 4. Peraturan Dewan Pers Nomor 7/Peraturan-DP/III/2008 tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 04/SK-DP/III/2006 tentang Standar Organisasi Wartawan; 5. Pertemuan pengesahan Standar Kompetensi Wartawan yang dihadiri oleh organisasi pers, perusahaan pers organisasi wartawan, dan masyarakat pers serta Dewan Pers pada hari Selasa, 26 Januari 2010, di Jakarta; 6. Keputusan Sidang Pleno Dewan Pers pada hari Selasa tanggal 2 Februari 2010 di Jakarta.MEMUTUSKANMenetapkan : Peraturan Dewan Pers tentang Standar Kompetensi Wartawan.Pertama : Mengesahkan Standar Kompetensi Wartawan sebagaimana terlampir.Kedua : Peraturan Dewan Pers ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 2 Februari 2010 Ketua Dewan Pers, ttd Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA -5-
  • 7. BAGIAN I PENDAHULUANA. UMUM Menjadi wartawan merupakan hak asasi seluruh warga negara. Tidak ada ketentuan yang membatasi hak seseorang untuk menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan sendiri sangat berhubungan dengan kepentingan publik karena wartawan adalah bidan sejarah, pengawal kebenaran dan keadilan, pemuka pendapat, pelindung hak-hak pribadi masyarakat, musuh penjahat kemanusiaan seperti koruptor dan politisi busuk. Oleh karena itu, dalam melaksanakan tugasnya wartawan harus memiliki standar kompentensi yang memadai dan disepakati oleh masyarakat pers. Standar kompetensi ini menjadi alat ukur profesionalitas wartawan. Standar kompetensi wartawan (SKW) diperlukan untuk melindungi kepentingan publik dan hak pribadi masyarakat. Standar ini juga untuk menjaga kehormatan pekerjaan wartawan dan bukan untuk membatasi hak asasi warga negara menjadi wartawan. Kompetensi wartawan pertama-pertama berkaitan dengan kemampuan intelektual dan pengetahuan umum. Di dalam kompetensi wartawan melekat pemahaman tentang pentingnya kemerdekaan berkomunikasi, berbangsa, dan bernegara yang demokratis. Kompetensi wartawan meliputi kemampuan memahami etika dan hukum pers, konsepsi berita, penyusunan dan penyuntingan berita, serta bahasa. Dalam hal yang terakhir ini juga menyangkut kemahiran melakukannya, seperti juga kemampuan yang bersifat teknis sebagai wartawan profesional, yaitu mencari, memperoleh, menyimpan, memiliki, mengolah, serta membuat dan menyiarkan berita. Untuk mencapai standar kompetensi, seorang wartawan harus mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh lembaga yang telah diverifikasi Dewan Pers, yaitu perusahaan pers, organisasi wartawan, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan jurnalistik. Wartawan yang belum mengikuti uji kompetensi dinilai belum memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi ini -6-
  • 8. B. PENGERTIAN Standar adalah patokan baku yang menjadi pegangan ukuran dan dasar. Standar juga berarti model bagi karakter unggulan. Kompetensi adalah kemampuan tertentu yang menggambarkan tingkatan khusus menyangkut kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik berupa mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran lainnya. Kompetensi wartawan adalah kemampuan wartawan untuk memahami, menguasai, dan menegakkan profesi jurnalistik atau kewartawanan serta kewenangan untuk menentukan (memutuskan) sesuatu di bidang kewartawanan. Hal itu menyangkut kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi wartawan adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan/keahlian, dan sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas kewartawanan.C. TUJUAN STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN 1. Meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan. 2. Menjadi acuan sistem evaluasi kinerja wartawan oleh perusahaan pers. 3. Menegakkan kemerdekaan pers berdasarkan kepentingan publik. 4. Menjaga harkat dan martabat kewartawanan sebagai profesi khusus penghasil karya intelektual. 5. Menghindarkan penyalahgunaan profesi wartawan. 6. Menempatkan wartawan pada kedudukan strategis dalam industri pers.D. MODEL DAN KATEGORI KOMPETENSIDalam rumusan kompetensi wartawan ini digunakan model dan kategori kompetensi, yaitu:Kesadaran (awareness): mencakup kesadaran tentang etika dan hukum, kepekaanjurnalistik, serta pentingnya jejaring dan lobi. -7-
  • 9. Pengetahuan (knowledge) : mencakup teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan umum,dan pengetahuan khusus.Keterampilan (skills): mencakup kegiatan 6M (mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,mengolah, dan menyampaikan informasi), serta melakukan riset/investigasi,analisis/prediksi, serta menggunakan alat dan teknologi informasi.Kompetensi wartawan yang dirumuskan ini merupakan hal-hal mendasar yang harusdipahami, dimiliki, dan dikuasai oleh seorang wartawan.Kompetensi wartawan Indonesia yang dibutuhkan saat ini adal ah sebagai berikut: 1. Kesadaran (awareness)Dalam melaksanakan pekerjaannya wartawan dituntut menyadari norma-norma etika danketentuan hukum. Garis besar kompetensi kesadaran wartawan yang diperlukan bagipeningkatan kinerja dan profesionalisme wartawan adalah: 1.1. Kesadaran Etika dan Hukum Kesadaran akan etika sangat penting dalam profesi kewartawanan, sehingga setiap langkah wartawan, termasuk dalam me ngambil keputusan untuk menulis atau menyiarkan masalah atau peristiwa, akan selalu dilandasi pertimbangan yang matang. Kesadaran etika juga akan memudahkan wartawan dalam mengetahui dan menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan seperti melakukan plagiat atau menerima imbalan. Dengan kesadaran ini wartawan pun akan tepat dalam menentukan kelayakan berita atau menjaga kerahasiaan sumber. Kurangnya kesadaran pada etika dapat berakibat serius berupa ketiadaan petunjuk moral, sesuatu yang dengan tegas mengarahkan dan memandu pada nilai -nilai dan prinsip yang harus dipegang. Kekurangan kesadaran juga dapat menyebabkan wartawan gagal dalam melaksanakan fungsinya. Wartawan yang menyiarkan informasi tanpa arah berarti gagal menjalankan perannya untuk menyebarkan kebenaran suatu masalah dan peristiwa. Tanpa kemampuan menerapkan etika, wartawan rentan terhadap kesalahan dan dapat memunculkan persoalan yang berakibat tersiarnya informasi yang tidak akurat dan bias, menyentuh privasi, atau tidak menghargai sumber berita. Pada akhirnya hal itu menyebabkan kerja jurnalistik yang buruk. -8-
  • 10. Untuk menghindari hal - hal di atas wartawan wajib: a. Memiliki integritas, tegas dalam prinsip, dan kuat dalam nilai. Dalam melaksanakan misinya wartawan harus beretika, memiliki tekad untuk berpegang pada standar jurnalistik yang tinggi, dan memiliki tanggung jawab. b. Melayani kepentingan publik, mengingatkan yang berkuasa agar bertanggung jawab, dan menyuarakan yang tak bersuara agar didengar pendapatnya. c. Berani dalam keyakinan, independen, mempertanyakan otoritas, dan menghargai perbedaan.Wartawan harus terus meningkatkan kompetensi etikanya, karena wartawan yang terusmelakukan hal itu akan lebih siap dalam menghadapi situasi yang pelik. Untukmeningkatkan kompetensi etika, wartawan perlu mendalami Kode Etik Jurnalistik dankode etik organisasi wartawan masing-masing.Sebagai pelengkap pemahaman etika, wartawan dituntut untuk memahami dan sadarketentuan hukum yang terkait dengan kerja jurnalistik. Pemahaman tentang hal inipun perlu terus ditingkatkan. Wartawan wajib menyerap dan memahami Undang-Undang Pers, menjaga kehormatan, dan melindungi hak-haknya.Wartawan juga perlu tahu hal-hal mengenai penghinaan, pelanggaran terhadap privasi,dan berbagai ke tentuan dengan narasumber (seperti off the record, sumber-sumberyang tak mau disebut namanya/ confidential sources).Kompetensi hukum menuntut penghargaan pada hukum, batas-batas hukum, danmemiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berani untukmemenuhi kepentingan publik dan menjaga demokrasi.1.2. Kepekaan JurnalistikKepekaan jurnalistik adalah naluri dan sikap diri wartawan dalam memahami,menangkap, dan mengungkap informasi tertentu yang bisa dikembangkan menjadisuatu karya jurnalistik.1.3. Jejaring dan LobiWartawan yang dalam tugasnya mengemban kebebasan pers sebesar-besarnya untukkepentingan rakyat harus sadar, kenal, dan memerlukan jejaring dan lobi yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya, sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya,akurat, terkini, dan komprehensif serta mendukung pelaksanaan profesi wartawan. Hal -hal di atas dapat dilakukan dengan: a. Membangun jejaring dengan narasumber; b. Membina relasi; c. Memanfaatkan akses; -9-
  • 11. d. Menambah dan memperbarui basis data relasi; e. Menjaga sikap profesional dan integritas sebagai wartawan.2. Pengetahuan (knowledge)Wartawan dituntut untuk memiliki teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan umum, sertapengetahuan khusus. Wartawan juga perlu mengetahui berbagai perkembangan informasimutakhir bidangnya. 2.1. Pengetahuan umumPengetahuan umum mencakup pengetahuan umum dasar tentang berbagai masalahseperti sosial, budaya, politik, hukum, sejarah, dan ekonomi. Wartawan dituntut untuk terusmenambah pengetahuan agar mampu mengikuti dinamika sosial dan kemudian menyajikaninformasi yang bermanfaat bagi khalayak. 2.2. Pengetahuan khususPengetahuan khusus mencakup pengetahuan yang berkaitan dengan bidang liputan.Pengetahuan ini diperlukan agar liputan dan karya jurnalistik spesifik seorang wartawanlebih bermutu. 2.3. Pengetahuan teori dan prinsip jurnalistikPengetahuan teori dan prinsip jurnalistik mencakup pengetahuan tentang teori dan prinsipjurnalistik dan komunikasi. Memahami teori jurnalistik dan komunikasi penting bagiwartawan dalam menjalankan profesinya.3. Keterampilan (skills)Wartawan mutlak menguasai keterampilan jurnalistik seperti teknik menulis, teknikmewawancara, dan teknik menyunting. Selain itu, wartawan juga harus mampu melakukanriset, investigasi, analisis, dan penentuan arah pemberitaan serta terampil menggunakanalat kerjanya termasuk teknologi informasi. 3.1. Keterampilan peliputan (enam M)Keterampilan peliputan mencakup keterampilan mencari, memperoleh, memiliki,menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Format dan gaya peliputan terkaitdengan medium dan khalayaknya. 3.2. Keterampilan menggunakan alat dan tekn ologi informasiKeterampilan menggunakan alat mencakup keterampilan menggunakan semua peralatantermasuk teknologi informasi yang dibutuhkan untuk menunjang profesinya. - 10 -
  • 12. 3.3. Keterampilan riset dan investigasiKeterampilan riset dan investigasi mencakup kemampuan menggunakan sumber-sumberreferensi dan data yang tersedia; serta keterampilan melacak dan memverifikasi informasidari berbagai sumber. 3.4. Keterampilan analisis dan arah pemberitaanKeterampilan analisis dan penentuan arah pemberitaan mencakup kemampuanmengumpulkan, membaca, dan menyaring fakta dan data kemudian mencari hubunganberbagai fakta dan data tersebut. Pada akhirnya wartawan dapat memberikan penilaianatau arah perkembangan dari suatu berita.E. KOMPETENSI KUNCIKompetensi kunci merupakan kemampuan yang harus dimiliki wartawan untuk mencapaikinerja yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan tugas pada unit kompetensi tertentu.Kompetensi kunci terdiri dari 11 (sebelas) kategori kemampuan, yaitu: 1. Memahami dan menaati etika jurnalistik; 2. Mengidentifikasi masalah terkait yang memiliki nilai berita; 3. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi; 4. Menguasai bahasa; 5. Mengumpulkan dan menganalisis informasi (fakta dan data) dan informasi bahan berita; 6. Menyajikan berita; 7. Menyunting berita; 8. Merancang rubrik atau kanal halaman pemberitaan dan atau slot program pemberitaan; 9. Manajemen redaksi; 10. Menentukan kebijakan dan arah pemberitaan; 11. Menggunakan peralatan teknologi pemberitaan;F. LEMBAGA PENGUJI KOMPETENSILembaga yang dapat melaksanakan uji kompetensi wartawan adalah: 1. Perguruan tinggi yang memiliki program studi komunikasi/jurnalistik, 2. Lembaga pendidikan kewartawanan, 3. Perusahaan pers, dan 4. Organisasi wartawan.Lembaga tersebut harus memenuhi kriteria Dewan Pers.G. UJIAN KOMPETENSI1. Peserta yang dapat menjalani uji kompetensi adalah wartawan. - 11 -
  • 13. 2. Wartawan yang belum berhasil dalam uji kompetensi dapat mengulang pada kesempatan ujian berikutnya di lembaga-lembaga penguji kompetensi. 3. Sengketa antarlembaga penguji atas hasil uji kompetensi wartawan, diselesaikan dan diputuskan oleh Dewan Pers. 4. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan muda sekurang-kurangnya tiga tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan madya. 5. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan madya sekurang-kurangnya dua tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan utama. 6. Sertifikat kompetensi berlaku sepanjang pemegang sertifikat tetap menjalankan tugas jurnalistik. 7. Wartawan pemegang sertifikat kompetensi yang tidak menjalankan tugas jurnalistik minimal selama dua tahun berturut-turut, jika akan kembali menjalankan tugas jurnalistik, diakui berada di jenjang kompetensi terakhir. 8. Hasil uji kompetensi ialah kompeten atau belum kompeten. 9. Perangkat uji kompetensi terdapat di Bagian III Standar Kompetensi Wartawan ini dan wajib digunakan oleh lembaga penguji saat melakukan uji kompetensi terhadap wartawan. 10. Soal ujian kompetensi disiapkan oleh lembaga penguji dengan mengacu ke perangkat uji kompetensi. 11. Wartawan dinilai kompeten jika memperoleh hasil minimal 70 dari skala penilaian 10 – 100.H. LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESILembaga penguji menentukan kelulusan wartawan dalam uji kompetensi dan Dewan Persmengesahkan kelulusan uji kompetensi tersebut.I. PEMIMPIN REDAKSIPemimpin redaksi menempati posisi strategis dalam perusahaan pers dan dapatmemberikan pengaruh yang besar terhadap tingkat profesionalitas pers. Oleh karena itu,pemimpin redaksi haruslah yang telah berada dalam jenjang kompetensi wartawan utamadan memiliki pengalaman yang memadai. Kendati demikian, tidak boleh ada ketentuan yangbersifat diskriminatif dan melawan pertumbuhan alamiah yang menghalangi seseorangmenjadi pemimpin redaksi.Wartawan yang dapat menjadi pemimpin redaksi ialah mereka yang telah memilikikompetensi wartawan utama dan pengalaman kerja sebagai wartawan minimal 5 (lima)tahun. - 12 -
  • 14. J. PENANGGUNG JAWABSesuai dengan UU Pers, yang dimaksud dengan penanggung jawab adalah penanggungjawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi. Dalam posisi itupenanggung jawab dianggap bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses dan hasilproduksi serta konsekuensi hukum perusahaannya. Oleh karena itu, penanggung jawabharus memiliki pengalaman dan kompetensi wartawan setara pemimpin redaksi.K. TOKOH PERSTokoh-tokoh pers nasional yang reputasi dan karyanya sudah diakui oleh masyarakat persdan telah berusia 50 tahun saat standar kompetensi wartawan ini diberlakukan dapatditetapkan telah memiliki kompetensi wartawan. Penetapan ini dilakukan oleh Dewan Pers.L. LAIN-LAINSelambat-lambatnya dua tahun sejak diberlakukannya Standar Kompetensi Wartawan ini,perusahaan pers dan organisasi wartawan yang telah dinyatakan lulus verifikasi oleh DewanPers sebagai lembaga penguji Standar Kompetensi Wartawan harus menentukan jenjangkompetensi para wartawan di perusahaan atau organisasinya.Perubahan Standar Kompetensi Wartawan dilakukan oleh masyarakat pers dan difasilitasioleh Dewan Pers. - 13 -
  • 15. Bagian II KOMPETENSI WARTAWANA. ELEMEN KOMPETENSIElemen Kompetensi adalah bagian kecil unit kompetensi yang mengidentifikasikan aktivitasyang harus dikerjakan untuk mencapai unit kompetensi tersebut. Kandungan elemenkompetensi pada setiap unit kompetensi mencerminkan unsur pencarian, perolehan,pemilikan, penyimpanan, pengolahan, dan penyampaian.Elemen kompetensi wartawan terdiri dari: 1. Kompetensi umum, yakni kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh semua orang yang bekerja sebagai wartawan. 2. Kompetensi inti, yakni kompetensi yang dibutuhkan wartawan dalam melaksanakan tugas-tugas umum jurnalistik. 3. Kompetensi khusus, yakni kompetensi yang dibutuhkan wartawan dalam melaksanakan tugas-tugas khusus jurnalistik.B. KUALIFIKASI KOMPETENSI WARTAWANKualifikasi kompetensi kerja wartawan dalam kerangka kualifikasi nasional Indonesiadikategorikan dalam kualifikasi I, II, III. Dengan demikian, jenjang kualifikasi kompetensikerja wartawan dari yang terendah sampai dengan tertinggi ditetapkan sebagai berikut: 1. Kualifikasi I untuk Sertifikat Wartawan Muda. 2. Kualifikasi II untuk Sertifikat Wartawan Madya. 3. Kualifikasi III untuk Sertifikat Wartawan Utama.C. JENJANG KOMPETENSI WARTAWAN 1. Jenjang Kompetensi Wartawan Muda 2. Jenjang Kompetensi Wartawan Madya 3. Jenjang Kompetensi Wartawan UtamaMasing-masing jenjang dituntut memiliki kompetensi kunci terdiri atas: 1. Kompetensi Wartawan Muda: melakukan kegiatan. 2. Kompetensi Wartawan Madya: mengelola kegiatan. 3. Kompetensi Wartawan Utama: mengevaluasi dan memodifikasi proses kegiatan. - 14 -
  • 16. D. ELEMEN UNJUK KERJAElemen unjuk kerja merupakan bentuk pernyataan yang menggambarkan proses kerja padasetiap elemen kompetensi. Elemen kompetensi disertai dengan kriteria unjuk kerja harusmencerminkan aktivitas aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja.1.1. Elemen Kompetensi Wartawan Muda a. Mengusulkan dan merencanakan liputan. b. Menerima dan melaksanakan penugasan. c. Mencari bahan liputan, termasuk informasi dan referensi d. Melaksanakan wawancara. e. Mengolah hasil liputan dan menghasilkan karya jurnalistik. f. Mendokumentasikan hasil liputan dan membangun basis data pribadi. g. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi.1.2. Elemen Kompetensi Wartawan Madya a. Menyunting karya jurnalistik wartawan. b. Mengompilasi bahan liputan menjadi karya jurnalistik. c. Memublikasikan berita layak siar. d. Memanfaatkan sarana kerja berteknologi informasi. e. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan berkedalaman (indepth reporting). f. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan investigasi (investigative reporting). g. Menyusun peta berita untuk mengarahkan kebijakan redaksi di bidangnya. h. Melakukan evaluasi pemberitaan di bidangnya. i. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi. j. Memiliki jiwa kepemimpinan.1.3. Elemen Kompetensi Wartawan Utama a. Menyunting karya jurnalistik wartawan. b. Mengompilasi bahan liputan menjadi karya jurnalistik. c. Memublikasikan berita layak siar. d. Memanfaatkan sarana kerja berteknologi informasi. e. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan berkedalaman (indepth reporting). f. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan investigasi (investigative reporting). g. Menyusun peta berita untuk mengarahkan kebijakan redaksi. h. Melakukan evaluasi pemberitaan. i. Memiliki kemahiran manajerial redaksi. j. Mengevaluasi seluruh kegiatan pemberitaan. - 15 -
  • 17. k. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi. l. Berpandangan jauh ke depan/visioner. m. Memiliki jiwa kepemimpinan.E. TINGKATAN KOMPETENSI KUNCIRincian tingkatan kemampuan pada setiap kategori kemampuan digunakan sebagai basisperhitungan nilai untuk se tiap kategori kompetensi kunci. Hal itu digunakan dalammenetapkan tingkat/derajat kesulitan untuk mencapai unit kompetensi tertentu. - 16 -
  • 18. Materi I PENGETAHUAN UMUM • Jurnalis sebagai Profesi• Pers dan Perjanalan Nasionalisme Indonesia • Hukum Jurnalistik - 17 -
  • 19. Jurnalis sebagai Profesi Oleh P. Hasudungan SiraitJurnalis/wartawan/pewarta adalah sebuah profesi seperti halnya dokter, pilot, akuntan,apoteker, dosen, hakim, jaksa, pengacara, atau notaris. Tapi apa sebenarnya yang dimaksuddengan profesi? Apa bedanya dengan pekerja lain, katakanlah pengamen, tukang tambalban, atau kondektur bus kota? Bukankah semua itu sama-sama pekerjaan?Orang awam sering menyamakan begitu saja pengertian pekerjaan dengan profesi. Jurnalispun masih banyak yang seperti itu. Mereka keliru, tentu. Bahwa profesi adalah pekerjaan,itu jelas. Tapi ada bedanya? Ada kualifikasi yang harus dipenuhi agar suatu bidang pekerjaanbisa dikategorikan sebagai profesi dan pelakunya disebut profesional.Lihatlah tabel di bawah. Apa yang membedakan antara lajur kiri dan kanan?Pekerjaan ProfesiSopir ArsitekTukang pijat PilotTukang ojek AkuntanBakul jamu Guru-dosenPemulung PengacaraPengamen GeologTukang tambal ban DokterPekerja seks komersil (PSK) Disainer grafisPembantu rumah tangga ArkeologCalo PlanologPengemis TentaraMontir AstronomAda yang mengatakan yang di lajur kanan berketrampilan. Memang benar. Tapi apakah yangdi lajur kiri tidak demikian? Tukang pijat atau pembantu rumah tangga, contohnya; tak usahmenyebut PSK. Bukankah banyak dari mereka yang terampil betul menjalankanpekerjaannya? Sebaliknya, bukankah dokter atau pengacara ada juga yang tak becusmelakoni bidangnya? Terang, ketrampilan tak bisa kita jadikan pembeda. Kalau begitu, apa?‘Profesi’ dan ‘profesional’ merupakan dua kata yang sangat bertaut. Yang satu kata benda,yang satu lagi kata sifat. Mereka yang berada di jalur sebuah profesi dan memenuhikualifikasi bidangnya itulah yang disebut profesional. Memang sering juga kata ‘profesional’dimaknai lebih luas. Yaitu mereka yang menghidupi atau menafkahi diri dengan menggelutidunia tersebut sepenuhnya. Penyanyi, pemusik, aktor, pemain sepakbola, petinju, ataupegolf profesional, misalnya. Atribut ini dipakai untuk membedakan me reka dari - 18 -
  • 20. sejawatnya yang amatir; maksudnya: melakoni pekerjaan itu bukan sebagai jalan hidup.Kata lainnya, sambilan belaka. Supaya bisa disebut profesional seseorang harus memenuhistandar kompetensi bidangnya selain berfokus di sana. Mari kita telaah apa sesungguhnyayang dimaksud dengan profesi dan profesional itu.KualifikasiAda sejumlah syarat agar sebuah pekerjaan merupakan profesi dan pelakonnya dikatakanprofesional. Ini berlaku universal. Berikut paparannya.Pendidikan khususMereka yang bergelut di bidang tersebut telah menjalani pendidikan khusus. Sekolahakuntansi, perawat, kebidanan, geologi, pertambangan, kepolisian, penerbangan,pelayaran, kepengacaraan, kehakiman, atau grafis, misalnya. Jenjang pendidikan ini macam-macam. Tapi kalau menggunakan ukuran yang berlaku di negeri kita sekarang minimal D-3.Strata Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)—sekolah ini naik daun setelah sebuah SMK diSolo berhasil membuat mobil—belum cukup. Bisa juga merupakan kursus singkat tapipesertan ya paling tidak telah berijazah D-3. Peserta kursus calon pengacara, umpanya,harus lulusan program S-1.Tukang pijat atau montir, misalnya, sebagian pernah mengikuti pendidikan juga. Kursus,tepatnya. Bagaimana predikat mereka ini—tidakkah sama? Tetap saja tidak, sebab syaratberikut tidak semuanya mereka penuhi.Ketrampilan khususSetelah mengikuti pendidikan khusus dengan sendirinya peserta memperoleh ketrampilankhusus. Yang dimaksud dengan ketrampilan adalah kecakapan yang merupakan perpaduanantara wawasan dengan kemampuan praktik. Seorang lulusan kursus pengacara misalnyaakan memiliki ketrampilan seorang pengacara. Antara lain kepiawaian beracara dipengadilan, mendampingi klien, menyusun pembelaan (pledoi), atau menyiapkan jawaban(replik). Atau, seorang yang telah lulus dari fakultas kedokteran dan telah bergelar dokterakan mempunyai ketrampilan menangani pasien yang penyakitnya yang tidak spesifik.Selesma, sakit perut, muntaber, demam berdarah, radang tenggorokan, luka bakar, ataukadas-panu, umpamanyaStandar kompetensiKetrampilan tadi terukur. Artinya tingkat penguasaan ketrampilan itu definitif, tidaktergantung situasai [baca: tempat dan waktu]. Ketrampilan biasanya dibagi menjadikecakapan standar (baku) dan tambahan. Yang harus dikuasai paling tidak yang baku. Dimana pun seorang pilot akan bisa menerbangkan pesawat yang telah dikenalnya denganbaik. Akuntan pun demikian: ia akan bisa memeriksa keuangan sebuah perusahaan ataulembaga apa pun dan di mana pun asal pembukuan tersebut standar. Seyogyanya seorang - 19 -
  • 21. jurnalis pun demikian. Ia akan bisa menjalankan news gathering, news writing, dan newsreporting kapan saja dan di mana saja.OrganisasiMemiliki pendidikan khusus, ketrampilan khusus, serta standar kompetensi saja belumcukup. Seseorang harus menjadi bagian dari sebuah organisasi profesi supaya disebutprofesional. Pasalnya, organisasilah yang akan menguji secara berkala kemampuanprofesional tersebut menentukan jenjang, serta yang menjadi regulator mereka. Bila adapersoalan terkait dengan profesi—misalnya dugaan malpraktik—organisasilah yang menjadiotoritas yang memeriksa serta memutus perkaranya—dalam hal ini majelis kode etik. DiIndonesia, organisasi profesi ada yang tunggal dan ada yang jamak. Dokter, misalnya, hanyaberwadah satu yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI); akuntan pun demikian, hanya IkatanAkuntan Indonesia (IAI). Sedangkan pengacara organisasinya beberapa termasuk IkatanAdvokat Indonesia (Ikadin), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), dan Serikat PengcaraIndonesia (SPI). Organisasi wartawan juga majemuk. Ada AJI, PWI, Ikatan Jurnalis TelevisiIndonesia (IJTI), Pewarta Foto, dan banyak lagi.Kode etikSetiap anggota organisasi profesi harus menjujung tinggi kode etiknya. Isi kode etik sebuahprofesi pada dasarnya sama, kendati lembaganya macam-macam. Kode etik berfungsisebagai rambu pengaman bagi anggota profesi baik ketika berhubungan dengan sejawatmaupun dengan pihak luar. Ibarat rel, di sepanjang lintasan itulah kereta api wartawan lalu-lalang. Selama taat kode etik, mereka tak perlu khawatir bertabrakan dengan kendaraanbaik yang sejenis maupun yang berbeda. Artinya, tak usah mencemaskan munculnyagugatan dari pihak mana pun terkait dengan pemberitaan. Kalaupun diperkarakan, merekabisa membela diri dengan menggunakan bukti-bukti karya profesionalnya.Kualifikasi tinggiSupaya gambaran tentang syarat profesi ini jelas mari kita lihat potret tiga profesi di negerikita ini yaitu dokter, pilot, dan pengacara. Kita mulai dari dokter.Bagaimana prosesnya untuk menjadi seorang dokter di Indonesia? Panjang tahapannya;barangkali malah yang terpanjang. Awalnya seseorang masuk fakultas kedokteran (FK)lewat seleksi yang ketat. Standar lulusnya (passing grade) merupakan yang tertinggi, samadengan jurusan favorit di bidang teknik. Sejak zaman baheula, hanya orang-orang pintarlahyang diterima di FK UI, UGM, Airlangga, Trisakti, Udayana, USU, dan perguruan tinggi toplainnya. Sampai sekarang pun—termasuk setelah perguruan tinggi menjadi badan usahayang serba komersil—masih demikian adanya.Sesudah mengikuti kuliah strata-1 sekitar 3,5 tahun sang mahasiswa pun pun menjadisarjana kedokteran (S. Ked). Untuk menjadi dokter, ia wajib mengikuti pendidikan profesi - 20 -
  • 22. sekitar 1,5 tahun. Dengan sebutan dokter muda, ia harus magang sebagai co -assistant(koass) di rumah sakit. Setelah dilantik menjadi dokter, dia disyaratkan mengikuti ujiankompetensi kedokteran (ketentuan ini berlaku sejak 2007). Satu lagi, ia dianjurkan ikutprogram pengabdian di daerah dengan menjadi pegawai tidak tetap (PTT). Dulu sebutannya‘dokter Inpres’. Dalam beberapa tahun belakangan ini saja PTT tidak wajib lagi.Kalau semua persyaratan sudah dipenuhi baru izin praktik sebagai dokter bisa keluar untukdia. Izinnya adalah dokter umum. Artinya penyakit umum saja yang boleh ia tangani. Ia takboleh mengoperasi pasien. Bahkan bila merekomendasi pasien untuk dioperasi pun takboleh sembarang. Ingat kasus dr. Boyke (Boyke Dian Nugraha, kolumnis ihwal seksologi). Izinpraktik dia dicabut 6 bulan oleh Majelis Kehormatan IDI pada November 1991 karenadianggap malpraktik. Ceritanya, ia telah merujuk seorang pasien ke sebuah rumah sakituntuk dioperasi (kista). Operasi ternyata bermasalah dan pasien menyoal.Setelah bersekolah lagi mengambil program spesialis barulah seorang dokter bisamenangani penyakit khusus seperti kanker, lever, stroke, atau gagal ginjal.Teranglah bahwa tak mudah untuk menjadi dokter. Kuliahnya berat dan praktikumnyamelelahkan. Untuk merampungkan studi, lebih lama dibanding jurusan lain umumnya. Saatini rata-rata perlu sekitar 6,5 tahun. Kalau di fakultas lain itu sudah setara master.Untuk menjadi pilot tahapannya juga jelas. Sama dengan orang yang ingin menjadi dokter,harus lulus seleksi sekolah dulu. Dalam hal ini sekolah penerbangan macam yang ada diCurug dan di Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta. Kesehatan menjadi salah satu y angpaling menentukan dalam seleksi. Mata, telinga, jantung, paru-paru dan organ lain harusprima. Setelah lolos seleksi yang ketat—kecerdasan antara lain materi ujinya—baru pesertamenjalani pendidikan. Simulasi dan latihan terbang di bawah bimbingan instruktor itulahantara lain materi pendidikan (saat ini programnya sudah ada yang enam bulan saja). Kalaupeserta sudah lulus, bekerja sebagai co -pilot dulu dan itu pun untuk pesawat kecil. Jikasudah terampil dan jam terbang cukup baru bisa menjadi pilot. Untuk menjadi pilot pesawatberbadan besar perlu kualifikasi tambahan.Agar bisa berpraktik sebagai pengacara pun jelas prosedurnya. Saat ini ketentuannyaadalah ikut kursus calon pengacara dulu setelah menjadi sarjana hukum. Syarat selanjutnyaadalah magang di kantor pengacara. Tanpa ikut prosedur ini izin praktik tak akan keluar.Dari contoh dokter, pilot, dan pengacara ini kita bisa mengatakan bahwa ciri utama darisetiap profesi adalah adanya, antara lain, kompetensi terukur hasil pendidikan. Bagaimanadengan wartawan—apakah sama?Profesi terbukaWartawan sejak lama dikenal sebagai profesi terbuka. Tidak seperti profesi lain umumnya,pendidikan khusus tak disyaratkan di dunia ini. Artinya tidak harus lulusan sekolah jurnalistikbaru bisa menjadi pewarta; dari sekolah mana pun bisa. Ini tak hanya terjadi di Indonesiatapi juga di seluruh dunia. Itulah kekhasan profesi ini. Memang di negara tertentu sepertiSwedia ada juga ketentuan bahwa sarjana dari jurusan jurnalistik saja yang boleh menjadijurnalis. Tapi hal seperti itu kasuistik saja. - 21 -
  • 23. Di Indonesia sendiri baru dalam beberapa tahun terakhir saja kebersekolahan dikaitkandengan kewartawanan. Sekarang umumnya harus berijazah strata-1, dulu yang takbersekolah tinggi pun tak apa. Sejumlah tokoh pers negeri ini, termasuk Mas Marco, danpendiri kantor berita Antara , Adam Malik, bukanlah orang bersekolah tinggi. Kendati hanyabersekolah di tingkat dasar, Adam Malik kemudian menjadi menteri luar negeri sebelummenjadi wakil presiden. Sebagai jurnalis ia sangat lincah dan tangkas.Dulu, di negeri kita banyak orang yang menjadi wartawan karena pertemanan. Artinyamereka bergabung dengan redaksi sebuah media karena diajak temannya yang bekerja disana. Kalau tidak karena keluarganya ada di media massa itu. Sampai sekarang pun praktikseperti ini masih ada saja. Belakangan rekrutmen terbuka menjadi kelaziman. Media yangbersangkutan mengiklankan lowongan kerja yang mereka buka. Pengiklanan bisa dilakukandi media sendiri, media lain, atau keduanya. Syarat disebutkan. Sekarang, antara lainminimal S-1. Sebagai catatan, koran Bisnis Indonesia-lah yang pertama kali memberlakukansyarat ini di lingkungan media massa kita. Kala itu, pada awal 1990-an, syarat ini inidianggap aneh dan mengada-ada oleh banyak wartawan kita.Selanjutnya pelamar yang dianggap memenuhi syarat diseleksi. Ujiannya bertahap.Materinya, lazimnya: psikotest, menulis, wawancara, dan kesehatan. Kalau lulus yaselekasnya diterjunkan ke lapangan. Tanpa pembekalan? Ya; begitu ad anya dan ini bukansesuatu yang aneh di dunia pers Indonesia.Memang, ada media yang melatih dulu calon wartawannya sebelum melepaskan mereka kelapangan. Kompas misalnya, sekian lama mewajibkan calon reporternya mengikuti in-housetraining sekitar setahun sebelum mereka terjun ke lapangan. Majalah Tempo punmelakukan hal yang sama tapi dengan waktu yang lebih singkat. Pun, modelnya tidakseintens Kompas; kelas-kelas berkala saja. Bisnis Indonesia dan media massa yang sudahmapan secara finansial lebib banyak mengikuti langkah Tempo.Masalahnya adalah media established seperti itu tak banyak. Praktik yang jamak terjadiadalah calon reporter diterjunkan begitu saja ke lapangan tanpa pembekalan pengetahuanjurnalistik lebih dulu. Terjun bebas, sebutannya. Manajemen media berharap para newcomer itu akan belajar dari pengalaman (learning by doing). Kalau manajemen berbaik hatipaling orang-orang baru itu ditandemkan beberapa waktu ke wartawan yang sudahberpengalaman. Kalau saja kelak ada pelatihan internal susulan atau penyekolahan kelembaga pendidikan jurnalistik macam LP3Y (Yogyakarta), Lembaga Pers Dokter Soetomo(LPDS), ISAI-SBM, atau UI (Jakarta) masih lumayan.Sebagaimana profesi lain, idealnya seorang calon wartawan sudah memiliki kualifikasitertentu sebelum diterjunkan ke lapangan. Setidaknya, ia mengetahui hakekat profesinya,aturan main yang baku (standar jurnalistik), rambu-rambu (kode etik dan regulasi pers), danmemiliki kecakapan dalam wawancara dan menulis. Hal ini perlu agar nantinya tak - 22 -
  • 24. merugikan baik medianya sendiri, narasumber, maupun publik. Sebab bagaimanapun karyajurnalistik yang mereka hasilkan akan dibaca atau didengar atau ditonton publik. Begitudiwartakan, berita mereka kontan masuk ranah publik. Jadi tidak boleh spekulatif ataumain-main. Faktanya tidak demikian: masih jauh panggang dari api. Jangankan reporterbaru, wartawan yang jam terbangnya tinggi pun terlalu banyak yang belum menguasaipengetahuan elementer tadi. Maka profesionalisme pun masih jauh. Akibatnya? Pers kitasering bermasalah. Tak hanya pers yang modalnya kembang kempis, melainkan pers yangsejahtera juga. Malapraktik tuduhannya. Sebagai gambaran, majalah Tempo yang termasukpaling mapan di Republik ini jika dilihat dari segi apa pun, pernah tersandung perkara sejenisdan akibatnya sempat kelimpungan.Profesionalisme jurnalis, karena itu, tidak bisa ditawar-tawar lagi . Jika tidak, taruhannyaterlalu besar. Media bisa digugat pailit oleh mereka yang me rasa dirugikan. Tak hanyaTempo, banyak sudah media massa yang mengalaminya. Sebab itu UKJ yang kinidiprogramkan oleh AJI diperlukan betul adanya. Paling tidak dia akan mebebrikanperlindungan ke dalam dan keluar. Kalau mesin saja harus ditun-up, scanner dikalibrasi,atau alat musik ditala secara berkala, jurnalis pun mesti demikian. Secara periodikkemampuan profesionalnya perlu diuji; tidak sekali saja seumur hidup. Kalau tidak, akanseperti prosesor Pentium 3 di zamancore duo: serba lelet, kagok dan gagap. - 23 -
  • 25. Pers dan Perjanalan Nasionalisme Indonesia Oleh Didik SupriyantoDalam perjalanan Republik ini selalu muncul kelompok-kelompok yang menjadi aktorpenting dalam berbagai momentum sejarah. Mahasiswa kerap menjadi pendobrakkebekuan zaman, mulai masa kebangkitan nasional sampai masa reformasi. Tentara menjadipelaku penting pada masa perang kemerdekaan dan penguasa panggung Orde Baru. Politisimendominasi kehidupan politik pada pascakemerdekaan hingga saat Soekarno menjadikekuatan yang monolitik. Kini, sesudah Soeharto tumbang, dominasi politisi nyaris taktertandingi oleh kelompok apa pun , sehingga kehidupan sosial politik di Republik ini nayrisidentik dengan tarik-menarik antarpolitisi dengan berbagai kepentingannya.Lantas, di mana posisi pers pada berbagai momentum sejarah penting yang terjadi diRepublik ini? Apakah mereka punya peran yang signifikan dalam berbagai perubahan sosialpolitik sehingga patut dicatat dalam sejarah? Apakah pernyataan “lebih baik tidak adapemerintah an daripada tidak ada pers bebas” relevan diperbincangkan dalam konteksIndonesia? Atau, pers hanyalah penikmat kebebasan yang telah diperjuangkan olehkelompok-kelompok lain, sementara kontribusinya bagi proses pemajuan kehidupanmasyarakat, bangsa dan negara patut dipertanyakan?Sebelum menjawab pertanyaan -pertanyaan tersebut, kiranya perlu dijelaskan terlebihdahulu, bahwa pers memang bukan aktor murni sebagaimana mahasiswa, tentara ataupolitisi. Pers adalah institusi sosial yang produknya hadir secara periodik ke hadapan publikdalam betuk koran, tabloid, majalah dan buletin yang berisi tulisan (berita, ulasan, artikel)dan ilustrasi (gambar dan foto). Oleh sebab itu, dalam berbagai momen penting sejarah,pers tidak hadir sebagai pelaku, melainkan lebih sebagai katalistor. Artinya, pers bisa aktifmendukung gagasan yang tengah berkembang atau aktor yang tengah bergerak; sebaliknyapers juga mengkritisi setuasi buruk yang tengah terjadi atau mencerca aktor yang burukperangainya.Prinsip-prinsip JurnalismeSebagai institusi sosial pers berkembang berdasarkan prinsip-prinsip jurnalisme yangdiemban oleh para pengelolanya. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) menyebutkansembilan prinsip dasar jurnalisme, yaitu (1) kewajiban jurnalisme adalah pada kebenaran;(2) loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat; (3) intisari jurnalismeadalah disiplin dan verifikasi; (4) para praktisinya harus menjaga independensi dari sumberberita; (5) jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan; (6) jurnalisme harusmenyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan terhadap warga; (7) jurnalismeharus berupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan; (8) jurnalisme harus - 24 -
