Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Ayam Broiler
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Ayam Broiler

  • 20,708 views
Uploaded on

melihat seberapa besar pengaruh dari faktor-faktor produksi terhadap risiko produksi dari usaha ayam broile

melihat seberapa besar pengaruh dari faktor-faktor produksi terhadap risiko produksi dari usaha ayam broile

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
20,708
On Slideshare
20,706
From Embeds
2
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
253
Comments
0
Likes
2

Embeds 2

http://www.slashdocs.com 1
http://www.docshut.com 1

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI AYAM BROILER (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor) SKRIPSI IMAN SATRA NUGRAHA H34096045 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 i
  • 2. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI AYAM BROILER (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor) SKRIPSI IMAN SATRA NUGRAHA H34096045 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 ii
  • 3. RINGKASANIMAN SATRA NUGRAHA. Analisis Faktor-Faktor yang MempengaruhiRisiko Produksi Ayam Broiler (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam BroilerPada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor). Skripsi. DepartemenAgribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor(Di bawah bimbingan NETTI TINAPRILLA). Ayam broiler merupakan jenis unggas yang memiliki pertumbuhan yangsangat cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jenis unggas lainnya. Ayambroiler dapat dipanen kisaran 28-32 hari. Ayam broiler memiliki peluang yangsangat luas untuk dikembangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembanganpopulasi ternak ayam broiler yang ada di Indonesia setiap tahunnya mengalamipeningkatan. Peningkatan populasi tersebut didukung dengan semakinmeningkatnya pertumbuhan penduduk Indonesia setiap tahun serta adanyakandungan gizi yang terkandung pada daging ayam broiler cukup untukmemenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan oleh tubuh. Ayam broiler memiliki penyebaran dari Sabang hingga Marauke, namunjumlah yang paling besar berada di pulau Jawa. Jawa Barat merupakanpenyumbang terbanyak dalam memproduksi ayam broiler. Peternakan ayambroiler pada umumnya tidak melakukan usaha secara mandiri, karena peternakyang ada di Indonesia kebanyakan masih bersifat tradisional sehingga masihmembutuhkan bantuan pihak lain. Kerja sama ini salah satu untuk mengurangikerugian yang ditanggung oleh peternak ayam tersebut. Salah satunya adalahPeternakan ayam broiler yang ada di Kabupaten Bogor, Kecamatan Dramagatidak berdiri sendiri, melainkan melakukan kerjasama dengan perusahaan intiyang menyediakan semua faktor-faktor produksi. Peternak hanya mempersiapkankandang , alat pemanas, sekam, serta peralatan lainnya seperti tempat pakan danminum. Hal tersebut membuat beban peternak semakin berkurang, karena tidaklagi memikirkan faktor-faktor produksi serta pemasaran produknya, walaupunpeternak melakukan kerjasama dengan perusahaan inti, peternak tidak terlepasdari risiko produksi. Indikasi adanya risiko produksi adalah produktivitas masihberfluktuasi pada setiap peternak, selain itu juga adanya tingkat kematian yangbervariasi. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1). Faktor-faktor produksi apa saja yang mempengaruhi Produksi Rata-rata dan varianceproduksi ayam broiler pada peternak plasma DUF ? dan 2). Bagaimana pengaruhfaktor-faktor produksi terhadap produksi rata-rata dan variance produksi peternakayam broiler pada peternak plasma DUF ?. Berdasarkan permasalahan tersebut,maka tujuan penelitian ini adalah untuk : 1). Menganalisis faktor-faktor produksiyang mempengaruhi produktivitas dan variance produksi ayam broiler yangdihasilkan para peternak plasma DUF dan 2). Menganalisis pengaruh faktor-faktorproduksi ayam broiler yang digunakan terhadap risiko produksi ayam broiler yangdihasilkan peternak plasama DUF di Kecamatan Dramaga. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan datasekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara dan observasi kepadapeternak ayam broiler serta penyuluh di perusahaan inti. Data sekunder berasaldari internet, buku, penelitian terdahulu dan perpustakaan. Data yang digunakan iii
  • 4. adalah data panel yaitu gabungan antara data time series dan cross section.Analisis dilakukan dengan dua metode yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif digunakan untuk penanganan risiko dan sumber risiko produksi,sedangkan kuantitatif digunakan untuk melihat faktor-faktor produksi yangmempengaruhi produktivitas dan pengaruhnya terhadap variance produksi.Pengolahan data digunakan dengan program minitab 14 dan eviews 6. Peternak yang digunakan sebagai responden sebanyak 30 responden yangrepresentative dan satu responden terdiri dari dua periode. Skala usaha satupeternak dengan peternak lainnya juga beraneka ragam, mulai dari 1.500-9.000ekor ayam. Berdasarkan permasalahan pada penelitian ini, maka diperlukanfaktor-faktor produksi sebagai parameter. Faktor-faktor produksi yang digunakandalam pengolahan data adalah jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp,Doxerin Plus, vaksin, pemanas serta tenaga kerja. Faktor-faktor produksi tersebutdigunakan berdasarkan pertimbangan pada kondisi lapangan yaitu semua peternakmenggunakan jenis variabel produksi tersebut. Berdasarkan hasil pendugaan parameter menunjukkan bahwa secara umumsemua variabel memiliki pengaruh signifikan terdapat produktivitas dan varianceproduksi. Untuk melihat pengaruh dari semua input terhadap produktivitas danvariance produksi digunakan dari nilai F. Nilai F hitung harus lebih besardibandingkan dengan nilai F tabel, jika nilai F-hitung > F-tabel maka tolak H0.Penolakan H0 tersebut menunjukkan bahwa secara umum semua variabel produksisecara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap perubahan produktivitas danvariacen produksi. Selain dapat dilihat nilai F, penolakan H0 dapat dilihat dari nilaP-value. Nilai P-value harus lebih kecil dengan taraf nyata yang digunakan. Tarafnyata yang digunakan sebagai acuan batas kewajaran adalah 20 persen. Hasilpendugaan parameter dapat disimpulkan secara bersama semua variabel yangdigunakan berpengaruh signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai F-hitung >F-tabel yaitu F-hitung sebesar 241 sedangkan F-tabel sebesar 2,18, atau dapatdilihat dari nilai P-value sebesar 0,000 lebih kecil daripada taraf nyata limapersen. Untuk melihat pengaruh dari masing-masing variabel terhadap produksirata-rata dan variance produksi dapat dilihat dari uji t. Kriteria variabelberpengaruh terhadap produksi dan variance produksi dapat dilihat pada nilai P-value lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan sebagai acuan yaitu 20 persen.Berdasarkan uji t dapat dijelaskan bahwa variabel-variabel yang berpengaruhsignifikan terhadap produktivitas dibawah taraf nyara satu persen adalah jumlahDOC, pakan, pemanas serta tenaga kerja. Variabel yang signifikan pada tarafnyata dibawah dua persen adalah Doxerin Plus, dan yang tidak berpengaruhsignifikan adalah Protect Enro, Neocamp dan vaksin. Variabel tersebut beradapada taraf nyata dibawah 93, 39 dan 43 persen. Untuk hasil pendugaan parameter variance produksi, faktor-faktorproduksi yang berpengaruh signifikan terhadap variance produksi hanya tenagakerja dengan taraf nyata dibawah enam persen. Sedangkan variabel yang lainnyaseperti jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, vaksin sertapemanas tidak berpengaruh nyata terhadap variance produksi. Hal tersebut dapatdilihat dari nilai P-value diatas 61 persen. Namun, jika dilihat dari tanda koefisienvariabelnya ada yang bertanda positif dan bertanda negatif. Jika koefisien variabelbertanda positif maka variabel tersebut termasuk variabel yang menimbulkan iv
  • 5. variance produksi. Dengan demikian variabel tersebut digunakan lebih banyakmaka variance yang dihasilkan akan semakin tinggi. Sedangkan jika koefisienvariabel bertanda negatif maka variabel tersebut termasuk faktor produksi yangdapat mengurangi variance produksi. Hal ini berarti jika variabel tersebut semakinbanyak digunakan maka variance yang dihasilkan akan semakin menurun. Faktor-faktor produksi yang termasuk menimbulkan variance produksiadalah jumlah DOC, Protect Enro dan tenaga kerja. Sedangkan faktor produksiyang dapat mengurangi risiko adalah pakan, Doxerin Plus, Neocamp, vaksin sertapemanas. Sumber risiko produksi yang dialami oleh para peternak ayam broileryang ada di Kabupaten Dramaga adalah sumber daya manusia atau pegawai dancuaca/iklim yang tidak menentu. Untuk mengurangi risiko produksi tersebutdilakukan penanganan risiko dengan cara pencegahan risiko yaitu denganmemperbaiki kualitas sumber daya manusianya dengan cara memberikanpenyuluhan serta dengan membuat atau memperbaiki fasilitas agar cuaca yangtidak menentu dapat diatasi dengan fasilitas yang memadai. v
  • 6. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI AYAM BROILER(Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV Dramga Unggas Farm Kabupaten Bogor) IMAN SATRA NUGRAHA H34096045 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 vi
  • 7. Judul Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Ayam Broiler (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor)Nama : Iman Satra NugrahaNIM : H34096045 Menyetujui, Pembimbing Ir. Netti Tinaprilla, MM. NIP. 19690410 1995 1220 1 Mengetahui, Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Dr. Ir.Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002Tanggal Lulus : vii
  • 8. PERNYATAANDengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Produksi Ayam Broiler (Studi Kasus PeternakPlasma pada CV DUF Kabupaten Bogor)” adalah karya sendiri dan belumdiajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumberinformasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan manapun tidakditerbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalambentuk daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini. Bogor, September 2011 Iman Satra Nugraha H34096045 viii
  • 9. RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Desa Teluk Pulai Dalam, Kecamatan Kualuh Leidong,Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatra Utara pada tanggal 24 September 1988.Penulis anak ke lima dari lima bersaudara yang berasal dari hasil pernikahanBapak Syahlan dan Ibu Tarwini. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres No.115457 TelukPulai Dalam pada tahun 2000 dan melanjutkan pendidikan menengah pertama diSMP Plus Al-Azhar Medan pada tahun 2003. Pendidikan lanjutan menengah atasdiselesaikan pada tahun 2006 di SMA Al-Azhar Medan. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan keperguruan tinggi melalui jalurUSMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada Program Diploma Program StudiManajemen Agribisnis dan lulus pada tahun 2009. Pada tahun 2009 juga penulismelanjutkan ketingkat Sarjana melalui Program Penyelenggaraan KhususDepartemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. ix
  • 10. KATA PENGANTAR Alhamduliilahihirobbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkankehadirat Allah SWT, yang telah memberikan anugrah –Nya sehingga penulisdapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi syaratuntuk memproleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Sarjana EkstensiAgribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Skripsi yang ditulis dengan topik risiko dan fakor produksi ayam broileryang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko ProduksiAyam Broiler (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV DramagaUnggas Farm Kabupaten Bogor)”. Skripsi ini mengkaji faktor-faktor yangdigunakan dalam menjalankan usaha ayam pedaging, seperti pakan, obat-obatan,vitamin, vaksin, tenaga kerja, sekam, pemanas, luas kandang, serta jumlah DOC.Input-input tersebut akan mempengaruhi tingkat produktivitas yang dihasilkandan dapat menimbulkan risiko yang akan mempengaruhi produksi ayam pedagingtersebut. Dengan demikian, diperlukan pengelolaan yang baik terhadap faktor-faktor produksi ayam broiler agar menghasilkan produksi yang baik dan risikoproduksinya juga menjadi rendah. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat menjadi pertimbanganbagi pihak pengambilan keputusan dalam penggunaan faktor-faktor produksisehingga mendapatkan produksi yang maksimal dan dapat menghidari risiko yangmungkin akan terjadi selam proses produksi. Bogor, September 2011 Iman Satra Nugraha x
  • 11. UCAPAN TERIMAKASIHProses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dariberbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan syukur kepadaAllah SWT dan menyampaikan terimakasih kepada :1. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabarannya yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.2. Dr. Ir. Suharno, M.Adev selaku dosen penguji utama atas masukan, arahan dan saran sehingga penulisan skripsi ini lebih mudah dimengerti pembaca.3. Dra. Yusalina, Msi selaku dosen komi pendidikan atas saran dan masukkan terhadap format penulisan dan penggunaan kata-kata sehingga skripsi ini lebih baik.4. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen evaluator pada seminar proposal yang telah memberikan koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini.5. Dr. Rita Nurmalina, selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dalam hal perkuliahan.6. Ayahanda Syahlan dan Ibunda Tarwini tercinta, serta kakak tersayang (Rosita Harmaini, Heri Syafitri, Nova Febriansyah, Tia), dan abang (Kholik, Amru, dan Yazali), serta keponakan tersayang (Upi, Fifa, Yaya, dan Runah) atas doa, dorongan moril, materi, kesabaran, pengertian, motivasi, dan kasih sayangnya.7. Pak Asep, Pak Rofi, Neng Gina dan Mbak Dewi yang telah memberikan bantuan dalam pengumpulan data responden selama penelitian.8. Fitri Puspitasari yang telah memberikan motivasi serta dukungan selama penelitian sampai penulisan skripsi selesai.9. Fahmi Abidin, Vela Rostwentivaivi Sinaga, Citra Kirana, Debina, Tiwi dan Amri sebagai teman kelompok yang memberikan informasi, saran, kritikan selama penulisan skripsi ini selesai.10. Iqbal, Rahmat Wahyudin, Dian Saputra, Evin Eka Saputra, Bg Amli, Bg Hot, Bg Oki, Tika Ayu dan Kiki sebagai kawan seperantauan yang memberikan dukungan serta motivasi. xi
  • 12. 11. Rahma, Nanda, Roselina, Junita dan Eva Christy sebagai teman yang memberikan dukungan serta seperantauan.12. Staf pegawai ekstensi agribisnis yang sabar melayani keperluan penulis mulai dari awal kuliah sampai dengan penelitian selesai.13. Teman-teman jurusan agribisnis angkatan VII yang memberikan saran serta kritikan demi perbaikan penulisan skripsi.14. Para peternak ayam broiler yang menjadi responden dalam penelitian ini yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi sehingga penelitian ini dapat selesai.15. Semua pihak yang telah turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu, semuga Allah SWT membalas dan memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Bogor, September 2011 Iman Satra Nugraha xii
  • 13. DAFTAR ISI HalamanDAFTAR TABEL .................................................................................................... xvDAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xviDAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xviiI. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................. 8 1.3. Tujuan ................................................................................................... 11 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................... 11 1.5. Ruang Lingkup..................................................................................... 12II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 13 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler........................................................ 13 2.2. Risiko Produksi Ayam Broiler ............................................................ 16 2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Ayam Broiler ................ 18III. KERANGKA PEMIKIRAN..................................................................... 21 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis .............................................................. 21 3.1.1. Konsep Risiko ...................................................................... 21 3.1.2. Jenis Risiko ........................................................................... 22 3.1.3. Teori Produksi....................................................................... 23 3.1.4. Model Just and Pope .............................................................. 27 3.1.5 Sumber-Sumber Risiko ........................................................... 28 3.1.6. Manajemen Risiko ................................................................ 29 3.2. Kerangka Operasional .......................................................................... 31IV. METODE PENELITIAN .......................................................................... 34 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 34 4.2. Data dan Instrumentasi ......................................................................... 34 4.3. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 35 4.4. Metode Pengolahan Data ..................................................................... 35 4.4.1. Analisis Risiko Produksi Just dan Pope ................................ 35 4.4.2. Model ARCH-GARCH ........................................................ 38 4.5. Pengujian Hipotesis .............................................................................. 40 4.6. Hipotesis ................................................................................................ 42V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ........................................ 44 5.1. Kondisi Geografi................................................................................... 44 5.2. Kondisi Demografi ............................................................................... 44 5.3 Karakteristik Responden ........................................................................ 47 5.3.1. Umur Responden ................................................................. 47 5.3.2. Tingkat Pendidikan ............................................................... 48 5.3.3. Pengalaman Pembudidaya Ayam Broiler .............................. 48 5.3.4. Luas Kandang dan Status Kepemilikan Lahan ....................... 49 5.3.5. Skala Usaha Ayam Broiler .................................................... 51 xiii
  • 14. 5.4. Proses Produksi Ayam Broiler di Kecamatan Dramagav ................... 52 5.4.1. Pra Produksi .......................................................................... 52 5.4.2. Produksi Ayam Broiler.......................................................... 53VI. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI ............................... 57 6.1. Analisis Faktor-Faktor Risiko Produksi ............................................... 57 6.1.1. Analisis Faktor-Faktor Pada Fungsi Produksi Rata-Rata .................................................. 60 6.1.2. Analisis Faktor-Faktor pada Fungsi Variance Produksi.................................................... 67 6.2. Sumber dan Rekomendasi Penanganan Risiko Produksi ................... 74VII. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 79 7.1. Kesimpulan ........................................................................................... 79 7.2. Saran ..................................................................................................... 80DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 81LAMPIRAN ............................................................................................................. 83KUISIONER PENELITIAN ................................................................................. 90 xiv
  • 15. DAFTAR TABELNomor Halaman1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2009 ............ 12. Populasi Unggas di Indonesia Tahun 2005-2011 (ekor) ................. 33. Populasi Unggas di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2008 (ekor) .. 44. Produksi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2005-2011 ................... 45. Konsumsi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003-2007 ................. 56. Penelitian Terdahulu yang Berkaitan dengan Penelitian yang dilakukan ............................................................... 207. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Kelompok Umur Pada Tahun 2009 ................................................. 458. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Jenis Pekerjaan Pada Tahun 2009 ................................................... 469. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada Tahun 2009 ............................................. 4610. Jumlah Responden Peternak Ayam Broiler Berdasarkan Umur di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 ................. 4711. Tingkat Pendidikan Responden pada Peternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 ......................... 4812. Sebaran Responden Berdasarkan Lamanya Peternak Beternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 .......... 4913. Jumlah Responden Berdasarkan Luas Kandang di Peternak Ayam Broiler Kecamatan Dramaga Tahun 2011 ............................. 5014. Jumlah Responden Berdasarkan Kepemilikan Lahan Pada Peternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 ......................... 5115. Pengujian Mulitikolinieritas Terhadap Antar Variabel .................... 5816. Ringkasan Hasil Uji Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey. ....................................................... 5817. Hasil Pendugaan Persamaan Fungsi Produksi dan Variance Produksi Ayam Broiler Pada Kabupaten Bogor Tahun 2011........................... 5918. Hasil Pendugaan Produksi Rata-Rata Terhadap Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam di Kabupaten Bogor Tahun 2011.... 6119. Hasil Pendugaan Produksi Rata-Rata Terhadap Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam di Kabupaten Bogor Tahun 2011..... 68 xv
  • 16. DAFTAR GAMBARNomor Halaman1. Tingkat Kematian Ayam Broiler Pada Peternak Plasma DUF yang Panen di Bulan Mei dan Juni 2011 ...................................... 82. Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam Broiler di Kabupaten Darmaga 2011 .................................................. …. 103. Jenis-Jenis Risiko ........................................................................ 224. Tahapan Proses Produksi ............................................................. 255. Strategi Pencegahan Risiko .......................................................... 306. Strategi Pengurangan Risiko ........................................................ 307. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Ayam Broiler .......... 338. Skala Usaha Pada Responden Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 ............................................ 51 xvi
  • 17. DAFTAR LAMPIRANNomor Halaman1. Populasi Ayam Broiler Per Provinsi Tahun 2004-2007 (ekor) ....... 832. Produksi Daging Nasional Per Provinsi Ayam Ras Pedaging Tahun 2004 - 2008 (Ton).............................. 853. Populasi Ayam Pedaging di Kabupaten Bogor Tahun 2010 ......... 864. Perkembangan Produksi Daging Ternak dan Kontribusinya di Kabupaten Bogor Tahun 2008-2009 ........................................ 875. Faktor-Faktor Produksi dan Jumlah Pemakaian Faktor Produksi ......................................................... 886. Hasil Olahan ARCH-GARCH (1,1) .............................................. 947. Nama Responden Serta Identitas Usaha ........................................ 958. Penyebaran Lokasi Responden ..................................................... 969. Gambar Dokumentasi Penelitian Ayam Broiler ………………… 97 xvii
