ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAHPengertian Bank Syariah       Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syaria...
barang/uang     dapat    memanfaatkan   barang/uang    titipan   dan   harus         bertanggung jawab terhadap kehilangan...
1). Musyarakah pemilikan, tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi              lainnya yang mengakibatkan pemilikan ...
4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah)   Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui   pembayaran upah s...
Sistem Operasional Bank Syariah       Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di banktidak denga...
c. Investasi (Mudharabah)               Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang               mem...
Standar Akuntansi Perbankan Syari’ah       Langkah pengembangan standar akuntansi keuangan bank syari’ah sudahdimulai seja...
Tujuan laporan keuangan bank syari’ah pada dasarnya sama dengan tujuan laporankeuangan secara umum dengan tambahan, antara...
yang meliputi; aktiva, kewajiban, investasi tidak terikat dan ekuitas. Oleh karena   itu persamaan akuntansi untuk bank sy...
Sedangkan peran bank syari’ah sebagai manajer investasi berkaitan dengan   adanya pos hak pada pihak ketiga atas bagi hasi...
4. Ekuitas
5. Laporan Perubahan investasi terikat6. Laporan sumber dana dan penggunaan dana zakat infak dan shadaqah
7. Laporan sumber dan pengguna dana qardhul hasan8. Catatan-catatan laporan keuangan   Catatan laporan keuangan adalah ber...
yang independen tentang suatu permasalahan. Lahirnya konsep Nilai Tambahbersumber dari adanya perbedaan tujuan akuntansi, ...
Rasio KeuanganRasio Permodalan (Solvabilitas)Bank pada umumnya dan bank syariah pada khususnya adalah lembaga yang didirik...
Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Analisis laporan keuangan bank syariah

17,101

Published on

1 Comment
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
17,101
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
443
Comments
1
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Analisis laporan keuangan bank syariah"

  1. 1. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAHPengertian Bank Syariah Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah bank yangberoperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank syariah juga dapatdiartikan sebagai lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknyadikembangkan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Antonio danPerwataatmadja membedakan menjadi dua pengertian, yaitu Bank Islam dan Bankyang beroperasi dengan prinsip syariah Islam. Bank Islam adalah bank yangberoperasi dengan prinsip syariah Islam dan bank yang tata cara beroperasinyamengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadits. Bank yang beroperasisesuai dengan prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam beroperasinya mengikutiketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata carabermuamalat secara Islam.Prinsip Dasar Perbankan Syariah Batasan-batasan bank syariah yang harus menjalankan kegiatannya berdasarpada syariat Islam, menyebabkan bank syariah harus menerapkan prinsip-prinsipyang sejalan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun prinsip-prinsipbank syariah adalah sebagai berikut :1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-Wadiah) Al-Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki (Syafi’I Antonio, 2001). Secara umum terdapat dua jenis al-wadiah, yaitu: a. Wadiah Yad Al-Amanah (Trustee Depository) adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan tidak diperkenankan menggunakan barang/uang yang dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan. Adapun aplikasinya dalam perbankan syariah berupa produk safe deposit box. b. Wadiah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository) adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan dengan atau tanpa izin pemilik
  2. 2. barang/uang dapat memanfaatkan barang/uang titipan dan harus bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan. Semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan barang/uang titipan menjadi hak penerima titipan. Prinsip ini diaplikasikan dalam produk giro dan tabungan.2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing) Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tatacara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana. Bentuk produk yang berdasarkan prinsip ini adalah: a. Al-Mudharabah Al-Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian ini diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Akad mudharabah secara umum terbagi menjadi dua jenis: 1). Mudharabah Muthlaqah Adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. 2). Mudharabah Muqayyadah Adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib dimana mudharib memberikan batasan kepada shahibul maal mengenai tempat, cara, dan obyek investasi. b. Al-Musyarakah Al-musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dua jenis al-musyarakah:
  3. 3. 1). Musyarakah pemilikan, tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. 2). Musyarakah akad, tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah.3. Prinsip Jual Beli (Al-Tijarah) Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan (margin). Implikasinya berupa: a. Al-Murabahah Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. b. Salam Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh penjual dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan tersebut diterima sesuai syarat-syarat tertentu. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel. c. Istishna’ Istishna’ adalah akad jual beli antara pembeli dan produsen yang juga bertindak sebagai penjual. Cara pembayarannya dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi: jenis, spesifikasi teknis, kualitas, dan kuantitasnya. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara istishna maka hal ini disebut istishna paralel.