  • 26. menjaga agar berita komprehensif dan proporsional; (9) para praktisinya harusdiperbolehkan mengikuti nurani mereka.Kesembilan prinsip dasar jurnalisme rumusan Kovach dan Rosenstiel tersebut memangdibuat berdasarkan sejarah pers Eropa dan AS serta wawancara sejumlah editor di sana.Tetapi tak perlu disangsikan lagi bahwa prinsip-prinsip itu juga dipegang teguh oleh parapengelola pers di daratan lain bumi ini, termasuk Indonesia. Bahkan, seperti ditulis olehAbdurrachman Surjomihardjo dkk (1980), ketika Medan Prijaji, yakni koran pertama yangditerbitkan pribumi pada 1907 di Betawi, prinsip-prinsip jurnalisme itu langsungdioperasionalisakan oleh RM Tirto Adhi Soerjo, sehingga ‘sang pemula’ ini sempat dibuangpenguasa Belanda ke Lampung. Demikian juga koran sezamannya di Semarang yangdipimpin oleh JPH Pangemanan, Warna Warta, redakturnya berkali-kali diadili karenatulisan -tulisannya menyerang pemerintah kolonial. Ini agak berbeda dengan koran -koranyang diterbitkan orang Tionghoa dan keturunan Belanda. Dua kelompok terkahir ini lebihmengedepankan berita perdagangan dan kriminalitas.Pelatak Dasar Bahasa IndonesiaKoran Medan Prijaji kali pertama di Betawi pada 1907 dalam bentuk mingguan. Koran yangkemudian menjadi harian pada 1910 ini sebetulnya bukan koran pertama yangmenggunakan bahasa Melayu. Media yang tercatat sebagai media berbahasa Melayu yangpertama ialah majalah Bintang Oetara yang diterbitkan di Roterdam pada 1856 oleh pecintabahasa Melayu Dr. PP Roorda van Eysinga. Lalu di Surabaya pada 1861, terbit majalahBintang Soerabaja yang dimotori oleh peranakan Belanda dan Tionghoa. Di Batavia pada1883 seorang pengusaha Indo menerbitkan Tjahaja India, sedang pengusaha keturunanBelanda lainnya menerbitkan Bintang Barat.Majalah-majalah berbahasa Melayu generasi pertama tersebut merupakan kelanjutan binismedia berbahasa Belanda dan Cina yang mulai berkembang di Hindia Belanda pada abad ke-18. Karena pangsa pasar media cetak berbahasa Belanda dan Tionghoa sangat terbatas,orang-orang Belanda dan Tionghoa menambah pangsa pasar media lewat penerbitan koranatau majalah berbahasa Melayu. Pada titik inilah dimulai peletakkan dasar bahasa Melayusebagai bahasa nasional. Pertama, bahasa Melayu yang merupakan lingua franca, mulaidiformulasikan sebagai bahasa tulis; kedua, dengan tersebarluasnya koran dan majal ah,maka bahasa Melayu (yang telah diformulasikan dalam bentuk tulis itu) juga menjadi bahasapergaulan antarkomunitas yang lebih luas di tanah Hindia Belanda.Sebagai ilustrasi, Taufik Abdullah (1999) mengutip kritik yang ‘sehat, tapi aneh’ dari seorangpenulis di Tjahaja India terhadap bahasa yang digunakan Bintang Barat. Penulis tersebutmengecam kecenderungan Bintang Barat yang suka memakai bahasa Melayu -Tinggi yangdisebutnya sebagai bahasa ‘Minangkerbau’. Menurut penulis itu, jika Bintang Barat terusmemakai bahasa elit itu, koran tersebut tidak akan laku karena tidak banyak orang yangmemahami bahasa tersebut. Oleh karena itu, ia menyarakan agar Bintang Barat tetapmemakai bahasa ‘Melajoe Betawi’, sebab bahasa ini mengandung unsur-unsur yang dipakaidi seluruh tanah Hindia. - 25 -
  • 27. Bahasa ‘Melajoe Betawi’ atau Melayu-Pasar adalah bahasa yang paling komunikatif ditengah -tengah tumbuhnya masyarakat perkotaan akibat pertumbuhan ekonomi kolonial.Para pendatang yang berasal dari berbagai polosok memiliki tradisi dan bahasa yangberbeda-beda, seakan membentuk komunitas orang-orang asing di perkotaan. Mungkinhanya pasarlah sebagai tempat di mana mereka bisa bertemu dan mengadakan transaksiuntuk keperluan masing-masing. Transaksi ini dimungkinkan karena telah tumbuh simbol-simbol komunikatif yang dibawakan oleh bahasa Melayu. Sekali lagi, pada titik inilah perspada awal pertumbuhannya telah memperkuat kedudukan bahasa Melayu sebagai sistemsimbol dan mentransformasi komunitas orang-orang asing menjadi sebuah masyarakat.Pembuka Tabir Perasaan SenasibSeperti disebutkan sebelumnya, koran -koran berbahasa Melayu yang diterbitkan olehkalangan nonpribumi, dalam hal ini keturunan Belanda dan Tionghoa, lebih banyakmewartakan perkara perdagangan dan kriminalitas serta menuliskan cerita-ceritabersambung, baik dari hikayat lama, rekaman dari cerita lisan ataupun hasil rekaan baru.Namun di sela-sela berita dagang dan kriminal serta hikayat, sering muncul berita-berita luarnegeri dan kadang-kadang laporan tentang kesewenang-wenangan pejabat Belanda ataupribumi terhadap orang-orang kecil.Menurut Taufik Abdullah (1999), betapapun masih sangat sederhana, saat itu koran danmajalah berbahasa Melayu telah memperkenalkan corak teks yang baru, yakni teks yangmemberitakan peristiwa yang terus berlalu dan berubah. Lebih dari itu, berita-berita yangdisajikan koran dan majalah berbahasa Melayu bisa dilihat dan dirasakan secara langsungoleh pembacanya. Teks yang diberikan oleh pers adalah teks yang kehadirannya seakan-akan mengajarkan bahwa peristiwa-peristiwa terjadi dalam konteks waktu yang terusberjalan. Tentu saja ini berebeda dengan teks lama yang sering dilisankan kepada pendudukberupa pesa-pesan yang sifatnya abadi seperti ajaran agama, adat sopan santun, kearifanhidup dan sebagainya.Dengan demikian, koran-koran dan majalah-majalah yang menyebar luas melampaui kota-kota tempat terbitnya, memungkinkan pembaca di berbagai daerah mengetahui peristiwayang terjadi dan berlalu di tempat lain. Tak kurang pentingnya, kejadian-kejadian itu bisadibandingkan dengan pengalaman yang telah pernah dilalui, atau yang pernah didengaratau dibaca tentang daerahnya sendiri. Dengan demikian pers telah memberikan suasanakesezamanan dengan daerah lain atau bangsa lain. Teks yang disampaikan pers tidakberkisah tentang negeri antah berantah di suatu zaman, melainkan tentang negeri tertentuyang riil, di zaman sekerang.Dampak dari perasaan kesezamanan ini tak hanya pada perluasan cakrawala intelektual,melainkan juga memungkinkan bangkitnya ingatan kolektif tentang jaringan kultural ataupolitik lama antara berbagai daerah dan suku bangsa. Ini bisa terjadi, karena pers telahmemungkinkan masyarakat membanding-bandingkan keadaan daerahnya dan sukubangsanya di hadapan sistem kolonial yang bercorak subordinasi –tuan kolonial di atas - 26 -
  • 28. sebagai yang memerintah, dan pribumi di bawah sebagai yang diperintah. Akhirnya,perasaan kesezamanan membangkitkan ingatan kolektif akan adanya perasaan senasib dansepenangungan dalam sistem kolonial. Kemudian hari, erasaan seperti ini menjadi pengikatutama bagi lahirnya kesadaran kesatubangsaan. Sebab syarat munculnya nasionalismeadalah adanya perasaan senasib dan sepenanggunagan sesama warga bangsa. Dan persberbahasa Melayu telah membuka tabir tersebut.Melawan dengan Mengorganisasi DiriPers berbahasa Melayu yang dikembangkan oleh pengusaha keturunan Belanda danTionghoa pada abad ke-18 boleh disebut sebagai periode ‘prasejarah’ pers nasional.Dibutuhkan waktu 50 tahun sejak muncu lnya koran berbahasa Melayu Bintang Oetara yangterbit di Roterdam pada 1856, hingga akhirnya lahir Medan Prijaji, koran pertama yangditerbitkan tokoh pribumi bernama RM Tirto Adhi Soerjo. Seperti ditulis oleh PramoedyaAnanta Toer (2003), Tirto Adhi Soerjo (TAS) tergerak untuk menerbitkan mingguan yangkemudian menjadi harian Medan Prijaji, setelah melakukan perjalanan ke Maluku. Di sanaTAS merekam kebiadaban kolonial Belanda sehingga penduduk Maluku mengalamipenderitaan dan pemiskinan yang sangat nyata. Ini merupakan pengalaman batin yangmembekas sekaligus meningkatkan kesadaran intelektual TAS bahwa bangsa-bangsa dibawah kekuasaan kolonial mengalami penderitaan yang sama.TAS sendiri pada edisi pertama Medan Prijaji menyebutkan bahwa misi yang diemb ankorannya ialah: (1) memberikan informasi; (2) menjadi penyuluh keadilan; (3) memberikanbantuan hukum; (4) memberikan tempat orang tersia-sia mengadukan nasibnya; (5) mencaripekerjaan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan di Betawi; (6) menggerakkanbangsanya untuk berorganisasi atau mengorginasisikan diri; (7) membangun danmemajukan bangsanya; dan (8) memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan. Sepertidicatat Surjomihardjo (1980), Tirto tak hanya pribumi pertama yang bergerak di bidangpenerbitan dan percetakan dan mendirikan badan usaha (NV), melainkan juga orangpertama yang menggunakan koran sebagai alat pembentuk pendapat umum. Dialah ‘sangpemula’ yang konsisten dalam mengemban misi yang telah dicanangkan dan memfungsikanpers sebagai institu si pemajuan nasib bangsanya.Bagi TAS, kemajuan bangsanya tidak hanya didapatkan dari pendidikan (yang dikembangkanoleh politik etik penguasa kolonial), melainkan juga terbebasnya bangsa dari segala macamkesewenang-wenangan kekuasaan. Oleh karena itu, lewat Medan Prijaji, TAS tanpa ragumenyatakan secara terbuka segala corak manifestasi kekuasaan yang dianggapnya tidakpantas. Ia menulis berita berdasarkan investigasi dan informasi-informasi yang berasal darilapangan yang dikemas tanpa sindiran dan prete nsi. Berbagai kasus kesewenang-wenanganpenguasan kolonial maupun pribumi diungkap secara gamblang oleh Medan Prijaji. Tidakheran, bila persdelick beberapa kali diterima oleh TAS, dan akhirnya dipenjara lalu dibuangke Lampung olehrejim kolonial.Selain melawan kesewenang-wenangan penguasa, dalam usaha memajukan bangsanya,Medan Prijaji selalu menyerukan perlunya bangsa pribumi mengorganisasi diri dalam - 27 -
  • 29. menghadapi pihak-pihak asing. Tak heran bahwa kemudian TAS terlibat dalam pendirianSerikat Dagang Islam (SDI) di Bogor yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yangberkembang di Solo dan beberapa kota di Jawa. Situasi vis a vis antara pribumi dengankaum Belanda dan Tionghoa di dunia perdagangan, menyebabkan TAS dkk mencampurkanidentitas agama Islam dengan kepribumian, sehingga organisasi yang dimaksudkan untukmemajukan bangsa pribumi adalah SDI dan SI. Oleh karena itu, SI yang berkembang pesatsaat itu akhirnya menjadi naungan bagi berbagai macam aliran dan ideologi yang dianutkaum pribumi, termasuk komunisme.Tentu Medan Prijaji bukan satu-satunya penerbitan yang membongkar kesewenanganpenguasa dan menyerukan bangsa pribumi untuk mengorganisasikan diri dalam rangkamemajukan bangsa. Selain Median Prijaji, tercatat Bintang Hindia, Insoelinde, Warna Wartadan beberapa koran milik SI seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Sinar Djawa danPantjaran Warta. Organisasi-organisasi pergerakan yang dibentuk kaum pribumi, sepertiBoedi Utomo dan Indische Patij memiliki Dharmo Kondo dan De Express. Namun dalamcatatan sejarah, kepeloporan dan konsistensi Medan Prijaji dalam mengungkapkesewenangan penguasa kolonial dan menyerukan pembentukan organisasi pribumi tampaklebih menonjol dari penerbitan -penerbitan yang lain. Di sinilah peran penting Medan Prijajidalam menabur benih-benih nasionalisme yang dalam beberapa tahun kemudian berubahdalam bentuk gerakan menuntut kemerdekaan.Hindia Poetra Menjadi Indonesia MerdekaSeruan Medan Prijaji dan koran -koran lain sezaman untuk mengorganisasikan pribumisebetulnya merupakan upaya mencari identitas yang tepat buat kalangan pribumi di tanahHindia. SDI dan SI telah mencampuradukkan identitas agama dengan kepribumian sebagaiantitesa terhadap orang-orang keturununan Belanda dan Tionghoa. Dengan latar belakangyang sama Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker yang tergabungdalam Indische Partij, pada 1912 lewat De Express memperkenalkan konsep ‘nasionalismeHindia’.Bagi Tiga Serangkai tersebut, ‘nasionalisme Hindia’ membedakan kaum penetap (blijvers)dan mereka yang mondar-mandir (trekkers), dan hanya yang menetap yang dianggapsebagai bangsa Hindia, sedang yang lain adalah orang asing. Dalam konsep ini, TigaSerangkai tersebut telah meleburkan anak negeri yang pribumi dengan Cina peranakan danorang-orang Indo, serta orang Belanda yang tidak akan kembali ke negerinya dalam sebuahkesatuan yang bernama bangsa Hindia. Dengan sendiri dalam konsep ini, para penguasaBelanda dianggap sebagai orang luar aliastrek kers.Dalam upaya mencari identitas diri sebagai bangsa, Medan Prijaji, De Express dan koran-koran lain terlibat dalam perdebatan yang hangat di kalangan pengelola pers dan kaumcerdik pandai pribumi saat itu. Konsep ‘nasionalisme Hindia’ yang muncul tidak sajapeleburan identitas agama-pribumi dan kaum penetap di tanah Hindia, tetapi juganasionalisme Jawa, nasionalisme Sumatera, dan nasionalisme lokal lainnya. Bahkan menurutAbdullah (1999), pada awal pertumbuhannya pers bukan saja pembawa berita, tetapi juga - 28 -
  • 30. menjadi pelopor diskursus kecendikiaan. Dalam pemberitaan dan perdebatan tersebut,simbol-simbol yang komunkatif dan integratif semakin memperkuat kesadaran akan harkatdiri sebagai bangsa dalam menghadapi kekuatan kolonialisme Belanda.Namun perdebatan soal ‘nasionalisme Hindia’ di kalangan kaum pergerakan itu seakandiselesaikan oleh generasi baru kaum cendikia pribumi yang bersekolah di negeri Belanda.Pada 1923 mahasiswa pribumi mengubah nama organisasinya, dari Indische Vereenigingmenjadi Indonesische Vereeniging dan kemudian diganti lagi menjadi PerhimpoenanIndonesia. Mereka pun menukar nama majalah organisasi dari Hindia Poetra menjadiIndonesia Merdeka . Berbeda dengan generasi sebelumnya, di mana usaha mencari identitasnasional yang lebih banyak karena refleksi atas kenyataan sosial politik di tanah Hindia,maka generasi baru pergerakan nasional, melihat langsung tentang tumbuh danberkembangnya nasionalisme bangsa-bangsa di Eropa, sehingga mereka seakan lebih tahudengan apa yang dibutuhkan oleh bangsanya. Sebagai kelompok kecil pribumi yangteralienasi di tengah -tengah kehidupan orang-orang Eropa, mereka menjadi lebih lugasdalam membicarakan nasionalisme Hindia dan menetapkan ‘Indonesia Merdeka’ sebagaisemboyan perjuangan.Gagasan-gagasan nasionalisme Indonesia yang diadopsi dari sejarah pergerakan bangsa-bangsa Eropa, oleh para palajar pribumi di negeri Belanda disebarluaskan ke tanah Hindialewat majalah Indonesia Merdeka dengan cara diam-diam. Kelugasan rumusan -rumusantentang nasionalisme Indonesia dan ketegasan sikap dalam menuntut kemerdekaanIndonesia, menjadikan tulisan-tulisan di dalam Indonesia Merdeka seakan menjadi penuntaspedebatan tentang nasionalisme Hindia yang selama sepuluh tahun terakhir menghiasikoran-koran dan majalah -majalah berbahasa Melayu di tanah Hindia. Itulah sebabnya,meskipun peredaran Indonesia Merdeka di tanah Hindia dilarang oleh penguasa Belanda,setidaknya lima nomor majalah tersebut berhasil diselendupkan ke tanah Hindia danmencapai 236 orang yang memesannya.Sebagaimana dicatat John Ingleson (1988), para pelajar yang tergabung dalamPerhimpoenan Indonesia, seperti Moh Hatta, Subardjo, Sunarjo, Sartono, Iskaq dll, tidakhanya menyebarkan propaganda nasionalisme Indonesia dan tuntutan Indonesia merdekalewat majalah yang dipimpinnya, tetapi sekembalinya ke tanah air, mereka pun terjunlangsung ke kancah pergerakan politik menentang penguasa kolonial. Mereka sempatmempersiapkan suatu kongres nasional untuk membentuk partai kerkayatan yangberasaskan nasionalisme murni, namun meletusnya pemberontakan PKI 1926-1927,membuat rencana pembentukan partai kerakyatan itu batal. Tetapi rapat-rapat persiapanterus dilakukan di kalangan aktivis radikal sehingga akhirnya pada 4 Juli 1927 lahirlah PartaiNasionalis Indonesia (PNI).Mengobarkan Api KemerdekaanKetika Jepang menguasai beberapa negara Asia, termasuk tanah jajahan Hindia Belanda,semua media pers langsung berada di bawah pengawasan pemerintahan militer Jepang dandipergunakan sebagai alat propaganda perang Jepang melawan Sekutu. Seiring dengan - 29 -
  • 31. pelarangan penggunaan bahasa Belanda, saat itu pemerintah Jepang setidaknya menyokonglima surat kabar berbahasa Jepang, yaitu Jawa Shimbun, Borneo Shimbun, Celebes Shimbun,Sumatera Shimbun dan Ceram Shimbun. Sementara terdapat sekitar delapan surat kebaryang berbahasa Indonesaia, yaitu di Jakarta Asia Raya dan Pembangoenan, di BandungTjahaja, di Yogyakarta Sinar Matahari, di Semarang Sinar Baroe, dan di Surabaya PewartaPerniagaan .Pengaturan kehidupan pers oleh pemerintah Jepang tentu saja mempersempit kedudukanpers sebagai sarana informasi kepada umum. Namun keadaan ini, menurut Surjomihardjo(1980) memberi sumbangan berharga bagi perjuangan kemerdekaan dan pertumbuhan persIndonesia setelah kemerdekaan. Perlu dicatat, larangan penggunaan bahasa Belanda telahberhasil meratakan penggunaan bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air. Orang-orang Indonesia juga mendapatkan latihan mengenai berbagai aspek mengelola media persdan menduduki posisi penting, suatu pengalaman yang berharga bagi penanganan perspada masa pasca kemerdekaan nanti.Meskipun pada zaman Jepang tokoh-tokoh pergerakan nasional senior, seperti Soekarno dllbersedia bekerja sama dengan pemerintahan Jepang, tidak sedikit tokoh-tokoh yang lebihmuda memilih berjuang di bawah tanah guna mengapai kemerdekaan. Pada barisan anti -Jepang inilah berkumpul pemuda mahasiswa yang terus mengobarkan api kemerdekaan,tanpa harus menunggu janji-janji Jepang. Dari merekalah beredar brosur stensilan -stensilanpropaganda menuntut kemerdekaan Indonesia. Menurut Benedick Anderson (1989), brosur-brosur stensilan anti-Jepang tersebut dikeluarkan oleh mahasiswa yang pada masa itubanyak berkumpul di asrama-asrama di Jakarta, seperti asrama Menteng dan Cikini.Asrama-asrama tersebut merupakan pusat kehidupan sosial dan intelektual mahasiswa danmerupakan tempat bagi diskusi-diskusi yang intens dan tertutup, serta menjadi sebuahpusat solidaritas pergerakan meraih kemerdekaan.Seperti disebutkan di depan, penunjukan beberapa orang pers untuk menduduki posisipenting di media yang dikendalikan oleh pemerintah Jepang, ternyata berdampak positifbagi tumbuh dan berkembangnya pers pada masa perang kemerdekaan. Begitu RepublikIndonesia diproklamarikan oleh Sokearno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, sejumlah tokohpers, seperti Adam Malik, BM Diah, Suardi Tasrif, Arnold Monotutu, Mochtar Lubis, RosihanAnwas dll, langsung bergerak menghidupkan medianya masing-masing. Sesuai dengansemangant zaman, tanpa dikomando, lewat media yang dipimpinya mereka terusmengorbankan api kemerdekaan. Bahkan ketika Inggris dan Belanda mencoba kembalimenguasai Indonesia, semangat perlawanan dihembuskan secara kencang oleh media-media tersebut, sehinga berita-berita perlawanan rakyat Indonesia dalam menantangpenjajahan akhirnya mendapat simpati masyarakat internasional.Geliat pada Masa PascakemerdekaanSetelah revolusi selesai dan Republik Indonesia diakui secara internasional pada 1948, apayang dilakukan oleh pers bagi bangsa dan negara baru yang penuh dengan persoalan sosial,politik, ekonomi dan budaya? Masalah yang dihadapai oleh bangsa yang baru merdeka - 30 -
  • 32. sangat kompleks, sementara rakyat menaruh harapan bahwa kemerdekaan segeramengangkat kesejahteraannya. Di sinilah pers dituntut mampu menguraikan satu per satumasalah yang dihadapi oleh bangsa dan mencari solusinya agar negara yang baru lahir tetaptegak beridiri. Pers juga harus mempu menjelaskan kesulitan -kesulitan yang tengah dihadapinegara, sehingga rakyat bisa bersikap realisitik terhadap apa-apa yang bisa dikerjakannegara. Pada tahap ini pers terlibat dalam apa yang disebut dengan proses nationalcharacter building, yakni suatu proses lanjutan dari nasionalisme Indonesia yang sifatnyalebih implementatif setelah kemerdekaan tercapai.Secara sosial budaya, para pengelola pers menghadapi kenyataan bahwa akibat revolusitelah teradi ketegangan sosial yang tinggi, khususnya antara para elit pribumi yang dulu propenjajah dengan sebagian rakyat yang ingin melampiaskan dendam. Sebagai lanjutan dariperang kemerdekaan, maka kerusuhan menentang lapisan elit pribumi ini terjadi di berbagaidaerah, dan pemerintah yang baru saja berdiri tidak banyak memiliki tenaga untukmenyelesaikannya. Selain itu, beberapa penguasa daerah juga berkeras untuk melepaskandiri dari republik, seiring dengan po litik divide et impera yang dijalankan oleh Belanda. Padatataran inilah pers dituntut untuk memberi penjelasan yang gamblang sehingga rakyat tidakperlu ragu-ragu dalam membangun Indonesia yang dicita-citakan.Secara politik, masalah jauh lebih rumit karena pada saat institusionalisasi politik belumberjalan, persaingan antarkekuatan politik sudah menonjol. Tokoh-tokoh partai sama-samamenjanjikan sistem politik yang pas buat Indonesia, pada saat yang sama mereka sama-sama ingin mengisi jabatan-jabatan politik yang tersedia. Persaingan politik dalammenciptakan model politik yang pas dengan kondisi Indonesia tetap tidak segera selesai,meskipun Pemilu 1955 menghasilkan wakil-wakil rakyat dan dewan konstituante. Dalamperiode ini kelihatan pers mulai tidak sabar dengan perilaku elit politik sipil; sebagian kecilbersikap skeptis terhadap sepak terjang politisi sipil dan menjadi pengritik yang loyal, tapisebagaian besar tidak sabar dan terbawa dalam arus persaingan politik. Pada titik inilah persmelupakan tu gasnya dalam proses national character building, dan terjebak pada sikap-sikap partisan sehingga ini pers kemudian terpolarisasi pada garis-garis politik partai. Tugasnational character building hanya diteruskan oleh pers mahasiswa yang wilayah edarnyasangat terbatas.Polarisasi pers ke dalam garis-garis partai tetap berlanjut pada zaman Demokrasi Terpimpin.Pada massa ini, di level bawah Soekarno memang membebaskan partai politik untukbersaing menawarkan ideologi dan memperebutkan massa, namun di level atas Soekarnomemegang kendali politik sepenuhnya. Sesuai dengan politik ini, pers pada zaman Soekarnomemang penuh warna, sehingga persaingan antarmedia juga berjalan layaknya di negara-negara terbuka. Namun pembebasan pers itu hanya dibatasi pada upaya menjaga danmengedepankan ideologi atau partai masing-masing. Pers sebagai kekuatan independen,yang mengedepankan kepentingan umum dan bersikap oyektif terhadap semuakepentingan, nyaris tidak bisa hidup. Sebab sesuai dengan karakter politik yangdikembangkan Soekarno, maka pers yang berada di luar jalur garis politik partai, akandipersulit bahkan dibredel. Jadi, hingar bingar kebebasan pers pada zaman Soekarno, praktis - 31 -
  • 33. tidak bermanfaat bagi kepentingan publik dan kepentingan nasional, karena pers hanyadisibukkan oleh urusan-urusan yang terkait dengan kepentingan partai.Tumbangnya Soekarno oleh gerakan mahasiswa yang bekerja sama dengan Angkatan Daratpimpinan Soeharto, ternyata tidak segera bisa memisahkan pers dari garis partai. Namundengan penyederhan aan partai politik, maka tidak semua pers yang telah berkembangbersedia meneruskan hubungannya dengan partai-partai politik baru. Bahkan masing-masing partai, yakni Golkar, PPP dan PDI berusaha membangun penerbitan baru yangbenar-benar bisa mereka kendal ikan. Pilihan politik sejumlah media untuk memisahkan diridari garis-garis aliran politik maupun partai politik ini juga dilandasi oleh kesadaran parapengelolanya, bahwa pers tidak mungkin bisa menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme bilamereka tidak berada dalam posisi yang independen. Pada zaman Orde Baru, pers memangtidak sepenuhnya bebas. Tapi dibandingkan dengan institusi-insitusi sosial yang lain, persjauh lebih efektif dalam mengkritik kekuasaan dan memajukan bangsanya.Bagaimana pers pada zaman pasca-Soeharto? Banyak pihak yang menyerang pers telahkebablasan dalam menerapkan kebebasan pers yang diperjuangkan oleh gerakan reformasi.Kritik itu ada benarnya, mengingat banyak media (baru) yang mengejar motif ekonomisemata sehingga melupakan prinsip-prinsip jurnalisme. Namun pers yang demikian tidakakan bertahan lama, karena masyarakat pembaca tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan,kecuali sekadar kesenangan sesaat. Oleh karena itu pikiran untuk mengendalikan perskembali, perlu dibuang jauh-jauh, karena baik pers maupun masyarakat sama-sama sedangmemasuki proses pendewasaan politik, khususnya bagaimana memanfaatakan ruangkebebasan yang ada. Biarlah pers menikmati ruang kebebasan pers yang dijamin olehkonstitusi, karena hanya dengan membebaskan pers, maka mayarakat, bangsa dan negaraini akan mendapatkan manfaat yang maksimal. ***Sumber Kepustakaan:1. Abdurrachman Surjomihardjo dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Kompas, Cetakan ke-2, Jakarta, 2002.2. Benedict Anderson, Revoloesi Pemoeda, Sinar Harapan, Jakarta, 1986.3. Bill Kovach & Tom Rosntatiel, Sembilan Elemen Jurnalsime, Pantau, Jakarta, 2003.4. Didik Supriyanto, Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Mahasiswa Sepanjang NKK/BKK 1978-1991, Sinar Harapan, Jakarta, 1989.5. John Ingleson, Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia 1927-1934, LP3ES, Jakarta, 1983.6. Parmoedya Ananta Toer, Sang Pemula , Cetakan ke-2, Edisi Revisi, Lentera Dipantara, Jakarta, 2003.7. Taufik Abdullah, Pers dan Tumbuhnya Nasionalisme Indonesia, dalam Majalah Sejarah Edisi 7, Jakarta, 1999 - 32 -
  • 34. Hukum Jurnalistik Oleh Arfi BambaniPengantarPers bebas merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM). Deklarasi Universal HAM (TheUniversal Declaration of Human Rights 1948) pada Pasal 19 mengatur, “Setiap orang berhakatas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini termasukkebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima danmenyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidakmemandang batas-batas (wilayah). “Kebebasan pers jelas merupakan standar sebuah negara demokratis. Ada pemeo, persmerupakan pilar keempat demokrasi setelah trias politika: eksekutif, legislatif dan yudikatif.Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, dalam tulisannya berjudul “Prospek Demokrasi pada EraReformasi dan Kemerdekaan Pers” menyatakan “Tidak ada perdebatan mengenai keharusanbagi kemerdekaan atau kebebasan pers. Kemerdekaan atau kebebasan pers bukan hanyapenyalur hak-hak demokrasi, tetapi sebagai bagian dari demokrasi itu sendiri. Karena itu,kemerdekaan pers tidak dapat diganti atau disubstitusikan dengan instrumen ataumekanisme lain.” Mahkamah Agung (MA) melalui putusan No 1608 K/PID/2005 dalam kasusBambang Harymurti menyatakan kebebasan pers conditio sine qua non bagi demokrasi dannegara berdasar atas hukum. Tindakan hukum atas pers tidak boleh membahayakan sendi-sendi demokrasi dan negara berdasarkan hukum.Kebebasan pers sendiri telah diakomodasi dalam konstitusi, Undang-undang Dasar (UUD)1945 yang telah diamandemen yaitu dalam Pasal 28, Pasal 28E ayat (2) dan (3) serta Pasal28F. Keberadaan pasal-pasal ini merupakan jaminan bagi kebebasan mengemukakanpendapat dan kebebasan berpikir.Pasal 28Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dansebagainya ditetapkan dengan undang-undang.Pasal 28E (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dansikap, sesuai dengan hati n uraninya.(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkanpendapat. - 33 -
  • 35. Pasal 28FSetiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untukmengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi denganmenggunakan segala jenis saluran yang tersedia.Lebih jauh, aturan konstitusi ini dijabarkan oleh Undang-undang Hak Asasi Manusia (UUHAM). Pasal 23 (2) ini menyatakan, “Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkandan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melaluimedia cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan,ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.” MA melalui putusan No 1608K/PID/2005 dalam kasus Bambang Harymurti menyatakan kebebasan pers conditio sine quanon bagi demokrasi dan negara berdasar atas hukum. Tindakan hukum atas pers tidak bolehmembahayakan sendi-sendi demokrasi dan negara berdasarkan hukum.Namun kebebasan pers ini dibatasi oleh asas persamaan kedudukan di mata hukum, yangberlaku bagi seluruh warga negara termasuk jurnalis. Aturan pidana tetap berlaku bagiseorang jurnalis, bukan terhadap persnya. Jurnalis jelas tidak kebal hukum.Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)Di Indonesia, sudah banyak jurnalis dituntut ke pengadilan dengan menggunakan instrumenhukum pidana. Meski AJI menolak penggunaan KUHP, jurnalis harus mewaspadai sejumlahaturan pidana yang biasa dipakai untuk menjerat jurnalis atau penanggung jawabperusahaan pers.I. Pembocoran Rahasia NegaraPasal 112Barang siapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau keterangan-keterangan yang diketahuinya bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara, ataudengan sengaja memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, diancamdengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.II. Pembocoran Rahasia Pertahanan Keamanan NegaraPasal 113Barang siapa dengan sengaja, untuk seluruhnya atau sebagian mengumumkan, ataumemberitahukan maupun menyerahkan kepada orang yang tidak berwenang mengetahui,surat-surat, peta-peta, rencana-rencana, gambar-gambar, atau benda-benda yang bersifatrahasia dan bersangkutan dengan pertahanan atau keamanan Indonesia terhadap serangan - 34 -
  • 36. dari luar, yang ada padanya atau yang isinya, bentuknya atau susunannya benda-benda itudiketahui olehnya diancam pidana penjara paling lama empat tahun.Jika surat-surat atau benda-benda ada pada yang bersalah atau pengetahuannya tentangitu karena pencariannya, pidananya dapat ditambah sepertiga.III. Penghinaan terhadap Presiden dan Wakil PresidenPasal 134Penghinaan dengan sengaja terhadap Presiden dan Wakil Presiden diancam dengan pidanapaling lama enam tahun, atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.Pasal 136 bisPengertian penghinaan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 134 mencakup jugaperumusan perbuatan dalam pasal 135, jika hal itu dilakukan diluar kehadiran yang dihina,baik dengan tingkah laku di muka umum, maupun tidak di muka umum dengan lisan atautulisan, namun dihadapan lebih dari empat orang atau dihadapan orang ketiga,bertentangan dengan kehendaknya dan oleh karena itu merasa tersinggung.Pasal 137(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan di muka umum tulisanyang berisi penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden, dengan maksud supaya isipenghinaan diketahui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjarapaling lama satu tahun empat bulan denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan pada waktu menjalankan pencariannya, danpada saat itu belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karenakejahatan semacam itu juga, maka terhadapnya dapat dilarang menjalankan pencariantersebut.IV. Penghinaan terhadap Raja atau Kepala Negara SahabatPasal 142Penghinaan dengan sengaja terhadap raja yang memerintahkan atau kepala negarasahabat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda palingbanyak empat ribu lima ratus rupiah.V. Penghinaan terhadap Wakil Negara AsingPasal 143Penghinaan dengan sengaja terhadap wakil negara asing di Indonesia, diancam denganpidana penjara paling lama lima tahun atau pidana paling banyak empat ribu lima ratusrupiah.Pasal 144(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisanatau lukisan yang berisi penghinaan terhadap raja yang memerintah, atau kepala negarasahabat, atau wakil negara asing di Indonesia dalam pangkatnya, dengan maksud supaya - 35 -
  • 37. penghinaan itu diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilanbulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan itu pada waktu menjalankan pencariannya, danpada saat itu belum lewat dua tahun sejak ada pemidanaan yang tetap karena kejahatansemacam itu juga, ia dapat dilarang menjalankan pencarian tersebut.VI. Permusuhan, Kebencian atau Penghinaan terhadap PemerintahPasal 154Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian ataupenghinaan terhadap Pemerintah Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lamatujuh tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.Pasal 155(1) Barang siapa di muka umum mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisandi muka umum yang mengandung pernyataan perasaan permusuhan, kebencian ataupenghinaan terhadap Pemerintah Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketahui ataulebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun enambulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankanpencariannya dan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjaditetap karena melakukan kejahatan semacam itu juga, yang bersangkutan dapat dilarangmenjalankan pencarian tersebut.VII. Pernyataan Perasaan Permusuhan, Kebencian atau Penghinaan terhadapGolonganPasal 156Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian ataupenghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam denganpidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu limaratus rupiah.Pasal 157(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisan dimuka umum, yang isinya mengandung pernyataan permusuhan, kebencian ataupenghinaan diantara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksudsupaya isinya diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahunenam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankanpencariannya dan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjaditetap karena kejahatan yang semacam itu juga, yang bersangkutan dapat dilarangmenjalankan pencarian tersebut. - 36 -
  • 38. VIII. Perasaan Permusuhan, Penyalahgunaan atau Penodaan AgamaPasal 156aDipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengajadi muka umum mengeluarkan perasaan atau perbuatan :(a) Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadapsuatu agama yang dianut di Indonesia.(b) Dengan maksud agar orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikanKetuhanan Yang Maha Esa.IX. Penghasutana. Barang siapa di muka umum lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatanpidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuanundang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasarkan ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda palingbanyak empat ribu lima ratus rupiah. (pasal 160)b. (1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umumtulisan yang menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, menentang penguasa umumdengan kekerasan, atau menentang sesuatu hal lain seperti tersebut dalam pasal diatas,dengan maksud supaya isi yang menghasut diketahui atau lebih diketahui oleh umum,diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyakempat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersal ah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankan pencariannyadan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaanya menjadi tetap karenamelakukan kejahatan semacam itu juga, yang bersangkutan dilarang menjalankan pencariantersebut. (Pasal 161)X. Penawaran Tindak Pidanaa. Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menawarkan untuk memberiketerangan, kesempatan atau sarana guna melakukan tindak pidana, diancam denganpidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribulima ratus rupiah. (pasal 162)b. (1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umumtulisan yang berisi penawaran untuk memberi keterangan, kesempatan atau sarana gunamelakukan tindak pidana dengan maksud supaya penawaran itu diketahui atau lebihdiketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua mingguatau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika merasa bersalah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankanpencariannya dan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjadi tetapkarena kejahatan semacam itu juga yang bersangkutan dapat dilarang menjalankanpencarian tersebut. (pasal 163) - 37 -