  • 18. I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu perkekebunan,perikanan, tanaman pangan dan holtikultura. Sektor tersebut memiliki perananyang sangat penting dalam kontribusi terhadap perkembangan perekonomian yangada di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kontribusipertanian dapat dilihat pada nilai Produk Domestik Bruto (PDB), dari hasilpertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan atas dasar harga konstan Rp 2000adalah sebesar 284,6 Triliun pada tahun 2008 dan 296,4 Ttriliun pada tahun 2009atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,1 persen. Adapun peranan sektorpertanian terhadap PDB Indonesia tahun 2009 tumbuh dari 14,5 persen menjadi15,3 persen, sehingga sektor pertanian berada pada ranking kedua yang memilikikontribusi terhadap PDB setelah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 26,4persen. Struktur PDB dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2009 2009 2010 Lapangan Usaha 2008 2009 Triw I Triw II Triw I Pertanian, Peternakan, Kehutanan, 14,5 15,3 15,6 13,7 16,0 Perikanan Pertambangan dan Penggalian 10,9 10,5 10,0 11,3 11,2 Industri Pengolahan 27,9 26,4 27,0 26,4 25,4 Listrik, air bersih dan gas 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 Konstruksi 8,5 9,9 9,6 10,3 10 Perdagangan, Hotel dan restoran 14 13,4 13,3 13,9 13,9 Komunikasi dan pengangkutan 6,3 6,3 6,4 6,3 6,2 Keuangan dan real estet 7,4 7,2 7,5 7,1 7,2 Jasa-jasa 9,7 10,2 9,8 10,2 9,3 PDB 100 100 100 100 100Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa kontribusi pada sektor pertaniansangat berpengaruh dalam meningkatkan PDB kedua setelah industri pengolahan.Peningkatan ini akan berdampak positif terhadap tingkat penggunaan tenaga kerja,sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Pada umumnya masyarakatIndonesia banyak diserap tenaga kerjanya pada sektor pertanian dibandingkan 1
  • 19. pada sektor industri. Sektor pertanian tersebut meliputi perikanan, kehutanan,serta peternakan. Salah satu sektor pertanian yang setiap tahunnya relatif mengalamipertumbuhan adalah pada subsektor peternakan. Sumbangan subsektor peternakandalam PDB sebesar Rp 34.530,7 milyar atau 1,60 persen pada tahun 2007 danmasih menyumbang 1,60 persen pemasukan negara pada tahun 2008 (DinasPeternakan 2010). Hal tersebut membuktikan bahwa subsektor peternakanmemiliki peran tersendiri dalam menyumbangkan PDB serta memiliki perandalam pembangunan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia. Selainitu, dengan meningkatnya bidang peternakan maka akan lebih banyak lagimenyerap tenaga kerja, sehingga menurunkan tingkat penggangguran yang ada diIndonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007) menyatakan bahwakomoditas unggas mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukungoleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesiayang sebagian besar muslim, harga relatif murah dan mudah diperoleh karenasudah merupakan barang publik. Dengan demikian, prospek yang sudah bagus iniharus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak di pedesaan melaluipemanfaatan sumberdaya secara lebih optimal. Prospek pasar dan pengembangan agribisnis ayam ras pedaging diIndonesia baik pada subsistem hulu, subsistem budidaya, maupun subsistem hilirsangat terbuka lebar. Perkembangan populasi ayam ras pedaging di Indonesiadalam tiga dasawarsa terakhir senantiasa mengalami peningkatan, meskipun padatahun 1997-1999 saat terjadinya krisis ekonomi populasi ayam sempat mengalamiguncangan cukup besar yang mengakibatkan komoditas ini merupakan pendorongutama penyediaan populasi ayam mengalami penurunan hingga 50 persen. Padaawal tahun 2000 usaha ternak ayam ras pedaging mulai bangkit kembali karenakondisi perekonomian beranjak stabil. Pengusaha ayam broiler mulaimenunjukkan pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Selain itu juga, ayambroiler merupakan jenis unggas yang paling tinggi tingkat pertumbuhannyadibandingkan dengan jenis unggas lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada jumlahpopulasi ternak unggas Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2. 2
  • 20. Tabel 2. Populasi Unggas di Indonesia Tahun 2005-2009 (ekor) Jenis Tahun Unggas 2005 2006 2007 2008 2009 Ayam Buras 278.954 291.085 272.251 243.423 249.963 Ayam Ras 84.790 100.202 111.489 107.955 111.418 Peterlur Ayam Ras 811.189 797.527 891.659 902.052 1.026.379 Pedaging Itik 32.405 32.481 35.867 39.840 40.680Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2011 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa angka yang ada pada ayam raspedaging setiap tahunnya relatif mengalami peningkatan. Pada tahun 2006populasi unggas mengalami penurunan yang disebabkan meningkatnya harga-harga input seperti harga pakan yang meningkat. Karena harga pakan terjadipeningkatan maka akan meningkatkan biaya produksi sehingga secara global akanberdampak pada tingkat usaha sehingga jumlah populasi ayam pada saat itumengalami penurunan. Tahun 2007-2009, jumlah populasi unggas khususnyaayam ras pedaging mengalami peningkatan secara signifikan. Tingkat populasiunggas khususnya ayam broiler hampir merata di setiap provinsi yang ada diIndonesia, namun ada beberapa provinsi yang memiliki tingkat populasi yanglebih signifikan. Hal tersebut dikarenakan adanya kesesuaian kondisi geografisdalam pembudidayaan serta tingkat permintaan di suatu wilayah tersebut. Untukmelihat populasi di setiap provinsi dapat dilihat pada Lampiran 1. Jawa Barat merupakan salah satu sentral terbesar dalam jumlah populasi dibidang peternakan yang salah satunya pada jenis perunggasan. Hal ini didukungoleh kondisi alam yang menyakinkan serta merupakan tempat strategis dalammendistribusikan ke wilayah-wilayah lainnya. Populasi perunggasan di Indonesiapada umumnya terus mengalami peningkatan khususnya di wilayah Provinsi JawaBarat. Untuk lebih jelasnya tingkat pertumbuhan perunggasan yang terjadi diwilayah Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 3. 3
  • 21. Tabel 3. Populasi Unggas di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2008 (ekor) Jenis Tahun Unggas 2004 2005 2006 2007 2008 Ayam 30,779,120 30,989,812 29,319,161 27,789,274 27,761,015 Buras Ayam Ras 9,720,685 10,169,284 10,351,105 11,462,744 10,303,478 Petelur Ayam Ras 328,015,536 352,434,300 343,954,090 377,549,055 417,373,596 Pedaging Itik 4,880,019 5,305,485 5,296,757 6,534,753 7,962,095Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2008 Tabel 3 menunjukan pertumbuhan perunggasan di wilayah Provinsi JawaBarat pada tahun 2004 sampai dengan 2008. Data tersebut menunjukan ayam raspedaging memberikan kontribusi yang paling besar dibandingkan jenis unggaslainnya, serta memiliki populasinya yang konsisten dibandingkan dengan jenisunggas lainnya. Hal ini disebabkan oleh ayam broiler merupakan ayam yangmemiliki pertumbuhan yang cepat serta dapat menghasilkan lebih besardibandingkan jenis unggas lainnya sehingga peternak lebih gemar mengusahakanpeternak ayam broiler. Pada data ayam ras pedaging memiliki pertumbuhan yangpositif yaitu terus meningkat kecuali pada tahun 2006. Pada umumnya tahun 2006merupakan tahun kondisi perekonomian Indonesia tidak stabil sehinggaberdampak pada tingkat usaha secara keseluruhan. Populasi ayam broiler akanberdampak pada tingkat produksi daging ayam broiler. Pada umumnya produksidaging mengalami peningkatan yang positif pada setiap provinsinya yang ada diIndonesia, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran 2. Adanya peningkatanproduksi ayam broiler pada setiap provinsinya maka akan berdampak terhadapproduksi nasional. Berikut adalah jumlah produksi ayam broiler di Indonesiadapat dilihat pada Tabel 4.Tabel 4. Produksi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2005-2009 No. Tahun Jumlah (Ton) Pertumbuhan (%) 1 2005 779.100 - 2 2006 861,300 1,74 3 2007 942.800 1,73 4 2008 1.018.700 1,61 5 2009 1.101.800 1,76Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2011 4
  • 22. Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa jumlah produksi ayam pedagingatau ayam broiler setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakanbahwa komoditi ayam dijadikan oleh masyarakat Indonesia sebagai penambahnilai gizi yang dapat dijangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu, jumlahproduksinya setiap tahun terus mengalami peningkatan. Tingkat pertumbuhansetiap tahunnya relatif stabil, namun pada tahun 2009 merupakan tingkatpertumbuhan yang paling tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunsebelumnya. Hal itu tersebut karena masyarakat semakin sadar akan pentingnyamengkonsumsi daging guna memenuhi kebutuhan gizi. Berikut dapat dilihattingkat konsumsi konsumen terhadap daging ayam broiler pada Tabel 5.Tabel 5. Konsumsi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003-2007 No. Tahun Jumlah (ekor) Pertumbuhan (%) 1 2003 1.368.200 - 2 2004 1.425.300 2,01 3 2005 1.573.000 4,93 4 2006 1.486.100 -2,00 5 2007 1.564.200 2,56Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2008 Table 5 menunjukkan tingkat konsumsi terhadap produksi ayam broilerterus mengalami peningkatan dari setiap tahunnya. Peningkatan tertinggi padatahun 2005 sebesar 4,93 persen sedangkan pada tahun 2006 mengalami penurunanhal sebesar 2,00 persen. Hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut terjadiekonomi dalam negeri tidak stabil sehingga menurunkan tingkat daya belimasyakat dan akan mempengaruhi tingkat konsumsi secara nasional. Pada tahun2007 konsumsi terhadap ayam broiler mengalami peningkatan kembali karenakondisi sudah stabil dan meningkatkan pendapatan serta adanya daya belimasyakat terhadap barang juga meningkat. Berdasarkan uraian Tabel 3 dan lampiran 1 yaitu tingkat populasipeternakan ayam broiler dari tingkat provinsi sampai pada tingkat nasional,tingkat produksi nasional maupun di wilayah Jawa Barat, tingkat konsumsi ayambroiler secara nasional pada umumnya usaha tersebut terus mengalamipeningkatan dari tahun ke tahun. Pengembangan usaha ternak ayam broiler akanberhasil apabila peternak tersebut mampu mengelola usaha ternaknya dengan 5
  • 23. baik, yaitu pengelolaan dalam bidang manajemen maupun teknis dilapangan.Dalam bidang manajemen maka perusahaan harus mampu memanaje disektorproduksi, sumber daya manusia, keuangan serta pemasarannya dengan baik.Sedangkan dalam bidang teknis maka peternak harus mengetahui secara detailtentang budaya ayam broiler. Selain manajemen yang baik, diperlukan juga sistem infrastruktur yangbaik. Jika infrastruktur memadai maka dalam proses pendistribusian produk dalammemasarkan serta mengirim input atau bahan baku sapronak (Sarana ProduksiPeternakan) tepat pada waktunya sehingga tidak mengurangi nilai dari suatuproduk tersebut. Infrastruktur yang diperlukan dalam menunjang kelancaran usahapeternakan adalah kemudahan akses terhadap jalan, sumber air, jaringan listrik,dan lain sabagainya. Infrastruktur ini juga salah satu faktor yang diperhitungkandalam usaha peternakan ayam broiler. Pada dasarnya semua usaha tidak terlepas dengan kendala-kendala dalammenjalankan usahanya, salah satunya adalah usaha peternakan ayam broiler.Kendala tersebut berasal dari baik itu teknis maupun non teknis. Kendala yangsering muncul dalam usaha peternakan ayam broiler ini adalah non teknis, yaitutingginya tingkat risiko yang dihadapi, risiko yang dihadapi oleh peternak ayambroiler ini adalah risiko harga, baik itu harga-harga input seperti Day Old Chick(DOC), pakan dan obat-obatan, maupun harga jual output. Risiko yang lainnyaadalah risiko produksi berupa teknis (yang dipengaruhi oleh iklim dan cuaca) sertarisiko sosial atau lingkungan sekitar. Risiko yang dihadapi oleh peternak ayam broiler ini dapat dilihat dariindikator yaitu adanya fluktuatif harga input seperti harga DOC, pakan dan obat-obatan, yang merupakan variabel-variabel utama untuk berlangsungnya prosesproduksi, serta harga jual output. Selain itu juga adanya fluktuasi terhadap tingkatkonversi pakan dengan bobot ayam serta tingkat kematian ayam (Survival Rate)dalam setiap periode atau peternak sangat bervariasi. Pengelolaan usaha ternak ayam broiler dihadapkan pada tingkat risikoyang tinggi, maka harus disertai dengan pengetahuan peternak untuk dapatmeminimalkan risiko tersebut. Sehingga peternak dapat menghasilkan produksiyang maksimal. Manajemen risiko merupakan salah satu alat bantu dalam proses 6
  • 24. pengambilan keputusan untuk mengurangi risiko yang dihadapi dan harusditerapkan secara efektif untuk mencapai tujuan perusahaan. Pengelolaan risiko dapat dilakukan salah satunya adalah denganmenggunakan bermitra dengan perusahaan inti. Perusahaan inti semakin lamasemakin berkembang seiring dengan semakin bertambah banyaknya peternakayam broiler. Daerah Darmaga terdapat berbagai macam jenis inti plasma salahsatunya adalah Dramaga Ungga Farm (DUF). DUF merupakan salah satuperusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan ayam broiler yang bertindaksebagai inti. Perusahaan inti ini memberikan beberapa kemudahan kepadapeternak dalam menjalankan usaha ayam broiler. Dengan adanya kemudahantersebut dapat mengurangi risiko yang akan ditanggung oleh peternak. Peternakayam broiler pada umumnya berada pada skala kecil sehingga jika menjalankanusaha sering terkendala dalam hal permodalan. Dengan adanya perusahaan intimaka usaha dapat dijalankan karena mendapat bantuan seperti kemudahan dalammembeli pakan, DOC, vitamin, vaksin, obat-obatan, peralatan kandang,perlengkatan serta pasca panen. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa usaha ternak ayambroiler memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan karena adapermintaan yang terus berkembang setiap tahunnya, akan tetapi disampingperkembangan tersebut terdapat kendala yang dihadapi oleh peternak ayam broilerdalam proses produksinya, yaitu adanya risiko produksi yang dihadapi peternak.Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang menganalisis faktor-faktor yangmempengaruhi risiko produksi dan manajemen risiko dalam peternakan ayambroiler. Kajian ini diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor produksi apa sajayang sangat mempengaruhi produksi dan seberapa besar faktor-faktor produksitersebut menimbulkan risiko, kemudian dilakukan penanganan risiko produksitersebut agar risiko yang ditimbulkan menjadi kecil. Kajian ini diharapkanpeternak dapat mengambil keputusan yang tepat, sehingga peternak ayam broilerdapat menjalankan usahanya dengan lebih baik di masa yang akan datang. 7
  • 25. 1.2. Perumusan Masalah Ayam broiler merupakan komoditas peternakan yang paling berkembangsetiap tahunnya, baik dari tingkat populasi maupun produksi daging ayam broileritu sendiri. Jawa Barat merupakan salah satu penyumbang produksi ayam broilerterbesar dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, serta Kota Bogor merupakansalah satu penyumbang ayam broiler khususnya daerah Dramaga. Untuk melihatjumlah produksi ayam broiler berdasarkan Kabupaten yang ada di Bogor dapatdilihat pada Lampiran 3. Peternak ayam broiler yang dijadikan sebagai responden dalam penelitianadalah peternak ayam broiler yang bekerjasama dengan CV Dramaga UnggasFarm (DUF), walaupun peternak tersebut bekerjasama dengan perusahaan intinamun peternak tersebut tidak dapat menghindari risiko produksi yang terjadi.Indikator adanya risiko produksi dapat dilihat pada tingkat kematian ayam padapeternak plasma DUF sangat bervariasi dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.Standar tingkat kematian yang ditetapkan adalah 3-4 persen. Variasi tingkatkematian yang terjadi pada peternak plasma di DUF dapat dilihat pada Gambar 1. 28 24 20 Mortalitas (%) 16 Standar 12 Mortalitas 8 4 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29Gambar 1. Tingkat Kematian Ayam Broiler Pada Peternak Plasma DUF yang Panen di Bulan Mei dan Juni 2011 8
  • 26. Gambar 1 menunjukkan adanya variasi tingkat kematian ayam yang terjadipada peternak broiler. Adanya perbedaan antara standar mortalitas yangditetapkan oleh peternak berdasarkan Dinas Peternakan Bogor dengan tingkatmortalitas aktual yang dihasilkan oleh peternak plasma DUF digunakan sebagaiindikasi adanya risiko produksi. Gambar 1 terlihat pada responden ke-11 memilikitingkat mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak lainnya.Tingginya mortalitas tersebut dikarenakan penyakit yang menyerang seluruhternak ayam. Variasi tingkat mortalitas juga disebabkan oleh adanya perlakuanyang tidak teratur atau disiplin terhadap perubahan cuaca yang terjadi. denganadanya risiko produksi maka akan mempengaruhi hasil produksi yang diharapkan. Risiko produksi juga dipengaruhi oleh penggunaan faktor-faktor produksiyang tepat. Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi sepertiluasan kandang, DOC, pakan, sekam, pemanas DOC, tenaga kerja, air, vitamin,obat-obatan dan vaksin. Jika penggunaan input yang tidak tepat waktu dan takaranmaka akan mempengaruhi risiko produksi. Selain itu, risiko produksi juga dapatterjadi dari sumber risiko. Sumber risiko tersebut adalah seperti adanya perubahancuaca yang tidak menentu, sumber daya manusia yang tidak terampil, serta hamayang menimpa peternak ayam broiler. Jika keadaan cuaca lembab makadiperlukan penanganan kandang yang baik. Hal tersebut dilakukan agar sirkulasiudara tetap terjaga dan kandang tetap dalam keadaan kering, karena jika keadaankandang kering atau tidak lembab maka hama tidak cepat berkembang biak danayam juga tidak mudah terserang penyakit. Selain dari tingkat kematian, indikasi adanya terdapatnya risiko produksiadalah melihat adanya fluktuasi produktivitas. Produktivitas yang dihasilkan padasetiap peternak plasma pada CV DUF bervariasi antara satu peternak denganpeternak lainnya. Tingkat fluktuasi yang terjadi pada produktivitas ayam broileryang ada di peternakan dapat dilihat pada gambar 2. 9
  • 27. 30 25 Produktivitas (Kg/m2) 20 15 Standar Produktivitas 10 5 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 Peternak Ayam BroilerGambar 2. Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam Broiler di Kabupaten Darmaga 2011 Gambar 2 menunjukkan bahwa produktivitas yang dihasilkan padamasing-masing peternak memiliki hasil bervariasi terhadap produktivitas aktualyang terjadi. Produktivitas standar berdasarkan ketentuan perusahaan inti berlakuadalah 14 kg/m2 , dimana bobot satu ekor ayam yang standard adalah 1,75 kg dan1 m2 layak ditempati oleh 8 ekor ayam broiler untuk mendapatkan hasil ayamyang baik, sehingga ayam tidak berdesakan. Pada peternak ke-29 terdapat tingkatproduktivitas yang sangat rendah yaitu sekitar 6 kg/m2. Rendahnya produktivitasdisebabkan oleh terhambatnya laju pertumbuhan setiap harinya. Terhambatnyapertumbuhan disebabkan oleh banyak faktor seperti penggunaan input produksi.Selain penggunaan input produksi, perubahan cuaca yang tidak menentu danterjangkit oleh hama penyakit juga dapat menghambat pertumbuhan produktivitasayam broiler. Berdasarkan uraian di atas maka risiko-risiko tersebut harus dikeloladengan baik agar risiko produksi dapat diminimalkan, sehingga diharapkanadanya kelangsungan usaha ternak ayam broiler. Sehingga yang menjadiperumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 10
  • 28. 1. Faktor-faktor produksi apa saja yang mempengaruhi produksi rata-rata dan variance produksi ayam broiler pada peternak plasma DUF ?2. Bagaimana pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi rata-rata dan variance produksi peternak ayam broiler pada peternak plasma DUF ?1.3. Tujuan Berdasarkan perumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, makatujuan penelitian ini adalah :1. Menganalisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produktivitas dan variance produksi ayam broiler yang dihasilkan para peternak plasma DUF2. Menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi ayam broiler yang digunakan terhadap risiko produksi ayam broiler yang dihasilkan peternak plasama DUF di Kecamatan Dramaga.1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapakan nantinya akan bermafaat bagi beberapa elemen,yaitu antara lain :1. Untuk mengetahui variabel-variabel apa saja yang sangat berpengaruh terhadap produksi ayam broiler.2. Sebagai bahan infomasi dan rujukan bagi penelitian selanjutnya dengan harapan penelitian yang akan datang dapat menyempurnakan dan bisa menganalisis lebih dalam lagi khususnya yang berkaitan dengan penulisan ilmiah tentang risiko dalam peternakan ayam broiler.3. Sebagai sarana bagi penulis untuk menuangkan ilmu yang telah didapat pada perkuliahan yang berkaitan dengan penelitian, dan memberikan pengetahuan kepada penulis tentang peternakan ayam broiler. Harapannya adalah agar penulis bisa mengapresiasikan hasil tulisannya dengan mencoba merintis usaha peternakan ayam broiler di masa yang akan datang.4. Bagi pembaca karangan ilmiah ini bermanfaat untuk menambah lagi wawasan tentang ayam broiler serta kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan dihadapi pada saat menjalankan usaha ayam broiler tersebut.5. Bagi pembuat kebijakan agar sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan peternak ayam broiler. 11
  • 29. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ini memiliki keterbatasan ruang lingkup, adapunketerbatasannya adalah :1. Menganalisis faktor-faktor produksi yang digunakan sebagai pendugaan parameter.2. Menjelaskan secara diskriptif tentang sumber-sumber risiko karena sumber- sumber risiko tersebut tidak memiliki nilai sehingga tidak dapat di modelkan.3. Penanganan risiko yang dilakukan hanya pencegahan karena masih peternak rakyat yang belum memiliki badan hukum serta manajemen yang baik.4. Responden dipilih yang dapat mewakili peternak lainnya. 12
  • 30. II. TINJAUAN PUSTAKA2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis rasunggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki dayaproduktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnyaayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegangkekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang padasaat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenalmasyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 4-5 minggu sudahbisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat danmenguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yangbermunculan diberbagai wilayah Indonesia. Ayam broiler mulai dirintis pada tahun 50-an, pada tahun 1950-1961merupakan tahap perintisan ayam broiler di Indonesia. Usaha peternakan ayambroiler ini merupakan usaha yang paling berfluktuatif, mulai dari harga inputseperti harga DOC maupun pakan ternak tersebut sampai kepada harga jualproduknya yaitu daging ayam. Selain itu juga dalam proses pembudidayaannyamembutuhkan perhatian yang khusus agar ayam tersebut terlindungi dari hamadan penyakit. Biasanya ayam broiler lebih membutuhkan perlakuan khusus padasaat musim penghujan tiba. Hal itu disebabkan karena pada saat musim penghujantiba kondisi kandang juga akan dapat berubah jika tidak diperhatikan sepertikandang menjadi lembab yang dikarenakan suhu didalam kandang menurun.Sehingga diperlukan perlakuan khusus untuk menjaga kestabilan suhu di kandang. Seiring waktu berjalan ayam broiler semakin berkembang setiap tahunnya,hal tersebut diiringi dengan semakin banyaknya produsen input seperti pakanternak, DOC, serta input lainnya yang menawarkan produk. Dengan semakinbanyaknya peternak ayam broiler maka harga juga mulai bersaing terhadappeternak. Pada awal perkembangan ayam broiler tersebut harga dipeternak kecilberbeda dengan harga yang ditetapkan peternak besar, sehingga peternak kecilmengalami ketidakstabilan harga ayam dan biaya input yang dikeluaran jugaterlalu tingga karena peternak kecil membeli input dengan harga satuan. 13