  4. 4. 4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah) Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri. Al-ijarah terbagi kepada dua jenis: (1) Ijarah, sewa murni. (2) ijarah al muntahiya bit tamlik merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa.5. Prinsip Jasa (Fee-Based Service) Prinsip ini meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank. Bentuk produk yang berdasarkan prinsip ini antara lain: a. Al-Wakalah Nasabah memberi kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti transfer. b. Al-Kafalah Jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. c. Al-Hawalah Adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Kontrak hawalah dalam perbankan biasanya diterapkan pada Factoring (anjak piutang), Post-dated check, dimana bank bertindak sebagai juru tagih tanpa membayarkan dulu piutang tersebut. d. Ar-Rahn Adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan utang atau gadai. e. Al-Qardh Al-qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Produk ini digunakan untuk membantu usaha kecil dan keperluan sosial. Dana ini diperoleh dari dana zakat, infaq dan shadaqah.
  5. 5. Sistem Operasional Bank Syariah Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di banktidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkankeuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada merekayang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagiankeuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:1. Sistem Penghimpunan Dana Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito. Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas: a. Modal Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya. Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. b. Titipan (Wadi’ah) Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah. Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  6. 6. c. Investasi (Mudharabah) Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.2. Sistem Penyaluran Dana (Financing) Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu: a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli. Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah). Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa. c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
  7. 7. Standar Akuntansi Perbankan Syari’ah Langkah pengembangan standar akuntansi keuangan bank syari’ah sudahdimulai sejak Tahun1987. Kehadiran akuntansi syari’ah merupakan tuntutan darilahirnya lembaga-lembaga ekonomi yang berbasis syari’ah termasuk di dalamnyaadalah bank syari’ah. Akuntansi yang digunakan sementara ini oleh lembagalembagakeungan syari’ah adalah PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan) No. 59Tahun2003, yang diterbitkan oleh IAI. Akuntansi bank syari’ah adalah akuntansi yangberhubungan dengan aspek-aspek lingkungannya. Karena syari’ah adalah mencakupseluruh aspek kehidupan umat manusia, baik ekonomi, politik, sosial dan filsafatmoral. Dengan kata lain, syari’ah berhubungan dengan seluruh aspek kehidupanmanusia, termasuk didalamnya adalah akuntansi. PSAK (Pedoman Standar AkuntansiKeuangan) No. 59 secara resmi dikeluarkan pada tanggal 1 Mei 2002 dan secara resmiditerapkan sejak 1 Januari 2003 oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan yang terdiridari; Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syari’ah danPernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Akuntansi Syari’ah. PSAK No. 59 inikemudian dijabarkan dalam PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syari’ahIndonesia) 2003, yang berperan mengatur secara teknis dan rinci penjabaran PSAK59. Tujuan akuntansi keuangan bank syari’ah salah satunya adalah dapatmeningkatkan kepatuhan kepada prinsip syari’ah dalam semua transaksi dankegiatan usaha. Penerbitan kedua ketentuan ini diharapkan dapat menambahkelengkapan, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disampaikan dalam laporankeuangan perbankan syari’ah, sehingga lebih mudah dipahami dan dipercaya olehmasyarakat (PAPSI), 2003:iv). Tujuan akuntansi keuangan bank syari’ah dalamKerangka DasarPenyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syari’ah adalah: 1. Menentukan hak dan kewajiban pihak terkait, termasuk hak dan kewajiban yang berasal dari transaksi yang belum sesuai dengan dan atau kegitan ekonomi lain, sesuai dengan prinsip syari’ah yang berdasarkan pada konsep kejujuran, keadilan, dan kepatuhan kepada nilai-nilai bisinis Islami. 2. Menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan 3. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syari’ah pada dasarnya dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.