  • 39. XI. Penghinaan terhadap Penguasa atau Badan UmumBarang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatupenguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara palinglama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratusrupiah.(pasal 207)(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum suatutulisan atau lukisan yang memuat penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yangada di Indonesia dengan maksud supaya isi yang menghina itu diketahui atau lebih diketahuiumum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan atau pidana denda palingbanyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam pencariannya ketika itu belumlewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacamitu juga maka yang bersangkutan dapat dilarang menjalankan pencarian tersebut. (Pasal208)XII. Pelanggaran Kesusilaan(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan,gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, barang siapadengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum,membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri,meneruskannya mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barangsiapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkanatau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lamasatu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan,gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, ataupun barang siapa dengan maksuduntuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin, memasukkanke dalam negeri, meneruskan mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataubarang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta,menawarkan atau menunjuk sebagai bisa diperoleh, diancam jika ada alasan kuat baginyauntuk menduga bahwa tulisan, gambaran, atau benda itu melanggar kesusilaan, denganpidana paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratusrupiah.(3) Kalau yang bersal ah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagaipencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapanbulan atas pidana denda paling banyak tujuh puluh lima ribu rupiah.. (Pasal 282)XIII. Penyerangan/Pencemaran Kehormatan atau Nama Baika. (1) Barang siapa sengaja menyerang kehormatan nama baik seseorang denganmenuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam - 38 -
  • 40. karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda palingbanyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atauditempel di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjarapaling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling lama empat ribu lima ratusrupiah.(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukandemi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri. (Pasal 310)b. (1) Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkanuntuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhandilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnahdengan pidana penjara paling lama empat tahun.(2) Pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 No. 1-3 dapat dijatuhkan. (Pasal 311)c. Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemarantertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan,maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yangdikirim atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidanapenjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribulima ratus rupiah. (Pasal 315)d. Pidana yang ditentukan dalam pasal-pasal sebelumnya dalam bab ini, ditambah dengansepertiga jika yang dihina adalah seorang pejabat pada waktu atau karena menjalankantugasnya yang sah. (Pasal 316)XIV. Pemberitaan Palsu(1). Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepadapenguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehinggakehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah,dengan pidana penjara paling lama empat tahun.(2) Pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 No. 1-3 dapat dijatuhkan. (Pasal 317)XV. Penghinaan atau Pencemaran Orang Mati(1) Barang siapa terhadap seseorang yang sudah mati melakukan perbuatan yang kalauorang itu masih hidup akan merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, diancamdengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda palingbanyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Kejahatan ini tidak ditu ntut kalau tidak ada pengaduan dari salah seorang keluargasedarah maupun semenda dalam garis lurus atau menyimpang sampai derajat kedua orangyang mati itu, atau atas pengaduan suami (istrinya).(3) Jika karena lembaga matriarkal kekuasaan bapak dilakukan oleh orang lain dari padabapak, maka kejahatan juga dapat dituntut atas pengaduan orang itu. (Pasal 320) - 39 -
  • 41. (1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisanatau gambaran yang isinya menghina bagi orang yang sudah mati mencemarkan namanya,dengan maksud supaya isi surat atau gambar itu diketahui atau lebih diketahui oleh umum,diancam dengan pidana penjara paling lama satu bulan dua minggu atau pidana dendapaling banyak empat ribu lima ratus rupiah.(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya,sedangkan ketika itu belum lampau dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetapkarena kejahatan semacam itu juga, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankanpencarian tersebut.(3) Kejah atan ini tidak dituntut kalau tidak ada pengaduan dari orang yang ditunjuk dalampasal 319 dan pasal 320, ayat kedua dan ketiga. (Pasal 321)XVI. Pelanggaran Hak Ingkar(1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatanatau pencariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidanapenjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.(2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanyadituntut atas pengaduan orang itu. (Pasal 322)XVII. Penadahan Penerbitan dan Percetakana. Barang siapa menerbitkan sesuatu tulisan atau sesuatu gambar yang karena sifatnyadapat diancam dengan pidana, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahunempat bulan atau pidana kurungan paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyakempat ribu lima ratus rupiah, jika :1. Si pelaku tidak diketahui namanya dan juga tidak diberitahukan namanya oleh penerbitpada peringatan pertama sesudah penuntutanberjalan terhadapnya.2. Penerbit sudah mengetahui atau patut menduga bahwa pada waktu tulisan atau gambaritu diterbitkan, Si pelaku itu tak dapat dituntut atau akan menetap di luar Indonesia. (Pasal483)b. Barang siapa mencetak tulisan atau gambar yang merupakan perbuatan pidana, diancamdengan pidana paling lama satu tahun empat bulan atau pidana kurungan paling lama satutahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah, jika :1. Orang yang menyuruh mencetak barang tidak diketahui, dan setelah ditentukanpenuntutan, pada teguran pertama tidak diberitahukan olehnya ;2. Pencetak mengetahui atau seharusnya menduga bahwa orang yang menyuruh mencetakpada saat penerbitan, tidak dapat dituntut atau menetap di luar Indonesia. (Pasal 484)XVIII. Penanggulangan KejahatanPidana yang ditentukan dalam pasal 134-138, 142-144, 207, 208, 310-321, 483 dan 484dapat ditambah sepertiga, jika yang bersalah ketika melakukan kejahatan belum lewat limatahun sejak menjalani untuk seluruhnya atau sebagian pidana penjara yang dijatuhkan - 40 -
  • 42. kepadanya karena salah satu kejahatan yang diterangkan pada pasal itu, atau sejak pidanatersebut baginya sama sekali telah dihapuskan atau jika pada waktu melakukan kejahatankewenangan menjalankan pidana tersebut daluwarsa. (Pasal 488)XIX. Pelanggaran Ketertiban Umuma. Diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan, dan atau pidana paling banyaklima belas ribu rupiah.1. Barang siapa mengumumkan isi apa yang ditangkap lewat pesawat radio yang dipakaiolehnya atau yang ada dibawah pengurusnya, yang sepatutnya harus diduganya bahwa itutidak untuk dia atau untuk diumumkan, maupun diberitahukannya kepada orang lain jikasepatutnya harus diduganya bahwa itu akan diumumkan dan memang lalu disusul denganpengumuman.2. Barang siapa mengumumkan berita yang ditangkap lewat pesawat penerima radio, jika iasendiri, maupun orang dari mana berita itu diterimanya, tidak berwenang untuk itu. (Pasal519 bis)b. Diancam dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau pidana denda palingbanyak tiga ribu rupiah.1. Barang siapa ditempat untuk lalu lintas umum dengan terang-terangan mempertunjukkanatau menempelkan tulisan dengan judul kulit, atau isi yang dibikin terbaca maupun gambaratau benda yang mampu membangkitkan nafsu birahi remaja.2. Barang siapa ditempat untuk lalu lintas umum dengan terang-teranganmemperdengarkan isi tulisan yang mampu membangkitkan nafsu birahi para remaja.3. Barang siapa secara terang-terangan atau diminta menawarkan suatu tulisan, gambaratau barang yang dapat merangsang nafsu birahi para remaja maupun secara terang-terangatau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, tulisan ataugambar yang dapat membangkitkan nafsu birahi para remaja.4. Barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus atau sementara waktu,menyerahkan atau memperlihatkan gambar atau benda yang demikian, pada seorang yangbelum dewasa dan dibawah umur tujuh belas tahun. Barang siapa memperdengarkan isitulisan yang demikian dimuka seseorang yang belum dewasa dan dibawah umur tujuh belastahun. (Pasal 533)c. Barang siapa terang-terangan mempertunjukkan sesuatu sarana untuk menggugurkankandungan maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupunsecara terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagaibisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan pidana kurunganpaling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. - 41 -
  • 43. UU PersYurisprudensi MA dalam kasus Anif melawan Harian Garuda pada tahun 1993 menyebutkan,“Sehubungan dengan kebenaran suatu peristiwa yang hendak diberitakan pers, padahakikatnya merupakan suatu kebenaran yang elusif, artinya bahwa apa yang hendak diulasdan diberitakan pers tidak mesti kebenaran yang bersifat absolut. Jika kebenaran absolutyang boleh diberitakan, berarti sejak semula kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab sudah mati sebelum lahir.” Karena itu, perkara pers haruslah soal apakah persmelanggar peraturan perundang-undangan yang mengatur kerja pers dan kode etik pers,terlepas dari benar atau tidaknya isi berita yang dimasalahkan.Saat ini UU yang mengatur pers adalah UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. UU Perssecara spesifik mengatur aspek kebebasan pers. Tercakup di dalamnya pengaturan tentangfungsi pers untuk mencari, mengolah, dan menyebarluaskan informasi. UU Pers tegasmenyatakan hak wartawan atas informasi adalah bagian integral dari hak publik.UU ini mengatur segala perkara yang berkaitan dengan pers, seperti: (i) Asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranan pers; (ii) kehidupan wartawan, seperti memilih organisasi wartawan, menaati kode etik jurnalistik dan perlindungan terhadap wartawan; (iii) perusahaan pers, mulai dari badan hukumnya, kesejahteraan yang harus diberikan kepada wartawan dan karyawannya hingga larangan memuat iklan yang merugikan masyarakat; (iv) Dewan Pers untuk melindungi kemerdekaan pers, mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik, mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berkaitan dengan pemberitaan pers dan hal lain yang berkaitan dengan pers; (v) keberadaan pers asing di Indonesia; (vi) peran serta masyarakat dalam mengembangkan kemerdekaan pers; dan sanksi pers berupa ketentuan pidana bagi mereka yang melanggar ketentuan -ketentuan yang diatur dalam UU Pers.Ada beberapa hal yang diatur dalam UU Pers. Pertama, dalam mempertanggung jawabkanpemberitaan di depan hukum wartawan mempunyai hak tolak (Pasal 4 (4)). Tujuan HakTolak untuk melindungi kepentingan sumber informasi. Hak dapat digunakan jika wartawandimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan atau diminta menjadi saksi di pengadilan.Hak tolak tidak absolut, dapat dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atauketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan. Hak dapat digunakan jika wartawandimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan atau diminta menjadi saksi di pengadilan.Hal berikutnya yang diatur yakni hak jawab yakni hak seseorang memberikan sanggahanatau tanggapan berupa fakta yang merugikan nama baiknya (Pasal 5 ayat 2). Pers juga wajibmelayani hak koreksi yaitu hak seseorang untuk mengoreksi/membetulkan kekeliruaninformasi yang diberitakan oleh pers baik mengenai dirinya ataupun mengenai orang lain(Pasal 5 ayat 3). - 42 -
  • 44. Pasal 4 ayat (2) dan (3) juga menyatakan, terhadap pers nasional tidak dikenakanpenyensoran, pemberedelan atau pelarangan penyiaran. Untuk menjamin kemerdekaanpers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasandan informasi. Pasal 18 ayat 1 mengatur tentang ancaman pidana yaitu setiap orang yangmelawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat ataumenghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan (3) ini yakni dipidana denganpenjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,-(lima ratus jutarupiah).Bila terjadi pemukulan terhadap wartawan masuk dalam kategori pasal 18 (1) yangkemudian mengacu pada pasal 63 KUHP yaitu ayat 1, jika suatu perbuatan masuk dalamlebih dari satu aturan pidana, maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yangpaling berat dan ayat 2, jika suatu perbuatan, yang masuk dalam suatu aturan pidana yangumum, diatur pula dala aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yangdikenakan. Dalam pasal 10 a KUHP dijelaskan pidana pokok adalah (1) pidana mati, (2)pidana penjara, (3) kurungan, dan (4) denda.Hukum Perdata Terkait PersPasal-pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata biasanya menyangkut ganti rugidan pernyataan maaf yang harus dilakukan oleh media massa. Ganti rugi tersebut misalnyadijelaskan dalam pasal 1365, 1366 dan 1367. Pasal 1365 berbunyi, “Tiap perbuatanmelanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yangkarena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”.Ini memperlihatkan bahwa pelanggaran hukum yang dilakukan media massa di Indonesiabisa dikenakan dakwaan melanggar hukum pidana dan perdata. Padahal di AS, seperti ditulisWina Armada, tidak ada dakwaan berdasarkan hukum pidana terhadap media massa.“Sehingga masalah-masalah pemberitaan pers di satu tangan diserahkan sepenuhnyakepada integritas dan kredibilitas pers sendiri , dan di tangan lain ditentukan oleh nilai -nilaiyang berkembang di masyarakat,” kata Wina yang kini anggota Dewan Pers.UU PenyiaranHukum penyiaran yang saat ini berlaku di Indonesia adalah UU No. 32/2002 TentangPenyiaran. UU ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan media penyiaran, seperti: (i) dasar dan tujuan penyiaran; (ii) lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran komunitas dan lembaga penyiaran berlangganan; (iii) Komisi Penyiaran Indonesia yang berperan untuk menetapkan standar program siaran, menyusun peraturan dan menetapkan pedoman prilaku penyiaran, - 43 -
  • 45. mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran, memberikan sanksi te rhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran dan melakukan koordinasi dan/ atau kerja sama dengan pemerintah, lembaga penyiaran dan masyarakat; (iv) perizinan siaran, jangkauan siaran, isi dan materi siaran, bahasa s iaran, relai dan siaran bersama, kegiatan jurnalistik, hak siar, ralat siar, arsip siaran, siaran iklan dan sensor siaran; (v) pedoman perilaku penyiaran; (vi) peran serta masyarakat dalam kehidupan penyiaran; dan (vii) sanksi administratif dan ketentuan pidana bagi mereka yang melanggar peraturan yang diatur dalam UU Penyiaran.UU ini mengatur pidana 5 tahun, denda Rp5 miliar bagi radio atau Rp10 miliar bagi televisijika menyiarkan fitnah, hasutan, menonjolkan, unsur kekerasan, cabul, perjudian,penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, mempertentangkan SARA. Terkait konten ini,pada 1 Juli 2010, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat menghentikan siaran “HeadlineNews” Metro TV pada pukul 05.00 karena dinilai telah menayangkan pornografi. Putusan inimengundang pro-kontra. Putusan itu dituduh melampaui kewenangan KPI karena dinilaihanya berwenang menghentikan sementara mata acara non-produk pers, tapi tidakberwenang menghentikan produk jurnalisme penyiaran.UU Informasi dan Transaksi ElektronikUU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur mengenaisegenap informasi elektronik. Di Pasal 1 ayat 1 bisa dilihat definisinya yang “satu atausekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar,peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail),telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atauperforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampumemahaminya.” Dengan definisi, setiap penayangan data atau informasi melalui internetjelas tercakup ke dalam pengaturan UU ini.UU ini sendiri tidak menyebut secara eksplisit, pengecualian setiap pers online dari yurisdiksiUU ini. Namun pakar telematika Edmon Makarim misalnya berpendapat, media online yangmenegaskan dirinya sebagai pers berada di bawah domain Undang-undang Pers. Namunpernyataan ini pun belum cukup meyakinkan, masih ada kemungkinan penerapan UU ITEuntuk media online. Beberapa pasal yang perlu diperhatikan dari UU ini adalah:Pasal 27(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atauDokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. - 44 -
  • 46. (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atauDokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.Pasal 28(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong danmenyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukanuntuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompokmasyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP)Subjek dalam UU Pers adalah media atau wartawan, sementara subjek dalam UU Nomor 14Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik adalah publik. Jelas terlihat perbedaanUU Pers dan UU KIP, dan eksistensi kedua UU tersebut. Beberapa negara, misalnya AmerikaSerikat, tidak memiliki UU Pers, tapi dalam praktiknya menggunakan UU KIP (freedom ofinformation act) untuk melindungi kerja-kerja media. Sementara itu, UU Pers hanyamengakui hak media untuk mencari, mengolah, dan menyebarluaskan informasi, tapi tidakmengatur kewajiban narasumber, khususnya pejabat publik untuk memberikan informasipublik kepada wartawan.UU Pers tidak mengatur mekanisme pemberian informasi yang mencakup jangka waktupemberian informasi, biaya akses, petugas pelayanan informasi, klasifikasi informasi, danjenis-jenis medium penyampaian informasi publik. Kami berharap masyarakat menggunakanhaknya untuk menjadi pemohon informasi sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalampembangunan. Berikut pasal yang harus diperhatikan jurnalis:Pasal 17Setiap Badan Publik wajib membuka akses bagi setiap Pemohon Informasi Publik untukmendapatkan Informasi Publik, kecuali:a. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publikdapat menghambat proses penegakan hukum, yaitu informasi yang dapat: 1. menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana; 2. mengungkapkan identitas informan, pelapor, saksi, dan/ atau korban yang mengetahui adanya tindak pidana; 3. mengungkapkan data intelijen kriminal dan rencana-rencana yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional; - 45 -
  • 47. 4. membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan/ atau keluarganya; dan/ atau 5. membahayakan keamanan peralatan, sarana, dan/ atau prasarana penegak hukum.b. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publikdapat mengganggu kepentingan perlindu ngan hak atas kekayaan intelektual danperlindungan dari persaingan usaha tidak sehat;c. informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapatmembahayakan pertahanan dan keamanan negara, yaitu: 1. informasi tentang strategi, intelijen, operasi, taktik dan teknik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi dalam kaitan dengan ancaman dari dalam dan luar negeri; 2. dokumen yang me muat tentang strategi, intelijen, operasi, teknik dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi; 3. jumlah, komposisi, disposisi, atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya; 4. gambar dan data tentang situasi dan keadaan pangkalan dan/ atau instalasi militer; 5. data perkiraan kemampuan militer dan pertahanan negara lain terbatas pada segala tindakan dan/ atau indikasi negara tersebut yang dapat membahayakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/ atau data terkait kerjasama militer dengan negara lain yang disepakati dalam perjanjian tersebut sebagai rahasia atau sangat rahasia; 6. sistem persandian negara; dan/ atau 7. sistem intelijen negara.d. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publikdapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia;e. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik,dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional: 1. rencana awal pembelian dan penjualan mata uang nasional atau asing, saham dan aset vital milik negara; 2. rencana awal perubahan nilai tukar, suku bunga, model operasi institusi keuangan; 3. rencana awal perubahan suku bunga bank, pinjaman 4. pemerintah, perubahan pajak, tarif, atau pendapatan negara/ daerah lainnya; 5. rencana awal penjualan atau pembelian tanah atau properti; 6. rencana awal investasi asing; - 46 -
  • 48. 7. proses dan hasil pengawasan perbankan, asuransi, atau lembaga keuangan lainnya; dan/ atau 8. hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakan uang.f. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik,dapat merugikan kepentingan hubungan luar negeri: 1. posisi, daya tawar dan strategi yang akan dan telah diambil oleh negara dalam hubungannya dengan negosiasi internasional; 2. korespondensi diplomatik antarnegara; 3. sistem komunikasi dan persandian yang dipergunakan dalam menjalankan hubungan internasional; dan/ atau 4. perlindungan dan pengamanan infrastruktur strategis Indonesia di luar negeri.g. informasi yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadidan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang;h. informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapatmengungkap rahasia pribadi, yaitu: 1. riwayat dan kondisi anggota keluarga; 2. riwayat , kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang; 3. kondisi keuangan, aset , pendapatan, dan rekening bank seseorang; 4. hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang; dan/ atau 5. catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal.i. memorandum atau surat -surat antar Badan Publik atau intra Badan Publik, yang menurutsifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan; danj . informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang-Undang.UU Intelijen NegaraUndang-undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen ini dianggap bertabrakan denganUU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU Nomor 14 Tahun 2008 KeterbukaanInformasi Publik. Dalam Pasal 26 UU Intelijen disebutkan, “Setiap orang atau badan hukumdilarang membuka dan/atau membocorkan rahasia intelijen”. Artinya, siapa pun yangterbukti membuka atau membocorkan rahasia intelijen dapat dikenai sanksi pidana. Pasal26 ini terutama bisa dikenakan kepada jurnalis atau pegi at pers yang mempublikasikaninformasi atau melakukan tugas jurnalisme investigasi dan menyebarkan laporannya kepadapublik. - 47 -
  • 49. Peraturan ini pun menyentuh langsung pada kerja-kerja jurnalistik, terutama padainvestigasi jurnalisme sebagai alat untuk mengungkap kebenaran dan memaparkan solusi-solusi penting. Jurnalisme investigasi menjadi sangat penting sebagai indikator pencapaiancita-cita good governance yang membumi. Apalagi, jurnalisme investigasi lebih bekerja padaatribut penyelidikan, keingintahuan dan misi tertentu. Dan hal ini sangat berbenturandengan pasal yang ditetapkan di UU intelijen.Pasal tersebut, berpotensi mengancam kebebasan pers. UU Pers telah mengatur tugas danfungsi pers, khususnya Pasal 4, yang berbunyi “Terhadap pers nasional tidak dikenakanpenyensoran, pemberedelan, atau pelarangan penyiaran”. “Untuk menjamin kemerdekaanpers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasandan informasi”. “Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum,wartawan mempunyai hak tolak”.Definisi “rahasia intelijen” juga bertabrakan dengan hak informasi publik sesuai UU Nomor14 Tahun 2008. Dalam Pasal 17 UU KIP dikenal dua jenis informasi yakni informasi yangterbuka dan informasi yang dikecualikan. Yang termasuk informasi yang dikecualikan ialahrahasia intelijen yang dapat membahayakan keamanan dan kerukunan nasional.Selain itu, tertera pada UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 mengatur tugas dan fungsi pers,khususnya Pasal 4 berbunyi : (2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran,pemberedelan, atau pelarangan penyiaran ; (3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, persnasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan daninformasi ; (4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawanmemiliki Hak Tolak.Di sisi lain, undang-undang ini justru memberikan acaman pidana yang cukup tinggi, bagimereka yang dianggap melakukan pembocoran rahasia informasi intelijen. Setiap orangyang dengan sengaja, atau karena kelalaian dapat dipidana dengan ancaman 10 tahunpenjara dan 7 tahun penjara. Beberapa pasal juga dianggap melanggar Hak Asasi Manusia.Bahkan di dalam UU Intelijen Negara memiliki potensi ancaman tinggi bagi perlindungankebebasan wargangera, khususnya terkait istilah “wewenang penggalian informasi”sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UU Intelijen sebagai pengganti dari istilah pemeriksaanintensif dan pendalaman di draf UU Intelijen sebelumnya. Penggalian informasi bersifatmultitafsir dan “karet” karena tidak dijelaskan dengan terperinci mengenai penjelasan dandefinisi kata itu di dalam UU ini.Tentu hal ini ini melanggar perlindungan hak-hak privasi,Problem lain dari UU Intelijen Negara, adalah terkait dengan ketidakjelasan mekanismekomplain dan pemulihan. Meskipun di dalam ketentuan Pasal 15 UU Intelijen Negaramengatur tentang ketersediaan pemulihan bagi orang-orang yang menjadi korban dari - 48 -
  • 50. suatu praktek operasi intelijen. Namun ketentuan tersebut tidak secara jelas mengaturtentang mekanisme, bagaimana korban bisa m engakses pemulihan yang disediakan.Pasal 25(1) Rahasia Intelijen merupakan bagian dari rahasia negara.(2) Rahasia Intelijen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikategorikan dapat: a. membahayakan pertahanan dan keamanan negara; b. mengungkapkan kekayaan alam Indonesia yang masuk dalam kategori dilindungi kerahasiaannya; c. merugikan ketahanan ekonomi nasional; d. merugikan kepentingan politik luar negeri dan hubungan luar negeri; e. mengungkapkan memorandum atau surat yang menurut sifatnya perlu dirahasiakan; f. membahayakan sistem Intelijen Negara; g. membahayakan akses, agen, dan sumber yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi Intelijen; h. membahayakan keselamatan Personel Intelijen Negara; atau i. mengungkapkan rencana dan pelaksanaan yang berkaitan dengan penyelenggaraan fungsi Intelijen.(3) Rahasia Intelijen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki Masa Retensi.(4) Masa Retensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku selama 25 (dua puluh lima)tahun dan dapat diperpanjang setelah mendapat persetujuan dari DewanPerwakilan RakyatRepublik Indonesia.(5) Rahasia Intelijen dapat dibuka sebelum Masa Retensinya berakhir untuk kepentinganpengadilan dan bersifat tertutup.UU PornografiUU Nomor 44 Tahun 2008 ini mengatur dalam Pasal 1 ayat 1, definisi pornografi adalah“gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun,percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk mediakomunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasiseksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.” Ayat 2 menyebutkan, jasapornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseoranganatau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio,telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barangcetakan lainnya.Berikut pasal-pasal yang bisa mengancam media massa sebagai produsen konten:Pasal 4 - 49 -
  • 51. (1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan,menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak.(2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankanketelanjangan; b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layananseksual.Pasal 29Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan,menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (duabelas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluhjuta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).UU Hak CiptaHak Cipta diatur oleh Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. UU ini mulaiberlaku tanggal 29 Juli 2003 dan terdiri atas 15 bab dan 78 pasal. Di dalam UU ini jugaterdapat ketentuan tentang Dewan Hak Cipta yang bertugas membantu memberikanpenyuluhan, pembimbingan dan pembinaan hak cipta. Sedangkan pasal -pasal dalam UU iniyang berkaitan dengan media massa antara lain: (i) Pasal 49, yang mengatur hak eksklusiflembaga penyiaran dalam kepemil ikan karya rekamnya; (ii) Pasal 12, yang mengatur karyatulis yang diterbikan; dan (iii) Pasal 19-23, yang mengatur foto.Dalam UU tersebut, pengertian hak cipta adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau penerimahak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itudengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” (pasal 1 butir 1). Menurut hukum hak cipta, jika suatu karyamenjadi domain publik, bukan berarti orang atau media yang menayangkan bebas dari - 50 -
  • 52. tanggungjawab menyebut nama pembuat karya. Sebab dalam hukum hak cipta ada dua hakyang melekat, yaitu hak ekonomis (mengambil manfaat ekonomis dari suatu karya) dan hakmoral (kewajiban menyebut si pembuat karya). Hak ekonomis bisa dialihkan, misalnyadijual, dilisensikan, dihibahkan, termasuk dilisensipublikkan (misalnya lisensi creativecommon, open conten, dan sebagainya). Namun hak moral itu melekat selamanya padasuatu karya, sekalipun hak ekonomis suatu karya sudah dipindahkan.Sedangkan dalam Pasal 49 UU Hak Cipta juga melindungi pemilik sebagaimana tercantumpada ayat (1) Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lainyang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suaradan/atau gambar pertunjukannya. Lebih lanjut pada ayat (3) Lembaga Penyiaran memilikihak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannyamembuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisidengan atau tanpa kabel, atau melalui sistem elektromagnetik lain. Hak ekslusif terhadaphak ekonomi antara lain hak reproduksi, hak distruibusi, dan hak pertunjukan. Dalam UUHak Cipta juga ditegaskan bahwa sebuah karya sebagimana tertuang pada pasal 50 ayat (1)memiliki waktu perlindungan bagi: Pelaku, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karyatersebut pertama kali dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau mediaaudiovisual; dan Lembaga Penyiaran , berlaku selama 20 (dua puluh) tahun sejak karya siarantersebut pertama kali disiarkan.Pasal 12(1) Dalam UU ini ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan,seni, dan sastra, yang mencakup: a. buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain; b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu; c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks; e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim; f. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; g. arsitektur; h. peta; i. seni batik; j. fotografi; k. sinematografi; l. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. - 51 -
  • 53. Pasal 13Tidak ada Hak Cipta atas: a. hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara; b. peraturan perundang-undangan; c. pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah; d. putusan pengadilan atau penetapan hakim; atau e. keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya.Pasal 19(1) Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potretseseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahliwarisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggaldunia.(2) Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atauPengumumansetiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga oranglain dalam potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin darisetiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing- masing dalam jangka waktu 10(sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.(3) Ketentuan dalam pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat: a. atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret; b. atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau c. untuk kepentingan orang yang dipotret.Pasal 20Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:a. tanpa persetujuan dari orang yang dipotret;b. tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atauc. tidak untuk kepentingan yang dipotret, apabila Pengumuman itu bertentangan dengankepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnyaapabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia.Pasal 21Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorangPelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecualidinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan. - 52 -
  • 54. Pasal 22Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana,Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkanoleh instansi yang berwenang.Pasal 29(1) Hak Cipta atas Ciptaan: a. buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain; b. drama atau drama musikal, tari, koreografi; c. segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung; d. seni batik; e. lagu atau musik dengan atau tanpa teks; f. arsitektur; g. ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lain; h. alat peraga; i. peta; j. terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia.(2) Untuk Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki oleh 2 (dua) orang ataulebih, HakCipta berlaku selama hidup Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsunghingga 50(lima puluh) tahun sesudahnya.Pasal 49(1) Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yangtanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/ataugambar pertunjukannya.(2) Produser Rekaman Suara memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarangpihak lain yang tanpa persetujuannya memperbanyak dan/atau menyewakan KaryaRekaman suara atau rekaman bunyi.(3) Lembaga Penyiaran memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihaklain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulangkarya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel, atau melalui sistemelektromagnetik lain. - 53 -
  • 55. Materi Kunci II TEORI JURNALISTIK • Standar Jurnalisme • Berita, Fakta dan Fiksi• Derajat Kompetensi Narasumber • Gaya Bahasa Jurnalisme • Berita yang Berbobot - 54 -
  • 56. Standar Jurnalisme Oleh P. Hasudungan SiraitSebenarnya profesi jurnalis atau wartawan termasuk profesi yang sudah tua. Pekerjaanmewartakan kejadian atau peristiwa di ranah publik ini mulai menemukan formatnyasebagaimana dikenal sekarang boleh dibilang sejak Johan n Gensfleisch zum Gutenbergmengembangkan mesin cetak pada tahun 1440-an di Mainz, Jerman. Dengan alat bertipemoveable (bisa dipindah-pindahkan) tersebut ribuan kata bisa dicetak di atas kertas dalamtempo singkat. Hanya dalam 13 tahun teknologi ini telah menyebar ke seluruh Eropa.Koran cetak pertama pun terbit dalam bentuk selembar. Segera saja sesudah itu, untuk kalipertama dalam sejarah, pewartaan bertumbuh pesat. Di kota-kota utama dunia wartawanbermunculan sebagai agen informasi sekaligus penyaksi dinamika kehidupan.Seperti kaum profesional lain, pekerjaan yang dilakukan jurnalis pada masa perintisantersebut ialah belajar dengan melakukan (earning by doing ). Seperti terjadi di banyak lbidang kehidupan, saling meniru pun terjadi demi mutu sajian. Di antaranya ialah dalam halcara meliput dan mewartakan, perwajahan sajian (mencakup tata letak naskah-foto-iklandan pilihan huruf), mekanisme rapat redaksi, penjualan (langganan atau eceran), iklan, atausistem distribusi.Tatkala wartawan membanyak, para pionir lantas mulai merumuskan aturan main agarmereka tidak saling sikut di lapangan. Pula agar lebih kompak menghadapi siapa pun yangberada di luar teritori keredaksian.Profesi jurnalis adalah profesi yang sejak semula telah menuntut mobilitas yang tinggi.Dalam perburuan berita, keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi hambatan. Kalausemula tugas perwataan lebih sering mengandalkan kisah yang dibawa kaum kelana,terutama pelaut, lama ke lamaan tugas pewartaan menuntut pewarta menjadi penyaksi ditempat peristiwa pada saat yang tepat. Saat perang akbar berkobar, misalnya. Peliputanyang kian jauh dan kerap membuat interaksi sesama wartawan di jagat ini makin intens.Pertukaran pengetahuan dan pengalaman pun tak terhindarkan dan makin acap.Transformasi termasuk dalam hal pendekatan dan metoda liputan serta mekanisme ruangredaksi terus berlangsung. Satu lagi, juga dalam hal aturan main bersama sesama pewarta.Perumusannya dilakukan secara kolektif, setahap demi setahap, dan berdasarkan the bestpractice. Kalaupun jurnalis tak bertemu muka, transformasi di antara sesama merekaberlangsung dengan cara saling mematut karya sejawat.Zaman terus berubah. Pemikiran dan wacana di tengah masyarakat terus berkembang.Sebagai garda depan informasi, kaum jurnalis senantiasa rajin membaca tanda-tanda - 55 -