  • 31. Dengan keadaan demikian maka pemerintah ikut serta dalam menjagakestabilan usaha peternakan ayam broiler dengan cara membuat kebijakan yangdapat membantu meringankan dalam memproduksi usaha peternakan tersebut.Kebijakan tersebut diatur dalam Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1981 tentangPembinaan Usaha Peternakan Ayam, yang jiwanya menganut pemerataankesempatan usaha dengan keseragaman skala usaha. Secara keseluruhanPembinaan Usaha Peternakan Ayam menurut Keppres No. 50 Tahun 1981sungguh melegakan para penganut pemerataan kesempatan usaha dengankeseragaman maksimal skala usaha. Sehingga konflik antara peternak kecil danpeternak besar dapat teratasi karena mereka sudah memiliki wilayahnya masing-masing. Setelah Keputusan Presiden dibentuk tidak lama kemudian untukmenyempurnakan pembinaan peternak langsung ke lapangannya maka dilakukandengan sistem Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Dengan kedatangan PIR inidiharapkan akan mendukung semakin membaiknya kondisi peternakan ayambroiler di Indonesia karena mendapatkan penyuluhan langsung tentang usahapeternakan ayam broiler. Pendampingan para penyuluh ini sangan membantupeternak ayam tersebut. Hal ini dikarenakan peternak ayam broiler rata-rataberskala kecil sehingga masih membutuhkan pengarahan tentang usahapeternakan ini. Keberadaan PIR ini juga sangat membantu peternak ayam sebagaiplasma dalam bentuk penyediaan faktor-faktor produksi seperti DOC, pakan,obat-obatan, vaksinasi dan vitamin. Plasma mendapatkan faktor produksi tersebut dengan harga yang lebihmurah dibandingkan jika peternak membelinya dengan harga eceran kepadagrosir. Pemakaian faktor produksi tersebut dilakukan selama proses produksiberlangsung sampai masa panen tiba sedangkan pembayaran faktor produksitersebut dapat dilakukan pada saat panen dipotong dari hasil panen yang telahdidapat. Kegiatan tersebut lebih membantu dibandingkan dengan peternak ayambroiler mandiri, peternak mandiri merupakan peternak yang berdiri sendiri tanpabantuan dari instansi atau lembaga lain. Semua kegiatan yang dilakukan dengankebijakan peternak itu sendiri. Mulai kegiatan penyediaan faktor produksi sampaikepada proses pendistribusian dagingnya dilakukan dengan sendiri. 14
  • 32. Usaha peternakan dapat digolongkan menjadi beberapa bagian.Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 472/Kpts/TN.330/6/96,usaha peternakan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Peternakan Rakyat,Pengusaha Kecil Peternakan dan Pengusaha Peternakan. Peternakan Rakyatadalah peternak yang mengusahakan budidaya ayam broiler dengan kapasitasmaksimal sebesar 15.000 ekor per periode. Peternakan rakyat mempunyaibeberapa karakter yaitu modal terbatas, adanya masa istrahat kandang, kandangdibangun dengan sederhana, tenaga kerja biasanya dari rumah tangga. Pengusaha kecil peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayambroiler dengan kapasitas maksimal sebesar 65.000 ekor per periode, peternakan inisudah mulai baik dibandingkan dengan peternakan rakyat dibidang manajemen,tenaga kerja yang sudah memiliki pengalaman dan biasanya sudah memilikilegalitas hukum berupa perseorangan. Selain itu, pengusaha peternakan adalahpeternakan yang membudidayakan ayam broiler dengan kapasitas melebihi 65.000ekor per periode. Selain kapasitas produksi, perusahaan peternakan dapat dilihatdari teknologi yang serba modern dalam melakukan budidayanya, sudah memilikilegalitas hukum berupa perusahaan, memiliki manajemen yang baik dan memilikitenaga kerja yang ahli dalam bidangnya. Pengusaha peternakan ini memiliki kelebihan yaitu mendapatkanbimbingan dan pengawasan dari pemerintah. Hal tersebut telah ditegaskan dalamPeraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1977 tentang UsahaPeternakan. Peraturan Pemerintah tersebut menjelaskan bahwa menteri yangbertanggung jawab dalam bidang peternakan atau pejabat yang ditunjukberkewajiban melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap kegiatanpeternakan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan peternakan. Perundang-undangan yang menjadi payung hukum bagi agribisnis usaha ayam broiler adalahUndang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Adapun tujuan umumpembentukan undang-undang ini adalah untuk pemeliharaan kesehatan hewan.Tujuan utama penambahan produksi adalah untuk meningkatkan taraf hiduppeternak Indonesia dan untuk memenuhi keperluan bahan makanan yang berasaldari ternak bagi seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata. 15
  • 33. 2.2. Risiko Produksi Ayam Broiler Risiko produksi adalah kemungkinan peluang terjadinya penurunanproduksi yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Risiko tersebutterjadi dari berbagai sumber risiko yang dapat menurunkan produksi, sepertikondisi alam yang tidak stabil yang dapat menyebabkan ayam broiler terserangpenyakit dan dapat meningkatkan kematian pada ayam broiler tersebut. adanyaindikasi bahwa risiko produksi adalah dengan melihat tingkat bobot ayamterhadap pakan sehingga menghasilkan produksi yang tidak stabil. Ada beberapa penelitian yang menganalisis tentang risiko produksi,diantaranya Aziz (2009) Robi’ah (2006), dan Solihin (2009). Ketiga penelitiantersebut menganalisis risiko produksi ayam broiler, Aziz di daerah Desa Tapos,Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Solihin di daerah CV AB Farm BojongGenteng, dan Robi’ah di Sunan Kudus Farm, Bogor. Berdasarkan analisis ketigapeneliti tersebut kondisi alam merupakan salah satu faktor risiko utama dalamrisiko produksi. Kondisi alam yang tidak stabil akan dapat berdampak kondisikandang menjadi mudah penyakit berkembang biak sehingga banyakmenyebabkan ayam terkena penyakit. Penyakit yang sering muncul pada saatmusim hujan tiba adalah Coccidiosis (berak darah), Newcastle Disease (tetelo),kekerdilan, kurang nutrisi serta mudah terserang penyakit. Kejadian ini jugamengakibatkan tidak efesiennya dalam hal konversi pakan terhadap bobot ayam.Hal ini dikarenakan kondisi tubuh ayam yang kedinginan sedangkan alat pemanasjauh dari jangkauan sehingga menimbulkan rangsangan terhadap keluarnya buluayam yang menjadikan pertumbuhan ayam terhambat. Hasil analisis Aziz, Robi’ah, dan Solihin, risiko produksi pada ayambroiler adalah tinggi. Aziz menyatakan risiko produksi sangat tinggi dengan nilaiCV 1,75, risiko tersebut berasal dari risiko cuaca dan iklim yang menyebabkantingginya tingkat kematian sampai pada 10 persen. Selain dari faktor cuaca risikoproduksi berasal dari adanya fluktuasi harga yaitu harga pakan, obat-obatan,DOC, dan harga jual produksi. Tingkat risiko yang dianalisis oleh Robi’ahmemiliki tingakt risiko sebesar 1,3 dan di sebabkan oleh adanya fluktuasisapronak serta adanya kenaikan harga input maupun stabilnya harga output.Sedangkan tingkat risiko yang dianalisis oleh Solihin sangat tinggi dibandingkan 16
  • 34. Aziz dan Robi’ah yaitu dengan CV 2,63. Risiko ini sangat tinggi bagi peternak,dan risiko tersebut timbul berasal dari harga sapronak (pakan, DOC, pemanas)terus meningkat sementara harga jualnya relatif tetap. Paramter kesuksesan prosesproduksi menurut Solihin adalah Indeks Prestasi Produksi. Solihin jugamenjelaskan adanya pengaruh risiko produksi terhadap pendapatan sedangkanAziz dan Robi’ah tidak menjelaskan dampak risiko terhadap pendapatan. Adanyarisiko disebabkan karena adanya penyimpangan indeks prestasi standar denganindeks prestasi yang telah dijalankan. Maka pendapatan untuk setiap periodenyajuga berfluktuasi. Rata-rata penyimpangan yang terjadi sebesar 32,6 persen yangberisiko mengakibatkan penurunan pendapatan sebesar 157,1 persen atau Rp342.290.546. adanya penyimpangan ini disebabkan oleh fluktuasi harga saranaproduksi ternak dan fluktuasi harga jual. Sehingga perbandingan satu risikonilainya semakin meningkat bila dikonversikan terhadap biaya. Hasil analisis Fariyanti (2008) yang berjudul “Perilaku Ekonomi RumahTangga Petani Sayuran Pada Kondisi Risiko Produksi dan Harga di KecamatanPangalengan Kabupaten Bandung”. Penelitian tersebut menggunakan modelGarch untuk melihat nilai dari risiko produksi pada komoditi kubis dan kentang.Pada komoditi kentang dihasilkan error kuadrat periode sebelumnya memilikitaraf nyata dibawah satu persen, sedangkan variance error produksi musimsebelumnya mempunyai taraf nyata dibawah lima persen. Parameter tersebutbertanda positif menandakan bahwa semakin tinggi risiko produksi kentang padamusim sebelumnya, maka semakin tinggi risiko produksi pada musim berikutnya. Hubungan penggunaan input dengan variance error produksimenunjukkan bahwa benih memiliki taraf nyata dibawah lima persen dan pupukurea memiliki taraf nyata dibawah 10 persen, sedangkan lahan garapan kentang,pupuk TSP, KCL, tenaga kerja, dan obat-obatan (pestisida, insektisida,) tidakmempunyai pengaruh nyata. Dengan demikian, pada usahatani kentang,penggunaan benih, luas garapan, dan obat-obatan merupakan factor yang dapatmengurangi risiko produksi. Sedangkan pupuk urea, TSP, KCl, dan tenaga kerjamerupakan faktor yang menimbulkan adanya risiko produksi. Untuk komoditaskubis dari enam parameter yang diduga terdapat empat parameter yangmempunyai taraf nyata dibawah satu persen, yaitu luas lahan garapan kubis, 17
  • 35. pupuk urea, tenaga kerja, dan obat-obatan (pestisida dan insektisida). Sedangkanbenih kubis mempunyai taraf nyata dibawah 15 persen, dan pupuk majemuk NPKmemiliki taraf nyata dibawah 20 persen. dengan demikian luas lahan garapankubus dan obat-obatan menjadi faktor yang menimbulkan risiko produksi.Sebaliknya, benih kubis, pupuk urea, pupuk majemuk NPK, dan tenaga kerjamenjadi faktor pengurang risiko produksi.2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Ayam Broiler Faktor-faktor produksi merupakan semua masukan atau input yangdilakukan untuk melakukan proses produksi untuk menghasilkan keluaran atauoutput. Faktor produksi merupakan faktor yang mempengaruhi besar kecilnyasuatu produksi yang akan diperoleh. Menurut Soekartawi (2002), berdasarkanberbagai pengalaman yang menjadi faktor-faktor produksi adalah luasan lahan,modal, bibit, obat-obatan, tenaga kerja dan aspek manajemen. Penelitian yang menjelaskan tentang faktor-faktor produksi adalah Merina(2004) dan Anggraini (2003). Merina meneliti tentang faktor-faktor yangmempengaruhi risiko usaha peternakan ayam broiler di Bekasi sedangkanAnggraini meneliti tentang risiko sapi perah dengan melihat faktor-faktorpenyebab risiko dari sapi perah tersebut. Anggraini menjelaskan bahwa tingkatrisiko yang pada usaha ayam broiler berfluktuatif setiap periodenya, hal tersebutdapat dilihat dari tingkat CV 0,92 dan tingkat pengembaliannya yang rendah.Sehingga berpengaruh terhadap tingkat pendapatan dari perusahaan tersebut padasetiap periodenya. Keuntungan yang dihasilkan selalu bernilai positif namunhanya pada dua periode dari 12 periode yang mengalami kerugian dikarenakanadanya penyakit dan harga jual ayam turun. Berdasarkan analisis Merina risiko produksi dapat mempengaruhi tingkatpendapatan usaha ayam broiler. Variabel-variabel yang digunakan untuk melihatpengaruhnya terhadap risiko adalah fluktuasi harga DOC, pakan, obat-obatan,mortalitas, bonus karyawan, jumlah produksi, jumlah DOC yang dipelihara, hargaayam broiler, dan luas lahan. Dari hasil analisis regresi didapat tingkatkepercayaan 90,6 persen, namun tidak diikuti dengan ada variabel-variabel yangsignifikan terhadap tingkat risiko tersebut. Hal ini disebabkan karena didalamvariabel tersebut terdapat variabel yang memiliki multikolinier. Dan kemudian 18
  • 36. dilakukan analisis regresi komponen utama 1, 2, dan 3 dengan tingkat keragaman39,1 persen, 62,7 persen, dan 78,5 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwafluktuasi harga DOC, pakan, obat-obatan/vitamin, harga ayam, waktu penjualandan mortalitas merupakan variabel yang signifikan terhadap risiko usaha ayambroiler. Menurut Anggraini bahwa faktor-faktor yang memengaruhi tingkat risikodalam usaha peternakan sapi perah di Kebon Pedes, Bogor adalah fluktuasikeuntungan di musim hujan, fluktuasi keuntungan di musim kemarau, fluktuasiharga susu, fluktuasi harga pakan, skala usaha, dan saluran pemasaran. Dan hasilanalisis risiko didapat tingkat risiko sebesar 0,2 atau 20 persen dari pendapatanbersih rata-rata (return) yang diperoleh. Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis memiliki persamaan danperbedaan dengan penelitian sebelumnya. Persamaan yang dimiliki adalah semualiteratur menggunakan komoditas yang sama kecuali Anggraini menganalisis sapiperah dengan menggunakan analisis risiko untuk melihat tingkat risiko usaha.Sedangkan perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah pada penelitian Aziz,Solihin, dan Robi’ah tidak menjelaskan seberapa besar faktor produksi dalammenimbulkan risiko produksi dan dalam menganalisis faktor-faktor produksinyaberbeda, mereka menggunakan deskriptif sedangkan penelitian sekarangmenggunakan Cobb-Douglass. Untuk penelitian Merina dan Anggrainimenjelaskan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi pendapatan sedangkanpenelitian yang sekarang menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi produksiayam broiler. Perbedaan dengan penelitian Farianti adalah pada komoditas,penelitian ini dilakukan pada komoditas ayam broiler sedangkan Anna komoditassayuran, penelitian ini hanya untuk menganalisis pengaruh input terhadapproduksi serta melihat input-input yang dapat mengurangi atau menimbulkanrisiko produksi, sedangkan penelitian Farianti sampai pada pengaruhnya terhadapekonomi rumah tangga. 19
  • 37. Tabel 6. Penelitian Terdahulu yang Berkaitan dengan Penelitian yang dilakukan Nama Metode No. Tahun Judul Penelitian Penulis Analisis Analisis Risiko dalam Usaha Analisis Risiko Ternak Ayam Broiler (Studi (Kuantitatif Faishal 1 2009 Kasus Peternakan X di Desa dan Kualitatif) Abdul Aziz Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor) Risiko Produksi dan Harga Analisi Risiko, Serta Pengaruhnya Terhadap Analisis Pendapatan Peternakan Ayam Pendapatan, Muhamad 2 2009 Broiler CV AB Farm, Analisis R/C, Solihin Kecamatan Bojonggenteng- Indeks Sukabumi Prestasi Produksi Perilaku Ekonomi Rumah Arch-Garch Tangga Petani Sayuran dalam Anna Menghadapi Risiko Produksi 3 2008 Fariyanti dan Harga Produk di Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung Manajemen Risiko Usaha Analisis Peternakan Broiler pada Risiko, dan Siti 4 2006 Sunan Kudus Farm di Analisis Robi’ah Kecamatan Ciampea Deskriptif Kabupaten Bogor Analisis Pendapatan Tunai, Analisis Risiko dan Faktor-Faktor Risiko, Desi 5 2004 yang Mempengaruhi Risiko Pendapatan Merina Usaha Peternakan Broiler di Tunai, dan Perusahaan X, Bekasi Regresi. Analisis Risiko Usaha Analisis Risiko Puspitasri Peternakan Sapi Perah (Studi dan Analisis 6 Dewi 2003 Kasus di Kelurahan Kebon Regresi Anggraini Pedes, Bogor) 20
  • 38. III. KERANGKA PEMIKIRAN3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis3.1.1. Konsep Risiko Setiap kegiatan usaha yang dijalankan oleh pelaku usaha pasti memilikirisiko. Para pakar memiliki pemahaman tersendiri dalam mengartikan sebuahrisiko. Menurut Kountur (2006), risiko adalah kemungkinan kejadian yangmerugikan. Menurut Vaughan yang diterjemahkan oleh Herman Darmawi (1997 :18) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut :1. Risk is the chance of loss (risiko adalah kans kerugian) Chance of Loss biasanya dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaandimana terdapat suatu keterbukaan terhadap kerugian atau suatu kemungkinan.Kerugian, sebaliknya jika disesuaikan dengan istilah yang dipakai dalam statistik,maka chance sering dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akanmunculnya situasi tertentu.2. Risk is the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Definisi ini barangkali sangat mendekati dengan pengertianrisiko yang dipakai sehari-hari, akan tetapi definisi ini agak longgar, tidak cocokdipakai dalam analisis secara kuantitatif3. Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian) Tampaknya ada kesepakatan bahwa risiko berhubungan denganketidakpastian. Karena itulah ada penulis yang mengatakan bahwa risiko itu samaartinya dengan ketidakpastian. Menurut Kountur (2006), Robison dan Barry (1987), sikap seseorangdalam menghadapi risiko berbeda-beda. Teori ini menjelaskan bahwa ada tigakelompok sikap orang dalam menghadapi risiko yaitu:1. Risk Aversion merupakan sikap dalam pengambilan keputusan yang takut akan risiko. Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari keuntungan maka pengambil keputusan akan mengimbangi dengan menaikkan keuntungan yang diharapkan.2. Risk Taker merupakan sikap yang berani mengambil keputusan suatu usaha walaupun usaha tersebut berisiko tinggi, sikap ini ditunjukkan jika terjadi 21
  • 39. kenaikan ragam suatu usaha dari keuntungan maka pengambil keputusan akan menurunkan keuntungan sehingga merasa puas jika dapat menangani risiko yang tinggi.3. Risk Netral merupakan sikap yang netral terhadap risiko yang dihadapi. Sikap ini ditunjukkan jika terjadi kenaikan atau penurunan ragam dari keuntungan maka pengambil keputusan akan mengimbangi dengan menaikkan atau menurunkan keuntungan yang diharapkan.3.1.2. Jenis Risiko Menurut Kountur (2006), perusahaan akan menghadapi berbagai macamrisiko. Risiko-risiko tersebut berada di hampir setiap tempat dan kegiatan yangada di dalam perusahaan. Karena begitu banyak macam risiko maka risiko-risikotersebut perlu dikelompokkan kedalam kelompok risiko yang mempunyaikemiripan satu sama lain. Dengan mengelompokkan, risiko-risiko tersebut akanlebih mudah ditangani. Risiko-risiko yang memiliki persamaan atau kemiripansatu sama lain pada umumnya ditangani dengan cara yang mirip pula. Begitusebaliknya, jika risiko-risiko yang berbeda maka akan ditangani dengan cara yangberbeda juga. Gambar 3 menunjukkan jenis-jenis risiko yang dihadapi. Risiko Spekulatif Berdasarkan Akibatnya Risiko Murni Risiko Risiko Keuangan Berdasarkan Penyebabnya Risiko OperasionalGambar 3. Jenis-Jenis Risiko Sumber : Kountur, 2006 22
  • 40. Gambar 3 menunjukkan bahwa risiko dapat dilihat dari dua sudut pandang,yaitu melihat risiko dari akibat yang ditimbulkan atau melihat risiko daripenyebabnya. Melihat risiko dari akibat yang ditimbulkan, risiko dapatdikelompokkan menjadi dua yaitu risiko spekulatif dan risiko murni. Risikospekulatif adalah jenis risiko yang akibatnya selain merugikan dapat jugamemberikan keuntungan atau kemungkinan kejadian yang bisa berakibatmerugikan atau jika tidak merugikan sebaliknya bisa memberikan keuntungan,sedangkan risiko murni adalah jenis risiko dimana akibatnya tidak memungkinkanuntuk memperoleh keuntungan dan yang ada hanyalah kemungkinan rugi. Sedangkan jenis risiko lainnya dilihat dari berdasarkan penyebabnya. Jenisrisiko ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu risiko keuangan dan risikooperasional. Risiko keuangan adalah jenis risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti perubahan harga, perubahan mata uang, perubahan tingkatbunga. Sedangkan risiko operasional adalah jenis risiko yang disebabkan olehfaktor-faktor operasional. Seperti faktor manusia, teknologi dan alam.3.1.3. Teori Produksi Produksi adalah perubahan dari dua atau lebih input (sumber daya)menjadi satu atau lebih output (produk). Menurut Joesron dan Fathorozi (2003)( 1)Produksi merupakan hasil akhir dari proses aktivitas ekonomi denganmemanfaatkan beberapa masukan atau input. Pengertian ini dapat dipahamibahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukanuntuk menghasilkan output. Menurut Soekartawi (2002) adalah perangkat prosedur dan kegiatan yangterjadi dalam menciptakan komoditas berupa kegiatan usahatani maupun usahalainnya yang mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output). Inputmerupakan masukan atau bahan baku yang diperlukan untuk menciptakan suatuproduk. Hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksinya dapat dibericirri khusus berupa suatu fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu hubungan matematis yang menggambarkanjumlah hasil produksi tertentu ditentukan oleh jumlah faktor produksi yang1 http://www.google.com//fungsi produksi// (April 2011) 23
  • 41. digunakan. Jumlah hasil produksi merupakan “dependent variabel” dan jumlahfaktor produksinya sebagai “independent variabel”Faktor produksi merupakansemua korbanan yang diberikan pada komoditas agar komoditas tersebut mampumenghasilkan produk. Secara matematis fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut : Y = f (X1, X2, X3, X4, X5........,Xn)Dimana :Y = Jumlah produksi yang dihasilkan dalam setiap siklus produksif = Mentransformasikan faktor-faktor produksi kedalam hasil produksiX = Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi Pada rumus di atas dapat dilihat bahwa produksi (Y) yang dihasilkansangat tergantung dari peranan X1, X2, X3,.....Xn. Fungsi produksi pada kondisitersebut termasuk kedalam kondisi model Neo-klasik dimana sifat-sifat dari fungsiproduksi Neo-klasik dapat dibedakan sebagai berikut :1) Fungsi yang berkesinambungan dan dapat dibedakan2) Berlaku “Law of Deminishing Return” dimana hukum tersebut menjelaskan bahwa jika suatu faktor produksi terus ditambah dalam suatu proses produksi, sedangkan faktor produksi lainnya tetap maka tambahan jumlah produksi per satuan faktor produksi akan menurun. Hal tersebut menggambarkan adanya kenaikan hasil yang negatif dalam kurva produksi.3) Tanpa input tidak dapat berproduksi, dan semakin banyak input yang digunakan akan semakin banyak juga output yang dihasilkan. Gambar 4 tersebut merupakan “Kurva Produksi” yang berlaku umum danbanyak ditulis dalam buku-buku teori ekonomi yang membahas perilaku produksi.Kurva produksi itu memperlihatkan bahwa ada tiga proses perilaku dalamproduksi jika input X2 ditambahkan secara terus menerus (kontinue) pada suatuinput yang tetap (misalnya X3, X4 dan X5). Pada proses pertama, setiap tambahaninput akan memberikan tambahan produk yang semakin bertambah atau“Increasing Return”. Proses ke dua ditandai dengan tambahan produk yangsemakin berkurang pada setiap tambahan input atau “Diminishing Return”. Padaproses ke tiga, setiap tambahan input justru akan menurunkan hasil produksi atau“Decreasing Return”. 24
  • 42. Suatu contoh perilaku produksi tersebut adalah pemberian obat-obatandalam pakan ayam untuk menaikkan produksi bobot daging ayam. Pemberiandosis tahap pertama yang relatif dari dosis nol sampai dosis agak tinggimenyebabkan adanya tambahan bobot daging yang semakin bertambah. Jika dosisditingkatkan lagi maka sifat obat akan menjadi racun mulai tampak denganditandai tambahan bobot daging menjadi semakin berkurang. Pada proses akhir,jika dosis obat menjadi sangat berlebihan maka sifat racun obat berpengaruh kuatdan menyebabkan tidak ada tambahan bobot daging tetapi justru ada penurunanbobot daging tersebut. Dalam fungsi proses produksi dapat dijelaskan pada Gambar 4 tentangtahapan dari suatu proses produksi. Output (Y) Total Produksi Stage II Stage 1 Stage III Produk Rata-Rata Input (X)Gambar 4. Tahapan Proses Produksi Produk Marjinal Sumber : Soekartawi, 1986 Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa hubungan fungsi produksi denganproduk marjinal (PM) dan produk rata-rata (PR) terhadap tingkat produksi suatukomoditas. Selain itu juga menjelaskan didaerah yang mana produksi tersebutberada apakah daerah irrasional atau rasional. Produk Marjinal adalah tambahansatu-satuan input (X) yang dapat menyebabkan pertambahan atau pengurangansatu-satuan output (Y). Dengan demikian PM dapat dituliskan dengan ∆Y/∆X.Kalau terjadi PM konstan maka dapat diartikan bahwa setiap tambahan unit inputdapat menyebabkan tambahan satu-satuan unit output secara proporsional. Bilaterjadi suatu tambahan satu-satuan unit input yang menurun, maka PM akan 25