  8. 8. Tujuan laporan keuangan bank syari’ah pada dasarnya sama dengan tujuan laporankeuangan secara umum dengan tambahan, antara lain, menyediakan: 1. Informasi kepatuhan bank terhadap prinsip syari’ah, serta informasi pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syari’ah bila ada dan bagaimana pendapatan tersebut diperoleh serta penggunaannya. 2. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggungjawab terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikan pada tingkat keuntungan yang layak, 3. Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh pemilik dan pemilik dana investasi terikat. 4. Informasi mengenai pemenuhan fungsi sosial bank, termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat. Menurut Muhammad (2002), tujuan utama menyajikan informasi keuangan adalah: 1. Dasar pengambilan keputusan 2. Monitoring perkembangan khususnya keuangan bank syari’ah 3. Pengendalian keuangan 4. Evaluasi terhadap pencapaian tujuan.Sementara itu prinsip-prinsip akuntansi syari’ah yaitu; (1) prinsippertanggungjawaban (accountability), (2) prinsip Keadilan, (3) prinsip Kebenaran.Oleh sebab itu secara praktis laporan keuangan bank syari’ah yang berkualitas harusmemenuhi kriteria yaitu; dapat dipahami (understandability), relevan (relevance)andal, dapat dibandingkan (comparability), dapat diuji kebenarannya (auditability).Penyajian dan Pengungkapan Pelaporan Keuangan Bank Syari’ah Menurut PSAKNo. 59 Berdasarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan KeuanganBank Syari’ah, IAI menyusun PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syari’ah.Dalam aspek penyajian, PSAK No. 59 merekomendasikan tujuh elemen laporankeuangan bank syari’ah yaitu:1. Laporan posisi keuangan (neraca); Laporan posisi keuangan yang disusun berdasarkan PSAK No 59 memiliki karakreristik yang berbeda dengan neraca bank konvensional Karakteristik pertama yang dapat dilihat dari unsur-unsur neraca bank syari’ah
  9. 9. yang meliputi; aktiva, kewajiban, investasi tidak terikat dan ekuitas. Oleh karena itu persamaan akuntansi untuk bank syari’ah dapat dirumuskan sebagai berikut: Aktiva = Kewajiban + Investasi Tidak Terikat + EkuitasSecara lengkap sajian pos-pos dalam neraca adalah sebagai berikut:2. Laporan Laba Rugi Seperti halnya neraca, laporan laba rugi juga mencerminkan peran bank syari’ah selaku investor dan manajer investasi. Peran bank syari’ah selaku investor bisa dilihat dari adanya pos pendapatan bagi hasil mudharabah dan musyarakah.
  10. 10. Sedangkan peran bank syari’ah sebagai manajer investasi berkaitan dengan adanya pos hak pada pihak ketiga atas bagi hasil investasi tidak terikat. Pos inilah yang membedakan laporan laba rugi menurut PSAK No. 59 dengan laporan laba rugi yang digunakan bank syari’ah sebelum adanya PSAK No 59, pos tersebu ditujukan untuk pemilik investasi tidak terikat dan tidak dapat dipergunakan sebagai beban:3. Laporan arus kas Laporan arus kas harus membedakan antara arus kas antara arus kas dari operasi, arus kas dari kegiatan investasi, dan arus kas dari kegiatan pembiayaan. Secara lengkap Laporan Arus Kas adalah sebagai berikut:
  11. 11. 4. Ekuitas
  12. 12. 5. Laporan Perubahan investasi terikat6. Laporan sumber dana dan penggunaan dana zakat infak dan shadaqah
  13. 13. 7. Laporan sumber dan pengguna dana qardhul hasan8. Catatan-catatan laporan keuangan Catatan laporan keuangan adalah berisi uraian yang mengungkapkan semua informasi yang perlu untuk menjadikan laporan keuangan tersebut memadai, relevan dan bisa diperacaya (andal) bagi para pemakainya.Penyajian dan Pengungkapan Pelaporan Keuangan Bank Syari’ah BerdasarkanNilai Tambah Terbitnya PSAK No. 59 tak lepas dari adanya tuntutan yang semakin mendesakkebutuhan akan standar akuntansi untuk perbankan syari’ah di Indonesia. PSAK No.59 dalam penyusunannnya banyak mereferensi metode yang digunakan oleh AAOIFI(Accounting and Auditing Organization for Islamic Institutions) yaitu Accounting andAuditing Standars for Islamic Financial Institutions. PSAK No. 59 dalam penyajiandan pengungkapan dan pelaporan keuangan bank syari’ah masih menggunakanelemen-elemen yang tidak jauh berbeda dengan akuntansi konvensional. Meskipunterdapat elemen laporan keuangan tambahan seperti Laporan Perubahan DanaInvestasi Tidak Terikat, Laporan Dana Infak, Zakat dan Shodaqoh serta Laporan DanaQardhul Hasan. Namun demikian PSAK No. 59 dipandang masih sarat dengan dengannilai-nilai kapitalisme. Karena orientasi dari akuntansi bank syari’ah saat ini masihberorientasi pada pemilik modal. Kondisi ini belakangan mendorong para pakarakuntansi syari’ah mengungkapkan pentingnya konsep Nilai Tambah dalam laporankeuangan bank syari’ah. Lahirnya konsep Nilai Tambah tidak lepas dari peran parapakar akuntansi syariah antara lain; Gambling, Karim, Baydoun, Willeet, Triyuwono,Hamed dan Harahap. Mereka yang telah melakukan ijtihad yaitu pengerahan segalaupaya dengan sebuah pandangan untuk membentuk sebuah pendapat (judgement)