  • 57. zaman. Hasil bacaan mereka pakai untuk memperbaiki mutu karya jurnalisme. Hal iniberlanjut hingga kini.Kalau dilihat sejak masa rintisan itu berarti ratusan tahun sudah para praktisi jurnalisme diseluruh belahan jagat mengembangkan metode kerja serta aturan main dunianya denganberbekal idealisasi dan pengalaman emperik. Hasilnya adalah lahir dan tumbuhnya sejumlahprinsip yang kini kini sudah menjadi semacam pakem universal. Antara lain adalah rumusan:apa itu berita, bagaimana mendapatkan berita (news gathering), nilai berita (news value),prinsip harus senantiasa menyajikan fakta, cover both-sides dan cover all-sides,keberimbangan (dengan check and recheck dan triple check), imparsial, serta menjagaakurasi.Satu lagi formulasi itu berupa kode etik. Perumusan rule of the game ini dengan tujuan agarkaum jurnalis senantiasa bergerak di jalur yang seharusnya saat menjalankan tugas; bilamenyimpang akan merugikan publik dan dirinya sendiri. Kode etik jurnalistik beragamadanya sesuai dengan banyaknya organisasi wartawan. Kendati demikian nafasnya kuranglebih sama yakni apa yang boleh dan tidak boleh (the do dan the don’t) dilakukan demi mutuberita dan integritas pewarta.Semua aturan main yang dirumuskan secara kolektif oleh wartawan di muka bumi selamaratusan tahun ini kini kita kenal sebagai standar jurnalisme. Dalam berbagai UKJ hal inilahyang menjadi materi untuk setiap tingkat, disamping wawasan dan ketrampilan teknis.Mari cermati beberapa unsur standar jurnalisme ini. Adapun pembahasan khusus tentangberita ada di tulisan lain dalam bunga rampai ini.Menyajikan FaktaPekerjaan jurnalis pada hakekatnya adalah mewartakan peristiwa alias memberitakan nya.Di sini peristiwa adalah kejadian faktual sehingga jelas unsur beritanya (apa, siapa, dimana,kapan, mengapa dan bagaimana—lazim disebut 5W+1 H). Keenam unsur inilah yangmembangun jalan cerita peristiwa. Kalau jurnalis mau beropini boleh tentunya, hanya sajatempatnya di ruang atau kapling bukan berita. Di tajuk atau kolom khusus, misalnya.Cover both-sides dan cover all-sidesBerita harus berimbang. Karena itu ketika mengangkat sebuah permasalahan kedua pihakyang pro -kontra harus dijadikan narasumber yang ujarannya dimuat. Ini yang disebut coverboth-sides. Dalam sebuah masalah terkadang yang terimbas tak hanya yang berkonfrontasilangsung. Tapi juga mereka yang berada di posisi abu-abu (artinya tak terlibat langsung)atau yang malah sama sekali tak bersangkut-paut. Contohnya rakyat jelata dan awam tetapimenjadi korban konflik bersenjata. Di Aceh, misalnya, banyak orang seperti itu di masaprahara. Selain yang berkonfrontasi langsung, para pihak (stakeholders) lain perlu dijadikannarasumber. Termasuk kaum awam yang terimbas konflik. Itu yang dimaksud dengan coverall-sides. Tentang hal ini akan kita bahas secara khusus dalam tulisan Derajat KompetensiNarasumer. - 56 -
  • 58. ImparsialMewawancarai para pihak, terutama yang berkonfrontasi langsung, dan memunculkannyadalam berita tidaklah cukup. Porsi dan nuansa yang ditampilkan juga perlu dibuatberimbang. Itu yang dimaksud imparsial. Jadi imparsial artinya tidak menguntungkan salahsatu pihak secara porsi atau nuansa atau keduanya sekaligus. Atau dengan cara apa pun.Tentang imparsialitas ini ada catatan. Dalam beberapa tahun terakhir berkembangpemikiran di kalangan jurnalis bahwa imparsialitas tak selalu harus diterapkan. Ada kalanyajurnalis perlu berpihak. Misalnya kalau ada yang tertidas, yang dibungkam. Dalam halseperti ini pers menjadi penyuara dari mereka yang tak bisa bersuara (the voice of thevoiceless).Menjaga akurasi (dengan check and recheck dan triple check )Cermat dalam menyajikan fakta atau menjaga presisi, adalah kewajiban setiap jurnalis. Katalainnya senantiasa akurat. Jurnalis kawakan seperti Joseph Pulitzer yang menjadikan akurasisebagai harga mati (“Akurasi! Akurasi! Akurasi!” adalah ujarannya yang terkenal) punyaargumen sederhana. Bagaimana khalayak akan mempercai hal-hal besar yang disampaikanseorang wartawan kalau dalam hal kecil saja ia sembrono? Argumen ini sangat masuk akal.Mematuhi Kode EtikSetiap profesi lazimnya merumuskan kode etiknya. Dalam satu profesi sangat mungkinterdapat banyak organisasi. Kendati organisasinya majemuk, seperti telah disebut,semangat kode etiknya pada umumnya sama. Kode etik dibuat agar setiap anggotaorganisasi tersebut tetap dalam koridor profesionalnya. Tahu apa yang boleh dan tidakboleh dilakukan di lingkungan profesinya, teru tama saat melakukan tugas profesinya itu.Untuk urusan ke dalam kode etik merupakan aturan main penertib tatanan. Sedangkanuntuk urusan keluar ia merupakan perisai yang akan melindungi anggota organisasi atauprofesi dari anak panah hukum. Agar gambarannya jelas perhatikanlah Kode Etik Jurnalistik(KEJ) dan Kode Etik AJI.KEJ dirumuskan oleh sejumlah organisasi wartawan; salah satunya adalah AJI. Semangat KEJdan Kode Etik AJI sama. Prinsip menyajikan fakta, cover both -sides dan cover all-sides,imparsial serta menjaga akurasi digariskan di sana. Kalau saja kode etik ini dipatuhi niscayapers kita tak akan menuai banyak gugatan seperti belakangan ini. Yang perlu kita pikirkanselanjutnya ialah mengupayakan agar kode etik selalu dihirauakn oleh insan pers. Taksekadar diketahui adanya melainkan dite gakkan. - 57 -
  • 59. Berita, Fakta dan Fiksi Oleh P. Hasudungan SiraitApakah sesungguhnya hakekat pekerjaan jurnalis? Jawabnya sederhana: mencari berita! Dimana pun di belahan jagat ini, begitu adanya. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud denganberita?Saban hari jurnalis memburu dan bergelut dengan berita. Tapi, ternyata bagi sebagianjurnalis belum jelas betul apa sesungguhnya yang dicari. Lihatlah ke kelas-kelas Jurnalistiktempat mereka menjadi peserta. Masih banyak jawaban yang simpang siur manakaladitanya berita itu apa. “Berita adalah informasi”, ini jawaban spontan mereka yang palingumum. Ada juga yang mengatakan, “berita adalah kabar yang ada di media massa.” Atau“berita adalah kejadian penting yang mempengaruhi masyarakat.”Jawaban yang bermuatan masalah. Yang pertama, misalnya. Bagaimana yang tidak ada dimedia massa tapi beredar di ranah publik? Toh banyak kejadian seperti itu. Untuk jawabankedua, pertanyaan susulannya misalnya: tidakkah banyak kandungan media massa yang takmempengaruhi masyarakat?Berita adalah informasi. Itu benar. Tapi keduanya tak sama persis. Yang satu merupakanbagian dari yang lain. Induknya yang mana, an aknya yang mana? Masih ingat konsephimpunan bagian yang harus kita pelajari saat pelajaran Matematika di SMP? Bila masih,ibaratkanlah ada dua lingkaran yakni lingkaran berita dan lingkaran informasi. Yang satuberada di dalam yang lain. Yang mana berita dan yang mana informasi? Kalau Andamengatakan lingkaran terbesar merupakan berita, Anda salah. Sebab beritalah yang menjadibagian dari informasi. Artinya, berita hanya salah satu kandungan dari informasi. Adakualifikasi tertentu yang membedakan berita d ari unsur informasi lain.Jalan CeritaBerita adalah peristiwa. Namun tak semua peristiwa merupakan berita. Kalau kejadian itutak diwartawakan seseorang ke pihak lain (individu, kelompok, atau khalayak luas), bukanberita namanya. Pewartanya boleh siapa saja, bukan hanya jurnalis.Yang namanya peristiwa haruslah faktual; artinya, sungguh-sungguh terjadi, bukan khayalanatau hasil imajinasi. Bukan pula gosip, isapan jempol atau spekulasi. Oleh sebab itu harusada jalan ceritanya. Inilah yang disebut den gan unsur berita yakni: apa, kapan, dimana,siapa, mengapa, dan bagaimana (what, when, where, who, why, dan how = 5W+1H). Darisegi urutan, what biasanya akan menjadi yang pertama; sedangkan 4W lainnya bisadipertukarkan tempatnya secara bebas. Di antara 5W+1H ini jawaban how pasti akanmenjadi yang terpanjang sebab akan terkait dengan kronologi atau urut-urutan kejadian.Setelah how baru why. - 58 -
  • 60. Katakanlah sebuah pesawat Sukhoi jatuh lagi. Kalau kejadian ini kemudian dikabarkankepada seseorang yang peduli (bukan yang selalu bermasa bodoh) pastilah ia ingin tahujalan ceritanya. Apa yang jatuh? Kapan kejadiannya dan dimana? Siapa saja yang adadalam pesawat. Mengapa pesawat itu jatuh? Bagaimana kejadiaannya sehingga Sukhoiyang dibangga-banggakan sebagai pesawat super canggih jatuh dan jatuh lagi?Kemungkinan itu akan menjadi pertanyaan dia.Tentu saja pertanyaan ihwal jalan cerita Sukhoi jatuh tidak sebatas itu saja. Banyak lagiaspek 5W+1H yang bisa kita gali. Mari kita kembangkan pertanyaan tentang pesawat jatuhini. Katakanlah kita telah mendapatkan informasi tambahan sehingga bisa merumuskanpertanyaan berikut ini.WhatApa alasan petugas menara kontrol sehingga membolehkan pesawat terbang rendah,apakah sedang terjadi turbulensi di udara saat itu, apa yang membuat pesawat meledaksebelum terhempas, apakah terjadi kerusakan mesin, apakah ada sabotase, apakah adapenumpang yang selamat, apakah otoritas Sukhoi sudah memberikan penjelasan, …….WhenKapan pesawat berangkat dari Russia? Kapan tiba di dan bertolak dari Jakarta? Kapan mulaihilang kontak dengan menara pengawas? Kapan evakuasi jenazah? Kapan otoritas dariSukhoi akan tiba di lokasi kecelakaan ? Kapan tim Komisi Nasional Keselamatan Transportasi(TNKT) akan memberi keterangan resmi? Kapan pesawat itu dibuat? Kapan dioperasikanuntuk kali pertama? ......dst.WhereDi manakah lokasi kejadian nya? Kalau lokasinya di perairan Pangandaran , di manapersisnya? Di mana jenazah berserak ditemukan? Di mana se rpihan badan pesawatmengambang? Di mana kotak hitam berada? Di mana posko SAR didirikan? Di mana parapenyelam mencari jenazah dan puing-puingnya?, Di mana para keluarga korban bisamendapatkan informasi resmi? Di mana para korban akan dikebumikan? …….dst .WhoBisa mulai dari siapakah pilot pesawat, siapa saja penumpangnya, siapa saja pebisnis diantara penumbang, siapa yang bertugas di menara kontrol bandara saat itu, jenazah siapasaja yang sudah diidentifikasi, siapa juru bicara Sukhoi, siapa keluarga korban yang histeristerus sejak dua jam lalu, perusahaan asuransi mana yang menanggung kerugian dalamkejadian ini, hingga siapa saja nelayan yang menyaksikan pesawat meledak di udara. - 59 -
  • 61. WhyMengapa pilot menerbangkan pesawat terlalu rendah, mengapa pesawat meledak sebelumterhempas ke laut, mengapa regu penyelamat datang begitu telat, mengapa Sukhoi jatuhberuntun di Indonesia dalam dua bulan terakhir, mengapa ada dugaan sabotase, mengapapihak Sukhoi terkesan sangat berhati-hati dan tertutup, mengapa pihak Sukhoi seperti tidakbelajar dari pengalaman pahit mereka di Gunung Salak (Bogor), ……HowBagaimana pesawat sampai meledak, bagaimana serpihan tubuh pesawat tersebar jauh,bagaimana standar pengoperasian pesawat super jet baru ini, bagaimana skedul uji cobasekaligus promosi pesawat canggih ini di beberapa belahan dunia, bagaimana reaksikeluarga korban, bagaimana perusahaan asuransi akan menanggung biaya yang begitubesar, bagaimana pihak maskapai di Indonesia menanggapi bencana udara yang beruntunini,…..Kemampuan menggali 5W+1H akan menentukan kualitas berita. Agar penggalian jalan ceritalebih dalam ada baiknya unsur berita kita persandingkan atau kombinasikan. Misalnya,pesawat meledak sebelum terhempas (what). Why dari what ini adalah: mengapa terjadiledakan. Sedangkan how-nya: bagaimana dahsyatnya bunyi ledakan serta serpihan yangdihasilkannya. Untuk setiap what, persandingan seperti ini bisa kita lakukan termasukdengan when , where, dan who. Untuk setiap unsur berita yang lain bisa kita lakukan halyang sama. Sekali lagi, berita adalah peristiwa yang diwartakan. Yang namanya peristiwa pasti memilikijalan cerita (5W+1H). Oleh sebab itu kalau ada unsur berita media massa yang tidak lengkapkita perlu mempertanyakan apakah kejadian yang dilaporkan itu faktual atau rekaanwartawan belaka.Nilai BeritaPeristiwa itu banyak betul jumlahnya dan terjadi di mana-mana. Bukan hanya dalamhitungan hari atau jam, melainkan menit dan detik. Pula di tempat kita berada sekarang.Jurnalis dihadapkan pada realitas seperti ini setiap saat. Di sisi lain kapling atau durasi yangdimiliki setiap media untuk menampung berita begitu terbatas. Pasokan berlimpahsementara peruntukan sedikit. Lantas, apa yang bisa dan harus dilakukan? Tiada lain ialahmelakukan seleksi. Dasarnya adalah prioritas berdasarkan urgensi.Apa pun jenisnya --televisi, radio, media online atau koran/majalah/tablod—setiap mediaharus memiliki parameter baku dalam penentuan hal yang disebut sebagai skala prioritasberita. Parameter inilah yang disebut dengan nilai berita (news value). Semakin tinggi nilaisebuah berita semakin laiklah ia kita wartakan.Secara universal, nilai berita terdaoat dalam dampak peristiwa (consequences)—ada jugayang menyebut besarannya (magnitude)—sisi kemananusiaan (human interest), ketokohan(prominance), kedekatan (proximity), serta ketepatan saat pewartaan (timeliness; - 60 -
  • 62. aktualitas, merupakan sebutan lainnya). Keunikan bisa kita tambahkan sebagai parameterlain.Susunan nilai berita tadi merupakan peringkat yang berlaku untuk media umum. Kompas,Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, Serambi, Fajar, AmbonEkspres, Cenderawasih Pos, dan majalah Tempo merupakan contoh media cetak umum.Detik.com, Viva News.com, Metro TV, SCTV, Elshinta, dan radio 68H contoh mediaelektronik umum.Untuk media khusus nilai berita tetap sama; yang mungkin berubah adalah peringkatnya.Femina dan Kartini, misalnya, lebih menekankan ketokohan terutama dari mereka yangberkelamin perempuan. Sedangkan Bisnis Indonesia dan majalah SWA lebihmenggarisbawahi konsekuensi bisnis dan ketokohan berkonteks rupiah atau dollar. Adapunaspek sisi manusiawi agak jauh dari radar mereka.Supaya lebih mudah dibayangkan, anggaplah skor kita 6 sampai 10 untuk setiap parameternilai berita. Untuk menilai kekuatan sebuah berita, tinggal kita jumlahkan saja skor itu.Berikut ini contohnya. Seorang redaktur media umum yang bermarkas di Jakarta,umpamanya, harus memilih 2 dari 4 berita reporternya untuk dimuat hari itu. Harga BBMnaik lagi, sebuah bangunan sekolah ambruk. korupsi dana APBD DKI, dan PSSI kalah lagi, itupilihannya. Yang perlu dia lakukan adalah melihat nilai setiap berita.Katakanlah hasil seperti berikut.Nilai Berita Harga BBM Bangunan Korupsi dana PSSI kalah naik lagi sekolah APBD DKI lagi ambrukKonsekuensi 10 8 9 6Sisi manusiawi 10 10 8 7Ketokohan 10 6 8 8Kedekatan 10 8 9 9Aktualitas 10 10 10 10Keunikan 6 7 6 6Total skor 56 49 50 46Kalau kondisinya seperti ini pilihannya jelas adalah berita harga BBM naik serta korupsi danaAPBD DKI. Dua berita lainnya terpaksa tidak mendapat tempat kecuali kalau sang redakturkemudian memutuskan untuk memangkas kedua berita terkuat tersebut agar dua beritalain naik.Situasi di rapat redaksi kerap memanas karena para redaktur bersikeras untuk meloloskanhasil liputan reporternya. Memperjuangkan nasib pasukan yang sudah berpayah -payahmencari berita di lapangan, itu yang mereka lakukan. Bersikap patriot boleh saja dansemestinya demikian. Namun yang menjadi patokan untuk siapa pun di sidang redaksi tetap - 61 -
  • 63. satu yaitu nilai berita. Kalau saja parameter ini jelas bagi setiap peserta rapat redaksiketegangan tak perlu terjadi. Toh semuanya bisa ditimbang dengan alat takar baku tersebut.DistorsiSesuai doktrin klasik jurnalisme, setiap wartawan hanya mengurusi berita. Ruang beritasendiri hanya berita fakta. Seperti telah disebut, kalau wartawan mau beropini boleh sajatapi tempatnya bukan di ruang beri ta melainkan di tajuk atau kolom refleksi, misalnya.“Fakta itu suci,” begitu diktum lama. Atas nama faktalah jurnalis harus memverifikasi apapun yang akan diwartakannya. Seperti kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (dalam TheElement of Journalism) jauh hari kemudian, disiplin jurnalisme adalah verifikasi. Artinya,informasi apa pun itu harus kita verifikasi sebelum naik cetak, naik siar, atau naik tayang.Dari segi lingkupnya, fakta bisa dibagi menjadi fakta individual (personal) dan fakta sosial(publi k). Yang pertama ini terkait dengan apa yang terjadi pada diri seseorang. Pada diri parapesohor misalnya, yang oleh dunia televisi kita disebut sebagai kaum selebritis. Bahwa JuliaPerez jatuh cinta lagi di lokasi syuting (sebutannya: cinta lokasi), itu fakta individual. AtauAhmad Dhani dan Wulan Jamilah bemesraan di sebuah gerai kopi di Blok M. Adapun faktapublik terkait dengan kondisi masyarakat luas. Para pengantri beras miskin (raskin) dihalaupaksa oleh satuan polisi pamong praja, misalnya. Atau pupuk oplosan beredar luas di JawaTengah. Yang harus menjadi hirauan jurnalis bukanlah apa yang terjadi pada diri Julia Perezatau Ahmad Dhani. Itu urusan mereka pribadi, tak ada sangkut pautnya dengan kepentingankhalayak luas. Ingatlah bahwa sebagai jurnal is, yang kita urusi adalah kepentingan publik.Dengan nalar inilah Aliansi Jurnalis Independen menolak untuk mengkategorikan para awakpeliput infotemen sebagai jurnalis. Publik bukanlah ranah liputan mereka. Itu saja dasarnya.Nyatanya di ruangan berita dengan mudah bisa kita temukan kandungan yang bukan fakta.Fiksi, sebutan tegasnya. Mengapa bisa demikian? Ada beberapa kemungkinan. Pertama,awak redaksi tidak mengerti betul hakekat jurnalisme berikut standar yang berlaku dilingkup ini. Kalau demikian halnya, masih lumayan. Mereka bisa diingatkan dengan mudah.Yang sulit, kalau luberan fiksi di ruang berita itu memang di sengaja dengan tujuan tertentu.Ini yang kedua. Peluberan ini kita sebut saja distorsi.Di ruang redaksi, seperti halnya di pengadilan, pegadaian, pasar tradisional dan tempat lain,sebuah fakta bisa terdistorsi. Tidak lagi seperti apa adanya melainkan kemungkinanmenjadi: (1) fakta yang sudah berfiksi; (2) fiksi berfakta (artinya unsur fiksinya sudahdominan); dan (3) fiksi murni. Jadi, seperti cahaya yang dibiaskan saja. Sesuai doktrin klasikjurnalisme, tentunya yang ideal adalah fakta murni.Mengapa distorsi bisa terjadi di lingkungan redaksi? Sebelumnya kita lihat dulu jenjang kerjadi sana. Pertama, liputan lapangan. Rekaman dan observasi ini mewujud dalam tulisan,rekaman suara, rekaman suara dan gambar, serta foto. Tergantung wartawan dari jenismedia apa yang terjun. Kedua, penulisan laporan. Ketiga penyuntingan naskah, gambar,suara, atau foto. Keempat, pemeriksaan hasil akhir. Peluang distorsi ada di setiap fase.Pelakunya? Siapa pun di antara reporter, redaktur/produser, redaktur pelaksana/produsereksekutif, atau pemimpin redaksi bisa saja. Kalau bukan karena ketaktahuan atau - 62 -
  • 64. keterbatasan wawasan, ya karena memang disengaja. Yang terakhir ini mungkin karenasikap pribadi atau agenda yang sedang djalankan media itu sendiri (setting agenda). Dalammenjalankan agenda, pembingkaian (framing) di antaranya yang dimainkan.Bisa jadi redaksi sebenarnya ingin fakta belaka yang termaktub dalam sajian berita.Persoalannya adalah masih ada kekuatan luar yang tak selalu bisa mereka abaikan. Kekuatandunia bisnis, misalnya. Di zaman sekarang sebagian media massa di Indonesia dimiliki olehpebisnis. Media utama kita dipunyai para bos konglomerat. Sangat mungkin owner campurtangan dalam kebijakan pemberitaan. Dalam hal ini mereka akan mengupayakan agar beritayang merugikan dirinya atau sekutunya dijauhkan; begitu sebaliknya. Para pemasang iklanbesar yang merupakan langganan, ada kalanya mencoba intervensi. Tujuannya? Samadengan pemilik tadi.Pada zaman Orde Baru, pemerintah rajin betul mencampuri urusan redaksi. Setelahreformasi keadaan berubah. Pers tidak takut lagi terhadap pemerintah. Yang menjadiancaman bagi mereka sekarang adalah organisasi massa, terutama yang mengusung panjiagama. Ada kalanya mereka ini mengintervensi kebijakan redaksi juga.Bagi para reporter yang sehari -hari terjun ke lapangan, usikan yang acap datang justru darikantor sendiri. Dalam hal ini: oleh atasan mereka tak hanya ditugasi mencari berita tapijuga mendapatkan iklan dan pelanggan baru. Supaya beroleh pengiklan atau pelanggan,mereka sangat mungkin terpaksa membuat liputan yang bernada promosi. Demi rupiah,fakta sangat mungkin mereka korbankan. Sebuah praktik yang sudah menyimpang jauh daridoktrin klasik jurnalisme yang telah kita bicarakan. Mereka tahu betul itu. Tapi sebagaipetugas lapangan mereka bisa apa kalau sudah diganduli beban ekstra? Inilah potret buramsebagian besar media massa kita saat ini.Apa pun faktor pengusiknya, agar tak terdistorsi seluruh awak redaksi harus memperhatikansejumlah prinsip. Antara lain, senantiasa setala dengan standar jurnalisme, berperilakuprofesional, serta mengingat bahwa mandat yang kita peroleh saat menjalankan tugasberasal dari masyarakat luas—ingat asal usul nama ‘media massa’ = media milik masa). Jugamenyadari sepenuhnya bahwa fungsi pers adalah menginfomasikan, mendidik, danmenghibur. Pula, mengakui bahwa adalah hak azasi setiap orang untuk mendapatkaninformasi yang benar. Di negara yang baru belajar demokrasi, Indonesia termasuk, fungsimendidik, dan, satu lagi, mengontrol kekuasaan—merupakan tugas penting pers sebagaipilar keempat (the fourth estate).Hal lain yang perlu kita ingat adalah sebagai pewarta, kita memiliki setidaknya tiga jenistanggungjawab yakni sosial, hukum, dan profesional. Bila tanggungjawab hukum kitaabaikan, misalnya, sangat mungkin di pengadilan kita akan berhadapan dengan kalanganyang merasa kita rugikan lewat pemberitaan. Kalau sampai digugat pailit, cilaka dua belaskita!Gaya Sajian BeritaSoal hakekat berita tadi sudah jelas. Sekarang ihwal gaya sajiannya. Secara garis besar gayaini hanya dua yakni berita langsung (straight news) untuk media yang mengandalkan - 63 -
  • 65. aktualitas, serta berita kisah (feature) untuk yang menggarisbawahi kedalaman dankelengkapan. Koran, media online-radio -televisi berita, serta media online adalah mediayang mengandalkan aktualitas. Majalah dan tabloid merupakan pengguna feature. Sebagaicatatan, kini koran pun semakin serius menggeluti feature. Peranjakan ini merupakanstrategi bertahan hidup setelah mendapat gempuran mematikan dari media online, radio,dan televisi berita. Belum lagi media jejaring sosial (social media) yang kian berkembang.Jelas, kalau masih mengandalkan berita langsung sajian suratkabar sudah basi. Merekamasih menunggu besok untuk dilahap sementara yang lain sudah saat ini juga alias realtime.Di luar berita langsung dan berita kisah, masih ada spot news (berita pendek yang perlusegera diketahui publik), soft news (dibuang sayang, pendek, merupakan gabungan beritalangsung dan berita kisah), serta news analysis. Pelengkap saja kedudukannya, sehingga takperlu kita bahas secara khusus ketiga jenis ini. Agar lebih jelas, perhatikanlah tabel yangdibuat LP3Y Yogyakarta berikut.Peristiwa Waktu kejadian Dampak Bentuk sajianAksidental Hari ini Hari ini, esok Berita langsung (straight news=hard news), bisa disertai news feature (side bar)Kelanjutan Hari ini, kelanjutan Kemarin, hari ini, Berita langsung, kemarin esok bisa disertai format featureTeragenda Nanti Nanti Berita langsung, bisa disertai format featureFenomena Dulu, kini, nanti Dulu, kini, nanti Feature, laporan mendalam (indepth report)Kasus Dulu, kini Dulu, kini, nanti Laporan investigasiLalu dimanakah letak berita mendalam dan investigasi? Perlu kita ketahui bahwa keduanyabukan gaya sajian melainkan gaya liputan. Jadi ada gaya liputan dan—sesudah liputan jadi—ada pula gaya sajian. Hasil investigasi bisa disajikan dalam bentuk feature, analisis, ataugabungan keduanya. Dengan begitu isi tabel di atas ada yang kurang pas, yakni bagianlaporan mendalam dan investigasi. - 64 -
  • 66. Derajat Kompetensi Narasumber Oleh P. Hasudungan SiraitWawancara adalah teknik mendapatkan informasi dari narasumber dengan caramengajukan sejumlah pertanyaan. Derajat intensitas wawancara tergantung kuantitas dankualitas informasi yang hendak dijaring. Ada yang hendak menggali informasi sebanyak-banyaknya dan ada yang sebatas ingin mengetahui sejumlah hal tertentu saja. Bisa jugasekadar mengkonfirmasi atau menguji validitas informasi yang sudah diperoleh. Yang palingekstrim, bisa hanya untuk mendapatkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ atau ‘tidak tahu’ darinarasumber. Dalam hal ini si pewawancara hanya ingin menjalankan prinsip cover both-sides (meliput kedua sisi) atau cover-all sides (meliput semua sisi).Lalu, siapakah narasumber yang sebaiknya digunakan? Dalam konteks jurnalisme, dasarpemilihan narasumber untuk liputan apa pun adalah kompetensi. Semakin terlibatseseorang, kian pantas dia dijadikan narasumber. Jadi ada ada derajat kompetensinarasumber, yang tolok ukurnya adalah intensitas keterlibatannya. Pertama, derajattertinggi adalah pelaku dan korban. Kedua, para saksi mata. Ketiga, pihak yang tersangkuttapi tak terlibat langsung. Pihak-pihak yang menjadi otoritas tercakup di sini.Seorang satpam atau office boy pun, dalam kasus perampokan, misalnya, bisa lebihdiperlukan daripada direktur utama perusahaan tempat mereka bekerja, kalau memangberposisi sebagai korban atau pelaku. Atau, saksi berkedudukan sebagai saksi mata.Pengamat atau ahli, kalau menurut derajat kompetensi, bukanlah sumber informasi utama.Mereka dibutuhkan untuk menjelaskan hal teknis yang tak kita kuasai. Misalnya ihwalproses fisika-kimia pada reaktor nuklir atau tentang perilaku sosial paus pembunuh diperairan Selandia Baru. Atau , perihal partikel Tuhan. Bila pokok bahasan tidak rumit betulcukup jurnalis saja yang menjelaskannya. Misalnya tentang tawuran klasik antarpendudukPalmeriam dan Berlan ( i Kecamatan Matraman, Jakarta). Sebagai peliput yang sudah dberpos lebih dari dua tahun di desk metropolitan Jakarta, umpamanya, jurnalis yangditugaskan meliput di sana seharusnya sudah memiliki pengetahuan yang memadai tentangperbenturan yang selalu berulang tersebut. Tak perlu kriminolog yang menjelaskannyasebab belum tentu mereka mengenal betul medan tawuran lama itu. Paling common sense(akal sehat) dan kliping koran saja yang akan mereka manfaatkan. Kalau narasumber sepertiitu yang kita pakai, namanya ya ‘jeruk makan jeruk.’Begitu pula soal pertambahan penduduk Jakarta setiap kali usai lebaran. Tak perlu memintapakar untuk menerangkannya. - 65 -
  • 67. Selama ini jurnalis Indonesia cenderung mengandalkan pengamat untuk menjelaskan apapun termasuk perkara yang remeh-temeh. Jelas ini merupakan gejala kemalasan berpikiratau keengganan bekerja lebih keras. Dari pada capek-capek dan berpeluh-peluh dilapangan, telepon atau SMS saja pengamat. Urusan selesai. Toh hasilnya berita juga; begituprinsipnya. Memang ini jalan pintas yang sangat praktis. Tapi terang sangat tak sehat.Bukankah berita sekaligus merupakan kesaksian pewartanya? Apa yang bisa dijadikansebagai kesaksian kalau hanya mendengarkan lewat piranti atau melihat layar hp? Di sisilain, di samping membiakkan talking news, modus ini hanya akan membuat jurnalis takkreatif dan mengabaikan disiplin verifikasi.Kalau bukan sebab malas, kemungkinan sang jurnalis kelebihan beban kerja sehinggamenempuh cara gampangan. Lumrah bahwa di Republik ini jurnalis menyetor sedikitnyatiga berita ke redaktur dalam sehari, khusunya jurnalis harian (koran, media on-line, radiodan TV). Majalah atau tabloid tidak demikian [baca: tidak kejar tayang]. Bila lokasi dan topikliputan berbeda, target setoran minimal tiga berita ini sesungguhnya kelewatan betul. Tohjurnalis bukanlah Superman yang bisa leluasa melayang mengarungi belantara kota yangserba macet seperti Jakarta dengan membelah udara. Pun mereka bukanlah sang jeniusyang bisa berkonsentrasi pada tiga perkara yang tak ringan sekaligus pada hari yang sama.Bukan sehari saja para reporter harian berlebih beban, melainkan saban hari. Wajar sajakalau akibat tuntutan yang berat betul ini pewarta kemudian membuat laku akal-akalandengan cara saling bertukar berita, kalau bukan melakukan - 66 -loning atau memeliharatuyul. Yang terakhir ini maksudnya membayar kaki-tangan di lapangan untuk mengerjakantugasnya. K etika berita muncul tentu nama para ‘tuyul’ tak ada.PerimbanganSekali lagi, dasar pemilihan narasumber adalah kompetensi. Syarat lain masih ada yaituperimbangan. Artinya, tatkala memilih sumber informasi prinsip keberimbangan perludijalankan. Terlebih , bila informasinya bermuatan pro-kontra. Tak pelak, baik yang promaupun kontra suaranya harus dihiraukan. Inilah yang dimaksud dengan cover both-sides.Meliput kedua kubu secara berimbang, dalam kasus tertentu ternyata belum cukup. Dalamkonflik bersenjata yang berimbas ke kalangan luas, semisal konflik Aceh, Maluku, atau Poso.Media massa kita pada masa itu cenderung berfokus pada pihak kombatan sehingga seakanpetempur saja yang berada di pusaran prahara. Pemberitaan konflik Aceh yang baru redasetelah tsunami tahun 2004, umpamanya. TNI-Polri, di satu sisi, dan Gerakan Aceh Merdeka(GAM), pada sisi lain, itulah yang menjadi perhatian jurnalis kita yang menjadi peliput.Jelas, sumber informasi ini masih jauh dari memadai sebab banyak kalangan yangberkedudukan sebagai stake holder (para pihak) dalam kemelut ini. Sebutlah: rakyat, ulama,pemerintah, negara asing, NGO, perguruan tinggi, atau lembaga penelitian. Masing-masingentitas ini bisa kita urai. Rakyat, misalnya. Rakyat Aceh dan rakyat Indonesia yang bukanorang Aceh. Dari segi tempat tinggal, rakyat Aceh bisa kita bagi menjadi: yang berdiam diAceh dan di luarnya. Bagaimanapun, jarak akan menentukan pertautan emosi, walau - 66 -
  • 68. pepatah mengatakan jauh di mata dekat di hati. Rakyat Aceh yang berdomisili di Aceh punmasih bisa kita kategorikan menurut kedekatan dengan pusat konflik. Mereka yang beradadi Bireun, Lhangsa, Sigli pasti lebih merasakan dampak perbenturan dibanding yangberumah di Banda Aceh, Meulaboh atau Kutacane. Seperti halnya rakyat Aceh, ulama tanahrencong juga bisa dibedakan posisinya menurut sikapnya terhadap aspirasi merdeka.Pemerintah sendiri bisa kita kategorikan menurut lingkup kekuasaanya, yakni mulai dariotoritas pusat hingga kampung (gampong ). Begitu seterusnya. NGO pun macam-macam,menurut asal -usul (lokal, masional, internasional), bidang dan wilayah kerja, atau sikapterhadap konflik.Semua pihak yang merupakan stake holder perlu dijadikan narasumber. Terlebih merekayang paling merasakan imbas konflik tapi t k bisa bersuara. Rakyat yang berada di mata apusaran, itulah mereka. Kalau menurut ajaran jurnalisme damai, wartawan harus memberiperhatian khusus pada mereka yang paling menderita ini. Menurut nalar sehat pun begitusebaiknya. Peran sebagai suara bagi mereka yang tak bisa bersuara (the voice of thevoiceless), itulah yang harus dimainkan pers, menurut konsep peace journalism.Bila semua kalangan yang berposisi sebagai para pihak menjadi sumber informasi inilah yangdimaksud dengan cover all-sides. Memang seyogyanyalah mata jurnalis tidak hanya terbukatatkala berhadapan dengan para pembesar, elit, atau juru bicara resmi.Masih ada sebuah anjuran lagi terkait dengan narasumber, yakni imparsial. Artinya, sebagaipeliput kita tidak boleh menguntungkan atau merugikan siapa pun dengan cara apa pun.Termasuk dengan menyamarkan makna yang tersirat dalam kalimat pendek. Memainkannuansa, itulah sebutan populernya. Jurnalis biasanya pintar mengolah nuansa untukmengesankan seolah sebuah berita netral adanya. Kata ‘namun’, ‘tetapi’, ‘begitupun’ ituantara lain yang dipakai sebagai pembelok makna secara halus.Tujuan Menggali InformasiSewaktu meliput, saat bermuka-muka dengan narasumber atau bercakap lewat teleponatau handphone, atau bertukar pesan lewat gadget, tujuan jurnalis satu saja yakni menggaliinformasi. Yang bisa berbeda adalah tingkat kedalaman penggalian. Tingkat penguasaanmateri oleh jurnalis akan menentukan yang satu ini. Berikut ini penjelasannya.Sedalam mungkin seorang jurnalis pemula atau yang awam alias tidak melek persoalan akanmenyiapkan ‘keranjang besar’ saat berhadapan dengan sumber informasi. Wajar sajasebab niatnya adalah menjaring informasi sebanyak-banyaknya. Saat wawancara posisinyaakan cenderung pasif sebab ia tak menguasai pokok masalah. Apa yang akan bisa ia lakukandengan posisi demikian selain menimpali ala kadarnya dengan tujuan agar narasumber terusbersuara? Paling ucapan macam “Oh…begitu ya…”, “lantas…’, atau “tanggapan Anda?” sajayang keluar dari mulutnyaKenyataannya, tak hanya jurnalis pemula yang seperti itu. Di lapangan kerap terlihat jurnalisyang sudah berjam terbang tahunan pun masih demikian. Tentu keminiman wawasanlahpenyebabnya. Lihatlah pemandangan di layar televisi tatkala jurnalis mengerumuni - 67 -
  • 69. narasumber. Di antara sekian banyak yang menyorongkan alat perekam ke arah mulutnarasumber sedikit saja yang mengajukan pertanyaan. Ironisnya, sepulang dari lapangansemuanya akan membuat berita. Perlu kita jawab apakah mereka masih bisa disebutwartawan kalau tak rajin bertanya ?Di mata narasumber yang kritis jurnalis yang kurang aktif bertanya dan cenderung pasif sajapasti kurang nilainya. Bila sumber informasinya gemar memperdaya, jurnalis macam itulahsasaran empuk untuk digarap.Bagaimanapun wawancara yang sehat adalah yang dialogis. Dalam hal ini pewawancaratidak hanya bertanya tapi juga menerangkan, mencontohkan, meluruskan, ataumembantah. Tapi jangan menggurui atau mencecar dengan nada memojokkan seperti yangacap kita lihat dalam talk show televisi kita. Ingat: jurnalis bukan jaksa atau hakim,melainkan pewarta belaka. Kalau merasa tuturan narasumber A tidak apa adanya, kita harusmenguji ulang dengan mewawancarai narasumber lain. Cross-chek, prinsipnya.Modal utama pewawancara yang baik tentu saja adalah wawasan. Seorang pemburu yangterlatih akan membekali diri sebelum menerobos rimba raya. Senjata berikut peluru akan iasiapkan di samping bekal makanan -minuman dan obat-obatan. Jurnalis pun seharusnyaseperti itu. Selain perangkat kerja, bekalnya di lapangan adalah wawasan. Bertanya danmembaca bahan terkait, merupakan cara untuk meningkatkan pengetahuan. Lewat fasilitasinternet, di masa sekarang bahan apa pun itu bisa kita peroleh dengan mudah dan cepat.Menguji validitasJenis wawancara ini lebih mudah kita lakukan dibanding dengan yang sebelumnya.Syaratnya, di tangan kita sudah ada informasi. Sumbernya? Hasl riset atau wawancarasebelumnya. Menguji validitas poin-poin penting yang perlu kita lakukan sekarang.Caranya, bertanya ke narasumber. Selain memastikan benar-tidaknya, hal lain yang kitaupayakan adalah pendalaman dan pengayaan informasi.Sekadar mengonfirmasiInformasi yang ada di tangan kita sudah hampir lengkap. Artinya kita sudah melakukan risetdan serangkaian wawancara. Validitasnya pun sudah kita uji. Yang perlu kita lakukansekadar memastikan detil dan presisi informasi tertentu.Mendapatkan ucapan la ngsungInilah jenis wawancara yang paling ringan. Prinsipnya, apa pun jawaban sumber informasitak masalah. Baik itu ujaran: benar, tidak, atau no comment. Target kita sebagaipewawancara adalah asal narasumber bicara. Sepatah kata pun tak apa. Istilahnya, kitahanya meminjam mulut. - 68 -