  • 43. menurun. Jika penambahan satu-satuan unit input yang menyebabkan satu-satuanunit output yang semakin menaik secara tidak proporsional, maka peristiwa inidisebut dengan produktivitas yang menaik. Produk rata-rata (PR) adalah perbandingan tingkat produksi total (PT)dengan jumlah input yang digunakan. Sehingga dapat di tulis dengan rumus Y/X.Dengan demikian hubungan PM dengan PR adalah sebagai berikut :a) Bila PM lebih besar dari PR, maka proporsi PR masih dalam keadaan menaik.b) Bila PM lebih kecil dari PR, maka proporsi PR dalam keadaan menurun.c) Bila terjadi PM sama dengan PR, maka dalam keadaan maksimum. Perubahan dari jumlah produksi yang disebabkan oleh faktor produksiyang digunakan dapat dinyatakan dengan elastisitas produksi. Elastisitas produksi(Ep) merupakan persentasi perbandingan output yang dihasilkan sebagai akibatdari persentase dari input yang digunakan atau PM/PR. Sehingga dapat ditarikkesimpulan hubungan antara PM dan PT serta PM dan PR dengan besar kecilnya(Ep) adalah sebagai berikut :1) Ep=1, bila PR mencapai maksimum atau bila PR sama dengan PM-nya.2) Bila PM=0, dalam situasi PR sedang menurun, maka Ep=03) Ep >1 bila PT menaik pada tahapan “increasing rate” dan PR juga menaik di stage 1. Disini peternak masih mampu memperoleh sejumlah produksi yang cukup menguntungkan manakala sejumlah input masih ditambah.4) Nilai Ep lebih besar dari nol tetapi lebih kecil dari satu atau 1<Ep<0, dalam keadaan demikian, maka tambahan sejumlah input tidak di imbangi secara proposrsional oleh tambahan output yang diperoleh. Peristiwa ini terjadi pada stage 2, dimana pada sejumlah input yang diberikan maka PT tetap menaik pada tahapan “decreasing rate”.5) Nilai Ep < 0 yang berada pada stage 3, pada situasi demikian PT dalam keadaan menurun, nilai PM menjadi negatif dan PR dalam keadaan menurun. Dalam kondisi ini maka setiap upaya untuk meningkatkan sejumlah input tetap akan merugikan bagi peternak. Sebagai produsen yang rasional akan berproduksi pada tahap II, hal inidisebabkan pada daerah ini tambahan satu unit faktor produksi akan membertambahan produksi total (TP), walaupun produksi rata-rata (AP) dan Produk 26
  • 44. Marginal (MP) menurun tapi masih positif dan pada tahap ini akan dicapaipendapatan yang maksimum. Menurut Soekartawi (2002) fungsi produksi Cobb-Douglas merupakansuatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atu lebih variabel. Variabelyang dijelaskan disebut variabel dependen (Y) dan variabel yang menjelaskandisebut variabel independen (X). Dimana variabel dependen berupa output danvariabel independen berupa input. Adapun persamaan mematis dari fungsi Cobb-Douglas secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut : 𝑌 = 𝑏0 𝑋1𝑏1 𝑋2𝑏2 𝑋3𝑏3 , … . . , 𝑋 𝑖 𝑏𝑖 𝑒 𝑢DimanaY = Variabel DependenX = Variabel Independen 𝑏0 , 𝑏1 = Besaran yang akan didugau = Unsur sisae = Logaritma natural (e = 2,718)3.1.4. Model Just and Pope Untuk menghasilkan sebuah produk melalui proses produksi yangmembutuhkan masukan (input) untuk menjadikan sebuah produk tidak lepasdengan ketidakpastian, sehingga mengalami risiko produksi. Just dan Popemerupakan ahli ekonometrika dalam Phoebe Koundouri dan Celine Naugas(2005) mengembangkan model umum untuk penanganan risiko produksiekonometri. Pendekatan mereka telah cukup populer di kalangan ekonompertanian. Konsep dasar yang diperkenalkan oleh Just dan Pope adalah untukmembangun fungsi produksi sebagai jumlah dari dua komponen, satu berkaitandengan tingkat output, dan satu lagi berkaitan dengan variabilitas output.Spesifikasi ekonometrika ini memungkinkan untuk menjelaskan dampak dariproses produksi yang berasal dari input dan output berpengaruh terhadap risiko.Dengan demikian, dalam Just dan Pope dalam fungsi produksi tidak mengabaikanunsur risiko karena dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah pada koefisienvariabel. Hal ini dapat dilihat dari output galat standar (error term) yang salahdengan menunjukkan hasil yang jauh lebih besar dalam estimasi dari padakenyataan yang diperoleh. 27
  • 45. Pendekatan dengan menggunakan model Just and Pope ini untukmengetahui faktor-faktor produksi yang dapat menyebabkan peningkatan ataupenurunan produksi. Selain melihat pengaruhnya terhadap produksi, model inijuga dapat melihat pengaruh faktor produksi terhadap risiko. Untuk melihat faktorproduksi yang mengurangi dan meningkatkan risiko dapat dilihat pada nilaikoefisiennya, jika koefisien bertanda positif maka menimbulkan risiko sedangkanyang bertanda negatif mengurangi risiko produksi (Fariyanti, 2008).3.1.5 Sumber-Sumber Risiko Risiko timbul bukan karena pengaruh dari faktor-faktor produksi yangdigunakan. Sumber-sumber risiko menurut Harwood (1999) adalah sebagaiberikut.1. Risiko Produksi Risiko produksi terjadi pada saat proses penggunaan input untuk dikonversikan menjadi output, saat proses ini risiko produksi biasanya muncul. Risiko produksi terjadi seperti gagal panen, produksi rendah, kualitas kurang baik. Hal ini bisa disebabkan oleh hama dan penyakit, curah hujan, maupun teknologi serta penggunaan sumber daya yang kurang kompeten.2. Risiko Pasar (harga) Risiko pasar terjadi pada saat produk telah dihasilkan dan siap untuk didistribusikan ke tangan konsumen, saat proses perpindahan dari produsen ke konsumen ini terjadi risiko pasar. Risiko pasar bisa terjadi karena produk tidak dapat terjual, disebabkan oleh perubahan harga output, permintaan rendah, ataupun banyak produk substitusi. Risiko pasar ini berhubungan dengan mekanisme antara konsumen dengan produsen yang dapat menimbulkan permintaan dan penawaran.3. Risiko Kelembagaan Risiko kelembagaan ini adalah lebih melihat peran dari kelembagaan terkait apakah memiliki hubungan positif atau negatif. Hubungan tersebut akan mempengaruhi risiko kelembagaan. Risiko kelembagaan terjadi karena perubahan kebijakan dan peraturan pemerintah, baik dari segi penggunaan pestisida dan obat-obatan, pajak dan kredit. 28
  • 46. 4. Risiko Finansial Risiko finansial ini berhubungan dengan alur keuangan yang digunakan untuk kelangsungan usaha tersebut. Risiko finansial terjadi karena tidak mampu membayar hutang jangka pendek, kenaikan tingkat suku bunga pinjaman, piutang tak tertagih sehingga menyebabkan penerimaan produksi menjadi rendah.3.1.6. Manajemen Risiko Manajemen risiko adalah cara-cara yang digunakan oleh manajemen untukmenangani berbagai permasalah yang disebabkan oleh adanya risiko, juga berartisuatu cara untuk menangani masalah-masalah yang mungkin timbul disebabkankarena adanya ketidakpastian (Kountur, 2004). Untuk menangani risikodiperlukan strategi pencegahan risiko agar risiko dapat ditangani dengan baik.Menurut Kountur (2006), dalam menangani risiko perlu strategi dalampenanganan agar risiko tersebut dapat diminimalkan. Strategi penanganan risikomenurut Kountur (2006) ada lima strategi yang digunakan yaitu menghindari,mencegah, mengurangi kerugian, mangalihkan, dan mendanai. Strategi menghindar dilakukan jika risiko yang dihadapi terlalu besar,yaitu kemungkinan terjadinya besar serta akibat yang ditimbulkan juga besar danrisiko yang dihadapi tidak dapat dikendalikan oleh manajemen dan tidak dapatditangani dengan strategi-strategi penanganan risiko lainnya. namun tidak semuarisiko dapat dihindari dan menghindar kadang-kadang bukan cara yang terbaik.Strategi menghindar sulit dilakukan jika menghindar dari suatu risiko namunmenghadapi risiko lain yang mungkin lebih besar dan risiko tersebut memberikanupah yang sulit untuk ditolak. Strategi kedua adalah pencegahan, strategipencegahan adalah strategi yang digunakan untuk membuat kemungkinanterjadinya risiko sekecil-kecilnya. Pencegahan risiko dapat dilakukan dengan caramemperbaiki sistem dan prosedur, memperbaiki fasilitas, memperbaiki sumberdaya manusia, membuat aturan dan kebijakan. Strategi ini membuat risiko yangberada di kwadran kanan-atas bergeser ke kanan-bawah; atau risiko yang beradapada kwadran kiri-atas berpindah ke kiri-bawah, seperti yang digambarkan padaGambar 5. 29
  • 47. Kemungkinan (%) X Y 10% X Y 0 Rp 100jt Akibat (Rp)Gambar 5. Strategi Pencegahan Risiko Sumber : Kountur ,2006 Strategi penanganan berikutnya adalah dengan pengurangan kerugian yangdialami. Dalam strategi ini dilakukan untuk melakukan sesuatu agar sebelumterjadi suatu kejadian kemungkinan terjadinya dibuat sekecil-kecilnya, strategipengurangan kerugian dimaksudkan untuk mengurangi kerugian setelah kejadian.Pengurangan kerugian dilakukan pada risiko-risiko yang berada pada kwadrankanan-atas dan kawan-bawah. Risiko-risiko yang berada pada kwadran kanan-atasdiusahakan ke kwadran kiri-atas, dan risiko-risiko yang berada pada kwadrankanan-bawah berpindah ke kwadran kiri-bawah. Berikut dijelaskan pada Gambar6.kemungkinan (%) 10% Y Y X X 0 Rp 100jt Akibat (Rp)Gambar 6. Strategi Pengurangan Risiko Sumber : Kountur, 2006 Strategi berikutnya adalah strategi mengalihkan risiko. Risiko-risiko yangdapat dikendalikan dilakukan penanganan pencegahan dan pengurangan risiko,sedangkan risiko yang tidak dapat dikendalikan penanganannya dilakukan denganpengalihan ke pihak lain. Risiko-risiko dapat dialihkan ke pihak lain yangmenanggung akibatnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk 30
  • 48. mengalihkan risiko ke pihak lain diantaranya dengan mengalihkan risiko melaluiasuransi, hedging, leasing, factoring, dan outsourching. Strategi terakhir adalah dengan melakukan pendanaan kepada risiko yangdihadapi. Perusahaan mempersiapkan dana sekiranya terjadinya kejadian yangmerugikan sehingga perusahaan memiliki dana untuk membiayai kerugian-kerugian tersebut dengan demikian operasional perusahaan dapat terus berjalan.Perusahaan dapat melakukan beberapa cara untuk mendanai risiko-risikooperasionalnya. Cara-cara tersebut adalah menggunakan kas kecil, menyediakandana cadangan, melakukan self-insurance, dan membuat captive insurer.3.2. Kerangka Operasional Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras pedaging yang mampu tumbuhcepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat. Broilerjuga mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani yangdibutuhkan oleh manusia yang relative mudah dijangkau oleh semua kalangan.Ayam broiler sangat potensial untuk dikembangkan hal tersebut dilihat dengansemakin meningkatnya tingkat konsumsi terhadap daging ayam broiler sepertiyang telah dijelaskan dipendahuluan. Peningkatan konsumsi daging ayam broilerseiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia setiaptahunnya. Selain itu juga daging ayam broiler menjadi pilihan untuk memenuhikebutuhan hewani karena harganya yang lebih murah dibandingkan dengandaging ternak lainnya. Namun, dibalik potensi dari ayam broiler tersebut padaumumnya peternak dihadapkan dengan ketidakpastian atau risiko dalammenjalankan usaha ayam broilernya. Risiko yang dihadapkan adalah risikoproduksi. Penelitian ini dilakukan terhadap peternak plasma dari perusahaanDramaga Unggas Farm (DUF) sebanyak 30 responden yang dipilih denganrepresentative. Sistem budidaya yang diterapkan oleh peternak masih bersifattradisional yaitu masih menggunakan sistem kandang panggung serta penggunaanperalatan yang masih tradisional. Penelitian yang dilakukan diidentifikasi bahwa dalam menjalankan prosesproduksi peternak didampingi dengan risiko produksi. Indikasi yang menyatakanbahwa peternak ayam broiler tersebut mengalami risiko produksi adalah denganadanya fluktuasi tingkat kematian dan produktivitas ayam broiler yang tidak 31
  • 49. sesuai antara aktual dan standar yang telah ditetapkan berdasarkan titik amandalam menjalankan suatu usaha. Tingkat kematian dan produktivitas yangdihasilkan oleh peternak plasma DUF sangat beragam, ada yang tidak mencapaistandard normal dan ada juga peternak yang aktualnya melebihi standar yangditentukan. Keberagaman tersebut dapat dijadikan bahwa peternak plasma DUFmengalami risiko produksi. Risiko produksi tersebut diduga berasal dari beberapa sumber risikoproduksi, seperti penggunaan faktor-faktor produksi maupun faktor cuaca/iklim.Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam menjalankan usaha ayam broileradalah DOC, pakan, sekam, vitamin, vaksin, obat-obatan, pemanas dan tenagakerja. Namun, faktor-faktor produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalahDOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, pemanas dan tenagakerja. Pemilihan faktor-faktor tersebut berdasarkan penilitian yang dilakukan olehMerina serta berdasarkan hasil pengamatan selama dilapang. Penelitian inimenggunakan pendekatan Just and Pope yang menyatakan bahwa didalam fungsiproduksi terdapat juga fungsi variance produksi. Sehingga pendekatan inimemiliki dua fungsi. Fungsi produksi yang digunakan adalah dalam bentuklogaritma natural. Pendekatan Just and Pope dilakukan adalah untuk mengetahuifaktor-faktor produksi apa saja yang mempengaruhi produksi serta apapengaruhnya terhadap variance produksi. Untuk menilai apakah faktor-faktortersebut mengurangi atau menimbulkan variance produksi digunakan alat analisisyaitu eviews 6. Alat analisis tersebut dapat menjelaskan sekaligus faktor-faktorapa saja yang mempengaruhi produktivitas dan variance produksi serta melihatpengaruhnya apakah faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan risiko produksiatau menurunkan risiko produksi. Selain faktor-faktor produksi tersebut diduga ada faktor lain yangmempengaruhi risiko produksi yaitu adanya perubahan cuaca/iklim yang tidakmenentu. Cuaca/iklim tidak masuk dalam model kareana faktor tersebut tidakdapat dihitung nilainya sehingga dalam penilaiannya dilakukan secara pendugaandeskriptif. Setelah diketahui faktor-faktor produksi apa saja yang mempengaruhirisiko produksi dan variance produksi serta pengaruhnya terhadap produksi makadilakukan rekomendasi oleh peneliti agar faktor-faktor produksi tersebut dapat 32
  • 50. meminimalkan risiko dan meningkatkan produksi. Untuk lebih jelas dapat dilihatalur pemikiran operasional pada Gambar 7. Peternak Plasma Ayam Broiler Pada Dramaga Unggas Farm Adanya Fluktuasi Produktivitas Faktor-Faktor Produksi X1 DOC X2 Pakan Sumber Risiko Produksi X3 Protect Enro  Cuaca/Iklim X4 Neocamp  Hama dan Penyakit X5 Doxerin Plus  Kesalahan Manusia X6 Vaksin X7 Pemanas X8 Tenaga Kerja Analisis Model Just and Pope  Fungsi Produksi Rata-rata  Fungsi Produksi Variance  Faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi.  Pengaruh faktor-faktor produksi terhadap risiko produksi Rekomendasi/Saran Alternatif Strategi Penanganan RisikoGambar 7. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Ayam Broiler 33
  • 51. IV. METODE PENELITIAN4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada peternak plasma ayam broiler di DramagaUnggas Farm, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor. Pemilihan Kota Bogorkhususnya di daerah Darmaga sebagai tempat penelitian dilakukan dengan sengaja(purposive) dengan pertimbangan bahwa Jawa Barat merupakan salah satu sentralproduksi ayam broiler khususnya Dramaga merupakan salah satu penyumbangprduksi ayam broiler. Pemilihan CV Dramga Unggas Farm dilakukan dengan dengan carapurposive sampling, dengan alasan bahwa DUF merupkan perusahaan yang barudibogor namun sudah memiliki banyak plasma yang tersebar luas dikota bogor.Sedangkan pemilihan peternakan dilakukan dengan cara judgment sampling yaituberdasarkan pertimbangan inti plasma dengan melihat panen pada periode terakhiryaitu bulan Mei dan Juni 2011 serta peternak yang representatif sebanyak 30responden. Penelitian dilaksanakan selama satu setengah bulan yaitu pada 10 Mei– 28 Juni 2011.4.2. Data dan Instrumentasi Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan datasekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancarakepada pihak perusahaan, seperti kepada pemilik perusahaan, karyawan, sertapihak-pihak yang terkait dalam usaha peternakan ayam broiler tersebut. Data daninformasi yang berasal dari perusahaan digunakan untuk mengetahui keadaanumum dari perusahaan tersebut serta dapat mengetahui risiko yang terjadidiperusahaan tersebut serta penanganan-penanganan yang telah dilakukan untukmengurangi risiko yang terjadi. Sedangkan informasi dan data dari pesaing untukmelihat altrnatif lain guna membandingkan cara penanganan risiko yang lebihefektif. Data sekunder diperoleh dari luar perusahaan seperti Badan PusatStatistika (BPS), Departemen Peternakan, perpustakaan LSI IPB, internet danliteratur lainnya yang relevan. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatifdan kualitatif. Data kuantitatif berupa berasal dari adanya fluktuatif harga input, 34
  • 52. harga output, pendapatan peternak dan lain sebagainya. Sedangkan data yangkaulitatif berasal dari penanganan-penanganan yang dilakukan dalammeminimalkan risiko yang dihadapi oleh perusahaan tersebut.4.3. Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah data panel atau(cross section dan timeserie) seperti data produksi harian yang terkait dengantingkat kematian ayam, penggunaan luas kandang, jumlah penggunaan pakan,obat-obatan, DOC, jam kerja pegawai, penggunaan air, pemanas, serta datakeuangan mulai dari pembelian sarana produksi ayam broiler sampai padapenjualan output hidup. Data yang digunakan adalah periode terakhir yaituterhitung pada awal mau produksi atau turun DOC pada bulan Maret, April danMei dan pada panen di bulan April, Mei dan Juni 2011. Data primer diproleh dari peternak ayam broiler melalui observasilangsung, wawancara dan diskusi dengan dengan peternak ayam broiler tersebut.Observasi dilakukan dengan pencatatan langsung oleh peneliti semua kejadiantentang produksi dan pengendalian risikonya. Wawancara dan diskusi dilakukandengan cara tanya jawab kepada peternak ayam tersebut.4.4. Metode Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisiskualitatif dilakukan dengan pendekatan deskriptif untuk mengetahui gambaranumum tentang peternak ayam broiler serta manajemen risiko yang digunakan olehpeternak tersebut. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisisfakto-faktor produksi apa saja yang mempengaruhi risiko produksi pada ayambroiler dan melihat seberapa besar tingkat risiko yang ditimbulkan dari faktor-faktor produksi tersebut, dalam pengolahan data tersebut menggunakan bantuanalat aplikasi Microsoft Excel, Minitab versi 14 serta Eviews 6.4.4.1. Analisis Risiko Produksi Just dan Pope Analisis risiko produksi yang dikemukakan oleh Just dan Pope adalahmengembangkan model umum untuk penanganan risiko produksi ekonometri dandigunakan untuk menganalisis faktor produksi namun tidak mengabaikan tingkatrisiko yang kemungkinan akan terjadi pada produksi tersebut yang dapat 35
  • 53. menyebabkan kesalahan dalam perhitungan. Sehingga dalam model Just dan Popememasukkan unsur error agar unsur risiko dapat diperhitungkan dalam analisisproduksi. Sehingga tingkat kesalahan dalam perhitungannya menjadi kecil.Konsep dasar yang diperkenalkan oleh Just dan Pope adalah untuk membangunfungsi produksi sebagai jumlah dari dua komponen, satu berkaitan dengan tingkatoutput, dan satu yang berkaitan dengan variabilitas output. Sehingaa dalampenggunaan model Just dan Pope adalah fungsi produksi rata-rata (meansproduction function) dan fungsi variance (variance production function), yangmasing-masing fungsi tersebut dipengaruhi oleh penggunaan variabel-variabelproduksi tersebut sehingga fungsi variance dan produksi diketahui. Persamaan model fungsi risiko produksi Just dan Pope secara matematisdapat dituliskan sebagai berikut : Y = f(X,β) + h(X,θ)єDimana :Y = Jumlah produksi yang dihasilkanf,h = Mentransformasikan faktor-faktor produksi kedalam hasil produksiX = Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksiβ,θ = Besaran/koefisien yang akan didugaє = Unsur error Pada fungsi produksi di atas merupakan terdiri dari dua gabungan fungsi,yaitu fungsi produksi output (means production function) yangmentransformasikan variabel-variabel input menjadi fungsi produksi dan satu lagiadalah fungsi produksi yang telah ditambahkan unsur risikonya, yaitu denganmemperhatikan unsur variance dari fungsi produksi tersebut. Untukmenyelesaikan perhitungan fungsi produksi dan variance dari produksi tersebutdalam bentuk fungsi Cobb Douglass. Fungsi produksi Cobb-Douglas diperkenalkan oleh Cobb, C.W danDouglass, P.H (1982), yang dituliskan dan dijelaskan Cobb, C.W dan Douglass,P.H dalam artikelnya “A Theory of Production”(2). Fungsi Cobb-Douglas adalahsuatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimanavariabel yang satu disebut dengan variabel dependen (yang dijelaskan/Y), danyang lain disebut variabel independent (yang menjelaskan/X). (Soekarwati,1993).2 http://www.google.com//fungsi produksi serta penerapan rumus Cobb Douglas. (April 2011) 36
  • 54. Dalam fungsi produksi, maka fungsi produksi Cobb-Douglass adalah suatu fungsiproduksi yang ingin memperlihatkan pengaruh input yang digunakan denganoutput yang diinginkan. Pentingnya pendugaan menggunakan EKONOMETRIKA(Ekonomi, Matematika, Statistika). Dalam dunia ekonomi, pendekatan Cobb-Douglass merupakan bentuk fungsional dari fungsi produksi secara luasdigunakan untuk mewakili hubungan output untuk input. Sehingga model fungsiproduksi Just dan Pope secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :Fungsi Produksi Y = f (X)..............(1) Ln Y = Lnβ0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + β5LnX5 + β6LnX 6 + єVariance Produksi ζ2 = f (X).............(2) Ln ζ2 Y = LnX0 + θ1LnX1 + θ2LnX2 + θ3LnX3 + θ4LnX4 + θ5LnX5 + θ6LnX 6 + єDimana :Y = Produktivitas ayam broiler (kg/m2)X1 = Jumlah DOC (ekor/m2)X2 = Pakan (Kg/m2)X3 = Protek Enro (Kg/m2)X4 = Neocamp (Liter/m2)X5 = Doxerin Plus (Kg/m2)X6 = Vaksin (Kg/m2)X7 = Pemanas (Kg/m2)X8 = Tenaga Kerja (HOK) β = Mean interceptθ = Variance interceptβ1, β2, β3,... β8 = Koefisien parameter dugaan X 1, X2, X 3,...X 8θ1, θ2, θ3,.... θ8 = Koefisien parameter dugaan X1, X2, X3,.....X8є = Unsur error faktor-faktor produksi yang digunakan diatas diperoleh dari penelitanterdahulu yang memasukan DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus,tenaga kerja, vaksin dan pemanas menjadi faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi. Jika koefisien-koefisien dari parameter dugaan dari fungsi produksi danvarian lebih besar dari nol artinya semakin banyak input yang digunakan untukproses produksi maka rata-rata hasil dan varian produksi broiler akan semakinmeningkat. Dan jika terdapat coefisien variance bertanda negatif maka inputtersebut adalah faktor produksi yang mengurangi risiko dan jika koefisienvariasinya bertanda positif maka input tersebut adalah sebagai faktor produksiyang menimbulkan risiko. 37
  • 55. Perhitungan Cobb-Douglass merupakan metode yang banyak dipakai olehpeneliti dalam menilai risiko produksi. Alasan mengapa menggunakan Cobb-Douglass dikarenakan metode tersebut memiliki kelebihan sebagai berikut :1. Bentuk fungsi produksi Cobb-Douglass bersifat sederhana dan mudah penerapannya.2. Fungsi produksi Cobb-Douglass mampu menggambarkan keadaan skala hasil (return to scale), apakah sedang meningkat, tetap atau menurun.3. Koefisien-koefisien fungsi produksi Cobb-Douglass secara langsung menggambarkan elastisitas produksi dari setiap input yang digunakan dan dipertimbangkan untuk dikaji dalam fungsi produksi Cobb-Douglass itu.4. Koefisien intersep dari fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan indeks efisiensi produksi yang secara langsung menggambarkan efisiensi penggunaan input dalam menghasilkan output dari sistem produksi yang dikaji. Dari kelebihan tersebut maka alasan peneliti menggunakan metodetersebut adalah penyelesaian fungsi Cobb-Douglass relatif lebih mudahdibandingkan dengan fungsi produksi, hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglass akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus juga menunjukkanelstisitas, besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaranReturn to Scale.4.4.2. Model ARCH-GARCH Permodelan data deret waktu umumnya dilakukan dengan menggunakanasumsi ragam sisaan yang konstan (homoskedastisitas), namun kenyataannyabanyak deret waktu yang mempunyai ragam sisaan yang tidak konstan(heteroskedistisitas), khususnya untuk data deret waktu dibidang ekonomi. Olehkarena itu pemodelan analisis deret waktu biasa dengan asumsi homoskedastisitastidak dapat digunakan. Model ARCH (Autoregressive ConditionalHeteroscedostisitas) merupakan model yang memperhitungkan adanyaheteroskedistisitas dalam analisis deret waktu. Volatilitas berdasarkan modelGARCH (p,q) mengasumsikan bahwa varian data fluktuasi dipengaruhi olehsejumlah p data fluktuasi dan q data volatiliti sebelumnya. 38