  14. 14. yang independen tentang suatu permasalahan. Lahirnya konsep Nilai Tambahbersumber dari adanya perbedaan tujuan akuntansi, dan konsep kepemilikan yangdirumuskan oleh pakar akuntansi syari’ah dengan tujuan yang ada pada PSAK No. 59saat ini. Tujuan akuntansi syari’ah adalah untuk membantu keadilan sosial danekonomi serta mengakui pemenuhan kewajiban kepada stakeholders, sosial danTuhan. Pendapat ini didasarkan pada Al Qur’an surat al Hadid ayat 24: SesungguhnyaKami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti yang nyata dan telahKami turunkan bersama mereka Al Kitab dan Neraca (Keadilan) supaya manusiadapat melaksanakan keadilan (Q.S. Al Hadid: 24). Sedangkan berkaitan denganpemenuhan kewajiban (akuntabilitas) dapat dilihat konsep kepemilikan dalam islampada Surat Thaha ayat 6: Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yangada di bumi, semua yang ada di antara keduanya, dan semua yang ada di bawahtanah (Q.S. Thaha: 6) Berkaitan dengan konsep pemilikan, bahwa kepemilikanmutlak adalah di tangan Allah, maka manusia di beri tugas oleh Tuhan untuk menjadikhalifah (wakil Tuhan) dalam mengelola bumi, sehingga karena tugas ini manusiaakan dimintai pertanggungjawaban (akuntabilitas) dalam pelaksanaannya. Ingatlahketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendakmenjadikan (manusia) khalifah di muka bumi…(Q.S. Al Baqarah: 30). Sesungguhnyaaku yakin bahwa aku akan menemui hisab terhadap diriku (Q.S. Al Haqqah: 20)Adanya ayat tersebut menjelaskan posisi manusia sebagai khalifah, sehingga konseppertanggungjawaban begitu ditekankan dengan perintah Allah melalui istilah “hisab”atau perhitungan/ akuntabilitas di hari pembalasan. Konsep pertanggunjawaban(akuntabilitas) ini yang mendasari Haniffa dan Hudaib (2001), merumuskan KerangkaKonseptual Akuntansi yang berdasarkan prinsip-prinsipislam:
  15. 15. Rasio KeuanganRasio Permodalan (Solvabilitas)Bank pada umumnya dan bank syariah pada khususnya adalah lembaga yang didirikandengan orientasi laba. Kekuatan aspek permodalanini memungkinkan terbangunnya kondisi bank yang dipercaya oleh masyarakat.Pengertian modal bank berdasar ketentuan Bank Indonesia dibedakan antara bankyang didirikan dan berkantor pusat di Indonesia dan kantor cabang bank asing yangberoperasi di Indonesia. Modal bank yang didirikan dan berkantor pusat di Indonesiaterdiri atas modal inti atau primary capital dan modal pelengkap atau secondarycapital.
  16. 16. Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak, dengan perincian sebagaiberikut:1. Modal disetor Modal disetor adalah modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya. Bank yang berbadan hukum koperasi, modal disetor terdiri atas simpanan pokok dan simpanan wajib para anggotanya.2. Agio saham Agio saham adalah selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat dari harga saham yang melebihi nilai nominalnya.3. Cadangan umum Cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai anggaran dasar masing-masing.4. Cadangan tujuan Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota.5. Laba ditahan Laba ditahan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.6. Laba tahun lalu Laba tahun lalu adalah laba bersih tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak dan belum ditentukan penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota. Jumlah laba tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal hanya sebesar 50%. Jika bank mempunyai saldo rugi pada tahun-tahun lalu, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.7. Laba tahun berjalan Laba tahun berjalan adalah laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50%. Jika bank mengalami kerugian pada tahun berjalan, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

×