  • 70. Faktor PenentuSulit atau mudahkah menembus narasumber? Tergantung sejumlah faktor, di antaranyakualitas narasumber dan pewawancara, media tempat pewawancara bekerja. Kita bahassatu persatu.Kepribadian narasumber ikut menentukan. Apakah ia sosok yang tertutup atau sukaberahasia-rahasia? Kalau ya, perlu kerja ekstra untuk membuat dia sudi membuka mulut.Sebaliknya, bila dia seorang periang, hangat dan gemar bicara, ia akan bunyi dengansendirinya tanpa diransang. Kecuali kalau dirinya sedang dirundung masalah sensitif;menjadi tersangka dalam perkara korupsi atau pelecehan seksual, misalnya.Apakah narasumber menguasai pokok persoalan menjadi faktor penentu yang lain. Bila iaternyata awam pastilah wawancara tidak akan lancar. Apa yang bisa dikatakan olehseseorang yang tidak menguasai hal yang dibicarakan?Kualitas diri pewawancara juga menjadi faktor penentu. Apakah ia cerdas, komunikatif,tangkas, kreatif sehingga percaya diri? Atau sebaliknya: agak telat mikir, kurang wawasan,dan suka gugup? Narasumber akan memperlakukan sang jurnalis sesuai kualitasnya. Pastiakan lekas tampak mutu ini di mata narasumber yang cerdas.Media asal si pewawancara, bagaimanapun akan menentukan. Kalau dari televisi, terutamadari stasiun terkemuka, pasti akan lebih dipandang tinggi. Suka atau tidak suka, masyarakatIndonesia masih silau melihat awak televisi terlebih yang datang dengan kamerabroadcasting. Semakin besar dan canggih kamera itu akan kian suka mereka. Petingginegara dan opara pebisnis utama pun masih demikian. Kalau jurnalisnya dari media cetak,tetap juga mereka mereka perhitungkan asal dari media utama. Katakanlah Kompas, TheJakarta Post atau majalah Tempo. Kalau di daerah, ya media setempat yang terkemuka.Suara Merdeka, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, atau Analisa, misalnya. Kendati belum tentujurnalis dari media utama ini lebih bagus dari sejawat mereka yang berasal dari media lain.Ya, itulah kelebihan media besar: awaknya yang mendioker (kemampuannya sedang-sedangsaja) pun ikut besar juga.Kredibilitas jurnalis menjadi faktor determinan yang tak kalah penting. Boleh saja medianyabukan kelas satu; asal integritasnya tinggi kemungkinan besar orang itu tak akan dipandangsebelah mata oleh sumber informasi. Sebaliknya berlaku. Jadi nama besar media takselamanya menjadi jaminan.Faktor lain bersifat non-teknis. Di antaranya jenis kelamin pewawancara serta faktorkeberuntungan. Narasumber laki-laki biasanya lebih suka diwawancarai jurnalis perempuan.Terlebih bila yang terakhir ini cerdas dan tidak buruk rupa serta dekil. Sebaliknya, sumberinformasi yang perempuan pun lebih menyukai wartawan pria yang otaknya berisi, santun,tidak jorok dan bau, serta sedap dipandang. Hal yang manusiawi saja sebenarnya. Adapunfaktor keberuntungan, sulit dinalar. Yang pasti tergantung ‘faktor x’. Misalnya, sudah 102jurnalis yang ditampik narasumber. Ternyata yang ke -103 ia terima dengan hangat padahalawak media itu tidak istimewa dilihat dari sudut apa pun. Artinya kemujuran saja kelebihan - 69 -
  • 71. orang itu; tidak lebih. Terkadang, fakto r non-teknis seperti jenis kelamin dan peruntungan —ini lebih mentukan di lapangan.Kata kunci dalam menembus narasumber tentu saja adalah lobi. Kata lainnya, kemampuanmembangun hubungan. Sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Integritasdiri—mencakup kemampuan menjaga rahasia dan memegang janji, dan kejujuran —sertapertautan pribadi tanpa mengorbankan profesionalisme menjadi kunci dalam keberhasilanmembangun relasi. Waktulah menjadi penentu segalanya. Termasuk penentu rusaknya lobilama akibat keingkaran kecil. - 70 -
  • 72. Gaya Bahasa Jurnalisme Oleh P. Hasudungan SiraitBerbedakah ragam bahasa jurnalisme dengan ragam bahasa lainnya seperti ragam bahasafilsafat, bahasa hukum, bah asa sastra, atau bahasa ilmiah ? Kalau sama belaka mengapaada penamaan khusus? Sedangkan bila berbeda, dalam hal apa saja?Bahasa apa pun itu hakekatnya sama. Apakah itu bahasa asing, bahasa lokal, bahasakelompok profesi, bahasa isyarat atau kode atau bahasa gambar, makna keberadaannyaadalah sebagai alat atau jembatan komunikasi. Orang menggunakan bahasa dengan satutujuan yang pasti yakni supaya bisa berhubungan satu sama lain dengan baik. Artinya, salingmemahami isi pikiran atau hati. Agar hal itu terjadi syaratnya adalah pemaknaan yang samaterhadap setiap kata atau isyarat di antara mereka. Kalau lapar ya diartikan lapar, bukankasmaran.Kalau hakekatnya sama lantas apa yang membedakan ragam bahasa yang satu dengan yanglain? Tiada lain ialah khazanah kata atau isyarat yang digunakan. Satu lagi, gaya yangdipakai. Logat tercakup dalam gaya. Supaya terang mari kita bandingkan ragam bahasamiliter dengan ragam bahasa kedokteran yang dipakai orang Indonesia. Keduanyaberbasiskan bahasa nasional kita; jadi khazanah kosa katanya secara umum sama. Bedanyalebih terletak pada gaya.Bahasa militer kita sarat dengan singkatan. Sistem keamanan lingkungan dipendekkanmenjadi ‘siskamling’. Pertahanan sipil menjadi ‘hansip’. Pusat Pendidikan Kesehatanmenjadi ‘Pusdikes’.Pada masa Orde Baru, gaya menyingkat ala militer ini sempat menjadi mode di lembaga-lembaga negara. Kementerian Pendidikan pun termasuk. Suatu masa lembaga ini pernahbernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang disingkat menjadi Depdikbud.Iramanya seperti dag-dig-dug saja….Dari contoh tadi tampak, selain sarat akronim, bahasa militer cenderung kaku atau verbal.Terkaitkah itu dengan doktrin mereka dalam keseharian? Kemungkinan besar demikian.Agar lebih jelas, cermatilah slogan -slogan yang terpampang di pagar markas mereka atau diprapatan strategis di pusat kota. Contohnya, “Dalam rangka menciptakan ketertiban dankeamanan masyarakat, mari kita tegakkan Pancasila secara murni dan konsekuen” atau“Siliwangi adalah masyarakat Bogor, masyarakat Bogor adalah Siliwangi.”Ketika menulis panjang—dalam format buku atau makalah, misalnya—orang militer sukamenjabarkan dengan menggunakan pointer. Menjadi kaku, tentunya. Selain karena polapikir yang serva verbal, tampaknya ini dipengaruhi oleh format sumpah mereka yangberbentuk poin-poin. Sapta marga, misalnya.Gaya bahasa kedokteran lain lagi. Cermatilah resep yang ditulis dokter. Singkat dan saratbahasa asing (Latin).Tulisan tangannya sendiri, entah mengapa, sulit dibaca oleh orang yang - 71 -
  • 73. bukan dokter atau apoteker. Tampaknya ini disengaja atas nama kerahasiaan bisnis.Gambaran yang lebih terang dari tulisan dokter bisa dilihat dalam buku, artikel atau makalahyang mereka tulis. Lazimnya, hemat kata dan serba teknis sehingga akan sulit dicerna kaumawam. Tentu ada juga dokter yang piawai menulis populer. Kartono Mohamad, FaisalBaraas, Hendrawan Nadesul, Naek L Tobing, Wimpie Pangkahila, atau Boyke, misalnya.Mereka memang kolumnis sehingga mau tidak mau harus mempopulerkan gaya.Merupakan kekecualian, mereka; seperti halnya TB Simatupang, AH Nasution, Hasnan Habibatau Sayidiman Suryohadiprodjo—mereka sudah almarhum—di lingkungan militer.Itu gaya bahasa militer dan kedokteran. Ragam bahasa Hukum berbeda lagi. Ciri khasnya,sarat dengan ayat dan pasal. Tidak langsung ke poin masalah. Istilah teknis berbahasaBelanda kerap dipakai.Lantas bagaimana dengan ragam bahasa jurnalistik; sepert apa gerangan cirinya? Di manapun di belahan jagat ini ciri bahasa pers sama yaitu sederhana, hemat, lincah -dinamis,kreatif, serta logis. Berikut adalah p enjelasannya.SederhanaKembali ke sejarah. Sebagai sosok yang lahir pertama, media cetak merupakan induk darisegala media massa. Di lingkup ini koran menduduki posisi istimewa. Merupakan mediacetak yang paling berkembang di seluruh dunia sekian lama, dengan sendirinya suratkabarsekaligus menjadi laboratorium utama tempat produk-produk jurnalisme dilahirkan, diuji,dan dikembangkan. Jadi, wajar saja kalau terbitan ini merupakan peletak dasar sebagianbesar aturan jurnalisme. Termasuk gaya bahasa dan gaya tulisan.Sejak masa rintisan ratusan tahun silam—terlebih sejak Johann Gutenberg mengembangkanmesin cetak tahun 1440-an di Mainz, Jerman—para pengelola koran di mana pun terobsesiagar produknya bisa segera sampai ke tangan pembaca dan sajian tersebut dapat dinikmatiselekasnya. Yang pertama ini soal cara distribusi dan yang kedua ihwal gaya sajian. Sebagaiorang redaksi, yang perlu kita bahas dalam tulisan ini gaya sajian saja.Terkait dengan gaya sajian, para jurnalis mengembangkan berbagai model tulisan. Salahsatunya adalah berita langsung (straight news). Sekali mengenal model ini biasanya awakredaksi koran akan merasa seperti berjodoh. Klop betul. Praktis, itu alasannya. Strukturnyasederhana dan menuls mengikuti pola bakunya ( template) tidak susah.Berstruktur piramida terbalik, prinsip berita langsung adalah utamakan yang terpenting.Meminjam istilah Stephen R. Covey (dalam The 7 Habits of Highly Effective People) yangmuncul ratusan tahun kemudian, first thing first. Berita langsung kemudian disebut jugaberita keras (hard news) sebab mengedepankan fakta-fakta keras. Gaya tuturannyalempang, tidak meliuk-liuk. Prinsipnya: di bagian pembuka yang tak lebih dari 36 kata—kalau dalam bahas Indonesia—itu tampilkanlah in ti informasi (apa, siapa, kapan, dandimana). Kalau mungkin masukkan juga mengapa. Bila tidak, letakkanlah di tubuh beritabersama unsur how (bagaimana). Adapun tubuh berita berisi penjelasan pembuka tadi. - 72 -
  • 74. Bagi mereka yang bertugas menyunting berita (editor) model berita langsung ini jugamemudahkan pekerjaan. Kalau berita lebih panjang dari kapling, tinggal penggal saja bagianbawah. Asal bukan kepalanya, tidak merupakan perkara besar kalau tulisan diamputasi.Kepraktisan berita langsung semakin di rasakan para jurnalis ketika mereka bisamemanfaatkan teknologi terdepan dalam pengiriman berita saat itu, yakni telegraf [telegrafelektronik dipatenkan Samuel F.B Morse tahun 1837 di AS. Bedanya dari yang lain alat inimenggunakan kode Morse]. Kendati pengiriman bermasalah, misalnya bagian tengah kebawah terpotong, si pengirim masih bisa bernafas lega. Asal jangan lead-nya yangterpenggal. Bila kepala berita selamat, redaktur di kantor masih bisa mengembangkannyananti dengan menggunakan ‘ilmu tafsir’ dan mengkompilasi bahan terkait sebelumnya.Ketika mesin faksimili kemudian menjadi andalan dalam pengiriman berita—mesin inibanyak dipakai sejak dekade 1970-an—kepraktisan straight news masih dirasakan parajurnalis. Begitupun ketika zaman komputer tiba di mana wartawan menulis berita diperangkat kecil seperti laptop, handphone pintar, atau Ipad serta mengirimkannya lewatinternet. Sekali lagi, kesederhaan model berita langsunglah yang menjadi alasannya. Darisegi bahasa, cirinya adalah serba efisien. Mengedepankan hal terpenting, langsung ke poinutama tanpa meliuk-liuk. Efisiensi dan efektivitas menjadi kata kuncinya.Gaya sajian berita media massa bertambah setelah kehadiran media cetak bukan harian.Majalah terutama. Sebagai media yang periode terbitnya lebih dari sehari (umumnyamingguan) majalah tidak menggunakan gaya berita langsung lagi. Agar sajiannya tidak basi,mereka memang harus menerapkan strategi yang berbeda. Menukik ke kedalaman danmenjangkau keluasan wilayah berita itu yang harus mereka lakukan agar selamat dalampertarungan dengan harian. Dengan kandungan sajian seperti ini tentu saja gaya sajianstraight news tak pas untuk mereka. Yang lebih cocok adalah gaya bercerita (feature). Kalaudikawinkan dengan gaya bedah masalah (analisis) akan lebih mantap.Dari segi bahasa, feature agak lain dibanding straight news. Kendati sama-samamenggarisbawahi efisiensi dan efektivitas, bahasa feature lebih luwes. Ya, namanya jugaperkisahan. Pilihan katanya lebih hidup dan sastrawi. Kaplingnya yang lebih panjangmemungkinkan penggambaran (deskripsi) dan adegan—termasuk percakapan yangdipenggal—termaktub di sana. Kalau bahasa berita langsung cenderung mekanistis, bahasafeature dinamis karena harus membangun suasana.Seperti halnya koran, majalah dan tabloid yang muncul kemudian, tetap meggarisbwahikesederhanaan dalam gaya dan isi sajian. Termasuk alur cerita, teknik perkisahan, sertapilihan bahasa. Tanpa mengorbankan bobot, tentu saja. Ihwal dasar pikiran kesederhaanbahasa, berikut ini catatannya. Koran sejak awal merupakan bacaan seluruh lapisan masyarakat . Tak masalah apakahperempuan, lelaki, tua, muda, berpendidikan atau tidak, orang kota atau warga kampung.Dalam sebutan anak muda sekarang, all in one. Artinya semua kasta merupakan pembacakoran yang sama. Konsekuensinya adalah sajiannya harus mudah dicerna oleh siapa punterlepas dari latar belakang usia, pendidikan, serta yang lain. Ini terkait dengan caramenjelaskan dan menuliskan. Prinsipnya, seberat dan serumit apa pun pokok bahasa, - 73 -
  • 75. terjemahkanlah sedemikian rupa sehingga menjadi mudah dicerna oleh siapa saja. Sebutanlainnya adalah: buatlah menjadi gamblang tanpa mengorbankan kandungan informasi.Katakanlah laporan tentang penemuan partikel Tuhan (Higgs Boson) oleh tim peneliti CERN(European Organization for Nuclear Research) di Jenewa, Swiss, Juli 2012. Penjelasan ilmiahihwal partikel yang dianggap sebagai pemicu awal gerak berantai energi atom di alamsemesta ini pastilah rumit betul. Para ahli pu n masih simpang siur saat memaknainya.Begitupun, jurnalis yang mewartakannya harus bisa menerangkannya secara sederhana dangamblang. Caranya, misalnya, dengan menggunakan analogi yang akrab bagi kaum awam.Sebisa mungkin kita minimalkan penggunaan peristilah berikut rumus fisika yang serbateknis.Simplify! Simpliy! (Sederhanakanlah! Sederhanakanlah!) Ini salah satu anjuran klasik dalamdunia jurnalisme. Bagaimana caranya? Yang pertama tentunya, kita harus mengerti betulduduk perkara yang akan kita w artakan. Dengan begitu niscaya kita akan bisa menguraikanpokok bahasan dengan jernih. Hubungan sebab -akibat (kausalitas) menjadi jelas. Langkahberikutnya adalah menuangkannya dalam tulisan yang mudah dimengerti oleh siapa saja.Yang kita perlukan untuk itu adalah struktur, paragraf, kalimat dan kata yang serbasederhana. Struktur terdiri dari judul, pembuka (lead), tubuh dan penutup. Buatlah strukturyang tidak njlimet (istilah anak muda sekarang: ribet) dan berlekuk-lekuk. Caranya, ikutiprinsip yang baku. Katakanlah laporan kita dalam bentuk straight news. Judul singkat, padatdan merupakan cerminan dari inti informasi. Lead [disebut juga teras] berisi satu paragrafyang merupakan pemadatan inti informasi. Ibarat manusia, judul dan lead merupakan anakdan ibu kandung. Adapun penutup, dimana pun bisa dalam straight news, asal masih dibawah teras.Bagaimana dengan kesederhanaan kata, kalimat, dan paragraf? Mari kita mulai denganmelihat hubungan ketiganya. Kata membangun kalimat; kalimat membe ntuk paragraf. Katabenda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata ganti, kata depan, kata sambung, katasandang, dan partikel (lah, kah), itu antara lain jenis kata. Kalau dari strukturnya kitamengenal, antara lain, kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, serta kata majemuk.Kata merupakan unsur bahasa yang paling sederhana strukturnya. Kita tentu akrab dengankata sebab setiap jam menggunakannya. Jadi tak perlu dibahas lebih panjang lagi. Kalimatdan paragraf lebih mendesak untuk dibicarakan.Sejumlah kata membangun satu kalimat. Subjek dan predikat minimal harus ada dalamsebuah kalimat. Kalau ada objek dan keterangan, itu akan lebih lengkap. Setiap kalimatmengandung makna yang jelas dan logis. Kalimat “Saya memakan kari kambing”, terangmaknanya dan logis. Sedangkan “Kari kambing memakan saya” jelas artinya tapi tidak logis.Kalimat banyak ragamnya, di antaranya, kalimat berita dan perintah. Sejumlah kalimatmembangun sebuah pragraf. Kandungan alinea bisa aneka. Inti masalah, penjelasante ntang sesuatu, contoh, ilustrasi, bukti, alasan, argumen, proses logis (penalaran), penggalperkisahan, gambaran, rincian, hasil dari sebuah proses, di antaranya. Yang pasti setiapparagraf hanya mengandung sebuah ide pokok saja. - 74 -
  • 76. Paragraf yang satu harus bertaut betul dengan yang berikutnya. Artinya, misalnya, alinea ke-5 ini merupakan penjelasan dari yang ke-4. Kalau tidak, salah satu dari yang berikut: uraian,penggalan ucapan untuk menegaskan alinea ke -4, fakta penguat, landasan ilmiah, atauperanjakan ke suasana baru.Kunci dari kesederhaan ragam bahasa jurnalisme terletak pada kata dan kalimat. Hindarilahkata-kata yang susah diucapkan oleh khalayak sasaran. Juga kata yang asing, atau sudah taklazim dipakai seperti: ‘ mengejawantahkan’ (=mewujudkan) atau ‘dalam rangka ‘ (= untuk).Sebaliknya, pakalilah kata yang akrab di telinga mereka. Gunakanlah kalimat yang pendekagar strukturnya simpel. Kalimat yang panjang—dengan anak kalimat atau bahkan cucukalimat—cenderung membuat paparan menjadi rumit dan berat.Jurnalisme terus berkembang seturut zaman. Setelah koran, yang muncul adalah majalahdan tabloid. Sumber berita masyarakat kian banyak. Ternyata, radio yang semula lebihberfokus pada sajian hiburan, belakangan ikut semakin serius merambah belantara berita.Sejak tahun 1970-an televisi pun melakukan hal yang sama di seluruh dunia. Pendatang baruyang sekaligus paling progresif di dunia berita adalah media online. Dalam konnteksIndonesia, contoh yang paling fenomenal tidak lain dari Detik. com. Sedangkan untuk radio,Elshinta.Kecepatan penyampaian berita yang diidamkan para pengelola suratkabar di zamanbaheula , kini dengan mudah bisa diwujudkan oleh awak radio berita, televisi dan mediaonline. Mereka ini praktis tidak terkendala lagi manakala hendak siaran atau mewartakansecara live. Radio dan televisi misalnya. Breaking news, bisa mereka munculkan setiap saat.Bila tak mau mengganggu jadwal acara, mereka bisa memakai jurus lain untukmenyampaikan informasi terbaru. Radio bisa memanfaatkan cuap-cuap pembawaacaranya; sedangkan televisi dapat memanfaatkan running text. Media online dapat lebihleluasa lagi dibanding keduanya. Sungguh kemajuan yang tak terperikan.Seperti halnya koran, khalayak yang disasar media massa lainnya—radio, televisi dan mediaonline—sama majemuknya. Sebab itu kesederhanaan penyampaian menjadi keniscayaanbagi mereka juga. Prinsip awak suratkabar berlaku untuk mereka, termasuk dalamberbahasa jurnalistik. Berikut ini keterangan ihwal prinsip berbahasa dimaksu d.JelasPengertian ‘jelas’ dalam konteks kata-kalimat-paragraf, artinya tidak mengambang ataumembingungkan akibat multi -tafsir. ‘Tak seberapa’, ‘begitulah’, ‘tak banyak’, ‘lumayan’,‘atau ‘bisa ya bisa tidak’ merupakan contoh kata yang bisa ditafsirkan macam-macam.Dalam bahasa jurnalisme makna yang tersirat sebaiknya kita hindari agar serba benderang.Jalankanlah selalu prinsip: enyahkan kata atau kalimat berkabut!Terkait dengan struktur kalimat, perhatikanlah agar subjek, predikat, objek dan keteranganpasti kedudukannya dan tidak rancu. Mana yang menerangkan yang mana haruslah jelas.Satu hal lagi yang perli kita ingat: bahasa Indonesia kita menggunakan struktur diterangkan-menerangkan (DM). ‘Mobil merah’, bukan ‘merah mobil’. ‘Mawar mekar’, bukan ‘mekarmawar’. - 75 -
  • 77. Alur pun harus jelas agar tak membingungkan atau menyesatkan khalayak. Terlepas alur apapun yang kita pilih—kronologis; kilas balik; spasial: menjelaskan bagian per bagian; masalahdan penyelesaian masalah; atau campuran alias kombinasi. Setiap jalan cerita—5W+1H —harus jelas.HematKapling atau durasi media massa apa pun pasti terbatas. Sebab itu harus kita manfaatkanseefisien mungkin. Caranya, hindari kemubaziran. Inilah yang disebut prinsip ekonomi kata.Ini berlaku untuk reportase yang akan dituangkan dalam gaya apa pun (straight news,feature, soft news, news analysis , atau refleksi). Tanpa mengubah makna, buanglah katayang tak perlu. Berikut ini contohnya.MemberikanMemberikan pertolongan = menolong; memberi bantuan = membantu; memberikankepercayaan= memercayakan; memberi kan nasihat + menasihati; memberikan pengarahan= mengarahkan, memberi gambaran = menggambarkan; ………..MelakukanMelakukan pemerkosaan = memerkosa; melakukan pemeriksaan = memeriksa; melakukaninspeksi mendadak = menginspeksi mendadak; melakukan pembunuhan = membunuh;melakukan pencegahan = mencegah; melakukan perlawanan = melawan; melakukankampanye = berkampanye; melakukan serah-terima = berserah-terima; melakukanpembaruan=memperbarui;…..MengajukanMengajukan permintaan = meminta; mengajukan permohonan = memohon, mengajukangugatan = menggugat; mengajukan penawaran = menawar; mengajukan banding = naikbanding; …..Sejumlah, sebanyak, seberatKecuali di awal kalimat, kata ‘sejumlah’ dan ‘sebanyak’ bisa kita hilangkan. Contoh:Sejumlah 20 ekor = 20 ekor; sebanyak 10 rumah = 10 rumah; sejumlah 3 cangkir kopi = 3cangkir kopi, sejumlah 25 pegawai= 25 pegawai; sebanyak 200 gerilyawan = 200 gerilyawan;seberat 20 kilo= 20 kilo; seberat 3 ton= 3 ton; ….HariHari Kamis = Kamis, Hari Senin = Senin; ……..BulanBulan Desember = Desember; bulan Maret = Maret;……..Lincah-dinamisSelain serba jelas dan hemat, penggunakan kalimat aktif dan pilihan kata atau istilah yangsegar (bukan yang penat) membuat bahasa jurnalisme menjadi lincah dan dinamis.Berbeda dari bahasa militer atau hukum yang cenderung verbal tadi. - 76 -
  • 78. KreatifJurnalis merupakan ujung tombak informasi. Berada di aras depan, dengan sendirinyakelompok profesi ini menjadi peka betul terhadap perubahan di tengah masyarakat.Perubahan dalam hal apa pun termasuk gaya berbahasa. Kaum mudalah pelaku utamadalam eksperimen gaya bahasa.Menangkap semangat zaman dalam berbahasa, tak pelak lagi kita sebagai pewarta akanterus dinamis dalam menyajikan karya jurnalisme. Unsur-unsur baru kebahasaan secarasengaja akan kita resapkan di sana. Semangat zaman jualah yang akan menentukan apakahunsur baru tersebut akan langgeng atau hidup semusim saja. Pada suatu masa, misalnya,kata ‘kece’ dan ‘memble’ bertabur di media massa. Kini kita hampir melupakannya samasekali keduanya. Kini kita akrab dengan kata ‘keren’, ‘gue banget’, ‘banget-banget’, ‘nge -twit’, ‘BBM-an’ atau ‘up-date status’. Sangat mungkin yang sedang in betul ini pun taklama lagi akan digantikan oleh yang baru. Media massa, dengan segala kreativitasnya, selalusiap menyahuti dinamika kebahasaan ini.LogisIni terkait betul dengan prinsip sederhana dan jelas tadi. Bahasa jurnalisme harus lempangkalau dilihat dari kacamata penalaran. Artinya strukturnya (subyek, predikat, obyek,keterangan) tidak rancu. Yang mana diterangkan oleh yang mana (ingat hukum DM) harusterang. Lantas cara penyimpulan juga [induktif atau deduktif] harus tepat.Berikut ini contoh kekeliruan sejumlah jurnalis tatkala menggunakan logika bahasa.Contoh 1.“….Dalam pemeriksaan tak menutup kemungkinan penambahan jumlah terangka.”Catatan:Subyeknya seolah adalah pemeriksaan. Apakah pemeriksaan mahluk hidup sehingga bisamenutup atau tidak menutup kemungkinan? Kalimat ini rancu. Yang benar ad alah:“….Dalam pemeriksaan tak tertutup kemungkinan jumlah tersangka bertambah.”Contoh 2.“……Dari bukti ini memperkuat dugaan bahwa tersangka telah berbohong di hadapanmajelis hakim.” Catatan:Yang mana sebenarnya yang memperkut: dari bukti -kah atau bukti? Tentu saja bukti. Jadi,kata ‘dari’ harus kita buang.Contoh 3.“Nama Alicia Keys (20) kini sedang menjadi anak kesayangan orang industri musik popAmerika. Ia disebut sebagai penyanyi R&B pendatang baru palng sensasional.”CatatanSiapa sesungguhnya yang menjadi anak kesayangan: nama Alicia Keys-kah atau Alicia Keys?Tentu saja orangnya, bukan namanya. Kata ‘nama’ membuat kalimat rancu. - 77 -
  • 79. Contoh 4.“ Alicia Keys sedang dimanja, sementara nama-nama seperti Mariah Carey atau WhitneyHouston seperti akan terlupakan.”Catatan:Kalau membandingkan seharusnya yang sepadan. Bahasa kerannya: apple to apple.Harusnya Alicia Keys dikomparasikan dengan Mariah Carey dan Whitney Houston, bukandengan nama-nama seperti Mariah Carey, atau Whitney Houston.Di media massa kita kesalahan logika bertebar. Penyebabnya adalah penalaran yang tidaklempang. Sangat mungkin si pembuat kesalahan tidak menyadari kekeliruannya. Buktinyaperulangan terus terjadi.Menggarisbawahi lagi, bila hendak menilai paparan dan bahasa jurnalistik sebuah berita adaparameter yang bisa kita gunakan. Parameter dimaksud ada dalam tabulasi berikut.Parameter ragam bahasa JurnalismeSisi Hasil evaluasiAlur paparanDeskripsi/EksposisiPilihan kata (diksi)Ekonomi kataLogika - 78 -
  • 80. Berita yang Berbobot Oleh P. Hasudungan SiraitPaling tidak ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam pencarian berita, yakni mencari data lewat riset,mewawancarai, serta mengobservasi. Dalam dunia jurnalistik ketiga pekerjaan ini merupakantahapan standar dalam pencarian berita (news gathering). Berikut penjelasannya.Riset dataIni merupakan langkah pertama. Sebelum terjun ke lapangan sebaiknya kita mempelajari dulu pokokbahasan yang akan kita jadikan liputan. Kalau itu masalah, harus jelas duduk perkaranya, akarpersoalan, para pihak yang tersangkut, dan yang lain. Dengan begitu kita bisa merumuskan latarpersoalan dengan baik. Materi awal yang bisa kita gunakan adalah hasil riset. Bentuknya adalah datadan informasi pendukung lainnya.Pada sisi lain reportase apa pun itu akan kering dan kurang meyakinkan kalau datanya minim.Terlebih jika tanpa data. Dengan data yang akurat, persuasi atau peyakinan menjadi tak sulit kitalakukan. Juga kita tak perlu berpanjang-panjang menjelaskan; perlihatkan saja datanya makaurusannya pun beres. Sebab itu data pendukung laporan perlu kita siapkan sejak awal.Riset tambahan bisa kita lakukan sebelum atau sesudah wawancara dan observasi. Tapi lebih baiksebelum turun ke lapangan. Wawancara dan observasi akan lebih mudah kita lakukan kalausebelumnya kita sudah tahu peta masalahnya. Kita akan lebih fokus pada masalah dan tak akanmudah dikecoh oleh siapa pun. Di lapangan, selain menggali informasi tambahan kita bisa mengujiinformasi yang sudah ada di tangan.Sebaiknya riset data tak sekali saja kita lakukan. Setelah pulang dari lapangan dan hendakmempersiapkan naskah akan lebih baik lagi kalau riset kita teruskan. Tujuannya adalah pengayaan,menguji uji ulang atau membandingkan informasi.Riset bisa kita lakukan dengan memanfaatkan kliping koran dan majalah, buku atau terbitan khusus.Bahan ini bisa kita pesan ke bagian data di perpustakaan, kalau di kantor kita memang ada fasilitastersebut. Kalau narasumber yang kita wawancarai memiliki bahan yang menarik ada baiknya bahanitu kita pinjam.Katakanlah kita sedang mempersiapkan artikel ihwal busway dan kemacetan Jakarta. Laporan akanlebih kuat kalau kita punya data yang memadai tentang busway (termasuk konsep awalnya, sejarahlahirnya, trayeknya sekarang dan yang sedang dipersiapkan, jumlah armada awalnya dan kini, paraoperatornya sekarang) dan kemacetan Jakarta (antara lain titik-titik rawan dan penyebab macet[kendaraan, infrastruktur, manusia, dan regulasi]).Di zaman internet sekarang mencari data apa saja menjadi mudah. Cukup browsing di situs saja.Masuklah ke google misalnya, segala macam data berlimpah di sana. Cara masuknya (ini perlu bagi - 79 -
  • 81. mereka yang masih awam internet), tulislah www.google.co.id atau www.google.com setelahinternet aktif. Tuliskan kata kunci data yang hendak dicari. Misalnya mau mencari data ihwal KutaiKartanegara. Ketik saja ‘kutai kartanegara’ atau ‘kutai’. ‘Kartanegara’ juga bisa. Pasti akan banyakdata keluar. Jadi sekarang sudah tak ada lagi alasan bahwa mencari data susah.WawancaraWawancara adalah teknik mendapatkan informasi dari narasumber dengan cara mengajukansejumlah pertanyaan. Ihwal wawancara telah kita bicarakan dalam tulisan tersendiri di bungarampai ini.ObservasiYang dimaksud dengan observasi adalah menangkap realitas di sekitar dengan mendayagunakanpanca indera (indera penglihat [mata], pendengar [telinga], pencium [hidung], perasa [lidah], danperaba [kulit]). Pencitraan kita lakukan dengan memanfaatkan kelima indra sekaligus.Naskah berbentuk perkisahan akan kuat jika penggambarannya hidup. Artinyapembaca/pendengar/pemirsa seketika bisa merasakan atmosfir yang dilukiskan. Sepertimenyaksikan adegan film, afeksi (perasaan) pembaca kontan tergugah seturut kisah tertulis ataututuran saja. Belum lagi bila melihat gambarnya yang hidup. Tergelak, tersenyum geli, menarik nafaslega, terharu (dari mata yang berkaca-kaca hingga air mata yang tak terbendung), khawatir,tercekam, gemas, kesal, benci, itu antara lain kemungkinan mereka.Observasi perlu kita lakukan agar penggambaran hidup. Inilah jurus andalan para penulis novel ataucerita pendek piawai. Juga jurus para penulis non-fiksi terlatih yang menghasilkan laporan kuat ihwalperjalanan, reportase dari ruang pertunjukan atau pameran, tinjauan, artikel reflektif, profil, bografi,dan rupa-rupa karya lain.Selain itu, dengan pengamatan seorang penulis bisa meminimalkan penggunaan kata sifat.Peminimalan ini sesuai dengan anjuran dalam dunia tulis-menulis: don’t tell but show (jangankatakan tapi perlihatkan). Kata sifat perlu dikurangi karena akan membiakkan tafsir. “Kaya’, ‘murah’,‘jauh’, ‘ramah’, ‘menderita’, atau ‘cantik’ itu relatif. Sebab itu kita gambarkan saja agar lebih definitifatau tak multi-tafsir. Kita, misalnya, tidak akan mengatakan ‘lelaki gemuk dan pendek’ itu lagimelainkan ‘lelaki berukuran sekitar 90 kilogram dan 155 centimeter’. Tentu saja tak semua hal haruskita deskripsikan; hanya yang penting saja.Pengamatan akan lebih mudah kalau kita lakukan sembari membuat sketsa. Objek itu letaknyadimana dan bagaimana kedudukannya serta di sebelah mana objek yang lain—itulah yang kitagambar dalam bentuk sketsa. Yang namanya sketsa tak perlu detil dan persis, cukup gambaranumumnya saja. Sebutlah kita sedang berada di sebuah lokasi pengungsian. Yang perlu kita buatsketsa adalah bangunan utama di sana. Katakanlah gedung sekolah berikut tenda -tenda dihalamannya. Kalau ada posko atau puskesmas darurat gambarkan juga. Sketsa tambahan yangmerupakan gambaran mikro bisa kita buat. Misalnya gambaran keadaan di sebuah tenda atau poskopelayanan kesehatan.Semua jurnalis yang sedang meliput di lapangan pun sebenarnya sangat perlu mengobservasi.Tujuannya ya agar liputannya lebih berwarna dan lebih hidup. Selama ini wartawan kita umumnyaterjun ke lapangan hanya mengandalkan pendekatan wawancara. Artinya perolehan berita hanyadengan mewawancarai narasumber. Pengamatan yang intens diabaikan. Itu terjadi untuk liputanapa pun dan media massa apa pun (cetak, radio atau televisi). Maka, ketika telah menjadi berita - 80 -
  • 82. sajian itu hanya berupa kabar cuap-cuap (talking news) saja apalagi kalau riset data sebagaipengayaan tak dilakukan pula.Verifikasi atau menguji fakta, seperti kata Bill Kovach dan Tom Rosenstein (dalam The Element ofJournalism ), merupakan disiplin dari jurnalisme. Artinya mutlak dilakukan. Untuk bisa memverifikasiharus dengan pengamatan atau observasi.Berita berbobotKatakanlah pencarian berita telah rampung. Sekarang kita akan meramunya menjadi sebuah sajian.Bagimana caranya agar sajian itu berbobot?Secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa berita yang berbobot adalah yang bukan talkingnews dan dangkal karena faktanya tipis. Secara teknis, kualifikasinya antara lain terjaga sudut berita(angle), judul, pembuka lead), nilai berita, narasumber, keberimbangan informasi, penggalianinformasi, verifikasi, latar masalah dan akurasi-nya. Berikut pembahasannya. Kita berfokus padanaskah karena toh semua jenis media menggunakan n askah. Khusus untuk jurnalis radio dan televisi,naskah saja memang tak cukup. Awak radio memerlukan suara dan orang televisi membutuhkangambar bersuara (audiovisual). Bagi mereka ini, naskah boleh menyusul, kalau bukan yang pertamadigarap.Sudut berita (Angle)Sebuah peristiwa bisa dilihat dari pelbagai sudut karena dimensinya niscaya banyak. Jadi kita harusmemilih satu sudut yang paling menarik. Ukuran yang kita pakai dalam pemilihan ini adalah nilaiberita.JudulUntuk straight news singkat-padat dan mencerminkan inti masalah. Diandaikan bahwa denganmembaca judul saja khalayak sudah bisa menangkap hakekat berita. Sedangkan untuk feature jugasingkat -padat, tapi sangat mungkin untuk dimainkan agar langsung menarik perhatian (eyecatching). Kalau bisa menggoda akan lebih baik. Jadi berbeda dengan straight news yang langsungmerujuk ke jantung persoalan.Pembuka (Lead)Untuk straight news pembuka merupakan penjabaran atau eksposisi dari judul. Dengan demikiankeduanya harus sinkron. Isi pembuka adalah keenam unsur berita (5W+1H). Namun pembuka takboleh berpanjang -panjang. Untuk tulisan berbahasa Indonesia maksimal 36 kata saja. Adapunnaskah radio lebih pendek. Karena itu besar kemungkinan keenam unsur berita tak bisa termaktubsekaligus. Paling unsur apa, siapa, kapan, dimana yang bisa masuk. Atau ditambah mengapa. Takapa. Unsur bagaimana —yang merupakan eksplanasi sehingga lebih panjang—bisa ditempatkan dialinea berikutnya. Unsur mengapa pun begitu kalau tak bisa di pembuka.Untuk feature aturannya sangat longgar. Unsur 5W+1H-nya bisa ditaruh dimana saja asal janganterlalu jauh dari pembuka. Feature adalah sajian bergaya perkisahan. Karena memakai pendekatancerita maka awalannya bisa dari mana saja asal menarik. Sering disebut bahwa untuk featurepembuka adalah etalasenya. Artinya, itulah yang pertama dilirik orang; kalau tak menarik tak akan - 81 -
  • 83. dibaca terusannya. Panjang pembuka ini tidak dibatasi. Asal tidak terlalu panjang saja supaya takmenakutkan pembaca atau membuat mereka lang sung tersengal.Nilai BeritaUnsurnya adalah consquences, human interest, prominence, proximity, dan timeliness. Ada juga yangmenyebut consequence, human interest , proximity, prominence dan timeliness. Baik kita uraikanunsur dimaksud.Consequence adalah akibat atau dampak peristiwa. Jadi jauh lebih luas dari sekadar magnitudeperistiwa. Dalam kasus pesawat terbang yang jatuh yang kita lihat misalnya adalah eksesnya. Berapajumlah korban jiwa, seberapa parah keadaannya, berapa besar kerugian yang diakibatkannya?Human interest adalah sisi kemanusiaan yang ada dalam peristiwa. Makin pekat sisikemanusiaannya kian tinggi nilai beritanya.Prominance adalah ketokohan orang-orang yang terlibat dalam sebuah peristiwa. Ada tidak orangpenting atau tenar terlibat? Itulah pertanyaan utamanya. Kalau ada akan lebih bernilai.Proximity adalah kedekatan khalayak dengan peristiwa. Kedekatan di sini bisa dalam artian jarakatau geografis dan emosional. Semakin dekat kian tinggi nilai beritanya.Timeliness adalah ketepatan waktu peristiwa. Pas tidak timing-nya kalau peristiwa itu diliput? Itupertanyaan gamblangnya. Kebaruanalias aktualitas tercakup dalam timeliness ini.Dalam sebuah peristiwa, unsur nilai berita mana saja yang ada? Kalau semua unsur ada akansemakin baik, seperti bencana Tsunami di Aceh. Prinsipnya, semakin banyak unsur kian baik. Apalagikalau tinggi pula nilainya. Pertanyaan berikutnya, unsur nilai berita mana yang paling menonjol?Pertanyaan ini perlu dijawab untuk menentukan sudut berita, judul dan lead nanti.NarasumberJurnalis mendapatkan informasi dari pelbagai kalangan. Caranya adalah dengan bertanya secaraformal atau informal. Asal informasi inilah yang disebut narasumber. Semakin banyak narasumberuntuk sebuah berita akan lebih baik sebab kemungkinan akan lebih beragam versi yang bisadipertimbangkan untuk digunakan. Yang ideal adalah satu berita banyak narasumber; bukansebaliknya, satu narasumber banyak berita.Keberimbangan informasi artinya keterjagaan prinsip cover both-sides dan cover all-sides danimparsialPenggalian informasi artinya sejauh mana unsur 5W+1H dan hubungan kausalitasnya didalami.Apakah sajian menjadi komprehensif dan mendalam? Itu pertanyaan kuncinya.VerifikasiSetiap informasi yang kita dapatkan perlu kita uji kebenaran atau kesahihannya. Uji materil, ituprinsipnya. Caranya adalah dengan check and reche ck, kalau perlu triple check ke narasumber lainyang memang kompeten dan mencocokkannya dengan realitas di lapangan. Tanpa bukti, tak adacerita. Mengapa begitu pelik? Karena tuntutan publik terhadap kita adalah akurasi. Kalau tidakakurat besar potensi kita untuk merugikan orang atau kalangan yang diberitakan. Kalau kitadianggap merugikan maka jerat hukum siap menyasar leher kita. - 82 -
  • 84. Latar masalahKita sebaiknya tidak mengandaikan khalayak mengikuti perkembangan berita intens dari awal. Yangbaru menit ini mengikuti berita perlu kita perhitungkan. Karena itu kita perlu senantiasamemunculkan peta masalah secara singkat-padat dalam reportase. Tujuannya agar siapa pun,termasuk yang baru mengikuti berita, langsung bisa nyambung atau in tune.Bertolak dari standar jurnalistik yang dipaparkan di atas kita bisa membuat tabulasi untuk digunakandalam menilai berita. Adanya tabulasi seperti ini bisa memudahkan para awak redaksi ketikamenimbang berita dalam rapat evaluasi. Tabulasi dimaksud kira -kira seperti berikut.Parameter jurnalismeSisi Hasil evaluasiSudut berita (angle)JudulLeadNilai berita (consequences,human interest,prominence, proximity,timeliness)NarasumberKeberimbangan informasi(cover both-sides danimparsial)Penggalian informasi(kedalaman dankelengkapan 5W+1H)VerifikasiLatar masalah (untukpengayaan)AkurasiAlhasil kita perlu selalu mengingat hakekat dunia kita, jurnalisme. Sebab ingatan ini pasti akanmembuat langkah lebih mantap dalam bekerja hari ini dan masa depan. Bill Kovach & TomRosenstiel merumuskan hakekat jurnalisme dengan baik . Dalam bukunya yang berjudul dalam TheElements of Journalism (Three Rivers Press, New York, 2001) mereka menyebut unsur utama darijurnalisme ialah: q Journalism’s first obligation is to the truth (Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran). q Its first loyalty is to citizens (Loyalitas pertamanya adalah kepada warganegara). q Its essence is a discipline of verification (hakekatnya adalah disiplin verifikasi). q Its practitioners must maintain an independence from those they cover (Para praktisinya harus menjaga kemandirian dari mereka yang diliputnya). q It must serve as an independent monitor of power (ia harus melayani sebagai pemantau independen kekuasaan). q It must provide a forum for public criticism and compromise (Ia harus menyiapkan forum bagi kritisime dan kompromi publik). - 83 -