  • 56. Varian terdiri dari dua komponen yaitu varians yang konstan dan variansyang tergantung dari besarnya volatilitas di periode sebelumnya. Jika volatilitaspada periode sebelumnya besar (baik negatif atau positif), maka varians pada saatini akan besar pula. Sehingga model ARCH dapat dirumuskan sebagai berikut.ht = ε + αε2t + α1ε2t-1 + α2ε2t-2 + ………… + αmε2t-mdimana :ht = variabel terikat pada periode tε = variabel yang konstansε2t-m = Arch/volatilitas pada periode sebelumnyaα, α1, α2,… αm = koefisien orde m yang diestimasikan Model GARCH dikembangkan dengan mengintegrasikan autoregresi darikuadrat residual lag kedua sehingga lag tak hingga ke dalam bentuk varian padalag pertama. Model ini dikembangkan sebagai generalisasi dari model volatilitas.Secara sederhana volatilitas berdasarkan model GARCH (r,m) mengasumsikansebelumnya dan sejumlah r data volatilitas sebelumnya. Model ini seperti dalammodel autoregresi biasa (AR) dan pergerakan rata-rata (MA), yaitu untuk melihathubungan variabel acak dengan variabel acak sebelumnya. Varian terdiri dari tigakomponen. Komponen pertama adalah varians yang konstan, volatilitas padaperiode sebelumnya dan varian pada periode sebelumnya. Sehingga modelGARCH dapat dirumuskan bentuk umum model GARCH (r,m)ht = k + δ1ht-1 + δ2ht-2 +…. +δrht-r + α1ε2t-1 + α2ε2t-2 + ………… + αmε2t-mdimana :ht = Variabel respon pada waktu tK = Varians yang konstan 2ε t-m = Arch/volatilitas pada periode sebelumnyaα, α1, α2,… αm = Koefisien orde m yang diestimasikanδ, δ1, δ2,….. δr = Koefisien orde r yang diestimasikanht-r = Suku Garch Model ARCH-GARCH dipilih menjadi alat analisis dalam penelitian inidengan pertimbangan bahwa model tersebut merupakan model yang dapatmenjawab sekaligus permasalah yang diteliti oleh penulis, model tersebut mampumenjawab selain fungsi produksi rata-rata dan fungsi variance produksi.Permasalahan tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan GARCH (1,1).Pemilihan GARCH (1,1) dilakukan dengan pertimbangan bahwa model tersebut 39
  • 57. adalah model yang sederhana yang banyak digunakan oleh penelitian terdahuluuntuk menghitung suatu variance produksi.4.5. Pengujian Hipotesis1) Pengujian asumsi OLS (Ordinary Least Square) Metode pendugaan model dilakukan dengan metode OLS. Akan tetapisebelumnya harus diuji terlebih dahulu asumsi-asumsi yang sesuai dengan OLSyaitu multikolinieritas. Multikolinier variabel independent adalah kondisi dimanaterdapat hubungan linier diantara variabel independent. Ada beragam penyebabmultikolinier, diantaranya disebabkan adanya kecendrungan variabel-variabelyang bergerak secara bersamaan. Adanya multikolinier menyebabkan ragamvariabel menjadi sangat besar, sehingga koefisien regresi dugaan tidak stabil danberimplikasi pada besar dan arah koefisien variabel menjadi tidak valid untukdiinterpretasi. Adanya multikolinier dapat dilihat pada nilah Variance InflationFactor (VIF) >10. Jika terjadi masalah multikolinier maka harus diperbaikiterlebih dahulu dengan menambah observasi, mengeluarkan variabel independentyang berkolerasi kuat.2) Pengujian Parameter Model (Uji F) Tujuan pengujian ini adalah untuk melihat apakan variabel bebas yangdigunakan secara bersama-sama berpengaruh nyata pada variabel tak bebas(independent). Uji statistik yang digunakan adalah uji F. 𝑅2 (𝑘 − 1) 𝐹 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 1 − 𝑅2 (𝑛 − 𝑘)Dimana :R2 = Koefisien determinasiK = Jumlah variabel bebasn = Jumlah sampel Kriteria uji F-hitung > F-tabel (k-1, n-k), maka tolak H0 F-hitung < F-tabel (k-1, n-k), maka terima H0 Jika tidak menggunakan tabel maka dapat dilihat nilai P dengan kriteria ujisebagai berikut : 40
  • 58. P-value < α , maka tolak H0P-value > α, maka terima H0 Apabila F-hitung > F-tabel atau P-value < α maka secara bersama-samavariabel bebas dalam proses produksi mempunyai pengaruh yang nyata terhadapproduksi. Sedangkan apabila F-hitung < F-tabel atau P-value > α maka secarabersama-sama variabel bebas dalam proses produksi tidak berpengaruh secaranyata terhadap produksi.3) Pengujian Parameter Variabel (Uji t) Hipotesis Statistik merupakan pernyataan atau dugaan mengenai satu ataulebih populasi. Pengujian hipotesis berhubungan dengan penerimaan ataupenolakan suatu hipotesis. Penerimaan suatu hipotesis terjadi karena tidak cukupbukti untuk menolak hipotesis tersebut dan bukan karena hipotesisnya itu benardan penolakan suatu hipotesis terjadi karena tidak cukup bukti untuk menerimahipotesis tersebut dan bukan karena hipotesis itu salah. Tujuan dari pengujian iniadalah untuk mengetahui apakah koefisien regresi dari masing-masing variabelbebas (X) yang digunakan berpengaruh signifikan terhadap variabel bebas (Y).Uji statistika yang digunakan adalah uji t dan taraf nyata yang digunakan adalah20 persen. Rumusan Hipotesis fungsi produksi dan varian H0 : βi, θi < 0, artinya variabel bebas merupakan penjelas yang mengurangi produksi dan mengurangi risiko produksi terhadap variabel terikat H1 : βi, θi > 0, artinya variabel bebas penjelas yang meningkatkan produksi dan menimbulkan risiko produksi terhadap variabel terikat Uji t 𝛽𝑖 𝑡 − ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 𝑆𝛽𝑖Dimana :βi = Koefisien regresi ke-i yang didugaS βi = Standar deviasi dari βi ƞ𝑖 θ 𝑡 − ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 𝑆ƞ𝑖 41
  • 59. Dimana :θi = Koefisien regresi ke-i yang didugaSθi = Standar deviasi dari θi Daerah Kritis  Ho diterima apabila –t (α / 2; n – k) ≤ t hitung ≤ t (α / 2; n – k), artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.  Ho ditolak apabila t hitung > t (α / 2; n– k) atau –t hitung < -t (α / 2; n – k), artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.Dimana :n = Jumlah sampelk = Jumlah variabel sumber : Walpole, 19924.6. Hipotesis Dalam penelitian dilakukan terlebih dahulu hipotesis atau kesimpulansementara tentang fungsi produksi rata-rata dan produksi varian terhadap faktor-faktor produksi yang digunakan adalah semua faktor produksi berpengaruh positifterhadap produksi ayam broiler dan variannya. Adapun hipotesis tersebut adalahsebagai berikut :1. β 1, θ1 > 0 artinya jika DOC ditambah satu satuan maka produktivitas dan varian ayam broiler juga akan semakin meningkat satu satuan.2. β2, θ2> 0 artinya jika Pakan ditambahkan satu satuan pada ayam broiler maka akan meningkatkan produktivitas dan varian dari ayam satu satuan.3. β3, θ3 > 0 artinya jika Protect Enro ditambah satu satuan pada produksi ayam broiler maka hasil produktivitas dan variannya juga akan meningkat satu satuan.4. β4, θ4 > 0 artinya jika Neocamp ditambahkan satu satuan maka akan meningkatkan produktivitas dan varian dari ayam broiler satu satuan. 42
  • 60. 5. β5, θ5 > 0 artinya jika Doxerin Plus ditambahkan satu satuan maka akan meningkatkan produktivitas dan varian dari produksi ayam broiler satu satuan.6. β6, θ6 > 0 artinya jika vaksin ditambahkan satu satuan maka akan meningkatkan produktivitas dan varian ayam broiler satu satuan.7. β8, θ8 > 0 artinya jika pemanas ditambahkan satu satuan maka akan meningkatkan produktivitas dan varian dari ayam broiler satu satuan.8. β8, θ8 > 0 artinya jika tenaga kerja ditambahkan satu satuan maka akan meningkatkan produktivitas dan varian dari ayam broiler satu satuan. 43
  • 61. V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN5.1. Kondisi Geografi Kecamatan Dramaga terletak di wilayah Bogor Barat dengan luas wilayah2.437.636 Ha. Sebagian besar tanah yaitu 972 Ha digunakan untuk sawah, 1.145Ha lahan kering (pemukiman, pekarangan, kebun), 49,79 Ha lahan basah (rawa,danau, tambak, situ), 20,30 Ha lapangan olahraga dan pemakaman umum.Kecamatan Dramaga mempunyai batas wilayah sebelah utara dengan KecamatanRancabungur, sebelah selatan dengan Kecamatan Tamansari/Ciomas, sebelahbarat dengan Kecamatan Ciampea dan sebelah timur dengan Kecamatan BogorBarat. Curah hujan di Kecamatan Dramaga 1.000 – 1.500 mm/tahun, denganketinggian 500 m dari permukaan laut. Jarak Kecamatan Dramaga dari ibukotaKabupaten Bogor adalah 12 km, dari ibukota Propinsi Jawa Barat 180 km, dandari ibukota negara Indonesia 60 km. Kecamatan Dramaga terdiri dari 10 desa, 24dusun, 72 RW, 309 RT, dan 20.371 KK (Kepala Keluarga).5.2. Kondisi Demografi Kondisi demografi yang ada di Kabupaten Dramaga sangat beranekaragam. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah penduduk Dramaga yang menyebardiberbagai desa. Serta memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang tergolongcepat dari setiap umurnya. Selain jumlah penduduk, jenis pekerjaan juga beranekaragam mulai dari yang formal sampai non formal. Namun pada umumnya kondisipenduduk Dramaga banyak terdapat di desa sehingga mempengaruhi tingkatpendidikan yang tidak terlalu tinggi. Jumlah penduduk Kecamatan Dramaga pada tahun 2009 adalah 84.609jiwa yang terdiri dari 20.371 KK. Pendistribusian jumlah penduduk Dramagaberdasarkan kelompok umurnya dapat dilihat pada Tabel 7. 44
  • 62. Tabel 7. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Kelompok Umur Pada Tahun 2009 No. Kelompok Umur Jumlah (orang) Persentase (%) 1 0–4 8.294 9,80 2 5–9 8.770 10,37 3 10 – 14 8.146 9,63 4 15 – 19 8.128 9,61 5 20 – 24 8.579 10,14 6 25 – 29 8.047 9,51 7 30 – 34 6.978 8,25 8 35 – 39 6.559 7,75 9 40 – 44 5.850 6,91 10 45 – 49 4.756 5,62 11 50 – 54 3.858 4,56 12 55 – 59 2.855 3,37 13 ≥ 60 3.789 4,48 Jumlah 84.609 100Sumber : Dinas Kecamatan Dramaga, 2010 Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa pendistribusian jumlah pendudukDarmaga paling banyak pada umur balita (5-9 tahun) sebesar 10,37 persen dandewasa (20-24 tahun) sebesar 10,14 persen. Pendistribusian jumlah penduduk inisemakin tua maka jumlah penduduknya semakin menurun. Hal tersebutdikarenakan pada saat usia lanjut masyakarat tidak terlalu memperhatikan kondisikesehatan dengan terus bekerja mencari nafkah, hal tersebut menjadikan tingkathidup saat usia lanjut menjadi kecil. Selain itu juga, dapat dilihat kelompok usiaproduktif yaitu usia 15-50 tahun sebesar 57,79 persen atau sebesar 48.896 jiwa.Sedangkan kelompok usia yang tidak produktif (kelompok umur 0-15 tahun danumur diatas 50 tahun) sebesar 42,21 persen atau berjumlah 35.713 jiwa. Datatersebut memperlihatkan bahwa jumlah usia produktif lebih besar dibandingkanjumlah usia yang tidak produktif, sehingga dapat disimpulkan bahwa banyaknyatenaga kerja potensial yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan usaha. Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Dramaga cukup beragam yaitusektor pertanian, perdagangan, buruh, ABRI/TNI dan pegawai negeri yangdisajikan pada Tabel 8. 45
  • 63. Tabel 8. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Jenis Pekerjaan Pada Tahun 2009 No. Jenis Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 PNS 1.056 4,68 2 TNI/ Polri 57 0,25 3 Pegawai/ karyawan 4.031 17,87 4 Dagang/ Wiraswasta 4.865 21,57 5 Petani & Peternak 1.309 5,80 6 Jasa / Buruh 10.604 47,01 7 Lainnya 634 2,81 Jumlah 22.556 100Sumber : Dinas Kecamatan Dramaga, 2010 Tabel 8 menunjukkan bahwa penduduk Dramaga memiliki aneka jenispekerjaan. Pekerjaan yang paling banyak dilakukan adalah dagang/wiraswastasebesar 21,57 persen dan jasa/buruh sebesar 47,01 persen. Sedangkan TNI/Polri,PNS, dan Peternak adalah pekerjaan yang sedikit ditekuni oleh penduduk yangada di daerah Dramaga.Tabel 9. Distribusi Penduduk Dramaga Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada Tahun 2009 No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 Tidak tamat SD 35.513 41,97 2 Tamat SD 26.973 31,88 3 Tamat SMP 10.889 12,87 4 Tamat SMA 8.791 10,39 5 D1 – D3 959 1,13 6 S1 – S3 1.484 1,75 Jumlah 84.609 100Sumber : Dinas Kecamatan Dramaga, 2010 Pendidikan seharusnya wajib dilakukan oleh setiap penduduk, hal tersebutakan mencerminkan kondisi suatu wilayah. Jika wilayah tersebut memilkipendidikan yang merata maka akan meningkatkan kualitas sumber dayamanusianya. Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan penduduk diKecamatan Darmaga masih rendah dimana 41,97% tidak tamat SD, 31,88 %tamat SD. Penduduk yang berpendidikan diploma maupun sarjana masih sangatsedikit. 46
  • 64. 5.3 Karakteristik Responden5.3.1. Umur Responden Umur seseorang merupakan karakteristik individu yang dapatmempengaruhi biologis dan psikologis individu dalam melakukan usaha budidayaayam broiler. Baik itu dalam pengambilan suatu keputusan maupun dalampengalaman dalam menjalankan usaha ayam broiler. Umur peternak ayam broileryang dijadikan sebagai responden beraneka ragam ada yang muda sampai yangtelah usia lanjut. Usia responden pada ayam broiler ini relatif merata pada setiap rentangnyakecuali pada rentang umur diatas 50 tahun. Pada rentang usia 30-39 tahun,merupakan usia yang paling banyak menjadi respondennya dengan berjumlahsembilan orang atau sebesar 30 persen. Sedangkan pada usia 20-29 tahun dan 40-49 tahun memiliki jumlah responden yang sama yaitu sebesar tujuh orang atausebesar 23,33 persen. Pada usia lanjut yaitu diatas 50 tahun juga memilikipersentase yang sama yaitu sebesar 23,33 persen atau sebanyak tujuh orang. Kelompok usia yang produktif adalah pada usia 20-49 tahun sedangkankelompok usia yang kurang produktif adalah diatas 50 tahun. Jumlah respondenyang memiliki usia produktif adalah sebesar 76,66 persen atau sebanyak 23 orang.Sedangkan jumlah responden yang memasuki usia kurang produktf adalah sebesar23,33 persen atau sebanyak tujuh orang. Hal tersebut dapat dilihat bahwaresponden yang menjalankan usaha ayam broiler pada penelitian ini banyakdilakukan oleh tenaga kerja yang masih produktif. Untuk mengetahui lebih jelastentang sebaran umur peternak ayam yang menjadi responden dapat dilihat padaTabel 10.Tabel 10. Jumlah Responden Peternak Ayam Broiler Berdasarkan Umur di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 No Usia (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 20 – 29 7 23,33 2 30 – 39 9 30,00 3 40 – 49 7 23,33 4 50 – 59 4 13,33 5 >60 3 10,00 Jumlah 30 100,00 47
  • 65. 5.3.2. Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat mencerminkan kualitas sumber daya manusia. Padaumumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan meningkatkan kualitassumber daya manusia terserbut. Hal tersebut dapat dilihat dari dalam pengambilankeputusan yang strategis, pemecahan masalah yang dihadapi, serta mengetahuipengetahuan terhadap usaha yang akan dijalankan. Dengan pendidikan yangtinggi akan merubah pola pikir seseorang untuk menjadikan usahanya menjadilebih berkembang. Pada penelitian ini memiliki respondennya memiliki tingkat pendidikandapat dikatakan tidak merata. Pendidikan respondennya dapat dikatakan masihterlalu rendah hal ini dikarenakan masih banyak peternak yang hanyamendapatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD). Responden yang hanyamenikmati pendidikan SD sebanyak 14 orang atau sebesar 46,67 persen.Responden tersebut memiliki bobot yang paling besar dibandingkan denganpendidikan lainnya seperti SMP hanya sebesar 33,33 persen atau sebanyak 10orang, SMA sebanyak 16,67 persen atau sebesar lima orang dan selebihnya adalahmenjalani pendidikan S1. Untuk lebih jelasnya pemaparan tingkat pendidikanpada responden ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 11.Tabel 11. Tingkat Pendidikan Responden pada Peternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 SD 14 46,67 2 SMP 10 33,33 3 SMA 5 16,67 4 S1 1 3,33 Jumlah 30 100,005.3.3. Pengalaman Pembudidaya Ayam Broiler Lama pengalaman beternak ayam broiler dapat mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan diambil dalam menghadapi permasalahan dan ketahanandalam menghadapi permasalahan yang muncul dalam proses budidaya ayam. Padaumumnya semakin lama beternak ayam maka akan lebih mengerti terhadapmasalah yang akan dialami seperti terjadinya hama dan penyakit. Penanganan saat 48
  • 66. terjadi perubahan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau. Jika sudahmemiliki pengalaman yang lebih lama maka dalam menghadapi permasalahantersebut tidak sulit lagi. Untuk mengetahui sebaran responden berdasarkanlamanya beternak ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 12.Tabel 12. Sebaran Responden Berdasarkan Lamanya Peternak Beternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 No Lama Usaha Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 1-5 11 36,67 2 6 -10 13 43,33 3 11 -15 3 10,00 4 16 – 20 2 6,67 5 > 21 1 3,33 Jumlah 30 100,00 Tabel 12 menunjukkan bahwa terdapat peternak yang memilikipengalaman dalam beternak ayam broiler 6-10 tahun sebanyak 13 orang danpengalaman yang hanya 1-5 tahun sebanyak 11 orang, dan selebihnya peternakyang diatas 10 tahun sebesar enam orang atau sebesar 19 persen. Lamanyapengalaman peternak dibidang ayam broiler ini dikarenakan banyaknya peternakmemulai usaha ayam broiler ini dari anak kandang terlebih dahulu, setelahmemiliki pengetahuan sendiri dan mengetahui segala aspek teknis maka peternakkeluar dari anak kandang mendirikan usaha ayam broiler sendiri. Sedangkan yangmemiliki pengalaman usaha sedikit dikarenakan tergiur oleh pendapatan yangtinggi jika berhasil menjalankan usaha ayam ini.5.3.4. Luas Kandang dan Status Kepemilikan Lahan Kandang merupakan alat yang digunakan sebagai tumbuh danberkembangnya ayam broiler sampai pada pemanenan. Kandang didirikantergantung luas lahan yang dimiliki oleh peternak ayam broiler. Pada umumnyasemakin luas lahan yang dimiliki maka kandang yang didirikan juga akan semakinbesar sehingga dapat menampung lebih banyak lagi DOC yang dikembangkan.Kandang ayam pedaging ada dua tipe yaitu jenis panggung dan jenis portal ataulangsung lantai tanpa panggung. Responden yang menggunakan tipe kandang 49
  • 67. portal pada penelitian ini sebanyak dua orang dan selebihnya peternak tersebutmenggunakan kandang panggung. Kandang yang sehat jika kandang memiliki sirkulasi udara yang baik,sehingga kondisi kandang tidak lembab. Jika kandang panggung maka kandangtidak boleh terlalu dekat jaraknya terhadap tanah, hal tersebut dikarenakan agarayam tidak terlalu terkena uapan amoniaknya. Selain itu juga kandang harus sterilterhadap lingkungan hewan lain agar ayam broiler tidak terkontiminasi denganpenyakit dari hewan lainnya. Luas kandang responden penelitian sangat bervariasi berdasarkan skalausaha masing-masing peternak. Biasanya luas kandang disesuaikan dengankemampuan dan kemauan peternak untuk berproduksi. Luas kandang yang palingbanyak dimiliki oleh responden pada rentang 200-399 m2 sebesar 36,67 persensebanyak 11 orang, sedangkan 400-599 meter persegi sebesar 30 persen atausebanyak sembilan orang. Sedangkan yang memiliki luas kandang lebih dari 800meter persegi sebanyak tiga orang atau sebesar 10 persen. untuk lebih jelastentang pendistribusian responden berdasarkan luas kandang dapat dilihat padaTabel 13.Tabel 13. Jumlah Responden Berdasarkan Luas Kandang di Peternak Ayam Broiler Kecamatan Dramaga Tahun 2011 Luas Kandang No Jumlah (Orang) Persentase (%) (Meter) 1 0 – 199 4 13,33 2 200 – 399 11 36,67 3 400 – 599 9 30 4 600 – 799 3 10 5 > 800 3 10 Jumlah 30 100 Kepemilikan lahan dan kandang pada responden peternak ayam broiler diKecamatan Dramaga hanya terdiri dari dua kepemilikan yaitu kepemilikan pribadidan sewa kandang. Sewa kandang dilakukan karena peternak tidak memiliki lahanyang strategis untuk mendirikan kandang dan tidak adanya lahan untukmendirikan kandang ayam sehingga alternatif yang dipilih adalah denganmenyewa kandang dengan sistem per periode maupun penyewaan dalam satu 50
  • 68. tahun. Sedangkan untuk kandang kepemilikan pribadi ada yang mendirikandengan usaha sendiri ada juga yang berasal dari keluarga atau usaha turunmenurun. Berikut adalah Tabel 14 tentang sebaran responden berdasarkankepemilikan lahan.Tabel 14. Jumlah Responden Berdasarkan Kepemilikan Lahan Pada Peternak Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 Jumlah Persentase No Kepemilikan Lahan (M2) (Orang) (%) 1 Pribadi 26 86,67 2 Sewa 4 13,33 Jumlah 30 1005.3.5. Skala Usaha Ayam Broiler Skala usaha pada umumnya berhubungan positif terhadap luas kandangyang didirikan semakin besar luas kandang maka akan semakin besar pula skalausaha ayam yang diproduksi. Skala usaha yang paling banyak dijalankan padaresponden peternak ayam broiler pada skala usaha 2.000-3.999 DOC sebesar33,33 persen, skala 4.000-5.999 DOC sebesar 30 persen, dan pada skala usahadiatas 8.000 DOC sebesar 20 persen. Untuk lebih lengkap dapat dilihat padaGambar 8. 35,00 33,33 30,00 30,00 Persentase (%) 25,00 20,00 20,00 15,00 10,00 10,00 6,67 5,00 0,00 0 - 1999 2000 - 4000 - 6000 - > 8000 3999 5999 7999 Skala Usaha Ayam (Ekor)Gambar 8. Skala Usaha Pada Responden Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga Tahun 2011 51
  • 69. 5.4. Proses Produksi Ayam Broiler di Kecamatan Dramaga5.4.1. Pra Produksi Tahapan pra produksi perlu dilakukan perlu dilakukan oleh setiap peternakayam broiler. Kegiatan yang dilakukan pra produksi adalah persiapan kandangdan persiapan peralatan. Persiapan kandang sangat perlu dilakukan dalammenjaga kondisi kandang tetap steril dari hama dan penyakit. Peternak ayambroiler tersebut memberikan perlakuan yang hampir sama terhadap persiapankandang. Kandang sebelum digunakan untuk proses produksi maka perludiperhatikan kelayakannya apakah ada yang perlu direnovasi atau tidak.Pengecekan ini dilakukan agar kandang pada saat digunakan tidak mengganggukegiatan produksi seperti kandang kemasukan air hujan, penyangganya rusak, danlainnya. Setelah kondisi kandang diperbaiki maka dilakukan penyeterilan kandangdengan menggunakan desinfektan untuk menekan atau memutus siklus bibitpenyakit. Obat yang digunakan untuk memutus siklus penyakit adalah denganmenyemprotkan formalin keseluruh kandang hingga merata kemudian setelahmemberikan formalin ditambahkan obat septocid untuk memutuskan bakteri,jamur dan virus seperti penyakit coli, crd, coryza, aspergilosis, salmonela, dankuman penyakit lainya. Persiapan peralatan juga perlu dilakukan agar tidak ada bibit penyakit,bakteri, dan virus yang tertinggal di peralatan tersebut. Penyeterilan peralatanyang dilakukan pada tempat makan dan minum ayam. Selanjutnyamempersiapkan dinding pembatas, hal tersebut dilakukan agar anak ayam dapatterkontrol dalam hal mencapatkan ransum dan air, selain itu juga mencengahterbuangnya energi yang digunakan ayam untuk berlari-lari dan dinding pembatasberguna sebagai penghantar panas bagi anak ayam sehingga anak ayammendapatkan suhu yang optimal pada malam hari. Persiapan kandang selanjutnyaadalah menyiapkan tirai kandang pada kandang sistem terbuka yang ditutup rapatpada umur seminggu dan setelah umur dua minggu tirai dibuka sepertiga bagianatau berdasarkan kondisi iklim serta kebutuhan dari ayam broiler tersebut. Setelahsemua diselesaikan maka kandang diistirahatkan selama 14 hari terhitung mulaidari kandang diberikan desinfektan. 52
  • 70. 5.4.2. Produksi Ayam Broiler Manajemen pemeliharaan mencakup pemeriksaan kuantitas dan kualitasDOC dan proses pemeliharaannya, pemberian sekam, pemberian pakan dan airminum, pemberian pemanas, proses vaksinasi, pengobatan dan vitamin,pengawasan tingkat mortalitas, kontrol kandang, dan masa panen.1. DOC (Day Old Chick) Pada hari pertama kedatangan DOC peternak memeriksa kembali kondisikuantitas dan kualitasnya apakah sesuai dengan pesanan atau tidak. Perusahaanyang menjadi supplier DOC adalah PT Malindo Feedmilk, PT Asia Afrika, PTKMS, PT Wonokoyo Jaya, PT Multi Breeder Adirama, dan PT Peternakan AyamManggis. Penentuan perusahaan yang menjadi supplier adalah tergantungkesukaan peternak. Kualitas DOC berpengaruh terhadap produktivitas ayam.Jumlah DOC yang dibutuhkan oleh peternak tergantung dengan luas kandangmasing-masing sehingga jumlahnya beraneka ragam. Jumlah DOC berpengaruhterhadap jumlah produksi. Semakin banyak jumlah produksi pada umumnya akanmeningkatkan jumlah produksi ayam broiler. Produksi yang menjadi kajianpenelitian adalah DOC masuk pada bulan Februari, Maret, dan April dan Mei.Range DOC yang digunakan para peternak ayam yang menjadi responden adalah1.500 – 9.000 DOC.2. Pemberian Sekam Pemberian sekam ini dilakukan pada saat DOC sehari dua hari atau lebihsebelum masuk kandang. Pemberian sekam dilakukan dengan tujuan agar DOClebih terjaga suhu badannya pada saat malam hari. Selain itu, juga agar menjagakaki DOC tidak masuk kekolong kandang yang dapat membuat kaki DOCmenjadi cacat. Kondisi sekam juga harus tetap dijaga kebersihannya, sekam yangdigunakan tidak boleh sampai basah, jika sekam terlihat basah maka diperlukanpenambalan dengan sekam yang kering. Hal itu menjaga agar kandang tetapkering dan tidak lembab. Ketinggian sekam yang digunakan berkisar 5-10 cm darilantai dan kebutuhannya disesuaikan dengan luas kandang biasanyaperbandingannya 30 karung dapat digunakan 1.000 DOC. Kebutuhan sekam initidak selamanya dipakai, namun sampai umur DOC 15-20 hari. 53