  • 85. q It must strive to make the significant interesting and relevant (Ia harus berupaya membuat hal penting menarik dan relevan). q It must keep the news comprehensive and proportional (ia harus menjaga berita luas dan proporsional). q Its practitioners must be allowed to exercise their personal conscience (para prakrisinya harus diizinkan menjalankan keyakinan pribadinya).Memang demikianlah sejatinya . - 84 -
  • 86. Materi Kunci III PRAKTIK JURNALISTIK • Teknik Wawancara• Teknik dan Mekanisme Peliputan Jurnalistik• Penulisan Berita Langsung dengan Format Piramida Terbalik - 85 -
  • 87. Teknik Wawancara Oleh Satrio ArismunandarApakah yang dinamakan wawancara itu? Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseoranguntuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah.Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisanberita yang disiarkan dalam media massa. Namun wawancara juga dapat dilakukan olehpihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian atau penerimaan pegawai.Orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (interviewer) dan orang yangdiwawancarai dinamakan pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden.Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau pengalamandari satu orang ke orang lain.Dalam sebuah percakapan, pengendalian terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih darisatu orang ke orang yang lain. Meskipun demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara sipewawancara adalah yang menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arahdari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.Tujuan WawancaraTujuan seorang reporter melakukan wawancara ialah mengumpulkan informasi yanglengkap, akurat, dan fair. Seorang pewawancara yang baik mencari pengungkapan atauwawasan (insight), pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untukdiketahui. Jadi bukan hal yang sudah secara umum didengar atau diketahui.Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancarabertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepadakhalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namunberbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapimembujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.Dalam proses wawancara, si pewawancara atau wartawan bersangkutan benar-benar harusmeredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Iniadalah sesuatu yang sulit. Pernahkah Anda melihat dalam suatu acara talkshow di televisi, dimana si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ngin kelihatan lebih ipintar daripada orang yang diwawancarai? Ini adalah contoh yang menunjukkan, sipewawancara gagal meredam ego dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orangyang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.Dalam proses wawancara, si pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh danbahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santaidan tidak-mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara.Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si pewawancara ketika wawancarasedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara - 86 -
  • 88. orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicarajujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?Sifat WawancaraSeorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal: mendengarkan,mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia seperti seorangpenginterogasi, kadang-kadang secara tajam ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia mengklarifikasi, kadang-kadang pulaia seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik. Seberapa sukses suatu wawancaratergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan yang ini secarapas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.Sifat wawancara bermacam -macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan sipewawancara dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai.Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik.Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutupdiri.Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilansalah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik danpanjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang didugadilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersikat defensif bahkantertutup.Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara “memegang” orang yang diwawancaraidan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan, apa yang harus dilakukan padamomen tertentu ketika berlangsung wawancara –kapan ia harus bersikap lembut, kapanharus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapanharus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.Persiapan WawancaraBanyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baikwawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorderuntuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnyamenggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alatelektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang,apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisasalah kutip.Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yangdiberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itumenimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding “salah kutip,”bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan. - 87 -
  • 89. Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara itu direkam dan setiap saatdibutuhkan bisa diputar kembali. Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alatbukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalamkontroversi tuduhan “wartawan salah kutip” tadi.Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kitatidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol. Sebelum mengatur waktu dantempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelastentang beberapa hal:Persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang didugadilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang didugadilakukan sebuah perusahaan pertambangan, si wartawan harus memiliki pemahamandasar tentang permasalahan tersebut? Bila pemberi wawancara melihat wartawan tidakmenguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberi kan informasi lebih lanjut.Menentukan Nara SumberSetelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalahmenentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagaipemberi wawancara karena sejumlah alasan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yangmemenuhi semua faktor ini. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadipenting:Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancaraiorang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisamenghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepo n atau tertulis, ketimbangbertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harusrealistis tentang prospek wawancara ini.Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yangdiberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumberini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannyasehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihatbodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggungjawab atasinformasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan -tindakan yang sedang diinvestigasi?Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggungjawab langsung ketimbangorang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut dirisebagai juru bicara?Dapat-tidaknya dikutip (quotability). Mewawancarai seorang pakar yang fasih dan punyainformasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publikyang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokohmasyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutipwartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam “merekayasa” komentar yangbagus buat dikutip wartawan. - 88 -
  • 90. Mengatur Waktu dan Tempat WawancaraSesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai,ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumahatau kantor nara sumber. Jika di rumah, suasananya akan lebih santai dan informal. Jika dikantor, suasananya akan lebih formal.Namun seringkali, rumah atau pun kantor bukanlah empat yang pas untuk wawancarainvestigatif. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, makakemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikaninformasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya,keluarganya, jabatannya, atau karir politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat danwaktu tertentu secara khusus.Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi “normal”, artinya narasumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengajamenghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkinterlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawanlah yang harus aktifmelacak lokasi keberadaan narasumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untukdiwawancarai.Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan,perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.SM. Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan,berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional diAsia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertamasama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya padapertemuan-pertemuan berikutnya.Narasumber yang Enggan DiwawancaraiNamun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupunmereka tidak terang-terangan mengatakan “tidak.” Yang mereka lakukan adalahmenghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untukmengatakan “Bapak sedang ke luar kantor,” jika ada permintaan wawancara dari wartawan.Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itusangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan:Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputandengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumbertetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, atau surat permintaan wawancara.Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan,seperti: - 89 -
  • 91. 1. Waktu Calon pemberi wawancara, yang mengatakan “Saya tak punya waktu untuk wawancara,” sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.2. Rasa bersalah Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, mengakui telah melakukan suatu kesalahan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.3. Kecemasan Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalaman baru diwawancarai.4. Perlindungan Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.5. Ketidaktahuan Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena tak mau mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.6. Mempermalukan .Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.7. Tragedi Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya itu kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik. - 90 -
  • 92. Pelaksanaan WawancaraPekerajaan pertama yang harus dilakukan oleh seorang jurnalis adalah memberi rasa amankepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang, dan mau terbuka memberi informasi.Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan tersebut danmedianya itu bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber takingin identitasnya dimuat di media massa).Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidakmemperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akanlebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah sering dimuat, pernyataannormatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelakbelaka.Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dankepercayaan pada narasumber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasanawawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosionalnarasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukanpertanyaan -pertanyaan kunci tersebut.Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi.Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dancermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingindiinvestigasi, dan jangan bertele-tele.Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapatmengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasiyang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).Pertanyaan terbuka –biasanya pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”—memungkinkanpemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan, atau deskripsi.Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagikomentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka itu, misalnya, “Bagaimanapandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?” atau“Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?”Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara,yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka inimengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yangmenjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebihjauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akanmencerminkan kepribadian pemberi wawancara.Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pem beri wawancara ke jawabanyang spesifik. Misalnya, “Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya - 91 -
  • 93. kasus kebocoran limbah pabrik ini?” atau “Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbahini pernah terjadi sebelumnya?” Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancaramengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan(diukur secara numerik).Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacamini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberiwawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untukmemperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yangbisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan a ngka spesifik atau statistik yang otoritatifdan dapat digunakan dalam penulisan.Pewawancara, yang membutuhkan anekdot untuk tulisan tentang profil seseorang, akanlebih berhasil jika menggunakan pertanyaan -pertanyaan terbuka. Wawancara memang akanberlan gsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebihbersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisanberita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifikpada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikanpertanyaan -pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincianspesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.Sifat WawancaraDi dalam lingkungan pers internasional dikenal wawancara yang sifatnya berbeda-beda.Antara lain ialah:On the RecordNama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, danketerangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa. Ini adalah bentukwawancara yang terbaik dan paling umum dilakukan di media massa.Off the RecordPemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya sama sekalitidak boleh dimuat di media massa. Jurnalis harus berusaha keras menghindari situasiseperti ini.BackgroundBoleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apapun yang diberikan,tetapi tanpa menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya.Misalnya, digunakan istilah “menurut sumber di departemen/badan...” menurutpersyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga “notfor attribution”.Deep BackgroundInformasi bisa dimuat, tetapi tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebutnama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara. - 92 -
  • 94. Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apapunbentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati danterwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut namna danjabatannya, misalnya, nama dan jabatannya itu tegas tidak boleh dimuat. Redaktur perludiberitahu karena begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggung jawab atas isi beritatidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggungjawab institusi mediabersangkutan.Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapatmungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya.Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitaswartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya jugasemakin besar, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin ataubahkan “karangan” wartawan belaka.Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukansejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini danbegitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namunkarena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, paraartis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.Referensi:Biagi, Shirley (1986). Interviews That Works: A Practical Guide for Journalists. Belmont,California: Wadsworth Publishing Company.Gil, Generoso J. (1993). Wartawan Asia: Penuntun Mengenai Teknik Membuat Berita.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Pakpahan, Roy (ed.) (1998). Penuntun Program Jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM.Jakarta: INPI-Pact-SMPI.Reddick, Randy, dan Elliot King (1996). Internet untuk Wartawan. Internet untuk SemuaOrang. (Penerjemah: Masri Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. - 93 -
  • 95. Teknik dan Mekanisme Peliputan Jurnalistik Oleh Satrio ArismunandarTeknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasaipara jurnalis. Namun, membahas teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana caramedia bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atauperistiwa.Proses pembuatan beritaProses pembuatan berita pada prinsipnya tak banyak berbeda di semua media. Di mediayang sudah mapan, biasanya telah dibuat semacam prosedur operasional standar (SOP)dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan.Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi, yang juga merupakan jantungoperasional media pemberitaan. Rapat redaksi merupakan kegiatan rutin, yang penting bagipengembangan dan peningkatan kualitas berita yang dihasilkan.Dalam rapat redaksi ini, para reporter, juru kamera, redaktur, bisa mengajukan usulan-usulan topik liputan. Usulan itu sendiri bisa berasal dari berbagai sumber. Misalnya:Undangan liputan dari pihak luar, konferensi pers, siaran pers, berita yang sudah dimuatatau ditayangkan di media lain, hasil pengamatan pribadi si jurnalis, masukan darinarasumber/informan, dan sebagainya.Sasaran Rap at Redaksi 1. Untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan. 2. Untuk menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi (komunikasi antara reporter, juru kamera, staf riset, redaktur, dan sebagainya). 3. Untuk memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin (potensi hambatan teknis dalam peliputan, keterbatasan sarana/alat untuk peliputan, keamanan dalam peliputan, dan sebagainya) 4. Untuk menghasilkan hasil liputan yang berkualitas.Dari rapat redaksi ini, ditentukan topik yang mau diliput, sekaligus ditunjuk reporter(plusjuru kamera) yang harus meliputnya. Dalam pembahasan yang lebih rinci, bisa dibahasjuga angle (sudut pandang) yang dipilih dari topik liputan bersangkutan, serta narasumber - 94 -
  • 96. yang harus diwawancarai. Untuk kelengkapan data, staf riset bisa diminta mencari datatambahan guna menyempurnakan hasil liputan nantinya.Sesudah tugas dib agikan secara jelas dalam rapat redaksi, dan redaktur memberi brifingpada reporter, berbekal informasi dan arahan tersebut, si reporter pun meluncur kelapangan. Dalam proses peliputan, bila ada masalah atau hambatan dalam liputan dilapangan,si reporter dapat berkonsultasi langsung dengan redaktur yang menugaskannya.Hambatan itu, misalnya, narasumber menolak diwawancarai, atau peristiwa yang diliputternyata tidak seperti yang dibayangkan.Setelah selesai meliput, si reporter kembali ke kantor, dan melaporkan hasil liputannyakepada redaktur yang memberi penugasan. Sang redaktur lalu membuat penilaian, apakahhasil liputan itu sudah sesuai dengan rancangan awal, yang sebelumnya ditetapkan dalamrapat redaksi. Apakah ada hal -hal yang baru, yang mungkin lebih menarik diangkat dalampenulisan. Atau, sebaliknya, hasil liputan ternyata justru biasa saja, tidak sehebat atausedramatis yang diharapkan.Redaktur juga melihat, apakah ada hal yang kurang terliput oleh si reporter. Apakah hasilliputan sudah lengkap? Redaktur juga mempertimbangkan asas keberimbangan danproporsionalitas dalam isi pemberitaan. Misalnya, apakah jumlah narasumber yangdiwawancarai sudah cukup? Apakah narasumber yang diwawancarai itu sudah mewakiliberbagai kepentingan yang terlibat?Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, redaktur mengusulkan di mana berita itu akanditempatkan. Di sejumlah media, ada rapat khusus (kadang-kadang disebut rapat budgeting,meski ini tidak ada hubungannya dengan uang) untuk membahas penempatan berita.Namun, dalam rapat ini, reporter tidak ikut serta karena sudah diwakili oleh redakturnya. Dirapat ini dibahas, apakah hasil liputan itu layak untuk berita utama di halaman pertama,atau sekadar layak untuk dimuat pendek di halaman dalam, atau justru tidak layak dimuatsama sekali.Sesudah jelas, berita itu akan dimuat di halaman mana, seberapa panjangnya, sertapenekanan pada aspek yang mana, si reporter disuruh menuliskannya. Hasil tulisandiserahkan kepada redaktur terkait, untuk disunting dari segi bahasa dan isinya.Sebelum berita ini dimuat, kadang-kadang harus melalui proses penyuntingan bahasa oleheditor atau penyunting yang khusus memeriksa gaya bahasa. Jika isi berita itu dianggaplayak jadi berita utama, biasanya redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi juga bisa ikutterlibat.Kemudian, berita pun dimuat. Demikianlah proses pembuatan berita pada umumnya dimedia cetak. Khusus untuk media televisi (audio -visual), faktor ketersediaan gambar ikutberpengaruh, bahkan sangat berpengaruh, mengenai apakah suatu item berita akanditayangkan atau tidak. Kalaupun ditayangkan, format penayangannya juga banyaktergantung pada ketersediaan gambar. - 95 -
  • 97. Menggali InformasiTugas seorang reporter pada dasarnya adalah mengumpulkan informasi, yang membantupublik untuk memahami peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kehidupan mereka.Penggalian informasi ini membawa sang reporter untuk melalui tiga lapisan atau tahapanpeliputan:Lapisan pertama, adalah fakta-fakta permukaan. Seperti: siaran pers, konferensi pers,rekaman pidato, dan sebagainya. Lapisan pertama ini adalah sumber bagi fakta-fakta, yangdigunakan pada sebagian besar berita. Informasi ini digali dari bahan yang disediakan dandikontrol oleh narasumber. Oleh karena itu, isinya mungkin masih sangat sepihak. Jikareporter hanya mengandalkan informasi lapisan pertama, perbedaan antara jurnalisme dansiaran pers humas menjadi sangat tipis.Lapisan kedua, adalah upaya pelaporan yang dilakukan sendiri oleh si reporter. Di sini, sangreporter melakukan verifikasi, pelaporan investigatif, liputan atas peristiwa-peristiwaspontan, dan sebagainya. Di sini, peristiwa sudah bergerak di luar kontrol narasumber awal.Misalnya, ketika si reporter tidak mentah-mentah menelan begitu saja keterangan HumasPT. Lapindo Brantas, tet api si reporter datang ke lokasi meluapnya lumpur, danmewawancarai langsung para warga korban lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.Lapisan ketiga, adalah interpretasi (penafsiran) dan analisis. Di sini si reporter menguraikansignifikansi atau arti penting suatu peristiwa, penyebab -penyebabnya, dan konsekuensinya.Publik tidak sekadar ingin tahu apa yang terjadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimanadan mengapa peristiwa itu terjadi. Apa makna peristiwa itu bagi mereka, dan apa yangmungkin terjadi sesudahnya (dampak susulan dari peristiwa tersebut).Seorang reporter harus selalu berusaha mengamati peristiwa secara langsung, ketimbanghanya mengandalkan pada sumber-sumber lain, yang kadang-kadang berusahamemanipulasi atau memanfaatkan pers. Salah satu taktik yang dilakukan narasumberadalah mengadakan media event, yakni suatu tindakan yang sengaja dilakukan untukmenarik perhatian media.Verifikasi, pengecekan latar belakang, observasi langsung, dan langkah peliputan yang seriusbisa memperkuat, dan kadang-kadang membenarkan bahan-bahan awal yang disediakannarasumber. - 96 -
  • 98. Penulisan Berita Langsung Berformat Piramida Terbalik Oleh Satrio ArismunandarDi bawah ini ada dua bahan untuk latihan menulis berita straight news, dengan formatpiramida terbalik (inverted pyramid). Silahkan dipergunakan oleh siapa saja yangmembutuhkan (mahasiswa jurnalistik, ilmu komunikasi, praktisi Humas, dosen, dansebagainya, asal menyebutkan blog ini sebagai sumber):LATIHAN 1:Anda adalah wartawan sebuah harian ibukota. Suatu pagi, dalam perjalanan menuju kantor,Anda mengalami sejumlah peristiwa, yang kemudian Anda tuliskan sebagai sebuah berita(straight news).Kejadiannya sebagai berikut:Senin pagi, 17 Oktober 2010, cuaca agak mendung. Ketika naik bus dari Depok menujukantor di Palmerah, bus Anda terhambat kemacetan parah di sekitar Lenteng Agung. Karenapenasaran, Anda turun dan berjalan ke depan untuk melihat penyebab kemacetan itu.Ternyata penyebabnya adalah sebuah kecelakaan, atau tepatnya insiden tabrak lari.Seorang gadis cantik, tampaknya mahasiswi, tergeletak di jalan bersimbah darah. Kepalanyatampak memar dan berdarah. Tas dan buku-bukunya bertebaran di jalan. Gadis berambutpanjang sebahu itu mengenakan jeans biru dan T-shirt warna merah, bertulisan ”TurunkanSBY! Ganyang Rezim Neoliberal!” Mungkin, gadis ini seorang aktivis mahasiswa yang agakradikal, pikir Anda.Orang berkerumun di sekitar korban, tetapi mereka tampak gugup. Tidak ada polisi disekitar situ. Anda pun berinisiatif menolong. Anda pegang pe rgelangan tangan korban.Ternyata masih berdenyut. Anda setop sebuah taksi Blue Bird, dan minta tolong warga yangberkerumun, untuk membantu menaikkan tubuh gadis itu di jok belakang. Anda minta sopirsegera ngebut ke rumah sakit terdekat.Seorang mahasiswa, tampaknya teman gadis itu, ikut menemani Anda. Belakangan Andatahu, mahasiswa itu bernama Aswin, sedangkan si korban bernama Nita. Keduanyamahasiswa IISIP, yang mengambil program studi Jurnalistik, angkatan 2008. ”Kami baru maupergi untuk makan bakso di warung sebelah. Mendadak ada motor yang melaju cepat, danmenyerempet tubuh Nita. Wajah pengendaranya tidak jelas karena tertutup helm, tetapi diamemakai jaket kulit warna coklat berlogo Harley-Davidson,” tutur Aswin. ”Karenakejadiannya cepat, saya juga nggak sempat mencatat plat nomor motornya..”Sesampai di RS Kasih Bunda, yang terletak dekat Carrefour Pasar Minggu, korban segeradirawat. Dokter Andreas yang menangani korban mengatakan, korban masih mengalami - 97 -
  • 99. trauma dan harus dirawat di RS. ”Meski cukup banyak kehilangan darah, lukanya tidak parahdan sekarang sudah mulai sadar. Dia akan sembuh. Tetapi, kami masih harus memeriksalebih lanjut, karena mungkin ada komplikasi lain yang belum terpantau,” ujar Andreas. Andaingin mewawancarai Nita, tetapi dokter belum mengizinkan dengan alasan kondisi Nitamasih butuh istirahat dan ketenangan.Anda minta Aswin segera menelepon orangtua Nita dan polisi. Orangtua Nita, DarwisSilalahi, yang ternyata anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, menyatakan kaget karena Nitaadalah putri satu-satunya dan sangat disayang. Nita punya dua kakak laki-laki yang kinikuliah di Universitas Trisakti dan Universitas Sahid.Belakangan datang petugas dari Polsek Metro Pasar Minggu, Komisaris Polisi (Kompol)Martono, SH. ”Kami akan menyelidiki siapa pelaku tabrak lari itu,” kata Kompol Martono.Karena sudah ditangani polisi, Anda merasa tenang dan langsung ke kantor untuk menulisberita.Tugas Anda:Tulislah sebuah berita dengan format piramida terbalik, berdasarkan data, informasi, dankejadian (hasil observasi) yang Anda alami tersebut! Jangan lupa beri judul dan lead yangkuat/menarik! Gunakan sebanyak mungkin informasi yang tersedia.LATIHAN 2:Latar Belakang:Windy Sawitri (22 tahun), mahasiswi Jurusan Manajemen FEUI. Anak tunggal, tinggalbersama ibunya di Perumahan Jatiwaringin, Jakarta Timur. Ibunya, Ny. Marlia Hadi, punyabisnis jasaboga. Meski bisnis itu tidak terlalu besar, cukup untuk membiayai ibu dan anak.Ny. Marlia bercerai dari suaminya ketika Windy baru berusia 6 tahun, sehingga Windyseperti kehilangan figur ayah. Ayah Windy menikah dengan perempuan lain yang lebihmuda, dan sejak saat itu putus kontak dengan Windy dan ibunya. Menurut teman-temannya, Windy termasuk gadis manis, tetapi agak tertutup. Di kampus FEUI, dia juga tidakterlalu aktif dalam kegiatan mahasiswa.Herman Sapardi (40 tahun), dosen Windy dan mengajar mata kuliah Manajemen SDM diFEUI. Sudah menikah selama enam tahun, tapi tak punya anak. Istrinya, Rina, bekerjasebagai akuntan di perusahaan asuransi. Menurut sejumlah mahasiswa, cara mengajarnyaserius dan bergaya kebapakan. Suka memberi nasehat pada mahasiswa untuk segala hal.Windy sering berkonsultasi tentang berbagai hal padanya di luar jam mengajar.Kronologi peristiwa:2 Okt 2010: Windy pamit pada ibunya, Ny. Marlia Hadi, dengan alasan belajar di rumahteman. Mungkin akan pulang agak malam. - 98 -
  • 100. 3 Okt 2010: Windy belum juga pulang. Ibunya mulai cemas. Ia mencoba menghubungi lewatHP, tetapi HP Windy tak aktif. Ibunya bertanya ke teman-teman Windy yang ia kenal, tetapisemua tak tahu keberadaan Windy.4 Okt 2010: Ny. Marlia melapor ke polisi tentang hilangnya anaknya. Ia juga meneleponteman -teman Windy, minta dibantu mencari. Tetapi sejak saat itu Windy seperti hilangditelan bumi.7 Okt 2010: Seorang gelandangan yang sedang mengorek sampah di sebuah kebun terpencildi daerah Parung, Jawa barat, menemukan sesosok mayat perempuan. Ciri-ciri mayat itumirip Windy. Pakaian yang dikenakan juga sama. Tetapi dompet dan barang berharga laintidak ditemukan. Polisi dipanggil, mayat dievakuasi ke RS Bhakti Yudha, Depok, untukdiidentifikasi dan diperiksa sebab kematiannya. Kematian diduga akibat pukulan bendatumpul di tengkuk dan kepala. Ada bekas darah dan luka menganga di kepala.8 Okt 2010: Ny. Ma rlia datang ke RS untuk melihat mayat yang ditemukan itu dan meyakini,itu jenazah Windy. Polisi menyelidiki dan segera menangkap Herman, karena diduga terlibatkasus tewasnya Windy.11 Okt 2010: Jenazah Windy dimakamkan di TPU Rawamangun, diiringi isak tangis ibundadan teman-temannya. Banyak dosen FEUI dan wartawan menghadiri pemakaman itu.Pernyataan hasil wawancara:Ny. Marlia Hadi, ibunda Windy:”Windy tidak pernah cerita apakah dia punya pacar atau tidak. Setahu saya sih dia belumpernah pacaran sejak jadi mahasiswa. Soal hubungan dengan dosennya, ia juga tak penahcerita. Tetapi Windy itu anak baik dan tidak macam -macam. Saya tidak percaya, jika adayang bilang dia punya affair dengan dosen dan hal -hal buruk semacam itu. Itu beritangawur!”Diana De wanti, teman kuliah dan sahabat Windy:”Tampaknya Windy punya hubungan khusus dengan Pak Herman, malah Windy pernahbilang ia jatuh cinta. Kupikir, itu karena Windy haus akan kasih sayang dari seorang ayah,yang tak ia dapatkan sejak kecil. Saya khawatir, hubungan Windy dan Pak Herman sudahterlalu jauh, dan ini di luar sepengetahuan istri Pak Herman.”Togu Pardamean, SE, MM., staf Humas FEUI:”Penangkapan terhadap Pak HS tidak membuat proses belajar-mengajar di mata kuliah yangbeliau ajar terganggu, karena kami segera mencarikan dosen pengganti sementara. Tolongmedia menghormati asas praduga tak bersalah, karena Pak HS baru berstatus tersangka,belum diadili dan belum divonis bersalah. Pihak FEUI menghormati proses hukum, jadi kamibelum melakukan apa-apa sampai kasus ini terungkap jelas.” - 99 -
  • 101. Komisaris Polisi (Kompol) Ahmad Sudirwan, Kasat Reskrim Polres Depok:”Windy tewas akibat pukulan benda tumpul. Kami menangkap seorang tersangka berinisialHS, dosen di sebuah PTN. Ada saksi mata yang melihat HS berdua bersama korban padatanggal 2 Oktober, tanggal terakhir dia masih terlihat hidup. Tetapi kami masih memeriksadan belum bisa memastikan motif pembunuhan itu. Apakah itu pembunuhan terencanaatau akibat aksi spontan, juga belum diketahui. Tolong wartawan jangan berspekulasi.”Dokter Bambang Ekalaya, staf RS Bhakti Yudha:”Atas permintaan polisi, kami memang memeriksa, apakah ada indikasi serangan bersifatseksual terhadap korban. Tetapi tidak etis bagi kami untuk membeberkan ke media tentanghasil pemeriksaan itu tanpa seizin pihak keluarga. Silahkan tanya ke polisi atau ke keluarga.”Dadang, gelandangan yang sering beroperasi di wilayah Parung:”Saya hari Sabtu itu sedang mengorek sampah, terus mencium bau busuk di kebun.Ternyata sumbernya dari gundukan tanah yang sepertinya belum terlalu lama ditimbun.Iseng-iseng saya korek, ternyata menyembul ujung jari mayat. Saya takut dan langsung laporpolisi. Saya tidak mau kena urusan...”Rina, istri Herman Sapardi:”Saya tidak mau diwawancarai. Semua media terlalu memojokkan suami saya. Saya yakin,suami saya tidak bersalah!”Tugas Anda:Tulislah sebuah berita dengan format piramida terbalik, berdasarkan latar belakang,informasi, kronologi dan hasil wawancara tersebut! Jangan lupa beri judul dan lead yangkuat/menarik! Gunakan sebanyak mungkin informasi yang tersedia.Selamat bekerja!NOTES: Semua nama dan peristiwa dalam soal latihan ini adalah fiktif, hasil karangan sayabelaka, meski dibuat sangat mirip asli. Jadi, mohon maaf, jika ada yang tersinggung karenamerasa ada kemiripan dengan tokoh atau peristiwa nyata. - 100 -
  • 102. JURNALISME TELEVISI • Bentuk Berita TV• Proses Pembuatan Berita di Stasiun Televisi: Studi Kasus Trans TV - 101 -
  • 103. Bentuk Berita Televisi Oleh Satrio ArismunandarBerita di media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan jenisformat yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain:ketersediaan gambar.Jika gambar yang dimiliki sangat terbatas, reporter sulit menulis naskah berita yang panjang.Maka berita dibuat dalam format lebih singkat dan padat, atau dibuat dalam format tanpagambar sama sekali.Momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.Perkembangan terkini dari suatu peristiwa baru sampai ke producer, ketika siaran beritasedang berlangsung. Sedangkan perkembangan itu terlalu penting untuk diabaikan. Jikaditunda terlalu lama, perkembangan terbaru pun menjadi basi, atau stasiun TV lain(kompetitor) akan menayangkannya terlebih dulu.Format-format berita itu antara lain:ReaderIni adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibacapresenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadikarena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukandengan gambar.Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi,ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan ditengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan denganberita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30detik.Voice Over (VO)Voice Over (VO) adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan olehpresenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkansesuai dengan konteks isi narasi. Natsound (natural sound , suara lingkungan) yang terekamdalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya natsound tetap dipertahankan, untukmembangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentureporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yangditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. Durasi VO sangat singkat, yaitu antara20 - 30 detik.VO – GrafikVO-Grafik adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan olehpresenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar - 102 -
  • 104. yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukankarena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kirimangambar peliputan yang bisa ditayangkan.Sound on Tape (SOT) SOT adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber.Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul pernyataan narasumber(soundbite) . Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih pentingditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOTsebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT inibisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, ataubisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimalsatu menit.VO-SOT VO-SOT ialah format berita TV yang memadukan VO dan SOT. Lead in dan isi tubuh beritadibacakan presenter. Lalu pada akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagaipelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambaryang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yangperlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan taklebih dari 60 detik, dengan komposisi sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuksoundbite.Package (PKG)Package adalah format berita TV yang hanya lead in-nya saja yang dibacakan oleh presenter,tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesaimembaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasiantara gambar, narasi, soundbite, bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ia ditutup dengannarasi. Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, dan gambarnya dianggapcukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paketberita tersebut (stand up/PTC) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2menit 30 detik.Live on CamLive on Cam adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasipeliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulumembacakan lead in kemudian ia memanggil reporte r di lap angan untuk menyampaikanhasil liputan secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan. Karenasiaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perludisiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan - 103 -
  • 105. peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti -buktiyang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.Live on Tape (LoT)LoT adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namunsiarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di lokasipeliputan, seang penyiarannya dilakukan kemudian. Format berita ini dipilih untukmenunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukansecara langsung karena pertimbangan t knis dan biaya. Meski siaran ditunda, aktualitas etetap harus terjaga. Durasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan, namun biasanya lebihsingkat d ari format Live on Cam .Live by PhoneLive by Phone adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwadengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudiania memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajahreporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia,bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.Phone Record Phone Record adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reportermeliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampirsama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarangdigunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saatberita dilaporkan secara langsung.Visual NewsVisual News adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambaryang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visualditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jikagambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orangketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang lay akmenggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.Vox PopVox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop bukanlah formatberita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Isinya biasanyaadalah komentar atau opini dari masyarakat tentang suatu isu tertentu. Misalnya, apakahmereka setuju jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).Jumlah - 104 -
  • 106. narasumber yang diwawancarai sekitar 4-5 orang, dan diusahakan mewakili berbagaikalangan (tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan sebagainya). Durasi vox popsebaiknya singkat saja dan langsung menjawab pertanyaan yang diajukan. Struktur Penulisan Berita TVAda perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) danmenulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal(pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksudtertentu.Awal (pembuka) Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikanfokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensiatau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan padapemirsa untuk tertarik dan mau m enyimak berita yang akan disampaikan.Pertengahan (isi berita)Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, ceritadikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Leaddan menjawab hal-hal y ang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsadalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal pentingsaja di bagian tengah ini.Akhir (penutup)Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butirterpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yangdiharapkan akan terjadi. Dalam penutup bisa ditambahkan Sign Off berupa akreditasi bagipembuat berita tersebut. Biasanya berbentuk: nama reporter/nama camera person/ lokasipeliputan. misalnya: satrio arismunandar/gatut mukti/ melaporkan dari jakarta. - 105 -
  • 107. Proses Pembuatan Berita di Stasiun Televisi: Studi Kasus Trans TV Oleh Satrio ArismunandarProses pembuatan berita di TransTV pada prinsipnya tak banyak berbeda dengan prosesyang berlangsung di banyak stasiun TV lain. Di TransTV telah dibuat semacam proseduroperasional standar (SOP) dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yangdihasilkan oleh Divisi News. Sebagai stasiun televisi baru berdiri selama dua tahun, SOP inirelatif juga belum lama disusun, dan mungkin juga belum diterapkan secara sempurna.Meski demikian, Divisi News TransTV berupaya menerapkannya, sambil terus menerusmenyempurnakan di sana-sini.Pertama, perlu diingat bahwa jantung operasional sebuah Divisi News adalah rapat redaksi.Rapat redaksi adalah kegiatan rutin, yang penting bagi pengembangan dan peningkatankualitas tayangan berita dari stasiun TV bersangkutan.Sasaran Rapat Redaksi1. Untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan.2. Untuk menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi.3. Untuk memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin.4. Untuk menghasilkan tayangan yang berkualitas.Kebijakan tentang Rapat Redaksi1. Kepala Divisi News mengadakan rapat mingguan dengan seluruh producer, asistenproducer, koordinator juru kamera dan koordinator presenter, untuk membahas rencanadan/atau masalah institusional yang berkaitan dengan liputan/redaksi/perusahaan.2. Selain rapat mingguan yang dipimpin Kepala Divisi News, ada juga rapat mingguan yangdilakukan oleh sejumlah program mingguan yang ada (misalnya: Fenomena, Lacak, danJelajah). Rapat ini biasanya bertujuan untuk: mengkoordinasikan rencana dan gagasanliputan; mencari solusi atas masalah yang muncul; dan mengevaluasi tayangan dan hasilliputan minggu sebelumnya.3. Selain rapat mingguan, ada rapat harian yang dilakukan oleh masing-masing programbuletin (program berita harian, seperti: Reportase, Kriminal, Interogasi, Buka Mata, danJelang Siang). Tujuannya adalah untuk: mengkoordinasikan rencana dan gagasan liputan;menjaga kesinambungan materi liputan antar program pada hari itu; mengevaluasitayangan dan hasil liputan hari itu; dan mencari solusi atas masalah yang muncul hari itu. - 106 -
  • 108. SOP dalam Pembuatan Item BeritaSasaran1. Untuk menyeragamkan kebijakan dan prosedur pembuatan berita dengan proses digital(tapeless editing), atau dengan Tape/Linear.2. Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan peralatan.3. Untuk menghasilkan dan menayangkan berita yang berkualitas.Kebijakan1. Setiap personel Trans News didorong untuk mengajukan ide/gagasan berita untukdibahas dalam rapat redaksi.2. Rapat perencanaan dilakukan setiap hari.3. Para Producer terkait wajib hadir dalam rapat redaksi.4. Seluruh proses pasca produksi dikerjakan melalui server.5. Evaluasi harian dilakukan sekitar setengah jam setelah penayangan program berita.6. Hasil evaluasi dituangkan dalam bentuk tertulis untuk bahan referensi Divisi News.Prosedur (Digital/ Tapeless Editing)1. Producer Program menghimpun gagasan berita yang didapat dari kru melalui riset, temuan lapangan, informasi, dan sebagainya, untuk dibahas dalam rapat redaksi.2. Agenda berita, rundown, serta penugasan dibahas dalam rapat redaksi. Rapat juga dihadiri oleh reporter, juru kamera, periset, asisten produksi, dan koordinator peliputan.3. Hasil rapat redaksi dituangkan dalam notulen. Rapat juga membuat lembar penugasan yang menjadi acuan Producer Program dan Koordinator Peliputan.4. Producer Program dapat membuat TOR, yang akan menjadi panduan penugasan reporter, juru kamera, dan periset, serta memberikan TOR tersebut kepada tim yang bertugas.5. Jika dibutuhkan grafis untuk mendukung tampilan berita yang ditayangkan, permohonan grafis, foto, dan animasi pendukung berita diajukan oleh Producer Program atau Associate Producer kepada Tim Grafis. Grafis yang dihasilkan oleh tim tersebut lalu dimasukkan ke dalam server.6. Reporter dan juru kamera mengimplementasikan penugasan, dengan melakukan liputan di lapangan. Tim lapangan tersebut juga wajib mengembangkan dan memperkaya informasi. Periset membantu mengumpulkan data pendukung untuk diberikan kepada reporter.7. Dalam perjalanan kembali ke studio, reporter dan juru kamera dapat mendiskusikan hasil liputan dengan Producer yang bersangkutan. Draft naskah dan shot list juga disiapkan.8. Juru kamera memindahkan rekaman shot list ke dalam browsing server. Setelah itu – untuk kepentingan bank data-- ia juga wajib membuat log sheet dari semua hasil - 107 -
  • 109. rekaman gambar yang dibuat. Kaset dan log sheet kemudian diserahkan kepada Perpustakaan.9. Berdasarkan gambar dan grafis yang sudah tersedia dalam server, Reporter membuat skrip dan first edit.10. Associate Producer dan Producer Program memeriksa dan memperbaiki first edit.11. Reporter me lakukan dubbing untuk narasi.12. Dari craft editing server, Editor membuat final edit.13. Dari item-item berita yang sudah masuk ke dalam server, Producer Program menyusun rundown akhir untuk keperluan tayang.Dalam kasus adanya gangguan komputer atau server, ada juga SOP untuk pembuatan itemberita dengan Tape/Linear. Dari segi sasaran dan kebijakan, tidak ada perbedaan prinsipdengan SOP pembuatan item berita Digital/Tapeless Editing. Perbedaannya hanya padaprosedur teknis pasca liputan lapangan.Prosedur (dengan Tape/Linear)1. Sesudah melakukan liputan di lapangan, Reporter dan juru kamera mendiskusikan hasil liputan dengan Producer Program atau Associate Producer yang bersangkutan. Keputusan akhir mengenai angle dan content ditentukan dalam rapat kecil tersebut.2. Juru kamera wajib membuat log sheet/ shot list sekembali dari liputan. Log sheet dan kaset master diserahkan kepada reporter, untuk pembuatan naskah dan proses editing. Copy log sheet juga diberikan kepada Associate Producer.3. Reporter menyerahkan naskah kasar (draft) kepada Associate Producer untuk diperiksa.4. Associate Producer memeriksa kelengkapan laporan dan mengedit naskah. Jika diperlukan, Associate Producer dapat meminta grafis pendukung dari Tim Grafis dan menyerahkannya kepada Reporter.5. Reporter membawa naskah yang sudah disetujui dan kaset master/ file/ grafis ke ruang edit, untuk memulai proses dubbing dan editing. Juru kamera mendampingi proses editing.6. Kaset hasil editing diserahkan Reporter kepada Associate Producer.7. Seusai proses editing, kaset master/ file/ grafis berikut log sheet dibawa editor ke Perpustakaan untuk dimasukkan ke dalam inventory.8. Producer Program (atau biasanya dibantu Asisten Produksi) mengumpulkan dan memeriksa naskah serta kaset-kaset hasil editing dari Associate Prod ucer, untuk dicocokkan dengan rundown final. Jika semua lengkap, rundown, naskah, dan kaset- kaset tersebut dibawa ke ruang Master Control dan Program Director. Copy rundown dan naskah juga diberikan kepada Anchor/Presenter.Untuk menghasilkan tayangan berita yang baik, proses pembuatan berita itu harus didukungoleh sarana dan perlengkapan yang memadai. Sayangnya, justru itu yang menjadi - 108 -
  • 110. kelemahan TransTV saat ini. Sampai bulan Februari 2004, kondisi perlengkapan untuk DivisiNews:• Mesin editing Cut to C ut baru tersedia 25% dari kondisi ideal.• Mesin editing Newsflash baru tersedia 60% dari kondisi ideal.• Kamera untuk liputan Jakarta baru tersedia 80% dari kondisi ideal.• Kamera untuk koresponden daerah baru tersedia 60% dari kondisi ideal.• Kendaraan operasional untuk Jakarta masih amat terbatas (berebut dengan Divisi lain).• Kendaraan operasional untuk koresponden daerah: belum ada.* Satrio Arismunandar adalah mantan News Producer di Trans TV, mengetuai ProgramHitam-Putih. Pernah menangani berita pagi dan berita petang Trans TV. Sebelumnyapernah menjadi jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), MajalahD&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001).Makalah ini dibawakan dalam diskusi Communications Undercover 2004 di UniversitasPadjadjaran, Bandung, 10 April 2004. - 109 -
  • 111. Materi IVKODE ETIK JURNALISTIK & PENEGAKANNYA • Kode Etik Jurnalistik • Menerjemahkan Kode Etik ke Kode Perilaku• Pedoman Pemberitaan Media Siber - 110 -
  • 112. Kode Etik Jurnalistik Oleh Willy PramudyaKalau pers ingin terus berperan dalam penegakan demokrasi dan kehidupan bersama yang lebih baik, maka hanya ada satu cara. Dalam situasi masyarakat yang paling buruksekalipun, jurnalis harus tetap bertahan pada tugas pokoknya yang mulia, yakni mengabdi kepentingan publik. Demikian pula ketika dunia dihadapkan pada perkembangan bisnis media yang sarat kepentingan dan membuat insan pers krapa berada dalam posisi sulit -- jurnalis dan jurnalsime harus tetap mempertahankan posisinya sebagai pengabdi kepentingan publik.Di dunia jurnalisme yang dimaksudlan dengan publik ialah publik pembaca, pendengar,penonton dan pengunjung. Namun kalangan jurnalis paham bahwa pengertian publik lebihluas dari sekadar konsumen media sehingga kepentingan publik bisa dimaknai sebagaikepentingan masyarakat luas. Meminjam perspektif New Public Service, kepentingan publikdimaknai sebagai hasil dialog berbagai nilai yang ada di masyarakat dan bukan sekadarsekumpulan kepentingan pribadi. Dengan demikian jurnalis merupakan profesi yangmemberikan layanan kepada publik.Secara singkat tugas pokok jurnalis/wartawan/pewarta ialah menyampaikan danmeneruskan informasi atau kebenaran faktual kepada publik tentang apa saja yang perludiketahui publik demi kepentingan hidup bersama. Dalam posisi demikian jurnalis tidak bisatidak harus mengambil sikap tegas atas posisinya, yakni mengabdi kepada kebenaran danloyal kepada warganegara atau publik. Informasi dan kebenaran faktual hanya mungkintersaji apabila jurnalis loyak terhadap profesinya sekaligus loyal terhadap keyakinan akankebenaran yang berdasarkan hati nuraninya.Dalam melaksanakan tugasnya melayani publik, jurnalis memperoleh sejumlahkeistimewaan . Di antaranya diilindungi oleh undang-undang kebebasan menyatakanpendapat, berhak menggunakan bahan/dokumen/pernyataan publik bahkan dibenarkanmemasuki kehidupan pribadi seseorang, terutama tokoh publik untuk memperolehinformasi yang lengkap dan akurat demi kepentingan (hidup bersama) publik. Sebabsejatinya jurnalis mewakili mata, telinga serta indera publiknya.Media massa pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Sudah berbilang abadpers hadir sebagai sumber kekuasaan yang bisa menjadi pengimbang kekuasaan -kekuasaanlainnya. Tapi, kekuasaan -- dari jenis yang mana pun -- cenderung bersalahguna. Sudahlama jurnalis dan kaum terpelajar mendengar ungkapan terkenal sejarahwan dan filosof - 111 -
  • 113. Inggris, Lord Acton ( nama lengkapnya John Emerich Edward Dalberg Acton): Power tends tocorrupt, absolute power corrupts absolutely . Ungkapan ini mengungatkan jurnalis untukselalu sadar akan kekuasaan yang melekat dalam profesinya. Namun seperti pelaku profesilain, sebagai manusia jurnalis bisa membuat kesalahan -- disengaja atau tidak. Dengankekuasannya yang besar jurnalis mudah terjerumus menjadi manusia lalim sementara persbisa menjadi sangat tiran.Agar jurnalis dan pers tidak mudah terjerumus ke dalam jurang kelaliman dan tirani perluhadirnya pembatas atau pengontrol atas tindak-tanduk mereka dalam menjalankan tugasprofesinya. Pembatas atau pengontrol ini sangat diperlukan agar praktik jurnalistik tetapmengabdi kepada kepentingan publik dan senantiasa melindungi masyarakat dari tindakanatau praktik tidak terpuji jurnalis atai pelaku media. Sebagaimana keharusan yang berlakudi bidang kedokteran, jurnalisme harus tehindar dari malapraktik jurnalistik Malapraktikjurnalistik atau praktik tidak terpuji yang bisa meluas menjadi praktik pelanggaran hak asasimanusia bisa dikontrol oleh hadirnya kode etik jurnalistik.Apa itu Kode Etik Jurnalistik?Kode etik adalah acuan moral yang mengatur tindak-tanduk pelaku suatu profesi dalammenjalani tugasnya. Ia berfungsi sebagai rambu-rambu pengaman bagi seorang profesional,baik pada saat berhubungan dengan sejawat maupun dengan pihak luar. Ibarat rel keretaapi, di sepanjang lintasan itulah seorang profesional berlalu-lalang. Selama pelakunyamenaati kode etik, tak perlu ada kekhawatiran akan bertabrakan dengan kendaraan sejenisatai kendaraan yang berbeda. Artinya, tak perlu cemas akan kemungkinan munculnyagugatan terkait tugas yang mereka jalani. Kalaupun diperkarakan, mereka bisa membela diridengan menggunakan bukti -bukti karya profesionalnya.Berbicara tentang kode etik mau tidak mau akan menyinggung tentang etika. Etika adalahpengetahuan yang membahas ukuran kebaikan atau kesusilaan perilaku manusia dalammasyarakat. Orientasi etika adalah untuk mengetahui bagaimana harus bertindak. (AshadiSiregar, 2000). Pakar Filsafat dan Etika Franz von Magnis menyebiutkan bahwa... etikamengantar orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membentukpendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapatdipertanggungjawabkannya sendiri. Etika menyanggupkan orang untuk mengambil sikaprasional terhadap semua norma, baik norma-norma trad isi maupun norma-norma lain. Etikajuga membantu manusia untuk menjadi lebih otonom. Otonomi manusia tidak terletakdalam kebebasan dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan,melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininyasendiri sebagai kewajibannya. (Franz von Magnis, 1979). - 112 -
  • 114. Kode Etik Jurnalistik (KEJ) adalah acuan moral yang mengatur tindak-tanduk jurnalis dalammenjalani tugasnya di dunia jurnalisme. KEJ bisa berbeda dari satu organisasi ke organisasilain, dari satu koran ke koran lain . Namun secara umum ia berisi hal-hal berikut, yang bisamenjamin terpenuhinya tanggung-jawab seorang jurnalis kepada publik.TanggungjawabTugas atau kewajiban seorang jurnalis ialah mengabdikan diri kepada kepentingan umumdengan menyampaikan informasi yang memungkinkan masyarakat membuat penilaianterhadap sesuatu perkara yang mereka hadapi. Dengan pokok ini jurnalis tak bolehmenyalahgunakan kekuasaan atau bersikap sewenang-wenang untuk motif pribadi atautujuan yang tak berdasar.KebebasanKebebasan berbicara dan menyatakan pendapat adalah milik setiap warga negara atauanggota masyarakat (publik). Tugas pokok Jurnalis ialah menjamin bahwa urusan publikharus diselenggarakan secara publik. Konsekuensinya, jurnalis harus berjuang melawansiapa pun yang mengeksploitasi pers untuk keuntungan pribadi atau kelompok.IndependenJurnalis harus mencegah terjadinya benturan -kepentingan (conflict of interest) dalamdirinya. Ia tak boleh menerima imbalan apapun dari sumber berita atau terlibat dalamaktivitas yang bisa melemahkan integritasnya sebagai penyampai informasi atau kebenaran.KebenaranDengan tugas pokoknya sebagai penyampai informasi dan kebanaran itu jurnalis adalahmata, telinga dan indera publiknya. Dengan posisi seperti itu seorang jurnalis harussenantiasa berjuang untuk memelihara kepercayaan publik dengan meyakinkan kepadamereka bahwa warta yang disampaikannya akurat, berimbang dan bebas dari bias.Tidak memihakSeorang jurnalis harus mampu membedakan laporan berita dengan opini. Sebagaiprofesional tidak ada tempat bagi jurnalis untuk memasukkan opini ke dalam karyajurnalistiknya. Jika jurnalis ingin beropini atau menulis opini maka ia harus secara jelasmengdentifikasikan nya sebagai opini.Jurdil (Fair)Jurnalis harus menghormati hak-hak orang dalam terlibat dalam berita yang ditulisnya sertamempertanggungjawabkan kepada publik bahwa berita itu akurat dan jurdil. Jika adaseseorang yang terpojokkan oleh sesuatu fakta dalam berita, maka ia harus diberi hakuntuk menjawab . Hak jawab dan mekanisme hak jawab harus mendapat tempat. - 113 -
  • 115. Namun sebanyak apa pun pasal dalam suatu KEJ, ada empat hal yang menjadi pijakandasarnya. 1. (Selalu mencari) kebenaran 2. (Bersikap) independen 3. (Bersikap) akuntabel 4. Mengurangi dampak yang merugikanKode etik yang bisa disebut merupakan pedoman yang dirumuskan secara praktis. MenurutAshadi Siregar, suatu kode etik hanya akan menjadi rumusan tak bermakna jika hakekatnyatidak disadari dalam konteks yang berasal dari luar kode itu sendiri. Dengan kata lain, teksdalam kode etik dianalisis bukan dengan hanya memahami artinya, melainkan denganmelihat konteksnya pada aspek-aspek di luar kode itu sendiri, yaitu pada eksistensiprofesi/kelompok yang memiliki kode tersebut dalam lingkungan yang lebih luas. Upayauntuk memahami makna suatu kode etik dilakukan dengan filsafat etika. Melaluipemahaman filsafat etika, pelaku profesi dapat melakukan penilaian kritis atas perilaku.Sekaligus ia dapat mempertanggungjawabkan secara pribadi perilakunya, bukan karenaadanya pengawas atau atasannya, melainkan karena kesadaran nurani.Namun KEJ kerap kali hanya berupa acuan moral yang bersifat umum. Karena itu ia masihsering menyisakan sejumlah pertanyaan, misalnya: apakah etis memata-matai kehidupanpublik seorang tokoh, atau bolehkah menjadi anggota partai politik tertentu? Oleh sebab ituorganisasi wartawan dan perusahaan pers masih menyusun kode perilaku (code of practise)hingga kode e tik pribadi (personal code).Kode Etik Jurnalistik Pribadi atau Kode PerilakuBanyak orang bisa membedakan yang benar dari yang salah karena memiliki kepekaanmoral. Kepekaan moral biasanya dipengaruhi oleh pendidikan yang ditempuh melaluikeluarga, sekolah, masyarakat dan keyakinan agamanya. Banyak panduan kode perilakuseseorang yang disreap atau datang dari lingkungan dan bacaan nya.Setiap orang memiliki loyalitas terhadap sesuatu. Namun profesional di bidang apa pun,termasuk jurnalis, harus menjawab tuntutan lebih be sar dalam loyalitasnya. Loyalitasjurnalis itu pertama-tama adalah loyalitas kepada profesi yang berujuang kepadamasyarakatnya. Jurnalis bisa menggunakan tanggungjawab sosialnya sebagai basis untukmembentuk Kode Etik Pribadi. - 114 -
  • 116. TanggungjawabJusnalisme atau kewartawananan, sekali lagi, adalah sebuah jasa publik. Para wartawansemestinya bebas dari ikatan komitmen atau kewajiban terhadap kelompok tertentu.Wartawan harus meletakkan tanggung-jawab kepada publik di atas kepentingan dirisendiri serta di atas loyalitasnya kepada kepada perusahaan tempat dia bekerja, kepadasuatu partai politik, atau kepada kelompok dan teman-teman terdekatnya.IndependensiSudah ditekankan pada bagian terahulu bahwa tugas pokok seroang jurnalis adalahmenyampaikan informasi dan kebenaran. Jika sumber berita meminta seroang jurnalismerahasiakan suatu informasi, maka ia harus menimbang permintaan itu dalam kontekstanggungjawab untuk memberikan informasi kepada publik. Jika atasan atau perusahaantempatnya bekerja menyenso r seluruh atau sebagian isi berita yang ditulisnya denganalasan bisa merusak sisi bisnis perusahaan medianya, mendiskreditkan pemasang iklan atauteman pemilik koran, si jurnalis harus mengkonfrontasikan nya dari perspektif moral yangsama -- kewajiban melaporkan kebenaran.Dalam dua kasus itu, tindakan yang harus diambil jelas: puas melihat bahwainformasi/kebenaran mencapai pembacanya.Pemerintah kerap kali ingin merahasiakan sesuatu dengan alasan kepentingan nasional.Dalam hal itu seorang jurnalis dibhadap kan kepada suatu dilema. Dalam masyarakatdemokratis, publik berhak tahu apa yang dilakukan pemerintah. Pada saat yang sama,mengungkapkan sesuatu informasi bisa membahayakan keamanan, termasuk keamananpublik. Situasi ini akhirnya terpulang kepada Kode Etik Pribadi. Namun intinya jurnalis harusmelayani publik dengan memberi imbangan kepada kekuasaan , termasuk kekuasaanpemerintah atau negara.Selalu Rindu KebenaranDalam menjalani tugasnya, setiap jurnalis harus mencapai tingkat atau “prestasi”: bisadipercaya. Tapi apakah kebenaran di dunia jurnalistik itu? Standar jurnalisme menekankanbahwa apa yang dilaporkan harus merupakan hasil reportase yang akurat. Misalnya, apayang dikatakan seorang sumber dalam wawancara memang benar-benar seperti yangdikatakannya. Namun, jurnalis yang rindu pada kebenaran akan selalu merasa tidak puas. Iaakan selalu menuntut dirinya untuk bisa menggali kebenaran, menyingkap lapisan-lapisankejadian yang bisa menghalangi penglihatan publik pada kebenaran sekalipun lapisan-lapisan itu bak lapisan bawang.Oleh sebab itu seroang jurnalis harus menjadi raja tega terhadap orang atau tindakan yangmerugikan masyarakat. Ia harus memiliki rasa prihatin atas korban tindakan tiak adil, ilegalserta diskriminatif. Mereka melihat tindakan seperti itu sebagai pencemar dalam - 115 -
  • 117. masyarakat beradab. Sebab salah satu ukuran keberadaban masyarakat ialah merajanyakeadilan.Untuk menyingkap kebenaran jurnalis seringkali harus melakukan reportase mendalam ataubahkan investigasi. Bahkan harus dengan cara menyamar yang kerap dinilai sebagaitindakan yang tidak etis. Namun tindakan itu dibenarkan untuk situasi tertentu dan hasilntadaoat dipertanggungjawabkan. Dalam situasi kritis, misalnya, jurnalis boleh menggunakantaktik atau teknik yang dalam situasi lain tidak etis. Hanya saja jurnalis punyatanggungjawab, yakni memberitahukan taktik seperti itu kepada publiknya.Kebenaran hakiki barangkali tak pernah bisa ditemukan di dunia nyata. Namun seorangjurnalis harus berusaha keras untuk mencapainya. Untuk itu ada sejumlah hal yang bisadimasukkan ke dalam atau menjadi Kode Etik Pribadi, yakni kesediaan untuk mengakuikesalahan; berusaha keras mengikuti fakta, meski ia bergerak ke arah yang tidak disukaiatau tidak disetujuinya; dan berkomitmen untuk selalu memperbaiki diri (belajar danberusaha keras) sehingga bisa melayani publik dengan lebih baik yang selalu meletakkanharapan bahwa jurnalis adalah mata-telinga mereka.Di samping itu jurnalis juga harus mampu melawan godaan akan pujian, uang, popularitasdan kekuasaan jika itu semua berdiri di depan perjalanan menuju kebenaran. Dalamkepentingan yang lebih luas, jurnalis juga ditunut memiliki tekad untuk membuatmasyarakat menjadi tempat yang baik untuk setiap anggotanya, terutama generasimudanya, mereka yang lemah dan miskin, yang tidak memiliki pekerjaan, orang-orangjompo tanpa harapan dan para korban ketidakadilan.Inti Kode Etik Pribadi adalah bahwa hanya masing-masing jurnalislah yang tahu apakah diatelah berusaha dengan keras dan memberikan yang terbaik atau tidak. Namun dalam hal iniperusahaan pers dan organisasi jurnalis memiliki peran besar untuk membantumenjelmakan KEJ yang masih bersifat umum menjadi Kode Etik Pribadi. Sebuah catatanpenting yang perlu diingat ialah bahwa Kode Etik, baik yang bersifat organisasi maupunpribadi, adalah acuan moral. Seorang jurnalis tidak bisa dihukum melalui mekanisme hukumpositif negara jika melanggarnya, namun bisa dikenai sanksi moral oleh organisasinya.Apa itu pasal pencemaran nama baik?Berbeda dengan Kode Etik, pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi memungkinkanseorang wartawan atau korannya dituntut ke pengadilan. Hukum pencemaran nama baikditujukan untuk melindungi reputasi dan nama baik seseorang. Libel adalah tindakanmenerbitkan bahan -bahan palsu atau kasar yang menyebabkan: • Kerugian finansial - 116 -
  • 118. • Merusak nama baik atau reputasi • Merendahkan, mengakibatkan penderitaan mentalSeseorang yang bisa membuktikan bahwa dirinya dirugikan oleh sebuah berita atau fotobisa mengajukan tuntutan pasal pencemaran nama baik ini. Tapi, jika wartawan menulisberita yang berdasar pada fakta, digali secara seksama, fair dan tak memihak, tak perlutakut terhadap tuntutan semacam itu. Kata kuncinya adalah akurasi.Ada tiga landasan yang bisa melindungi wartawan dari tuntutan pencemaran nama baik:KebenaranJika seorang reporter bisa menunjukkan dan membuktikan bahwa bahan-bahan yangdikumpulkan benar, maka orang yang menjadi sasaran bisa menuntut namun umumnyatidak berhasil.PrivilegeSegala sesuatu yang bersifat diungkapkan secara publik dan resmi, baik di lingkunganlegislatif atau yudikatif, tak peduli apakah benar atau tidak, bisa ditulis dan dipublikasikan.Kritik yang fairKritikus bisa memberikan komentar atas suatu karya seniman, penulis, dramawan, atlet atausiapa pun yang menawarkan jasa kepada publik. Namun, kritik harus didasarkan pada faktadan tak boleh menyerang kehidupan pribadi individunya.Dari semua pelindung tadi, wartawan sama sekali tak perlu takut jika laporannyamerupakan sajian dari sebuah peristiwa secara lengkap, fair, tidak memihak dan akurat.Kebenaran bisa menjadi pelindung, namun niat baik tidak. Seorang wartawan mungkin tidakbermaksud mencemarkan nama orang, namun jika tulisan itu tidak bisa dibuktikandemikian, niat baik saja tidak bisa melindungi si wartawan.Apa itu melanggar kehidupan pribadi?Privasi adalah hak individu untuk dibiarkan sendirian. Reporter tidak boleh memasuki rumahseseorang secara paksa atau menggunakan alat perekam yang bisa melanggarkan hakpribadi seseorang.Untuk menggali berita, wartawan memang bisa mengumpulkan bahan tentang kehidupanpribadi orang-orang terte ntu yang bisa membuat perasaan yang bersangkutan terganggu.Koran secara rutin memberitakan penahanan dan berbagai peristiwa atas seorang tokoh.Reporter melakukan wawancara terhadap orangtua yang anaknya terbunuh dalam suatu - 117 -
  • 119. kecelakaan. Koran juga memuat rincian kehidupan menyimpang seorang tokoh publik ataukebiasaan mencandu narkotik dan mabuk di kalangan atlet.Cerita-cerita semacam itu bisa dipublikasikan karena orang-orang tadi terlibat dalamperistiwa yang bernilai berita. Sopir yang mabuk tak bisa berlindung dengan hak privasinyajika tertangkap basah dan ditahan.Namun, ketika pers menggali tindakan pribadi yang bukan merupakan bagian darikepentingan publik atau tak mewakili kepentingan publik secara sahih, wartawan ataukorannya bisa kesulitan jika tulisannya tidak akurat.Privasi memberikan orang hak orang untuk dibiarkan sendiri, kecuali jika yang bersangkutanterlibat dalam peristiwa berita.Materi sensasional tentang kehidupan cinta, kesehatan, bisnis atau aktivitas sosialseseorang bisa dikategorikan sebagai pelanggaran hak pribadi, namun itu bisa digunakanjika berkaitan dengan orang yang punya nilai berita dan berkaitan dengan kepentinganpublik, peristiwanya terjadi di ruang publik dan terungkap dalam dokumen publik -- takpeduli sensasionalnya.Privasi juga melindungi orang dari tindakan menganggu. Wartawan tak boleh memasukirumah sumber secara paksa. Mereka juga tak boleh menggunakan perekam atau kameratersembunyi, kecuali hal itu merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh informasidemi kepentingan publik. - 118 -
  • 120. Lampiran 1: KODE ETIK AJIAliansi Jurnalis Independen percaya bahwa kemerdekaan pers dan hak public atas informasimerupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Dalam menegakkan kemerdekaan pers danmemenuhi hak public atas informasi, anggota AJI memegang teguh Kode Etik. 1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. 2. Jurnalis selalu menguji informasi dan hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya. 3. Jurnalis tidak mencampuradukkan fakta dan opini 4. Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat. 5. Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya. 6. Jurnalis mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar. 7. Jurnalis menolak segala bentuk campurtangan pihak lain yang menghambat prinsip kebebasan pers dan independensi ruang berita. 8. Jurnalis menghindari konflik kepentingan. Jika konflik kepentingan tak bisa dihindari, maka jurnalis menyatakannya secara terbuka. 9. Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan. 10. Jurnalis menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh berita, foto, dan dokumen. 11. Jurnalis segera memperbaiki, meralat, atau mencabut berita yang diketahuinya keliru atau tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa. 12. Jurnalis melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional. 13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi. 14. Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak. 15. Jurnalis tidak menyembunyikan praktik-praktik tidak etis yang terjadi di kalangan jurnalis dan media. 16. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa, agama, pandangan politik, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya. 17. Jurnalis menghormati hak narasumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo. 18. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur. 19. Jurnalis menghormati privasi, kecuali untuk kepentingan publik. 20. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik, dan seksual. - 119 -
  • 121. 21. Jurnalis tidak beritikad buruk, menghindari fitnah, dan pencemaran nama baik.PENAFSIRAN1. Informasi yang benar adalah informasi yang telah melewati verifikasi sesuai standar jurnalistik .2. Cukup Jelas.3. Cukup Jelas.4. Cukup Jelas.5. Cukup Jelas.6. Prinsip keberimbangan antara lain dengan memberi kesempatan kepada pihak yang tertuduh untuk memberi penjelasan sesuai versinya.7. Cukup Jelas.8. Konflik kepentingan adalah suatu keadaan yang bisa membelokan seorang jurnalis atau media dari misinya untuk menyampaikan berita yang akurat dan tanpa bias kepada publik.9. Yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan fasilitas lainnya, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja urnalistik. Jurnalis tidak menerima j fasilitas peliputan dari pihak lain kecuali itu merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh informasi yang penting bagi public dan tidak mengkompromikan intergritas jurnalistik.10. Cara-cara professional antara lain menunjukkan identitas kepada narasumber; tidak menyuap; tidak merekayasa pengambilan gambar, foto, suara. Penggunaan cara- cara tertentu, seperti teknik penyamaran, hanya bisa digunakan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan public.11. Keharusan mencabut berita berlaku untuk berita yang secara substansial salah, misalnya berita bohong atau berita fiktif. Keharusan meralat berlaku untuk berita yang sebagian faktanya mengandung kekeliruan.12. Cukup Jelas.13. Cukup Jelas14. Cukup Jelas15. Cukup Jelas. - 120 -
  • 122. 16. Istilah kebencian mengacu pada ungkapan tidak senang (verbal dan non verbal) yang bersifat memusuhi, merendahkan, dan menghina yang ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu.17. Cukup Jelas.18. Ketentuan penggunaan narasumber yang meminta dirahasiakan (anonim): • Berupaya mengidentifikasi narasumber, karena publik berhak mengetahui sebanyak-banyaknya informasi tentang ketepercayaan narasumber. • Selalu menguji motif narasumber sebelum menyepakati keanoniman. • Menyebutkan alasan keanoniman kepada public. • Memengang teguh kesepakatan keanoniman. Yang dimaksud narasumber konfidensial adalah: orang-orang yang terancam keamanannya apabila identitasnya dibuka. Identitas yang harus dirahasiakan adalah segala informasi yang bisa membuat seseorang dikenali jati dirinya se perti nama, alamat, orang tua, nama sekolah, dan nama tempat kerja.19. Privasi adalah segala segi kehidupan pribadi seseorang dan keluarganya. Pengabaian atas privasi hanya bisa dibenarkan bila ada kepentingan publik yang lebih besar, seperti untuk membongkar korupsi atau mencegah prilaku yang membahayakan kepentingan umum. Jurnalis mengakui bahwa orang biasa memiliki hak lebih besar untuk merahasiakan privasinya daripada pejabat public atau pencari kekuasaan, pengaruh, dan perhatian public.20. Cukup Jelas.21. Tidak beritikad buruk artinya tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimulkan pihak lain. Dalam proses kerja jurnalistik, hal itu antara lain berupa kesengajaan tidak melakukan verifikasi dan konfimasi informasi. • Naskah ini disusun untuk keperluan internal Aji • Diolah dari bebragsi sumber . - 121 -