  • 71. 3. Pakan dan Minum Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari, namunpada prakteknya pakan dan minum harus selalu dikontrol setiap jamnya. Haltersebut dilakukan agar tidak ada tempat pakan dan minum yang kosong yangdapat mengakibatkan ayam menjadi tidak makan dan tidak minum. Pemberianpakan dan minum sangat penting dilakukan. Karena hal tersebut mempengaruhitingkat pertumbuhan ayam. Pakan yang digunakan ada tiga tahapan, yaitu padamasih kecil digunakan pakan starter yaitu 510, growing menggunakan pakan 511,dan pada saat finishing menggunakan pakan 512. Perusahaan yang menyupplaipakan adalah PT Multi Breeder Adirama dan PT Charoen Phokphand.4. Pemanas Pemanas digunakan ketika DOC masuk kekandang, tujuan dari pemanasagar kondisi tubuhnya tetap terjaga pada malam hari. Peternak menggunakanpemanas yang berasal dari tabung gas, batu bara, kayu bakar dan tong sebagaitempat pembakarannya. Sedangkan yang menggunakan gas alat pemanasnyamenggunakan blower. Pemanas dengan menggunakan kayu bakar sangat banyakdigunakan, dikarenakan kayu bakar lebih murah dibandingkan dengan gas, selainitu juga kayu bakar lebih bagus dibandingkan dengan gas. Untuk memenuhikebutuhan bahan baku pemanasnya, peternak mencari pasokan kayu, batu bara,dan gas yang dianggap lebih terjangkau.5. Proses Vaksinasi, Pengobatan, dan Vitamin Vaksin digunakan sebagai alat yang digunakan sebagai anti/kekebalantubuh agar tidak mudah terserang penyakit baik itu dari virus maupun bakteri.Tipe vaksin yang digunakan berupa vaksin virus hidup. Program vaksin yangditerapkan pada peternak antara lain pada selama seminggu pertama setelah DOCmasuk kandang. Vaksin yang digunakan adalah gumboro 1000 DS, ND IB 1000DS, dan ND Lasota. Vaksin tersebut diberikan dengan sistem pencampurandengan air minum, tetes mata, dan suntikan. Pemberian vitamin dilakukan pada tiga hari pertama agar ayam tidak streskarena perjalanan dan diberikan sesudah ayam divaksin agar tidak stress pascavaksin. Vitamin yang digunakan oleh para peternak ayam tersebut adalah BloomGrow dan Masabro. Bloom grow digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan, 54
  • 72. mengatasi stress. Sedangkan masabro digunakan mencegah penyakit karenakekurangan vitamin, meningkatkan pertumbuhan, menambah nafsu makan.Penyakit yang sering muncul yaitu penyakit Colibasillus, Coccidiosis, CronicRespiratory Disease, Newcastle Disease, Runting Stunting Disease (kerdil) baikbersifat individu maupun global. Jenis obat yang digunakan oleh para peternakadalah Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, Colimas dan sebagainya.Penggunaan obat tersebut tergantung dengan kebutuhan, dilakukan hanya padasaat terserang penyakit agar penyakit yang dihadapi tidak menjadi lebih akut.6. Pengawasan Tingkat Mortalitas Tingkat kematian yang terjadi pada responden peternak ayam sangatbervariasi setiap perioden maupun setiap peternak. Perbedaan tingkat kematianyang terjadi pada setiap peternak berbeda beda, dan penanganan yang berbedajuga, sehingga jika penanganan yang tidak tepat akan meningkatkan kematianyang tinggi. Tingkat kematian yang wajar adalah sebesar 5-6 persen. Jikakematian sudah melewati standar tersebut maka perlu dilakukan penanganan yanglebih fokus. Tingkat kematian yang dialami ada yang berdasarkan kelalaianpekerja dalam menjaga kondisi baik itu minum dan pakan atau adanyatercampurnya antara ayam yang berpenyakit dengan tidak, ayam ada yang terjepit,dan lain sebagainya.7. Kontrol Kandang Kontrol kandang dilakukan oleh anak kandang dan kepala kandang padasetiap harinya. Sehingga dapat dilihat bagaimana tingkat perkembangan ayamtersebut dan dapat membuat keputusan yang menguntungkan. Kontrol dilakukanseperti melihat apakah tempat pakan dan minum masih terisi atau tidak.Mengontrol kondisi kesehatan ayam, dengan memisahkan anak ayam yangterkena penyakit ke tempat lain. Tindakan tersebut dilakukan agar penyakit tidakberpindah/tertular pada ayam yang lainnya. Selain itu juga memisahkan antaraayam yang kerdil ke tempat lain agar tidak menambah biaya pakan. 55
  • 73. 8. Panen Panen dilakukan pada saat bobot ayam sudah dapat dianggap cukup untukdipanen. Keputusan panen terletak pada masing-masing peternak, jika peternakmelihat tidak ada lagi perkembangan bobot ayam maka panen dipercepat. Haltersebut dilakukan agar mengurangi penggunaan pakan. Umur ayam yang siapuntuk dipanen berkisar dari 28-33 hari. Pada saat panen dilakukan peternakmelibatkan warga setempat untuk membantu dalam proses pemanenan. Ayamyang siap untuk dipanen ditangkap atau dijual kepada broker atau pedagangpengumpul dengan harga sesuai dengan perjanjian. 56
  • 74. VI. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI6.1. Analisis Faktor-Faktor Risiko Produksi Pada penelitian ini dilakukan pada peternak ayam broiler yang bekerjasama dengan pihak perusahaan dalam proses produksi sampai pada proses panen.Peternak tersebut tersebar di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Bogor.Walaupun peternak menjalin kerja sama namun pada kenyataannya usaha yangdijalankan oleh peternak ayam tetap mengalami risiko produksi. Adanya risikoproduksi ini dapat dilihat pada adanya fluktuasi produktivitas pada setiap peternakberbeda-beda satu sama lainnya. Risiko produksi ayam broiler pada penelitian inidihitung dengan menggunakan model ARCH-GARCH. Variabel yang digunakandalam analisis ARCH-GARCH yaitu jumlah DOC, pakan, Protect Enro,Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, pemanas dan tenaga kerja. Sebelum dianalisis dengan metode ARCH-GARCH terlebih dahuludilakukan analisis regresi. Analisis regresi dilakukan dengan tujuan agar modelyang dihasilkan tidak melanggar persyaratan seperti variabel independent terdapatmultikolinieritas. Uji multikolinearitas terlebih dahulu dilakukan agar variabelyang digunakan tidak saling mempengaruhi satu sama lainnya. Untuk melihatmultikolinear ini dilihat pada nilai Variance Inflation Factor (VIF) > 10. Jikaterjadi pelanggaran multikolinear maka dilakukan penggabungan ataupenghilangan variabel sampai tidak terdapat multikolinearitas. Setelah dilakukanuji variabel maka dilakukan uji lainnya untuk melihat persamaan yang dihasilkanmengandung heteroskedistisitas. Untuk melihat ada atau tidaknyaheteroskedistisitas dilakukan dengan menggunakan uji Heteroskedasticity Test:Breusch-Pagan-Godfrey. Hasil pengujian antar variabel menyatakan bahwa model yang digunakantidak terdapat multikolinieritas pada setiap variabel. Hal itu dapat dilhat bahwanilai VIF dari delapan variabel tidak ada yang lebih dari 10. Sehingga modeldikatakan baik dan boleh dilakukan analisis berikutnya yaitu melihat apakahmodel terdapat heteroskedistisitas, jika terdapat unsur tersebut maka penelitian inidapat dilakukan dengan menggunakan model ARCH-GARCH. Untuk lebih jelaslihat pada Tabel 15. 57
  • 75. Tabel 15. Pengujian Mulitikolinieritas Terhadap Antar Variabel Predictor Coefisien SE Coef T P VIFConstant -2,721 0,152 -17,890 0,000DOC (X1) -0,572 0,045 -12,580 0,000 5,4Pakan (X2) 0,332 0,041 8,090 0,000 2,5Protek Enro(X3) 0,002 0,013 0,150 0,880 1,7Neocamp (X4) 0,014 0,013 1,100 0,279 1,6Doxerin Plus (X5) -0,026 0,012 -2,160 0,036 1,7Vaksin (X6) -0,025 0,027 -0,930 0,356 2,8Pemanas (X7) 3,257 0,113 28,760 0,000 6,8Tenaga Kerja (X8) -0,086 0,009 -8,740 0,000 1,2 Berdasarkan Tabel 15 menunjukkan bahwa semua variabel tidakmengandung multikolinier, hal tersebut dapat dilihat bahwa nilai dari VIF. Semuavariabel memiliki nilai VIF kurang dari 10, sehingga model tersebut terlepas darimultikolinearitas. Setelah variabel diketahui tidak mengandung multikoliniermaka dilakukan pengujian persamaan apakah terdapat heteroskedistisitas denganatau tidak. Untuk mengetahui tersebut menggunakan uji Heteroskedasticity Test:Breusch-Pagan-Godfrey. Untuk melihat apakah terdapat heteroskedistisitas dapatdilihat pada Tabel 16.Tabel 16. Ringkasan Hasil Uji Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey.Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-GodfreyF-statistic 5.220 Prob. F(8,51) 0.000Obs*R-squared 27.012 Prob. Chi-Square(8) 0.000Scaled explained SS 17.960 Prob. Chi-Square(8) 0.021 Pada Tabel 16 menunjukkan bahwa nilai probability dari Obs*R-squaredmemiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan taraf nyata lima persen. dengandemikian dapat diambil kesimpulan bahwa residual diatas mengandung efekARCH-GARCH yang berarti juga bahwa residual mengandung heteroskedistisitasdan model layak untuk dianalisis menggunakan metode ARCH-GARCH. Penelitian ini menggunakan model fungsi produksi Just and Pope dimanamodel tersebut adalah melihat pengaruh faktor-faktor produksi terhadapproduktivitas ayam broiler. Namun model ini juga tidak mengabaikan risiko yangditimbulkan dalam usaha ayam broiler yang dapat mempengaruhi risiko produksitersebut. Fungsi produksi dari model Just and Pope dilakukan dalam bentuk fungsilogaritma natural Cobb-Douglass. Metode yang menunjukkan kedua-duanya 58
  • 76. sekaligus adalah ARCH-GARCH. Model ARCH-GARCH (1,1) dapatmenjelaskan kedua persamaan produksi rata-rata dan variance yang dihadapi olehpara peternak ayam broiler yang ada di Kabupaten Bogor. Hasil pendugaan modelGARCH terhadap persamaan fungsi produksi rata-rata dan variance produksipada komoditi ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 17.Tabel 17. Hasil Pendugaan Persamaan Fungsi Produksi dan Variance Produksi Ayam Broiler Pada Kabupaten Bogor Tahun 2011 Produksi Rata-Rata Variable Coefficient Std. Error z-Statistic Prob.Jumlah DOC (X1) -0.576 0.051 -11.292 0.000Pakan (X2) 0.328 0.051 6.353 0.000Protect Enro (X3) 0.001 0.018 0.094 0.924Neocamp (X4) 0.014 0.017 0.861 0.388Doxerin Plus (X5) -0.023 0.014 -1.619 0.105Vaksin (X6) -0.029 0.037 -0.790 0.429Pemanas (X7) 3.267 0.167 19.452 0.000Tenaga KerjaX8 -0.089 0.012 -7.306 0.000 Konstanta -2.723 0.253 -10.743 0.000 Variance Equation Konstanta 0.001 0.011 0.127 0.898 2Error kuadrat (ε t-1) 0.059 0.304 0.195 0.844Variance error (ζ2t-1) 0.545 1.069 0.510 0.610Jumlah DOC (X1) 0.000 0.002 0.123 0.901Pakan (X2) -0.000 0.002 -0.062 0.950Protect Enro (X3) 4.41E-05 0.000 0.052 0.958Neocamp (X4) -3.53E-05 0.000 -0.040 0.968Doxerin Plus (X5) -4.97E-05 0.000 -0.062 0.950Vaksin (X6) -0.000 0.002 -0.059 0.952Pemanas (X7) -0.000 0.008 -0.036 0.970Tenaga KerjaX8 0.000 0.000 1.914 0.055R-squared 0.991 Durbin-Watson stat 1.960Adjusted R-squared 0.987F-statistic 241.426Prob(F-statistic) 0.000 Hasil Tabel 17 menunjukkan pendugaan persamaan produksi rata-rata danvariance menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 99 persen.Nilai koefisien determinasi (R2) tersebut memiliki arti bahwa sebesar 99 persendari keragaman atau variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama olehmodel, sedangkan sisanya sebesar satu persen dijelaskan oleh komponen erroratau diluar model. Tingginya nilai koefisien determinasi tersebut dipengaruhi oleh 59
  • 77. pola data yang diperoleh tidak beraturan. Pola data yang diperoleh dapat dilihatpada Lampiran 5. Data tersebut memiliki tingkat variasi yang tinggi terhadapsetiap peternak, sehingga dapat menimbulkan nilai koefisien determinasi yangtinggi. Hasil tersebut sudah dapat dinyatakan bahwa faktor-faktor produksi dapatmempengaruhi produktivitas dan mempengaruhi risiko produksi pada setiapperiodenya. Risiko produksi musim sebelumnya ditunjukkan oleh error kuadrat(ε2t-1) dan variance error (ζ2t-1). Risiko produksi tertentu dipengaruhi oleh padaproduksi sebelumnya. Dari tabel 17 dapat dilihat bahwa tingginya risiko produksipada periode sekarang dipengaruhi pada risiko produksi pada sebelumnya, haltersebut dapat dilihat bahwa nilai dari error dan variance adalah positif dan di atastaraf nyata lima persen. Tabel 17 juga menjelaskan bahwa hasil pendugaan produksi rata-rataterhadap produktivitas dapat dijelaskan oleh faktor-faktor produksi yangdigunakan secara bersama-sama. Selain itu juga faktor-faktor tersebut secaranyata dapat menjelaskan variance produksi ayam broiler. Hal tersebut dapatdilihat bahwa nilai F-hitung lebih besar dibandingkan dengan F-tabel yaitusebesar 241,4 > 2,18 atau dapat juga dilihat dari nilai P-value < taraf nyata, P-value = 0,000 lebih kecil dibandingkan dengan taraf nyata lima persen. Untukmelihat pendistribusian data dapat dilihat dari nilai Durbin-Watson stat, nilai yangdihasilkan adalah 1,96. Nilai tersebut dapat menjelaskan bahwa data tersebutterdistribusi secara normal karena nilainya tidak mendekati nol.6.1.1. Analisis Faktor-Faktor Pada Fungsi Produksi Rata-Rata Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi adalahjumlah DOC, pakan, obat-obatan seperti Protect Enro, Neocamp, dan DoxerinPlus, vaksin, pemanas, serta pemakaian tenaga kerja. Pada hasil pendugaanproduksi rata-rata menyatakan bahwa faktor-faktor produksi tersebut secarabersama-sama signifikan terhadap produktivitas ayam broiler. Hal tersebut dapatdilihat pada nilai probability yang kurang dari lima persen dan nilai F-hitung lebihbesar dibandingkan F-tabel. Berikut adalah Gambar 18 yang menjelaskan tentanghasil pendugaan produksi rata-rata ayam broiler. 60
  • 78. Tabel 18. Hasil Pendugaan Produksi Rata-Rata Terhadap Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam di Kabupaten Bogor Tahun 2011 Produksi Rata-Rata Variable Coefficient Std. Error z-Statistic Prob.Jumlah DOC (X1) -0.576 0.051 -11.292 0.000Pakan (X2) 0.328 0.051 6.353 0.000Protect Enro (X3) 0.001 0.018 0.094 0.924Neocamp (X4) 0.014 0.017 0.861 0.388Doxerin Plus (X5) -0.023 0.014 -1.619 0.105Vaksin (X6) -0.029 0.037 -0.790 0.429Pemanas (X7) 3.267 0.167 19.452 0.000Tenaga KerjaX8 -0.089 0.012 -7.306 0.000 Konstanta -2.723 0.253 -10.743 0.0001. Jumlah DOC (X1) Hasil pendugaan parameter pada fungsi persamaan produksi rata-ratamenunjukkan bahwa variabel jumlah DOC memiliki taraf nyata dibawah satupersen. Hal ini menunjukkan bahwa variabel jumlah DOC berpengaruh signifikanterhadap hasil produktivitas ayam broiler. sedangkan jika dilihat dari nilaikoefisien parameter memiliki nilai negatif yaitu sebesar -0,576. Nilai tersebutmenunjukkan bahwa jika DOC ditambahkan sebesar satu persen maka akanmenurunkan hasil produktivitas ayam broiler sebesar 0,576 persen (caterisparibus). Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan hipotesa sebelumnya yangmenyatakan bahwa penambahan satu persen jumlah DOC akan meningkatkanproduktivitas ayam broiler. Variabel DOC memiliki nilai negatif karena para peternak ayam broiler dilapangan pada umumnya memiliki perbandingan yang tidak sesuai antara luaskandang dengan jumlah DOC. Pada kondisi normal seharusnya 1 m2 kandang diisi dengan 8 ekor, sedangkan peternak ayam tersebut mengisi lebih dari kondisinormalnya, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan ayam broiler tersebut.Adanya indikator ini dapat menghambat pertumbuhan ayam, terhambatnyapertumbuhan ayam dapat dilihat pada tingginya tingkat FCR sehingga konversipakan dengan bobot ayam tidak sesuai, semakin kecil FCR maka produktivitasayam juga akan semakin tinggi. Untuk lebih jelas variasi penggunaan DOCterhadap luas kandang yang ada dapat dilihat pada Lampiran 5. Selainpertumbuhan terhambat juga akan mempengaruhi mempercepat penyebaran 61
  • 79. penyakit karena tidak adanya ruang kosong bagi ayam untuk bergerak, sehinggajika tidak diperhatikan oleh peternak maka akan menimbulkan kematian padaayam. Penyebab terhambatnya pertumbuhan ayam broiler juga salah satunyaadalah faktor kondisi kandang yang terkadang bocor atau kurang baik sehinggajika ada perubahan cuaca akan mengganggu kondisi suhu ruangan yang akhirnyaberdampak pada penghambatan pertumbuhan ayam broiler. Berdasarkan kurvaproduksi, penggunaan DOC berada pada daerah tiga. Hal tersebut ditunjukkanbahwa jika dilakukan penambahan input DOC, maka akan menurunkanproduktivitas ayam broiler, sehingga tidak perlu melakukan penambahankapasitas.2. Pakan (X2) Variabel pakan memiliki nilai P-value sebesar 0,000. Nilai tersebutmenunjukkan bahwa variabel pakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadapproduktivitas ayam. Hal ini sesuai dengan penelitian Merina yang menyatakanbahwa pakan termasuk variabel yang memiliki pengaruh yang nyata terhadapproduktivitas. Pakan merupakan variabel penting dalam meningkatkanproduktivitas ayam broiler, hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien variabel pakanmemiliki nilai positif yaitu sebesar 0,3288. Arti dari nilai tersebut adalah jikapeternak memberikan tambahan pakan sebesar satu persen maka akanmeningkatkan produktivitas sebesar 0,3288 persen (cateris paribus). Pernyataan tersebut sesuai dengan hipotesa sebelumnya yang menyatakanbahwa dengan penambahan pakan satu persen maka akan meningkatkanproduktivitas ayam broiler tersebut. Berdasarkan kurva produksi, variabel pakanberada pada daerah dua. Hal tersebut ditunjukkan bahwa jika dilakukanpenambahan variabel pakan maka akan meningkatkan produktivitas ayam broilertersebut. Dengan demikian perlu dilakukan penambahan jumlah pakan untukmeningkatkan produktivitas ayam. Pemberian pakan agar tepat guna dilakukansesuai dengan umur DOC, yaitu pada saat DOC berumur 0-7 hari maka digunakanpakan starter, usia 8-15 hari digunakan pakan dewasa, sedangkan pada umur 16-panen diberikan pakan finisher. Hal itu dilakukan agar sesuai dengan komposisiprotein dan konsentrat dalam pakan sehingga pertumbuhan dapat berkembang 62
  • 80. dengan maksimal. Penggunaan pakan setiap peternaksangat bervariasi hal tersebutdapat dilihat pada Lampiran 5.3. Protect Enro (X3) Variabel Protect Enro adalah termasuk ke dalam jenis obat yangdigunakan dalam proses produksi berlangsung. Berdasarkan hasil pendugaanparameter menyatakan bahwa Protect Enro ini tidak berpengaruh signifikanterhadap produktivitas, hal tersebut dapat dilihat dari nilai P-value sebesar 0,924.Nilai ini diatas taraf nyata lima persen. Sedangkan berdasarkan nilai koefisienvariabel menunjukkan bernilai positif yaitu sebesar 0,0017. Nilai tersebutmemiliki arti adalah jika dilakukan penambahan satu persen Protect Enro makaakan meningkatkan produktivitas sebesar 0,0017 persen (cateris paribus).Pernyataan tersebut sesuai dengan hipotesa sebelumnya yang menyatakan bahwakoefisien lebih besar dari nol dan menyatakan bahwa penambahan satu persenvariabel Protect Enro akan meningkatkan produktivitas ayam broiler sebesarkoefisiennya. Penambahan Protect Enro tidak akan meningkatkan produktivitas ayambroiler tersebut, karenakan variabel ini bukan termasuk variabel yang signifikanterhadap produktivitas. Protect Enro tidak berpengaruh signifikan dikarenakanvariabel tersebut adalah jenis obat yang digunakan sebagai pengendalian hamadan penyakit, sehingga tidak terlalu mempengaruhi nilai dari produktivitas ayambroiler. Jika ayam sudah terkena penyakit maka pertumbuhan ayam akan lambatdibandingkan dengan ayam yang sehat sehingga Protect Enro ini tidak dapatmeningkatkan produktivitas, namun untuk mengobati ayam yang sudah terserangpenyakit. Penggunaan jenis obat ini sangat bervariasi, hal tersebut dapat dilihatpada Lampiran 5. Berdasarkan kurva produksi, variabel Protect Enro berada pada daearahdua. Hal tersebut ditunjukkan pada nilai coefisien yang dapat dilihat pada Tabel18 bernilai positif. Dengan demikian, jika dilakukan penambahan variabel ProtectEnro maka akan meningkatkan produktivitas, kenaikan ini disebabkan karena jikakondisi ayam sehat maka akan meningkatkan pertumbuhan ayam tersebut, olehkarena itu variabel ini masih berada pada daerah dua. 63
  • 81. 4. Neocamp (X4) Variabel Neocamp juga merupakan salah satu variabel jenis obat yangdigunakan oleh peternak ayam broiler dalam menjalankan budidaya ayam broiler.berdasarkan nilai P-value sebesar 0,3889. Variabel tersebut berada dibawah tarafnyata 40 persen, sehingga tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadapproduktivitas ayam broiler pada taraf nyata 20 persen. karena nilai P-Value lebihbesar dari pada taraf nyata maka variabel tersebut tidak berpengaruh signifikanterhadap produktivitas. Sedangkan nilai koefisien dari variabel tersebut sebesar0,0149. Nilai tersebut memiliki arti bahwa setiap ditambahkan satu persenvariabel Neocamp maka akan meningkatkan produktivitas ayam broiler sebesar0,0149 persen (cateris paribus). Pernyataan tersebut sesuai dengan hipotesa sebelumnya yang menyatakanbahwa koefisien variabel lebih besar dari nol dan jika variabel tersebutditambahkan satu persen maka akan meningkatkan produktivitas ayam broilersebesar koefisien tersebut. Variabel Neocamp juga tidak terlalu memilikipengaruh yang signifikan terhadap produktivitas ayam broiler, karena fungsi darivariabel tersebut adalah untuk mengendalikan hama dan penyakit sehingga ayambroiler dapat terkendali pada saat terserang penyakit. Penggunaan dosis padavariabel ini sangat bervariasi setiap peternaknya. Hal tersebut dapat dilihat padaLampiran 5. Penggunaan yang tidak tepat dapat mengurangi dari fungsi jenisvariabel tersebut. Oleh karena itu variabel ini tidak tersebut signifikan. Berdasarkan kurva produksi, variabel Neocamp berada ada daerah kedua.Hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 18 yang memperlihatkan bahwa variabelNeocamp memiliki nilai positif, sehingga jika variabel Neocamp ditambahkan,maka variabel tersebut akan meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu, variabelini perlu diberikan dosis sesuai takaran agar dapat meningkatkan produktivitasayam broiler.5. Doxerin Plus (X5) Variabel Doxerin Plus adalah jenis variabel yang berfungsi sebagai obat-obatan yang digunakan para peternak pada saat proses produksi berlangsungsetiap periodenya. Berdasarkan nilai P-value, variabel ini memiliki nilai sebesar0,1053, atau berada pada taraf nyata 15 persen. Pada taraf tersebut masih memiliki 64
  • 82. tingkat pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas ayam broiler. Sedangkanjika dilihat dari nilai koefisien parameter. Doxerin Plus memiliki nilai negatifyaitu sebesar -0,023848. Nilai tersebut memiliki arti bahwa setiap dilakukanpenambahan variabel Doxerin Plus sebesar satu persen maka produktivitas ayambroiler akan mengalami penurun sebesar 0,023484 persen (cateris paribus). Penyataan tersebut tidak sesuai dengan hipotesa sebelumnya yangmenyatakan bahwa koefisien variabel besar dari nol. Sehingga denganpenambahan satu persen variabel tidak menambah melainkan mengurangiproduktivitas ayam. Variabel ini adalah variabel yang memiliki pengaruhsignifikan terhadap produktivitas namun bukan meningkatkan melainkanmenurunkan produktivitas. Dengan demikian variabel ini berdasarkan kurvaproduksi berada pada daerah tiga. Penurunan produktivitas tersebut dikarenakan bahwa takaran atau ukuranyang digunakan oleh peternak plasma tidak tepat. Peternak menggunakan takarantidak berdasarkan skala usaha yang mereka ternakkan, sehingga akan berdampakpada penurunan produktivitas. Misalnya pada skala usaha 2.000 ekor ayam,penggunaan variabel tersebut sama dengan skala 5.000 ekor.6. Vaksin (X6) Vaksin termasuk kedalam variabel yang diduga sebagai faktor produksiyang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas ayam broiler. Namun berdasarkanhasil pendugaan parameter, vaksin tidak berpengaruh signifikan terhadapproduktivitas ayam broiler. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai P-value sebesar0,4294. Nilai tersebut terlalu besar dan diatas taraf nyata 20 persen. Sehinggavariabel tersebut tidak termasuk variabel yang berpengaruh terhadapproduktivitas. Berdasarkan nilai koefisien variabel vaksin, variabel tersebut jugatermasuk kepada variabel yang dapat menurunkan produktivitas, hal tersebutdapat dilihat nilai koefisiennya bertanda negatif. Nilai yang dihasilkan olehparameter vaksin sebesar -0,029435. Nilai tersebut memiliki arti jika variabel vaksin dinaikkan/ditambahkansebesar satu persen maka produktivitas akan turun sebesar 0,029435 persen(cateris paribus). Dengan demikian berdasarkan kurva produksi, variabel ii beradapada daerah ketiga dan pernyataan tersebut tidak sesuai dengan hipotesa 65