  • 123. Menerjemahkan Kode Etik ke Kode Perilaku Oleh Ati NurbaitiMungkin ada yang berpandangan bahwa kalangan pelaku media, terutama jurnalis, sudahpaham betul Kode Etik Jurnalistik. Mungkin banyak jurnalis yang tidak hapal keseluruhanbutinya. Namun dengan bertahun-tahun berkarir di bidang jurnalsitik, seroang jurnalisseperti Anda tahu dan paham intinya. Intinya ialah wajib memberitakan kebenaran secaraberimbang, meliput kedua belah pihak atau para pihak, tidak menerabas ruang pribadisubyek liputan, menghormati kedukaan subyek berita pada saat musibah, tidak menerimasogokan, tidak menyalahgunakan profesi.Pertanyaannya, kalau memang semua jurnalis sudah mengerti dan mengamalkan kode etik,mengapa keluhan pada Dewan Pers atas seringnya terjadi pelanggaran kode etik masihsering terdengar? Bahkan baru saja terdengar warta tentang skandal tingkat internasionalseperti terungkapnya praktik ‘hacking’ telpon yang ternyata biasa digunakan awak News ofthe World milik Rupert Murdoch?Juga, ada apa di balik skandal Krakatau Steel yang melibatkan jurnalis media terkemuka diIndonesia? "Kalau pun wartawan ini tidak jadi beli saham, tetapi dia terbukti berupayamelobi. Itu melanggar," kata Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers. (1) Apa pula alasan CNNmelepas jurnalis topnya, dengan alasan ia salah menggunakan media social seperti Twitter?Octavia Nasr, editor senior Timur Tengah, hanya men-tweet, “Sedih mendengar wafatnyaSayyed Mohammad Hussein Fadlallah.. Salah satu raksasa Hezbollah yang saya sangathormati." (2)Dengan banyaknya kasus yang menyangkut media, ternyata anggapan kita bahwa seluruhawak media tentu paham kode etik yang sedikit banyak universal, ternyata salah. Adabanyak ‘lubang’ dalam kode etik yang dapat digunakan atau disalahgunakan, apakah karenakita tidak sadar, atau sengaja demi keberhasilan dalam memenangi persaingan ketatindustri media, atau pun untuk kepentingan diri sendiri.Karena itu beberapa media menyusun ‘code of conduct’-nya masing-masing. Dalam berita-berita tentang skandal News of the World, ternyata media tsb mempunyai ‘code of conduct’sepanjang 56 halaman. (3) Namun suatu ulasan yang mengungkap hal tersebutberkesimpulan, bahwa kode perilaku harian tersebut ternyata merupakan ‘dokumen mati’.Dokumen tersebut terlalu panjang dan terlalu rinci, dan sehari-hari tidak pernah dibahas. - 122 -
  • 124. Karena itu dari usulan beberapa pengamat disimpulkan bahwa sebaiknya suatu ‘kodeperilaku’ janganlah terlalu rinci tentang ‘apa yang harus dilakukan’ para jurnalis, melainkan‘apa yang harus dipikirkan’ staf media tersebut. Artinya, kode prilaku lebih baikmenjabarkan nilai -nilai dari perusahaan media ybs, namun tidak sampai merinci semuaperilaku karyawan.Bila perusahaan anda tidak mempunyai rincian ‘visi misi’ yang menggambarkan nilai -nilaidan cita-cita para pendirinya dengan jelas, cukuplah Anda mengetahui kira-kira apa nilai dancita-cita mereka, atau apakah nilai dan cita-cita bersama yang kiranya menjadi ciri darimedia anda?Berdasarkan pemahaman tersebut Anda dapat mencoba menyusun ‘kode etik prilaku’untuk mengantisipasi berbagai kondisi yang dapat dihadapi anak buah / rekan –rekan andadalam pekerjaan sehari-hari. Namun ingatlah, dokumen yang terlalu rinci mungkin jugatidak ‘berbunyi’ dan bahkan tidak dibaca, seperti halnya dalam contoh News of the Worldtadi.Kondisi-kondisi yang bisa diperkirakan akan atau sudah Anda atau anak buah Anda ihadapianda juga rekan kerja termasuk seperti berikut: - Ada selebritas yang meninggal karena kecelakaan. Keluarganya belum tahu kabar ini. Bos memerintahkan bahwa Anda harus mendapatkan gambar ekslusif dari reaksi sang istri. - Anak buah anda mendapatkan informasi ekslusif tentang harga saham ‘blue chip’. Dengan mudah informasi ini dapat ditahan dan Anda dapat mengambil untung dalam menentukan tindakan terhadap saham Anda, sebelum orang lain mengetahuinya. - Media Anda sudah mempunyai iklan Masakapai Penerbangan Garuda dua halaman berwarna untuk edisi keesokan harinya. Pukul 22.00 atau 10.00 malam terjadi kecelakaan yang menewaskan sebagian awak dan penumpangnya. Pihak Garuda meminta berita diperhalus, jika tidak, iklan terpaksa ditarik. - Ada undangan meliput produk baru dari Toshiba. Media dijanjikan mendapat diskon 25 persen untuk pembelian laptop. Bagian iklan pun berhasil memperjuangkan iklan yang cukup besar. Bagian features atau lifestyle pun mengusahakan liputan yang cukup baik walaupun setelah diteliti, laptop tersebut tak jauh lebih unggul dibanding produk sebelumnya. - Jurnalis top Anda meliput pejabat yang pidatonya amat membosankan. Ia pun - 123 -
  • 125. mengetik ‘tweet’: “Pidato Bapak N… bego bin bête banget sih”.- Kontributor top Anda meliput undangan pariwisata. Di Facebooknya ia menulis, “Kok hotel S ini payah banget pelayanannya.”- Pemasang iklan sangat senang pada rubrik liputan restoran media Anda, yang biasanya dilakukan dengan mengirim jurnalis, bukan memenuhi undangan. Calon pemasang iklan itu tentu mengharapkan liputan positif dengan dibarengi iklan besar.- Dalam liputan investigatif jurnalis mendapatkan sumber yang meyakinkan. Namun ia tak bersedia mengungkap jati dirinya. Si jurnalis berhasil mendapat sumber-sumber lain yang mau diungkap identitasnya, namun inti ucapan mereka adalah menyangkal sumber anonim tersebut.- Pewarta foto berhasil mendapatkan foto yang bagus. Agar lebih bagus ia menghapus sedikit latar belakang yang mengganggu seperti pohon atau kabel listrik.- Dalam operasi militer di Aceh TNI mensyaratkan agar jurnalis ‘embedded’ dalam pasukan.- Untuk meliput daerah sekitar Freeport, semua fasilitas transportasi dimiliki perusahaan tersebut, dan juga tidak ada harganya sehingga media harus memakai fasilitas mereka secara gratis.- Dalam masa pilkada sebelum dan selama kampanye resmi, pasangan calon berlomba memberi harga terbaik pada media untuk memasang iklan.- Dalam peradilan anak, media anda harus mendapatkan gambar terbaik dibanding media lain. Misalnya ekspresi anak tsb secara ‘close up’ di kursi terdakwa.- Dalam situasi operasi di Papua, media anda harus mendapat gambar dan wawancara terbaik, usahakan dari OPM. Bagaimana ‘angle’ liputan media anda. Sedikit contoh di atas memperlihatkan tantangan sehari-hari dalam pekerjaan di media, yang terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Semua orang dengan suatu ‘gadget’ dapat menjadi reporter, dengan men-tweet setiap pikirannya, setiap apa yang dilihatnya; bahkan siapa pun dapat mengirimkan gambar ke YouTube atau pun kepada website suatu televisi. - 124 -
  • 126. Yang membedakan ‘semua orang’ dengan jurnalis ialah pe mahaman etika. Tugasmedia bukan menjaga ‘teritorinya’ dengan mengatakan saya jurnalis, dan Andabukan.Dalam era teknologi informasi dan komunikasi sekarang, tugas jurnalis adalahmenunjukkan pemahamannya terhadap kode etik, dan menyebarkannya kepadapublik yang banyak melakukan fungsi jurnalis. Karena yang membedakan jurnalisdengan orang kebanyakan ialah caranya menyebar informasi dengan memeliharakepercayaan publik, dengan kata lain menjaga kredibilitas.Referensi:(1) “Skandal Saham, Dewan Pers Temukan Pelanggaran Kode Etik”, 1 Des. 2010,http://www.tempo.co/read/news/2010/12/01/173295994/Skandal -Saham-Dewan -Pers-Temukan-Pelanggaran-Kode-Etik(2) “Journalist Fired for Controversial Twitter Message”, 9 Juli 2010,http://en.wikinews.org/wiki/CNN_Journalist_Fired_for_Controversial_Twitter_Message(3) “News Corps code of conduct”, 2 Agustus 2011,http://www.thedailybeast.com/articles/2011/08/02/news-corp -code-of-conduct-may-have-encouraged-phone-hacking.html - 125 -
  • 127. Pedoman Pemberitaan Media SiberKemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hakasasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan DeklarasiUniversal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakanbagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannyadapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuaiUndang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk ituDewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusunPedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:1. Ruang Lingkupa. Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana internet danmelaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers danStandar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers.b. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content) adalah segala isi yang dibuat dan ataudipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara,video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum,komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.2. Verifikasi dan keberimbangan beritaa. Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.b. Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang samauntuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.c. Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:1) Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;2) Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibeldan kompeten;3) Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidakdapat diwawancarai;4) Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masihmemerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya. Penjelasandimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan hurufmiring.d. Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi,dan se telah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran(update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi. - 126 -
  • 128. 3. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)a. Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Penggunayang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan KodeEtik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.b. Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan danmelakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk IsiBuatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuantertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:1) Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;2) Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku,agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;3) Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidakmerendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.d. Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi BuatanPengguna yang bertentangan dengan butir (c).e. Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilaimelanggar ketentuan pada butir (c). Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yangdengan mudah dapat diakses pengguna.f. Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap IsiBuatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkinsecara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.g. Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebanitanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggarketentuan pada butir (c).h. Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidakmengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).4. Ralat, Koreksi, dan Hak Jawaba. Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik,dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.b. Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atauyang diberi hak jawab.c. Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat,koreksi, dan atau hak jawab tersebut.d. Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:1) Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan dimedia siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;2) Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh mediasiber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;3) Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksiatas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita - 127 -
  • 129. tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidakdikoreksinya itu.e. Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapatdijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).5. Pencabutan Beritaa. Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran daripihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalamantraumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.b. Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telahdicabut.c. Pencabutan berita wajib disertai dengan al asan pencabutan dan diumumkan kepadapublik.6. Iklana. Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.b. Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkanketerangan ”advertorial”, ”iklan”, ”ads”, ”sponsored”, atau kata lain yang menjelaskanbahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.7. Hak CiptaMedia siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.8. Pencantuman PedomanMedia siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianyasecara terang dan jelas.9. SengketaPenilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber inidiselesaikan oleh Dewan Pers.Jakarta, 3 Februari 2012(Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari2012). - 128 -
  • 130. MATERI DAN METODE UJI KOMPETENSI JURNALISTIK – ALIANSI JURNALIS INDEPENDENNo. Materi Tujuan Metode Bahan Waktu Muda Madya UtamaA. PENGETAHUAN UMUM01. Profesionalisme § Menguji pengetahuan PR: 1)Pengu- Diselesai § Menjelaskan pengertian § Menjelaskan masalah § Menjelaskan ttg profesionalisme. Artikel muman kan profesionalime. dan tantangan yg tantangan profesi § Menguji pemahaman (maksimal syarat s ebelum § Menjelaskan pengertian dihadapi profesi atas pengaruh modal ttg peran dan fungsi 5.000 perserta; ujian. profesionalisme jurnalistik. dan teknologi. jurnalis. karakter). 2)Doku- jurnalistik. § Menjelasakan solusi atas § Menjelaskan solusi § Menguji pemahaman men syarat § Menjelaskan rendahnya ketrampilan atas rendahnya upah ttg masalah dan peserta. kensekuensi-konseku jurnalistik dan jurnalis utk mening tantangan profesi. ensi atas status jurnalis rendahnya pemahaman katkan kinerja profesi profesional. kode etik jurnalistik. jurnalis.02. Komunikasi § Menguji pengetahuan PR: 1)Pengu Diselesai § Menjelaskan pengertian § Menjelaskan peran § Menjelaskan peran Massa ttg komunikasi massa. Artikel muman kan komunikasi massa. media sbg perumus media dlm § Menguji pengetahuan (maksimal syarat debelum § Menjelaskan posisi dan agenda publik. demokratisasi politik ttg posisi dan fungsi 5.000 peserta; ujian. fungsi media massa. § Menjelaskan pengaruh dan ekonomi. media massa. karakter). 2)Doku- § Menjelaskan perkem- perkembangan § Menjelaskan posisi § Menguji pengetahuan men syarat bangan teknologi media teknologi informasi bagi dan fungsi media dlm ttg pengaruh teknologi perserta. dan pengaruhnya bagi posisi dan fungsi media. perkembangan informasi thd komunikasi massa. teknologi informasi komunikasi massa. dan sosial media.03. Pers Nasional § Menguji pengetahuan PR: 1)Pengu- Diselesai § Menjelaskan sejarah § Menjelaskan sejarah § Menjelaskan dan Media ttg sejarah pers Artikel muman kan pers nasional. pers global. perkembangan Global nasional dan global. (maksimal syarat sebelum § Menjelaskan tantangan § Menjelaskan tantangan industri media global. § Menguji pemahaman 5.000 peserta; ujian. yg dihadapi pers yang dihadapi pers § Menjelaskan langkah ttg masalah dan karakter) 2)Doku- nasional saat ini. nasional dlm strategis dan taktis tantangan pers men syarat menghadapi perkem pers nasional dlm nasional. peserta. bangan teknologi menghadapi informasi. globalisasi industri media. 129
  • 131. 04. Hukum Pers § Menguji pengetahuan PR: 1)Pengu- Diselesai § Menjelaskan pokok- § Menjelaskan masalah- § Menjelaskan ttg dasar-dasar hukum Artikel muman kan pokok hukum pers masalah yg dikandung keterbatasan UU No. pers nasional. (maksimal syarat sebelum sbgmn diatur dalam UU oleh UU No. 40/1999. 40/1999 dan UU No. § Menguji pemahaman 5.000 peserta; ujian No. 40/1999. § Menjelaskan 32/2002 dlm ttg permasalahan karakter) 2)Doku- § Menjelaskan dampak persmasalahan posisi menghadapi pengaturan pers. men syarat positif dan negatif atas dan fungsi pers dlm UU kekuatan modal. peserta. penerapan UU No. No. 32/2002. 40/1999.B. TEORI JURNALISTIK05. Prinsip- prinsip § Menguji pengetahuan Tertulis: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan lima prinsip § Menjelaskan hubungan § Menjelaskan Jurnalistik ttg prinsip-prinsip Menjawab pertanya jurnalistik: akurat, lima prinsip jurnalistik pengaruh persaingan kerja jurnalistik. lembar per an; obyektif, fair, seimbang (akurat, obyektif, fair, bisnis media thd § Menguji pehamanan tanyaan. 2)Lembar dan netral. seimbang dan netral) operasionalisasi ttg konsekuensi atas jawaban; § Menjelaskan pentingnya dengan rumusan kode prinsip jurnalistik dan berlakunya prinsip- independensi atau etik jurnalistik. penegakan kode etik. prinsip kerja kemandirian dlm § Menjelaskan masalah § Menjelaskan langkah jurnalistik. menjalankan prinsip- penerapan prinsip strategis dan taktis § Menguji pemahaman prinsip jurnaistik. jurnalistik dan kemung dlm menghadapi ttg hubungan prinsip kinan pelanggaran kode intervensi pemilik kerja jurnalistik dg etik jurnalisitk. modal dan kekuatan kode etik. ekonomi politik lain.06. Unsur Berita, § Menguji pemahaman Tertulis: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan pentingnya § Menjelaskan hubungan § Menjelaskan Nilai Berita, ttg unsur berita, nilai Menjawab pertanya 6 unsur berita: who, unsur dan nilai berita perubahan nilai Jenis Berita berita dan jenis berita. lembar per an; what, why, where, dalam menentukan berita seiring dg § Menguji ketrampilan tanyaan. 2)Lembar when, dan how dlm angle berita. dinamika sosial - penggunaan nilai jawaban; membuat berita. § Menjelaskan budaya dan ekomi- berita dan jenis berita 3)kliping § Menjelaskan 2 nilai pengembangan 6 nilai politik masyarakat. dlm meliput dan Berita berita paling dasar: berita standar menjadi § Menerapkan menyusun berita. penting dan menarik. nilai -nila berita lain. penggunaan § Menguji kemampuan § Menjelaskan 6 nilai § Menjelaskan (perubahan) nilai pengembangan berita berita standar: significan pengembangan berita, berita dan jenis berdasar nilai berita (penting), magnitude dari staright news berita dlm membuat dan jenis berita. (besaran), timeline (berita langsung) ke konten baru. (waktu), proximity indept newes (berita § Menerapkan (kedekatan), prominance dalam) dan atau penggunaan 130
  • 132. (ketenaran), human features (berita kisah). (perubahan) nilai interest (manusiawi). § Menerapkan berita danjenis dlm § Menjelaskan 3 jenis penggunaan nilai berita mengangkat agenda berita: stright news dan jenis berita untuk publik. (berita langsung), indept pengembangan berita, news (berita dalam), menentukan angle dan features (berita kisah). memilih headline atau § Menerapkan laporan utama. penggunaan unsur dan nilai berita dlm penyusunan berita.07. Bahasa § Menguji pengetahuan Tertulis: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan prinsip- § Menjelaskan kesalahan- § Menjelaskan faktor- Jurnalistik ttg kaidah-kaidah Menjawab per tanya prinsip bahasa Indonesia kesalahan umum dlm faktor yg menentu- bahasa Indonesia yg lembar per an; yg baik dan benar. penggunaan ejaan kan dlm penyusunan baik dan benar. tanyaan 2)Lembar § Menjelaskan bahasa Indonesia di pedoman bahasa § Menguji pemahaman jawaban; penggunaan ejaan media massa. media. ttg kaidah-kaidah 3)Kliping bahasa Indonesia yg § Menjelaskan pemilihan § Menjelaskan “politik bahasa jurnalistik. berita. benar. kata dan diksi yg tepat bahasa” dlm § Menjelaskan dalam penyusunan pembentukan penggunaan bahasa berita. agenda publik. jurnaslitik yg baik dan § Menjelaskan benar. penggunaan kalimat yg efektif dan efesien dlm penyusunan berita.08. Fakta dan Opini § Menguji pengetahuan Lisan: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan pengertian § Menjelaskan posisi fakta § Menjelaskan batas- ttg pengertian dan Taya - per tanya fakta dan opini. dan opini dlm praktek batas interpretasi perbedaan antara jawab an; § Menjelaskan perbedaan jurnalisme saat ini. atas fakta dlm fakta dan opini. berdasar 2)Lembar fakta dan opini. § Menjelaskan bahanya membuat berita. § Menguji pemahaman lembar jawaban; § Menjelaskan realitas pengaruh opini jurnalis § Menjelaskan alasan- ttg realitas sosialogis pertanya sosiologis dan realitas dlm membuat berita. alasan penentuan dan realitas psikolois. an dan psikologis. § Menjelaskan batas dan agenda publik dlm § Menguji pemahaman jawaban. § Menjelaskan fakta sbg keleluasaan jurnalis dlm pemilihan berita. ttg hubungan fakta fundamen berita. menginterpretasi fakta § Menjelaskan 131
  • 133. dan opini dlm § Menjelaskan pengaruh pertimbangan menyusun berita. opini terhadap tegaknya redaksional utk § Menguji pemahaman prinsip-prinsip membuat opini ttg opini redaksi dlm jurnalisme. redaksi. mengarahkan agenda publik.09. Narasumber § Menguji pengetahuan Lisan: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan pemilihan § Menjelaskan pemilihan § Menjelaskan prinsip- ttg kompetensi Taya - per tanya narasumber yg narasumber alternatif prinsip berhubungan narasumber. jawab an; kompeten. bila narasumber utama dengan narasumber. § Menguji pemahaman berdasar 2)Lembar § Menjelaskan beragam tidak bisa dihubungi. § Menjelaskan ttg menjaga hubungan lembar jawaban; teknik menghubungan § Menjelaskan teknik penyusunan kode dg narasumber. pertanya narasumber dg latar menjaga hubungan dg perilaku dlm § Menguji pemahaman an dan belakang berbeda. narasumber. berhubungan dg membangun jejaring jawaban. § Menjelaskan metode § Menjelaskan metode narasumber. dan lobi. menyusun daftar membangun jaringan narasumber. dan lobi.10. Kode Etik § Menguji pengetahuan Lisan: 1)Lembar 45’ § Menjelaskan sejarah § Menjelaskan masalah § Menjelaskan filosifi Jurnalistik ttg materi kode etik. Taya - per tanya perumusan kode etik umum penerapan kode hubungan kode etik § Menguji pemahaman jawab an; jurnalisitik Indonesia. etik di Indonesia. dan kebebasan pers. ttg praktek kode etik. berdasar 2)Lembar § Menjelaskan kode etik § Menjelaskan kasus - § Menjelaskan isu-isu § Menguji pemahaman lembar jawaban; thdp publik, nara kasus pelanggaran kode krusial kode etik yg ttg posisi dan fungsi pertanya sumber, dan kerja etik yang krusial dan hrs ditindaklanjuti lembaga ombudman an dan profesional. jalan keluar untuk dlm kode perilaku dan dewan pers. jawaban. § Menjelaskan posisi dan mengatasinya. § Mengusulkan kriteria fungsi lembaga § Menjelaskan hak dan orang-orang yg layak ombudman dan dewan kewajiban anggota menjadi anggota pers. amboduman dan dewan ombudman dan pers. dewan pers.C. PRAKTEK JURNALISTIK11. Melakukan § Menguji kemampuan Praktek: Petunjuk 60’ § Melakukan wawancara § Melakukan wawancara § Melakukan Wawancara mempersiapkan Wawan simulasi dlm jumpa pers. door stop. wawancara khusus. materi wawancara. cara jumpa § Melaporkan hasil § Melaporkan hasil § Melaporkan hasil § Menguji kemampuan pers, door wawancara. wawancara. wawancara. berbagai bentuk stop, dan 132
  • 134. wawancara. khusus.12. Menjalankan § Menguji kemampun Simulasi: Petunjuk 60’ § Mempersiapkan dan § Menganalisis fakta dan § Menentukan bahan Liputan mempersiapkan Melakukan simulasi melaksanakan liputan. data yg dilaporkan berita yg layak materi liputan. liputan § Mengumpulkan fakta wartawan. muat/siar. § Menguji kemampuan dan data bahan berita. § Memberikan pengayaan § Memberikan ide, mengumpulkan dan kompilasi bahan informasi latar informasi berupa fakta liputan. belakang. dan data. § Mengumpulkan bahan § Mengarahkan liputan liputan investigasi. investigasi.13. Menyusun § Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60’ § Menulis stright news § Menulis indept news § Mengarahkan Berita dlm membuat jenis- Menulis simulasi (berita langsung); atau (berita dalam); atau pemilihan berita. jenis berita dan berita. § Menulis indept news § Menulis features (berita § Menulis opini tulisan. (berita dalam). kisah) redaksi.14. Menyunting § Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60’ § Memeriksa ulang akurasi § Menyunting sejumlah § Memutuskan berita Berita menyunting berita. menyun simulasi berita sendiri. berita (teks, foto, audio, layak siar. ting berita. vedio) sesuai karakter media. § Memeriksa ulang berita sesuai kebijakan redaksi.15. Merancang § Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60’ § Menyediakan berita § Merancang materi dan § Memutuskan Materi dan dlm merancang materi Meran simulasi sesuai dg rubrik/kanal/ desain rubrik/kanal/ penempatan berita Desain dan desain media utk cang program program sesuai rubrik/kanal/ target audiens ttt. materi dan program desain16. Mengelola § Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60’ § Mengikuti rapat redaksi. § Merencanakan materi § Memimpin rapat Manajemen dlm mengelola Mengelola simulasi § Memberikan usul saran dan desain rubrik/kanal/ redaksi dan Redaksi redaksi. manaje- liputan. program. memutuskan men § Memberi pengayaan penemaptan berita. redaksi materi rubrik/kanal/ program.17. Menetapkan § Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60’ § Memberikan usul saran § Memberikan pandangan § Menentukan Kebijakan dlm menentukan Menetap- simulasi arah pemberitaan. ttg arah dan kepen- kebijakan dan arah Redaksi kebijakan redaksi dan kan kebi- tingan pemberitaan. pemberitaan, arah pemberitaan. jakan temrasuk liputan redaksi. investigasi.18. Menggunakan § Menguji kemampuan Praktek: Petunjuk 60’ § Menyiapkan dan mengo § Menguasai menggunaan § Memahami penguna 133
  • 135. Peralatan penggunaan peralatan Mengguna praktek perasikan komputer dan komputer dan alat an kompter, alat Teknologi teknologi informasi kan perala alat rekam dan editing rekam dan editing rekam dan editing Informasi pemberitaan. tan tekno gambar. gambar. gambar dan internet. logi infor § Menggunakan internet § Mengusulkan pilihan § Memutuskan pilihan masi utk mencari bahan dan alat teknologi informasi alat teknologi mendokumentsikan hasil yg sesuai kebutuhan. informasi sesuai liputan kebutuhan.D. PENDALAMAN KODE ETIK JURNALISTIK19. Pemetaan dan § Menguji kemampuan Diskusi: Lembar 60’ § Memberikan pandangan § Memberikan pandagan § Memimpin diskusi Penyikapan dlm memetakan Membahas kasus dan dan saran dan saran dan mengambil Problem Etik permasalahan implemen pertanya kesimpulan dan penerapan kode etik. tasi kode an keputusan § Menguji kemampuan etik. dlm menyikapi permasalahan penerapan kode etik.20. Perincian Kode § Menguji kemampuan Diskusi: Lembar 60’ § Memberikan pandangan § Memberikan pandangan § Memimpin diskusi Etik ke Kode dlm menyederha Membahas kasus dan dan saran. dan saran. dan mengambil Perilaku nakan masalah implemen pertanya kesimpulan dan penerapan kode etik. tasi kode an keputusan. § Menguji kemampuan etik dalam menerjemah kan kode etik ke dalam kode perilaku. 134
  • 136. MATERI DAN METODE UJI KOMPETENSI JURNALISTIK - AJI (DIFOKUSKAN UNTUK JURNALIS MEDIA TV)No. Materi Tujuan Metode Bahan Waktu Muda Madya UtamaA. PENGETAHUA N UMUM01. Profesionalism Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn e non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV02. Komunikasi Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Massa non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV03. Pers Nasional Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn dan Media non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV Global non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV04. Hukum Pers Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TVB. TEORI JURNALISTIK05. Prinsip-prinsip Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Jurnalistik non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media 135
  • 137. TV06. Unsur Berita, Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Nilai Berita, non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV Jenis Berita non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV07. Bahasa Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Jurnalistik non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV08. Fakta dan Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Opini non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV09. Narasumber Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TV10. Kode Etik Disamakan dgn jurnalis Disamakan Disamakan Disamakan Disamakan dgn Disamakan dgn jurnalis Disamakan dgn Jurnalistik non-media TV dgn jurnalis dgn jurnalis dgn jurnalis non-media TV non-media TV jurnalis non-media TV non-media non-media jurnalis TV TV non-media TVC. PRAKTIK JURNALISTIK11. Melakukan n Menguji Praktik: Petunjuk 30 Reporter: Producer/Associate Executive Wawancara kemampuan wawancara simulasi n Melakukan Producer: Producer/Manager mempersiapkan jumpa pers, wawancara dlm n Melakukan Pemberitaan/ materi wawancara door stop, jumpa pers. wawancara door Wakil/Kepala Divisi n Menguji dan khusus. n Melaporkan step. Pemberitaan: kemampuan hasil n Melaporkan hasil berbagai bentuk wawancara. wawancara. n Melakukan wawancara wawancara 136
  • 138. Camera Person: khusus n Mengambil (mendalam). gambar n Melaporkan hasil wawancara dlm wawancara. jumpa pers. n Menunjukkan gambar hasil wawancara dgn gambar berstandar broadcast.12. Menjalankan n Menguji Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Liputan kemampuan Melakukan simulasi n Mempersiapkan Producer: Producer/Manager mempersiapkan liputan dan Pemberitaan/ materi liputan melaksanakan n Menganalisis Wakil/Kepala Divisi n Menguji liputan. fakta, data, dan Pemberitaan: kemampuan n Mengumpulkan gambar yang mengumpulkan fakta dan bahan dikumpulkan n Menentukan informasi berupa berita. reporter dan bahan berita dan fakta dan data. camera person. gambar yang Camera Person: n Memberikan layak tayang. - Mempersiapkan pengayaan dan n Memberikan ide, peralatan kompilasi bahan informasi latar kamera dll dan liputan. belakang. melaksanakan n Mengumpulkan n Mengarahkan pengambilan bahan liputan liputan gambar dalam investigasi. investigasi. liputan. - Mengumpulkan/ mendata footage dan gambar hasil liputan.13. Menyusun Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Berita dalam membuat jenis- Menulis simulasi n Menulis straight Producer: Producer/Manager jenis berita dan liputan. berita news (spot Pemberitaan/ 137
  • 139. news) n Menulis berita Wakil/Kepala Divisi berdasarkan mendalam Pemberitaan: kumpulan (indepth news); n Mengarahkan gambar yang atau pemilihan berita- diperoleh n Menulis berita berita yang akan camera person. khas (news ditayangkan. feature), dengan n Menjabarkan/ Camera Person: menjelaskan pula menuliskan - Membuat editan gambar-gambar opini/ kasar gambar macam apa yang pandangan/ (cukup dgn diperlukan, yang kebijakan kamera), yang sesuai dengan redaksional sesuai dengan narasi berita yang tentang isu narasi berita ditulis. tertentu yang spot (straight dipilih dari topik- news) yang topik berita yang ditulis oleh layak tayang. reporter.138
  • 140. 14. Menyunting Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executiv e Berita menyunting berita. menyunting simulasi n Memeriksa Producer: Producer/Manager berita ulang berita Pemberitaan/ yang ditulisnya Menyunting sejumlah Wakil/Kepala Divisi sendiri, jika ada berita (narasi) dengan Pemberitaan: salah data, fakta, menyertakan kata, dll. Serta permintaan footage/ Memutuskan berita- mengubah gambar yang sesuai berita yang layak struktur/alur dengan narasi berita - tayang dan tidak layak narasi jika berita tsb. tayang, dengan diperlukan. menyertakan paparan tertulis mengenai Camera Person: argumen mengapa - Memeriksa item-item berita itu ulang gambar layak atau tidak layak hasil liputan, yg (dengan sudah mempertimbangan mengalami target audiens, etika editing kasar, pemberitaan dan berusaha /kepantasan, cover memperbaiki/ both sides, dll). menyempurna kan hasil editing tsb, sesuai dgn narasi berita yg ditulis reporter.15. Merancang Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Materi dan dalam merancang materi Merancang simulasi n Menyediakan Producer: Producer/Manager Desain dan desain media utk materi dan berita sesuai Pemberitaan/ target audiens tertentu. desain dengan karakter Merancang materi Wakil/Kepala Divisi program TV ybs, berita dan desain Pemberitaan: seperti yang program TV ybs. diminta oleh Memutuskan producer. penempatan berita- berita sesuai program 139
  • 141. Camera Person: TV ybs. - Menyediakan footage/gambar sesuai materi berita yang diminta reporter/ producer, dan sesuai dgn karakter program TV ybs.16. Mengelola Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Manajemen dalam mengelola Mengelola simulasi n Mengikuti rapat Producer: Producer/Manager Redaksi redaksi. manajemen redaksi Pemberitaan/ redaksi n Memberikan n Merencanakan Wakil/Kepala Divisi usul/saran topik materi dan desain Pemberitaan: liputan program TV ybs. n Memberikan Memimpin rapat Camera Person: pengayaan materi redaksi dan n Mengikuti rapat program TV ybs. memutuskan redaksi penempatan berita. n Memberikan usul/saran topik liputan + gambar liputan17. Menetapkan Menguji kemampuan Simulasi: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Kebijakan dalam menentukan Menetapka simulasi Memberikan usul Producer: Producer/Manager Redaksi kebijakan redaksi dan n kebijakan arah pemberitaan. Pemberitaan/ arah pemberitaan. redaksi Memberikan Wakil/Kepala Divisi Camera Person: pandangan tentang Pemberitaan: Memberikan usul arah dan arti penting Menentukan arah pemberitaan. pemberitaan tsb. kebijakan dan arah pemberitaan, 140
  • 142. termasuk liputan investigasi.18. Menggunakan Menguji kemampuan Praktik: Petunjuk 60 Reporter: Producer/Associate Executive Peralatan dalam penggunaan Menggunak praktik n Mempersiapkan Producer: Producer/Manager Teknologi peralatan teknologi an dan Pemberitaan/ Informasi informasi pemberitaan. peralatan mengoperasikan n Menguasai Wakil/Kepala Divisi teknologi laptop/ penggunaan Pemberitaan: informasi komputer/ alat komputer, rekam suara. internet, alat n Memahami n Menggunakan rekam, mesin penggunaan internet utk editing dll sebagai komputer, mencari dan kesatuan terpadu internet, alat melengkapi dalam proses rekam, mesin bahan liputan. pemberitaan di editing dll Camera Person: media TV. sebagai kesatuan n Mempersiapkan n Mengusulkan terpadu dalam dan pilihan alat proses mengoperasikan teknologi pemberitaan di kamera dan informasi yang media TV. perlengkapan sesuai kebutuhan. n Memutuskan lain yg pilihan alat berhubungan teknologi dgn gambar. informasi yang n Menggunakan sesuai internet utk kebutuhan. mencari footage dan melengkapi gambar hasil liputan, dan atau mengirimkan gambar.D. PENDALAMAN KODE ETIK JURNALISTIK 141
  • 143. 19. Pemetaan dan n Menguji Diskusi: Lembar 60 Reporter: Producer/Associate Executive Penyikapan kemampuan dalam Membahas kasus dan n Memberikan Producer: Producer/Manager Problem Etik memetakan implementa pertanyaan pan dangan, Pemberitaan/ permasalahan. si kode etik saran, dan Memberikan Wakil/Kepala Divisi n Menguji masukan pandangan, saran, dan Pemberitaan: kemampuan dalam masukan, dan mampu menyikapi Camera Person: menguraikan Memimpin diskusi, permasalahan n Memberikan permasalahan etis yang menguraikan masalah, penerapan kode pan dangan, sedang dihadapi merangkum berbagai etik. saran, dan pandangan, mencari masukan titik temu, mengambil kesimpulan dan keputusan terhadap problem etis yang sedang dihadapi.20. Perincian Kode n Menguji Diskusi: Lembar 60 Reporter: Producer/Associate Executive Etik ke Kode kemampuan dalam Membahas kasus dan n Memberikan Producer: Producer/Manager Perilaku menyederhana kan implementa pertanyaan pan dangan, Pemberitaan/ masalah penerapan si kode etik saran, dan Memberikan Wakil/Kepala Divisi kode etik. masukan pandangan, saran, dan Pemberitaan: n Menguji masukan, dan mampu kemampuan dalam Camera Person: menguraikan Memimpin diskusi, menerjemahkan n Memberikan permasalahan etis yang menguraikan masalah, kode etik ke dalam pan dangan, sedang dihadapi merangkum berbagai kode perilaku. saran, dan pandangan, mencari masukan titik temu, mengambil kesimpulan dan keputusan terhadap problem etis yang sedang dihadapi. 142
  • 144. Catatan untuk Materi jurnalis TV:1. Materi-Metode untuk uji kompetensi ini diberlakukan khususnya untuk jurnalis media TV (audio-visual), dan --dengan sedikit modifikasi di aspek teknis/praktik jurnalistik-- tampaknya juga bisa diberlakukan untuk jurnalis yang bekerja di media radio (audio).2. Diasumsikan: Jurnalis muda adalah level reporter/camera person, jurnalis madya adalah level producer/associate producer, dan jurnalis utama adalah level Executive Producer, Wakil/Kepala Divisi Pemberitaan, Manager Pemberitaan, dll. Namun bisa saja terjadi, di stasiun TV tertentu --karena adanya tuntutan kebutuhan ada jurnalis yang masa kerjanya belum lama, tapi sudah diangkat jadi Producer atau Associate Producer. Dalam hal ini, dia -- "dipaksa matang sebelum waktunya."3. Materi-Metode ini saya susun dengan mengacu ke pengalaman praktik/kerja di Trans TV, dan terbuka untuk dikoreksi, dimodifikasi, dire visi, disempurnakan, dan dikembangkan. 143