  • 83. sebelumnya yang menyatakan bahwa koefisien variabel besar dari nol. Sehinggajika ditambahkan satu persen variabel vaksin tidak meningkatkan melainkanmengurangi produktivitas ayam broiler. vaksin tidak signifikan terhadapproduktivitas diduga karena beberapa faktor, dalam pemberian vaksin perlubeberapa hal yang harus diperhatikan seperti jenis vaksin yang digunakan,takaran/dosis vaksin yang digunakan, jadwal vaksinasi, waktu pemberian vaksin,serta penyimpanan vaksin. Kesemua tersebut dapat mempengaruhi tingkatkeberhasilan fungsi dari vaksin. Selain itu juga variabel ini hanya digunakansebagai antibodi/kekebalan tubuh agara ayam tidak mudah terserang penyakitsehingga tidak merangsang meningkatkan produktivitas.7. Pemanas (X7) Pemanas adalah variabel yang tidak pernah lepas dari budidaya ayambroiler. Variabel tersebut sangat digunakan pada awal produksi sampai pada umur15 hari. Pada hipotesis sebelumnya pemanas adalah variabel yang memilikipengaruh yang signifikan terhadap produktivitas. Hal tersebut sesuai dengan hasilpendugaan parameter produksi rata-rata. Nilai P-value variabel tersebut adalahdibawah satu persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemanas sangatberpengaruh nyata terhadap produktivitas. Sedangkan jika dilihat dari koefisienparameter pemanas menunjukkan nilai yang positif yaitu sebesar 3,267185. Nilaitersebut memiliki arti bahwa jika setiap peternak menaikkan atau menambahkanvariabel pemanas satu persen maka produktivitas akan meningkat sebesar3,267185 persen (cateris paribus). Berdasarkan kurva produksi, variabel pemanasberada pada daerah kedua. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 18 yangmenunjukkan bahwa semakin ditambah variabel tersebut maka produktivitasnyajuga akan semakin meningkat. Pemanas ini sangat penting pada awal produksi, karena jika menggunakanpemanas yang konsisten maka suhu ruangan akan terjaga dengan baik sehinggaayam tidak kedinginan dan akan tetap sehat. Jika variabel ini tidak dilakukansecara rutin pada awal periode maka suhu ruangan akan rendah sedangkan suhuyang dibutuhkan berkisar 32-340C maka akan berdampak pada pertumbuhan ayamakan terhambat karena daging yang seharusnya semakin menumpuk sekarang 66
  • 84. dialokasikan untuk menghangatkan tubuhnya dengan dilihat adanya tumbuh bulukasar pada tubuh ayam broiler.8. Tenaga Kerja (X8) Tenaga kerja salah satu variabel yang penting dalam semua bidang usaha,karena dengan adanya tenaga kerja maka semua kegiatan budidaya akan dapatterselesaikan dengan baik. Pada hipotesis sebelumnya tenaga kerja merupakanvariabel yang memiliki koefisien bertanda positif sehingga perpengaruh terhadappeningkatan produktivitas. Namun berdasarkan pendugaan parametermenunjukkan bahwa variabel tenaga kerja memiliki pengaruh signifikan denganmelihat probability kurang dari satu persen. Akan tetapi, jika dilihat dari nilaikoefisien variabel, variabel ini tidak sesuai dengan hipotesis sebelumnya karenakoefisien tersebut bertanda negatif. Dengan demikian, jika ditambahkan satupersen variabel tersebut maka bukan meningkatkan, melainkan mengurangiproduktivitas ayam broiler. Variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karenapada umumnya tenaga kerja yang dimiliki oleh peternak tersebut adalah wargasekitar yang tidak memiliki pekerjaan, sehingga tidak memiliki keterampilan sertapengetahuan terhadap ayam broiler. Sementara dalam budidaya ayam broilerdibutuhkan ketekunan serta pengetahuan dalam ayam broiler sehingga terjadimasalah pada ayam dapat segera ditangani dan tidak terlambat dalammenanganinya. Oleh karena itu, variabel tenaga kerja ini jika ditambahkan akanberdampak pada penurunan produktivitas.6.1.2. Analisis Faktor-Faktor pada Fungsi Variance Produksi Faktor-faktor produksi tidak hanya dapat mempengaruhi produktivitasayam broiler, melainkan juga dapat memberikan dampak terhadap munculnyaatau dapat mengurangi terjadinya risiko produksi terhadap produktivitas ayambroiler. Faktor-faktor produksi yang digunakan untuk melihat pengaruh varianceproduksi adalah jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus,vaksin, pemanas dan tenaga kerja. Semua variabel tersebut dianalisis faktor-faktorapa saja yang yang mempengaruhi variance produksi. faktor-faktor produksiyang dijadikan sebagai pengurang atau menimbulkan risiko produksi dapat dilihatpada Tabel 19. 67
  • 85. Tabel 19. Hasil Pendugaan Produksi Rata-Rata Terhadap Produktivitas Ayam Broiler Pada Peternakan Ayam di Kabupaten Bogor Tahun 2011 Variance Equation Variable Coefficient Std. Error z-Statistic Prob. Konstanta 0.001 0.011 0.127 0.898Error kuadrat (ε2t-1) 0.059 0.304 0.195 0.844 2Variance error (ζ t-1) 0.545 1.069 0.510 0.610Jumlah DOC (X1) 0.000 0.002 0.123 0.901Pakan (X2) -0.000 0.002 -0.062 0.950Protect Enro (X3) 4.41E-05 0.000 0.052 0.958Neocamp (X4) -3.53E-05 0.000 -0.040 0.968Doxerin Plus (X5) -4.97E-05 0.000 -0.062 0.950Vaksin (X6) -0.000 0.002 -0.059 0.952Pemanas (X7) -0.000 0.008 -0.036 0.970Tenaga KerjaX8 0.000 0.000 1.914 0.0551. Jumlah DOC (X1) Pada sebelumnya hipotesis sebelumnya jumlah DOC menyatakan bahwajika koefisien besar nol sehingga semakin positif maka variance yang ditimbulkanjuga akan semakin tinggi. Sedangkan berdasarkan hasil pendugaan parameterproduksi variance menyatakan bahwa variabel ini tidak berpengaruh signifikanterhadap risiko produktivitas yang dihasilkan. Hal tersebut dapat dilihat bahwanilai P-value yang dihasilkan sebesar 90 persen dan diatas taraf nyata 20 persen.sedangkan berdasarkan koefisien parameternya menunjukkan tanda positif. Hal iniberarti, semakin banyak jumlah DOC di pelihara maka risiko yang ditimbulkanakan semakin tinggi. Tingginya variasi disebabkan oleh tidak sesuainya luas kandang denganjumlah DOC, sehingga jika terus ditambah akan menyebabkan ayam akan matiatau mudah terserang penyakit dan menyebabkan semakin tingginya risikoproduksi usaha ayam broiler tersebut. Oleh karena itu variabel jumlah DOC inimerupakan variabel yang menimbulkan adanya risiko produksi. Untukmengurangi tingkat risiko maka jumlah DOC harus sesuai dengan luas kandang,pada kondisi normal 1 m2 kandang harusnya berkapasitas 5-8 ekor ayam. Selainitu juga yang menjadi faktor penduga mengapa tidak signifikan adalah karenapeternak plasma dalam pengambilan jenis DOC tidak satu perusahaan supplier. 68
  • 86. 2. Pakan (X2) Hipotesis sebelumnya menyatakan bahwa koefisien variabel pakanbertanda positif maka akan meningkatkan variasi dari hasil produktivitas ayambroiler. Berdasarkan hasil pendugaan parameter, variabel pakan memiliki nilai P-value sebesar 0,95 atau 95 persen lebih besar dari taraf nyata 20 persen. sehinggavariabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variance produksi ayambroiler. sedangkan berdasarkan koefisien variabel memperlihat tanda negatif, halini menunjukkan bahwa jika pakan digunakan semakin banyak, maka varianceproduksinya akan semakin menurun. Sehingga pakan merupakan salah satuvariabel yang menjadi pengurang risiko. Dengan semakin menambah pakan makabobot ayam akan semakin meningkat sehingga produktivitas ayam juga akansemakin meningkat. Ayam broiler pada umumnya harus diperhatikan kondisi pakannya. Untukmendapatkan hasil bobot ayam yang baik maka peternak harus terus memantaukeadaan pakan dikandang apakah masih tersedia atau tidak, jika pakan tidaksempat tidak tersedia selama satu jam maka kondisi ayam akan terhambatpertumbuhannya sehingga tidak mendapatkan hasil yang baik. Faktor pendugamengapa variabel ini tidak signifikan adalah dalam pemberian jenis pakan. Pakanayam ada tiga jenis yaitu pada umur 1-15 hari menggunakan jenis pakan starter,umur 16-25 menggunakan pakan growing, dan umur 26 sampai panenmenggunakan jenis pakan finishing. Sementara pada kondisi dilapangan peternakterkadang tidak mengikuti anjuran yang telah ditetapkan sehingga pakan tersebuttidak berpengaruh signifikan dalam mengurangi variance produksi.3. Protect Enro (X3) Pendugaan parameter variabel Protect Enro memiliki nilai P-value sebesar0,958 atau 95 persen lebih besar daripada taraf nyata 20 persen. Hal tersebutmenunjukkan bahwa variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap varianceproduksi yang dihasilkan. Sedangkan berdasarkan nilai koefisien variabelmemiliki tanda positif. Hal tersebut menandakan bahwa semakin banyak variabelini digunakan maka variance produksi yang diterima oleh peternak akan semakintinggi. Tingginya risiko yang dihasilkan dengan menggunakan variabel ini adalahkarena peternak pada umumnya tidak memperhatikan takaran dalam 69
  • 87. menggunakan Protect Enro. Ukuran yang digunakan oleh peternaknya adalahrata-rata menggunakan 0,5 liter untuk semua skala usaha ayam broiler. Untukmengurangi tingginya risiko yang dihasilkan dengan menggunakan variabel inisesuai takaran dan berdasarkan skala yang pada umumnya. Takaran normal untuk1gram/1liter air yang dicampur dengan air minum selama gejala terlihat padaayam broiler.4. Neocamp (X4) Neocamp adalah variabel yang berjenis obat yang dapat mengendalikanpenyakit yang berasal dari bakteri, pemakaiannya adalah 1gram/1liter air. Padahipotesis sebelumnya variabel ini menyatakan bahwa memiliki nilai koefisienvariabel bernilai positif, sehingga semakin banyak Neocamp digunakan makaakan meningkatkan variance produksi. Berdasarkan pendugaan parametervariance produksi, Neocamp ini memiliki nilai P-value sebesar 0,968 atau 96persen yang berada diatas taraf nyata 20 persen. Nilai tersebut menunjukkanbahwa variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap variance produksi.Sedangkan jika dilihat dari nilai koefisiennya, variabel ini memiliki nilai bertandanegatif, hal tersebut menyatakan bahwa dengan menambahkan variabel Neocampmaka akan menurunkan variance produksi. Sehingga variabel ini termasukkedalam variabel yang mengurangi variance produksi.5. Doxerin Plus (X5) Doxerin Plus termasuk salah satu jenis obat yang digunakan oleh parapeternak ayam broiler yang berfungsi sebagai mengobati crd complex, fowlcholera, snot/ coryza, dan penyakit pernafasan lainnya. Takaran yang digunakandalam menggunakannya adalah 1gram/2liter air. Variabel ini selalu digunakanpara peternak untuk menghindari terjangkitnya penyakit pada ayam mereka.Hipotesis sebelumnya variabel ini menyatakan bahwa koefisien variabel memilikinilai positif, sehingga jika dilakukan semakin banyak menggunakan Doxerin Plusmaka akan meningkatkan variance. Berdasarkan hasil pendugaan parameter bahwa variabel ini memiliki nilaiP-value sebesar 0,95 atau 95 persen yang berada diatas nilai taraf nyata 20 persen.Sehingga dapat diartikan bahwa variabel Doxerin Plus tidak berpengaruhsignifikan terhadap variance produksi. Hal ini berbanding lurus dengan nilai 70
  • 88. koefisien variabel yang bertanda negatif, tanda negatif tersebut menunjukkanbahwa semakin banyak variabel ini digunakan maka akan menurunkan varianceproduksi. Peternak plasma ayam broiler DUF rata-rata tidak menggunakantakaran/dosis yang tepat dalam penggunaan faktor produksi tersebut. Sehinggavariabel tersebut tidak dapat berpengaruh signifikan dalam mengurangi varianceproduksi. Jika para peternak menggunakan takaran yang sesuai sehinggapenggunaan tersebut bermanfaat yaitu dapat mengurangi variance.6. Vaksin (X6) Variabel vaksin merupakan salah satu faktor produksi yang diperlukandalam kekebalan tubuh sehingga ayam broiler tetap sehat, namun jikapemakaiannya tidak tepat maka akan tidak berdampak baik pada pertumbuhanayam broiler. pada penggunaan vaksin, para peternak sudah menerapkan takaranyang sesuai sehingga vaksin tepat guna dan tidak menimbulkan efek samping.Penggunaan vaksin bertujuan untuk menguatkan kekebalan tubuh ayam broileragar tidak mudah terserang penyakit. Dosis yang digunakan adalah 1 vial vaksinuntuk 1000 ekor ayam. Pada hipotesis sebelumnya, variabel ini memiliki koefisien variabel yangbernilai positif, sehingga jika pemakaian vaksin semakin banyak maka varianceproduksi yang dihasilkan akan semakin tinggi. Sedangkan berdasarkan hasilpendugaan parameter, variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap varianceproduksi. Hal ini dapat dilihat pada nilai P-value sebesar 0,9522 atau 95 persenyang berada diatas taraf nyata 20 persen, sehingga variabel tersebut tidakmemiliki pengaruh yang signifikan terhadap variance produksi. Berdasarkan kondisi lapangan dapat diduga yang menjadikan variabelvaksin tidak signifikan adalah faktor dalam waktu pemberian vaksi yang kurangtepat dan penyimpakan vaksin sehingga dapat mengurangi fungsi dari vaksin itusendiri. Berdasarkan nilai koefisien parameter menunjukkan bernilai negative, halitu berarti semakin besar penggunaan variabel tersebut maka akan menurunkanvariance produksi ayam broiler, sehingga tidak sesuai dengan hipotesissebelumnya. Nilai koefisien parameternya adalah sebesar -0,000132, sehinggavariabel tersebut termasuk kedalam variabel yang dapat mengurangi varianceproduksi. 71
  • 89. 7. Pemanas (X7) Pemanas adalah faktor produksi yang dapat meningkatkan produktivitasayam broiler. sehingga hipotesis awalnya jika semakin banyak penggunaanvariabel pemanas maka akan meningkatkan variance produksi, dan jika dilihatdari hasil pendugaan parameter variance produksi menunjukkan P-value bernilai0,9707 atau 97 persen. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan taraf nyata 20persen, yang berarti bahwa variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadapvariance produksi. Berdasarkan kondisi lapang, faktor penduga yangmenyebabkan variabel ini tidak signifikan adalah adanya perbedaan para peternakplasma dalam menggunakan alat pemanasnya, ada yang menggunakan batubara,kayu bakar, maupun gas. Sehingga mempengaruhi tingkat variasinya danmenyebabkan tidak berpengaruh nyata. Sedangkan berdasarkan nilai koefisien parameter bertanda negatif yaitusebesar -0,000306. Hal ini berarti, semakin banyak variabel pemanas dan sekamdigunakan maka akan semakin menurunkan variance produksi. Pernyataan initidak sesuai dengan hipotesis sebelumnya yang menyatakan jika penggunaanvariabel ini maka akan menambah variance produksi. Para peternak dalampenggunaan variabel ini telah sesuai dengan ukuran dan berdasarkan skalausahanya, sehingga tidak menimbulkan risiko melainkan menjadi pengurangvariance produksi ayam broiler.8. Tenaga Kerja (X8) Tenaga kerja adalah faktor yang pasti ada dalam setiap usaha. Tenagakerja yang digunakan dalam bidang peternakan ayam broiler ini berasal darimasyarakat disekitar peternakan ayam. Berdasarkan hasil pendugaan parameter,variabel ini menunjukkan hasil P-value sebesar 0,0555 atau sebesar 5,5 persen.Nilai tersebut diatas taraf nyata 20 persen sehingga berpengaruh signifikanterhadap variance produksi. Sedangkan berdasarkan nilai koefisien parametermenunjukkan nilai yang positif yaitu sebesar 0,000581. Hal itu berarti, jika tenagakerja ditambahkan penggunaannya maka akan dapat meningkat variance produksiayam broiler. Pernyataan tersebut sesuai dengan hipotesis sebelumnya.Penggunaan input tenaga kerja memiliki variance yang tinggi karena tenaga kerjayang di pekerjakan rata-rata tidak memiliki keahlian dibidang peternakan 72
  • 90. sehingga dalam mengurus ayam tidak disiplin. Selain itu juga adanya tenaga kerjayang tidak jujur dalam bidang usaha seperti terkadang ada pekerja yang menjualpakan secara diam-diam kepada orang lain, hal tersebut dapat merugikan peternakkarena pastinya pakan ayam akan berkurang. Oleh karena itu jika dilakukanpenambahan tenaga kerja tidak mengurangi variance produksi melainkanmeningkatkan variance. Sehingga variabel tenaga kerja adalah variabel yangtermasuk kedalam variabel yang menimbulkan variance produksi. Berdasarkan hasil pendugaan semua parameter baik itu yang produksi rata-rata maupun yang variance produksi, maka dapat dijelaskan bahwa pada produksirata-rata, variabel yang memiliki pengaruh nyata terhadap produktivitas yangdibawah satu persen adalah variabel jumlah DOC, pakan, pemanas, sertapenggunaan tenaga kerja. Sedangkan Doxerin Plus merupakan variabel yangsignifikan terhadap produktivitas pada taraf nyata dibawah 20 persen. variabellainnya seperti Protect Enro, Neocamp, vaksin merupakan variabel yang tidakberpengaruh signifikan terhadap produktivitas. Ketiga variabel tersebut memilikitaraf nyata sebesar dibawah 93 persen, dibawah 40 persen, dan dibawah 43persen. Untuk pendugaan parameter variance produksi dapat disimpulkan bahwadari delapan variabel, semuanya tidak berpengaruh signifikan terhadap varianceproduksi selain tenaga kerja. Ketujuh variabel tersebut memiliki probability diatas20 persen, sedangkan probability tenaga kerja sebesar dibawah 10 persen. Faktor-faktor produksi ada yang menjadi pengurang variance produksi ada juga yangmenimbulkan variance produksi. Faktor-faktor produksi yang dapat menimbulkanvariance adalah variabel jumlah DOC, Protect Enro, dan tenaga kerja. Sedangkanyang mengurangi variance produksi adalah pakan, Neocamp, Doxerin Plus,vaksin, pemanas . Penjelasan diatas menunjukkan bahwa ada persamaan terhadappenelitian yang dilakukan oleh Fariyanti et al, (2007). Hasil penelitiannya tentangrisiko produksi kentang yang menunjukkan bahwa tenaga kerja adalah variabelyang dapat menimbulkan variance produksi serta Obat-obatan merupakanvariabel yang menjadi pengurang variance produksi. 73
  • 91. 6.2. Sumber dan Rekomendasi Penanganan Risiko Produksi1) Sumber-Sumber Risiko Produksi Produksi adalah proses pengolahan input atau faktor-faktor produksi yangdigunakan untuk menghasilkan output. Pada saat proses produksi berlangsungsampai pada menghasilkan output maka semua itu tidak terlepas dari risiko.Risiko merupakan kemungkinan kejadian yang merugi. Risiko produksi terjadikarena adanya sumber-sumber risiko. Sedangkan semua risiko tersebut harusdiminimalkan agar kemungkinan terjadinya kerugian juga kecil. Berdasarkan hasilpembahasan pada penelitian ini, dilakukan rekomendasi dalam risiko produksi.Rekomendasi penanganan risiko yang dilakukan dengan tindakan preventif yaitudengan cara pencegahan risiko tersebut terjadi. Pencegahan yang dilakukan adalahdengan membuat atau memperbaiki fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untukbudidaya ayam broiler dan memperbaiki sumber daya manusia. Berdasarkanpenelitian yang dilakukan sumber-sumber risiko yang ada pada peternakan ayambroiler pada perusahaan DUF adalah diduga berasal dari sumber hama penyakitdan cuaca.2) Rekomendasi Penanganan Risiko Produksi Tenaga kerja yang digunakan pada umumnya masyarakat yang adadisekitar usaha, rata-rata tidak memiliki pengetahuan tentang budidaya ayambroiler. Sehingga dalam proses produksi berjalan, pegawai kurang memperhatikankondisi ayam, padahal ayam broiler membutuhkan ketekunan, disiplin, danpengetahuan tentang ayam agar ayam selalu terkontrol dengan baik. Selain itujuga adanya tenaga kerja yang tidak jujur dalam menjalankan usaha, sepertidengan menjual pakan secara diam-diam kepada orang lain untung mendapatkankerja sampingan. Keadaan tersebut akan membuat ayam kekurangan pakan danpertumbuhan ayam akan menjadi tidak normal. Sehingga tenaga kerja merupakansumber terjadinya risiko. Namun untuk mengurangi terjadinya risiko maka dalamperekrutan tenaga kerja memilih tenaga kerja yang dapat dipercaya serta memilikipengetahuan tentang ayam, dan disiplin. Jika kriteria tersebut terpenuhi makakondisi ayam akan semakin terkontrol setiap waktu baik itu pemberian pakan,minum, dan kondisi ayam. Apabila tenaga kerja tidak memahami pengetahuan 74
  • 92. tentang ayam, maka terlebih dahulu diberikan penyuluhan agar pegawaimengetahui apa yang seharusnya dia kerjakan. Iklim atau cuaca merupakan salah satu faktor sebagai sumber terjadinyarisiko. Cuaca yang tidak menentu dapat menjadikan kondisi kesehatan berkurang.Pada saat musim hujan maka ayam harus lebih diperhatikan perawatannya, yaitudengan memperhatikan kondisi kandang agar kandang tetap kering tidak lembabkarena air hujan. Jika kondisi kandang lembab maka akan merangsang timbulkanbibit penyakit mucul seperti bakteri Fowl Chorela, Salmonelosis,Coryza, ColliBacillosis. Selain itu juga menimbulkan jamur serta virus lainnya yang dapatmenimbulkan hama dan penyakit. Untuk pencegahan yang dilakukan agar kondisikandang tetap baik adalah dengan merenovasi kandang yang dianggap sudah tidaklayak lagi agar kandang tetap steril. Pada saat musim hujan, pencegahan yang dilakukan adalah dengan caramenutup dinding tirai kandang, hal tersebut dilakukan agar kondisi didalamkandang suhunya tidak turun, memberikan terpal diatas kandang agar suhunyatetap normal, selain itu juga menghidupkan alat pemanas yang berasal dari kayubakar atau dari batu bara. Hal itu dilakukan agar ayam tetap menjaga suhutubuhnya. Jika kondisi sekam terlihat basah, maka sekam tersebut ditambaldengan sekam yang baru agar tidak lembab, atau jika sekam tersebut sudah terlalubasah, maka sekam diganti dengan yang baru. Sekam juga digunakan agar ayamtetap terasa hangat dan menjaga kondisi ayam pada saat berjalan agar tidakkakinya masuk ke lubang lantai. Untuk menjaga kondisi ayam broiler tetap sehat maka perlu dilakukanvaksinasi terlebih dahulu agar kebal terhadap penyakit. Selain itu jugamemberikan pengobatan yang tepat waktu dan tepat ukuran, pengobatandilakukan setelah ayam terlihat sudah terserang penyakit. Obat yang digunakanjuga harus tepat sasaran, pengobatan dilakukan sesuai dengan penyakit yangdialami. Jika ayam sudah terkena penyakit maka ayam tersebut dipisahkan denganayam yang sehat, hal tersebut dilakukan agar penyakit tidak terjangkit ke ayamyang lainnya sehingga penyakit dapat dikontrol serta lebih mudah penanganannya. Selain menjaga kondisi fisik kandang, luasan kandang juga perludiperhatikan antara kapasitas usaha budidaya ayam broiler dengan kapasitas 75
  • 93. kandang. Hal tersebut dilakukan agar ayam tidak terlalu padat dan mendapatruang sehingga tidak menghambat pertumbuhan ayam. Berdasarkan pembahasanvariance produksi terdapat 7 variabel yang tidak signifikan terhadap varianceproduksi dan hanya variabel tenaga kerja yang signifikan terhadap varianceproduksi. Rekomendasi Strategi penanganan variance produksi adalah sebagaiberikut :1. Jumlah DOC (X1) Pada produksi rata-rata, dapat dilihat bahwa variabel ini merupakanvariabel yang signifikan terhadap produktivitas, namun jika dilihat padakoefisiennya menandakan bahwa jika variabel ini ditambahkan justru akanmengurangi produksi. Sehingga rekomendasinya adalah dengan memperhatikankapasitas kandang dengan skala usaha yang dijalankan agar peningkatan jumlahDOC juga meningkatkan produktivitas ayam broiler.2. Pakan (X2) Variabel pakan merupakan variabel yang signifikan terhadap produksirata-rata serta memiliki hubungan yang positif yaitu jika ditambahkan makavariabel pakan maka produktivitasnya juga akan meningkat. Namun padavariance produksi variabel ini tidak signifikan namun jika dilihat darikoefisiennya variabel ini dapat mengurangi risiko produksi. Sehinggarekomendasi yang diberikan adalah dalam waktu pemberian pakan harus sesuaidengan jenis pakan yang disusaikan dengan umur ayam agar pakan tersebutberfungsi secara maksimal dalam pertumbuhan.3. Protect Enro (X3) Variabel ini tidak signifikan terhadap produktivitas maupun varianceproduksi. Serta berdasarkan koefisiennya bernilai positif sehingga rekomendasiuntuk variabel ini adalah dengan menggunakan variabel Protect Enro sesuaidengan takarannya, karena berdasarkan kondisi lapangan, peternak menyamakanpenggunaan variabel tersebut terhadap semua skala usaha, sehingga fungsi darivariabel ini tidak berguna. 76
  • 94. 4. Neocamp (X4) Variabel ini tidak signifikan terhadap produktivitas maupun terhadapvariance produksi, jika dilihat dari koefisiennya keduanya berguna untukmeningkatkan produktivitas maupun mengurangi risiko produksi. Namun variabeltersebut tidak signifikan, sehingga jika ditambah atau dikurangi tidakmempengaruhi produktivitas maupun variance produksi. Rekomendasi untukvariabel ini juga agar para peternak plasma menggunakan dosis sesuai dengantakarannya, sehingga fungsi dari variabel tersebut bermanfaat.5. Doxerin Plus (X5) Variabel ini pada produksi rata-rata signifikan terhadap produktivitassedangkan berdasarkan variance produksi tidak signifikan. Sedangkan dilihat padakoefisiennya memiliki nilai positf untuk produksi rata-rata dan nilai negativeuntuk variance produksi. Sehingga rekomendasi yang diberikan adalah dalampemberian variabel ini harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan, karenaberdasarkan kondisi lapangan peternak menggunakan variabel ini tidakmenggunakan dosis yang tepat serta tidak menyamakan pemakaian pada skalakecil maupun besar, sehingga fungsi dari variabel ini tidak berjalan dengan baik.6. Vaksin (X6) Vaksin merupakan variabel yang tidak berpengaruh signifikan terhadapproduksi maupun variance produksi. Sehingga jika dilakukan penambahan ataupengurangan dalam penggunaannya tidak mempengaruhi produksi rata-ratamaupun variance produksi. Rekomendasi yang diberikan adalah waktupenggunaan vaksin maupun penyimpanan vaksin harus diperhatikan sehinggavaksin dapat bermanfaat jika digunakan.7. Pemanas (X7) Pemanas merupakan variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadapproduksi rata-rata sehingga jika penggunaan variabel ini ditambahkan maka akanmeningkatkan produktivitas. Sedangkan jika dilihat variance produksi ini tidakberpengaruh nyata dan berdasarkan koefisiennya, variabel ini memiliki fungsiuntuk mengurangi variance produksi. Berdasarkan kondisi lapang, rekomendasiyang diberikan adalah menggunakan pemanas kayu bakar, karena kayu bakarmemiliki panas yang merata dibandingkan dengan batubara, dan gas. 77
  • 95. 8. Tenaga Kerja (X8) Tenaga kerja merupakan variabel yang memiliki pengaruh yang signifikanterhadap produksi rata-rata dan variance produksi. Hal tersebut dapat dilihat darinilai peluang yang kurang dari taraf nyata 20 persen. Sedangkan dilihat dari nilaikoefisien yang memiliki arti jika variabel ini ditambahkan maka akan mengurangiproduktivitas dan akan menimbulkan/meningkatkan variance produksi.Berdasarkan kondisi lapang dapat direkomendasikan bahwa peternak harusmemberikan pelatihan terlebih dahulu kepada pegawai agar pegawai mempunyaipengetahuan tentang budidaya ayam broiler. 78
  • 96. VII. KESIMPULAN DAN SARAN7.1. Kesimpulan Peternak plasma ayam broiler pada CV DUF dalam menjalankan usahanyamemiliki risiko produksi. Adanya risiko tersebut dapat dilihat dari adanyafluktuasi produktivitas yang produktivitas actual lebih rendah dibanding denganproduktivitas normal/standard. Terjadinya fluktuasi produktivitas disebabkan olehbeberapa variabel pendugaan parameter seperti jumlah DOC, pakan, Protect Enro,Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, pemanas , serta tenaga kerja. Untuk menganalisisvariabel-variabel tersebut, digunakan metode ARCH-GARCH guna melihatvariabel-variabel tersebut signifikan atau tidak terhadap produktivitas sertamelihat apakah variabel-variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadapvariance produksi dan termasuk variabel yang mengurangi atau menimbulkanvariance. Berdasarkan hasil pendugaan parameter dinyatakan bahwa secara umumsemua variabel memiliki pengaruh signifikan terdapat produktivitas dan varianceproduksi. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai F-hitung > F-tabel yaitu F-hitungsebesar 241 sedangkan F-tabel sebesar 2,18, atau dapat dilihat dari nilai P-valuesebesar 0,000 lebih kecil daripada taraf nyata 5 persen. Berdasarkan uji t dapatdijelaskan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadapproduktivitas dibawah α satu persen adalah jumlah DOC, pakan, pemanas, sertatenaga kerja. Sedangkan variabel yang signifikan pada taraf nyata dibawah duapersen adalah Doxerin Plus, dan yang tidak berpengaruh signifikan adalah ProtectEnro, Neocamp, dan vaksin. Variabel tersebut berada pada taraf nyata dibawah93, 39, dan 43 persen. Untuk hasil pendugaan parameter variance produksi, faktor-faktorproduksi yang berpengaruh signifikan terhadap variance produksi hanya tenagakerja dengan taraf nyata dibawah 6 persen. sedangkan variabel yang lainnyaseperti jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, sertapemanas tidak berpengaruh nyata terhadap variance produksi. Hal tersebut dapatdilihat dari nilai P-value diatas 61 persen. Namun, jika dilihat dari tanda koefisienvariabelnya ada yang bertanda positif dan bertanda negative. Jika koefisienvariabel bertanda positif maka variabel tersebut termasuk variabel yang 79
  • 97. menimbulkan variance produksi sehingga jika variabel tersebut digunakan lebihbanyak maka variance yang dihasilkan juga semakin tinggi. Sedangkan jikakoefisien variabel bertanda negative maka variabel tersebut termasuk faktorproduksi yang dapat mengurangi variance produksi, artinya jika variabel tersebutsemakin banyak digunakan maka variance yang dihasilkan akan semakinmenurun. Faktor-faktor produksi yang termasuk menimbulkan variance produksiadalah jumlah DOC, Protect Enro, dan tenaga kerja. Sedangkan faktor produksiyang dapat mengurangi risiko adalah pakan, Doxerin Plus, Neocamp, vaksin, sertapemanas. Sumber risiko produksi yang dialami oleh para peternak ayam broileryang ada di Kabupaten Darmaga adalah sumber daya maunisa atau pegawai dancuaca/iklim yang tidak menentu. Untuk mengurangi risiko produksi tersebutdilakukan penanganan risiko dengan cara pencegahan risiko yaitu denganmemperbaiki kualitas sumber daya manusianya dengan cara memberikanpenyuluhan serta dengan membuat atau memperbaiki fasilitas agar cuaca yangtidak menentu dapat diatasi dengan fasilitas yang memadai.7.2. Saran Saran yang mungkin dapat disampaikan kepada para peternak adalahsebagai berikut :1. Mengecek/memperbaiki kondisi kandang serta melihat kapasitas kandang dengan skala usaha yang dijalankan.2. Melakukan pelatihan tentang ayam broiler kepada pegawai peternak.3. Memberikan pakan kepada ayam sesuai dengan jenis pakan dan umur ayam.4. Menggunakan input produksi seperti Protect Enro, Neocamp, dan Doxerin Plus sesuai dengan dosis yang ditentukan.5. Waktu penggunaan dan penyimpanan vaksin harus diperhatikan agar kegunaan vaksin tidak berkurang. 80
  • 98. DAFTAR PUSTAKAAmrullah, K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunungbudi KPP IPB Baranangsiang. Bogor.Anggraini, D. 2003. Analisis Pendapatan Tunai Risiko dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Usaha Peternakan Broiler di Peternakan X Bekasi. Skripsi. Jurusan Agribisnis. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut pertanian Bogor.Atnadilaga, D. 1987. Perunggasan Indonesia 1987. Jakarta : Panitia Logasnas 1987.Aziz, A. 2009. Analsisi Risiko Dalam Usaha Ternak Ayam Broiler (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor). Skripsi. Jurusan Agribisnis. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor.Dinas Kesehatan. 2006. Kandungan Gizi Ayam Broiler.Djohanputro, B. 2004. Manajemen Risiko Korporat Terintegrasi. Jakarta : PPM.Fadillah, R. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka.Farianti A. 2008. Perilaku Ekonomi Rumah Tangga Petani Sayuran Dalam Menghadapi Risiko Produksi dan Harga Produk di Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung. [Disertasi]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.Firdaus M. 2006. Analisis Deret Waktu Satu Ragam. Bogor. IPB Press.Kountur, R. 2006. Manajemen Risiko. Jakarta : Abdi Tandur.Koundouri P, Nauges C. 2005. On Production Function Estimation with Selectivity and Risk Consideration; Journal of Agricultural and Resouces Economies. Western Agricultural Economies Association. 30 (3): 597- 608.Merina D. 2004. Analisis Pendapatan Tunai, Risiko dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Usaha Peternakan Broiler. [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institur Pertanian Bogor.Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.Pindyck, R. 1997. Econometric Models And Economic Forcasts. New York : McGraw-Hill Company.[PSE-KP] Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. 2006. Analisis Kebijakan Pertanian. Bogor. PSE-KP. 81
  • 99. Robison, L. J. and P. J. Barry. 1987. The Compotitive Firm’s Response to Risk. Macmillan Publisher. London.Robi’ah, S. 2006.Manajemen Risiko Usaha Peternakan Broiler Pada Sunan Kudus Farm di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Jurusan Agribisnis. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor.Saragih, B. 2000. Kumpulan Pemikiran : Agribisnis Berbasis Peternakan. Pustaka Wirausaha Muda. Bogor.Suryana A, Erwidodo, Utomo H, Mardianto S. 1998. Analisis Kebijakan dalam Pembangunan Agribisnis di Pedesaan dan Analisis Dampak Krisis. Seminar. Jakarta, 15-16 Maret 1995. Hlm 145-146Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Jakarta : PT Grafindo Persada.Solihin, M. 2009. Risiko Produksi dan Harga serta Pengaruhnya terhadap Pendapatan Peternakan Ayam Broiler CV AB Farm Kecamatan Bojonggenteng – Sukabumi. Skripsi. Jurusan Agribisnis. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor.Walpole R. 1992. Pengantar Statistika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Widarjono, A. 2009. Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya. Yogyakta : Ekonisia 82
  • 100. LAMPIRAN 83
  • 101. Lampiran 1. Populasi Ayam Broiler Per Provinsi Tahun 2004-2007 (ekor) Tahun Provinsi 2004 2005 2006 2007 2008 Jawa Barat 328,015,536 352,434,300 343,954,090 377,549,055 417,373,596 Jawa Timur 162,781,000 142,602,400 119,525,124 148,854,817 140,005,968 Jawa Tengah 50,356,308 62,043,412 61,258,115 64,552,829 54,643,212 Sumut 38,045,260 35,568,236 42,763,530 78,152,052 42,891,621 Riau 25,239,077 27,440,958 20,965,808 27,491,937 30,679,920 NAD 904,084 1,057,443 1,538,306 1,692,137 1,346,308 Sumbar 12,804,118 11,357,781 12,748,991 13,308,143 14,202,592 Jambi 6,831,292 9,694,426 11,539,188 6,804,140 6,910,116 Sumsel 16,408,000 14,920,000 15,842,000 15,914,000 13,747,390 Bengkulu 1,811,914 1,591,304 1,833,002 1,904,548 5,423,379 Lampung 24,902,989 21,747,209 21,094,571 15,033,671 15,879,617 Jakarta 137,800 182,000 124,300 115,000 68,000 Kalbar 14,481,323 15,139,364 14,889,746 13,939,332 18,917,875 Kalsel 19,480,579 19,964,639 20,624,128 21,534,508 19,860,813 Kaltim 22,097,800 25,828,600 26,292,200 23,832,200 26,941,660 Sulsel 5,673,758 12,765,509 12,325,960 13,826,056 14,575,840 Banten 6,864,800 6,475,796 7,684,690 26,405,564 40,011,606Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2008 84
  • 102. Lampiran 2. Produksi Daging Nasional Per Provinsi Ayam Ras Pedaging Tahun 2004 - 2008 (Ton) Tahun Provinsi 2004 2005 2006 2007 2008 Jawa Barat 263,397 259,749 276,195 279,851 335,151 Jawa Timur 162,781 128,342 143,643 148,855 115,193 Jawa Tengah 63,592 61,683 81,203 65,026 73,191 Sumut 44,688 41,778 39,055 35,098 35,283 Riau 27,517 21,004 19,015 23,059 28,082 Jakarta 88,089 67,054 83,768 128,480 128,480 Kalimantan Barat 20,790 21,286 21,541 22,138 26,121 Kalimantan Selatan 18,699 20,349 18,705 26,690 34,562 NAD 1,081 1,533 1,395 1,581 3,629 Sumbar 13,662 12,119 11,602 12,439 13,275 Jambi 10,092 9,909 9,290 14,536 12,459 Sumsel 11,706 11,708 13,532 21,176 22,185 Lampung 18,816 19,170 19,724 12,937 10,542 Jogyakarta 18,561 14,997 23,000 22,203 23,117 Kalbar 20,790 21,286 21,541 22,138 26,121 Bali 24,623 20,530 20,354 18,553 19,046 Kalsel 18,699 20,349 18,705 26,690 34,562 Kaltim 16,507 19,294 20,945 18,337 20,620 Banten 23,431 16,542 6,970 29,751 69,333Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2008 85
  • 103. Lampiran 3. Populasi Ayam Pedaging di Kabupaten Bogor Tahun 2010 Ayam Ras Pedaging No Kecamatan (ekor) 1 Nanggung 703.000 2 Leuwiliang 530.500 3 Leuwi Sadeng 494.000 4 Pamijahan 1.059.000 5 Cibungbulang 407.500 6 Ciampea 198.600 7 Tenjolaya 73.500 8 Dramaga 425.000 9 Tamansari 180.000 10 Cijeruk 450.000 11 Cigombong 255.000 12 Caringin 622.000 13 Ciawi 181.500 14 Cisarua 65.000 15 Megamendung 250.000 16 Sukaraja 117.500 17 Bbk. Madang 51.500 18 Sukamakmur 70.000 19 Cariu 505.000 20 Tanjungsari 670.000 21 Jonggol 219.000 22 Cileungsi 10.000 23 Klapanunggal 111.000 24 Cibinong 123.000 25 Bojonggede 380.000 26 Tajur Halang 308.000 27 Kemang 241.300 28 Rancabungur 197.000 29 Parung 270.000 30 Ciseeng 419.783 31 Gn. Sindur 1.585.300 32 Rumpin 1.022.000 33 Cigudeg 548.000 34 Sukajaya 200.000 35 Jasinga 344.000 36 Tenjo 326.300 37 Pr. Panjang 750.213 JUMLAH 14.363.496Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2010 86
  • 104. Lampiran 4. Perkembangan Produksi Daging Ternak dan Kontribusinya di Kabupaten Bogor Tahun 2008-2009 Kontri Kontri Jenis Tahun Tahun No busi busi Pertumbuhan Produksi 2008 2009 (%) (%) 1 Sapi 8.311.289 10,24 11.153.409 12,75 34,20 2 Kerbau 124.816 0,15 238.800 0,27 91,32 3 Kambing 860.461 1,06 796.475 0,91 -7,44 4 Domba 2.361.591 2,91 2.700.532 3,09 14,35 Ayam 5 68.486.233 84,41 71.540.084 81,81 4,46 Ras Ayam 6 913.052 1,13 934.193 1,07 2,32 Buras 7 Itik 79.965 0,10 83.721 0,10 4,70 Jumlah 81.137.407 100 87.447.213 100 7,78Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2010 87
  • 105. Lampiran 5. Faktor-Faktor Produksi dan Jumlah Pemakaian Faktor Produksi No Y X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 1 14,3625 9,3750 23,1250 0,0031 0,0010 0,0014 0,0264 5,0111 0,0820 2 12,1787 7,8125 19,7656 0,0004 0,0007 0,0004 0,0079 4,6317 0,0683 3 17,9363 12,2449 30,2040 0,0020 0,0012 0,0036 0,0314 5,5152 0,0918 4 16,5371 12,2449 33,0612 0,0020 0,0012 0,0012 0,0302 5,4327 0,0918 5 14,8209 9,7087 22,5242 0,0019 0,0005 0,0011 0,0254 5,0794 0,0849 6 7,0248 9,7087 14,2718 0,0023 0,0011 0,0011 0,0240 4,3375 0,0910 7 16,1106 10,0628 26,2893 0,0012 0,0007 0,0012 0,0261 5,2025 0,0880 8 11,4505 10,2956 23,5849 0,0012 0,0012 0,0032 0,0262 4,8861 0,0900 9 14,1021 9,9038 22,8846 0,0009 0,0005 0,0009 0,0244 5,0379 0,0742 10 12,9923 7,6923 21,8269 0,0009 0,0007 0,0009 0,0207 4,6830 0,0576 11 15,5284 8,6206 23,7069 0,0021 0,0012 0,0012 0,0237 4,9852 0,0646 12 14,0301 8,6206 25,0000 0,0043 0,0056 0,0047 0,0719 4,9320 0,0646 13 15,2286 9,8039 23,9215 0,0009 0,0019 0,0007 0,0245 5,1162 0,0857 14 16,2868 9,8039 25,3921 0,0009 0,0009 0,0011 0,0237 5,1826 0,0857 15 13,4866 10,1190 22,5595 0,0011 0,0005 0,0009 0,0264 5,0310 0,0885 16 9,7142 7,7380 18,9881 0,0017 0,0005 0,0009 0,0167 4,4042 0,0677 17 12,3332 10,0000 19,7000 0,0010 0,0012 0,0024 0,0244 4,9142 0,0750 18 10,1952 8,0000 15,7000 0,0020 0,0020 0,0012 0,0228 4,4841 0,0600 19 8,3250 9,2500 15,1250 0,0012 0,0010 0,0007 0,0250 4,4382 0,0693 20 14,0685 10,0000 20,8750 0,0012 0,0015 0,0022 0,0257 5,0472 0,0750 21 12,1457 10,7142 17,3214 0,0035 0,0010 0,0017 0,0260 4,9883 0,0937 22 16,4578 8,9285 25,1785 0,0035 0,0010 0,0014 0,0250 5,0708 0,0558 23 16,4619 9,5238 27,8571 0,0010 0,0009 0,0011 0,0238 5,1500 0,0714 24 4,1019 9,5238 9,7619 0,0011 0,0007 0,0007 0,0233 3,7600 0,0714 25 12,3021 10,8108 17,9729 0,0013 0,0008 0,0008 0,0270 4,9849 0,0675 26 16,8197 9,7297 26,2162 0,0013 0,0008 0,0008 0,0254 5,1839 0,0608 27 15,3274 9,8039 26,3480 0,0012 0,0007 0,0012 0,0242 5,1286 0,0919 28 13,8725 9,8039 24,5098 0,0012 0,0007 0,0012 0,0242 5,0288 0,0919 29 13,5641 9,6153 22,1153 0,0019 0,0012 0,0032 0,0320 5,0630 0,1602 30 14,3564 9,6153 26,2820 0,0032 0,0019 0,0019 0,0487 5,1365 0,1603 31 13,6250 9,3750 25,3125 0,0018 0,0012 0,0018 0,0312 5,0374 0,1562 32 14,2887 9,3750 22,8125 0,0031 0,0012 0,0012 0,0287 5,0825 0,1563 33 24,2840 17,5000 36,8750 0,0025 0,0017 0,0007 0,0432 6,2452 0,1500 34 24,8650 15,0000 38,0000 0,0025 0,0007 0,0010 0,0337 6,0838 0,1286 35 12,9791 8,9285 21,5773 0,0029 0,0008 0,0014 0,0217 4,8487 0,0744 36 9,6244 5,9523 16,0714 0,0005 0,0005 0,0005 0,0136 4,1113 0,0495 37 11,5542 10,7142 20,3571 0,0021 0,0014 0,0021 0,0207 5,0179 0,1785 38 15,6300 10,7142 29,6428 0,0035 0,0007 0,0028 0,0328 5,3322 0,1786 39 16,7269 9,5238 26,8254 0,0015 0,0009 0,0015 0,0247 5,1670 0,0714 40 14,6450 9,5238 26,66667 0,0015 0,0009 0,0015 0,0247 5,0340 0,0714 88
  • 106. Lanjutan…… No Y X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 41 13,1488 8,8888 23,3333 0,0011 0,0006 0,0011 0,0220 4,8609 0,0777 42 12,8568 7,7777 21,0000 0,0011 0,0006 0,0011 0,0208 4,6941 0,0680 43 13,0662 10,0000 20,0000 0,0012 0,0010 0,0018 0,0297 4,9898 0,0875 44 11,2395 7,5000 17,2500 0,0012 0,0006 0,0012 0,0182 4,5182 0,0656 45 17,3735 9,8765 26,1728 0,0012 0,0009 0,0018 0,0262 5,2578 0,0864 46 15,8061 9,8765 24,6296 0,0012 0,0024 0,0030 0,0287 5,1657 0,0864 47 17,1760 10,0000 28,5000 0,0016 0,0010 0,0020 0,0246 5,2582 0,0875 48 15,3640 10,0000 23,6666 0,0016 0,0013 0,0020 0,0240 5,1461 0,0875 49 16,1257 9,7777 26,5555 0,0011 0,0011 0,0013 0,0255 5,1716 0,0855 50 13,0671 7,7777 20,1111 0,0011 0,0013 0,0013 0,0211 4,7105 0,0680 51 15,1004 10,0000 23,1111 0,0005 0,0005 0,0005 0,0258 5,1306 0,0875 52 14,1508 9,4444 24,1111 0,0014 0,0013 0,0008 0,0225 5,0004 0,0826 53 13,3277 9,8722 20,9444 0,0016 0,0010 0,0011 0,0236 4,9896 0,0863 54 13,9600 10,0000 21,2777 0,0016 0,0022 0,0006 0,0231 5,0493 0,0875 55 8,5405 7,8947 14,0789 0,0013 0,0021 0,0021 0,0218 4,3019 0,0690 56 10,5805 7,8947 16,9736 0,0013 0,0013 0,0015 0,0194 4,5137 0,0690 57 10,0400 7,6923 15,3846 0,0019 0,0011 0,0011 0,0211 4,4256 0,0576 58 2,1565 7,6923 9,2307 0,0019 0,0007 0,0007 0,0188 2,8852 0,0576 59 11,9802 8,6956 17,6811 0,0014 0,0008 0,0014 0,0211 5,2173 0,8695 60 11,5095 8,6956 23,1884 0,0014 0,0011 0,0011 0,0266 4,7826 0,8405KeteranganY : Produktivitas Ayam Broiler (Kg/ m2)X1 : Jumlah DOC (DOC/ m2)X2 : Pakan (Kg/m2)X3 : Protect Enro (Liter/ m2)X4 : Neocamp (Kg/ m2)X5 : Doxerin Plus (Kg/ m2)X6 : Vaksin (Kg/ m2)X7 : Pemanas (Kg/ m2)X8 : Tenaga Kerja (HOK/ m2) 89
  • 107. KUISIONER PENELITIANI. IDENTITAS RESPONDENMohon untuk memberikan tanda silang (x) pada salah jawaban dibawah ini :1. Nama :2. Alamat :3. Apa jenis kelamin Anda? a. Laki-laki b. Perempuan4. Berapa usia Anda saat ini..............tahun5. Apa status Anda? a. Menikah b. Belum menikah c. Pernah menikah (Duda/Janda)6. Berapa tahun Bapak menjalani pendidikan..........tahun7. Sudah berapa lama Bapak menekuni usaha ayam broiler ini..........tahunII. DAFTAR KUESIONER1. Mengapa Anda tertarik menekuni bidang ayam broiler ini? a. Mendapatkan keuntungan yang tinggi b. Coba – coba c. Sudah berpengalaman (keinginan) d. Hobi2. Apakah peternakan ayam broiler mempunyai risiko yang tinggi? a. Ya b. Tidak3. Menurut Bapak, bagaimana cara mengatasi perubahan harga input (DOC, Pakan, Obat-obatan, Harga Jual ayam) ? - -4. Menurut Bapak, apa saja bentuk permasalahan sosial yang sering dihadapi, mendukung atau tidak usaha ini dijalankan dan bagaimana cara mengatasinya? 90
  • 108. - -5. Menurut Bapak, apakah cuaca / iklim berpengaruh besar terhadap usaha ayam broiler? Bagaimana cara/upaya mengatasi perubahan cuaca yg ekstrem?Faktor-Faktor Produksi (Untuk Periode Produksi Terakhir)6. Lahan No. Uraian Keterangan 1 Luasan lahan yang digunakan 2 Harga lahan 3 Kepemilikan lahan 4 Lamanya kepemilikan lahan Jarak kedaerah pemukiman 5 wargaUntuk No.7 – 14 diisi berdasarkan data periode/panen terakhir saja.7. DOC Jumlah DOC No. Jenis DOC Pemasok Harga/ekor Awal 1 2 3 Tingkat Kematian DOC yang mati diapakan Pengiriman DOC Pembayaran DOC8. Pakan Jumlah Pakan No. Jenis Pakan Pemasok Harga/Kg yang digunakan 1 2 Pembayaran Pakan Pengiriman Pakan 91
  • 109. 9. Obat-Obatan (berdasarkan satuan masing-masing baik botol atau bungkus) Jenis Obat- Kegunaan Jumlah No. Pemasok Harga obatan Pemakaian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1010. Sekam Jumlah yang No. Jenis Pemasok Harga/Kg digunakan 1 2 3 Waktu Penggunaan Sekam yang tidak dipakai11. Pemanas Jenis Bahan Jumlah yang No. Pemasok Harga Pemanas Bakar digunakan 1 2 Waktu penggunaan Pengiriman bahan bakar12. Tenaga Kerja No. Jumlah TaKer. Asal Pekerja Jam Kerja Upah Pekerja 1 92
  • 110. 13. Air No. Uraian Keterangan 1 Sumber Air 2 Jumlah air yang dibutuhkan 3 Kondisi air14. Panen No. Uraian Keterangan 1 Umur DOC yang dipanen 2 Jumlah DOC yang dipanen 3 Daerah pemasaran 4 Alat penggangkutan 5 Harga ayam broiler/Kg Saya Ucapkan Terima Kasih Atas Waktunya Dalam Pengisian Kuisioner ini Dan Semoga Usaha Bapak/Ibu Semakin Berkembang 93
  • 111. Lampiran 6. Hasil Olahan ARCH-GARCH (1,1)Presample variance: backcast (parameter = 0.7)GARCH = C(10) + C(11)*RESID(-1)^2 + C(12)*GARCH(-1) + C(13)*LNX1 + C(14)*LNX2 +C(15)*LNX3 + C(16)*LNX4 + C(17)*LNX5 + C(18)*LNX6 + C(19)*LNX7 + C(20)*LNX8 Produksi Rata-Rata Variable Coefficient Std. Error z-Statistic Prob.DOC -0.576813 0.051079 -11.29264 0.0000Pakan 0.328803 0.051754 6.353147 0.0000Protect Enro 0.001706 0.018055 0.094499 0.9247Neocamp 0.014934 0.017334 0.861557 0.3889Doxerin Plus -0.023848 0.014725 -1.619561 0.1053Vaksin -0.029435 0.037253 -0.790150 0.4294Pemanas 3.267185 0.167954 19.45285 0.0000Tenaga Kerja -0.089904 0.012305 -7.306228 0.0000Konstanta -2.723489 0.253508 -10.74319 0.0000 Variance Equation C 0.001424 0.011177 0.127432 0.8986 RESID(-1)^2 0.059663 0.304864 0.195703 0.8448 GARCH(-1) 0.545423 1.069181 0.510131 0.6100DOC 0.000292 0.002370 0.123428 0.9018Pakan -0.000180 0.002874 -0.062484 0.9502Protect Enro 4.41E-05 0.000839 0.052545 0.9581Neocamp -3.53E-05 0.000880 -0.040077 0.9680Doxerin Plus -4.97E-05 0.000793 -0.062740 0.9500Vaksin -0.000132 0.002195 -0.059957 0.9522Pemanas -0.000306 0.008318 -0.036750 0.9707Tenaga Kerja 0.000581 0.000303 1.914996 0.0555R-squared 0.991355 Mean dependent var 2.562184Adjusted R-squared 0.987249 S.D. dependent var 0.358167S.E. of regression 0.040444 Akaike info criterion -3.469105Sum squared resid 0.065430 Schwarz criterion -2.770990Log likelihood 124.0732 Hannan-Quinn criter. -3.196034F-statistic 241.4262 Durbin-Watson stat 1.960677Prob(F-statistic) 0.000000 94
  • 112. Lampiran 7. Nama Responden Serta Identitas Usaha Luas Nama Jumlah Produksi No Alamat Responden Kandang Responden Ayam (Kg) (m2) 1 Maman Tenjo Laya 580 16.986,40 2 Abun Jr Pamijahan 200 8.446,00 3 Saeful Sukawening 450 11.250,60 4 Asdi Petir 750 21.911,20 5 Yatna Petir 500 14.089,10 6 Asnawi Petir 180 6.857,60 7 Adang Petir 480 16.072,90 8 Harto Tenjo Laya 780 19.488,80 9 H. Makmur Cihideung Ilir 480 11.264,20 10 Fadillah Gn. Bunder 360 8.957,40 11 Dulloh Gn. Bunder 280 8.009,00 12 Memed Petir 400 8.636,80 13 Johan Gn. Bunder 370 10.775,10 14 Desti Cibereum 390 11.913,60 15 Sandi Petir 156 4.355,60 16 Jajang Petir 160 4.466,20 17 Muhidin Gn. Sari 400 19.659,60 18 H. Enjam Petir 336 7.594,80 19 Sumadi Petir 140 3.805,80 20 Silva Sukawening 315 9.882,20 21 Suhana Petir 450 11.702,60 22 Naja Cibereum 780 19.444,60 23 Pian Unus Petir 810 26.875,60 24 Madhari Petir 300 9.762,00 25 Suhanda Petir 450 13.136,80 26 Sumarna Petir 850 26.326,20 27 Mumuh Cemplang 800 24.559,00 28 Mamat Cemplang 320 7.266,00 29 Cecep Gn. Bunder 200 3.171,10 30 Samsul Gn. Bunder 280 8.104,00 95
  • 113. Lampiran 8. Penyebaran Lokasi Responden No Alamat Jumlah Persentase (%) 1 Cemplang 2 6,67 2 Cibeureum 2 6,67 3 Cihideung Hilir 1 3,33 4 Gn. Bunder 5 16,67 5 Gn. Sari 1 3,33 6 Petir 14 46,67 7 Pamijahan 1 3,33 8 Sukawening 2 6,67 9 Tenjo Laya 2 6,67 Jumlah 30 100,00 96
  • 114. Lampiran 9. Gambar Dokumentasi Penelitian Pada Ayam Broiler Kandang Tampak Dari Samping Saung Untuk Anak Kandang Kandang Sudah Di Sterilisasi Ayam Broiler Siap Di Panen Wawancara Kepeternak Ayam Jenis Pakan Yang Di gunakan Bahan Bakar Untuk Pemanas 97